Daftar Isi
Daftar Isi............................................................................................................................... 1
Daftar Gambar ...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang............................................................................................................ 3
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................................... 4
1.3. Tujuan ........................................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................... 5
2.1. Tegangan Listrik ......................................................................................................... 5
2.1.1. Sumber tegangan listrik dikelompokkan menjadi dua jenis: .................................. 5
2.1.2. Simbol dan Satuan Tegangan Listrik .................................................................... 6
2.2. Mengukur Arus Menggunakan Multimeter.................................................................. 8
2.2.1. Pengertian Arus Listrik......................................................................................... 8
2.2.2. Cara Membaca Hasil Pengukuran Pada Multimeter .............................................. 8
2.3. Mengukur Hambatan Menggunakan Multimeter ....................................................... 14
2.3.1. Jenis-jenis resistor .............................................................................................. 14
2.3.2. .Fungsi Resistor.................................................................................................. 14
2.3.3. Menghitung nilai resistansi dengan kode warna .................................................. 14
2.3.4. Cara membaca nilai resistor dengan kode angka ................................................. 16
2.3.5. Cara menentukan nilai resistansi dengan menggunakan multimeter .................... 17
2.4. Kesalahan Dalam Pengukuran Dan Cara Mengatasinya ............................................ 19
2.4.1. Kesalahan umum ................................................................................................ 19
2.4.2. Kesalahan yang tak disengaja ............................................................................. 19
Kesimpulan......................................................................................................................... 20
Daftar Pustaka..................................................................................................................... 21
1
Daftar Gambar
Gambar 1. 1 Multimeter .................................................................................................................... 4
Gambar 2. 1 Simbol Tegangan DC .................................................................................................... 5
Gambar 2. 2 Sumber Tegangan AC ................................................................................................... 5
Gambar 2. 3 Pengukuran Tegangan DC ............................................................................................. 7
Gambar 2. 4 Pengukuran Tegangan AC ............................................................................................. 7
Gambar 2. 5 Jarum Penunjuk ............................................................................................................. 8
Gambar 2. 6 Pengukuran Arus DC..................................................................................................... 9
Gambar 2. 7 Pengukuran Arus DC................................................................................................... 10
Gambar 2. 8 Pengukuran Arus AC................................................................................................... 10
Gambar 2. 9 Arus ............................................................................................................................ 10
Gambar 2. 10 Resistor ..................................................................................................................... 15
Gambar 2. 11 Keterangan Warna Resistor ....................................................................................... 15
Gambar 2. 12 Resistor ..................................................................................................................... 16
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peralatan elektromekanik ialah peralatan yang digunakan dalam kepentingan suatu praktikum,
yang mana berhubungan dengan kelistrikan. Alat-alat yang tercantum didalam kategori
peralatan elektromekanik tersebut biasanya memiliki fungsi yang terhubung satu sama lain.
Elektronika merupakan ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan
dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti
komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya.
Komponen elektronika ini terdiri dari satu atau lebih bahan elektronika, yang terdiri dari satu
atau beberapa unsur materi dan jika disatukan, untuk desain rangkaian yang diinginkan dapat
berfungsi sesuai dengan fungsi masing-masing komponen, ada yang untuk mengatur arus dan
tegangan, meratakan arus, menyekat arus, memperkuat sinyal arus dan masih banyak fungsi
lainnya.
Multimeter lebih dipilih ketimbang alat ukur yang lain karena simpel dan bisa digunakan untuk
mengukur banyak satuan listrik meskipun hanya dengan satu alat yakni multimeter saja. Dalam
perkembangannya multimeter selalu mengalami perubahan, tentu saja perubahan yang
dimaksud akan membawa multimeter menuju ke alat ukur yang lebih cermat serta mudah
dalam penggunaannya.
Pada dasarnya multimeter merupakan gabungan alat ukur dari volt meter, ohm meter dan
ampere meter. Tapi sekarang ternyata multimeter masih diciptakan lagi dengan versi
terbarunya. Jika dahulu orang hanya mengenal multimeter analog maka akhir-akhir ini
perkembangan multimeter menunjukkan multimeter versi yang terbaru yakni multimeter
digital. multimeter digital tentunya lebih baik dari multimeter analog, dengan akurasi
pengukuran yang tinggi dan kemudahan dalam penggunaan serta pembacaan data hasil ukur
membuat multimeter digital mulai disenangi dan menyebabkan multimeter analog
ditinggalkan. Meskipun demikian masih banyak pula orang yang menggunakan multimeter
analog karena merasa sudah terbiasa dan selain itu harganya lebih murah daripada harus
membeli multimeter versi digital.
Multimeter adalah suatu alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur tiga jenis besaran
listrik yaitu arus listrik, tegangan listrik, dan hambatan listrik. Sebutan lain untuk multimeter
adalah AVO-meter yang merupakan singkatan dari satuan Ampere, Volt, dan Ohm. Selain itu,
multimeter juga disebut dengan nama multitester.
Multimeter terbagi menjadi dua jenis yaitu multimeter analog dan multimeter digital.
Perbedaan antara multimeter analog dan multimeter digital terletak pada tingkat ketelitian nilai
pengukuran yang diperoleh. Multimeter dapat digunakan untuk pengukuran listrik arus searah
maupun pengukuran listrik arus bolak-balik
3
Gambar 1. 1 Multimeter
1.2.Rumusan Masalah
1. Pengertian multimeter
2. Fungsi multimeter
3. Cara menggunakan multimeter
4. Kesalahan pengukuran dalam multimeter dan factor kesalahan
1.3.Tujuan
Dalam pembuatan proyek ini memiliki beberapa tujuan antara lain :
1 .Mengaplikasikan salah satu contoh peralatan elektro
2. Mendeskripsikan pengertian multimeter
3. Mendeskripsikan cara penggunaan (SOP) multimeter
4. Trouble shooting dalam pengukuran menggunakan multimeter
5. Mendeskripsikan cara menggunakan multimeter
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Tegangan Listrik
Tegangan listrik atau beda potensial adalah suatu tegangan yang dapat bekerja pada komponen
atau elemen dari satu kutub atau kutub lainnya sehingga bisa menggerakkan muatan listrik.
2.1.1. Sumber tegangan listrik dikelompokkan menjadi dua jenis:
2.1.1.1. Sumber Tegangan Listrik Searah (DC)
Gambar 2. 1 Simbol Tegangan DC
DC singkatan dari Direct Current, memiki arti arus listrik searah. Jadi, sumber tegangan listrik
DC merupakan sumber tegangan yang bisa menghasilkan arus listrik searah.
Di bawah ini terdapat beberapa contoh sumber tegangan listrik searah (DC) di kehidupan
sehari-hari:
• Elemen elektro kimia
• Elemen Volta
• Accumulator (aki)
• Elemen kering
• Termo elemen
• Photo Electric Cell
• Generator arus searah (DC)
2.1.1.2. Sumber Tegangan Listrik Bolak-Balik (AC)
Gambar 2. 2 Sumber Tegangan AC
5
AC singkatan dari Alternating Current, memiliki arti arus bolak-balik. Jadi, sumber tegangan
listrik AC merupakan sumber tegangan yang bisa menghasilkan arus listrik bolak-balik.
Listrik PLN dan Generator AC adalah contoh sumber tegangan bolak balik (AC) di kehidupan
sehari-hari.
2.1.2. Simbol dan Satuan Tegangan Listrik
Simbol tegangan listrik adalah huruf kapital V dan dinyatakan dalam satuan SI Volt, yang
berasal dari nama fisikawan Italia penemu baterai, Alessandro Volta.
Rumus Tegangan Listrik
Tegangan listrik adalah energi potensial listrik per satuan muatan, dirumuskan:
V = W/Q
Keterangan:
• V = tegangan/potensial listrik (Volt)
• W = energi potensial listrik (J)
• Q = muatan listrik (C)
Di dalam suatu rangkaian tertutup, tegangan listrik berbanding lurus dengan kuat arus listrik
dan kemampuannya bisa untuk menggerakkan listrik yang disebabkan oleh besarnya
hambatan, dirumuskan:
V=I.R
Keterangan:
• V = tegangan/potensial listrik (volt)
• I = kuat arus listrik (A)
• R = hambatan listrik (Ω)
rumus tengangan yang ada hubungannya dengan daya listrik :
V = P/I
Keterangan:
• V = tegangan/potensial listrik (volt)
• I = kuat arus listrik (A)
• P = daya listrik (watt)
6
Cara Mengukur Tegangan DC (DC Voltage)
1. Atur terlebih dahulu posisi saklar selektor ke DCV
2. Pilih skala yang cocok dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Apabila ingin
mengukur 6 Volt,maka atur saklar selector ke 12 Volt (khusus Analog Multimeter)
3. Untuk menghindari terjadi kerusakan pada multimeter, apabila tidak mengetahui
tingginya tegangan yang akan diukur, maka lebih baik jika memilih skala tegangan yang
paling tinggi .
4. Sambungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Probe Merah disambungkan
dengan terminal Positif (+) dan Probe Hitam disambungkan ke terminal Negatif (-). Hati-
hati agar jangan sampai terbalik, karena tengangan DC memiliki polaritas.
5. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.
Gambar 2. 3 Pengukuran Tegangan DC
Cara Mengukur Tegangan AC (AC Voltage)
1. Atur terlebih dahulu saklar selektor ke posisi ACV
2. Pilih skala yang sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Apabila ingin
mengukur 220 Volt, putar saklar selector ke 300 Volt (khusus Analog Multimeter)
3. Apabila tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka lebih baik jika
memilih skala tegangan yang paling tinggi untuk menghindari terjadi kerusakan pada
multimeter.
4. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Untuk Tegangan AC probe
boleh terbalik, karena tidak ada polaritas Negatif (-) dan Positif (+)
5. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.
Gambar 2. 4 Pengukuran Tegangan AC
7
2.2. Mengukur Arus Menggunakan Multimeter
2.2.1. Pengertian Arus Listrik
Arus listrik adalah sebuah aliran yang terjadi akibat jumlah muatan listrik yang mengalir dari
satu titik ke titik lain dalam suatu rangkaian tiap satuan waktu. Arus listrik terjadi akibat adanya
beda potensial atau tegangan pada media penghantar antara dua titik. Semakin besar nilai
tegangan antara kedua titik tersebut, maka akan semakin besar pula nilai arus yang mengalir
pada kedua titik tersebut. Satuan arus listrik dalam internasional yaitu A (ampere), dengan
penulisan rumus arus listrik ditulis dalam simbol I (current).
Pada umumnya, aliran arus listrik mengikuti arah aliran muatan positif. Dengan kata lain, arus
listrik mengalir dari muatan positif menuju muatan negatif, atau bisa diartikan bahwa arus
listrik mengalir dari potensial tinggi menuju potensial rendah.
Berdasarkan arah alirannya, arus listrik dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yakni
• Arus Searah (Direct Current/DC), arus yang mengalir dari titik berpotensial tinggi
menuju titik berpotensial rendah.
• Arus Bolak-Balik (Alternating Current/AC), arus ini mengalir secara berubah-ubah
mengikuti garis waktu.
2.2.2. Cara Membaca Hasil Pengukuran Pada Multimeter
- Pada Arus Searah (DC)
Sebelum kita melakukan pengukuran, jangan lupa untuk set “0” dengan memutar knob
pengatur jarum sampai jarum penunjuk sejajar dengan angka 0 pada baris angka skala DC,
setelah dilakukan set “0” barulah kita dapat menggunakan multimeter untuk mengukur
tegangan.
Gambar 2. 5 Jarum Penunjuk
8
Besaran arus listrik secara sistematis dirumuskan dengan dengan rumus :
Catatan :
Untuk melakukan pengukuran arus maka rangkaian mesti
dibuka atau diputus kemudian menghubungkan terminal
alat ukur pada titik yang telah terputus tersebut.
Gambar 2. 6 Pengukuran Arus DC
Cara Membaca Hasil Pengukuran :
1. Ukur tegangan menggunakan multitester dengan memutar saklar pemilih ke
skala pengukuran DCV pada skala terbesar terlebih dahulu DCV 1000 (untuk
menghindari multitester terbakar akibat tegangan yang diukur melebihi
kemampuan multitester, jika jarum tidak bergerak / hanya bergerak sedikit
sehingga susah untuk dibaca maka putar saklar pemilih ke skala satu tingkat
dibawahnya(DCV 250), jika belum terbaca lagi turunkan lagi menjadi DCV 50
dan seterusnya, jika sudah sampai skala DCV terkecil dan jarum tetap tidak
bergerak itu artinya tidak ada tegangan yang terdeteksi
2. Lihat angka saklar pemilih
3. Lihat skala maksimal yang sebanding dengan saklar pemilih untuk
mempermudah perhitungan (contoh : jika saklar penunjuk 1000 maka skala yg
dipilih adalah 10, jika saklar penunjuk 250 maka skala yang dipilih adalah 250,
jika saklar penunjuk 50 maka skala yang dipilih adalah 50)
4. Lihat angka yang ditunjuk jarum pada deret angka yang segaris dengan skala
maksimal yang kita pilih pada langkah nomor 3
5. Hasil pengukuran adalah angka skala : angka skala maksimal x saklar pemilih
(pilih deret angka yang skala maksimalnya mudah diperbandingkan dengan
dengan saklar pemilih)
9
Contoh Pengukuran :
Gambar 2. 7 Pengukuran Arus DC
- Pada Arus Bolak-balik (AC)
Untuk cara membaca dan mengukur tegangan AC ataupun Ampere DC (DCA)
maka langkah yang harus dilakukan adalah sama seperti langkah mengukur tegangan
DC / DCV, hanya saja saklar pemilih diarahkan pada pengukuran ACV / DCA (bukan
DCV), sebagai contoh gambar berikut
Gambar 2. 8 Pengukuran Arus AC
Catatan :
Dalam pemasangannya, multimeter harus dipasang secara seri dengan alat listrik yang akan
diukur kuat arus listriknya. Terminal positif multimeter dihubungkan ke kutub negatif sumber
arus. Adapun terminal negatif amperemeter dihubungkan ke kutub positif sumber arus,
perhatikan gambar (a). Sedangkan untuk bagan rangkaiannya tampak seperti gambar (b)
Gambar 2. 9 Arus
10
Secara sistematis kuat arus listrik dirumuskan dengan rumus berikut :
Rumus Kuat Arus Listrik :
Rumus Hubungan Antara Kuat Arus Listrik dan Beda Potensial :
Rumus Hukum Kircoff 1
Σ Imasuk = Σ Ikeluar
Rumus Hukum Kirchoff 2
Contoh Soal !
1. Sebuah arus listrik yang melewati sebuah hambatan dalam suatu rangkaian dengan
besar arus listrik adalah 4,0 ampere dan dalam kurun waktu 10 sekon,
Berapakah besar muatan listrik nya ?
Penyelesaian :
Diketahui
I = 4,0 ampere
t = 10 sekon
Berapakah besar muatan listrik nya ?
Jawab
Rumus nya adalah I = Q/t
4,0 ampere = Q/10 sekon
= 4,0 ampere x 10 sekon
Q = 40 C
Maka, besar muatan nya sebesar 40 C
1. Arus listrik 2 Ampere mengalir pada kawat penghantar dengan beda potensial nya yang di
kedua ujung nya adalah 12 V.
11
Berapakah hambatan kawat itu ?
Penyelesian
Diketahui
I=2A
v = 12 V
Hambatan pada kawat ?
Jawab
Rumusnya yaitu R = V/I
R = 12 V/2A
R=6Ω
Maka, besar hambatan kawat tersebut adalah 6 Ω
3. Diberikan sebuah rangkaian yang terdiri dari dua buah loop dengan data sebagai berikut
:
E1 = 6 volt
E2 = 9 volt
E3 = 12 volt
Kuat arus yang melalui R1 , R2 dan R3
Penyelesaian:
Kuat arus yang melalui R1 , R2 dan R3
Langkah-langkah standar :
1. menentukan arah arus
2. menentukan arah loop
3. masukkan hukum kirchoff arus
4. masukkan hukum kirchoff tegangan
5. menyelesaikan persamaan yang ada
12
Misalkan arah arus dan arah loop seperti gambar berikut :
Loop 1 Loop 2
13
2.3. Mengukur Hambatan Menggunakan Multimeter
Hambatan merupakan komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menghambat dan
mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika. Satuan nilainya atau adalah Ohm.
Disini kita akan mengukur nilai hambatan pada resistor.
2.3.1. Jenis-jenis resistor
•Resistor yang nilainya tetap.
•Resistor yang nilainya dapat diatur, atau disebut juga dengan variable resistor ataupun
potensiometer.
•Resistor yang nilainya dapat berubah sesuai dengan intensitas cahaya, biasanya disebut
dengan LDR atau Light Dependent Resistor.
•Resistor yang nilainya dapat berubah sesuai dengan perubahan suhu, disebut dengan PTC
(Positive Temperature Coefficient) dan NTC (Negative Temperature Coefficient).
2.3.2. .Fungsi Resistor
• Membatasi arus listrik yang mengalir/ menurunkan tegangan
• Untuk aplikasi DC yang membutuhkan keakuratan tinggi. Contoh aplikasi penggunaan
resistor ini adalah DC Measuring equipment, dan reference gulators untuk voltage
regulator dan decoding Network.
• Sebagai standart di dalam verifikasi keakuratan dari suatu alat ukur resistive.
• Pengatur tegangan output pada power supplay.
• Untuk aplikasi power karena membutuhkan frekuensi respon yang baik, daya yang
tinggi dan nilai yang lebih besar daripada power wirewound resistor.
• Pembagi tegangan.
2.3.3. Menghitung nilai resistansi dengan kode warna
Untuk mengetahui nilai resistansi, kita dapat menggunakan kode warna yang terdapat
pada resistor.
Resistor empat warna
Jenis yang yang paling banyak digunakan pada perangkat elektronik. Untuk bisa
membaca kode warna pada resistor, kita perlu memahami pita warna dan arti dari warna
tersebut.
14
Gambar 2. 10 Resistor
Pita ke-1 dan ke-2, dalam resistor empat warna melambangkan nilai resistensi. Pita ketiga
mengenai jumlah nol atau faktor pengali untuk menghitung nilai resistensi. Pita ke-4
menggambarkan tentang nilai toleransi yang dimiliki oleh resistor.
Berikut tabel kode warna beserta artinya pada resistor empat warna :
Gambar 2. 11 Keterangan Warna Resistor
Cara menentukan pita pertama untuk melakukan perhitungan adalah dengan
memperhatikan tabel di atas. Contoh jika kita menentukan warna pertamanya warna emas,
maka itu tidak mungkin karena warna emas dan perak pada tabel tidak ada dalam kolom
angka/nilai. Jadi warna gelang emas harus berada paling akhir yang berfungsi sebagai toleransi.
Cara lainnya adalah dengan melihat jarak gelang yang berada di ujung dengan gelang
sebelumnya. Biasanya gelang warna yang berfungsi sebagai toleransi memiliki jarak yang lebih
lebar dengan gelang di geleng sebelumnya.
15
2.3.4. Cara membaca nilai resistor dengan kode angka
Penggunaan kode warna pada resistor biasanya digunakan pada jenis resistor berdaya besar
pada jenis SMD.
W = Watt
R = artinya dikali 1 ( 100 )
jika huruf R diletakan sesudah angka yang menunjukan nilai hambatan resistor misal 5R itu
artinya 5 Ohm, tetapi jika huruf R diletakan sebelum angka yang menunjukan nilai hambatan
misal R5 maka itu artinya 0,5 ohm.
K = artinya dikali 1000 ( 103 )
misal 4K berarti nilainya 4000 Ohm
M = artinya mega atau dikali 1.000.000 ( 106 )
Jika kode huruf diletakan di akhir kode maka huruf tersebut menunjukan kode untuk toleransi.
Rinciannya sebagai berikut.
J artinya toleransi ± 5 %
K artinya toleransi ± 10 %
M artinya toleransi ± 20 %
Contoh :
Gambar 2. 12 Resistor
Arti kode resistor di atas adalah :
5W = 5 Watt, artinya resitor tersebut mempunyai daya sebesar 5 watt
3R3 = 3,3 Ohm, artinya mempunyai nilai resistansi sebesar 3,3 Ohm
J = toleransi sebesar 5%
16
Contoh :
Sebuah resistor dengan kode 10W22RK memiliki arti :
10W = 10 watt
22R = 22 Ohm
K = toleransi 10%
2.3.5. Cara menentukan nilai resistansi dengan menggunakan multimeter
Sebelum mengukur resistor, kita harus melakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan
menyatukan ujung kedua probe (+-) menjadi satu.
Jika dengan menyatukan ujung probe seperti cara di atas jarum penunjuk multimeter belum
menunjukan angka 0 maka kita dapat memutar knop adj sampai jarum penunjuk menunjuk
skala nol. Jika kalibrasi multimeter sudah dilakukan, kita tinggal melakukan pengukuran
Adapun langkah pengukuran adalah sebagai berikut :
1. Siapkan multimeter.
2. Pasang probe merah pada terminal (+) dan probe hitam pada terminal (–). Pasanglah
probe sesuai terminalnya.
3. Atur skala selektor multimeter pada bagian ohm meter dengan skala terkecil dahulu.
4. Hubungkan probe merah pada kaki resistor dan probe warna hitam pada kaki resistor
yang lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah tangan jangan sampai menyentuh kedua
kaki resistor, kalau satu tidak masalah. Karena jika kita menyentuh keduanya, akan
mempengaruhi hasil pengukuran karena tubuh kita termasuk konduktor yang memiliki
hambatan juga.
5. Baca hasil pengukuran dengan mengalikan skala dengan angka yang ditunjuk oleh
jarum penunjuk.(Pada saat pembacaan, jika jarum Ohm meter bergerak terlalu ke
kanan, dan sulit untuk membacanya, maka skala pada selektor harus diubah ke skala
yang lebih besar. Setiap pergantian skala selektor harus dilakukan kalibrasi agar tidak
berpengaruh pada hasil pengukuran).
Hasil pengukuran dan nilai gelang warna pada body resistor harus sama atau mendekati, tetapi
terkadang praktik di lapangan berbeda. Berikut penyebab perbedaan nilai terlalu signifikan :
• Human Error (kesalahan Pada Pengguna)
Kesalahan yang disebabkan karena pengguna terjadi karena beberapa faktor, yaitu :
- Penentuan skala pada selektor yang kurang tepat.
Hal ini dapat menyebabkan pembacaan yang kurang akurat karena bisa jadi jika skala selektor
terlalu besar maka jarum akan menunjuk terlalu ke kanan atau jika skala selektor terlalu kecil
maka jarum akan terlalu ke kiri.
17
- Posisi pembaca kurang tepat.
Saat membaca alat ukur, posisikan diri tepat di depan dan tengah. Jangan condong pada bagian
tertentu agar hasil pembacaan lebih akurat.
• Alat ukur yang tidak presisi atau rusak
Gunakanlah alat ukur dengan kondisi yang masih bagus karena jika alat sudah terlalu lama
digunakan bisa saja kumparan putar yang sudah berkarat atau proses kalibrasi yang kurang
dapat mempengaruhi hasil pengukuran.
• Adanya nilai toleransi pada resistor
Setiap resistor memiliki nilai toleransi yang berfariasi, tergantung dari bahan dasar yang
digunakan dalam prmbuatan resistor. Nilai toleransi merupakan batas nilai atas dan bawah dari
sebuah resistor.
Contoh, resistor dengan nilai 1K Ohm memiliki nilai tolerasni 10%, artinya nilai yang terukur
dalam ohm meter bisa lebih 10% atau Kurang 10% dari 1K ohm. Pada resistor yang terbuat
dari karbon akan memiliki toleransi yang lebih besar dari pada resistor yang berbahan dasar
film metal.
18
2.4. Kesalahan Dalam Pengukuran Dan Cara Mengatasinya
Kesalahan yang ditimbulkan dalam pengukuran multimeter ini dibagi dalam 3 bagian, terdiri
dari kesalahan umum, kesalahan tidak disengaja, kesalahan sistematis yang terbagi dalam 2
kesalahan lagi :
2.4.1. Kesalahan umum
Kesalahan ini disebabkan oleh manusia itu sendiri, meliputi kesalahan pembacaan atau
penafsiran pembacaan, kesalahan pencatatan, ketidaktepatan penyetelan posisi nol jarum,
kesalahan penempatan saklar pilih dan kesalahan dari hubungan atau pemasangan alat ukur
yang tidak baik.
Kesalahan ini dapat dikurangi dengan cara melakukan pengukuran oleh beberapa orang
kemudian ditentukan harga rata-rata dari hasil pengukuran dan perbanyak latihan.
2.4.2. Kesalahan yang tak disengaja
Kesalahan ini diakiabatkan oleh penyebab-penyebab yang tidak disadari, kesalahan ini
biasanya hanya kecil tapi penting pada kegiatan pengukuran yang memerlukan ketelitian.
Kesalahan ini dapat dikurangi dengan cara lebih meningkatkan konsenstrasi saat melakukan
pengukuran serta tidak bergurau dan harus fokus.
2.4.2. Kesalahan Sistematis
2.4.2.1. Instrument Error
Kesalahan ini terjadi karena kekurangan dari alat ukur itu sendiri. Kelemahan yang terjadi pada
alat ukur listrik merupakan kesalahan yang tidak dapat dihindari dan dapat timbul karena
gesekan antar komponen, pemanasan diri akibat arus yang mengalir, faktor usia alat.
Kesalahan seperti ini dapat dikurangi dengan memilih alat ukur yang tepat untuk pemakaian
teratur, kalibrasi terhadap instrument standart
2.4.2.2. Enviromental influence (kesalahan pengaruh lingkungan)
Kesalahan ini terjadi karena pengaruh lingkungan atau kondisi luar seperti pengaruh medan
magnet atau medan elektrostatis, dampak perubahan temperature sekitar, kelembaban, getaran,
dan tekanan udara.
19
Kesimpulan
1. Multimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tegangan, arus, dan
hambatan pada suatu benda listrik atau rangkaian listrik
2. Multimeter memiliki 2 jenis yaitu multimeter digital dan multimeter analog
3. Untuk mengukur arus listrik maka alat ukur yang digunakan dipasangkan secara seri
dengan rangkaian kelistrikan yang akan diukur (terminal positif dihubungkan ke kutub
negatif sedangkan terminal negatif dihubungkan ke kutub positif)
4. Untuk mengukur hambatan pada komponen elektronika maka benda tersebut harus
dilepas dari rangkaian kelistrikan atau tidak ada arus listrik yang mengalir pada
komponen yang akan diukur (pasang probe pada masing-masing ujung benda yang
akan diukur)
5. Untuk mengukur tegangan dilakukan secara paralel (probe positif pada alat ukur
dipasangkan pada terminal positif sedangkan probe negatif dipasangkan pada terminal
negatif)
20
Daftar Pustaka
Agah Sutiagah, F. M. (2013). Teknik Kelistrikan dan Elektronika Instrumentasi.
Kurriawan Budi Pranata, C. S. (2018). Elektronika Dasar 1. Malang.
Sri Waluyanti, D. S. (2008). Alat Ukur dan Teknik Pengukuran Jilid 1. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan.
Fajar P., dkk., (2000). BMP : Alat Ukur Listrik, Univeritas Terbuka.
Soedjana, S. (1979). Pengukuran dan Alat –alat Ukur Listrik. Jakarta : Pradnya Paramita.
Pakpahan, Sahat. 1985. Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran. Jakarta:Erlangga
Sawhney, A..K. 1990. A Course in Electical and Electronic Measurements and
Instrumentation. Delhi: Dhanpat Rai & Sons
Basuki, Drs dkk, 1998, Multimeter, Dikmenjur, Jakarta
Cooper W.D., 1985, Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran, Jakarta : Erlangga.
Djumadi, Drs dkk, 1999, Pengukuran Listrik, Angkasa, Bandung
21