The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jaringan wireless atau nirkabel merupakan jaringan
computer yang sangat penting untuk semua intansi ataupun
perusahaan. Hampir semua instansi atau perusahaan memiliki
staf IT saat ini, yang bertugas memantau dan menjaga agar
jaringan diperusahaan tersebut tidak mengalami gangguan
koneksi yang terputus atau hilangnya jaringan. Jaringan
nirkabel yang memadai juga dibutuhkan untuk kalangan
akademis, baik pegawai maupun mahasiswa. Banyaknya
pengguna dan belum dilakukannya penelitian terhadap servis
jaringan nirkabel, menyebabkan banyak masalah timbul dan
gangguan jaringan pada kampus UIN. Keterangan tersebut
disebabkan banyaknya pengguna dan belum dilakukannya
penelitian terhadap servis jaringan nirkabel di kampus UIN
sana. Penelitian juga menyebutkan parameter apa saja dan
bagaimana perhitunggannya untuk mendeteksi masalah yang
ada. Parameter-parameter yang sudah diujikan oleh peneliti
juga memakai standar TIPHON (Telecomunications and
Internet Protocol Harmonization Over Network) demi lebih
meningkatkan kualitas pelayanan jaringan di kampus UIN
Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hasil parameter Quality of Service (QoS) yang mempengaruhi
kinerja jaringan nirkabel pada kampus UIN Jakarta, dan
memperoleh hasil standar kualitas untuk jaringan yang ada di
UIN Jakarta, dan memperoleh hasil standar kualitas untuk
jaringan yang ada pada lingkungan UIN Jakarta. Hasil
pengujian parameter QoS berdasarkan TIPHON, dengan hasil
nilai delay 0.52 ms, packet loss 17.1% dan throughput 355kbps
dan perhitungan jitter menghasilkan sebesar 1.3 ms.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by azizmuharram02, 2021-07-06 08:02:46

ANALISIS QUALITY OF SERVICE JARINGAN WIRELESS VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK PADA UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jaringan wireless atau nirkabel merupakan jaringan
computer yang sangat penting untuk semua intansi ataupun
perusahaan. Hampir semua instansi atau perusahaan memiliki
staf IT saat ini, yang bertugas memantau dan menjaga agar
jaringan diperusahaan tersebut tidak mengalami gangguan
koneksi yang terputus atau hilangnya jaringan. Jaringan
nirkabel yang memadai juga dibutuhkan untuk kalangan
akademis, baik pegawai maupun mahasiswa. Banyaknya
pengguna dan belum dilakukannya penelitian terhadap servis
jaringan nirkabel, menyebabkan banyak masalah timbul dan
gangguan jaringan pada kampus UIN. Keterangan tersebut
disebabkan banyaknya pengguna dan belum dilakukannya
penelitian terhadap servis jaringan nirkabel di kampus UIN
sana. Penelitian juga menyebutkan parameter apa saja dan
bagaimana perhitunggannya untuk mendeteksi masalah yang
ada. Parameter-parameter yang sudah diujikan oleh peneliti
juga memakai standar TIPHON (Telecomunications and
Internet Protocol Harmonization Over Network) demi lebih
meningkatkan kualitas pelayanan jaringan di kampus UIN
Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hasil parameter Quality of Service (QoS) yang mempengaruhi
kinerja jaringan nirkabel pada kampus UIN Jakarta, dan
memperoleh hasil standar kualitas untuk jaringan yang ada di
UIN Jakarta, dan memperoleh hasil standar kualitas untuk
jaringan yang ada pada lingkungan UIN Jakarta. Hasil
pengujian parameter QoS berdasarkan TIPHON, dengan hasil
nilai delay 0.52 ms, packet loss 17.1% dan throughput 355kbps
dan perhitungan jitter menghasilkan sebesar 1.3 ms.

34
Bagian lapisan MAC menangani koneksi ke media fisik seperti twisted-pair
atau pengkabelan koaksial (Sujana, 2014).
c. Layer 3-Network Layer (Lapisan Jaringan)
Lapisan jarringan adalah lapisan yang bertanggung jawab dalam hal routing
dari paket-paket data yang didasarkan pada alamat logis dari paket data
tersebut. Lapisan jaringan memotong-motong data dan menyusunnya
kembali jika diperlukan, ia mengirim paket-paket data dari sumber ke tujuan
(Sujana, 2014).
d. Layer 4-Transport Layer (Lapisan Transportasi)
Lapisan transportasi, lapisan yang menjamin diterimanya paket data yang
dikirim. Lapisan transportasi juga dapat membentuk sambungan dan
mengirim acknowledgment ketika data diterima (Sujana, 2014).
e. Layer 5- Session Layer (Lapisan Sesi)
Lapisan sesi, lapisan yang bertugas untuk mengontrol “dialog” selama
komunikasi berlangsung, lapisan ini bertanggung jawab dalam hal
bagaiman membentuk sambungan, bagaimana menggunakan sambungan
tersebut, dan bagaimana memutuskan sambungan yang terbentuk setelah
sebuah sesi komunikasi selesai. Lapisan sesi juga menambahkan control
header pada paket selama pertukaran data terjadi (Sujana, 2014).
f. Layer 6-Presentation Layer (Lapisan Presentasi)

35
Lapisan presentasi adalah lapisan yang berada di bawah lapisan aplikasi dan
diatas lapisan sesi. Lapisan ini menambahkan struktur pada paket data yang
akan dikirim. Tugas utama lapisan ini adalah untuk meyakinkan bahwa data
atau informasi terkirim dengan bahasa atau syntax yang dapat dimengerti
dan kemudian mengkompresi atau mengenkripsi data sebelum
menyampaikan data ke lapisan sesi (Sujana, 2014).
g. Layer 7-Application Layer (Lapisan Aplikasi)
Lapisan paling tinggi dari model OSI adalah lapisan aplikasi. Seluruh
lapisan di bawahnya bekerja untuk lapisan ini. Tugas dari lapisan aplikasi
adalah mengatur komunikasi antar aplikasi. Pembentukan paket dimulai
dari lapisan teratas model OSI. Lapisan aplikasi mengirimkan data ke
lapisan presentasi, di lapisan presentasi data ditambahkan header dan atau
tailer kemudian dikirim ke lapisan di bawahnya, pada lapisan dibawahnya
pun demikian, data ditambahkan header dan atau tailer kemudian
dikirimkan ke lapisan di bawahnya lagi, terus demikian sampai ke lapisan
fisik, lapisan fisik data dikirimkan melalui media transmisi ke host tujuan
(Sujana, 2014).

Gambar 2.9 Tugas-tugas OSI Layer (Edu, 2015)

36
2.6 Transmission Control Protokol/Internet Protokol

TCP/IP adalah sekumpulan protokol yang didesain untuk melakukan
fungsi-fungsi komunikasi data pada internet. TCP/IP terdiri atas sekumpulan
protokol yang masing-masing bertanggung jawab atas bagian-bagian tertentu dari
komunikasi data. Protokol ini merupakan komunikasi utama dalam internet serta
intranet. Protokol ini memungkinkan sistem apapun yang terhubung kedalamnya
bisa berkomunikasi dengan sistem lain tanpa harus mempedulikan bagaimana
remote system yang lain tersebut juga. Protokol ini berkembang pada tahung 1969
oleh DARPA (Defence Advance Research Project Agency) mendanai riset
danpembuatan paket switching eksperimental yang diberi nama ARPANET
(Sopandi, 2008).

TCP/IP menggunakan model client-server dalam berkomunikasi, dimana
komputer user (client) meminta kepada komputer lain dan akan disediakan service
tersebut oleh komputer server. Beberapa layanan dan utility dari TCP/IP meliputi
sebagai berikut (Sopandi, 2008):

a. HyperText Transfer Protokol (HTTP)
HTTP adalah protocol yang dipakai mayoritas komunikasi World Wide Web
(WWW). Windows menghadirkan Internet Explorer sebagai client HTTP
dan Internet Information Servive (IIS) sebagai server HTTP (Sopandi,
2008).

b. File Transfer Protocol (FTP)

37
FTP adalah layanan internet yang mentransfer data dari satu komputer ke
komputer lain. Internet Explorer dan FTP keperluan yang termasuk
command-line bertindak sebagai client FTP. IIS menyediakan server FTP
(Sopandi, 2008).
c. Secure Socket Layer (SSL)
SSL adalah protocol yang digunakan untuk browsing website secara aman.
SSL bertindak sebagai protocol yang mengamankan antara client dan
server. Protokol ini memfasilitasi pengguna enkripsi untuk data yang
rahasia dan membantu integrase informasi yang dipertukarkan antara
wibesite dan web browser (Sopandi, 2008).
d. Post Office Protocol ver 3 (POP3)
POP3 adalah protokol yang diunakan untuk mengambil email dari server
email. Protokol ini erat hubungannya dengan protokol SMTP di mana
protokol SMTP berguna untuk mengirim email dari komputer pengirim ke
server (Sopandi, 2008).
e. Simple Mail Transfer Protocol (SMTP)
SMTP merupakan suatu protokol yang digunakan server mail untuk
mentransfer email. IIS dapat mengirimkan pesan-pesan dengan memakai
protokol SMTP (Sopandi, 2008).
f. Telnet

38
Telnet adalah suatu protokol yang menyamai terminal yang dapat dipakai
untuk memasukkan ke host jaringan yang jauh. Telnet menawarkan para
pemakai suatu kapabilitas dalam mengoperasikan program-program secara
jauh dan memudahkan administrasi yang jauh. Telnet secara praktis
memang disediakan untuk semua sistem operasi dan mengurangi integrase
dalam lingkungan yang heterogen (Sopandi, 2008).
g. Domain Name Service (DNS)
DNS merupakan seperangkat protocol dan layanan pada suatu jaringan
TCP/IP yang memperbolehkan para pemakai jaringan untuk menggunakan
nama-nama hierarki yang sudah dikenal ketika meletakan host ketimbang
harus mengingat dan memakai alamat IP-nya. DNS sangat banyak dipakai
di internet dan pada kebanyakan perusahaan pribadi dewasa ini. Saat
memakai web browser, aplikasi telnet keperluan FTP, atau keperluan
TCP/IP mirip lainnya di internet, maka pengguna mungkin sedang memakai
sebuah server DNS (Sopandi, 2008).
h. Simple Network Management Protocol (SNMP)
SNMP adalah protokol memungkinkan seorang user untuk mengelola node
jaringan seperti server, workstation, router, bridge, dan switch dari host
sentral. SNMP dapat dipakai untuk mengkonfigurasi device yang jauh,
memantau untuk kerja jaringan, mendeteksi kesalahan jaringan atau akses
yang tidak cocok, dan meng-audit pemakaian jaringan (Sopandi, 2008).

39
2.7 IP Address

IP Address (Alamat IP) adalah identitas khusus yang digunakan untuk
memberikan tanda atau alamat pada sebuah paket data atau pada suatu sistem
komputer. Konsep dasar pengalamatan (Alamat IP) di internet adalah awalan
(prefix) pada Alamat IP dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan
memasuki aspek-aspek lebih jauh tentang Alamat IP, penting untuk mengerti lebih
dahulu beberapa hal fundamental dari Alamat IP itu sendiri (Sopandi, 2008).

a. Format Alamat IPV4
IPV4 menggunakan bilangan 32 bit yang dipisahkan oleh tanda pemisah
berupa tanda titik pada setiap bitnya. Tiap 8 bit ini disebut sebagai oktet.
Pengalamatan IP berupa nomor 32 bit tersebut terdiri atas network ID dan
host ID. Network ID (Net ID) menunjukkan nomor jaringan sedangkan host
ID mengidentifikasi host dalam suatu jaringan (Sopandi, 2008).

Gambar 2.10 Format IPv4 (Ajar, 2017)
b. Kelas Alamat IP

40

Pembagian kelas-kelas IP address didasarkan pada dua hal ID Jaringan dan

Host ID. ID jaringan adalah bagian dari Alamat IP yang digunakan untuk

menujukan jaringan tempat komputer ini berada. Host ID adalah bagian dari

alamat IP yang digunakan untuk menunjukan workstation, server, router,

dan semua host TCP/IP lainnya dalam jaringan tersebut. Host ID ini harus

unik (tidak boleh ada yang sama) dalam suatu jaringan (Efendi, 2010).

A. Kelas A

Karakteristik

Format : 0nnnnnnnn.hhhhhhhh.hhhhhhhh.hhhhhhhh

Bit Pertama :0

Panjang Net ID : 8 bit

Panjang Host ID : 24 bit

Byte Pertama : 0-127

Jumlah : 126 Kelas A (0 dan 127 dicadangkan)

Range IP : 1.xxx.xxx.xxx sampai 126.xxx.xxx.xxx

Jumlah IP : 16.777.214. IP address pada tiap kelas A

Alamat IP kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat

besar. Bit pertama dari IP address kelas A selalu di set 0 (nol) sehingga byte

dari IP address A selalu bernilai antara 0 dan 127. IP address kelas A,

network ID adalah delapat bit pertama, sedangkan host ID ialah 24bit

berikutnya. Cara membaca alamat IP kelas A, misalnya 113.46.5.6 ialah:

41

ID Jaringan = 113

Host ID = 46.5.6

Alamat IP diatas berarti host nomor 46.5.6 pada network nomor 113 dengan

panjang host ID yang 24 bit, network dengan alamat IP A ini dapat

menampung sekitar 16 juta host (Efendi, 2010).

B. Kelas B

Karakteristik

Format : 10.nnnnnn.nnnnnnnn.hhhhhhhh.hhhhhhhh

Bit Pertama : 10

Panjang Net ID : 16 bit

Panjang host ID : 16 bit

Byte Pertama : 128-191

Jumlah : 16.184 Kelas B

Range IP : 128.0.xxx.xxx sampai 191.225.xxx.xxx

Jumlah IP : 65.532 IP address pada tiap kelas B

Alamat IP kelas B biasanya dialokasikan untuk jaringan ukuran sedang dan

besar. Dua bit pertama dari alamat IP kelas B selalu di set 10 (satu nol)

sehingga byte terdepan dari alamat IP kelas B selalu bernilai antara 128

hingga 191. Alamat IP kelas B, ID jaringan adalah enam belas bit pertama,

sedang host ID adalah 16bit berikutnya. Cara membaca alamat IP kelas B,

misalnya 132.92.121.1 ialah:

42

ID Jaringan = 132.92

Host ID = 121.1

Alamat IP diatas berarti host nomor 121.1 pada jaringan nomor 132.92

dengan panjang host ID yang 16bit, network dengan IP address kelas B ini

dapat menampung sekitar 65000 host (Efendi, 2010).

C. Kelas C

Karakteristik

Format : 110nnnnn.nnnnnnnn. nnnnnnnn. nnnnnnn

Bit Pertama : 110

Panjang Net ID : 24 bit

Panjang Host ID : 8 bit

Byte Pertama : 192-223

Jumlah : 2.097.152 kelas C

Range IP : 192.0.0.xxx sampai 191.255.255.xxx

Jumlah IP : 254 IP address pada tiap kelas C

Alamat IP kelas C awalnya digunakan untuk jaringan ukuran kecil

(misalnya LAN). Tiga bit pertama dari alamat IP kelas C selalu berisi 111.

Bersama 21bit berikutnya, angka ini membentuk ID jaringan ialah 8bit

terakhir. Konfigurasi ini bisa dibentuk sekitar dua juta jaringan dengan

masing-masing jaringan 256 alamat IP (Efendi, 2010).

43

D. Kelas D

Karakteristik

Format : 1110.mmmm.mmmmmmm.mmmmmmm.mmmmmm

4 Bit Pertama : 1110

Bit Multicast : 224-247

Deskripsi : Kelas D adalah ruang alamat multicast (RFC 1112)

Alamat IP kelas D digunakan untuk keperluan IP multicasting, 4bit pertama

alamat IP kelas D di set 1110. Bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan

multicast group yang menggunakan alamat IP ini, dalam multicasting tidak

dikenal jaringan bit dan host bit (Efendi, 2010).

E. Kelas E

Karakteristik

Format : 1111. rrr. rrrrrrr. rrrrrr. rrrrrr

4 Bit Pertama : 1111

Bit Multicast : 28 bit

Byte Inisial : 248-255

Deskripsi kelas E adalah ruang alamat yang dicadangkan untuk keperluan

eksperimental. Alamat IP kelas E tidak digunakan untuk umum. 4bit

pertama alamat IP ini diatur 1111 (Efendi, 2010).

c. IP Public

44
IP Public adalah alamat IP yang mutlak dimiliki oleh server/perangkat yang
dapat di akses internet. Menurut Lammle “Outside Networkí atau jaringan
luar menunjukan alamat lainnya, biasanya yang berada di internet”
(Lammle, 2016).
Menurut Yani “IP public adalah istilah alamat IP yang digunakan untuk
mengidentifikasi host di internet global” (Yani, 2007).
2.8 Wireshark
Wireshark adalah salah satu program untuk menganalisis suatu jaringan,
baik baik itu jaringan kabel maupun jaringan nirkabel. Perangkat ini digunakan
untuk pemecah permasalah jaringan, analisis, perangkat lunak, dan pengembangan
protocol komunikasi dan Pendidikan (Muzawi, 2016). Beberapa tujuan penggunaan
wireshark yaitu sebagai berikut:
1. Administrator menggunakannya untuk memecahkan masalah jaringan.
2. Insinyur keamanan jaringan menggunakannya untuk memeriksa masalah
keamanan.
3. Pengembangan menggunakannya untuk men-debug implementasi protokol.
4. Beberapa menggunakannya untuk mempelajari protokol jaringan internal.
Wireshark dapat menangkap paket-paket data atau informasi dalam suatu jaringan
komputer. Semua jenis paket data termasuk protokol akan dengan mudah dapat
dianalisis menggunakan wireshark. Alat ini juga sering digunakan untuk hal yang

45
tidak sesuai dengan penggunaanya, seperti kata sandi akun email yang tak dikenal.
Wireshark dapat membaca (Muzawi, 2016):

a. Ethernet
b. Token-Ring
c. FDDI
d. Serial (PPP dan SLIP)
e. 802.11 nirkabel LAN
f. Koneksi ATM
g. Mengetahui IP chatter (seseorang)
h. Proses transmisi, dan Transmisi data antar komputer

Contoh penggunaan Wireshark:
a. Admin sebuah jaringan menggunakannya untuk troubleshooting masalah-

masalah di jaringan.
b. Teknisi keamanan jaringan menggunakannya untuk memeriksa keamanan

jaringan.
c. Pengembangan perangkat lunak biasa menggunakannya untuk men-debug

implementasi protokol jaringan dalam perangkat lunak mereka.
d. Banyak orang memakainya untuk mempelajari protokol jaringan secara

lebih terperinci.
e. Banyak juga orang usil yang menggunakannya sebagai sniffer atau

pencari/pendeteksi data-data privasi jaringan.

46
Fitur dan kelebihan Wireshark:
a. Wireshark tersedia untuk Linux dan Windows.
b. Wireshark dapat menangkap paket data secara langsung dari sebuah
jaringan antar muka.
c. Wireshark mampu menampilkan informasi yang sangat terperinci mengenai
hasil tangkapan tersebut.
d. Wireshark dapat melakukan import dan export hasil tangkapan dari atau ke
komputer lain.
e. Pencarian paket menggunakan berbagai macam kriteria filter/pemilihan.
f. Wireshark dapat membuat berbagai macam tampilan statistika.
2.9 Metode Action Research / Tindakan Penelitian
Tindakan penelitian adalah kegiatan dan atau tindakan perbaikan sesuatu
yang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya digarap secara sistematik dan
sistematik sehingga validitas dan reabilitasnya mencapai tingkatan riset. Metode
yang akan digunakan untuk mengukur QoS yang terdiri atas parameter throughput,
delay, jitter, dan packet loss dari pengirim ke penerima atau dari ujung ke ujung
(end to end) dengan menggunakan software axence nettools, ping dan PRTG. Dari
hasil pengukuraan ini akan dianalisis QoS yang harus dipenuhi atau yang memenuhi
standar kualitas layanan yang baik dengan standar QoS versi TIPHON (Brian,
1998).

2.10 Penelitian Sejenis

Peneliti banyak mencari, membaca, mengklasifikasi d

penelitian ini. Data dan referensi yang peneliti ambil adalah pene

sama, banyak sekali yang berbeda. Berikut adalah penelitian seje

No Peneliti Metode Tabel 2.7 P
Param

1 Mahdi et al. (2017) Heterogeneous Network Quality
eter of
(VoIP)

48

data dan referensi demi sempurnanya penelitian sebelum memulai

elitian sejenis yang sudah dilakukan. Namun tentu saja, sejenis itu tidak

enis yang peneliti pakai sebagai referensi dalam pembuatan skripsi:

Penelitian Sejenis Kelebihan dan Tools
meter Kekurangan - Simulasi OPNET
- Penelitian
y of Service Param

Voice over IP menggunakan simulasi

) OPNET

- Optimasi jaringan

untuk lalu lintas intra

dan intersistem untuk

mengurangi penurunan

QoS dibahas.

Hasil: Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jaringan WiMA

skenario jaringan WiFi-WiMAX secara teoritis harus berada d

lebih tinggi diamati. Paket delay end-to-end, WiMAX menyed

WiFi atau WiFi-WiMAX bahkan, WiMAX terus menerus teta
paket end-to-end yang tinggi pada tahap pengaturan awal, W
terkonvergensi. Jaringan WiFi-WiMAX tetap berada dalam ‘Ac

2 Irwansyah et al. Monitoring QoS; Quality

(2012) monitoring, monitor, dan Param

monitored objects

49

- Investigasi dampak
pada parameter QoS
tidak ada, misal;
tingkat penurunan
paket, penundaan
antrian dan throughput.

AX dan WiFi-WiMAX mengungguli jaringan WiFi. Meskipun MOS dari

di titik tengah di antara grafik MOS WiFi dan WiMAX, kinerja yang jauh

diakan layanan yang lebih baik dibandingkan dengan hanya menggunakan
ap dalam kisaran ‘baik’ meskipun WiFi mengamati tingkat keterlambatan
WiFi mencapai dan tetap berada dalam pita ‘Acceptable’ setelah jaringan
cceptable’ bahkan selama periode konvergensi (Mahdi, 2017).

y of Service Beberapa faktor seperti - BizNet Speed Meter

meter redaman, distorsi dan - Axence NetTools

noise pada jaringan pusat

Hasil: Standarisasi TIPHON besar kerugian paket untuk, Keca

degradasi sedang, dan Kecamatan Penukal Abab termasuk kate

kategori degeradasi bagus. Rendahnya hasil pengukuran bandw

dikarenakan pengkuran dilakukan pada saat trafik sibuk yaitu a

jarak hub (server) yang sangat jauh dan transmisi menggunakan

2012).

3 Islam et al. (2016) Trial and Error Quality

parame

through

collisio

bandwi

packet

50

Internet pedesaan di
Kabupaten Muara Enim
mempengaruhi nilai
QOS.
amatan Ujan Mas, Kecamatan Talang Ubi, Kecamatan Penukal kategori
egori jelek sedangkan untuk Kecamatan Rambang Dangku termasuk
with dan throughput serta tingginya nilai penundaan dan kerugian paket
antara jam 10.00 pagi sampai pukul 14.00 siang dan juga pengaruh dari
n media udara/satelit yang rentang akan pengaruh cuaca (Irwansyah,

y of Service - Simulasi jaringan yang - OMNET ++
eter; delivery rate,
hput, delay, digunakan OMNET - Network Simulator-2
on probability,
idth efficiency, ++, Network Simulator- (NS-2)
loss ratio, bit
2 (NS-2), Network - Network Simulator-3

Simulator-3 (NS-3), (NS-3)

- Riverbed

error r
and jitt

Hasil: Hasil simulasi menyatakan bahwa, untuk paket ukuran

besar yang menyiratkan QoS yang lebih baik untuk paket yan

yang diteruskan dari sakelar. Penundaan ujung ke ujung menin

meningkatkan penundaan antrian, rasio kehilangan paket dan t

lebih tinggi memberikan QoS yang tidak efisien dan kinerja E

jaringan secara keseluruhan menurun meskipun ada kinerja y

sebagian besar parameter QoS berkurang untuk ukuran paket ya

4 Levendovszky et, - HQRA (High Quality Quality

al. (2015) of service Routing

Algorithm)

51

rate, queuing delay, Riverbed, dan - MATLAB

ter. MATLAB.

- Simulator yang

digunakan masih di-

install di workstation

core i3

yang lebih besar dari MTU jaringan, throughput meningkat dalam jumlah

ng dikirimkan dalam jaringan. Paket yang lebih besar tidak ada lalu lintas

ngkat secara eksponensial untuk paket yang lebih besar yang secara drastic

tingkat kesalahan juga. Ini sangat menunjukkan bahwa ukuran paket yang

Ethernet yang lebih rendah daripada paket yang yang lebih kecil. Kinerja

yang sedikit lebih baik dalam throughput yang sangat meningkat karena

yang lebih besar dari pada MTU dalam testbed ini (Islam, 2016).

y of Service - Peneliti Wireless Sensor

mengembangkan Network (WSN)

algoritma baru untuk

- Bellman-Ford
Algorithm

52

menemukan jalur yang
optimal.
- Algoritma baru yang
digunakan memberikan
hasil baik dengan
pemosisian BS di
jaringan sensor, yang
menunjukan
- Algoritma yang
dikembangkan oleh
peneliti lebih efisien
daripada protokol
routing lain yang
diusulkan sebelumnya.
- Algoritma HQRA
(High Quality of

Hasil: Penelitian ini peneliti mengusulkan Algoritma Routing
minimum dari node sumber ke BS dan mencapai tingkat keand
kompleksitas polinomial sehubungan dengan jumlah node, seca
jauh lebih hemat energi, dan dengan demikian meningkatkan
menunjukkan bahwa dalam kasus algoritma lain, ketika simpu
energi jaringan meningkat secara dramatis akibatnya, jaringan

53

service Routing
Algorithm) dapat
menemukan jalur yang
hampir optimal di
WSN dengan
meminimalkan energi
tetapi juga menjamin
tingkat keandalan yang
diberikan.
Layanan Kualitas Tinggi baru untuk WSN, yang menemukan jalur energi
dalan yang telah ditentukan. Metode yang diusulkan dapat berjalan dalam
ara rekursif menggunakan algoritma Bellman-Ford. Algoritma baru terbukti
masa pakai WSN, daripada algoritma lainnya. Hasil numerik kami juga
ul sensor pertama mati, struktur jaringan tidak tetap stabil dan konsumsi
n dengan cepat berhenti beroperasi lagi karena semua node menjadi tidak

berfungsi dan kehabisan energi. Algoritma baru dapat mengata

sensor (Levendovszky,2015).

5 Asmoro (2013) GNDP (General Network Quality

Design Process) Throug

delay

54
asi masalah ini dengan menyeimbangkan konsumsi energi pada setiap node

y of Service yaitu; - Penelitian ini Wireshark

ghput, Packet loss, menggunakan sistem

GNDP (General

Network Design

Process) dimana sistem

ini memiliki enam

tahapan yaitu, Assess

needs and cost, Select

Topologies and

Technologies, Model

Network Workload,

Simulate behavior under

expected load, Perform



55

Sensitivity test, and
Rework design.
- Penelitian ini terdapat
kekurangan dalam
penggunaan sistem
WDS ini.
Kekurangannya yaitu
berkurangnya
throughput hingga 50%
disebabkan channel
yang ada pada wireless
akses poin terbagi dua
kepada device yang
terhubung olehnya.

Hasil: Penelitian ini membangun sebuah layanan VoIP pada sat

mempunyai lebih dari 1 akses poin, suatu kondisi penggunaan

salah satunya dalam keadaan bencana yang tidak memungkinka

6 Febrianto (2015) - NTH and PCC Load Quality

Balancing methods delay, p

- PPDIOO (Prepar, through

Plan, Design,

Implementation,

Operation, Optimize)

Network Life Cycle

sebagai pengembangan

sistem.

56

tu daerah yang membutuhkan sebuah jaringan komputer, jaringan komputer
kabel dalam proses interkoneksi antar akses poin tersebut bisa terganggu,
an pemasangan kabel antar akses poin (Asmoro, 2013).
y of Service yaitu; -Menggunakan metode NetTools
packet loss, dan Load Balancing NTH
hput atau PCC untuk bisa

dibandingkan dengan
kedua metode yang
berdasarkan parameter
QoS yaitu, throughput,
jitter, dan delay.
-menggunakan metode
PPDIOO (Prepar, Plan,
Design, Implementation,
Operation, Optimize)
Network Life Cycle



57

sebagai pengembangan
sistem.
penggunaan Nth dan
PCC Load Balancing
lebih disesuaikan lagi
dengan kondisi jaringan,
kebutuhan, dan hasil
yang diharapkan pada
end usernya.
-tidak memfungsikan
fitur lain dari mikrotik
yaitu bandwidth
management agar dapat
membagi secara rata
bandwidth sesuai jumlah
client yang aktif.

Hasil: Penelitian ini menjelaskan, dalam jaringan internet yang

oleh karena itu terkadang membutuhkan lebih dari 2 penyedia

kendala dikala putus dan harus dilakukan secara manual, sed

sebagai solusi dalam mengoptimalkan jaringan yang terdapat p

7 Janius (2013) - HTB Method Quality

(Hierarchical Token delay, t

Orchid) loss, jit

58

g baik, sering kali terjadi putusnya jaringan internet dari penyedia jaringan,

a jaringan internet atau Internet Service Provider (ISP). ISP masih terjadi

dangkan untuk mengoptimalkan ISP dengan penggunaan Load Balancer

pada ISP tersebut (Feebrianto, 2015).

y of Service yaitu; Kelebihan: Wireshark

throughput, packet -nilai hasil video menjadi

tter bagus pada jitter, delay,

packet loss, throughput.

-memaksimal bandwith

yang tidak terpakai,

sehingga kualitas

pelayanan menjadi lebih

meningkat.

Kekurangan:

- Faktor-faktor yang bisa

mempengaruhi QoS pada

Hasil: Analisa hasil dari pengujian ini menunjukkan bahwa tole
di dapat berada pada nilai 3%, jika lebih dari 3% kualitas gamb
karena terlalu banyak flicker pada saat video berjalan. Hal ini d
data yang hilang seperti protokol TCP yang melakukan pengece
kembali (Janius, 2013).

59

Jaringan adalah redaman,
distorsi dan noise.
- Fasilitas Publik masih
mempertimbangkan
penggunaan Pc Box /
mikrotik router
board yang mempunyai
RAM yang lebih besar
dibanding Access Point
eransi maksimal packet loss berdasarkan kualitas gambar dan suara yang
bar dan suara yang didapat pada saat streaming video tidak memuaskan
dikarenakan protokol RTP tidak akan melakukan retransmission jika ada
cekan pada frame header packet jika ada paket yang hilang akan di request

8 Nasrullah et al. Quality of Service (QoS) Quality
(2015) through
dan pac

Hasil: Analisis kinerja jaringan wireless LAN dilakukan dengan
hasil yang didapatkan dari pengukuran kualitas kinerja jaringa
di laboratorium jaringan Kampus III UAD sudah cukup baik
mengunggah suatu file atau yang lainnya. Keterangan tersebut m
hasil bahwa sebelum menerapkan QoS dengan hasil 18 % san

60

y of Service; Kelebihan: - Axence NetTools

hput, delay, jitter - Pengukuran hasil - Networx Speed Meter

cket loss kinerja jaringan WLAN - PingTest.net

dengan menggunakan - SpeedTest.net

metode QoS

Kekurangan:

- Hasil pengukuran

parameter QoS untuk

keseluruhan nilai yang

didapatkan kurang

memuaskan

n menggunakan metode QoS dengan mengukur keempat parameternya dan

an WLAN, diperoleh kesimpulan bahwa kinerja jaringan WLAN yang ada

untuk digunakan dalam hal proses pengaksesan berupa mengunduh dan

menjelaskan bahwa pengujian sistem menggunakan uji kelayakan diperoleh

ngat setuju, 66 % setuju, 14 % kurang setuju dan 2% tidak setuju dengan

kualitas kinerja jaringan dan sesudah menerapkan QoS yaitu d

jaringan, untuk memaksimalkan kinerja QoS terhadap jaringan w

yang berada di Kampus III dan lebih khususnya pada laboratori

9 Ravi Sharma, et al. Massive Multiple Input Qualit

(2017) Multiple Output (MIMO)

Wireless System: Quality

of Service Analysis

61

dengan hasil 40 % sangat setuju dan 60 % setuju dengan kualitas kinerja

wireless LAN, yaitu perlu adanya penambahan bandwidth terhadap jaringan

ium jaringan (Nasrullah, 2015).

ty of Service Kelebihan: - Axance NetTools

- Analisa kualitas layanan

sistem nirkabel dengan

basis input ganda output

ganda (MIMO), yang

mana MIMO yang

sangat besar akan

menjadi blok bangunan

utama sistem nirkabel

5G

Kekurangan:

- Penurunan dalam

kinerja jaringannya,

Hasil: Penelitian ini menganalisis QoS sistem MIMO besar dal

Jumlah pemancar dan penerima di downlink adalah kunci untuk

bertambahnya jumlah pemancar. Batas atas ditentukan ole kela

dengan peningkatan jumlah pengguna aktif, ada penurunan para

antara dua parameter QoS ini sembari memilih jumlah penggun

kinerja sistem tersebut dengan kondisi pilot terkontaminasi sed

10 Imam Sutrisno, - PPDIOO Quality

(2015) - Network lifecycle parame

packet

through

62

meskipun ada

peningkatan dalam

jumlah rata-rata dengan

peningkatan jumlah

pengguna aktif.

lam hal bit error rate (BER) dan tingkat jumlah rata-rata telah dilakukan.

k kinerja QoS. Keduanya, jumlah rata-rata dan BER meningkat dengan

ayakan perangkat keras, meskipun ada peningkatan dalam jumlah rata-rata

ah dalam kinerja BER. Perancaang jaringan harus melakukan pertukaran

na aktif untuk dilayani dalam satu sumber daya frekuensi waktu. Analisis

dang diambil sebagai arah kerja di masa depan (Sharma, 2017).

y of Service; Kelebihan -wireshark

eter delay, jitter, -PPDIOO atau dikenal -web conference

loss dan dengan network

hput. lifecycle. PPDIO

terdapat beberapa yaitu,



63

prepare, plan, design,
implemtation, operate
dan optimize.
Kekurangan:
- E-learning dan
conference perlu
dikembangkan melalui
aplikasi berbasis mobile
sehingga meningkatkan
fleksibilitas dari sistem
e-learning.
Pada penelitian ini perlu
ditambahkannya
manjemen bandwidth
untuk menjamin
ketersediaan koneksi

Hasil: Web conference memberikan layanan komunikasi berba
conference terintegrasi pada sistem e-learning. Pengujiannya d
throughput (Sutrisno, 2015).

64

jaringan dalam
melakukan aplikasi
realtime agar dapat
berjalan secara optimal.
asis web kepada dua orang atau lebih dalam lokasi yang berbeda. web
dilakukan dengan mengukur parameter delay, jitter, packet loss dan

65
Contoh penelitian pada Tabel 2.7, terdapat penelitian yang serupa yang
sudah dilakukan oleh Nasrullah yang membahas tentang parameter QoS yaitu:
delay, throughput, jitter, dan packet loss dengan menggunakan alat Axence
NetTools, terdapat banyak perbedaan, seperti pada judul penggunaan metode analis
dan tools yang dipakai. Disimpulkan bahwa QoS terbukti akurat digunakan sebagai
parameter dalam penelitian yang berbasis analisis jaringan (Nasrullah et all, 2015).
Peneliti banyak menelaah penelitian sejenis tersebut, peneliti mendapati
beberapa kekurangan pada sistem jaringan terpusat di antaranya adalah tidak semua
pegawai maupun mahasiswa bisa mengakses internet melalui sebuah jaringan yang
hanya berkapasitas 100 mbps, jikalau pun mampu memakai jaringan tersebut, maka
kecepatannya akan menjadi semakin lemah karena dipakai oleh banyak pengguna,
juga permasalahan lainnya adalah lemahnya pendistribusian jaringan. Keterangan
tersebut memengaruhi peneliti ingin melakukan penelitian terkait sistem jaringan
terpusat yang akan dianalisis menggunakan QoS sebagai parameternya, yang akan
menghasilkan tingkatan mulai dari baik-ke-buruknya sebuah jaringan. Namun
penelitian yang peneliti susun ini adalah tentang penyempurnaan dari pada
penelitian-penelitian tersebut mengenai analisis jaringan terpusat yang juga
menggunakan QoS sebagai parameternya.
Peneliti meyakini tentang keadaan nyata, sebagai pertanyaan besar, yang
dialami oleh peneliti sendiri sebagai mahasiswa UIN Jakarta yang menggunakan
fasilitas kampus dan memenuhi satisfaction dan pengguna juga sebagai

66
tambahannya, peneliti menambahkan metode Action Research sebagai
implementasi dari aplikasi QoS dan alatnya menggunakan Wireshark.

67


Click to View FlipBook Version