The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sophiesuti, 2022-08-25 20:51:45

Ilana Tan - Summer in Seoul

Ilana Tan - Summer in Seoul

Sandy mengalihkan pandangan dari kerumunan penggemar Jung Tae-Woo kepada
temannya. “Benarkah?”

Kang Young-Mi mengangguk tegas. “Tentu saja. Aku juga datang ke acara jumpa
penggemar yang dulu itu. Wah, yang datang banyak sekali. Kau tidak akan bisa
membayangkannya. Waktu itu aku sampai susah bernapas. Tidak heran kalau banyak
penggemarnya yang jatuh pingsan di acara itu, malah ada yang sampai meninggal.
Aku pernah cerita, kan? Kau ingat, Soon-Hee?”

Sandy mengangguk dan merenung. “Aku pernah dengar tentang kejadian itu, tapi
karena belum pernah menghadiri acara seperti ini, aku tidak tahu suasananya seperti
apa.”

Kang Young-Mi tersenyum dan menggandeng lengan Sandy. “Walaupun jumlah
penontonnya sudah dikurangi, aku yakin mereka tetap liar. Kau akan bisa merasakan
suasananya. Oh ya, Jung Tae-Woo masih ingat padamu, tidak ya?”

Sandy menatapnya kaget. “Maksudmu?”
Young-Mi mendecakkan lidah. “Bukankah waktu itu kau sempat ke rumahnya,
bahkan dia mengantarkanmu pulang? Hei, kauingatkan saja dia! Sewaktu acara
pembagian tanda tangan nanti, bilang kau pernah berjumpa dengannya. Setelah itu kita
pasti bisa mengobrol lebih lama. Ya? Ya? Kau harus menarik perhatiannya kepada
kita.”
“Apa? Bukannya sudah kubilang aku tidak mau orang-orang sampai tahu malam
itu aku bertemu dengannya?” sahut Sandy. “Aku tidak mau terlibat gosip semacam
itu.” Oh ya, ia tahu benar ucapannya ini bertolak belakang dengan keputusannya
membantu Jung Tae-Woo.
“Kalau begitu tidak usah terang-terangan. Kau bisa memberikan petunjuk-petunjuk
yang bisa membuatnya—“
“Hei, Kang Young-Mi! Sudahlah, kita masuk saja,” potong Sandy sambil cepat-cepat
menarik tangan temannya masuk ke gedung.

Acara dimulai dan Jung Tae-Woo muncul diiringi jeritan para penggemarnya. sandy
agak terperangah karena para penggemar jung Tae-Woo benar-benar penuh semangat
dan jeritan mereka mengagumkan. Young-Mi juga menjerit dan mengibas-ngibaskan
balon yang dipegangnya keras-keras. Melihat temannya seperti itu, Sandy jadi ikut
bersorak dan menjerit walaupun suaranya sudah jelas tidak terdengar di antara
lengkingan penggemar-penggemar lain yang lebih ahli dalam hal ini. Sandy melihat
Jung Tae-Woo berdiri di depan penonton sambil tersenyum lebar dan melambaikan

51

tangan. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket putih, celana panjang putih, juga syal
hitam-putih yang dibelinya bersama Sandy.

Kemudian Jung Tae-Woo mulai bernyanyi dan Sandy membiarkan dirinya
dipengaruhi para penggemar Jung Tae-Woo yang liar. Ia ikut berteriak-teriak dan
mengibas-ngibaskan balon seperti Young-Mi. Sandy mengakui suara Jung Tae-Woo
memang bagus, sehingga ia tidak sempat memikirkan apakah memang terasa aneh
melihat laki-laki itu di panggung.

Jung Tae-Woo menyanyikan lagu-lagu dari album barunya, diselingi perbincangan
singkat dengan para penonton. Para penggemarnya terus saja menjerit-jerit
kesenangan, bahkan tidak sedikit yang jatuh pingsan. Yang berikutnya adalah acara
pembagian tanda tangan. Sandy dan Young-Mi ikut antre.

Sandy melihat para penggemar satu per satu menjabat tangan Jung Tae-Woo dan
tersenyum bahagia, ada juga yang menangis saking gembiranya. Senyum ramah Jung
Tae-Woo tidak pernah lepas dari wajahnya. Kadang-kadang ia berbicara pendek dan
bercanda sebentar dengan beberapa penggemar. Sandy bertanya-tanya dalam hati
apakah laki-laki itu tidak merasa lelah.

Ketika giliran Sandy dan Young-Mi sudah hampir tiba, Sandy bisa mendengar
percakapan antara Jung Tae-Woo dan penggemarnya. Umumnya si penggemar akan
memuji penampilan dan lagunya, lalu Jung Tae-Woo akan berterima kasih dengan
sopan dan ramah sekali, setelah itu ia akan menanyakan nama si penggemar dan
membubuhkan tanda tangan di atas CD, poster, atau apa pun yang disodorkan
kepadanya.

Ketika akhirnya Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, laki-laki itu tidak terlihat
terkejut saat melihatnya. Sandy mencoba bersikap seperti kebanyakan penggemar Jung
Tae-Woo yang lain dan menyodorkan CD Jung Tae-Woo yang baru dibelinya tadi.

“Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu,” kata Sandy dengan menggebu-gebu. Ia tidak
memedulikan Young-Mi yang terus-menerus menyikutnya.

Ia mendengar Jung Tae-Woo terbatuk pelan dan membubuhkan tanda tangan di
sampul depan CD yang ia sodorkan. Kemudian dengan senyumnya yang biasa, ia
mengembalikan CD itu kepada Sandy. Sandy langsung meraih dan meremas tangan
Jung Tae-Woo yang menjulurkan CD, membuat laki-laki itu agak terperanjat.

“Terima kasih, Tae-Woo Oppa. Terima kasih. Aku cinta padamu,” serunya gembira.
Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah laki-laki itu.

Ketika berjalan kembali ke tempat duduknya, Sandy melihat Park Hyun-Shik
berdiri tidak jauh dari Jung Tae-Woo. Park Hyun-Shik juga melihatnya. Sandy
membungkukkan badan sedikit untuk memberi salam yang dibalas Park Hyun-Shik

52

dengan senyuman dan acungan jempol. Pasti paman yang satu itu sudah melihat
adegan kecil tadi.

Setelah acara tanda tangan selesai, pembawa acara mengumumkan Jung Tae-Woo
akan membagikan hadiah khusus kepada sepuluh penggemar.

“Wah! Dia mau membagikan hadiah! Apa ya?” Young-Mi begitu bersemangat
sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya.

“Topi,” jawab Sandy tanpa sadar.
Jung Tae-Woo yang berdiri di samping pembawa acara berkata ia akan
menghadiahkan sepuluh topi yang sudah dibelinya sendiri. Kepala Young-Mi langsung
menoleh ke arah Sandy.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.
Sandy menjadi serbasalah dan buru-buru berkata, “Cuma asal tebak. Biasanya artis
suka memberikan hadiah topi. Kalau bukan topi ya gantungan kunci atau bros.”
Young-Mi tersenyum. “Mungkin kau benar. Dulu dia pernah memberikan hadiah
bros untuk penggemarnya. Sayangnya waktu itu aku tidak kebagian.”
Topi-topi itu dibagikan kepada penggemar yang memenuhi syarat. Misalnya ketika
pembawa acaranya bertanya siapa yang membawa poster resmi Jung Tae-Woo yang
pertama, atau penggemar yang datang dari jauh, dan sebagainya. Ada juga yang dipilih
secara acak dengan melemparkan bola, dan barang siapa yang menangkap bola itu
akan mendapatkan hadiah. Semua orang bersenang-senang termasuk Sandy dan
Young-Mi.
“Nah, sekarang kami hanya punya satu topi terakhir,” kata pembawa acara yang
disambut jeritan para penggemar. Entah itu jeritan kecewa atau bahagia karena bagi
telinga Sandy jeritan penggemar Jung Tae-Woo terdengar sama saja.
“Itu punyaku!” seru Young-Mi sekeras-kerasnya, berusaha mengalahkan teriakan
penggemar lain sambil melambai-lambaikan kedua tangan ke arah si pembawa acara.
“Mungkin kalian ingat, sebelum acara dimulai kami meminta kalian menuliskan
nomor ponsel kalian pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak besar yang di
sana itu. Kalian tahu apa maksudnya?” tanya si pembawa acara.
terdengar gemuruh gumaman dari para penonton sementara mereka melihat ke
kanan-kiri dan bertanya-tanya.
“Saya akan menjelaskannya,” kata si pembawa acara lagi dan suasana pun menjadi
hening. “Begini, Jung Tae-Woo akan memilih salah satu nomor telepon di dalam kotak
itu secara acak dan dia akan menghubungi nomor telepon itu. Barang siapa yang
ponselnya nanti berbunyi, majulah ke depan, dan topi terakhir ini akan menjadi
miliknya. Sekarang kalian harus memegang ponsel kalian dan pastikan ponsel kalian
dalam keadaan aktif.”

53

Semangat para penonton melambung tinggi dan mereka sibuk mengeluarkan
ponsel mereka. Sandy merasa ia sudah menjadi penggemar fanatik karena ia juga
sedang memegang ponselnya penuh harap seperti Young-Mi.

“Sudah siap? Kita mulai ya?” seru Jung Tae-Woo yang disambut jeritan para
penggemar.

Ia memasukkan tangannya ke kotak besar itu dan mengaduk-aduk, lalu
mengeluarkan secarik kertas kecil. Para penggemar masih terus menjerit-jerit. Lalu Jung
Tae-Woo mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka flap-nya. Jeritan ribuan
penggemarnya semakin menjadi-jadi. Pembawa acara pun harus menenangkan para
penonton dengan berkata mereka tidak mungkin bisa mendengar dering telepon kalau
semua orang terus menjerit sepenuh hati seperti itu. Akhirnya suasana kembali hening,
kini hanya terdengar bisikan lirih di sana-sini.

Jung Tae-Woo menekan-nekan tombol ponsel sambil melihat kertas kecil di
tangannya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. Kertas kecil tadi dimasukkan
kembali ke kotak.

Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa begitu lama. Semua roang di
sana menatap ponsel mereka penuh harap. Tiba-tiba terdengar nada panggil.

“Astaga!” Sandy berteriak kaget ketika ponsel yang digenggamnya berbunyi
nyaring.

“Soon-Hee, ponselmu!” Young-Mi menjerit sambil tertawa histeris.
Para penonton mulai bersuara dan pembawa acara menyuruh Sandy berdiri dan
menjawab ponselnya.
“Nona yang memakai baju biru, coba dijawab dulu. Apakah benar yang menelepon
Jung Tae-Woo?”
Sandy sebenarnya tidak perlu menjawab karena di layar ponselnya muncul tulisan
“JTW”, nama yang disimpannya untuk nomor ponsel Jung Tae-Woo. Memang benar
Jung Tae-Woo yang meneleponnya, tapi Sandy tetap membuka flap ponsel dan
menempelkannya ke telinga. Walaupun suasana saat itu riuh sekali karena orang-orang
bersorak dan bertepuk tangan, ia masih bisa mendengar suara Jung Tae-Woo di telepon
yang berkata, “Hei, majulah ke depan.”
Young-Mi mencengkeram lengan Sandy dan mengguncang-guncang keras
tubuhnya. Sandy heran dari mana asal tenaga temannya itu. Akhirnya ia berhasil
membebaskan diri dari temannya dan maju dengan dikawal dua penjaga. Jantungnya
berdebar keras karena ini kali pertama baginya berdiri di depan orang banyak yang
terus bersorak dan menjerit. Ia bolak-balik membungkukkan badan ke arah para
penggemar juga kepada pembaca acara di panggung.

54

Ketika Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, ia menyadari baik Jung Tae-Woo
ataupun pembawa acara tidak memegang topi. Ia melihat si pembawa acara memberi
isyarat kepada salah seorang staf yang berdiri di pojok, tapi anggota staf itu
menggeleng.

Ada apa ini? Tidak ada topi? Sandy yakin mereka sudah membeli sepuluh buah dan
ia tadi menghitung ada sembilan topi yang sudah dihadiahkan. Pasti masih tersisa satu
topi. Jangan-jangan Jung Tae-Woo mau mempermainkannya.

Si pembawa acara terlihat bingung tapi mencoba bersikap tenang. Namun Jung Tae-
Woo tiba-tiba berkata, “Wah, sepertinya topi yang terakhir hilang. Saya benar-benar
minta maaf. Bagaimana ya?”

Para penonton terdiam dan Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan mata disipitkan.
Pandangan curiga. Kalau Jung Tae-Woo memang sedang mempermainkannya, ini
benar-benar tidak lucu. Ia sudah gugup sekali berdiri di bawah sinar lampu seperti ini
dan sekarang ia harus menerima permainan Jung Tae-Woo?

Si pembawa acara ikut menimpali, “Ya, maaf sekali. Sepertinya memang topi yang
terakhir hilang. Kami sedang mencarinya sekarang.”

Sandy merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam di depan semua orang. Ia
memutuskan sebaiknya ia kembali ke tempat duduknya. Ketika ia membalikkan tubuh,
Jung Tae-Woo menahannya.

“Tunggu dulu,” katanya sambil tersenyum meminta maaf. “Karena sudah tidak ada
topi, bagaimana kalau kuberikan ini saja?”

Jung Tae-Woo melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leher Sandy. Para
penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Sandy memandang syal bermotif kotak-
kotak hitam-putih yang sekarang melilit lehernya. Ia menyentuh syal itu dan
mendongak menatap Jung Tae-Woo dengan tercengang. Laki-laki itu sedang tertawa
dan tawa di wajah itu membuat Sandy akhirnya ikut tersenyum.

“Waah... kau beruntung sekali, Soon-Hee! Kau memang tidak mendapat topi, tapi kau
mendapat syal yang dipakainya. Aduh, aduh, jantungku... Kalau aku jadi kau, aku pasti
tidak akan bisa tidur malam ini,” kata Young-Mi antusias dalam perjalanan pulang dari
acara tadi. Mereka berdua duduk di barisan belakang bus yang tidak terlalu ramai.

“Ya, aku beruntung sekali,” kata Sandy menyetujui sambil tersenyum. Ia terus
memandangi syal yang melilit lehernya. Tadi ia sempat mengira Jung Tae-Woo sedang
mempermainkannya, tpai ternyata tidak begitu. Tadinya, kalau dugaan jelek Sandy
terbukti benar, ia berniat meninju Tae-Woo saat itu juga.

55

Tiba-tiba Young-Mi menegakkan punggung dan mencengkeram lengan Sandy.
“Tunggu dulu, Soon-Hee. Kau punya nomor telepon Jung Tae-Woo!”

Itu bukan pertanyaan dan Sandy hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung.
Young-Mi menepuk lengan Sandy dan berseru, “Tadi dia kan menghubungi
ponselmu dengan ponselnya, jadi artinya di ponselmu sekarang pasti masih ada nomor
ponselnya, kan?”
“Tidak!” bantah Sandy cepat-cepat. Apa yang harus dikatakannya? “Tadi... tadi
sewaktu aku kembali ke tempat duduk setelah menerima hadiah, Jung Tae-Woo sendiri
yang bilang ponsel itu milik salah satu anggota stafnya. Lagi pula, coba pikir, mana
mungkin Jung Tae-Woo bisa sembarangan membiarkan nomor ponselnya diketahui
orang tak dikenal?”
Young-Mi mengangguk-angguk. “Masuk akal juga.”
Sandy mengembuskan napas lega dan menggerutu dalam hati. Sepanjang
kesepakatan ini, Jung Tae-Woo sudah banyak membuat masalah sendiri, tapi justru
Sandy yang harus memperbaikinya. Mungkin laki-laki itu perlu ditinju.
“Hei, coba kulihat CD-mu yang ditandatangani tadi,” pinta Young-Mi sambil
mengeluarkan CD miliknya sendiri.
Sandy mengeluarkan CD-nya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada
temannya itu.
“Lihat, dia menulis „Untuk Kang Young-Mi... dari Jung Tae-Woo‟,” kata Young-Mi
sambil menunjukkannya kepada Sandy. Ia memekik senang dan mengelus-elus kotak
CD-nya. Sandy hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan temannya. Kemudian
Young-Mi beralih membaca tulisan di sampul depan CD milik Sandy. “Untuk Sandy...
dari Jung Tae-Woo.” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sandy?”
Sandy langsung menoleh. “Kenapa?”
“Memangnya tadi kau memberitahunya nama Indonesia-mu, ya?” tanya Young-Mi.
“Oh, itu...” Sandy agak gelagapan. “Ya, sepertinya begitu.”
Young-Mi mengerutkan dahi dan menggeleng. “Tidak, tidak. Sepertinya kau
bahkan tidak menyebutkan namamu.”
“Masa sih?” ujar Sandy kaget. Ia mulai panik dan cepat-cepat memutar otak,
berusaha keras mengingat acara tanda tangan tadi.
Young-Mi meneruskan, “Aku berdiri tepat di belakangmu waktu itu. Kau hanya
bilang kau suka lagunya.”
Sandy ingat, tapi ia berusaha membantah, “Ah, tidak. Aku bilang „Apa kabar?
Namaku Sandy. Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu‟. Aku yakin kok. Kalau tidak, dari
mana dia tahu namaku?”

56

Kenapa temannya yang satu ini pintar sekali sih? Untuk sesaat Sandy merasa takut
akan ketelitian Kang Young-Mi. Lama-kelamaan, kalau ia dan Jung Tae-Woo terus
melakukan kesalahan kecil seperti ini, ia akan kehabisan alasan.

Young-Mi berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Benar juga ya? Waktu itu berisik
sekali, jadi mungkin aku tidak mendengarnya. Sudahlah, tidak penting. Ngomong-
ngomong, lagu yang dinyanyikannya tadi benar-benar bagus ya?”

“Acara hari ini sukses sekali. Kuucapkan selamat untukmu,” kata Park Hyun-Shik. Ia
dan Tae-Woo sudah kembali ke kantor manajemen. Dengan lega ia menyandarkan
punggung ke kursi kerja dan menatap Tae-Woo dengan gembira.

Tae-Woo menoleh ke arah manajernya dan tersenyum. “Memang. Aku senang kita
bisa melewatinya dengan baik sekali, tidak seperti yang dulu.”

“Semuanya baik-baik saja, kau tidak usah cemas,” kata Park Hyun-Shik. Ia
mengembuskan napas dan berkata, “Aku tahu kau sengaja menelepon Sandy tadi.
Nomor yang tertera di kertas itu bukan nomor ponsel Sandy, kan?”

Tae-Woo tertawa. “Memang. Tadi aku berniat mengerjainya, tapi tidak jadi.”
Park Hyun-Shik ikut tertawa dan melonggarkan simpul dasinya. “Aku sudah
merasa aneh sewaktu kau memintaku menyimpan topi terakhir itu.”
Tae-Woo bangkit dari kursinya. “Hyong simpan di mana topi itu?”
Park Hyun-Shik mengeluarkan topi yang ditanyakan dari balik jasnya dan
melemparkannya kepada Tae-Woo.
Tae-Woo menangkap topi kain kuning itu dengan santai dan memandanginya. Ia
ingat ia dan Sandy sempat berbeda pendapat tentang topi kuning yang satu ini.
Menurut Sandy topi itu bagus, sedangkan menurutnya warna kuningnya terlalu
mencolok. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, topi kuning ini memang tidak jelek.
“Hyong aku pulang dulu,” katanya sambil melambaikan topinya.
“Ya, istirahat yang banyak. Minggu depan jadwalmu sangat padat,” Park Hyun-
Shik mengingatkan.

57

Enam

PONSELNYA masih berdering. Sandy ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak.

Ia sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselnya. Dari Mister Kim. Hari ini hari
Minggu dan seharusnya Sandy tidak bekerja. Kenapa atasannya menelepon? Tapi
Sandy juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponnya
sampai laut mengering.

Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.
“Hha-lho...” Salah satu alasannya malas menjawab telepon adalah karena
tenggorokannya sedang sakit dan ia tidak bisa berbicara seperti biasa. Sekarang
suaranya nyaris seperti bisikan angin.
Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking. “Astaga, Miss Han.
Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku
harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk
Jung Tae-Woo, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali. Tidak ada yang sempat
membawakan pakaiannya. Tolong ya? Antarkan ke rumahnya. Kau tahu alamat
rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar,
ya... Mister Cha... MISTER CHA! Di mana kutaruh alamat Jung Tae-Woo? Tolong
carikan untukku. Miss Han, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim
alamat Jung Tae-Woo lewat SMS begitu kutemukan nanti. Kau bisa mengambil
pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss
Han, kau baik sekali. Bye-bye!”
Sandy mendengar telepon ditutup di ujung sana. Ia sama sekali tidak punya
kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, ia tidak akan bisa bicara banyak. Ia

58

menarik napas perlahan-lahan dan mengembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin
atasannya ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri.

Diktator, pikir Sandy dalam hati sambil melotot kepada ponselnya. Sebaiknya kau
menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja
untukmu.

Kata-kata ini sudah sering diucapkannya, tapi ia belum pernah benar-benar
mengajukan surat pengunduran diri. Walaupun Mister Kim orang yang aneh dan
seenaknya, Sandy merasa bisa belajar banyak darinya. Sejak kecil Sandy suka sekali
dunia fashion. Jadi, walaupun jalan tidak selalu lancar, ia senang bisa bekerja dengan
perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajarinya banyak hal.

Sandy meneguk teh panasnya lagi dan duduk meringkuk di tempat tidur. Hari
memang sudah siang, tapi ia masih segan bangun dari sana. Pagi tadi begitu ia bangun,
tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan
dan teriakannya kemarin di acara jumpa penggemar Jung Tae-Woo. Kemarin ia
memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang
diteriakkannya, ia sendiri juga sudah lupa. Ia hanya terus menjerit untuk meramaikan
suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!

Sandy baru saja akan terlelap kembali ketika ia teringat perintah Mister Kim. Sambil
mendecakkan lidah dengan kesal dan mengumpat-umpat dalam hati, ia bangun dan
berganti pakaian.

Sekitar satu setengah jam kemudian, Sandy sudah berdiri di depan pintu rumah Jung
Tae-Woo yang berada di kawasan perumahan mewah. Ia hanya bisa terkagum-kagum
dalam hati. Malam itu, ketika pertama kalinya datang ke sana, ia tidak begitu
memerhatikan sekelilingnya. Saat itu ia kan sedang frustasi. Sekarang Sandy baru bisa
melihat jelas bentuk rumah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi itu. Ia
membiarkan matanya berpesta sepuasnya.

Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas,
dan banyak jendela kaca. Sandy menyukai beranda di lantai dua. Ia mengangkat tangan
untuk menaungi mata dari sinar matahari dan mendongak memerhatikan rumah itu
dengan perasaan senang.

Lalu ia mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.
Selanjutnya terdengar suara Jung Tae-Woo dari interkom.
Sandy ragu. Ia berdeham, walaupun tindakan itu tidak membantu sama sekali,
memencet tombol interkom, dan menyebutkan namanya dengan suara serak.
“Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas,” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi.

59

Sandy mengulangi ucapannya sambil mengerutkan kening. Seharusnya Jung Tae-
Woo bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini
pasti dilengkapi kamera pengawas. Pasti. Kenapa laki-laki itu harus membuat
tenggorokannya bertambah sakit?

“Aku masih tidak mengerti apa yang kauucapkan. Tapi, baiklah. Masuk saja,
Sandy.”

Sandy memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Jung Tae-Woo sudah
tahu siapa yang berdiri di depan pintu.

Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, Sandy
melewati pagar besi yang terbuka secara otomatis, lalu mendorongnya sampai
menutup dengan kakinya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.

Jung Tae-Woo sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu mengenakan kaus
longgar kelabu dan celana panjang hitam. Rambutnya agak berantakan karena tidak
ditata. Sandy menyadari Tae-Woo menatapnya dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan
laki-laki itu kembali ke wajahnya. “Ada apa denganmu? Mana yang sakit?” tanya Jung
Tae-Woo tanpa basa-basi.

Sandy menunjuk lehernya.
“Sudah minum obat?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tersenyum dan mengangguk.
Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bertanya, “Kenapa kemari?”
Sandy mengacungkan pakaian-pakaian yang dibawanya. “Misther Kim... coba
pakhaian...”
Jung Tae-Woo mengibaskan tangan. “Astaga... Aku tidak tahan mendengar
suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk.”
Sandy berusaha berbicara, tapi lehernya terlalu menyiksa. Akhrinya ia menurut saja.
Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Jung Tae-Woo dalam keadaan seperti
ini. Tunggu saja sampai suaranya kembali seperti semula.
Di dalam rumah, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang
ditunjukkan Jung Tae-Woo.
Bagian dalam rumah itu ditata rapi sekali. semua perabot dan hiasan di dalam
rumah itu terkesan mewah. Setelah meletakkan pakaian di sofa terdekat, Sandy
mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan
wanita setengah baya. Sandy menduga mereka orangtua Jung Tae-Woo. Ada juga
beberapa foto Jung Tae-Woo sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.
Begitu asyiknya Sandy mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari
Jung Tae-Woo sudah berdiri di sampingnya.

60

“Kenapa tiba-tiba sakit tenggorokan? Kemarin bukannya biasa-biasa saja?”
tanyanya.

“Kemarinh... jhumpa pengghemar... menjerith,” Sandy berusaha menjelaskan
terpatah-patah.

Jung Tae-Woo tertawa. “Ah, jadi karena kemarin kau ikut menjerit-jerit? Anak
bodoh. Minum ini,” katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat
pekat.

Sandy menerimanya dengan bimbang.
“Tidak usah kuatir. Itu bukan obat bius. Minum saja dan sebentar lagi
tenggorokanmu akan membaik.”
Sandy menatap Jung Tae-Woo yang berjalan kembali ke dapur. Setelah dengan
ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, ia kembali melihat-lihat
sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada
di sana ketika pertama kali datang ke rumah itu. Sandy mengelus permukaan piano
tersebut dan membuka tutupnya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi ia
suka mendengarkan musik. Ia menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.
“Hei, jangan pegang-pegang sembarangan.”
Sandy mengangkat kepala dan melihat Jung Tae-Woo berjalan menghampirinya. Ia
melambai-lambaikan tangan menyuruh Jung Tae-Woo datang sambil menunjuk piano.
“Apa?” tanya Jung Tae-Woo bingung setelah berdiri di dekat piano.
“Mainhkhan,” Sandy berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti
sedang bermain piano.
“Kau mau aku main piano?”
Sandy mengangguk dan menarik Jung Tae-Woo supaya duduk di kursi piano.
Jung Tae-Woo duduk dengan enggan dan berkata, “Kau mau bayar berapa?”
“Appha?” tanya Sandy sambil menggerakkan dagu.
“Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?” Jung Tae-Woo mengulangi.
Sandy mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.
“Ya, ya. Aku mengerti,” kata Jung Tae-Woo.
Suara dentingan piano yang lembut mulai terdengar. Sandy berdiri di samping
piano, menopangkan dagu di atasnya sambil melihat jemari tangan Jung Tae-Woo
menari-nari di atas tuts piano. Ketika alunan nada yang dimainkan laki-laki itu
akhirnya berhenti, Sandy bertepuk tangan.
“Bagus sekali!” katanya, lalu memegang leher. “Eh, tenggorokanku sudah tidak
terlalu sakit lagi.”
Jung Tae-Woo tersenyum. “Sudah kubilang obatnya manjur.”
“Mainkan satu lagu lagi,” pinta Sandy.

61

Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel. Sandy merogoh saku celana dan
mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. Ia segera
membuka flap ponsel dan berjalan menjauh dari Jung Tae-Woo agar laki-laki itu tidak
mendengar pembicaraannya.

“Halo? Ada apa, Jeong-Su ssi?” Sandy berbicara dengan nada rendah. “Apa?
Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh...”

“Telepon dari Hyun-Shik Hyong, ya?” seru Jung Tae-Woo keras.
Sandy terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak
ada gunanya, Lee Jeong-Su sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.
“Soon-Hee, kau sedang bersama seseorang?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada
curiga.
Sandy membelalak kepada Jung Tae-Woo yang memasang tampang polos tak
berdosa, lalu berkata pelan, “Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?”
Sandy menutup ponsel dan berkacak pinggang. Jung Tae-Woo sudah gila ya? Kalau
memang Paman Park Hyun-Shik yang menelepon, Sandy kan tidak mungkin berbicara
dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!
“Jung Tae-Woo, kau ini kenapa? Kau mau orang-orang tahu tentang kita?” tanya
Sandy sambil menatap Tae-Woo yang bangkit dari piano.
Jung Tae-Woo kelihatannya tidak peduli. Ia hanya melewati Sandy dan berkata,
“Aku ke kamarku sebentar.”
Sandy memandangi sosok Jung Tae-Woo yang menaiki tangga dengan cepat, lalu
menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh! Sandy menggeleng dan kembali
melihat-lihat rumah Jung Tae-Woo. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis.
Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ia sedang mengamati tongkat pemukul bisbol dengan perasaan heran ketika
mendengar ponselnya berbunyi lagi.
Siapa lagi? Jangan-jangan Lee Jeong-Su, katanya pada diri sendiri sambil melihat ke
kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselnya ia taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas
piano.
Ia berlari ke arah piano dan langsung membuka flap ponsel. “Halo?”
“Halo? Siapa ini?” tanya suara wanita di ujung sana.
Sandy mengerutkan dahi. Ia tidak mengenali suara wanita itu. Maka ia bertanya,
“Ini Han Soon-Hee. Anda ingin mencari siapa?”
Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, “Bukankah ini ponsel Jung Tae-
Woo?”

62

Sandy terkejut. Astaga! Lagi-lagi ia mengambil ponsel yang salah. Ia memutar
kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya tergeletak di meja makan.
Bagaimana ini?

“Oh... Benar, ini memang ponsel Jung Tae-Woo,” kata Sandy agak gugup. “Akan
saya panggilkan dia.”

Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. “Tunggu sebentar. Anda ini nona yang
ada di foto bersama Tae-Woo itu, ya?”

Sandy menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Jung Tae-Woo segera
muncul.

“Anu... saya...” Sandy sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak
pernah diberitahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang menanyakan
hubungannya dengan Jung Tae-Woo.

“Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah. “Aku ibu Jung Tae-Woo.”
Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuat Sandy panik.
“Ah, apa kabar, Bibi?” kata Sandy berusaha terdengar tenang meski sebenarnya ia
bergerak-gerak gelisah. Kemudian Sandy menutup ponsel dengan tangan dan berseru
memanggil Tae-Woo dengan suaranya yang masih sedikit serak. “Jung Tae-Woo ssi!”
Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sebentar lagi Jung Tae-
Woo ssi akan turun.”
Ibu Jung Tae-Woo tertawa pelan. “Senang sekali bisa mendengar suaramu
walaupun Tae-Woo belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang
namamu Han Soon-Hee, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?”
“Oh, saya tidak apa-apa.” Tepat pada saat itu ia melihat Jung Tae-Woo menuruni
tangga, ia cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.
“Jung Tae-Woo ssi sudah di sini. Silakan Anda bicara dengannya,” kata Sandy di
telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Tae-Woo.
Jung Tae-Woo menerima ponsel itu dengan bingung. “Siapa?”
“Ibumu,” bisik Sandy panik.
Tae-Woo mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon. “Halo, Ibu?” Lalu
tiba-tiba ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan Sandy bisa mendengar suara
ibu Jung Tae-Woo yang berteriak keras.
Akhirnya Jung Tae-Woo menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata,
“Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja
menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan kujelaskan kepada
Ayah nanti. Apa? … Dia?”
Sandy agak bingung ketika laki-laki itu menatapnya.
“Sebentar,” kata Jung Tae-Woo, lalu mengulurkan ponsel ke Sandy.

63

Sandy menatap Jung Tae-Woo dan ponsel itu bergantian.
“Ibuku mau bicara denganmu,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan ponsel ke
tangan Sandy. “Tidak apa-apa.”
Sandy menggigit bibir dan menatap Jung Tae-Woo. Kemudian ia menempelkan
ponsel itu ke telinga dan menyapa ibu Jung Tae-Woo. Ia mendengarkan perkataan
wanita yang lebih tua itu sebentar sambil mengangguk-angguk dan sesekali berkata
“baik” dan “saya mengerti”. Akhirnya ia mengucapkan “sampai jumpa” dan menutup
ponsel.
“Ibuku bilang apa?” tanya Jung Tae-Woo ketika Sandy mengembalikan ponselnya.
Sandy balas bertanya, “Apa yang kaukatakan pada ibumu tentang aku?”
“Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa,” kata Jung Tae-Woo. “Ayahku
melihat foto-foto kita di internet dan ibuku menelepon untuk menanyakan
kebenarannya.”
Sandy hanya mengangguk-angguk. “Oh, foto-foto kita ada di internet juga?”
“Lalu ibuku bilang apa padamu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tersenyum. “Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering
lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Katanya aku harus banyak bersabar kalau
menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan. Katanya sebenarnya kau
anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu
denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.”
Jung Tae-Woo mengerang. “Cerewet sekali. Kenapa ibuku begitu baik padamu?
Padaku tadi dia malah berteriak-teriak.”
Sandy mengangkat bahu. “Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau
tidak salah, ibumu penulis buku, ya? Aku pernah membaca salah satu bukunya dan
aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat.”
Jung Tae-Woo tidak mengacuhkan kata-kata Sandy dan bertanya, “Kenapa kau
menjawab teleponku?”
Sandy berdeham dan menjawab, “Kupikir ponselku yang berbunyi. Tadi kan
memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon
lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu.”
“Siapa yang menelepon?”
“Teman,” sahut Sandy sambil memalingkan wajah. “Oh, coba lihat. Sudah
waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?”
Jung Tae-Woo berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Kemudian ia
mengangkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja.”
“Hei, kau mau kita berdua dilihat orang? Kau mau membuat hidupku susah?”
tanya Sandy.

64

“Lalu bagaimana?”
“Kita pesan pizza saja,” usul Sandy cepat. “Sudah lama aku tidak makan pizza.
Oke?”
“Sakit tenggorokan malah mau makan pizza?” tanya Jung Tae-Woo. “Kau makan
bubur saja.”
“Tenggorokanku sudah sembuh,” protes Sandy.

“Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?”
Tae-Woo mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan

pizza di hadapannya itu dengan kaget. Lalu Sandy tertawa dan berkata, “Bercanda.
Tidak usah bingung begitu.”

Tae-Woo kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.
“Bulan lalu sewaktu kau ke Amerika, apakah kau pergi untuk mengunjungi
orangtuamu?” tanya Sandy sambil lalu.
“Bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke Amerika bulan lalu?” Tae-Woo balik
bertanya.
Sandy mengedikkan bahu. “Semua orang juga tahu,” katanya. “Di masa sekarang
ini, tidak ada yang bisa disembunyikan selebriti. Orang-orang punya banyak cara
untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis,
ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu
dan jam berapa kau tidur di malam hari.”
“Benarkah?” Tae-Woo tersenyum dan menambahkan, “Jadi menurutmu tidak ada
yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?”
Sandy terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, “Eh, ada,” kata Sandy tegas.
“Apa?”
Sandy tersenyum bangga dan menjawab, “Orang-orang tidak tahu kau
mengenalku.”
Ah, dia benar. Mereka berdua punya rahasia. Entah kenapa hal ini membuat Tae-
Woo senang.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Tae-Woo tiba-tiba.
Sandy menatapnya, menunggu kata-katanya.
“Aku ingin tahu siapa orang yang meneleponmu tadi,” kata Tae-Woo. Ia melihat
raut wajah Sandy berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, “Jangan katakan lagi dia
itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”
Sandy membuka mulut dan menutupnya kembali. Tae-Woo menyadari gadis itu
bimbang.

65

“Dia mantan pacarmu yang pernah kauceritakan?” tanya Tae-Woo hati-hati.
Sandy menarik napas panjang dan mengembuskannya. Lalu ia mengangguk.
Tae-Woo tiba-tiba merasa tidak bersemangat. Ia bertanya lagi, “Untuk apa dia
meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?”
Sandy mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak
ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu.”
Tae-Woo tidak menyadari suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa kau masih mau
menemuinya?”
Sandy sampai menatapnya heran. “Kurasa aku… aku… entahlah.”
Tae-Woo bisa melihat Sandy agak bingung menjawab pertanyaannya.
“Lagi pula… memangnya setelah berpisah harus bermusuhan?” kata Sandy
akhirnya.
“Sampai sekarang… kau masih menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja
dari mulut Tae-Woo tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang
menunggu jawaban gadis itu.
Sandy terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, “Mungkin.”
“Apa?”
Sandy menatapnya dengan agak bingung. “Mungkin,” katanya sekali lagi.
“Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah.”
Mendadak Tae-Woo merasa susah bernapas. Matanya tertuju ke meja tapi
tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong.
Lalu ia mendengar suara Sandy lagi. “Ini masalah pribadiku dan tidak ada
hubungannya denganmu dan Paman. Tidak perlu cemas. Aku berjanji tidak akan
mengatakan apa pun mengenai kalian berdua pada orang itu. Aku orang yang bisa
membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan.”
Tae-Woo tertawa masam. “Begitu?”
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Sandy tiba-tiba.
Tae-Woo menatap wajah gadis itu berubah serius, “Apa?”
Sandy tidak menatap Tae-Woo, tapi memandang pizza di tangannya. “Kejadian
empat tahun lalu… Bisa kauceritakan?”
Tae-Woo tertegun. Ia tidak menyangka Sandy akan menanyakan hal itu.
Sandy meliriknya sekilas dan menambahkan, “Aku hanya ingin mendengar
ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan.”
Entah kenapa Tae-Woo merasa agak gelisah. Sampai sekarang ia masih belum bisa
melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.
“Apa yang ingin kauketahui?”
“Semuanya.”

66

Tae-Woo menarik napas dalam-dalam. Pandangannya menerawang. Kata-katanya
meluncur pelan dan datar. “Saat itu acara sudah berakhir. Hujan turun. Aku sudah
berada di dalam mobil yang menunggu di pintu utama. Para penggemar masih
berkerumun di sekeliling mobilku. Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku
nyaris tidak bisa menjalankan mobil. Para petugas keamanan juga kewalahan
membuka jalan agar mobil bisa lewat. Akhirnya mereka berhasil menahan para
penggemar. Mobil pun mulai bergerak. Pelan, tidak cepat, karena aku masih
melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja.”

Tae-Woo mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu.
“Mobil direm mendadak. Ketika aku bertanya pada sopirku apa yang terjadi, dia
berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi
panik dan gadis itu cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Kami tidak diizinkan
melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat.
“Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kejadian sesungguhnya, tapi menurut
beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke
depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis
itu membentur aspal sehingga…”
Tae-Woo mendengar napas Sandy tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia
melihat gadis itu mengangguk kecil, meminta Tae-Woo melanjutkan cerita. Apa yang
ada dalam benak gadis itu? Tae-Woo ingin tahu.
Masih dengan agak enggan, Tae-Woo melanjutkan, “Kudengar gadis itu bukan dari
Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah
sakit karena ia langsung dibawa pulang entah ke mana. Kami hanya bisa
menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media.”
Sandy hanya diam.
“Bagaimana menurutmu?”
Sandy tersentak dari lamunan. “Eh, apa?”
“Bagaimana menurutmu?” ulang Tae-Woo.
“Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah.”
Tae-Woo menduga Sandy gugup karena tidak tahu apa yang harus dikatakan
setelah mendengar cerita itu. Tapi Tae-Woo merasa sikap itu lebih baik daripada
berpura-pura memahami perasaannya.

67

Tujuh

SUDAH hampir dua minggu berlalu sejak Sandy terakhir kali bertemu dan berbicara
dengan Jung Tae-Woo di rumah pria itu. Entah kenapa Sandy merasa serbasalah. Ia
ingin menghubungi Jung Tae-Woo, tapi tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia
ingin bertanya pada Paman Park Hyun-Shik, tapi tidak tahu apa yangakan
ditanyakannya.

Sandy berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus. Ia berjalan dari gedung ke gedung,
dari kelasnya ke perpustakaan, dari perpustakaan ke aula. Akhirnya ia berhenti di
halaman kampus, duduk di bangku panjang di bawah pohon. Ia mengeluarkan ponsel
dan menatap benda itu sambil menarik napas.

Kenapa dia tidak menelepon? Tapi memangnya kenapa dia harus menelepon?
Sandy menggeleng-geleng dan menarik napas lagi. Kenapa dia tidak menelepon?

Sandy tersentak karena mendengar suara Kang Young-Mi yang ternyata sudah
berdiri di belakangnya. “Apa?” tanyanya pada Young-Mi.

Young-Mi duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat ceria seperti biasa. “Tadi kau
bertanya kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang yang kaumaksud?”

Ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya. Ini berarti bahaya. Ia kenapa
sih?

“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa,” sahut Sandy sambil memaksakan tawa.
“Aku harap bukan Lee Jeong-Su,” kata Young-Mi sinis.
Sandy langsung mengibaskan tangan. “Bukan! Bukan dia.”
“Baguslah kalau bukan,” kata Young-Mi. Ia mengangkat tangan dan menarik napas
dalam-dalam. “Haaah… cuaca hari ini indah sekali!”
Sandy memandang langit, lalu melirik temannya dengan hati-hati. “Young-Mi,”
panggilnya.

68

Young-Mi menoleh. “Hm?”
“Album baru Jung Tae-Woo sudah diluncurkan, kan?”
Young-Mi mengangguk. “Benar, beberapa hari yang lalu. Memangnya kenapa?
Bukankah kau sudah punya? Kita kan sudah mendapatkannya sewaktu acara jumpa
penggemar itu.”
Sandy menggeleng. “Ah, tidak ada apa-apa.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
“Berarti Jung Tae-Woo akhir-akhir ini pasti sibuk sekali, ya?”
Temannya mengangguk sekali lagi dan berkata, “Tentu saja. Kudengar beberapa
waktu yang lalu dia sibuk syuting video klip. Belum lagi kenyataan dia harus tampil
dalam banyak acara untuk mempromosikan albumnya.” Young-Mi bertepuk tangan
gembira. “Kita akan sering melihatnya di televisi.”
“Begitu?”
Ternyata memang sedang sangat sibuk…
“Majalah-majalah juga banyak memuat artikel tentang dia,” Young-Mi
menambahkan penuh semangat. “Mereka membahas albumnya, lagu-lagunya, dan
mereka juga mulai mengungkit-ungkit soal kekasihnya.”
Sandy menatap temannya. “Apa yang mereka katakan?”
Young-Mi mengerutkan dahi. “Banyak, mereka bertanya-tanya oal keberadaan
wanita itu, identitasnya. Aku sendiri juga penasaran. Intinya, mereka tiba-tiba
meragukan apakah wanita itu benar-benar kekasih Jung Tae-Woo.”
“Kenapa mereka meragukannya?”
“Karena wanita itu tidak terlihat di media lagi sejak fotonya muncul. Bahkan
sekadar kabarnya tidak terdengar,” Young-Mi menjelaskan. “Mereka mulai berpikir
mungkin hubungan Jung Tae-Woo dan wanita itu sudah berakhir. Terus terang saja,
aku juga berharap itu benar. Oh ya, mereka juga mengungkit kejadian empat tahun
lalu.”
“Masalah yang…?”
“Benar. Yang kuceritakan waktu itu. Soal empat tahun lalu ketika ada penggemar
Jung Tae-Woo yang meninggal pada saat acara jumpa penggemarnya. Kau ingat?
Untung saja acara tahun ini lancar-lancar saja dan tidak ada kejadian buruk.”
Sandy menengadah memandang langit biru dan sibuk dengan pikirannya sendiri
sementara temannya terus bercerita. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sandy buru-buru
menjawab dan raut wajahnya berubah. “Oh, Jeong-Su ssi.”

Park Hyun-Shik duduk merenung di kantornya. Di meja terdapat beberapa majalah
yang terbuka pada halaman yang memuat artikel Jung Tae-Woo. Ia sudah menduga

69

akan ada kejadian seperti ini. Begitu album baru Tae-Woo keluar, orang-orang akan
sibuk membicarakan artis asuhannya itu. Bukan hanya lagu-lagunya, tapi segala gosip
yang berhubungan dengan Jung Tae-Woo, termasuk gosip tentang pacar misteriusnya.
Mereka bahkan kembali menyinggung-nyinggung kecelakaan empat tahun lalu, tapi
untungnya hanya sekilas, jadi seharusnya tidak apa-apa.

Park Hyun-Ship mengusap-usap dagu dan berpikir mungkin sudah tiba saatnya
mereka membutuhkan bantuan Sandy lagi. Kali ini, mau tidak mau gadis itu harus
bersedia menampakkan diri. Ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja dan
menekan beberapa tombol.

“Halo, Sandy. Apa kabar? Ini Park Hyun-Shik… Kau punya waktu sekarang? …
Bagus. Bisa datang ke kantorku? … Baik, sampai jumpa.”

“Seperti yang sudah kukatakan, sepertinya kami tidak cocok.”
Sandy memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di hadapannya itu dengan

perasaan lelah. Lee Jeong-Su tampak menyedihkan. Ia baru mengakui kepada Sandy
bahwa ia dan kekasihnya sedang bermasalah.

“Kami tidak cocok,” Lee Jeong-Su mengulangi kata-katanya dan menatap Sandy,
menunggu reaksinya.

Sandy tertawa pahit. “Dan kau baru tahu setelah hampir setahun bersamanya?”
“Kau masih marah?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada bersalah.
Sandy menarik napas. “Tidak juga,” katanya. “Marah juga tidak ada gunanya.”
“Tidak, kau berhak marah padaku,” Lee Jeong-Su bergumam pelan. “Aku memang
salah. Sekarang aku sadar.”
Sandy mengerutkan keningnya. “Lalu?”
“Sepertinya hubungan kami tidak bisa diteruskan lagi,” kata Lee Jeong-Su tegas.
Alis Sandy terangkat. Sesaat ia bingung, lalu ia mendengar ponselnya berbunyi.
Merasa lega karena tidak harus menanggapi apa yang baru saja dikatakan Lee Jeong-
Su, Sandy cepat-cepat membuka flap ponselnya.
“Halo?”
Ia kaget ketika mendengar suara Park Hyun-Shik di seberang sana. “Oh, apa kabar,
Paman? … Sekarang? Ya, aku sedang tidak sibuk… Aku akan ke sana sekarang…
Sampai jumpa.”
Sandy menutup ponsel dan memandang Lee Jeong-Su yang menatapnya dengan
pandangan menyelidik.
“Kau mau pergi sekarang?” tanyanya ketika melihat Sandy buru-buru
menghabiskan minumannya.

70

“Maaf, Jeong-Su ssi. Ada urusan mendadak. Aku harus pergi. Lain kali saja baru
dilanjutkan,” kata Sandy cepat-cepat, lalu bangkit dan keluar dari kafe itu.

“Kita akan pergi menemui Tae-Woo,” kata Pakr Hyun-Shik kepada gadis yang duduk
di hadapannya.

Sandy mengangguk. “Kami harus difoto lagi?”
“Benar,” Park Hyun-Shik mengiyakan. “Karena itu kita harus mengubah
penampilanmu. Kau tidak ingin sampai dikenali, kan?” Lalu Park Hyun-Shik bangkit
dari kursi dan meraih jas.
“Jadi kapan kita mulai bekerja?” tanya Sandy.
Pakr Hyun-Shik memandang Sandy dan berkata, “Sekarang juga.”
Sandy agak terkejut. “Oh, sekarang?” Ia belum merasa siap.
“Ya, ada masalah?” tanya pria itu sambil mengenakan jas dan memperbaiki posisi
dasi.
Sandy menggeleng. “Tidak.” Sepertinya mau tak mau ia harus mempersiapkan
dirinya saat ini juga.
“Ayo, kita pergi,” kata Park Hyun-Shik, mulai berjalan ke pintu. “Saat ini Tae-Woo
sedang diwawancara. Kita akan pergi ke lokasi wawancaranya, tapi sebelum itu kita
harus memberimu penampilan baru.”
Park Hyun-Shik merasa tidak enak karena harus menyembunyikan sesuatu dari
Sandy, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau Sandy tahu, kemungkinan besar ia tidak akan
bersedia diajak menemui Tae-Woo dan saat ini Park Hyun-Shik tidak punya cukup
waktu untuk meyakinkannya.
Ia membawa Sandy ke toko pakaian yang juga merangkap salon dan menyuruh
gadis itu mencoba beberapa pakaian. Ia tidak ingin Sandy terlihat cantik atau bergaya.
Ia ingin Sandy tampil sesederhana mungkin supaya tidak menonjol dan tidak ada
orang yang dapat mengenalinya. Ia juga menyuruh Sandy mencoba beberapa rambut
palsu, tapi tidak ada yang cocok di matanya. Akhirnya Park Hyun-Shik meminta
pegawai toko itu menyanggul rambut Sandy.
Dengan rambut yang disanggul, kemeja krem polos tanpa lengan dan rok polos
berwarna sama, Sandy terlihat seperti wanita yang lebih tua daripada usianya yang
sebenarnya. Persis seperti yang dibayangkan Park Hyun-Shik. Sebagai sentuhan
terakhir, ia mengulurkan kacamata berlensa kecokelatan yang bisa menyamarkan
wajah Sandy.
“Baiklah,” Park Hyun-Shik berkata puas. “Kita berangkat sekarang. Seharusnya
wawancara Tae-Woo akan selesai sebentar lagi.”

71

***

Jung Tae-Woo bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan
para kamerawan dan reporter yang mewawancarainya. Ia sedikit lelah, tapi ia tahu ini
sudah menjadi risiko pekerjaannya. Para wartawan tadi juga sempat bertanya tentang
hubungannya dengan kekasih misteriusnya, namun Tae-Woo hanya memberikan
jawaban samar. Ada juga yang mengungkit kejadian empat tahun lalu. Tae-Woo
berhasil menanggapinya dengan tenang, walau ia harus mengakui dalam hati
perasaannya masih agak resah bila diingatkan kembali tentang kejadian itu.

Tae-Woo dan beberapa anggota stafnya keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama
gedung tempat diadakannya wawancara tadi. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika
pandangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang wanita turun dari
mobil sedan putih. Tae-Woo tertegun sejenak, lalu ia mempercepat langkahnya,
mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri wanita itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.
Wanita itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Tae-Woo sekali lagi. Ia tidak menyangka bisa
bertemu Sandy di sini. Ia menatap Sandy tajam dan melihat pipi gadis itu agak
memerah.
“Itu… Paman yang menyuruhku ke sini,” Sandy mencoba menjelaskan dengan agak
bingung. “Kau tidak tahu? Katanya kita akan difoto.”
Tae-Woo menoleh ke belakang dan melihat kerumunan wartawan mulai
menghampiri mereka dengan cepat.
“Tidak,” jawabnya. “Ikut aku.”
Ia merangkul pundak Sandy dan berjalan menjauh ketika kilatan-kilatan lampu blitz
kamera mulai beraksi dan para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan.
“Jung Tae-Woo, siapa wanita ini?”
“Apakah dia wanita misterius di foto waktu itu?”
“Nona! Siapa nama Anda?”
“Apa hubungan kalian berdua?”
“Apakah Anda bisa memberikan sedikit komentar?”
Tae-Woo hanya mengangkat sebelah tangan dan menuntun Sandy ke mobilnya
yang diparkir tidak jauh dari sana. Ia membuka pintu mobil untuk Sandy sambil
berusaha menghalangi para wartawan mengambil gambar jelas gadis itu. Ia
memerhatikan Sandy terus menunduk dan menutupi wajah dengan sebelah tangan.
Tae-Woo cepat-cepat menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobilnya ke bagian

72

tempat duduk pengemudi. Sebelum masuk ke mobil, ia tersenyum dan melambaikan
tangan sekali lagi ke arah para wartawan.

Setelah mereka sudah agak jauh dari tempat itu, Tae-Woo melirik Sandydan
bertanya, “Kau baik-baik saja?”

Sandy melepaskan kacamata dan mengembuskan napas kesal. “Paman bilang kita
akan difoto. Difoto apanya? Ternyata begini… Ah, tapi benar juga. Kita memang difoto.
Oleh wartawan.”

“Jangan menyalahkan Hyong,” kata Tae-Woo. “Setidaknya Hyong sudah mengubah
penampilanmu sebelum menjebak kita.”

“Menurutmu mereka berhasil memotretku?” tanya Sandy ingin tahu.
“Sudah tentu,” sahut Tae-Woo sambil tersenyum. “Tapi kau tidak usah cemas.
Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kau adalah kau.”
Gadis itu menunduk memerhatikan penampilannya sendiri. Tiba-tiba ia bertanya,
“Tapi tadi kau langsung mengenaliku. Bagaimana bisa?”
Tae-Woo tidak tahu harus menjawab apa. TAdi ketika melihat seorang wanita turun
dari mobil Park Hyun-Shik, ia langsung tahu wanita itu Sandy. Kalau dipikir-pikir, ia
sendiri juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu yakin. Penampilan Sandy berbeda
sekali dengan biasanya, tapi tadi ia bahkan tidak memerhatikan penampilan gadis itu.
Ia hanya tahu wanita yang berdiri di sana Sandy.
“Terus terang saja, aku juga tidak tahu,” sahut Tae-Woo.
Sandy tersenyum, lalu bertanya, “Sekarang bagaimana? Kau mau ke mana?”
Tae-Woo melirik jam tangannya dan berkata, “Sekarang aku harus menghadiri
konser amal…”
Ponselnya berbunyi. “Sebentar.” Ia memasang earphone untuk menjawab. “Hyong,
ada apa? … Aku sedang di jalan… Begitu? Hyong yakin? … Baiklah.”
Ia melepaskan earphone dan menoleh ke samping. Sandy ternyata juga sedang
berbicara di telepon.
“Oh, Young-Mi, ada apa?” kata gadis itu dengan ponsel yang ditempelkan ke
telinga. “Aku? Aku sedang di jalan… Apa? Bukan, bukan bersama Jeong-Su ssi.” Tae-
Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas. “Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah…
Mm, nanti telepon aku lagi.”
“Sepertinya kau belum bisa pulang sekarang,” kata Tae-Woo setelah melihat Sandy
memasukkan ponsel ke tas tangannya.
“Kenapa?”
“Hyong menyuruhmu ikut denganku ke konser amal itu.”
“Kenapa?! Tidak mau.”

73

Tae-Woo melihat gadis itu agak cemas. “Tidak apa-apa,” katanya menenangkan.
“Kau hanya perlu hadir di sana. Selebihnya serahkan padaku. Hyong juga ada di sana.
Tidak akan lama.”

Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Sudah kubilang aku hanya akan berfoto
denganmu. Tidak lebih.”

Tae-Woo menarik napas. “Kau juga tahu tadi kita dikejar-kejar wartawan. Saat ini
mereka pasti sedang mengikuti kita. Apalagi mereka juga tahu aku akan pergi ke
konser amal itu. Kalau kau kuturunkan di tengah jalan atau di mana pun, mereka pasti
akan mengerumunimu. Kau mau begitu?”

Sandy tidak menjawab. Tae-Woo meliriknya dan melihat gadis itu menggigit bibir
dengan kening berkerut.

“Aku minta maaf atas semua kejadian hari ini,” kata Tae-Woo lagi. “Aku berjanji
akan mengantarmu pulang secepatnya.”

“Apa yang sudah kulakukan?”
Sandy mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, tapi Tae-Woo bisa mendengarnya.
Karena tidak tahu harus berkomentar apa, ia diam saja. Gadis yang duduk di
sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa lagi.

Kang Young-Mi baru saja selesai membantu ibunya mencuci piring. Jam makan siang
sudah lewat sejak tadi dan sekarang rumah makan milik keluarganya ini tidak begitu
ramai.

“Ibu, aku naik ya?” Young-Mi berseru kepada ibunya yang duduk di meja kasir,
lalu berlari menaiki tangga ke lantai atas tanpa menunggu jawaban.

Young-Mi segera menyalakan televisi karena sebentar lagi siaran langsung konser
musik amal akan ditayangkan. Ia membuka sebungkus keripik kentang dan berbaring
telungkup di lantai sambil bertopang dagu.

“Ah, ternyata sudah dimulai,” gerutunya ketika gambar muncul di layar televisi.
“Wah, yang datang banyak sekali.”

Di layar televisi terliaht artis-artis berjalan memasuki aula konser dan para reporter
sibuk mewawancarai artis-artis yang lewat. Lalu di layar televisi muncul wajah Jung
Tae-Woo.

“Oh, ternyata Jung TaeWoo juga datang ke konser itu!” seru Young-Mi pada dirinya
sendiri. “Dia ikut menyanyi juga ya?”

Kang Young-Mi memerhatikan idolanya dengan hati berbunga-bunga. Jung Tae-
Woo yang mengenakan turtleneck hitam dan jas cokelat muda itu terlihat tampan
seperti biasa dan ia terus tersenyum ramah ketika diwawancarai reporter.

74

“Jadi, Jung Tae-Woo, siapakah wanita yang tadi datang bersama Anda? Wanita
yang berdiri di sana itu? Kekasih Anda?” tanya si reporter sambil menyodorkan
mikrofon kepada Jung Tae-Woo.

Young-Mi melihat wanita berkacamata gelap yang berdiri agak jauh di belakang
Jung Tae-Woo. Wajahnya tidak terlihat jelas sehingga Young-Mi pun merangkak
mendekati pesawat televisi sambil memasukkan beberapa potong keripik ke mulut.

Jung Tae-Woo tertawa dan menoleh ke arah si wanita dan berpaling kembali kepada
si reporter.

Bagi Young-Mi, reaksi Jung Tae-Woo sudah menunjukkan jawabannya, dan
ternyata si reporter juga berpendapat sama. Tanpa menunggu jawaban Jung Tae-Woo,
si reporter bertanya lagi dengan nada menggoda, “Kenapa Anda tidak
memperkenalkan Nona itu kepada kami semua? Ayolah, kenapa harus malu?”

“Benar! Kenapa harus disembunyikan?” seru Young-Mi kepada gambar Jung Tae-
Woo di televisi.

Jung Tae-Woo masih tersenyum ketika menjawab, “Memang benar, tapi sebenarnya
dia agak pemalu. Dia bersedia datang hari ini juga karena saya yang memintanya.
Kalau tidak, dia sama sekali tidak akan datang.”

“Wah, gadis yang sombong. Soon-Hee harus melihat ini,” kata Young-Mi sambil
duduk bersila. Ia meraih telepon dan menghubungi nomor ponsel Sandy. Matanya
tetap mengawasi Jung Tae-Woo yang sudah beranjak pergi dari si reporter dan
menghampiri kekasihnya. Kamera memang sudah tidak difokuskan pada Jung Tae-
Woo karena sekarang ada artis lain yang sedang diwawancarai. Tapi Jung Tae-Woo dan
kekasihnya masih terlihat di bagian latar, walaupun tidak terlalu jelas.

“Han Soon-Hee, cepat angkat teleponmu sebelum Jung Tae-Woo dan kekasihnya
masuk,” kata Young-Mi gemas. Ia terus menatap Jung Tae-Woo dan kekasihnya di
televisi, seakan-akan kedua orang itu bakal lenyap kalau ia mengalihkan pandangan
sedetik saja.

Young-Mi melihat wanita itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya
sementara Jung Tae-Woo berdiri di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari
tasnya, lalu melakukan gerakan membuka dan menutup. Tepat pada saat itu nada
sambung di telepon Young-Mi terputus.

“Ah, anak aneh ini kenapa tidak menjawab teleponku? Tidak mau melihat pacar
Jung Tae-Woo?” gerutu Young-Mi sambil menekan nomor ponsel Sandy sekali lagi.
“Jangan-jangan dia masih di jalan ya?”

Young-Mi menatap layar televisi dan merasa lega karena Jung Tae-Woo dan
kekasihnya masih terlihat di sudut. Sambil menunggu Sandy menjawab telepon,

75

Young-Mi menyipitkan mata supaya bisa melihat lebih jelas Jung Tae-Woo dan
pacarnya. Kali ini wanita itu kembali merogoh tas.

“Ada apa dengannya? Kelihatannya sibuk sekali,” Young-Mi bertanya sendiri.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu lagi dan menatap benda yang dipegangnya itu.
“Ponsel?” gumam Young-Mi tidak yakin sambil menyipitkan mata.
Wanita itu menatap tangannya, lalu menatap Jung Tae-Woo. Jung Tae-Woo terlihat
menggeleng-geleng, memberi isyarat supaya wanita itu melihat ke sekeliling, sambil
mengucapkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan karena akhirnya wanita itu terlihat
mengutak-atik benda yang dipegangnya.
Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Young-Mi terputus sekali lagi. Young-
Mi tertegun. Ia menatap layar televisi dengan mata terbelalak. Bungkusan keripik yang
sejak tadi dipeluknya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya terpaku pada layar televisi.
Ia melihat kekasih Jung Tae-Woo sedang menundukkan kepala dan mengutak-atik
sesuatu yang menurut Young-Mi ponsel, lalu memasukkannya kembali ke tas tangan.
Kemudian mereka berdua bergerak dan menghilang dari layar televisi Young-Mi.
Young-Mi menatap layar televisi dan telepon yang dipegangnya bergantian.
Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Sandy sekali lagi dan kali ini
ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon yang dituju sedang
tidak aktif. Young-Mi menutup telepon dan mengerutkan dahi.
“Apa yang kulihat tadi? Apa artinya ini? Hanya kebetulan? Kebetulan yang
aneh…,” gumam Young-Mi pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi bersemangat menonton
konser amal itu. Ia sibuk memutar otak, memikirkan apa yang baru saja ia lihat dan
alami. Ia tidak percaya dengan kemungkinan yang muncul di benaknya. “Ini tidak
mungkin. Tapi memang kalau dipikir-pikir…”

Seperti yang dikatakan Jung Tae-Woo sebelumnya, Sandy tidak perlu mengikuti acara
konser amal itu sampai selesai karena Tae-Woo punya jadwal lain yang sangat padat.
Begitu Sandy sudah menyelesaikan tugasnya, Park Hyun-Shik mengantarnya pulang
sementara Jung Tae-Woo menghadiri acara selanjutnya.

Ketika berjalan di sepanjang koridor menuju apartemennya, Sandy agak heran
melihat Kang Young-Mi berdiri di depan pintu gedung itu.

“Young-Mi, sedang apa kau di sini?” tanya Sandy sambil mempercepat langkah
untuk menghampiri temannya.

Young-Mi mengangkat wajah dan Sandy melihat mata temannya terbelalak kaget
ketika melihatnya. Lalu Young-Mi tersenyum aneh. “Ternyata tidak salah,” gumamnya.

76

“Mm? Kau bilang apa?” Sandy mengeluarkan kunci pintu dan memandang
temannya.

Young-Mi tersenyum dan menggeleng. “Tidak, aku sedang bicara sendiri. Ayo, kita
masuk dulu. Aku sudah capek berdiri sejak tadi.”

Sandy segera membuka pintu dan mengajak Young-Mi masuk. “Kenapa menunggu
di sini? Kau kan bisa menelepon dulu.”

Young-Mi melangkah masuk dan menjawab, “Ponselmu tidak aktif.”
Sandy menepuk dahi. “Oh, memang kumatikan tadi. Maaf.”
Kang Young-Mi berdiri di tengah-tengah ruang duduk dan mengamati Sandy dari
ujung kepala sampai ujung kaki.
Sandy merasa aneh diamati begitu. “Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Pakaianmu,” gumam Young-Mi dengan pandangan penuh arti.
Sandy tersentak. Ia baru menyadari ia masih mengenakan pakaian yang diberikan
Park Hyun-Shik. Gaya rambutnya juga masih seperti tadi. Young-Mi pasti heran
dengan penampilannya yang seperti ini.
“Ah, ini?” Sandy berbalik memunggungi temannya dan pura-pura mencari sesuatu
di dalam emari es. Otaknya berputar cepat, mencari alasan yang masuk akal. “Biasa lah,
Mister Kim sedang melakukan percobaan baru. Katanya penampilan ini cocok
untukku. Tapi kurasa tidak begitu. Aku benar, kan? Eh, kau mau minum apa?”
Sandy memutar tubuh, kembali menghadap temannya. Young-Mi sudah duduk di
sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan temannya itu seakan bisa
menembus ke dalam hatinya. Sandy mulai gugup.
“Kau tahu,” Young-Mi membuka mulut, “tadi aku menonton acara konser amal di
televisi.”
Sandy merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya. Tidak
mungkin Young-Mi melihatnya. Ia sudah sangat hati-hati agar tidak disorot kamera.
“Aku melihat Jung Tae-Woo bersama kekasihnya,” Young-Mi melanjutkan dengan
nada tenang. Ia tersenyum kecil. “Anehnya, kekasihnya itu memakai pakaian yang
sama dengan yang kaupakai sekarang. Gaya rambut kalian juga sama persis.”
Baiklah, Sandy harus melakukan sesuatu. Ia tertawa dan berkata, “Lalu kau mengira
aku wanita itu? Young-Mi, kau ada-ada saja.”
Young-Mi mengangkat alis. “Benarkah, begitu? Sebenarnya aku juga tidak akan
berpikir wanita itu kau, Soon-Hee, kalau saja aku tidak meneleponmu saat itu. Aku
melihatmu di televisi. Memang tidak jelas, tapi aku melihat kejadiannya.”
Sandy ingat Young-Mi memang menghubungi ponselnya ketika ia berada di acara
konser amal. Ia tidak menjawab karena suasana di sana berisik sekali, semua orang
berbicara dan irama musik terdengar di mana-mana. Kalau ia menjawab, Young-Mi

77

akan mendengar bunyi berisik di latar belakang dan merasa curiga. Tae-Woo juga
berkata sebaiknya ia tidak menjawab telepon. Itulah sebabnya Sandy mematikan
ponselnya. Ternyata saat itu Young-Mi melihatnya di televisi.

“Ketika aku meneleponmu, kekasih Jung Tae-Woo secara kebetulan juga menerima
telepon. Ketika dia memutuskan hubungan, tepat pada saat itu nada sambung di
teleponku juga terputus,” Young-Mi melanjutkan. “Aku mencoba lagi dan melihat
wanita itu akhirnya mematikan ponselnya.”

Sandy tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia
gunakan. Ia sudah mengenal Kang Young-Mi selama bertahun-tahun dan tahu benar
temannya itu pintar dan berotak tajam. Mungkin saja saat ini Young-Mi sudah bisa
menduga sendiri. Sandy tidak bisa lagi menyembunyikan masalah ini darinya.

“Han Soon-Hee, kurasa sekarang waktunya kau memberitahuku apa yang
sebenarnya terjadi,” kata Young-Mi. “Aku sudah berpikir lama dan ingin tahu apakah
kenyataannya seperti yang kupikirkan.”

Suasana di salah satu toko buku terbesar di Seoul itu terlihat ramai sekali. Di depan
toko terpasang spanduk yang bertuliskan “Peluncuran Buku Salju di Musim Panas dan
Pembagian Tanda Tangan Choi Min-Ah”. Mungkin ini sebabnya kenapa buku yang
paling banyak dipajang di etalase toko itu adalah Saljut di Musim Panas karya Choi Min-
Ah. Para pengunjung toko masing-masing memegang buku tersebut sambil berdiri
berdesak-desakan sementara anggota-anggota staf toko bersusah payah mengendalikan
keadaan. Selain para pengunjung toko, beberapa wartawan juga tampak hadir di sana.

“Choi Min-Ah sudah datang?” seru seorang wanita berkacamata kepada salah satu
anggota stafnya yang sedang berbicara di telepon.

Anggota staf tersebut menutup telepon dan menjawab, “Katanya dia akan tiba
dalam dua puluh menit.”

Wanita berkacamata itu memegang kening dan mengembuskan napas. “Aku tidak
tahu apakah kita bakal mampu bertahan dua puluh menit lagi. Hei, semuanya sudah
siap di belakang sana? Aku ingin semuanya sempurna sebelum Choi Min-Ah
menginjakkan kaki di toko ini. Mengerti?”

Dua puluh dua menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam dan berjalan masuk ke toko buku sambil
tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun.

“Itu Choi Min-Ah! Cantik sekali! Lebih cantik daripada fotonya.”
“Katanya dia baru pulang dari Amerika.”
“Dia pulung khusus untuk menghadiri acara ini.”

78

“Dia kelihatan masih muda ya.”
“Kaulihat pakaiannya? Bagus sekali!”
“Aku sudah membaca semua buku yang ditulisnya.”
Choi Min-Ah menyalami wanita berkacamata yang adalah manajer toko itu,
kemudian berdiri di balik meja panjang yang sudah tersedia. Senyumnya yang tulus
dan menyenangkan masih tersungging di bibir.
“Apa kabar, semuanya?” Choi Min-Ah menyapa para pengunjung dengan suaranya
yang indah dan ramah. Para pengunjung pun membalas sapaannya meski dengan agak
kacau-balau. Choi Min-Ah tertawa kecil dan melanjutkan, “Saya baru saja turun dari
pesawat dan sepanjang perjalanan dari bandara saya merasa lelah sekali. Tapi begitu
tiba di sini dan mendapat sambutan sehangat ini, tiba-tiba saya merasa segar kembali.
Terima kasih banyak.”
Para pengunjung pun tertawa dan bertepuk tangan.
Setelah acara penandatanganan buku itu selesai, Choi Min-Ah mengizinkan para
wartawan mewawancarainya. Mula-mula para wartawan menanyainya tentang buku
barunya, tentang proses penulisan bukunya, tentang ide-idenya dan hal-hal teknis lain.
Sering berlalunya berbagai pertanyaan, para wartawan pun semakin berani karena
meliaht sikap Choi Min-Ah yang ramah dan terbuka.
“Nyonya Choi Min-Ah, bagaimana kabar suami Anda?”
“Dia baik-baik saja, masih terus membenamkan diri dalam not-not balok seperti
biasa,” jawab Choi Min-Ah ceria. “Kadang-kadang dia malah melupakan istrinya yang
cantik ini.”
“Lalu bagaimana kabar putra Anda?”
“Tae-Woo? Seharusnya dia baik-baik saja. Saya belum sempat meneleponnya. Dia
bahkan belum tahu saya ada di Seoul. Mungkin saya akan meneleponnya nanti,” sahut
Choi Min-Ah. “Tapi saya rasa Anda sekalian tentu sudah tahu dengan sangat jelas
keadaannya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan album barunya.”
“Kabarnya dia sudah punya kekasih. Apakah Anda tahu itu, Nyonya?”
Wajah Choi Min-Ah berseri-seri. “Ah, benar. Tentu saja saya tahu. Saya pernah
berbicara dengannya. Han Soon-Hee ssi itu gadis yang baik. Aku berharap hubungan
mereka akan berhasil.”

79

Delapan

BEBERAPA hari sudah berlalu sejak Kang Young-Mi tahu tentang Sandy dan Jung

Tae-Woo. Sebenarnya Sandy ingin segera memberitahukan hal ini kepada Park Hyun-
Shik dan Jung Tae-Woo, tapi belum punya kesempatan untuk itu. Kedua laki-laki itu
begitu sibuk dan susah dihubungi. Kalaupun bisa dihubungi seperti sekarang, Jung
Tae-Woo sedang sibuk dan Sandy tidak bisa bicara banyak.

“Jung Tae-Woo ssi, sekarang kau sedang sibuk?” tanya Sandy di telepon.
“Aku? Sebentar lagi aku harus tampil. Ada apa?”
“Mm, setelah ini kau ada acara lagi?”
Jung Tae-Woo terdiam sejenak lalu berkata, “Sebenarnya tidak ada, tapi sesudah
acara ini selesai, aku harus pergi menemui ibuku. Oh ya, ibuku datang ke Seoul hari ini.
Baru tiba siang tadi. Aku sudah janji makan malam dengannya. Kenapa? Ada
masalah?”
Sandy cepat-cepat berkata, “Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja ada yang ingin
kubicarakan denganmu. Bukan masalah penting. Lain kali saja kita bicarakan.”
“Atau kau mau ikut makan malam bersama kami?” Jung Tae-Woo menawarkan.
“Kau gila?” Sandy berseru. “Sudahlah, tidak apa-apa. Kau makan saja dengan
ibumu.”
Jung Tae-Woo tertawa. “Baiklah, nanti kutelepon.”
Sandy menutup flap ponsel dan meletakkannya di meja ruang duduk. Ia
mengembuskan napas, meraih remote control, lalu menyalakan televisi.

***

80

“Jadi temanmu sudah tahu tentang kita?” tanya Park Hyun-Shik sambil mengusap-
usap dagu.

Sandy duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk. Jung Tae-Woo yang duduk
di sebelahnya hanya bisa duduk bertopang dagu. Mereka bertiga berkumpul di kantor
Park Hyun-Shik. Sandy baru saja selesai bercerita kepada kedua laki-laki itu tentang
Kang Young-Mi yang sudah tahu kesepakatan mereka.

“Jadi alasan kau meneleponku kemarin adalah karena ingin memberitahukan
masalah ini?” tanya Jung Tae-Woo.

“Ya. Maafkan aku,” gumam Sandy dengan kepala tertunduk.
“Bukan salahmu,” kata Jung Tae-Woo sambil mengibaskan tangan. “Siapa yang bisa
menduga temanmu bisa menelepon tepat ketika kau muncul di televisi?”
Park Hyun-Shik mendesah. “Tidak perlu merasa bersalah… Lalu apa yang
dikatakan temanmu?”
Sandy mengangkat wajah dan menatap Jung Tae-Woo serta Park Hyun-Shik
bergantian. “Yah, dia memang agak terkejut… Tapi dia teman baikku dan aku percaya
padanya. Dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa-apa.”
“Baiklah,” kata Park Hyun-Shik pada akhirnya. “Sepertinya kita tidak punya pilihan
lain selain percaya padanya.”
Mereka bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat
berlalu, kemudian kesunyian itu dipecahkan dering telepon di meja Park Hyun-Shik.
Park Hyun-Shik mengangkatnya.
“Apa? Siapa katamu?” katanya di telepon sambil menegakkan punggung dengan
satu gerakan cepat. “Baiklah.”
Ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Sandy memandangnya
dengan tatapan bertanya-tanya.
“Ada apa, Hyong?” tanya Jung Tae-Woo.
Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan berkata, “Ibumu ada di sini.”
Tepat pada saat itu pintu kantor Park Hyun-Shik terbuka. Sekretaris Park Hyun-
Shik muncul diikuti wanita cantik berpostur tinggi semampai.
Sandy terkesiap dan duduk mematung di tempatnya. Wanita itu Choi Min-Ah,
penulis buku terkenal. Ibu Jung Tae-Woo. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Ibu?” Jung Tae-Woo melompat dari kursi dan menghampiri ibunya dengan
ekspresi kaget. “Sedang apa Ibu di sini?”
“Oh, halo, Tae-Woo,” sapa ibunya riang. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik dan
menyalaminya. “Hyun-Shik, apa kabar? Senang sekali melihatmu lagi.”
Park Hyun-Shik tersenyum hangat dan berkata, “Saya juga senang bertemu Bibi
lagi. Maafkan saya karena kemarin saya tidak bisa makan malam bersama Bibi.”

81

“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kau memang sangat sibuk. Orangtuamu baik-
baik saja?” tanya Choi Min-Ah. “Sudah lama tidak bertemu mereka. Mereka masih di
Kanada?”

“Iya, mereka masih di sana. Ibu saya juga sering bertanya kapan bisa bertemu Bibi
lagi.”

Choi Min-Ah mengangguk. “Benar, kita harus berkumpul lagi. Aku ingin tahu
bagaimana kabarnya.”

“Ibu, kenapa Ibu datang ke sini?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil
menggandeng lengan ibunya.

Choi Min-Ah menoleh memandang anak laki-lakinya. “Oh, pesawatku baru akan
berangkat sore nanti, jadi aku ingin mengajak kalian makan siang bersamaku. Hyun-
Shik, kau tidak boleh menolak.”

Saat itu pandangan Sandy bertemu dengan tatapan penuh tanya Choi Min-Ah.
Wanita itu tersenyum dan Sandy membalas senyumnya dengan kaku.

“Nah, sebentar. Apakah ini Han Soon-Hee ssi?” tanya ibu Jung Tae-Woo.
Dengan kikuk Sandy menatap Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik bergantian, lalu
bangkit dari kursinya. “Apa kabar?” katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Tae-Woo, kau ini bagaimana? Kenapa tidak memperkenalkan kami?” kata Choi
Min-Ah sambil memukul pelan lengan anaknya.
Jung Tae-Woo tersadar dan menghampiri Sandy. “Ibu, ini Han Soon-Hee. Sandy, ini
ibuku.”
Choi Min-Ah mengerutkan kening dan mendecakkan lidah. “Perkenalan macam
apa itu?” Lalu ia memandang Sandy sambil tersenyum. “Senang sekali akhirnya bisa
bertemu denganmu, Soon-Hee. Kau tidak keberatan kalau kupanggil Soon-Hee saja,
bukan?”
“Tentu, tentu saja tidak,” kata Sandy cepat-cepat.
“Begini saja, bagaimana kalau kita berempat pergi makan siang? Kita bisa
mengobrol sambil makan. Soon-Hee, kau ada waktu, kan? Kau mau, kan?” bujuk ibu
Jung Tae-Woo ramah.
Sandy membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tidak tahu harus menjawab
apa. Apakah ia boleh makan siang bersama ibu Jung Tae-Woo? Atau sebaiknya ia
segera pamit dan pergi dari sana saja? Ia memandang kedua laki-laki yang sedang
berdiri tanpa suara itu, menunggu isyarat.
Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik berpandangan. Akhirnya Park Hyun-Shik
berkata, “Baiklah, Bibi. Saya juga sedang tidak punya jadwal kerja siang ini.”
Choi Min-ah bertepuk tangan. “Bagus sekali. Ayo, cepat. Kita mau makan di mana
ya?”

82

“Kau kenal ibunya?” tanya Park Hyun-Shik kepada Sandy dengan nada rendah
ketika ibu Jung Tae-Woo keluar duluan dari kantornya, meninggalkan mereka bertiga
di dalam.

Sandy merasa kesulitan, susah menjelaskannya. “Itu… waktu itu aku tidak
sengaja—“

Jung Tae-Woo menyela, “Hyong, nanti saja kujelaskan.Sebaiknya sekarang kita
segera menyusul ibuku.”

Awalnya Tae-Woo agak mencemaskan sikap ibunya terhadap Sandy, tapi sepertinya
kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena kedua wanita itu cepat sekali akrab.
Tampak jelas ibunya menyukai Sandy dan begitu juga sebaliknya. acara makan siang
itu berjalan ringan dan menyenangkan. Bahkan ketika ibunya menanyakan bagaimana
pertemuan pertama mereka, Sandy menjawab dengan lancar, “Jadi kalau Paman tidak
salah mengambil ponsel saya waktu itu, saya rasa saya tidak akan pernah bertemu
Paman maupun Jung Tae-Woo ssi,” kata Sandy.

“Wah, rupanya cinta pada pandangan pertama,” kata ibu Jung Tae-Woo penuh
minat.

Sandy tersedak dan Tae-Woo otomatis menyodorkan segelas air kepada gadis yang
duduk di sebelahnya itu. Park Hyun-Shik yang duduk berhadapan dengan Tae-Woo
hanya bisa menahan senyum.

“Oh ya, Soon-Hee, Hyun-Shik kan belum setua itu. Kenapa kau memanggilnya
„paman‟?” tanya ibu Tae-Woo lagi sambil menepuk tangan Park Hyun-Shik yang
duduk di sebelahnya. “Hyun-Shik, kau hanya dua tahun lebih tua daripada Tae-Woo,
kan?”

Park Hyun-Shik membenarkan.
“Sepertinya saya sudah terbiasa memanggilnya begitu. Saya sendiri juga tidak tahu
kenapa, tapi mungkin karena penampilan dan sikapnya yang dewasa sekali,” jawab
Sandy.
Tae-Woo menyadari ibunya mengamati dirinya, lalu Park Hyun-Shik. “Benar juga,”
kata ibunya. “Hyun-Shik memang kelihatan lebih dewasa kalau dibandingkan Tae-
Woo. Tapi, Hyun-Shik, kenapa sampai sekarang kau masih sendiri? Bagaimana kalau
kusuruh Soon-Hee mencarikan gadis untukmu?”
Sementara ibunya mendesak Park Hyun-Shik, Tae-Woo mendengar dering ponsel.
Ia meraba saku jasnya, tapi lalu berpaling kepada Sandy. “Punyamu.”
Sandy merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar ponsel sekilas.
Sambil berdeham pelan, ia membuka dan langsung menutup flap ponselnya. Beberapa

83

detik kemudian ponselnya berbunyi lagi. Tae-Woo menoleh ke arah Sandy dan
mendapati gadis itu sedang mencopot baterai ponselnya.

“Dia lagi?” tanya Tae-Woo setelah Sandy memasukkan ponsel dan baterai ke dalam
tas.

Sandy tidak menjawab, hanya memandangnya sambil tersenyum samar.
“Kenapa tidak dijawab?”
“Kemungkinan besar dia akan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Seperti
biasa.”

Lee Jeong-Su menutup ponselnya dengan kesal dan berdiri di tepi jalan dengan
perasaan tidak menentu. Rupanya Sandy tidak mau menjawab teleponnya. Ia
mengangkat tangan kirinya yang sedang memegang tabloid hiburan yang memuat foto
Jung Tae-Woo bersama wanita dengan kacamata hitam dan rambut disanggul. Di
bawah foto itu ada foto lain yang juga memperlihatkan Jung Tae-Woo berdiri dekat
sekali dengan si wanita misterius, tapi kali ini wanita itu bertopi merah dengan rambut
dikepang. Di bawah foto itu ada tulisan besar-besar “IDENTITAS KEKASIH JUNG
TAE-WOO”.

Artikel kecil itu sudah dibacanya berkali-kali dengan perasaan tidak percaya, tapi
Lee Jeong-Su ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia pun membaca kembali artikel itu
dengan hati-hati. Matanya terhenti pada kalimat yang menyatakan wanita misterius
yang menjadi kekasih Jung Tae-Woo akhirnya diketahui bernama Han Soon-Hee.

Han Soon-Hee.
Mata Lee Jeong-Su kembali menatap foto-foto itu. Tidak salah lagi. Semakin
diperhatikan, wanita di foto itu memang mirip sekali dengan Soon-Hee. Benarkah itu?
Inilah yang ingin ia tanyakan pada Soon-Hee, tapi gadis itu tidak mau menjawab
teleponnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Lee Jeong-Su tidak mengerti kenapa
hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa kesal dan gelisah. Ia harus terus berusaha
menghubungi Soon-Hee sampai berhasil mendapatkan penjelasan dari gadis itu. Kalau
perlu, ia akan pergi ke rumah Soon-Hee dan menunggunya di sana.

Kang Young-Mi mendecakkan lidah dengan geram. Sejak tadi ia mencoba
menghubungi ponsel Soon-Hee, tapi anak itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ke mana
dia?

Young-Mi menatap majalah di tangannya. Ia mengerutkan dahi. Apakah Soon-Hee
sudah tahu tentang ini? Sepertinya belum. Kalau sudah tahu, Soon-Hee pasti akan

84

meneleponnya. Apakah anak itu sedang bersama Jung Tae-Woo? Kalau begitu
seharusnya dia sudah tahu.

“Young-Mi, di mana majalan yang baru Ibu beli tadi?” tanya ibunya tiba-tiba.
Young-Mi tersentak kaget dan berusaha menyembunyikan majalah itu. “Oh?
Majalah yang mana?”
Ibunya berkacak pinggang. “Yang sedang kausembunyikan di balik punggungmu
itu. Sini.”
Young-Mi tidak bisa berbuat apa-apa sementara ibunya mulai membuka-buka
majalah itu. Jantungnya berdebar keras. Ia sangat berharap bakal ada tamu yang datang
ke restoran mereka, karena dengan begitu ibunya akan sibuk untuk sesaat, memberinya
kesempatan menyembunyikan majalah itu. Tapi harapannya tidak terkabul. Tidak ada
tamu yang datang dan ibunya terus asyik membaca gosip artis.
“Astaga!”
Ini dia yang sudah ia takutkan sejak tadi.
“Hei, Young-Mi, lihat ini!” Ibunya mendorong majalah itu ke arahnya.
“Ada apa?” Young-Mi berpura-pura tidak tahu.
“Lihat ini! Ini Soon-Hee, bukan? Soon-Hee temanmu itu?”
Young-Mi melihat majalah itu sekilas dan mendorongnya kembali kepada ibunya.
“Ah, Ibu. Mana mungkin itu Soon-Hee. Masa Soon-Hee pacaran dengan artis terkenal?”
Ibunya tetap ngotot. “Tapi di sini ditulis namanya Han Soon-Hee.”
Young-Mi berkata dengan tidak sabar, “Bisa saja namanya sama. Banyak orang
yang bernama Han Soon-Hee.”
Ibunya terdiam sejenak. Young-Mi melirik ibunya untuk melihat bagaimana
reaksinya. Ibunya mengamati foto-foto di majalah itu dengan kening berkerut. Ini
gawat, ibunya terlalu cerdik untuk dibohongi.
“Tidak, ini memang Han Soon-Hee temanmu,” kata ibunya pasti. “Memang
wajahnya tidak jelas, tapi lihat tulang pipinya dan senyumnya. Ibu yakin seyakin-
yakinnya ini Han Soon-Hee yang kita kenal. Kau mau bertaruh dengan Ibu?”
Young-Mi tidak menjawab. Sepertinya ibunya juga tidak menginginkan jawaban
karena ibunya tidak memandangnya.
“Ternyata dia pacaran dengan Jung Tae-Woo si penyanyi itu, ya…?” gumam ibunya
sambil terus memerhatikan foto-foto dalam majalah. “Bagaimana bisa? Kau sudah tahu
tentang ini, Young-Mi?”
Mata Young-Mi bertemu pandang dengan ibunya, ia lalu cepat-cepat berkata,
“Mana aku tahu? Tidak, aku tidak tahu apa-apa.”

***

85

Jung Tae-Woo merasa senang siang itu. Perasaannya ringan sekali selama makan siang
tadi. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka berempat selesai makan
siang dan keluar dari restoran, tiba-tiba saja begitu banyak orang mencegat mereka.
Para wartawan mulai berebut mengajukan pertanyaan dan kamera-kamera diarahkan
kepada mereka.

“Jung Tae-Woo, benarkah ini Han Soon-Hee, kekasih Anda?”
“Anda berempat sedang apa di sini, Jung Tae-Woo?”
“Nyonya Choi, apakah Anda baru bertemu Han Soon-Hee ssi?”
“Ada komentar, Han Soon-Hee ssi?”
Tae-Woo tidak bisa mendengar kata-kata lain karena semua orang berteriak
bersamaan. Ia merasakan Sandy membeku di sampingnya. Ia memahami perasaan
gadis itu, ia sendiri juga sangat terkejut karena mendadak harus berhadapan dengan
kerumunan wartawan seperti ini. Dan dari mana mereka tahu nama Sandy?
Suasana menjadi kacau. Park Hyun-Shik berusaha menenangkan para wartawan
yang tidka henti-hentinya memotret. Ibu Tae-Woo ikut kebingungan, tapi tetap bisa
bersikap tenang. Sandy hanya bisa menunduk. Secara otomatis, Tae-Woo menarik
Sandy ke belakang punggungnya. Ia menyadari tubuh gadis itu tegang.
Tepat pada saat itu mobil mereka sudah diantarkan ke depan restoran. Tae-Woo
segera merangkul pundak Sandy dan menuntunnya menerobos kerumunan wartwan.
Sandy dan ibunya berhasil masuk ke mobil. Lalu ketika Tae-Woo ikut masuk dan
duduk di samping kemudi, Park Hyun-Shik sudah menyalakan mesin mobil.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Park Hyun-Shik ketika mereka melaju di jalan
raya.
Tae-Woo tidak menjawab. Ia memutar tubuhnya dan memandang Sandy yang
duduk di belakang bersama ibunya. “Kau tidak apa-apa?”
Sandy tidak kelihatan sehat. Wajahnya agak pucat, tapi ia memaksakan seulas
senyum. “Ya.”
“Bagaimana mereka bisa tahu nama Sandy?” Tae-Woo bertanya kepada
manajernya.
Park Hyun-Shik menatapnya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan
raya. “Entahlah.”
“Kalian belum memberi keterangan lengkap tentang Soon-Hee pada wartawan,
ya?”
Tae-Woo memandang ibunya yang tampak sangat gelisah. “Belum. Memangnya
kenapa, Bu?”
Ibu Tae-Woo agak salah tingkah ketika menjawab, “Sepertinya Ibu yang telah
membocorkannya kepada wartawan.”

86

Tae-Woo hanya bisa mendengarkan dalam diam sementara ibunya menjelaskan apa
yang terjadi saat wawancara di toko buku. Park Hyun-Shik tidak berkomentar. Sandy
juga hanya duduk di sana tanpa suara.

“Maafkan Bibi, Soon-Hee. Bibi tidak sengaja. Bibi tidak tahu kalian tidak ingin
orang-orang tahu.”

Sandy tersenyum lebar menenangkan wanita cantik itu. “Tidak apa-apa, Bibi. Bukan
masalah besar. Lagi pula cepat atau lambat mereka akan tahu juga.”

Tae-Woo menduga Sandy sebenarnya risau, hanya saja ia tidak mau
menunjukkannya karena takut ibunya merasa bersalah.

“Benar, ini bukan masalah besar,” kata Park Hyun-Shik memecah kesunyian.
“Sekarang yang penting kita antar Sandy pulang dulu, lalu kita ke bandara untuk
mengantar Bibi.” Ia memandang ibu Tae-Woo melalui kaca spion. “Bibi tidak usah
khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”

Ketika mereka tiba di gedung apartemen Sandy, Tae-Woo mengantarnya sampai ke
depan pintu apartemennya.

“Oke, aku sudah sampai,” kata Sandy di depan pintu apartemen. “Pergilah. Kau
masih harus mengantar ibumu ke bandara.”

Tae-Woo menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu. Walaupun Sandy
tersenyum, Tae-Woo bisa melihat senyum itu bukan senyum ceria yang biasa.

“Apa yang kaupikirkan sekarang?” tanya Tae-Woo.
Mata Sandy tampak menerawang. Ia menarik napas dalam-dalam dan
mengembuskannya pelan. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Banyak sekali yang kupikirkan
sampai-sampai aku sendiri bingung.”
Tae-Woo tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu karena sepertinya gadis itu
masih ingin berkata-kata.
“Semua orang sudah tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Sandy,
lebih kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba matanya melebar dan ia menatap cemas Tae-
Woo. “Orangtuaku. Mereka pasti juga akan tahu. Apa yang harus kukatakan pada
mereka?”
Tae-Woo tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tiba-tiba, saat
itu juga, ia sangat yakin akan satu hal. Ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya
itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri
karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.
Perlahan ia maju selangkah dan memeluk gadis itu. Sandy tidak menghindar. Entha
kenapa Tae-Woo merasa segalanya tepat seperti seharusnya ketika gadis itu dalam

87

pelukannya. Seluruh rasa lelah seolah mengalir keluar dari tubuhnya. Ia ingin sekali
terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Sandy selamanya.

“Tidak usah dipikirkan,” kata Tae-Woo pelan. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah
padaku.”

Aku akan pastikan kau tidak mendapat masalah….
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Sandy. Sandy menarik napas dan
tersenyum kecil.
“Aku tahu,” kata Sandy sambil mengangguk tegas. “Aku bisa mengatasinya. Kau
pergilah.”
Tae-Woo menunggu sampai Sandy masuk ke apartemen sebelum berbalik pergi. Ia
berjalan menuju lift tanpa menyadari ada pria berpostur tinggi besar sedang
memerhatikan kepergiannya tidak jauh dari sana.

Sandy menutup pintu apartemen dan menarik napas panjang. Ia melemparkan tasnya
ke kursi lalu duduk di lantai.

Kenapa bisa begini? Acara makan siang yang menyenangkan berubah menjadi
kekacauan. Sandy tidak bisa menggambarkan perasaannya ketika ia keluar dari
restoran dan tiba-tiba berhadapan dengan segerombolan wartawan yang tidak henti-
hentinya menjepretkan kamera, meneriakkan namanya, dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan. Seakan kejadian yang dialaminya tadi tidak nyata, seperti mimpi.

Apa yang harus ia lakukan? Apa yang sudah ia lakukan?
Mungkin sejak awal seharusnya ia tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo. Namanya
kini sudah tersebar dan mungkin besok wajahnya akan terpampang jelas di tabloid-
tabloid. Sebenarnya hanya satu hal yang mencemaskannya, yaitu reaksi orangtuanya.
Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada orangtuanya?
Sandy meraih tas dan mengeluarkan ponsel. Baterai ponsel itu masih belum
dipasang. Ia menatap ponselnya. Apakah ia harus menelepon orangtuanya? Kalau
orangtuanya tahu, mereka pasti tidak akan tinggal diam, apalagi ibunya. Meski ia
menjelaskan bahwa semua itu tidak benar dan sesungguhnya ia sama sekali tidak
punya hubungan apa pun dengan Jung Tae-Woo, ia yakin keadaannya tidak akan
berbeda.
Jung Tae-Woo. Pikiran Sandy kembali melayang ke saat ia berada dalam pelukan
laki-laki itu. Ketika Jung Tae-Woo memeluknya, waktu seakan berhenti berputar.
Ketika Jung Tae-Woo mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia benar-benar
percaya. Ketika Jung Tae-Woo melepaskan pelukannya, keyakinan diri itu hilang lagi.
Kenapa begini?

88

Jung Tae-Woo. Sandy tidak sepenunya jujur pada laki-laki itu. Apakah ini adil
baignya? Sandy bangkit dan menghampiri lemari kecil di samping televisi. Ia membuka
lemari itu dan mengeluarkan kantong ungu kecil yang terbuat dari kain beludru. Ia
membuka ikatan kantong itu, merogohnya dan mengeluarkan bros berbentuk hati
berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan. Sandy menatap bros di telapak
tangannya itu sambil berpikir. Sejak awal ia seharusnya tidak boleh terlibat dengan
Jung Tae-Woo. Andai saja ia menolak…

Tapi saat itu ia benar-benar ingin tahu.
Apakah sekarang ia sudah mendapatkan jawaban?
Bel pintu berbunyi, menarik pikiran Sandy kembali ke alam sadar. Sandy berjalan
tanpa suara ke pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ia melihat wajah Lee
Jeong-Su. Lagi-lagi dia. Sandy tidak ingin bicara dengannya, terlebih lagi saat ini.
Lee Jeong-Su mengetuk pintu dan berkata, “Soon-Hee, buka pintunya. Aku tahu
kau ada di dalam.”
Sandy mengerutkan kening. Ia tetap tidak bergerak dari balik pintu.
“Kita harus bicara, Soon-Hee,” kata Lee Jeong-Su lagi. “Aku akan terus menunggu
di sini sampai kau mau membuka pintu.”
Sandy mendengus pelan. Terserah saja, katanya dalam hati. Kau mau menunggu
sampai besok? Silakan. Ia membalikkan tubuh dan berjalan ke tempat tidur.

89

Sembilan

JAM dinding menunjukkan pukul 00:52 ketika Tae-Woo tiba di rumah. Ia

melemparkan kunci mobil ke meja dan mengempaskan tubuh ke sofa. Ia mengusap
wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah mengantar
Sandy pulang siang tadi, ia dan Park Hyun-Shik langsung mengantar ibunya ke
bandara. Setelah itu Tae-Woo kembali disibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat.
Tentu saja sepanjang hari itu ia terus dikejar-kejar wartawan yang tidak henti-hentinya
bertanya tentang Sandy, tapi Park Hyun-Shik menyuruhnya tidak berkomentar dulu.
Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Sandy.

Sejak sore tadi Tae-Woo ingin menelepon Sandy. Ia ingin tahu apakah gadis itu
baik-baik saja, tapi ia tidak punya waktu. Sekarang ia mengeluarkan ponsel dari saku
dan membuka flap-nya. Apakah sekarang sudah terlalu malam untuk menelepon?

Sepertinya tidak ada salahnya mencoba.
Tae-Woo menekan angka sembilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Keningnya
agak berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahunya telepon
yang dihubungi sedang tidak aktif. Tae-Woo menutup kembali ponselnya dan
menimbang-nimbang.
Baiklah, hair ini tidak perlu diperpanjang lagi. Besok ia akan langsung pergi
menemui gadis itu.
Setelah mandi dan kembali berpakaian—kaus longgar jingga dan celana panjang
putih, Tae-Woo merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia
berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang
terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari.

90

“Tidak ada makanan. Kenapa Ibu cuma beli mi instan?” gerutunya sambil
mengeluarkan sebungkus mi instan. Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu
membungkuk untuk membuka pintu lemari bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya
terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak
menatap layar televisi.

Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita di lokasi
kejadian. Di latar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam
kebakaran berlalu-lalang dan para polisi berusaha menertibkan orang-orang yang
berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya hiruk pikuk, terdengar teriakan
dan tangisan orang-orang.

Tae-Woo menyambar remote control dan mengeraskan volume televisinya untuk
mendengar kata-kata si reporter.

“…sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami
belum mendapat konfirmasi apakah gedung apartemen itu sudah kosong atau belum.
Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar…”

Mata Tae-Woo terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya
berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sandy. Siang
tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakan ini tidak benar. Namun si reporter kini
menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Tae-Woo langsung
terasa membeku.

Tanpa berpikir lagi, Tae-Woo melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci
mobil, dan keluar dari rumah.

Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi
erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau… gelisah… takut.
Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia
mencoba menghubungi ponsel Sandy tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak
aktif. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga Sandy tidak apa-apa. Semoga Sandy
sudah keluar dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Sandy?
Bagaimana kalau…

Astaga, ia bisa gila!
Ketika ia hampir sampai di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak
ada mobil yang bisa lewat. Tae-Woo langsung melompat keluar dari mobil dan berlari
menerobos kerumunan orang. Suasana yng kacau dan udara yang begitu panas karena
asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Tae-Woo berlari ke sana kemari dan
melihat ke sekeliling, mencari sosok Sandy. Ia berjalan cepat di antara orang-orang
sambil berteriak-teriak memanggil nama Sandy. Di mana gadis itu?

91

Tae-Woo bolak-balik memutar kepala dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku
pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan
piama, berdiri menatap gedung yang dilalap api dengan pandangan kosong.

“Sandy!” Tae-Woo berseru namun gadis itu tetap bergeming.
Rasa lega membanjiri dirinya ketika ia berlari menghampiri gadis itu.
“Sandy…” Kini Tae-Woo sudah berdiri di samping Sandy dan menyentuh
lengannya.
Gadis itu menoleh dengan linglung dan Tae-Woo melihat wajahnya kotor karena
asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya. Ketika Tae-Woo memegang lengan Sandy,
ia baru menyadari tubuh gadis itu gemetaran.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Tae-Woo dengan nada khawatir sambil
mengamati Sandy dari atas ke bawah. Gadis itu hanya mengenakan piama tanpa alas
kaki. Rambutnya tergerai kusut di bahu dan kedua tangannya meremas syal basah
bermotif kotak-kotak hitam dan putih. Syal yang diberikan Tae-Woo kepadanya
sewaktu acara jumpa penggemar dulu.
Sandy mengangguk masih dengan raut wajah linglung. “Ya, aku tidak apa-apa,”
sahutnya pelan. Tae-Woo mendengar suaranya juga bergetar.
Tae-Woo mengembuskan napas lega dan langsung memeluk gadis itu. “Syukurlah
kau tidak apa-apa.”
“Aku tidak sempat membawa apa-apa,” gumam Sandy.
Tae-Woo merenggangkan pelukannya dan menatap Sandy yang sepertinya masih
terguncang. “Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku.”
Sandy menurut dan membiarkan Tae-Woo menuntunnya ke tempat mobilnya
ditinggalkan. Mata Sandy terus terpaku pada api yang berkobar dan asap yang
bergulung-gulung.
Sepanjang perjalanan Sandy tidak berbicara dan Tae-Woo juga tidak mengajaknya
bicara. Ketika akhirnya mereka tiba di rumahnya, Tae-Woo baru menyadari rumahnya
terang benderang, pintu rumahnya lupa dikunci, dan televisinya lupa dimatikan karena
ia begitu terburu-buru keluar rumah tadi.
“Kau duduk dulu di sini,” katanya sambil mendudukkan Sandy di sofa. “Aku akan
mengambil minuman untukmu.”
Ketika kembali membawa secangkir teh hangat, ia melihat Sandy menangis.
Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sepenuhnya dan akibat guncangan tadi
mulai terasa olehnya.
Tae-Woo meletakkan cangkir di meja, duduk berhadapan dengan Sandy, lalu
memandang khawatir gadis itu. “Ada yang sakit?”

92

Sandy menggeleng-geleng sambil menghapus air mata dengan punggung
tangannya. Lalu ia berbicara sambil terisak-isak. Dengan agak susah payah, Tae-Woo
mendengarkan kata-kata yang tidak terlalu jelas karena diucapkan sambil menangis,
tapi ia bisa menarik kesimpulan dari kalimat Sandy yang kacau-balau.

Sandy bercerita api itu berasal dari apartemen sebelah. Saat itu ia sedang menonton
televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan susah bernapas. Kemudian segalanya menjadi
kacau. Alarm tanda kebakaran berbunyi nyaring dan orang-orang berteriak. Ia panik
dan hanya sempat berpikir harus mengambil sesuatu untuk menutupi hidung dan
mulutnya. Ia pun menyambar syal pemberian Tae-Woo yang tergeletak di samping
tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemen.

Tae-Woo menyodorkan sekotak tisu kepada Sandy dan gadis itu menerimanya.
“Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa.”

Sandy terlihat lebih tenang. Ia mengeringkan air mata dan membersihkan hidung.
Lalu ia memandang Tae-Woo dengan cemas. “Sekarang bagaimana?”

“Di sini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal di sini dulu.” Tae-
Woo menunjuk cangkir teh di meja. “Minumlah. Masalah lainnya kita pikirkan besok
saja.”

Sandy mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Walaupun Sandy masih
agak tegang, Tae-Woo melihat tangan gadis itu sudah tidak gemetar lagi. Sandy
meminum tehnya pelan-pelan, lalu memandang piamanya yang kotor.

Tae-Woo berdeham. “Ibuku tidak meninggalkan pakaiannya di sini, tapi kalau kau
tidak keberatan, aku bisa meminjamkan bajuku.”

Sementara Sandy membersihkan diri dan berganti pakaian, Tae-Woo menelepon
manajernya dan menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah, aku akan ke sana besok pagi,” kata Park Hyun-Shik sebelum menutup
telepon. “Syukurlah dia tidak apa-apa.”

Sandy kembali ke ruang duduk ketika Tae-Woo menutup telepon. Tae-Woo
tersenyum kecil ketika melihat penampilan gadis itu. Sandy mengenakan kaus lengan
panjang yang kebesaran untuknya, dan celana panjang yang ujungnya harus dilipat
berkali-kali. Wajahnya sudah dibersihkan dan rambutnya basah karena baru keramas.

“Boleh aku pinjam teleponmu?” tanya Sandy. “Aku ingin menelepon temanku,
Young-Mi. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun
sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja.”

“Tentu saja,” sahut Tae-Woo sambil menyodorkan telepon kepada Sandy. Ia
berjalan ke dapur untuk memberikan sedikit privasi, walaupun tentu saja dari sana ia
masih bisa mendengar ucapan gadis itu.

93

“Young-Mi. Ini aku,” kata Sandy. “Oh, kau sudah tahu? … Tidak, tidak, aku baik-
baik saja. Kau tidak usah cemas… Sekarang?”

Tae-Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas.
“Emm… aku di rumah teman,” gumam Sandy, lalu cepat-cepat menambahkan,
“begini, Young-Mi, aku mau minta tolong. Aku boleh pinjam pakaianmu? Aku tidak
sempat membawa apa-apa. Bahkan ponselku tidak sempat kuselamatkan… Besok pagi?
Terima kasih banyak… Oh, alamatnya?”
Sandy menyebutkan alamat rumah Tae-Woo dan setelah itu menutup telepon.
“Apa kata temanmu?” tanya Tae-Woo.
“Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha menghubungiku sejak
tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku. Tadi dia menawarkan diri
untuk mengantarkan pakaiannya ke sini. Kuharap kau tidak keberatan karena aku
sudah memberikan alamat rumahmu kepadanya.”
Tae-Woo hanya mengangkat bahu. “Dia temanmu yang kauceritakan itu, kan? Yang
sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah.”
Sandy mengangguk dan mengangsurkan pesawat telepon yang dipegangnya
kepada Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”
Tae-Woo menerima teleponnya dan menunjuk ke arah televisi. “Dari televisi.”
Sandy menatap Tae-Woo sambil tersenyum. “Kenapa rambutmu begitu?”
Tangan Tae-Woo langsung menyentuh kepalanya. Ia baru menyadari rambutnya
acak-acakan. Ia baru ingat ia tadi sedang mengeringkan rambut ketika melihat berita
kebakaran itu di televisi. Saking paniknya, ia langsung melesat keluar tanpa
memikirkan penampilan.
Tae-Woo berdeham dan menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. “Tadi baru
keramas,” gumamnya tidak jelas, lalu kembali menyodorkan pesawat telepon yang
dipegangnya kepada Sandy. “Masih ada yang ingin kautelepon? Orangtuamu?”
Sandy berpikir sejenak. “Orangtuaku ada di Jakarta. Kurasa mereka tidak akan tahu
tentang gedung apartemen yang terbakar di Korea. Aku juga tidak ingin membuat
mereka khawatir. Lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru kuceritakan
kepada mereka.”
“Baiklah, terserah kamu,” kata Tae-Woo. “Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ayo,
kuantar kau ke kamarmu.”
Ia membawa Sandy ke kamar tamu di lantai dua. “Silakan,” kata Tae-Woo setelah
membuka pintu kamar itu.
Sandy mengangguk dan melangkah masuk. Ketika berbalik, Tae-Woo mendengar
Sandy memanggilnya. Ia pun menoleh.

94

Sandy berdiri di sana dengan tangan memegang pintu kamar yang terbuka. “Terima
kasih,” katanya sambil tersenyum kecil. “Untuk semuanya.”

Tae-Woo membalas senyumnya. “Selamat malam.”

Ketika membuka mata keesokan harinya, Sandy tertegun sejenak sebelum menyadari ia
sedang berada di rumah Jung Tae-Woo. Ia bangun dan duduk bersila di tempat tidur.
Otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia tidak bisa melukiskan perasaannya
ketika kebakaran itu terjadi. Sepertinya saat itu ia dalam keadaan setengah sadar
karena entah bagaimana ia sudah keluar dari gedung dan berdiri di tepi jalan.
Semuanya terjadi begitu cepat dan samar. Dalam sekejap ia sudah tidak punya apa-apa
lagi.

Sejak menyadari gedungnya terbakar, hati Sandy diserang rasa panik, namun ia
tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Namun ketika ia berdiri kebingungan di tepi jalan sambil memandang apartemennya
yang terbakar, Jung Tae-Woo datang. Sandy merasa begitu lega melihat pria itu. Tiba-
tiba ia tahu ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia
bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.

Apa yang sedang kupikirkan? Sandy menggeleng-geleng. Sudah jam berapa
sekarang? Ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ternyata sudah pukul 09.25

Sandy turun dari tempat tidur dan memandang ke sekelilingnya. Kira-kira pintu
apa di situ? Kamar mandi?

Ketika Sandy memutar kenopnya, ternyata memang benar itu pintu kamar mandi.
Kamar mandinya cukup besar, ada bak mandi dan pancuran. Di sana juga sudah
tersedia keperluan dasar seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk. Ternyata
mereka sudah mempersiapkan semuanya bagi tamu yang mungkin datang menginap.
Kemarin Sandy tidak memakai kamar mandi yang ini, tapi kamar mandi lain di lantai
bawah, jadi ia cukup terkesan.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia turun ke lantai bawah. Ia menuruni
tangga dengan perlahan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

“Sudah bangun?”
Sandy terlompat kaget mendengar suara Jung Tae-Woo. Ternyata laki-laki itu
sedang duduk di meja makan sambil tersenyum kepadanya. Ia tidak sendirian. Park
Hyun-Shik juga duduk di sana sambil memegang surat kabar pagi.
“Oh, Paman sudah datang?” Sandy menghampiri mereka berdua. “Maaf, aku
terlambat bangun.”

95

Ia agak risi karena Park Hyun-Shik terus menatapnya dengan pandangan penuh
arti. Meski bisa menduga paman yang satu itu sedang memandangi pakaiannya, ia
bertanya juga, “Paman, kenapa melihatku seperti itu?”

Park Hyun-Shik tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku lega kau tidak
terluka. Ayo duduk. Mau sarapan? Ini ada roti.”

“Terima kasih.”
Park Hyun-Shik melipat koran dan meletakkannya di meja. “Tadi pagi aku mampir
ke gedung apartemenmu. Kelihatannya buruk. Kurasa tidak ada yang tersisa. Aku
dengar dari Tae-Woo apinya berasal dari apartemen di sebelah apartemenmu?”
Sandy mengangguk.
“Kalau begitu, kurasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.”
Sandy mendesah dan mengerutkan kening dengan cemas.
“Apa rencanamu selanjutnya?” Park Hyun-Shik bertanya.
Sandy memandangnya. “Belum tahu. Mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku
masih punya uang di bank, tapi…”
“Kau akan tinggal di mana? Bisa tinggal bersama teman?”
Sandy berpikir-pikir. “Temanku hanya Kang Young-Mi dan dia pasti akan
mengizinkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak
besar dan selain dia dan orangtuanya, masih ada dua adik laki-laki. Kalau aku tinggal
di sana, kurasa aku hanya akan merepotkan mereka.”
Park Hyun-Shik menatap Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap Sandy. “Bagaimana
kalau kau tinggal di sini saja dulu untuk sementara?”
Sandy tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Jung Tae-Woo dan buru-buru
menjawab, “Oh, itu tidak perlu. Itu—“
“Kenapa tidak di rumah Hyong saja?” sela Jung Tae-Woo.
Park Hyun-Shik tertawa kecil. “Kau tahu sendiri di apartemenku hanya ada satu
kamar tidur. Kau mau dia tidur sekamar denganku? Di rumahmu ini ada banyak
kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah.”
Sandy merasa wajahnya panas. Apa yang sedang mereka bicarakan? “Tidak, itu
tidak perlu,” katanya. “Aku akan segera mencari tempat tinggal baru.”
Jung Tae-Woo mengerutkan dahi dan memandangnya. “Kaukira kau bisa
mendapatkan tempat tinggal yang cocok dalam satu hari?”
“Soal itu…” Sandy tidak tahu harus berkata apa.
Jung Tae-Woo akhirnya mengangguk dan mendesah. “Kurasa yang dikatakan
Hyong benar.”
Park Hyun-Shik menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di depan
dada. “Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Sandy akan tinggal di sini

96

sambil mencari tempat tinggal baru. Tentu saja aku juga akan membantumu mencari.
Katakan saja padaku tempat seperti apa yang kauinginkan.”

“Ini…,” Sandy memandang Jung Tae-Woo. “Tapi aku… Apakah tidak apa-apa?”
Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau
kau mau pulang ke Indonesia?”
“Aku masih harus kuliah.”
“Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan,” kata Jung Tae-Woo.
“Tapi…”
Jung Tae-Woo menatapnya. “Kenapa? Kau takut padaku?”
Sandy membelalakkan mata. “Ah, tidak. Bukan begitu.”
Park Hyun-Shik tertawa dan berkata pada Sandy, “Kau boleh tenang, Sandy. Kau
pastinya juga sudah tahu Tae-Woo digosipkan sebagai gay, bukan playboy.”
Sontak wajah Tae-Woo menampilkan ekspresi kesal. Sandy ikut tertawa melihat
raut wajahnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan
ke pintu. Lalu, “Oi, Sandy,” panggilnya.
“Ada apa?” Sandy berdiri dan menyusulnya ke pintu.
Jung Tae-Woo menunjuk ke monitor kecil di samping pintu. Ternyata monitor itu
menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu rumah. Sandy melihat wajah
gadis bermata sipit dengan rambut dikucir dan tangan memeluk kantong kertas.
“Itu temanmu?” tanya Jung Tae-Woo memastikan.
“Ya. Itu Young-Mi,” kata Sandy.
Sandy bisa melihat temannya nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati
Jung Tae-Woo yang membukakan pintu untuknya. Mata Young-Mi yang sipit melebar
dan salah satu tangannya langsung naik ke dada seakan untuk menahan jantungnya
supaya tidak jatuh.
“Young-Mi, kau tidak apa-apa?” tegur Sandy sambil menyentuh lengan Young-Mi
yang tiba-tiba kaku.
Dengan agak tergagap-gagap, Young-Mi mengucapkan selamat pagi kepada Jung
Tae-Woo sambil membungkukkan badan. Jung Tae-Woo membalas salamnya dan
mempersilakannya masuk.
“Astaga, aku tidak percaya ini,” bisik Young-Mi ketika ia duduk di sofa panjang
ruang duduk dan melihat ke sekeliling. Saat itu Jung Tae-Woo sudah berjalan kembali
ke ruang makan, meninggalkan mereka berdua di ruang duduk.
“Kenapa kau ini?” goda Sandy sambil menyikut lengan temannya.
Young-Mi menatap Sandy dengan mata berbinar-binar. “Aku tidak percaya aku
baru saja bertemu Jung Tae-Woo dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk

97

di sofanya. Aku menginjak lantai rumahnya. Astaga! Hei, kenapa kemarin kau tidak
bilang kau berada di rumah Jung Tae-Woo?”

Sandymeringis melihat tingkah temannya. “Hei, temanmu ini baru mengalami
bencana.”

Young-Mi berpaling dengan cepat ke arah Sandy. “Oh, ya, maaf. Aku lega kau tidak
apa-apa. Ini kubawakan beberapa pakaian. Pakaian dalam juga. Pakaian dalamnya baru
kubeli tadi pagi. Baju-baju itu punyaku. Ukurannya pasti cocok untukmu.”

Sandy menerima kantong kertas yang disodorkan Young-Mi. “Terima kasih banyak.
Aku pasti akan mengembalikannya nanti.”

Young-Mi mengibaskan tangan. “Tidak usah dipikirkan. Lalu selanjutnya
bagaimana?”

Alis Sandy terangkat. “Mm?”
“Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali.”
Sandy tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih banyak. Tapi kurasa tidak perlu. Aku
pasti hanya akan merepotkan kalian.”
Mata Young-Mi melebar. “Merepotkan bagaimana? Kau boleh tidur denganku
Young-Joon dan Young-Ho bisa pindah tidur di ruang tengah—“
“Mana mungkin aku membiarkan adik-adikmu tidur di ruang tengah?” sela Sandy.
“Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa
tidak enak kalau begitu.”
Young-Mi terdiam sesaat, lalu berkata, “Kalau begitu kau akan tinggal di mana?”
Sandy berdeham. “Aku akan mencari tempat tinggal baru.”
“Hei, kaukira kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru dalam satu hari? Selama
kau mencari kau akan tinggal di mana?”
Nah, kenapa kata-kata temannya ini persis seperti kata-kata Jung Tae-Woo? Sandy
memiringkan kepala dan berkata ragu, “Kurasa aku akan tinggal di… sini…”
Sandy melihat Young-Mi menahan napas dan menatapnya kaget. Lalu Young-Mi
mengerjapkan mata. “Di sini? Di rumah Jung Tae-Woo?”
“Di sini banyak kamar kosong,”Sandy mengulangi kata-kata Paman Park Hyun-
Shik tadi. “Jadi kurasa… Ah, lagi pula Jung Tae-Woo ssi yang menawarkan.”
Tidak, sebenarnya tidak persis begitu, tapi kira-kira seperti itulah.
“Kau yakin?” tanya Young-Mi ragu.
“Aku tidak punya pilihan lain.” Kali ini giliran kata-kata Jung Tae-Woo yang Sandy
pinjam.
Tepat pada saat itu Park Hyun-Shik masuk ke ruang duduk bersama Jung Tae-Woo.
Young-Mi yang melihat kedatang mereka langsung melompat berdiri seperti disengah
lebah. Park Hyun-Shik pun menyunggingkan senyumnya yang menawan.

98

“Kau teman Sandy?” tanyanya ramah. “Apa kabar? Namaku Park Hyun-Shik.”
Sandy agak geli melihat temannya yang biasanya begitu cerdas tiba-tiba berubah
menjadi agar-agar di depan dua pria tampan.
“Ehm… Apa kabar? … N-nama saya Kang Young-Mi.”
“Tidak usah bersikap resmi seperti itu,” kata Park Hyun-Shik. “Kau teman Sandy,
itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Sandy sudah mengatakan padamu dia
akan tinggal di sini untuk sementara?”
Young-Mi melirik Sandy dan menjawab, “Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku
tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”
“Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya.”
Jung Tae-Woo juga ikut tersenyum kepada Young-Mi dan Sandy merasa temannya
sudah hampir ambruk ke lantai. “Maaf, tidak bisa mengobrol denganmu. Kami harus
pergi sekarang, tapi kau bisa menemani Sandy di sini. Pasti kalian ingin mengobrol
banyak. Anggap saja rumah sendiri.”
“Ooh… tentu saja. Terima kasih,” bisik Young-Mi sambil tersenyum lebar.
Jung Tae-Woo berpaling kepada Sandy. “Apa yang akan kaulakukan hari ini?”
“Nanti aku akan keluar sebentar. Ada yang harus kubeli,” kata Sandy. “Aku juga
ingin mampir dan melihat kondisi apartemenku.”
“Sendiri?”
“Oh, Young-Mi akan menemaniku. Ya, kan?”
Young-Mi cepat-cepat mengangguk dan memasang senyum termanisnya ketika
Jung Tae-Woo berpaling memandangnya.
Jung Tae-Woo mengangguk dan kembali menatap Sandy. “Baiklah, kunci cadangan
ada di laci sebelah sana. Jangan lupa mengunci pintu kalau kau keluar. Aku akan
meneleponmu nanti. Aku pergi dulu.”
Keempat orang itu saling bertukar kalimat “selamat jalan dan sampai nanti”. Lalu
setelah kedua laki-laki itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti air bah, Young-
Mi menumpahkan semua kata yang dipendamnya sejak tadi, “Wah, mereka berdua
tampan sekali. Yang satu lagi itu siapa? Artis juga?”
Sandy tertawa. “Bukan, paman itu manajer Jung Tae-Woo.”
Young-Min mengangguk-angguk. “Manajernya? Namanya Park Hyun-Shik, ya?
Tapi kenapa kau memanggilnya „paman‟? Dia masih muda begitu.”
Sandy hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sandy ketika melihat Young-Mi menatapnya
dengan mata disipitkan.
“Aku ingin tanya, kau yakin tidak ada hubungan istimewa antara kau dan Jung Tae-
Woo? Kau hanya menjadi pacarnya dalam foto? Hanya itu?”

99

“Begitulah. Kenapa?”
“Kau yakin? Lalu kenapa aku merasa kalian terlihat seperti suami-istri. Dan—
astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian laki-laki. Pakaiannya?”
Sandy menunduk memandang baju Tae-Woo yang kebesaran untuknya. Bingung
harus berkata apa. Untungnya sandy tidak perlu menjawab karena Young-Mi tiba-tiba
berkata, “Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Lee Jeong-Su meneleponku kemarin
malam.”
Sandy mengangkat wajahnya. “Oh?”
Young-Mi melanjutkan, “Karena tidak bisa menghubungimu, dia meneleponku
untuk menanyakan kabarmu. Kukatakan padanya kau tidak apa-apa, tapi kemudian
dia ingin tahu kau berada di mana.”
“Kau bilang apa?”
“Tidak bilang apa-apa. Kemarin malam kupikir kau bermalam di rumah salah
seorang temanmu atau semacamnya. Itu yang kukatakan pada Lee Jeong-Su. Hari ini
aku baru tahu kau ada di rumah Jung Tae-Woo.”
“Kau tidak akan memberitahunya, kan?”
“Memangnya aku bodoh? Tentu saja tidak,” sahut Young-Mi tegas. “Sudahlah,
jangan bicarakan Lee Jeong-Su lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi
kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir di sini. Ada
lagi, apa yang harus kukatakan pada ibuku? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di
rumah kami.”

100


Click to View FlipBook Version