The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Istiqamah Sabilillah, 2024-01-07 01:53:10

refisi makalah pr

public relation

Keywords: #uinmahmudyunusbatusangkar

ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... ⅰ DAFTAR ISI................................................................................................... ⅱ BAB Ⅰ PENDAHULUAN............................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 1 C. Tujuan ................................................................................................ 1 BAB Ⅱ PEMBAHASAN................................................................................ 2 A. Hubungan Public Relation Dengan Media Massa .............................. 2 B. Peranan Media Massa ......................................................................... 6 C. Studi Kasus ......................................................................................... 9 BAB Ⅲ PENUTUP........................................................................................ 10 A. Kesimpulan ......................................................................................... 10 B. Saran.................................................................................................... 10 DAFTAR KEPUSTAKAAN


3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Public relations membutuhkan media dan media membutuhkan Public Relations. Inilah realita dalam pekerjaan seorang Public Relations. Seorang Public Relations dapat menyampaikan pesan-pesannya kepada stakeholders yang jumlahnya sangat banyak serta tersebar diberbagai tempat, hanya dengan menggunakan media massa. Sedangkan bagi media massa sendiri, praktisi Public relations merupakan sumber informasi untuk berita yang mereka buat. Namun, fakta yang ada dilapangan sering kali berbeda dengan prinsip hubungan tersebut. Dalam realita yang ada, hubungan antara Public Relations dengan Media Massa dalam hal ini adalah Intitusi Media dan pekerja media termasuk wartawan sering kali dibangun hubungan yang tidak bagus. Bahkan tidak jarang hubungan antara Public Relations dengan media massa justru berada pada hubungan yang diwarnai konflik. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kepentingan. Institusi media dan pekerja media lebih menekankan pada kebenaran berita yang mereka buat, sedangkan Public Relations selalu menekankan pada pembangunan citra dari setiap berita yang mereka buat. B. Rumusan Masalah 1. Apa hubungan PR dengan media massa? 2. Apa saja peran media massa pada pekerjaan seorang PR? 3. Studi kasus C. Tujuan 1. Mengetahui hubungan PR dengan media massa 2. Mengetahui apa saja peran media massa pada pekerjaan seorang PR 3. Studi kasus


4 BAB II PEMBAHASAN A. Hubungan Public Relation Dengan Media Massa Public Relations membutuhkan media massa dan media massa membutuhkan Public Relations. Ungkapan ini tidak salah karena pada kenyataannya, dalam kegiatan sehari-hari, media massa dan Public Relations saling membutuhkan dalam menjalankan tugasnya. Hal ini disebabkan seorang Public Relations tidak mungkin dapat menjangkau sasarannya yang tersebar dalam sebaran geografis yang luas. bahkan seringkali bertentangan. Hubungan antara Public Relations dan media massa seringkali kurang harmonis. Banyak kasus yang terjadi dimasyarakat sebagai bukti hubungan yang kurang baik antara Public Relations dengan media massa. Public Relations dapat dipahami sebagai profesi yang memiliki peranan untuk mengidentifikasi, memantapkan, serta membina hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dengan publiknya, baik organisasi itu berada pada kondisi sukses maupun dalam kondisi gagal. publik daram konteks ini adalah stakeholder dari perusahaan atau organisasi tempat Public Relations ini berada. Public Relations mempunyai fungsi manajemen yang membentuk dan memelihara hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan masyarakat yang menjadi sandaran keberhasilan dan kegagalan (Cutlip and Center, 2005 : 5). Yang dimaksud dengan stakeholder di sini adalah stakeholder internal (yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri) maupun stakeholder eksternal (stakeholder yang berasal dari luar organisasi atau perusahaan). Karena fungsi dari Public Relations adalah membina hubungan yang saling menguntungkan dengan publiknya (stakeholder-nya) maka seorang Public Relations membutuhkan merlia untuk menjangkau semua stakeholder-nya yang bersifat masif. Pada tataran inilah seorang Public ReIations membutuhkan media massa (Evi Hafizah, 2021 :5) Public Relations yang ada di perusahaan selalu menekankan pencitraan dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, mulai dari kegiatan sosial, beriklan sampai pembuatan berita atau publisitas dalam rangka membangun citra positif. Karena penekanannya lebih pada pencitraan positif perusahaan maka tidak jarang Public Relations membuat konstruksi pesan untuk suatu informasi. Akibatnya, realitas semulah yang di sampaikan kepada khalayak. Pada tataran ini, jelas sekali tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat tidak dapat dipenuhi. Bagi wartawan dan pekerja media lainnya, apa yang dilakukan oleh Public


5 Relations ini jelas sekali bertentangan tugas dan tanggung jawab wartawan. Bagi wartawan dan pekerja media lainnya yang menjadi penekanan penting dalam pekerjaan mereka adalah kebenaran berita yang disampaikan kepada masyarakat. Menurut Masduki (2009 : 19), konflik dan hubungan yang kurang harmonis antara Public Relations dan wartawan ini biasanya disebabkan karena faktor pemahaman yang tidak utuh atas eksistensi media massa di suatu daerah. Pemahaman yang tidak utuh ini menyebabkan hubungan perusahaan dengan pelaku media memburuk, terutama ketika terjadi konflik. Represi dan eksploitasi yang dilakukan media terhadap perusahaan lebih banyak disebabkan oleh miskomunikasi dan minimnya wawasan kedua belah pihak dalam memahami tugas masing-masing atas sebuah isu krusial atau sebuah peristiwa. Dalam konteks membangun citra positif perusahaan melalui publisitas, biasanya Public Relations yang ada di perusahaan biasanya akan membuat tulisantulisan yang positif tentang perusahaan. Akibatnya, hal-hal negatif yang terjadi di perusahaan seringkali berusaha ditutupi bahkan sebisa mungkin diupayakan jangan sampai muncul kepermukaan. Orientasi ini membawa satu dampak pada “penyortiran” informasi yang akan disampaikan kepada khalayak melalui media massa. Akibatnya, tidak jarang berita-berita serta informasi yang memiliki kebenaran tidak disampaikan kepada khalayak. Alasannya, apabila informasi dipublikasikan kepada masyarakat melalui media massa akan merusak pandangan masyarakat terhadap perusahaan itu. Public Relations mempunyai pandangan yang sangat jauh berbeda tentang profesi Public Relations. Menurut Public Relations, media massa akan dapat bekerja dengan baik dan dapat menyelesaikan tugas-tugasnya apabila mereka bekerja sama dengan Public Relations. Dengan kata lain, tanpa bantuan Public Relations, media akan mengalami kehancuran. Pendapat Public Relations ini bukan sekedar pendapat belaka, karena banyak fakta yang dijadikan bukti oleh Public Relations tentang pentingnya profesi Public Relations untuk pekejaan wartawan dan institusi media. Menurut Public Relations, wartawan dan institusi media akan mendapatkan segala informasi yang mereka butuhkan yang berhubungan dengan perusahaan atau organisasi apabila mereka bekerja sama dengan Public Relations. Pendapat Public Relations di dasarkan pada prinsip bahwa Public Relations adalah corong dari organisasi atau perusahaan tempat mereka bekerja. Fakta lainnya, Public Relations adalah mediator antara wartawan dengan narasumber yang ada di perusahaan atau organisasi tempat Public Relations itu berada. Public Relations lah yang berperan


6 sebagai penghubung antara wartawan dengan orang-orang yang memiliki kredibilitas dalam bidangnya di perusahaan atau organisasi tempat Public Relations berada. Prinsip ini jelas membawa pada satu konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Karena penekanan pada setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Public Relations lebih mengacu kepada pencitraan, maka tidak jarang seorang Public Relations terjebak pada suatu kondisi untuk mengkonstruksi suatu informasi. Akibatnya terjadi pemberitaan dan publikasi yang tidak benar, bahkan terjadi pembohongan publik. Apa yang disampaikan oleh Public Relations bukan berdasarkan pada fakta yang sesungguhnya melainkan rekonstruksi dari suatu fakta, dengan harapan dapat membangun citra positif perusahaan atau organisasi tempat mereka berada. Berbeda dengan Public Relations, bagi wartawan dan pekerja media lainnya, yang menjadi penekanan penting dari suatu pemberitaan adalah keakuratan sebuah berita. Dalam pandangan mereka, masyarakat harus mendapatkan berita sesuai dengan fakta yang ada. Sebuah berita tidak boleh membohoni masyarakat . Tuntutan wartawan ini jelas sekali bertentangan dengan apa yang dikehendaki Public Relations. Penyampaian berita yang faktual, akurat dan apa adanya , jelas bukanlah cara untuk membangun citra, terlebih ketika perusahaan atau organisasi mengalami konflik. Pemberitaan teantang konflik yang terjadi dalam suatu perusahaan secara jujur apa adanya jelas merusak citra perusahaan tersebut. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa para wartawan sangat meyakini kegiatan serta tindakan oleh praktisi Public Relations tidak memiliki nilai profesional dan persepsi yang sama dengan jurnalis tentang nilai berita (Grunig:1992:69). Selain perbedaan nilai profesional dan persepsi yang sama dengan jurnalis , wartawan merasa ada perbedaan yang sangat besar antara Public Relations dan wartawan. Wartawan merasa tidak memiliki kedudukan yang sama dengan Public Relations. Selain perbedaan kedudukan, wartawan merasa bahwa praktisi Public Relations dianggap lebih profesional dan lebih mengandalkan etika dalam menjalankan tugas sehari-hari dibandingkan dengan profesi lainnya. Setiap hal yang menjadi tanggung jawab Public Relations selalu diusahakan untuk dikerjakan secara profesional dan sesuai dengan etika yang berlaku. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan profesi wartawan. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi penyebab munculnya hubungan yang kurang harmonis antara Public Relations dan wartawan.


7 Hubungan yang kurang harmonis ini sangat terasa dalam media relations. Bahkan, banyak ahli mengatakan bahwa area media relations adalah area konflik antara Public Relatios dan wartawan. Konflik yang terjadi antara Public Relations dan wartawan tidak jarang juga disebabkan oleh keegoisan masing-masing pihak. Wartawan melihat selama ini ada kecendrungan bahwa Public Relations hanya menjalin hubungan ketika ada kepentingan untuk diliput oleh wartawan. Yang lebih sulitnya lagi, wartawan sering mendapatkan jawaban yang berbelit-belit dari perusahaan ketika ereka melakukan peliputan. Setelah menghabiskan banyak waktu, tidak jarang wartawan pulang dengan tidak membawa hasil dan tidak mendapatkan narasumber yang tepat. Ini jelas merugikan wartawan dan memaksanya membuat catattan khusus mengenai perusahaan tersebut. B. Peran Media Massa Kepada Pekerjaan Seorang Public Relation Media massa mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat kita, baik dalam transfer informasi, transfer pengetahuan, maupun sebagai media komunikasi. Selain itu, fakta bahwa media massa mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat kita juga ditunjukkan dengan peranan media massa dalam membangun nama baik dan nama besar seseorang maupun sebuah organisasi dan institusi. Media massa menjadi satu sarana untuk membangun kepercayaan seseorang kepada publik. Ada banyak bukti yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari tentang peranan media yang sangat besar dalam publikasi dan dalam membangun nama besar seseorang ini. Dalam pekerjaan seorang Public Relations, media massa mempunyai peranan yang sangat besar dalam memengaruhi masyarakat, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Seorang Public Relations dapat menggunakan media massa dalam memengaruhi masyarakat untuk membangun citra yang positif dari seorang individu, organisasi, perusahaan, bahkan negara. Sebaliknya, seorang Public Relations dapat menggunakan media massa untuk memengaruhi masyarakat dalam membangun opini publik, bahkan membangun citra negatif dari seorang individu, organisasi, perusahaan, bahkan negara. Bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan, di satu sisi media massa mempunyai peranan untuk membangun citra positif dalam diri seseorang, dalam sebuah organisasi, institusi, maupun terhadap suatu negara. Tetapi di sisi yang lain, media massa juga mampu membangun citra negatif dalam diri seseorang, dalam suatu organisasi atau


8 institusi mauPun dalam suatu negara. Peranan media massa inilah yang sangat dibutuhkan oleh seorang Public Relations. Tugas seorang Public Relations untuk membangun nama baik dan citra positif perusahaan kepada masyarakat tidak mungkin bisa dilakukan secara manual atau dengan krlmunikasi secara langsung. Cara ini jelas tidak efektif, membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, dibutuhkan cara pendekatan yang lebih masif untuk menjangkau khalayak dalam jumlah yang banyak. Penggunaan media massa merupakan salah satu strategi yang dianggap paling efektif untuk membantu melakukan tugas Public Relations dalam menjangkau masyarakat luas. Membangun citra positif dan nama baik dengan menggunakan media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun internet merupakan cara yang efektif Sekali mengirimkan pesan lewat media massa, maka pesan tersettut akan diterima oleh Masyarakat secara serempak. Dengan menggunakarn media massa, citra positif maupun citra negatif dapat dibangun. Paparan ini menjadi satu fakta tentang pentingnya media massa dalam pekerjaan seorang Public Relations untuk membangun citra yang positif maupun untuk menghancurkan nama baik perusahaan atau institusi. Posisi media menjadi penting seiring dengan hadirnya banyak media di tengah masyarakat. Kehadiran media tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Kondisi dari setiap media dewasa ini, terutama setelah hadirnya media sosial sangat memperluas cakupan komunikasi manusia. Untuk lebih jelasnya tentang posisi media, berikut penjelasannya. Pertama, Media Cetak. Koran, sekian tahun lalu keberadaan koran dianggap segera berakhir. Jika dapat bertahan setelah adanya televisi, koran dinilai tidak akan banyak berpengaruh lagi. Pandangan ini memiliki alasan, karena banyak koran di kota-kota besar terpaksa gulung tikar. Namun sejak 1970-an, koran terbukti mampu bertahan, meskipun prosesnya memang tidak mudah. Sekalipun sebagian koran terbesar gagal bertahan, koran-koran yang mampu menyajikan pelayanan baru, khususnya di daerah pinggir kota berhasil menyelamatkan diri. Majalah, sama halnya dengan koran, majalah juga harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru. Majalah yang mampu bertahan umumnya adalah yang bersifat khusus, misalnya majalah khusus wisata, olahraga, hobi perahu layar, penggemar acara televisi atau berita-berita ilmiah. Kedua, Media Siaran. Radio semakin terdesak oleh televisi, namun masih memiliki banyak penggemar. Kecenderungannya adalah jangkauan siaran radio semakin sempit


9 sehingga yang paling mampu bertahan adalah radio-radio yang hanya melayani suatu wilayah kecil saja. Tantangannya tidak kalah dari yang dihadapi oleh koran dan majalah, namun radio terbantu oleh penemuan transistor yang membuatnya jauh lebih ringkas. Selain radio, media siaran juga terdiri dari televisi. Televisi merupakan media baru setelah hadirnya radio. Masyarakat lebih menikmati acara yang disiarkan oleh televisi dibandingkan media lainnya sebab dengan televisi, masyarakat dapat melihat dan mendengar peristiwa yang disampaikan. Berdasarkan dua jenis media massa tersebut setiap media memiliki sejarah dan karakteristik yang berbeda sehingga baik media cetak ataupun siaran sangat dibutuhkan sebagai sarana komunikasi massa. Perkembangan media massa tentu saja mengalami pasang surut, namun para pengelola media tidak tinggal diam ketika media yang dikelola mengalami penuruna peminat, karena semakin berkembanganya suatu teknologi dan kemampuan manusia dalam menciptakan inovasi untuk berkomunikasi, kini selain media cetak dan media siaran, produk media massa pun berkembang pada media online. C. Studi Kasus Public Relations Hotel Grand Darmo Suite menjalin hubungan baik dengan media massa. Dalam berhubungan dengan media massa, Public Relations Hotel Grand Darmo Suite melakukan strategi media relations, yaitu mengelola relasi, mengembangkan strategi dan mengembangkan jaringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus single case. Dalam mengelola relasi, Public Relations Hotel Grand Darmo Suite menjalin hubungan secara personal dengan wartawan media massa dan dengan institusi media massa, serta melakukan kegiatan media relations berupa mengirimkan press release dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, mengadakan special event, wawancara pers, press luncheon dan melakukan media visit. Public Relations Hotel Grand Darmo Suite mengembangkan strategi dengan taktik-taktik untuk berhubungan baik dengan wartawan. Public Relations Hotel Grand Darmo Suite juga melakukan strategi mengembangkan jaringan dengan tergabung menjadi anggota organisasi kewartawan yaitu FKHM (Forum Komunikasi Hotel dan Media) dan komunitas.


10 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Media massa merupakan media yang sangat vital dalam membantu keberhasilan seorang Public Relations dalam menyampaikan pesan atau informasi serta publikasi tentang perusahaan atau organisasi kepada publik. Public Relations membutuhkan media massa dan media massa membutuhkan Public Relations. Public Relations membutuhkan media massa untuk menjangkau semua stakeholder-nya yang bersifat masif (banyak/besar), karena dalam pekerjaan seorang Public relations, media massa mempunyai peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi masyarakat, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Seorang Public Relations dapat menggunakan media massa dalam mempengaruhi masyarakat untuk membangun citra yang positif, ataupun negatif, juga dapat membangun opini publik dari seorang individu, organisasi, perusahaan, bahkan negara. Ini menunjukkan bahwa media massa itu berperan penting bagi pekerjaan seorang Public Relations untuk melakukan publisitasUntuk itu, hubungan antara Public Relations dengan media massa dalam hal ini termasuk institusi media dan pekerja media hendaknya selalu terjalin dengan harmonis. B. Saran Demikianlah makalah dari kelompok enam ini. Pemakalah sangat menyadari bahwa makalah diatas masih ada kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Pemakalah akan memperbaiki makalah dengan berpedoman pada sumber-sumber yang pemakalah buat serta kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Maafkan dari salahnya pemilihan kata yang pemakalah ambil karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.


11 DAFTAR KEPUSTAKAAN Abrar, Ana Nadya. 2003. Teknologi Komunikasi Perspektif Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: LESFI. Anggoro, Linggar. 2000. Teori dan Profesi Kehumasan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Ardianto, dan Soemirat. 2009. Strategi Membangun Citra Perusahaan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Darmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi. Yogyakarta. Efkins, Frank. 1992. Public Relations. Jakarta: Erlangga. Emilsyah, Nur. 2021. Peran media massa dalam menghadapai serbuan media online. Majalah ilmiah semi populer komunikasi masa. Vol 2 No 1. Hal 51-64. Evi, Hafizah. 2021. Peran Media Dalam Pekerjaan Public Relations. Jurnal Kaganga. Vol 5. Lawrencia, Anneke. 2016. Strategi Media Relations Hotel Grand Darmo Suite Surabaya Dalam Mengelola Publisitas Di Media Massa. Jurnal E-Komunikasi. Vol 4 No 1. Masduki. 2009. Media Relations Dan Resolusi Konflik Di Perusahaan Migas, CPS Monographs On Conflict Management And Resolution. seri No 1. paper No 4 – Juni 2009. UGM. Yogyakarta. Saputra, Wahidin dan Rulli Nasrullah. 2011. Public Relations 2.0 Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber. Depok: Gramata Publishing.


12 MAKALAH PUBLIC RELATION Tentang KERJASAMA PUBLIC RELATION DENGAN MEDIA EKSTERNAL DOSEN PENGAMPU: OKTRI PERMATA LANI, S.I.KOM, M.I.KOM PEMAKALAH KELOMPOK 7: NABILA FERNANDA 2330302030 SONYA PRISKILA BILLBINA 2330302044 TASYA RAMADANI 2330302050 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR 2023M/1445H


i KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, Makalah Kerjasama Public Relation dengan Media Eksternal ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan seluruh orang yang senantiasa mengikuti Sunnah beliau. Juga kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu didalam penyusunan materi kuliah ini kami ucapkan terimakasih, karena tanpa arahan, bimbingan dan motivasi yang diberikan, tentunya belum bisa tersaji kepada para pembaca, walaupun tidak bisa kami sebutkan namanya satu persatu. Akhir kata, sebagai Makalah Kerjasama Public Relation dengan Media Eksternal ini dapat diselesaikan yang baik tentunya memerlukan sebuah celah untuk menyempurnakan materi ke depan, untuk itu kami dengan segala kerendahan hati menerima masukan demi maksud diatas demi peningkatan dan penyempurnaan dalam makalah dan pembelajaran ini. Batusangkar, 15 November 2023 Pemakalah


ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... ⅰ DAFTAR ISI................................................................................................... ⅱ BAB Ⅰ PENDAHULUAN............................................................................... 1 G. Latar Belakang .................................................................................... 1 H. Rumusan Masalah ............................................................................... 1 I. Tujuan ................................................................................................ 1 BAB Ⅱ PEMBAHASAN................................................................................ 2 G. Media Eksternal yang Digunakan Public Relation ........................... 2 H. Studi Kasus ......................................................................................... 7 BAB Ⅲ PENUTUP........................................................................................ 9 E. Kesimpulan ......................................................................................... 9 F. Saran.................................................................................................... 9 DAFTAR KEPUSTAKAAN


3 BAB I PENDAHULUAN D. Latar Belakang Public Relations adalah sebuah ilmu dalam rumpun ilmu sosial, dan menjadi bagian dari induknya ilmu komunikasi. Media Relations adalah relasi yang dibangun dan dikembangkan dengan media untuk menjangkau publik guna meningkatkan pencitraan, kepercayaan, dan tercapainya tujuan-tujuan individu maupun organisasi atau pengusahaan, meningkatkan kepercayaan publik , meningkatkan poit of selling, membantu perusahaan keluar dari komunikasi krisis, dan meningkatkan relasi dari beragam publik. Dalam Media Public Relations, sementara media massa melihat PR sebagai sumber berita atau informasi bagi media tersebut. Berdasarkan perkembangannya saat ini, kini media massa tersebut ( surat kabar umum, majalah umum, radio siaran, dan televisi siaran) sudah masuk kategori media massa konvensional atau tradisional. Setelah berkembangnya internet, muncul media online ( newspaper online, megazine, online, digital radio, digital television). E. Rumusan Masalah 1. Apa media eksternal yang digunakan public relation? 2. Studi kasus F. Tujuan 1. Mengetahui media eksternal yang digunakan public relation. 2. Studi kasus.


4 BAB II PEMBAHASAN B. Media Eksternal yang Digunakan Public Relation Media eksternal adalah terbitan yang ditujukan untuk publik eksternal yang berisi beberapa informasi perusahaan, tujuannya untuk menciptakan kondisi well informed dan membina loyalitas stakeholders eksternal (Rochmaniah dkk, 2021: 37). Yang dimaksud dengan beberapa informasi adalah informasi yang diberikan kepada publik eksternal hanya beberapa saja, tergantung dari sasaran publik, yaitu publik konsumen, komunitas, pemerintah dan media. Atau secara singkat Media eksternal adalah media pers yang juga terdiri dari media cetak, penyiaran, dan media online (situs berita). Media eksternal yang sering digunakan oleh PR menurut Kriyantono (Rochmaniah dkk, 2021: 37) diantaranya: 1. Publisitas dan Media Relations Strategi media relations merupakan sekumpulan kebijakan dan taktik yang sudah ditetapkan untuk menciptakan tujuan kegiatan media relations khususnya dan public relation umumnya (Alim, 2016: 3). Salah satu tujuan media relations ini yaitu untuk memperoleh publisitas di media massa. Publisitas merupakan strategi yang dilakukan public relations untuk mendapatkan pemberitaan di media massa, yang mana fungsi media massa adalah sebagai saluran bagi khalayak untuk memperoleh informasi. Terdapat tiga strategi media relations menurut Iriantara dalam Alim (2016: 3), yaitu mengelola relasi, mengembangkan strategi dan mengembangkan jaringan. Kegiatan ini berkaitan dengan press atau media, yaitu: a. Press Release. b. Press Conference atau konperensi pers. c. Press Tour atau perjalanan rombongan wartawan yang diatur oleh kepala humas suatu lembaga untuk meliput peristiwa tertentu. d. Press Resepsi yaitu, kegiatan khusus untuk menjamu wartawan dengan makan bersama bertujuan mengikat hubungan silaturahmi. e. Media Gathering merupakan salah satu bentuk apresiasi perusahaan terhadap rekan media. 2. Special Events Menyelenggarakan acara atau kegiatan khusus (special events) dalam Humas merupakan salah satu kiat untuk menarik perhatian media pers dan publik terhadap


5 perusahaan atau produk tertentu yang akan ditampilkan dalam acara tersebut. Di hal lain, special events dari Humas/PR tersebut diharapkan mampu memuaskan pihakpihak lain yang terlibat atau terkait untuk berpartisipasi dalam suatu kesempatan pada acara Humas, baik untuk meningkatkan pengetahuan, pengenalan, maupun upaya pemenuhan selera dan menarik simpati atau empati (Santoso dan Riskiyanti, 2014: 137). Beberapa bentuk special event adalah pameran, pertemuan, open house, kontes dan juga ulang tahun. Menurut Ruslan dalam (Santoso dan Riskiyanti, 2014: 137), Fungsi special event dalam kegiatan Public Relations (Humas) adalah untuk memberikan informasi secara langsung (tatap muka) dan mendapatkan hubungan timbal balik yang positif dengan publiknya melalui acara ajang khusus yang sengaja dirancang dan dikaitkan dengan event (peristiwa khusus) dalam kegiatan dan program kerja kehumasan tertentu dan sebagai media komunikasi dan sekaligus untuk mendapatkan publikasi dan pada akhirnya media massa atau publik sebagai target sasarannya akan memperoleh pengenalan, pengetahuan, pengertian yang mendalam dan diharapkan dari ajang khusus tersebut dapat menciptakan citra positif terhadap perusahaan atau lembaga produk yang diwakilinya. 3. Corporate Advertising Iklan korporat dibuat untuk menciptakan dan menjaga image atau citra positif. Iklaniklan ini tidak menjual produk tapi menjual citra. Iklan ini berguna untuk mendukung kegiatan pemasaran, yakni jika citra positif perusahaan telah terbangun maka produk akan lebih mudah diterima pasar. Menurut Kasali dalam (Rochmaniah dkk 2021: 43) menjelaskan empat iklan korporat, yaitu: a. Corporate Identity Advertising: jenis iklan yang menampilkan beberapa identitas perusahaan yang terdiri dari grafik logo, warna identitas, nama perusahaan, dan desain fisik lainnya. b. Public Relations Advertising merupakan iklan yang bertujuan menjelaskan kepada masyarakat tentang suatu hal menyangkut pelayanan, bersifat informatif, contohnya adalah pindah gedung, keterlambatan pelayanan, insiden (kecelakaan, kebakaran, pemogokan), permintaan maaf, ucapan terima kasih, simpati dan sebagainya. c. iklan lowongan pekerjaan termasuk dalam corporate advertising. Hal ini karena bentuk, ukuran, desain, penggunaan kata-kata, dan kejujuran dalam iklan lowongan pekerjaan menjadi pertimbangan tersendiri bagi masyarakat untuk menilai reputasi perusahaan.


6 d. Iklan public relations jenis ini bertujuan untuk memperkuat image dan awareness. Pesan-pesan yang disampaikan cenderung lebih filosofis. 4. Newsletters Media tulisan yang bisa digunakan untuk publik internal ataupun eksternal, seperti koran dan majalah, sebagai wahana komunikasi dua arah dengan publik. Koran adalah surat kabar yang dicetak di kertas yang biasa disebut dengan kertas koran dan diterbitkan setiap hari berisi topik berita-berita terkini untuk di informasikan kepada khalayak. Majalah biasanya berisi tentang topik berita, artikel, cerita dan sebagainya. Majalah biasanya diterbitkan dalam kurun waktu tertentu sesuai ketentuan percetakan, biasanya dikeluarkan mingguan atau bulanan (Sulistiani dan Wijaya, 2021: 28-29). 5. Biro Khusus Juru Bicara Biro khusus juru bicara mempunyai tugas menyampaikan informasi kepada publik. Dengan adanya biro ini, sistem informasi satu pintu (one door system) yang mencegah beragam informasi dari beragam sumber yang bisa memunculkan ketidakpastian dan kesalahpahaman. Biro khusus juru bicara memiliki keterkaitan dengan media massa adalah bagian publikasi, yang mana menggunakan media internal, yaitu wartawan humas dan media eksternal, yaitu media-media lokal dan nasional (Amian, 2016: 10-11). 6. Charitable Contributions Kegiatan charitable contribution adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ahmad dalam (Saraswati and Faisal, 2014) menjelaskan corporate charitable contributions merupakan pemberian sukarela berupa uang atau sumber daya lainnya termasuk kontribusi peralatan, perlengkapan atau properti lainnya, atau kesukarelaan karyawan oleh perusahaan untuk tujuan masyarakat. 7. Thanks You Note and Letters Menurut Rochmaniah dkk (2021: 46), thank you letter adalah sebuah surat ucapan terima kasih yang bertujuan untuk mewujudkan suatu hubungan yang erat, keterikatan dalam bekerja sama dengan perusahaan lain. Thank you letter dapat digunakan dalam proposal yang diterima pada saat seseorang bersedia datang mengisi seminar, atau berterima kasih kepada relawan yang telah mau membantu dalam acara yang diselenggarakan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis thank you letter, yakni bersikap jujur, isi yang padat, jelas, tepat, sesuai, gunakan bahasa yang sopan, dan kirim sesegera mungkin. 8. Audio Visual Instrument


7 Public Relations Officer (PRO) membuat company profile berbentuk audio-visual dan materi presentasi di hadapan publik, dan kemudian produk-produk komunikasi ini disebarkan melalui media -media, baik media massa maupun media sosial. Contoh yang sering kita lihat dan dengarkan adalah jingle Indomie “Indomie seleraku” dengan nada yang tidak berubah dari awal peluncuran iklan. 9. Sponsorship Menurut Yanto (2018: 41-42), sponsorship adalah bentuk suatu dari promosi merk dengan cara memberikan bantuan keuangan dari suatu organisasi, perorangan, atau kegiatan yang menghubungkan suatu merek dengan kegiatan hiburan, olahraga, sosial (public activity) dan budaya yang menimbulkan suatu ketertarikan tinggi, dengan memberikan timbal balik untuk mengiklankan perusahaan. Suatu event sponsorship diselenggarakan oleh perusahaan dengan harapan agar namanya menjadi lebih dikenal dan mendapat image yang baik dari masyarakat. Menurut Rossiter dan Percy dalam (Yanto, 2018: 41-42) perencanaan sponsorship mencakup: a. Target audience reach (segmentasi masyarakat) Dalam memilih jenis sponsorship yang akan digunakan perlu diperhatikan segmen mana yang ingin dicapai oleh perusahaan. b. Compebility with The Company’s or Brand Positioning (kaitan dengan produk perusahaan) Beberapa jenis sponsorship secara langsung berkaitan atau menggunakan produk dari perusahaan. Tetapi beberapa jenis sponsorship dipilih karena kesesuaian image secara tidak langsung dengan produk tersebut, misalnya brand Aqua mensponsori turnamen bulu tangkis. c. Message Capacity (kapasitas pesan) perusahaan yang mensponsori suatu kegiatan biasanya mendapatkan fasilitas untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut, misalnya pada event olahraga, perusahaan mendapatkan fasilitas untuk mendapatkan brand name produk atau perusahaan mereka di sekitar lokasi kegiatan olahraga tersebut, dan juga liputan oleh televisi apabila diliput oleh stasiun TV. B. Studi Kasus Berdasarkan hasil penelitian tentang Kegiatan Government Public Relation Dalam


8 Membangun Komunikasi Dengan Dunia Pers. Penelitian ini menitikberatkan pada komunikasi yang dibangun oleh Public Relations atau Hubungan Masyarakat (Humas) pada Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur dengan komunitas Pers melalui peranperan mereka dalam kegiatan pemerintahan administratif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan Humas Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur dalam membangun komunikasi yang baik dengan Pers sebagai mitra pemerintah dalam mensosialisasikan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Hubungan masyarakat yang biasa disingkat dengan humas memiliki fungsi internal dan eksternal. Dalam hal hubungan dengan media massa oleh humas melakukan fungsi eksternal untuk menciptakan dan menjamin hubungan yang baik dengan pihak media massa atau komunitas dan juga lingkungan dan lembaga lain yang dapat mendukung pekerjaan lembaga dan tugas-tugas humas. Melalui humas pemerintah dapat menyampaikan informasi atau menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan kebijaksanaan dan tindakan-tindakan tertentu serta aktivitas dalam melaksanakan tugastugas dan kewajiban ke pemerintahannya. Kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, dan kemudian memotivasi, atau mempengaruhi opini masyarakat dengan usaha untuk menyamakan persepsi dengan tujuan dan sasaran instansi yang diwakilinya. Dari pengertian peran ganda humas instansi pemerintah tersebut dalam upaya menunjang (Suporting of PR government) pelaksanaan tugas dan fungsi aparat kehumasan instansi yang bersangkutan, maka pihak humas tersebut harus memiliki kemampuan untuk menguasai permasalahan yang dihadapi oleh instansinya, diantaranya kemampuan untuk mengamati dan menganalisis persoalan yang menyangkut kepentingan instansinya atau khalayak yang menjadi target sasarannya. Berdasarkan konsep dan teoritis tersebut, paling tidak pekerjaan kehumasan pada pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur dapat dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan peran dalam membangun komunikasi atau hubungan yang baik dengan media massa dan pers sebagai mitra kerja termasuk dalam mensosialisasikan berbagai kegiatan atau program-program pemerintah untuk kepentingan masyarakat.


9 BAB III PENUTUP C. Kesimpulan Media eksternal adalah terbitan yang ditujukan untuk publik eksternal yang berisi beberapa informasi perusahaan, tujuannya untuk menciptakan kondisi well informed dan membina loyalitas stakeholders eksternal. Media eksternal yang sering digunakan oleh PR diantaranya, Publisitas dan Media Relations, special events, corporate advertising, newsletters, biro khusus juru bicara, charitable contributions, thanks you note and letters, audio visual instrument dan sponsorship. D. Saran Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


10 DAFTAR PUSTAKA Alifahmi, Hifni, 1994. Marketing Public Relations Upaya Memenangkan Melalui Pemasaran Yang Komunikatif, Jakarta: Publikasi Lembaga Management FEUI. Alim, Anneke Lawrencia. (2016). Strategi Media Relations Hotel Grand Darmo Suite Surabaya Dalam Mengelola Publisitas Di Media Massa. Jurnal E- Komunikasi. Vol. 4, No. 1. Amian, Ferdinandus. (2016). Efektivitas Strategi Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat Dalam Meningkatkan Media Relations. Jurnal S-1 Ilmu Pemerintahan. Vol. 5, No. 1. Aras, Muhammad. (2014). Kegiatan Government Public Relations Dalam Membangun Komunikasi dengan Dunia Pers. Jurnal Ekonomi dan Komunikasi. Vol. 5, No. 2. Ardianto, Elvinaro, 2002. Dasar-Dasar Public Relations, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rochmaniah, dkk. (2021). Dasar Dasar Public Relations. Sidoarjo: UMSIDA PRESS. Santoso, Prasetya Yoga dan Triana Riskiyanti. (2014). Strategi Marketing Public Relations Dalam Melaksanakan Special Event Program Paket Close User Group (CUG) PT. Indosat TBK. Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol. 13, No. 2. Saraswati, A. D dan Faisal. (2014). Analisis Faktor-Faktor Mempengaruhi Tingkat Corporate Charitble Contributions. Universitas Diponegoro. Sulistiani, Tarra Nur Azizah dan Lina Sinatra Wijaya. (2021). Strategi Komunikasi Eksternal Public Relations Pemerintah Kota Salatiga di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Publikasi Media dan Cinema. Vol. 4, No. 1. Yanto, Septian. (2018). Efektivitas Sponsorship Dalam Meningkatkan Brand Awareness PT. Sentra Timur Residence. Universitas Bakrie.


11 MAKALAH PUBLIC RELATION Tentang MEDIA INTERNAL DAN EKSTERNAL PUBLIC RELATION DOSEN PENGAMPU: OKTRI PERMATA LANI, S.I.KOM, M.I.KOM PEMAKALAH KELOMPOK 6: NUR AFNI PUTRI AS 2330302032 RAUDHATUL JANNAH 2330302036 USWATUN HASANAH 2330302051 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR 2023M/1445H


i KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, Makalah Media Internal dan Eksternal Public Relation ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan seluruh orang yang senantiasa mengikuti Sunnah beliau. Juga kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu didalam penyusunan materi kuliah ini kami ucapkan terimakasih, karena tanpa arahan, bimbingan dan motivasi yang diberikan, tentunya belum bisa tersaji kepada para pembaca, walaupun tidak bisa kami sebutkan namanya satu persatu. Akhir kata, sebagai Makalah Media Internal dan Eksternal Public Relation ini dapat diselesaikan yang baik tentunya memerlukan sebuah celah untuk menyempurnakan materi ke depan, untuk itu kami dengan segala kerendahan hati menerima masukan demi maksud diatas demi peningkatan dan penyempurnaan dalam makalah dan pembelajaran ini. Batusangkar, 6 November 2023 Pemakalah


ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... ⅰ DAFTAR ISI................................................................................................... ⅱ BAB Ⅰ PENDAHULUAN............................................................................... 1 J. Latar Belakang .................................................................................... 1 K. Rumusan Masalah ............................................................................... 1 L. Tujuan ................................................................................................ 1 BAB Ⅱ PEMBAHASAN................................................................................ 2 I. Media Internal Public Relation ........................................................... 2 J. Media Eksternal Public Relation......................................................... 6 K. Studi Kasus ......................................................................................... 8 BAB Ⅲ PENUTUP........................................................................................ 10 G. Kesimpulan ......................................................................................... 10 H. Saran.................................................................................................... 10 DAFTAR KEPUSTAKAAN


3 BAB I PENDAHULUAN G. Latar Belakang Salah satu tugas penting public relations atau humas adalah menangani media publikasi atau media humas. Karenanya, praktisi humas atau staf public relation wajib memiliki keterampilan menulis (writing skills) atau menguasai ilmu jurnalistik sebagai “ilmu mengelola konten media”. Selain writing skills, dalam konteks media humas, praktisi public relation juga harus menguasai desain komunikasi visual untuk merancang media kehumasan. Media merupakan alat publikasi public relation. Dilansir Binus Malang, dulu kinerja seorang humas diukur dari seberapa baik mereka membuat tulisan di surat kabar dalam menyampaikan press release. Kini, humas profesional haruslah mampu menggunakan berbagai media, termasuk media online di internet, dan memanfaatkan berbagai alat komunikasi yang super canggih untuk mengomunikasikan pesan. H. Rumusan Masalah 1. Apa saja media internal public relation? 2. Apa saja media eksternal public relation? 3. Studi kasus I. Tujuan 1. Mengetahui apa saja media internal public relation 2. Mengetahui apa saja media eksternal public relation 3. Studi kasus


4 BAB II PEMBAHASAN A. Media Internal Public Relation Pentingnya hubungan baik dalam suatu organisasi atau perusahan menjadi salah satu faktor yang dapat membuat organisasi tersebut semakin maju dan berkembang, karena dengan adanya hubungan yang baik dalam publik internal maka seluruh anggota organisasi atau perusahan yang merupakan publik internal dari organisasi atau perusahaan tersebut memiliki kenyamanan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya yang sudah diberikan oleh perusahan atau organisasi. Jika berbicara mengenai hubungan internal, maka tentu sangat berkaitan erat dengan yang namanya media internal, yang merupakan saluran komunikasi internal yang digunakan oleh publik internal suatu organisasi atau perusahaan. Media internal berfungsi sebagai penghubung antara manajemen organisasi atau perusahaan dengan karyawannya (Susanto, 2004: 179). Public relation suatu organisasi atau perusahaan juga memiliki tugas dan peran yang besar dalam menjalin hubungan dengan publik internalnya. Kegiatan hubungan internal yang dilakukan oleh public relation bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan publik internal perusahaan, agar reputasi perusahaan tetap bersifat positif di mata publik internal, dan mendapatkan dukungan dari publik internal tentang kegaitan-kegiatan dan tujuan perusahaan ke depannya (Ardianto, 2011: 99), kegiatan tersebut dilakukan melalui komunikasi internal dan bisa menggunakan media komunikasi internal yang biasa disebut media internal. Media internal merupakan jenis media yang digunakan untuk kalangan terbatas dan non-komersial, juga bisa digunakan dalam kegiatan public relation ( Lestari, 2018: 34). Media internal merupakan media yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan yang digunakan oleh public relations untuk menyampaikan pesan kepada publik internal (Ruslan, 2008: 217). Jadi media internal digunakan sebagai sarana melakukan komunikasi dengan publik internal organisasi atau perusahaan tersebut. public relation memiliki peranan penting dalam mengelola media internal di organisasi atau perusahaan tempat ia bekerja. Sebelum membuat atau menerbitkan suatu media internal, public relation sudah harus mengetahui siapa pembacanya atau siapa sasarannya, mengetahui bagaimana sikap dan perilaku serta kebutuhan informasi yang mereka butuhkan (Susanto, 2004: 181).


5 Kehadiran media internal dalam sebuah organisasi khususnya sebuah perusahaan mempermudah komunikasi dari perusahaan ke karyawan atau khalayak di luar lembaga. Ada empat bentuk media yang dapat digunakan sebagai media internal, yaitu : 1. Lisan Dapat berupa morning briefing, rapat, diskusi atau ceramah. Untuk morning briefing biasanya membahas mengenai pekerjaan ataupun masalah yang terjadi kemarin. 2. Tertulis Dapat berupa surat, brosur, company profile, bulletin, dan majalah. Untuk jenis tertulis paling banyak digunakan karena dianggap paling efektif seperti bulletin dan majalah. Majalah perusahaan yaitu majalah untuk karyawan dan majalah untuk customer. Seiring perkembangan teknologi, maka media-media tersebut sekarang dilakukan secara elektronik, seperti e-bulletin dan e-magazine. 3. Elektronik Lebih hemat biaya namun karyawan jadi malas membaca dan tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama. 4. Konvensional Bisa disimpan dalam waktu lama namun biayanya mahal. Media internal juga mengembangkan fungsi-fungsi komunikasi massa. Media internal, sekalipun diterbitkan untuk kebutuhan khalayak tertentu, tetapi tetap melingkup fungsi komunikasi massa. Fungsi komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick C Whitney (1988) yaitu menginformasikan (to inform), memberi hiburan (to entertain), membujuk (to persuade), dan transmisi budaya (transmission of the culture) (Nurudin 2007: 64). Isi informasi media internal pun tak kalah penting kaitannya. Isi informasi dari media internal haruslah memiliki nilai berita, berikut adalah beberpa hal pokok untuk menilai informasi memiliki nilai berita atau tidak, yaitu signifikan (apakah berita itu penting atau tidak untuk diketahui oleh pembaca), magnitude (cukup besarkah pengaruh berita itu bagi pembaca), aktualitas (apakah berita yang dimuat baru atau tidak), proximity (apakah berita itu ada kedekatan dengan pembaca), human interest (apakah berita itu memiliki nilai sentuhan manusiawi atau tidak), dan prominent (apakah yang diberitakan itu cukup terkenal atau tidak) (Ardianto, 2011:153). Sebagai sebuah media,


6 tentu memiliki fungsi-fungsi yang jelas, adapun fungsi media internal adalah: a. Media hubungan komunikasi internal yang bertujuan untuk penyampaian pesanpesan organisasi atau perusahaan kepada publiknya. Khususnya publik internal. b. Sebagai ajang komunikasi antar karyawan. c. Media yang digunakan staff public relations dalam hal tulis menulis. d. Nilai tambah bagi fungsi public relation yang bisa menerbitkan in journal yang bermutu, terbit secara berkala, teratur, profesional, lay out yang diisi dan ditata dengan baik serta cover yang menarik. (Ruslan, 2006: 180). Media internal yang sangat banyak bentuknya akan dijelaskan secara rinci dalam bagian ini. Berikut adalah jenis-jenis media internal dan penjelasannya yang sering digunakan oleh organisasi atau perusahaan dalam melakukan proses komunikasi dengan publik internalnya: 1) Jurnal internal Merupakan media cetak yang disebarkan kepada publik internal dan diterbitkan secara teratur pada jangka waktu tertentu.Jurnal internal merupakan bentuk yang sudah sangat lama untuk melaksanakan fungsi-fungsi public relation, diantaranya ialah media korporasi atau inhouse magazine (Ilmiyati, 2010: 16). Media ini digunakan oleh public relation untuk keperluan publikasi dan sarana komunikasi yang ditunjukan kepada publik internal suatu organisasi atau perusahaan. Jurnal internal biasanya berbentuk seperti, majalah, koran internal, newsletter dan majalah dinding. 2) Papan pengumuman Papan pengumuman juga merupakan bagian dari media internal suatu organisasi atau perusahaan. Papan pengumuman biasa diletakkan di tempat yang strategis seperti tempat-tempat yang ramai dan selalu di kunjungi atau dilewati oleh anggota organisasi. Ini berkmasud agar seluruh anggota organisasi dapat mengakses dengan muda papan pengumuman tersebut. 3) Stasiun radio sendiri Stasiun radio sendiri umumnya dimiliki oleh organisasi tau perusahaan besar. Stasiun radio ini menyiarkan program-program siaran radio yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan.Isi siarannya ialah bisa berupa berita dan informasi perusahaan, laporan, permintaan lagu, penyampian pesan antar karyawan. Dengan adanya stasiun radio suasana kerja akan lebih menjadi nyaman dan lebih menyenangkan bagi karyawan (Anggoro, 2005: 220).


7 Selain bentuk-bentuk media internal yang disebutkan di atas, ada pula terdapat media internal yang berbasis internet, dampak internet dan situs jejaring sosial telah meningkatkan pentingnnya komunikasi internal.Saat ini karyawan perusahaan memiliki akses mengenai kinerja, aktivitas, direksi dan permasalah yang sedang dihadapi oleh organisasi atau perusahaan hanya dengan mengklik tombol satu kali saja (Butterick, 2014:120). Kemajuan teknologi komunikasi ini bisa dijadikan salah satu bentuk media internal yang digunakan oleh organisasi atau perusahaan dalam melakukan hubungan internal. Pemilihan media internal sangat penting mengingat sebagai alat saluran komunikasi, agar komunikasi yang dilakukan menjadi komunikasi yang efektif dan bisa berjalan dengan lancar serta sesuai dengan tujuan yang diharapkan. B. Media Eksternal Public Relation Media pemberitaan menjadi perhatian utama bagi praktisi public relation untuk mengetahui persepsi publik terhadap perusahaan, terutama saat perusahaan berada dalam situasi krisis. Hubungan baik dengan pekerja media (wartawan) serta memahami kebutuhan mereka terhadap berita sangat penting dalam melaksanakan publisitas yang baik (Firsan, 2009: 205). Media eksternal adalah media pers yang juga terdiri atas media cetak, penyiaran dan media online (situs berita). Dengan pihak media eksternal inilah praktisi humas atau public relation melaksanakan kegiatan hubungan media (menjalin pengertian dan hubungan baik dengan media massa), termasuk publikasi "press release" (I Wayan, 2023: 45). Media eksternal yang dibuat oleh public relation adalah media massa, baik yang berbentuk media cetak maupun elektronik. Media cetak dapat diartikan segala barang cetak seperti surat kabar, majalah, brosur, pamflet, buletin dan lain-lain. Sedangkan media elektronik contohnya yaitu televisi, radio, website, dan lain-lain (Firsan, 2009: 205). Media massa memberikan efek yang besar kepada khalayak luas melalui pesanpesan yang disampaikan dan memiliki fungsi serta peran yang cukup signifikan ditengah masyarakat, diantaranya: 1. Fungsi menyiarkan informasi (to inform) Media massa dari dulu hingga sekarang tentunya memiliki fungsi utama sebagai media penyebar informasi di tengah-tengah masyarakat. Seperti hal nya, media cetak dan media elektronik yang terus menyajikan informasi terkait berita


8 local, nasional dan mancanegara. Begitu juga dengan keberadaan media baru seperti media online yang terintegrasi network. Masyarakat dapat dengan mudah memilih informasi mana yang akan diadopsi. Umumnya media massa dalam penyampaian informasi sangat berkaitan dengan peristiwa, gagasan ataupun opini masyarakat. Pesan yang disampaikan pun ialah pesan yang bersifat actual atau baru yang bisa berupa data, gambar, fakta, opini ataupun komentar yang dapat memperjelas atau memberikan pemahaman baru terhadap suatu peristiwa. 2. Fungsi mendidik (to educate) Media massa berfungsi sebagai media pendidik dalam berbagai bentuk. Diantaranya surat kabar atau majalah yang memuat pengetahuan yang bermanfaat bagi khalayak. Fungsi mendidik ini secara implisit dapat berbentuk artikel, tajuk rencana, cerita bersambung, ataupun bentuk lainnya yang mengandung aspek pendidikan. Berfungsi mendidik apabila pesannya dapat menambah pengembangan intelektual, pembentukan watak, penambahan keterampilan/kemahiran bagi khalayaknya serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Contohnya, penggunaan media massa di era digitalisasi saat ini yang sangat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Seperti penggunaan Zoom Meeting, Google Schoolar, Google Meet, Seesaw dan lain sebagainya. 3. Fungsi menghibur (to entertain) Yakni memerikan pesan yang bisa menghilangkan ketegangan pikiran masyarakat dalam bentuk berita, cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, sinetron, drama, musik, tari, dan lainnya. Berfungsi menghibur apabila kahlayak bisa terhibur atau dapat mengurangi ketegangan, kelelahan dan bisa lebih santai. 4. Fungsi memengaruhi (to influence) Fungsi mempengaruhi pendapat, pikiran dan bahkan perilaku masyarakat inilah yang merupakan hal paling penting, dalam kehidupan masyarakat. Karena itulah, media yang memiliki kemandirian (independent) akan mampu bersuara atau berpendapat, dan bebas melakukan pengawasan social (I Wayan, 2023: 52-53) C. Studi Kasus Berdasarkan hasil penelitian tentang Aktivitas Public Relation dalam menjalankan Media Relation yang dijalankan oleh Public Relation Hartono Lifestyle Mall lebih kecondong model public information terhadap media. Berdasarakan analisa tujuan komunikasi, sifat komunikasi, bentuk komuniaksi, dan


9 sifat riset dan juga dilihat dari budaya oorganisasi, maka dapat di simpulkan bahwa model yang digunakan public relation Hartono Lifestyle Mall ialah model Public Information. Public Relation Hartono Lifestyle Mall memiliki fungsi sebagai penghubung antara pihak perusahaan dengan publik melalui media dengan melakukan seperti, press release, press interview, press gethering, media visit, press launcheon, dan press tour. Dalam aktivitas tersebut diharapkan tercapainya misi dan visi Hartono Life Style Mall. Dalam setiap event yang di gelar oleh Hartono Lifestyle Mall melibatkan media dengan mengundang media untuk datang dan melaksanakan press release. Membangun jaringan kerjasama yang baik dengan pihak internal dan eksternal serta melaksanakan program-program kerja yang efektif dan memanfaatkan media semaksimal mungkin sebagai sarana komunikasi untuk menyalurkan ke masyarakat menjadi visi dan misi Public Relation Hartono Lifestyle Mall. Aktivitas media relations yang dilakukan oleh Public Relation Hartono Lifestyle Mall bertujuan menjaga nama baik agar hubungan dengan pihak eksternal tetap terjaga dengan baik serta bersikap jujur dan terbuka dengan pihak luar yang terkait. Public Relation Hartono Mall lebih mengedepankan pada aspek menjaga hubungan yang harmonis dengan media sehingga dapat terciptanya hubungan yang harmonis. Dengan terciptanya hubungan yang baik tidak selalu identik dengan marerial, artinya tidak semua bentuk pemberian gift dapat membentuk media relation dengan baik, jutru hubungan baik itu terbentuk dengan pendekatan spiritual, seperti menjaga keharmonisan antara Public Relation dan Media.


10 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Media internal merupakan media yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan yang digunakan oleh public relations untuk menyampaikan pesan kepada publik internal. Kehadiran media internal dalam sebuah organisasi khususnya sebuah perusahaan mempermudah komunikasi dari perusahaan ke karyawan atau khalayak di luar lembaga. Sedangkan media eksternal adalah media pers yang juga terdiri atas media cetak, penyiaran dan media online (situs berita). Dengan pihak media eksternal inilah praktisi humas atau public relation melaksanakan kegiatan hubungan media (menjalin pengertian dan hubungan baik dengan media massa), termasuk publikasi "press release". B. Saran Demikianlah makalah dari kelompok enam ini. Pemakalah sangat menyadari bahwa makalah diatas masih ada kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Pemakalah akan memperbaiki makalah dengan berpedoman pada sumber-sumber yang pemakalah buat serta kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Maafkan dari salahnya pemilihan kata yang pemakalah ambil karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. DAFTAR KEPUSTAKAAN Adi, P. Wayan. 2023. Dasar-Dasar Public Relation. Padang: Get Press Indonesia. Anggoro, M. Linggar. 2005. Teoridan Profesi Kehumasan. Jakarta: Bumi Aksara. Ardianto, Elvinaro. 2011. Handbook of Public Relations: Pengantar Komprehensif. Bandung:


11 Simbiosa Rekatama Media. Butterick, Keith. 2014. Pengantar Public Relations: Teoridan Praktik. Jakarta: Rajawali Pers. Ilmiyati, Ade Nyayu. 2010. Penggunaan Media Internal dan Pemenuhan kebutuhan Informasi. Skripsi: Universitas Sebelas Maret. Lestari, R. Esther. 2018. The Effect Of Internal Public Relations Campaign Progamme Towards Employees Behavioral Change. InterAct. (7) 34. Nova, Firsan. 2009. Crisis Public Relation. Jakarta: Grasindo. Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Ruslan, Rosady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Susanto, Hendy. 2004. Tips & Trik Public Relations. Jakarta: PT. Grasindo.


12 MAKALAH PUBLIC RELATION Tentang KODE ETIK PROFESI PUBLIC RELATIONS DOSEN PENGAMPU: OKTRI PERMATA LANI, S.I.KOM, M.I.KOM KELOMPOK 5 (12): RAHMA ASYIFA 2330302035 RIDHO PRAMA PUTRA 2330302038 SUCI AMELIA 2330302046 USWATUN HASANAH 2330302051 ZAIWATUL REZKY HASANAH 2330302055 ZAKILHAQ ALFARIZI 230302056 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR2023M/1445H


i KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, Makalah Public Relation Dalam Organisasi ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan seluruh orang yang senantiasa mengikuti Sunnah beliau. Juga kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu didalam penyusunan materi kuliah ini kami ucapkan terimakasih, karena tanpa arahan, bimbingan dan motivasi yang diberikan, tentunya belum bisa tersaji kepada para pembaca, walaupun tidak bisa kami sebutkan namanya satu persatu. Akhir kata, sebagai Makalah Public Relation Dalam Organisasi ini dapat diselesaikan yang baik tentunya memerlukan sebuah celah untuk menyempurnakan materi ke depan, untuk itu kami dengan segala kerendahan hati menerima masukan demi maksud diatas demi peningkatan dan penyempurnaan dalam makalah dan pembelajaran ini. Batusangkar, 02 Januari 2024 Pemakalah


ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... ⅰ DAFTAR ISI................................................................................................... ⅱ BAB Ⅰ PENDAHULUAN............................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2 C. Tujuan ................................................................................................ 2 BAB Ⅱ PEMBAHASAN................................................................................ 3 D. Kode Etik Profesi Public Relations..................................................... 3 E. Fungsi Kode Etik Profesi Public Relations......................................... 5 F. Peran Kode Etik Profesi Public Relations........................................... 7 G. Studi Kasus................................................................................................. 8 BAB Ⅲ PENUTUP........................................................................................ 9 D. Kesimpulan ......................................................................................... 9 E. Saran.................................................................................................... 9 DAFTAR PUSTAKA


3 BAB I PENDAHULUAN D. Latar Belakang Kode etik profesi adalah suatu tuntutan, bimbingan atau pedoman moral atau kesusilaan untuk suatu profesi tertentu atau merupakan daftar kewajiban dalam menjalankan suatu profesi yang di susun oleh para anggota profesi itu sendiri dan mengikat mereka dalam praktek. Dengan demikian maka kode etik profesi berisi nilai-nilai etis yang ditetapkan sebagai sarana pembimbing dan pengendali bagaimana seharusnya atau seyogyanya pemegang profesi bertindak atau berperilaku atau berbuat dalam menjalankan profesinya. Jadi nilai-nilai yang terkandung dalam kode etik profesi adalah nilai-nilai etis.1 Kode etik profesi lahir dari dalam lembaga atau organisasi profesi itu sendiri yang kemudian mengikat secara moral bagi seluruh anggota yang tergabung dalam organisasi profesi yang satu dengan organisasi lainnya memiliki rumusan kode etik profesi yang berbeda-beda, baik unsur normanya maupun ruang lingkup dan wilayah berlakunya. Demikian pula pada profesi kepolisian, mempunyai kode etik yang berlaku bagi polisi dan pemegang fungsi kepolisian.2 Kode etik bagi profesi kepolisian tidak hanya didasarkan pada kebutuhan profesional, tetapi juga telah diatur secara normatif dalam Undangundang (UU) No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian yang ditindak lanjuti dengan peraturan Kapolri dalam Pasal 4 UU No. 2 tahun 2002 menjelaskan bahwa kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum,terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung hak asasi manusia. Sehingga Kode Etik Profesi Kepolisian berlaku mengikat bagi setiap anggota Polri. Pada UU No. 2 Tahun 2002 disebutkan bahwa : Pasal 34 : 1. Sikap dan perilaku pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2. Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat menjadi pedoman bagi pengemban fungsi kepolisian lainnya dalam melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di lingkungannya.


4 3. Ketentuan mengenai Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dengan Keputusan Kapolri. Pasal 35 : 1. Pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia oleh pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselesaikan oleh Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2. Ketentuan mengenai susunan organisasi dan tata kerja Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dengan Keputusan Kapolri. 3. Polisi adalah aparat penegak hukum, Tetapi dalam kenyataan yang terjadi ada sebagian anggota itu bertindak sebaliknya dan tidak sesuai dengan etika profesi kepolisian. Atau dalam arti kata ada sebagian polisi melakukan pelanggaran terhadap kode etik profesi kepolisian. Pelanggaran ataupun perbuatan pidana anggota kepolisian yang tidak sesuai dengan kode etik kepolisian ini tentunya berakibat hukum. Selama ini polisi dipahami sebagai suatu organ, lembaga atau institusi dan dengan istilah kepolisian dimaknai sebagai organ beserta fungsinya. 4. Pasal 2 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, “Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat”. Dalam Pasal 13 undang-undang Kepolisian ditegaskan tugas pokok kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. 5. Tindakan keras dari kepolisian harus tetap berdasarkan aturan-aturan hukum yang berlaku dan mengormati HAM. A. Masalah 1. Apa Saja Aspek Yang Membentuk Kode Etik Profesi? 2. Apa yang dimaksud dengan Kode Etik Profesi? 3. Studi Kasus E. Tujuan C. Untuk mengetahui Aspek Yang Membentuk Kode Etik Profesi D. Untuk mengetahui Kode Etik Profesi E. Studi kasus


5 BAB II PEMBAHASAN A. Kode Etik Profesi PR a. Arti Kode Etik Profesi Menurut Abdul Kadir Muhammad, kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi. Kode etik profesi dapat berubah dan diubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga anggota kelompok profesi tidak akan ketinggalan zaman. 5 dengan pemikiran Abdul Kadir Muhammad di atas, Bartens menyatakan bahwa etika profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata masyarakat. Oleh karena itu, kelompok profesi harus menyelesaikannya berdasarkan kekuasaannya sendiri. Kode etik profesi merupakan hasil pengaturan diri profesi yang bersangkutan, dan ini perwujudan nilai moral yang hakiki, yang tidak dipaksakan dari luar. Kode etik profesi hanya berlaku efektif apabila dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan profesi itu sendiri. Kode etik merupakan rumusan norma moral manusia yang mengemban profesi itu. Kode etik profesi menjadi tolok ukur perbuatan anggota kelompok profesi dan merupakan upaya pencegahan berbuat yang tidak etis bagi anggotanya.Setiap kode etik profesi selalu dibuat tertulis yang tersusun secara teratur, rapi, lengkap, tanpa cacat, dalam bahasa yang baik, sehingga menarik perhatian dan menyenangkan pembacanya. Semua yang tergambar adalah perilaku yang baik-baik. Akan tetapi, di balik semua itu terdapat kelemahan- kelemahan sebagai berikut. a) Idealisme yang terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan fakta yang terjadi di sekitar para profesional sehingga harapan sangat. b.) Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapidengan sanksi yang keras karena semata-mata berdasarkan kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi peluang kepada profesional yang lemah iman untuk berbuat menyimpang dari kode etik profesinya. Kode Etik Profesi Semua kode etik profesi dibuat dalam bentuk tertulis dengan maksud agar dapat dipahami secara konkret oleh para anggota profesi tersebut. Dengan tertulisnya setiap kode etik, tidak ada alasan bagi anggota profesi tersebut untuk tidak membacanya dan sekaligus merupakan pegangan yang sangat berarti bagi dirinya. Menurut Sumaryono, fungsi kode etik profesi memiliki tiga makna, yaitu


6 (a) sebagai sarana kontrol sosial; (b) sebagai pencegah campur tangan pihak lain: (c) sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kode etik profesi merupakan kriteria prinsip-prinsip profesional yang telah digariskan sehingga dapat diketahui dengan pasti kewajiban profesional anggota lama, baru ataupun calon anggota kelompok profesi. Dengan demikian dapat dicegah kemungkinan terjadi konflik kepentingan antara sesama anggota kelompok profesi, atau antara anggota kelompok profesi dan masyarakat. Anggota kelompok profesi atau anggota masyarakat dapat melakukan kontrol melalui rumusan kode etik profesi, apakah anggota kelompok profesi telah memenuhi kewajiban profesionalnya sesuai kode etik profesi. 20 Lebih jauh Abdul Kadir Muhammad mengatakan bahwa kode etik profesi telah menentukan standardisasi kewajiban profesional anggota kelompok profesi. Dengan demikian, pemerintah atau masyarakat tidak perlu lagi campur tangan untuk menentukan bagaimana seharusnya anggota kelompok profesi melaksanakan kewajiban profesionalnya. Kode etik profesi pada dasarnya adalah norma perilaku yang sudah dianggap benar atau yang sudah mapan dan tentunya akan lebih efektif lagi apabila norma perilaku tersebut dirumuskan sedemikian baiknya, sehingga memuaskan pihakpihak yang berkepentingan. Kode etik profesi merupakan kristalisasi perilaku yang dianggap benar menurut pendapat umum karena berdasarkan pertimbangan kepentingan profesi Dengan demikian, kalau dikatakan bahwa etika profesi merupakan pegangan bagi anggota yang tergabung dalam profesi tersebut, maka dapat pula dikatakan bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara etika dengan profesi hukum. Menurut Liliana", etika profesi adalah sebagai sikap hidup, yang mana berupa kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional di bidang hukum terhadap masyarakat dengan keterlibatan penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas yang berupa kewajiban terhadap masyarakat yang membutuhkan pelayanan hukum dengan disertai refleksi yang saksama, dan oleh karena itulah di dalam melaksanakan profesi terdapat kaidah-kaidah pokok berupa etika profesi yaitu sebagai berikut: Pertama, profesi harus dipandang (dan dihayati) sebagai suatu pelayanan karena itu, maka sifat tanpa pamrih menjadi ciri khas dalam pengembanganprofesi. Yang dimaksud dengan "tanpa pamrih" di sini adalah bahwapertimbangan yang menentukan dalam pengambilan keputusan adalahkepentingan klien atau pasien dan kepentingan umum, dan bukan kepentingansendiri (pengembangan profesi). Jika sifat tanpa pamrih itu diabaikan, makapengembangan profesi akan mengarah pada pemanfaatan (yang dapatmenjurus kepada penyalahgunaan sesama manusia yang sedang mengalami kesulitan atau kesusahan). Kedua, pelayanan profesional mendahulukan kepentingan klien atau pasien mengacu kepada kepentingan atau nilai-nilai luhur sebagai norma kritik yang memotivasi sikap dan tindak.


7 Ketiga, pengemban profesi harus selalu berorientasi pada masyarakat sebagai keseluruhan. Keempat, agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat sehingga dapat menjamin mutu dan peningkatan mutu pengemban profesi, maka pengemban profesi harus bersemangat solidaritas antarrekan seprofesi. Bertitik tolak dari pemikiran Lubis sebagaimana yang dikutip oleh Liliana di atas, terdapat beberapa tujuan pokok dari standar-standar etika, yakni:; 1. Standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab (institusi) dan masyarakat pada umumnya. kepada klien, lembaga 2. Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etika dalam pekerjaan. B. Fungsi Kode Etik Profesi PR Profesi Public Relations yang ditanggapi oleh sebuah perusahaan atau organisasi selalau dijaga untuk mewujudkan tenaga profesional yang bisa membantu menciptakan, membangun, dan menjaga reputasi positif mereka. Tenaga profesional yang sedang dibahas ini adalah seorang Public Relation (PR). Profesi Public Relations hampir dimiliki semua perusahaan maupun organisasi dalam upaya menjalin hubungan baik dengan masyarakat, stakeholder, maupun pers. Public Relations sendiri salah satu fungsi manajemen yang memiliki tugas utama, yakni menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antarlembaga (organisasi) denganpubliknya, internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik untuk menciptakan opini publik yang mengungtungkan lembaga organisasi.Untuk menciptakan tujuan dari fungsi mereka, Public Relations akan melakukan beberapa hal yaitu: 1. Menulis dan mendistribusikan press release 2. Menulis pidato 3. Menulis pitches (tidak seformal press release) tentang 4. Perusahaan atau organisasi untuk kemudian dikirim ke jurnalis 5. Membuat dan menjalankan acara khusus yang didesain untuk penjangkauan publik dan relasi media 6. Melakukan penelitian pasar pada perusahaan maupun pesan perusahaan 7. Menulis dan blogging untuk website, baik internalmaupun eksternal website 8. Promosi media sosial, serta merespons opini negatif yang ada internet a. Fungsi kode etik profesi pr Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang


8 dikemukakan Gibson dan Michel yang lebih mementingkan pada kode etik sebagai pedoman pelaksanaan tugas professional dan pedoman bagi masyarakat sebagai seorang professional Biggs dan blocher (1986-10) mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu: 1. Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah 2. Mencegah terjadinya suatu pertentangan internal dalam suatu profesi 3. Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi b. Tujuan kode etik profesi pr Pada dasarnya, tujuan mengadakan atau merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi profesi. Secara umum, tujuan mengadakan kode etik adalah sebagai berikut: 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi Dalam hal ini yang dijaga adalah "image" dari pihak luar Public Relation atau masyarakat agar jangan sampai "orang luar" memandang rendah atau "remeh" profesi tersebut. Oleh karena itu setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia luar. Dari segi ini, kode etik juga mendapat nama atau disebut "kode kehormatan". 3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi Dalam hal ini kode etik juga berisi tujuan pengabdian generasi tertentu, sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannyaetik merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan oleh para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya. 4. Untuk meningkatkan mutu profesi Untuk meningkatkan mutu profesi, kode etik juga memuat norma-norma tentang anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha meningkatkan mutu para anggotanya sesuai dengan bidang pengabdiannya. Disamping itu, kode etik juga mengatur bagaimana cara memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesi. c. Penetapan kode etik profesi pr Kode etik hanya dapat ditetapkan oleh organisasi suatu perkumpulan atau perserikatan suatu profesi untuk para anggotanya. Penetapan kode etik lazim dilakukan pada suatu kongres organisasi profesi. Dengan demikian, penetapan kode etik tidak boleh dilakukan oleh orang secara perorangan, melainkan harus dilakukan oleh orang-orang yang diutus untuk dan atas nama anggota-anggota profesi dari organisasi tersebut, sehingga orang orang yang bukan atau tidak menjadi anggota profesitersebut, tidak dapat ditundukkan padanya. Maka kode etik dari suatu organisasi hanya akan mempunyai pengaruh yang kuat dalam menegakkan disiplin dikalangan profesi tersebut, jika orang yang menjalankan profesi tersebut tergabung (menjadi anggota dalam suatu organisasi profesi tersebut). Apabila setiap orang yang


9 menjalankan suatu profesi secara otomatis tergabung dalam suatu organisasi atau ikatan profesional. C. Peran Kode Etik Profesi PR D. Studi Kasus Pada tahun 2018, Facebook terlibat dalam skandal yang melibatkan perusahaan analisis data Cambridge Analytica. Dalam insiden ini, data pribadi jutaan pengguna Facebook digunakan tanpa izin untuk tujuan politik, menciptakan kekhawatiran serius terkait privasi dan etika penggunaan data. Tim PR Facebook dihadapkan pada tantangan besar untuk mengelola dampak negatif tersebut. Mereka harus berurusan dengan pertanyaan seputar kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Reputasi Facebook sebagai platform sosial terbesar di dunia terancam, dan praktisi PR dihadapkan pada tekanan untuk memberikan tanggapan yang efektif. Studi kasus ini mencerminkan bagaimana praktisi PR harus memprioritaskan nilai-nilai etika dalam situasi yang sangat kontroversial. Dalam menanggapi krisis, praktisi PR Facebook diharapkan untuk memberikan informasi yang jujur, mengakui kesalahan yang mungkin terjadi, dan mengambil langkah-langkah korektif untuk memulihkan kepercayaan publik. Pentingnya mematuhi kode etik profesi public relation dalam menanggapi pelanggaran privasi dan penggunaan data yang tidak etis menjadi sorotan utama dalam studi kasus ini. Kesalahan komunikasi atau ketidakpatuhan terhadap prinsip-prinsip etika dapat berdampak serius pada reputasi perusahaan, menegaskan perlunya kesadaran akan kode etik dalam pengelolaan krisis komunikasi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran Demikianlah makalah dari kelompok dua ini. Pemakalah sangat menyadari bahwa makalah diatas masih ada kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Pemakalah akan memperbaiki makalah dengan berpedoman pada sumber-sumber yang pemakalah buat serta kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Maafkan dari salahnya pemilihan kata yang pemakalah ambil karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.


10 DAFTAR PUSTAKA Faustyna, 2021, Manajemen public relation, Medan:UMSU Press, hlm.30-39 Nelly armayanti dkk, 2021, Public Relation, Medan:CV.merdeka kreasi group, hlm. 119-122


11 MAKALAH PUBLIC RELATIONS TENTANG PUBLIC RELATIONS DALAM MENGHADAPI KASUS ORGANISASI DOSEN PENGAMPU : OKTRI PERMATA LANI, S.I.KOM, M.I.KOM PEMAKALAH KELOMPOK 4 : ROZAQ ALBUQARI NIM 2030302039 SALSA FADILLA NIM 2330302040 SOFIA LATIVA NIM 2030302042 SYARFILA NAZWET NIM 2330302048 WENDRIS YULIANIS NIM 2030302054 JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR 2023M/1445H


i KATA PENGANTAR Puji syukur pemakalah ucapkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya sehinnga Makalah menanggapi kasus public relations ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, utusan yang membawa rahamat bagi seluruh alam ini. Pemakalah ucapkan terima kasih kepada OKTRI PERMATA LANI, S.I.KOM, M.I.KOM. selaku dosen pengampu mata kuliah public relations. Dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah public relations yang berjudul Makalah menanggapi kasus public relations ini. Pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah perkembangan public relations ini sehingga pemakalah mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini. Akhirnya pemakalah berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah selaku penulis dan para pembaca serta dapat menambah wawasan tentang public relations. Batusangkar, 27 Desember 2023 Pemakalah


ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................................ⅰ DAFTAR ISI...................................................................................................ⅱ BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1 M. Latar Belakang........................................................................................ 1 N. Rumusan Masalah................................................................................... 2 O. Tujuan .................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 3 L. Public Relations Dalam organisasi ........................................................ 3 M. Menanggapi Konflik............................................................................... 7 N. Studi Kasus............................................................................................. 9 BAB III PENUTUP........................................................................................ 11 I. Kesimpulan............................................................................................. 11 J. Saran ....................................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Public Relations adalah kegiatan komunikasi dengan maksud untuk membangun citra yang baik terhadap perusahaan/lembaga. Public Relations berfungsi untuk menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan dakam suatu organisasi/instansi/perusahaan. Tidak hanya sekedar hubungan biasa melainkan hubungan efektif antara pihak-pihak yang berkepentingan demi tercapainya kepentingan bersama.Secara spesifik, definisi PR dapat disimpulkan sebagai seni dan gabungan dari disiplin ilmu manajemen, komunikasi, psikologi, sosial, dan marketing untuk membentuk agar lembaga atau produk menjadi disukai dan dapat dipercaya oleh publik. Tujuan utama dari Public Relations adalah mempengaruhi perilaku secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, dimana persepsi, sikap, dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan sebuah lembaga.PR berfungsi untuk mempromosikan produk atau layanan perusahaan atau organisasi. PR harus merancang dan melaksanakan program promosi yang efektif, seperti event management, sponsorship, dan media relations, dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan dan membangun citra positif perusahaan atau organisasi di mata publik. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana Publik Relation Dalam Organisasi? 2. Bagaimana Publik Relation Menanggapi Konflik? C. Tujuan 1. Mengetahui Publik Relation Dalam Organisasi. 2. Mengetahui Publik Relation Menanggapi Konflik. BAB II PEMBAHASAN A. Public Relations Dalam Organisasi komunikasi organisasi tidak cukup hanya dilihat dari aktivitas komunikasi internal yang berlangsung. Maka komunikasi organisasi perlu dipahami dari dua sisi sekaligus : internal dan external communication. Sinyalemen tentang pentingnya komunikasi eksternal


dan internal pada organisasi ini seperti yang dikatakan Bordow dan More bahwa :The managers maintain communicatioN relationship with three groups : superiors (directors or trustees, in the case of chief executives), outsiders (to the unit that he manages), and subordinate. Ineffect, he (the managers) stands between subordinates and the other, linking them in a variety of ways. (Bordow & More, 1991 : 23). Tujuan dari dijalankannya komunikasi organisasi adalah agar perusahaan dapat menyampaikan maksud dan kebijakan kepada segenap publik yang dimiliki (eksternal dan internal), sekaligus menyerap respons dan menindak lanjuti dalam waktu mendatang guna memperoleh penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungannya. Tentu saja, perusahaan sulit untuk berkembang dengan baik jika tidak menjalin komunikasi dengan publiknya. Aktivitas komunikasi ini harus dikelola dengan tepat. Untuk dapat melaksanakan hal tersebut maka public relations departement merupakan bagian yang tepat guna mengelolanya. Public relations merupakan suatu “management of communication between an organization and its public” (Grunig & Hunt, 1984 : 6). Jelaslah bahwa public relations merupakan bagian penting dalam organisasi yang menangani tindakan komunikasi antara perusahaan dengan publik yang ada. Melalui public relations inilah manajemen organisasi melakukan aktivitas komunikasinya, baik itu kepada publik internal seperti karyawan, manajemen dan publik eksternal seperti masyarakat sekitar dan konsumen. Segala macam informasi yang menyangkut keberadaan dan operasinal organisasi, arus keluar masuknya melalui public relations. Dalam kaitan ini public relations dipandang memiliki fungsi vital sebagai suatu jembatan (bridge) antara organisasi dengan publik. Dari public relationsinilah manajemen dapat menerima dan mengolah informasi yang ada untuk kemudian mengambilan keputusan strategis dalam rangka mengembangkan perusahaan. Dalam kaitan ini Garry L.Kreps berpandangan :Leaders need information about organi-zational activities to direct succesfully innovation and accomplish systemwide organizational development. Public relations efforts can provide leaders with relevant information about environmental constraints and internal organizational issues for use in guiding organizational adaptation. (Kreps, 1989 : 265) Untuk menjadikan komunikasi mampu berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh organisasi, maka public relations harus dapat mengendalikan jalannya informasi yang masuk dan keluar organisasi. Informasi perlu ditata dan dikelola dengan tepat. Tanpa pengelolaan secara tepat maka komunikasi organisasi dari perusahaan yang bersangkutan akan salah arah dan salah sasaran.


Permasalahan komunikasi yang baik ini Lindeborg berpandangan bahwa, “Excellent communication is communication that managed strategically, meets its objectives, and balances the needs of the organization and the need of key publics with two-way symetrical communication” (Lindeborg, 1994 : 5). Adapun cara yang dapat ditempuh dalam menjalankan komunikasi organisasi ini beragam. Misalkan saja perusahaan dapat melakukan pertemuan rutin setiap satu bulan sekali dengan para karyawan semua lapisan, melakukan angket atau polling untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kepentingan serta harapan-harapan publik atas kebijakan perusahaan, analisis isi media massa menyangkut informasi yang berkembang dan berkaitan dengan perkembangan organisasi, dan sebagainya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh praktisi public relations tersebut harus didasarkan pada kesesuaian antara tingkat kebutuhan yang diharapkan dan kemampuan.sumber daya yang dimiliki.Dalam prakteknya public relationsdi organisasi umumnya dapat dijumpai terbagi ke dalam dua bagian yang menjalankan fungsi dasar sama namun berbeda dalam hal publik yang dituju. Kedua bagian itu adalah internal public relations dan exsternal public relations. Internal public relations mengkhususkan pada bagaimana organisasi mampu berkomunikasi secara tepat berkaitan dengan publik yang ada di dalam organsasi tersebut. Komunikasi model inilah yang sering menjadi acuan pemahaman tentang komunikasi organisasi (artian sempit). Sedangkan external public relations merupakan bagian yang menangani permasalahan komunikasi berhubungan dengan publik di luar organisasi. Ketika orang berbicara komunikasi organisasi dalam arti sempit maka yang diperoleh hanyalah gambaran bagaimana komunikasi dijalankan dalam suatu unit organisasi. Padahal, komunikasi organisasi tidak hanya komunikasi ke dalam semata, namun meliputi pula komunikasi keluar. Sehingga pemahaman mengenai komunikasi organisasi secara konkrit dapat diperoleh melalui pemahaman dalam arti luas, yang mana dalam pengertian tersebut meliputi komunikasi yang terjadi secara intern dan ekstern. Terlepas dari artian mana yang hendak dirujuk dalam menjelaskan fenomena komunikasi organisasi, yang pasti public relations merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan komunikasi suatu perusahaan. Sekalipun, mungkin dalam pelaksanaannya bagian public relationstidak menutup kemungkinan bisa saja bekerjasama dengan bagian lain di dalam organisasi seperti bagian personalia, pemasaran, accounting, dan sebagainya. Public relations merupakan bagian penting dalam organisasi sebagaimana dikemukakan Kreps bahwa, “Public relations communication is an essential tool leaders utilize to gather information from organization members and other relevant publics”


Click to View FlipBook Version