KawasanPerdesaan
AGROEDUWISATA
DiKabupatenIndramayu
ProvinsiJawaBarat
Kawasanperdesaanadalahkawasanyangmempunyaikegiatanutama
pertanian,termasukpengelolaansumberdayaalamdengansusunanfungsi
kawasansebagaitempatpermukimanperdesaan,pelayananjasa
pemerintahan,pelayanansosial,dankegiatanekonomi.DalamUUNo.6Tahun
2014tentangDesa,pembangunankawasanperdesaanmerupakanperpaduan
pembangunanantar-Desadalam1(satu)Kabupaten/Kota(Pasal83Ayat(1)).
PembangunankawasanperdesaandilakukanolehPemerintah,Pemerintah
DaerahProvinsi,danPemerintahDaerahKabupaten/Kotadanpihakketiga
yangterkaitdenganpemanfaatanAsetDesadantataruangDesawajib
melibatkanPemerintahDesa(Pasal84Ayat(1)).
PUSATDATADANINFORMASI
BADANPENELITIANDANPENGEMBANGAN,PENDIDIKANDANPELATIHAN,DANINFORMASI
KEMENTERIANDESA,PEMBANGUNANDAERAHTERTINGGALDANTRANSMIGRASI
2016
KawasanPerdesaan
AGROEDUWISATA
DiKabupatenIndramayu
ProvinsiJawaBarat
TIM PENYUSUN
Pengarah
Helmiati
Penyusun
Nurharyadi
Ichsan Nur Ahadi
Agus Hidayatullah
Nadzib Subkhi
Pusat Data Dan Informasi
Badan Penelitian dan Pembangunan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
2016
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
KATA PENGANTAR
Pembangunan kawasan perdesaan dengan desa-desa yang menjadi
wilayah pengembangannya bertujuan untuk pemenuhan standar pelayanan
minimum desa sesuai dengan kondisi geografisnya, penanggulangan
kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa,
pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat desa, pengelolaan sumber
daya alam dan lingkungan hidup berkelanjutan, serta penataan ruang kawasan
perdesaan, dan pengembangan ekonomi kawasan perdesaan untuk
mendorong keterkaitan desa-kota. Untuk itu pada tahun 2015 telah
ditetapkan sebanyak 108 kawasan perdesaan yang tersebar di 72 kabupaten
diantaranya Kawasan Perdesaan Agroeduwisata.
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata terletak di Kabupaten Indramayu,
meliputi 4 desa, yaitu Desa Kedokan Agung dan Kaplongan (di Kecamatan
Kedokanbunder) serta Purwajaya, Kapringan, dan Dukuhjati (di Kecamatan
Krangkeng). Buku ini berisi tentang profil, kebijakan daerah dalam arahan
pembangunan dan pengembangan yang beririsan dengan Kawasan Perdesaan
Agroeduwisata. Dalam penyajian informasi kawasan perdesaan ini,
pendekatannya melalui data-data per kecamatan dan desa sesuai dengan yang
tersedia di lintas sektor.
Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyediaan data dan informasi maupun dalam proses penulisan buku
ini. Harapan kami semoga sajian informasi Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu dapat bermanfaat dalam menunjang perencanaan
dan pengambilan kebijakan pengembangan kawasan perdesaan.
Jakarta, Desember 2016
Kepala Pusat
Data dan Informasi
Helmiati
i
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
ii
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................... Hal.
Daftar Isi ............................................................................................... i
Daftar Tabel .......................................................................................... iii
Daftar Gambar ...................................................................................... v
Daftar Lampiran ....................................................................................
vii
I. PENDAHULUAN ............................................................................ viii
1.1. Latar Belakang ..................................................................
1.2. Tujuan ............................................................................. 1
1.3. Ruang Lingkup Pembahasan ............................................ 1
1.4. Metode Penulisan ............................................................ 2
2
II. PROFIL KABUPATEN INDRAMAYU …………………………………………… 3
2.1. Letak Geografis, Wilayah administrasi, dan Aksesibilitas. 9
2.2. Iklim dan Hidrologi ………………………………………………………. 9
2.3. Penggunaan Lahan ………………………………………………………. 10
2.4. Kependudukan …………………………………………………………….. 11
2.5. Pendidikan …………………………………………………………………… 12
2.6. Kesehatan …………………………………………………………………… 13
2.7. Agama …………………………………………………………………………. 14
2.8. Transportasi dan Komunikasi ……………………………………….. 15
2.9. Perekonomian ……………………………………………………………… 15
16
2.10. Pertanian ……………………………………………………………………… 20
2.11. Indeks Pembangunan Desa ………………………………………….. 27
III. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN INDRAMAYU …………. 29
29
3.1. Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang ……………………….. 29
3.2. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Indramayu.. 39
3.3. Rencana Kawasan Strategis ………………………………………….. 42
3.4. Rencana Perwujudan Kawasan Strategis ……………………… 45
IV. KAWASAN PERDESAAN AGROEDUWISATA ………………………………
4.1. Kawasan Perdesaan Agroeduwisata di Kecamatan 45
46
Kedokanbunder dan Krangkeng …………………………………… 48
50
4.2. Indeks Pembangunan Desa …………………………………………..
4.3. Kependudukan ……………………………………………………………..
4.4. Pendidikan ……………………………………………………………………
iii
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata 50
di Kabupaten Indramayu 52
52
4.5. Kesehatan ……………………………………………………………………. 52
4.6. Transportasi dan Komunikasi ……………………………………….. 53
4.7. Lembaga Ekonomi ………………………………………………………… 55
4.8. Pertanian ……………………………………………………………………… 56
4.9. Peternakan …………………………………………………………………… 57
4.10. Potensi Unggulan …………………………………………………………. 59
4.11. Program Pengembangan ……………………………………………..
V. PENUTUP ………………………………………………………………………………….
LAMPIRAN ………………………………………………………………………………..
iv
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Struktur data aktifitas …………………………………………………… Hal.
Tabel 1.2 Struktur Tabel LQ …………………………………………………………. 4
Tabel 2.1 Peggunaan Lahan di Kabupaten Indramayu ..................... 4
Tabel 2.2 Banyaknya Sekolah dan Murid Menurut Jenis Sekolah di
Tabel 2.3 Kabupaten Indramayu ………………………............................. 12
Tabel 2.4 Banyaknya MI, MTs, dan MA serta Murid di Kabupaten 13
Tabel 2.5 Indramayu …………………………………………………………………… 14
Tabel 2.6 Jenis dan Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kabupaten 14
Indramayu …………..…………………………………………………....... 17
Tabel 2.7 Nilai PDRB Kabupaten Indramayu tanpa Migas Tahun
2012 dan 2014 (Jutaan Rupiah) …………………………………… 18
Tabel 2.8 Kontribusi (%) dan Pertumbuhan (%) Nilai PDRB
Kabupaten Indramayu Tahun 2012 dan 2014 Menurut 21
Tabel 2.9 Lapangan Usaha ……………………………………………………………
Keragaan Pengusahaan Tanaman Pangan di 24
Tabel 2.10 Kabupaten Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan
Tabel 2.11 Location Quotient ………………………………………………………… 24
Tabel 2.12 Keragaan Pengusahaan Komoditas Buah-Buahan di 25
Tabel 4.1 Kabupaten Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan 26
Tabel 4.2 Location Quotient ………………………………………………………… 27
Tabel 4.3 Luas Panen Tanaman Hortikultura Semusim di 46
Kabupaten Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan 48
Tabel 4.4 Location Quotient …………………………………………………………
Luas Pengusahaan Tanaman Perkebunan di 50
Kabupaten Indramayu Tahun 2015 ……………………………… 51
Populasi Ternak di Kabupaten Indramayu Tahun 2015
Luas Tanaman Kehutanan di Kabupaten Indramayu
tahun 2015 ……………………………………………………….............
Desa-Desa dan Status IPD di Kecamatan Kedokanbunder
dan Krangkeng ………………………………………........................
Jumlah Penduduk di Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
Banyaknya Sekolah dan Murid Menurut Jenis Sekolah di
Kecamatan Kedokanbunder dan Krangkeng serta
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata ……………………………..
Ketersedian Sarana Kesehatan di Kawasan Perdesaan
Agroeduwisata ……………………………………………………………..
v
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Tabel 4.5 Ketersedian Tenaga Medis di Kawasan Perdesaan 51
Tabel 4.6 Agroeduwisata …………………………………………………………….. 52
Tabel 4.7 Komoditas Padi untuk 5 Desa di Kawasan Perdesaan 52
Tabel 4.8 Agroeduwisata …………………………………………………………….. 54
Potensi Lain untuk 5 Desa di Kawasan Perdesaan
Agroeduwisata ……………………………………………………………..
Populasi Ternak (Ekor) dan Kontribusinya di
Kabupaten Indramayu Tahun 2015 ..................................
vi
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Gambar 2.1 DAFTAR GAMBAR Hal.
Gambar 2.2 Luas Panen Padi (Ha) Menurut Kecamatan di 22
Gambar 2.3 Kabupaten Indramayu Tahun 2015 …………………………….. 27
Gambar 4.1 Dimensi IPD ………………………………………………………………… 28
IPD 2014 Kabupaten Indramayu ………………………………….
Gambar 4.2 Status Perkembangan Desa Berdasarkan IPD 2014 di 47
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata ……………………………
Sumber Penghasilan Utama Sebagian Besar Penduduk 49
Desa di Kawasan Perdesaan Agroeduwisata ………………..
Lampiran 1 DAFTAR LAMPIRAN Hal.
Lampiran 2 60
Lampiran 3 Hasil Perhitungan SSA Komoditas Tanaman Pangan di 60
Lampiran 4 Kecamatan Kedokanbunder ……………………………………….. 60
Lampiran 5 Hasil Perhitungan SSA Komoditas Tanaman Pangan di 61
Lampiran 6 Kecamatan Krangkeng ……………………………………………….. 61
Hasil Perhitungan SSA Komoditas Buah-Buahan di 62
Kecamatan Kedokanbunder ………………………………………..
Hasil Perhitungan SSA Komoditas Buah-Buahan di
Kecamatan Krangkeng ………………………………………………..
Hasil Perhitungan SSA Komoditas Sayur-Sayuran di
Kecamatan Kedokanbunder ………………………………………..
Luas Panen Padi (Ha) Menurut Kecamatan di
Kabupaten Indramayu Tahun 2015 ................................
vii
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
viii
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, pembangunan kawasan
perdesaan merupakan perpaduan pembangunan antar-Desa dalam 1
(satu) Kabupaten/Kota (Pasal 83 Ayat (1)). Pembangunan kawasan
perdesaan dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan pihak ketiga yang terkait dengan
pemanfaatan Aset Desa dan tata ruang Desa wajib melibatkan Pemerintah
Desa (Pasal 84 Ayat (1)).
Dalam RPJMN 2015-2019 arah kebijakan dan strategi pembangunan
desa dan kawasan perdesaan adalah (1) Pemenuhan Standar Pelayanan
Minimum Desa sesuai dengan kondisi geografisnya, (2) Penanggulangan
kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat Desa, (3)
Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa, (4) pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan hidup berkelanjutan, serta penataan
ruang kawasan perdesaan, dan (5) pengembangan ekonomi kawasan
perdesaan untuk mendorong keterkaitan desa-kota.
Untuk melaksanakan pembangunan kawasan perdesaan, pada tahun
2015 Direktorat Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan1, Ditjen
PKP telah menetapkan 108 kawasan perdesaan yang tersebar di 72
Kabupaten dan diharapkan akan menjadi lokus dalam pembangunan
kawasan perdesaan di tahun-tahun berikutnya. Pelaksanaan
pembangunan di kawasan perdesaan yang telah ditetapkan tersebut
tentunya harus searah dengan kebijakan dan arahan dalam penataan
ruang yang ditetapkan di wilayah tersebut.
1 Penetapan Kawasan perdesaan tahun 2015, Dit. PPKP, Ditjen PKP.
1
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Salah satu kawasan perdesaan yang ditetapkan pada tahun 2015
tersebut adalah Kawasan Perdesaan Agroeduwisata yang berada di 2 (dua)
kecamatan di Kabupaten Indramayu, yakni Kecamatan Kedokanbunder
dan Kecamatan Krangkeng. Kawasan Perdesaan Agroeduwisata tersebut
mempunyai wilayah pengembangan sebanyak 5 desa, yaitu Desa Kedokan
Agung dan Kaplongan (di Kecamatan Kedokanbunder) serta Purwajaya,
Kapringan, dan Dukuhjati (di Kecamatan Krangkeng). Kawasan Perdesaan
ini sebenarnya telah ada sebelum kegiatan fasilitasi penetapan kawasan
perdesaan oleh Direktorat Perencanaan Pembangunan Kawasan
Perdesaan (Dit. PPKP) pada tahun 2015, yaitu dengan dikeluarkannya Surat
Keputusan Bupati Indramayu tentang Penetapan Kawasan dan Tim
Pengelola Kegiatan Pengembangan Kawasan Perdesaan Berbasis
Masyarakat Kabupaten Indramayu dengan Nomor: 147.2.05/
Kep.145.BPMD/2013.
Sesuai dengan kajian dari tim Dit. PPKP maka kawasan berbasis
masyarakat ini ditetapkan sebagai Kawasan Agroeduwisata. Potensi
unggulan yang akan dikembangkan dalam Kawasan Perdesaan
Agroeduwisata adalah pertanian dengan komoditas padi, palawija,
peternakan kambing dan itik, pembibitan ikan lele, pengolahan sekam,
serta wisata kuliner dan religi. Sebagai bahan informasi kepada
masyarakat, maka kegiatan penyusunan data dan informasi tentang
kawasan perdesaan menjadi penting untuk dilakukan.
1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan buku ini adalah untuk menyajikan informasi
mengenai Kawasan Perdesaan Agroeduwisata yang terletak di Kecamatan
Kedokanbunder dan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa
Barat.
1.3. Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam penyajian informasi Kawasan Perdesaan Agroeduwisata, di
Kecamatan Kedokanbunder dan Kecamatan Krangkeng, Kabupaten
Indramayu, Provinsi Jawa Barat, ruang lingkup pembahasannya meliputi :
2
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
a. Profil Kabupaten Indramayu yang meliputi letak wilayah administrasi,
letak geografis, dan aksesibilitas, kondisi fisik daerah, dan aspek sosial
diantaranya kependudukan, pendidikan, dan kesehatan, perekonomian
(PDRB dan pertumbuhan ekonomi), komoditas yang cukup potensial
dikembangkan di daerah tersebut diantaranya pertanian, perkebunan,
dan peternakan.
b. Kebijakan pemerintah daerah dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan di Kabupaten Indramayu.
1.4. Metode Penulisan
a. Metode Pengumpulan dan Jenis Data yang Dikumpulkan
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan perjalanan dinas
ke Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan data
dan informasi di BPS kabupaten Indramayu, Rencana Pembangunan
Daerah (RPJMD atau RTRWP/RTRWK) di Bappeda Kabupaten
Indramayu, serta data dan informasi pendukung dari SKPD terkait,
Kecamatan Kedokanbunder, Kecamatan Krangkeng, dan desa wilayah
pengembangan Kawasan Perdesaan Agroeduwisata. Data-data
penunjang lainnya diperoleh dari unit-unit kerja di Kementerian Desa,
PDT, dan Transmigrasi serta didapatkan dari sumber-sumber lain,
misalnya dari internet.
b. Metode pengolahan data
b.1. Location Quotient
Data yang diperoleh berupa data sekunder, selanjutnya diolah
dengan membuat tabulasi data untuk selanjutnya digunakan sebagai
bahan analisis. Untuk mengetahui pemusatan/basis (aktifitas)
digunakan metode analisis Keunggulan Komparatif Wilayah (Location
Quotient/LQ Analysis). Location Quotient merupakan suatu indeks
untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam aktifitas tertentu
dengan pangsa total aktifitas tersebut dalam total aktifitas wilayah.
Secara lebih operasional, LQ didefinisikan sebagai rasio persentase dari
total aktifitas pada sub wilayah ke-j terhadap persentase aktifitas total
wilayah yang diamati.
3
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Analisis LQ dilakukan terhadap pengusahaan tanaman pangan,
perkebunan, dan hortikultura di Kecamatan Kedokanbunder dan
Kecamatan Krangkeng dibandingkan dengan Kabupaten Indramayu.
Struktur data aktifitas tertera pada Tabel 1, sedangkan struktur tabel LQ
tertera pada Tabel 2. Asumsi yang digunakan dalam analisis ini adalah
bahwa (1) kondisi geografis relatif seragam, (2) pola-pola aktifitas
bersifat seragam, dan (3) setiap aktifitas menghasilkan produk yang
sama.
Persamaan dari LQ adalah:
LQ X X/
IJ .J
X XIJ /
I . ..
Di mana:
Xij : derajat aktifitas ke-i di sub wilayah ke-j
X.j : total aktifitas di sub wilayah ke-j
Xi. : total aktifitas ke-i di wilayah
X.. : derajat aktifitas total di wilayah
Tabel 1.1 Struktur data aktifitas
Sektor Kecamatan Lokasi Jumlah Xi.
i Nama Komoditas (j) (Kabupaten)
1 X1j X1.
2 X2j X2.
… ... ... ...
n Xnj Xn.
Jumlah X.j X..
Tabel 1.2 Struktur tabel LQ LQ Kecamatan (j)
Sektor LQ1j
i Nama Komoditas LQ2j
1 ...
2 LQnj
……
n
4
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Untuk dapat menginterpretasikan hasil analisis LQ, digunakan batasan
sebagai berikut:
1) Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi
suatu aktifitas di kecamatan-j secara relatif dibandingkan dengan
total kabupaten atau terjadi pemusatan aktifitas di kecamatan-j.
2) Jika nilai LQij = 1, maka kecamatan-j tersebut mempunyai pangsa
aktifitas setara dengan pangsa total atau konsentrasi aktifitas di
kecamatan-j sama dengan rata-rata total kabupaten.
3) Jika nilai LQij < 1, maka kecamatan-j tersebut mempunyai pangsa
relatif lebih kecil dibandingkan dengan aktifitas yang secara umum
ditemukan di seluruh kabupaten.
b.2. Shift-Share Analysis
Shift-share Analysis(SSA) digunakan melengkapi Location
Quotient Analysis. Shift-share analysis merupakan teknik analisis untuk
memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu
dibandingkan dengan suatu referensi (dengan cakupan wilayah lebih
luas) dalam dua titik waktu (Panuju dan Rustiadi, 2005)2. Pemahaman
struktur aktifitas dari hasil SSA juga menjelaskan kemampuan
berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu wilayah
secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan wilayah lebih
luas. Hasil SSA menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di
suatu sub wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di dalam
total wilayah.
Shift-share Analysis mampu memberikan gambaran sebab-sebab
terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah. Sebab-sebab
yang dimaksud dibagi menjadi tiga bagian yaitu: sebab yang berasal dari
dinamika lokal (sub wilayah), sebab dari dinamika aktifitas/sektor (total
wilayah), dan sebab dari dinamika wilayah secara umum. Dari hasil SSA
2 Panuju DR dan Rustiadi E. 2005. Dasar-Dasar Perencanaan Pengembangan Wilayah. Departemen Ilmu
Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
5
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
inidiperoleh gambaran kinerja aktifitas di suatu wilayah. Gambaran
kinerja ini dapat dijelaskan dari 3 komponen hasil analisis, yaitu:
1) Komponen Laju Pertumbuhan Total (Komponen share). Komponen
ini menyatakan pertumbuhan total wilayah pada dua titik waktu yang
menunjukkan dinamika total wilayah.
2) Komponen Pergeseran Proporsional (Komponen proportional shift).
Komponen ini menyatakan pertumbuhan total aktifitas tertentu
secara relatif, dibandingkan dengan pertumbuhan secara umum
dalam total wilayah yang menunjukkan dinamika sektor/aktifitas
total dalam wilayah.
3) Komponen Pergeseran Diferensial (Komponen differential shift).
Ukuran ini menjelaskan bagaimana tingkat kompetisi
(competitiveness) suatu aktifitas tertentu dibandingkan dengan
pertumbuhan total sektor/aktifitas tersebut dalam wilayah.
Komponen ini menggambarkan dinamika (keunggulan/
ketidakunggulan) suatu sektor/aktifitas tertentu di sub wilayah
tertentu terhadap aktifitas tersebut di sub wilayah lain.
Persamaan SSA adalah sebagai berikut :
SSA XX.... XX XX.... XX XX (t1) 1 i(t1)
(t 0) i ( t1) (t1) ij (t1) i(t 0)
(t 0)
i (t 0) ij (t 0)
a b c
dimana:
a : komponen share
b : komponen proportional shift
c : komponen differential shift, dan
X.. : Nilai total aktifitas dalam total wilayah
Xi. : Nilai total aktifitas tertentu dalam total wilayah
Xij : Nilai aktifitas tertentu dalam unit wilayah tertentu
t1 : titik tahun akhir
t0 : titik tahun awal
6
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Dari hasil analisis LQ dan SSA diharapkan dapat diperoleh gambaran
mengenai lapangan usaha yang tumbuh dan memiliki keunggulan di sub
wilayah tertentu terhadap aktifitas lapangan usaha dalam wilayah.
c. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam penulisan buku ini adalah
secara deskriptif hasil dari pengolahan data dan informasi yang
diperoleh baik di daerah survey maupun dari lembaga terkait.
7
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
8
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
BAB II
PROFIL KABUPATEN INDRAMAYU
2.1. Letak Geografis, Wilayah Administrasi, dan Aksesibilitas
Indramayu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat,
yang terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950
tentang Pembentukan Daerah-Daerah di Lingkungan Provinsi Jawa Barat.
Gambaran umum kondisi Kabupaten Indramayu adalah sebagai berikut:
1. Secara geoastronomi terletak pada posisi 107º 52' sampai dengan
108º 36' Bujur Timur dan 06º 15' sampai dengan 06º 40' Lintang
Selatan.
2. Secara geopolitik terletak pada jarak 207 Km kearah Timur dari Jakarta
sebagai Ibu Kota Negara dan 180 Km kearah Timur Laut dari Bandung
sebagai Ibu Kota Provinsi.
3. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), secara
geoekonomi Kabupaten Indramayu ditetapkan sebagai salah satu
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang mengemban fungsi sebagai
lumbung pangan nasional dan pusat pengolahan migas.
4. Kabupaten Indramayu secara geostrategis terletak di jalur Pantai
Utara Jawa (Pantura) sebagai simpul strategis transportasi yang
berperan sangat dinamis di Pulau Jawa dan Nasional melayani aktifitas
lintas provinsi.
Batas-batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Indramayu
sebagai berikut:
1. Sebelah Utara dengan Laut Jawa
2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Majalengka, Sumedang dan
Cirebon
3. Sebelah Barat dengan Kabupaten Subang
4. Sebelah Timur dengan Laut Jawa dan Kabupaten Cirebon
Wilayah Kabupaten Indramayu seluas 209.942 Ha, dengan panjang
garis pantai 147 Km. Kabupaten Indramayu terbagi kedalam 31
9
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Kecamatan, 8 Kelurahan dan 309 Desa, 1.894 Rukun Warga (RW) dan
6.033 Rukun Tetangga (RT). Ibu kota kabupaten dan pusat pemerintahan
terletak di Kecamatan Indramayu namun titik keramaian berada di
Kecamatan Jatibarang karena termasuk lintas jalur lalu lintas Pantai Utara
Jawa (Pantura) dan terdapat Stasiun Kereta Api sehingga memiliki akses
perekonimian yang mudah diakses. Simpul-simpul kabupaten
diantaranya adalah Indramayu, Balongan, Lohbener, Jatibarang,
Karangampel dan Haurgeulis.
2.2. Iklim dan Hidrologi
Secara Geomorfologi, wilayah Kabupaten Indramayu terbagi
menjadi daerah perbukitan rendah bergelombang dan dataran rendah.
Perbukitan rendah bergelombang menempati daerah sempit di bagian
Barat Daya membentuk perbukitan yang memanjang dengan arah Barat
Laut sampai Tenggara, sedangkan dataran rendah menempati bagian
tengah sampai ke Utara.
Berdasarkan Topografi, Kabupaten Indramayu sebagian besar
merupakan dataran rendah dengan kemiringan rata-rata 0 – 2 %. Secara
garis besar, topografi Kabupaten Indramayu dapat dibagi atas 3 (tiga)
kelompok, yaitu:
1. Ketinggian antara 0-7 m di atas permukaan laut (dpl), meliputi :
wilayah Kecamatan Anjatan, Sukra, Patrol, Kandanghaur, Losarang,
Sindang, Lohbener, Arahan, Cantigi, Pasekan, Indramayu, Balongan,
Sliyeg, Juntinyuat, Karangampel, Kedokanbunder dan wilayah
Kecamatan Krangkeng.
2. Ketinggian antara 7-25 m dpl, meliputi : wilayah Kecamatan Bongas,
Kroya, Gabuswetan, sebagian wilayah Kecamatan Anjatan, Lelea,
Terisi, Widasari, Jatibarang, Kertasmaya, Cikedung, Sukgumiwang,
Tukdana dan Bangodua.
3. Ketinggian antara 25-100 m dpl, meliputi: sebagian wilayah Kecamatan
Cikedung, Terisi, Kroya, Haurgeulis dan keselurahan wilayah
Kecamatan Gantar.
10
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Kabupaten Indramayu secara klimatologi termasuk beriklim tropis
tipe D (Iklim sedang) dengan karakteristik sebagai berikut:
1. Suhu udara harian rata-rata berkisar antara 22,9oC – 30oC.
2. Kelembaban udara 70 – 80%.
3. Rata-rata curah hujan sepanjang tahun 2014 sebesar 2.104 mm
dengan jumlah hari hujan sebanyak 103 hari.
4. Sepanjang tahun 2014, curah hujan tertinggi sebesar ± 2.756 mm
dengan jumlah hari hujan sebanyak 125 hari terjadi di Kecamatan
Lohbener, sedangkan curah hujan terendah sebesar ± 666 mm dengan
jumlah hari hujan 52 hari terjadi di Kecamatan Terisi.
5. Angin barat dan angin timur bertiup secara bergantian setiap 5-6 bulan
sekali. Angin Barat bertiup bulan Desember sampai dengan bulan
April, sedangkan Angin Timur bertiup bulan Mei sampai dengan
November. Pada umumnya angin berasal dari Barat Laut (29,35%),
Timur Laut (22,01%) dan Utara (18,32%).
6. Kecepatan angin di wilayah pesisir umumnya (41,35%) bertiup dengan
kisaran 3-5 m/detik, sedangkan (0,62%) kecepatan angin sangat lemah
yaitu kurang dari 1m/detik pada kondisi teduh.
Satuan Wilayah Sungai (SWS) Kabupaten Indramayu mempunyai
luas 648 km². Aliran rata-rata di bagian hilir mencapai 13,0 milyar
m³/tahun yang dimanfaatkan untuk keperluan pertanian, industri dan
sebagainya. SWS Cimanuk termasuk wilayah kewenangan Pemerintah
provinsi Jawa Barat seluas 4.325 km². Wilayah Kabupaten Indramayu
termasuk kedalam SWS Cimanuk seluas 1.238 km². Potensi aliran rata-
rata mencapai kapasitas sebesar 4,0 milyar m³/tahun.
2.3. Penggunaan Lahan
Wilayah Kabupaten Indramayu mencakup beberapa pulau kecil dan
wilayah perairan laut. Wilayah daratan didominasi oleh lahan sawah
sebesar 55,92% dari total luas lahan. Hal ini menunjukkan bahwa
Kabuapaten Indramayu merupakan daerah pertanian (agraris) dan
menjadi alasan pemerintah pusat menentukan Kabupaten Indramayu
11
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
sebagai lumbung pangan nasional. Selain sebagai daerah pertanian,
sektor perikanan dan kelautan juga cukup berkontribusi terhadap
pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Indramayu.
Pengolahan lahan berupa tambak untuk memproduksi ikan seluas
12,86% menjadi mata pencaharian pokok di beberapa wilayah pantai.
Luas permukiman hanya sebesar 10,03% dari total luas wilayah,
sementara luas hutan sebesar 14,70%, perkebunan sebesar 4,26%,
industri sebesar 0,48%, kolam sebesar 0,18%, tanah kosong sebesar
0,10%, tambang sebesar 0,002% dan lain-lain sebesar 1,47%. Penggunaan
lahan (land used) berdasarkan identifikasi lahan di Kabupaten Indramayu tertera
pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Peggunaan Lahan di Kabupaten Indramayu
Penggunaan Lahan Luas (Ha) (%)
1. Industri 1.011,54 0,48
4,26
2. Perkebunan 8.949,88 14,70
10,03
3. Hutan 30.854,33 55,92
0,10
4. Permukiman 21.067,94 0,18
12,86
5. Sawah 117.406,62 0,002
1,47
6. Tanah Kosong 150,77 100,00
7. Kolam 395,38
8. Tambak 26.980,29
9. Tambang 39,20
10. Lain-Lain 3.086,05
Jumlah 209.942,00
Sumber: Hasil Analisa Peta Citra, Bappeda Kabupaten Indramayu, 2015.
2.4. Kependudukan
Pada akhir Tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten Indramayu
tercatat sebanyak 1.708.551 jiwa. Sedangkan pada akhir Tahun 2015
angka tersebut telah berubah menjadi 1.718.495 jiwa, keadaan ini
menunjukkan adanya kenaikan sebesar 9.944 jiwa. Dengan demikian laju
pertumbuhan penduduk Kabupaten Indramayu Tahun 2014 - 2015
sebesar 0,58%.
12
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Ditinjau dari persebaran penduduk pada masing-masing
kecamatan, jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Indramayu
yaitu sebesar 111.009 jiwa atau 6,46% dari total penduduk Kabupaten
Indramayu dengan kepadatan rata-rata 1.565 penduduk/km2.
Berikutnya, Kecamatan Haurgeulis yang mempunyai jumlah penduduk
sebesar 90.972 jiwa atau 5,29% dengan kepadatan 1.477 penduduk/km2.
Sedangkan Kecamatan Pasekan merupakan wilayah yang memiliki jumlah
penduduk terendah diantara kecamatan lainnya di Kabupaten Indramayu
yaitu 24.135 jiwa atau hanya 1,40% dari jumlah penduduk Kabupaten
Indramayu dengan kepadatan rata-rata 286 penduduk/km2.
2.5. Pendidikan
Berdasarkan data Kabupaten Indramayu Dalam Angka (2015),
jumlah murid SD sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
(SMU/SMK) adalah 290.386 orang siswa yang belajar di 1.284 sekolah
(Negeri dan Swasta). Banyaknya sekolah dan murid menurut jenis sekolah
umum di Kabupaten Indramayu disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Banyaknya Sekolah dan Murid Menurut Jenis Sekolah di
Kabupaten Indramayu
Jenis Sekolah Jumlah Sekolah Jumlah
(Negeri dan Swasta)
Murid Guru
1. SD 890 163.083 8.575
2. SMP 203 64.677 3.416
3. SMU 57 19.678 1.177
4. SMK 134 42.948 2.234
Jumlah 1.284 290.386 15.402
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2015.
Selain sekolah umum, terdapat Madrasah Ibtidaiyah (MI),
Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah dengan proporsi
sekolah yang cukup besar. Jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) jika
dibandingkan dengan jumlah SD mencapai 15,17% bahkan untuk
Madrasah Tsanawiyah (MTs) jumlahnya jika dibandingkan dengan SMP
13
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
mencapai 37,93%. Banyaknya sekolah dan murid menurut jenis sekolah
MI, MTs, dan MA di Kabupaten Indramayu disajikan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Banyaknya MI, MTs, dan MA serta Murid di Kabupaten
Indramayu
Jenis Sekolah Jumlah
Sekolah Murid
1. Madrasah Ibtidaiyah (MI) 135 20.419
2. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 77 21.519
3. Madrasah Aliyah (MA) 33 6.190
Jumlah 245 48.128
Sumber: Profil Daerah Provinsi Jawa Barat, 2013.
2.6. Kesehatan
Berdasarkan data Kabupaten Indramayu Dalam Angka (2016),
jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Indramayu
meliputi Rumah Sakit (RS) 8 yang terdiri dari 2 Rumah Sakit Pemerintah
dan 6 Rumah Sakit Swasta, Rumah Sakit Bersalin 1 buah, Puskesmas 49
buah. Jenis dan jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Indramayu
disajikan pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Jenis dan Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Indramayu
Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah Kapasitas Tempat
Tidur Untuk
1. Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 Rawat Inap
-
2. Rumah Sakit Umum Swasta 6 -
-
3. Rumah Sakit Bersalin 1 113
-
4. Puskesmas 49 -
-
5. Puskesmas Pembantu 67 -
6. Posyandu 2.311
7. Poliklinik/Balai Kesehatan 84
8. Toko Obat/Apotik 140
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2012.
14
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Jumlah fasilitas kesehatan yang cukup banyak untuk tiap jenisnya
tersebut didukung oleh tenaga medis sebanyak 61 dokter umum, 20
dokter gigi, bidan 553 orang, dan keperawatan 1.131 orang.
2.7. Agama
Berdasarkan data dari Kabupaten Indramayu Dalam Angka (2016)
tercermin bahwa penduduk Kabupaten Indramayu memeluk beberapa
agama yang diindikasikan oleh jenis rumah ibadah yang ada, namun
demikian pemeluk muslim yang terbesar yaitu mencapai 99,70%. Hal
tersebut juga diindikasikan dari jumlah fasilitas ibadah yaitu Masjid (823
buah), Musholla (3.602 buah), Langgar (946 buah), Gereja Protestant (10
buah), Gereja Katolik (4 buah), Pura (0 buah), dan Vihara (2 buah).
2.8. Transportasi dan Komunikasi
Sampai dengan Tahun 2014 kondisi jalan di Kabupaten Indramayu
dalam keadaan baik mencapai 66,26 % dan rusak berat 1,70 % yang
berarti mengalami penurunan tingkat kerusakan. Sedangkan tahun
sebelumnya tercatat 70,33 % dalam kondisi baik dan 2,27 % rusak berat.
Wilayah Kabupaten Indramayu secara umum terhubung oleh
transportasi darat walaupun kondisi jalan untuk masing-masing wilayah
tentunya tidak tergantung dari kelas jalannya. Berdasarkan data dari
Kabupaten Indramayu Dalam Angka (2015), pada tahun 2014 panjang
jalan di Kabupaten Indramayu adalah 817.163 Km, sementara jalan
Nasional 113.420 km, dan jalan provinsi 111.250 km. Untuk panjang jalan
Kecamatan dan desa belum tersedia datanya.
Angkutan darat merupakan sarana yang ada di Kabupaten
Indramayu, sampai tahun 2014, mobil yang beroperasi di Kabupaten
Indramayu berjumlah 34.444 unit yang terdiri dari mobil penumpang
17.509 unit, mobil angkutan barang 16.368 unit dan mobil angkutan
penumpang 567 unit, sedangkan sepeda motor di tahun 2014 tercatat
sebanyak 515.018 unit. Selain transportasi jalan raya, Kabupaten
Indramayu juga merupakan perlintasan jalur kereta api antara Jakarta
dengan kota - kota lain di jawa tengah dan Jawa Timur. Stasiun Kereta Api
15
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
yang ada di Kabupaten Indramayu berada di Kecamatan Haurgeulis,
Terisi, Kedokan gabus dan Jatibarang.
Untuk sarana komunikasi, sesuai dengan perkembangan teknologi
saat ini sebagian besar wilayah Kabupaten Indramayu telah terjangkau
oleh signal telepon selular. Saat ini di wilayah Kabupaten Indramayu
selain dilayani oleh Telkomsel, berbagai provider seluler telah beroprasi
di hampir seluruh pelosok wilayah Indramayu, hal tersebut di dukung
tersedianya berbagai sarana telekomunikasi yang ada baik teknologi GSM
maupun CDMA. Berdasarkan data dari badan penanaman modal dan
perijinan jumlah BTS (Base Transciever Stasiun) ada 239 tower yang
tersebar di 69 desa/kelurahan yang ada di 31 Kecamatan di Kabupaten
Indramayu.
2.9. Perekonomian
Setiap perencanaan pembangunan wilayah memerlukan batasan
praktikal yang dapat digunakan secara operasional untuk mengukur
tingkat perkembangan wilayahnya. Secara umum, penilaian untuk
pertumbuhan ekonomi yang tinggi berbanding lurus dengan kinerja
ekonomi yang baik. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan
ukuran produktifitas wilayah yang paling umum dan paling diterima
secara luas sebagai standar ukuran pembangunan dalam skala wilayah
dan negara. PDRB pada dasarnya merupakan total produksi kotor dari
suatu wilayah, yakni total nilai dari semua barang dan jasa yang
diproduksikan oleh seluruh rakyat di wilayah tersebut dalam periode satu
tahun.
Nilai PDRB dihitung berdasarkan harga berlaku atau berdasarkan
harga konstan dengan menggunakan tahun dasar yang telah ditentukan.
PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat struktur ekonomi
suatu daerah, sedang PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk
melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Jika PDRB dibagi dengan
jumlah penduduk suatu daerah, maka diperoleh pendapatan per kapita
daerah tersebut.
16
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
2.9.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Struktur ekonomi suatu daerah dapat dilihat berdasarkan nilai
PDRB atas dasar harga berlaku. Berdasarkan PDRB ini dapat dilihat sektor
yang dominan di daerah tersebut. Tetapi PDRB atas harga berlaku ini
tidak mencerminkan perekonomian daerah yang sesungguhnya, karena
dalam PDRB atas dasar harga berlaku masih mengandung nilai inflasi,
artinya meskipun angka PDRB tahun sekarang lebih tinggi dibandingkan
tahun sebelumnya, belum berarti bahwa perekonomian daerah tersebut
tumbuh. Hal ini tergantung besarnya inflasi pada tahun saat PDRB akan
dihitung. Nilai PDRB di Kabupaten Indramayu tanpa Migas menurut
lapangan usaha tahun 2012 dan 2014 tertera pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Nilai PDRB Kabupaten Indramayu tanpa Migas Tahun 2012 dan 2014
(Jutaan Rupiah)
Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan Tahun 2000
1. Pertanian dan 2012 2014* 2012 2014*
Kehutanan
8.736.114,7 10.766.144,4 7.469.798,9 7.983.137,9
2. Pertambangan
dan Penggalian 3.008,6 3.548,6 2.643,8 2.811,1
3. Industri 2.500.847,7 3.178.747,8 2.343.843,7 2.612.624,5
Pengolahan
21.710,7 25.889,9 21.449,0 24.005,4
4. Pengadaan
Listrik & Gas 35.521,7 47.640,7 31.000,8 38.166,9
2.138.264,4 3.226.535,0 2.063.042,3 2.355.399,7
5. Pengadaan Air,
Pengolahan 5.264.427,2 6.758.813,9 4.625.471,7 5.418.351,8
Sampah, Limbah 965.822,3 1.348.216,7 946.152,7 1.147.922,5
dan Daur Ulang
684.942,7 885.496,5 617.816,1 703.749,9
6. Konstruksi 253.786,4 305.858,3 256.163,4 313.366,4
7. Perdagangan
Besar dan
Eceran, Reparasi
Mobil
8. Transportasi dan
Pergudangan
9. Penyediaan
Akomodasi dan
Makan
10. Informasi dan
Komunikasi
17
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan Tahun 2000
2012 2014* 2012 2014*
11. Jasa Keuangan
dan Asuransi 494.525,5 622.754,7 457.555,3 527.151,9
193.797,0 220.410,4
12. Real Estate 212.277,6 256.104,0 95.564,6 106.320,7
13. Jasa Perusahaan 102.390,7 126.370,7
14. Administrasi
Pemerintahan
dan Pertahanan,
Jaminan Sosial
Wajib 1.109.293,6 1.330.493,6 1.017.167,7 1.090.086,0
718.968,0 878.189,0
15. Jasa Pendidikan 776.534,6 1.049.250,2
16. Jasa Kesehatan
dan Kegiatan
Sosial 183.633,1 234.011,0 158.335,3 189.926,7
169.429,4 188.474,1
17. Jasa Lainnya 184.400,8 221.536,7 21.188.199,7 23.800.094,9
Jumlah 23.667.502,3 30.387.412,7
Keterangan: *Angka sangat sementara.
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2015.
Berdasarkan Kabupaten Indramayu Dalam Angka (2015) nilai PDRB
atas dasar harga berlaku Kabupaten Indramayu tahun 2012 adalah
23,667,502,3 Juta Rupiah dan pada tahun 2014 adalah sebesar
30,387,412,7 Juta Rupiah. Lapangan usaha yang mempunyai kontribusi
besar pada tahun 2012 dan 2014 sama yaitu pertanian dan kehutanan
serta perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil. Kontribusi (%)
nilai PDRB di Kabupaten Indramayu tahun 2012 dan 2014 serta
pertumbuhannya (%) dari tahun 2012 ke 2014 menurut lapangan usaha
disajikan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Kontribusi (%) dan Pertumbuhan (%) Nilai PDRB Kabupaten
Indramayu Tahun 2012 dan 2014 Menurut Lapangan Usaha
Kontribusi Pertumbuhan 2012 ke
2014 Berdasarkan Harga
Lapangan Usaha Berdasarkan Harga
Konstan Tahun 2000
1. Pertanian dan Kehutanan Berlaku
2. Pertambangan dan 6,87
2012 2014
Penggalian 6,33
3. Industri Pengolahan 36,91 35,43 11,47
4. Pengadaan Listrik 11,92
0,01 0,01
10,57 10,46
0,09
0,09
18
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Kontribusi Pertumbuhan 2012 ke
2014 Berdasarkan Harga
Lapangan Usaha Berdasarkan Harga
Konstan Tahun 2000
Berlaku
2012 2014
5. Pengadaan Air,
Pengolahan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 0,15 0,16 23,12
6. Konstruksi 9,03 10,62 14,17
7. Perdagangan Besar dan
Eceran, Reparasi Mobil 22,24 22,24 17,14
8. Transportasi dan
Pergudangan 4,06 4,44 21,33
9. Penyediaan Akomodasi
dan Makan 2,89 2,91 13,91
10. Informasi dan Komunikasi 1,07 1,01 22,33
11. Jasa Keuangan dan
Asuransi 2,09 2,05 15,21
12. Real Estate 0,90 0,84 13,73
13. Jasa Perusahaan 0,43 0,42 11,26
14. Administrasi
Pemerintahan dan
Pertahanan, Jaminan
Sosial Wajib 4,69 4,38 7,17
15. Jasa Pendidikan 3,28 3,45 22,15
16. Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial 0,78 0,77 19,95
17. Jasa Lainnya 078 0,73 11,24
Jumlah 100,00 100,00
Pertumbuhan 12,23
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2015 (diolah).
Pertumbuhan nilai PDRB berdasarkan lapangan usaha pada
tahun 2014 sebesar 12,23%. Lapangan usaha kecuali administrasi
pemerintahan dan pertahanan, pertanian dan kehutanan, dan
pertambangan dan penggalian mempunyai pertumbuhan
berdasarkan harga konstan tahun 2000 di atas 10%. Beberapa
lapangan usaha bahkan mempunyai pertumbuhan di atas 20%,
seperti lapangan usaha pengadaan air, pengolahan sampah, limbah
dan daur ulang, informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, dan
transportasi dan pergudangan. Namun demikian keempat lapangan
usaha tersebut, mempunyai kontribusi PDRB berdasarkan harga
berlaku masing-masing di bawah 5%, bahkan untuk lapangan usaha
19
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang hanya
0,16% pada tahun 2014.
2.9.2.Lembaga Ekonomi
Lembaga ekonomi bank dan koperasi tersedia di Kabupaten
Indramayu. Bank tersedia baik BUMN maupun swasta. Untuk koperasi,
berdasarkan data dari Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan
Perdagangan, jumlah koperasi di Kabupaten Indramayu pada tahun 2014
sebanyak 954 koperasi dengan jumlah anggota sebanyak 151.132
anggota dan total asset sebesar 525.080.223,- ribu rupiah (Kabupaten
Indramayu Dalam Angka, 2015).
2.10. Pertanian
Komoditas yang dihasilkan Kabupaten Indramayu dari pertanian
dirinci dalam beberapa jenis yaitu tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.
2.10.1.Pertanian Tanaman Pangan
Tanaman pangan yang relatif luas di Kabupaten Indramayu
adalah padi. Terhadap 7 komoditas tanaman pangan, kontribusi luas
panen padi adalah 90,09% dengan jumlah produksi sebanyak
1.465.740,60 ton. Komoditi lain yang relatif besar adalah kedelai
dengan luas panen 22.014 ha (9,48%) dengan jumlah produksi
39.816,52 ton. Secara rinci luas panen dan produksi 7 komoditas
tanaman pangan tertera pada Tabel berikut.
20
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Tabel 2.7 Keragaan Pengusahaan Tanaman Pangan di Kabupaten
Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan Location Quotient
Kec. Kec. Krangkeng Kab. Indramayu LQ
Kedokanbunder Ha %
Komoditas Kedokanb
Ha % under
Ha % Krangkeng
Padi 3.930 87,78 4.688 97,46 0,97
209.114 90,09 1,44 1,08
Jagung 3 0,07 0 0,00 108 0,05 0,58 0,00
179 0,08 0,00 0,00
Ubi Kayu 2 0,04 0 0,00 29 0,01 0,00 0,00
68 0,03 0,31 0,00
Ubi Jalar 0 0,00 0 0,00 9,48 35,19 0,27
22.014 0,26 0,00
Kacang Tanah 0 0,00 0 0,00 604 100,0
Kedelai 132 2,95 122 2,54 232.116
Kacang Hijau 410 9,16 0 0,00
Jumlah 4.477 100,0 4.810 100,0
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016.
Komoditas yang mempunyai kontribusi luas panen yang besar di 2
kecamatan tersebut adalah padi. Di Kecamatan Kedokanbunder, luas
panen padi mempunyai kontribusi sebesar 87,78% namun hasil
perhitungan LQ < 1. Sementara di Kecamatan Krangkeng, luas tanaman
padi sawah juga mempunyai kontribusi paling besar, yakni 97,46% dan
hasil perhitungan LQ > 1. Padi merupakan komoditas basis di Kecamatan
Krangkeng.
Untuk melengkapi analisis LQ dilakukan penghitungan Shift-
share analysis (SSA). Analisis SSA merupakan teknik analisis untuk
memahami pergeseran struktur aktifitas dalam hal ini pengusahaan
komoditi di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi
(dengan cakupan wilayah lebih luas) dalam dua titik waktu. Pemahaman
struktur aktifitas dari hasil analisis Shift-share juga menjelaskan
kemampuan berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu
wilayah secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan wilayah
lebih luas. aktifitas yang memiliki keunggulan kompetitif berarti di
dalamnya memiliki lingkungan yang kondusif bagi aktifitas yang
bersangkutan.
21
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Gambar 2.1 Luas Panen Padi (Ha) Menurut Kecamatan di Kabupaten
Indramayu Tahun 2015.
22
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Komponen differensial menjelaskan bagaimana tingkat kompetisi
(competitiveness) suatu aktifitas dalam hal ini pengembangan komoditi
tertentu dibandingkan dengan pertumbuhan total pengembangan
komoditi tersebut dalam wilayah. Komponen ini juga menggambarkan
dinamika (keunggulan/ketidakunggulan) pengembangan komoditi
tertentu di sub wilayah tertentu terhadap pengembangan komoditi
tersebut di sub wilayah lain.
Data yang dipergunakan untuk analisis SSA adalah data
pengusahaan komoditas tanaman pangan di Kecamatan Kedokanbunder
dan Kecamatan Krangkeng terhadap Kabupaten Indramayu pada tahun
2014 (Kab. Indamayu Dalam Angka, 2015) dan 2015 (Kab. Indamayu
Dalam Angka, 2016). Hasil perhitungan SSA di Kecamatan
Kedokanbunder menunjukkan bahwa untuk komoditi yang mempunyai
nilai LQ > 1, hanya kacang hijau dan Jagung di Kecamatan Kedokanbunder
yang laju pertumbuhannya lebih besar dari laju pertumbuhan di
Kabupaten Indramayu dan nilai differensial positif (Lampiran 1 dan 2).
Dilihat dari kontribusinya terhadap luas panen tanaman pangan di
Kecamatan Kedokanbunder yang relatif besar, kacang hijau (9,16%)
nampaknya juga merupakan komoditi tanaman pangan andalan di
wilayah tersebut. Tanaman Padi walaupun merupakan komoditi basis di
Kecamatan Krangkeng dan untuk dua kecamatan tersebut kontribusi
pengusahaan juga besar, namun secara umum semua kecamatan di
Kabupaten Indramayu juga mengusahakan padi.
2.10.2. Pertanian Tanaman Buah-Buahan (Tahunan)
Pengusahaan tanaman buah-buahan di Kabupaten Indramayu
pada tahun 2015 yang mempunyai populasi besar adalah mangga
(70,2%) dan pisang (23,3%), sedangkan untuk Kecamatan
Kedokanbunder adalah mangga (78,5%) dan Krangkeng adalah
pisang (95,6%). Secara rinci jumlah pohon dari 5 komoditas buah-
buahan disajikan pada Tabel 2.8.
23
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Tabel 2.8 Keragaan Pengusahaan Komoditas Buah-Buahan di Kabupaten
Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan Location Quotient
Kec. Kedokan Kec. Krangkeng Kab. Indramayu LQ
Bunder Pohon (%)
Komoditas Kedokan
Pohon (%) Bunder
Pohon % Krangkeng
1,12
Mangga 5.793 78,5 670 2,6 491.494 70,2 0,70 0,04
3,8 2,35 0,09
Jambu Biji 196 2,7 87 0,3 26.535 0,8 0,46 0,69
3,36 4,10
Sawo 136 1,8 140 0,5 5.496 23,3 0,46
1,9
Pisang 786 10,6 24.563 95,6 163.422
100,0
Pepaya 473 6,4 227 0,9 13.356
Jumlah 7.384 100,0 25.687 100,0 700.303
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016.
Hasil perhitungan LQ terhadap komoditi yang mempunyai
kontribusi besar di Kecamatan Kedokanbunder dan Krangkeng tersebut
juga mempunyai nilai LQ > 1. Namun demikian hasil perhitungan SSA
terhadap 2 komoditi tersebut mengalami penurunan dan hanya mangga
di Kedokanbunder yang lebih kecil dari laju penurunan di Kabupaten
Indramayu (Lampiran 3 dan 4).
2.10.3. Pertanian Tanaman Hortikultura Semusim (Sayuran)
Pengusahaan tanaman hortikultura semusim di Kecamatan
Krangkeng yang tersedia hanya bawang merah yaitu 76 ha. Karena
itu dalam perhitungan LQ hanya dilakukan di Kecamatan
Kedokanbunder. Tanaman hortikultura semusim yang dominan di
Kabupaten Indramayu adalah kacang panjang dan ketimun,
demikian juga dengan di Kecamatan Kedokanbunder (Tabel 2.9).
Tabel 2.9 Luas Panen Tanaman Hortikultura Semusim di Kabupaten
Indramayu Tahun 2015 dan Perhitungan Location Quotient
Kec. Kedokan Kab. Indramayu
Komoditas Bunder LQ
Ha (%) Ha % 1,20
723 42,2 0,41
Kacang Panjang 43 50,6 342 20,0 1,09
554 32,4 1,08
Terong 7 8,2 93
5,4
Ketimun 30 35,3 1.712 100,0
Kangkung 5 5,9
Jumlah 85 100,0
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016.
24
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Berdasarkan nilai LQ, kacang panjang dan ketimun mempunyai nilai
LQ > 1. Hasil perhitungan SSA menunjukkan bahwa untuk komoditi yang
mempunyai nilai LQ > 1 tersebut hanya pengusahaan kacang panjang
yang laju pertumbuhannya lebih besar dari laju pertumbuhan di
Kabupaten Indramayu dan nilai differensial positif (Lampiran 5).
2.10.4. Perkebunan
Pengusahaan tanaman perkebunan di Kaupaten Indramayu
jenis komoditasnya terbatas. Dalam Kabupaten Indramayu dalam
angka, komoditas perkebunan yang tersedia datanya adalah kelapa,
kapuk, tebu, dan melinjo. Untuk tanaman melinjo tersedia data
dalam jumlah pohon dimana untuk populasi di Kabupaten
Indramayu terdata 55.314 pohon dan di Kecamatan Kedokanbunder
215 pohon serta 147 pohon di Kecamatan Krangkeng. Dari luas
tanam komoditas perkebunan yang mempunyai kontribusi besar di
Kabupaten Indramayu adalah kelapa (76,63%). Sejalan dengan
wilayah kabupaten, di Kecamatan Kedokanbunder dan Krangkeng
populasi tanaman perkebunan juga didominasi oleh kelapa (Tabel 2.10).
Tabel 2.10 Luas Pengusahaan Tanaman Perkebunan di Kabupaten
Indramayu Tahun 2015
Komoditas Kedokanbunder Krangkeng Kab. Indramayu
(Ha) (%) (Ha) (%)
(Ha) %
1. Kelapa 399,00 97,38 157,00 91,81 4.500,15 76,63
2. Kapuk 10,74 2,62 14,00 8,19 539,32 9,18
3. Tebu 0,00 0,00 0,00 0,00 833,00 14,18
Jumlah 409,74 100,00 171,00 100,00 5.872,47 100,00
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016.
2.10.5. Peternakan
Populasi ternak besar di Kabupaten Indramayu didominasi oleh
ternak sapi potong (87,95%) dan kerbau (10,59%). Sedangkan untuk
ternak kecil, populasi ternak domba mendominasi jumlah ternak kecil di
Kabupaten Indramayu dengan kontribusi 78,01% atau 277.213 ekor.
25
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Populasi ternak unggas didominasi oleh ayam ras pedaging dengan
kontribusi 74,73% atau 9,255,870 ekor dan itik dengan kontribusi 15,29%
atau 1,893,292 ekor. Secara rinci populasi ternak dan kontribusinya di
Kabupaten Indramayu disajikan pada Tabel 2.11.
Tabel 2.11 Populasi Ternak di Kabupaten Indramayu Tahun 2015
Jenis Ternak Populasi Keterangan
(Ekor)
Ternak Besar
1. Sapi Perah 157 1.24 % Populasi
2. Sapi Potong 11.092 87.95 % Populasi
3. Kerbau 1.335 10.59 % Populasi
4. Kuda 28 0.22 % Populasi
Jumlah 12.612 100,00
Ternak Kecil
1. Kambing 78.164 21.99 % Populasi
2. Domba 277.213 78.01 % Populasi
Jumlah 355.377 100,00
Ternak Unggas
1. Ayam Ras Pedaging 9.255.870 74.73 % Populasi
2. Ayam Kampung 1.236.749 9.99 % Populasi
3. Itik 1.893.292 15.29 % Populasi
Jumlah 12.385.911 100,00
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016.
2.10.6. Perikanan
Perikanan di Kabupaten Indramayu tersedia data hanya perikanan
tangkap. Berdasarkan data Kabupaten Indramayu Dalam Angka tahun
2016, produksi perikanan tangkap mencapai 126.782,93 ton dengan nilai
Rp 2.139.360.709,60. Kondisi tahun 2014 menunjukkan bahwa produksi
ikan laut segar pada bulan Nopember adalah yag paling besar, yakni
mencapai 12.971,89 ton.
26
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
2.10.7. Kehutanan
Jenis tanaman kehutanan yang diusahakan di wilayah Kabupaten
Indramayu adalah kayu jati, kayu putih, dan akasia. Dari ketiga jenis
tanaman tersebut kayu putih adalah yang terluas (Tabel 2.12).
Tabel 2.12 Luas Tanaman Kehutanan di Kabupaten Indramayu tahun 2015
Jenis Luas (Ha)
1. Kayu Jati 38.350
2. Kayu Putih
3. Kayu Acasia 341.970
79.400
Jumlah
Sumber: Kabupaten Indramayu Dalam Angka, 2016. 459.720
2.11. Indeks Pembangunan Desa
Indeks Pembangunan Desa (IPD) adalah indeks komposit yang
disusun menggunakan beberapa dimensi, variabel, dan indikator
kuantitatif untuk menggambarkan tingkat kemajuan desa pada suatu
waktu. Apabila IPD diukur secara berkala dan ditampilkan antar waktu,
maka dapat diperoleh dinamika dan perubahan tingkat kemajuan desa.
Dinamika dan perubahan tingkat kemajuan desa secara tidak langsung
merupakan ukuran kinerja pembangunan di desa atau kawasan
perdesaan.
Pengukuran IPD berdasarkan 5 Dimensi,
12 Variabel, dan 42 Indikator menghasilkan
ukuran komposit yang dapat digunakan
sebagai bahan penyusunan tipologi desa
yaitu: Desa Tertinggal, Desa Berkembang, dan
Desa Mandiri (Bappenas, 2015).
27
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
1. Desa Tertinggal, adalah desa dengan nilai IPD kurang dari sama
dengan 50.
2. Desa Berkembang, adalah desa dengan nilai IPD lebih dari 50 namun
kurang dari sama dengan 75.
3. Desa Mandiri, Desa yang telah terpenuhi pada aspek kebutuhan sosial
dasar, infrastruktur dasar, sarana dasar, pelayanan umum, dan
penyelenggaraan pemerintahan desa dan secara kelembagaan telah
memiliki keberlanjutan. Desa Mandiri merupakan desa dengan nilai
IPD lebih dari 75.
Selain itu, hasil
pengukuran IPD menyediakan
informasi yang dapat
digunakan sebagai bahan: (a)
penetapan target pencapaian
dan lokasi sasaran RPJMN 2015
– 2019, dan (b) evaluasi
“kinerja pembangunan desa”.
IPD tahun 2014 ini
dimungkinkan menjadi baseline, perlu dipertimbangkan upaya
penyediaan data dan pengukuran serupa di masa datang. Berdasarkan
Data Podes (2014), hasil perhitungan Indeks Pembangunan Desa di
Kabupaten Indramayu yang dilakukan oleh Bappenas bekerjasama
dengan BPS dengan jumlah desa 309 Desa terdapat Desa Tertinggal
sebanyak 0 Desa (0%), Desa Berkembang sebanyak 273 Desa (88,35%),
dan Desa Mandiri sebanyak 36 Desa (11,65%).
28
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
BAB III
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
KABUPATEN INDRAMAYU
3.1. Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Indramayu
(2010)3 kebijakan dan strategi penetapan struktur ruang terkait dengan
sistem perdesaan, sistem perkotaan, fungsi kawasan, serta sistem
jaringan prasarana wilayah di Kabupaten Indramayu. Kebijakan dan
strategi perencanaan tata ruang disusun dalam rangka mewujudkan
rencana tata ruang ruang berkelanjutan dan operasional, serta
mengakomodasi paradigma baru dalam perencanaan. Kebijakan dan
strategi perencanaan tata ruang, terdiri dari:
1. Pengendalian dan pengembangan pemanfaatan lahan pertanian.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan dan mengembangkan
pemanfaatan lahan pertanian sesuai dengan kaidah penataan ruang,
dengan strategi:
a. Mengendalikan alih fungsi lahan pertanian.
b. Mengembangkan produktivitas pertanian.
c. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung kegiatan
pertanian.
d. Mengembangkan irigasi pertanian.
e. Mengoptimalkan kawasan pertanian lahan basah.
f. Mengoptimalkan kawasan pertanian lahan kering.
g. Menetapkan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
h. Mengembangkan kawasan pusat pengembangan agropolitan.
2. Pengoptimalan produktivitas kawasan peruntukan perikanan.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengoptimalkan produktivitas kawasan
peruntukan perikanaan sehingga menjadi lebih berdaya guna dan
berhasil guna, dengan strategi:
3 Materi teknis RTRWK Indramayu 2011 – 2031, Bappeda Kabupaten Indramayu.
29
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
a. Mengembangkan perikanan tangkap dan budidaya.
b. Mengoptimalkan produktivitas kawasan peruntukan perikanan.
c. Mengembangkan minapolitan.
d. Mengembangkan industri pengolahan hasil perikanan
3. Pengelolaan dan pemanfaatan potensi hutan.
Kebijakan ini bertujuan untuk merinci arahan pengelolaan dan
pemanfaatan potensi hutan, dengan strategi:
a. Mengelola potensi sumber daya hutan.
b. Meningkatkan produksi mutu dan tanaman perkebunan.
c. Memanfaatkan potensi tanah terlantar dan lahan kritis.
4. Pengembangan kawasan industri.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik investasi,
dengan strategi:
a. Mengembangkan kawasan peruntukkan industri.
b. Mengembangkan industri kecil dan menengah.
c. Mengembangkan pusat promosi dan pemasaran hasil industri kecil
dan menengah.
5. Pengembangan kawasan pariwisata terpadu berbasis potensi alam.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengembangkan kawasan peruntukan
pariwisata, dengan strategi:
a. Mengembangkan obyek wisata unggulan.
b. Mengembangkan zona wisata terpadu di bagian utara wilayah
kabupaten.
c. Mengembangkan sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan.
6. Pengembangan usaha pertambangan mineral, minyak dan gas bumi.
Kebijakan ini bertujuan mengoptimalkan, menata, dan mengendalikan
usaha pertambangan mineral, minyak dan gas bumi, dengan strategi:
a. Mengoptimalkan usaha pertambangan mineral, minyak dan gas
bumi.
30
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
b. Menata dan mengendalikan usaha pertambangan mineral, minyak
dan gas bumi.
7. Pengembangan kawasan permukiman.
Kebijakan ini bertujuan menyediakan sarana dan prasarana
permukiman, meningkatkan kualitas, menata kawasan, serta
mengendalikan pertumbuhannya, dengan strategi:
a. Menjamin ketersediaan sarana dan prasarana permukiman.
b. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana permukiman.
c. Menata kawasan permukiman.
d. Mengendalikan pertumbuhan permukiman.
8. Pengembangan pusat-pusat pelayanan.
Kebijakan ini bertujuan membentuk pusat kegiatan yang terintegrasi
dan berhierarki serta meningkatkan interaksi yang sinergis antara
pusat kegiatan perkotaan dan perdesaan, dengan strategi:
a. Membentuk pusat kegiatan yang terintegrasi dan berhirarki.
b. Meningkatkan interaksi antara pusat kegiatan perdesaan dan
perkotaan secara sinergis menjamin ketersediaan sarana dan
prasarana permukiman.
9. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah.
Kebijakan ini bertujuan mengembangkan sistem jaringan prasarana
wilayah, dengan strategi:
a. Mengembangkan prioritas jaringan sarana dan prasarana wilayah
dalam mendukung kegiatan pertanian, perikanan, kehutanan dan
industri.
b. Mengembangkan dan memantapkan jaringan jalan dalam
mendukung sistem perkotaan, mendorong pertumbuhan dan
pemerataan wilayah.
c. Mengembangkan infrastruktur pendukung pertumbuhan wilayah.
d. Mengoptimalkan dan mengembangkan jaringan kereta api.
e. Meningkatkan jangkauan pelayanan dan mutu sistem jaringan
telekomunikasi.
31
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
f. Meningkatkan sistim dan optimalisasi sistem jaringan sumber daya
air.
g. Mengembangkan pelayanan prasarana energi.
h. Mengembangkan prasarana pengelolaan lingkungan.
i. Menetapkan jalur evakuasi kawasan rawan bencana.
10. Pengendalian dan pelestarian kawasan lindung
Kebijakan ini bertujuan mengendalikan dan melestarikan kawasan
lindung, dengan strategi:
a. Memulihkan fungsi lindung.
b. Mencegah perkembangan kegiatan budidaya di kawasan lindung.
c. Meningkatkan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan
swasta dalam pengelolaan kawasan.
d. Menghindari kawasan yang rawan bencana sebagai kawasan
terbangun.
11. Pengembangan kawasan strategis sesuai kepentingan fungsi daya
dukung lingkungan.
Kebijakan ini bertujuan mengembangkan kawasan strategis sesuai
dengan fungsi daya dukung lingkungannya, dengan strategi:
a. Meningkatkan kegiatan yang mendorong pengembalian fungsi
lindung.
b. Menjaga kawasan lindung dari kegiatan budidaya.
c. Mempertahankan luasan kawasan lindung.
d. Meningkatkan keanekaragaman hayati kawasan lindung.
e. Mengembangkan ruang terbuka hijau pada kawasan perlindungan
setempat dan ruang evakuasi bencana alam.
12. Pengembangan kawasan strategis sesuai kepentingan pertumbuhan
ekonomi.
Kebijakan ini bertujuan mengembangkan kawasan strategis sesuai
dengan kepentingan pertumbuhan ekonominya, dengan strategi:
a. Mengembangkan kegiatan ekonomi skala besar.
b. Menyediakan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.
32
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
c. Menetapkan hierarki simpul-simpul pertumbuhan ekonomi
wilayah.
d. Mengembangkan kerjasama dalam penyediaan tanah.
e. Memanfaatkan potensi tanah terlantar dan lahan kritis.
13. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara.
Kebijakan ini bertujuan meningkatkan fungsi kawasan untuk
pertahanan dan keamanan Negara, dengan strategi:
a. Mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi
khusus Pertahanan dan Keamanan.
b. Mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di
sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi
pertahanan dan keamanan.
c. Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya
tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang
mempunyai fungsi khusus pertahanan dan keamanan.
d. Turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan
keamanan.
3.2. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Indramayu
3.2.1. Sistem Pusat Kegiatan
Pusat kegiatan di wilayah kabupaten merupakan simpul
pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat
di wilayah kabupaten, yang terdiri atas:
1. PKN yang berada di wilayah kabupaten.
2. PKW yang berada di wilayah kabupaten.
3. PKL yang berada di wilayah kabupaten.
4. PKSN yang berada di wilayah kabupaten.
5. Pusat-pusat lain di dalam wilayah kabupaten yang wewenang
penentuannya ada pada pemerintah daerah kabupaten, yaitu:
a. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) merupakan kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau
beberapa desa.
33
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
b. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
Sistem pusat kegiatan ini terdiri atas sistem perkotaan dan system
perdesaan.
3.2.1.1. Sistem Perkotaan
Kawasan perkotaan, karena jenis kegiatan, intensitas kegiatan serta
tingginya kepadatan penduduknya, membutuhkan daerah yang memiliki
daya dukung lingkungan yang memadai, tidak membutuhkan biaya tinggi
untuk pemanfaatannya serta aman. Di sisi lain pengembangan perkotaan
juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Kedua hal tersebut
pada dasarnya merupakan prinsip dasar dalam konsep pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan Kabupaten Indramayu ke depan
diharapkan dapat menjamin keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi
masa kini dan generasi masa depan.
Sistem perkotaan adalah kerangka tata ruang yang tersusun atas
konstelasi pusat- pusat kegiatan sosial, ekonomi dan budaya yang satu
sama lain saling berkaitan membentuk sistem pelayanan perkotaan
secara berjenjang. Sistem perkotaan di kabupaten Indramayu terdiri atas:
1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) maksudnya pusat pelayanan yang
dipandang dari posisi pelayanan wilayah dalam lingkup regional dan
nasional. Perkotaan Indramayu ditetapkan sebagai PKW di Provinsi
Jawa Barat. PKW Indramayu meliputi : Kelurahan Paoman, Kelurahan
Margadadi, Kelurahan Lemahabang, Kelurahan Lemahmekar,
Kelurahan Karanganyar, Kelurahan KarangIndramayu, Kelurahan
Kepandean, Kelurahan Bojongsari, Desa Pekandangan, Desa Singaraja,
Desa Singajaya, Desa Sindang, Desa Dermayu, Desa Penganjang, Desa
Tegalurung, dan Desa Balongan dengan wilayah layanan seluruh
kabupaten.
34
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) maksudnya pusat pelayanan yang melayani
dalam lingkup beberapa kecamatan dalam kabupaten. PKL di
Kabupaten Indramayu meliputi:
a. PKL Jatibarang.
PKL Jatibarang berupa kawasan perkotaan Jatibarang yang
mencakup Desa Jatibarang Baru, Desa Jatibarang dan Desa Bulak
dengan wilayah layanan Kecamatan Jatibarang, Kecamatan Sliyeg,
Kecamatan Kertasemaya, Kecamatan Widasari, Desa
Cadangpinggan Kecamatan Sukagumiwang dan sebagian
Kecamatan Lohbener yang terdiri dari Desa Rambatan Kulon, Desa
Sindangkerta, Desa Pamayahan, Desa Lohbener, Desa Legok, Desa
Waru dan Desa Bojongslawi.
b. PKL Losarang.
PKL Losarang berupa kawasan perkotaan Losarang yang mencakup
Desa Jangga, Desa Puntang, Desa Krimun dan Desa Losarang
dengan wilayah layanan Kecamatan Losarang, Kecamatan Arahan,
sebagian Kecamatan Lelea meliputi Desa Cempeh, Desa Lelea, Desa
Tamansari, Desa Panguban, Desa Telagasari dan Desa Langengsari,
sebagian Kecamatan Lohbener yang terdiri dari Desa Kiajaran
Kulon, Kiajaran Wetan, Desa Langut, Desa Larangan dan Desa
Lanjan.
c. PKL Haurgeulis.
PKL Haurgeulis berupa kawasan perkotaan Haurgeulis yang
mencakup Desa Haurgeulis, Desa Cipancuh, Desa Sukajati, Desa
Wanakaya, Desa Kertanegara, Desa Mekarjati dan Desa
Karangtumaritis dengan wilayah layanan Kecamatan Haurgeulis,
sebagian Kecamatan Anjatan yang terdiri dari Desa Bugis, Desa
Lempuyang, Desa Mangunjaya, Desa Salamdarma, Desa Bugistua,
Desa Kedungwung dan Desa Wanguk, sebagian Kecamatan Bongas
35
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
yang terdiri dari Desa Cipaat, Desa Bongas, Desa Sidamulya, dan
Desa Cipedang, serta sebagian Kecamatan Kroya yang terdiri dari
Desa Jayamulya, Desa Sukamelang, Desa Temiyang dan Desa
Temiyangsari.
d. PKL Karangampel.
PKL Karangampel berupa kawasan perkotaan Karangampel yang
mencakup Desa Karangampel, Desa Sendang, Desa Karangampel
Kidul, Desa Mundu, Desa Dukuhjeruk dan Desa Dukuhtengah
dengan wilayah layanan Kecamatan Karangampel, Kecamatan
Juntinyuat, Kecamatan Krangkeng dan Kecamatan Kedokanbunder.
e. PKL Patrol.
PKL Patrol berupa kawasan perkotaan Patrol yang mencakup Desa
Patrol, Desa Patrol Lor dan Desa Patrol Baru dengan wilayah
layanan Kecamatan Patrol, Kecamatan Sukra, dan sebagian
Kecamatan Anjatan meliputi Desa Cilandak Lor, Desa Anjatan Utara,
Desa Cilandak, Desa Anjatan, Desa Anjatan Baru dan Desa Kopyah.
f. PKL Kandanghaur.
PKL Kandanghaur berupa kawasan perkotaan Kandanghaur yang
mencakup Desa Eretan Wetan, Desa Eretan Kulon, Desa Bulak dan
Desa Pareangirang dengan wilayah layanan Kecamatan
Kandanghaur, sebagian Kecamatan Gabuswetan meliputi Desa
Babakanjaya, Desa Kedungdawa, Desa Gabuskulon, Desa
Sekarmulya, Desa Rancamulya, Desa Rancahan, Desa Gabuswetan,
Desa Drunten Wetan dan Desa Drunten Kulon, sebagian Kecamatan
Bongas meliputi Desa Plawangan, Desa Kertamulya, Desa Kertajaya
dan Desa Margamulya.
g. PKL Gantar.
PKL Gantar berupa kawasan perkotaan Gantar yang mencakup Desa
Gantar dengan wilayah layanan Kecamatan Gantar, sebagian
36
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
Kecamatan Kroya meliputi Desa Kroya, Desa Tanjungkerta, Desa
Sukaslamet dan Desa Sumbon.
3. Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp).
Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) maksudnya pusat pelayanan yang
dipromosikan untuk kemudian hari ditetapkan sebagai PKL. PKLp di
Kabupaten Indramayu meliputi:
a. PKLp Tukdana.
PKLp Tukdana berupa kawasan perkotaan Tukdana yang mencakup
Desa Tukdana dan Desa Lajer dengan wilayah layanan Kecamatan
Tukdana, Kecamatan Bangodua dan sebagian Kecamatan
Sukagumiwang meliputi Desa Cibeber, Desa Gunungsari dan Desa
Sukagumiwang.
b. PKLp Terisi.
PKLp Terisi berupa kawasan perkotaan Terisi yang mencakup Desa
Rajasinga, Desa Karangasem dan Desa Cibereng dengan wilayah
layanan Kecamatan Terisi, Kecamatan Cikedung, Desa
Kedokangabus Kecamatan Gabuswetan dan sebagian kecamatan
Lelea meliputi Desa Tugu, Desa Tugulpayung, Desa Tempel Kulon
dan Desa Nunuk.
4. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK).
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) maksudnya kawasan pusat pelayanan
perkotaan yang melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa
desa. PPK di Kabupaten Indramayu meliputi:
a. PPK Anjatan berupa kawasan perkotaan Anjatan yang mencakup
Desa Anjatan Utara, Desa Bugis, Desa Anjatan, Desa Anjatan Baru,
Desa Mangunjaya, Desa Salamdarma dan Desa Bugistua dengan
wilayah layanan Kecamatan Anjatan.
b. PPK Widasari berupa kawasan perkotaan Widasari yang mencakup
Desa Ujungjaya, Desa Ujunggaris, Desa Widasari dan Desa
Kongsijaya dengan wilayah layanan Kecamatan Widasari.
37
Kawasan Perdesaan Agroeduwisata
di Kabupaten Indramayu
c. PPK Sukra berupa kawasan perkotaan Sukra yang mencakup Desa
Sukra dan Desa Sukra Wetan dengan wilayah layanan di Kecamatan
Sukra.
d. PPK Arahan berupa kawasan perkotaan Arahan yang mencakup
Desa Arahan Lor dengan wilayah layanan Kecamatan Arahan.
e. PPK Cantigi berupa kawasan perkotaan Cantigi yang mencakup
Desa Panyingkiran kidul dengan wilayah layanan Kecamatan
Cantigi.
f. PPK Pasekan berupa kawasan perkotaan Pasekan yang mencakup
Desa Pasekan dengan wilayah layanan Kecamatan Pasekan.
g. PPK Kedokanbunder berupa kawasan perkotaan Kedokanbunder
yang mencakup Desa Kedokanbunder dengan wilayah layanan
Kecamatan Kedokanbunder.
h. PPK Sliyeg berupa kawasan perkotaan Sliyeg yang mencakup Desa
Sliyeg dengan wilayah layanan Kecamatan Sliyeg.
i. PPK Bangodua berupa kawasan perkotaan Bangodua yang
mencakup Desa Tegalgirang dengan wilayah layanan kecamatan
Bangodua.
j. PPK Sukagumiwang berupa kawasan perkotaan Sukagumiwang
yang mencakup Desa Sukagumiwang dengan wilayah layanan
Kecamatan Sukagumiwang.
k. PPK Lelea berupa kawasan perkotaan Lelea yang mencakup Desa
Tamansari dan Desa Lelea dengan wilayah layanan Kecamatan
Lelea.
l. PPK Cikedung berupa kawasan perkotaan Cikedung yang mencakup
Desa Cikedung Lor dengan wilayah layanan Kecamatan Cikedung.
m. PPK Gabuswetan berupa kawasan perkotaan Gabuswetan yang
mencakup Desa Gabuswetan dengan wilayah layanan Kecamatan
Gabuswetan.
n. PPK Kroya berupa kawasan perkotaan Kroya yang mencakup Desa
Kroya dengan wilayah layanan Kecamatan Kroya.
o. PPK Bongas berupa kawasan perkotaan Bongas yang mencakup
Desa Margamulya dengan wilayah layanan Kecamatan Bongas.
38