SOSIALISASI KESELAMATAN PASIEN
(PATIENT SAFETY)
RS. ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI
th 2022
Oleh :
Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
Disampaikan pada kegiatan orientasi
RS. Islam Jakarta Pondok Kopi
STRUKTUR KMKP
RS. ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI
DIREKTUR UTAMA
dr. Umi Sjarqiah, Sp.KFR., MKM
KETUA KMKP
Drg. Juretta Sintawati, Sp.KGA.,MKM
Sub Komite Sub Komite Sub Komite Mutu dan
Keselamatan Pasien Manajemen Risiko Akreditasi
Pengumpul Data
DEFINISI
Keselamatan Pasien/ Patient Safety
Pasien bebas dari harm/ cedera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas dari
harm/cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera
fisik/sosial/psikologis,cacat, kematian,dll),terkait dengan pelayanan
Kesehatan
Keselamatan Pasien RS
Suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem
ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil.
Insiden Keselamatan Pasien (IKP)/Patient Safety Incident
Setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan harm/cedera yang tidak seharusnya terjadi.
DEFINISI
KTD pasien yang
Kejadian/insiden keselamatan
menyebabkan cedera pada pasien.
KNC
Kejadian nyaris cedera (near-miss atau hampir cedera)
atau KNC adanya insiden keselamatan pasien yang
belum terpapar pada pasien.
KTC
Kejadian tidak cedera (KTC) adalah insiden
keselamatan pasien yang sudah terpapar pada pasien
namun tidak menyebabkan cedera.
DEFINISI
KPCS
Suatu kondisi potensial cedera signifikan (KPCS)
adalah suatu kondisi (selain dari proses penyakit atau
kondisi pasien itu sendiri) yang berpotensi
menyebabkan kejadian sentinel
SENTINEL (Menyebabkan kematian, cedera permanen,
cedera berat yg bersifat sementara)
Kejadian Sentinel adalah suatu kejadian yang tidak
berhubungan dengan perjalanan penyakit pasien atau
penyakit yang mendasarinya yang terjadi pada pasien.
KEJADIAN SENTINEL
a. Bunuh diri oleh pasien yang sedang dirawat
b. Kematian bayi cukup bulan yang tidak diantisipasi
c. Bayi dipulangkan kepada orang tua yang salah
d. Penculikan pasien yang sedang menerima perawatan, tata laksana,
dan pelayanan
e. Kaburnya pasien (atau pulang tanpa izin) dari unit perawatan
yang selalu dijaga oleh staf sepanjang hari (termasuk UGD), yang
menyebabkan kematian, cedera permanen, atau cedera sementara
derajat berat bagi pasien tersebut
f. Reaksi transfusi hemolitik
g. Pemerkosaan, kekerasan (yang menyebabkan kematian,
cedera permanen, atau cedera sementara derajat berat) atau
pembunuhan pasien yang sedang menerima perawatan, tata
laksana, dan layanan ketika berada dalam lingkungan rumah sakit;
h. Pemerkosaan, kekerasan (yang menyebabkan kematian,
cedera permanen, atau cedera sementara derajat berat) atau
pembunuhan anggota staf, praktisi mandiri berizin, pengunjung,
atau vendor ketika berada dalam lingkungan rumah sakit
KEJADIAN SENTINEL
i. Tindakan invasif, termasuk operasi yang dilakukan pada pasien yang
salah, pada sisi yang salah, atau menggunakan prosedur yang salah
(secara tidak sengaja)
j. Tertinggalnya benda asing dalam tubuh pasien secara tidak sengaja setelah
suatu tindakan invasif, termasuk operasi
k. Hiperbilirubinemia neonatal berat (bilirubin >30 mg/dL)
l. Fluoroskopi berkepanjangan dengan dosis kumulatif >1.500 rad pada
satu medan tunggal atau pemberian radioterapi ke area tubuh yang salah
atau pemberian radioterapi >25% melebihi dosis radioterapi yang
direncanakan
m. Kebakaran, lidah api, atau asap, uap panas, atau pijaran yang tidak
diantisipasi selama satu episode perawatan pasienReaksi transfusi hemolitik
n. Semua kematian ibu intrapartum (terkait dengan proses persalinan)
o. Morbiditas ibu derajat berat (terutama tidak berhubungan
dengan perjalanan alamiah penyakit pasien atau kondisi lain yang
mendasari) terjadi pada pasien dan menyebabkan cedera permanen
atau cedera sementara derajat berat
TUGAS & FUNGSI
KPRS (Keselamatan Pasien RS)
Mengidentifikasi dan mengontrol risiko yg
dapat mencederai pasien
Pencegahan terjadinya cedera pada pasien
Meminimalisasikan risiko pada pasien
Membuat laporan & analisa mengenai
cedera yg terjadi pada pasien
Pelaksanaan patient safety di seluruh unit
Alur Pelaporan Insiden ke Tim KP di RS
(Internal)
Apabila terjadi suatu insiden (KNC / KTD) di rumah sakit, wajib segera
ditindaklanjuti (dicegah / ditangani) untuk mengurangi dampak / akibat yang
tidak diharapkan.
Setelah ditindak Ianjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi
formulir Laporan Insiden pada akhir jam kerja/ shift kepada atasan langsung
(paling lambat 2 x 24 jam)
Setelah selesai mengisi laporan, segera serahkan kepada atasan langsung
pelapor
Atasan Iangsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading resiko
terhadap insiden yang dilaporkan
Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan
dilakukan
Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi
dan laporan insiden dilaporkan ke Tim KP di RS
Alur Pelaporan Insiden ke Tim KP di RS
(Internal)
Tim KPRS akan menganalisa kembali apakah perlu dilakukan RCA
Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan dan
Rekomendasi untuk perbaikan serta “Pembelajaran” berupa:
Petunjuk/Safety alert untuk mencegah kejadian yang sama terulang
kembali.
Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada Direksi.
Alur Pelaporan Insiden ke Tim KP di RS
(Eksternal)
1. Laporan hasil investigasi sederhana / analisis akar masalah/ RCA yang
terjadi pada pasien dilaporkan oleh Tim Keselamatan Pasien di RS
(Internal) / Pimpinan RS ke Kemenkes dengan mengisi Formulir Laporan
Insiden KeselamatanPasien.
2. Laporan Insiden Keselamatan Pasien dikirim ke Kemenkes melalui e report
melalui akun mutufasyankes.kemkes.go.id
TUJUH LANGKAH MENUJU
KESELAMATAN PASIEN
RUMAH SAKIT
1. Bangun kesadaran akan nilai KP
2. Pimpin & dukung staf anda
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko
4. Kembangkan sistem pelaporan
5. Libatkan & berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar & berbagi pengalaman tentang KP
7. Cegah cedera melalui implementasi KP
TUJUH MANFAAT PENERAPAN
KESELAMATAN PASIEN (KP)
1. Budaya safety meningkat & berkembang
2. Komunikasi dengan pasien berkembang
3. KTD menurun. Peta KTD selalu ada & terkini
4. Risiko klinis menurun
5. Keluhan & litigasi berkurang
6. Mutu pelayanan meningkat
7. Citra RS & kepercayaan masyarakat meningkat
& diikuti kepercayaan diri yang meningkat
SURVEY BUDAYA KESELAMATAN PASIEN
Untuk menilai pengelolaan budaya keselamatan pasien di RS
Islam Jakarta Pondok Kopi
Metode
Survey observasional dengan pendekatan deskriptif.
Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Hospital Survey
on Patient Safety Culture yang dipublikasikan oleh The
Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) tahun
2004, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.
Survey dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember tahun
2021 dengan menggunakan aplikasi Google Form dan
Pengisian Formulir manual.
Tabel Distribusi Dimensi Budaya Keselamatan Pasien
di RS Islam Jakarta Pondok Kopi (The Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) tahun 2004)
Dimensi Rendah Kategori
<60%
Sedang Tinggi
60%-80% >80%
Kerjasama dalam unit 96%
Ekspektasi & tindakan supervisor/manajer dalam 57%
mengembangkan budaya keselamatan pasien
96%
Pembelajaran organisasi dan perbaikan 84%
berkelanjutan
Dukungan manajemen rumah sakit terhadap
keselamatan pasien
Persepsi tentang keselamatan pasien secara umum 65%
Umpan balik dan komunikasi terhadap error 50% 97%
Keterbukaan komunikasi 58% 77%
Frekuensi pelaporan kejadian 38% 70%
Kerjasama antar unit 60%
Staffing
Pergantian shift dan perpindahan pasien
Respon nonpunitive/ tidak menghukum terhadap error
Dimensi Budaya Keselamatan Pasien Rs Islam
Jakarta Pondok Kopi Th 2021
RESPON TIDAK MENGHUKUM TERHADAP KESALAHAN 60%
38%
PERGANTIAN DINAS DAN PERPINDAHAN PASIEN
70%
STAFFING 58%
KERJA TIM DI SELURUH UNIT 77%
50%
FREKUENSI PELAPORAN INSIDEN
97%
KETERBUKAAN KOMUNIKASI 65%
UMPAN BALIK DAN KOMUNIKASI TENTANG KESALAHAN 84%
PERSEPSI SECARA KESELURUHAN TERHADAP KESELAMATAN 96%
PASIEN 57%
DUKUNGAN MANAJEMEN UNTUK KESELAMATAN PASIEN 96%
PEMBELAJARAN ORGANISASI-PERBAIKAN BERKESINAMBUNGAN
HARAPAN MANAJER DAN TINDAKAN MEMPROMOSIKAN
KESELAMATAN PASIEN
KERJASAMA DALAM UNIT
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
SARAN
Perlu ditingkatkan komunikasi yang baik dari petugas antar
unit pada saat pergantian shift dan perpindahan pasien
sehingga tidak ada informasi pelayanan pasien yang hilang.
Melakukan pelatihan pasien safety secara merata keseluruh
unit.
Meningkatkan keberanian diri petugas untuk selalu
melaporkan setiap terjadi insiden.
Petugas selalu dilibatkan dalam proses evaluasi setiap
kejadian.
Para manajer selalu melakukan analisa beban kerja secara
rutin, sehingga tidak ada petugas yang memiliki beban kerja
berlebih.
Memberikan reward pada pelapor.
Ide-ide untuk perbaikan risiko harus dipelajari bersama dan
digunakan untuk peningkatan budaya keselamatan pasien.
Keterlibatan manajemen dalam budaya keselamatan pasien
harus ditingkatkan.