The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pembelajaran sejarah relevannya dimulai dari lingkup daerah terkecil yang berada di sekitar siswa, yang mana siswa dapat mengambil topik dari daerah sekitarnya sendiri. Salah satu keunggulannya adalah siswa dapat
memahami sejarah yang berada di daerahnya sendiri, atau yang
disebut dengan sejarah lokal. Hal itu guna menumbuhkan rasa cinta, rasa empati dengan turut serta merawat serta melestarikan peninggalan-peninggalan bersejarah di lingkup
lokal, sehingga pembelajaran sejarah akan mampu
mengajarkan kearifan bagi siswanya. Urgensi materi yang di
dalamnya memuat bahan ajar sejarah lokal yang mengacu pada lokalitas daerah tertentu menjadi sangat penting dan mutlak diperlukan dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Pengembangan bahan ajar berbentuk modul pada mata pelajaran sejarah yang berdasarkan lokalitas daerah tertentu, akan membantu guru dan siswa untuk menjadikan
pembelajaran lebih berarti dan bermakna. Dalam hal ini guru
yang profesional kiranya mampu mengembangkan modul
sejarah yang relevan sesuai kebutuhan siswanya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lakeishapenerbit, 2021-09-28 03:25:36

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Pembelajaran sejarah relevannya dimulai dari lingkup daerah terkecil yang berada di sekitar siswa, yang mana siswa dapat mengambil topik dari daerah sekitarnya sendiri. Salah satu keunggulannya adalah siswa dapat
memahami sejarah yang berada di daerahnya sendiri, atau yang
disebut dengan sejarah lokal. Hal itu guna menumbuhkan rasa cinta, rasa empati dengan turut serta merawat serta melestarikan peninggalan-peninggalan bersejarah di lingkup
lokal, sehingga pembelajaran sejarah akan mampu
mengajarkan kearifan bagi siswanya. Urgensi materi yang di
dalamnya memuat bahan ajar sejarah lokal yang mengacu pada lokalitas daerah tertentu menjadi sangat penting dan mutlak diperlukan dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Pengembangan bahan ajar berbentuk modul pada mata pelajaran sejarah yang berdasarkan lokalitas daerah tertentu, akan membantu guru dan siswa untuk menjadikan
pembelajaran lebih berarti dan bermakna. Dalam hal ini guru
yang profesional kiranya mampu mengembangkan modul
sejarah yang relevan sesuai kebutuhan siswanya.

SITUS MEGALITIKUM

LAMPUNG

i

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Pasal 1:
1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis

berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk
nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang undangan.

Pasal 9:
2. Pencipta atau Pengarang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8

memiliki hak ekonomi untuk melakukan a. Penerbitan Ciptaan; b. Penggandaan
Ciptaan dalam segala bentuknya; c. Penerjemahan Ciptaan; d. Pengadaptasian,
pengaransemen, atau pentransformasian Ciptaan; e. Pendistribusian Ciptaan
atau salinan; f. Pertunjukan Ciptaan; g. Pengumuman Ciptaan; h. Komunikasi
Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan.

Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
Pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau
huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii

Drs. Maskun, M.H.
Sumargono, S.Pd., M.Pd.
Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd.

SITUS MEGALITIKUM

LAMPUNG

Penerbit Lakeisha
2021
iii

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Penulis :
Drs. Maskun, M.H
Sumargono, S.Pd., M.Pd.
Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd.

Editor : Andriyanto, S.S., M.Pd.
Layout : Yusuf Deni Kristanto, S.Pd.
Desain Cover : Tim Lakeisha
Cetak I Agustus 2021
14,8 cm × 21 cm, 51 Halaman
ISBN: 978-623-5536-10-1

Diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha
(Anggota IKAPI No.181/JTE/2019)

Redaksi
Srikaton, Rt.003, Rw.001, Pucangmiliran,
Tulung, Klaten, Jawa Tengah
Hp. 08989880852, Email: [email protected]
Website : www.penerbitlakeisha.com

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan
dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

iv

KATA PENGANTAR

Pembelajaran sejarah relevannya dimulai dari lingkup
daerah terkecil yang berada di sekitar siswa, yang mana
siswa dapat mengambil topik dari daerah sekitarnya
sendiri. Salah satu keunggulannya adalah siswa dapat
memahami sejarah yang berada di daerahnya sendiri, atau yang
disebut dengan sejarah lokal. Hal itu guna menumbuhkan rasa
cinta, rasa empati dengan turut serta merawat serta
melestarikan peninggalan-peninggalan bersejarah di lingkup
lokal, sehingga pembelajaran sejarah akan mampu
mengajarkan kearifan bagi siswanya. Urgensi materi yang di
dalamnya memuat bahan ajar sejarah lokal yang mengacu pada
lokalitas daerah tertentu menjadi sangat penting dan mutlak
diperlukan dalam pembelajaran sejarah di sekolah.
Pengembangan bahan ajar berbentuk modul pada mata
pelajaran sejarah yang berdasarkan lokalitas daerah tertentu,
akan membantu guru dan siswa untuk menjadikan
pembelajaran lebih berarti dan bermakna. Dalam hal ini guru
yang profesional kiranya mampu mengembangkan modul
sejarah yang relevan sesuai kebutuhan siswanya.

Daerah lokal merupakan salah satu hal dalam mendukung
pentingnya pengembangan modul sejarah yang relevan dengan

v

kebutuhan siswa pada setiap daerahnya masing-masing. Hal
tersebut dilihat dari setiap daerah di Indonesia tentu memiliki
potensi-potensi peninggalan bersejarah dengan berbagai nilai-
nilai kearifan lokal yang berbeda-beda. Provinsi Lampung
merupakan salah satu provinsi atau daerah yang memiliki
kekayaan potensi peninggalan bersejarah yang melimpah, salah
satunya adalah situs megalitik. Modul situs megalitik lampung
ini memuat peninggalan-peninggalan situs megalitik di
Lampung, yang di antaranya adalah Situs Skala Brak, Situs
Batu Bedil dan Situs Pugung Raharjo yang menjadikan siswa
memiliki wawasan yang luas dan mendalam, khususnya
berbagai situs megalitik yang ada di Provinsi Lampung
sehingga sangat membantu proses pengenalan terhadap
lingkungan. Modul situs megalitik Lampung dilengkapi dengan
gambar-gambar yang relevan dan deskripsi yang detail
mengenai setiap situs-situs tersebut maupun nilai-nilai yang
didapat siswa dalam mempelajari situs-situs megalitik
lampung, sehingga peserta didik tidak akan merasa bosan dan
optimal dalam memahami situs-situs megalitik lampung.

Tim Penulis

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................v
DAFTAR ISI .......................................................................vii

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG ................................ix
A. SITUS SKALA BRAK ...................................................3
1. Lokasi Situs Batu Brak.................................................... 3
2. Sejarah Situs Skala Brak ................................................. 4
3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs
Batu Brak.......................................................................... 7
4. Latihan 1..........................................................................14
B. SITUS BATU BEDIL...................................................15
1. Lokasi Situs Batu Bedil ..................................................15
2. Sejarah Situs Batu Bedil.................................................17
3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs
Batu Bedil........................................................................20
4. Latihan 2..........................................................................25

vii

C. SITUS PURBAKALA PUGUNG RAHARJO.............26
1. Lokasi Situs Purbakala Pugung Raharjo .......................26
2. Sejarah Situs Purbakala Pugung Raharjo ......................28
3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs
Purbakala Pugung Raharjo .............................................30
4. Latihan 3..........................................................................40

NILAI-NILAI YANG DAPAT DICONTOH SETELAH
MEMPELAJARI SITUS BERSEJARAH
MEGALITIKUM DI LAMPUNG......................................41
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................46
PROFIL PENULIS .............................................................49

viii

SITUS MEGALITIKUM
LAMPUNG

KOMPETENSI INTI
KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya
KI 2: Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun,
responsif, dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah
KI 4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret
dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

ix

KOMPETENSI DASAR
1.1 Menghayati keteladanan para pemimpin dalam

mengamalkan ajaran agamanya
1.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli terhadap

berbagai hasil budaya pada masa praaksara, Hindu-Buddha
dan Islam
3.4 Memahami hasil-hasil dan nilai-nilai budaya masyarakat
praaksara Indonesia dan pengaruhnya dalam kehidupan
lingkungan terdekat
4.4 Menyajikan hasil-hasil dan nilai-nilai budaya masyarakat
praaksara Indonesia dan pengaruhnya dalam kehidupan
lingkungan terdekat dalam bentuk tulisan

x

PETA KONSEP

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

SEKALA BRAK BATU BEDIL PUGUNG RAHARJO

NILAI-NILAI YANG ADA PADA SITUS MEGALITIKUM
LAMPUNG

xi

xii

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Gambar 1. Peta Provinsi Lampung

Lampung merupakan salah satu provinsi yang berada di
Pulau Sumatra yang terkenal dengan semboyan Sai Bumi Ruwa
Jurai. Tidak hanya terkenal dengan semboyannya, akan tetapi
Lampung juga dikenal dengan peninggalan sejarahnya, salah
satunya adalah situs sejarah peninggalan kebudayaan
megalitikum (kebudayaan batu besar). Megalitikum secara
etimologi berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos
yang berarti batu. Kebudayaan megalitikum bukanlah suatu
zaman yang berkembang sendiri, melainkan salah satu hasil
budaya pada zaman neolitikum dan berkembang pesat pada
zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh
masyarakat sudah memiliki fungsi yang jelas. Menurut

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 1

Pradipta (2017:287) budaya megalitikum itu sendiri lebih
mengarah kepada sebuah pemujaan terhadap roh leluhur.

Budaya megalitikum terbagi menjadi 2 gelombang, yaitu:
a. Megalitikum tua menyebar ke Indonesia pada zaman

neolitikum (2500-1500 SM) di bawa oleh pendukung
kebudayaan kapak persegi (proto melayu).
b. Megalitikum muda menyebar ke Indonesia pada zaman
perunggu.

Kebudayaan megalitikum pada umumnya memiliki
cakupan yang cukup luas. Orientasi pada bangunan-bangunan
megalitikum biasanya menghadap ke arah pegunungan ataupun
menghadap ke arah sesuatu yang mereka tinggikan. Karena
pada dasarnya budaya megalitik merupakan religi yang
berkembang pada zaman prasejarah. Ciri utama yang dimiliki
oleh tinggalan budaya megalitik dari segi arsitektur adalah
keberadaan punden berundak. Selain punden berundak
peninggalan dari zaman megalitikum antara lain menhir,
dolmen, manik-manik, batu tegak, batu datar dan lain
sebagainya (Geldern, 1945: 149). Temuan batu-batu besar yang
tersebar dibeberapa wilayah Lampung yang menandakan
bahwa sejak sebelum masa praaksara pun sebenarnya di
Lampung ini sudah ada peradaban dan kebudayaan yang cukup
berkembang terbukti dengan banyaknya bagunan batu yang
ditemukan yang pada kesempatan kali ini kita akan membahas
tiga situs megalitikum di Provinsi Lampung, diantaranya situs
Sekala Brak di Kabupaten Lampung Barat, situs Batu Bedil di
Kabupaten Tanggamus dan situs purbakala Pugung Raharjo di
Kabupaten Lampung Timur.

2 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

A. SITUS SKALA BRAK

Gambar 2. Komplek Situs Skala Brak
1. Lokasi Situs Batu Brak

Gambar 3. Peta Rute ke Situs Skala Brak

Situs Megalitik Batu Brak terletak di Desa Kebon Tebu,
Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat dan
waktu yang ditempuh dari kota Bandar Lampung sekitar 5

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 3

jam. Situs ini dikelilingi pegunungan dan kebun kopi
masyarakat, dahulunya situs ini adalah hutan belantara yang
kemudian menjadi kebun kopi milik masyarakat. Adapun
rutenya yakni Bandar Lampung – Kotabumi Lampung Utara -
Bukit Kemuning – Sumber Jaya – Kebun Tebu.

2. Sejarah Situs Skala Brak

Situs megalitik batu brak merupakan kategori
peninggalan masa prasejarah, khususnya tradisi megalitik.
Situs skala brak sendiri merupakan situs pemukiman
(settlement), tempat pemujaan (ceremonial place) dan tempat
pengubur (burial place). Bangunan monumen tradisi megalitik
tersusun dari batu monolitik dengan berat mencapai berton-
ton. Peninggalan yang berada di situs Skala Brak sendiri
terdiri dari Dolmen, Menhir dan Batu Datar dengan bentuk
susunan yang menarik serta jumlahnya yang cukup besar.
Zaman prasejarah, alam pikiran masyarakat masih sangat
sederhana. Mereka mempunyai anggapan semua benda yang
berada di sekelilingnya memiliki kekuatan gaib atau roh yang
mempunyai watak baik atau buruk. Demikian juga
kepercayaan mengenai kehidupan setelah mati dana lam
pikiran yang berdasarkan nenek moyang. Maka muncullah
berbagai macam kebudayaan megalitik, yaitu kebudayaan
yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar seperti
Dolmen, Menhir, Batu Datar dan lain sebagainya (Apriandi,
Agustono dan Amboro, 2018: 3-4).

Berdasarkan catatan sejarah situs ini telah dilakukan
pemugaran sebanyak dua kali. Situs megalitik Batu Brak ini
memiliki luas lahan 3,5 hektar. Di lokasi situs yang awalnya

4 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

merupakan perkebunan kopi penduduk lokal, terdapat 40 buah
batu menhir, 38 batu dolmen, 2 batu datar, dan beberapa batu
kelompok. Situs ini sudah melakukan proses pembugaran dua
kali. Tahun 1984 dan 1989. Dalam pembugaran dilakukan
reposisi dan rekonstruksi batuan keposisi semula karena saat
ditemukan, posisi bebatuan tidak beraturan lantaran gejala
alam seperti gempa bumi, tanah longsor, dan faktor usia
(Yulia , 2017:177).

Pada situs Batu Brak tidak nampak adanya peninggalan-
peninggalan ukiran-ukiran maupun relief. Bentuk kebudayaan
megalitik yang besar dan bervariasi serta jumlah yang banyak,
menunjukkan suatu corak masyarakat yang sudah teratur
dengan sifat gotong royong yang tinggi. Hal demikian terlihat
dari bentuk-bentuk megalitik yang didirikan mempunyai
ukuran besar yang tidak mungkin dilakukan oleh satu orang.
Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan orang dalam
jumlah yang banyak hingga ratusan orang (Naharo, 2017:
390).

Situs ini di namakan Batu Brak dalam bahasa Jawa yang
artinya banyak dan dalam bahasa Lampung yang artinya lebar
jadi dapat disimpulkan bahwa situs megalitik Batu Brak
adalah batu yang banyak dan bentuknya yang lebar. Situs ini
ditemukan oleh rombongan yang dipimpin oleh Ama Raden
Poeradirdja. Dahulunya situs ini adalah hutan belantara dan
ditemukannya batu-batu yang terdapat di situs ini, yaitu secara
sekaligus dan tidak terpisah-pisah, diantaranya ditemukan
beberapa benda-benda peninggalan seperti menhir, dolmen,
batu datar, batu umpak, manik-manik dan keramik. Batuan
pada situs ini posisinya tidak diubah sesuai degan posisi pada

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 5

saat awal ditemukan. Batu-batu yang ada di dalam situs
megalitik Batu Brak ini menghadap ke arah gunung yang
dinamakan Gunung Rigis yang diyakini sebagai tempat suci,
pemujaan dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Bangunan-
bangunan pada situs purbakala ini memiliki posisi lurus dan
berorientasi utara-selatan, kemudian terdapat delapan batuan
berdiri sejajar yang diperkirakan sebagai pintu masuk yang
digunakan oleh masyarakat pada zaman dahulu untuk
memasuki tempat tersebut (Hasil wawancara pribadi dengan
Bapak Ristio Widodo selaku penjaga situs, 19 Oktober 2019).

Situs ini merupakan situs pemukiman dan pemujaan
karena ditemukan begitu banyak batu umpak dengan jumlah
156 buah yang terdiri dari tiga kelompok. Menurut keterangan
dari dinas pendidikan subdin kebudayaan Provinsi Lampung
dinyatakan bahwa batu umpak adalah batu-batu kecil yang
berfungsi sebagai penyangga bangunan (Naharo, 2017: 387).

Nilai-nilai kebudayaan situs megalitik Batu Brak dapat
dilihat dari peninggalan manik-manik. Menurut keterangan
dari Dinas Pendidikan Subdin Kebudayaan Provinsi Lampung
diketahui bahwa manik-manik yang ditemukan terbuat dari
bahan kaca dan batu karnelin, yang beraneka warna, seperti
merah, hijau, biru, kuning, dan lain-lain yang digunakan untuk
perhiasan, bekal kubur, dan ditabur pada waktu upacara.
Peradaban megalitikum tidak lepas dari munculnya sistem
kepercayaan/religi. Hal tersebut mereka wujudkan dalam
bnetuk menhir dan dolmen dalam situs Batu Brak. Sistem
kepercayaan pada masa itu adalah animisme, dinamisme dan
toteisme (Naharo, 2017: 389).

6 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Suasana religius dan magis di situs Batu Brak masih
sangat terasa hingga saat ini. Kita bisa melihat pemandangan
kebun kopi milik masyarakat setempat dan beberapa gunung
yang salah satunya merupakan gunung yang dipercayai
memiliki kekuatan magis dan merupakan gunung yang suci.
Di sekitar situs terdapat pemandangan yang sangat indah
dengan rerumputan yang hijau dan pepohonan yang serba
hijau di sisi kanan maupun di sisi kiri situs tersebut dan juga
dikelilingi oleh aliran sungai dekat kebun kopi masyarakat
yang digunakan sebagai tempat untuk mencari makanan oleh
manusia purba zaman dahulu. Situs batu berak merupakan
situs bersejarah yang dilindungi oleh pemerintah berdasarkan
UU No. 11 Tahun 2010 pasal 1 butir 1 menjelaskan bahwa
cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan
berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur
cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya
di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadannya,
karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses
penetapan (UU No. 11 Tahun 2010 pasal 1 butir 1 dalam
Muhammad Basri, dkk, 2018: 128).

3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs Batu Brak

Terdapat beberapa peninggaalan megalitikum di situs Skala
Brak yang ditemukan, yaitu:

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 7

a. Batu Datar
Batu datar merupakan salah satu peninggalan zaman

prasejarah yang ada di Indonesia dan salah satu penemuan
batu datar, yaitu di situs purbakala Batu Brak, di Desa
Kebon Tebu, Lampung Barat.

Gambar 4. Batu Datar
Batu datar ini ditemukan bersamaan dengan penemuan
batuan-batuan yang lainnya. Batu datar di situs ini terbuat
dari batu yang disebut dengan batu andesit dan monolitik
begitu juga batuan yang lainnya. Batu datar, yaitu batu yang
permukaannya rata dan datar. Pada prinsipnya batu datar
sama dengan dolmen tetapi ada yang membedakannya, yaitu
batu datar tidak disanggah dengan batu-batuan kecil yang
biasa disebut dengan batu umpak sedangkan dolmen
disanggah oleh batu-batu kecil atau batu umpak. Sebenarnya
dalam situs purbakala Batu Brak ini Batu Datar diperkirakan
ada tiga, tetapi salah satu Batu Datar masih diragukan
kejelasannya bahwa batu tersebut adalah Batu Datar atau
bukan (Wawancara oleh Bapak Ristio Widodo sebagai
Penjaga Situs, 19 Oktober 2019).

8 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Batu Datar di situs purbakala Batu Brak posisinya
lurus dan berorientasi utara-selatan dengan menghadap ke
Gunung Rigis yang dipercaya oleh masyarakat pada masa
ini adalah tempat yang suci dan memiliki kekuatan magis.
Fungsi dari Batu Datar ini pula pada dasarnya sama dengan
dolmen tetapi Batu Datar di situs ini memiliki fungsi
khusus, yaitu sebagai tempat meletakkan sesaji yang
diperuntukkan untuk arwah nenek moyang, sedangkan
dolmen memiliki fungsi umum, yaitu sebagai tempat sesaji
untuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan juga
sebagai tempat penguburan mayat (Siska, 2015: 99).
Adapun ukuran Batu Datar masing-masing diperkirakan,
yaitu:

1. Panjang: 150 cm, Lebar: 100 cm, Tebal: 65 cm
2. Panjang: 135 cm, Lebar: 85,5 cm, Tebal: 55 cm

b. Menhir

Menhir atau batu tegak, digunakan sebagai tempat
pemujaan roh nenek moyang. Semakin tinggi derajat atau
kekuatan manusia yang hidup pada masa itu, maka akan
dibuatkan menhir yang semakin besar dan tinggi pula.

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 9

Gambar 5. Menhir

Pada situs Batu Brak, terdapat beberapa jenis menhir.
Mulai dari yang besar, terpahat, tegak dan rapih, dan kecil.
Batu Menhir pun ditemukan di Sumatra Barat. Menhir ini
ditanam dengan posisi menghadap Gunung Sago (sago
artinya sawaga atau surga). Dalam tradisinya dikenal
pemujaan terhadap Gunung yang dianggap sebagai tempat
bermukim roh nenek moyang atau penguasa alam. Apriandi,
Agustono dan Amboro (2018) menjelaskan dalam
tulisannya Menhir ditemukan secara berkelompok, dengan
jumlah keseluruhan 50 buah, dengan ukuran tertinggi 268
cm x 68 cm x 55 cm, yang terbagi dalam 5 kelompok
dengan rincian sebagai berikut:

a. Kelompok 1: 5 buah
b. Kelompok 2: 13 buah
c. Kelompok 3: 7 buah
d. Kelompok 4: 17 buah
e. Kelompok 5: 8 buah

10 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

c. Dolmen (Meja Batu)

Dolmen adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu
yang merupakan hasil dari kebudayaan megalitik. Lebih
lengkapnya dolmen merupakan sebuah susunan batu yang
terdiri dari sebuah batu lebar yang ditopang oleh beberapa
batu lain yang ukurannya lebih kecil dengan jumlah 4 atau 6
sehingga menyerupai atau berbetuk meja. Dolmen pada situs
Skala Brak terbuat dari batuan monolit andesit dengan
berjumlah 27 buah serta mempunyai ukuran yang terbesar
297 cm x 290 cm x 77 cm dan tersusun memanjang sat
ugaris lurus yang berorientasi utara-selatan menghadap ke
Gunung Rigis yang berada di sebelah utara situs megalitik
Batu Brak, hal ini dikarenakan Gunung Rigis merupakan
salah satu gunung tertinggi yang ada di wilayah tersebut,
yang mana pada masa itu manusia purba menganggap
bahwa roh-roh nenek moyang berada di daerah tinggi, salah
satunya adalah gunung (Apriandi, Agustono dan Amboro,
2018: 5-6).

Gambar 6. Dolmen 11

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Dolmen memiliki variasi bentuk yang tidak berfungsi
sebagai kuburan, tetapi bentuk-bentuk yang menyerupai
dolmen dibuat untuk pelinggih roh atau tempat persajian.
Dolmen berfungsi sebagai pelinggih di kalangan masyarakat
megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat
duduk oleh kepala suku atau raja saat pertemuan maupun
upacara dalam hubungan pemujaan arwah leluhur (Tim
Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2008:255).

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Ristio Widodo
bahwa Dolmen yang ada dalam situs Batu Brak ini
berfungsi sebagai tempat menaruh sesaji ketika upacara
pemujaan atau peribadatan, bukan sebagai tempat
pengkuburan mayat hal ini dibuktikan dengan tidak
ditemukannya tulang belulang pada saat proses ekskavasi,
kemungkinan besar ukuran dari dolmen ini juga menentukan
status sosial pada zaman megalitik. Uniknya di bawah
dolmen terdapat batu-batu kecil sebagai penyangga yang
sering disebut umpak yang di kemudian hari menjadi cikal
bakal adanya pondasi bangunan.

d. Batu Umpak

Di situs Skala Brak terdapat beberapa batu umpak
yang dipercaya pada saat dahulu dijadikan sebagai pondasi
atau alas dalam pembuatan sebuah bangunan. Pada tradisi
megalitik atau zaman batu besar, masyarakat sudah
mengenal bangunan, mereka sudah mulai hidup menetap
dan tidak nomaden, hal tersebut dibuktikan dengan adanya
batu umpak yang cukup banyak yakni berjumlah 158 buah

12 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

yang tersebar di situs megalitik Batu Brak (Apriandi,
Agustono dan Amboro, 2018: 9).

Gambar 7. Batu Umpak

Umpak dalam bahasa Jawa berarti alas atau tiang,
yang artinya batu tersebut digunakan sebagai pondasi atau
alas dari bangunan tinggi seperti rumah yang berbentuk
panggung yang masih belum diketahui bentuk dari rumah
tersebut. Selain itu, batu umpak juga digunakan sebagai
penyangga dolmen atau meja batu. Batu umpak dibuat
sejajar atau lurus yang menghadap Gunung Rigis yang
dipercayai sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek
moyang.

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 13

4. Latihan 1
1. Ada apa saja di peninggalan megalitikum di situs Skala
Brak? Jelaskan makna dari nama situs “Skala Brak”
yang kamu ketahui!
2. Berapakah jumlah keseluruhan koleksi peninggalan
megalitikum di Situs Skala Brak?
3. Jelaskan hal-hal yang kamu dapat setelah membaca dan
mempelajari warisan budaya di situs Skala Brak?

14 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

B. SITUS BATU BEDIL

Gambar 8. Pintu Gerbang Kompleks Situs Batu Bedil
1. Lokasi Situs Batu Bedil

Gambar 9. Peta Situs Batu Bedil

Situs Batu Bedil secara administratif berada di Desa
Gunung Meraksa, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten
Tanggamus. Secara geografis, lokasi ini berada di wilayah hulu
Way Sekampung. Bentang alam daerah berupa pedataran
bergelombang. Secara umum ketinggian berkisar antara 300 –

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 15

400 m dpl. Pemanfaatan lahan selain untuk pemukiman juga
digunakan untuk lahan perkebunan, ladang, dan sawah. Sungai
yang mengalir di daerah ini antara lain adalah Way Ulok
Ngaherong beserta anak-anak sungainya dan Way Ilahan.
Aliran Way Ulok Ngaherong dengan anak-anak sungainya
bersatu dengan Way Ilahan. Sistem aliran sungai ini
selanjutnya bersatu dengan aliran Way Sekampung (Saptono,
2013: 129).

Kompleks peninggalan sejarah dan purbakala Batu Bedil
terletak di Dusun Ilir, Desa Gunung Meraksa, Kecamatan
Pulau Panggung, Kabupaten Batu Bedil Tanggamus, Provinsi
Lampung. Dari Bandar Lampung, lokasi dapat dijangkau
melalui jalan darat dengan lama perjalanan kurang lebih dua
jam atau jarak 75 km ke arah utara sedangkan dari Pulau
Panggung ibukota kecamatan hanya berjarak 8 km.

Situs Batu Bedil berada di dataran tinggi +370 m dpl.
Dataran ini merupakan rangkaian paling ujung selatan dari
Bukit Barisan yang membentang di atas patahan Way
Semangka. Di sebelah selatan situs mengalir Way Ilahan yang
merupakan anak Way Sekampung, sedangkan di sebelah utara
situs mengalir sungai kecil yang disebut Way Anak. Di antara
situs dan kedua sungai tersebut terdapat lereng curam dengan
kemiringan 45°–60°. Situs Batu Bedil terletak di tepi jalan desa
yang menghubungkan Desa Talang Padang dan Desa Air
Bakoman. Sekitar situs pada umumnya merupakan kebun
penduduk yang ditanami kopi (Saptono, 2013: 129).

Diantara lokasi peninggalan dan kedua sungai ini
terdapat lereng-lereng yang curam dengan kemiringan 60°
hingga 45° Sehingga dusun Batu Bedil Ilir lokasi peninggalan

16 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

ini terletak pada sebuah bukit yang memanjang dari timur dan
barat yang dibatasi kedua sungai di utara dan selatan. Tidak
jauh dari lokasi ini terlihat dengan jelas puncak gunung
diantara lain Gunung Tanggamus dengan ketinggian 2.102 m
di arah selatan dan Gunung Rindingan dengan ketinggian 1.508
m di arah utara (Arsip Situs Batu Bedil, 2019).

2. Sejarah Situs Batu Bedil

Kompleks peninggalan sejarah dan purbakala Batu
Bedil memiliki benda-benda budaya yang bernilai sejarah
kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Di lokasi ini tersimpan
kekayaan warisan budaya yang unik dan kuno. Peninggalan
purbakala ini berasal dari masa prasejarah, yaitu masa
megalitikum. Tradisi megalitik ditandai dengan ditemukannya
peninggalan seperti menhir (batu tegak), dolmen (meja batu),
batu altar, batu lumpang serta temuan lainnya seperti pecahan
keramik, batu umpak dan lain-lain. Tradisi megalitik, yaitu
suatu masa kehidupan dimana batu-batu besar digunakan
khususnya untuk keperluan keagamaan selain peninggalan
yang disebut di atas, lokasi ini juga ditemukan sebuah prasasti
atau batu bertulis (Wawancara dengan Bapak Haroni selaku
pengelola situs Batu Bedil pada tanggal 13 Oktober 2019).

Pada situs ini terdapat sebuah menhir berukuran besar
dan tinggi yang oleh masyarakat setempat dinamakan dengan
“Batu Bedil”. Dinamakan demikian dikarenakan dulunya
sering terdengar adanya bunyi letusan. Menhir Batu Bedil ini
memiliki ukuran lebar ± 109 cm dan tinggi ± 220 cm, selain
“Batu bedil” pada lokasi tersebut juga banyak ditemukan batu-

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 17

batu tegak, lumpang batu, altar batu atau dolmen, dan batu
bergores. Tinggalan arkeologis di situs ini tidak semuanya
berukuran besar, beberapa tinggalan tradisi megalitik tersebut
berukuran kecil. Tampak adanya konsep penempatan batu-batu
di situs ini, yang kemungkinan di masa lalu mempunyai makna
khusus bagi masyarakat pendukung budaya tersebut.
(https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/situs-
megalitik-batu-bedil-kab-tanggamus-lampung/)

Gambar 10. Menhir Batu Bedil
Awal mula desa ini dikatakan batu bedil karena batu
(menhir) ini. Yang menemukan pertama kali itu masyarakat
dari Desa Gunung Meraksa yang sedang melakukan perluasan
perladangan dan daerah di sini masih hutan belantara. Saat
malam hari dari rumah panggung itu mereka mendengar suara
ledakan dari daerah batu tersebut dan mengeluarkan sinar dari
batu itu. Mereka tidak berani untuk melihat langsung karena

18 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

malam, akhirnya mereka baru melihatnya besok pagi. Itulah
asal mulanya nama Desa Batu Bedil, dulu desa itu belum ada
namanya. Bedil artinya senapan. Kalau tentara sedang perang
tentu memiliki bedil atau senapan, karena bunyi ledakan itu
sendiri seperti senapan makanya dikatakan batu bedil
(Wawancara dengan Bapak Haroni selaku pengelola situs Batu
Bedil pada tanggal 13 Oktober 2019).

Pada masa itu batu-batu besar yang ditemukan dan
dianggap aneh tersebut, belum diteliti oleh pihak tertentu untuk
mengetahui ihwal sejarah dan arti yang tertentu. Barulah kira-
kira pada tahun 1930-an menurut penduduk setempat lokasi ini
pernah didatangi oleh seorang ahli kepurbakalaan dari Eropa.
Namun hingga kini hasil penelitian tersebut belum pernah
terungkap, sehingga nama peneliti dan waktu kedatangannya
yang tepat tidak tercatat (Arsip Situs Batu Bedil, 2019).

Reaksi masyarakat dulu waktu ditemukan pertama
mereka tidak berani memindahkan apalagi memecah. Jadi,
mereka lapor ke kepala desa, lalu ke kecamatan, kemudian ke
kabupaten yang waktu itu masih daerah administratif Lampung
Selatan. Kemudian ke tingkat provinsi, lalu dilakukan
penelitian dan peninjauan. Pada tahun 1957, tim arkeologi
nasional yang dipimpin oleh Dr. Soekmono, melakukan
penelitian ke lokasi peninggalan terutama mencatat prasasti
dan Batu Lumpang. Hasil penelitian tersebut belum
menggambarkan penelitian yang menyeluruh, karena
peninggalan-peninggalan pada umumnya belum terungkap.
Penelitian para ahli pada masa berikutnya menemukan dan
mencatat hampir keseluruhan peninggalan dan menyimpulkan
bahwa situs dihuni manusia baik pada masa prasejarah maupun

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 19

masa batu pengaruh budhisme. Pada tahun 1991-1994 barulah
dilakukan pemugaran kepurbakalaan. Kegiatan pemugaran
antara lain mengangkat/mendirikan peninggalan yang sudah
rebah kepada posisi semula, mendirikan cungkup prasasti.
Selain itu, dilengkapi dengan pemagaran, jalan setapak, werkit,
pembebasan tanah (Arsip Situs Batu Bedil, 2019). Prasasti
Batu Bedil di Kabupaten Tanggamus juga menunjukkan bahwa
Lampung merupakan bagian dari wilayah Sriwijaya
(Soekmono dalam Sapto, 2013:126).

3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs Batu Bedil
Kompleks situs ini terdiri dari tiga klaster yakni, Batu

Bedil pertama berupa sekumpulan menhir, batu datar, dan
prasasti.

a. Menhir
Jumlah menhir di kompleks ini diperkirakan 13 buah.

Jumlah tersebut merupakan perkiraan sementara,
kemungkinan masih banyak yang tertimbun di bawah tanah
atau dipindahkan oleh penduduk sekitarnya.

20 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Gambar 11. Menhir di Situs Batu Bedil

Menhir-menhir yang berada di kompleks situs Batu
Bedil cukup beragam karena ada yang berukuran besar,
sedang, dan kecil. Menhir yang terbesar diantaranya yang
dinamakan Batu Bedil yang tingginya 290 cm lebarnya 70
cm tebal 50 cm. Posisi menhir-menhir ada yang
mengelompok, sejajar, dan ada juga yang berdiri sendiri
(berpencar) (Arsip Situs Batu Bedil, 2019).

Letak setiap menhir tidak terpisahkan dari benda
purbakala lainnya. Kadang-kadang ada menhir yang
berdampingan dengan dolmen atau batu altar dengan jarak
dan orientasi tertentu kompleks membentang arah timur dan
barat. Bentangan tersebut diperkirakan menjadi orientasi
peninggalan secara keseluruhan termasuk menhir. Mengenal
orientasi, bahwa pada umumnya tradisi megalitik cenderung
berorientasi kearah gunung-gunung yang tinggi yang ada di

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 21

dekat situs gunung yang tinggi dianggap tempat yang suci.
Gunung-gunung yang terlihat, baik di selatan (Gunung
Tanggamus) maupun di utara (Gunung Rindingan).
Tampaknya tidak menjadi arah orientasi menhir maupun
peninggalan lain di situs ini (Arsip Situs Batu Bedil, 2019).

Orientasi timur atau barat pada peninggalan ini
tampaknya dihubungkan dengan matahari terbit, dalam
kepercayaan tradisi ini melambangkan kehidupan. Fungsi
menhir di situs Batu Bedil belum dapat disimpulkan secara
pasti. Penelitian untuk menentukan fungsi menhir belum
dilakukan secara mendalam di tempat ini. Namun
berdasarkan pengamatan maupun perbandingan di tempat
lain umumnya, fungsi setiap menhir di tempat ini saling
berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut
antara lain oleh letak yang berlainan seperti posisi berdiri
sendiri, mengelompok dan berbaris. Perbedaan lain adalah
arah dan bentuk yang tidak relatif sama. Tampaknya fungsi
menhir-menhir ini antara lain sebagai tempat upacara
pemujaan tempat mengambil keputusan. Fungsi menhir
sebagai tanda tempat penguburan nenek moyang tampaknya
belum ditemukan di situs ini. Pembuktian ini masih perlu
dilakukan penelitian yang seksama.

22 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

b. Dolmen (meja batu) dan Batu Datar (batu altar)

Gambar 12. Batu Altar dan Dolmen
Dolmen dan batu altar merupakan jenis peninggalan
yang berbentuk papan batu. Kedua jenis ini dibedakan, yaitu
bahwa, dolmen ditopang oleh batu-batu kecil sebagai kaki,
sedangkan altar tidak ditemukan batu penyanggah. Bentuk
kedua peninggalan ini hampir sama, baik memanjang atau
bulat. Jumlah batu dolmen dan altar diperkirakan 10 buah.
Jumlah kedua masing-masing ini masih sulit ditentukan
secara pasti, karena harus dilakukan ekskavasi atau
penggalian di bawah batu besar tersebut. Hingga saat ini
melalui penggalian dan pemugaran, baru terungkap 2
dolmen dan 7 buah batu altar (Wawancara dengan Bapak
Haroni selaku pengelola situs Batu bedil pada tanggal 13
Oktober 2019).
Pada saat ditemukan dolmen maupun altar mempunyai
susunan tidak teratur. Susunan tersebut ada yang berdiri
sendiri dan ada pula yang mengelompok dengan jarak dan
arah yang kurang teratur. Agaknya arah yang menuju suatu
titik bagi dolmen maupun altar tidak dapat ditentukan.
Namun, bila mengikuti arah gugusan peninggalan maka
keseluruhan peninggalan berorientasi timur-barat. Kedua
jenis batu ini berfungsi sebagai tempat pemujaan dan tempat

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 23

sesaji dengan tradisi megalitik. Pada saat pemugaran tidak
ditemukan tanda-tanda bekas penguburan.

Dolmen, yaitu meja batu, yang fungsinya sebagai
tempat meletakkan sajian untuk pemujaan roh nenek
moyang. Jadi dianggap sebagai tempat pemujaan. Kecuali
sebagai meja untuk meletakkan sesaji, ada juga dolmen
yang digunakan sebagai peti mayat. Bangunan ini oleh
penduduk disebut "makam Cina". Pada temuan dolmen ini
terdapat tulang-tulang manusia. Selain itu, juga ditemukan
benda-benda lain seperti periuk, gigi binatang, porselin dan
pahat dari besi. Benda-benda itu dianggap sebagai bekal
bagi yang meninggal di dunia baru. Dolmen banyak
ditemukan di Jawa Timur, terutama di daerah Bondowoso
(Listiani: 2009).

Dolmen adalah bangunan berupa meja batu, terdiri
atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu yang lain.
Dolmen berfungsi sebagai tempat persembahan untuk
memuja arwah leluhur. Di samping sebagai tempat
pemujaan, dolmen juga berfungsi sebagai pelinggih, tempat
duduk untuk kepala suku atau raja. Dolmen ditemukan
bersama dengan kubur batu (Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan: 2014).

24 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

4. Latihan 2

1. Tulislah sejarah singkat ditemukannya situs Batu Bedil
dengan menggunakan bahasamu sendiri!

2. Sebutkan macam-macam peninggalan megalitikum di situs
Batu Bedil beserta dengan fungsinya!

3. Buatlah contoh peta rute perjalanan menuju situs batu Bedil
dari sekolahmu!

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 25

C. SITUS PURBAKALA PUGUNG RAHARJO

Gambar 13. Kompleks Situs Purbakala Pugung Raharjo
1. Lokasi Situs Purbakala Pugung Raharjo

Gambar 14. Peta rute perjalanan menuju Situs Purbakala
Pugung Raharjo

Taman Purbakala Pugung Raharjo terletak di Desa
Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten
Lampung Timur (kurang lebih 52 km sebelah timur Bandar
Lampung). Taman purbakala Pugung Raharjo terletak di
daerah datar berketinggian 80 meter dan dikelilingi oleh
26 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

tanggul bekas peninggalan perang zaman dahulu. Situs
arkeologi seluas kurang lebih 30 hektar ini merupakan
peninggalan zaman megalitik klasik dan Islam (Turwidi, 2019).
Situs ini terletak di bagian atas bangunan berundak sungai
pugung. Pugung Raharjo dapat dikunjungi melalui Bandar
Lampung – Tegineneng – Metro – Sekampung – Gedung wani
– Pugung. Letaknya sekitar 90 km sebelah timur laut Bandar
Lampung. Pugung Raharjo terletak di koordinat 5o 18’ 54” LS
dan 105o 32’ 03” BT. Situs tersebut seluas 25 hektar membujur
dari timur laut ke barat, sejajar dengan arah aliran sungai
pugung yang ada di sebelah selatan situs (Indraningsih, dkk.
1985: 3)

Desa Pugung Raharjo awalnya masih merupakan hutan
belantara yang terletak diantara Desa Bojong dan Gunung
Sugih Besar yang tidak begitu luas, kurang lebih 600 Ha. Sejak
tanggal 1 Juli 1954 para perintis membuka hutan tersebut
dipelopori oleh Bapak Sumono seorang Polisi Militer (PM)
yang diikuti warga berjumlah 78 KK/Keluarga yang
selanjutnya disebut keluarga Biro Rekonstruksi Nasional
(BRN). Semangat gotong royong dan kegigihan para perintis
tersebut maka terbentuklah sebuah Desa Pugung Raharjo dan
difinitif menjadi desa pada Tahun 1956 dalam wilayah
Kecamatan Jabung, Kabupaten Dati II Lampung Tengah
karena pada saat itu belum ada pemimpin, maka dipilihlah
pemimpin sementara sebelum dilakukan pemilihan kepala desa
dan yang terpilih pada saat itu adalah Bapak Mucharom.

Sehubungan adanya desa baru dan masih banyak pula
yang harus ditangani maka pertengahan tahun 1956 diadakan
pemilih kepala desa dan yang terpilih menjadi kepala desa pada

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 27

saat itu adalah Bapak Suharjo. Beliau menjabat sebagai kepala
desa dari tahun 1956 sampai 1980 atau kurang lebih selama 24
tahun (Wawancara dengan Bapak Turwidi Pada tanggal 13
Oktober 2019).

2. Sejarah Situs Purbakala Pugung Raharjo

Situs Pugung Raharjo memiliki luas sekitar 30 hektar
namun yang ada di situs sekarang sekitar 7 hektar itu yang
dilakukan pembebasan oleh pemerintah. Sejarah taman
purbakala Pugung Raharjo sangat berkaitan erat dengan
dibukanya hutan. Jadi, pada tahun 1950-an ini namanya hutan
Pugung. Pugung berasal dari bahasa Lampung yang artinya
dataran tinggi, sebenarnya bukan pugung, tetapi orang
Lampung asli menyebutnya punggung. Namun sekarang itu
menjadi pugung. Kemudian hutan pugung dibuka tahun 1954
oleh warga biro rekonstruksi nasional itu dengan
mendatangkan warga transmigrasi dengan sekitar 78 KK itu
untuk membuka hutan pugung. Kemudian dibuka hutan
pugung itu menjadi sebuah perkampungan, karena warga
pendatang transmigrasi itu dari suku Jawa sehingga ditambah
raharjo. Jadi, artinya Pugung Raharjo itu dataran tinggi yang
sejahtera. Raharjo itu artinya sejahtera, baik masyarakatnya
maupun warga di Pugung Raharjo itu yang sampai sekarang
bisa merasakan kesejahteraan dengan dibuatnya desa ini. Desa
ini juga yang merupakan pusat pemerintahan kecamatan
sekampung udik, di Desa Pugung Raharjo (Wawancara dengan
Bapak Turwidi. Pada tanggal 13 Oktober 2019)

28 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Kemudian pada tanggal 14 Agustus awal mula adanya
situs di taman purbakala Pugung Raharjo. Pada 14 Agustus
1957, salah seorang yang bernama Bapak Kadiran itu
menemukan sebuah cagar budaya arca Boddhisatwa batu putri
badaria. Dari hasil penemuan yang ditemukan pada tanggal 14
Agustus 1957, kemudian tahun 1968 hasil penemuan tersebut
dilaporkan ke lembaga taman purbakala nasional atau LTPN
dilaporkan ke Jakarta. Selanjutnya, lembaga purbakala Jakarta
bekerja sama dengan Pennsylvania Meseum University
melakukan pencatatan dan pendokumentasian kepurbakalaan di
Desa Pugung Raharjo (Choirudin, dkk, 2019: 21). Serta lebih
lanjut melakukan penelitian dari lembaga purbakala nasional
bekerja sama dengan Pennsylvania Museum University dari
Amerika Serikat dengan mendatangkan arkeolog, yaitu Mr.
Bernard Bronson dan Jand Wasman. Kemudian arkeolog dari
Indonesia yang bernama Mahi Suhadi dan Bapak Basuki.

Para arkeolog melakukan penelitian, pemetaan di area
situs purbakala. Sehingga dari hasil penelitian tersebut
diidentifikasi bahwasanya situs taman purbakala Pugung
Raharjo itu terdapat 3 masa atau 3 zaman peninggalan, yaitu
yang pertama zaman prasejarah, zaman prasejarah atau zaman
megalitik sekitar 2500 SM. Pada zaman itu sudah ada
kehidupan di zaman ini. Yang kedua zaman klasik abad 7
sampai abad 14. Kemudian yang ketiga zaman Islam di
Lampung. Adapun peninggalan zaman megalitikum di Pugung
Raharjo ini ada beberapa batu. Ada batu bergores, batu
berlubang, fosil kayu, manik-manik prasejarah, yang sekarang
disimpan di museum ini, karena takut terjadi perusakan oleh

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 29

manusia yang tidak bertanggung jawab jadi diamankan di sini
(Riyan Hidayatullah, 2016).

Pada bulan maret 1977, penelitian dilanjutkan oleh Drs.
Hari Sukendar. Penelitian makin meluas dengan ditemukan
beberapa batu berlubang dan batu bergores. Pada tahun 1980,
pada bulan april kegiatan penelitian dilakukan dengan
ekskavasi (penggalian) pada situs kompleks batu mayat
(kompleks batu kandang) dengan membuka 5 kotak galian, dari
hasil serangkaian penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
kompleks megalitik Pugung Raharjo meliputi luas kurang lebih
30 hektar yang dikelilingi benteng parit di sebelah utara dan
sungai di sebelah selatan.

Bukti-bukti peninggalan benda cagar budaya pugung
raharjo pada zama prasejarah meliputi benteng tanah, punden
berundak, batu berlubang, kompleks batu mayat, kolam
megalitik, dan dolmen. Benteng pada situs ini merupakan
gundukan tanah dari benteng dan parit pada satu sisi berupa
anak sungai sekampung (Way Sekampung). Ukuran benteng
tinggi 2 samapai 3,5 meter panjang benteng sebelah timur 1200
meter, dan sebelah barat 300 meter. Fungsi benteng tersebut
adalah untuk berlindung dari serangan binatang buas dan
musuh (Riyan Hidayatullah, 2016).

3. Koleksi Peninggalan Megalitikum di Situs Purbakala
Pugung Raharjo

Situs arkeologi seluas ± 30 hektar ini merupakan
peninggalan zaman megalitik, klasik dan Islam (Susanti, Imron
dan Ekwandari, 2013: 7)

30 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Koleksi yang ada situs purbakala Pugung Raharjo terbagi
ke dalam dua lokasi penyimpanan ada yang tetap berada di
kawasan situs dan ada beberapa koleksi yang ditempatkan di
rumah informasi yang letaknya hanya 1 km dari kawasan situs.
Koleksi yang ada ada di kawasan situs purbakala Pugung
Raharjo adalah sebagai berikut.
a. Situs Batu Mayat

Gambar 15. Kompleks Situs Batu Mayat

Batu Mayat adalah sebutan oleh penduduk setempat
merupakan sebuah batu yang kemungkinan sebuah menhir.
Menurut penjelasan dari Bapak Turmidi situs batu mayat
adalah situs menhir yang terdapat sebuah kumpulan batu
yang saat ditemukan tidak berubah struktur dan bentuknya
sampai saat ini. Terdapat batu besar sebagai yang utama
berbentuk seperti kelamin laki-laki yang menggambarkan
kejantanan dan keberanian. Disebut batu mayat karena
batu tersebut berbentuk menyerupai bungkusan mayat.
Batu mayat ini memiliki ukuran 205 cm dan garis tengah

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 31

40 cm. Pemberian nama tersebut berdasarkan pada batu
besar yang berbentuk menhir menyerupai kemaluan laki-
laki (phallus) yang pada saat penemuanya dalam posisi
roboh dan menyerupai mayat (Susanti, Imron dan
Ekwandari, 2013: 3)

Batu mayat tersebut terletak dan tertanam tegak di
tengah-tengah batu lain yang melingkarinya dalam bentuk
segi empat panjang arah timur dan barat. Batu-batu yang
melingkari batu tersebut antara lain batu altar, dolmen
untuk meletakkan sesaji dalam ritual menyembah nenek
moyang, menhir-menhir kecil, sebuah batu berbentuk
lempengan bergores huruf "T" pada kedua sisinya, di
depan situs terdapat dua batu menhir yang berhadapan dan
terdapat celahnya dimaksudkan sebagai pintu gerbang
untuk masuk ke area batu mayat tersebut. Arah batu yang
melingkar batu mayat adalah dalam orientasi timur-barat,
adanya orientasi ini memunculkan beberapa penafsiran
antara lain ada yang mengatakan bahwa orientasi itu
sebagai siklus alam atau gambaran perputaran matahari.

Selain batu mayat ditemukan pula megalit-megalit
lain seperti batu-batu tegak dan batu bergores, maka
kompleks tersebut disebut kompleks batu mayat. Fungsi
dari komples batu mayat ini adalah sebagai tempat
pemujaan yang berkaitan dengan pemujaan dan lambang
kesuburan (Susanti, Imron dan Ekwandari, 2013: 3). Pada
situs batu mayat ini kita akan dapat melihat menhir (batu
tegak), dolmen (meja batu), kubur batu, keranda dan
sebagainya. Dahulu benda seperti itu berfungsi sebagai
tanda peringatan tempat pemujaan, tempat penguburan atau

32 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

tempat bermusyarawah. Hingga kini masih banyak orang
yang menaruh sesaji si situs batu mayat ini. Mereka percaya
dengan menaruh sesaji dan merapalkan doa di situs batu
mayat tersebut maka keinginan mereka akan terkabul.

b. Punden Berundak

Gambar 16. Salah Satu Punden Berundak

Punden berundak adalah bangunan berbentukpersegi
konsentris yang ditemukan pada masa prasejarah di
Indonesia dan juga di Pasifik. Umumnya bangunan ini
memiliki pola atau bentuk memusat (konsentris) dengan
bagian pusat tertinggi berada di tengah, dan pola
memanjang, yaitu dengan bagian pusat di belakang yang
merupakan lokasi tertinggi (Djami, 2013: 3)

Terdapat Ada 13 buah punden di dalam Taman
Purbakala Pugung Raharjo baik yang berukuran besar
maupun kecil. Namun hanya 7 buah punden yang dapat
terselamatkan dikarenakan 6 punden lainnya terkena erosi
dan penggarapan tanah oleh warga dikarenakan
ketidaktahuan bahwa gundukan tanah tersebut merupakan
salah satu peninggalan purbakala. Pada awalnya punden

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 33

ini ditemukan hanyalah sebuah gundukan tanah yang
tertutupi oleh ilalang dan pepohonan yang ternyata setelah
dibersihkan memiiki teras yang bertingkat. Punden yang
ditemukan dalam situs ini ada yang memiliki tiga buah
undak-undak dan dua buah undak-undak yang mebedakan
derajat dan status sosialnya. Pada saat kami mengamati
langsung, kami hanya berkesempatan untuk mengamati 2
punden yang berada di dekat situs batu mayat punden ini
masihh benar-benar asli belum mengalami pemugaran
tingginya hanya sekitar 2 meter dan lebarnya ±4×4 meter
dan punden yang kedua kami temui ±setengah kilo meter
sebelum kolam megalitik pada punden ini setelah kami
amati berbeda dengan punden sebelumnya pada punden
kedua ini lebih lebar dan lebih tinggi karena sudah
mengalai pemugaran.

c. Kolam Megalitik

Kolam megalitik adalah suatu kolam yang
mengandung benda-benda megalithik dan sudah dapat
dipastikan bahwa kolam pemandian itu telah digunakan
sejak masa prasejarah. Kolam dimaksud terletak di bagian
timur situs purbakala Pugung Raharjo, tepatnya di sebelah
barat punden yang paling timur atau sering disebut
"Punden Arca".

34 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

Gambar 17. Kolam Megalitik

Di situs ini terdapat sebuah mitologi dimana jika
seseorang mencuci muka atau bahkan meminum air yang
mengalir dari sumber mata air yang ada di kolam megalitik
ini, maka dipercaya dapat awet muda dan mudah jodoh.
Sampai saat ini masih banyak orang yang percaya akan hal
ini, ini dapat di lihat karena adanya bekas sesaji atau
sesajen di dekat mata air kolam megalitik. Di kolam ini
juga tedapat ikan-ikan kecil yang dapat digunakan sebagai
terapi, dimana jika kita merendam kaki di tepi kolam
tersebut dan banyak ikan yang mendekat kemudian
menggigiti kulit kaki maka dipercaya orang tersebut
memiliki atau sedang mengidap penyakit. Selain itu,
terdapat juga mitos yang berkembang di area kolam
bertuah ini berawal dari adanya sebuah dongeng yang
menceritakan bahwa di kolam tersebut menjadi lokasi para
putri dari keratuan Pugung untuk mandi, mencuci,
meramu, dan mengambil air untuk kebutuhan ritual
pemujaan. Sumber air ini dipercaya oleh masyarakat tidak
pernah kering walau musim kemarau sekalipun

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 35

(http://kepercayaan-
tradisi.kemdikbud.go.id/da/detail/a_cr?kode=CR0209).
d. Benteng Parit

Gambar 18. Benteng Parit
Di antara Taman Purbakala Pugung Raharjo ada dua
buah benteng, benteng sebelah timur dan benteng sebelah
barat dengan luas seluruhnya 30 Ha, dengan perincian:
benteng sebelah timur 20 Ha dan benteng sebelah barat 20
Ha. Yang dimaksud dengan benteng pada situs ini
merupakan gundukan tanah dalam bentuk melingkar, tinggi
gundukan 2-3,5 m, sedangkan bagian luarnya terdapat parit
yang dalamnya 3-5 m. Panjang benteng sebelah timur 1200
m dan sebelah barat 300 m. Pada beberapa bagian terdapat
jalan yang menghubungkan bagian luar dan dalam benteng.
Fungsi benteng tersebut adalah untuk berlindung dari
serangan binatang buas dan musuh.

36 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG

e. Menhir

Menhir adalah adalah batu tunggal, biasanya
berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga
berbentuk tugu dan biasanya diletakkan di tanah. Istilah
menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men (batu) dan
hir (panjang). Jadi, artinya adalah batu panjang. Menhir
biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar
di atas tanah, tetapi pada situs megalitik di pugung raharjo
itu dahalu ditemukan menhir yang diletakkan terlentang di
tanah. Oleh penduduk setempat, batu yang seperti kandang
di Pugung raharjo biasa disebut dengan batu mayat.
Pemberian nama batu mayat didasarkan temuan menhir
berbentuk kemaluan laki-laki (phallus) yang pada waktu
ditemukan dalam posisi rebah dan menyerupai mayat dan di
situs batu mayat itu bukan hanya ada menhir, tetapi ada juga
dolmen sebagai meja untuk tempat sesaji, batu bergores dan
batu tegak (Turwidi, 2019)

Gambar 19. Menhir yang ada pada situs batu mayat

SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 37


Click to View FlipBook Version