The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerpen Sejarah adalah cerita pendek yang bertema atau berlatar belakang cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mahadita.oke, 2023-01-02 20:47:42

Cerpen Sejarah 3

Cerpen Sejarah adalah cerita pendek yang bertema atau berlatar belakang cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Keywords: Cerpen Sejarah

Menebus Dosa Masa Lalu

Tri Mulyati

Setiap tanggal 17 Agustus, aku akan datang ke tempat
ini. Seperti ada kewajiban yang mengharuskanku untuk
kembali. Tak peduli panas, hujan, atau badai sekalipun.
Tak akan pernah menghalangiku untuk kembali. Selama
nyawa di kandung badan dan kepikunan belum
menggerogotiku.

“Bapak, Bapak sudah semakin tua. Untuk apa piknik
dan piknik lagi?” tanya anak-anakku.

Aku hanya tersenyum. Mereka tak akan mengerti. Ini
bukan piknik, tapi hukuman yang harus kujalani. Penjara
untuk menebus kesalahanku. Hingga kini, aku belum
mampu bercerita pada mereka, kenapa aku datang ke sini
setiap tahunnya. Aku menyimpannya untuk diriku sendiri.

Setiap datang aku akan memandangi benteng Van Der
Wijck yang kini berdiri megah. Menabur bunga di salah

satu pintunya. Terpekur menatap ke satu titik. Mengenang
cerita lara yang harus kusandang selama sisa hidupku.

”Untuk apa Bapak melakukan ini? Orang-orang
melihat pada kita, Pak. Mereka mengira kita aneh.”
Kalimat itu sudah berkali-kali terlontar dari mulut anak-
anakku. Mereka tidak tahu seberapa besar arti benteng ini
bagiku.

Aku mengawasinya setiap saat. Menjadi saksi sejarah
segala perubahannya dari zaman ke zaman. Sejak masih
menjadi Puppilen School, berpindah ke KNIL, beralih
fungsi menjadi barak TNI, lalu dibiarkan bertahun-tahun
merana, mangkrak, dan kurang terawat. Sempat menjadi
sarang burung walet, dan kini bersalin rupa menjadi
gedung yang gagah, berwarna merah menyala, menjadi
objek wisata sejarah kebanggaan warga. Semuanya tak
luput dari penglihatanku.

Memang sudah puluhan tahun berlalu. Namun,
rekaman peristiwa itu masih melekat erat di ingatanku.
Saat sahabatku merenggang nyawa, tertembak mati di

salah satu pintunya. Semua itu salahku. Aku yang paling
pantas disalahkan. Seandainya saja bisa diputar ulang, aku
ingin membalikkannya kembali. Mengubahnya menjadi
cerita yang berakhir bahagia, happy ending.

Saat itu benteng Van Der Wijck masih menjadi benteng
logistik, gudang pangan dan perbekalan untuk Puppilen
School atau Sekolah Calon Militer Tentara Belanda.
Malam ini aku dan Parto berhasil menyusup ke areal
Benteng Van Der Wijck ini.

Parto, seorang peranakan Indo-Belanda. ibunya wanita
pribumi, ayahnya serdadu Belanda tapi tak tahu rimbanya.
Fisiknya yang lebih mirip orang Belanda, membuatnya
bisa bebas keluar masuk lingkungan Belanda. Mengambil
bahan makanan ataupun senjata tanpa dicurigai musuh.
Sementara aku akan menunggu di luar, bersembunyi di
semak belukar. Malam itu, di tanggal yang sama seperti
hari ini, 17 Agustus, Parto sudah berhasil mengambil
sekarung beras. Seharusnya itu sudah cukup. Harusnya

kami kembali ke perkampungan. Tapi, aku memaksanya
masuk kembali.

“Kenapa hanya sekarung, kalau bisa membawa
berkarung-karung,” kataku meyakinkannya.

“Tapi, sangat berbahaya. Mereka bisa curiga kalau aku
mengambil terlalu banyak,” tolak Parto.

“Ah, kamu terlalu pengecut! Tak punya nyali!” ejekku.
Masa Agresi Milter kedua, kelaparan semakin meluas.
Sejak perjanjian Renville ditandangani, penduduk di barat
sungai Kemit yang termasuk territorial Belanda
kekurangan pangan. Daerah timur sungai yang menjadi
lubung padi tak bisa lagi menjual hasil panennya ke barat.
Sementara di lain pihak, gudang-gudang pangan Belanda
penuh berkarung-karung makanan.
Dengan fisiknya yang seperti Belanda, kami
memanfaatkannya untuk menjadi mata-mata, menyusup ke
tangsi-tangsi Belanda, mencuri bahan pangan dan
persenjataan. Tapi, sepandai-pandai tupai melompat, ada
kalanya akan jatuh juga. Tiba-tiba, entah apa yang terjadi

di dalam sana. Terdengar teriakan-teriakan keras dalam
bahasa Belanda. Aku terpaku.

“Je bent niet de Nederlandse!” teriak serdadu Belanda
sambil menodongkan senjatanya pada Parto. Sepertinya
serdadu itu telah mencurigai Parto sebagai Belanda
gadungan.

“Ik ben van de Nederlandse,” jawab Parto. Ia tetap
mengaku sebagai orang Belanda.

“Je bent niet de Nederlandse!” teriak Serdadu itu
semakin marah.

Mereka berbantah-bantahan. Entahlah, mungkin
sedang sial, tiba-tiba saja aku tak bisa menahan keinginan
untuk bersin. Haajjiin.. Serdadu itu melihatku.
Menembakiku dengan berondongan peluru. Aku berlari
menyelamatkan diri di antara semak belukar.
Meninggalkan sahabatku sendirian.

Itulah terakhir kalinya aku melihat Parto. Mayatnya
bahkan tak pernah ditemukan. Sahabatku terjebak di
kandang musuh karena keteledoranku. Seandainya aku tak

terlalu serakah. Mungkin Parto bisa ikut menikmati
perjuangannya. Menikmati kebebasan yang kami rindukan.
Kita sudah merdeka. Kita sudah bebas dari penjajahan.
Berulang-ulang kuucapkan kalimat itu. Aku yakin Parto
mendengarnya di atas sana.

“Eh, Maaf, Mbah! Jangan mengotori tempat ini!
Tolong! Nanti saya bisa dimarahi supervisor,” kata seorang
petugas cleaning service yang melihatku hendak menabur
bunga di pintu itu.

“Ayolah, Pak. Jangan sampai kita diusir dari sini karena
membuang sampah sembarangan!” bisik anakku
membuatku miris. Ya, zaman telah berganti, musim terus
berputar. Semuanya telah berubah. Bahkan, sekadar
menaburkan bunga pun tak bisa lagi kulakukan.

Kategori: Cerpen Perjuangan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 7 November 2019


Click to View FlipBook Version