The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aya.yarni, 2020-11-05 09:15:09

SENYUM TERAKHIR

Cerpen Budaya

SENYUM TERAKHIR

Yarni N

“Dari mana aku mendapatkan uang?” Mertuaku mendesak terus. Apa yang harus
aku lakukan?” pikirku.

Dengan langkah gontai aku hidupkan motor buntutku. Satu-satu harta yang aku
miliki. Aku lelaki terbuang. Terbuang dari keluarga Hua. Perlahan-perlahan motor
melaju tak tentu arah. Semen mencibirku. Pohon sepanjang jalan menyulurkan lidahnya
seakan berkata,” jilat lagi air liur yang kau buang kembalilah kepada keluargamu,
kemewahan dan kesenangan berlimpah di sana.” Aku belokkan motor menuju sebuah
bangunan tempat aku menenangkan diri dan mengadukan segala permasalahanku.
Tempat aku bertemu dengan bidadari surga dari keluarga berada dan terpandang.

Dingin air memasuki pori-poriku. Siraman air di mukaku terasa segar dan
menenangkan pikiranku. Aku gelar sajadah dan bersimpuh dihadapan sang pencipta.
Tak terasa air mata menetes saat aku tumpuhakan segala beban yang menghimpit dada.
Aku kembali ke rumah dengan tubuh ringan tanpa beban. Aku yakin pasti ada jalan
untuk mendapatkan uang

“Ko, tadi bunda datang lagi dan menanyakan kapan acara turun mandi anak
kita?” sambut isteri ketika aku baru sampai di depan pintu.

Wajah cantiknya kelihatan sedih sekali. Wanita yang terbuang juga dari
keluarganya karena menikah denganku.

“Inysaallah dalam waktu dekat,” sahutku membesarkan hatinya.

Cucu perempuan, pewaris tanah pusako meluluhkan hati mertuaku. Saat isteriku
Fatimah pulang dari rumah sakit kedua orang tuanya datang. Wajah rancak Si Upik
melelehan gunung es. Rang Kayo gelar untuk mertuaku senang sekali.

“Fatimah seminggu lagi anak kau harus turun mandi dan disunat. Itu adat kito.
Sampaikan dengan suamimu, acaranya harus meriah,” kata Ayah Fatimah.

Aku dengar Rang Kayo berbicara dengan isteriku tanpa sengaja.

“Bagaimana Ko Aseng, kapan acaranya?” desak isteriku.

“Dek, Koko mau secepatnya tapi kita belum punya uang. Tapi akan diusahakan
,” sahutku pada wanita berkulit kuning langsat ini.

“Tapi Ko, acaranya harus dilaksanakan nanti orang tua saya malu dengan orang
kampung,” rajuknya.

“Mengapa harus malu?” cecarku.

“Turun mandi adalah acara pemberitahuan kepada orang kampung bahwa telah
lahir keturunan baru dari sebuah suku. Anak kita nanti akan memakai suku saya karena
adat kami matrilineal atau keibuan,” pungkasnya.

“Walaupun tidak punya uang,” jawabku sengit.

“Saya sebenarnya tidak Ko tapi....” Fatimah tidak sanggup melanjutkan
kalimatnya.

Aku tahu orang tuanya orang terpandang tentu akan merasa rendah kalau acara
turun mandi cucunya tidak diadakan. Bertambah lagi malu mereka setelah pernikahan
kami. Aku masih ingat perjuangan Fatimah ketika memutuskan menikah dengan
seorang mualaf. Apalagi aku etnis Tionghoa. Penuh perjuangan dan deraian air mata.
Aku kasihan pada isteriku kalau acaranya gagal.

“Hari Sabtu kita adakan acaranya,” jawabku penuh keyakinan.

“Serius Ko,” sahut isteriku sambil memelukku.

“Iya sayang demi isteriku tercinta.”

Aku balas pelukannya. Wanita sholehah yang menerima kekuranganku dan terus
membimbingku dalam beribadah.

“Kamu sakit?” tanyaku ketika aku membelai mukanya terasa panas sekali.

“Tidak. Cuma pusing karena kurang tidur, malam tadi Anisa menangis terus
tidak mau disusui. Saya tidak bangunkan Koko karena kelihatan letih sekali pulang dari
toko.”

Aku terharu.

“Dek harus jaga kesehatan. Maafkan Koko yang ketiduran.”

Isteriku tersenyum manis memandang padaku. Bibirnya seakan berkata tapi
tidak terucap. Aku merasa keanehan pada sikapnya. Mungkin perasaanku saja, pikirku.

***

Orang kampung sangat ramai mengiringi rombongan yang membawa anakku
menuju batang aie ( sungai ). Anisa yang baru berumur empat belas hari digendong
oleh Mak Inah yang membantu perawatan isteriku setelah pulang dari rumah sakit.
Menurut adat anak perempuan acara turun mandinya harus di hari genap hitungan
kelahirannya. Dan orang yang paling penting adalah orang yang membantu persalinan
karena dia yang memimpin acara turun mandi. Karena isteriku melahirkan di rumah
sakit tapi Mak Inah membantu merawat mulai dari memandikan sampai mengurut isteri
dan anakku.

Mertuaku dan isteriku berjalan sejajar dengan Mak Inah. Di belakang
rombongan ibu-ibu membawa batiah bareh badulang (beras yang goreng atau
digonseng), sigi kain buruak (obor yang terbuat dari kain robek), tampang karambia
(bibit kelapa), tangguak (tangguk), palo nasi (nasi yang terletak paling atas) sebanyak
tiga cawan.

Sebelum berangkat tangguk dibakar dari rumah lalu dibawa ke sungai. Dua
cawan kepala nasi diletakkan sepanjang jalan menuju dan secawan lagi dibawa ke
sungai. Sesampai di sungai Anisa dimandikan oleh Mak Inah. Bibit kelapa dihanyutkan
lalu ditangkap oleh Fatimah untuk dibawa pulang dan ditanam sebagai bekal si anak.
Kemudian isteriku mengambil tujuh batu dari sungai dimasukan ke dalam tangguk juga
dibawa pulang. Batu dimasukan ke dalam lubang tempat kelapa ditanam. Setelah Anisa
selesai dimandikan oleh Mak Inah, batiah bareh dibagikan pada anak-anak yang ada di
sungai.

Setelah prosesi turun mandi selesai, Anisa dan Fatiamh diarak pulang diikuti
mertuaku dan penduduk yang diundang. Sesampai di rumah, semua yang hadir dijamu
dengan makanan yang sudah disediakan. Mertuaku kelihatan senang sekali. Jamuan

yang tersedia sesuai dengan keinginannya. Kebahagian terpancar dari wajah Fatimah.
Senyum tak pernah hilang dari bibir tipisnya. Aku merasa menjadi suami yang
bertanggung jawab pada isteri dan anakku. Aku hampiri Fatimah yang sibuk melayani
tamu.

“Istirahat dulu Dek, ingat kata dokter kamu tidak boleh capek,” nasehatku
padanya.

“Iya Koko sayang,” rayunya berjalan hendak memelukku

Tiba-tiba tubuh Fatimah ambruk sebelum memelukku. Dia pingsan. Semua yang
hadir terkejut.

“Aseng, bawa Fatimah ke kamar,” kata Rang Kayo mertuaku.

Fatimah aku baringkan di tempat tidur. Tak lama kemudian wanita bermata
teduh yang sangat aku cintai sadar. Wajahnya pucat sekali. Netranya memandangku
dengan redup sekali.

“Ke mana Ko?” tanyanya melihat aku berjalan.
“Mau panggil dokter.”
“Tidak perlu. Sini, saya mau dekat Koko.”
“Tapi kamu harus diobati, kamu sakit. Ada darah di baju belakangmu,” sahutku
cemas.
“Darah nifas,” sahutnya wanita yang telah memberikan keturunan untuk
keluarga Hua walau pun tidak diakui orang tuaku.

Kedua orang tuanya juga cemas.
“Bawa Fatimah ke rumah sakit,” ujar bundanya.

Sebelum aku menjawab tiba-tiba Fatimah berkata padaku.
“Ko, jawab pertanyaan saya dengan jujur.”

“Dari mana uang untuk acara turun mandi anak kita? Saya tidak ikhlas dari
uangnya dari orang tua Ko Aseng,” tanyanya dengan senyum masih terukir di wajah
manisnya.

Ada yang disembunyikan di balik senyumnya.

“Uang itu tabungan Koko yang rencananya untuk setoran haji kita tahun depan.
Koko tidak memberitahukan pada Adek sebagai kejutan. Koko tahu kamu ingin sekali
ke Baitullah tanpa bantuan dari orang tuamu.”

“Saya bahagia sekali. Tidak salah pilihan saya pada Ko Aseng. Jaga dan didik
Anisa menjadi anak sholehah.” jawabnya dengan suara semakin melemah.

“Dek, jangan berkata begitu, Koko jadi takut. Kita akan membesarkan Anisa
bersama,” sahutku terus memeluknya.

“Lebih erat lagi Ko, Adek ingin seperti ini selamanya.”

Aku semakin erat memeluknya. Bulir-bulir menetes dari netranya yang teduh.

“Maafkan Adek tidak bisa mendamping selamanya Koko selamanya.”

Terdengar rintihan dari mulutnya. Matanya merapat, senyum mengiringi tarikan
nafas terakhirnya. Semua yang hadir terkejut tak ada tanda-tanda kepergian bidadari
surgaku secepat ini.

“Fatimah... anakku mengapa engkau meninggalkan Bunda?” raung mertuaku.

Aku hanya membisu. Anisa dalam gendongan Mak Inah menangis. Dia
merasakan kepergian Bundanya. Gelak tawa dalam sedetik banjir air mata. Menurut
dokter Fatimah meninggal secara mendadak karena Perdarahan Post Partum (PPH)
yang dideritanya setelah melahirkan. Fatimah tidak pernah memberitahu aku kalau
setelah melahiran darah selalu keluar dari vaginanya. Aku merasa bersalah sekali tidak
teliti merawatnya.

***


Click to View FlipBook Version