Nama : Nina Anggraeni
Nomor Peserta : 201503103799
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
No. Masalah yang Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah
telah
diidentifikasi
1. Beberapa siswa 1. Observasi: Sarana dan prasarana yang kurang
motivasi belajar Observer : R.R. Wahyuningtyas Dwi L., S.Pd., M.Pd. mendukung dalam sistem pembelajaran
rendah Kurangnya sarana prasarana pendukung pembelajaran seperti proyektor/LCD.
Gaya belajar siswa yang menjadi suatu kebiasaan Guru sudah menerapkan model berinovasi
Jarang dibuatnya kesepakatan kelas sebelum proses dalam sistem pembelajaran seperti
pembelajaran penggunaan model-model pembelajaran
https://drive.google.com/drive/folders/1y2a6qpUxNpu2essfpj sesuai dengan kebutuhan dan minat belajar
jSfPPuHOh12UKl?usp=share_link siswa. Hanya saja selama ini siswa
kebanyakan bersifat menerima dan kurang
mengeksplor kemampuan mereka. Maka
dari itu akan selalu memberikan dorongan
untuk siswa agar bisa memiliki
kepemimpinan yang dimiliki dalam
pembelajaran.
Kesepakatan kelas yang dibuat guru
dengan siswa akan merujuk terhadap
keyakinan kelas yang mereka Yakini. Ketika
seoranag guru jarang membuat
kesepakatan kelas, maka siswa akan
menganggap tidak memiliki konsekuensi
dalam pembelajaran kimia sehingga
berpengaruh terhadap motivasi didalam diri
mereka.
2. Wawancara: Analisis dari hasil wawancara:
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak Faktor internal berasal dari siswa dan
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd) keluarga. Contoh keingintahuan siswa itu
Faktor internal dan Eksternal yang mempengaruhi sendiri dan faktor eksternal yang berasal
motivasi belajar siswa, dimana salah satunya yaitu faktor dari sekolah dan guru itu sendiri. Contoh
keluarga yang mendukung dan semangat guru dalam dari sekolah yaitu kurangnya fasilitas yang
memberikan motivasi. memadai seperti proyektor, pengaruh
2) Kepala Sekolah SMAN 1 Babat Supat (Sumiran, S.Pd., gadget terhadap keseharian siswa dan
M.Si.) : kehadiran guru yang diperlukan
Faktor internal yang terdiri dari lingkungan masyarakat sepenuhnya sehingga akan tercapai sistem
dan keluarga. Beserta faktor eksternal salah satunya
siswa banyak kecanduan gadget bukan kearah ranah pembelaaaran yang mindfulness dan
pembelajaran. wellbeing.
3) Pakar : Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd.
Faktor internal dan faktor eksternal terutama dorongan
dari dalam diri siswa itu sendiri, karena selama ini siswa
banyak cenderung menerima saja sistem pembelajaran.
3. Kajian Literatur Motivasi belajar siswa rendah yang berasal
1) Jurnal Catur Fathonah Djarwo (2020) dari dalam diri siswa, contoh intelegensi
Motivasi belajar rendah dipengaruhi oleh faktor internal (kecerdasan), minat, bakat, emosi, fisik,
dan faktor eksternal. dan sikap. Faktor eksternal yang berasal
Djarwo, Catur Fathonah. "Analisis faktor internal dan dari kondisi luar diri siswa. Contohnya
eksternal terhadap motivasi belajar kimia siswa SMA adalah: Keluarga, sekolah, dan
Kota Jayapura." Jurnal Ilmiah IKIP Mataram 7.1 (2020): masyarakat. Kedua hal tersebut
1-7.
2) Jurnal IP Budiariawan (2019): mempengaruhi motivasi belajar siswa.
Mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata Kimia dianggap sebagai salah satu mata
pelajaran yang kurang diminati oleh kebanyakan peserta
pelajaran yang sulit, yang kadang–kadang
didik.
membuat siswa tidak mau belajar kimia
Budiariawan, I. Putu. "Hubungan motivasi belajar dengan
hasil belajar pada mata pelajaran kimia." Jurnal lebih lanjut. Pandangan siswa yang
Pendidikan Kimia Indonesia 3.2 (2019): 103-111. menganggap bahwa pelajaran kimia sulit
menyebabkan motivasi siswa dalam
belajar kimia tidak ada.
Seorang siswa yang tidak termotivasi
dengan baik saat pembelajaran akan
melakukan kegiatan belajar yang
cenderung lebih pasif dibandingkan
dengan siswa yang termotivasi dengan
baik dalam belajar.
2. Rendahnya 1. Observasi: Siswa kurang focus untuk jangka waktu
pemahaman dan Observer : R.R. Wahyuningtyas Dwi L., S.Pd., M.Pd. yang lama saat proses pembelajaran
kreativitas siswa Beberapa siswa tidak focus selama proses pembelajaran karena lebih menyukai bermain.
dalam proses Tujuan pembelajaran yang belum tercapai Sistem pembelajaran yang dilakukan
pembelajaran.
https://drive.google.com/drive/folders/1y2a6qpUxNpu2ess kurang termanagement dengan baik
fpjjSfPPuHOh12UKl?usp=share_link terutama dalam pengaturan waktu.
2. Wawancara: Penguasaan guru terhadap materi yang
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak dijelaskan
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd) Penggunaan model pembelajaran yang
Ditentukan saat kesan pertama dalam proses kurang tepat sesuai dengan minat dan
pembelajaran. kebutuhan belajar siswa.
2) Pakar : Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd.
Siswa cenderung menerima saja yang diberikan oleh guru Siswa bersifat pasif sehingga untuk
dan kurangnya literasi tentang materi yang dibahas. mengembang kreativitas tersebut rendah
dikarenakan kurang memahami materi.
3. Kajian Literatur: Kreativitas anak tidak dapat berkembang oleh
1) Jurnal Nasir Sah (2016): beberapa faktor penghambat, diantaranya:
Guru masih menerapkan model pembelajaran yang Terlalu banyak larangan
dimulai dari penjelasan materi, memberi contoh dan Memaksakan hanya satu cara
dilanjutkan mencatat, sehingga siswa cenderung pasif Kurang menghargai karya anak
yang mengakibatkan rendahnya kreativitas siswa belajar Terlalu banyak komentar negatif
kimia. Siswa kurang diberi kesempatan untuk
http://jurnal.um-
tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/2433 memikirkan dan mengembangkan potensi
Sah, Nasir. "Penerapan Model Pembelajaran Tuntas kreatif dalam pelajaran kimia
(Mastery Learning) untuk Meningkatkan Kreativitas
Belajar Kimia Siswa melalui di SMA Negeri 3
Padangsidimpuan." NUSANTARA: Jurnal Ilmu
Pengetahuan Sosial 1.1 (2016).
2) Jurnal Fia Alifah Putri, Rahmawati dan Suyadi (2021):
Cara mendidik anak yang otoriter disekolah dan dirumah
maka pembentukan awal anak akan membekukan
kreativitas anak.
Putri, Fia Alifah. "Analisis Perkembangan Seni Kreativitas
Siswa Kelas Rendah Muhammadiyah Pajangan 2
Yogyakarta." Al-Aulad: Journal of Islamic Primary
Education 3.1 (2020): 1-9.
3. Kurangnya 1. Observasi: Orang tua menghabiskan waktu berkebun
partisipasi orang Sebagian siswa kurang interaktif dengan orang tua karena dan bertani sehingga tidak mempunyai
tua sebagai kesibukan orang tua dalam bekerja. waktu menanamkan karakter anaknya dan
pendamping dan Sebagian orang tua memiliki pemikiran bahwa pendidikan menyerahkan pendidikan karakter
sumber belajar merupakan tanggungjawab sekolah. sepenuhnya kepada sekolah.
siswa Orang tua berpendapat tanggungjawab
mereka sebatas memenuhu kebutuhan
anak saja
2. Wawancara: Latar belakang pendidikan orang tua yang
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd) kurang berada. Sehingga perhatian
Pemahaman orang tua mengenai pendidikan sepenuhnya atau komunikasi untuk
Kurangnya komunikasi orang tua dengan guru anaknya kurang.
Orang tua sibuk mencari nafkah Pendidikan orang tua yang rendah dan
2) Kepala Sekolah SMAN 1 Babat Supat (Sumiran, S.Pd., sehingga mempercayai sekolah tempat
M.Si.): sumber anak dan tentunya partisipasi
yang dibangun kurang memiliki chemistry.
Latar belakang keluarga (broken home) dan kesibukan
orang tua dalam mencari nafkah.
3) Pakar : Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd.
Orang tua sepenuhnya menyerahkan anaknya 100%
pada guru dan kesibukan orang tua dalam mencari
nafkah.
3. Kajian Literatur: Sebagaian orang tua tidak memiliki HP,
Jurnal Wibawa, I. Putu, dkk (2020): sehingga kurangnya komunikasi orang tua
Belum optimalnya peran orang tua dalam memantau dengan sekolah dalam pendamping belajar
penugasan rumah yang diberikan kepada siswa. siswa.
Wibawa, I. Putu Gede Sutharyana Tubuh. "Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Berbasis Stem Dengan Penugasan
Berbantuan Aplikasi Whatsapp Terhadap Partisipasi Orang
Tua Dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD Se-Gugus VIII
Mengwi." Pendasi: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia 4.2
(2020): 79-90.
4. Guru belum 1. Observasi: Belum terbiasanya penggunaan Metode
maksimal dalam Siswa belum terbiasa dengan metode dan model dan model pembelajaran yang inovatif
mengimplementa pembelajaran yang inovatif banyak menuntut siswa untuk berfikir kritis,
sikan model- dan banyak siswa yang merasa bahwa
model penggunaan model atau metode
pembelajaran pembelajaran tersebut sulit. Maka dalam
inovatif. hal ini akan dilakukan pemetaan dengan
system pembelajaran berdiferensiasi agar
system pembelajaran lebih menarik.
2. Wawancara: Guru kurang kreatif dalam merepakan
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak model pembelajaran yang sudah dipelajari
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd) sebelumnya, karena kebanyakan guru
Faktor Pembiasaan yang dilakukan guru secara terus sudah memahami mengenai model
menerus. pembelajaran inovatif.
2) Kepala Sekolah SMAN 1 Babat Supat (Sumiran, S.Pd.,
M.Si.) Guru tidak ingin melakukan suatu
Guru belum paham mengenai model pembelajaran serta perubahan atau malas belajar dalam
situasi dan kondisi yang mendukung dalam menerapkan penggunaan media dan model
model pembellajaran inovatif. pembelajaran inovatif.
3) Pakar: Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd.
Faktor dari guru itu sendiri dalam menunjang kreativitas
menggunakan model pembelajaran inovatif.
3. Kajian Literatur: Salah satu keharusan yang wajib dimiliki
1) Jurnal simanjuntak, Habolongan (2014): guru dalam melaksanakan pembelajaran
Proses pembelajaran di sekolah pada umumnya belum yaitu kemampuan menerapkan model
menampakkan sistem belajar mengajar yang mengajak siswa pembelajaran. Kemampuan seorang guru
untuk aktif berpikir dan bertindak melakukan penggalian merencanakan atau memilih dan
potensi yang ada padanya. Sikap yang demikian mungkin menerapkan model pembelajaran yang
disebabkan karena metode pembelajaran yang kurang tepat pada saat melaksanakan
bervariasi, serta materi pelajaran yang relatif lebih sukar. pembelajaran terhadap peserta didik,
http://digilib.unimed.ac.id/4511/ memiliki peranan dalam meningkatkan hasil
Simanjuntak, Haholongan. MENINGKATKAN KEMAMPUAN belajar, terutama pencapaian tujuan
GURU KIMIA DALAM MENERAPKAN MODEL pembelajaran secara terperinci.
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW MELALUI Siswa cenderung hanya menghafal materi,
SUPERVISI KLINIS DI SMA NEGERI 1 PANGURURAN tidak memahami esensi makna materi,
KABUPATEN SAMOSIR. Diss. UNIMED, 2014.
2) Jurnal Sudirman, S.Pd.,M.Pd, & Rosmini Maru, S.Pd., bahkan tidak mengetahui aplikasi tentang
M.Si., Ph.D (2016): materi pembelajaran di dunia nyata.
Satu indikator rendahnya mutu pendidikan dasar dan Manakala siswa mendengarkan informasi
menengah adalah kurangnya penguasaan siswa dari guru, keterlibatan dalam proses belajar
terhadap materi pembelajaran. mengajar bisa dikatakan tidak ada,
http://eprints.unm.ac.id/23697/ kalaupun siswa terlibat maka keterlibatan
Hasja, Sudirman, and Rosmini Maru. "Implementasi kurang sekali.
Model-Model Pembelajaran Dalam Bingkai Penelitian Kurangnya pengetahuan guru terkait model
Tindakan Kelas." (2016). pembelajaran inovatif dimana pembelajaran
ini lebih memberikan peluang kepada
3) Jurnal Putu Siti Firman, dkk (2022): siswa.
Pembelajaran inovatif tidak sepenuhnya dilakukan
oleh guru.
Guru menggunakan model yang sama (mencatat
materi dan ceramah) digunakan untuk semua materi
pelajaran akan membuat siswa merasa bosan
Firmani, Putu Siti, I. Ketut Westra, and I. Dewa Gede
Kresna Wirawan. "PENGEMBANGAN
PROFESIONALISME GURU MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN INOVATIF DI SD NEGERI 3 UBUD
PADA PENGABDIAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN EKONOMI FKIP UNIVERSITAS PGRI
MAHADEWA INDONESIA." Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat Widya Mahadi 2.2 (2022): 61-69.
5. Beberapa siswa 1. Observasi: Minimnya sumber belajar baik buku bacaan
kesulitan saat Kemampuan literasi dan numerasi siswa sangat dan mengakses informasi dari internet.
mengidentifikasi mempengaruhi siswa dalam mengidentifikasi, mengelolah Sumber belajar di perpustakaan juga terbatas,
masalah dan data dan mengerjakan soal-soal HOTS. sehingga kemampuan numerasi juga rendah
mengelolah data terkendala kemampaun perhitungan dasar.
berbasis HOTS.
2. Wawancara Proses pembelajaran yang didapatkan
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak diwaktu SD dan SMP yang menjadi suatu
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd.) pembiasaan yang tertanam diotak siswa
Faktor-faktor pendidikan sebelumnya dengan sistem pembelajaran yang
Sumber belajar yang kurang memadai seperti buku konvensional dan soal-soal yang dibahas
dan internet dengan tingkat C1-C3.
2) Pakar: Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd. Jarang diberi latihan dalam menganalisis
Siswa terbiasa dengan menjawab yang tingkat dan menjawab soal berbasis HOTS.
kesulitannya rendah, sehingga ketika guru memberikan
soal berbasis HOTS akan mengalami kesulitan
3. Kajian Literatur Siswa sendiri tidak dibiasakan untuk
1) Jurnal Ririn Handayani dan Sigit Priatmoko (2013): mencoba menemukan sendiri
Siswa memang memiliki sejumlah pengetahuan, namun pengetahuan atau informasi itu, akibatnya
banyak pengetahuan itu diterima dari guru sebagai pengetahuan itu tidak bermakna dalam
informasi, sedangkan mereka sendiri tidak dibiasakan kehidupan sehari-hari sehingga cepat
untuk mencoba menemukan sendiri pengetahuan atau terlupakan.
informasi itu. Penelitian yang dilakukan oleh Liliasari
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JIPK (2003) tentang peningkatan mutu guru
/article/view/4406%3B
Handayani, Ririn, and Sigit Priatmoko. dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi
"Pengaruh pembelajaran problem solving
berorientasi HOTS (Higher Order Thinking pada model pembelajaran hitungan kimia
Skills) terhadap hasil belajar kimia siswa kelas
X." Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia 7.1 (2013). dapat mengembangkan keterampilan
2) Jurnal I.W. Puwardana, dkk (2021) berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis
Dalam pembuatan soal guru sering mengambil dari buku- yang dikembangkan adalah memberikan
buku praktis dari lembar kerja siswa yang yang banyak alasan, mendeduksi dan
dijual dipasaran atau bank-bank soal yang dikoleksi mempertimbangkan hasil deduksi,
sekolah. menggunakan prosedur yang mapan,
Puwardana, I. W., and I. N. Suastika. "Pengembangan menyimpulkan, menerapkan konsep,
Instrumen Penilaian Berbasis HOTS pada Materi
Pengolahan data dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Siswa berkomunikasi, dan mengajukan
Kelas VI SD." Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan
Indonesia 11.2 (2021): 147-156. pertanyaan.
Guru mengalami kesulitan dalam
merumuskan Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK) yang mengarah pada
proses pembelajaran dan penilaian yang
berbasis HOTS.
6. Guru belum 1. Observasi: Akses internet yang lambat dikarenakan
mengoptimalkan Akses internet yang lambat jaringan yang dipakai tidak memiliki sinyal
pemanfaatan Kurangnya fasilitas seperti LCD/ Proyektor yang kuat. Selain itu wifi yang ada
teknologi. penggunaan hanya pada titik tertentu.
Sarana dan prasarana yang kurang seperti
proyektor, ketika ingin memakai sering
sekali bertabrakan jadwal dengan guru lain
penggunaannya
2. Wawancara Setiap kelas belum adanya fasilitas yang
1) Wakil Kurikulum SMKN 1 Babat Supat (Bapak memadai dalam proses pembelajaran
Suhartono, S.Pd.I, M.Pd) seperti proyektor dan colokan listrik.
Fasilitas yang belum memadai dalam menunjang Jaringan yang digunakan tidak kuat sinyal.
sistem pembelajaran. Walaupun terdapat wifi hanya pada titik
Sinyal jaringan yang sering sekali menjadi kendala tertentu. Seperti ruangan Tata Usaha dan
dalam penggunaan media berupa teknologi kantor. Maka dari itu dalam hal ini untuk
2) Kepala SMA N 1 Babat Supat (Sumiran, S.Pd., M.Si.): mengatasi sistem pembelajaran berbasis
Guru belum siap melakukan pembelajaran berbasis media terutama video, tentunya
teknologi dipersiapkan dari rumah.
Jaringan yang tidak memadai
3) Pakar: Sri Sumarlin, S.Pd., M.Pd.
Pemanfaatan teknologi membutuhkan pengetahuan yang
canggih, terkadang guru yang sudah paham mengenai
teknologi hanya saja terkendala dengan fasilitas yang
kurang memadai.
3. Kajian Literatur Media pengajaran guru dituntut harus lebih
1) Jurnal Martinus Tekege (2017): kreatif serta persiapan pengajaran lebih
Masalah tidak stabilnya jaringan internet matang. Sebelum mengajar menggunakan
Hambatan berikutnya yang dialami dalam media, guru sudah harus mencobanya
pemanfaatan TIK, guru merasa terbebani untuk bisa sehingga ketika di kelas guru sudah
mengajar dengan memanfaatkan media terbiasa dan tidak canggung lagi, guru perlu
pengajaran. menyiapkan waktu yang lebih lama serta
https://scholar.google.pt/scholar?hl=id&as_sdt=0%2 tenaga lebih agar media pembelajaran yang
C5&q disiapkan bisa berjalan dengan baik.
=%09Guru+belum+mengoptimalkan+pemanfaatan+t
eknologi.&btnG= Masih banyak guru yang menyatakan
Tekege, Martinus. "Pemanfaatan teknologi informasi dan jarang mengakses internet. Begitu juga,
komunikasi dalam pembelajaran SMA YPPGI sebagian besar guru, menyatakan hanya
Nabire." Jurnal FATEKSA: Jurnal Teknologi Dan kadang-kadang saja menggunakan media
Rekayasa 2.1 (2017). LCD projector dalam melakukan kegiatan
2) Jurnal Prayitno, dkk. (2018): belajar mengajar.Maka perlunya dilakukan
Banyak guru yang belum menguasai TIK terutama peningkatan kemampuan guru dalam
aplikasi sederhana seperti Microsoft office, powerpoint menggunakan TIK untuk mendukung
dan excel, serta teknologi yang lainnya. kegiatan belajar mengajar. Selain itu juga
Prayitno, Edy, Deborah Kurniawati, and Ilham Rais walaupun seluruh area sekolah telah
Arvianto. "Pemanfaatan Teknologi Informasi dan tercover oleh fasilitas wireless hotspot
Komunikasi (TIK) Untuk Meningkatkan Kualitas namun tidak dapat terkoneksi ke jaringan
Pembelajaran." Seminar Nasional Call For Paper & internet.
Pengabdian masyarakat. Vol. 1. No. 01. 2018.