The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:04:05

Muhammad Generasi Penggema Hujan

Muhammad Generasi Penggema Hujan

pustaka-indo.blogspot.comKhalifah?”
“Kalau aku mati, aku ingin mati dalam usaha membela kebenaran,

Astu.”
“Aku mengerti.”
Abdul Syahid mendiamkan jeda beberapa lama. “Kau mau ikut

denganku?”
Astu menatap Abdul Syahid dan tak berkata apa pun kecuali

bibirnya bergetar oleh batin yang berdenyar.
“Allah menahannya selama lebih dari tiga puluh tahun tentu dengan

alasan ...,” Abdul Syahid berbicara dengan nada yang menyertakan
perasaannya, “... aku tak menemukan penghalang apa pun bagiku
untuk ... memintamu menjadi istriku ... Astu.”

Astu kian kaku di tempatnya berdiri. Berusaha untuk tak kehilangan
daya pada keranjang mawar yang digenggamnya.

“Maukah engkau menemaniku berjuang ... sebagai seseorang yang
halal bagiku?”

Astu kian erat menggenggam keranjang mawarnya.
“Ketika aku sadar dari tidur yang lama itu, tak ada hal lain yang
terpikir olehku selain menikahimu, Astu. Tapi, aku terlalu banyak
menghitung kemungkinan, hingga semuanya waktu kembali
meninggalkan kita ....” Abdul Syahid menggeleng. “... aku tak mau
lagi itu terjadi. Sekarang, aku merasa harus mengikuti kata hatiku;
berjihad untuk kebenaran. Tapi, aku ingin melakukannya denganmu.”
Pemuda Tulus, hamba sahaya yang tadinya mengikuti Abdul Syahid
begitu dekat dengan punggung tuannya, segera menyingkir dari tempat
itu. Menjauh, menghampiri para petani yang perlahan-lahan mulai
menyadari ada hal yang istimewa di tengah-tengah lautan mawar itu.
Mereka saling berbisik sembari mengulum senyum. Menanti ujung

~693~

pustaka-indo.blogspot.comdari adegan itu.
“Apakah engkau sadar, wanita yang engkau ajak bicara ...,” Astu

mengatur benar nada bicaranya, menjaga agar keguncangan
pikirannya tak nyata tertangkap lelaki di hadapannya, “... hanya
memiliki tulang-tulang yang menua?”

Abdul Syahid menatap Astu benar-benar. Tersenyum kemudian.
Sedangkan matanya, memancarkan kesungguhan. “Apakah dulu,
ketika kita dua belia yang lebih banyak bertengkarnya, aku pernah
menyiratkan kepadamu, bahwa alasan mengapa engkau selalu ada
dalam pikiranku adalah keremajaanmu, Astu?”

Memanas kedua mata Astu. Segera kemudian, bulir air mata
mengaliri pipinya.

“Jika engkau percaya kepadaku, izinkan aku menjadi imammu.”
“Engkau yakin, Kashva?”
Abdul Syahid melanjutkan senyumnya. Menatap Astu dengan cara
yang tak ada orang di dunia sanggup menirukannya. “Waktu kita
mungkin tak banyak lagi. Setidaknya, setiap hari aku bisa memelukmu
tanpa rasa berdosa.”
Wanita itu kehilangan segala kekuatan yang selama puluhan tahun
dia pertahankan. Seolah segala pengalaman hidup, begitu banyak
perang dan pengetahuan, sama sekali tidak menolongnya. Dia
menjadi seorang wanita seutuhnya. Makhluk yang selalu
membutuhkan sandaran untuk hati dan pikirannya. Bahkan, meski dia
sanggup berdiri tanpa siapa pun.
Astu melihat ke sekeliling. Merasakan kehadiran warna mawar
yang membentang kian memberinya tenaga. “Mengapa di sini?” Astu
tersenyum, sedangkan air matanya terus berlompatan. “... semua
orang menyaksikan kita sekarang.”

~694~

pustaka-indo.blogspot.comAbdul Syahid tersenyum dengan cara yang sangat Astu kenal.
Senyum yang tak berubah meski keremajaan telah jauh tertinggal.
Tatapan mata itu ....

“Ketika aku terputus dengan seluruh ingatanku dari masa lalu,
hanya kebun mawarku di Thaif yang menghubungkanku denganmu ....”
Abdul Syahid kini pun tertular keharuan itu. Embun di ujung pelupuk
matanya. “... kau tahu aku tak akan pernah mampu melupakanmu,
Astu. Kebun mawar adalah bahasa batinku untuk menemukanmu.
Agar engkau ... menemukanku.”

“Aku ...,” Astu hampir-hampir sudah tak mampu berkata-kata, “...
aku mengira engkau tak akan pernah mengatakannya.” Astu menahan
tangis yang mengguncangkan punggungnya. “... sejak kita bertemu
lagi, aku merasa engkau terlalu tinggi, Kashva.”

“Maafkan aku mengabaikanmu selama ini.”
Astu menggeleng cepat-cepat. “Penderitaanmu telah begitu lama.
Apa yang kualami tidak ada apa-apanya.”
“Aku tak pernah menganggapnya sebagai penderitaan, Astu.
Selama engkau bahagia, aku tidak pernah mempermasalahkannya.”
“Aku tahu ... aku tahu ....”
Abdul Syahid menghampiri wanita yang telah menjadi mempelai
dalam mimpi-mimpi tuanya. “Sebelum ingatanku kembali, aku yakin,
engkau berkali-kali hadir dalam mimpiku. Aku selalu merasakan
kehadiran yang sulit diterjemahkan. Benar-benar menemukanmu
adalah keberuntungan besar bagiku.”
Wajah Astu terangkat. Wajah terangnya mengilat oleh air matanya.
“Bagaimana dengan agamamu? Tidakkah dia melarangnya?”
“Engkau sudah sangat mengenalnya. Apakah engkau menyaksikan
keburukan di dalamnya?” Abdul Syahid tersenyum dengan cara yang

~695~

sangat Astu kenal. “... tidakkah engkau ingin kita menjadi teman

seperjalanan?”

Astu terdiam sebentar. Sosok Abdul Syahid yang menjulang

melindunginya dari matahari, sekarang. “Ke mana pun perginya

Tuan.”

“Aku bisa menyusun seribu puisi untukmu, Astu ...,” Abdul Syahid

bergetar suaranya, “... tapi pada bahasa yang dimengerti semua

makhluk di dunia, aku tak gamang mengatakannya; aku mencintaimu,

Puisiku.”

Astu kian menunduk. Satu kata itu.

“Maafkan aku, terlambat puluhan tahun mengatakannya kepadamu.”

Astu merasa perjalanan panjangnya telah bermuara.
pustaka-indo.blogspot.com
o

Damaskus.

Mu’awiyah menggeliat di tempat tidurnya. Menahan sakit di
perutnya. Seorang tabib memeriksa lagi lukanya setelah sebelumnya
dia menaburi luka itu dengan obat, lalu membebat luka itu berlapis-
lapis.

“Apakah orang-orang sudah menegakkan keadilan?”
Mu’awiyah berusaha mengurangi rasa sakitnya dengan terus
berbicara.
“Kudengar begitu, Amirul Mukminin.” Sang tabib melanjutkan
tugasnya. “... orang-orang menghukum mati dia tadi pagi.”
“Siapa lelaki yang menyerangku itu?”
Sang Tabib membuka balutan luka itu perlahan-lahan. “Seorang
bernama Al-Burak bin Abdullah. Dia seorang Khawarij.”
Mu’awiyah menahan nyeri di perutnya. “Gerombolan yang

~696~

mengafirkan semua orang itu.”

“Dia menyamar sebagai pedagang untuk masuk ke Damaskus.”

“Bagaimana dia bisa tahu di mana harus menyerangku?”

“Rupanya dia sudah mengamati gerak gerikmu beberapa lama.”

Sang Tabib mengamati luka Mu’awiyah dari dekat. Matanya

memicing. “... dia tahu kebiasaanmu sepanjang hari. Jalan mana yang

engkau tempuh, dan di mana para pengawal melindungimu.”

“Setelah ini, aku akan menyiapkan pengawal di mana pun aku

berada. Bahkan, ketika sujud.”

Sang Tabib mendongak. “Saya harus menyampaikan sesuatu,

Amirul Mukminin.”

Mu’awiyah menggerakkan matanya. Menduga-duga. “Separah itu
pustaka-indo.blogspot.com
lukaku?”

“Pedang yang melukaimu mengandung racun.”

Terangkat wajah Mu’awiyah. “Bagaimana kemungkinannya?”

“Ada dua pilihan,” sang Tabib memundurkan punggungnya sedikit,

“... pertama, aku akan meletakkan besi yang sangat panas ke atas

lukamu atau cukup membuatkan ramuan obat buatmu. Besi panas itu

akan menyembuhkan lukamu segera. Sedangkan ramuan obat, itu akan

menyebuhkanmu perlahan dan engkau mungkin tak akan bisa lagi

memperoleh keturunan.”

Mu’awiyah menghela napas. “Tubuhku sudah menua. Tak akan

sanggup menerima logam panas di atasnya. Sedangkan perihal

kemandulan, itu sudah bukan masalah bagiku. Dua putraku: Yazid dan

Abdullah telah cukup membuatku bahagia.”

o

Fustat.

~697~

pustaka-indo.blogspot.comPenyerangan di Masjid Fustat seperti menjadi obat bagi Amr bin
Ash. Melupakan segala kesakitan yang mendera badannya beberapa
hari ke belakang, dia buru-buru memanggil bawahannya. Juga, dia
minta penyerang yang menewaskan orang kepercayaannya itu diseret
ke hadapannya.

Maka, tampaklah wajahnya. Amr bin Bakar, orang Khawarij yang
kini tersedu-sedu di depan Gubernur Mesir yang berkuasa: Amr bin
Ash.

Amr menyipitkan mata. Duduk dengan gelisah, Amr mencoba
memahami apa yang terjadi. Kesakitan yang menderanya beberapa
hari ini justru menyelamatkan jiwanya tanpa sengaja. Sekarang lelaki
yang menginginkan kematiannya duduk dengan tangan terikat dan
kepala menunduk. Isaknya kian kencang dan mengganggu.

“Kau hendak membunuhku dan gagal. Lalu, kau sekarang menangis
karena menyesal?” Suara Amr bergetar oleh kemarahan. “Apakah
engkau tidak merasa itu hal yang sangat pengecut?”

Wajah Amr bin Bakar terangkat. “Aku tidak menangis karena takut
kepadamu.”

Dagu Amr bin Ash terangkat.
“Aku menangis karena menyesal, misiku telah gagal. Kedua
temanku pastilah telah berhasil membunuh ‘Ali dan Mu’awiyah.
Sedangkan aku, di sini justru gagal membunuhmu hanya karena salah
mengira engkau tengah mengimami pengikutmu.”
“Tangismu akan lebih kencang nanti,” Amr meradang, “... hukum
mati dia!”
Amr merasa badannya gemetar. Bukan hanya karena baru saja
mendapatkan kesempatan hidup yang kedua, melainkan juga
memikirkan omongan Amr bin Bakar sebelumnya. Mereka juga

~698~

mengincar ‘Ali dan Mu’awiyah.

o

Kufah.

Puncak dari segala rongrongan, ketidakpatuhan, pengkhianatan itupustaka-indo.blogspot.com
adalah sesuatu yang kelak mengobarkan perdebatan, memicu
kerancuan. ‘Ali bin Abi Thalib terbaring di ranjangnya yang
bersahaja. Mengalami apa yang dirasakan dua Khalifah sebelumnya:
ditikam oleh rakyatnya sendiri.

Rasa sakit di kepalanya tak terkurangi oleh kemuliaan dirinya.
Meski demikian, ‘Ali tak mengeluh akan lukanya. “Kalau sampai aku
mati ...,” ‘Ali berbicara terbata-bata, sementara dua putranya: Hasan
dan Husain, duduk di pinggir pembaringan, “... bunuhlah dia, tapi
jangan dianiaya. Tetapi, kalau saya hidup, serahkanlah dia kepadaku.
Mungkin aku akan memaafkan dia atau akan aku kenakan hukum
kisas.”

Hasan dan Husain adalah kenang-kenangan masa lalu. Berapa
puluh tahun lalu, tak berselang lama setelah sang Nabi wafat, ‘Ali
memangku dua anaknya itu dalam kesedihan mendalam. Itu terjadi
ketika Fatimah Az-Zahra, ibu keduanya, wafat oleh kesedihan
mendalam.

Kini dua mata itu kembali berair mata, hanya dalam kedewasaan
yang berbeda. Lebih banyak diam ketika ayah mereka berbicara
dengan perlahan.

“Hasan ...,” ‘Ali merasakan sakit yang tak ada ujungnya, merambat
dari luka di kepala, “... perhatikanlah. Kalau aku mati karena pukulan
ini, pukullah dia satu kali. Satu lawan satu. Jangan aniaya dia. Aku
mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

~699~

pustaka-indo.blogspot.com‘Janganlah kamu melakukan penganiayaan, sekalipun terhadap anjing
galak.’”

Hasan mengangguk tanpa suara. Hanya air matanya yang berbicara.
“Sepeninggalku, kalian tak boleh memerangi orang-orang
Khawarij ....” ‘Ali sedang menimang antara orang-orang yang
menginginkan kematiannya dan orang-orang yang merobohkan
kekhalifahannya. “.... Mereka yang berusaha mencari kebenaran tapi
salah jalan, tidak sama dengan mereka yang memperjuangkan
kepalsuan, dan mempertahankannya.”
‘Ali lebih rida kepada pembunuhnya, dibanding kepada
Mu’awiyah.
Para pendukung ‘Ali, mereka yang setia berada di sekelilingnya
hingga hari itu, merapat ke pembaringan. Tak sampai berkerumun,
tetapi berusaha menyimak setiap pembicaraan sang Khalifah.
“Amirul Mukminin ...,” salah seorang di antara para pendukung
‘Ali berbicara dengan nada lirih, tetapi jelas terdengar, “... apakah
sepeninggalmu, engkau mempercayakan Hasan, putramu, sebagai
pengganti kepemimpinanmu?”
Wajah ‘Ali kian pias. Luka di kepala merenggut senyumnya. “Aku
tidak melarang kalian. Juga tidak memerintahkan. Kalian lebih tahu.”
‘Ali jelas tak tertarik untuk membahas hal kekuasaan hari itu.
Matanya memejam, sedangkan bicaranya tak kunjung padam. “Aku
berwasiat kepada kalian berdua ...,” ‘Ali kembali berbicara kepada
kedua putranya, “... bertakwalah kepada Allah. Jangan kalian
mengejar dunia meski dunia mengejarmu. Jangan menyesali sesuatu
yang sudah lepas. Berkata yang benar dan beramallah untuk
memperoleh pahala. Jadilah kalian musuh kezaliman dan membela
orang yang ... menjadi korban kezaliman.”

~700~

pustaka-indo.blogspot.comTerhenti sejenak. ‘Ali mengatur napasnya. Menunggu tenaganya.
“Aku berwasiat kepada kalian berdua dan kepada semua anakku,
keluargaku, dan siapa saja yang mengetahui isi surat wasiatku ini ...
untuk,” kian payah bicara sang Khalifah, “... untuk bertakwa kepada
Allah, dan berdisiplin diri serta memperbaiki hubungan antara
kalian.”
‘Ali meneruskan wasiatnya, “Berhati-hatilah mengenai para yatim
piatu, jangan terputus memberi makan kepada mereka. Jagalah
hubungan baik dengan tetangga. Sebab mereka adalah wasiat Nabi
kita, dan selalu mewasiatkan mengenai mereka, sehingga kita mengira
mereka juga berhak mendapatkan harta waris.”
Setiap bunyi wasiat yang dikatakan ‘Ali rupanya pengulangan apa
yang selalu diingatkan oleh sang Nabi.
“Perhatikanlah Al-Quran dalam mengamalkannya. Jangan sampai
didahului orang lain. Tepatilah shalat kalian, karena itu adalah tiang
agama ....”
Kesedihan kemudian memeluk ruang kecil itu. Setiap orang
diguncang kengerian akan kehilangan. Bagaimanakah nanti jika di
dunia ini sudah tak ada ‘Ali?
“Ber ... berjuanglah di jalan Allah dengan hartamu, dengan dirimu,
dan dengan lidahmu. Jangan terputus bederma dan jangan saling
meninggalkan dan memutuskan hubungan. Jangan meninggalkan amar
makruf dan nahi mungkar. Perhatikanlah urusan zakat agar kamu
terhindar dari kemurkaan Allah. Perhatikan bulan Ramadan karena
dengan berpuasa kalian akan terhindar dari api neraka. Perhatikan
kaum fakir miskin, dan bergaullah dengan mereka dalam kehidupan
kalian.”
Muhammad bin Hanafiyah, anak ‘Ali yang perwira, mendekat.

~701~

pustaka-indo.blogspot.comMenyebelahi dua kakak laki-lakinya.
‘Ali menyadarinya. “Jangan takut kritik orang lain demi Allah.

Bicaralah kepada orang dengan baik dan sopan.”
Napas ‘Ali kian berat dan berjeda-jeda. Dia lalu berusaha

membuka matanya. “Semoga Allah menjaga kalian, ahli bait ...,”
ucapnya dengan tersengal-sengal. “.... Selamat tinggal.
Wassalamualaikum warahmatullah.”61

Lalu, mata sang Khalifah tertutup lagi. Pada bibirnya bergetar
syahadat. Tak terputus. Sampai terhenti oleh kedatangan yang dia
nanti. Ketika harapan akan pertemuan dengan orang-orang tercinta
begitu nyata. Wajah-wajah yang mengunjungi mimpinya sepanjang
waktu. Sang Nabi, putrinya, dan para sahabat mulia.

Kemudian, semua terhenti.
Selesailah takdir sang ‘Ali di atas bumi.
Kabar wafatnya sang Khalifah segera menyebar ke seantero kota.
Membuat Kufah berubah menjadi kota yang murung. Menantu sang
Nabi, pahlawan segala perang, pemimpin yang lurus telah tiada. Para
perempuan menangis di rumah mereka, para laki-laki terdiam tak
percaya. Anak-anak bersembunyi di belakang ibunya.
Di pinggir Kufah, dikelilingi orang-orang yang mengidolakan
dirinya, seorang lelaki berpakaian serbahitam, juga berkulit legam,
menengadah. Dia menjadi pusat perhatian orang-orang. “Siapa pun
yang berkata ‘Ali telah mati, dia pendusta!”
Sang Syekh menengadah. Matanya memejam. Teriakannya lantang.
“Seandainya, kalian datang kepadaku membawa otaknya dalam
bungkusan, kami tetap tidak percaya akan kematiannya. ‘Ali tidak
mati! Sampai kelak turun ke bumi dan merajai dunia
keseluruhannya!”

~702~

pustaka-indo.blogspot.comOrang-orang itu, mereka yang berkerumun mengelilingi orang
serbahitam itu, begitu ingin tahu.

“Apa yang terjadi, Syekh?” Teriakan-teriakan para pengikut
bersahut-sahutan.

Sang Syekh mengeras kesan wajahnya, memelotot matanya. “Yang
terbunuh itu hanyalah setan yang menjelma di hadapan manusia,
sebagai ‘Ali. Sedangkan ‘Ali naik ke langit, sebagaimana Isa juga
naik ke langit!”

Semua kepala menengadah, seolah mereka menunggu langit
memberikan berkah. Sedangkan, yang datang adalah mendung pekat
dan bergemuruh. Menghitamkan awan-awan.

Sang Syekh semakin lantang khotbahnya, “Sebagaimana orang-
orang Yahudi dan Nasrani berdusta dalam dakwahnya bahwa Isa
mati terbunuh, demikian pula golongan Nawashib dan Khawarij telah
berdusta dalam pernyataannya tentang pembunuhan terhadap ‘Ali.”

Sang Syekh yang hitam itu mendapatkan perhatian orang-orang.
Kian banyak orang-orang yang sedih hatinya, rindu batinnya,
berkumpul dan mendengarkannya.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani hanya melihat seseorang
tersalin yang disamarkan kepada mereka sebagai Isa!”

Para pendengar, orang-orang yang membutuhkan sandaran,
mendengarkan dengan dada bergemuruh.

“Orang yang disamarkan kepada mereka sebagai ‘Ali, menduga
bahwa yang dibunuh itu adalah ‘Ali, padahal ‘Ali sendiri telah naik
ke langit dan kelak akan turun lagi ke bumi, untuk membalas dendam
terhadap musuh-musuhnya.”

Gemuruh berdeham di balik awan-awan. Lalu, kilat yang
bersambung-sambung.

~703~

pustaka-indo.blogspot.comSang Syekh mengangkat tangannya. “Alaikassalam, ya, Amirul
Mukminin!”

Orang-orang tertegun, saling berbisik, bertanya-tanya.
“Ketahuilah kalian ...,” sang Syekh kembali berbicara seolah
setiap katanya adalah sabda, “... ‘Ali telah bersemayam di awan, dan
petir itu suaranya, sedangkan kilat adalah cemetinya!”
Orang-orang kian terpana. Sebagian merekahkan senyumnya.
Sedangkan sang Syekh mengelilingkan pandangannya, menukik dan
mengendalikan. Dialah ... Syekh Hitam.

o

Damaskus, kabar telah bertandang.

Mu’awiyah memasuki kamarnya dengan buru-buru. Pada wajahnya
tergambar sebuah ketidakpastian. Istrinya yang selalu mendengarkan
menyambutnya dengan penuh keheranan.

“Ada apa denganmu?”
Sang istri yang telah melahirkan anak-anak penerus nama
keluarganya hampir-hampir harus menopang badan Mu’awiyah yang
tambun menuju pembaringan.
“Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepadamu?”
Mu’awiyah menuruti bimbingan istrinya. Duduk bersebelahan di
pinggir pembaringan. Dia masih tercenung, mulutnya terkunci.
Istrinya bangkit menuju meja. Kembali lagi membawa air bening
dalam bejana perak.
“Minumlah.”
Mu’awiyah, sang khalifah bagi orang-orang yang mengakuinya,
menenggak air itu perlahan-lahan. “‘Ali telah syahid ...,” dia mulai
terisak, “... menantu Rasulullah telah meninggal.”

~704~

pustaka-indo.blogspot.comIstri Mu’awiyah tercenung. Dia memiringkan duduknya, sebisa
mungkin dekat menatap suaminya. “Apa yang terjadi?”

“Kelompok Khawarij yang juga berusaha membunuhku
menebaskan pedang beracun mereka ke tubuh ‘Ali.”

Tangis Mu’awiyah kian menjadi.
“Aku tak mengerti ...,” istri Mu’awiyah berbinar matanya, “...
engkau menangisi orang yang memerangimu?”
Mu’awiyah berpaling, matanya menajam. “Diamlah! Kau tidak
tahu berapa manusia kehilangan keutamaan, fikih, dan ilmu karena
kematiannya.”
“Bagaimana jika orang-orang Syam menyaksikanmu seperti ini?”
“Bukan urusanmu.”
Istri Mu’awiyah tersekat suaranya. Dia tak lagi berani bersuara.
Terlebih setelahnya, pintu kamar besar itu diketuk dari luar. Istri
Mu’awiyah lalu meninggalkan suaminya. Menghampiri pintu. Dia
membukanya sedikit. Lalu, berbicara dengan seseorang yang ada di
sebaliknya.
Dia kembali kepada suaminya. Menunggu sampai Mu’awiyah
terlihat tenang dan siap untuk mendengarkan. “Engkau memanggil
seorang perancang bangun?”
Mu’awiyah mengangguk tanpa bicara.
“Dia sudah menunggumu di ruanganmu.”
Tanpa berkata apa-apa, seolah masih menyimpan hardikan dalam
hatinya, Mu’awiyah lalu meninggalkan istrinya begitu saja. Berjalan
setengah sempoyongan. Menuju ruang pertemuan yang di sana
terdapat singgasana miliknya.
Di dalam ruangan yang gemerlap itu telah duduk di kursi-kursi
kehormatan para pejabat dan orang-orang kepercayaan. Mu’awiyah

~705~

pustaka-indo.blogspot.comlalu menghampiri kursi kebesarannya. Mendudukinya dengan cara
berbeda.

“Amirul Mukminin ....” Salah seorang di antara pejabat itu
memulai kalimatnya. Sapaan yang kini telah sempurna. “.... Saya
membawa seorang perancang bangunan yang sangat menonjol. Dia
telah memperlihatkan kepada saya berbagai rancang bangun yang
akan membuat Damaskus semakin gagah dan berwibawa.”

Mu’awiyah menompang dagunya. Menyimak bawahannya
berbicara, sedangkan pikirannya sibuk mengembara. Tak adanya ‘Ali
telah menyempurnakan apa yang dia mulai. Memudahkan apa yang
tadinya demikian menyulitkan.

“Apakah Amirul Mukminin berkenan menerimanya?”
Mu’awiyah melirik. Mengangguk tanpa komentar.
Lalu, tak berapa lama, masuklah seorang lelaki muda. Menjulang
tingginya, tegak badannya. Bahasa tubuhnya penuh kesopanan, sorot
matanya menjanjikan ilmu yang membentang. Wajahnya seperti
sebuah sajak: menceritakan sesuatu yang puitis. Dia masuk ke
ruangan itu dengan percaya diri, tetapi tertata. Berdiri di hadapan
Khalifah Mu’awiyah, senyum di bibirnya merekah.
“Siapa namamu?” Akhirnya, Mu’awiyah mengeluarkan suaranya.
Sang pemuda, yang menjadi pusat perhatian sedemikian rupa,
mengangkat wajahnya.
“Nama saya Xerxes, anak Parkhida, Amirul Mukminin. Saya
datang dari Desa Abyaneh, Persia.”

o

SELESAI

~706~

pustaka-indo.blogspot.comLambaian Tangan

Bismillah ....
Sebab, setiap petualangan mesti berkesudahan.
Meski penulis sejak awal merangkai novel tentang Muhammad

Saw. dengan kesadaran utuh bahwa kisah panjang ini pasti akan
sampai pada halaman penghabisan, tetap saja tak mudah untuk
sungguh-sungguh mengakhirinya.

Selama enam tahun para tokoh dalam empat buku mengisi hari-hari
penulis, berdialog dengannya, begitu rupa. Sehingga ketika tiba hari
untuk menyampaikan salam perpisahan, rasa-rasanya seperti hendak
kehilangan sahabat-sahabat jiwa.

Buku ini diawali dengan sebuah pemahaman sepenuhnya bahwa
niat baik saja tak akan cukup membantu penulis untuk bisa
mengisahkan ceritanya dengan berhasil. Sejak awal, hingga hari ini,
mungkin selamanya, penulis tidak akan pernah merasa patut untuk
menjahit kisah hidup Rasulullah Saw. yang berserakan di dalam
berbagai buku menjadi satu. Dalam bentuk cerita.

Penulis tidak pernah merasa memiliki kesiapan spiritual yang
cukup untuk bisa berdialog dengan narasi agung sang Nabi.

Akan tetapi, pada separuh ketidakpercayaan diri penulis mencuat
sebuah keyakinan bahwa kerinduan kepada Rasulullah yang tak jua
bertemu dengan wahana yang menjembataninya, tak hanya dialami
penulis.

Penulis, dengan seluruh keterbatasan dirinya, merasa mewakili
sebagian besar generasi Muslim Tanah Air, yang memiliki kerinduan
akut kepada sang Nabi, tapi tak tahu cara, bagaimanakah,

~707~

pustaka-indo.blogspot.commenyatakannya. Generasi yang tak tercelup sejak dini oleh kesadaran
keagamaan yang memadai.

Ketika kisah ini kali pertama penulis persembahkan pada 2010,
penulis berusaha keras keluar dari cangkang ketakutan, kekerdilan
diri, dan segala energi negatif yang hampir-hampir membatalkan
mimpi ini. Ketakutan untuk menceritakan kisah Nabi yang dicintai.
Alangkah menyedihkan.

Setelah buku pertama terbit, dan sambutan pembaca begitu baik,
tak ada rasa yang lebih tereja selain kesyukuran.

Kalaupun kemudian pada perjalanannya, tidak sedikit pula suara-
suara yang mencoba melemahkan tekad penulis, semua kembali pada
apa yang pernah penulis katakan kepada ibunda penulis sewaktu
beliau ikut khawatir dengan kelahiran buku ini.

Bahwa, jika ada ketidaksetujuan, kebencian, antipati, yang
menemani kehadiran buku ini, penulis percaya. Teramat percaya,
bahwa hal yang melatarbelakanginya adalah kecintaan kepada sang
Nabi. Ketidakrelaan bahwa kesuciannya akan ternodai. Sedangkan
penulis, merangkai seluruh kisah ini dengan alasan yang sama.

Kisah Rasulullah diceritakan penulis sampai dengan buku kedua
dari rangkaian kisah ini. Spirit beliau kemudian dilanjutkan oleh
empat sahabat yang mengisi separuh buku kedua, dan sepenuhnya
pada buku ketiga dan keempat.

Lalu, hadirlah Kashva, sang Pemindai Surga, yang sejak buku
pertama mewakili para pencari. Manusia yang hatinya senantiasa
gelisah. Mencari kesejatian. Memburu arah. Meniti jalan penuh
jebakan demi menemukan Tuhan.

Bukankah, Kashva adalah kita?
Maka, ketika kisah panjang Kashva yang membentang menembus

~708~

pustaka-indo.blogspot.comrentang puluhan tahun kehidupannya akhirnya berujung, penulis
merasa telah kehilangan sahabat terbaiknya. Memaksakan diri untuk
melambaikan tangan.

Kali ini dengan senyuman.
Sehingga berkumpullah dua kesedihan pada halaman terakhir buku
ini. Bahwa setelah ini, penulis harus menemukan wadah yang baru
untuk menemukan kedekatan dengan Nabi yang Ditunggu.
Juga, telah usai perjalanan Kashva dengan segala pergulatan
batinnya. Dia akan meneruskan hidupnya dalam kesunyian yang tak
lagi terjamah oleh siapa pun. Sebab, dia telah menemukan apa yang
dia cari. “Selamat tinggal, Sahabatku. Semoga abadi apa yang engkau
hunjamkan di hati.”
Akan tetapi, pencarian penulis masih akan berjalan. Entah sampai
kapan.
Pada sebuah diskusi buku ini, pada sore gerimis di Surakarta,
seorang Muslimah bertanya dengan lantang kepada penulis, “Apa
sebenarnya motivasi sejati Anda ketika menyusun buku ini? Tapi,
saya tidak ingin Anda menjawabnya karena dakwah, apalagi
royalti.”
Lalu, terucaplah apa yang selama ini sebenarnya terperangkap
pada hati yang tersembunyi. “Saya seorang Muslim yang bodoh. Saya
tidak tahu banyak mengenai agama saya. Saya tahu amalan saya tidak
akan pernah cukup mengetuk pintu kebaikan akhirat. Tapi setidaknya,
di Padang Mahsyar kelak, ketika Rasulullah menimang-nimang siapa
di antara umatnya yang layak mendapat syafaat, saya akan berkata,
‘Saya pernah menulis kisah tentangmu dengan lelehan air mata, ya
Rasul.’”
Semoga Allah tidak menjadikan setengah juta kata yang berantai-

~709~

rantai ini sebagai sebuah kesia-siaan.

Jatinangor, Januari 2016

pustaka-indo.blogspot.com

~710~

pustaka-indo.blogspot.com Catatan

1 QS At-Taubah (9): 34.
2 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
3 QS Adz-Dzariyat (51): 19.
4 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
5 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
6 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Musyawarah”.
7 Merujuk: Ihsan Ilahi Zhahier. 2010. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Gerakan

Syiah. Bandung: Al-Ma’arif. Bab: “Abdullah bin Saba dan Saba’iah”.
8 Merujuk: Ihsan Ilahi Zhahier. 2010. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Gerakan

Syiah. Bandung: Al-Ma’arif. Bab: “Abdullah bin Saba dan Saba’iah”.
9 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
10 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
11 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
12 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
13 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Utsman bin Affan. Jakarta: Zaman. Bab: “Kala

Menjabat Khalifah”.
14 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Utsman bin Affan. Jakarta: Zaman. Bab: “Kala

Menjabat Khalifah”.
15 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Utsman bin Affan. Jakarta: Zaman. Bab: “Kala

Menjabat Khalifah”.
16 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Utsman bin Affan. Jakarta: Zaman. Bab: “Kala

Menjabat Khalifah”.

~711~

pustaka-indo.blogspot.com17 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.

18 QS At-Taubah (9): 34–35.
19 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
20 QS Al-Ma‘arij (70): 24–25.
21 QS Adz-Dzariyat (51): 19.
22 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
23 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kemarahan dan Penantian”.
24 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Pengorbanan Utsman”.
25 Merujuk: Abdul Haq Vidyarthi & ‘Abdul Ahad Dawud. 2008. Ramalan tentang

Muhammad Saw. Jakarta: Hikmah. Bab: “Muhammad dalam Perjanjian Lama”.
26 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Pengorbanan Utsman”.
27 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Pengorbanan Utsman”.
28 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. Ali Bin Abu Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Pengorbanan Utsman”.
29 QS Al-Baqarah (2): 137.
30 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Kisah Hidup ‘Ali ibn Abi Thalib. Jakarta: Zaman.

Bab: “Ketika Darah Suci Tertumpah”.
31 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Setelah Baiat”.
32 QS Al-Ahzab (33): 33.
33 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Setelah Baiat”.
34 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Setelah Baiat”.
35 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:

Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

~712~

pustaka-indo.blogspot.com36 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

37 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

38 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

39 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

40 Merujuk: Abdurrahman Asy Syarqawi. 2010. ‘Ali bin Abi Thalib: The Glorious. Bandung:
Sygma Publishing. Bab: “Kebingungan ‘Ali”.

41 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab:Insiden
Unta.

42 Merujuk: Hepi Andi Bastoni.2012. Wajah Poli k Muawiyah bin Abu Sufyan. Bogor:
Pustaka al Bustan. Bab: “Mujahid atau Pemberontak”.

43 Merujuk: Hepi Andi Bastoni.2012. Wajah Poli k Muawiyah bin Abu Sufyan. Bogor:
Pustaka al Bustan. Bab: “Mujahid atau Pemberontak”.

44 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab: “Perang
Shiffin”.

45 QS Al-Hujurat (49): 9.
46 QS An-Nisa (4): 59.
47 QS Al-Hajj (22): 39.
48 Merujuk: Hepi Andi Bastoni.2012. Wajah Poli k Muawiyah bin Abu Sufyan. Bogor:

Pustaka al Bustan. Bab: “Mujahid atau Pemberontak”.
49 QS Al-Fath (48): 10.
50 Merujuk: Ihsan Ilahi Zhahier. 2010.Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Gerakan

Syiah. Bandung: Al-Ma’arif. Bab: “Abdullah bin Saba dan Saba’iah”.
51 Merujuk: Hepi Andi Bastoni.2012. Wajah Poli k Muawiyah bin Abu Sufyan. Bogor:

Pustaka al Bustan. Bab: “Mujahid atau Pemberontak”.
52 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab: “Perusuh

Tanpa Ujung Pangkal”.
53 Merujuk: Ali Audah. 2003.Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab: “Perusuh,

Tanpa Ujung Pangkal”.
54 A.D.E.L Marzdedeq, Parasit Aqidah. Bab: “Agama-Agama Kultur Persia.”

~713~

pustaka-indo.blogspot.com55 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Ali bin Abu Thalib. Jakarta: Zaman. Bab: “Saat
Darah Suci Tertumpah”.

56 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab:
“Berhadapan dengan Khawarij”.

57 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Ali bin Abu Thalib. Jakarta: Zaman. Bab: Darah Suci
yang Tertumpah.

58 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab: “Penilaian
Atas Suatu Perbedaan”.

59 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab:
“Mu’awiyah Mengincar Basrhah dan Kufah”.

60 Merujuk: Dr. Mushtafa Murad. 2009. Ali bin Abu Thalib. Jakarta: Zaman. Bab: “Saat
Darah Suci Tertumpah”.

61 Merujuk: Ali Audah. 2003. Ali bin Abu Thalib. Bogor: Lentera Antarnusa. Bab: Demi
Perdamaian dan Keadilan.

~714~

pustaka-indo.blogspot.com

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version