SEJARAH INDONESIA
Periode belajar 11-15 JANUARI 2021
BAB 7 INDONESIA MERDEKA
KELAS X SEMUA KOMPETENSI KEAHLIAN
Semester 1
Kompetensi Dasar 3.7
MENGANALISIS PERISTIWA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN
PEMBENTUKAN PEMERINTAHAN PERTAMA REPUBLIK
INDONESIA, SERTA MAKNANYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL,
BUDAYA, EKONOMI, POLITIK, DAN PENDIDIKAN BANGSA
INDONESIA
Indikator :
• 3.7 Menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan
pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia, serta
maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan
pendidikan bangsa Indonesia
• 4.7 Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan
pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia, serta
maknanya bagi kehidupan sosial, budaya,ekonomi, politik, dan
pendidikan bangsa Indonesia
• Halo selamat pagi anak2!
• Selamat yaa sudah melampaui Semester 1 dengan
baik!
• Pagi ini kita akan masuk pada materi baru, yakni
BAB 7 tentang Peristiwa proklamasi kemerdekaan
dan pembentukan pemerintahan pertama Republik
Indonesia, serta maknanya bagi kehidupan sosial,
budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa
Indonesia.
• Baca dan pahami dengan baik setiap slide yaa..
• Selamat belajar!
HAL-HAL YANG AKAN DIPELAJARI PADA BAB INI
1. Masa Pendudukan Jepang Di Indonesia
2. Kebijakan-kebijakan Jepang Di Indonesia
3. Organisasi semi militer bentukan Jepang Di Indonesia
4. Dampak pendudukan Jepang Di Indonesia
5. Perlawanan terhadap pendudukan Jepang Di Indonesia
6. Akhir pendudukan Jepang Di Indonesia
7. Perumusan Dasar Negara
8. Peristiwa Rengasdengklok
9. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
10. Pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia
11. Makna Proklamasi di bidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi,
dan politik
Dari Belanda, Ke Jepang : Selamat Datang
Saudara Tua!
• Penyerahan tanpa syarat dari Belanda ke Jepang atas
Indonesia ditandai dengan persetujuan Kalijati yang
diadakan di Subang, Jawa Barat.
• Isi persetujuan tersebut adalah penyerahan hak atas
tanah jajahan Belanda di Indonesia kepada
pemerintahan pendudukan Jepang.
• Artinya, bangsa Indonesia memasuki periode
penjajahan yang baru. Meski kedatangannya, seperti
juga Belanda, adalah untuk tujuan menjajah, Jepang
diterima dan disambut lebih baik oleh bangsa
Indonesia.
Masa Pendudukan Jepang Di Indonesia
• Jepang masuk ke Hindia Belanda/ Indonesia pada tanggal 11 Januari
1942, dan mendarat kali pertama di Tarakan (Kalimantan Timur).
• Kemudian pada Februari 1942, Jepang berhasil menduduki Pontianak,
Banjarmasin, Makassar, Palembang, dan Bali.
• Di daerah Jawa, Jepang berhasil menduduki Banten, kemudian
Indramayu, Karagan (Rembang dan Tuban), dan Surabaya.
• Sehingga 9 Maret 1942, Indonesia berada di bawah kependudukan
Jepang.
• Gubernur Belanda tidak berdaya menghadapi kedatangan Jepang,
sehingga tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat di
Kalijati Subang, Jawa Barat.
• Belanda menyerahkan kekuasaannya pada Lentan Jendral Hitoshi
Imamura.
• Kedatangan Jepang di Indonesia disambut baik oleh para
tokoh, seperti: Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara.
• Tapi ada beberapa tokoh nasional yang bersikap hati-hati
pada Jepang karena ada unsur fasisme di dalamnya,
seperti: Sam Ratulangi, M.H. Thamrin, dan Soetardjo.
• Berikut dipaparkan alasan perbedaan sikap tokoh
nasional terhadap penerimaan Jepang…
Alasan yang melatarbelakangi perbedaan sikap tokoh
nasional terhadap penerimaan terhadap Jepang Di Indonesia
• Berikut tersebut:
a. Jepang menyatakan bahwa kedatangannya di
Indonesia tidak untuk menjajah, bahkan bermaksud
untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu
penjajahan Belanda.
b. Jepang melakukan propaganda melalui Gerakan 3A
(Jepang cahaya Asia, Jepang pelindung Asia, dan
Jepang pemimpin Asia).
c. Jepang mengaku sebagai saudara tua bangsa
Indonesia yang datang dengan maksud hendak
membebaskan rakyat Indonesia.
d. Adanya semboyan Hakoo Ichiu, yakni dunia dalam satu keluarga
dan Jepang adalah pemimpin keluarga tersebut yang berusaha
menciptakan kemakmuran bersama;
1. Sejak itulah Jepang memulai kekuasaan di kepulauan
Indonesia.
2. Pembentukan pemerintahan Militer dan juga
mengembangkan pemerintahan sipil.
3. Kaum pergerakan dan kaum intelek nasional akhirnya sadar
bahwa Jepang ternyata jauh lebih berbahaya bagi bangsa
Indonesia karena kekejaman dan penindasannya terhadap
rakyat. Sejak awal tahun 1944, rasa simpati terhadap Jepang
mulai hilang dan berganti dengan kebencian. Muncullah
gerakan-gerakan perlawanan terhadap Jepang, seperti
Gerakan 3A, Putera, dan Peta.
Kedatangan Jepang di Indonesia membawa rasa
optimis bagi bangsa Indonesia
• Karena:
1. Menyerahnya Belanda pada Jepang, dianggap sebagai akhir masa
penjajahan Belanda. Karena propaganda 3A Jepang berhasil membuat
mindset bahwa Jepang adalah Saudara Tua bangsa Indonesia. (Nippon
Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pempimpin Asia)
2. Jepang berjanji akan memerdekaan bangsa-bangsa di Asia jika dia menang
dalam Perang Pasifik.
3. Jepang membicarakan akan memberi kemerdekaan secara bertahap pada
negara-negara di Asia, sehingga membuat tokoh-tokoh nasional siap bekerja
sama.
4. Jepang bersikap simpatik untuk melepaskan tahanan yang dibuang oleh
Belanda.
5. Jepang memberikan kemudahan bagi Indonesia untuk melakukan ibadah,
mengibarkan bendera merah putih, menggunakan bahasa Indonesia dan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia bersama dengan lagu kebangsaan
Jepang.
• Pada saat yang bersamaan, Jepang telah menduduki
wilayah beberapa negara di Asia Tenggara. Kedudukan
Belanda di Indonesia pun terancam. Dengan kampanye 3A,
kedudukan Jepang di Asia makin kuat. Sementara itu,
tindakan pemerintah kolonial Belanda yang keras kepala
semakin meyakinkan kaum pergerakan nasional bahwa
selama Belanda berkuasa, bangsa Indonesia tidak akan
pernah memperoleh kemerdekaannya. Akibatnya,
kampanye Jepang yang mengumandangkan kemerdekaan
bangsa-bangsa Asia mendapat simpati yang besar dari
rakyat Indonesia. Dalam rangka menguasai Indonesia,
Jepang menyerang markas-markas Belanda di Tarakan,
Sumatra, dan Jawa. Pada tanggal 8 Maret 1942, Panglima
Angkatan Perang Hindia Belanda Letnan Jenderal H. Ter
Poorten, atas nama Angkatan Perang Sekutu di Indonesia,
menyerah tanpa syarat kepada pimpinan tentara Jepang,
Letnan Jenderal Hitoshi Imamura.
Kebijakan-kebijakan Jepang Di Indonesia
• Jepang membagi Indonesia menjadi tiga daerah militer yang
dikendalikan oleh angkatan darat (rikugun) dan angkatan laut
(kaigun) dan di bawah komando panglima besar tentara Jepang
untuk wilayah Asia Tenggara yang berkedudukan di Saigon,
Vietnam.
• Adapun pembagian daerah ini:
a. Jawa dan Madura dengan pusat Batavia di bawah kendali
kaigun.
b. Sumatera dan Semenanjung Melayu dengan pusat Singapura,
di bawah kendali rikugun.
c. Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua di
bawah kendali kaigun.
• Bidang pemerintahan: Jepang mengangkat tokoh politik
nasional masuk ke dalam struktur pemerintahan Jepang.
Jepang juga memperkenalkan sistem pemerintahan baru,
yaitu tonarigumi/ dikenal saat ini dengan rukun tetangga.
• Bidang politik : dibentuk Jawa Hokokokai (lembaga
kebaktian untuk mengumpulkan dana dan bahan pokok),
membagi wilayah Indonesia menjadi 10 karasidenan yang
disebut dengan syu. sETIAP[ karasidenan terbagi atas kota
praja/ syi; kabupaten/ken, kawedanan/gun;
kecamatan/son;dan kelurahan/ku. Jabatan tertingginya
dipegang oleh orang-orang Jepang.
• Bidang tenaga kerja: Jepang membentuk Romukyokai (panitia
pengerah Romusha). Pegawai2 Romusha dipekerjakan pada
proyek2 pembangunan jalan raya, pelabuhan, lapangan udara
dan tadinya diberi upah. Tetapi selanjutnya, tidak mendapat
upah dan bahkan bahan makanan.
• Sistem pemerintahan: dibentuk lembaga2 semi militer
Jepang, seperti: Keibodan (barisan pembantu polisi),
Seinendan (Barisan Pemuda), Fujinkai (Barisan Wanita), Heiho
(Barisan cadangan prajurit), Peta (pembela tanah air), Putera
(pusat tenaga rakyat), Jawa Hokokokai, Jibakutai (Pasukan
Berani Mati), Kempetai (barisan polisi rahasia), dan gakukotai
(laskar pelajar). Lalu ada Barisan Pelopor/ Suishintai yang
dipimpin oleh Ir. Sukarno dibantu R.P. Soeroso, Otto
Iskandardinata, dan dr. Boentaran Martoatmodjo.
• Lembaga-lembaga militer dan semi militer di
atas dibentuk dengan tujuan memenuhi
kebutuhan tentara Jepang terlatih untuk
membantu Jepang memenangi Perang Asia
Timur Raya.
Organisasi semi militer bentukan Jepang Di
Indonesia
• Seinendan adalah sebuah organisasi barisan pemuda yang dibentuk tanggal 9 Maret 1943
oleh tentara Jepang di Indonesia. Tujuan dari organisasi seinendan ini adalah untuk mendidik
dan melatih para pemuda agar dapat mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan
sendiri. Akan tetapi, maksud yang sebenarnya ialah untuk mempersiapkan pemuda Indonesia
untuk membantu militer Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu.
• Keibōdan, sering ditulis Keibodan, secara literal berarti Barisan Pembantu Polisi dibentuk
pada 29 April 1943. Tujuan pembentukan Keibodan adalah untuk membantu polisi Jepang
pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Keibodan di Sumatra dikenal dengan nama
Bogodan, sedangkan di Kalimantan lebih dikenal dengan nama Sameo Konen Hokokudan. Di
kalangan penduduk Cina dibentuk semacam Keibodan dengan nama Kayo Keibotai. Pembina
Keibodan disebut dengan Keimumbu.
• Gakukotai ( Laskar Pelajar ) Menjelang Jepang terpuruk kalah tanpa syarat dalam Perang
Dunia II, untuk memperkuat posisinya di Indonesia, Jepang melatih rakyat dengan latihan
kemiliteran. Tidak ketinggalan pemuda, pelajar dan mahasiswa.
• Shushintai. Jepang membentuk suishintai (barisan pelopor) saat mereka mulai banyak
menderita kekalahan dalam front-front pertempuran. Suishintai dipimpin pergerakan
nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Oto Iskandar Dinata, dan Buntaran Martoatmojo. Tugas
utama suishintai memperdalam kesadaran rakyat terhadap kewajibannya dan membangun
persaudaraan seluruh rakyat
• Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakjat Djawa) merupakan
perkumpulan yang dibentuk oleh Jepang pada 1 Maret 1944 sebagai
pengganti Putera. Jawa Hokokai merupakan organisasi resmi pemerintah
dan berada langsung di bawah pengawasan pejabat Jepang. Pemimpin
tertinggi perkumpulan ini adalah Gunseikan dan Soekarno menjadi
penasihat utamanya. Perkumpulan ini adalah pelaksana pengerahan atau
mobilisasi (penggerakan) barang yang berguna untuk kepentingan perang.
Keanggotaan Jawa Hokokai adalah para pemuda yang berusia minimal 14
tahun.
• Pusat Tenaga Rakyat atau Putera adalah organisasi yang dibentuk
pemerintah Jepang di Indonesia pada 16 April 1943 dan dipimpin oleh
Empat Serangkai, yaitu Ir.Soekarno M.Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K.H
Mas Mansyur. Tujuan Putera adalah untuk membujuk kaum Nasionalis dan
intelektual untuk mengabdikan pikiran dan tenaganya untuk kepentingan
perang melawan Sekutu dan diharapkan dengan adanya pemimpin orang
Indonesia, maka rakyat akan mendukung penuh kegiatan ini. Para
pemimpin bangsa Indonesia merasa bahwa satu-satunya cara menghadapi
kekejaman militer Jepang adalah dengan bersikap kooperatif. Hal ini
semata untuk tetap berusaha mempertahankan kemerdekaan secara tidak
langsung. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka mereka sepakat
bekerjasama dengan pemerintah militer Jepang dengan pertimbangan
lebih menguntungkan dari pada melawan.
• Badan Pertimbangan Pusat (Chuo Sangi In). badan ini dibentuk pada 5 September 1943.
Ketuanya adalah Ir. Soekarno dan wakilnya adalah R.M.A.A. Koesoemo Oetejo dan dr.
Boentaran Martoatmojo. Tujuan organisai ini adalah memberi masukan dan pertimbangan
kepada pamerintah Jepang dalam mengambil keputusan.
• Gerakan Tiga A. Gerakan Tiga mempunyai semboyan Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung
Asia dan Nippon Pemimpin Asia. Gerakan Tiga A dibentuk pada 29 April 1942 yang diketuai
oleh Mr. Syamsudin. Tujuan Gerakan Tiga A adalah membantu Jepang dalam menghadapi
sekutu. Pada akhirnya orgnisasi ini dibubarkan akibat kurang efektif dalam menggaer massa.
• Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang
di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada
tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh
Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan
pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun
Kanbu Resentai.
• Heiho (tentara pembantu) adalah pasukan yang terdiri dari bangsa Indonesia yang dibentuk
oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia pada masa Perang Dunia II. Pasukan ini
dibentuk berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran
Jepang pada tanggal 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada 22 April 1943.
Heiho pada awalnya dimaksudkan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti
membangun kubu dan parit pertahanan, menjaga tahanan, dll. Dalam perkembangannya,
seiring semakin sengitnya pertempuran, Heiho dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan di
medan perang, bahkan hingga ke Morotai dan Burma.
• Fujinkai. Untuk organisasi perempuan yang dibentuk oleh para isteri pegawai di daerah-
daerah, dan diketuai oleh isteri masing-masing kepala daerah, dan disebut Fujinkai.
Pengerahan tenaga untuk berperang tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tetapi
berlaku juga untuk kaum wanita Indonesia. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943.
Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas. Mereka juga diberikan
latihanlatihan dasar militer dengan tugas untuk membantu Jepang dalam perang.
Menghadapi Sekutu. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara
mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan makanan untuk
kepentingan peran
• Tonarigumi adalah Rukun Tetangga (RT) satuan pemerintahan terbawah yang di bentuk
pada masa pendudukan Jepang untuk mengawasi aktifivtas warga, serta mendukung
kebijakan Politik dan Ekonomi Jepang.
• Kesatuan Kempeitai (Satuan Polisi Militer) merupakan satuan polisi militer Jepang yang
ditempatkan di seluruh wilayah Jepang termasuk daerah jajahan. Kempetai dapat
disandingkan dengan unit Gestapo milik Nazi Jerman, memiliki kesamaan dalam tugas
sebagai polisi rahasia militer. Kempetai sangat terkenal karena kedisiplinan dan
kekejamannya.
• Beberapa organisasi yang dibentuk Jepang tersebut, pada akhirnya sebagian
bermanfaat bagi perjuangan bangsa Indoensia. Tokoh-tokoh yang berjuang secara
kooperatif tersebut pada akhirnya nanti memiliki bekal dalam membangun negara
Indonesia pada masa awal berdirinya negeri ini.
Dampak pendudukan Jepang Di Indonesia
Dampak Positif Dampak Negatif
Pemuda Indonesia mendapat latihan Jepang mengeksploitasi hasil tambang
militer untuk persiapan merebut Indonesia
kemerdekaan
Rakyat hidup miskin dan menderita
Bahasa Indonesia berkembang pesat karena hasil bumi dirampas
karena dijadikan bahasa pengantar
Tenaga Romusha banyak yang mati
dan didirikan Komisi Bahasa karena kelaparan dan wabah penyakit
Indonesia oleh Jepang
Banyak wanita Indonesia dijadikan
Jugun Ianfu/ wanita penghibur
Dampak pendudukan Jepang bidang
Politik
a. Mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar dan melarang penggunaan bahasa Belanda.
b. Membentuk organisasi-organisasi sebagai alat propaganda
Jepang, seperti: Gerakan 3A, Poetera.
c. Pembentukan pusat pemerintahan militer angkatan darat dan
angkatan laut Jepang.
d. Membentuk Badan Pertimbangan Pusat (Cuo Sangi In) tanggal
1 Agustus 1943. Bertugas memberikan usul dan saran pada
Jepang ketika akan menjawab pertanyaan yang berkaitan
dengan masalah politik.
e. Pengubahan struktur pemerintahan; desa = Ku, kecamatan =
So, Kawedanan = Gun, kotapraja= Syi, kabupaten = Ken,
Karasidenan = Syu.
Dampak pendudukan Jepang bidang
Ekonomi
• Jepang menguasai objek-objek vital negara, seperti
pertambangan dan industri.
• Jepang menetapkan mata uang Belanda sebagai alat
pembayaran sah.
• Jepang memanfaatkan tenaga Indonesia untuk dijadikan
romusha.
• Jepang menjadikan Indonesia sebagai pasar hasil industri.
• Kebijakan sel sufficiency (daerah2 jajahan Jepang mengurus
kebutuhannya masing2 dan tidak tergantung pemerintah
Jepang).
• Melakukan tanam paksa untuk memenuhi kebutuhan militer
perang Jepang.
Dampak pendudukan Jepang bidang
Sosial
• Jepang mengambil tenaga pemuda Indonesia
untuk dijadikan romusha, sehingga banyak
lahan sawah dan tanah pertanian
terbengkelai.
• Jepang merekrut kaum perempuan dan
dijadikan sebagai Jugun Ianfu (penghibur).
Dampak pendudukan Jepang bidang Pendidikan
• Lembaga pendidikan yang terhenti selama masa
pendudukan Belanda di Indonesia, kini aktif kembali.
• Jepang memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia
untuk mengenyam bangku pendidikan tanpa ada pelapisan
sosial.
• Dibukanya sekolah tinggi ilmu kedokteran (Ika Daigaku),
dan perguruan tinggi teknik (Kogyo Daigaku).
• Siswa di sekolah mengadakan kerjabakti dan
mengumpulkan keperluan perang Jepang, diadakan latihan
jasmani dan kemiliteran.
• Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar wajib dan
mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah.
• Jepang membagi masyarakat menjadi tiga lapisan (Jepang,
bumiputera, Eropa dan Timur Asing).
Dampak pendudukan Jepang bidang
Budaya
• Jepang mewajibkan rakyat Indonesia melakukan tradisi memberi
hormat pada kaisar yang disimbolkan dengan Dewa Matahari
dengan cara membungkuk dalam-dalam ke arah matahari
(Tradisi Seikrei).
• Jepang mendirikan pusat kebudayaan Keimin Bunka Shidosho
tanggal 1 Agustus 1943 sebagai wadah seniman2 Indonesia tapi
dengan batasan karya yang dianggap tidak menyimpang bagi
Jepang.
• Semua karya sasta, film, dan pers yang dianggap tidak
menyimpang dari tujuan propaganda Jepang diizinkan, yang
menyimpang dibekukan dan penulisnya dimasukan dalam
penjara.
Perlawanan terhadap pendudukan Jepang Di
Indonesia
• Perlawanan terhadap penjajahan Jepang di Indonesia
dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
1. Perlawanan dengan cara kooperatif/ kerjasama
2. Perlawanan melalui Gerakan Bawah Tanah
3. Perlawanan bersenjata
Perjuangan dengan cara Kooperatif/
Kerjasama
• Dilakukan oleh para tokoh nasionalis, seperti: Ir.
Seokarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan
KH. Mas Mansyur.
• Dilakukan melalui organisasi-organisasi bentukan
Jepang, seperti: PUTERA,, Seinendan/ Barisan Pemuda,
Keibodan/ Barisan Pembantu Polisi, Seisyintai/ Barisan
Pelopor, Gakukotai/ Barisan Pelajar, dan Fujinkai/
Barisan Wanita.
• Cara koperatif yang dimaksud adalah dengan
membangun semangat persatuan, menggembleng
mental dan membangkitkan semangat nasionalisme
para pemuda Indonesia.
Perjuangan melalui Gerakan Bawah
Tanah
• Dilakukan oleh kelompok Sukarni, kelompok Achmad
Subardjo, kelompok Sutan Sjahrir, dan Kelompok
Pemuda.
• Dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, tertutup,
dan rahasia.
• Dilakukan dengan tujuan:
a. Membangun semangat nasionalisme.
b. Mempersiapkan kekuatan merebut kemerdekaan.
c. Propaganda semangat dan kesiapan merdeka.
d. Memantau perkembangan Perang Asia Timur Raya
melalui siaran radio luar negeri.
Kelompok Soekarni
• Soekarni bersama Muh. Yamin bekerja di Sendenbu
(Barisan Propaganda Jepang), kemudian menghimpun
tokoh pergerakan seperti: Adam Malik, Kusnaeni, Pandu
Wiguna, Maruto Nitimiharjo.
• Mereka menggembleng para pemuda untuk berjuang demi
kemerdekaan Indonesia, menyebarluaskan cita-cita
kemerdekaan, menghimpun orang2 berjiwa revolusioner
serta mengungkapkan segala kebohongan Jepang.
Kelompok Achmad Subardjo
• Disebut dengan kelompok Kaigun karena pada saat itu
Achmad Subardjo menjabat sebagai Kepala Biro Riset
Kaigun Bukanfu (Kantor Penghubung Angkatan Laut) di
Jakarta.
• Sambil melaksanakan tugasnya, Achmad Subardjo
menghimpun tokoh-tokoh nasional yang bekerja di
Angkatan Laut Jepang untuk mendirikan asrama pemuda
“Asrama Indonesia Merdeka” dan menanamkan semangat
nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia.
Kelompok Sutan Sjahrir
• Sutan Sjahrir membangun jaringan gerakan
bawah tanah anti fasis yang dengan optimis
akan mengalahkan Jepang.
• Simpul-simpul jaringan Sjahrir adalah kader2
PNI Baru yang tetap meneruskan serta kader2
muda, yakni mahasiswa progresif.
Kelompok Pemuda
• Terdapat dua kelompok pemuda yang aktif
berjuang yang terhimpun dalam asrama Ika
Daikagu (sekolah tinggi kedokteran) kemudian
mengadakan pertemuan dengan tokoh2
nasional untuk merebut kemerdekaan bangsa
Indonesia dari tangan Jepang.
Perlawanan Bersenjata
• Perlawanan di Aceh
• Perlawanan di Kalimantan
• Perlawanan di Papua
• Perlawanan di Singaparna, Jawa Barat
• Perlawanan PETA di Blitar
Perlawanan di Aceh
• Dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil, seorang guru ngaji di
daerah Cot Plieng Aceh.
• Dilakukan tanggal 10 November 1942.
• Disebabkan karena tindakan sewenang-wenang oleh
Jepang, kemudian langkah perundingan diadakan tetapi
gagal.
• Jepang menyerang daerah Cot Plieng, serangan pertama
Jepang dipukul mundur rakyat, serangan kedua Jepang juga
dipukul mundur sampai Lhoksumawe, serangan ketiga
Jepang berhasil menduduki daerah Cot Plieng, Tengku
Abdul Jalil tertembak saat sholat.
Perlawanan di Kaliamantan
• Dipimpin oleh Pang Suma, seorang pemimpin
Suku Dayak yang juga memiliki pengaruh
besar di daerah Tagan dan Meliau Suta.
• Rakyat Kalimantan melakukan perang gerilya
dan memanfaatkan keuntungan alam, berupa
rimba belantara, sungai, rawa, dan daerah
yang sulit di jangkau untuk melawan Jepang.
Perlawanan di Papua
• Dipimpin oleh L. Rumkoren di Mokmer di Biak.
• Dikenal dengan Gerakan Koreri.
• Disebabkan karena rakyat Papua sering
diperlakukan sebagai budak belian, dipukul,
dianiaya, dan lainnya secara tidak manusiawi.
• Perang meluas sampai Pulau Yapen, kemudian
Sekutu mengalahkan Jepang, dan rakyat diberi
senjata oleh Sekutu, dan kemudian melakukan
gerilya dan dapat mengalahkan Jepang.
Perlawanan di Singaparna, Jawa Barat
• Dipimpin oleh KH Zainal Mustafa, seorang pemimpin pesantren
Sukamanah, Tasikmalaya.
• Dilakukan pada 25 Februari 1944, KH Zainal Mustafa memimpin
santrinya yang telah dibekali bela diri pencak silat dan
mempertebal keyakinan agama untuk melakukan peperangan.
• Disebabkan karena pelaksanaan tradisi Seikrei bertentangan
dengan ajaran agama Islam, KH Zainal Mustafa juga tidak tahan
melihat penderitaan rakyat karena romusha.
• KH Zainal Mustafa tertangkap Jepang pada 25 Oktober 1944, dan
santrinya banyak yang tewas karena peperangan ini.
Perlawanan PETA di Blitar
• Dipimpin oleh Supriyadi tanggal 14 November
1944 di Blitar.
• Disebabkan karena Supriyadi tidak tahan
melihat kesengsaraan rakyat Blitar karena
dijadikan tenaga romusha dan beberapa dari
mereka adalah keluarga prajurit Peta.
• Perlawanan ini adalah perlawanan tersebesar
bagi Jepang sehingga harus menyiapkan tank-
tank dan pesawat tempur.
Perlawanan di Indramayu
• Disebabkan karena kewajiban menyetorkan
sebagian hasil padi dan pelaksanaan romusha
telah mengakibatkan penderitaan rakyat
Indramayu .
• Dilakukan pada April 1944, dipimpin oleh
rakyat yang tinggal di Cidemper dan Lohbener.
Akhir pendudukan Jepang Di Indonesia
• Akhir tahun 1944, kedudukan Jepang dalam perang
Asia Timur Raya semakin terdesak karena pihak
Sekutu di bawah pimpinan Jendral Douglas
MacArthur mampu merebut pulau demi pulau yang
telah dikuasai oleh Jepang.
• Tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Kuniaki
Koiso menyampaikan bahwa Indonesia
diperkenankan merdeka dalam forum sidang
Istimewa Parlemen Jepang di Tokyo.
Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki
• Puncak kemuduran Jepang dalam Perang Asia
Timur Raya adalah saat Hiroshima dan
Nagasaki dibombardir oleh Amerika Serikat.
• Nagasaki dibom tanggal 6 Agustus 1945
• Hiroshima dibom tanggal 9 Agustus 1945
• Kehancuran dua kota tersebut membuat
Jepang semakin tidak berdaya hingga
menyerah pada Sekutu tanggal 15 Agustus
1945.
KEKOSONGAN KEKUASAAN DI
INDONESIA
• Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu, sehingga terjadi
kekosongan kekuasaan di Indonesia.
• Situasi ini kemudian dijadikan peluang emas bagi bangsa Indonesia
untuk memproklamasikan dirinya.
• Suasana menjadi tegang karena golongan tua dan golongan muda
berserbrangan pendapat mengenai waktu yang tepat untuk
memproklamasikan diri.
• Golongan tua berpendapat bahwa proklamasi harus sesuai dengan
waktu yang diberikan Jepang, yaitu 24 Agustus 1945.
• Golongan muda beranggapan bahwa proklamasi harus sesuai
keinginan rakyat Indonesia, bukan usul dari Jepang. Harus
dilaksanakan sesegera mungkin.
• Perbedaan pendapat inilah kemudian yang menyebabkan terjadinya
Peristiwa Rengas Dengklok.
Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia
• Kemudian 1 Maret 1945, Letnan Jendral Kumakichi
Harada membentuk Dokuritsu Junbi Coosakai
(BPUPKI/ Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia).
• BPUPKI disahkan pada tanggal 29 April 1945,
bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito
Jepang.
Perumusan Dasar Negara
• Sidang BPUPKI I tanggal 29 Mei-1Juni 1945.
Menghasilkan rumusan Dasar Negara, yang
digali dari pandangan hidup masyarakat
Indonesia. Dasar negara ini yang kita sebut
dengan Pancasila.
• Tiga tokoh yang mengusulkan Pancasila : Mr.
Muh. Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, dan Ir.
Soekarno.
Rumusan Dasar Negara menurut Mr.
Muh. Yamin
• Ketuhanan Yang Maha Esa
• Kebangsaan Persatuan Indonesia
• Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab
• Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.
• Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Rumusan Dasar Negara menurut Prof.
Dr. Mr. Soepomo
• Paham negara kesatuan
• Perhubungan Negara dan Agama
• Sistem Badan Permusyawaratan
• Sosialisme Negara
• Hubungan Antarbangsa
• Tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengusulkan
rumusan dasar negara yang disebut dengan
Pancasila.
• Rumusan tersebut antara lain:
a. Kebangsaan Indonesia
b. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
c. Mufakat atau Demokrasi
d. Kesejahteraan Sosial
e. Ketuhanan yang Berkebudayaan
• Menurut Ir. Soekarno, rumusan dasar negara ini
dapat diringkas menjadi Tri sila, (sosial
nasionalisme, sosial demokrasi, dan Ketuhanan).
• Lalu diringkas lagi menjadi Eka sila (Gotong
royong).
• Kemudian belum ditemukan kata sepakat tentang
Dasar Negara ini, sehingga BPUPKI membentuk
Panitia Sembilan dengan tujuan menyelesaikan
rumusan dasar negara serta tujuan dan asas yang
akan digunakan ketika Indonesia menjadi negara
yang merdeka kelak.
• Tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan berhasil
menyusun rumusan dasar negara yang bersumber dari
Piagam Jakarta, yaitu:
1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat
Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusywaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
• Selanjutnya, hasil rumusan dasar negara dari
Panitia Sembilan ini disampaikan dalam Sidang
BPUPKI II (10-17 Juli 1945).
• Dalam sidang II BPUPKI, selain membahas dasar
negara, juga membahas bentuk negara, batas
wilayah negara, dan UUD.
• BPUPKI membentuk tiga panitia (panitia hukum
dasar, panitia masalah ekonomi, panitia masalah
bela negara).
• Panitia hukum dasar diketuai Ir. Soekarno yang
kemudian membahas UUD.