SERANGAN UMUM 4 HARI DI SURAKARTA
Aditya Muhammad Abkar PENYUSUN
Almas Hammam Firdaus
Andrea Salsalova
Annisa Ratna Kumala
Annisa Cahyaning Rizky
Betty Mustikasari
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
PERTEMPURAN AWAL MULA MENGENAI LATAR BELAKANG
4 HARI DI PERTEMPURAN 4 HARI PERTEMPURAN 4 HARI DI
SURAKARTA
SURAKARTA DI SURAKARTA
PENENTUAN PERISTIWA
PUNCAK PERTEMPURAN 4 HARI
PERTEMPURAN 4
HARI SURAKARTA DI SURAKARTA
AKHIR KONDISI AKHIR
PERTEMPURAN 4 PERTEMPURAN 4 HARI
HARI DI DI SURAKARTA
SURAARTA
KONDISI MASYARAKAT
DAMPAK SURAKARTA SETELAH
PERTEMPURAN 4 PERTEMPURAN BERAKHIR
HARI DI
SURAKARTA
Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi WabarakatuhAlhamdulillah kami panjatkan puja
dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan
hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta didik agar dapat mempelajari
sejarah lokal dengan lebih menarik. Sesuai dengan segmentasi peserta, maka modul ini disusun
dengan materi yang tidak diragukan lagi.Pembahasan modul ini dimulai dengan menjelaskan
tujuan yang akan dicapai.
Kelebihan modul ini, para pembaca dapat mempelajari materi sejarah lokal Serangan
Umum 4 Hari di Surakarta dengan lebih menarik karena disertai dengan gambar yang
mendukung. Selain itu modul ini dapat dengam mudah diakses dan disebarluaskan untuk
dipelajari oleh semua orang dari berbagai jenjang.
Pembahasan yang akan disampaikan pun disertai dengan soal-soal yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian dan ketuntasan. Penyusun menyadari bahwa di
dalam pembuatan modul masih banyak kekurangan, untuk itu penyusun sangat membuka saran
dan kritik yang sifatnya membangun. Mudah-mudahan modul ini memberikan manfaat.
Surakarta, 22 Juni 2022
Penulis
Petunjuk Penggunaan Modul Lakukan cek
pemahaman dengan
Baca dan pahami seluruh isi
modul mengerjakan
Kerjakan soal secara evaluasi
mandiri tanpa melihat
kunci terlebih dahulu Cocokan hasil jawaban
dengan kunci jawaban di
bagian pembahasan soal
Materi Pembelajaran
Modul ini disusun dalam satu kegiatan pembelajaran yang akan membahas masa awal
pmeermteumaptuurraaniahninmgagtaerbi,eLraaktihhiarnnyoabPseerrvteamsip, Luaratinha4nHsaorailddiaSnusroaaklaertvaayluaansgi di dalamnya
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMPURAN 4 HARI DI SURAKARTA
Uraian Materi
Setelah menyelesaikan pembelajaran dengan modul ini, diharapkan kalian mampu
menganalisis keberjalanan peristiwa Pertempuran 4 Hari di Surakarta dan mampu
menjelaskan strategi,puncak, dan akhir pertempuran. Bagaimana Tentara Nasional Indonesia
dapat mengakahkan Pasukan Belanda saat itu? Ayo kita cari tahu dengan mengulas materi
berikut ini
A. Awal Mula Pertempuran 4 Hari di Surakarta
Pertempuran Empat Hari di Surakartamerupakan perang terakhir di pulau Jawa pada Revolusi
Kemerdekaan II. Perang yang terjadiselama empat hari empat malam pada 7 – 10Agustus 1949
menunjukkan bahwa tekad rakyat Kota Solo beserta dengan TNI dan pasukanTentara Pelajar dalam
mempertahankankemerdekaan
tidak main – main.
1. AWAL MULA PERTEMPUAN 4 HARI DI SURAKARTA
Melalui perang Gerilya dan Pertempuran Empat Hari
kota Solo dapat membuktikan kepada dunia
bahwakekuatan Militer Indonesia tidak bisa dipandang
sebelah mata. Setelah gencatan senjata terjadi upacara serah
terima kekuasaan dari Pemerintah Belanda yang diwakili
oleh Kolonel Van Ohl kepada Pemerinah Indonesia yang
diwakili oleh TP Bridge 17 yang terdiri dari Letkol
SlametRiyadi di Stadion Sriwedari.
Selain jalan perang, Indonesia juga menempuh jalan
Pertempuran Empat Hari di Surakarta merupakan Diplomasi untuk menyelesaikan permasalahannya dengan
perang terakhir di pulau Jawa pada Revolusi Kemerdekaan Belanda. Perjanjian Roem-Royen yang diadakan pada 14
II. Perang yang terjadi selama empat hari empat malam
pada 7 – 10Agustus 1949 menunjukkan bahwa tekad rakyat April 1949 ini membahas rencanagencatan senjata atau cease
Kota Solo beserta dengan TNI dan pasukan Tentara Pelajar
dalam mempertahankan kemerdekaan tidak main – main fire. Menanggapi desas-desus yang terjadi selama
perundingan belum menemui hasil Mayor Achmadi
mengmbil keputusan untuk “Rencana MasukKota” pada
wilayah “straal 15 km” dari kota Solo apabila terjadi
gencatan senjata, sebagaipegangan para komando rayon dan
para perwira. .
RENCANA MASUK KOTA Perintah itu di laksanakan oleh rayon-rayon untuk
menyerang pos-pos dan patrol Belanda, seragan dilakukan
Keputusan ini dicetuskan oleh Mayor Achmadi secara gencar siang dan malam.
dengan tujuan mengantisipasi melemahnya semangat
tempur pasukan kota Solo. Namun, hasil keputusan Intruksi Serangan secara besar-besaran ini merupakan
Room-Royenmemberatkan kota Solo. Pengembalian kota Serangan Umum yang ke-III, sebab sebelumnya sudah pernah
Yogyakarta kepada RI tanggal 29 Juni 1949 mengharuskan diadakan serangan secara besar-besaran terhadap kedudukan
tentara yang berada di wilayahYogyakarta ditarik dari Belanda.Serangan pertama terjadi pada tanggal8 Februari
kota Yogyakarta dan ditempatkan di Kota Solo. 1949 dan serangan umum keduaterjadi pada 2 mei 1949,
Penambahan pasukan ini mencapai 4 batalyon. Untuk maupun serangan terusmenerus terhadap pasukan Belanda
memantapkan semangat tempur pasukannya Geburnur semenjak memasuki kota Solo. Puncak dari kedua serangan
Militer mengekuarkan Instruksi No 16A. tanggal 10 Juni itu adalah serangan umum yang berlangsung 7 Agustus
1949 yang memerintahkan bahwa: 1949.Serangan dimulai pada tanggal 7 Agustus1949 pukul
06.00, serentak terhadap kedudukan Belanda di Kota Solo.
“Anggota Angkatan Perang danPegawai Pemerintah Sipil Kekuatan pasukan yang digerakkan memasuki kota Solo pada
sekeluarnya Instruksiini, harus berjuang terus selama hari pertama adalah pasukan-pasukan dari Sub Wehrkreise
belum adaperintah cease fire dari kami sendiri, “Arjuna” 106, terdiri dari 26 Regu Kesatuan TP Det Brig. 17, 3
meskipunada dari instansi manapun” Regu dari MB(Mobil Bridge) Polisi dan 3 Regu TNI Brig. V
Mencapai kurang lebih 2000
orang, para gerilyawan telah tersebar di
Seluruh kota dengan diperlengkapi aneka
senjata yang dimiliki.Serangan umum
dipimpin sendiri oleh Letnan Kolonel Slamet
Riyadi,
Kota Solo dikepung dari empat jurusan Foto Tentara Pelajar di depan Pasar Gede tahun 1949 (Sumber: Burgt,
oleh anggota-anggotagerilya yang sejak pagi buta
sudah menyusup memasuki kota. Pasukan tiap-tiap
regu sudah tersebar diseluruh kota dengan
persenjataan yang beraneka ragam saat itu, mereka
bertekad untuk menguasai kota Solo sebelum
perintahcease fire berlaku (Pussemad, 1965: 164).
Kompi Prakoso melakukan serangan dari arah
utara,Kompi Suhendro melancarkan serangan
dariarah selatan, Kompi Seomarto dari arah timur.
Th. van de / DLC Auteursrechthebbende: Nationaal Archief
Tindakan yang pertama kali dilakukan oleh Gubernur Militer adalah menginstruksikan semua kekuatan
bersenjata di Surakarta untuk menghentikan tembak menembak selambat-lambatnya tanggal 20 September 1948 jam
24.00, dan keesokan harinya semua komandan pasukan yang saling bermusuhan harus melaporkan diri, dan mereka yang
tidak melapor akan dianggap pemberontak. Keadaan di kubu FDR/PKIadalah melakukan perebutan kekuasaan yang
dilakukan oleh Sumarsono, seorang pemuda pimpinan Pesindo, Kolonel Joko Suyono, Komandan Brigade XXIX Letnan
Kolonel Dachlan.
Perebutan kekuasaan itu didukung Dalam perang gerilya terbukti benar
oleh kesatuan-kesatuan dariBrigade XXIX, keperluan kita akan tenaga terpelajar
bagian TNI yang telah masuk ke dalam untukmelancarkan roda teritorial dan perlawanan
kekuatan tempur FDR/PKI.Pendukung tersebut rakyat. Dari pengalaman kolonel A.HNasution di
mengangkat Gubernur Militer, Komandan Jawa barat terbukti betapa pentingnya tenaga
Komando Militer Daerah, dan Residen baru terpelajar turut serta dalampimpinan kantong
yang berasal dari FDR/PKI6. Presiden Soekarno distrik dan onderdistrik militer, kemudian hal
setelah itu menyatakan bahwa PKI Muso telah serupa terjadi di daerah Solo
mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun
yang dipandang sebagai permulaan merebut Pada tanggal 27 maret 1948 Tentara
seluruh Pemerintah RI dan Presiden Soekarno Pelajar Solo bertindak menertibkan keadaan
juga menginstruksikan untuk segera merebut kota Solo, terutama terhadap kelaskaran yang
Madiun dari perampasan FDR/PKI. Pernyataan terkenal dengan tindakanya yang kasar
tegas Presiden Soekarno tersebutdi susul terhadap warga di Solo. Perlu diketahui bahwa
denagan instruksi Panglima Besar Soedirman pada masa agresi militer Belanda banyak
tanggal 19 September 1948 yang berintikan tindakanya yang semena mena.
menetapkan Kolonel Soengkono sebagai
Gubernur Militer Jawa Timur,menunjuk Kolonel
Gatot Soebroto sebagai Gubernur Militer Jawa
Tengah, serta menugaskan Brigade Sadikin
untuk menyerbu Madiun dan menghancurkan
PKI Muso.
• 3 agustus 1949 • 9 Agustus 1949
Mayor Achmadi selaku Komandan SWK Artjuna106 Komandan Regu FNB(Flying
elah memanggil Komandan-Komandan Rayon beserta
stafnya bertempat di Wonosido Jenggrik Rayon II, di Night brigade) yaitu Sahir Seksi I
samping mengadakan pengecekan terakhir, Mayor
Achmadi menyampaikan petunjuk serta intruksi untuk Kompi I terkena tembakan
melaksanakan Serangan Umum menduduki Kota Solo
dengan mengikutsertakan pasukan yang ada dalam peristiwa pertempuran di
• 5 Agustus 1949 Panularan. Waktu itu Regu Sahir
komandan SWK Arjuna 106 menyampaikan dan Regu Seno terlibat dalam
intruksi kepada komandan-Komandan Rayon tentang
penetuan hari H Serangan umum untuk menduduki Kota kontaksenjata dengan Pasukan
Solo yaitu pada tanggal 7 Agustus 1949 mulai pukul 06.00
yang jatuh pada hari minggu. TBS di sekitar Tugu Lilin
Sejak pukul 03.00 pagi hampir seluruh kesatuan Penuping. Posisi pasukan TP
yang bertugas untuk melaksanakan serangan telah berada di
dalam kota, dan selebihnya siaga mengelilingi dibagian beradadi bagian selatan
pinggirnya yaitu dari Dawung ke timur di Semanggi, di
Puncaksawit,kemudian di utara yaitu Mojosongo, sedangkan pihak TBS ada
kandangsapi, Ngemplak, Nusukan/Gilingan,Sumber,
Karangasem dan kemudian kebagian selatan yaitu dibagian utara, sambil
Wangkung
bertempur PasukanTP memaki
anggota TBS sebagai antek-antek
Belanda yang mau di adu domba
denganbangsa sendiri. Dari
Gendengan dilepaskan
tembakan mortir kearah
kedudukan pihak TBS.
HARI Monumen Pasar Nongko
KEEMPAT
Sumber: helpmecovid
10 Agustus 1949 seluruh kesatuan yang berada
dibawah SWK Arjuna 106 melancarkan serangan bersama
besar-besaran dengan melibatkan lebih dari 2000 anggota
gerilya. Satu hari penuh berkobar perang sengit di empat
penjuru kota Solo.Pihak Geriliya pada umumnya
mengambil peranan sebagai penyerang, sedangkan pihak
pasukan Belanda hanya bertahan.
Bunyi ledakan bom dan granat maupun
tembakan senjata terdengar dimana-mana dan diwarnai
dengan kepulan asap dan percikan api di beberapa tempat
yang terkena tembakan, enam pesawat terbang Belanda
menjatuhkan bom ataupun menembak sasaran-sasaran
yang terdapat Geriliyanya, Bomber dan pemburu-
pemburu Belanda itu menyerang secara membabi buta
tanpa ampun dari siang hingga sore hari,sehingga yang
banyak menjadi korban ialah penduduk sekitar, beberapa
rumah warga di Wangkung, Lawiyan, Kabangan, Pasar
Kembang, Sambeng, Pasar Nongko dan lain-lain hangus
terbakar, jumlah bangunan yang terbakar lebih dari 100
jumlahnya
KOTA SOLO SATU-SATUNYA KOTA DI JAWA DAN SUMATERA
YANG MENDAPAT 10 KALI SERANGAN SELAMA PERANG
KEMERDEKAAN II DAN DISERANG SELAMA 4 HARI PENUH
Pertempuran 4 hari di Solo hanya merupakan Peran Tentara Pelajar setelah Berakhirnya
salah satu di samping 134 serangankota TNI yang tersebar agresi Militer di Indonesia mulaidirasakan pada
di Jawa dan Sumatra.Van Royen selama sidang Dewan sekitar tahun 1980 dikarenkan mulai disadari
Angket Parlemen Belanda berkata bahwakarena sadar bahwa anggota TentaraPelajar TNI Brigade 17 sudah
perlawanan TNI dan rakyat yang begitu meluas di seluruh lanjut usia dan mempuanyi keturunan generasi
Jawa danSumatra untuk itu tidak ada pilihan lain selain penerusyang banyak. Timbul keinginan bersama
tunduk pada syarat pimpinan RISoekarno Hatta di Bangka untuk mewariskan semangat juang danptriotisme
dan menghasilkan persetujuan Roem-Royen antara kepada generasi muda, baik generasi muda
lainYogya akan dikembalikan secara simbolis dulu, itu keturunan anggota Tentara Pelajarmaupun generasi
berarti Belanda harus mengakui satukekalahan Politik muda pada umumnya.
karena sesuai dengan rencana Yogya akan dikembalikan
secarasimbolis saja, sedangkan nyatanya lain
2. PUNCAK DARI PERTEMPURAN 4 HARI DI SURAKARTA
Puncak dari serangan umum terjadi Kesatuan KST yang terlibat Aksi Teror di Surakarta (Sumber. Arsip Nasional
pada 10 Agustus 1949 partisipasi pasukan TNI Belanda)
Brigade V yang dipimpin Lt. Kolonel Slamet
Riyadi. Tentara dari luar kota juga
berpartisipasi dalam serangan umum
Menyerang setiap sudut markas tentara
Belanda. Dari pagi hingga siang pada malam
hari, para prajurit melancarkan serangan
tanpa henti ke pangkalan pasukan Belanda
dipenjara. Pertempuran berakhir pada pukul
12:00 karena gencatan senjata sejak saat itu.
Di Keheningan malam yang dicurahkan orang-
orang dari rumah mereka Saya melihat merah
dan putih mengepak di mana-mana. Lagu
pertempuran digemakan oleh sekelompok
pejuang yang bahagia anda dapat
menyumbangkan komitmen Anda untuk
negara
3. AKHIR DARI PEPERANGAN 4 HARI DI SURAKARTA
Pertempuran yang sebelumnya telah memuncak pada 10 Agustus 1949 berakhir ketika Perintah
Sekarno pada 3 Agustus 1949 turun untuk mengentikan saling tembak atau cease fire untuk seluruh
wilayah Indonesia melalui Radio. Dikarenakan terdapat masalah teknis perintah baru diterima pada 10
Agustus untuk pulau Jawa dan 14-15 Agustus bagi wilayah luar Pulau Jawa. (Rahmawati, 2016). Pada saat
situasi gencatan senjata 11 Agustus 1949 melanggar status gencatan senjata dengan melakukan
pembunuhan massal terhadap warga sipil di daerah Karatonan, Jayengan,Pasar Kembang, Pasar Nongko,
Gading dan di sejumlah tempat lainnya. Di wilayah Gading, Markas Palang Merah Indonesia di kediaman
dr. Padmonegoro. Pasukan Belanda membunuh setidaknya tujuh orang petugas PMI beserta 50 orang
pasien yang dalam keadaan tidak berdaya terdiri atas rakyat biasa dan para pejuang yang terluka.
Sumber : Sementara Pasukan Belanda yang lain juga melakukan
https://www.kompasiana.com/indrayuki/56a pembunuhan di Kampung Kebonan dan menahan 22
penduduk sipil di dalam sebuah rumah, menelanjangi dan
9f3e586afbd820cbc7638/peristiwa-solo-yang- menyembelih Sembilan orang diantaranya. Beruntung salah
mengerikan seorang tawanan berhasil meloloskan diri dan melaporkan
kejadian tersebut pada Pos TNI terdekat. Secara hampir
keseluruhan korban yang ditemukan pada aksi Pasukan Baret
Hijau Belanda berjumlah 433 mayat setelah Surakarta lepas
dari terror tersebut. Korban paling banyak ditemukan di
wilayah Laweyan yakni sekitar 300 mayat yang Sebagian
besar disembelih atau ditusuk menggunakan sangkur.
Letkol Slamet Riyadi
Letkol Slamet Riyadi sempat merasa kecewa dengan adanya cease https://www.merdeka.com/jateng/mengen
al-sosok-slamet-riyadi-tokoh-pahlawan-
fire. Kapten Hendro mematuhu perintah cease fire ketika pasukannya peristiwa-serangan-umum-surakarta.html
sedang mengepung Pasukan Belanda dan melakukan terror kepada
rakyat. Ketika seluruh pasukan sudah tidak memiliki kekuatan dan
terdesak di Benteng Vastenburh dan daerah Mangkunegara dibentuk
Local Joint Commite (LJC) untuk mengadakan patrol bersamma
Pasukan TNI dan Pasukan Belanda. Perundingan diadakan dan
sebagai perundingan tingkat pertama Komandan Tentara Belanda di
Surakarta Kolonel Van Ohl meminta TNI ditarik mundur ke tepi batas
kota serta berbagai rintangan di jalan untuk di singkirkan keudian
Kolonel Van Ohl berjanji terror Pasukan Belanda tidak akan berulang
serta tidak aka nada balas dendam terhadap rakyat yang membantu
TNI.
Pada saat itu Komandan Pasukan KNIL di Solo Kolonel Van Ohl sangat terharu dan tidak percaya bahwa bekas lawan
tempurnya Letkol Slamet Riyadi masih sangat muda yakni 23 tahun dan Mayor Achmadi berusia 22 tahun. Kolonl Van Ohl
mengatakan pada Letkol Slamet Riyadi lebih baik memiliki musuh yang sportif daripada mempunyai musuh yang
sebenarnya adalah teman, Kolonel Van Ohl juga mengatakan kemampuan Letkol Slamet Riyadi memiliki kepandaian seperti
ayahnya. kemenangan yang diraih pada Serangan Umum harus dibayar dengan korban yang tidak sedikit, korban baik jiwa
maupun harta. Kota Solo yang dibombardir oleh Pasukan Belanda hancur dengan jumlah korban yang tidak diketahui
secara pasti jumlahnya.
Monumen Serangan Umum 4 Hari Surakarta 4. DAMPAK PERTEMPURANN 4 HARI DI SURAKARTA
Akhir bulan Agustus, kondisi keamanan di Surakarta semakin
panas, yang disebabkan karena adanya penculikan para pemimpin-
pemimpin dari tentara dan daribadan perjuangan. Selain
permasalahan penculikan itu, muncul masalah penting yang lainnya,
mengenai soal tuntutan para opsir yang diculik, semakin
meningkatkan pertentangan antara politik kanan kontra kiri dan
usaha untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.
Penculikan para opsir atau pimpinan-pimpinan tentara tersebut dipusatkan di Srambatan, depan Stasiun Balapan.
Anak buah dari opsir-opsir tersebut menuntut komandannya kembali, sehingga mereka mengadakan serangan
terhadap Markas Tentara Hijrah (Pasukan Siliwangi) di Srambatan mulai siang sampai sore hari. Pertama, opsir-opsir
tadi mengumumkan mengadakan latihan besar-besaran di seluruh Kota Surakarta,namun setelah tiba di markas
Pasukan Siliwangi yang hijrah, di Srambatan, lalu kemudian para opsir-opsir tersebut diberi komando menyebar dan
mengepung markas tadi dengan senjata lengkap. Pertempuran sengit pun tidak bisa dihindari, karena pasukan
Siliwangi juga mengadakan perlawanan terhadap serangan tersebut. Hal itu mengakibatkan jatuhnya korban dari
ALRI maupun dari Tentara Hijrah Kejadian itu terjadi sekitar pertengahan Bulan September 1948.
Latihan Soal
setelah menyelesaikan materi sebelumnya cobalah berlatih dengan mengisi soal-soal berikut ini
1. Bacalah bacaan dibawah ini!
Pada tanggal 3 Agustus 1949 pukul 22.00 malam, Panglima Besar Jenderal Sudirman memerintahkan penghentian tembak-
menembak mulai 11 Agustus 1949 untuk wilayah Jawa dan 15 Agustus 1949 untuk wilayah Sumatra. Untuk itu maka sebelum tanggal
tersebut pihak Brigade V/Panembahan Senopati pimpinan Letkol Slamet Riyadi dan Detasemen TP Brigade XVII pimpinan Mayor
Achmadi Hadisoemarto berencana menggunakan kesempatan sebelum gencatan senjata tersebut untuk mendapatkan posisi dan
merebut kedudukan musuh di Kota Surakarta agar pihak Belanda tahu bahwa TNI masih ada taring, nyali dan tetap bertekad bukan
saja dengan tujuan tersebut di atas, tetapi tetap akan mengusir Belanda.Untuk itu diadakan rencana serangan umum terhadap Kota
Surakarta.
Yang memimpin untuk merebut kedudukan musuh di Surakarta adalah....
A. Panglima Besar Jendral Sudirman
B. Letkol Slamet Riyadi
C. Mayor Achmadi Hadisoemarto
D. Letkol Slamet Riyadi dan Mayor Achmadi Hadisoemarto
2. Bacalah bacaan dibawah ini!
Serangan Umum Surakarta atau juga disebut Serangan Umum Empat Hari berlangsung pada tanggal 7 -10 Agustus 1949
secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal
sebagai tentara pelajar. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Surakarta dan
sekitarnya.
Hal penting yang ada didalam bacaan diatas adalah....
A. Serangan Umum Surakarta pada tanggal 7-10 Agustus 1949
B. Pelajar dan mahasiswa berhasil membumihanguskan markas Belanda di Surakarta
C. Para pejuang, pelajar, dan mahasiswa bergerilya untuk merebut kota Surakarta
D. Belanda mampu diusir dari Surakarta
E. Serangan berlangsung 4 hari
3. Bacalah bacaan dibawah ini!
Persenjataan pasukan pejuang pada waktu itu boleh dikatakan kurang lengkap, karena yang membawa senjata otomatis
bren gun hanya sekitar 15 orang, sedangkan lainnya senjata otomatis ringan. Yang membuat peristiwa itu sangat berkesan
adalah berkiprahnya seorang yang bernama Kapten Prakoso (Mantan Rektor UNS), sebagai Komandan Kompi (Cie) I TP.
Kapten Prakoso ialah....
A. Komandan TNI
B. Mantan Rektor UMS sekaligus Komandan Kompi (Cio) I TP
C. Mantan Rektor UNS sekaligus Komandan Kompi (Cie) I TP
D. Komandan Kompi
E. Pemimpin pasukan pejuang
4. Bacalah bacaan dibawah ini!
Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak poranda, 205 penduduk meninggal
karena aksi teror Belanda, 7 serdadu Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan dipihak TNI 6 orang gugur.
Dari minimnya korban yang jatuh di kalangan TNI, menunjukkan meningkatnya kinerja TNI dalam melakukan
serangan oftensif dibandingkan ketika melakukan serangan Umum 1 Maret.
Jumlah TNI yang gugur yakni....
A. 6 orang
B. 3 orang
C. 9 orang
D. 7 orang
E. 205 orang
5. Bacalah bacaan dibawah ini!
Belanda sadar bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Surakarta yang merupakan kota yang
pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat
dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi.
Pemimpin Serangan Umum Surakarta adalah....
A. TNI
B. Soekarno
C. Hatta
D. Pelajar dan mahasiswa
E. Slamet Riyadi
Kunci Jawaban
No Soal Kunci Jawaban Pembahasan
1 D. Letkol Slamet Riyadi dan Mayor
Achmadi Hadisoemarto Pembahasan : Brigade V/Panembahan Senopati pimpinan Letkol Slamet Riyadi dan
2 Detasemen TP Brigade XVII pimpinan Mayor Achmadi Hadisoemarto berencana
B. Pelajar dan mahasiswa berhasil menggunakan kesempatan sebelum gencatan senjata tersebut untuk mendapatkan posisi
3 membumihanguskan markas dan merebut kedudukan musuh di Kota Surakarta
Belanda di Surakarta
4 Pada tanggal 7 -10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa.
5 C. Mantan Rektor UNS sekaligus Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar.
Komandan Kompi (Cie) I TP Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Surakarta
dan sekitarnya.
Peristiwa perbandingan kekuatan antara Belanda dan Indonesia sebelum Serangan Umum
Surakarta dimulai ada sesuatu yang sangat berkesan yakni berkiprahnya seorang yang
bernama Kapten Prakoso (Mantan Rektor UNS), sebagai Komandan Kompi (Cie) I TP.
A. 6 orang : Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, dipihak TNI 6 orang gugur. Dari minimnya
E. Slamet Riyadi korban yang jatuh di kalangan TNI, menunjukkan meningkatnya kinerja TNI dalam
melakukan serangan oftensif dibandingkan ketika melakukan serangan Umum 1 Maret.
Slamet Riyadi adalah seorang pemimpin yang andal. Beliau memimpin tentara Indonesia di
Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah
Indonesia yang dinamakan Serangan Umum Surakarta atau Serangan Umum 4 Hari.
Untuk memperdalam pemahaman kalian Jawablah pertanyaan dibawah ini
dengan tepat!
1. Analisislah kondisi Surakarta sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia!
2. Bagaimana jalannya pertempuran 4 hari di Surakarta?
3. Bagaimana peran tentara pelajar dalam pertempuran 4 hari Surakarta?
4. Bagaimana dampak dari Pertempuran 4 hari di Surakarta?
5. Sebut dan jelaskan nilai-nilai yang bisa diambil dari peristiwa pertempuran 4 hari di Surakarta!
Kunci Jawaban Soal Uraian
1. Surakarta adalah kota yang terletak di daerah Jawa Tengah. Pada tahun 1921 Surakarta merupakan sebuah
karesidenan. Bersama-sama dengan Yogyakarta disebut sebagai Vorstenlanden. Secara harfiah Vorstenlanden
diterjemahkan sebagai tanah raja-raja atau secara deskriftif merupakan wilayah bekas jajahan kerajaan Mataram
Islam. Karesidenan Surakarta dibagi menjadi dua wilayah yang hampir sama besarnya, yaitu Kasunanan dan
Mangkunegaran. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah
melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755. Nama Kartasura dalam Bahasa Jawa berarti "keberanian" dan karta
berarti "makmur", sebagai sebuah harapan kepada Yang Maha Kuasa. Dapat pula diartikan bahwa nama
Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam
situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang
dilatarbelakangi oleh aspek kultural. Masyarakat kota Surakarta secara tradisional terbagi menjadi tiga macam
kelas sosial. Kelas sosial pertama ialah sentana dalem. Mereka adalah keluarga raja seperti bangsawan dan
pangeran dan dan dapat digolongkan sebagai kelas penguasa. Kelas sosial kedua ialah abdi dalem, yaitu para abdi
kerajaan. Kelas Sosial yang ketiga ialah abdi dalem, yaitu rakyat. Berbeda hal dengan pendapat Koentjaraningrat
yang mana dalam masyarakat Jawa pada umumnya Jawa Tengah khususnya terdapat dua kelas sosial, yaitu
wong cilik dan priyayi. Terlepas dari pembagian kelas sosial semasa kerajaan, tatanan masyarakat mengalami
perubahan. Semasa revolusi masyarakat lebih berperan dalam perang kemerdekaan.
Masyarakat saling bahu membahu untuk melawan Belanda, tidak hanya pasukan militer
Indonesia, ada juga laskar pelajar, atau yang biasa kita kenal dengan Tentara Pelajar, Laskar
Kere, Laskar Wanita dan masih banyak lagi laskar-laskar yang dibentuk pada saat itu. Laskar
Pelajar merupakan gabungan pemuda-pemuda bangsa yang masih SMT (Sekolah Menengah
Tinggi) dan SMP. Rata-rata usia pelajar SMP dan SMT ini sekitar 15-17 Tahun. Selama masa
Revolusi tahun 1945-1949 kota Surakarta menjadi pusat kegiatan komunis, peperangan antar
kelas, penculikan, dan umumnya dilanda anarki. Kegiatan-kegiatan radikal di Surakarta ini lah
yang mempercepat Golongan kiri untuk menggulingkan pemerintahan nasional pada tahun
1946 dan 1948. Dipindahkannya Ibukota NKRI ke Yogyakarta menjadikan kota Solo basis
pertahanan Militer yang dimiliki Indonesia. Dengan konflik internal yang terjadi tidak
menjadikan halangan bagi rakyat kota Solo untuk menyerah dalam mempertahankan
Indonesia melawan Belanda pada Agresi Militer ke II yang dimulai pada 19 Desember 1948.
Perjuangan TNI dan Pasukan TP dimulai dari sebelum masuknya Belanda sampai pada
akhirnya Belanda memasuki Kota Solo pada 21 Desember 1948. Sebelum Belanda memasuki
kota Solo TNI menggunakan taktik bumi hangus dan menggosongkan kota yang bertujuan
untuk memperlambat gerak dari pasukan Belanda memasuki Kota Solo. Belanda baru bisa
memasuki Kota Solo setelah 2 hari berusaha mencari jalan masuk.
2. Selain jalan perang, Indonesia juga menempuh jalan Diplomasi untuk menyelesaikan permasalahannya dengan
Belanda. Perjanjian Roem-Royen yang diadakan pada 14 April 1949 ini membahas rencana gencatan senjata atau
cease fire. Menanggapi desas-desus yang terjadi selama perundingan belum menemui hasil Mayor Achmadi
mengambil keputusan untuk “Rencana Masuk Kota” pada wilayah “straal 15 km” dari kota Solo apabila terjadi
gencatan senjata, sebagai pegangan para komando rayon dan para perwira staff. Keputusan ini dicetuskan oleh
Mayor Achmadi dengan tujuan mengantisipasi melemahnya semangat tempur pasukan kota Solo. Namun, hasil
keputusan Room-Royen memberatkan kota Solo. Pengembalian kota Yogyakarta kepada RI tanggal 29 Juni 1949
mengharuskan tentara yang berada di wilayah Yogyakarta ditarik dari kota Yogyakarta dan ditempatkan di Kota
Solo. Penambahan pasukan ini mencapai 4 batalyon. Untuk memantapkan semangat tempur pasukannya
Geburnur Militer mengekuarkan Instruksi No 16 A. tanggal 10 Juni 1949 yang memerintahkan bahwa: “Anggota
Angkatan Perang dan Pegawai Pemerintah Sipil sekeluarnya Instruksi ini, harus berjuang terus selama belum ada
perintah cease fire dari kami sendiri, meskipun ada dari instansi manapun”. Perintah itu di laksanakan oleh
rayon-rayon untuk menyerang pos-pos dan patroli Belanda, seragan dilakukan secara gencar siang dan malam.
Kabar cease fire yang masih simpang siur membuat semangat juang pasukan TP dan TNI tergoyah. Keadaan ini
membuat Mayor Achmadi akhirnya memanggil Komandan-Komandan Rayon se-SWK “Arjuno” 106 untuk
mengadakan Rapat Komando di Markasnya Jenggrik pada tanggal 3 Agustus 1949. Rapat Komando ini
menghasilkan keputusan: Dikeluarkannya Perintah siasat No.1/8/SWK/A3/Ps-49 tanggal: 5 Agustus 1949, untuk
mengadakan serangan secara besar-besaran (serangan umum) ke dalam Kota Solo mulai tanggal: 7 Agustus 1949
guna mendapatkan posisi di lapangan apabila cease fire diberlakukan.
Intruksi Serangan secara besar-besaran ini merupakan Serangan Umum yang ke-III,
sebab sebelumnya sudah pernah diadakan serangan secara besar-besaran terhadap
kedudukan Belanda. Serangan pertama terjadi pada tanggal 8 Februari 1949 dan
serangan umum kedua terjadi pada 2 mei 1949, maupun serangan terus menerus
terhadap pasukan Belanda semenjak memasuki kota Solo. Puncak dari kedua serangan
itu adalah serangan umum yang berlangsung 7 Agustus 1949. Serangan dimulai pada
tanggal 7 Agustus 1949 pukul 06.00, serentak terhadap kedudukan Belanda di Kota Solo.
Kekuatan pasukan yang digerakkan memasuki kota Solo pada hari pertama adalah
pasukan-pasukan dari Sub Wehrkreise “Arjuna” 106, terdiri dari 26 Regu Kesatuan TP
Det Brig. 17, 3 Regu dari MB (Mobil Bridge) Polisi dan 3 Regu TNI Brig. V. Mencapai
kurang lebih 2000 orang, para gerilyawan telah tersebar di Seluruh kota dengan
diperlengkapi aneka senjata yang dimiliki. Serangan umum dipimpin sendiri oleh
Letnan Kolonel Slamet Riyadi, Kota Solo di kepung dari empat jurusan oleh anggota-
anggota gerilya yang sejak pagi buta sudah menyusup memasuki kota. Pasukan tiap-
tiap regu sudah tersebar diseluruh kota dengan persenjataan yang beraneka ragam saat
itu, mereka bertekad untuk menguasai kota Solo sebelum perintah cease fire berlaku.
Kompi Prakoso melakukan serangan dari arah utara, Kompi Suhendro melancarkan
serangan dari arah selatan, Kompi Seomarto dari arah timur, dan Kompi Abdu Latef
bersama dengan pasukan SA-CSA Muktio menyerang ke arah barat dan
selatan.Tembak-tembakan mulai terjadi, makin lama makin gencar yang kemudian
disusul dengan rentetan letusan brengun, stenggung, nitlariur serta dentuman nertir
dan lain-lainnya.
Serangan yang mendadak sontak membuat pihak Belanda kaget dan membuat Belanda
mengundurkan diri dan bertahan di markasnya masing-masing. meghadapi serangan yang dilancarkan
tanggal 7 Agustus 1945 pihak Belanda mengerahkan seluruh kekuatan udaranya. Sekitar pukul 15.00 WIB
Belanda meluncurkan serangan balasan dengan menurunkan enam pesawat tempur yang mengadakan
pengeboman secara membabi buta, sehingga banyak rakyat yang menjadi korban. Kota Solo sebelah barat,
sekitar lawean menjadi sasaran lima pesawat pemnom Belanda, sedangkan Solo Bagian utara dihujani
peluru dari dua Mustang, Tank, dan overvalwagen (kendaraan tempur) simpang siur dijalan menghambur-
hamburkan peluru. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat juang tentara pelajar. Pasukan-pasukan
tentara pelajar dengan perlatan seadanya terus menerus menyerang markas Belanda, kemudian meyusup
ke kampung-kampung bersama rakyat. Pertempuran terus berlangsung hingga larut dan hari berganti.
Perang yang tiada henti ini terus dilanjutkan hingga Belanda terpojok dan tersudut tak berdaya. Posisi
Belanda yang pada saat itu sudah terdesak seluruhnya, tidak dapat berkutik sehingga terpaksa bertahan di
Benteng dan daerah Mangkunegaran. Mereka terkepung dan tidak dapat keluar dari kota Solo. Belanda
yang semakin terdesak hanya bisa berada dalam tangsi-tangsi. Pertempuran terus berlanjut sampai pada
puncaknya tanggal 10 Agustus 1949 tengah malam pukul nol-nol. Ini dikarenakan sudah diterimanya
perintah cease fire dari Presiden Soekarno. Perintah Soekarno pada 3 Agustus 1949 untuk menghentikan
tembak menembak atau cease fire untuk seluruh wilayah Indonesia diumumkan melalui Radio. Namun,
karena ada masalah tekhnis, perintah cease fire baru terlaksana tanggal 10 Agustus untuk Pulau Jawa dan
tanggal 14 – 15 Agustus untuk wilayah diluar pulau Jawa. Berakhirnya serangan umum secara otomatis
menandakan berakhirnya penjajahan Belanda di Kota Solo.
3. Pada tanggal 3 agustus 1949 Mayor Achmadi selaku Komandan SWK Artjuna 106 elah memanggil
Komandan-Komandan Rayon beserta stafnya bertempat di Wonosido Jenggrik Rayon II, di samping mengadakan
pengecekan terakhir, Mayor Achmadi menyampaikan petunjuk serta intruksi untuk melaksanakan Serangan
Umum menduduki Kota Solo dengan mengikutsertakan pasukan yang ada. Tanggal 5 Agustus 1949 komandan
SWK Arjuna 106 menyampaikan intruksi kepada komandan-Komandan Rayon tentang penetuan hari H Serangan
umum untuk menduduki Kota Solo yaitu pada tanggal 7 Agustus 1949 mulai pukul 06.00 yang jatuh pada hari
minggu. Sejak pukul 03.00 pagi hampir seluruh kesatuan yang bertugas untuk melaksanakan serangan telah
berada di dalam kota, dan selebihnya siaga mengelilingi dibagian pinggirnya yaitu dari Dawung ke timur di
Semanggi, di Puncaksawit, kemudian di utara yaitu Mojosongo, kandangsapi, Ngemplak, Nusukan/Gilingan,
Sumber, Karangasem dan kemudian kebagian selatan yaitu Wangkung, Panjang, Tipes dan Serengan. Pagi
berikutnya serangan diteruskan dengan sasaran-sasaran yang lebih aktif, sebaliknya pihak Belanda mengambil
posisi atau sikap bertahan. Tanggal 8 Agustus 1949 pukul 10.00 WIB Letkol. Slamet Riyadi selaku komandan
Penembahan Senopati (Komandan brigade V/II) mengeluarkan perintah siasat yang ditujukan kepada Komandan
wilayah Pertempuran Penembahan Senopati (PPS/SWK Arjuna 106) dan tindakanya disampaikan kepada
Komandan-Komandan PPS. (SWK) 100 s/d 105 Perintah itu merupakan intruksi supaya mengadakan serangan
perpisahan kekota Solo secara umum (besar-besaran). Sasaranya ialah semua obyek musuh didalam kota mulai
tanggal 10 Agustus 1949 pukul 06.00, selesai pukul 24.00. Pada hari ketiga yaitu selasa tanggal 9 Agustus 1949
Komandan Regu FNB (Flying Night brigade) yaitu Sahir Seksi I Kompi I terkena tembakan dalam peristiwa
pertempuran di Panularan. Waktu itu Regu Sahir dan Regu Seno terlibat dalam kontak senjata dengan Pasukan
TBS di sekitar Tugu Lilin Penuping. Posisi pasukan TP berada di bagian selatan sedangkan pihak TBS ada
dibagian utara, sambil bertempur Pasukan TP memaki anggota TBS sebagai antek-antek Belanda yang mau di adu
domba dengan bangsa sendiri.
Dari Gendengan dilepaskan tembakan mortir kearah kedudukan pihak
TBS. Hari keempat yaitu Rabu tanggal 10 Agustus 1949 seluruh kesatuan yang
berada dibawah SWK Arjuna 106 melancarkan serangan bersama besar-besaran
dengan melibatkan lebih dari 2000 anggota Gerilya. Satu hari penuh berkobar perang
sengit di empat penjuru kota Solo, pihak Geriliya pada umumnya mengambil
peranan sebagai penyerang, sedangkan pihak pasukan Belanda hanya bertahan,
kecuali satu dua tempat terpaksa dikerahkan Belanda mobil bajanya. Bunyi ledakan
bom dan granat maupun tembakan senjata terdengar dimana-mana dan diwarnai
dengan kepulan asap dan percikan api di beberapa tempat yang terkena tembakan,
enam pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom ataupun menembak sasaran-
sasaran yang terdapat Geriliyanya, Bomber dan pemburu-pemburu Belanda itu
menyerang secara membabi buta tanpa ampun dari siang hingga sore hari, sehingga
yang banyak menjadi korban ialah penduduk sekitar, beberapa rumah warga di
Wangkung, Lawiyan, Kabangan, Pasar Kembang, Sambeng, Pasar Nongko dan lain-
lain hangus terbakar, jumlah bangunan yang terbakar lebih dari 100 jumlahnya. Pada
tanggal 11 agustus di Pasar Nongko dan sekitarnya di Pasar Kembang, Pasar Legi
masing masing tempat itu kedatangan 1 pasukan Green-cap ( Baret Hijau) yang
dengan derta merta menyiksa penduduk yang ada dijalan. Pasukan Belanda Green-
cap tanpa ampun membunuh warga dengan semena-mena, tindakan mereka itu
sampai meluas ke Srambatan, Madiotaman, Petetan, Jayengan, Kratonan, Serengan,
Nirbitan, Patangpuluhan, Gajahan dan Markas palang merah Padmonegaran Gading.
4. Akhir bulan Agustus, kondisi keamanan di Surakarta semakin
panas, yang disebabkan karena adanya penculikan para
pemimpin-pemimpin dari tentara dan daribadan perjuangan.
Selain permasalahan penculikan itu, muncul masalah penting
yanglainnya, mengenai soal tuntutan para opsir yang diculik,
semakin meningkatkanpertentangan antara politik kanan kontra
kiri dan usaha untuk menjatuhkan pemerintahanyang sah.
Penculikan para opsir atau pimpinan-pimpinan tentara tersebut
dipusatkan diSrambatan, depan Stasiun Balapan. Anak buah dari
opsir-opsir tersebut menuntutkomandannya kembali, sehingga
mereka mengadakan serangan terhadap Markas TentaraHijrah
(Pasukan Siliwangi) di Srambatan mulai siang sampai sore hari.
Pertama, opsir-opsir tadi mengumumkan mengadakan latihan
besar-besaran di seluruh Kota Surakarta,namun setelah tiba di
markas Pasukan Siliwangi yang hijrah, di Srambatan, lalu
kemudian para opsir-opsir tersebut diberi komando menyebar
dan mengepung markas tadi dengan senjata lengkap.
Pertempuran sengit pun tidak bisa dihindari, karena pasukan
Siliwangi juga mengadakan perlawanan terhadap serangan
tersebut. Hal itu mengakibatkan jatuhnya korban dari ALRI
maupun dari Tentara Hijrah Kejadian itu terjadi sekitar
pertengahan Bulan September 1948.
5. a) Kerja Keras
Menurut Elfindri, dkk. (2012) menerangkan bahwa karakter kerja keras adalah
karakter seorang yang tidak mudah menyerah, disertai dengan kemauan yang kuat
untuk berjuang mencapai tujuan dan cita-citanya. Perjuangan Pertempuran 4 Hari
Surakarta dalam menghadapi Belanda di tahun 1949 sebagai upaya mempertahankan
kemerdekaan dapat dikatakan sebagai bentuk kerja keras baik dari tentara, pelajar,
mahasiswa, dan rakyat yang terus melakukan perlawanan agar kota Surakarta tidak
jatuh ke tangan Belanda. Kerja keras yang dilakukan oleh berbagai kalangan membuat
kemenangan berpihak kepada Indonesia. Kerja keras yang dilakukan dapat diambil
nilai perjuangannya untuk dijadikan sebagai pembelajaran maupun diterapkan dalam
masa sekarang walaupun konteksnya berbeda. Kerja keras tidak harus melalui
perang, yang bisa dilakukan oleh siswa sebagai generasi muda sebagai wujud dari
nilai kerja keras diantaranya adalah belajar dengan sungguh-sungguh serta
mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
b) Demokratis
Menurut Paul Suparno (2004) nilai-nilai demokrasi adalah nilai-nilai yang membentuk
sikap non-diskriminatif. Demokrasi menjunjung tinggi persamaan hak setiap orang,
artinya hak dirinya dan orang lain adalah sama. Bentuk dari nilai demokratis dapat
diambil dari perjuangan Pertempuran 4 Hari Surakarta yang dalam pelaksanaannya
banyak elemen seperti Raja, tentara, pelajar, mahasiswa dan rakyat bekerja sama demi
mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, saat menentukan strategi dan taktik yang
hendak digunakan untuk merebut kota Ambarawa, Mayor Achmadi melakukan ralat
Komando Daerah Solo (KDS) yang melibatkan perwakilan dari setiap pihak yang
berperan dalam proses pertempuran sehingga terdapat hasil musyawarah mufakat
terkait taktik dan serangan yang akan digunakan.
c) Cinta Tanah Air (Patriotisme)
Menurut Narwanti (2011), cinta tanah air merupakan suatu cara bersikap, berpikir yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, politik banga dan
ekonomi. Rasa cinta tanah air membentuk semangat rela berkorban dan perjuangan semua elemen bangsa di
Surakarta untuk mempertahankan kemerdekaan dan mencegah jatuhnya kota Surakarta ke tangan Belanda. Hal
tersebut menunjukkan bahwa di dalam diri rakyat, mulai muncul perasaan dan kesadaran sebagai satu kesatuan
bangsa Indonesia yang siap mengabdi bagi tanah air termasuk dalam mempertahankan kemerdekaan dari
Belanda.
d) Peduli Sosial
Definisi nilai peduli sosial dalam Narwanti (2011) adalah sikap serta tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
kepada orang lain dan masyarakat yang sekiranya lebih membutuhkan. Hal ini dilakukan oleh masyarakat dan
pejuang Pertempuran 4 Hari Surakarta untuk saling bahu membahu mengusir Belanda dari Surakarta. Banyak
pihak yang saling membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk mendukung jalannya
pertempuran. Masyarakat rela menyumbangkan baik tenaga maupun harta benda mereka tanpa pamrih. Nilai
peduli sosial dapat diambil dari perjuangan Pertempuran 4 hari Surakarta karena jiwa peduli sosial terdapat
dalam diri rakyat sehingga tanpa ragu memberikan apa yang mereka punya demi membantu berlangsungnya
pertempuran.
Tugas Observasi
Sebagai akhir dari pembelajaran menggunakan modul ini lakukanlah
observasi ke tempat yang berhubungan dengan sejarah Pertempuran 4
Hari di Surakarta. Bandingkan informasi yang telah kamu ketahui dengan
pengetahuan yang kalian dapatkan di lapangan
Lakukanlah kunjungan ke Monumen 45 Banjarsari
a. Catat lokasi objek yang dikunjungi
b. Waktu kunjungan
c. Kemudian buat kesimpulan atas hasil kegiatan observasi
dalam bentuk laporan dan sertakan lampiran berupa foto
DAFTAR PUSTAKA
Ex Anggota TNI Datasemen II Brigade 17. 2000. Offensif TNI Empat Hari di Kota Sala dan Sekitarnya
“Serangan Umum TNI Empat Hari diSalatiga 7-10 Agustus 1949. Jakarta.
Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah, (terjemahan)
Nugroho Notosusanto. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Hapsari, Kris. Kasunanan & Mankunegaran Tengah Kekuatan Radikal Surakarta Tahun1945-1950. Fakultas
Pascasarjana Undip,Semarang.
Ibrahim, Julianto. 2010. Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa
Revolusi di Surakarta. Wonogiri: Bina Citra Pustaka.
Imran, A., & Wiadi, A. 1985. Peranan Pelajar Dalam Perang Kemerdekaan.