Menurut para Arkeolog yang datang pada Situs
Purbakala Pugung Raharjo, Menhir yang menjorok ke atas
itu menunjukkan bahwa di atas itu adanya Tuhan. Walaupun
Animisme mereka sudah mengenal adanya Tuhan dengan
mendirikan menhir-menhir itu. Di dalam rumah informasi
Pugung Raharjo terdapat 2 buah menhir dengan ukuran yang
berbeda yang pertama ada menhir dengan tinggi 85 cm
dengan diameter 24 cm, dan menhir dengan ukuran tinggi
90 cm diameter 21 cm (Turwidi, 2019). Di dalam rumah
informasi ini juga terdapat beberaapa peninggalan yang
ditemukan di dalam maupun sekitar situs purbakala Pugung
Raharjo yang masih disimpan dan dijaga dengan apik di
dalam rumah informasi ini.
f. Keramik
Gambar 20. Keramik
Keramik yang ditemukan di situs Pugung raharjo
sangatlah banyak ini tersebar di hampir setiap situs.
Jumlahnya hampir ribuan, dan mungkin jutaan. Ini
membuktikan bahwa nenek moyang kita di situs Pugung
Raharjo telah melakukan perdagangan yang sangat luas,
38 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
yang diperkirakan berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya
atau melakukan pelayaran yang lebih jauh lagi ke negeri
Cina. Ini dibuktikan dengan sebaran keramik yang
ditemukan sangat luas dan kronologi keramik dapat
diketahui mulai dari abad ke-8 atau 9 hingga abad ke-17,
seperti ditemukannya keramik Tang, keramik yang paling
muda, yaitu keramik Ching. Jumlah keramik terbanyak
adalah keramik Sung dan Ming dari abad ke-10 hingga
abad ke-17. Ini menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan
atau pelayaran nenek moyang kita di abad ke-10 hingga 17
di kawasan Way Sekampung sangat ramai. Namun
keramik-keramik yang masih tersisa dan yang masih utuh
hanyalah beberapa saja, seperti guci, buli-buli, cepuk dan
mangkuk.
Selain, memamerkan temuan benda-benda cagar
budaya di Situs Pugung Raharjo, rumah informasi ini juga
menyediakan informasi berkenaan dengan sejarah temuan,
ekskavasi, pemugaran, pembuatan zoning (batas situs)
serta melindungi benda-benda cagar budaya dan situs
dengan tujuan untuk melestarikan dan memanfaatkan
untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Rumah
informasi Pugung Raharjo, pengelolaannya di bawah
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, dan
juga termasuk wilayah kerja dari Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Provinsi Banten.
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 39
g. Patung Budisatwa (Patung Putri Badriah)
Gambar 21. Patung Budisatwa
Arca Bodhisatwa atau Patung Putri Badariah
ditemukan di punden berundak VII, oleh salah seorang
warga yang sedang menyangkul, yaitu Kadiran pada 14
Agustus 1957. Patung ini terbuat dari batu andesit dengan
posisi duduk dengan sikap “dharmacakra mudra” yang
berhiaskan lengkap lembaran-lembaran bunga lotus, serta
duduk di atas lapik berhiaskan bunga lotus. Patung ini
memiliki ukuran tinggi 91 cm, lebar 35 cm, tebal 22 cm,
dan tebal lapik 18 cm, dengan garis tengah lapik 61 cm.
Patung ini diperkirakan dari abad ke-12.
4. Latihan 3
1. Tulislah sejarah singkat ditemukannya situs purbakala
Pugung Raharjo dengan bahasamu sendiri!
2. Sebutkan macam-macam warisan budaya peninggalan
megalitikum di situs purbakala Pugung Raharjo, sertakan
kegunaannya!
3. Terletak dimanakah situs purbakala Pugung Raharjo?
40 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
NILAI-NILAI YANG DAPAT DICONTOH SETELAH
MEMPELAJARI SITUS BERSEJARAH
MEGALITIKUM DI LAMPUNG
Mempelajari sebuah warisan budaya mempunyai arti
yang sangat penting tertuang dalam UU No. 11 tahun 2010
pasal 1 butir 1 (2010:2) berbunyi: Cagar budaya adalah warisan
budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, dan
kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu
dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi
sejarah dalam hal ini khususnya adalah situs-situs sejarah
megalitikum di Lampung.
Menghadapi tantangan alam yang demikian besar,
kemungkinan di masa lalu masyarakatnya sudah mengenal
berbagai pengetahuan dan berbagai bentuk nilai kearifan. Pada
masa sekarang, nilai-nilai yang demikian lebih banyak
dimaknai hanya dalam tataran nilai sosial. Akan tetapi,
sebenarnya nilai-nilai itu tidak tertutup kemungkinan juga
dideposisikan dalam teknologi konstruksi. Nilai penting
tersebut, yaitu:
1) Nilai Peduli Lingkungan
Meskipun manusia prasejarah hidupnya sangat tergantung
pada alam, justru mereka sangat peduli terhadap lingkungan
alam di sekitarnya, yaitu dengan cara memelihara
kelangsungan ekosistem alam dan populasi manusia.
Mereka juga tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.
Hal ini terbukti cara bercocok tanam mereka yang sederhana
dan dilakukan secara berpindah-pindah untuk menjaga
keseimbangan ekosistem alam.
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 41
2) Nilai Kreatif
Walaupun proses yang panjang dan lama namun terlihat
bahwa manusia prasejarah cukup kreatif. Hal ini terbukti
dari peningkatan teknologi cara-cara pembuatan alat yang
menunjukkan jauh lebih tinggi tingkatnya. Teknologi pada
tingkat permulaan mengutamakan segi praktis sesuai dengan
tujuan penggunaan saja, yang makin lama makin meningkat
ke arah penyempurnaan bentuk alat-alat kerja manusia.
3) Nilai Kerja Keras dan Disiplin
Kegiatan manusia dan pembuatan alat kerja yang semakin
meningkat merupakan hasil kerja keras manusia prasejarah
yang disiplin pada waktu itu. Penyempurnaan ini tentu saja
lahir melalui proses yang panjang dan tidak mungkin
dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Betapa
sulitnya bertahan hidup pada masa itu tercermin dari
perkembangan budaya yang sangat lambat dan memakan
waktu yang panjang.
4) Nilai Tanggung Jawab dan Mandiri
Sejalan dengan kemajuan yang dicapai manusia pada masa
akhir prasejarah dalam meningkatkan taraf hidupnya, tata
susunan masyarakat menjadi makin kompleks. Pembagian
kerja untuk melaksanakan berbagai kegiatan tampak makin
ketat. Khususnya dalam melaksanakan kegiatan yang
membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian
tersendiri. Timbullah dalam masyarakat golongan-golongan
yang terampil, misalnya dalam pembuatan gerabah,
pembuatan benda logam dan perhiasan, atau pembuatan
rumah kayu. Dari adanya pembagian kerja baik atas dasar
42 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
jenis kelamin, golongan umur, dan keahlian (skill) tersebut
dapat diketahui bahwa masing-masing golongan memiliki
rasa tanggung jawab dan kemandirian dalam melaksanakan
tugasnya masing-masing.
5) Nilai Komunikatif
Pada masa hidup berburu dan mengumpul makanan,
manusia prasejarah telah memperlihatkan rasa senang
berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Hal ini
nampak ketika mereka melakukan perburuan hewan dimana
mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Demikian pula
dalam kegiatan berladang sederhana dan pembuatan alat
diperlukan komunikasi. Dalam kehidupan berkelompok
tentu saja akan membutuhkan komunikasi sehingga interaksi
sosial antarkelompok lebih intens, baik dalam kegiatan
bercocok tanam maupun pembuatan gerabah. Bahkan dalam
tradisi megalitik, sangat perlu berkomunikasi dengan roh
leluhurnya agar hubungan tetap terpelihara dengan baik
melalui upacara pemujaan leluhur.
6) Nilai Toleransi, Hormat, dan Gotong-Royong
Pada masa prasejarah, gotong royong ternyata merupakan
kewajiban yang sama-sama dirasakan keperluannya oleh
setiap anggota masyarakat. Menebang hutan, membakar
semak belukar, menabur benih, memetik hasil, membuat
gerabah, kegiatan tukar menukar, berburu, menangkap ikan,
bercocok tanam, membuat alat, dan mendirikan bangunan
megalitik dilakukan secara gotong royong. Bentuk-bentuk
megalitik ini merupakan hasil dari suatu upacara atau pesta
jasa yang hanya dapat dilakukan secara gotong-royong
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 43
sebagai bukti toleransi dan rasa hormat terhadap roh nenek
moyang.
7) Nilai Peduli Sosial
Manusia prasejarah masa paleolitik dan mesolitik hidup
secara berkelompok. Dalam setiap melakukan kegiatan
masing-masing kelompok akan saling berinteraksi, bekerja
sama, dan memberi bantuan atau peduli antara satu dengan
yang lain. Pada masa neolitik mulai ada tanda-tanda cara
hidup menetap di suatu perkampungan yang terdiri atas
tempat tinggal sederhana yang dihuni secara berkelompok
oleh beberapa keluarga. Untuk mencapai kesejahteraan tentu
saja hidup saling peduli sangat dibutuhkan. Sedangkan pada
masa paleometalik ini perkampungan sudah lebih besar.
Terjadi peningkatan usaha perdagangan yang sejalan dengan
kemajuan yang dicapai. Di sinilah terlihat sikap dan
tindakan masyarakat prasejarah yang selalu ingin membantu
dan bekerja sama dengan orang lain.
8) Nilai Religius
Salah satu segi yang menonjol dalam masyarakat bercocok
tanam adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati.
Upacara yang paling mencolok adalah upacara pada waktu
penguburan, terutama bagi mereka yang dianggap
terkemuka oleh masyarakat (Kadir, 1977).
Demikian pula tradisi pendirian bangunan-bangunan
megalitik selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya
hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama
kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yang telah mati
terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman.
44 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
Bangunan ini kemudian menjadi media penghormatan, tempat
singgah, dan sekaligus menjadi lambang si mati. Dengan
demikian maksud pendirian bangunan megalitik tidak luput
dari latar belakang pemujaan nenek moyang serta pengharapan
akan kesejahteraan dan kesempurnaan bagi yang meninggal
tersebut.
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 45
DAFTAR PUSTAKA
(http://kepercayaan-
tradisi.kemdikbud.go.id/da/detail/a_cr?kode=CR0209).
Apriandi, M. A, Ragil. A dan Kian. A. 2018. Booklet Situs
Megalitik Batu Brak Lampung Barat. Lampung Timur:
Percetakan Fadillah
Arsip Situs Batu Bedil. Kompleks Megalitik dan Prasasti Batu
Bedil. Dilihat pada tanggal 13/10/2019.
Basri, Muhammad, dkk. 2020. Nilai-nilai Sejarah Berbasis
Local Wisdom Situs Batu Berak Sebagai Sumber
Pembelajaran Sejarah. Gula Wentah: Jurnal Studi Sosial.
Vol. 5. No. 2.
Choirudin, dkk. 2019. Pengembangan Perangkat
Pembelajaranetnomatematika Pada Situs Purbakala
Pugung Raharjo. Pi: Mathematics Education Journal.
Vol. 3. No. 1.
Dwi, Listiani. 2009. “Sejarah I”. Jakarta. Pusat perbukuan
Nasional, Departemen Pendidikan.
Erlin Novita, I. D. 2016. Ragam Bentuk Tinggalan Budaya
Megalitik Dl Papua (Variation Ofmegalithic Culture In
Papua). Jurnal Papua. Vol. 8. No. 1.
46 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
Haroni. 2019. “Situs Batu Bedil dan Dolmen”. Hasil
Wawancara Pribadi: 13 Oktober 2019. Di Kabupaten
Tanggamus.
Heine Geldern, R. von., 1945. “Prehistoric Research in the
Netherland Indies.” Science and Scientist in the
Netherland Indies”. New York, Board for the Netherland
Indies, Surinam and Curacao.
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/situs-
megalitik-batu-bedil-kab-tanggamus-lampung/
Indraningsih, J. Ratna, dkk. 1985. Laporan Penelitian
Arkeologi Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, Edisi Revisi.
2014.“Ilmu Pengetahuan Sosial”. Jakarta. Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Naharo, Abid Lailata.2017. Identifikasi nilai-nilai Situs Batu
Brak dalam membentuk kesadaran sejarah di
SMA.Universitas Sebelas Maret. Di unduh pada
21/11/2019. di laman web:
jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/psdtp/article/view/10898
Nanang Herjunanto,dkk. 2009. “Ilmu Pengetahuan Sosial
Untuk Kelas VII SMP/MTs”. Jakarta. Pusat Perbukuan
Departemen Penidikan Nasional.
Pradipta, Martin. 2017. Ciri Budaya Megalitik Pada Arsitektur
Candi Di Pulau Jawa (Dari Masa Klasik Tua, Klasik
Tengah, dan Klasik Muda). Universitas Kristen
Prahyangan. Di unduh pada tanggal 30/11/2019. Di
laman web: www.journal.unpar.ac.id
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 47
Ristio Widod.2019. “Batu Datar”. Hasil Wawancara pribadi
pada tanggal 19 Okotber 2019: Kebon Tebu, Lampung
Barat.
Riyan hidayatullah.2016. Pugung Raharjo Warisan Budaya
Lampung. Diunduh Pada tanggal 20/10/2019 dilaman
web: staff.unila.ac.id
Saptono, Nanang. 2013. Amerta: Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Arkeologi. Vol. 31. No. 2
Siska, Yulia, 2017, Peninggalan Situs Megalitik Sekala Brak
Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran Sejarah Lokal
Di Sekolah Dasar. Vol. 4, No. 02
Susanti, Tiwi, dkk. 2013. Situs Megalithik Taman Purbakala
Desa Pugung Raharjo Kecamatan Sekampung Udik
Kabupaten Lampung Timur (Dalam Pandangan
Masyarakat Setempat). Pesagi: Jurnal Pendidikan dan
Penelitian Sejarah. Vol. 1. No. 4.
Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. 2008. Sejarah
Nasional Indonesia. Jakarta. Balai Putaka.
Wawancara dengan Bapak Turwidi. Pada tanggal 13 Oktober
2019
48 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
PROFIL PENULIS
Drs. Maskun, M.H. Lahir di
Tenumbang 28 Desember 1959. Email.
[email protected]. Latar
belakang pendidikan adalah Sarjana
Pendidikan di program studi
Pendidikan Sejarah di Universitas
Lampung. Selanjutnya melanjutkan
studi S-2 di Universitas Lampung Fakultas Hukum. Sekarang
sebagai dosen di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas
Lampung.
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 49
Sumargono lahir di Jakarta pada tanggal 08
Januari 1988. Ia menyelesaikan
pendidikannya di SD Negeri 2 Pule, SMP
Negeri 1 Wonogiri, SMA Negeri 1
Wonogiri. Penulis merupakan alumnus S1
Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas
Maret Surakarta Tahun 2010 dan
menyelesaikan S2 Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas
Maret Surakarta pada tahun 2014.
Saat ini ia mengabdi di Prodi Pendidikan Sejarah FKIP
Universitas Lampung sejak tahun 2018, yang sebelumnya
pernah mengajar di SMA Warga Surakarta, SMK Farmasi
Nasional Surakarta, SMA Negeri 2 Surakarta, dan SMA Negeri
1 Surakarta.
Sebagai pengajar, karya buku yang sudah pernah di buat adalah
Buku Pengayaan Sejarah untuk SMA (2017); buku sejarah
lokal yang berjudul “Grebeg Sudiro: Wujud Keberagaman
Masyarakat di Surakarta” (2017); Media Pembelajaran Sejarah
(2018); Toponimi Kampung-kampung Transmigrasi di
Lampung (2019); Iqra’ Aksara Lampung (2020); Mitigasi
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Kearifan Lokal
Pengelolaan Hutan Masyarakat Ulun Saibatin Lampung Barat
(2020); Lampung: Daerah Tempat Tinggalku (2020); Kearifan
Lokal Megou Pa’ Tulang Bawang: Upaya Preventif Kehamilan
di Luar Nikah (2021); Mitigasi Bencana Banjir Berbasis
Kearifan Lokal Kebudayaan Ngoyok Pada Masyarakat
Kampung Bugis Tulang Bawang (2021); Situs Megalithikum
50 SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG
Lampung (2021); dan Hulu Tulung Kolam Megalitik Pugung
Raharjo: Kearifan Lokal Pelestarian Lingkungan Hidup (2021).
Yusuf Perdana lahir di Jombang pada 26
Oktober 1993, jenjang pendidikannya
dimulai dari SD Negeri Sendang Rejo III,
SMP Negeri 1 Ngimbang, SMA Negeri 1
Ngimbang. Penulis merupakan alumnus S-
1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri
Surabaya, Fakultas Ilmu Sosial dan
Hukum Tahun 2016 dengan skripsi yang
ditulis semasa menempuh pendidikan strata 1 adalah berjudul
"Koperasi Petani Tebu Rakyat Lamong Jaya 1999-2004 dan
mengenyam pendidikan S-2 pada Jurusan Pendidikan Sejarah
di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Tahun 2016 – 2018
dengan Tesis yang ditulis pada masa menempuh magister
berjudul "Implementasi Pendidikan Multikultural dalam
Pembelajaran Sejarah di SMA (Studi Kasus SMAN 3
Surakarta)". Saat ini ia menjadi Dosen di Universitas Lampung
Sejak Tahun 2019 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP) Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program
Studi Pendidikan Sejarah. Beberapa karyanya adalah Buku
yang berjudul Tenggelamnya Mutiara Hitam Lampung: Lada
Ke Kopi Era Kolonial Di Kabupaten Tanggamus (2020),
Modul Interaktif: Sejarah Lokal Lampung (2021) dan Situs
Megalitikum Lampung (2021).
SITUS MEGALITIKUM LAMPUNG 51