The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

RANCANGAN MODUL KESEHATAN DAN GIZI AUD rev

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rochimahnur89, 2022-11-02 22:30:44

RANCANGAN MODUL KESEHATAN DAN GIZI AUD rev

RANCANGAN MODUL KESEHATAN DAN GIZI AUD rev

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 1

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, berkat Rahmat dan
Karunianya rancangan modul ini dapat diselesaikan dengan baik. Modul
Kesehatan Anak Usia Dini ini merupakan rangkaian dari beberapa modul yang
digunakan dalam Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Program Studi
Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Agama Islam, Universitas
Singaperbangsa Karawang.

Rancangan modul Kesehatan Anak Usia Dini ini menjelaskan tentang
konsep Kesehatan Anak Usia Dini yang meliputi ciri-ciri umum anak sehat, cara
menjaga Kesehatan anak usia dini dan gangguan Kesehatan yang umumnya
dialami oleh anak usia dini. Modul ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi
mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini yang mengambil Mata
Kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini dalam memahami konsep kesehatan
anak usia dini yang dapat dijadikan bekal untuk diimplementasikan di satuan
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Nancy Riana, S.Pd., M.Pd selaku
Koordinator Program Studi yang telah mendukung penyusunan rancangan modul
ini. Saya juga menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada semua pihak yang memberikan sumbangsih dan masukan
konstruktif nya untuk kesempurnaan penulisan modul ini.

Demikian modul ini dibuat, semoga dapat memberikan manfaat dalam
pencapaian kompetensi lulusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini,
Fakultas Agama Islam, Universitas Singaperbangsa Karawang.

Karawang, Oktober 2022
Penyusun

Nur Rochimah, S.Si., M.Pd
NIP. 198907262022032005

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................... 3
PANDUAN PENGGUNAAN MODUL .............................................................. 5
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 6

A. Deskripsi Singkat ................................................................................. 6
B. Capaian Pembelajaran......................................................................... 7
C. Pokok dan Sub Pokok Bahasan ........................................................... 7
BAB II KONSEP DASAR KESEHATAN ANAK USIA DINI............................. 8
A. Pengertian anak sehat ......................................................................... 8
B. Faktor yang mempengaruhi Kesehatan anak ....................................... 8
C. Ciri-ciri anak sehat .............................................................................. 10
D. Menjaga Kesehatan anak usia dini ...................................................... 12
E. Rangkuman ......................................................................................... 17
F. Penugasan .......................................................................................... 18
BAB III PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) ANAK USIA DINI 19
A. Pengertian, Manfaat, dan Tujuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ..... 19
B. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Anak Usia Dini ............. 20
C. Sarana dan Prasarana yang Mendukung PHBS di Satuan PAUD........ 30
D. Rangkuman.......................................................................................... 33
E. Penugasan........................................................................................... 34
BAB IV GANGGUAN KESEHATAN ANAK USIA DINI................................... 35
A. Gangguan Kesehatan fisik anak........................................................... 35
B. Gangguan Kesehatan mental anak ...................................................... 41
C. Gangguan Kesehatan sosial anak ....................................................... 44
D. Rangkuman.......................................................................................... 46
E. Penugasan........................................................................................... 47
BAB V PENGEMBANGAN GIZI ANAK USIA DINI ......................................... 48
A. Pengertian Gizi..................................................................................... 48
B. Macam-Macam Zat Gizi ....................................................................... 49
C. Pentingnya 1000 hari pertama kehidupan ............................................ 55
D. Pengertian Gizi Seimbang.................................................................... 60
E. Pilar Gizi Seimbang.............................................................................. 61
F. Isi Piringku ........................................................................................... 64

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 3

G. Rangkuman.......................................................................................... 68
H. Penugasan........................................................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 70

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 4

PANDUAN PENGGUNAAN MODUL
Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal bagi mahasiswa, maka modul
ini digunakan dengan Langkah-langkah sebagai berikut:

1. Sebelum mengikuti perkuliahan, sebaiknya mahasiswa sudah mendownload
modul Kesehatan anak usia dini

2. Pelajari dan pahamilah secara mendalam capaian pembelajaran mata kuliah
dan indikator yang harus dicapai

3. Carilah sumber bacaan lain yang relevan untuk menunjang pemahaman dan
wawasan anda tentang materi ini

4. Apabila ada bagian yang kurang dipahami, buatlah catatan untuk bahan
diskusi dengan dosen saat kegiatan tatap muka daring

5. Kerjakanlah penugasan yang ada di akhir setiap pokok bahasan untuk
mengukur pemahaman anda

6. Untuk meningkatkan pemahaman anda tentang materi pada pokok bahasan
tertentu tontonlah video yang ada pada link yang sudah disediakan dengan
cara melakukan scan QR code menggunakan aplikasi QR scanner

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat
Periode anak usia dini merupakan periode penting dalam tahap

perkembangan manusia. Pada periode ini individu mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, diantaranya yaitu
adalah faktor Kesehatan dan gizi anak. Tumbuh kembang anak usia dini yang
optimal dapat tercapai apabila dalam masa ini anak memiliki kesehatan yang baik
dan kebutuhan gizi nya terpenuhi secara optimal. Jika anak usia dini tumbuh
tumbuh dan berkembang dengan optimal diharapkan anak-anak tersebut akan
dapat tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang sehat, unggul
dan produktif di masa yang akan datang. Sehingga kesehatan anak merupakan
bentuk investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa. Oleh karena itu, melalui
mata kuliah Kesehatan dan Gizi ini diharapkan mahasiswa Program Studi
Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Agama Islam, Universitas
Singaperbangsa Karawang memiliki bekal pengetahuan dan pemahaman terkait
Kesehatan dan gizi anak usia dini.

Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi anak usia dini membahas konsep
kesehatan dan gizi anak usia dini yang mencakup pengertian anak sehat,
gangguan-gangguan kesehatan anak, perilaku hidup bersih dan sehat serta telaah
tentang gizi yang mencakup pengertian gizi, berbagai macam zat gizi dan pangan
sumber gizi, karakteristik makanan bergizi, dan merancang program Kesehatan
dan gizi di satuan pendidikan anak usia dini. Untuk mendukung proses
pembelajaran pada mata kuliah tersebut disusunlah modul Kesehatan dan gizi
anak usia dini.

Modul kesehatan dan gizi anak usia dini ini disusun untuk meningkatkan
kompetensi mahasiswa dalam bidang Kesehatan dan gizi anak usia dini. Dengan
menguasai konsep kesehatan dan gizi anak usia dini diharapkan mahasiswa dapat
meningkatkan kompetensinya sebagai calon pendidik profesional di bidang
pendidikan anak usia dini. Pada modul ini akan dibahas beberapa topik bahasan,
yaitu konsep dasar Kesehatan anak usia dini, cara menjaga Kesehatan anak usia
dini, Perilaku hidup bersih dan sehat anak usia dini, gangguan kesehatan yang

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 6

umumnya berpotensi dialami anak usia dini, dan pengembangan gizi anak usia
dini.

B. Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajarai modul ini, secara umum mahasiswa diharapkan

dapat memahami karakteristik kesehatan dan gizi anak usia dini untuk mendukung
pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara lebih khusus, setelah mempelajari
modul ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mampu menjelaskan konsep gizi dan kesehatan AUD
2. Mampu menjelaskan gangguan Kesehatan pada anak
3. Mampu menjelaskan dan menganalisis konsep zat gizi pada produk makanan
4. Mampu menyusun menu makanan bergizi untuk anak usia dini

C. Pokok dan Sub Pokok Bahasan
Pokok dan sub pokok bahasan dalam modul Kesehatan anak usia dini ini

adalah sebagai berikut:
1. Konsep Dasar Kesehatan Anak Usia Dini, dalam pokok bahasan ini akan

dibahas tentang pengertian anak sehat, faktor yang mempengaruhi Kesehatan
anak, ciri-ciri anak sehat dan menjaga kesehatan anak usia dini,
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) anak usia dini, dalam pokok bahasan
ini akan dibahas pengertian, manfaat, dan tujuan perilaku hidup bersih dan
sehat; pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat anak usia dini; dan sarana
dan prasarana yang mendukung PHBS di satuan PAUD
3. Gangguan Kesehatan anak usia dini, dalam pokok bahasan ini akan dibahas
tiga jenis gangguan Kesehatan anak, yaitu gangguan Kesehatan fisik, mental
dan sosial.
4. Pengembangan Gizi AUD, dalam pokok bahasan ini akan dibahas pengertian
gizi, macam-macam zat gizi, pentingnya 1000 hari pertama kehidupan,
pengertian gizi seimbang dan pilar gizi seimbang.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 7

BAB II
KONSEP DASAR KESEHATAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian Anak Sehat
Dahulu sehat sering didefinisikan secara sempit, yaitu hanya mengacu

pada kondisi kesejahteraan fisik seseorang atau tidak adanya suatu penyakit di
tubuh seseorang. Namun saat ini, sehat didefinisikan secara lebih luas yaitu, suatu
keadaan fisik, emosional, sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual. Masing-masing
komponen tersebut saling berkaitan dan saling berpengaruh serta diasumsikan
memberikan kontribusi yang sama pentingnya bagi kondisi Kesehatan seseorang
(Marotz, 2012). Pendapat tersebut menjelaskan bahwa kondisi sehat bukan hanya
kondisi sejahtera atau sehat secara fisik, tetapi juga sejahtera secara emosional,
sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual. Definisi ini menggambarkan kondisi yang
lebih kompleks atau lebih luas terkait esehatan seseorang.

Jika mengacu pada UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, kesehatan
didefinisikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. WHO juga berpendapat bahwa sehat adalah keadaan sempurna, baik
fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat
(Constitution of the World Health Organization, 2005 dalam Sartorius, 2006).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesehatan adalah suatu keadaan atau
kondisi individu yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial yang tidak
hanya terbebas dari penyakit atau kecacatan tetapi juga memungkinkan untuk
individu tersebut hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi.

B. Faktor yang mempengaruhi Kesehatan anak
Kesehatan merupakan keadaan kompleks yang ditentukan oleh interaksi

berkelanjutan antara faktor genetik individu dengan faktor lingkungan sehari-hari.
Misalnya, kesehatan jangka pendek dan jangka Panjang bayi yang dilahirkan
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan kebiasaan ibu saat hamil. Apakah selama
kehamilan ibu tersebut mengonsumsi alkohol dan obat-obatan, merokok,
melakukan perawatan kehamilan secara berkala, dan terpapar penyakit.

Anak yang dilahirkan dari ibu yang mengabaikan kesehatannya selama
kehamilan akan berpeluang lebih besar untuk melahirkan anak yang premature,
lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan mengakibatkan kelainan

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 8

pada janin (Sebastiani, et.,al, 2018). Anak-anak tersebut juga memiliki risiko yang
lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan jangka panjang. Sebaliknya,
anak yang dilahirkan dari ibu yang sehat akan terlahir sehat, tumbuh di dalam
keluarga yang penuh kasih sayang, mengonsumsi makanan bergizi, dan hidup di
lingkungan yang aman serta memiliki kesempatan untuk bermain dan belajar akan
memiliki kehidupan yang lebih sehat (Marotz, 2012). Kondisi tersebut menjelaskan
bahwa kedua faktor tersebut, baik faktor genetik dan faktor lingkungan saling
berkaitan dan berinteraksi dalam mempengaruhi kesehatan seorang anak.

Faktor Genetik/Keturunan
Faktor genetik merupakan karakteristik yang diturunkan dari orang tua biologis
kepada anak-anak mereka pada saat pembuahan dan menentukan semua sifat
genetik dari individu baru yang unik. Faktor genetik atau keturunan ini membuat
batasan pertumbuhan, perkembangan, dan potensi Kesehatan seseorang.
Misalnya, kita kadang melihat anak yang dilahirkan dari keluarga atau orang tua
yang berbeda memiliki karakteristik fisik yang berbeda, ada anak yang lebih tinggi
atau lebih pendek, ada anak yang dilahirkan dengan penyakit bawaan dan ada
yang tidak sehingga seringkali penyakit seseorang dapat diprediksi dengan
menganalisis riwayat penyakit yang dimiliki keluarganya. Hal tersebut
menggambarkan bahwa faktor genetik memiliki pengaruh terhadap kondisi
kesehatan seseorang.

Faktor Lingkungan
Meskipun faktor genetik menyediakan bahan bangunan dasar yang menentukan
batas kesehatan seseorang, lingkungan memainkan peran yang juga sama
pentingnya. Lingkungan mencakup kombinasi faktor fisik, psikologis, sosial,
ekonomi, dan budaya yang secara kolektif mempengaruhi cara individu
memandang dan menanggapi lingkungannya. Misalnya, ada dua orang
pengendara sepeda, salah satu memakai helm dan salah satunya lagi memilih
untuk tidak memakai helm. Pilihan yang telah dibuat oleh masing-masing
pesepeda ini berpotensi memiliki hasil yang sangat berbeda jika mereka terlibat
dalam kecelakaan. Jika pengendara sepeda yang memutuskan untuk tidak
memakai helm mengalami cedera, kemungkinan besar ia akan mengalami
gangguan kesehatan, ekonomi, sosial, dan psikologis.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 9

Contoh tersebut menggambarkan bahwa faktor lingkungan merupakan
faktor luar dari diri seseorang yang memiliki andil yang besar terhadap kesehatan
orang tersebut. Adapun contoh faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
Kesehatan anak, yaitu: Mendapatkan asupan gizi yang cukup, memiliki waktu
istirahat yang cukup, memiliki akses terhadap pelayanan Kesehatan, terhindar dari
stress, memiliki tempat tinggal dan sekolah yang bersih dan aman. Adapun contoh
faktor lingkungan yang memiliki pengaruh buruk terhadap Kesehatan anak, yaitu:
lingkungan yang tercemar polusi dan bahan kimia, kekerasan, pengabaian dari
lingkungan sekitar, kemiskinan, kelaparan, dan stress atau tekanan. Hal-Hal
tersebut secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi
Kesehatan anak.

C. Ciri-ciri anak sehat

Ada beberapa ciri anak sehat yang perlu dikenali dan dipahami, yaitu:

▪ Tumbuh Kembang anak sesuai dengan usia

Anak yang sehat akan bertumbuh dan

berkembang sesuai usianya, untuk

mengethaui apakah anak bertumbuh

dan berkembang secara optimal maka

orang tua harus melakukan pengukuran

pertumbuhan (Berat Badan, Tinggi Source: freepik.com
Badan, dan Lingkar Kepala) secara rutin

dan berkala serta melakukan skrining perkembangan anak. pengukuran

pertumuhan anak dan skrining perkembangan anak dapat dilakukan di layanan

fasilitas Kesehatan terdekat atau melalui Posyandu. Satuan PAUD dapat

bekerjasama dengan posyandu atau puskesmas terdekat untuk bekerjasama

dalam pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak setiap bulan, hal

tersebut agar orang tua atau guru dapat segera mengetahui jika terjadi

penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan sehingga dapat segera

menindaklanjutinya.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 10

▪ Postur tubuh tegak dan padat
Anak yang sehat memiliki postur tubuh yang tegak dan
padat, postur tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan
tulang dan otot anak maksimal. Agar memiliki postur
tersebut orang tua harus memenuhi asupan gizi anak
secara seimbang.

▪ Rambut, kulit, dan kuku bersih dan sehat Source: freepik.com
Kulit anak yang sehat akan terlihat lembap, tidak Source: freepik.com
kering dan bersisik. Rambut anak juga tampak bersih,
berkilau dan kuat, tidak mudah rontok serta tidak
berkutu. Kuku anak berwarna merah muda dan tidak
rapuh. Warna merah muda pada kuku ini
menunjukkan bahwa anak tidak menderita anemia
atau kekurangan darah.

▪ Nafsu makan baik dan buang air besar teratur

Nafsu makan yang baik memastikan anak mendapatkan

asupan gizi yang cukup dan seimbang. Makan lahap

menunjukkan bahwa tidak ada gangguan mengunyah atau

menelan pada anak. Buang air secara teratur menunjukkan

bahwa pencernaan anak sehat dan cukup serat

Source: freepik.com

▪ Bergerak dan bereaksi aktif, berbicara lancar sesuai usia

Anak yang sehat akan bermain dan bergerak

dengan lincah yang merupakan ciri khas anak-

anak. Kemampuan untuk merespons pembicaraan

dengan berceloteh riang dan melakukan kontak

mata saat berbicara juga menunjukkan bahwa

anak itu sehat dan memiliki fokus atau konsentrasi

yang baik. Source: freepik.com

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 11

▪ Tidur nyenyak dalam waktu cukup
Gizi yang cukup menjamin selsel tubuh tumbuh
dengan baik dan metabolisme tubuh berjalan lancar.
Jika semua ini tercukupi, anak akan tidur dengan
nyenyak. Inilah saat ideal bertumbuhnya sel-sel
tubuh dan otak anak.

Source: freepik.com

D. Menjaga Kesehatan Anak Usia Dini
Untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal, ada beberapa

upaya yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk menjaga agar anak tetap
sehat, yaitu:

Memenuhi gizi Anak Usia Dini
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, salah

satunya adalah faktor gizi. Pemenuhan gizi yang optimal sangat penting untuk
untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama perkembangan otaknya.
Anak usia dini dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang beragam dengan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Setiap makanan yang
dikonsumsi memiliki manfaat yang berbeda-beda sesuai zat gizi yang
dikandungnya. Oleh karena itu penting untuk memberikan asupan gizi seimbang
bagi anak, dengan gizi yang seimbang maka diharapkan anak memiliki tubuh yang
sehat, tidak mudah terserang penyakit, infeksi dan lain sebagainya.

Membiasakan perilaku hidup bersih
Kebersihan merupakan hal yang sangat penting untuk mendukug

Kesehatan anak. periode anak usia dini merupakan periode dimana anak senang
bereksplorasi dengan lingkungannya, ketika bereksplorasi sering kali anak
menyentuh benda-benda apa saja yang ada di sekitarnya tanpa memperhatikan
kebersihannya. Untuk menjaga anak untuk tetap sehat dan mendukung
eksplorasinya orang tua dan guru dapat mengajarkan anak untuk memiliki
kebiasaan hidup bersih. Perilaku hidup bersih anak usia dini dapat dibentuk
melalui pemberian contoh oleh orang dewasa dan melakukan pembiasaan
terhadap perilaku hidup bersih. Adapun perilaku hidup bersih yang harus
dibiasakan sejak dini, yaitu:

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 12

▪ Menjaga kebersihan mulut
Anak-anak perlu dibiasakan untuk menjaga kebersihan mulut melalui
pembiasaan menggosok gigi secara teratur terutama setelah makan dan
juga membersihkan pangkal lidah serta mengajak anak untuk berkunjung
ke dokter gigi untuk memeriksa gigi minimal enam bulan sekali.

▪ Menjaga kebersihan kuku
Menjaga kebersihan kuku dapat dilakukan dengan memotong kuku secara
teratur karena kuku yang panjang berpotensi untuk menjadi sarang kuman.
Guru dapat bekerjasama dengan orang tua dengan melakukan
pengecekan kuku anak dan mengingatkan orang tua untuk memotong kuku
anak secara teratur.

▪ Mejaga kebersihan tubuh
Pengenalan kebiasaan untuk menjaga kebersihan tubuh anak dapat
dilakukan dengan membiasakan anak untuk mandi dengan menggunakan
sabun, orang tua perlu mengawasi dan membantu anak untuk
membersihkan bagian-bagian tubuh yang sering terlewat oleh anak seperti
sela-sela jari dan belakang telinga.

▪ Menjaga kebersihan kaki
Menjaga kebersihan kaki dapat dilakukan dengan membiasakan anak
untuk mencuci kaki terutama setelah anak bermain dan sebelum tidur, kaki
yang sehat ditunjukkan dengan tidak adanya bau dari kaki, bersih dari
jamur kulit, dan tidak ada infeksi lainnya.

▪ Menjaga kebersihan tangan
Selain memotong kuku, menjaga kebersihan tangan dilakukan dengan
membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun di air mengalir,
mencucui tangan dilakukan setelah anak bermain, sebelum makan, setelah
memegang hewan peliharaan, dan setelah buang air.

▪ Menjaga kebersihan lingkungan
Pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan dapat diajarkan kepada anak
melalui kegiatan pembiasaan membuang sampah di tempatnya, orang tua
dan guru harus menyediakan tempat sampah yang mudah dijangkau oleh
anak sehingga anak dapat membuang sampahnya secara mandiri.

▪ Memperhatikan kebersihan makanan dan minuman
Pada umumnya anak-anak menyukai jajanan, namun tidak semua jajanan
bersih dan aman untuk dimakan, orang tua perlu mengajarkan anak untuk

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 13

dapat memilih makanan atau jajanan yang baik untuk dikonsumsi dan tidak
jajan di sembarang tempat, seperti membeli makanan yang bersih dan
tertutup rapat (tidak dihinggapi lalat atau serangga lain, tidak terpapar
polusi atau debu), memilih makanan yang tidak mengandung bahan kimia
berbahaya, seperti banyak mengandung pengawet, pewarna, dan pemanis
buatan.

Mengajak anak aktif bergerak
Pada umumnya anak-anak memiliki energi yang besar, itu sebabnya anak-

anak cenderung aktif bergerak. Dengan banyak bergerak tubuh anak akan
semakin sehat dan kuat, namun ada beberapa anak yang cenderung pasif atau
kurang suka berkativitas fisik. Ada Sebagian anak yang lebih suka kegiatan yang
tidak banyak bergerak, terutama jika anak sudah mengenal gadget. Ada beberapa
tips yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk mengajak anak aktif bergerak,
diantaranya yaitu:

▪ Ajak dan temani anak untuk melakukan kegiatan fisik favoritnya seperti
bermain bola, bersepeda, berenang dan lain-lain.

▪ Jadilah contoh (role model) bagi anak dengan sering melakukan aktivitas
fisik atau bergerak, karena anak cenderung mencontoh orang dewasa di
sekitarnya sehingga jadilah orang tua atau guru yang aktif bergerak.

▪ Batasi paparan televisi dan gadget
Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyusun panduan paparan layar
(screen time) untuk anak di bawah lima tahun, yaitu anak berusia kurang
dari 1 tahun tidak dianjurkan (0 menit) untuk melakukan kegiatan screen
time dan untuk anak usia 1 hingga 4 tahun waktu maksimal screen time
adalah 60 menit.

▪ Jika anak berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk
beraktivitas fisik di luar.
Terkadang ada kondisi yang membatasi aktivitas anak dan keluarga di luar
rumah, wabah penyakit misalnya. Jika kondisi tersebut dialami anak dan
keluarga maka orang tua harus merencanakan aktivitas fisik yang bisa
dilakukan di dalam rumah secara lebih kreatif, misalnya dnegan mengajak
anak untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan rumah yang membuat fisik
anak bergerak (menyapu, mengepel, menyiram tanaman, memasak
bersama, dll) dengan bekerjasama dengan anggota keluarga lainnya.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 14

Aktifitas fisik yang dilakukan oleh anak dapat mencegah anak dari berat
badan berlebih (obesitas). WHO (2019) menyusun panduan durasi aktifitas fisik
yang harus dilakukan oleh anak di bawah lima tahun yaitu:

Tabel 1. anduan durasi aktifitas fisik yang harus dilakukan oleh anak di bawah lima

tahun menurut WHO

Usia Durasi Minimal Aktifitas Fisik
< 1 Tahun 30 menit
1-2 Tahun 180 menit
180 menit dengan minimal 60 menit aktifitas fisik sedang
3-4 Tahun hingga berat

Memenuhi imunisasi anak
Imunisasi merupakan langkah Kesehatan yang penting dan efektif untuk

melindungi anak-anak. Sejarah menunjukkan, imunisasi telah membantu
melindungi jutaan anak dari beragam penyakit menular dan membahayakan
nyawa. Imunisasi sangat efektif sehingga beberapa penyakit yang dahulu ditakuti
kini berhasil diberantas atau dapat dikelola dengan mudah. Namun, akhir-akhir ini
dunia mencatat kemunculan penyakit-penyakit baru. Perkembangan ini membuat
imunisasi anak menjadi semakin penting.

Untuk mendapatkan perlindungan seumur hidup, anak perlu mendapatkan
imunisasi lengkap sesuai dosis dan jadwal. Berikut adalah informasi tentang
jadwal imunisasi anak. Untuk informasi tentang imunisasi yang lebih lengkap orang
tua atau guru dapat mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Sumber: Unicef, 2022

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 15

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan beberapa vaksin dalam
program imunisasi, yaitu:

▪ Hepatitis B
Vaksin ini diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir, didahului suntik
vitamin K minimal 30 menit sebelumnya. Vaksin ini berguna untuk
mencegah infeksi hati serius yang disebabkan virus Hepatitis B.

▪ Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan virus. Dalam kasus
yang parah, polio bisa menyebabkan sesak napas, kelumpuhan, hingga
kematian.

▪ DPT
Ini adalah jenis vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis,
dan tetanus. Difteri adalah penyakit yang menyebabkan sesak napas,
paru-paru basah, dan gangguan jantung. Pertusis atau batuk rejan yang
bisa memicu gangguan pernapasan, paru-paru basah, bronkitis, dan
kerusakan otak. Tetanus bisa menyebabkan kejang dan kaku otot. Tiga
penyakit ini bisa menyebabkan kematian

▪ BCG
Vaksin ini mencegah perkembangan tuberkulosis (TB), infeksi serius yang
umumnya menyerang paru-paru. Vaksin ini tidak melindungi dari infeksi
TB, tetapi bisa mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi penyakit yang
serius seperti meningitis TB. Vaksin BCG hanya diberikan sekali, pada bayi
baru lahir hingga usia 2 bulan. Jika sampai usia 3 bulan vaksin ini belum
diberikan, dokter akan melakukan uji tuberculin dulu, untuk mengetahui
bayi sudah terinfeksi TB atau belum.

▪ Hib
Vaksin ini diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza
tipe B. Infeksi bakteri ini bisa menyebabkan meningitis, paru-paru basah,
radang sendi, dan radang lapisan pelindung jantung.

▪ Campak
Campak adalah infeksi virus pada anak dengan gejala seperti demam,
pilek, batuk kering, ruam, dan radang mata. Jika anak sudah mendapatkan
vaksin MMR, pengulangan vaksin campak kedua tidak diperlukan.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 16

▪ MMR
Ini adalah vaksin kombinasi untuk mencegah campak, gondongan, dan
rubella. Ketiganya merupakan infeksi serius yang bisa menyebabkan
komplikasi berbahaya seperti meningitis, pembengkakan otak, hingga tuli.

E. Rangkuman
1. Kesehatan dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan atau kondisi individu

yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial yang tidak hanya terbebas
dari penyakit atau kecacatan tetapi juga memungkinkan untuk individu tersebut
hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi
2. Kesehatan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan, keduanya saling berkaitan dan berinteraksi dalam mempengaruhi
kesehatan seorang anak.
3. Ciri-Ciri anak sehat, yaitu: tumbuh kembang anak sesuai dengan usia; postur
tubuh tegak dan padat; rambut, kulit, dan kuku bersih dan sehat; nafsu makan
baik dan buang air besar teratur; bergerak dan bereaksi aktif, berbicara lancar
sesuai usia; dan tidur nyenyak dalam waktu cukup.
4. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk menjaga
agar anak tetap sehat, yaitu: memenuhi gizi Anak Usia Dini, membiasakan
perilaku hidup bersih, Mengajak anak aktif bergerak, dan memenuhi imunisasi
anak.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 17

F. Penugasan
Buatlah rangkuman materi tersebut dalam bentuk mind mapping!
Contoh mind mapping:

Source: www.learningfun
damentals.com

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 18

BAB III
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) ANAK USIA DINI

A. Pengertian, Manfaat, dan Tujuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Selain di rumah, anak usia dini menghabiskan sebagian besar waktunya di

sekolah. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan dimana anak dapat belajar
dan memulai perubahan. Selain orang tua di rumah, anak mendapatkan figur
teladan lainnya di sekolah, yaitu guru. Oleh karena itu, segala perilaku baik yang
dilakukan guru di sekolah diharapkan dapat menjadi teladan (role model) bagi
anak. Selain orang tua, guru memiliki andil yang besar dalam pembentukan
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) anak usia dini.

Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong
dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2011). Dengan demikian
PHBS mencakup beragam perilaku yang harus dipraktekkan untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Secara umum, tujuan utama dari gerakan PHBS adalah meningkatkan
kualitas kesehatan melalui proses peningkatan pengetahuan dan pemahaman
yang menjadi awal dari kontribusi individu-individu dalam menjalani perilaku
kehidupan sehari- hari yang bersih dan sehat. Sedangkan tujuan penanaman
PHBS di satuan Pendidkan Anak Usia Dini (PAUD) yang dilakukan terhadap anak
usia dini bertujuan untuk dapat membentuk individu-individu yang sadar akan
kebersihan dan kesehatan sejak usia dini dan dapat membawa perubahan perilaku
bagi keluarganya di rumah, bagi anak-anak lain di lingkungan sekitarnya dan lebih
luas lagi dapat membawa perubahan bagi masyarakat dalam menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat. Sekolah dapat mempengaruhi masyarakat, karena melalui
peserta didik, sekolah dapat menyentuh sejumlah besar keluarga di dalam
masyarakat.

Manfaat PHBS secara umum adalah untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat agar mau menjalankan hidup bersih dan sehat. Hal tersebut agar
masyarakat bisa mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan. Selain itu,
dengan menerapkan PHBS masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang
sehat dan meningkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan manfaat PHBS di Sekolah

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 19

adalah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar dan para siswa, guru hingga warga sekolah
lainnya menjadi sehat.
B. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Anak Usia Dini
1. Pembiasaan Perilaku Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB)

di Jamban
Anak usia dini memerlukan bantuan orang tua atau guru untuk untuk

dapat terbiasa BAK dan BAB di toilet atau jamban. Selain menimbulkan bau
yang tidak sedap, tinja (faeces) dan urine manusia banyak mengandung kuman
penyakit. BAK dan BAB di sembarang tempat akan berisiko menularkan kuman
penyakit. Dengan anak terbiasa BAB dan BAK di jamban atau toilet diharapkan
dapat memutus alur penularan penyakit yang bersumber dari tinja dan urine
manusia. Berbagai penyakit yang bersumber dari tinja manusia antara lain
adalah diare, tifus, polio, dan kecacingan.

Kuman penyakit dapat menempel di tangan manusia, atau menempel di
kaki binatang (lalat, kecoa,dan serangga lainnya) dan diterbangkan oleh angin
bersama debu yang apabila hinggap di atas makanan atau minuman akan
mencemari makanan dan minuman. USAID memvisualisasikan alur penularan
penyakit yang bersumber dari tinja (Faeces) melalui gambar berikut:

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 20

Gambar tersebut menunjukkan alur penularan penyakit dari tinja (faeces)
melalui:
1. Tangan, jari, kuku/di bawah kuku (Fingers) masuk langsung ke mulut atau

melalui makanan yang dipegang.
2. Lalat (Flies) hinggap ke makanan (Foods) atau ke wajah.
3. Tanah (Field), bahan makanan yang tidak dicuci atau tidak dimasak.
4. Air/cairan (Fluids), air tidak diolah dulu sebelum dikonsumsi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua atau guru untuk
membantu anak terbiasa BAK dan BAB di toilet, yaitu melalui kegiatan toilet
training sebagai berikut:
▪ Mengajarkan anak untuk BAB/BAK melalui kegiatan bercerita atau dengan

menunjukkan gambar
▪ Mengingatkan anak-anak untuk memberitahu orang tua atau guru apabila

mereka ingin BAB atau BAK
▪ Mengajarkan dan membiasakan

anak untuk membuka celana sendiri
▪ Membantu dan menuntun anak untuk

menggunakan kloset untuk BAB atau
BAK dengan benar.
▪ Mengajarkan anak untuk cebok (dari
depan ke belakang)
▪ Mengajarkan anak cara menyiram
kloset
▪ Mengajarkan anak mencuci tangan
dengan sabun setelah BAB atau BAK.
▪ Mengajarkan dan membiasakan anak untuk memakai celana sendiri
▪ Menunjukkan berbagai hal yang ada di toilet/jamban yang perlu diketahui
anak (gayung, tempat sampah, tempat menggantung pakaian, cara
membuka kran air, dll)
▪ Berikan apresisasi kepada anak ketika anak berhasil melakukannya
▪ Guru atau orangtua dapat saling bekerjasama untuk melanjutkan perilaku
yang sudah diperkenalkan, sehingga perilaku tersebut secara konsisten
dapat diterapkan baik di sekolah maupun saat anak berada di rumah.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 21

Sumber: twinkl.co.id

2. Pembiasaan Mencuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
Ketika bereksplorasi dengan lingkungan nya anak-anak sering kali

menyentuh berbagai macam benda tanpa mmeperhatikan kebersihannya. Hal
tersebut membuat tangan kita menjadi tempat menempelnya kuman penyakit.
Selain dari benda yang kotor, kuman penyakit juga bisa berasal dari cairan tubuh
kita seperti ketika anak bersin atau batuk dan menutup mulut atau hidungnya
dengan tangan maka akan ada kuman atau virus yang menempel di tangan,
begitupun ketika anak selesai BAB dan BAK, jika tidak mencuci tangan dengan
sabun maka kuman dapat menempel di tangan.

Tangan yang terlihat bersih belum tentu terbebas dari kuman, karena
kuman tidak nampak oleh mata dan kuman ada dimana-mana maka harus sering
mencuci tangan. Ada beberapa saat penting yang mengharuskan anak-anak untuk
mencuci tangan, yaitu: sebelum makan, setelah BAK/BAB, setelah
bermain/berkegiatan, setelah memegang binatang, setelah memegang benda
yang kotor. Agar anak memiliki kebiasaan mencuci tangan, ada beberapa hal yang
dapat dilakukan oleh orangtua maupun guru, yaitu:

▪ Menjelaskan kepada anak tentang banyaknya kuman di sekitar kita dan
kemungkinan kuman-kuman tersebut menempel di tangan kita melalui
kegiatan bercerita dengan buku atau gambar.

▪ Menjelaskan dengan memberikan contoh kapan kita harus mencuci
tangan.

▪ Memberikan contoh cara mencuci tangan yang benar sambil bermain
tepuk atau bernyanyi.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 22

▪ Mengajak anak-anak untuk mencuci tangan pakai sabun dengan air
bersih yang mengalir pada saat-saat penting

▪ Mendampingi dan menuntun anak-anak untuk melakukan setiap langkah
cuci tangan.

▪ Orang tua maupun guru dapat saling bekerjasama untuk meneruskan
kebiasaan mencuci tangan tersebut baik di rumah maupun di sekolah.

Adapun Langkah-langkah mencuci tangan yang perlu diajarakan orang tua atau
guru kepada anak, yaitu:
1. basuh tangan dengan air bersih yang mengalir, teteskan sabun, usap dan

gosokkan sabun pada telapak tangan secara lembut dengan arah memutar
2. usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian
2. gosok sela-sela jari kedua tangan secara bergantian hingga bersih
4. gosok ujung-ujung jari pada kedua tangan secara bergantian dengan posisi

saling mengunci
5. gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian, bilas dengan air bersih

mengalir dan keringkan.

3. Pembiasaan untuk Minum Air dan Makan Makanan yang Sehat serta
Higienis
Pembiasaan Minum Air yang Sehat dan Higienis
Air dibutuhkan oleh tubuh manusia karena fungsinya yang sangat penting
untuk kesehatan. Kemenkes RI (2019) menjelaskan manfaat minum air putih
bagi tubuh, yaitu:

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 23

▪ membantu melancarkan pencernaan, jika kurang minum air maka feses
akan keras dan akan menyebabkan sembelit

▪ menjaga tekanan darah, air berfungsi untuk mengencerkan kandungan
garam yang mengikat air sehingga menyebabkan tekanan darah
menjadi tinggi

▪ meningkatkan daya ingat otak, terutama air yang memiliki kandungan
mineral yang tinggi memiliki kandungan kalium yang dapat membantu
mengaktifkan elektrolit pada otak sehingga dapat meningkatkan
konsentrasi

▪ mencegah penyakit jantung, dengan mengonsumsi air yang cukup
dapat membantu membuka peredaran darah

▪ air juga membuat kulit terhidrasi sehingga kulit tampak lebih sehat dan
lebih lembab

▪ air dapat membantu memecahkan lemak, dengan banyak minum air,
maka kandungan lemak dalam tubuh dapat lebih cepat terbakar

▪ air juga memiliki kandungan kalsium yang baik untuk tulang

Asupan air yang masuk ke tubuh manusia diperoleh melalui makanan dan
minuman yang dikonsumsi. Orang dewasa membutuhkan kurang lebih 8 gelas
per hari, atau disesuaikan dengan kebutuhan tubuh (usia, BB dan kebutuhan
khusus), sementara kebutuhan anak usia dini adalah 1.200-1.500 ml/hari atau
setara dengan 6-7 gelas per hari. Hasil penelitian membuktikan bahwa
kekurangan air (dehidrasi) yang terjadi pada anak usia sekolah akan
menyebabkan rasa lelah dan menurunnya konsentrasi belajar (Jacques, 2012).
Konsumsi air yang dianjurkan adalah air putih dan sangat dianjurkan untuk tidak
mengonsumsi minuman manis dan bersoda serta berbagai minuman dalam
kemasan yang mengandung kadar gula tinggi karena dapat menyebabkan
kelebihan asupan energi, kegemukan, dan karies gigi pada anak.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menanamkan
kebiasaan minum air putih yang aman, higienis dan dalam jumlah yang cukup,
yaitu:
1) Menyampaikan ke orang tua agar setiap anak membawa air minum dalam

wadah yang bersih, tertutup dan aman (bukan botol minuman
kemasan/sekali pakai), minimum 300 ml (1,5 gelas) per anak.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 24

2) Memfasilitasi air minum di sekolah yang dapat dijangkau oleh anak untuk
mengisi ulang botolnya jika anak ingin menambah air minumnya yang sudah
habis

3) Mengedukasi orangtua murid tentang pentingnya memenuhi kebutuhan air
minum bagi anak, menyiapkan air minum yang sehat, aman dan higienis,
serta mengenali tanda-tanda kekurangan cairan.

4) Mengedukasi anak usia dini tentang:
a. Kebutuhan air sehari dengan menggunakan gelas ukuran 200 ml (6 – 7
gelas untuk kebutuhan sehari, dan 1,5 gelas untuk kebutuhan selama
berkegiatan di PAUD).
b. Mengenali tanda-tanda saat tubuh membutuhkan air minum, yakni merasa
haus, buang air kecil kurang dari 4x sehari dan warna urine yang kuning
pekat.

5) Mengingatkan dan mengajak anak untuk minum bersama setiap selesai
bermain, setelah makan, saat istirahat atau disesuaikan dengan kegiatan
sekolah.

Pembiasaan Untuk Makan Makanan Sehat Dan Higienis
Agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, anak usia dini

membutuhkan asupan yang mencukupi kebutuhan gizi nya. Kebiasaan makan
anak perlu dibentuk agar anak memiliki pola makan yang sehat, yang tidak
hanya cukup secara kuantitas tetapi juga cukup secara kualitas. Makanan yang
sehat adalah makanan yang dibuat dan diolah dengan bahan-bahan yang
bersih dan berkualitas serta mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh,
seperti energi, protein, vitamin dan mineral yang diperlukan anak usia dini untuk
tumbuh dan memiliki daya tahan tubuh yang baik.

Keragaman jenis pangan yang dikonsumsi akan mempengaruhi
kecukupan gizi yang dibutuhkan. Semakin beragam jenis pangan yang
dikonsumsi semakin memungkinkan terpenuhinya kebutuhan gizi, bahkan
semakin memungkinkan tubuh memperoleh berbagai zat lainnya yang
bermanfaat bagi kesehatan. Selain memperhatikan keanekaragaman
makanan, juga penting untuk memperhatikan keamanan pangan, yang berarti
bahwa makanan harus bebas dari kuman penyakit atau bahan berbahaya.

Pemberian makanan di sekolah harus memenuhi unsur pendidikan dan
pembiasaan bagi anak-anak agar anak menyukai makanan yang bervariasi dan

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 25

mengandung zat gizi (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral). Kegiatan
makan bersama juga merupakan waktu yang tepat untuk memperkenalkan
manfaat makanan yang dimakan beserta zat gizi yang dikandungnya,
membiasakan anak untuk menjaga kebersihan makanan, mengenal makanan
yang mengandung bahan pewarna dan bahan kimia berbahaya lainnya,
membiasakan anak untuk tertib ketika sedang makan dan membiasakan
perilaku cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Upaya yang dapat
dilakukan guru untuk menanamkan pembiasaan makan makanan yang sehat,
bergizi dan aman pada anak usia dini, yaitu:
1) Memperkenalkan makanan sehat dan aman kepada peserta didik (misal

melalui cerita) dan orangtuanya (misal dengan praktek memasak bersama).
2) Meminta orangtua untuk membawakan bekal makanan atau camilan sehat

(dengan memperhatikan prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan)
untuk anaknya.
3) Membuat jadwal membawa makanan sehat atau camilan sehat tematik dan
jadwal rutin kegiatan makan bersama di sekolah.
4) Menciptakan suasana yang menyenangkan saat makan bersama.
5) Menentukan waktu yang tepat untuk makan camilan atau makanan utama
agar anak siap untuk menghabiskan makanan (jam 10.00 untuk camilan,
makan utama sebelum pulang).
6) Meningkatkan kesadaran orangtua akan pentingnya menyiapkan makanan
dan camilan sehat bagi anak-anaknya dan membiasakan orangtua
memberikan makanan dan camilan sehat di rumah.
7) Mengingatkan orangtua untuk :
• Membiasakan anak makan 3 kali sehari dengan menu gizi seimbang.
• Membiasakan sarapan pagi.
• Memberi makanan camilan yang sehat dan bergizi, tidak membiasakan

anak untuk makan jajanan yang tidak sehat (junk food, permen, dll).
• Mengurangi makananan dan minuman yang manis.
8) Meminta dan mengawasi agar penjaja makanan yang menjual makanannya
di lingkungan sekolah menutup makanan yang dijajakan, tidak menjual
makanan dan minuman yang menggunakan zat pewarna berbahaya, tidak
menjual permen dan makanan tidak sehat lainnya serta mengingatkan
untuk mencuci tangan pakai sabun sebelum mengolah dan menyiapkan
makanan.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 26

9) Bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk menyelenggarakan
kegiatan parenting tentang pentingnya menyiapkan dan memberikan
makanan sehat kepada anak atau memberikan edukasi dan sosialiasai
kepada anak tentang pentingnya makan makanan sehat bergizi.
Untuk mendukung pemenuhan gizi anak, orang tua dapat memberikan

jajanan atau kudapan sehat bagi anak, Adapun ciri-ciri kudapan sehat, yaitu:
▪ Makanannya mengandung nutrisi yang baik untuk tubuh, seperti protein,

vitamin, mineral, serat, serta karbohidrat
▪ Bersih dan tertutup
▪ Jauh dari tempat sampah, got, debu, asap kendaraan bermotor
▪ Tidak bekas dipegang-pegang orang
▪ Tidak terlalu manis dan berwarna mencolok
▪ Masih segar
▪ Tidak digoreng dengan minyak goreng yang sudah keruh
▪ Tidak mengandung zat pemanis, zat pengawet, zat penyedap, zat pewarna

buatan
▪ Bau tidak apek dan tengik
▪ Tidak dibungkus dengan kertas bekas atau koran
▪ Dikemas dengan plastik yang bersih dan aman
▪ Cek tanggal kadaluarsa
Berikut adalah contoh beberapa jajanan atau kudapan sehat yang dapat dibuat
orang tua di rumah:

Sandwich isi Puding susu buah
sayur/keju/telur

Popsicle Buah
Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 27

4. Pembiasaan untuk Membuang Sampah di Tempat Sampah dan Menjaga
Lingkungan Bersih serta Aman
Membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya
merupakan Langkah awal untuk mengajarkan kepada anak tentang pentingnya
menjaga lingkungan dan menjaga kelestarian bumi. Perilaku sederhana ini
membawa dampak yang sangat besar terhadap kelestarian alam dan
lingkungan sekitar kita. Untuk menanamkan kebiasaan membuang sampah
pada tempatnya harus dimulai sejak usia dini. Pembiasaan ini membutuhkan
sinergi atau kerjasama guru dengan orang tua agar dapat dilaksanakan secara
konsisten baik di rumah maupun di sekolah.

Source: freepik.com

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menanamkan
pembiasaan menjaga lingkungan agar bersih dan sehat, yaitu:
1) Memperkenalkan jenis sampah berdasarkan sifatnya (sampah organik dan

anorganik) kepada peserta didik.
2) Mengajarkan peserta didik untuk tidak membuang sampah sembarangan,

misalnya di lantai, di selokan/ got, dan di halaman.
3) Menyediakan minimal dua tempat sampah yang kuat, kedap air dan

mempunyai tutup, yang dicat dengan warna yang berbeda.
4) Mengajak dan membiasakan peserta didik untuk membuang sampah di

tempat sampah yang sudah disediakan, sesuai dengan jenis sampah.
5) Mengajak anak untuk bersama-sama membersihkan halaman, ruang kelas

dan alat permainan, dalam suasana yang menyenangkan, pada hari-hari
tertentu di setiap pekan.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 28

6) Meminta orangtua untuk tidak menggunakan kertas, plastik, styreoform dan
botol bekas air dalam kemasan untuk wadah makanan/ minuman bekal anak.

7) Meminta orangtua/pengasuh anak yang menunggu anaknya dan penjaja
makanan untuk membuang sampah di tempat yang sudah disediakan dan
menjaga keberihan lingkungan sekolah.

8) Bekerjasama dengan pengumpul sampah yang diorganisir oleh lingkungan
setempat untuk pengambilan sampah secara reguler.

9) Mengajak orangtua untuk bersama-sama melakukan kegiatan gotong royong
membersihkan lingkungan PAUD.

5. Pembiasaan Berkegiatan di Bawah Matahari Pagi
Semua makhluk hidup terutama manusia membutuhkan sinar matahari,

sinar matahari pagi memiliki manfaat bagi kesehatan manusia. Tubuh manusia
memerlukan sinar matahari untuk membantu meningkatkan produksi vitamin D di
dalam tubuh. Sinar matahari ini menjadi sumber utama vitamin D alami karena
hanya sedikit sekali Vitamin D yang dapat diperoleh dari makanan. Vitamin D dapat
berperan sebagai imunomodulator yang bisa memperbaiki sistem imun tubuh (Yani,
2019). Sistem imun berperan sebagai pertahanan tubuh untuk melawan virus dan
bakteri penyebab penyakit.

Selain untuk meningkatkan sistem imun, berjemur selama 15 menit di pagi hari
sejak matahari terbit hingga pukul 09.00 dapat memperkuat kesehatan tulang anak,
sinar matahari dapat mengaktifkan vitamin D yang berfungsi untuk merangsang
penyerapan kalsium dan fosfor yang dapat memperkuat tulang (Kemenkes,
2018). Adapun upaya yang dapat dilakukan guru agar anak terbiasa berjemur
di pagi hari dapat dilakukan dengan:
1) Mengajarkan kepada anak bahwa matahari sebagai ciptaan Tuhan memiliki

manfaat bagi manusia.
2) Mengajarkan anak tentang pentingnya sinar matahari pagi bagi tubuh melalui

kegiatan bercerita dengan buku atau gambar.
3) Mengajak anak berkegiatan di bawah sinar matahari pagi sebelum masuk ke

dalam kelas. Kegiatan tersebut dapat berupa morning circle atau kegiatan
berbaris di depan kelas atau di halaman sekolah yang terkena sinar matahari
pagi, guru dapat mengajak anak melakukan pemanasan ringan atau dengan
bermain gerak, tepuk dan lagu.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 29

4) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya mengajak anak
beraktivitas pagi di luar ruangan bagi anak agar terkena sinar matahari pagi
agar orang tua dapat meneruskan kebiasaan baik tersebut di rumah.

C. Sarana dan Prasarana yang Mendukung PHBS di Satuan PAUD
Untuk mendukung pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di

Lembaga satuan PAUD, maka perlu disediakan sarana dan prasarana sanitasi
di lingkungan sekolah. Penyediaan sarana dan prasarana PAUD, termasuk
sarana dan prasarana sanitasi diatur dalam Bab VIII, Permendikbud no 137
tahun 2014, tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 31, bahwa sarana dan prasarana
merupakan perlengkapan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan kegiatan
pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak usia dini. Oleh karena itu,
pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, usia,
lingkungan sosial dan budaya lokal, serta jenis layanan.

Selain itu, pengadaan sarana prasarana harus memenuhi prinsip, yaitu:
aman, bersih, sehat, nyaman, dan indah; sesuai dengan tingkat perkembangan
anak; memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitar,
dan benda lainnya yang layak pakai serta tidak membahayakan kesehatan
anak. Merujuk kepada peraturan tersebut, maka Dirjen PAUD DIKMAS
Kemdikbud RI bekerjasama dengan UNICEF (2020) menyusun pedoman
penyediaan sarana dan prasarana higiene dan sanitasi di satuan PAUD yang
memperhatikan beberapa prinsip berikut ini:
1) Sarana higiene dan sanitasi hendaknya menjadi tempat interaktif yang

memacu anak untuk belajar dan berkembang. Dengan menggunakan
fasilitas higiene dan sanitasi, anak dapat mengembangkan keterampilan
motorik halus (dengan membuka kran air, cebok) dan motorik kasar
(jongkok-berdiri, dll), bahasa (menyampaikan kebutuhannya untuk buang
air kecil/besar), sosial emosional (antri menggunakan jamban/toilet), nilai
agama (berdoa sebelum masuk dan setelah keluar dari jamban/toilet),
serta keterampilan yang membuat anak menjadi lebih mandiri.
2) Dirancang dengan melibatkan murid, guru, orangtua, dan masyarakat.
Praktek higiene akan diterapkan lebih baik jika seseorang memahami
pentingnya peningkatan sanitasi dan mendapat kesempatan untuk
menemukan solusinya.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 30

3) Biaya murah tanpa harus mengorbankan kualitas. Sarana yang dibangun
harus permanen dengan kualitas yang baik, menggunakan material yang
tahan lama dan mudah dibersihkan, sehingga mengurangi biaya untuk
rehabilitasi, dll.

4) Sekolah harus mempunyai rencana operasional dan pemeliharaan. Agar
sarana dan prasarana dapat digunakan dalam jangka Panjang maka
diperlukan rencana operasional dan pemeliharaan fasilitas tersebut.

5) Sarana higiene dan sanitasi harus sesuai, nyaman dan dapat digunakan
oleh semua anak dengan mudah, termasuk oleh penyandang disabilitas,
dengan memperhatikan:
▪ Jarak tempat meletakkan kaki ketika jongkok
▪ Jarak tempat kloset dengan dinding
▪ Tinggi bak air
▪ Tinggi kran untuk cuci tangan dan kemudahan untuk memutar kran
▪ Kemudahan untuk membuka dan menutup pintu jamban

6. Sarana sanitasi yang dibangun, harus sensitif gender. Selain adanya
perbedaan fisik antara anak perempuan dan anak laki-laki, keduanya
mempunyai kebutuhan yang berbeda.

7. Tidak membahayakan dan tidak memberikan dampak negatif terhadap
lingkungan dengan menerapkan prinsip berikut ini:
▪ Tidak boros air;
▪ Limbah tidak mencemari tanah dan air tanah;
▪ Aman dari kemungkinan bahaya ketika terjadi bencana.

7. Mendorong perilaku higienis. Oleh karena itu, sarana dan prasarana
sanitasi harus memenuhi persyaratan berikut ini:
▪ Fasilitas higiene dan sanitasi harus mudah digunakan oleh semua anak,
termasuk penyandang disabilitas.
▪ Penyediaan air untuk cebok dan fasilitas untuk cuci tangan harus menjadi
kesatuan dalam penyediaan sarana dan prasarana sanitasi.
▪ Pencahayaan yang cukup (lampu dan sinar matahari) sangat penting
untuk melihat kebersihan jamban serta membuat anak merasa aman dan
nyaman.
▪ Ventilasi yang baik akan mencegah bau dan pengap.
▪ Penggunaan kloset leher angsa akan mencegah masuknya lalat, kecoa,
dll

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 31

9. Mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengurangi waktu tunggu.
Keterbatasan jumlah fasilitas membuat anak akan mencari tempat lain
untuk BAB dan BAK, serta “melupakan” praktek cuci tangan pakai sabun
dengan air mengalir.

10. Memilih lokasi yang baik, dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut
ini:
▪ Keamanan: aman dari binatang berbahaya, risiko pelecehan, dll.
▪ Lokasi jamban tidak jauh dari jangkauan pantauan orang dewasa atau
suara anak dapat terdengar dari jamban.
▪ Mudah dimonitor penggunaannya.
▪ Ketersediaan fasilitas hanya akan bermanfaat dalam peningkatan
kesehatan dan higiene jika digunakan dengan tepat, misalnya dengan
menempatkan fasilitas cuci tangan di dekat pintu masuk kelas

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 32

D. Rangkuman
1. PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar

kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga,
kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di
bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat. Tujuan penanaman PHBS di satuan PAUD yang dilakukan
terhadap anak usia dini bertujuan untuk dapat membentuk individu-individu
yang sadar akan kebersihan dan kesehatan sejak usia dini dan dapat
membawa perubahan perilaku bagi keluarganya di rumah, bagi anak-anak lain
di lingkungan sekitarnya dan lebih luas lagi dapat membawa perubahan bagi
masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
2. Pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang harus ditanamkan pada
Anak Usia Dini, yaitu: pembiasaan perilaku buang air kecil (BAK) dan buang
air besar (BAB) di jamban; pembiasaan mencuci tangan pakai sabun (CTPS);
pembiasaan untuk minum air dan makan makanan yang sehat serta higienis;
pembiasaan untuk membuang sampah di tempat sampah dan menjaga
lingkungan bersih serta aman; dan pembiasaan berkegiatn di bawah matahari
pagi.
3. pengadaan sarana dan prasarana Higiene dan sanitasi di satuan PAUD perlu
mempertimbangkan dan memenuhi prinsip, yaitu: aman, bersih, sehat,
nyaman, dan indah; sesuai dengan tingkat perkembangan anak;
memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitar, dan
benda lainnya yang layak pakai serta tidak membahayakan kesehatan anak.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 33

E. Penugasan
1. Analisis kasus di bawah ini, berdasarkan kasus tersebut, menurut anda
faktor apa yang saja yang menyebabkan anak mengalami keracunan
makanan?
2. Jelaskan upaya apa saja yang dapat dilakukan guru untuk mencegah
terjadinya kasus tersebut!

Source: pikiranrakyat.com

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 34

BAB IV
GANGGUAN KESEHATAN ANAK USIA DINI

A. Gangguan Kesehatan fisik anak
Anak usia dini merupakan periode anak aktif mengeksplorasi lingkungannya,
memasuki usia pra sekolah (3-6 tahun) aktivitas fisik anak semakin mneingkat,
anak akan lebih banyak bermain di luar rumah dengan teman-teman
sebayanya. Kondisi tersebut tentunya meningkatkan risiko anak untuk terpapar
virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan anak. Gangguan
Kesehatan anak tidak hanya disebabkan oleh paparan virus atau bakteri,
gangguan Kesehatan anak juga dapat disebabkan oleh asupan gizi yang
kurang atau tidak seimbang. Ada bebrapa gangguan kesehatan yang umumnya
dialami anak, antara lain:

1. Anemia Kekurangan Zat Besi
Anemia kekurangan zat besi atau disebut Anemia Defisiensi Besi

(ADB). ADB adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan
zat besi tubuh. Defisiensi zat besi merupakan kondisi saat zat besi tidak
lagi mampu menjaga fungsi tubuh dengan normal. Diawali dengan
penyerapan zat besi yang tidak mencukupi untuk mengakomodasi
pertumbuhan anak yang bisa disebabkan oleh kekurangan asupan zat besi
dalam jangka waktu yang lama, dan juga karena infeksi cacing atau
kecacingan. Kondisi tersebut menyebabkan cadangan zat besi berkurang.
Defisiensi besi belum tentu meningkat menjadi anemia, tetapi jika dibiarkan
berlanjut dapat menyebabkan terjadinya anemia pada anak (Arifianto dan
Herliani, 2020).

Anak yang mengalami ADB umumnya menunjukkan beberapa
gejala, yaitu:
a. Anak lemah dan mudah menjadi Lelah
b. Kulit pucat terutama tangan, kuku, dan kelopak mata
c. Nafsu makan berkurang
d. Anak menjadi rewel
e. Sensasi nyeri kepala
Anemia defisiensi Besi pada anak akan memberikan dampak negative
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya dapat

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 35

menurunkan system kekebalan tubuh sehingga dapat meningkatkan risiko
terjadinya infeksi. Masalah utama yang ditimbulkan oleh defisiensi besi
yang berlangsung lama adalah menurukan daya konsentrasi dan prestasi
belajar anak.

Adapun hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah
defisiensi zat besi, yaitu dengan memberikan ragam makanan yang kaya
akan vitamin C seperti tomat, brokoli, jambu biji, manga, nanas, papaya,
jeruk, dan lemon; orang tua juga dapat memberikan makanan hewani
berupa ayam, daging sapi, ikan, dan makanan laut lainnya. Penyerapan
zat besi dapat berkurang apabila terlalu banyak mengonsumsi teh dan
kopi. ADB juga sering terjadi pada balita yang mengonsumsi susu sapi
secara berlebihan, dan kurang mengonsumsi makanan kaya zat besi
(daging merah dan sayuran hijau) karena terlalu banyak susu membuat
tubuh sulit menyerap zat besi.

2. Karies Gigi
Anak usia dini rentan terkena masalah gigi. Salah satunya adalah karies
gigi, karies merupakan suatu oenyakit yang dapat terjadi ketika sisa-sisa
makanan menempel pada gigi. Kondisi tersebut disebabkan karena
kurangnya perawatan kesehatan gigi anak di rumah. Selain kurangnya
perawatan gigi anak, asupan makanan juga mempengaruhi kondisi gigi
anak, seperti terlalu banyak makan makanan yang manis dan asam serta
terlalu banyak mengonsumsi jus buah dapat menyebabkan karies pada gigi
anak.

3. Masalah Pencernaan
Masalah pencernaan yang paling sering dialami anak adalah diare dan
konstipasi. Diare memiliki gejala, yaitu buang air besar anak menjadi lebih
cair dan frekuensinya menjadi lebih sering. Anak juga mengalami nyeri
perut seperti mulasm kembung, dan mual. Penyebab terseringnya adalah
infeksi virus, jika anak tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi atau
kekurangan cairan maka kondisi tersebut akan membaik seiring waktu
tanpa pengobatan khusus. Masalah pencernaan lainnya adalah konstipasi
atau sembelit, konstipasi yaitu konsistensi tinja menjadi keras dan anak
harus berusaha keras untuk membuang tinjanya (mengedan). Apabila

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 36

dibiarkan berlanjut makan anak akan serig merasa kesakitan Ketika BAB.
Penyebab yang paling sering adalah pola konsumsi serat dari sayur dan
buah yang kurang.

4. Mata merah (Conjungtivitis/Pink Eye)
Gangguan Kesehatan mata ini ditunjukkan dengan mata merah,

banyak kotoran mata, dan bengkak. Mata merah ini disebut dengan
konjungtivitis yaitu peradangan pada konjungtiva (selaput tipis yang
melapisi bagian depan mata). Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri
atau virus. Mata merah tidak hanya disebabkan oleh infeksi, bisa juga
akibat alergi. Alergi tersebut bisa diakibatkan oleh alergen seperti debu,
rambut/bulu binatang. Adapun gejala dari konjungtivitis ini, yaitu: anak
merasa tidak nyaman di area mata, ditunjukkan dengan anak sering
mengucek mata; kemerahan pada bola mata dan kelopak mata bawah;
muncul cairan bening atau kental dari mata (belekan), saat bangun tidur
mata anak menjadi lengket atau bulu mata menempel; gatal dan berair
(Arifianto dan Herliani, 2020).

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua jika anak
mengalami konjungtivitis, yaitu:
a. Bersihkan area mata dengan menggunakan kasa/kapas yang

dicelupkan ke air hangat
b. Kompres mata dengan lembut
c. Bersihkan kotoran mata yang menempel di mata
d. Membawa anak ke dokter jika:

▪ Tidak ada perbaikan selama 2-3 hari dengan perawatan
▪ Kemerahan pada mata semakin memburuk
▪ Kelopak mata semakin membengkak
▪ Anak mengeluhkan nyeri hebat
▪ Adanya perubahan tajam pandangan
▪ Disertai nyeri telinga
▪ Terjadi pada bayi baru lahir
e. Memberika salep atau tetes berisi antibiotik pada konjungtivitis akibat
infeksi jamur, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 37

5. Cacingan
Kemenkes dalam Permenkes RI Nomor 15 Tahun 2017 tentang
penanggulangan cacingan menjelaskan bahwa cacingan adalah penyakit
yang disebabkan oleh infeksi cacing dalam tubuh manusia yang ditularkan
melalui tanah. Penderita cacingan adalah seseorang yang dalam
pemeriksaan tinjanya mengandung telur cacing dan/atau cacing. Adapun
cara mencegah cacingan pada anak menurut Kemenkes (2018) dapat
dilakukan dengan:
a. Hindari anak dari sumber penularan cacingan dengan menerapkan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
b. Merebus air sampai matang sebelum diminum
c. Buang air besar di jamban
d. Memakai alas kaki bila keluar rumah
e. Cuci tangan dengan sabun setelah BAB, setelah menceboki anak,
sebelum makan, menyiapkan makanan, dan menyusui anak
f. Menjaga kebersihan makanan dari lalat dengan menutupnya memakai
tudung saji

6. Selesma
Para ahli berpendapat bahwa selesma dapat disebabkan oleh

berbagai virus, yaitu bisa lebih dari 100 jenis virus yang biasa menginfeksi
saluran napas. Hampir semua selesma merupakan penyakit swasirna, yaitu
penyakit yang akan membaik secara alamiah. Selesma dapat disebut
sebagai flu hanya jika saat dilakukan pemerikasaan jenis virus, didapatkan
virus flu sebagai penyebabnya. Selesma yang diakibatkan oleh virus sangat
mudah menular, gejalanya berupa demam, pilek, dan batuk. Gejala tersebut
sangat sering kita jumpai, baik pada orang dewasa maupun pada anak-
anak, karena seringa tau biasanya dijumpai selesma juga disebut sebagai
common cold (IDAI, 2015).

Tidak ada pengobatan khusus pada selesma, untuk mengatasi flu
pada anak bisa dilakukan dengan memastikan anak mendapat cukup cairan
dan istirahat. Jika anak terlihat tidak nyaman, orang tua dapat berkonsultasi
dengan dokter mengenai pemberian obat untuk mengurangi gejalanya.
Pencegahan selesma pada anak diantaranya dapat dilakukan dengan
mengajarkan anak untuk terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 38

dengan air mengalir terutama setelah bermain di luar atau sebelum makan,
menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, makan makanan bergizi
seimbang, membiasakan anak memiliki waktu tidur yang teratur dan cukup.

7. Stunting
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari

kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal
setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah anak
berusia 2 tahun. Menurut Kemeneterian Kesehatan (2020) stunting adalah
adalah anak balita dengan nilai ambang batas z-score tinggi badan
menurut umurnya berada pada rentang - 3 SD sd <- 2 SD (stunted) dan <–
3SD (severely stunted).

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)
menyimpulkan dari berbagai sumber bahwa stunting tidak hanya
disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak
balita, tetapi disebabkan oleh faktor multi dimensi, yaitu: praktek
pengasuhan yang kurang baik, termasuk minimnya pengetahuan ibu
tentang Kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan serta
setelah melahirkan; terbatasnya layanan kesehatan termasuk pelayanan
kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan dan pelayanan pasca
melahirkan; masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan
bergizi; dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Source: P2PTM Kemenkes RI

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 39

Dampak stunting pada anak dapat mempengaruhinya dari anak
kecil hingga dewasa. Dalam jangka pendek, stunting pada anak dapat
berpotensi memperlambat perkembangan otak, terganggunya
metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik. Seiring dengan bertambahnya
usia anak, stunting dapat menyebabkan berbagai macam masalah, di
antaranya kecerdasan anak di bawah rata-rata sehingga prestasi
belajarnya tidak bisa maksimal; sistem imun tubuh anak tidak baik
sehingga anak mudah sakit, dan anak akan memiliki risiko penyakit yang
lebih tinggi seperti menderita penyakit diabetes, hipertensi, penyakit
jantung, dan stroke.
8. Obesitas
Menurut Kemenkes obesitas adalah akumulasi lemak abnormal yang dapat
mengganggu Kesehatan. Jika kegemukan terjadi pada masa balita
kemungkinan besar kegemukan akan menetap sampai dewasa.Orang tua
harus memperhatikan pola makan anak serta mengajak anak untuk
melkukan aktivitas fisik yang cukup dan rutin.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 40

B. Gangguan Kesehatan mental anak
Gangguan atau masalah kesehatan mental tidak hanya terjadi pada

orang dewasa tetapi juga dapat terjadi pada anak usia dini. Anak usia dini
menanggapi dan memproses pengalaman emosional dan peristiwa traumatis
dengan cara yang sangat berbeda dari orang dewasa, oleh karena itu diagnosis
gangguan mental pada anak usia dini bisa jauh lebih sulit daripada pada orang
dewasa (Center on the Developing Child at Harvard University). Ada beberapa
gangguan mental yang dapat dialami anak, diantaranya yaitu:

Depresi
Seorang anak didiagnosa depresi jika sekurang-kurangnya dalam kurun

waktu 2 minggu memperlihatkan gejala-gejala, diantaranya kehilangan minat
dan kegembiraan pada hamper semua aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
Kondisi ini paling sedikit harus disertai dengan empat gejala lainnya.
Marcdante, et.,al (2014) memaparkan tanda-tanda dan gejala depresi yang
disingkat dengan kepanjangan dari SIGECAPS, yaitu:
S : Sleep disturbance (gangguan tidur, biasanya menurun atau justru tidur

berlebihan)
I : Interest (minat menurun pada aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari)
G : Guilt (perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar)
E : Energy (berkurangnya energi)
C : Concentration problems (masalah dalam konsentrasi)
A : Appetite change (nafsu makan umumnya berkurang atau bisa juga

bertambah)
P : Pleasure (kegembiraan berkurang), yaitu berkurangnya minat atau

kegembiraan secara nyata pada semua atau hampir semua kegiatan di
sebagian besar hari atau setiap hari.
S : Suicidal thoughts or actions (terdapat gagasan atau percobaan bunuh
diri)
Anak biasanya menunjukkan rasa bosan, gelisah, dan gangguan somatic
(rasa sangat Lelah atau nyeri di bagian tertentu). Anak yang mengalamai
depresi seringkali tidak bisa mengenali suasana perasaannya sendiri, maka
orang dewasa yang ada di sekitarnya lah (orang tua maupun guru) yang harus
menyadari dan mengamati gejala-gejala tersebut. Ada beberapa faktor yang
dapat menyebabkan depresi pada anak, salah satunya adalah peristiwa hidup

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 41

yang negatif seperti menyaksikan atau menerima kekerasan dari
lingkungannya, mendapatkan pengabaian dari keluarganya.

Gangguan Stres Pasca Trauma
APA (1996) dalam Susan (2001) menjelaskan bahwa gangguan stres

pasca trauma atau dikenal dengan istilah Post Traumatic Stress Disorder
(PTSD) merupakan perkembangan gejala khas setelah terpapar stresor
traumatis ekstrem yang melibatkan pengalaman pribadi langsung dari suatu
peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman atau cedera serius
atau ancaman lain terhadap integritas fisik seseorang; dan atau menyaksikan
peristiwa yang melibatkan kematian, cedera, atau ancaman terhadap integritas
fisik orang lain yang tidak terduga; dan atau menyaksikan kekerasan, bahaya
serius, atau ancaman kematian atau cedera yang dialami oleh anggota
keluarga atau rekan dekat lainnya. Anak usia dini memiliki risiko tinggi terpapar
kejadian traumatic karena ketergantungannya terhadap orang tua atau
pengasuhnya, sehingga risiko anak menerima kejadian traumatic seperti tindak
kekerasan atau menyaksikan kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa
sangat mungkin terjadi.

Anak usia dini juga sangat rentan terhadap efek samping trauma
karena pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, ketergantungan anak
pada pengasuh dan keterampilan koping yang masih terbatas, kondisi tersebut
meningkatkan faktor risiko anak mengalami gangguan kesehatan mental.
Setiap anak dapat menunjukkan gejala trauma yang berbeda bergantung
dengan cara anak merespon trauma tersebut, namun hal yang pasti adalah
bahwa kejadian traumatis dapat membekas dalam diri anak. Buss, et., al
(2015) menyatakan bahwa pemicu dapat mengingatkan anak-anak tentang
peristiwa traumatis dan semakin tertanam di dalam ingatan anak. Misalnya,
seorang anak dapat terus-menerus menghidupkan kembali tema-tema dari
peristiwa traumatis melalui permainan, mimpi buruk, dan kilas balik kejadian.
Hal-hal tersebut juga menjadi gejala trauma pada anak.

Selain itu, anak usia dini yang terpapar peristiwa traumatis dapat
menghindari percakapan, orang, objek, tempat, atau situasi yang
mengingatkan mereka akan trauma tersebut. Anak akan kehilangan minat
dalam bermain atau kegiatan lain, menarik diri dari lingkungan social. Gejala
umum lainnya termasuk temper tantrum, gangguan tidur, keadaan

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 42

kewaspadaan yang konstan, kesulitan berkonsentrasi, respons terkejut yang
berlebihan, peningkatan agresi fisik dan peningkatan tingkat aktivitas. Anak
usia dini yang mengalami trauma juga dapat menunjukkan perubahan pola
makan dan tidur, menjadi mudah frustrasi, mengalami peningkatan kecemasan
perpisahan, atau mengalami enuresis (hilangnya kontrol kandung kemih atau
mengompol) atau encopresis (tidak dapat menahan buang air besar), sehingga
kehilangan keterampilan perkembangan yang sudah dimilikinya (Zindler,
Hogan, & Graham, 2010).

Ada beberapa faktor yang dapat membantu melindungi anak usia dini
dari dampak negatif paparan trauma. Hasil penelitian Turner et., al (2012)
menjelaskan bahwa memelihara hubungan keluarga dapat melindungi anak-
anak dari tekanan psikologis yang terkait dengan peristiwa traumatis. Faktor
lain seperti keamanan dan stabilitas juga dapat berfungsi sebagai faktor
pelindung. Keselamatan memiliki arti bahwa anak bebas dari bahaya atau
ketakutan akan bahaya, baik secara fisik maupun sosial. Stabilitas
menunjukkan konsistensi dalam lingkungan keluarga, sementara pengasuhan
menunjukkan ketersediaan, kepekaan dan kehangatan pengasuh atau orang
tua. Hubungan orang tua dengan anak yang terjalin dengan baik dan aman
cenderung memberikan perlindungan dari efek negatif trauma yang dialami
oleh anak usia dini. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan pendapat
Crusto et al. (2010) yang juga menjelaskan bahwa dukungan pengasuh dan
fungsi keluarga yang sehat mengurangi risiko tekanan psikologis pada anak
usia dini setelah mengalami peristiwa traumatis.

Guru sebagai orang yang dekat dengan anak dan menghabiskan waktu
selama berjam-jam sepanjang hari termasuk waktu bermain dengan anak,
guru mungkin menjadi orang pertama yang mencurigai bahwa anak dalam
kondisi tidak baik-baik saja. Terlebih jika guru mengetahui bahwa anak telah
mengalami peristiwa traumatis, guru dapat memperhatikan atau
mengobservasi gejala PTSD yang mungkin muncul pada anak. Susan (2001)
menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk membantu
anak yang diduga mengalami gangguan stres pasca trauma, yaitu dengan:
▪ Membiarkan anak tahu bahwa tidak apa-apa untuk menceritakan kejadian

tersebut
▪ Berbicara dengan memahami perasaan anak

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 43

▪ Memahami bahwa anak-anak bereaksi berbeda menurut usia, anak usia
dini akan cenderung melekat atau tidak mau jauh dari guru atau orang
dewasa yang dipercayainya, pada remaja sebaliknya, anak remaja akan
cenderung menarik diri

▪ Secara perlahan mengajak kembali anak untuk terlibat pada aktivitas
normal

▪ Mencari bantuan profesional.

C. Gangguan Kesehatan Sosial anak
Fobia Sekolah

Fobia sekolah ditandai dengan anak menolak atau menghindari untuk
pergi ke sekolah. Marcdante, et.,al (2014) menjelaskan bahwa anak dengan
kondisi tersebut biasanya memiliki riwayat gangguan cemas perpisahan. Anak
yang mengalami kondisi ini seringkali memiliki pikiran, baik yang valid atau yang
tidak rasionalyang berkaitan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan di
sekolah. Pada anak-anak yang memiliki tingkat kekhawatiran tinggi, perilaku
agresif, dan defensif dapat digunakan sebagai alasan untuk menolak masuk
sekolah. Menurut Indriyani dalam Soetjiningsih (2013) fobia sekolah (school
phobia) atau menolak sekolah (school refusal) merupakan bagian dari perilaku
mogok sekolah (school avoidance). Pada anak usia dini, puncak terjadinya
perilaku mogok sekolah terjadi pada usia 5-6 tahun yang sebagian besar
disebabkan oleh gangguan cemas akibat perpisahan dengan orangtuanya atau
pengasuhnya.

Soetjiningsih (2013) juga menjelaskan bahwa ditinjau dari penyebabnya
mogok sekolah dibagi menajdi dua tipe, yaitu tipe yang berhubungan dengan
cemas dan tipe yang disebabkan oleh faktor sekunder. Tipe pertama terjadi
karena anak cemas akan hal yang akan ditinggalkannya di rumah dan hal yang
akan dihadapinya di sekolah. Orang tua yang overprotektif dan pengasuh yang
terlalu memanjakan akan membuat anak tidak percaya diri ketika akan
bersekolah. Hal-hal buruk yang mungkin terjadi di rumah saat anak bersekolah
juga membuat anak khawatir saat berada di sekolah. Krisis dalam keluarga
seperti pertengkaran orang tua, perceraian, ayah/ibu menikah lagi, kematian
anggota keluarga, kelahiran adik, pindah rumah, dan masalah keuangan
keluarga juga dapat membuat anak menjadi cemas dan takut. Hal di sekolah

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 44

yang dapat membuat anak cemas adalah masuk sekolah pertama kali, pindah
sekolah, guru yang galak, pelajaran yang terlalu kompleks, ujian, masalah
dengan teman, perubahan di sekolah seperti guru baru, teman baru, dan kelas
baru. Tipe kedua (sekunder) bukan disebabkan oleh cemas, melainkan oleh
penyakit akut atau kronis yang membuat anak harus seringa tau berulang kali
beristirahat di rumah. Keadaan tersebuta membuat anak kesulitan untuk
Kembali menyesuaikan diri di sekolah dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.

Anak Pemalu
Khadijah dan Armanila (2017) berpendapat bahwa pemalu adalah sikap
individu yang tidak mempunyai keterampilan sosial untuk berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya. Padahal pada usia ini semestinya anak sudah dapat
berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Seperti memberikan senyuman atau
menyapa orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga dengan mudah
mereka akan dapat menjalin hubungan dengan orang lain dalam menyesuaikan
dirinya dan lingkungan baru. Tetapi ada pula yang memerlukan waktu yang
lama. Anak pemalu biasanya memiliki rasa percaya diri dan penghargaan diri
(selfesteem) yang rendah. Ia tak berani tampil ekspresif seperti temannya dan
menarik diri dari teman-temannya. Jika perasaan seperti itu terus berlangsung,
ia akan menjadi anak yang cenderung introver (suka memendam perasaan dan
pikiran sendiri). Ia akan menjadi anak yang sulit bergaul dengan orang lain.
Beberapa penyebab anak menjadi pemalu, yaitu:
a) Anak merasa tidak aman, tidak mempunyai keberanian untuk

mengekspresikan dirinya.
b) Sikap orang tua yang terlalu melindungi, sehingga dapat membuat anak

cenderung berkembang menjadi pasif dan tergantung. Dampaknya anak
kurang memiliki pengalaman untuk menjelajahi lingkungan sekitarnya. Anak
tidak pernah belajar untuk percaya pada kemampuannya.
c) Sikap orang tua yang kurang memberikan perhatian. Anak merasa tidak
diperhatikan, karena merasa tidak cukup berharga untuk bisa membuat
orang tua tertarik pada dirinya.
d) Anak terlalu banyak menerima hukuman dari orang tua atau pendidik.
Akibatnya respon anak akan selalu diliputi oleh perasaan takut dan selalu
ragu. Hal ini dapat menjadikan anak akan menarik diri dari lingkungan selalu
curiga apabila berhadapan dengan orang lain.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 45

e) Faktor perlakuan yang salah, anak memang sudah pemalu sejak dini. Hal ini
dikarenakan perlakuan atau pola asuh yang salah sehingga anak merasa
rendah diri. Selain itu, anak menjadi pemalu dapat disebabkan karena cacat
fisik. Sehingga kecacatannya menjadikan anak tumbuh menjadi sangat
sensitif dan cenderung menghindari kontak dengan orang lain.

Adapun cara yang dapat dilakukan oleh orang tua atau pendidik dalam
menghadapi anak pemalu yaitu:
a) Membangkitkan perasaan bahwa ia mampu, dengan memotivasi anak dan

menghargai hasil karyanya sendiri.
b) tidak memaksa anak untuk tampil jika anak tidak mau. Akan tetapi guru harus

menawarkannya untuk tampil.
c) Beri latihan kerja kelompok kecil.
d) Jangan biarkan ia terlalu lama bermain sendirian.
e) Setiap hari memberikan suasana yang akrab dengan anak pemalu dengan

kontak mata dan senyuman.
f) Ketika pendidik ingin membantu, dekati anak pemalu untuk mengerjakan

tugas jika dia tidak mau bicara.
g) Sekali waktu dimulai dengan sebuah lagu atau permainan dengan

menggunakan nama setiap anak yang ada di kelas. Hal ini akan membuat
anak tidak merasa menjadi sendirian dan akan menambah perasaan yang
lebih percaya diri.

D. Rangkuman
1. Gangguang fisik yang umumnya terjadi pada anak antara lain yaitu: Anemia
defisiensi besi, karies, masalah pencernaan, mata merah
(Conjungtivitis/Pink Eye), cacingan, selesma, stunting dan obesitas.
2. Gangguan mental yang dapat dialami oleh anak usia dini diantaranya
adalah depresi dan gangguan stress pasca trauma.
3. Gangguan kesehatan sosial yang sering muncul pada anak usia dini adalah
fobia sekolah dan pemalu.

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 46

E. Penugasan
1. Scan QR Code berikut ini dan bukalah link video tersebut
2. Tonton dan simak video tersebut secara seksama
3. Berdasarkan video tersebut, analisis dampak kesehatan mental dan sosial
yang dapat muncul akibat pengabaian (neglect) yang dilakukan orang tua
terhadap anak!

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 47

BAB V
PENGEMBANGAN GIZI ANAK USIA DINI

A. Pengertian Gizi
Kata “Gizi” berasal dari dialek dalam bahasa Mesir yang memiliki arti

“makanan”. Kata “gizi” dalam Bahasa Inggris disebut “nutrition”. Gizi dapat
didefinisikan sebagai sesuatu yang mempengaruhi proses perubahan berbagai
macam makanan yang masuk ke dalam tubuh, sehingga dapat mempertahankan
kehidupan. Namun, makna gizi sangat luas, tidak hanya tentang ragam pangan
dan kegunaannya bagi tubuh, tetapi juga tentang ragam cara memperoleh dan
mengolah zat gizi tersebut supaya tubuh tetap terjaga kesehatannya. Zat gizi
merupakan zat yang terkandung dalam makanan yang dibutuhkan oleh tubuh
dalam proses metabolisme (pencernaan, penyerapan makanan dalam usus halus,
transportasi oleh darah, pertumbuhan, pemeliharaan jaringan tubuh, proses
biologis, penyembuhan, dan kekebalan tubuh) (Paramashanti, 2019).

Tubuh manusia sangat memerlukan zat gizi untuk menghasilkan energi
yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Zat gizi juga diperlukan tubuh sebagai
zat pembangun sehingga proses pertumbuhan pada anak, penggantian jaringan
tubuh yang rusak serta pengaturan semua fungsi tubuh dapat berjalan dengan
baik. Adapun fungsi zat gizi, yaitu:
a. Penghasil energi tubuh

Zat makanan yang dikonsumsi oleh sistem pencernaan tubuh yang kemudian
diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan energi. Dengan adanya energi,
maka manusia dapat untuk melakukan berbagai macam aktifitas atau kegiatan
sehari-hari. Adapaun zat-zat penghasil energi adalah lemak, karbohidrat, dan
protein.
b. Pembentuk sel jaringan tubuh
Adapun zat gizi pembentuk sel jaringan tubuh adalah protein, air, dan mineral.
Ketiga zat tersebut secara bersama-sama akan diolah oleh organ tubuh sampai
terbentuk sel jaringan tubuh baru khususnya sebagai pengganti jaringan yang
rusak.
c. Pengatur fungsi reaksi biokimia yang ada dalam tubuh (stimulansia)
Supaya fungsi dan reaksi biokimia yang ada dalam tubuh dapat berjalan dengan
baik dan cepat, maka tubuh memerlukan berbagai jenis zat sebagai stimulansia

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 48

dalam proses tersebut. Zat vitamin yang dapat membantu dalam proses reaksi
biokimia pada tubuh sampai berjalan dengan baik.

B. Macam-Macam Zat Gizi
Zat gizi berdasarkan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh

dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu zat gizi makro yang merupakan zat
gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang besar dan zat gizi mikro
yang merupakan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang kecil
atau sedikit. Berikut akan dijabarkan secara lengkap macam-macam zat gizi,
secara lengkap, yaitu:

Zat Gizi Makro
1. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang dibutuhkan oleh tubuh
manusia. Dalam gizi pada manusia setiap 1gram karbohidrat dapat
menghasilkan energi sekitar 4 kalori. Kebutuhan energi tersebut berbeda
untuk setiap orang. Ada beberapa hal yang membuat kebutuhan energi
berbeda antara lain jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan, serta tempat
tinggal orang tersebut. Beberapa sumber karbohidrat bisa dengan mudah
didapatkan dari bahan pangan yang ada di sekitar kita, seperti pada biji-
bijian berupa beras, jangung maupun gandum; pada umbi-umbian seperti
singkong, ubi jalar, dan kentang.

2. Protein
Protein berperan penting dalam pembentukan struktur, fungsi, serta
regulasi sel-sel makhluk hidup. Protein juga berfungsi sebagai pembawa
oksigen dalam darah (hemoglobin). Protein merupakan penyusun utama
semua makhluk hidup dan sebagai material utama dalam kulit, otot,
tendon, saraf, dan darah serta membentuk enzim dan antibodi. Pada
manusia protein menyumbang 20% berat total tubuh. Protein seperti
sebuah mesin yang menjaga dan menjalankan fungsi tubuh semua
makhluk hidup. tubuh manusia sendiri terdiri dari sekitar 100 triliun sel, dan
masing-masing sel memiliki fungsi yang spesifik. Setiap sel memiliki ribuan
protein berbeda dan Bersama dengan sel, protein melakukan tugasnya

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 49

menjaga fungsi tubuh dengan baik (Paramashanti, 2019). Adapun
beberapa fungsi protein, yaitu:
b. Membentuk dan memperbaiki sel serta jaringan tubuh yang rusak
c. Membuat hormon dan membantu sel-sel mengirim pesan untuk

mengkoordinir kegiatan tubuh.
d. Menciptakan antibodi untuk system kekebalan tubuh
e. Berperan pada kontraksi otot dan gerakan
f. Membuat enzim
g. Sebagai cadangan dan sumber energi tubuh

Protein terdiri atas 2 macam, antara lain protein hewani serta
protein nabati. Protein hewani merupakan protein yang berasal dari hewan.
Sumber protein hewani sebagai berikut: ikan, keju, telur, susu, dan lain
sebagainya. Sedangkan protein nabati merupakan protein yang bersumber
dari tumbuh-tumbuhan. Sumber protein nabati sebagai berikut: tahu,
tempe, kacang-kacangan, dan lain sebagainya.Secara umum, kualitas
protein nabati lebih rendah dibandingkan dengan protein hewani.

Source: alodokter.com

Bahan Pangan Sumber protein

3. Lemak
Lemak juga merupakan sumber energi bagi tubuh. Lemak termasuk

pembangun dasar jaringan tubuh karena ikut berperan dalam membangun
membran sel. Bobot energi yang dihasilkan lemak 2 ¼ kali lebih besar
dibandingkan karbohidrat dan protein. Selam proses pencernaan lemak
akan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol. Hal ini dilakukan agar
lemak dapat diserap oleh organ pencernaan, untuk kemudian dibawa ke
organ yang membutuhkan. Adapun beberapa fungsi lemak, yaitu:

Modul Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini 50


Click to View FlipBook Version