Pemerintahan Orde Baru Dalam Pandangan Asvi Warman Adam
Yunita Indah Pratiwi
Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan
Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Asvi Warman Adam dalam menilai sejarah
pemerintahan Orde Baru dan mengevaluasi rekayasa sejarah pemerintahan Orde Baru dari hasil
tulisan Asvi Warman Adam yang bersifat kontroversial. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan
data yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Data diambil dari buku-buku dan
tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini disusun berdasarkan metode
penelitian historis dengan tahapan: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi,
dan penulisan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah mentalitas dan dibantu
dengan teori Theo Van Leeuwen dengan model penulisan deskriptif analitis. Asvi Warman Adam
sebagai seorang sejarawan akademik dalam pergulatan intelektualnya tidak lepas dari aliran sejarah
tempat ia melakukan studi, yakni tempat berkembangnya aliran sejarah baru atau yang dikenal
sebagai mazhab Annales. Aliran sejarah ini pula yang turut mempengaruhi pandangan Asvi Warman
Adam dalam tulisan-tulisannya yang lebih cenderung bersifat alternatif dalam penulisan sejarah
Indonesia kontemporer pasca reformasi dengan perspektif sejarah korban. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa (1) lahirnya reformasi memberikan perubahan sikap masyarakat untuk
melakukan pemikiran dan evaluasi pemerintahan Orde Baru dengan memunculkan fakta dan
interpretasi baru tentang rekayasa sejarah Orde Baru (2) sejarawan Asvi Warman Adam menafsirkan
yang terjadi dalam rezim Orde Baru adalah sesuatu yang tidak normal, sejarah dimanfaatkan untuk
kepentingan politik penguasa dan rezim. Orde Baru dijalankan oleh elite penguasa yang merestui
kejahatan kemanusiaan dan pengendalian cerita sejarah (3) Dekonstruksi dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran sejarah, bukan kesadaran mitos dan memberantas irasionalitas serta
indoktrinasi sejarah.
Kata kunci: rekayasa sejarah orde baru, asvi warman adam
Abstract
This study aims to determine the thoughts of Asvi Warman Adam in assessing the history of the New
Order government and evaluating the engineering of the history of the New Order government from
the controversial writings of Asvi Warman Adam. In this study, the data collection technique used is
library research. Data is taken from books and writings relating to this research. This research was
compiled based on historical research methods with stages: topic selection, source collection,
verification, interpretation, and writing. The approach used is the historical mentality approach and
assisted by Theo Van Leeuwen's theory with analytical descriptive writing model. Asvi Warman
Adam as an academic historian in his intellectual struggle can not be separated from the flow of
history where he conducted studies, namely the development of a new historical flow or known as
the Annales school. This historical flow also influences Asvi Warman Adam's view in his writings
which are more likely to be alternative in the writing of contemporary Indonesian history post-
reform with the historical perspective of the victim. The results of this study indicate that (1) the
birth of the reforms gave a change in the attitude of the people to do New Order government
thinking and evaluation by raising facts and new interpretations of New Order history engineering
(2) historian Asvi Warman Adam abnormal, history is used for the political interests of the ruler and
the regime. The New Order was run by the ruling elite who blessed the crimes of humanity and the
control of historical stories (3) Deconstruction was carried out to foster historical awareness, not
awareness of myths and eradicate historical irrationality and indoctrination.
Keywords: new order engineering history, asvi warman adam
PENDAHULUAN pemerintahan yang diselenggarakan secara
represif dan teror.
Penulisan sejarah Indonesia telah
Pemikiran yang pertama tentang
menjadi polemik di penghujung abad ke-XX penyelenggaraan pemerintahan Orde Baru
merupakan keniscayaan sehingga tidak perlu
seiring bergulirnya reformasi yang memberi dievaluasi dengan memakai sudut pandang
ideologi Pancasila, sedangkan pemikiran yang
peluang seluas-luasnya untuk mengemukakan kedua membuka peluang untuk
terselenggaranya evaluasi penyelenggaraan
pendapat secara terbuka. Keterbukaan ini pemerintahan karena didukung oleh ideologi
yang sedang berkembang dan menjadi trend
juga merambah di kalangan akademikus dan di dunia yakni liberalisme atau hak kebebasan
untuk berpendapat. Pada era Reformasi ini,
ilmuwan, sehingga acap kita dengar dan baca hasil pemikiran dan penilaian terhadap
pemerintahan Orde Baru terorientasi pada
pernyataan-pernyataan yang cenderung kebijakan-kebijakan pemerintahan Orde Baru
yang belum tertulis di buku sejarah.
berseberangan dengan pandangan umum. Pandangan ini dapat dilihat dari pemikiran
salah satu tokoh intelektual akademik seperti
Pandangan umum yang mengemuka Asvi Warman Adam, yang secara terbuka
mengkritik pemerintahan Orde Baru.
bahwa pemerintahan Orde Baru yang
Dalam tulisannya, Asvi Warman Adam
dipimpin oleh Soeharto merupakan menyebut Penataran P4 dilaksanakan untuk
mencuci otak bangsa, dan yang paling
pemerintahan yang demokratis dengan fenomenal adalah pandangan Asvi Warman
Adam terkait kasus penumpasan PKI selama
indikator yang jelas dengan adanya pemilihan pemerintahan Orde Baru dan membawa
nama Soeharto sebagai orang yang
umum yang dapat diselenggarakan sebanyak bertanggung jawab terkait penahanan di
kamp Pulau Buru yang melibatkan orang-
enam kali dari 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, orang yang tertuduh sebagai pelaksana
Gerakan 30 September atau PKI. Selain itu,
dan 1997 yang diikuti oleh partai-partai politik Asvi Warman Adam dalam pandangannya
menganggap bahwa selama pemerintahan
dan golongan yang merupakan ciri dari Orde Baru, Soeharto telah merestui adanya
peristiwa pembunuhan misterius (petrus).
penyelenggaraan negara demokrasi. Sebagai Dalam pandangannya yang lain, Asvi Warman
Adam juga mengaitkan sejarah Timor Timur
negara demokrasi secara teoritis bahwa sebagai suatu persoalan yang selama
pemerintahan Orde Baru masih menjadi
rakyat mempunyai hak untuk bersuara karena perdebatan sebagai pendudukan, penjajahan,
atau integrasi di Timor Timur. Pandangan Asvi
pada hakikatnya demokrasi itu adalah Warman Adam berikutnya terkait dengan
peran historis Soeharto yang dibesar-
perwujudan pemerintahan yang besarkan selama pemerintahan Orde Baru
yang digambarkan melalui film ataupun buku.
diselenggarakan oleh rakyat secara langsung
Asvi Warman Adam lebih menonjolkan
bahwa rakyat dapat menentukan pilihan kekurangan daripada kelebihan di masa Orde
Baru. Hal ini juga merupakan salah satu
pemimpin yang sesuai keinginannya, bentuk kritik Asvi Warman Adam terhadap
kebijakan Presiden Soeharto semasa
sedangkan yang tidak langsung, pemilihan
pemimpin diserahkan kepada lembaga yang
sudah ditentukan sebagai institusi perwakilan
Indonesia disebut MPR/DPR. Selama
pemerintahan Orde Baru mekanisme
pemerintahan itu berjalan dengan harmonis.
Perubahan politik di Indonesia pada 1998
memberi peluang untuk evaluasi
penyelenggaraan pemerintahan Orde Baru
ditandai sebagai pemerintahan yang
demokratis yakni, penerapan prinsip
penyelenggaraan Pancasila secara murni dan
konsekuen. Oleh karena itu, tafsir ulang
penyelenggaraan pemerintahan merupakan
keharusan sejarah jadi muncullah berbagai
pemikiran dan evaluasi tentang
kepemimpinan Orde Baru. Evaluasi ini dapat
kita lihat dari dua prespektif berbeda yang
memandang bahwa kepemimpinan Orde Baru
sesuai dengan azas pemerintahan yang
didukung oleh Undang-Undang, sedangkan
yang kedua melahirkan pemikiran yang
menganggap pemerintahan Orde Baru adalah
pemerintahan Orde Baru. Kebijakan yang sumber sejarah yang telah dikumpulkan.
telah terselenggara selama pemerintahan Terdapat dua jenis kritik sumber, yaitu Kritik
Orde Baru rupanya menyeret Presiden Eksternal dan Kritik Internal. (3) Interpretasi
Soeharto ke dalam jurang kegelapan sejarah berfungsi untuk menafsirkan atau memberi
Indonesia, ditambah dengan opini publik saat makna terhadap fakta dan narasi sejarah. (4)
ini yang mempertanyakan tentang kesahihan Penulisan Sejarah (historiografi) merupakan
Presiden Soeharto sebagai pemimpin Orde proses penyusunan fakta sejarah dan
Baru. Bahkan Asvi Warman Adam melalui berbagai sumber yang telah diseleksi dan
dekonstruksi sejarah Orde Baru menyebut diinterpretasi. Penulisan sejarah memiliki tiga
Soeharto sebagai Bapak Pelanggar Berat bagian penting yang harus diperhatikan yaitu
HAM. Oleh karena itu, jurang kegelapan pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan.
sejarah Orde Baru sebagaimana yang ditulis
Asvi Warman Adam memberi masukan dan Sumber data yang digunakan dalam
pandangan tersendiri bagi peneliti untuk penelitian ini meliputi: (1) Sumber Primer.
mengetahui sejauh mana Asvi Warman Adam Penggunaan sumber primer dalam penelitian
menilai dan memandang Orde Baru berdasar ini berupa buku-buku yang ditulis Asvi
pada kebijakan Presiden Soeharto sebagai Warman Adam dan beberapa kumpulan
seorang pemimpin. Oleh karena itu, penelitian tulisannya yang termuat di dalam pengantar
ini terangkum dalam judul penelitian sebagai buku pengarang lain, artikel yang ditulisnya,
berikut: “Pemerintahan Orde Baru Dalam dan hasil diskusi/ceramah yang dilakukannya.
Pandangan Asvi Warman Adam”. (2) Sumber Sekunder. Daliman (2012: 55)
menjelaskan bahwa “sumber sekunder
METODE disampaikan bukan oleh orang yang
menyaksikan atau partisipan suatu peristiwa
Metode adalah suatu cara, prosedur atau sejarah, ia melaporkan apa yang terjadi
teknik untuk mencapai suatu tuuan secara berdasarkan kesaksian orang lain”. Oleh
efektif dan efisien. Metode yang digunakan karenanya sumber sekunder yang
dalam penelitian ini, yaitu metode penelitian dikumpulkan dalam penelitian ini berupa
sejarah atau metode historis. buku-buku, jurnal, atau artikel yang
membahas pemikiran Asvi Warman Adam di
Penelitian Sejarah menurut Sjamsuddin dalam tulisannya. (3) Sumber Tersier. Dalam
(2012: 13) terdiri dari empat langkah diantara: sumber tersier, peneliti melengkapi daftar
(1) Pengumpulan sumber (heuristik), peneliti bacaan dari penulis sejarah yang membahas
melakukan pengumpulan sumber-sumber sejarah pemerintahan Orde Baru yang
sejarah melalui buku-buku (studi pustaka) memiliki proporsi pemikiran yang sama
dengan sumber utama buku-buku yang ditulis dengan Asvi Warman Adam.
langsung oleh Asvi Warman Adam, seperti
Pelurusan Sejarah Indonesia (Ombak, 2004, Teknik pengumpulan data yang
2007 dan 2009 edisi revisi); Soeharto: Sisi digunakan dalam penelitian ini adalah
Gelap Sejarah Indonesia (Ombak, 2004 dan kepustakaan. Teknik ini berkaitan dengan
2006); Menggugat Historiografi Indonesia kajian teoritis dan referensi lain yang
(ditulis bersama Bambang Purwanto, Ombak berkaitan dengan nilai, budaya, dan norma
2005 dan 2013); Seabad Kontroversi Sejarah yang berkembang pada situasi sosial yang
(Ombak, 2007); Membongkar Manipulasi diteliti. Dengan teknik kepustakaan, peneliti
Sejarah (Penerbit Buku Kompas, 2009); dan dapat menggunakan material yang terdapat di
Menguak Misteri Sejarah (Penerbit Buku ruang kepustakaan dan koleksi pribadi seperti
Kompas, 2010), selain itu beberapa tulisan buku-buku, dokumen, artikel, majalah, surat
Asvi Warman Adam yang dihasilkan di kata kabar, atau referensi lainnya yang berkaitan
pengantar buku lain, hasil ceramah maupun dengan masalah yang diteliti.
diskusinya yang terbit dalam artikel serta
daftar bacaan yang relevan dengan tema Teknik analisis data yang digunakan
penelitian. (2) Kritik Sumber (verifikasi) adalah teknik interpretasi data dengan
dilakukan untuk menguji validasi sumber- menafsirkan sumber-sumber yang telah
diverifikasi, yang kemudian dianalisis dengan
pendekatan sejarah mentalitas dan teori Theo memungkinkan munculnya penafsiran-
Van Leeuwen dengan model penulisan penafsiran baru terhadap peristiwa karena
deskriptif analitis. Pendekatan sejarah sejarah merupakan kajian interpretatif.
mentalitas dimaksudkan untuk memahami Sularto (2009) menuliskan bahwa ketertarikan
dari mana mulanya konteks penulisan Asvi Asvi Warman Adam terhadap pelurusan
Warman Adam yang cenderung bersifat sejarah khususnya tentang peristiwa 1965
kontroversial. Sedangkan penggunaan teori muncul setelah Reformasi. Pada 1999, Asvi
Theo Van Leeuwen berfungsi untuk menilai Warman Adam pernah diminta ceramah oleh
maksud dan arti dibalik tulisan-tulisan Asvi Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang
Warman Adam sebagai wacana pelurusan mengurusi bekas tahanan politik 1965. “Saya
sejarah Indonesia. terharu atas semangat juang mereka. Saya
terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia
HASIL DAN PEMBAHASAN sepuh itu mengumpulkan uang recehan.
Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan
Teknik interpretasi data dilakukan untuk sebagai honorarium ceramah saya”, tutur Asvi
mengetahui pandangan Asvi Warman Adam Warman Adam. Melalui ketekunannya, Asvi
dalam menilai rekayasa sejarah pemerintahan Warman Adam mengikuti dan meneliti segala
Orde Baru dalam tulisannya dan alasan Asvi narasi peristiwa 1965 yang berkembang
Warman Adam mendekonstruksi sejarah Orde selama ini. Hasil penelitian memunculkan data
Baru dari sisi gelap sejarah Indonesia. Melalui dan interpretasi baru yang membuat Asvi
pendekatan sejarah mentalitas akan Warman Adam bertindak melakukan
menjelaskan dua hal khusus, yaitu verstehen penulisan sejarah baru dalam berbagai tulisan
dan imajinasi sejarah. Verstehen digunakan dan kata pengantar buku yang berisi ajakan
untuk “memahami” (bukan “menerangkan”) menguak kebohongan sejarah, utamanya
sejarah, sebagaimana aktor sejarah ialah sekitar peristiwa 1965.
manusia dan bagaimana pihak penulis sejarah
mendeskripsikan dalam konteks “memahami” Beberapa tulisan Asvi Warman Adam
pelaku sejarah melalui unsur empati sebagai antara lain Soeharto: Sisi Gelap Sejarah
pemakna (orang luar) dan dimaknai (pikiran Indonesia (2006), Artikel berjudul Beda
subjektif). Sedangkan imajinasi sejarah Perawatan Soeharto dengan Sukarno (2006;
menggugah sensation atau contact peran para dalam buku Soeharto Sehat), Seabad
pemikir sejarah dalam menghadirkan cerita Kontroversi Sejarah (2007), Membongkar
sejarah seperti aslinya. Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan
Penggunaan teori Theo Van Leeuwen Peristiwa (2009), Pelurusan Sejarah Indonesia
merupakan pelengkap dari pendekatan (2009), Orang-Orang di Balik Tragedi (2009),
sejarah mentalitas. Teori ini digunakan untuk Menguak Misteri Sejarah (2010), Artikel
menafsirkan suatu peristiwa dan berjudul Sarwo Edhie Pelaku Sekaligus Korban
pemaknaannya, hal ini berkaitan dengan (2012; dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri
bagaimana masing-masing kelompok itu 1965), Kata Pengantar dengan judul Tragedi
ditampilkan dalam teks sejarah, ada pihak 1965, Tragedi Terbesar Dalam Sejarah Bangsa
atau aktor yang dengan strategi wacana (2012; tercantum dalam buku Reni Nuryanti,
tertentu hilang dalam teks. Dalam pengertian Tragedi Sukarno), Menggugat Historiografi
sempit, teori ini mengkritisi sesuatu hal yang Indonesia (2013; ditulis bersama dengan
tidak ditampilkan dalam teks-teks sejarah Bambang Purwanto).
yang lebih menonjolkan penafsiran sejarah
yang bersifat kontroversial. Dari berbagai tema diatas, tampak
bahwa penulisan sejarah Indonesia masih
Sejak Reformasi, penulisan sejarah yang membuka peluang munculnya beragam versi
bersifat kontroversial banyak bermunculan. terhadap satu peristiwa sejarah. Asvi Warman
Ahmad (2016: 9) menjelaskan bahwa Adam (2009: 8-11) menjelaskan ciri
kemunculan sejarah kontroversial merupakan gelombang penulisan sejarah Indonesia yaitu
sebuah keniscayaan dalam pengertian sejarah (1) penulisan sejarah “terlarang”, yang
sebagai cerita (histoire recite). Hal ini ditandai dengan munculnya beragaram versi
dan teori baru yang pada masa lalu hal ini sulit Soebiyono (Kamaluddin & Alfan, 2015: 104),
terjadi, (2) penerbitan sejarah akademis yang sebagaimana diungkapkan oleh Soeharto
kritis, seperti penerbitan karya ilmiah yang bahwa makna Orde Baru adalah peraturan
selama ini hanya dinikmati oleh kalangan seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan
terbatas, dan (3) penerbitan biografi tokoh negara yang kita letakkan kembali pada
terbuang yang berisi kesaksian dari para kemurnian Pancasila dan UUD 1945. Namun,
tokoh yang pada masa lalu dianggap sebagai Asvi Warman Adam dalam bukunya Soeharto:
tokoh yang “berbahaya” dan “terbuang”. Sisi Gelap Sejarah Indonesia halaman 125
Munculnya gelombang kontroversi dalam paragraf ketiga yang mengatakan bahwa
sejarah dengan demikian telah membuka “Penataran P-4 diadakan untuk mencuci otak
peluang munculnya sejarah kontroversial. bangsa”. Alasan Asvi Warman Adam terkait
pernyataan itu tidak dijelaskan secara
Asvi Warman Adam memilih masalah dan gamblang. Oleh karenanya, pernyataan Asvi
peristiwa yang representatif secara Warman Adam itu menimbulkan konsekuensi
kronologis, misalnya dalam kurun waktu yang luar biasa bagi ideologi negara. Cakupan
1945-1955, 1955-1965, 1965-1975, dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
seterusnya, sehingga penulis dapat Pancasila) bila dipahami secara mendalam
menyimpulkan bahwa ada sepuluh kasus yang merupakan suatu yang sakral untuk dijadikan
termuat didalam tulisan Asvi Warman Adam. penuntun dan pegangan hidup bagi sikap dan
diantaranya: Ekses Demokrasi Terpimpin tingkah laku setiap manusia Indonesia dalam
(penahanan tokoh Masyumi dan PSI tanpa kehidupan bermasyarakat dan kehidupan
diadili), Pembantaian Simpatisan PKI bernegara sebagaimana kelima sila yang ada
1965/1966, Penahanan di kamp. Pulau Buru, didalamnya. Penilaian Asvi Warman Adam
Kasus Timor Timur, Kasus Aceh, Kasus Irian yang menyatakan Penataran P4 sebagai
Jaya, Pembunuh Misterius (Petrus), Kasus pencuci otak bangsa bisa dinilai dan dipahami
Tanjung Priok, Kerusuhan 27 Juli 1996, dan sebagai penafsiran tunggal atau pribadi dari
Kerusuhan Mei 1998. Penentuan masalah dan Asvi Warman Adam sendiri yang memandang
peristiwa representatif yang dilakukan Asvi ideologi Negara sebagai alat politik
Warman Adam telah memasuki tahap periode pemerintahan Orde Baru. Namun setelahnya
kontemporer (pasca 1945). Pertama, sebagian di era reformasi ini bisa kita rasakan bahwa
tulisan memberikan perspektif yang beragam pengamalan Pancasila lambat laun telah
terhadap suatu permasalahan. Kedua, kajian terkikis oleh trend kebebasan dimana estetika
yang menghadirkan narasi alternatif untuk dan etika ditinggalkan, contohnya kritik
menggugat narasi yang telah mapan. tulisan dari Asvi Warman Adam diatas.
Berdasarkan dua kategori penulisan Henk Schulte Nordholt, Bambang
sejarah kontroversial di atas, sentimen Purwanto, dan Ratna Saptari (2013: 3)
penulisan Asvi Warman Adam di dalam menyatakan bahwa para sejarawan kritis
tulisannya merupakan implikasi dari kategori telah menunjukkan bahwa sejarah versi Orde
yang kedua yakni “gugatan”. Asvi Warman Baru telah membungkam suara dari pihak-
Adam mendekonstruksi pemikiran sejarah pihak yang dianggap mengganggu dan
berdasarkan dampak dari peristiwa sejarah mengancam pemerintahan militer yang
itu. Sehingga dalam kasus ini Asvi Warman berkuasa.
Adam memberikan trend penulisan sejarah
yang disebut “sejarah korban”. Sejarah Pemikiran Dan Evaluasi Asvi Warman Adam
“korban” merupakan sejarah yang ditulis Terhadap Sejarah Pemerintahan Orde Baru
berdasarkan perspektif dari pihak yang
merasa dirugikan atau yang menjadi korban Bagi para pengkritik sejarah
dalam suatu peristiwa atau penulisan sejarah. pemerintahan Orde Baru, penulisan sejarah
Orde Baru sebelum adanya Reformasi belum
Orde Baru secara resmi didefinisikan menapaki kajian krusial dalam penulisan
sebagai tatanan kehidupan negara dan bangsa sejarah. Adam (2006: 124) menjelaskan
yang diletakkan kembali pada pelaksanaan bahwa sejarah resmi merupakan sejarah
kemurnian Pancasila dan UUD 1945. institusi. Sejarawan militer Nugroho
Notosusanto adalah pemegang peran kunci bentuk pemikiran Asvi Warman Adam dalam
dalam penyusunan sejarah resmi Orde Baru. gambar lingkaran berwarna yang didasari dari
Versi mapan buku-buku sejarah masih pandangan Asvi Warman Adam didalam
digunakan oleh semua kalangan. Sebut saja tulisannya.
versi yang diterbitkan Sekneg RI tentang
Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Visualisasi Konsep Pemikiran
Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Asvi Warman Adam
Penumpasannya serta buku Sejarah Nasional
Indonesia. Namun, ketika Reformasi 1 2 34
bergejolak di Indonesia muncullah polemik
penulisan sejarah yang kala itu menganggap Keterangan gambar:
pemerintah Orde Baru telah memasung 1. Lingkaran abu-abu, peneliti ibaratkan
kreativitas intelektual sejarawan oleh bingkai-
bingkai ideologi doktriner dari sebuah sebagai rezim. Pemilihan warna abu-abu
kekuasaan yang otoriter. Seperti buku merupakan bentuk ketidakjelasan Asvi
Bayang-Bayang PKI yang tetap terbit di era Warman Adam dalam menentukan siapa
Orde Baru mendapat pembredelan dari rezim tersebut, “Orde Baru” atau
kejaksaan agung sebagaimana dituliskan Asvi “Soeharto”. Sehingga penggambaran
Warman Adam dalam buku Pelurusan Sejarah pemikiran Asvi Warman Adam tentang
Indonesia halaman 126. Kemudian Asvi rezim masih samar-samar.
Warman Adam juga menyematkan tulisan 2. Lingkaran kuning, peneliti ibaratkan
hasil resensinya terhadap buku Menyingkap sebagai teror. Dari cuitan Asvi Warman
Kabut Halim 1965 yang ia sebut sebagai buku Adam yang mengatakan bahwa yang
biru (untuk mengubah sejarah Orde Baru) terjadi di Orde Baru adalah sesuatu yang
sebagai koreksi dari buku putih (judul asli: tidak normal. Ini bisa saja menunjukkan
Gerakan 30 September, Pemberontakan apa yang terjadi selama Orde Baru bersifat
Partai Komunis Indonesia) yang dianggap para “gila”. Artinya proses pelaksanaan Orde
pengkritik sejarah pemerintahan Orde Baru Baru diwarnai dengan kengerian yang
lebih memojokkan AURI. sangat (menakutkan).
3. Lingkaran merah, peneliti ibaratkan
Asvi Warman Adam sebagai salah satu sebagai high risk-problem. Bagi Asvi
pengkritik sejarah Orde Baru menyampaikan Warman Adam resiko terbesar dari sejarah
pemikirannya dalam kata pengantar yang Orde Baru adalah pemanfaatan dan
ditulisnya pada buku Kronik ’65 halaman x pemalsuan sejarah yang membungkam
menyatakan bahwa pada “rezim Orde Baru seluruh elemen masyarakat.
yang terjadi adalah sesuatu yang tidak 4. Kotak hitam, peneliti ibaratkan sebagai
normal. Sejarah dimanfaatkan untuk mindset. Olah pikir penulisan Asvi Warman
kepentingan politik penguasa dan rezim”, hal Adam yang mengedepankan sejarah
ini adalah wajar dan dalam terminologi korban bisa saja memunculkan blind
disebut sejarah subjektif. Pertama, sesuatu perspective untuk menentukan siapa yang
yang tidak normal itu seperti apa? Kedua, bersalah dan bertanggungjawab. Terlalu
penguasa dan rezim mana di dalam sejarah mengedepankan sikap simpati maka akan
Indonesia yang tidak memanfaatkan sejarah membahayakan posisi sejarawan dalam
untuk kepentingan politik penguasa sejak penulisan sejarah.
Indonesia merdeka? Hal yang mutakhir dari
pemikiran Asvi Warman Adam yaitu
penggunaan kata “rezim”. Sekilas istilah
“rezim” bisa diartikan sebagai pemerintah
yang sedang berkuasa, namun makna lain
“rezim” bisa dikaitkan dengan kelompok-
kelompok dominan atau berpengaruh di
dalam masyarakat. Penulis mevisualisasikan
Tipologi Asvi Warman Adam tentang (stigma) masih terasa pada era reformasi ini”
merupakan cara untuk membandingkan
sejarah kontroversial yang termasuk ke dalam kondisi pada era Orde Baru yang masih belum
hilang meskipun sudah reformasi. Wacana ini
sejarah kontemporer berdasarkan tiga faktor, dibuat Asvi Warman Adam bahwa begitu
kuatnya kekuasaan masa itu untuk
yaitu:(1)Ketidaktepatan; (2)Ketidaklengkapan; mengendalikan mentalitas masyarakat
Indonesia tentang PKI.
dan (3) Ketidakjelasan dari fakta dan
Namun, gambaran kontra diksi dalam
interpretasi yang dilakukan dalam wacana diatas yaitu “berkesinambungan
sepanjang Orde Baru” dan “Soeharto memiliki
penyusunan suatu tulisan sejarah. Tipologi senjata ampuh untuk menjalankannya secara
seksama”. Dalam kalimat pertama, Asvi
diatas dalam kategori ketiga adalah tentang Warman Adam ingin memberi petunjuk
bahwa PKI ditumpas secara kesinambungan
hal-hal yang tidak jelas dalam sejarah selama Orde Baru. Penggunaan kata
“berkesinambungan” merupakan wacana
Indonesia seperti naskah asli Supersemar, abstrak yang dilakukan Asvi Warman Adam.
Bukan berarti Asvi Warman Adam sebagai
peristiwa Malari tahun 1974, petrus, dan penulis tidak mengetahui persoalan itu, tetapi
wacana ini digunakan untuk menggiring
peristiwa yang masih belum terbukti dan persepsi pembaca bahwa PKI-lah yang telah
dirugikan sepanjang Orde Baru. Dalam contoh
bersifat kabur (Adam dalam Ahmad, 2010: kalimat kedua “Soeharto telah memiliki
senjata ampuh”, sepertinya Asvi Warman
12). Adam sengaja meletakkan nama aktor
tersebut untuk menumbuhkan konflik
Tuntutan Asvi Warman Adam tentang pemikiran kepada pembaca, sehingga
muncullah Soeharto sebagai aktor utama
sejarah PKI, sudut pandangnya tentang dibalik Orde Baru.
sejarah PKI menggunakan pendekatan sejarah Menurut penilaian peneliti, jika
perspektif sejarah korban (dibaca: PKI dan
korban. Asvi Warman Adam ingin mengubah Simpatisannya) secara parsial di ceritakan ke
dalam penulisan sejarah oleh Asvi Warman
stigma negatif yang selama ini melekat pada Adam maka eksistensi golongan tersebut
lebih mendapat perhatian publik. Masyarakat
PKI melalui penceritaan sejarah korban. Versi secara koheren menyimpulkan bahwa PKI
setelah tahun 1965 tidak menerima prioritas
tunggal yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai warga negara Indonesia dan
diperlakukan secara biadab, ditambah dengan
Orde Baru tentang sejarah PKI menurut Asvi estimasi hak asasi manusia yang gencar
diperbincangkan di musim ini mengakibatkan
Warman Adam merupakan pemanfaatan tindakan pemerintahan Orde Baru terhadap
PKI maupun simpatisannya dianggap
sejarah untuk kepentingan politik penguasa. melanggar hak-hak asasi. Ini malah membuat
kekacauan bagi orang-orang yang ingin
Bukti untuk menunjukkan pemikiran diatas mengerti sejarah. Apabila sejarah dikisahkan
dengan stigma tidak suka maka secara kognitif
dapat kita lihat dari pemikiran Asvi Warman akan menggiring persepsi pembaca menjadi
tidak suka sesuai dengan hasil tulisan sejarah
Adam dalam bagian kata pengantar pada yang dibacanya. Asvi Warman Adam dalam
buku Kronik ’65 halaman x. Kicauannya
berbunyi: “Perintah untuk menumpas PKI
sampai ke akarnya menyebabkan gerakan
tersebut dilakukan secara sistematis dan
meluas (tanpa batas) serta
berkesinambungan sepanjang Orde Baru
bahkan (stigma) masih terasa pada era
reformasi ini. Dan Soeharto memiliki senjata
ampuh untuk menjalankan-nya secara
seksama”.
Strategi wacana yang dilakukan Asvi
Warman Adam dalam paragraf diatas
menampilkan aktor dalam teks. Wacana
diatas dibuat kontras dengan menampilkan
peristiwa atau aktor lain dalam teks. Kalimat
pertama dengan kata “menumpas”
menghadirkan dua aktor sekaligus, yakni siapa
yang ditumpas dan siapa yang menumpas.
Merujuk pada wacana diatas maka “PKI”
adalah korban sedangkan “Soeharto” adalah
pelaku. Kondisi ini menunjukkan bahwa Asvi
Warman Adam sebagai penulis berkeinginan
memarjinalkan posisi salah satu aktor yaitu
Soeharto. Penambahan informasi ,“bahkan
menulis sejarah pemerintahan Orde Baru obat nyamuk (sebuah metode kontra obat
terkesan tidak suka dengan Orde Baru, ia juga nyamuk). Obat nyamuk biasanya mulai
menuliskan Soeharto sebagai sisi gelap terbakar pada lingkaran paling luar. Dalam
sejarah Indonesia. Jika stigma awal dari pemusnahan kelompok kiri dan pendukung
pemikiran Asvi Warman Adam adalah Bung Karno dilakukan mulai dari lingkaran
ketidaksukaannya terhadap Orde Baru maka dalam, kemudian bertahap pada lingkaran
sulit bagi kita baik peneliti maupun pembaca kedua, seterusnya sampai lingkaran paling
menemukan tulisan Asvi Warman Adam yang luar. Lingkaran paling dalam adalah tokoh PKI
menganggap pemerintahan Orde Baru telah yang dibunuh tanpa diadili seperti Aidit dan
melakukan suatu kebijakan yang Nyoto, serta mereka yang termasuk tapol A
membawakan hasil bagi rakyat Indonesia, yang diajukan ke Mahmilub. Lingkaran kedua
sepertinya nihil untuk ditemukan. adalah tapol golongan B yang sebagian
(sebanyak 10.000 orang) dibuang ke Pulau
Kasus pembantaian massal juga Buru. Lingkaran ketiga adalah tapol golongan
disampaikan Asvi Warman Adam dalam kuliah C yang diwajibkan melapor kepada aparat
umum bertajuk Temuan Terbaru Tentang keamanan, sedangkan lingkaran keempat
Genosida 1965 yang dilaksanakan pada Rabu, adalah keluarga mereka yang dianggap “tidak
04 April 2018 di Ruang Audio Visual Jurusan bersih lingkungan”. Adam (2006: 37-38)
Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan.
melalui rekaman suara dari hasil kuliah umum Paragraf 2
Asvi Warman Adam yang didokumentasikan “Tindakan kerja paksa, penganiayaan,
penulis pada menit 00.10.25, “beberapa kasus penyiksaan, pembunuhan, dan tindakan tidak
diatas merupakan pelanggaran HAM berat manusiawi lainnya adalah tindakan yang
yang sifatnya sistematis dan meluas yang terangkai satu sama lain yang dilakukan terus-
identik dengan kejahatan kemanusiaan”. menerus setidak-tidaknya dalam kurun waktu
Sedangkan pembantaian massal merupakan 1969-1979. Tindakan ini merupakan
bentuk pengambilalihan kekuasaan yang pelaksanaan dari surat keputusan
dilakukan Soeharto menurut pandangan Asvi Pangkopkamtib SK No. KEP-044/KOPKAM/12
Warman Adam. Pemikiran diatas menurut /1970 tentang susunan tugas dan organisasi
pandangan penulis merupakan kritik yang Tefaat Buru”. Adam (2006: 43-44)
ditujukan untuk Soeharto, dimana perspektif
baru tentang fakta dan opini dibalik peristiwa Strategi wacana yang dipaparkan Asvi
1965 hakekatnya ingin mengubah peran dan Warman Adam pada paragraf 1 dan paragraf
posisi Soeharto terhadap peristiwa 1965 yaitu 2 merupakan bentuk tindak kejahatan yang
sebagai pemberantas yang cekatan dan jitu represif. Dengan melakukan tekanan,
menjadi “terlibat” atau “tersangka”. pengekangan, penahanan, serta penindasan
kepada golongan tertentu (dibaca: atau yang
Pemikiran Asvi Warman Adam juga dengan/ atau tanpa sengaja dimasukkan).
menyangkut penahanan di Pulau Buru. Kondisi dari korban dipaparkan seapik
Ditinjau dari pemikiran Asvi Warman Adam, mungkin dengan memusatkan perhatian
pengasingan golongan B (tidak cukup bukti terhadap hak-hak asasi yang didapat dari
untuk diadili) berdasarkan ketetapan TAP golongan tersebut. Namun dibalik penulisan
MPRS No. XXV/MPRS/1966 ke Pulau Buru itu, kita sebenarnya tau bahwa Asvi Warman
merupakan bentuk “penahanan” bagi orang- Adam telah memarjinalkan/memposisikan
orang yang dituduh terlibat G30S atau PKI. dengan buruk salah satu aktor yang
Pernyataan Asvi Warman Adam dalam buku menandatangani surat keputusan tersebut.
Soeharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia Siapa itu? Meskipun penulis tidak
menggambarkan bentuk pelanggaran berat menyebutnya, pastinya pembaca akan
Hak Asasi Manusia (HAM) akibat penahanan mengerti bila mencermati istilah
tersebut. “Pangkopkamtib”. Kekhawatiran peneliti
Paragraf 1 adalah ketika pembaca yang tidak memiliki
“Penghancuran PKI itu dilakukan dengan pemahaman sejarah Orde Baru dari sisi positif
metode kebalikan dari proses pembakaran namun terus-menerus menyelami gambaran
kontradiktif sejarah pemerintahan Orde Baru pemerintahan Orde Baru. Sebagaimana
dituliskannya dalam buku Seabad Kontroversi
yang jauh dari kesan peduli bisa menimbulkan Sejarah (2007: 46) yang berisi: “Semasa Orde
Baru diajarkan bahwa konseptor penyerbuan
kesenjangan dalam pemahaman sejarah itu itu adalah Letnan Kolonel Soeharto yang
ketika itu menjadi Komandan Wehrkreise
sendiri. Jika Asvi Warman Adam terus (wilayah pertahanan) III. Untuk itu dua
monument didirikan di Yogyakarta dan dua
membuat tulisan-tulisan sejarah film (“Janur Kuning”, 1979 dan “Serangan
Fajar”, 1981) dibuat untuk mengagungkan
pemerintahan Orde Baru tanpa memberi kepahlawanan Soeharto”.
konklusi yang tepat dari fakta dan narasi yang Dalam wacana diatas, penafsiran Asvi
Warman Adam mengarah kepada
tulisnya justru akan menimbun pemahaman individualitas Soeharto yang dilihatnya secara
pribadi. Soeharto menurut penafsiran Asvi
masyarakat Indonesia ke stigma tidak suka Warman Adam adalah orang yang senang
membanggakan diri dan memberi gelar diri
dengan sejarah bangsa sendiri. sebagai pahlawan. Bila konteksnya seperti itu,
berarti dapat dikatakan Soeharto merupakan
Kejahatan kemanusiaan merupakan pribadi yang tak punya rasa malu berdasar
pada penilaian dari Asvi Warman Adam.
wacana yang difokuskan Asvi Warman Adam
Pandangan Asvi Warman Adam terhadap
di dalam tulisannya. Seperti yang terdapat pemerintahan Orde Baru yang berjalan
selama tiga dekade digambarkan sebagai
pada buku Seabad Kontroversi Sejarah (2007: pemerintahan yang gelap. Gelap karena
kelompok yang menjalankannya
89), Asvi Warman Adam menuliskan jika menghalalkan segala cara untuk bertengger di
tahta kekuasaan. Karena Asvi Warman Adam
suplemen untuk guru sejarah di sekolah yang mengambil ruang lingkup penulisan yang
diawali dengan ketidaksukaannya dengan
dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan perintahan Orde Baru, meskipun ada wacana
yang meneriakkan keberhasilan pemerintahan
tahun 1999, masalah Timor Timur didekati Orde Baru maka baginya keburukan
pemerintahan Orde Baru jauh lebih banyak
dengan perspektif lama. Sampai hari ini kasus dari keberhasilan tersebut. Disini peneliti
menyampaikan apa yang perlu kita sadari dari
Timor Timur masih dianggap sebagai penulisan sejarah pemerintahan Orde Baru
tidak pernah terlepas dari perspektif baik dan
persoalan integrasi yang “sesuai dengan buruk. Namun jangan pernah menjadikan satu
perspektif untuk menilai periode sejarah yang
aturan/perundangan yang ada” demikian kita tulis sebab hal itu dapat mengikis rasa
persatuan dan kecintaan kita sebagai warga
dalih baku yang dipergunakan rezim Orde Negara Indonesia terhadap sejarah bangsa
sendiri.
Baru. Kasus pembunuhan di depan makam
PENUTUP
Santa Cruz tidak disebut sekalipun dalam
Kesimpulan
suplemen untuk guru tersebut. Bukankah itu Berdasarkan hasil analisis, temuan, dan
berarti kita menutup-nutupi sejarah? pembahasan yang telah dikemukakan pada
bab sebelumnya diperoleh kesimpulan bahwa
Asvi Warman Adam mengkritik penulisan era reformasi telah membawa perubahan
buku sejarah Indonesia tentang masalah
Timor Timur yang tidak lengkap terkhusus
kasus pembunuhan di makam Santa Cruz.
Dalam hal ini, peneliti menyoroti jika Asvi
Warman Adam bersimpati dengan rakyat
Timor Timur apabila penceritaan sejarah
mereka tidak diungkap sedemikian rupa di
penulisan sejarah Indonesia, namun disatu sisi
Asvi Warman Adam sendiri belum mampu
membuat penulisan sejarah yang utuh,
lengkap, dan jelas terkait masalah Timor
Timur. Apabila ia merasa tidak adil dengan
nasib rakyat Timor Timur terkait penulisan
sejarah yang berkenaan pembunuhan di
makam Santa Cruz, maka yang perlu
dilakukannya adalah menulis kembali sejarah
itu sesuai fakta dan data baru, bukan hanya
mengkritik pemerintahan yang terkait
dimasanya.
Pemikiran Asvi Warman Adam tentang
sejarah pemerintahan Orde Baru juga terletak
pada kasus pemanfaatan sejarah yang
menurutnya telah dilakukan oleh
besar dalam tatanan kehidupan masyarakat balik kasus-kasus yang terjadi semasa
Indonesia. Perubahan ini salah satunya pemerintahan Orde Baru yang ingin
ditandai dengan upaya evaluasi mengubah total peran dan posisi Soeharto
penyelenggaraan pemerintahan karena sebagai penyelamat serta pemberantas yang
didukung oleh ideologi yang sedang jitu dan cekatan menjadi “terlibat” atau
berkembang dan menjadi trend di dunia yakni “tersangka”. Sebagaimana Asvi Warman
liberalisme atau hak kebebasan untuk Adam mendekonstruksi sejarah Orde Baru
berpendapat. Pasca reformasi, Orde Baru bertujuan untuk mengajak kalangan
muncul sebagai objek kajian evaluasi dan sejarawan, para ahli, dan masyarakat
pemikiran masyarakat Indonesia yang bersifat Indonesia untuk berpikir holistik, memberi
kontroversial tatkala ditemukan fakta dan makna pedagogis, dan mencegah
interpretasi baru yang tidak sesuai dengan anakronisme maupun dramatisasi tokoh yang
versi sejarah versi Orde Baru. dapat menumbuhkan dendam kesumat turun-
temurun.
Asvi Warman Adam tampil sebagai
pelopor pelurusan rekayasa sejarah Orde Baru Saran
mengubah perspektif yang selama ini diyakini Penulisan sejarah Orde Baru dengan
masyarakat Indonesia tentang kehebatan
Orde Baru melalui perspektif sejarah korban. perspektif korban ada baiknya dilengkapi
dengan perspektif pelaku. Karena hanya
Proses pergulatan intelektual dari Asvi dengan mengambil satu perspektif akan
Warman Adam tidak lepas dari aliran sejarah menimbulkan ketidakseimbangan dan
tempat di mana ia melakukan studi, yakni kesenjangan dalam penulisan sejarah dan
tempat lahir dan berkembangnya aliran secara langsung merugikan pihak yang
sejarah baru atau yang sering dikenal dengan sengaja dihilangkan dari penceritaan sejarah.
mazhab Annales. Mereka ingin mengganti
sejarah politik menjadi sejarah yang lebih luas Sejarawan yang bijaksana ialah
dan manusiawi. Aliran sejarah ini pula yang sejarawan yang mampu menulis sejarah
turut memengaruhi pandangan Asvi Warman kontemporer bangsa ini tidak
Adam dalam tulisan-tulisannya yang lebih membingungkan generasi baru. Bangsa kita
cenderung bersifat alternatif dalam penulisan dibesarkan oleh sejarah, jangan sampai
sejarah Indonesia kontemporer pasca penulisan sejarah kontroversial membawa
reformasi. Beberapa hasil tulisannya, yaitu: 1) citrarasa historis kepada penyakit yang
Pelurusan Sejarah Indonesia; 2)Soeharto: Sisi membuat masyarakat menderita dengan
Gelap Sejarah Indonesia; 3) Menggugat sejarah bangsa sendiri. Bagi penikmat
Historiografi Indonesia (ditulis bersama sejarah, diharapkan hasil penelitian ini bisa
Bambang Purwanto); 4) Seabad Kontroversi menjadikan kita sebagai pribadi yang kritis
Sejarah; 5) Membongkar Manipulasi Sejarah; analitis untuk pemahaman sejarah
6) Menguak Misteri Sejarah; 7) 1965: Orang- kontroversial dan tidak hanya terjebak ke
Orang di Balik Tragedi. dalam satu wacana pelurusan sejarah.
Asvi Warman Adam menafsirkan bahwa DAFTAR PUSTAKA
apa yang terjadi selama pemerintahan Orde Adam, Asvi Warman. 2006. Soeharto, Sisi
Baru adalah sesuatu yang tidak normal,
sejarah dimanfaatkan untuk kepentingan Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta:
politik penguasa dan rezim. Sesuatu yang Ombak.
tidak normal dan pemanfaatan sejarah dinilai
sebagai kejahatan-kejahatan yang dilakukan . 2006. Soeharto Sehat. Yogyakarta:
oleh dorongan penguasa dan pendukungnya Galangpress.
yang merestui kejahatan kemanusiaan dan
pengendalian sejarah. Oleh karena itu, . 2007. Seabad Kontrovesi Sejarah.
penafsiran Asvi Warman Adam terhadap Yogyakarta: Ombak.
rekayasa Orde Baru yaitu untuk memberikan
pemaparan/perspektif baru fakta dan opini di . 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia.
Yogyakarta: Ombak.
. . 2009. Membongkar Manipulasi
Sejarah: Kontroversi Pelaku dan
Peristiwa. Jakarta: Pernebit Buku Penulisan Sejarh Indonesia. Jakarta:
Kompas. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Purwanto, Bambang & Adam, Asvi Warman.
. 2010. Menguak Misteri Sejarah. 2013. Menggugat Historiografi
Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
Ahmad, Tsabit Azinar. 2016. Sejarah Pedoman Penulisan Skripsi. 2017. Jurusan
Kontroversial Di Indonesia: Perspektif Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Pendidikan. Jakarta: Yayasan Pustaka Unimed.
Obor Indonesia. Sahdan, Gregorius. 2004. Jalan Transisi
Demokrasi Pasca Soeharto. Yogyakarta:
. 2010. Asvi Warman Adam dan Pondok Edukasi.
Upaya Pelurusan Sejarah Indonesia. Sekretariat Negara RI. 1994. Gerakan 30
Makalah. Universitas Sebelas Maret. September Pemberontakan Partai
Alfian. 1992. Pemikiran dan Perubahan Politik Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi,
Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka dan Penumpasannya. Jakarta: PT. Ghalia
Utama. Indonesia.
Daliman, A. 2012. Metode Penelitian Sejarah. Sjamsuddin, Helius. 2012. Metodologi
Yogyakarta: Ombak. Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Dwipayana, G & K.H. Ramadhan. 1989. Soedjono, Imam. 2006. Yang Berlawanan:
Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah
Saya. Jakarta: PT. C itra Lamtoro Gung PKI. Yogyakarta: Resist Book.
Persada. Soetrisno, Slamet. 2006. Kontroversi dan
Eriyanto. 2001. Analisa Wacana: Pengantar Rekonstruksi Sejarah. Yogyakarta: Media
Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS. Pressindo.
Fatah, Saefulloh Eep. 2000. Pengkhianatan Southwood, Julie & Flanagan, Patrick. 2013.
Demokrasi ala Orde Baru: Masalah dan Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum
Masa Depan Demokrasi Terpimpin & Propaganda 1965-1981. Jakarta:
Konstitusional. Bandung: PT. Remaja Komunitas Bambu.
Rosdakarya. Syafiie, Inu Kencana. 2010. Ilmu Politik.
Hadi, Kuncoro;dkk. 2017. Kronik ’65: Catatan Jakarta: Rineka Cipta.
Hari Per Hari Peristiwa G30S Sebelum Tempo. 2012. Sarwo Edhie dan Misteri 1965.
Hingga Setelahnya (1963-1971. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Yogyakarta: Media Pressindo. Haritajaya, Olyvie Bintang. 2017. Pembredelan
Kamaluddin, Undang A. & Alfan, Muhammad. Pers di Masa Orde Baru (1966-1988).
2015. Dinamika Politik Di Indonesia: Skripsi Universitas Sanata Dharma
Perjalanan Politik Sejak Orde Lama Yogyakarta.
Hingga Reformasi. Bandung: Pustaka Hadi, Wahyono Dwi & Kasuma, Gayung. 2012.
Setia. Propaganda Orde Baru 1966-1980.
Kasenda, Peter. 2016. Kematian D.N. Aidit dan Departemen Ilmu Sejarah Universitas
Kehancuran PKI. Jakarta: Komunitas Airlangga. Jurnal Verleden, Vol. 1, No.1
Bambu. Adam, Asvi Warman. 2013. Perlu Ada
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah, Edisi Pelurusan Sejarah Peristiwa 1965.
Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Yayasan Perspektif Baru. Artikel Edisi
Lembaga Analisis Informasi. 2003. Kontroversi 396.
Supersemar: Dalam Transisi Kekuasaan Sularto, S.T. 2009. Asvi Menggapai Kebenaran
Soekarno-Soeharto. Yogyakarta: Media Sejarah. LIPI. 30 September 2009.
Pressindo. Wisudo, P. Bambang. 2005. Asvi Warman
Liotohe, K. Wimanjaya. Prima Dosa: Adam Meluruskan Sejarah. Kompas. 17
Wimanjaya dan Rakyat Indonesia Juli 2005.
Menggugat Imperium Suharto. Jakarta:
Yayasan Eka Fakta Kata.
Nordholt, Henk Schulte, Bambang Purwanto,
& Ratna Saptari. 2013. Perspektif Baru