SEDIA PAYUNG
SEBELUM HUJAN
Trained Entrepreneur
(hanya untuk kalangan sendiri)
1
DAFTAR ISI
Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
Nampak Kaya tapi Sebenarnya Miskin . . . . . . . . . . . . . . . 4
Maunya Membangun Aset Malah Menumpuk Beban . . . . 9
Hedonic Treadmill . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11
Gerobaknya Ditarik Sendiri atau Membeli Kuda . . . . . . . 13
Memilih jalan 20-40-5 atau 20-5-40 ? . . . . . . . . . . . . . . . . 15
Sedia Payung Sebelum Hujan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
Apa Yang Dikerjakannya Sekarang . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
2
PENDAHULUAN
Rasanya tidak ada yang lebih istimewa dari tanggal 17 Agustus 2005 bagi
dokter itu dan keluarganya -khususnya bagi dia-. Karena pada tanggal
itulah terjadi titik balik dari kehidupan mereka.
Dengan diturunkannya papan praktek dokter SpOG itu (Spesialis Obstetri
Ginekologi), berakhir sudah era jungkir balik setiap hari untuk mencari
nafkah. Berakhir pula era dimana dia sebagai kepala keluarga jarang bisa
mengikuti kegiatan keluarga karena “harus mencari nafkah”. Pagi buka
praktek sejak jam 5 pagi, kemudian berangkat ke rumah sakit di Malang.
Sore hari pulang dan istirahat sebentar. Setelah itu jam 5 sore kembali
praktek sampai malam hari. Jika tidak ada pasien melahirkan, berarti bisa
tidur beberapa jam. Jika ada, berkurang pula jam tidurnya.
Seringkali saat mereka sekeluarga di jalan untuk menjenguk ibunya di
Probolinggo, tiba-tiba telepon berbunyi. Dimanapun mereka saat itu, ya
harus kembali jika ada pasien yang memerlukannya. Ketika anak-anaknya
ingin nonton bioskop, tiba-tiba ada pasien masuk, batal sudah acara
keluarga itu. Sebagai dokter kandungan, bossnya bukan hanya satu,
melainkan ratusan atau ribuan pasien. Jika salah satu dari mereka
mengangkat tangannya, dia harus melompat menurutinya.
Tetapi mulai pagi itu semua sudah berlalu. Sejak itu statusnya berubah
seratus delapan puluh derajat. Dari seseorang yang harus mengejar uang,
menjadi seseorang yang dikejar uang. Dari orang yang selalu kekurangan
uang sehingga harus bekerja keras terus, menjadi orang yang selalu
berkecukupan uang sehingga bisa lebih santai.
Kebahagiaan itu semakin lengkap, ketika sebulan kemudian, permohonan
untuk pensiun dini dikabulkan. Awalnya permohonan ini ditolak oleh
pimpinannya. Sekarang dia benar-benar menjadi orang yang bebas, bebas
uang dan bebas waktu. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau
kapanpun dia ingin. Tidak ada lagi panggilan telepon, tidak ada lagi
tangisan bayi.
3
NAMPAK KAYA TAPI SEBENARNYA MISKIN
Dia menjadi dokter sejak tahun 1981, dan 12 tahun terakhir dia habiskan
sebagai dokter spesialis kandungan sekaligus dosen di FKUB Malang.
Jabatan terakhir adalah SPS atau Sekretaris Program Studi. Dia yang
mengurusi administrasi pendidikan dokter spesialis Kandungan di Malang.
Membantu KPS yaitu Kepala Program Studi dr.Soehardjito SpOG K. Dia
sendiri akrab dipanggil dokter Sigit, yaitu Sigit Setyawadi.
Dia tinggal di Batu, setiap hari menempuh Batu Malang 20 km pulang
pergi. Sebuah sedan BMW 520 dan sopir siap mengantar dia kemanapun.
Di Batu dia memiliki Rumah Sakit Bersalin (RSB) pribadi, tempat dia
praktek dan menolong persalinan. RSB ini dia bangun tahun 1996,
sekaligus dengan rumah besar dibelakangnya. Rumah yang sangat nyaman
dengan luas bangunan 500 m pesegi, dilengkapi taman bermain serta
kolam renang. Di sepanjang 30 meter tembok taman belakang, melekat
ratusan pohon anggrek bulan. Bunganya yang putih dengan benang sari
warna kuning berkilauan terkena sinar matahari dari sela sela daun pohon
pakis hutan yang menjulang tinggi.
Diantara RSB dan rumah, terdapat halaman yang dibeton untuk carport, 5
buah mobil berjajar siap melayani keluarga mereka.
Saudara saudara mereka menganggap mereka orang kaya. Teman-teman
dan tetangga mereka juga menganggap seperti itu. Bahkan dia sendiri juga
menganggap mereka ini orang kaya. Sampai serangkaian peristiwa
membuat dia meragukan kesimpulannya itu.
Ketika dia baru saja selesai membangun RSB dan menempati rumahnya,
seorang ibu paruh baya datang kerumahnya. Ibu tadi ternyata menjual
buku-buku tentang kehidupan hewan dan tumbuh-tumbuhan secara door
to door. Buku buku edisi luks tadi dia beli beberapa. Sambil melayani
pembeliannya, si ibu cerita :”Suami saya dulu seorang dokter umum.
Beliau meninggal beberapa tahun lalu. Karena anak-anak masih
membutuhkan biaya untuk sekolah, saya harus bekerja mencari uang dok”.
4
Mendengar itu dia tidak memiliki perasaan apa-apa, dianggapnya itu hal
yang biasa saja sebagai bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Kurang dari seminggu, ada lagi ibu-ibu paroh baya yang datang ke
kliniknya. Karena susternya mengatakan yang datang adalah seorang ibu
dokter, diapun melayaninya. Ibu tadi menjual asuransi. Sang tamu
bercerita bahwa waktu muda dia agen asuransi. Kemudian menikah
dengan seorang dokter, dia berhenti bekerja. Sekarang suaminya sudah
meninggal, anak-anak masih membutuhkan biaya dan dia terpaksa
menggeluti profesi lama menjadi agen asuransi.
Dua pertemuan itu mulai mengusik hatinya, mengapa ekonomi seorang
dokter begitu rapuh ? Ketika suaminya meninggal, sang istri harus bekerja
mencari nafkah. Apakah ini normal ?
Pertemuan ketiga dengan janda dokter terjadi di rumah sakit tempat dia
bekerja. Ketika akan melakukan visite (memeriksa pasien di ruangan), di
kamar jaga nampak seorang ibu berusia 70 an dikerubungi para bidan.
Ternyata itu janda dokter yang harus mencari nafkah dengan menjual baju
secara cicilan. Kemana-mana beliau membawa buntalan kain seperti yang
ada di film-film kerajaan korea jaman dulu.
Satu pertemuan mungkin kebetulan. Tiga dalam waktu singkat
membuatnya berpikir “pesan apa yang harus saya cermati ?”. Dia mulai
mempertanyakan “apa benar ekonomi saya sudah oke ?”. Jawabannya
baru ketemu tiga tahun kemudian ketika dia membaca buku Robert T
Kiyosaki, Cashflow Quadrant. Ternyata dokter, pengacara, pebisnis kecil,
pemilik restoran, pemilik toko, bintang film, tukang kayu, tukang becak
itu sama saja. Mereka mencari nafkah hanya dengan mengandal kan
kekuatan dirinya atau disebut Self Employed. Penghasilannya adalah
penghasilan aktif. Biasanya semakin besar penghasilannya, semakin besar
pula biaya hidup dan hutangnya. Penghasilan dan biaya hidupnya selalu
berkejar kejar an seperti Tom dan Jerry. Tokoh film kartun di televisi.
5
Ketika membaca buku Robert T Kyosaki yang lain berjudul Rich Dad
Poor Dad, dia merasa tertampar. Disana Robert T Kiyosaki menganggap
orang seperti dia itu almost bankrupt alias hampir bangkrut.
Tentu dia marah dikatakan hampir bangkrut oleh sebuah buku. Tetapi
marah kepada siapa ? . . . kepada buku ?
Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Karena idiot financial, dia salah
total mengenai kebenaran kondisi ekonominya. Selama bertahun tahun dia
mengira bahwa dia ini bertambah kaya. Dari dokter umum, menjadi
spesialis kandungan, kemudian mendirikan Rumah Sakit Bersalin pribadi.
Kehidupannya memang meningkat, siapa yang mengira bahwa dia
sebenarnya bertambah miskin dari waktu ke waktu ?. Hanya penghasilan
nya yang bertambah besar dan gaya hidupnya yang bertambah mewah.
Sekarangpun masih banyak orang yang seperti dia. Merasa bertambah
kaya padahal kenyataannya cuma bertambah mewah. Mereka harus
bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan gaya hidupnya itu.
Dia mengira bahwa orang kaya itu adalah mereka yang penghasilannya
besar, memiliki rumah besar, dan mobil. Ternyata itu salah sama sekali.
Dari banyak buku yang dia baca, paling tidak ada 3 definisi kaya.
1. Robert T Kiyosaki : Kekayaan Anda adalah jumlah hari dimana Anda
bisa mempertahankan gaya hidup Anda tanpa Anda atau keluarga
Anda bekerja secara fisik.
2. Burke Hedges : Anda disebut kaya jika Anda memiliki uang dan
waktu yang cukup untuk melakukan apapun yang Anda mau kapanpun
Anda ingin.
3. Abdul Basid : Anda disebut kaya, jika penghasilan pasif Anda lebih
besar dari biaya hidup Anda sehari hari.
Dia tertawa kecut karena dari ke 3 definisi tadi, tidak satupun yang
menyebut dia kaya. Menurut definisi Robert T Kiyosaki, kekayaannya
hanya 3 bulan lebih sedikit, atau 100 hari. Dia memiliki tabungan 100
jutaan, sedang biaya hidup mereka diatas 30 juta sebulan. Jika saat itu dia
6
berhenti praktek, maka keluarganya hanya bertahan 3 bulan sebelum
terpaksa menurunkan gaya hidup dengan menjual sebagian harta.
Definisi Burke Hedge mensyaratkan uang dan waktu yang cukup untuk
bisa disebut kaya. Sudah pasti dia tidak bisa memiliki keduanya sekaligus.
Uang itu dia peroleh dengan cara menjual waktunya. Jika berhenti menjual
waktu, berhenti pula aliran uang untuk keluarganya. Ibarat mobil yang
berhenti mendadak, penumpangnya pasti mengalami guncangan.
Definisi Abdul Basid sama saja. Seluruh penghasilannya adalah hasil kerja
keras sehari-hari, disebut penghasilan aktif. Itu tidak dihitung dalam
kekayaan. Uang yang bisa membuat kita kaya adalah penghasilan pasif
dari aset yang kita miliki. Misalnya Anda punya rumah yang
dikontrakkan, rumah kos, hotel dan bisnis yang dikelola orang lain, sapi
yang dirawat orang lain, deposito, reksadana, atau saham. Dia tidak
memiliki satupun dari aneka macam aset yang menghasilkan tersebut.
Yang dia punya cuma rumah, dan mobil yang dipakai sendiri.
Dia semakin sadar kalau salah jalan ketika membaca definisi miskin dari
Jose Mujica, presiden Uruguay, salah satu negara di Amerika Latin.
Mujica mengatakan :”Orang miskin adalah mereka yang harus bekerja
keras untuk mempertahankan gaya hidupnya yang semakin lama semakin
mahal”. Itu adalah dia . . . dan juga banyak dari teman-temannya. Ketika
muda, sebagai dokter umum di puskesmas sudah puas memakai Hijet
1000. Sekarang ada 5 mobil yang terparkir di garasi dan carport.
Untuk mempertahankan itu, dia harus terus bekerja siang dan malam.
Waktu masih yunior dia bisa praktek santai dan masih sempat nukang
kayu. Ketika menjadi dokter senior, dia harus praktek pagi dan sore
sampai malam. Hari Minggu pun tetap bekerja. Tidak sempat lagi
melakukan hobbynya yaitu bertukang dan memancing.
Apakah saat itu dia bisa berhenti praktek ? . . . tentu bisa !! Asal berani
menghadapi konsekwensinya. Setelah beberapa bulan, tabungan istrinya
pasti sudah habis. Dia mungkin lebih beruntung dari banyak orang lain,
memiliki tabungan sebesar 3 bulan biaya hidupnya. Banyak dari kita yang
7
punya tabungan hanya 1 atau 2 bulan biaya hidup, bahkan jauh lebih
banyak lagi yang tidak memiliki tabungan sama sekali.
Setelah menghabiskan tabungan, istrinya akan mulai mencairkan surat
surat berharga seperti asuransi pendidikan anak. Saat itu lebih penting
memikirkan putaran roda kehidupan dibanding pendidikan yang masih
nanti. Kemudian istrinya harus mengurangi perhiasan yang dipakai,
menjual mobil dan akhirnya menjual rumah mereka, dibelikan yang lebih
kecil dipinggir kota. Itu biasanya terjadi hanya dalam waktu 2 tahun.
Kondisi ekonominya akan menurun terus kecuali isterinya bekerja seperti
ibu ibu janda dokter di depan.
Bagaimana jika suami dan isteri tidak bisa bekerja karena satu dan lain
hal. Sedang anak anak masih kecil ? Akibatnya tentu tidak terbayangkan.
Anak anak akan dibagi diantara saudara saudara orang tuanya. Itupun
kalau saudara saudara nya mau menerimanya.
8
MAUNYA MEMBANGUN ASET, TAPI MENUMPUK BEBAN
Dahulu dia mengira kalau mobilnya bertambah banyak, berarti dia
bertambah kaya. Kalau rumahnya bertambah besar, berarti dia bertambah
kaya. Setelah Klinik dan rumah di Batu berdiri, dia masih mempekerjakan
dua tukang batu hampir selama 3 tahun. Selama itu mereka setiap hari
terus menerus melakukan pekerjaan di rumah yang sebenarnya sudah jadi
itu. Membangun kolam ikan, merombaknya, membuat menara sangkar
burung, merombak kolam ikan, membuat kolam renang, membuat gazebo,
memindahkan sangkar burung, merombak kolam ikan lagi, memindahkan
sangkar burung lagi dan seterusnya. Saking seringnya merombak sesuatu
yang sudah mereka bangun, dua orang itu bergurau :”Kalau bikin kolam
jangan kuat-kuat, nanti kita juga yang harus membongkarnya”.
Ke tidak tahuan akan aset dan beban telah membuat dia “salah jalan”. Dia
mengira semua hartanya itu adalah aset . . . . ternyata bukan. Dia bekerja
keras untuk membesarkan dan memperbanyak asetnya supaya tambah
kaya, ternyata dia tambah miskin. Itulah resiko akibat ketidak tahuan.
Definisi aset sudah jelas, yaitu harta yang bisa memberi penghasilan
kepada kita. Misalnya rumah yang kita sewakan, kos-kos an, hotel, kebun
sawit, ternak, deposito, saham dan sebagainya. Semakin besar aset kita,
akan semakin besar penghasilan pasif kita. Artinya kita semakin kaya –
ingat definisi kaya di bab sebelumnya-.
Sebaliknya, beban adalah segala sesuatu milik kita yang justru
menghabiskan uang. Misalnya rumah yang kita tinggali, mobil yang kita
pakai, perhiasan emas, harta bergerak atau tidak bergerak lain yang tidak
menghasilkan uang kecuali dijual. Semakin besar beban kita berarti
semakin besar biaya hidup kita. Semakin besar biaya hidup kita, semakin
keras kerja kita untuk bisa membiayainya. Itu berarti kita semakin miskin.
Dalam banyak bukunya, Robert T Kiyosaki selalu mengatakan bahwa
uang dari penghasilan aktif adalah uang yang salah. Penghasilan aktif
adalah hasil kerja kita berupa gaji, honorarium, praktek dokter dan
keuntungan bisnis yang kita kelola sendiri. Uang jenis ini tidak dapat
9
membuat kita menjadi kaya. Yang bisa membuat kita bisa kaya adalah
uang dari penghasilan pasif yaitu penghasilan yang berasal dari aset yang
sebelumnya kita bangun. Disebut juga residual income.
Dokter tadi merasa tersinggung ketika dikatakan bahwa uang yang dia
peroleh dari penghasilan aktif adalah uang yang salah. Selama dua puluh
tahun bekerja dia menghasilkan uang yang salah ? Memangnya siapa yang
menentukan ini uang salah dan itu uang yang benar ? Kemudian mulai
terpikir siapa dia dan siapa Kiyosaki. Robert T Kiyosaki adalah milyarder
dan penulis buku buku keuangan best seller. Sebelum menjadi penulis dia
sudah milyarder dengan penghasilan pasif yang sangat besar. Tentu jauh
lebih mengerti tentang keuangan dibanding dia. Jadi menurut sajalah !
Ke tiga definisi kaya di bab sebelumnya menunjukkan bahwa yang
dihitung memang hanya penghasilan pasif. Karena penghasilan jenis ini
lebih permanen. Penghasilan aktif bisa sewaktu waktu hilang jika kita
kena PHK, stroke atau meninggal. Sebaliknya penghasilan pasif tidak
terpengaruh dengan kondisi kita. Meskipun kepala keluarga meninggal,
uang dari sewa rumah akan tetap mengalir. Mahasiswa yang kos tetap
akan membayarnya. Sapi yang dirawat penggaduh tetap berkembang dan
terus menghasilkan uang tanpa peduli pemiliknya mati atau hidup. Bisnis
yang dikelola pihak lain tetap mengalirkan keuntungan. Bisnis Networking
atau Personal Franchise tetap akan menghasilkan uang banyak, bahkan
bisa diwariskan. Demikian juga dengan kebun sawit, buah naga, deposito
maupun saham yang kita miliki. Nilainya tidak terpengaruh apakah
pemiliknya meninggal atau masih hidup. Yang mempengaruhi hanyalah
kondisi ekonomi global. Tentu saja itu bukan lagi urusan kita.
Dia mengetahui hal itu pada usia sekitar 45 tahun. Tetapi baru “bertindak”
tiga tahun kemudian. Dia berhasil mengubah arah kehidupannya, dan pada
usia 50 tahun bisa membangun penghasilan pasif yang cukup untuk
membuat dia bisa berhenti praktek. Seandainya dia masih dokter umum,
mungkin bisa tetap praktek satu atau dua kali seminggu tanpa menarik
biaya. Sebagai dokter kandungan, hal semacam itu tidak mungkin. Siap 24
jam atau berhenti sama sekali. Dia memilih berhenti.
10
HEDONIC TREADMILL
Hedonic artinya kemewahan, treadmill adalah alat olah raga lari ditempat.
Gabungan dari kedua kata itu bukan berarti kita berolahraga dengan alat
yang mewah. Konsep ini diperkenalkan oleh dua orang ilmuwan bernama
Philip Brickmann dan Donald Campbell. Inti dari konsep hedonic
treadmill adalah hedonic adaptation. Bagaimana kita cenderung kembali
pada standar kebahagiaan hidup yang sebelumnya.
Sebagai contoh adalah seorang gamer mania. Dulu, memiliki playstation
generasi pertama rasanya sudah bahagia sekali. Tetapi lama kelamaan rasa
itu memudar ketika keluar playstation 2. Kita kemudian menyimpulkan
bahwa kebahagiaan akan bertambah jika saja memiliki playstation 2 itu.
Setelah dibeli, ternyata kebahagiaan itu bertahan hanya beberapa hari saja
karena keluar playstation portable. Kita merasa bahwa kebahagiaan kita
akan naik seiring dengan memiliki playstation portable itu. Sampai
kemudian hal ini terulang, terulang, dan terulang kembali seterusnya.
Nah, fenomena ini kemudian dikaitkan dengan treadmill. Kenapa? Karena
treadmill itu identik dengan orang yang berlari dan mengejar sesuatu di
tempat. Banyak sekali orang yang terjerumus dan meyakini bahwa
meningkatkan standar hidup dari hari ke hari akan semakin meningkatkan
rasa bahagia mereka, tetapi nyatanya apa yang mereka rasakan
itu semu dan seperti sedang berjalan di treadmill, kebahagiaannya berjalan
di tempat.
Itulah yang terjadi pada dokter tadi. Ketika menjadi dokter umum, sebuah
mobil sederhana sudah sangat cukup untuk kegiatan sehari-hari. Setelah
menjadi spesialis, satu mobil terasa kurang. Bagaimana jika istri ingin
keluar rumah saat dia di rumah sakit ? Tambah lagi 1 mobil. Seminggu
merasa lebih nyaman, lama-lama biasa lagi. Pas hari raya mencoba BMW
baru milik mertuanya di Jakarta, rasanya eeenaak sekali. Pasti akan
bahagia ya jika bisa punya mobil BMW seperti itu ?. Akhirnya dia
membeli mobil buatan Jerman itu. Seminggu dia merasakan perbedaan
11
dari mobil Jepang ke mobil Eropa. Khususnya beda suspensi dan
kekedapan kabinnya. Setelah itu ya biasa lagi.
Ketika melihat VW combi melaju dijalan, tiba-tiba dia merasa perlu untuk
memilikinya. Harganya toh murah, ya dibelilah VW dan direnovasi.
Demikian terus menerus, kepuasan hanya bertahan paling lama seminggu,
setelah itu kembali lagi seperti semula. Sampai tanpa terasa mereka
memiliki 5 mobil segala jenis. Ada jip, mobil keluarga, sedan untuk dia,
sedan untuk istrinya dan entah mobil apalagi dan untuk siapa lagi.
Tentu saja saat itu dia tidak tahu apa-apa tentang hedonic treadmill. Dia
bahkan tidak terlalu merasakan bahwa kemewahan itu harus dia tebus
dengan bekerja lebih keras. Praktek pagi sore tanpa merasakan apa-apa
lagi. Ibarat sebuah robot yang berjalan otomatis. Kerja . . . kerja . . . dan
kerja. Dia tentu menganggap itu wajar saja, karena semua orang
melakukannya juga
12
GEROBAK DITARIK SENDIRI atau MEMBELI KUDA ?
Selama puluhan tahun, kehidupan dokter tadi ibarat menarik gerobak
sendirian. Hanya dia yang bekerja mencari uang, meskipun “tenaga”
tarikannya cukup kuat karena dia seorang dokter. Dengan demikian
banyak barang yang bisa dia masukkan ke gerobak itu. Ketika menjadi
spesialis kandungan, kekuatan untuk menarik gerobak naik tiga kali lipat
dibanding sebelumnya. Satu mobil dan satu rumah terasa terlalu ringan,
sehingga perlu ditambah dan ditambah lagi.
Tahun 2003 adalah awal titik balik perjalanan mereka. Oktober 2003,
Anaknya yang kuliah di Jakarta, mengajak dia ikut sebuah seminar
Leadership. Seperti orang tua normal lainnya, awalnya dia menolak.
Karena terus di desak, akhirnya terpaksa ikut juga ke Jakarta. Di seminar 3
hari itu dia mendapatkan pencerahan. Dia memutuskan untuk mengikuti
pendidikan sekaligus membangun bisnis dengan bimbingan.
Dibimbing mentor dari jauh, dengan semangat 45 dia kerjakan bisnis di
sela waktu produktifnya. Ketakutan jika dia meninggal keluarganya akan
kolaps menjadi energi pendorong yang sangat kuat. Bisnisnya berjalan
lambat di awal. Setelah 4 bulan jungkir balik, bonusnya lebih kecil dari
honor periksa satu pasien. Lama kelamaan meningkat, tadinya hanya
sebagai back up income, kemudian mulai terpikir bisa menggantikan hasil
praktek. Mulailah muncul keinginan untuk berhenti praktek. Kurang dari
dua tahun setelah memulai, tepatnya tanggal 17 Agustus 2005 dia
memutuskan berhenti praktek. Ibaratnya sebuah kuda sudah terpasang di
depan gerobak, dia tidak perlu lagi menarik gerobak itu sendirian.
Seperti kata pepatah, uang akan menarik uang lebih banyak lagi. Seiring
waktu, kuda penarik gerobaknya bertambah. Berkah dari bisnis yang
modalnya tidak lebih besar dari honorarium satu pasien melahirkan itu
semakin nampak. Kekuatan sistemnya juga terbukti. Selama 10 tahun dia
tidak lagi mengerjakan atau merawat bisnisnya, penghasilannya stabil
bahkan meningkat karena inflasi.
13
MEMILIH JALAN 20–40–5 atau 20–5–40
Hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih apa saja yang ingin kita lakukan.
Masalahnya, pilihan-pilihan kita biasanya didasarkan pada apa yang kita
ketahui. Jika kita lahir dan besar di keluarga karyawan atau profesional,
maka pilihan untuk menjalani hidup adalah meniru lingkungan kita, yaitu
20-40-5. Sekolah mulai play group sampai S1 butuh sekitar 20 tahun.
Kemudian mencari pekerjaan atau profesi yang baik dan membangun karir
selama 40 tahun. Setelah usia 65 tahun, pensiun dan menikmati hidup
selama 5 tahun. Itu kalau kita masih sehat dan memiliki uang. Sebagian
besar dari kita pensiun tanpa uang dan dengan kesehatan yang buruk.
Nyaris tidak ada yang mengetahui keberadaan jalan kedua, yaitu jalan
yang 20-5-40. Ini wajar karena memang tidak ada yang tahu, kecuali Anda
mendapat kesempatan untuk mengetahuinya. Andapun biasanya juga tidak
segera mau menerimanya, karena itu berlawanan sama sekali dengan hal
hal yang Anda anggap benar selama ini. Hal hal yang diajarkan orang tua
kita sejak kita kecil. Dokter tadi juga sudah lama diberitahu keberadaan
jalan ke dua tadi, tapi toh dia tidak mengindahkannya.
Pada pilihan kedua, setelah pendidikan selesai, kita mengerjakan bisnis
yang bisa memberikan penghasilan pasif. Setelah bekerja keras selama 5
tahun, kita bisa memiliki penghasilan pasif 100 juta sebulan. Dengan
penghasilan sejumlah itu, sisa 40 tahun usia kita sudah bebas finansial dan
bebas waktu seperti banyak orang di Indonesia yang menjalankannya. Kita
sudah termasuk orang makmur atau kaya. Punya uang dan waktu, tidak
perlu lagi bekerja secara fisik, kecuali ingin membesarkan lagi volume
bisnisnya. Dengan penghasilan 100 juta sebulan, banyak hal bisa kita
peroleh. Disini itu adalah penghasilan direktur perusahaan besar. Bedanya,
jika direktur diberhentikan, uang itu tidak akan diterima lagi. Di personal
franchise ini, setelah bisnisnya jadi, kita tidak perlu mengendalikan lagi
karena sistem yang akan bekerja. Seperti pemilik KFC atau Indomart yang
tidak perlu ada disana karena sudah dikendalikan sistem franchise nya.
14
SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN
Jika kita bertanya kepada banyak orang, apa sih yang diinginkan untuk
masa depan mereka ? Sudah hampir pasti, mereka akan menjawab bahwa
tujuan hidup di masa depan adalah :
1. Sehat secara fisik
2. Bahagia lahir dan batin
3. Makmur secara keuangan
Sayang sekali, kita tidak pernah secara serius benar-benar mengusahakan
masa depan seperti yang kita inginkan itu. Yang kita lakukan justru
menjauh dari ke tiga hal yang kita inginkan itu. Paling tidak itulah yang
dokter tadi telah dilakukan, walaupun tanpa dia sadari.
Banyak dari kita yang seperti dia, bekerja keras tanpa memikirkan istirahat
dan kesehatan. Makan sembarangan karena setiap habis operasi malam
hari, biasanya paramedis di rumah sakit menyediakan mi atau nasi goreng.
Setiap bulan hampir pasti dia sakit faringitis –sakit tenggorokan-, dan
perlu istirahat 1 atau 2 hari.
Dia juga lupa dengan kebutuhan emosional keluarga. Tanpa disadari, dia
menjadi penghambat kebahagiaan keluarga. Jika mereka bepergian ke
suatu tempat, misalnya ke mertua di Surabaya atau ke ibunya di
Probolinggo, belum tentu bisa sampai sana. Seringkali harus kembali di
tengah jalan karena ada panggilan dari RSB.
Bagi istri dan anak-anaknya tentu ini sangat mengecewakan. Dia sendiri
menganggap ini hal yang biasa saja. Pasien atau pekerjaan adalah yang
nomor satu. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun karena telah
mengecewakan keluarga. Dia berpikir melakukan ini untuk mereka juga.
Itu sebenarnya adalah bisikan ego. Di kemudian hari barulah dia tahu
bahwa itu salah.
15
Jika kesehatan dan kebahagiaan semakin menjauh, bidang keuangan lebih
parah lagi. Uraian di bab sebelumnya menunjukkan bahwa semakin lama
dia bukannya semakin kaya melainkan kebalikannya.
Stephen Covey menyatakan bahwa waktu kita sehari hari umumnya habis
untuk kegiatan yang sebenarnya tidak perlu. Dalam bukunya The Seven
Habits of Highly Effective People, dia membagi kegiatan kita dalam 4
kuadran, gabungan dari kegiatan penting atau tidak penting, mendesak
atau tidak mendesak :
Krisis Perawatan diri : Olah
PENTING Batas waktu proyek raga, Meditasi
Keluarga dan teman
Anak menangis 1 2 Perencanaan
Keuangan Proyek
jangka panjang
Rekreasi
TIDAK Dering telepon Nonton TV
PENTING Alarm HP Chatting
E mail 3 4 Main game
Interupsi Melamun
Masalah rumah Acara buang waktu
tangga lain
MENDESAK TIDAK MENDESAK
Sebagian besar fokus kita di kuadran 1, penting dan mendesak seperti
menyelesaikan krisis, batas waktu proyek atau tangisan anak. Kita juga
terjebak di kegiatan yang mendesak walaupun sebenarnya tidak penting.
Misalnya menerima telepon, menanggapi alarm hp, membaca e mail,
interupsi dari sekitar dan juga masalah masalah rumah tangga.
Karena sudah capek menangani hal mendesak, kita merasa perlu
melakukan kegiatan di kuadran 4 yang sebenarnya tidak penting dan tidak
16
mendesak. Misalnya nonton TV, chatting, main game, melamun dan hal-
hal lain yang membuang waktu.
Yang kita lupakan justru kuadran 2 yang penting walaupun itu tidak
mendesak. Kita merasa bahwa kalau tidak olahraga hari ini toh tidak akan
mati besok. Akhirnya kita mengabaikan olah raga. Begitu juga hubungan
dengan teman dan keluarga, termasuk disini perencanaan keuangan
jangka panjang. Hanya sedikit orang yang tidak mengabaikan itu, dan
mereka mendapatkan imbalannya berupa kesehatan dan atau kekayaan.
Akibatnya tergambar di fakta statistik di Amerika tentang rata-rata kondisi
seseorang setelah usia 65 tahun dibawah ini.
FAKTA SETELAH USIA 65 TAHUN di AS
1% Kaya
4% Makmur / Mandiri
5 % Masih harus bekerja
36% Meninggal
54% Tergantung pihak lain
Data lain yang menyedihkan, menunjukkan bahwa 90% orang tidak siap
untuk pensiun, dan mereka yang sudah pensiun, 65% nya tidak bisa
17
membiayai kehidupan nya sendiri. Mereka harus ditunjang oleh anak-
anaknya, baik sebagian atau semua biaya hidupnya. Itu dianggap biasa di
Indonesia. Orang tua yang sudah berjasa membesarkan si anak, merasa
bahwa sekarang giliran si anak menyenangkan orang tua. Itu sih sah-sah
saja. Tetapi alangkah indahnya jika kita menjadi kakek nenek yang kaya
(banyak uang), sehingga cucu-cucu akan senang merubung kita.
Mengapa banyak orang yang tidak siap untuk pensiun dari kegiatan
mencari nafkah ? Tentu banyak alasan untuk menunda mempersiapkan
diri. Alasan menunda umumnya berbeda-beda dari waktu ke waktu,
sampai semuanya terlambat.
1. Usia 18 – 24 :
a. Masih suka bersenang-senang,
b. Sibuk kuliah,
c. Belum punya prioritas untuk mencari uang.
2. Usia 25 – 35 :
a. Sedang semangat- semangatnya bekerja,
b. Semangat dengan hal baru : keluarga, mobil, gadget dsb.
3. Usia 36 – 50 :
a. Karier sedang menanjak,
b. Kejayaan dalam kehidupan,
c. Menikmati status sosial yang meningkat,
d. Bingung karena kewajiban keuangan yang besar.
4. Usia diatas 50 tahun :
a. Sudah sangat nyaman akan posisinya,
b. Cenderung mengamankan pensiun dengan fokus kerja.
5. Usia diatas 55 :
a. Merasa sudah terlalu tua untuk melakukan hal baru.
Coba bayangkan seandainya karena satu dan lain hal, mulai besok pagi
Anda tidak dapat mencari nafkah lagi untuk keluarga. Apakah rencana
pendidikan anak-anak Anda masih terjamin ? Berapa lama Anda dan
keluarga bisa menikmati mobil ini ? rumah ini ? home teater ini ? dan
18
semua kenikmatan ini. Berapa lama istri Anda bisa bertahan tidak harus
mencari uang atau menikah lagi ?
Apakah tidak ada waktu yang tepat untuk mempersiapkan masa depan ?
Tentu ada . . . . waktu yang tepat adalah SEKARANG !!. Berapapun usia
Anda sekarang, lakukan itu sekarang. Tidak ada waktu yang lebih tepat
lagi selain sekarang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Seandainya Anda entah bagaimana diberitahu bahwa hanya tahun ini yang
disediakan untuk Anda, tahun depan sudah tidak ada lagi. Apa yang Anda
akan lakukan untuk keluarga Anda ? Apa Anda tetap melakukan hal hal
yang Anda lakukan sekarang selama 12 bulan kedepan sambil menunggu
keajaiban ? Atau Anda pasrah saja ? Atau meneguhkan tekad untuk mau
mengambil jalan lain ? Hanya Anda yang bisa memutuskan.
19
APA YANG DIKERJAKANNYA SEKARANG ?
Setelah keluarganya aman, dia pun tidak lagi melanjutkan bisnis
networkingnya. Hanya membantu orang lain jika ingin mengembangkan
bisnisnya. Yang dia lakukan adalah menjadi provokator, agar orang tidak
terlalu lama menjadi slave of money atau budaknya uang. Segeralah
menjadi master of money atau majikannya uang. Dia merasa sudah
terlambat mengetahui hal hal yang seharusnya sudah diketahui orang sejak
lulus kuliah. Selama 25 tahun dia bekereja keras mencari uang, sekarang
dia bekerja keras membangun aset. Dia sudah mengetahui ke dua sisi dan
tidak mau kembali ke sisi seberang. Karena itu, setiap kali bertemu
dengan orang yang lebih muda, dia selalu mengatakan :”Jangan terlalu
lama bekerja mencari uang. Cukup 5-10 tahun saja, setelah itu
seharusnya sudah bisa menikmati hasil kerja Anda”. Tetapi dia tahu
bahwa itu tidak semudah membalik telapak tangan.
Bidang keuangan adalah bidang yang sepenuhnya dikendalikan oleh
pikiran bawah sadar. Sama seperti sex, politik dan agama. Meskipun
pikiran sadarnya tahu ada yang lebih baik, tetap saja akan melakukan hal
hal yang sudah biasa mereka lakukan. Meskipun sudah membaca
setumpuk buku Robert T Kiyosaki, dan Burked Hedges seperti yang dia
lakukan, mengikuti berbagai seminar bisnis, tetap saja akan menganggap
bisnis atau pekerjaan yang sedang dilakukan ini sebagai bisnis atau
pekerjaan yang terhebat. Mereka berharap dan merasa yakin suatu saat
akan mendapatkan penghasilan pasif dari apa yang dia kerjakan sekarang.
Albert Einstein mengatakan :”Jika Anda melakukan hal hal yang sama
tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, itu adalah tanda tanda awal
dari kegilaan. Karena itu suatu hal yang mustahil”.
Jika ingin menghubungi dr. Sigit Setyawadi SpOG untuk konfirmasi
kisahnya ini. Silahkan SMS / WA ke HP 081235446454.
20