TEKS NON FIKSI
KELAS VI
Pengertian dari Teks Nonfiksi
Sebuah karangan atau teks yang dibuat berdasarkan fakta akan disebut sebagai teks nonfiksi.
Setiap karangan yang berasal dari pemikiran dan pengamatan sesorang harus didukung oleh
sesuatu yang nyata kemudian disusun secara rapi dan sistematis. Contohnya, teks yang dibuat
berdasarkan pengamatan objektif, hasil analisa, atau hasil penelitian.
Ciri-Ciri Teks Non Fiksi
Teks nonfiksi memilki ciri-ciri tersendiri yang bisa digunakan agar kita bisa lebih mudah
mengenalinya. Berikut ini ciri-ciri teks nonfiksi:
1. Memiliki pembahasan dengan bahasa formal, resmi, atau baku.
2. Menggunakan gaya bahasa denotatif (memiliki makna sebenarnya).
3. Tersusun atas fakta dan data yang nyata.
4. Ditulis secara runtut.
5. Merupakan temuan baru atau penyempurnaan temuan lama.
Ada beberapa tips yang bisa kamu ikuti ketika ingin
mengidentifikasi sebuah teks nonfiksi, yaitu:
1. Bacalah teks dengan saksama, lalu coba pahami makna setiap kalimat. Cobalah untuk
membaca sebuah teks nonfiksi lebih dari satu kali. Karena semakin banyak kita
membacanya maka akan lebih banyak informasi yang bisa kita temukan.
2. Mencari kalimat utama akan sangat membantu dalam proses mengidentifikasi teks
nonfiksi.
3. Tentukan ide pokok dengan menggunakan kata kunci. Dengan begitu akan memudahkan
kita memahami fakta dan data yang ada di dalam sebuah teks nonfiksi.
4. Manfaatkan kata tanya apa, kapan, siapa, di mana, mengapa, dan bagaimana untuk
mencari tahu informasi penting dan menyajikannya dalam kesimpulan.
Ki Hajar Dewantara
Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara merupakan seorang pahlawan
Indonesia yang sangat berjasa bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara lahir
pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Beliau mengenyam pendidikan di ELS yaitu sebuah
sebuah sekolah dasar di Belanda.
Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke STOVIA atau sekolah dokter khusus Bumiputera
tetapi tidak tamat karena beliau sakit. Selama masa mudanya, Ki Hajar Dewantara juga pernah
bekerja menjadi wartawan untuk beberapa media terkenal seperti De Ekspress, Sedyotomo,
Tjahaja Timoer, Poesara dan lain sebagainya sampai beliau dikenal sebagai wartawan kritis.
Pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara aktif bergabung dalam sebuah organisasi yaitu Boedi
Oetomo. Kemudian beliau mendirikan sebuah organisasi terkenal bernama Indische Partij
bersama Douwes Dekker pada tanggal 25 Desember 1912. Tetapi organisasi tersebut ditolak
Pemerintah Belanda karena dianggap menyangkut nasionalisme.
Beliau akhirnya beralih membuat tulisan penyemangat yang bertujuan menyatukan rakyat.
Tulisan yang kritis tersebut justru mengakibatkan beliau harus diasingkan di Pulau Bangka.
Perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan tidak sampai disitu. Sebab beliau
akhirnya mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan bernama Taman Siswa
Organisasi Taman Siswa akhirnya mampu mengangkat derajat pendidikan bagi anak-anak
Indonesia. Bahkan Ki Hajar Dewantara juga mempunyai slogan untuk dunia pendidikan yang
begitu terkenal dan menginspirasi para guru maupun siswa. Slogan tersebut adalah Ing Ngarso
Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.