The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

3.1 Memahami konsep berpikir kronologis, diakronis, sinkronik, ruang, dan waktu dalam sejarah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by edi santoso, 2020-12-19 07:15:53

Konsep Berpikir Diakronis Dalam Sejarah

3.1 Memahami konsep berpikir kronologis, diakronis, sinkronik, ruang, dan waktu dalam sejarah

Keywords: Untuk Kelas X Semester 1

Oleh: Edi Santoso Putro
Untuk SMA Kelas X Semester 1

Cover……………………………………………………………………X
Daftar isi……………………………………………………………..1
Penyampaian Kompetensi…………………………………..2
Pengertian Konsep Berpikir Diakronis…………………3
Ciri-Ciri Konsep Berpikir Diakronis………………………6
Tujuan Konsep Berpikir Diakronis……………………...7
Contoh-Contoh Konsep Berpikir Diakronis………….8

1

 KD 3.1 Memahami konsep berpikir kronologis, diakronis,
sinkronis, ruang, dan waktu dalam sejarah

Materi
 Memahami konsep berpikir diakronis dalam sejarah
Tujuan
 Setelah memperhatikan materi yang disampaikan guru melalui

zoom dengan media gambar dan Power Point, siswa dapat
memahami konsep berpikir diakronis dalam sejarah
 Setelah melihat tayangan video yang disediakan guru dan
mengakses sumber belajar lain tentang konsep berpikir diakronis
dalam sejarah, siswa dapat memberikan contoh-contoh konkrit
mengenai konsep berpikir diakronis dalam sejarah

2

 Menurut Kuntowijoyo, pada dasarnya Kuntowijoyo
sejarah merupakan ilmu diakronis Galtung
yang memanjang dalam waktu tetapi
pada ruang yang sempit, Sejarah
bersifat diakronis karena berhubungan
dengan perjalanan waktu.

 Menurut Galtung, sejarah adalah ilmu
diakronis berasal dari kata
diachronich; ( dia dalam bahasa latin
artinya melalui/ melampaui dan
chronicus artinya waktu ).

 Diakronis artinya memanjang dalam
waktu tetapi terbatas dalam ruang.

3

 Diakronik berasal dari kata
"diachronich".

 Terdiri dari dua kata, "dia" dalam bahasa
latin artinya melalui atau melampau dan

 "chronicus" yang artinya waktu. Sehingga
diakronis artinya memanjang dalam
waktu tetapi terbatas dalam ruang.

4

 Pengertian lain dari diakronik adalah
cara berfikir secara kronologi atau
berurutan dalam menganalisa suatu
kejadian, kronologis disini merupakan
catatan kejadian yang berurutan
sesuai waktu saat kejadiannya.

 Diakronik sering disamakan dengan

kronologi karena supaya kita

mempelajari suatu sejarah bisa

teratur mengenai kejadian-

kejadiannya dan tidak acak-acakan,

sehingga kita mengetahui kronologi

waktu kejadian sejarah tersebut

secara berurutan.

5

 Mempelajari suatu kejadian sejarah seiring dengan
berlalunya waktu.

 Sering digunakan pada ilmu mempelajari sejarah.

 Cakupan kejiannya sangat luas.

 Umumnya kajiannya bersifat historis atau sejarah.

 Kajiannya memanjang dan memiliki dimensi waktu.

 Mementingkan proses saat terjadinya suatu
peristiwa.

 Sifatnya dinamis.

 Memandang kejadian dalam masyarakat sebagai
suatu yang terus bergerak yang memiliki hubungan
sebab-akibat.

 Mempelajari kehidupan di masyarakat secara
memanjang dan memiliki dimensi waktu.

 Dapat menguraikan proses perubahan peristiwa
yang terus terkadi dari waktu-ke waktu.

6

 Tujuan diakronik yakni untuk
mengajarkan kita cara berfikir
secara kronologis, secara teratur
dan berurutan atau supaya kita
mempelajari sejarah sesuai urutan
terjadinya peristiwa dalam sejarah
tersebut.

 Membantu merekonstruksi kembali
suatu peristiwa berdasarkan urutan
waktu yang sama di tempat yang
sama di tempat berbeda yang terkait
peristiwanya.

7

8

Urutkanlah kabinet demokrasi liberal dimuali dari yang awal
terbentuk hingga akhir dekrit presiden 1 Juli 1959 !

1. Sukiman 2. Burhanuddin 3. Ali 1 4. Ali 2

5. Natsir 6. Djuanda 7. Wilopo

9

Urutkanlah Raja-Raja Singasari mulai
dari yang tertua !

1. Kertanegara 2. Ken Arok 3. Tohjaya

4. Wisnuwardhana 5. Anusapati
10

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah.
Yogyakarta: Bentang Budaya.

Syamsudin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah.
Yogyakarta : Penerbit Ombak

Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian
Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1999

11

Terimakasih 


Click to View FlipBook Version