NAMA ANGGOTA :
NADYA BERLIANA PUTRI KAISAR RIFA PRATAMA
44121010082
44321010082
NORWAN TIARDY
44121010034 LOVELLYA JELITA
44521010045
BAB 13
Televisi Layar Lebar
Dengan tujuan yang mendasar, yaitu ingin menciptakan suasana atau pengalaman baru dalam
menikmati program televisi yang selama ini-sejak sistem televisi dioperasionalkan pada 1936
oleh BBC (British Broadcasting Corporation)-menggunakan ukuran layar dengan rasio 4 : 3
serta gambar yang relatif kurang tajam, maka didesain suatu sistem televisi yang benar-benar
baru yang mengubah pengalaman ini. Dengan sistem televisi baru ini, maka diubah
pengalaman ini ke satu pengalam an melihat pada gambar yang lebih tajam, layar yang lebih
lebar, dan jarak pandang yang lebih dekat serta suara yang membahana (tiga di mensi).
Sistem Televisi Baru (Terminologi)
1. HDTV yang merupakan singkatan dari high definition television, ada lah
sebutan umum bagi satu sistem televisi baru dengan ketajaman gambar
yang tinggi, karena penggunaan sistem garis scanning yang lebih banyak (>
1.000 garis) dan menggunakan sistem layar lebar (aspect ratio 16:9), serta
peningkatan kualitas audionya. Sistem ini mempunyai sebutan umum sebagai
highdef-television.
2. Hi-Vision yang sebetulnya memiliki kepanjangan high definition tele vision,
dikembangkan oleh Jepang (NHK) dengan standar (1.125/60/ 2: 1/16:9), yaitu
sistem 1.125 garis, 60 frame per detik, scanning interlaced, serta mempunyai
aspect ratio layar 16: 9.
3. HD-MAC, atau high definition television-multiplex-analogue compo nent
adalah sistem highdef TV yang dikembangkan oleh konsorsium EUREKA-95
dengan standar (1.250/50/1 : 1/16: 9).² Sistem ini di rencanakan transmisinya
melalui satelit komunikasi dengan meng gunakan teknologi MAC (multiplex-
analogue component) yang telah ada sebelumnya.
4. ATV yang merupakan singkatan dari advanced television adalah ter minologi
yang digunakan di Amerika Serikat untuk suatu sistem televisi baru yang lebih
baik dari sistem standar NTSC (525/59.94/2 : 1/4:3), yaitu dengan adanya
perubahan jumlah garis scanning men jadi dua kali, dan mungkin dengan
perubahan aspect ratio, tetapi masih tetap compatible dengan sistem standar
NTSC termasuk home receiver-nya.
5. IDTV yang merupakan singkatan dari improved definition television, juga
merupakan terminologi di Amerika untuk suatu sistem televisi yang sifatnya
menambah beberapa fasilitas baru pada sistem NTSC standar, namun masih
dengan standar NTSC (525/59.94/2: 1/4:3).
6. ADTV yang merupakan singkatan dari advanced definition television adalah
terminologi yang digunakan NHK untuk menyebut sistem compatible MUSE-nya
yang dihasilkan guna transmisi sinyal Hi-Vi sion melalui terrestrial.
7. EDTV yang merupakan singkatan dari extended definition television, yaitu terminologi
yang digunakan baik di Jepang maupun Amerika, walaupun sebenarnya keduanya
mempunyai sistem yang berbeda satu sama lain.
❖ Di Jepang, salah satu sistem EDTV yang ada dikembangkan oleh Hitachi (Central
Research Laboratory of Hitachi Ltd.), yang bersifat compatible dengan sistem
NTSC-nya. Sinyal EDTV ini dapat diterima dengan receiver NTSC tanpa adanya
modifikasi atau adaptor. Se baliknya, TV set sistem EDTV dapat menerima sinyal
NTSC standar. Pengembangan tahap awal masih menggunakan aspect ratio layar
4 : 3.
❖ Di Amerika, terminologi ini digunakan agak umum seperti hal nya terminologi ATV
di atas, yaitu sebutan untuk suatu sistem tele visi baru yang sifatnya memperbaiki
sistem NTSC yang telah ada dan compatible sifatnya. Sebutan EDTV diberikan
untuk sistem yang tergolong salah satu dari kategori yang mempunyai spesifikasi
berikut
• Layar lebar (wide aspect ratio; EDTV-wide).
• Ketajaman gambar bertambah (> 400 lines-vertical; > 330 lines horizontal)
• Memerlukan channel tambahan (EDTV-Augmented). Salah satu kelompok
peneliti di Amerika yang menggunakan termi nologi EDTV untuk sistemnya
ialah MIT (Massachusetts Institute of Technology).
UKURAN LAYAR LEBAR
Ukuran layar standar sebelum ukuran layar lebar, yang dinyatakan dalam bentuk perbandingan
ukuran panjang dan tinggi layar kaca, dise but sebagai aspect ratio. Ukuran ini kemudian
menunjukkan luasan frame gambar yang dapat terlihat pada layar kaca tersebut. Ukuran yang
berbentuk perbandingan ini dikenal mempunyai nilai standarnya sebesar (4 :3). Sehingga tentunya
yang dikenal sebagai layar lebar adalah ukuran yang mempunyai aspect ratio lebih besar dari nilai
ini.
Tetapi sebelum berbicara tentang ukuran layar lebar, pertanyaannya ialah mengapa diambil nilai
(4:3)? Ternyata ukuran aspect ratio (4:3) ini tidak begitu saja diambil sebagai standar, tetapi nilai ini
disesuaikan dengan area aktif retina mata manusia yang dapat menerima bayangan, yaitu 4:3,
yang disebut dengan nama "makula"s seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Sementara ukuran layar
yang biasa dinyatakan pada spesifikasi unit TV set seperti 21 inci, 29 inci, merupakan ukuran
diagonal layar kaca ini.
LANGKAH PENGEMBANGAN HDTV
Di dunia ini terdapat tiga kelompok atau grup yang mengembangkan sistem HDTV tersebut, yaitu
kelompok Jepang yang dimotori oleh NHK (Nippon Hoso Kyokai) dengan Hi-Vision-nya; kelompok
Eropa yang di kenal sebagai kelompok EUREKA-95 yang merupakan konsorsium an tara beberapa
pabrik elektronika terkemuka (participant A) dan beberapa institusi yang berkaitan (participant B) di
kawasan Eropa, dengan HD MAC-nya; dan kelompok Amerika Serikat dengan ATV (advanced televi
sion)-nya. Sistem yang dirancang ini masih dalam format analog (pada periode 1980-an hingga 1995).
Kelompok Eropa
Kelompok Eropa Kelompok Eropa ini merupakan konsorsium negara-negara di kawasan Eropa
seperti Inggris, Perancis, Jerman, yang terbagi dalam 10 grup kerja (project group). Grup kerja
itu masing-masing dibebani tugas meneliti dan mengembangkan komponen jaringan sistem
HDTV seperti Project Group-3 yang bertanggung jawab untuk studio equipment, de ngan Bosch
sebagai project leader.
Grup-grup tersebut ditugasi melakukan pengembangan hingga 1990 dengan menunjukkan hasil-
hasilnya dalam satu presentasi, ter masuk memasukkan kertas kerja ke badan internasional
seperti CCIR (Commitee Consultative International for Radio) dan WARC (World Ad ministrative
Radio Conference). Hasil lengkap konsep HDTV Eropa ini kemudian dimajukan ke CCIR-
plenary assembly bulan Mei 1990 sebagai usulan standar sistem HDTV di dunia.
Kelompok Jepang
Kelompok JepangDengan NHK sebagai pembaru yang telah melakukan penelitian sejak 1968,
menghasilkan prototype yang telah mengalami uji coba, ke mudian dilimpahkan ke beberapa
pabrik untuk diproduksi massal. Salah satu pabrik yang telah membuat perangkat Hi-Vision
secara lengkap dari kamera elektronik sampai perangkat display-nya ialah SONY Corporation.
Nama khusus (SONY trademark) perangkat Hi-Vision ini ialah HDVS (high definition video
system).
Karena pencetus ide dan sekaligus penelitinya ialah NHK, maka tidak terjadi suatu perdebatan
yang mempermasalahkan karakteristik sinyal Hi-Vision, bahkan nama Hi-Vision sendiri. Jadi,
sistem HDTV di Jepang ialah Hi-Vision dengan aspect ratio 16:9 dan menggunakan stan dar
(1.125/60/2 : 1).
Kelompok Amerika
Mungkin karena sifat bangsa Amerika pada umumnya yang merasa dapat mandiri dan sebab-
sebab lain, misalnya banyaknya lembaga pene litian (R&D) yang mempunyai fasilitas
lengkap, ditambah lagi tidak ada nya ambisi kelompok Amerika ini saat itu untuk menjadikan
standar
HDTV-nya menjadi satu standar dunia, atau dengan kata lain kelompok Amerika ini tidak
mempertentangkan sistemnya dengan sistem HDTV di kawasan lain, maka muncul di
Amerika beberapa konsep HDTV hasil be berapa penelitian yang terpisah. Mereka saling
mempertahankan hasil penelitiannya yang satu sama lain barbeda. Tercatat ada 20 usulan
kon sep HDTV yang dimasukkan ke suatu komite yang dibentuk oleh FCC, ACATS (Advisory
Commitee on Advanced Television Service).
David Sarnoff Research Centre
Sistem ATV yang dihasilkan lembaga riset ini dinamakan ACTV (Ad vanced Compatible
Television) yang mendapat pendanaan dari NBC, RCA, dan Thomson. Terdapat dua sistem ACTV
yang diusulkan, yaitu ACTV-I dan ACTV-II yang keduanya compatible dengan sistem NTSC
standar.
1. Sistem ACTV-I adalah sistem yang dikembangkan pertama, yang menggunakan satu kanal 6
MHz untuk mengirimkan sinyal gambar layar lebar. Apabila sinyal ini diterima dengan receiver
khusus layar lebar, maka sistem garis scanning yang digunakan adalah 1050 garis (2x sistem
NTSC) dengan aspect ratio 16:9, serta resolusi luminance-nya 410 garis untuk horizontal dan
480 garis untuk vertikal. Apabila digunakan receiv er standar, maka sinyal dengan aspect ratio
4:3 merupakan bagian te ngah sinyal layar lebar ini. Bagian ini dapat diterima dan dilihat
dengan receiver sistem garis scanning 525 interlaced.
2. Sistem ACTV-II adalah sistem yang dikembangkan pada fase kedua, dengan
menggunakan dua kanal TV selebar 12 MHZ untuk keperluan transmisinya
dengan standar yang digunakan tetap, yaitu 1.050/59.94/2 : 1/16:9. Satu kanal
digunakan untuk mengirimkan sinyal ACTV-I, dan kanal kedua diperuntukkan
bagi pengiriman sinyal penyempurna sinyal layar lebar yang disebut sebagai
augmentation channel. Sistem ini dapat juga compatible dengan sistem NTSC
standar. Bila realokasi kanal TV tersebut disetujui FCC, maka sinyal ACTV-II ini
dapat diterima sebagai sinyal yang betul-betul HDTV dengan receiver HDTV
(16:9) di samping dapat diterima dengan receiver NTSC standar (4:3) maupun
receiver AC TV-I
Faroudja Laboratories
Sebelumnya telah dikenal sebagai pemberi lisensi atas teknologi ha sil pengembangannya
ke beberapa pabrik terkemuka seperti SONY dan Panasonic serta pemegang lebih dari 20 paten
Amerika Serikat.
Sistem yang diusulkannya dinamakan Super-NTSC yang memer lukan lebar band 6 MHz
(tanpa extra channel) untuk transmisinya dan tidak menggunakan sub-carrier dalam
pengolahannya. Aspect ratio yang digunakan untuk display sinyal gambarnya ialah 1,61: 1
dengan sistem (1.050/59.94/1:1). Apabila yang digunakan untuk menerima sinyal Su per-NTSC
ialah receiver format 4: 3, maka display letter-box akan kita peroleh di mana terdapat bagian hitam
pada sisi atas dan bawah layar monitor. Faroudja telah mendemonstrasikan sistemnya melalui
trans misi terrestrial maupun cable, dan menyatakan bahwa rangkaian per alatan dalam sistem ini
telah siap pada pertengahan 1989.
MIT (Massachusetts Institute of Technology)
MIT sendiri merupakan perguruan tinggi teknik yang paling terke muka (No. 1) di
Amerika Serikat. Dalam hal pengembangan sistem HDTV.
MIT mempunyai dua kelompok peneliti yang masing-masing mengem bangkan
satu sistem ATV. Kedua kelompok ini ialah CATS (Center for Advanced Television
Studies) dan Media-Lab.
Sistem yang ditawarkan CATS ialah suatu sistem TV set yang dise butnya
sebagai receiver compatible system yang sifatnya menyempurna kan TV set NTSC
standar dengan kelengkapan modul penghindar ghost dan video noise (ghost
canceller and noise reduction) serta pengolah digi tal yang dapat memperbaiki
resolusi. Sebenarnya sistem ini mirip de ngan sistem IDTV di atas.
BAB 14 Penyiaran Televisi Digital
Digitalisasi di bidang penyiaran sebetulnya telah dimulai sejak era 1970-an, yaitu dengan
digunakannya unit TBC (time base corrector) un tuk proses sinkronisasi sinyal video dari luar
sistem. Seperti, sinyal video yang berasal dari OB-van (outside broadcast-van) ke MCR. Pada
proses ini, sinyal video analog diolah secara digital melalui unit A/D (analog to-digital) converter,
yang kemudian dikonversikan kembali ke format analog (D/A, digital-to-analog) setelah mengalami
proses sinkronisasi. Pengembalian ini dikarenakan sistem keseluruhan masih analog (analog
environment). Semua unit perekam menggunakan TBC.
pada 1980-an telah dipasarkan sebuah unit yang dise but dengan DVE (digital video effect).
Alat ini digunakan untuk mema nipulasi sinyal video diam, seperti duplikasi, mozaik, zooming,
rotation. Bahkan kemudian manipulasi ini mencapai pada taraf real time. Satu merek peralatan
video effect yang ternama di dunia ialah Quantel.
Inovasi tersebut terus berlanjut, sehingga pada 1990-an bermuncul an kamera televisi versi
digital dari beberapa pabrik pembuat. Karena environment-nya masih analog, maka pada peralatan
ini masih tersedia output dengan format analog.
Perkembangan teknologi penyiaran tersebut dapat mempunyai dampak kepada peningkatan kinerja
dan memungkinkan berbagai kegiatan penyiaran dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, akurat, dan
efisien, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkem bangan teknologi penyiaran
televisi memperlihatkan bahwa, telah terja di perubahan pada proses yang berjalan sebelumnya, di
antaranya dengan munculnya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi digital, seperti
penggunaan satelite news gathering (SNG) untuk siaran live. Perkembangan selanjutnya yang bergulir
ialah ekspansi kualitas penyiaran televisi digital dari yang standar (penyiaran program) meningkat
menjadi pelayanan banyak fungsi dan bersifat komunikasi interaktif.
PENYIARAN TELEVISI DIGITAL DI DUNIA
Era penyiaran digital telah dipelopori sejak 1998 di Inggris dan Amerika Serikat, yang kemudian
secara berurutan atau bersamaan di ikuti beberapa negara maju lainnya di dunia.
Penyebarannya yang paling merata di negara Eropa dan Asia Timur, yang memiliki
pengembangan teknologi penyiaran digital tercepat karena keseriusan pemerintahannya dalam
mengeluarkan kebijakan yang mendukung perkembangan ini, serta industrinya (telekomunikasi
dan perangkat keras/hardware pe nyiaran) yang tanggap terhadap kemajuan dan kebutuhan
kemajuan teknologi penyiaran digital ini.
SPESIFIKASI PENYIARAN TELEVISI DIGITAL
digital atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital serta sistem kompresi video
untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Sinyal video maupun audio sudah
dalam format digital, yaitu berbentuk sederetan bit seperti sinyal data dari komputer.
Terdapat tiga standar (color dan lines) penyiaran televisi analog, yaitu PAL, NTSC, dan SECAM,
sementara untuk standar penyiaran digi tal saat ini antara lain Advanced Television Systems Committee-
Terres trial (ATSC-T) di Amerika Serikat, Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) di Eropa, dan
Integrated Services Digital Broadcasting-Terrestrial (ISDB-T) di Jepang. Di samping itu, terdapat dua
standar TV digital yang lain di-kembangkan, yaitu Terrestrial-Digital Multimedia Broadcasting (T-DMB)
yang dikembangkan dari Korea Selatan dan Terrestrial-Digital Multimedia Broadcasting (T-DMB) yang
dikembangkan oleh Cina.
ATSC
Spesifikasi teknologi ATSC dengan format high definition (HD) ini serasi pasang (compatible)
dengan standar NTSC, yang cepat diadopsi oleh Amerika Serikat, Meksiko, Korea Utara, Korea
Selatan, dan sebagian
besar Amerika Latin. Kelemahan sistem ini yaitu kesulitan menangkap sinyal dalam keadaan
bergerak (mobile).
DVB-T
Teknologi DVB-T dengan format standart definition (SD), serasi pas ang dengan PAL yang
diadopsi oleh negara-negara paling banyak di du nia saat ini, yaitu di kawasan sebagian besar
Eropa, sebagian besar Asia, Australia, sebagian kecil Amerika Latin dan Afrika. Satu pita
broadband memungkinkan beberapa saluran TV ditransmisikan, serta mudah untuk menerima
sinyal walaupun dalam kondisi bergerak. Kelemahannya yaitu sulit memperoleh high definition,
yang dapat diakibatkan oleh transmisi tinggi.
ISDB
Teknologi ISDB yang dikembangkan oleh Jepang memiliki kelebihan, terutama pada
penerimaan dengan sistem seluler. ISDB terdiri dari IS DB-C untuk transmisi melalui
kabel dan ISDB-S untuk transmisi melalui satelit. Fleksibilitas ISDB terdapat pada mode
yang dipakai, yaitu: mode pertama, yang digunakan untuk aplikasi seluler untuk televisi
berdefinisi standar (SDTV). Adapun mode kedua, sebagai aplikasi penerima seluler dan
SDTV atau televisi berdefinisi tinggi/high definition (HDTV). Serta mode ketiga, yang
khusus untuk HDTV atau SDTV bersistem penerima tetap. Pada Gambar 1
menunjukkan receiver ISDB format HDTV ditem patkan dalam bis pariwisata di Jepang
yang disandingkan dengan receiv er SDTV.
PROSES PEMILIHAN SISTEM
Penentuan standar penyiaran digital ini penting karena jika salah menentukan pilihan sistem,
maka dapat berakibat ketidakcocokan de ngan sistem sebelumnya, atau ada kemungkinan
ternyata sistem terpilih merupakan sistem yang tidak mempunyai kemungkinan inovasi selan
jutnya, yang berarti akan mengalami kerugian investasi dana yang di ambil dari publik.
Pendorong pengembangan televisi digital di Indonesia di antaranya pasar televisi analog yang
telah jenuh, migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital menjadi tuntutan teknologi secara
internasional.
Sejak aplikasi teknologi digital pada sistem penyiaran televisi mu lai dikembangkan pada
pertengahan 1990-an di Inggris dan Amerika Serikat, negara-negara lainnya berlomba
mengikuti perkembangan tek nologi penyiaran digital tersebut dengan melaksanakan simulcast
(siar an bersamaan antara analog dan digital). Ada pula beberapa negara langsung mengganti
standar penyiaran digital yang diuji coba lapangan setelah mendapati beberapa hal yang tidak
cocok, karena kontur wilayah negaranya seperti Filipina, yaitu dari sistem ISDB-T menjadi
DVB-T
PROSES PEMILIHAN SISTEM
Penentuan standar penyiaran digital ini penting karena jika salah menentukan pilihan sistem,
maka dapat berakibat ketidakcocokan de ngan sistem sebelumnya, atau ada kemungkinan ternyata
sistem terpilih merupakan sistem yang tidak mempunyai kemungkinan inovasi selan jutnya, yang
berarti akan mengalami kerugian investasi dana yang di ambil dari publik.
Pendorong pengembangan televisi digital di Indonesia di antaranya pasar televisi analog yang
telah jenuh, migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital menjadi tuntutan teknologi secara
internasional.
Sejak aplikasi teknologi digital pada sistem penyiaran televisi mu lai dikembangkan pada
pertengahan 1990-an di Inggris dan Amerika Serikat, negara-negara lainnya berlomba mengikuti
perkembangan tek nologi penyiaran digital tersebut dengan melaksanakan simulcast (siar an
bersamaan antara analog dan digital). Ada pula beberapa negara langsung mengganti standar
penyiaran digital yang diuji coba lapangan setelah mendapati beberapa hal yang tidak cocok, karena
kontur wilayah negaranya seperti Filipina, yaitu dari sistem ISDB-T menjadi DVB-T
LAYANAN PENYIARAN TV DIGITAL TERRESTRIAL
Beberapa karakteristik sistem penyiaran TV digital terrestrial yang tentunya merupakan inovasi sistem
konvensional, antara lain:
• TV digital memiliki hasil siaran dengan kualitas gambar dan war na yang beresolusi tinggi/tajam
jauh lebih baik dari televisi analog. Gambar format layarnya 16:9 (layar lebar/seperti film 35 mm),
se dangkan kualitas suara mampu mencapai kualitas CD stereo, bahkan surround sound/dolby
digital TM sekualitas teater film.
• Sistem televisi digital menghasilkan pengiriman gambar yang jernih dan stabil meski alat
penerima siaran berada dalam kondisi bergerak dengan kecepatan tinggi. Hal ini dimungkinkan
dengan mengguna kan teknologi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang
bersifat kebal terhadap interferensi. Atau, dikenal mampu mengatasi efek lintas jamak (multipath
fading) yang menimbulkan munculnya gambar bayangan (ghost) seperti pada televisi analog.
• Teknologi digital tidak mengenal kendala adjacent channel (kanal bersebelahan) maupun
co-channel (kanal sama) seperti pada trans misi analog (harus beda dua kanal dalam satu
area layanan), karena tidak mengenal interferensi siaran. Akibatnya, keberadaan sepuluh
stasiun penyiaran komersial seperti saat ini di wilayah DKI yang menempati 10 kanal UHF,
dapat diringkas menjadi dua atau tiga kanal saja.
• Teknologi digital tidak mengenal kendala adjacent channel (kanal bersebelahan) maupun
co-channel (kanal sama) seperti pada trans misi analog (harus beda dua kanal dalam satu
area layanan), karena tidak mengenal interferensi siaran. Akibatnya, keberadaan sepuluh
stasiun penyiaran komersial seperti saat ini di wilayah DKI yang menempati 10 kanal UHF,
dapat diringkas menjadi dua atau tiga kanal saja.
PROBLEM PADA ERA PENYIARAN TELEVISI DIGITAL
Perkembangan teknologi televisi digital saat ini telah menjadi ke butuhan masyarakat dunia untuk
memperoleh informasi. Sebelum tahap cutoff (tahap penghentian siaran analog secara total), maka
siaran simulcast harus dilalui agar mulus mencapai era digital penyiaran tanpa gejolak yang berarti.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (nomenklatur instansi pemerintah
ketika itu masih departe men) telah berupaya menyiapkan peraturan dan kebijakan yang ber
hubungan dengan uji coba televisi digital di Indonesia. Kebijakan dalam masalah spektrum
frekuensi, potensi pasar dalam bisnis penyiaran, dan networking provider sangat dibutuhkan dalam
proses terlaksananya si aran televisi digital.
Indonesia belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk tek nologi televisi digital. Hingga saat
ini hanya TVRI sebagai televisi pub lik yang memiliki infrastruktur jaringan terrestrial. Konsorsium
Televisi Digital Indonesia (KTDI) belum memiliki jaringan terrestrial, karena se lama ini konsep siaran
analog dilakukan secara sentralistis (Jakarta) me lalui satelit atau menyewa transmisi milik TVRI. Itu
pun melihat kepada daerah yang berpotensi bisnis serta mempunyai jumlah populasi yang banyak.
KONDISI SIARAN TELEVISI DIGITAL DI INDONESIA
Sejarah dunia penyiaran televisi di Indonesia memasuki era baru ketika pada 13 Agustus 2008 Wakil
Presiden, Jusuf Kalla, meresmikan dimulainya era penyiaran digital di Indonesia pada suatu acara
seremo nial uji coba lapangan soft launching di Auditorium TVRI. Sebelumnya, pada 2006, beberapa
pelaku bisnis dan stasiun penyiaran televisi telah melakukan uji coba siaran televisi digital tersebut,
seperti:
• PT Super Save Elektronik melaksanakan uji coba pada April-Mei 2006 di kanal 27 UHF dengan format
DMB-T (Cina).
• TVRI/RCTI melakukan uji coba siaran digital Juli-Oktober 2006 di kanal 34 UHF dengan format DVB-T
(isi siaran TVRI 1, TVRI 2, RCTI, TPI/GLOBAL, & TELKOMVISION).
KEMUNGKINAN PENINGKATAN LAYANAN PADA DUNIA PENYIARAN
Penerapan dan aplikasi teknologi televisi digital akan melibatkan beberapa institusi,
ilmuwan/akademisi, lembaga negara, pemerintah, dan swasta. Pemerintah harus mengambil inisiatif
untuk mengakomo dasi permasalahan yang ada dengan melaksanakan koordinasi dan kon solidasi
antarlembaga dan peneliti untuk mendukung migrasi ini. Seba gai eksekutif pelaksanaan migrasi
digital, pemerintah telah melakukan berbagai terobosan dengan menyiapkan konsep bisnis penyiaran
digital, sosialisasi ke seluruh Indonesia, hingga studi banding ke negara yang sukses menyelesaikan
trial dan migrasi ke digital. Hal ini harus konse kuen dilanjutkan oleh pemerintahan yang baru,
sehingga tetap sinergi pada seluruh sektor terkait untuk mengatasi proses uji coba televisi digital
Sistem televisi digital memiliki keuntungan yang akan menyebab kan perubahan pada pola siaran
televisi termasuk mendorong muncul nya konsep televisi yang baru, sebagai berikut:
• Layanan dua arah berinteraksi antara program dan pemirsanya me lalui data casting, seperti
informasi bencana alam dan komunikasi lainnya yang dibutuhkan.
• Peluang unsur komersial baru melalui media elektronik yang atrak tif seperti TV-education,
TV-advertising, TV-shopping, TV-traffic.
• Televisi digital free to air akan melayani tayangan berbayar video on demand, online
entertainment, koneksi internet.
• Memungkinkan layanan High Definition Television (bandwith besar) khususnya program
hiburan yang memiliki kualitas excellence dan mampu menyajikan gambar dramatis (sport)
yang mempunyai as pect ratio layar 16:9.
FAKTOR PENDUKUNG SUKSESNYA ERA DIGITALISASI
Di beberapa negara di beberapa kawasan memiliki metode tersendiri dalam rangka migrasi teknologi
analog ke digital yang pada dasarnya harus melindungi puluhan juta pemirsa televisi dari pembuangan
(ob selete) sistem analog yang digunakannya. Usaha masing-masing negara ini pada dasarnya
menciptakan perubahan itu secara perlahan-lahan beralih ke teknologi digital dengan tanpa terputus
layanan siaran yang ada selama ini. Bagi pemirsa yang memiliki dana cukup sangat mudah mengganti
perangkat siaran televisinya dengan digital, tetapi sebalik nya tidak.
Di Indonesia, pemerintah memilih cara tersendiri, yaitu dengan menyediakan satu unit yang dinamakan
set top box (STB) dengan cuma cuma, yang berfungsi mengubah sinyal digital menjadi analog sehingga
dapat dikonsumsi masyarakat luas.
ASSIGNMENT KANAL TV DIGITAL
Setelah secara resmi diberlakukan era penyiaran digital oleh Men teri Komunikasi dan
Informatika dengan Peraturan Menteri Kominfo No. 27/P/M.KOMINFO/8/2008, maka
beberapa kebijakan teknis dikeluarkan diantaranya, alokasi kanal yang tepatnya disebut
sebagai assignment² kanal TV digital. Assignment dilakukan dengan membagi wilayah
Indo nesia menjadi beberapa zona layanan.³ Di antara zona tersebut lengkap dengan
pemetaan kanalnya ditunjukkan pada beberapa tabel sebagai berikut.
Terima
kasih