A Story by Revania faiqah x otkp
IFe'melsnelvikeer
enough
Salah satu fitur ngeselin dalam
cara kita berpikir adalah...
Kita menyimpulkan sesuatu berdasarkan refrence
point, nggak absolut.
Maksudnya gini... (mikir lama buat ngejelasin
yang enak)
Langsung contohnya aja, ya.
Kita bisa suka atau nggak suka dengan sesuatu,
itu karena refrensi yang kita kumpulkan,
informasi yang bisa kita dapatkan, dan itu yang
kita jadikan standar. Dan, ini selalu berubah,
sifatnya nggak yang absolut.
Now imagine we have social
media.
Hal yang bisa kita akses dengan tangan
sesering mungkin. Hanya dengan beberapa
sentuhan, kita bisa langsung mengonsumsi
gambaran-gambaran betapa terlihat
menyenangkannya hidup orang lain, dan
mulai meratapi hidup kita sendiri.
Lalu lahirlah insecurity.
ini memang salah satu dari sekian banyak
faktor, tapi ini faktor yang besar.
kalau tiba-tiba kita merasa insecure, coba
berkaca lagi, akhir-akhir ini, apa yang
sering mata kita konsumsi?
Video-video orang glow up? Foto-foto
orang dengan pakaian pakain bagus?
Dokumentasi orang liburan? Pamer harta
kekayaan? itu sama terpupuk.
What Being Insecure
Is All About
" Tapi, kan, untuk memotivasi." kata orang-orang yang
ngotot gak mau mengubah internet berhavior-nya.
Sebenernya, ya. kita yang bisa menilai, ketika kita melihat
itu semua, ke mana pikiran kita bermuara?
If really motivates you, then it's good.
Insecurity ini munculnya halus banget. Mungkin, pas
pertama lihat, kita ikut senyum, jadi pengin, terus lanjut
berandai-andai, tetapi setelah itu?
Ada hal yang nggak bisa kita pungkiri kitalah yang
menentukan standar berdasarkan refrence point yang
kita terima.
Insecurity nggak bisa dipisahkan dengan comparison.
Hampir semua jenis insecurity yang kita alami akan diawali
dengan membandingkan diri kita sendiri dengan sesuatu.
So, I think we need to shift our reference point.
We need to have a bigger, stronger reference point.
And maybe you can already guess that...
Killing Insecurity
Seringnya kita lebih memilih untuk berusaha
agar orng-orang bisa menerima kita daripada
belajar menerima diri sendiri.
Self-esteem has a huge impact, sebenarnya.
Bagaimana kita bisa "menghargai" seberapa
diri kita.
Orang dengan pola asuh yang sehat pada masa
kecilnya akan lebih mudah menghargai dirinya
dari pada menginjak-injak dirinya ketika
menghadapi kegagalan.
Orang yang udah punya banyak achievement
dalam hidupnya juga akan lebih mudah
menghargai dirinya daripada mendengarkan
omongan orang-orang yang menjatuhkannya.
Orang yang punya alasan alasan hidup yang kuat, sebuah
prinsip hidup yang matang, juga akan lebih mudah
mengabaikan penilain dan perkantaan orang lain yang
nggak relevan dengan tujuan hidupnya.
Terus, bagaimana dengan kita yang nggak punya
sintuasi-sintuasi yang mendukung self-esteem kita kayak
gitu? Mendapat pola asuh yang buruk atau nggak punya
banyak achievement.
Paling mudah, ya, opsi ketiga. Punya prinsip hidup yang
udah matang.
Seringnya kita berusaha agar orang-orang menerima kita
daripada belajar menerima diri sendiri.
.
Balik lagi, ke reference point.
Minimil, nih, ya, kalau memang kita sering
membandingkan diri kita dengan orang lain karena
hartanya, jodohnya, jabatannya, atau hal-hal dunia
lainnya yang lebih hebat dari kita, maka...
...minimal banget, kita juga harus membandingkan
diri kita dengan orang yang mengejar akhiratnya
juga hebat itu baru fair.
itu baru minimal. Lebih bagus lagi kalau kita bisa
sadar, sih, mana yang harus diminderin, dan mana
yang nggak.
Jangan cuma insecure dengan orang-orang yang
hebat dunianya saja.
Dan kalau memang insecuritykita tumbuh karena
melihat orang yang lebih rajin beribadah, misalnya,
ini, kan, adil, ya, Dan, malah bagus untuk kita.
Kita jadi tergerak. Dan, ini adalah bentuk
pergerakan yang tepat untuk perkembangan diri kita.
Dan, untuk jadi orang yang lebih dekat dengan Allah,
kita nggak butuh privilege khusus.
Bukan masalah genetik yang memang udah begitu
dari sananya atau keluarganya yang udah kaya dari
sananya.
Semuanya punya kesempatan yang sama.
Berlaku juga ibadah lainnya.
Jadi, ya...
Choose your refrence point carefully.
Kalau diperhatikan lagi dengan hati yang yang jujur,
mostly...
Kita yang menentukan mau insecure tentang apa.
Cause were the ones who create our own insecurity.
Sayangnya, Kita Lebih Sering Berusaha
Agar Orang-orang M
enerima Kita Dari
Pada Belajar Menerima Diri Kita.