O
Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat
(2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau
hak terkait sebagai dimaksud dalam Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
O
EKA KURNIAWAN
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
O
© Eka Kurniawan
GM 616202008
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building Blok 1 lt. 5
Jl. Palmerah Barat No. 29-37
Jakarta 10270
Anggota IKAPI
Penyelia naskah
Mirna Yulistianti
Desain sampul & ilustrasi
Eka Kurniawan
Proof reader
Angka
Sasa
Setting
Fitri Yuniar
Cetakan pertama Maret 2016
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian
atau seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit
ISBN 978-602-03-2559-0
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan
Katakan kepadaku menjadi binatang apa kau ingin
kuubah dengan sihirku?
—,
Kisah Fakir Kedua
1
“ ,” pikir O, mengenang semua
keributan itu. Semua terjadi karena seekor monyet bernama En-
tang Kosasih memegang revolver berisi pelor di dalamnya. Itu
tak jadi soal jika ia tak menodongkan revolver kepada orang-
orang, termasuk kepada polisi pemilik revolver tersebut.
“Monyet gila, kembalikan revolverku!” teriak Si Polisi,
sambil membetulkan celana seragamnya, yang entah kenapa
sedikit kedodoran. Berbeda dengan kebanyakan polisi yang se-
ring terlihat di pinggir jalan, yang kebanyakan berperut besar,
ia bisa dibilang kurus. Kepalanya mendongak, jelas ia sangat
kesal. “Kembalikan!”
Dari dahan pohon lamtoro, Entang Kosasih menodongkan
revolver ke arah Si Polisi, membuat Si Polisi cepat mengangkat
tangannya dengan wajah dibikin pucat.
“Tolol, turunkan revolver itu. Kau mau bunuh polisi, heh?”
Entang Kosasih meletakkan satu jarinya ke pelatuk. Mem-
buat Si Polisi melompat dan bersembunyi di balik rongsokan
rangka mobil yang tergeletak tak jauh di sana.
Monyet-monyet yang lain bersorak-sorai melihat Entang
Kosasih memiliki mainan baru, sementara Si Polisi mengga-
ruk-garuk kepalanya, cemas dan pusing memikirkan bagaima-
na merebut kembali revolver tersebut tanpa harus membiarkan
pelor bersarang di batok kepalanya.
—
Perkara revolver dan polisi itu bukan hal paling mencengang-
kan mengenai Entang Kosasih, terutama bagi O. Seperti juga
manusia, monyet mengenal hidup berkeluarga, setidaknya un-
tuk kawanan monyet di Rawa Kalong. Seperti semua monyet
di sana tahu, O mencintai Entang Kosasih dan demikian pula
sebaliknya. Bahkan keluarga mereka sudah memutuskan bahwa
perjodohan di antara mereka tak terelakkan.
O masih terlalu muda dan Entang Kosasih masih sedikit
keblinger. Itu satu-satunya alasan yang membuat mereka tak
segera menikah.
Meskipun begitu, mereka selalu bertemu setiap hari, se-
bagaimana monyet-monyet muda yang dilanda cinta. Setiap
sore ketika waktunya monyet-monyet belia harus menemui
monyet-monyet tua dan mendengarkan dongeng mereka, O
dan Entang Kosasih akan datang bersamaan sambil bergande-
ngan tangan. Dongeng-dongeng itu nyaris tak tertanggungkan,
terutama karena diulang-ulang dan hampir di semua bagian te-
rasa membosankan. Selalu mengenai kisah Armo Gundul serta
monyet-monyet leluhur mereka yang hebat dan gagah berani,
yang mengiringi manusia membangun peradaban, dan tak ada
yang lain. Jika bukan karena keberadaan Entang Kosasih, dan
pertemuan semacam itu merupakan kewajiban semua monyet,
O bisa mati kebosanan.
“Dunia akan lebih mudah jika monyet macam Armo Gun-
dul tak pernah dilahirkan,” kata O sambil bersandar ke bahu
Entang Kosasih.
Entang Kosasih tak pernah mengeluarkan komentar soal
itu dan O selalu berpikir sang kekasih bersepakat dengannya.
Hingga satu ketika, sepulang dari mendengarkan dongeng se-
macam itu dan mereka berpacaran di atas rongsokan kerang-
ka mobil sambil bicara tentang kapan mereka akan menikah,
tiba-tiba Entang Kosasih berkata yang membuat O hampir mati
berdiri:
“Aku akan mengikuti jejak Armo Gundul.”
—
Sebelum ini, ketika mereka bicara tentang perasaan cinta dan
masa depan mereka, Entang Kosasih pernah mengatakan, me-
reka akan menikah di bulan kesepuluh. Bagi O, itu kalimat sa-
ngat sakti, mencatatnya baik-baik di sudut otaknya. Segala se-
suatu di dunia, terhubung ke bulan kesepuluh.
Jika ia memakan buah, ia berpikir, buah ini akan mem-
buatku sehat sehingga di bulan kesepuluh, aku akan menjadi
betina paling berkilau di seluruh alam raya Rawa Kalong. Jika
ada duri menusuk telapak kakinya, ia berusaha menyembu-
nyikannya, menemui monyet tertua yang bisa mengobati segala
macam penyakit monyet, sebab ia tak ingin di bulan kesepu-
luh kakinya membusuk dan memorak-porandakan hari perni-
kahan mereka. Bahkan di hari yang hujan dan semua monyet
berlindung di bawah dedaunan, ia telah berpikir apakah di bu-
lan kesepuluh, hari akan turun hujan atau tidak.
“Kau janji di bulan kesepuluh kita akan menikah, tapi kini
kau bilang akan mengikuti jejak Armo Gundul?” O tak bisa me-
nyembunyikan kekecewaannya, dan sambil menunjuk dada En-
tang Kosasih dengan ujung jarinya, mempertanyakan kembali
cinta mereka.
“Ya, dan aku tidak mencabut janji itu. Kita akan tetap me-
nikah di bulan kesepuluh, dan aku tetap akan mengikuti jejak
Armo Gundul.”
“Tapi …” Ia merasa hubungan mereka terancam, tapi ia tak
mengerti di mana masalahnya.
—
Sementara Entang Kosasih terus memikirkan bagaimana cara-
nya mengikuti jejak Armo Gundul, O tak pernah berhenti me-
mikirkan apa yang terjadi dengan rencana mereka untuk meni-
kah di bulan kesepuluh.
“Kau tak pernah membuat rencana. Kau serius atau tidak?
Kau mau menikah atau tidak?”
“Tentu saja, aku akan kawin denganmu. Di bulan ke-
sepuluh. Aku sudah mengatakannya, kenapa aku harus me-
ngatakannya lagi, dan lagi, dan lagi? Kenapa kau bertanya lagi,
dan lagi, dan lagi?”
“Tapi aku tak melihat kau merencanakan apa pun?”
“Demi Tuhan, O. Kau tidak mendengar, bahwa kita akan
kawin di bulan kesepuluh. Itu rencana. Itu rencana besar. Ja-
ngan bilang kita tak punya rencana apa pun.”
“Aku tahu. Aku bertanya, karena aku ingin kau meyakin-
kanku. Aku tak mendengar kau punya rencana apa yang akan
kita lakukan di bulan pertama, bulan kedua, bulan ketiga, se-
belum kita sampai ke bulan kesepuluh. Tak mungkin segala se-
suatu terjadi begitu saja.”
“Aku tak punya rencana seperti itu. Aku belum tahu apa
yang akan kita lakukan bulan depan, atau bulan depannya lagi.”
“Apa kubilang.”
“Yang penting kita akan kawin di bulan kesepuluh. Kau
mau kawin atau tidak?”
—
Perdebatan mereka selalu tak ada ujung. Bisa berulang dengan
sedikit perubahan di sana-sini, dan tetap tak ada ujung. Tapi
mereka saling mencintai. Perdebatan itu kadang berakhir de-
ngan pertengkaran kecil, saling berteriak. Tapi mereka saling
mencintai, dan ketika kepala mereka mulai dingin, mereka bisa
menjadi sangat baik satu sama lain. Mereka saling berpegangan