Mengenal
Budaya
Asli
Indonesia
"Batik"
Nama : Desi Ayu Widyaningsih
Kelas: X IPA 2
1
Kata Pengantar
Dengan memanjatkan puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
atas segala limpahan rahmat, taufik
dan hidayah-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan e-
book ini dalam
bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana.
Dalam pembuatan e-book ini saya
merasa masih banyak kekurangan, baik
pada teknik penulisan maupun materi.
Untuk itu kritik dan saran dari semua
pihak sangat saya harapkan demi
penyempurnaan
2
Kata pengantar...................................................................1
Daftar isi................................................................................2
Pengertian Batik..................................................................3
Sejarah perkembangan batik..........................................4
Perkembangan jama Majapahit......................................5
Jaman penyebaran Islam..................................................7
Jaman penjajahan Belanda..............................................9
Jaman Penjajahan Jepang...............................................11
Perkembangan batik di wilayah lain............................14
Batik mulai mendunia.....................................................16
Sejarah hari batik nasional............................................17
Batik Keraton....................................................................18
Batik Pesisir.......................................................................20
Batik Klasik.........................................................................21
Batik Pekalongan..............................................................22
Teknik celup ikat...............................................................24
Batik lukis atau coletan...................................................26
Batik Printing.....................................................................27
Daftar Pustaka..................................................................28
BBAATTIIKK 3
*Definisi Batik
Sejarah 4
Perkembangan
Batik
Sejarah pembatikan di
Indonesia berkaitan
erat dengan
perkembangan
kerajaan Majapahit
dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam
beberapa catatan, pengembangan batik banyak
dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram,
kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas
kain untuk pakaian yang menjadi salah satu
kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman
dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas
dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja
dan keluarga serta para pengikutnya.
Oleh karena banyak dari pengikut raja yang
tinggal diluar keraton, maka kesenian batik ini
dibawa oleh mereka keluar keraton dan
dikerjakan ditempatnya masing-masing.
5
Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi
kebudayaan di kerajaan
Majapahit, daerah
Tulungangung atau dikenal.
dengan nama Bonorowo, daerah itu dikuasai Adipati
Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan
Majapahit Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang
dilakukan oleh Majapahit, Ia tewas dalam pertarungan
yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang
bernama Kalangbret
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di
Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah
Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir
abad ke-XIX ada beberapa kerajinan batik yang dikenal
di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain
putih yang
ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal,
mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
Walaupun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit
tetapi perkembangan batik mulai menyebar sangat
pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata.
6
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di
Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah
Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad
ke-XIX ada beberapa kerajinan batik yang
dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu
itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik
dari soga jambal, mengkudu, nila tom,
tinggi dan sebagainya.
Pada akhir abad ke -19 Batik cap terkenal bersamaan dengan
masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Alat capnya dibuat di
Bangil dan para pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya
dipasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi
dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil
produksi batik Kedungcangkr dan Jetis
Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik
Mojokerto
ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan
pengusaha kecil.
Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang
masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan
pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah
revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Jaman 7
Penyebaran
Islam
Masalah seni batik didaerah
Ponorogo erat hubungannya
dengan perkembangan
agama Islam dan kerajaan-
kerajaan. dahulu. Di daerah
B
atoro Katong, terdapat
seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang
bernama Raden Katong adik dari Raden Patah,
yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan
petilasan yang ada sekarang ialah sebuah masjid
didaerah Patihan Wetan
Sejak zaman penjajahan Belanda hingga
zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus
desa Merdikan (Daerah Istimewa)Pembuatan
batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan)
dari seni membuat batik zaman perang
Diponegoro itu. Warna babaran batik Majan
dan Simo sangat unik karena warna
babarannya merah menyala (dari kulit
mengkudu) dan warna lainnya dari tom.
8
Menjadi batik setra sejak dahulu dikenal juga didaerah
desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan
berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir
abad ke-XIX.
Di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang
diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan
sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pada saat itu seni
batik hanya terbatas dalam lingkungan kraton,
banyak keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini.
Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar
dari kraton menuju ke Ponorogo.
Pembuatan batik cap dari B
anyumas. Daerah
Ponorogo awal abad ke-20 batiknya terkenal dalam
pewarnaannya yang tidak luntur dan itulah sebabnya
pengusaha-pengusaha di Ponorogo baru dikenal
setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh
seorang Cina bernama Kwee saha batik dari
Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan
kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo.
Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo
setelah perang dunia petama sampai pecahnya
perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya
yaitu batik cap mori biru.
Jaman Penjajahan 9
Belanda
Pada masa penjajahan Belanda terjadi perpaduan
kebudayaan batik. Akulturasi budaya itu
memunculkan perpaduan motif batik yang unik
dan sangat menarik. Dapat dikatakan bahwa batik
yang tercipta pada masa pendudukan Belanda
merupakan batik Indonesia yang motifnya
dipengaruhi oleh kebudayaan Belanda. Motif batik
Belanda ini merupakan karya dari wanita Indo-
Eropa yang dikembangkan antara tahun 1840-
1940.
Salah satu sejarah
yang ditinggalkan ada sebuah pabrik batik di solo
yang sampai sekarang
masih memproduksi kain batik. Meskipun mereka
menyukai batik Indonesia tetapi, orang belanda
menginginkan corak batik yang berbeda dari batik
Indonesia. Mereka memodifikasi batik Indonesia
dengan warna dan motif yang sesuai dengan budaya
Belanda atau Eropa.
10
Dari akulturasi budaya ini, terciptalah batik
dengan motif bunga dan warna-warna yang lebih
ceria dibandingkan batik Indonesia. Batik matif
baru ini
kemudian dikenal dengan istilah batik Belanda
atau Dutch Batik.
Motif belanda ini bercirikan bunga-bunga dengan
warna yang cerah yang dikenal dengan istilah
Batik Buketan. Istilah buketan berasal dari kata
bouquet yang mempunyai arti bunga. Pada batik
Belanda ini berisi aneka bunga khas Belanda
dengan hiasan burung sebagai pelengkapnya.
Batik Belanda yang kemudian dikenal sebagai
Batik Buketan itu, jika ditilik
dari sejarahnya merupakan perpaduan dua
kebudayaan, Yaitu budaya Belanda dan
Indonesia.
11
Jaman Penjajahan
Jepang
Jepang berkedudukan di Indonesia antara tahun
1942 hingga 1945, pada masa pendudukan jepang
batik kembali mengalami penyesuaian. Pada masa
ini batik mengalami perubahan, baik akibat
akulturasi budaya maupun akibat kelangkaan kain.
Pada masa penjajahan Jepang, masyarakat
memang mengalami kekurangan bahan. Untuk
mengatasi keadaan tersebut, diciptakanlah batik
yang disebut Batik Pagi-Sore, yang memiliki arti,
dalam satu kain
batik diciptakan dua corak yang berbeda
sehingga dapat dikenakan untuk saat yang
berbeda.
12
Jenis batik ini kemudian dikenal dengan nama Batik
Jawa Hokokai nama batik ini diambil dari sebuah
organisasi bentukan pemerintah militer Jepang,
yaitu Jawa Hokokai yang berarti Himpunan
Kebaktian
Jawa. Walaupun diberi nama dalam bahasa Jepang
dan diciptakan pada masa pendudukan Jepang,
namun Batik Jawa Hokokai tidak dibuat untuk
memenuhi keperluan orang Jepang. Jenis batik ini
dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang-orang
Indonesia sendiri.
Dalam perkembangan selanjutnya, Batik Jawa
Hokokai menjadi mode dan orang-orang Indonesia
ikut membeli batik dengan motif tersebut. Batik
Jawa Hokokai sebenarnya adalah batik yang dibuat
oleh orang Tionghoa untuk keperluan penyesuaian
orang- orang Tionghoa di Indonesia terhadap
kekuasaan Jepang. Motif dan warna batik ini
dipengaruhi oleh budaya Jepang yang
dikembangkan dari motif batik
keraton.
Ragam hias pada Batik Jawa Hokokai biasanya
berupa bunga sakura, krisan, dahlia, dan anggrek
dalam bentuk buketan atau lung-lungan.
13
sumber :
https://r.search.yaho
o.com/_ylt=Awr9NEm
2UFxhBDMAHjqjzbkF;
_ylu=c2VjA2ZwLWF0d
HJpYgRzbGsDcnVybA-
-/RV=2/RE=16334687
27/RO=11/RU=https
%3a%2f%2fmotifbatik
88.blogspot.com%2f2
020%2f07%2fmotif-
batik-pesisir-
adalah.html/RK=2/RS
=V_3FAk6O8dM1qQd
2fMp8FG0wbY8-
Batik Jawa Hokokai berkembang terutama di
daerah Pekalongan hingga akhir tahun 1945.
Setelah Perang Dunia Kedua usai Jepang takluk
dan angkat kaki dari Indonesia. Akibatnya,
produksi Batik Jawa Hokokai
mengalami penurunan.
Meskipun setelah kepergian jepang batik hokokai
mengalami penurunan namun, motif-motif batik
terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat.
Kemudian muncul istilah batik baru seperti Batik
Nasional dan Batik Jawa Baru.
Batik Jawa Baru merupakan perubahan lebih lanjut dari Batik Jawa Hokokai.
Pada tahun 1950-an, Batik Jawa Baru yang dihasilkan masih
menunjukkan pengaruh Batik Jawa Hokokai. motif Batik Jawa Baru sama
dengan Batik Jawa Hokokai, yang membedakan adalah isen-
isennya tidak serapat Batik Jawa Hokokai. Perkembangan selanjutnya, Batik
Jawa Baru menggunakan motif Jlamprang dan Tirtareja, serta Parang sebagai
isen latar yang dipadu
dengan warna sesuai dengan selera orang Indonesia.
Perkembangan 14
Batik di wilayah
sumber : pinterest
lain
Batik juga berkembang di
wilayah lain, seperti di Banyumas, berpusat di
daerah Sokaraja. Perkembangannya dimulai pada
Pada tahun 1830 setelah perang Diponegoro. batik
dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran
Diponegoro yang
sebagian besar menetap di daerah Banyumas,
kemudian mereka kembangkan sebagai kain Batik.
Perkembangannya sampai saat ini, batik Banyumas
dikenal dengan motif dan warna khusus dan dikenal
dengan batik Banyumas.
Selain di Banyumas, batik juga berkembang didaerah
pekalongan, yang kemudian terkenal dengan istilah
batik pantai karena pengikut Pangeran Diponegoro
kala itu juga ada yang menetap di Pekalongan, yaitu di
daerah Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan
mengalami perkembangan pesat dibandingkan
dengan daerah lain.
15
Batik telah berkembang dibeberapa wilayah.
Selain di daerah Jawa Tengah, batik juga
berkembang di Jawa Barat. Perkembangan ini
terjadi karena masyarakat dari Jawa Tengah pergi
merantau ke beberapa kota seperti Ciamis dan
Tasikmalaya. Mereka kemudian mengembangkan
batik diwilayahnya masing-masing, seperti di
Tasikmala yaitu wilayah Wurug, Sukapura,
Mangunraja dan Manonjaya. Sementara itu, di
daerah Cirebon batik mulai berkembang dari
keraton dan mempunyai ciri khas tersendiri, yang
berbeda dengan wilayah asalnya.
Batik berkembang pesat di wilayah Sumatera Barat
khususnya didaerah padang. Sumatera Barat telah
menjadi daerah konsumen batik sejak sebelum
perang dunia 1 terutama batik dari Pekalongan, Solo
dan Yogyakarta. Sampai masa kemerdekaan sejarah
seni dan industri batik di Sumatera Barat tidak begitu
jelas, namun ketika memasuki masa-masa awal
kemerdekaan, di beberapa tempat di Sumatera
Barat sudah ada kegiatan seni dan industri batik
dalam skala kecil. Pada tahun 1946 tercatat ada
sejumlah pengusaha yang menggiatkan seni dan
industri Batik di Pariaman dan Limapuluh Kota.
Batik 16
Indonesia
mulai
mendunia
Sejarah batik pertama kali muncul saat Sir
Thomas Stamford Raffles yang menjabat gubernur
pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia pada
tahun 1817 menuliskan bukunya History of Java
terbitan London. Kemudian pada sekitar tahun 1873
juga diketahui seorang pedagang asal Belanda yaitu
Van Rijekevorsel pernah mengunjungi Nusantara.
Saat itu ia membawa selembar kain batik dari
Indonesia. Kemudian dia menyumbangkan kain batik
itu ke Museum Etnik yang ada di kota Rotterdam,
Belanda.
Sempat diklaim sebagai kebudayaan milik negeri jiran,
karena bukti yang kuat perjuangan dari berbagai pihak,
batik diakui milik Indonesia oleh
UNESCO, dengan memasukkan batik Indonesia ke dalam
Daftar Representatif sebagai Budaya Takbenda Warisan
Manusia (Representative List of the Intangible Cultural
Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-
Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental
Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu
Dhabi.
17
Sejarah Hari Batik Nasional
sumber :
https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrTLfrqT1xhnk
YApgqjzbkF;_ylu=c2VjA2ZwLWF0dHJpYgRzbGsDc
nVybA-
-/RV=2/RE=1633468522/RO=11/RU=https%3a%2
f%2fjogja.tribunnews.com%2f2017%2f06%2f13%
2fternyata-sekitar-4000-pulau-hilang-dari-peta-
kepulauan-indonesia-ini-
penjelasannya/RK=2/RS=6XlAEO836OpnUs2LZzz
PIpNt0mo-
Pada tanggal 3 September 2009 Indonesia
mengikutsertakan batik dalam proses nominasi
UNISCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya
lisan dan nonbendawi. Karena batik pernah diklaim
oleh malaysia sebagai hak milik,
Pada tanggal 2 Oktober 2009 UNISCO menetapkan
batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya
lisan dan nonbendawi. alasan UNISCO. mengangkat
batik karena batik Indonesia dinilai memiliki banyak
simbol yang berkaitan erat dengan kebudayaan lokal,
setatus sosial, alam dan sejarah. Pemerintah lalu
menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik
Nasional melalui keputusan Presiden Nomor 33
Tahun 2009.
Motif batik dibagi kedalam 18
dua jenis yaitu batik keraton
dan batik pesisir.
Batik Keraton
Batik Keraton merupakan jenis batik yang dikembangkan
dan digunakan di lingkungan keraton. Corak motif keraton
disebut motif larangan, Batik larangan Keraton
Yogyakarta, atau kadang disebut Awisan Dalem, adalah
motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan
aturan-aturan tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak
semua orang boleh memakainya
Keyakinan akan adanya kekua
tan spiritual maupun makna
filsafat yang terkandung dalam motif kain batik menjadi
salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan
di Yogyakarta. Motif pada batik dipercaya mampu
menciptakan suasana yang religius serta memancarkan
aura magis sesuai dengan makna yang dikandungnya. Oleh
karena itu beberapa motif, terutama yang memiliki nilai
falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik larangan
Setiap Sultan yang sedang bertahta memiliki kewenangan
untuk menetapkan motif batik tertentu ke dalam batik
larangan. Parang Rusak adalah motif pertama yang
dirancangkan sebagai pola larangan di Kesultanan
Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada
1785.
19
sumber: pinterest
Parang
Motif ini berasal dari kota Surakarta atau
Solo, beberapa sumber mengatakan batik
ini berasal dari daerah Yogyakarta
- Proses Pembuatan
alat dan bahan :
Kain Mori atau kain putih, lilin malam, pewarna batik,
gawangan, bandul, canting, wajan, kompor, saringan,
taplak, sarung tangan, dandang besar, setrika, dingklek
Proses :
mengambar motif parang pada kain.
kain yang sudah digambar kemudian di batik menggunakan
canting yang sudah diisi lilin malam.
setelah itu harus menembok, nembok adalah proses
menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna
dasar,dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan
malam.
kemudian pencelupan atau pewarnaan. Setelah itu lakukan
pelorotan atau pencucian menggunakan air panas. Yang
terakhir jemur kain di tempat sejuk
20
Batik Pesisir
Batik pesisir umumnya lebih berwarna-warni dan ragam
hiasnya lebih naturalistis. Namun batik pesisir pun banyak
yang memiliki makna simbolis. batik pesisir adalah semua
batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo
dan Yogyakarta. Pola yang ada pada batik pesisir lebih
bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, dikarenakan
pengaruh budaya luar yang begitu kuat. Penduduk pesisir
lebih mudah menyerap pengaruh luar, sehingga pesisir
utara Jawa menjadi “belangga peleburan”. Pengaruh itu
bisa datang dari para pedagang India, Cina, Arab, Persia,
Turki, Siam, Portugis, dan Bela
nda yang menetap dan
menikah dengan penduduk setempat.
Batik pesisir juga selalu digambar secara tidak naturalis.
Hal ini disebabkan oleh larangan Islam untuk
menggambar sesuatu dengan gaya naturalis. Nah, untuk
penggunaannya sendiri, batik pesisir tidaklah sulit seperti
batik Jogja maupun Solo yang disesuaikan dengan
pangkat dalam keraton. Batik pesisir bisa digunakan oleh
siapa saja karena bersifat komersil.
Motif Batik Burung Hong 21
sumber: www.infobatik.com
Motif ini berasal dari pesisir utara pulau Jawa, seperti
Cirebon dan Pekalongan. Motif batik ini melambangkan
permaisuri yang dianggap melambangkan kelembutan dan
keanggunan.
makhluk mitologis dari negeri Tiongkok. Tidak sulit melihat
asal-usul pendekatan tersebut, karena eksistensi batik
lokcan dipercaya berawal dari kain lo-can Tiongkok.
Burung hong sendiri merupakan karakter metaforik. Ada yang
mengatakan phoenix membawa kedamaian, ada juga yang
bercerita tentang lima warna kebajikan pada tubuh phoenix, ada
yang menghubungkannya dengan keanggunan sosok wanita dan
masih banyak lainnya
Motif Batik Klasik 22
sumber :
https://r.search.yaho
o.com/_ylt=AwrTLfr6V
lxhbY4A95yjzbkF;_ylu
=c2VjA2ZwLWF0dHJp
YgRzbGsDcnVybA-
-/RV=2/RE=16334703
30/RO=11/RU=https
%3a%2f%2fgrosirbati
kterkini.blogspot.com
%2f2018%2f10%2fco
rak-batik-tradisional-
khas-
solo.html/RK=2/RS=w
e4WKyey.o4eiZ32byv
6Z3CupFg-
Motif Semen Naga Keraton
Naga diimajinasikan sebagai binatang yang
mempunyai kekuatan dan kesaktian luar biasa.
Batik Motif Semen Naga Keraton melambangkan
kekuasaan keraton sebagai simbol yang
mengatur negara
Sebagai lambang ketentraman dalam
menjalankan
pemerintahan, memberikan perlindungan
kepada rakyat atas
dasar cinta kasih.. Digunakan oleh abdi dalem
keraton setingkat
bupati ke atas.
Batik Pekalongan 23
sumber:
https://r.search.yahoo.com/_ylt
=AwrTLfpHWVxh2Y0ACK.jzbkF;_
ylu=c2VjA2ZwLWF0dHJpYgRzbG
sDcnVybA-
-/RV=2/RE=1633470919/RO=11
/RU=https%3a%2f%2fbergaya.i
d%2fbatik-
pekalongan%2f/RK=2/RS=DriD
NUcMdClzIjyz6P1g64yQbDw-
Motif Round Line Bunga
Terlihat adanya lingkaran bulat seperti kristal. Namun jika
dilihat sekilas, akan tampak seperti pola yang terpisah.
Batik dengan warna biru kalem ini memang tampak
elegan dan memesona
proses pembuatan :
Kain mori diletakkan di atas meja datar yang telah dilapisi dengan alas
yang lunak. Malam/ lilin direbus hingga mencair dan dijaga agar suhu
cairan malam ini tetap dalam kondiri 60 sampai dengan 70 derajat
Celcius. Cap lalu dimasukkan kedalam cairan malam tadi dengan
mencelupkan kurang lebih yang 2 cm tercelup cairan malam pada
bagian bawah cap. Cap kemudian diletakkankan dan ditekankan
dengan kekuatan yang cukup di atas kain mori yang telah disiapkan
tadi, Cairan malam/ lilin dibiarkan meresap ke dalam pori-pori kain
mori hingga tembus ke sisi lain permukaan kain mori.
Setelah proses cap selesai, kain mori selanjutnya akan akan masuk
ke proses pewarnaan, dengan cara mencelupkan kain mori ini ke
dalam tangki yang berisi warna. proses berikutnya yaitu
penghilangan berkas motif cairan malam melalui proses
penggodogan atau ngelorot. Proses terakhir dari pembuatan batik
cap adalah proses pembersihan dan pencerahan warna dengan
soda. Selanjutnya dikeringkan dan disetrika.
24
sumber : fitinline.com
Teknik celup ikat
Batik dengan teknik celup ikat ini sering disebut dengan batik
jumputan. Teknik tutup celup yang digunakan pada batik jumputan
tidak. menggunakan lilin malam sebagai penutupnya, tetapi
digantikan oleh tali sebagai pengikat untuk menutup bagian kain
pada saat dicelup pewarna.
Proses Pembuatan
Pastikan kain dalam kondisi bersih bila perlu di cuci terlebih
dahulu. Membuat bentuk/desain motif dengan mengikat
Kelereng, Uang koin, atau Batu pada beberapa bagian kain
menggunakan karet secara kencang dan bervariatif, karet bisa
diganti dengan tali, yang penting ikatannya harus kencang.
Rebus air menggunakan Bejana (Panci) hingga mendidih,
setelah mendidih, campurkan pewarna dan penguat yang
berada dalam satu kemasan Wenter ataupun Wantex, Gunakan
satu wadah panci untuk satu warna saja
25
Tambahkan garam dua sendok makan dan cuka
secukupnya disertai dengan mengaduk larutan
hingga merata, garam dan cuka digunakan
sebagai tambahan penguat agar warna tidak
mudah luntur. Basahi kain yang telah diikati dan
dibuat motif dengan air bersih. Celupkan kain
tersebut pada cairan warna. Bila menginginkan
satu warna, celupkan seluruh bagian kain dalam
larutan pewarna yang mendidih. Aduk dalam
waktu 10-30 menit agar warna merata dan
merekat kuat. Bila menginginkan warna lain,
langkah pada no. 7 hanya mencelupkan sebagian
pada cairan pewarna pertama dan mencelupkan
kain yang belum terkena warna pada cairan
pewarna lainnya.. Celupkan berkali-kali sesuai
jumlah warna yang dikehendaki. Apabila proses
pencelupan warna selesai, kain diangkat dan
dibilas menggunakan air dingin yang bersih.
Kemudian semua ikatan dilepas, kain ditiris dan
dikeringkan. Setelah kering, rapikan dengan
menyetrika kain tersebut
26
sumber:motifbatik88blogspot.com
Batik Lukis atau Coletan
Pada dasarnya proses pembuatan batik lukis
atau colet ini sama dengan
proses pembuatan batik tulis,
Proses P
embuatan:
Pertama membuat pola batik
Motif dibuat diatas kain dengan menggunakan pensil.
Menutup motif batik, panaskan lilin kemudian lukislah
pola tadi dengan menggunakan canting tulis dan
gunakan canting yang sesuai dengan motif yang
dibuat. Siapkan meja kerja, membuat larutan warna.
Memulai pencoletan, dalam mencolet bisa dimulai
dari warna muda dulu baru tua atau blok terlebih
dahulu kain. Mengeringkan kain, Setelah kain kering
kuaskan waterglass diatas kain hingga merata.
Setelah kain kering proses selanjutnya yaitu
pelorotan. Setelah pelorotan langkah selanjutnya
adalah membilas kain hingga lilin
malam yang di gunakan tadi benar- benar hilang.
27
sumber: www.bukalapak.com
Batik Printing
Terdapat dua cara proses pembuatan batik printing
yaitu secara manual dan dengan menggunakan alat
atau secara digital, teknik printing ini merupakan
salah satu teknik yang banyak dipakai oleh pengrajin
batik
Proses Pembuatan:
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain adalah meja
sablon, plangkan, rakel, pewarna, dan kain yang akan
dibatik. persiapkan desain batik yang akan dibuat. Setelah
desain dipindahkan ke plakan, maka tahap selanjutnya
adalah mempersiapkan kain yang akan dibatik.
selanjutnya adalah dengan cara melakukan
proses pewarnaan. Kain mori yang telah diberi pewarna
menggunakan plakan dan rakel
sudah dapat dikeringkan. Jika batik yang akan dibuat
memiliki banyak motif dan warna beragam.
Maka proses pewarnaan diulangi kembali seperti cara di
atas.
28
https://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/sejar
ah-asal-usul-batik-indonesia-dan.html
https://tirto.id/asal-mula-batik-jadi-warisan-
budaya-milik-indonesia-eiQ8
Infobatik, admin. 2020, “ mengenal pewarnaan
batik”,
https://www.infobatik.com/mengenal-pewarnaan-
batik/, diakses pada 12
Juli 2021
https://saharagambar.blogspot.com/2020/06/gam
bar-batik-celup-ikat.html
https://ibandvangeancebriliand.blogspot.com/201
5/09/proses-produksi-batik-tulis-motif-liris.html