The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Materi "Memahami gambar cerita dan Memahami tangga nada"

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Windah Rahayu, 2020-10-15 07:36:37

Rangkuman PTS SBDP (Seni Budaya dan Prakarya)

Materi "Memahami gambar cerita dan Memahami tangga nada"

RANGKUMAN MATERI PEMBELAJARAN KELAS V
SBDP (Seni Budaya Dan Budaya)

BAB I
KD (Kompetensi Dasar)
3.1 Memahami gambar cerita

Pengertian gambar cerita

Gambar cerita adalah gambar yang menceritakan suatu adegan atau peristiwa. Fungsi dari
gambar cerita adalah memperjelas alur atau isi cerita, memperjelas isi pesan dalam promosi suatu
barang, menarik perhatian, menambah nilai artistik/keindahan dan sarana untuk mengungkapkan
perasaan penggambarnya.

Bentuk suatu obyek gambar cerita dapat berupa gambar manusia, tumbuhan dan hewan.
Gambar-gambar tersebut bisa berdiri sendiri atau bisa gabungan dari berbagai obyek yang berbeda.
Obyek sebuah gambar cerita disesuaikan dengan narasi atau tema yang telah dibuat. Gambar cerita
dapat menggunakan warna hitam atau putih saja. Dalam pembuatan gambar cerita dapat
menggunakan teknologi digital maupun menggunakan lukisan tangan.

contoh dari gambar cerita

Gambar cerita atau sering disebut dengan gambar ilustrasi banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuk gambar cerita antara lain terdapat pada :

1. Komik. Komik berasal dari kata comic yang memiliki arti lucu atau jenaka. komik
merupakan karya seni yang menggunakan rangkaian gambar tidak bergerak yang
penyusunanya membentuk sebuah jalinan cerita.

2. Cover. Cover merupakan kulit atau sampul pada buku atau majalah. Gambar cover
memuat atau mewakili isi buku sehingga terlihat menarik. Berikut contoh ilustasi cover
buku pelajaran.

3. Majalah. Majalah atau surat kabar dibagian sebelum atau sesudah tulisan biasanya
terdapat gambar. Gambar tersebut sering disebut Vignette (gambar pengisi halaman
kosong pada majalah atau surat kabar yang memiliki fungsi menghias).

4. Cerita (Cergam, Cerpen, dll). Suatu karya cerita biasanya dilengkapi dengan ilustrasi
cerita. Gambar Ilustrasi cerita ini mewakili cerita yang terkandung di dalamnya. Sebuah
cerita akan tampak menarik apabila disertai dengan ilustrasi yang menggambarkan isi
cerita.

Gambar cerita sering juga ditemukan dalam buku cerita, majalah, dan buku pelajaran. Poster
dan brosur juga sering disertai gambar cerita agar menarik. Petunjuk cara penggunaan barang pun
sering dilengkapi dengan gambar cerita untuk membantu pengguna menggunakannya. Fungsi
gambar cerita antara lain untuk :

1. Memperjelas alur atau isi cerita,
2. Memperjelas isi pesan dalam promosi suatu barang,
3. Menarik perhatian,
4. Menambah nilai artistik/ keindahan,
5. Sarana untuk mengungkapkan perasaan penggambarnya.

Ciri-Ciri Karya Gambar Cerita
Karya ini bisa kita temui di majalah, surat kabar, dll, biasanya gambarnya berurutan, gampang di
cerna, dan lucu. Ciri-ciri karya gambar cerita adalah seperti berikut ini :

1. Memakai bahasa percakapan
Karya gambar ini umumnya menggunakan bahasa percakapan atau bahasa yang biasa
dipakai untuk obrolan untuk bisa lebih mengena ke pembaca.

2. Memiliki sifat proporsional
Karya gambar ini bisa membawa pembacanya ikut terlibat secara emosional dengan pelaku
utama yang diceritakan.

3. Memiliki sifat kepahlawanan
Isi karya gambar ini cenderung membawa pembaca untuk memuliakan kepahlawanan.

4. Terdapat penggambaran watak
Pola perilaku pada karya gambar ini cenderung disimplifikasikan untuk mudah dicerna.

5. Terdapat humor
Humornya kebanyakan menggunakan bahasa lisan yang gampang dipahami oleh semua
orang.

Langkah-Langkah Membuat Gambar Cerita
Berikut ini adalah langkah-langkah menggambar cerita dari tahap awal hingga tahap akhir :
1. Menentukan karakter
Langkah awal membuat gambar cerita adalah menentukan karakter yang hendak
ditampilkan pada alur cerita. Penentuan karakter ini berkaitan dengan genre cerita yang
hendak disajikan, sebab itu sebaiknya dilakukan di awal.
2. Menentukan tema
Langkah kedua yakni menentukan tema yang hendak disajikan ke cerita tersebut. Tema ini
bisa disesuaikan dengan genre cerita yang telah didetapkan tadinya.
Pemilihan tema berpengaruh pada gambar yang perlu dibuat. Penentuan tema bisa
dilakukan dengan melihat lingkungan sekitar dan pengalaman diri sendiri ataupun orang
lain.
3. Membuat alur cerita
Langkah berikutnya yakni membuat alur cerita yang hendak digambarkan. Alur ini
merupakan bagaimana cerita tersebut berjalan.
4. Menyiapkan alat dan bahan
Sehabis menyusun alur jalannya cerita, maka menyiapkan perlengkapan alat dan bahan
yang hendak diperlukan untuk menggambar. Perlengkapan ini disesuaikan dengan gambar
yang dihendaki, dapat menggunakan pensil, krayon, spidol, kertas, dll.
5. Membuat sketsa atau rancangan gambar
Sehabis menyiapkan alat dan bahan menggabar, bisa mulai membuat sketsa atau rancangan
dari cerita yang telah ditetapkan dengan menyesuaikan karakter, tema, dan alur cerita.
Pembuatan sketsa sangat berpengaruh pada langkah-langkah berikutnya, yaitu
penyempurnaannya. Sketsa yang tidak maksimal bisa mengakibatkan objek kelihatan
kurang bagus. Sebab itu pembuatannya harus dikerjakan sebaik mungkin.

6. Menyempurnakan gambar
Langkah terakhir membuat gambar cerita adalah menyempurnakan gambar. Koreksi
gambar dan mulai memperindah gambar, menambahkan dialog, dan memberi pewarnaan
hingga menjadi sempurna.

Alat dan Bahan untuk Menggambar
1. Pensil
Pensil yang digunakan pada langkah membuat gambar cerita, umumnya yaitu pensil
ukuran 2B sampai 6B.
2. Krayon
Krayon mempunyai bermacam-macam corak. Krayon diperlukan untuk menggambar cerita
yang coraknya bervariasi.
3. Pulpen atau Spidol
Pulpen ataupun spidol dipakai untuk menggambar cerita dengan karakter yang tegas pada
garis-garis.
4. Kertas
Salah satu media yang bisa kita pakai yaitu kertas. Bisa menggunakan kertas gambar atau
kertas manila.

BAB I
KD (Kompetensi Dasar)
3.2 Memahami tangga nada

Pengertian tangga nada

Pengertian tangga nada adalah susunan berjenjang yang berasal dari nada – nada pokok
sebuah sistem nada. Dimulai dari nada dasar hingga dengan nada oktafnya, yakni do, re, mi, fa, so,
la, si, dan do.

Ada pula yang menyebutkan jika pengertian dari tangga nada merupakan susunan nada yang
disusun dengan memakai rumus interval nada tertentu.

Interval nada merupakan jarak antara nada satu menuju nada yang lain. Jaraknya sendiri ada
yang jaraknya ½, 1, 1 ½ serta 2.

Jarak itulah yang nantinya akan menentukan variasi nada serta jenis dari tangga nada itu
sendiri.

Di dalam tangga nada, terdapat 3 macam tangga nada yang berbeda, antara lain: tangga nada
diatonis, tangga nada pentatonis, serta tangga nada kromatis.

Tangga Nada Diatonis
Nada diatonis adalah tangga nada yang memiliki tujuh nada serta memiliki dua macam
interval nada yaknin 1 dan 1/2.
Diatonis berasal dari bahasa spanyol “diatonikos” yang memiliki arti meregangkan. Yang
mana biasanya dipakai pada penyebutan tangga nada minor serta mayor.
Pada skala teori musik, diatonis adalah suatu komponen dasar musik dunia yang mempunyai
tujuh not berbeda di satu oktaf yang dapat kita jumpai seperti pada piano.
Pada notasi solmisasi, not-not tersebut diantaranya yaitu “Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si”. (Pada
umumnya „Si„ akan digambarkan dengan „Ti‟ supaya huruf pertama ditiap – tiap not berbeda).
Di dalam tangga nada diatonis juga terbagi menjadi dua, yakni mayor dan minor, antara lain:
1. Tangga Nada Minor

Tangga nada minor juga dibagi lagi menjadi tiga jenis, antara lain; tangga nada minor asli,
tangga nada minor harmonis, serta tangga nada minor melodis.

A. Tangga Nada Asli
Adalah tangga nada minor yang cuma mempunyai nada – nada pokok serta tidak memiliki
nada sisipan.
Contoh: A-B-C-D-E-F-G-A (tidak memakai tanda kromatis).
B. Minor Harmonis
Adalah tangga nada minor dimana pada nada ke 7 nya akan dinaikkan ½ nada, pada waktu
naik serta turun nadanya akan tetap sama.
C. Minor Melodis
Adalah tangga nada minor dimana pada nada ke 6 serta 7 nya akan dinaikkan ½ nada pada
waktu naik (memakai simbol kres). Lalu akan diturunkan ½ (memakai simbol mol) nada ketika
turun.
Karakteristik tangga nada minor :
• Kurang bersemangat
• Sifatnya sedih
• Jika dimainkan akan memunculkan nuansa yang khidmat, dalam, sedih atau “gelap”.
• Memiliki pola interval: 1, ½, 1, 1, ½, 1, 1
• Pada umumnya diawali serta diakhiri dengan nada La = A
Contoh lagu:
Lagu Wajib:
• Tanah Airku (Ibu Soed)
• Mengheningkan Cipta (Truno Prawit)
• Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki)
• Bagimu Negeri (R. Kusbini)
• Gugur Bunga
• Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki).
Lagu Anak-anak:
• Bintang Kejora (AT Mahmud)
• Ambilkan Bulan (AT Mahmud)
• Kelinciku (Daljono)
• Kasih Ibu (SM. Muchtar)
• Kucingku (Pak Kasur).
Lagu Daerah:
• Kole-Kole (Maluku)

• Bubuy Bulan (Jabar)
• Sarinande (Maluku)
• Sing Sing So (Maluku)
• Bubuy Bulan (Jawa Barat)
• Ole Sioh (Maluku).

2. Tangga Nada Mayor

Skala mayor pada umumnya dimulai dari „Do„ di awal not serta akan diakhiri dengan not „Do‟
yang lebih tinggi dari not yang pertamanya. Serta pada umumnya akan lebih tinggi satu oktaf dari
not yang pertama.

Tangga nada mayor ini mempunyai delapan not. Interval diantara not satu ini berurutan, yaitu:
1, 1, 1/2, 1, 1, 1, 1/2.

Karakteristik tangga nada mayor:
• Pada umumnya akan diawali serta diakhiri dengan nada Do
• Bersemangat
• Sifatnya riang gembira
• Memiliki pola interval: 1, 1, ½, 1, 1, 1, ½.
Contoh lagu:
Lagu Wajib:
• Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed)
• Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak)
• Hari Merdeka (Husein Mutahar)
• Dari Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo)
• Maju Tak Gentar
• Gebyar Gebyar (Gombloh)
• Hari merdeka
• Indonesia Raya
• Indonesia Jaya

• Halo-halo Bandung
• Mars Pelajar
• Garuda Pancasila.
Lagu Anak-anak:
• Balonku (AT Mahmud)
• Naik Delman (Ibu Sud)
• Lihat Kebunku (Ibu Sud)
• Heli/ anjing kecil (Nomo Kuswoyo)
• Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).
Lagu Daerah:
• Kampuang Nan Jauh DI Mato (Sumbar)
• Gundul Pacul (Jawa Tengah)
• Manuk Dadali (Jabar)
• Ampar-Ampar Pisang (Kalsel)
• Tokecang (Jabar).

Tangga Nada Pentatonis
Tangga nada pentatonis adalah tangga nada yang mempunyai arti dari dua kata berbeda, yakni
penta (lima) serta tone (nada) atau juga dapat disebut hanya mempunyai 5 nada pokok.
Dari tangga nada diatonik mayor atau c-d-e-f-g-a-b- c‟ dimana jumlahnya 7 nada, bisa
didapatkan tangga nada pentatonik dengan cara mengurangi 2 nada, dalam hal tersebut ada dua
macam tangga nada pentatonik, yaitu:
• c-d-e-g-a-c‟ (tidak ada f dan b)
• c- e-f-g-b-c‟ (tidak ada d dan a)
Tangga nada pentatonik pada umumnya dipakai di dalam musik tradisional China serta
Jepang. Nada pentatonis juga populer pada kalangan musik rock n‟ roll, blues, serta variasi lagu –
lagu pop.
Di negara Indonesia sendiri ada pada musik gamelan (Musik Jawa). Terutama di dalam
Gamelan Jawa, dua macam tangga nada pentatonik itu disebut sebagai titi laras slendro serta titi
laras pelog.
1. Titi Laras Slendro

Pentatonis slendro adalah nada memiliki susunan nada 1-2-3-4-5-6.

2. Titi Laras Pelog

Pentatonis Pelog adalah nada yang memiliki susunan nada 1-3-4-5-7.
Pada skala pentatonis yang merupakan skala musik dari lima not per oktaf terdapat
penggolongan paling sering digunakan, yakni skala pentatonik “Major serta skala pentatonik
“Minor“.
Mempunyai pola interval M2-M2-m3-M2-m3 di skala mayor, serta m3-M2-M2-m3-M2 di
skala minor.
Contoh lagu:
• Kincir – kincir
• Lenggang kangkung
• Cublak-cublak suweng
• Suwe ora jamu
• Jali – jali


Click to View FlipBook Version