BAHAN AJAR
BIAYA
PRODUKSI
Produk Kreatif dan Kewirausahaan
Oktober 2022
XIIOne
Dibuat Oleh:
Rahayu Dessy Pratiwi, S.Pd
KATA PENGANTAR
Bahan ajar pembelajaran PKK (Produk Kreatif dan Kewirausahaan) kelas XII OTKP
ini disusun sebagai pedoman belajar bagi peserta didik. Penyusunan bahan ajar ini mengacu
pada kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum 2013. Selain untuk memenuhi
kompetensi peserta didik, bahan ajar ini sebagai salah satu tugas akhir peserta didik
Pada bahan ajar ini dirumuskan kompetensi perilaku, pengetahuan dan keterampilan
yang harus dikuasai peserta didik. Dalam penyusunan bahan ajar ini diharapkan peserta didik
dapat belajar mandiri, mampu memahami materi dan atau tanpa pendampingan.
Penulisan bahan ajar ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karenanya perlu adanya
perbaikan dan penyempurnaan. Kami menerima kritik dan saran serta perbaikan dan
pengembangan bahan ajar ini kedepannya. Demikian atas partisipasinya, kamu ucapkan
terima kasih.
Banyuwangi, Oktober 2022
Rahayu Dessy Pratiwi, S.Pd
PETA
KONSEP
Biaya Produksi Pengertian Biaya bahan
unsur-unsur baku
ATC
jenis-jenis Biaya SDM AVC
AFC
Harga Pokok Biaya overhead
Produksi pabrik
Biaya variabel
(VC)
Biaya Tetap (FC)
Biaya Total
Biaya Marjinal
Biaya rata-rata
Pengertian
Cara
menghitung
APERSEPSI
Sebuah usaha tentu ingin menghasilkan keuntungan dalam operasionalnya.
Keuntungan usaha dapat diperoleh jika hasil penjualan usaha melebihi biaya produksi yang
dikeluarkan dalam penjualan tersebut. Namun, apabila biaya produksi yang dikeluarkan lebih
besar dari hasil penjualan yang diterima, usaha tersebut akan mengalami kerugian. Untuk itu,
kita perlu mengadakan evaluasi agar dapat meminimilasi kesalahan dan membentuk strategi
baru sehingga usaha yang dapat dijalankan dapat memperoleh keuntungan dan mampu
bersaing di pasaran.
A. Pengertian biaya produksi
Sebelum mencari tahu apa saja komponen biaya produksi, pertama-tama mari kita
pahami terlebih dahulu pengertiannya. Biaya produksi adalah pengeluaran yang
dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengubah bahan baku menjadi produk siap jual.
Sebagai contoh, perusahaan batik tulis mengeluarkan Rp. 10.000.000 untuk menciptakan
100 pcs kain batik yang sudah siap di pasarkan di market. Nah, Rp 10.000.000 itulah
yang disebut sebagai biaya produksi. Biaya produksi bukan hanyasebatas biaya pembelian
bahan baku, namun juga meliputi biaya pemasaran, sewa counter, penyusutan peralatan
produksi dan lain-lain. Sejumlah ahli juga mengemukanan pendapatnya tentang
pengertian biaya produksi. Seperti:
Perry (1997) : biaya produksi adalah penjumlahan antara biaya tidak langsung (overhead
cost) dan biaya langsung (direct cost).
Sadono Sukirno (2003) : biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk
mendapat faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan
produk perusahaan.
Sutrisno (2009) : biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan dalam mengolah bahan
baku sehingga menjadi produk selesai.
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang dikelurkan dalam pengolahan bahan
baku menjadi produk, sedangkan biaya non produksi merupakan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk kegiatan non produksi, seperti kegiatan pemasaran dan kegiatan
administrasi umum.
Biaya produksi membentuk harga pokok produksi, yang digunakan untuk
menghitung harga produk yang pada akhir periode yang dalam proses. Biaya non
produksi ditambahkan pada harga pokok produksi untuk menghitung total harga pokok
produk.
Terdapat empat unsur pokok yang terkandung dalam pengertian biaya diatas adalah:
1) Merupakan sebuah pengorbanan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan tenaga kerja,
modal, dan lahan
2) Untuk tujuan tertentu, bahwa pengorbanan yang kita perhintungkan sebagai biaya itu
adalah pengorbanan yang memiliki tujuan tertentu misalnya untuk memproduksi barang A
saat pengorbanan itu tidak dapat dihindarkan lagi.
3) Dinyatakan dalam satuan uang, bahwa setiap pengorbanan harus dinilai dengan uang
termasuk pengorbanan yang tidak dalam bentuk uang,misalnya biaya penyusutan gedung.
4) Pengorbanan tersebut termasuk yang sudah terjadi dan yang akan terjadi, jadi harus
diperhitungkan sebagai biaya.
B. Unsur Biaya Produksi
Proses produksi tidak hanya melibatkan pengolahan bahan baku saja. Terdapat unsur
lain yang patut diperhitungkan dalam biaya produksi. Oleh sebab itu, beberapa unsur biaya
produksi wajib ada, antara lain:
1. Biaya Bahan Baku
Bahan baku merupakan aspek terpenting dalam produksi suatu produk. Sehingga unsur
biaya produksi adalah biaya bahan baku. Biaya pengeluaran ini digunakan dalam
memenuhi kebutuhan bahan material/baku agar terciptanya suatu produk. Hasilnya,
bahan baku ini terlihat secara fisik.
2. Biaya Sumber Daya Manusia
Dalam proses pengolahan bahan baku menjadi suatu produk memerlukan bantuan mesin
dan tenaga manusia. Keterlibatan sumber daya manusia membuat perusahaan wajib
memberikan upah sebagai ganti tenaga yang telah dikeluarkan. Sehingga, unsur biaya
produksi adalah biaya sumber daya manusia. Biaya ini dikeluarkan oleh perusahaan
dalam bentuk gaji bulanan atau dalam periode tertentu sesuai kesepakatan.
3. Biaya Overhead Pabrik
Terakhir, unsur biaya produksi adalah biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik
merupakan pengeluaran perusahaan terhadap kebutuhan manufaktur dan secara tidak
langsung berkaitan dengan hasil produksi. Dapat dikatakan, biaya overhead pabrik yaitu
besaran dana untuk keperluan penunjang proses produksi. Dari penjelasan tersebut,
contoh biaya produksi adalah biaya listrik, perawatan mesin pabrik, dan sebagainya.
C. Jenis-Jenis Biaya Produksi
Dari defenisi biaya kita bisa melihat bahwa, dalam satu proses produksi, akan banyak
sekali komponen biaya yang harus diperhitungkan, karena konsep biaya berbicara tentang
semua pengorbanan. Untuk mempermudah analisis kita dapat mengelompokkan biaya
menjadi biaya variabel, tetap, total, marjinal, dan rata-rata.
1) Biaya Variabel (Variabel Cost) Biaya variabel (variabel cost) merupakan biaya-biaya
yang harus dikeluarkan sesuai dengan besarnya output. Semakin besar biaya output
yang dihasilkan semakin besar pula biaya variabel, dan sebaliknya semakin kecil
biaya yang dihasilkan maka semakin sedikit pula biaya variabel. Misalnya bahan baku
yang dibutuhkan untuk memproduksi output, tenaga kerja bagian produksi, staf
bagian produksi, energi, untuk menjalankan mesin, dan bahan bakar. Perbandingan
antara biaya variabel dan jumlah produksi barang menimbulkan tiga corak, biaya
variabel yang bervariasi adalah: a) Biaya proporsional, kenaikan biaya variabel yang
dikeluarkan sama dengan jumah produksi. b) Biaya progresif, kenaikan biaya variabel
lebih tinggi dibanding jumlah produksi. c) Biaya Degresif, kenaikan biaya variabel
lebih kecil dibandingkan dengan jumlah produksi.
2) Biaya Tetap (Fixed Cost) Biaya teatap (fixed cost) adalah biaya yang harus ada dalam
proses produksi dipengaruhi oleh besar kecilnya unit barang dan jasa yang diproduksi.
Biaya ini biasanya terdiri dari pembayaran kontrak atas bangunan, pembayaran bunga
atas utang, sewa peralatan, gaji pegawai tetap, dan sebagainya. Biaya-biaya ini harus
tetap dikeluarkan meskipun perusahaan menambah produksi, mengurangi produksi
atau bahkan tidak berproduksi sama sekali karena tidak terpengaruh oleh jumlah
produksi. Biaya ini senantiasa konstan selama proses produksi berlangsung, sehingga
apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan terlihat seperti garis lurus mendatar.
3) Biaya Total adalah biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk menghasilkan
barang/jasa. Biaya total didapat dari menjumlahkan biaya tetap dengan biaya variabel,
atau: TC=FC + VC
Dengan TC=Total Cost (biaya total) FC = Fixed Cost (biaya tetap) VC = Variabel
Cost (biaya variabel)
4) Biaya Marjinal adalah konsep biaya terpenting dalam ilmu ekonomi.Biaya marjinal
menunjukkan tambahan biaya yang diperlukan untuk memproduksi satu unit
tambahan output. Katakanlah sebuah perusahaan memproduksi 100 unit televise,
dengan biaya total Rp.100.000.000.-Jika biaya total produksi 101 unit televisi adalah
Rp. 101.000.000,-, Biaya marjinal produksi televise adalah Rp. 1.000.000.- Untuk 1
unit tambahan.
5) Biaya Rata-rata (Average Cost) Perhitungan biaya rata-rata sangat diperlukan karena
apabila dibandingkan dengan pendapatan rata-rata suau perusahaan, kita akan
mengetahui apakah perusahaan tersebut mengalami kerugian atau sebaliknya.
a) Biaya total rata-rata (average total cost) Biaya total rata-rata adalah biaya total
dibagi jumlah unit yang diproduksi atau: ATC =TC/Q
Dengan : ATC = Average Total Cost (biaya total rat-rata) TC = Total Cost (Biaya
total) Q = Quantity (kuantitas barang yang diproduksi)
b) Biaya tetap rata-rata ( average fixed cost) Biaya tetap rata-rata atau Average Fixed
Cost (AFC) adalah biaya tetap yang dibutuhkan untuk satuan hasil produksi.
Biaya tetap rata-rata diperoleh dengan membagi total jumlah biaya tetap dengan
total jumlah produksi atau: AFC = TFC/Q
Dengan: AFC = Average Fixed Cost( biaya tetap rat-rata) TFC = Total Fixed Cost
(total biaya tetap) Q = Quantity (kuantitas barang yang diproduksi) Semakin
banyak barang yang diproduksi, maka akan semakin sedikit proporsi biaya tetap
yang melekat pada barang tersebut. Dengan kata lain, semakin banyak barang
yang diproduksi, semakin kecil biaya tetap rata-ratanya.
c) Biaya variabel rata-rata (average variable cost). Biaya variabel rata-rata atau
average variable cost (AVC) adalah biaya variabel untuk tiap unit yang dihasilkan.
Biaya varabel ratrata diperoleh dengan membagi total biaya variabel dengan total
jumlah produksi atau: = /
Dengan: AVC = Average Variable Cost (biaya variabel rata-rata) TVC = Total
Variable Cost (biaya variabel total) Q = Quantity (kuantitas barang yang
diproduksi)
D. Harga Pokok Produksi
Harga Pokok Produksi terdiri dari tiga elemen biaya produk yaitu Biaya Bahan
Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, dan Biaya Overhead Pabrik. Harga Pokok
Produksi diperhitungkan dari biaya produksi yang terkait dengan produk yang
telah selesai selama periode tertentu. Barang dalam proses awal harus ditambahkan
dalam biaya produksi tersebut dan barang dalam persediaan akhir barang dalam
proses harus dikurangkan untuk memperoleh Harga Pokok Produksi (Garrison,
Noreen, dan Brewer, 2006:6)
1. Pengertian HPP
Harga pokok penjualan (HPP) merupakan harga atau nilai barang yang
dijual. Umumnya Cara Menghitung HPP ini ditentukan pada persediaan awal
produk ditambah dengan jumlah harga produksi dan dikurangi dengan persediaan
akhir produk. Jadi, pada prinsipnya harga pokok penjualan (HPP) adalah jumlah
saldo awal persediaan dan harga pokok barang-barang yang dibeli dikurangi jumlah
persediaan akhir pada periode tertentu. Harga pokok penjualan (HPP) melibatkan
seluruh semua upah baru langsung dan biaya bahan-bahan tambahan, dan biaya-
biaya tak diduga lainnya.
Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan (HPP), sering dianggap
sama oleh beberapa pelaku bisnis. Kedua komponen ini berbeda, lantaran Harga
Pokok Produksi mencakup biaya yang dibutuhkan untuk sebuah produksi barang
sedangkan harga jual merupakan HPP tersebut yang telah ditambah dengan
keuntungan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa.
2. Menghitung HPP
Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)
Setelah komponen-komponen terangkum dengan lengkap, maka tahap
selanjutnya adalah menghitung besarnya Harga Pokok Produksi (HPP). Cara
menghitung harga harga pokok produksi (HPP) dapat dilakukan dengan
mengikuti Langkah-langkah berikut ini.
a. Tahap 1 (Menghitung Biaya Bahan Baku)
Bahan baku yang digunakan atau biaya bahan baku dapat dihitung dengan cara
menjumlahkan saldo awal bahan baku dan pembelian bahan baku kemudian
dikurangi saldo akhir bahan baku. Rumus menghitung biaya produksi berupa
bahan baku yang digunakan yaitu:
Biaya Bahan Baku = Saldo awal bahan baku + Pembelian bahan baku – Saldo
akhir bahan baku
b. Tahap 2 (Menghitung Biaya Produksi)
Cara Menghitung Biaya Produksi dapat dilakukan dengan menjumlahkan 3 biaya
komponen Harga Pokok Penjualan yang pertama (Biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja dan biaya overhead). Dengan demikian, Rumus menghitung biaya
produksi adalah :
Biaya Produksi = biaya bahan baku + Biaya tenaga kerja langsung +
Biaya overhead Produksi
c. Tahap 3 (Menentukan Harga Pokok Produksi)
Cara Menghitung Harga Pokok Produksi dapat dilakukan dengan menjumlahkan
biaya produksi dan saldo awal persediaan barang kemudian dikurangi saldo
akhir persedian barang. Rumus untuk menghitung harga pokok produksi adalah
Harga pokok produksi =
Total biaya produksi + Saldo awal persediaan barang – Saldo akhir persediaan barang
d. Tahap 4 (Menghitung HPP)
Cara Menghitung HPP dapat dihitung dengan menjumlahkan harga pokok
produksi dengan persediaan barang awal kemudian dikurangi persediaan barang
akhir. Rumus Menghitung HPP dapat dituliskan sebagai berikut:
Harga Pokok Penjualan (HPP) = Harga pokok produksi +
Persediaan barang awal– Persediaan barang akhir