The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Diksa Amerta, 2024-05-06 11:36:40

Tiga Di Antara kata

Dia Selalu Bersamaku

Tiga Di Antara Kata 151


Tiga Di Antara Kata 152 Rakha Febian, Teman – teman terbiasa memanggil dengan sebutan ‘’Rakha’’. Aku adalah siswa pindahan dari malang. Umurnya yang sudah menginjak tujuh belas tahun membuat diriku selalu overthinking untuk meraih masa depannya yang sebentar lagi akan di temui. Aku mempunyai seorang ayah yang bernama Dika, ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di malang yang terkadang harus keluar kota dan menetap beberapa hari untuk perkerjaannya. Tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, Dika kembali di tugaskan untuk menetap selama satu tahun di kota yang jauh sekali dari malang, yaitu Bandung. Beruntungnya perusahaan tempat Dika bekerja memberikan beasiswa penuh untuk aku agar bisa bersekolah di SMA negeri unggulan di Bandung. Berhubung sebelumnya memang ada kendala ingin pindah sekolah Akhirnya aku ikut menetap di Bandung bersama ayahnya dan mengambil beasiswa penuh SMA Negri tersebut selama 1 tahun, waktu yang pas hingga lulus sekolah tanpa ibu, namun di lain sisi juga canggung menerima beasiswa itu, karna aku tidak bisa mengerti apa yang guru jelaskan tentang materi, sering kali aku mendapati nilai akademikku menurun karna itu. Namun jika aku mengambil keputusan itu aku harus bisa menerima resiko yang nanti akan aku dapati setelah menetap di sana tanpa ibuku dan juga mungkin akan selalu rangking terakhir di kelas, namun aku yakin setelah


Tiga Di Antara Kata 153 aku lulus dari SMA aku akan mendapatkan PTN yang aku inginkan. Sebelum bulan Juli tiba, Aku harus terlebih dahulu menetap di Bandung bersama sang ayah, tak lupa juga memohon doa restu dari ibu dan keluarga agar dalam mengambil keputusan ini dapat membuahkan hasil yang bagus. “mas, tidur, besok kamu sekolah” “jangan lupa siapin buku yang mau di bawa besok” “nyalain alarm juga ya” Sahut bapak di luar kamar. Bulan Juli telah tiba, tak terasa sudah lama aku meninggalkan rumah lamaku, dan besok adalah hari pertamaku untuk bersekolah di SMA baruku. Setiap saat yang kupikirkan hannyalah satu, aku takut dengan lingkungan di sana yang jelas berbeda denganku, namun tetap aku pertahankan prinsip awalku, jangan sampai setelah lulus SMA aku tidak memiliki kemampuan apa pun. “Drtt...drt..” Keras suara alarm HP berbunyi. Aku terbangun dari tidurku, melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 04.30. Rasanya berat untuk beranjak dari tidur. “hurft.. perasaan baru tidur sebentar, kok udh bangun saja ya?”


Tiga Di Antara Kata 154 ‘’udah gitu langsung mandi, mana disini airnya dingin banget” “kalo langung sholat bikin geter gini badan” ucap batinku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung saja beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang berada di belakang kamar dan menjalankan Sholat. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00, sudah waktunya untuk memakai seragam dan menuju sekolah bersama ayahku yang jaraknya 15 menit dari rumah. Setiba di sekolah aku memperhatikan 2 siswi wanita yang sedang menyambut para murid di gerbang pintu masuk sekolah, yang sepertinya nanti aku juga dia akan menyambutku di gerbang sekolah. “haloo, selamat pagi, selamat belajar yaa” ucap salah satu dari mereka. Benar saja, aku di sambutnya, Namun aku salah fokus kepadanya, dia sangat unik bagiku, karna selain parasnya yang cantik, dia juga sangat ramah menyambut murid dan juga guru. “ini sekolah baru kamu, bagus kan” “sekarang ketemu sama wali kelas kamu dulu, biar bisa di antar ke kelas baru kamu’’ ucap bapakku. “halo bu, saya rakha febian, murid baru ibu dari malang” sahutku sembali bersalaman dengan wali kelas.


Tiga Di Antara Kata 155 Ternyata setelah pertemuan singkat itu bell pertama berbunyi, yang artinya sudah waktunya untuk masuk kelas. “ikut ibu ke kelas ya’’ Setelah memasuki kelas, aku terkejut, selain duduk hannya sebangku satu orang, juga ternyata di bangku paling depan pojok kanan aku melihat wanita yang tadi pagi kulihat di depan gerbang sedang menyambut para murid. ‘’halo anak-anak di sini kita kedatangan murid baru jauhjauh dari malang” “Rakha, ibu mempersilahkan kamu memperkenalkan diri” Aku canggung untuk melakukan ini, karna apalagi dia terus menatapku dengan sedikit tersenyum terus menerus. “halo teman-teman, perkenalkan, namaku Rakha Febian, biasa dipanggil Rakha. Aku pindahan dari malang, di sini aku tinggal bersama bapakku. Salam kenal semua” ucapku dengan sedikit gemetar. “nah, kali ini kamu duduk di bangku ke 2 dari depan kanan, tepat depan Roy” aku duduk sesuai perintah guruku dan benar saja dia wanita yang tadi kutemui di depan dan terus menatapku dengan sedikit tersenyum saat aku memperkenalkan diri.


Tiga Di Antara Kata 156 Aku mulai berkenalan dengan laki-laki di belakangku, dia bernama Roy, namanya mengingatkanku seperti pemeran sinetron geng motor di televisi haha, dia mengenalkanku tentang nama dan latar belakang murid di kelas ini, dari mulai murid yang pintar, berandalan dan juga pendiam. Pada akhirnya aku mengetahui nama wanita yang tadi pagi menyambutku di depan gerbang. Dia bernama Nadira, dia sangat pintar, kepintarannya membuat siswi yang selalu mendapatkan hasil uang memuaskan di sekolah ini sekaligus di beri amanah menjadi ketua organisasi yang ada di sekolahnya, tak jarang dia juga selalu mengikuti perlombaan dengan hasil yang memuaskan dan beberapa kegiatan lainnya. Berbeda denganku yang selalu malas untuk melakukan sesuatu, namun aku selalu berkecil hati ketika melihat temanteman di sekitar yang memiliki prestasi. Aku kagum dengannya. Semoga saja aku bisa sepertinya. “teng...” Jam istirahat sudah berbunyi, waktunya memakan makanan ringan yang sudah kubawa dari rumah. “halo, boleh kenalan ga?” sembari mengajukan tangan untuk bersalaman. “eh, iya boleh ko” balasku sembari bersalaman. Tanpa dugaan, dia membalikkan badan dan mengajakku untuk berkenalan. “ namaku Nadira, kalo kamu?”.


Tiga Di Antara Kata 157 “namaku Rakha’. “salam kenal yaa, kalo kamu mau tanya – tanya boleh ko, entah tentang pelajaran atau apapun itu yang kamu mau tanya. Have a good day.’’ Ternyata memang benar, namanya Nadira. Senang rasanya bisa berkenalan dengannya, lebih dari dugaanku dia ternyata lebih ramah jika kulihat dekat. “tengg...’’ Bell sudah kembali berbunyi, sudah saatnya kita kembali belajar kembali. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Dia kembali membalikkan badan ke hadapanku. “eh kha, nomor kamu berapa? Mau aku masukin ke grup kelas ini soalnya” “o8##########, itu nad” “sebentar ya.....” “itu sudah aku masukin, btw nomor kamu sudah aku save ya” sahutnya padaku. Sudah 2 minggu aku bersekolah disini, yang kurasakan pelajaran di sekolah ini sangat lah susah, benar saja perlahan aku mulai tidak bisa menjawab soal yang di berikan oleh guru, herannya mereka bisa menjawab semua soal yang di berikan oleh guru, ntah apa yang mereka makan sehingga mereka bisa menjawab soal- soal itu, apa lagi Nadira dia bisa menyelesaikan semua soal


Tiga Di Antara Kata 158 yang di berikan oleh guru, entah matematika, fisika, kimia dan lain- lain. Aku di belakangnya hannya bisa terdiam melihatnya terus menulis semua jawaban. Suatu ketika kelas kami diminta oleh guru untuk melaksanakan ulangan secara dadakan, guru memberikan selembaran kertas yang isinya soal ulangan, isinya sangat banyak sekali soal-soal yang tidak kumengerti, otakku yang pas-pasan hannya bisa mengusap kepala dan berkata. “bisa-bisanya ulangan begini gatau jawabannya, pasrah saja lah. ”. Benar saja apa yang kubilang, setelah sudah di koreksi oleh guru, jawabanku tidak ada yang benar sekali pun, sudah jelas nilai ulanganku kosong. ”nilai ulangan kamu berapa?” tanya Nadira. Tangannya tiba-tiba mengambil kertas ulanganku. “kok bisa segini?” “mau aku bantuin ga?’’ Akhirnya Dia membantu menjelaskan materi yang digunakan untuk menjawab soal ulangan itu, cukup susah bagiku untuk memahaminya, bagiku materi ini memang sangat sulit, bahkan di dalamnya banyak sekali hurufhuruf yang bentuknya baru saja kulihat, apa lagi penyebutannya sangat aneh, seperti bahasa prancis.


Tiga Di Antara Kata 159 Namun aku tetap memperhatikannya dan berusaha untuk mengerti. Hari itu sudah waktunya pulang sekolah, sudah saatnya jadwalku dan teman temanku membersihkan kelas, ternyata mereka kabur menyisakan aku seorang. “yaudah lah gapapa piket sendiri, CCTV kelas nyala kok, kalo pada liat aku piket sendiri pasti mereka mengapresiasiku dan membelikanku semangkok mie ayam” ucapku sambil tertawa. Tanpa terasa 40 menit sudah aku membersihkan kelas. Menyapunya dari pojok hingga pojok lalu mengepel lantainya hingga wangi, aku sangat bersemangat melakukan ini. Tanpa sengaja ketika aku ingin pulang aku melihat Nadira di gerbang seorang diri, dia terlihat kecapean, mungkin sehabis melakukan sesuatu hal besar. “hai Nadira, kamu belum di jemput?” “belum kha, Handphone ibuku tidak aktif, jadi aku harus tunggu dulu di sini” Padahal di sini sudah jam 5 sore dia pasti kecapean jika menunggu lebih lama. “bareng aku aja, kesian aku liat kamu di sini sendirian”


Tiga Di Antara Kata 160 “gausah kha, gapapa ko, gausa ngerepotin aku sudah terbiasa menunggu lama, seperti menunggu kepastian dia wkwk’’ “sudah gapapa ko, lagian aku kan jadi bisa tahu juga daerah sini” “DUARRR’’ keras suara petir “Nanti mau hujan, pasti kamu bilang mau neduh di sekolah kan?, memang mau sendirian di sekolah? Sudah gelap juga loh langitnya’’ Aku melihat dari raut wajahnya, sepertinya dia juga takut bila menunggu lebih lama di sekolah. ‘’Sudah, ayo ku antar saja ke rumahmu, toh ini kan balasanku karna kemaren kamu bantuin aku ngerjain tugas” Sahutku sedikit memaksa. Di tengah perjalanan hujan pun turun, kita berteduh di salah satu minimarket yang kebetulan lalui, beruntungnya tak jauh dari minimarket aku melihat tukang Mie ayam. “Beli Mie ayam yuk, biar angett, aku yang bayar deh” “Mass, mie ayam 2” Kita memakan mie ayam itu hingga menunggu hujan reda. Setelah hujan kembali melanjutkan perjalanan. Di perjalanan dia bercerita padaku bahwa dia melihat salah satu brosur di media sosialnya yang berisikan bahwa tidak lama lagi akan di buka pendaftaran Perlombaan karya tulis ilmiah di universitas yang berada di jakarta,


Tiga Di Antara Kata 161 dengan persyaratan yang cukup mudah, yaitu SMA sederajat saja. Setelahnya dia bertanya padaku “Bisa gaya kalo aku menang perlombaan?, sebenernya aku gamau karna ya mustahil saja aku bisa menang. Tapi aku juga mau hehe’’ Ucapnya sembari tertawa. Aku tahu dia sebenarnya memang ingin mendapatkan itu, tapi ntahlah dia berpikir tidak bisa mendapatkan itu. Namun Perkataannya membuatku kembali berpikir tentang bagaimana masa depanku, gawat aku sudah mulai berpikir yang belum pasti, sangat merepotkan. “E-sudah yuk hujannya sudah reda ini, aku mau ngebutt” Tak selang lama berjalan dia kembali bertanya. ‘’Kha, kamu di Bandung tinggal sama siapa?’’ Tanya Nadira ‘’ Aku disini tinggal sama ayah aku doang Nad’’ sahutku. ‘’ehhh itu rumah aku kha, berentii!!’’. Huftt hampir saja aku melewatkan rumahnya. Kulihat – lihat rumahnya cukup bagus, sepertinya keluarganya sangat berpendidikan. “Ini rumah aku, kamu mau mampir dulu ga?. Keberulan orang tua aku ada di rumah.’’ “Gak dulu deh, aku kan bukan siapa – siapa kamu nanti aku di kira siapa kamu sama orang tua kamu itu. Aku mau


Tiga Di Antara Kata 162 langsung pulang aja” jawabku sebari buru – buru membalikkan montor. Dilain sisi aku juga mau mampir untuk makan di rumah Nadira, tapi ya anak macam apa aku yang langsung nyelonong masuk ke rumah orang yang baru saja aku kenal beberapa minggu dan meminta makan, sungguh goblok sekali aku. 40 menit sudah berlalu, aku tiba di rumahku pas ketika adzan magrib berkumandang. Rasanya enak sekali bisa sampai ke rumah dan tiduran di kasurku yang super empuk. ‘’Sfttt.... sfttttt’’, huh aku tertidur begitu pulas sampai lupa untuk makan. ‘’ hey cacing, kamu kangen sama nasi gak?’’ haha aku bercanda, setelah ini aku akan makan makanan yang aku buat. Tunggu yaa. Singkat cerita sekolah kami menayakan persoalan perlombaan yang Nadira inginkan yang ternyata hannya bisa mewakili 2 orang dari sekolah, karna nantinya kita akan bertemu dengan sekolah lain dan ikut gabung dengan mereka. Nadira sebagai yang berpengalaman mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program itu dan harus menunjuk satu lagi untuk bisa bersamanya. Dia tanpa basa basi langsung saja memilihku, tentu saja aku terkejut karna jika aku ikut bersamanya aku pasti tidak akan mengerti apapun.


Tiga Di Antara Kata 163 Dia menyakinkan padaku jika ikut bersamanya pasti seru, tidak ada pemberian soal dan kamu harus menjawab dengan tepat. Hannya mendengarkan saja dan ikuti yang di perintah. ‘’Rakha, kamu tauga, kalo kamu ikut nanti di kasih uang 150rb tauu terus nanti nginep di hotel’’ Dunia terkadang memang jahat, tapi hari ini berbeda, sepertinya dunia sudah menjawab doaku. Tahu saja aku lagi butuh uang hehe. ‘’Baiklah aku ikut, tepati janjimu itu ya Nad’’ Kami di daftarkan dan nanti akan berangkat 2 hari lagi. Beruntungnya aku dan Nadira akan menginap di hotel selama 3 hari serta mengunjungi salah satu universitas yang ada di Jakarta. Hari keberangkatan sudah tiba. Aku dan Nadira diminta mengisi presensi surat tugas dan menuju bus. ‘’Nad, aku mabokan, maap ya hehe’’ ucapku tersipu malu. ‘’iya gapapa, tapi nanti kalo muntah, muntahannya kamu minum lagi ya, jangan ngerepotin kru bussnya’ jawabnya sembari sedikit tersenyum. Kita tiba di sana, tak butuh waktu lama kami di beri intruksi untuk masuk ke gedung campus. Memang


Tiga Di Antara Kata 164 rasanya asing sekali melihat gedung yang besar ini, apa lagi ada layar monitor yang besar sekali. Kami di beri perintah untuk duduk disana, mendengarkan apa yang mahasiswa itu bicarakan. cukup mengejutkan, di sana mereka membicarakan tentang kondisi sosial saat ini. Di mana saat ini telah terjadi banyak sekali anak – anak usia dini yang tidak berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi mereka, karena beberapa faktor seperti kurangnya ekonomi dan masih belum sadar pentingnya pendidikan. Apa lagi akhir – akhir ini kasus pernikahan dini masi meraja rela di kota – kota kecil, sungguh miris bukan?. “kha, rasanya kok aku kesian ya sama mereka, mereka masih kecil tapi sudah di ajarkan untuk seperti itu. bayangin kalau mereka itu punya mimpi yang hebat tapi akhirnya mereka harus tutup mimpi itu karna kenyataan’’. Bisiknya. Memang aku juga ikut miris mendengar hal yang seperti itu, namun bagaimana lagi. Fokus kami teralihkan kepada satu laki – laki yang duduk di pinggir studio. Nadira menyadari siapa sosok laki laki itu, dia adalah ketua OSIS di SMA terbaik di daerahnya. ‘’katanya dia kalo public speaking suka pakai bahasa inggris’’ bisik nadira. Ucapannya sedikit membuatku tersedak menelan ludah. Hebat sekali sepertinya orang itu.


Tiga Di Antara Kata 165 Selesai pada hari pertama, kami di umumkan kembali untuk mempersiapkan karya inovasi antar sekolah dengan target utama anak - anak. Dan juga di beri dua hari untuk meneliti dan memikirkan ide yang akan ikut sertakan dalam debat. Kami kewalahan untuk membuat Catatan yang akan di bawa nanti untuk di presentasikan. Aku dan Nadira keluar sejenak untuk jalan - jalan di sekitaran universitas. Tak terasa perut mulai berterikak meminta asupan. “makan dulu di warkop yuk aku mau ngopi sekalian ngemil, aku liat liat juga di situ ada makanan berat juga kamu bisa makan di sana’’ Ucapku. Aku memesan kopi dengan sedikit susu dan nadira memesan makanan yang menurutnya enak. Sembari menunggu makanan yang datang aku berinisiatif untuk coba melihat suasana di sekitar. ‘’Mass pesenannya sudah siap ini.” Teriak mas warkop. Aku meminum tepat di depan meja mas warung, berbeda dengan Nadira yang ada di belakang dan bermain media sosialnya. Aku mencoba mengajak ngorbol tentang apa yang terjadi pada anak – anak jaman sekarang dari pandangan seorang tukang kopi.


Tiga Di Antara Kata 166 Lama mengobrol, tukang kopi itu mengatakan bahwa dirinya mengharapkan ada yang bisa menciptakan yayasan untuk anak – anak yang ada di sekitar dari anak muda atau remaja. Karna baginya untuk saat ini kebanyakan yayasan yang seperti itu sangat langka, apa lagi terkadang mereka malah meminta upah ke warga sekitar dengan alasan yang tidak jelas. Ucapannya membuat otak seorang Rakha akhirnya berkerja. Sambil menyeruput kopi aku memikirkan ‘’apakah bisa anak SMA membuat yayasan dengan tujuan mendampingi motivasi sekaligus mengajar anak – anak dengan ikhlas dan juga berkualitas’’. Selang sekian lama menikmati hidangan di warkop, kami pun pulang ke hotel, di sana aku mencoba menyampaikan ide yang aku dapat saat di warkop tadi. Responnya lumanyan membuatku lega, namun aku sadar. Yasasan itu saat ini pasti sama, kita hareus membuat yayasan yang berbeda dari biasanya. Lagi – lagi aku pusing memikirkan itu. Sore sudah tiba, perutku kembali meminta makan. Mumpung tidak ada orang tua di sini aku merebus mie instan dengan 2 porsi agar kenyang. Enak sekali rasanya bisa makan banyak tanpa kritikan orang tua. Aku memakan mie itu di balkon hotel sembari melihat pemandangan padatnya kota.


Tiga Di Antara Kata 167 Tanpa sengaja aku melihat ada anak – anak yang bermain dengan kakak laki – lakinya, di saat itu aku melihatnya dengan syahdu di balkon. Melihat hal seperti itu membuatku terbayang kembali di masa aku masih kecil bermain dengan ayahku di taman kota, bahagia sekali rasanya bisa membayangkan betapa bahagianya bisa bermain dengan orang tua. Angin tiba – tiba saja kencang, aku kembali memasuki kamar dan menutup pintu balkon. Duduk di meja belajar dan menyalakan laptop. Aku sangat bosan sekali karna makananku sudah habis. Tanganku menekan website berita terkini. Arah mataku terfokuskan kepada salah satu berita tentang permasalahan anak – anak dan juga remaja. Aku mencoba membacanya dengan seksama. Ternyata parenting orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting bagi keberlangsungan hidup dan masa depan. Perhatian orang tua sangat penting agar mereka tidak melewati batas, seperti pada remaja jika tidak di perhatikan dengan baik pasti akan mengarah ke hal negatif seperti tindak kriminal, hamil di luar nikah dan lain – lain. Lalu bagaimana dengan anak – anak?, tentunya mereka akan sama halnya seperti pada remaja. Anak – anak akan mengikuti hal negatif dari remaja yang sudah tidak baik. Terbesat ide cermelang datang pada saat itu.


Tiga Di Antara Kata 168 Tanpa basa basi aku kembali mengajak berbicara kepada nadira untuk membuat inovasi yaitu Yayasan yang bernama Asosiasion Of Youth And Childdren. Dimana dalam perkumpulan itu kita melakukan pengabdian untuk menjadi orang tua kedua bagi anak – anak dan juga remaja yang diyakini mengalami kekurangan kasih sayang dan beberapa permasalahan lainnya. Uniknya lagi di dalam perkumpulan itu yang bertugas menjadi orang tua kedua adalah remaja sepantaran kami. Namun dalam menggiring remaja sepantaran untuk ikut serta dalam pengabdian dibutuhkan syarat dan ketentuan seperti harus memiliki jiwa sosial yang tinggi dan pengurus organisasi. Nadira mendengarkan apa yang aku sampaikan dengan teliti hingga di tulis di kertas. Tak butuh waktu lama Nadira sangat setuju dengan ide yang aku sampaikan, sampai – sampai menjadikan inovasi itu sebagai cita – citanya. Nadira akan membawakan inovasi itu untuk esok hari. Kami merencanakan kembali lebih detail selama beberapa jam di hotel Esok hari pun tiba. Aku dan Nadira siap untuk menyampaikan inovasi yang kami buat di hotel. Kami juga ikut serta debat dengan SMA lain. Lagi – lagi kami di hadapkan dengan ketos dari SMA top di daerahnya yang baru saja kemarin kita bicarakan. Kewalahan sekali Nadira berdebat, apa lagi dia menggunakan bahasa inggris dalam debatnya. Kami pun merasa kalah dan putus asa.


Tiga Di Antara Kata 169 Selama berjam jam kami menunggu keputusan juri untuk siapakah yang lebih layak untuk mendapatkan penghargaan inovasi terbaik. Tuhan berkata baik. Kami ternyata mendapatkan penghargaan terbaik dalam kegiatan ini. Bahagia campur terharu meliputi perasaan saat itu. Setelah peristiwa itu aku menjadi jatuh cinta lebih dalam terhadap Nadira. Ingin rasanya bisa bersama terus dengannya. Tapi tak butuh waktu lama setelah perlombaan itu Nadira pindah sekolah di daerah yang sangat jauh dariku. Sebelum kita berpisah aku berkata “Ra, kenapa pindah? Mimpi kita bagaimana? Kamu bukannya sudah janji untuk membangun bersama yayasan ini?. Eh iya dari awal kita bertemu aku sudah mulai tertarik sama kamu. Aku harap kita bisa membangun yayasan ini bersama dan membahagiakan anak – anak di luar sana, jikalau kamu jauh di sana aku akan selalu menunggumu di sini.” Nadira tersenyum kepadaku dan berkata’’ Kamu bisa diriin yayasan kamu sendiri Rakha, aku tahu kamu hebat. Aku tahu kamu kuat tanpa aku, Aku juga tahu kamu bisa fisika. Yang perlu kamu tahu aku yakin bangett kamu bisa semuanya tanpa aku. And yaa aku tertarik sama kamu, gatau ya menurut aku kamu laki – laki yang humoris banget, sejak aku kenal kamu aku jadi suka ketawa – ketawa sendiri haha. Aku akan kembali lagi kesini menemuimu Rakha. Tunggu saja”


Tiga Di Antara Kata 170 Setelah percakapan itu dia pergi meninggalkanku seorang diri. Sehari – hari kami hannya bisa berkomunikasi dengan media sosial. Namun setelah kejadian itu juga perlahan sikapnya semakin cuek tidak seperti biasanya. 10 bulan berlalu, aku berinisiatif untuk menemuinya jauh di sana. Kucoba menggali informasi tentangnya, Sebelum aku pergi aku coba menemui tetangganya untuk bertanya di mana Nadira saat ini bersekolah. Aku terkejut mendengarnya, Nadira bersekolah di sekolah yang dulu kami saingi di universitas. Tanpa basa basi aku membeli tiket kereta untuk menuju kota itu . Awal aku menginjak kota ini perasaanku bercampur senang dan juga rindu dengan sosok nadira. Buru – buru aku menuju hotel yang dekat dengan sekolah itu. bersiap siap menemuinya esok hari di jam istirahat. Sebelum aku tertidur aku mencoba untuk menggali informasi lebih dalam tentang sekolah itu. Memang tak heran julukannya, sekolahnya malah sekolah paling bagus di tahun ini. Kucoba melihat sosial medianya, melihat siapa ketua OSIS di sana. Aku kembali terkejut melihatnya, ketosmya adalah orang yang sama saat dulu dia mengalahkan aku dan Nadira.


Tiga Di Antara Kata 171 Pagi pun tiba. Aku bersiap siap untuk menemuinya di jam sembilan pagi. Aku pun tiba di sekolahnya. Aku tahu pasti tidak boleh masuk, namun aku beralasan ingin bertemu dengan wakil kesiswaan sekolah. Aku masuk dengan buru – buru sembari memperhatikan satu persatu wajah di SMA itu. Aku bertanya kepada salah satu murid disana. “kak tahu nadira gak” tanyaku sembari memberikan foto. “ohh tauu, inimah pacarnya ketos kita” jawabnya sembari tersenyum. Mendengar itu aku anggap sebagai bercanda, lalu aku memintanya mengantarkan ke kelasnya. Dia mengantarkanku ke kelasnya dan aku memintanya untuk buru – buru. Sontak rasanya tidak percaya. Nadira ada di situ dan sedang bermesra - mesraan dengan seorang laki – laki yang ternyata ketos. Aku meminta wanita itu untuk memanggil nadira ke hadapaknku, dia berlajan ke hadapanku seolah tidak terjadi apa - apa. “hai nad? Apa kabar?. Ga kerasa ya 10 bulan berlalu begitu saja, aku baru saja nyampe kemaren sore. Btw bagaimana kelanjutan mimpi kita dulu? Itu cowo kamu?’’ ‘’Iya masi proses’’ ucapnya tersenyum lebar.


Tiga Di Antara Kata 172 Sorry for the story. But thank you for coming R.


Tiga Di Antara Kata 173 Dunia memang suka ngasih kejutan yang ngga kita pikirin sebelumnya, tapi dari kejadian itu kita pasti di kasi dampak yang positif walaupun sedikit.


Tiga Di Antara Kata 174 Abu-abu mana yang kamu pilih?, kemarin aku melihatnya berjalan dengan beberapa orang di sekitarnya.


Tiga Di Antara Kata 175 Sedikit cerita bulan ke tiga. Berjalan keliling kota, melihat berbagai sekolah yang baru aku temui. Banyak sekali muka ceria yang kulihat.


Tiga Di Antara Kata 176 10. 03. 2023 Motoran sendiri sampai ke pusat kota, disana aku ga ngapa - ngapain sih biasa anak kurang kerjaan yang kalo di rumah ya hobinya keluyuran. Tapi ada beberapa pelajaran yang aku dapet dari peristiwa itu, dari mulai liat orang senyum sama pasangannya sampai liat masa depan. Jujur tadi sakit hati juga sih, soalnya ngelewat sekolah yang kebetulan dulu aku kagum kagumin buat bisa jadi salah satu murid di sana tapi nyatanya malah aku gabisa kesana wkwk. Kata orang sekarang mah Nice Try saja lah walaupun gabisa masuk ke sekola yang di ekspetasiin setidaknya harus bisa berjuang biar bisa dapetin yang kita mau walaupun di sekitar ga ngedukung.


Tiga Di Antara Kata 177 Hari ini Yogyakarta lagi – lagi buat aku mikirin yang gak harus di pikirin. Gimana ga kepikiran coba masa aku lagi enak – enak tidur doi malah nanyain, kapan mau jadi orang hebat?.


Tiga Di Antara Kata 178 Jadi emang kalau bahas persoalan menjadi hebat itu aku suka heran sih soalnya orang – orang yang aku liat tu untuk menjadi hebat mereka ga butuh tenaga banyak untuk bisa menjadi seperti itu karna ya orang – orang di sekitar mendukung, beda kalau yang memang mulai bener – bener mandiri. Pokoknya semangat deh buat kamu.


Tiga Di Antara Kata 179 Ga harus buat jadi Waw tapi siapa sih yang gamau jadi Waw?.


Tiga Di Antara Kata 180 Pengabdian dalam suatu hal bukanlah perkara mudah. Banyak sekali pengorbanan yang harus di relakan begitu saja demi mendapatkan feed back yang bagus. Hebat bila bisa melewatinya dengan tersenyum.


Tiga Di Antara Kata 181 27 januarry 2023. Its hard to say but i love it


Tiga Di Antara Kata 182 14. 03. 2023. Awalnya di kasih kesenangan buat ngelakuin kegiatan, tapi setelah bahagia Tuhan bakalan ngasih lagi cobaan buat nyingkirin rasa bahagia yang lagi di nikmatin. Mungkin Tuhan sedang membuat program baru?.


Tiga Di Antara Kata 183 Lucuu bangett.... Thanks for the time yaa


Tiga Di Antara Kata 184 Aku rindu dengan kotak merah, bila bisa bertemu kembali aku ingin memelukmya dengan tulus.


Tiga Di Antara Kata 185 Bukan tentang bagaimana apa yang kamu buat untuk saat ini. Tapi bagaimana caranya kamu bisa berbuat untuk saat ini untuk masa depan yang akan datang.


Tiga Di Antara Kata 186 Penasaran banget rasanya bisa terbang tinggi, jikalau kamu pernah ke atas sana bisakah ceritakan padaku betapa indahnya di atas sana?.


Tiga Di Antara Kata 187 Malam Malam itu itu candu, namun jangan sesekali kau buat marah.


Tiga Di Antara Kata 188 Kali ini aku bersama aku dan teman – teman. Ngomong – ngomong tentang malam aku jadi ke inget tentang teman aku yang memang bisa di bilang sudah masuk ke lingkup dunia malam, teman – teman mungkin sudah tahu ya permasalahan di dunia remaja yang orang – orang selalu bilang bahwa fase remaja adalah fase yang paling rentan terhadap segala macam godaan dari lingkungannya. Dia hidup di pinggiran kota yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Aku mengenalnya dari media sosial, berawal bertanya kabar akhirnya bisa sampai ngomong tentang permasalahan kehidupan.


Tiga Di Antara Kata 189 Pada awalnya kita memang berbicara soal suka dukanya hidup dengan sedikit bercanda, tapi lama kelamaan dia sudah nunjukin gimana asli sifat yang dia punya. Umur kita beda dua tahun , dia lebih tua dariku. Sampai tiba waktunya di tengah malam secara tinba – tiba dia menngodaku dengan perkataan yang tidak senonoh. Jujur aku bingung gimana ceritainnya wkwk, soalnya ini lumayan sensitiv bagi sebagian orang. Tapi akhirnya dia sudah lunak lagi dan ngga omongin hal – hal sensitiv, otomatis aku coba ajak ngobrol lagi dong tentang gimana si hidupnya di dunia nyata.


Tiga Di Antara Kata 190 Gak pake lama dia cerita kalau orang tuanya pisah dan juga lingkungannya kurang mendukung kehadiran wanita ini, otomatis dia cari pelampiasan ke luar zona nyamannya. She got bf, nyaman sama cowonya ngelakuin apa saja yang menurut mereka bikin seneng tapi kurang mikirin dampak yang bakalan terjadi di masa depannya. Dari situlah awal mulanya, sudah nyaman sama cowo sudah istilahnya gabisa hidup tanpa kehadirannya, dia ngelakuin perbuatan sex dan itu ga cuman sekali tapi berkali – kali. Mulai dari kejadian itu prilakunya udah mulai kecanduan, gak bisa di control lagi. Setelah putus dia pernah mau terjun langsung jadi PSK tapi untungnya dia sadar apa yang di lakuin itu ngga main – main.


Tiga Di Antara Kata 191 Kejadian itu buat aku sedikit kena mental yaa haha, karna tanpa sengaja dia ceritain gimana latar belakang kehidupan dia yang ngga semua orang tahu tentang kisahnya yang lumayan gelap ini. Parenting itu memang berpengaruh panjang bagi kehidupan, entah parenting dari orang tua ataupun lingkungan, semuanya mendapatkan porsi masing – masing dan sama – sama oenting.


Tiga Di Antara Kata 192 Kalau kamu sedang di posisi seperti itu cobalah melihat dunia lebih luas, buka mata yang lebar pasti kamu akan melihat banyak sekali bintang – bintang yang terlahir sepertimu, dari mulai yatim piatu, hidup miskin dan bergai stigma negatif masyarakat. Pelampiasan ngga harus ke hal yang negatif terus kok, pelampiasan yang paling gampang di lakuin ya tulis, dengan kamu menulis masalah kamu di selembar kertas kamu pasti bakalan lega kok, atau malah mau naik gunung? Itu hal yang bagus juga. Lakukan apapun yang bisa buat bahagia untuk dirimu dan orang – orang di sekitarmu.


Tiga Di Antara Kata 193 Aku yakin kok di hati kecil kamu yang mungil itu ada cita – cita yang mau kamu capai. Tetap semangat buat jalanin hidup walau banyak kekurangan. Jangan gampang menyerah kalau masalah datang, sedih boleh tapi gaboleh kelamaan untuk bersedih. Semua pasti ada jalannya kok percaya saja sama dunia, buktinya orang – orang di luar sana bisa jadi bintang yang bersinar walaupun banyak kekurangan. Soo keep strongg.


Tiga Di Antara Kata 194 Oleh karna itu You can write whatever your problem is here or whatever is always talking in your head


Tiga Di Antara Kata 195 let's write anywhere.


Tiga Di Antara Kata 196 From


Tiga Di Antara Kata 197 Thanks... kamu bisa sobek halaman surat itu dan kamu simpan di tempat yang aman, atau kamu langsung kirim saja ke orang yang di tuju?.


Tiga Di Antara Kata 198 I am so proud of you.


Tiga Di Antara Kata 199 Pengabdian di lingkungan yang ngga mendukung itu seru buat di jalanin.


Tiga Di Antara Kata 200 Awal ajaran baru bagi anak – anak yang sudah lulus masa SMP nya itu lumayan bersemangat ya wkwk Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, waktunya berangkat menuju stasiun kota. Bersalaman dengan orang dekat berharap diberi kelancaran menuju ujian yang akan datang empat hari lagi. Aku tiba di stasiun kota jam tiga sore hari dan bergegas menuju kereta dan mencari tempat duduk yang akan di cari, entah bagaimana rasanya yang pasti bahagia bercampur dengan gugup bersatu pada sore hari itu. Duduk di depan orang dewasa dan tas yang ada di sampingku membuat canggung, melihat ke arah jendela melihat betapa indahnya karya ciptaan Tuhan yang terkadang oarang – orang tidak menyadarinya tentang hal itu.


Click to View FlipBook Version