The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by edismanis85, 2023-01-20 14:02:18

MODUL UAS PANCASILA KELOMPOK 2

Membuat Modul UAS BAB 1 - 13

MODUL UAS PANCASILA DOSEN PENGAMPU : ARIEF RACHMAWAN ASSEGAF DI SUSUN OLEH : 1. Edistya Amanda Putri ( 2234021164 ) 2. Marina Margaretha Siahaan ( 2234021086 ) 3. Ramadhan Putra Pratama (2234021143) 4. Adhika Ichwan saniputra ( 2234021029 ) FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA 2023


KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugrah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Pancasila Sebagai Ideologi. Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan Makalah ini selain untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen pengajar, juga untuk lebih memperluas pengetahuan para mahasiswa khususnya bagi penulis. Penulis telah berusaha untuk dapat menyusun Makalah ini dengan baik, namun penulis pun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan kami sebagai manusia biasa. Oleh karena itu jika didapati adanya kesalahan-kesalahan baik dari segi teknik penulisan, maupun dari isi, maka kami memohon maaf dan kritik serta saran dari dosen pengajar bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh kami untuk dapat menyempurnakan makalah ini terlebih juga dalam pengetahuan kita bersama 1


DAFTAR ISI DAFTAR ISI……………………………………………………………………………. 2 BAB 1…………………………………………………………………………………… 5 SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS DAN POLITIK PENDIDIKAN PANCASILA 1.1. Sumber Historis Pendidikan Pancasila…………………………………………… 10 1.2. Sumber Sosiologis Pendidikan Pancasila………………………………………... 11 1.3. Sumber Politik Pendidikan Pancasila……………………………………………. 14 BAB 2……………………………………………………………………………………. 18 TANTANGAN PENDIDIKAN PANCASILA 2.1. Pengertian Pendidikan Pancasila……………………………………………….. 19 2.2. Landasan Tantangan Pendidikan Pancasila…………………………………….. 26 BAB 3………………………………………………………………………………….... 30 KONSEP PANCASILA DALAM ARUS SEJARAH BANGSA INDONESIA 3.1. Periode Pengusulan Pancasila……………………………………………………. 30 3.2. Periode Perumusan Pancasila……………………………………………………. 32 3.3. Periode Pengesahan Pancasila…………………………………………………… 34 BAB 4 ……………………………………………………………………………………. 38 SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, DAN POLITIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT 4.1. Sumber Historis Pancasila………………………………………………………. 38 4.2. Sumber Sosiologis Pancasila……………………………………………………. 38 BAB 5 …………………………………………………………………………………… 44 ESENSI PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA 5.1. Pendahuluan………………………………………………………………………. 44 5.2. Pembahasan………………………………………………………………………. 45 BAB 6…………………………………………………………………………………….. 52 DINAMIKA PANCASILA DALAM SEJARAH BANGSA INDONESIA 6.1. Konsep Negara…………………………………………………………………… 52 6.2. Fungsi Negara………………………………………………………………….. 53 6.3. Unsur – unsur Negara………………………………………………………….. 54 2


BAB 7 …………………………………………………………………………………. 64 SUMBER HISTORIS,SOSIOLOGIS,DAN POLITIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT 7.1. Sumber Historis Pancasila Sebagai System Filsafat…………………………… 66 7.2. Sumber Sosiologis Pancasila Sebagai Sistem Filsafat…………………………. 67 7.3. Sumber Politis Pancasila Sebagai Sistem Filsafat……………………………… 69 BAB 8 ………………………………………………………………………………….. 73 PANCASILA SEBAGAI DASAR PENGEMBANG ILMU 8.1. Pancasial Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu ………………………….. 73 8.2. Bertanya Alasan Diperlukannya Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu……. 75 8.3. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politis tentang Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di Indonesia………………………………………………………………………………. 76 8.4. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu…………………………………………………………………………………………………. 82 BAB …………………………………………………………………………………... 85 PENGERTIAN DAN URGENSI PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA DAN KONSEP PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA 9.1. Pengertian Pancasila…………………………………………………………... 85 9.2. Pengertian Sistem……………………………………………………………………………………………………. 85 9.3. Pengertian Etika……………………………………………………………………………………………………….. 87 9.4. Konsep Pancasila sebagai Sistem Etika dalam Kehidupan…………………… 88 BAB 10………………………………………………………………………………… 96 URGENSI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA 10.1. Kedudukan Pancasila Sebagai Ideologi Negara……………………………… 96 10.2. Urgensi Pancasila Sebagai Ideologi Negara …………………………………. 100 3


BAB 11………………………………………………………………………………… 106 SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, DAN POLITIS PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA 11.1. Ideologi Pancasila……………………………………………………………. 106 11.2. Sumber Historis Pancasila sebagai Ideologi Negara………………………… 111 11.3. Sumber Sosiologis Pancasila sebagai Ideologi Negara……………………… 113 11.4. Sumber Politis Pancasila sebagai Ideologi Negara………………………….. 113 11.5. Peranan dan Fungsi Ideologi Pancasila bagi Bangsa Indonesia…………….. 114 BAB 12………………………………………………………………………………... 119 KONSEP PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA 12.1. Pengertian Pancasila dan Ideologi…………………………………………… 120 12.2. Pengertian Pancasilla sebagai Ideologi……………………………………….. 121 12.3. Makna Pancasila sebagai Ideologi……………………………………………... 123 12.4. Pandangan Para Ahli Mengenai Makna dari Pancasila sebagai Ideologi Negara…………………………………………… 125 12.5. Fungsi Pancasila sebagai Ideologi Negara……………………………………… 128 BAB 13…………………………………………………………………………………… 131 PENDIDIKAN ANTIKORUPSI 13.1. Pengertian Korupsi dan Pendidikan Antikorupsi……………………………….. 131 13.2. Prinsip –prinsip Antikoruspsi…………………………………………………… 141 4


BAB 1 SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS DAN POLITIK PENDIDIKAN PANCASILA MENGGALI SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, DAN POLITIK TENTANG PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA. Masih ingatkah sejak kapan Anda mulai mengenal istilah pendidikan kewarganegaraan (PKn)? Bila pertanyaan ini diajukan kepada generasi yang berbeda maka jawabannya akan sangat beragam. Mungkin ada yang tidak mengenal istilah PKn terutama generasi yang mendapat mata pelajaran dalam Kurikulum 1975. Mengapa demikian? Karena pada kurikulum 1975 pendidikan kewarganegaraan dimunculkan dengan nama mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila disingkat PMP. Demikian pula bagi generasi tahun 1960 awal, istilah pendidikan kewarganegaraan lebih dikenal Civics. Adapun sekarang ini, berdasar Kurikulum 2013, pendidikan kewarganegaraan jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan nama mata pelajaran PPKn. Perguruan tinggi menyelenggarakan mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Buku pelajaran dapat menunjang pendidikan kewarganegaraan suatu negara, mengapa? Untuk memahami pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, pengkajian dapat dilakukan secara historis, sosiologis, dan politis. Secara historis, pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi telah dimulai jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. PKn pada saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak dilakukan pada tataran sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin negarabangsa. Dalam pidato-pidatonya, para pemimpin mengajak seluruh rakyat untuk mencintai tanah air dan bangsa Indonesia. Seluruh pemimpin bangsa membakar semangat rakyat untuk mengusir penjajah yang hendak kembali menguasai dan menduduki Indonesia yang telah dinyatakan merdeka. Pidato-pidato dan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para pejuang, serta kyai-kyai di pondok pesantren yang mengajak umat berjuang mempertahankan tanah air morupakan PKn dalam dimensi sosial kultural. Inilah sumber PKn dari aspek sosiologis. PKn dalam dimensi sosiologis sangat diperlukan oleh masyarakat dan akhirnya negara-bangsa untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan eksistensi negara-bangsa. 5


Upaya pendidikan kewarganegaraan pasca kemerdekaan tahun 1945 beham dilaksanakan di sekolah-sekolah hingga terbitnya buku Civics pertama di Indonesia yang berjudul Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia (Civics) yang disusun bersama oleh Mr. Soepardo, Mr. M. Hoetaceroek, Soaroyo Warsid, Soemardjo, Chalid Rasjidi, Soekamo, dan Mr. J.C.T. Simorangkir. Pada cetakan kedua, Menteri Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, Prijono (1960), dalam sambutannya menyatakan bahwa setelah keluarnya dekrit Presiden kembali kepada UUD 1945 sudah sewajarnya dilakukan pembaharuan pendidikan nasional. Tim Pemalis diberi tugas membuat buku pedoman mengenai kewajiban-kewajiban dan hakhak warga negara Indonesia dan sebab-sebab sejarah serta tujuan Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Prijono, buku Manusia dan Manjarakat Baru Indonesia identik dengan istilah "Staatsburgerkunde" (Jerman), "Civica" (Inggris), atau "Kewarganegaraan" (Indonesia). Secara politis, pendidikan kewarganegaraan malai dikenal dalam pendidikan sekolah dapat digali dari dokumen kurikulum sejak tahun 1957 sebagaimana dapat diidentifikasi dari pernyataan Somantri (1972) bahwa pada masa Orde Lama mulai dikenal istilah: (1) Kewarganegaraan (1957); (2) Civics (1962); dan (3) Pendidikan Kewargaan Negara (1968). Pada masa awal Orde Lama sekitar tahun 1957, isi mata pelajaran PKn membahas cara pemerolehan dan kehilangan kewarganegaraan, sedangkan dalam Civics (1961) lebih banyak membahas tentang sejarah Kebangkitan Nasional, UUD, pidato-pidato politik kenogaraan yang terutama diarahkan untuk "nation and character building" bangsa Indonesia. Bagaimana sumber politis PKn pada saat Indonesia memasuki era baru, yang disebut Orde Baru? Pada awal pemerintahan Orde Baru, Kurillum sekolah yang berlaku dinamakan Kurikulum 1968. Dalam kurikulum tersebut di dalamnya tercantum mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara. Dalam mata pelajaran tersebut materi maupun metode yang bersifat indoktrinatif dihilangkan dan diubah dengan materi dan metode pembelajaran baru yang dikelompokkan menjadi Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila. Dalam Kurikulum 1968 untuk jenjang SMA, mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara termasuk dalam kelompok pembina Jiwa Pancasila bersama Pendidikan Agama, bahasa Indonesia dan Pendidikan Olah Raga. Mata pelajaran Kewargan Negara di SMA berintikan: (1) Pancasila dan UUD 1945; (2) Ketetapan-ketetapan MPRS 1966 dan selanjutnya; dan (3) Pengetahuan umum tentang PBB. 6


Dalam Kurikulum 1968, mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran wajib untuk SMA. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan korelasi, artinya mata pelajaran PKn dikorolanikan dengan mata pelajaran lain, seperti Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, Hak Asasi Manusia, dan Ekonomi, sehingga mata pelajaran Pendidikan Kewargan Negara menjadi lebih hidup, menantang, dan bermakna. Kurikulum Sekolah tahun 1968 akhirnya mengalami perubahan menjadi Kurikulum Sekolah Tahun 1975. Nama mats pelajaran pun berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila dengan kajian materi secara khusus yakni menyangkut Pancasila dan UUD 1945 yang dipisahkan dari mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, dan ekonomi. Hal-hal yang menyangkut Pancasila dan UUD 1945 berdiri sendiri dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP), sedangkan gabungan mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi dan Ekonomi menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada masa pemerintahan Orde Baru, mata pelajaran PMP ditujukan untuk membentuk manusia Pancasilais. Tujuan ini bukan hanya tanggung jawab mata pelajaran PMP semata. Semuai dengan Ketetapan MPR, Pemerintah telah menyatakan bahwa P4 bertujuan membentuk Manusia Indonesia Pancasilais. Pada saat itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) telah mengeluarkan Penjelasan Ringkas tentang Pendidikan Moral Pancasila (Depdikbud, 1982) yang dapat disimpulkan bahwa: (1) P4 marupakan sumber dan tempat berpijak, baik isi maupun cara evaluasi mata pelajaran PMP melalui pembakuan kurikulum 1975; (2) melalui Buku Paket PMP untuk semua jenjang pendidikan di sekolah maka Buku Pedoman Pendidikan Kewargann Negara yang berjudul Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civics) dinyatakan tidak berlaku lagi; dan (3) bahwa P4 tidak hanya diberlakukan untuk sekolah-sekolah tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya melalui berbagai penataran P4. Sesuai dengan perkembangan iptek dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat, kurikulum sekolah mengalami perubahan menjadi Kurikulum 1994. Selanjutnya nama mata pelajaran PMP pun mengalami perubahan menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK) yang terutama didasarkan pada ketentuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada ayat 2 undangundang tersebut dikemukakan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memust: (1) Pendidikan Pancasila; (2) Pendidikan Agama; dan (3) Pendidikan Kewarganegaraan. 7


Pason Orde Baru sampai saat ini, nama mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kembali mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat diidentifikasi dari dokumen mata pelajaran PKn (2006) menjadi mata pelajaran PPK (2013). Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa secara historis, PKn di Indonesia senantiasa mengalami perubahan baik istilah maupun substansi sesuai dengan perkembangan peraturan perundangan, iptek, perubahan masyarakat, dan tantangan global. Secara sosiologis, PKn Indonesia sudah sewajarnya mengalami perubahan mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Secara politis, PKn Indonesia akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perubahan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, terutama perubahan konstitusi. Pendidikan Pancasilasangat penting diselenggarakan di perguruan tinggi. Berdasarkan SK Dirjen Dikti No.38/DIKTI/Kep/2002, Pasal 3.Ayat (2) bahwa kompetensiyang harus dicapai mata kuliah pendidikan Pancasila yang merupakan bagian dari mata kuliah pengembangankepribadian adalah menguasai kema dan dinamis, serta berpandangan luas sebagaimanusia intelektual dengan cara mengantarkanmpuan berpikir, bersikaprasional, mahasiswa: 1. Agar memiliki kemampuan untuk mengambil sikapbertanggung jawab sesuai hati nuraninya: 2. Agar memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidupdan kesejahteraan serta cara- cara pemecahannya: 3. Agar mampu mengenali perubahan- perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni; 4. Agar mampu memaknai peristiwa sejarah dan nilai- nilaibudaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia. Pendidikan Pancasila sebagai bagian dari pendidikan nasional, mempunyai tujuan mempersiapkan mahas iswa sebagai calonsarjana yang berkualitas, berdedikasi tinggi, dan bermartabatagar: 1. Menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa: 2. Sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, dan berbudipekerti luhur. 3. Memiliki kepribadian yang mantap, mandiri, dan bertanggung jawab sesuai hari nurani: 4. Mampu mengikuti perkembangan IPTEK dan seni serta 5. Mampu ikut mewujudkan kehidupan yang cerdas dan berkesejahteraan bagi bangsanya. 8


Secara spesifik buuan penyelenggaraan Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi adalah untuk; 1. Memperkuat Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan ideologi hangsa melalui revitalisasi nilai - nilai dasar Pancasila sebagai norma dasar kehidupan bermasyarakat.berbangsa. dan pernegara 2. Memberikan pemahaman dan penghayatan atas jiwa dan nilai- nilai dasar Pancasila kepada mahasiswa sebagai warganegara Republik Indonesia, dan membimbing untuk dapatmenerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3. Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menganalisis dan mencari solusi dan bernegara. terhadap berbagai persoalan kehidupanbermasyarakat, berbangsa, dan bernegara melalui system pemikiran yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. 4. Membentuk sikap mental mahasiswa yang mampumengapresiasi nilainilai ketuhanan, kem anusiaan, kecintaanpada tanah air, dan kesatuan bangsa, serta penguatanmasyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan bermartabat berlandaskan Pancasila, untuk mampuberinteraksi dengan dinamika internal daneksternalmasyarakat bangsa Indonesia (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 2013: viii). Dengan demikian, berdasarkan ketentuan dalam pasal 35 ayat(3) Undang Undang Republik In donesia Nomor 12 Tahun 2012, ditegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan Pancasila di perguruan tinggi itu wajib diselenggarakan dan sebaiknya diselenggarakan sebagai mata ku liah yang berdirisendiri dan harus dimuat dalam kurikulum masing- masing perguruan tinggi. Dengan demikian, keberadaan mata kuliahpendidikan Pancasila me rupakan kehendak negara, bukankehendak perseorangan atau golongan, 9


1. SUMBER HISTORIS PENDIDIKAN PANCASILA Dilihat dari sisi historisnya, Pancasila tidak lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan telah melalui proses panjang, dimatangkan oleh sejarah perjuangan bangsa kita sendiri, dengan melihat pengalaman-pengalaman bangsa lain, dengan diilhami oleh gagasan besar dunia, dengan tetap berakar pada kepribadian dan gagasan-gagasan besar bangsa kita sendiri Nilai-nilai essensial yang terkandung dalam Pancasila yaitu Ketuhanan. Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan serta Keadilan dalam kenyataannya secara objektif telah dimiliki bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum mendirikan Negara. Proses terbentuknya negara dan bangsa Indonesia melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman kerajaan-kerajan. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilai-nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, atau bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Dalam era reformasi bangsa Indonesia harus memiliki visi dan pandangan hidup yang kuat (nasionalisme) agar tidak terombang-ambing di tengah masyarakat internasional. Hal ini dapat terlaksana dengan kesadaran berbangsa yang berakar pada sejarah bangsa, Dengan demikian, berdasarkan keterangan yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pancasila memilki landasan historis yang kuat. Secara histories, sejak zaman kerajaan unsur Pancasila sudah muncul dalam kehidupan bangsa kita. Agar nilai-nilai Pancasila selalu melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia, maka nilai-nilai yang terkandung dalam setiap Pancasila tersebut kemudian dirumuskan dan disahkan menjadi dasar Negara. Sebagai sebuah dasar Negara, Pancasila harus selalu dijadikan acuan dalam bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semua peraturan perundangundangan yang ada juga tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Presiden Soekarno pernah mengatakan, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah." Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa sejarah mempunyai fungsi penting dalam membangun kehidupan bangsa dengan lebih bijaksana di masa depan. 10


Hal tersebut sejalan dengan ungkapan seorang filsuf Yunani yang bernama Cicero (106-43SM) yang mengungkapkan, "Historia Vitae Magistra", yang bermakna, "Sejarah memberikan kearifan" Pengertian lain dari istilah tersebut yang sudah menjadi pendapat umum (common-sense) adalah "Sejarah merupakan guru kehidupan Implikasinya, pengayaan materi perkuliahan Pancasila melalui pendekatan historis adalah amat penting dan tidak boleh dianggap remeh guna mewujudkan kejayaan bangsa di kemudian hari. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengambil pelajaran atau hikmah dari berbagai peristiwa sejarah, baik sejarah nasional maupun sejarah bangsa-bangsa lain. Dengan pendekatan historis, Anda diharapkan akan memperoleh inspirasi untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa sesuai dengan program studi masing-masing. Selain itu, Anda juga dapat berperan serta secara aktif dan arif dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara, serta dapat berusaha menghindari perilaku yang bernuansa mengulangi kembali kesalahan sejarah Dalam peristiwa sejarah nasional, banyak hikmah yang dapat dipetik, misalnya mengapa bangsa Indonesia sebelum masa pergerakan nasional selalu mengalami kekalahan dari penjajah? Jawabannya antara lain karena perjuangan pada masa itu masih bersifat kedaerahan, kurang adanya persatuan, mudah dipecah belah, dan kalah dalam penguasaan IPTEKS termasuk dalam bidang persenjataau Hal ini berarti bahwa apabila integrasi 29 bangsa lemah dan penguasaan IPTEKS lemah, maka bangsa Indonesia dapat kembali terjajah atau setidak-tidaknya daya saing bangsa melemah. Implikasi dari pendekatan historis ini adalah meningkatkan motivasi kejuangan bangsa dan meningkatkan motivasi belajar Anda dalam menguasai IPTEKS sesuai dengan prodi masingmasing. 2. SUMBER SOSIOLOGIS PENDIDIKAN PANCASILA Sosiologi dipahami sebagai ilmu tentang kehidupan antarmanusia. Di dalamnya mengkaji, antara lain latar belakang, susunan dan pola kehidupan sosial dari berbagai golongan dan kelompok masyarakat, disamping juga mengkaji masalah-masalah sosial, perubahan dan pembaharuan dalam masyarakat. Soekanto (1982:19) menegaskan bahwa dalam perspektif sosiologi, suatu masyarakat pada suatu waktu dan tempat memiliki nilai- nilai yang tertentu. 11


Melalui pendekatan sosiologis ini pula, Kita diharapkan dapat mengkaji struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial, dan masalah-masalah sosial yang patut disikapi secara arif dengan menggunakan standar nilai-nilai yang mengacu kepada nilai-nilai Pancasila. Berbeda dengan bangsa-bangsa lain, bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada suatu asas kultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri. Nilai-nilai kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukan hanya hasil konseptual seseorang saja, melainkan juga hasil karya besar bangsa Indonesia sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai kultural yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri melalui proses refleksi filosofis para pendiri negara (Kaelan, 2000, 13). Bung Kamo menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila digali dari bumi pertiwi Indonesia. Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila berasal dari kehidupan sosiologis masyarakat Indonesia. Pernyataan ini tidak diragukan lagi karena dikemukakan oleh Bung Karno sebagai penggali Pancasila, meskipun beliau dengan rendah hati membantah apabila disebut sebagai pencipta Pancasila, sebagaimana dikemukakan Beliau dalam paparan sebagai berikut: Makna penting lainnya dari pernyataan Bung Karno tersebut adalah Pancasila sebagai dasar negara merupakan pemberian atau ilham dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Apabila dikaitkan dengan teori kausalitas dari Notonegoro bahwa Pancasila merupakan penyebab lahirnya (kemerdekaan) bangsa Indonesia, maka kemerdekaan berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan makna Alinea III Pembukaan UUD 1945. Sebagai makhluk Tuhan, sebaiknya segala pemberian Tuhan, termasuk kemerdekaan Bangsa Indonesia ini wajib untuk disyukuri. Salah satu bentuk wujud konkret mensyukuri nikmat karunia kemerdekaan adalah dengan memberikan kontribusi pemikiran terhadap pembaharuan dalam masyarakat. Bentuk lain mensyukuri kemerdekaan adalah dengan memberikan kontribusi konkret bagi pembangunan negara melalui kewajiban membayar pajak, karena dengan dana pajak itulah pembangunan dapat dilangsungkan secara optimal. 12


Sosiologi dipahami sebagai ilmu tentang kehidupan antarmanusia. Di dalamnya mengkaji, antara lain latar belakang, susunan dan pola kehidupan sosial dari berbagai golongan dan kelompok masyarakat, disamping juga mengkaji masalah-masalah sosial, perubahan dan pembaharuan dalam masyarakat. Soekanto (1982:19) menegaskan bahwa dalam perspektif sosiologi. suatu masyarakat pada suatu waktu dan tempat memiliki nilai-nilai yang tertentu. Melalui pendekatan sosiologis ini pula, Anda diharapkan dapat mengkaji struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial, dan masalah-masalah sosial yang patut disikapi secara arif dengan menggunakan standar nilai-nilai yang mengacu kepada nilai-nilai Pancasila. Berbeda dengan bangsa- bangsa lain, bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada suatu asas kultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri. Nilai-nilai kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukan hanya hasil konseptual seseorang saja, melainkan juga hasil karya besar bangsa Indonesia sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai kultural yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri melalui proses refleksi filosofis para pendiri negara Bung Karno menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila digali dari bumi pertiwi Indonesia. Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila berasal dari kehidupan sosiologis masyarakat Indonesia. Pernyataan ini tidak diragukan lagi karena dikemukakan oleh Bung Karno sebagai penggali Pancasila, meskipun beliau dengan rendah hati membantah apabila disebut sebagai pencipta Pancasila, sebagaimana dikemukakan Beliau dalam paparan sebagai berikut: "Kenapa diucapkan terima kasih kepada saya, kenapa saya diagung agungkan, padahal toh sudah sering saya katakan, bahwa saya bukan pencipta Pancasila. Saya sekedar penggali Pancasila daripada bumi tanah air Indonesia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu, saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil, atau lebih tegas penggalian daripada Pancasila ini saudara-saudara, adalah pemberian Tuhan kepada saya Sebagaimana tiap-tiap manusia, jikalau ia benar-benar memohon kepada Allah Subhanahu Wata'ala, diberi tlham oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Makna penting lainnya dari pernyataan Bung Karno tersebut adalah Pancasila sebagai dasar negara. merupakan pemberian atau ilham dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Apabila dikaitkan dengan teori kausalitas dari Notonegoro bahwa Pancasila merupakan penyebab lahirnya (kemerdekaan) bangsa Indonesia, maka kemerdekaan berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan makna Alinea III Pembukaan UUD 1945. 13


Sebagai makhluk Tuhan, sebaiknya segala pemberian Tuhan, termasuk kemerdekaan Bangsa Indonesia ini wajib untuk disyukuri. Salah satu bentuk wujud konkret mensyukuri nikmat karunia kemerdekaan adalah dengan memberikan kontribusi pemikiran terhadap pembaharuan dalam masyarakat. Bentuk lain mensyukuri kemerdekaan adalah dengan memberikan kontribusi konkret bagi pembangunan negara melalu kewajiban membayar pajak, karena dengan dana pajak itulah pembangunan dapat dilangsungkan secara optimal Sejalan dengan hal itu, Anda juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam meningkatkan fungsi-fungsi lembaga pengendalian sosial (agent of social control) yang mengacu kepada nilai-nilai Pancasila. 3. SUMBER POLITIK PENDIDIKAN PANCASILA Salah satu sumber pengayaan materi pendidikan Pancasila adalah berasal dari fenomena kehidupan politik bangsa Indonesia. Pola pikir untuk membangun kehidupan berpolitik yang murni dan jernih mutlak dilakukan sesuai dengan kelima sila yang mana dalam berpolitik harus bertumpu pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan/Perwakilan dan dengan penuh Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia tanpa pandang bulu. Etika politik Pancasila dapat digunakan sebagai alat untuk menelaah perilaku politik Negara, terutama sebagai metode kritis untuk memutuskan benar atau salah sebuah kebijakan dan tindakan pemerintah dengan cara menelaah kesesuaian dan tindakan pemerintah itu dengan makna sila-sila Pancasila. Etika politik harus direalisasikan oleh setiap individu yang ikut terlibat secara konkrit dalam pelaksanaan pemerintahan negara. Para pejabat eksekutif, legislatif, yudikatif, para pelaksana dan penegak hukum harus menyadari bahwa legitimasi hukum dan legitimasi demokratis juga harus berdasarkan pada legitimasi moral. Nilai-nilai Pancasila mutlak harus dimiliki oleh setiap penguasa yang berkuasa mengatur pemerintahan, agar tidak menyebabkan berbagai penyimpangan seperti yang sering terjadi dewasa ini. Seperti tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme, penyuapan, pembunuhan, terorisme, dan penyalahgunaan narkotika sampai perselingkuhan dikalangan elit politik yang menjadi momok masyarakat. 14


Mungkin Anda pernah mengkaji ketentuan dalam Pasal 1 ayat (2) dan di dalam Pasa136Ajo Pasall ayat (2) UUD 1945, terkandung makna bahwa Pancasila menjelma menjadi asas dalam sistem demokrasi konstitusional. Konsekuensinya, Pancasila menjadi landasan etik dalam 9 kehidupan politik bangsa Indonesia. Selain itu, bagi warga negara yang berkiprah dalam suprastruktur politik (sektor pemerintah), yaitu lembagalembaga negara dan lembagalembaga pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah. Pancasila merupakan norma hukum dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Di sisi lain, bagi setiap warga negara yang berkiprah baik di pusat maupun di daerah, Pancasila merupakan norma hukum dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Di sisi lain, bagi setiap warga negara yang berkiprah dalam infrastruktur politik (sektor masyarakat), seperti organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan media massa, maka Pancasila menjadi kaidah penuntun dalam setiap aktivitas sosial politiknya. Dengan demikian, sektor masyarakat akan berfungsi memberikan masukan yang baik kepada sektor pemerintah dalam sistem politik. Pada gilirannya, sektor pemerintah akan menghasilkan output politik berupa kebijakan yang memihak kepentingan rakyat dan diimplementasikan secara bertanggung jawab di bawah kontrol infrastruktur politik. Salah satu sumber pengayaan materi pendidikan Pancasila adalah berasal dari fenomena kehidupan politik bangsa Indonesia. Tujuannya agar Anda mampu mendiagnosa dan mampu memformulasikan saran-saran tentang upaya atau usaha mewujudkan kehidupan politik yang ideal sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bukankah Pancasila dalam tataran tertentu merupakan ideologi politik, yaitu mengandung nilai-nilai yang menjadi kaidah penuntun dalam mewujudkan tata tertib sosial politik yang ideal. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Budiardjo sebagai berikut: "Ideologi polink adalah himpunan nilai-nilai, idée, normanorma, kepercayaan dan keyakinan suatu "Weltanschauung", yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang, atas dasar mana dia menentukan sikapnya terhadap kejadian dan problema politik yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku politiknya Melalui pendekatan politik ini, Anda diharapkan mampu menafsirkan fenomena politik dalam rangka menemukan pedoman yang bersifat moral yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan kehidupan politik yang sehat. 15


Pada gilirannya. Anda akan mampu memberikan kontribusi konstruktif dalam menciptakan struiknir politik yang stabil dan dinamis. Secara spesifik, fokus kajian melalui pendekatan politik tersebut, yaitu menemukan nilai- nilai ideal yang menjadi kaidah penuntun atau pedoman dalam mengkaji konsep-konsep pokok dalam D politik yang meliputi negara (state), kekuasaan (power), pengambilan kepanasan (decision making). kebijakan (policy), dan pembagian (distribution) sumber daya negara, baik di pusat maupun di daerah. Melalui kajian tersebut. Anda diharapkan lebih termotivasi berpartisipasi memberikan masukan konstruktif, baik kepada infrastruktur politik maupun suprastruktur politik. PERTANYAAN : 1. Pendidikan Pancasila sebagai bagian dari pendidikan nasional. mempunyai tujuan mempersiapkan mahas iswa sebagai calonsarjana yang berkualitas, berdedikasi tinggi, dan bermartabatagar : 2. Jelaskan sumber historis pendidikan pancasila ? 3. Jelaskan sumber sosiologis pendidikan pancasila ? 16


DAFTAR PUSTAKA https://id.scribd.com/document/393892401/C-Sumber-Historis-Sosiologis-Sosiologis-DanPolitis-Pendidikan-Pancasila# https://mnurafandi.blogspot.com/2020/06/makalah-pancasila-sumber-yuridish.html https://revianasitimardiah.blogspot.com/2018/10/menggali-sumber-historis-sosiologisdan.html 17


BAB 2 TANTANGAN PENDIDIKAN PANCASILA PENGANTAR PENDIDIKAN PANCASILA Rekan Mahasiswa, pada Unit 1 ini, Anda akan diajak untuk menjabarkan Konsep Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Unit ini merupakan pengantar pembahasan dalam Modul Pendidikan Pancasila yang terdiri dari 8 Unit. Unit ini mengajak mahasiswa untuk mempelajari tentang fenomena permasalahan bangsa yang menjadi salah satu dasar pentingnya Pendidikan Pancasila, landasan Pendidikan Pancasila, tujuan Pendidikan Pancasila dan dinamika serta tantangan Pendidikan Pancasila. Unit 1 ini dikemas dalam 2 kegiatan belajar. Dua kegiatan belajar tersebut disusun dengan urutan sebagai berikut: Kegiatan Belajar 1: Fenomena Permasalahan Bangsa Kegiatan Belajar 2: Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila Kegiatan Belajar 1: Fenomena Permasalahan Bangsa Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti Kegiatan Belajar diharapkan Anda dapat menjelaskan berbagai fenomena permasalahan bangsa, yang menjadi salah satu dasar pentingnya mempelajari dan mempraktekkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Uraian Materi Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan berbagai perbedaan. Sejatinya perbedaan ini menjadi identitas kebhinekaan yang kemudian melebur dalam tunggal ika menjadi kekayaan identitas nasional. Nilai- nilai Pancasila yang causa materialisnya adalah bangsa Indonesia sendiri yang memang majemuk dalam adat kebiasaan, kebudayaan dan dalam agamanya ternyata mulai tergerus dalam perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat. 18


Pancasila yang sudah dihimpun oleh para pendiri bangsa sebagai dasar ideologi dan kepribadian bangsa, secara operasional, realitas di masyarakat mulai memudar. Nilai-nilai religius yang memang kental sejak dahulu kala, mulai ditinggalkan terlihat dari memudarnya toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama dan kepercayaan Masyarakat mudah terprovokasi dan terpecah. Berita hoax dan fitnah mudah beredar dan dipercaya. Cacian, makian dan kata-kata kasar mudah sekali ditemukan di media sosial, bahkan dipertontonkan oleh tokoh-tokoh publik Krisis moral dan keteladanan melunturkan kepercayaan masyarakat. Tontonan yang tidak menjadi tuntunan menggerus nilai-nilai religiusitas. Globalisasi tidak dapat dihindari, dan ternyata membawa dampak yang signifikan, baik dampak positif maupun negatif. Nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi filter yang dapat meminimalkan dampak negatif bahkan mencegahnya, tetapi nampak secara operasional terdapat jurang perbedaan antara idealitas dan realitas. Globalisasi melambungkan kesenjangan sosial yang makin melebar Hampir semua hal dikonversikan ke dalam nilai uang (Latif, 2018) Keadaban tidak lagi diprioritaskan PENDIDIKAN PANCASILA Kehidupan demokrasi yang dikenal sebagai demokrasi Pancasila, tetapi pada prakteknya seringkali tidak siap dengan perbedaan. Konsekuensi demokrasi adalah adanya perbedaan yang kemudian harus siap dimusyawarahkan dengan penuh hikmat kebijaksanaan. Keputusan akhirnya mengandung kedaulatan rakyat untuk kepentingan rakyat. Terdapat berbagai persoalan bangsa yang menodai Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa. Berbagai persoalan bangsa yang nampak seperti; A. KORUPSI Tahun 2020, skor Corruption Perception Index (CPI) Indonesia 40 dan berada di posisi 85 dari 180 negara. Indonesia berada di peringkat ke-4 di antara negara ASEAN, setelah Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Di tahun 2019, Denmark dan New Zealand berada di tingkat pertama dengan perolehan skor 87, disusul dengan Finlandia di peringkat kedua yang berhasil memperoleh skor 86. Sementara itu, Somalia masih berada di posisi terendah dengan perolehan skor 9 (KPK, 2020). 19


Ketika Korupsi Merajalela Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain, dan penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi (https://kbbi.web.id/korupsi). Korupsi harus dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang memerlukan upaya luar biasa (extra ordinary effort) pula untuk memberantasnya. Oleh karena kejahatan korupsi ini mempunyai dampak yang sangat luas dan dapat merugikan berbagai aspek, maka diperlukan upaya pencegahan sejak dini (Sumaryati, dkk, 2019). Sejak tahun 2014, Politeknik Kesehatan di lingkungan Kementerian Kesehatan melaksanakan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2014, yaitu pelaksanaan pendidikan dan budaya antikorupsi kepada mahasiswa kesehatan dalam bentuk mata kuliah PBAK (Pendidikan dan Budaya Antikorupsi) sejumlah 2 SKS. Terdapat 2 definisi korupsi yaitu tindak pidana korupsi dan perilaku koruptif. Menurut UndangUndang No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah: 20


Setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sedangkan perilaku koruptif tidak terdapat definisinya di dalam peraturan perundangundangan. Perilaku koruptif adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan tindakan seseorang yang menampilkan hal-hal yang tidak terpuji yang akan menggiring kepada tindakan korupsi. Contohnya mencontek, tidak jujur, tidak bertanggungjawab, titip absen, berbohong, dll. Perilaku tersebut lambat laun bila dilakukan terus menerus akan membuat seseorang terbiasa (jadi budaya) dan dapat mendorong melakukan perilaku tidak terpuji yang lebih fatal, dan ujungnya adalah tindakan korupsi. Keberadaan Pancasila sebagai pedoman dasar bagi bangsa Indonesia, dapat menjadi ruh dalam pemberantasan korupsi, sehingga perilaku koruptif sedikit demi sedikit dapat dilumpuhkan (Sumaryati, dkk, 2019). Penyebab utama korupsi adalah lemahnya integritas. Berdasarkan KBBI, kata ‘integritas’ mempunyai pengertian ‘mutu, sifat....”, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran (https://kbbi. web.id/integritas). Orang yang memiliki integritas dicirikan dengan kualitas diri dan kualitas interaksi dengan orang lain seperti mematuhi peraturan dan etika organisasi, jujur, memegang teguh komitmen dan prinsip-prinsip yang diyakini benar, tanggung jawab, konsisten antara ucapan dan tindakan, kerja keras dan antikorupsi (Sumaryati, 2019). Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu menjalankan nilainilai Pancasila diharapkan akan lahir pribadi-pribadi yang berintegritas yaitu pribadi yang antikorupsi. Korupsi akan bersimaharajalela karena para penyelenggara negara tidak memiliki ramburambu normatif dalam menjalankan tugasnya. Para penyelenggara negara tidak dapat membedakan batasan yang boleh dan tidak, pantas dan tidak, baik dan buruk (good and bad) (Nurwardani, dkk, 2016). 21


B. KESENJANGAN SOSIAL Menurut KBBI, kesenjangan berasal dari kata “senjang” yang berarti: tidak simetris atau tidak sama bagian yang kiri dan yang kanan, berlainan sekali atau berbeda, ada (terdapat) jurang pemisah. Masyarakat (society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup dan semi terbuka dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidakseimbangan sosial yang ada di masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan. Kesenjangan sosial juga merupakan distribusi yang tidak merata (ketidakadilan dan ketidaksetaraan) yang dialami oleh individu dan kelompok yang dianggap penting dalam suatu masyarakat dan penilaian tidak sama serta pengecualian berdasarkan posisi sosial dan gaya hidup. Juga hak dan kewajiban tidak didistribusikan secara merata atau ketidaksamaan akses untuk mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia (Najoan, dkk, 2017). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa gini ratio berada di kisaran 0,4 persen, dan ini didorong oleh konsumsi. Akan tetapi, ketimpangan pendapatan lebih tinggi yakni mencapai 0,7 persen. Berbagai macam konflik yang terjadi di Indonesia, menurut Jusuf Kalla, bukan. KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA dilatarbelakangi oleh agama namun disebabkan adanya ketidakadilan dari berbagai sisi misalnya ketidakadilan politik maupun ekonomi. Kalla mencatat, selama Indonesia merdeka ada 15 kali konflik besar yang disebabkan oleh ketidakadilan terutama konflik antardaerah (Jaramaya, 2017). Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyoroti kesenjangan antara orang kaya dan miskin di Indonesia. TNP2K menyebut kesenjangan di Indonesia urutan keempat di dunia setelah Rusia, India dan Thailand. Satu persen orang di Indonesia menguasai 50% aset nasional (Fida Ul Haq, 2019). 22


Kesenjangan Sosial C. DEGRADASI MORAL Degradasi Moral Degradasi moral telah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, degradasi moral dapat diartikan sebagai kemunduran, kemerosotan, penurunan. Sehingga dapat diartikan degradasi moral adalah kemerosotan atau lunturnya nilai dan moral yang berlaku di dalam masyarakat. Agar degradasi moral dapat diminimalisir, sebaiknya diadakan suatu program yang mampu menginternalisasikan pentingnya pendidikan nilai di dalam keluarga kepada seluruh keluarga di Indonesia, serta dibentuknya aturan pidana yang lebih ketat kepada pelaku tindakan penyimpangan berat dalam lingkungan keluarga (Sukardi, 2017). Sinonim istilah lain yang digunakan adalah dekadensi moral atau kemerosotan moral. Dekadensi moral melanda kehidupan masyarakat, terutama generasi muda sehingga membahayakan kelangsungan hidup bernegara. Dekadensi moral itu terjadi ketika pengaruh globalisasi tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, tetapi justru nilai-nilai dari luar berlaku dominan. Contoh-contoh dekadensi moral, antara lain: penyalahgunaan narkoba, kebebasan tanpa batas, rendahnya rasa hormat kepada orang tua, menipisnya rasa kejujuran, tawuran di kalangan para pelajar. Kesemuanya itu menunjukkan lemahnya tatanan nilai moral (Nurwardani, dkk, 2016). Dekadensi moral ini merupakan perilaku koruptif 23


Dekadensi Moral Remaja Masyarakat miskin karena kondisi sosial ekonomi yang makin senjang disertai dekadensi moral, maka akan cenderung mudah diprovokasi dan diintervensi oleh pengaruh dari luar yang dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa. D. PERILAKU YANG MERUSAK LINGKUNGAN Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 16). Populasi manusia semakin bertambah dan mempengaruhi keadaan alam. Dengan bertambahnya manusia maka semakin meningkatnya produksi produk untuk dikonsumsi dan salah satunya dengan cara merusak alam yang ada disekitarnya. Demikian juga hasil dari kegiatan produksi mengeluarkan limbah yang dibuang ke lingkungan. Limbah inilah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Seringkali manusia tidak memikirkan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) dan Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AM.DAL) 24


Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial karena dampaknya dapat merusak berbagai sendi kehidupan termasuk lingkungan. Indonesia diperkirakan menghasilkan 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Namun, merujuk data Sustainable Waste Indonesia (SWI) tahun 2017, dari angka tersebut baru 7 persen yang didaur ulang, sementara 69 persen diantaranya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Lebih parahnya lagi 24 persen sisanya dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan sehingga dikategorikan sebagai illegal dumping (Tim Publikasi, 2019). E. MASALAH PENEGAKAN HUKUM YANG BERKEADILAN Penegakan hukum merupakan rangkaian proses untuk menjabarkan nilai, ide, cita yang cukup abstrak menjadi tujuan yang sangat konkrit. Tujuan hukum atau cita hukum memuat nilai-nilai moral, seperti keadilan dan kebenaran. Nilai-nilai tersebut mampu diwujudkan dalam realitas nyata (Rahardjo, 2009). Masalah penegakkan hukum terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut: faktor hukumnya sendiri (undangundang, faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum, faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan dan faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup (Soekanto, 2014). Salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian penegak hukum. Selain itu, budaya hukum masyarakat memegang peranan penting. Dari uraian materi di atas, kesimpulan apa yang dapat Anda tuliskan? Silakan untuk menuliskan kesimpulan tersebut di dalam buku catatan Anda. setelah itu, silahkan melanjutkan pembelajaran ke kegiatan belajar berikutnya. Kegiatan Belajar 2: Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila Tujuan Pembelajaran Setelah menyimak materi Kegiatan Belajar 2, diharapkan Anda dapat menjelaskan kembali landasan dan tujuan dilaksanakannya Pendidikan Pancasila. Uraian Materi 25


A. LANDASAN PENDIDIKAN PANCASILA Berjalannya Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi mengalami pasang surut karena kebijakan kurikulum yang berubah-ubah. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pasal 2 di Undang-undang yang sama, terdapat penegasan Kembali bahwa Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selanjutnya lahirnya Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi Pasal 2; Sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus berdasarkan Pancasila. Hal ini mengandung maksud semua penyelenggaraan Pendidikan harus berdasarkan Pancasila. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 35 ayat (5) menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah agama, Pancasila, kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia menunjukkan bahwa negara berkehendak agar pendidikan Pancasila dilaksanakan dan wajib dimuat dalam kurikulum perguruan tinggi sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri. Implikasinya, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus terus mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai segi kebijakannya dan menyelenggarakan mata kuliah pendidikan Pancasila secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab (Nurwardani, dkk, 2016). Oleh karena sudah tersurat dengan jelas dalam peraturan perundangundangan, maka Pendidikan Pancasila wajib diselenggarakan di Perguruan Tinggi sebagai mata kuliah tersendiri, tidak bergabung dengan mata kuliah Kewarganegaraan. Pendidikan Pancasila dapat dikembangkan melalui beberapa pendekatan, diantaranya pendekatan historis, sosiologis, dan yuridis/politik (Nurwardani, dkk, 2016). Secara historis, nilai-nilai Pancasila digali dari bangsa Indonesia sendiri sebagai causa materialisnya, sehingga tidak dapat dipisahkan dengan bangsa Indonesia. Pancasila melewati perjalanan sejarah yang panjang dari mulai zaman Kerajaan-kerajaan sampai dengan disahkan di Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 sebagai Dasar Negara. 26


Sumber sosiologis meliputi nilai-nilai kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukan hanya hasil konseptual seseorang saja, melainkan juga hasil karya besar bangsa Indonesia sendiri, yang diangkat dari nilai-nilai kultural yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri melalui proses refleksi filosofis para pendiri negara (Kaelan, 2000 dikutip Nurwardani, dkk, 2016). Sumber yuridis pendidikan Pancasila berdasarkan argumen bahwa Pancasila sebagai dasar negara merupakan landasan dan sumber dalam membentuk dan menyelenggarakan negara hukum (rechtsstaat) dengan pemerintahan yang berdasarkan hukum (rule of law). B. TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA Berdasarkan SK Dirjen Dikti No 38/DIKTI/Kep/2002, Pasal 3, Ayat (2) bahwa kompetensi yang harus dicapai mata kuliah Pendidikan Pancasila yang merupakan bagian dari mata kuliah pengembangan kepribadian adalah menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional, dan dinamis, serta berpandangan luas sebagai manusia intelektual dengan cara mengantarkan mahasiswa: 1. Agar memiliki kemampuan untuk mengambil sikap bertanggung jawab sesuai hati nuraninya; 2. Agar memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya; 3. Agar mampu mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni; 4. agar mampu memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia. Secara spesifik tujuanpenyelenggaraan Pendidikan Pancasiladi Perguruan Tinggi adalah untuk: Memperkuat Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan ideologi bangsa melalui revitalisasi nilai-nilai dasar Pancasila sebagai norma dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memberikan pemahaman dan penghayatan atas jiwa dan nilai-nilai dasar Pancasila kepada mahasiswa sebagai warga negara Republik Indonesia, serta membimbing untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 27


Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menganalisis dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui sistem pemikiran yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Membentuk sikap mental mahasiswa yang mampu mengapresiasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kecintaan pada tanah air dan kesatuan bangsa, serta penguatan masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan bermartabat berlandaskan Pancasila, untuk mampu berinteraksi dengan dinamika internal dan eksternal masyarakat bangsa Indonesia. (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2013). Pancasila sebagai Dasar Filsafat negara diupayakan melekat erat dalam diri setiap warga negara Indonesia. Upaya sengaja keberadaan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi diharapkan sejalan dengan pembudayaan nilai-nilai Pancasila agar berakar kuat menjadi kepribadian tiap warga negara. Bung Hatta menyatakan bahwa apa yang diajarkan dalam proses Pendidikan adalah kebudayaan, sedangkan Pendidikan itu sendiri adalah pembudayaan (latif, 2018). Pancasila merupakan titik temu yang menyatukan keragaman bangsa (Latif, 2018). Titik temu ini yang akan mencegah terjadinya disintegrasi bangsa. Terkikisnya nilainilai Pancasila, akan mengikis, pertemuan dan persatuan bangsa yang beraneka ragam budaya, agama, adat-istiadat, suku bangsa, dll. Oleh karena itu memperkokoh kesatuan bangsa perlu terus dipelihara dan diupayakan melalui Pendidikan dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila untuk mencapai citacita bersama, yaitu Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dari uraian materi di atas, kesimpulan apa yang dapat Anda tuliskan? Silakan untuk menuliskan kesimpulan tersebut di dalam buku catatan Anda. Untuk mengukur ketercapaian pembelajaran, silakan menjawab pertanyaan dalam penilaian pembelajaran berikut. PERTANYAAN : 1. Apa yang di maksud dengan korupsi ? 2. Jelaskan apa yang di maksud dengan degradasi moral ? 3. Apa yang di maksud perusakan lingkungan hidup ? 28


DAFTAR PUSTAKA http://vilep-poltekes.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2021/03/PendidikanPancasila_final.pdf 29


BAB 3 KONSEP PANCASILA DALAM ARUS SEJARAH BANGSA INDONESIA Perumusan Pancasila memakan waktu yang tidak sebentar, sehingga terdapat banyak periode seperti berikut : 1. Periode Pengusulan Pancasila Cikal bakal munculnya ideologi bangsa itu diawali dengan lahirnya rasa nasionalisme yang menjadi pembuka ke pintu gerbang kemerdekaan bangsa Indonesia. Ahli sejarah, Sartono Kartodirdjo, sebagaimana yang dikutip oleh Mochtar Pabottinggi dalam artikelnya yang berjudul Pancasila sebagai Modal Rasionalitas Politik, menengarai bahwa benih nasionalisme sudah mulai tertanam kuat dalam gerakan Perhimpoenan Indonesia yang sangat menekankan solidaritas dan kesatuan bangsa. Perhimpoenan Indonesia menghimbau agar segenap suku bangsa bersatu teguh menghadapi penjajahan dan keterjajahan. Kemudian, disusul lahirnya Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 merupakan momenmomen perumusan diri bagi bangsa Indonesia. Kesemuanya itu merupakan modal politik awal yang sudah dimiliki tokoh-tokoh pergerakan sehingga sidang-sidang maraton BPUPKI yang difasilitasi Laksamana Maeda, tidak sedikitpun ada intervensi dari pihak penjajah Jepang. Para peserta sidang BPUPKI ditunjuk secara adil, bukan hanya atas dasar konstituensi, melainkan juga atas dasar integritas dan rekam jejak di dalam konstituensi masingmasing. Oleh karena itu, Pabottinggi menegaskan bahwa diktum John Stuart Mill atas Cass R. Sunstein tentang keniscayaan mengumpulkan the best minds atau the best character yang dimiliki suatu bangsa, terutama di saat bangsa tersebut hendak membicarakan masalah-masalah kenegaraan tertinggi, sudah terpenuhi. Dengan demikian, Pancasila tidaklah sakti dalam pengertian mitologis, melainkan sakti dalam pengertian berhasil memenuhi keabsahan prosedural dan keabsahan esensial sekaligus. (Pabottinggi, 2006: 158-159). Selanjutnya, sidang-sidang BPUPKI berlangsung secara bertahap dan penuh dengan semangat musyawarah untuk melengkapi goresan sejarah bangsa Indonesia hingga sampai kepada masa sekarang ini. 30


Perumusan Pancasila itu pada awalnya dilakukan dalam sidang BPUPKI pertama yang dilaksanakan pada 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945. BPUPKI dibentuk oleh Pemerintah Pendudukan Jepang pada 29 April 1945 dengan jumlah anggota 60 orang. Badan ini diketuai oleh dr. Rajiman Wedyodiningrat yang didampingi oleh dua orang Ketua Muda (Wakil Ketua), yaitu Raden Panji Suroso dan Ichibangase (orang Jepang). BPUPKI dilantik oleh Letjen Kumakichi Harada, panglima tentara ke-16 Jepang di Jakarta, pada 28 Mei 1945. Sehari setelah dilantik, 29 Mei 1945, dimulailah sidang yang pertama dengan materi pokok pembicaraan calon dasar negara. Menurut catatan sejarah, diketahui bahwa sidang tersebut menampilkan beberapa pembicara, yaitu Mr. Muh Yamin, Ir. Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Soepomo. Keempat tokoh tersebut menyampaikan usulan tentang dasar negara menurut pandangannya masing-masing. Meskipun demikian perbedaan pendapat di antara mereka tidak mengurangi semangat persatuan dan kesatuan demi mewujudkan Indonesia merdeka. Sikap toleransi yang berkembang di kalangan para pendiri negara seperti inilah yang seharusnya perlu diwariskan kepada generasi berikut, termasuk kita. Sebagaimana Anda ketahui bahwa salah seorang pengusul calon dasar negara dalam sidang BPUPKI adalah Ir. Soekarno yang berpidato pada 1 Juni 1945. Pada hari itu, Ir. Soekarno menyampaikan lima butir gagasan tentang dasar negara sebagai berikut: 31


a. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia, b. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, c. Mufakat atau Demokrasi, d. Kesejahteraan Sosial, d. Ketuhanan yang berkebudayaan. Berdasarkan catatan sejarah, kelima butir gagasan itu oleh Soekarno diberi nama Pancasila. Selanjutnya, Soekarno juga mengusulkan jika seandainya peserta sidang tidak menyukai angka 5, maka ia menawarkan angka 3, yaitu Trisila yang terdiri atas (1) Sosio-Nasionalisme, (2) Sosio-Demokrasi, dan (3) Ketuhanan Yang Maha Esa. Soekarno akhirnya juga menawarkan angka 1, yaitu Ekasila yang berisi asas Gotong Royong. 2. Periode Perumusan Pancasila Hal terpenting yang mengemuka dalam sidang BPUPKI kedua pada 10 – 16 Juli 1945 adalah disetujuinya naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Piagam Jakarta itu merupakan naskah awal pernyataan kemerdekaan Indonesia. Pada alinea keempat Piagam Jakarta itulah terdapat rumusan Pancasila sebagai berikut. 1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang dijuluki “Piagam Jakarta” ini di kemudian hari dijadikan “Pembukaan” UUD 1945, dengan sejumlah perubahan di sana-sini. Peristiwa itu ditandai dengan jatuhnya bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Sehari setelah peristiwa itu, 7 Agustus 1945, Pemerintah Pendudukan Jepang di Jakarta mengeluarkan maklumat yang berisi: 1) Pertengahan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia (PPKI), 2) Panitia itu rencananya akan dilantik 18 Agustus 1945 dan mulai bersidang 19 Agustus 1945, dan 54 32


3) direncanakan 24 Agustus 1945 Indonesia dimerdekakan. Esok paginya, 8 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, dan Rajiman dipanggil Jenderal Terauchi (Penguasa Militer Jepang di Kawasan Asia Tenggara) yang berkedudukan di Saigon, Vietnam (sekarang kota itu bernama Ho Chi Minh). Ketiga tokoh tersebut diberi kewenangan oleh Terauchi untuk segera membentuk suatu Panitia Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia sesuai dengan maklumat Pemerintah Jepang 7 Agustus 1945 tadi. Sepulang dari Saigon, ketiga tokoh tadi membentuk PPKI dengan total anggota 21 orang, yaitu: Soekarno, Moh. Hatta, Radjiman, Ki Bagus Hadikusumo, Otto Iskandar Dinata, Purboyo, Suryohamijoyo, Sutarjo, Supomo, Abdul Kadir, Yap Cwan Bing, Muh. Amir, Abdul Abbas, Ratulangi, Andi Pangerang, Latuharhary, I Gde Puja, Hamidan, Panji Suroso, Wahid Hasyim, T. Moh. Hasan (Sartono Kartodirdjo, dkk., 1975: 16–17). Jatuhnya Bom di Hiroshima belum membuat Jepang takluk, Amerika dan sekutu akhirnya menjatuhkan bom lagi di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 yang meluluhlantakkan kota tersebut sehingga menjadikan kekuatan Jepang semakin lemah. Kekuatan yang semakin melemah, memaksa Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 14 Agustus 1945. Konsekuensi dari menyerahnya Jepang kepada sekutu, menjadikan daerah bekas pendudukan Jepang beralih kepada wilayah perwalian sekutu, termasuk Indonesia. Sebelum tentara sekutu dapat menjangkau wilayah-wilayah itu, untuk sementara bala tentara Jepang masih ditugasi sebagai sekadar penjaga kekosongan kekuasaan. Kekosongan kekuasaan ini tidak disia-siakan oleh para tokoh nasional. PPKI yang semula dibentuk Jepang karena Jepang sudah kalah dan tidak berkuasa lagi, maka para pemimpin nasional pada waktu itu segera mengambil keputusan politis yang penting. Keputusan politis penting itu berupa melepaskan diri dari bayang-bayang kekuasaan Jepang dan mempercepat rencana kemerdekaan bangsa Indonesia. 33


3. Periode Pengesahan Pancasila Peristiwa penting lainnya terjadi pada 12 Agustus 1945, ketika itu Soekarno, Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat dipanggil oleh penguasa militer Jepang di Asia Selatan ke Saigon untuk membahas tentang hari kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang pernah dijanjikan. Namun, di luar dugaan ternyata pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu tanpa syarat. Pada 15 Agustus 1945 Soekarno, Hatta, dan Rajiman kembali ke Indonesia. Kedatangan mereka disambut oleh para pemuda yang mendesak agar kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan secepatnya karena mereka tanggap terhadap perubahan situasi politik dunia pada masa itu. Para pemuda sudah mengetahui bahwa Jepang menyerah kepada sekutu sehingga Jepang tidak memiliki kekuasaan secara politis di wilayah pendudukan, termasuk Indonesia. Perubahan situasi yang cepat itu menimbulkan kesalahpahaman antara kelompok pemuda dengan Soekarno dan kawan-kawan sehingga terjadilah penculikan atas diri Soekarno dan M. Hatta ke Rengas Dengklok (dalam istilah pemuda pada waktu itu “mengamankan”), tindakan pemuda itu berdasarkan keputusan rapat yang diadakan pada pukul 24.00 WIB menjelang 16 Agustus 1945 di Cikini no. 71 Jakarta (Kartodirdjo, dkk., 1975: 26). Melalui jalan berliku, akhirnya dicetuskanlah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Teks kemerdekaan itu didiktekan oleh Moh. Hatta dan ditulis oleh Soekarno pada dini hari. Dengan demikian, naskah bersejarah teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini digagas dan ditulis oleh dua tokoh proklamator tersebut sehingga wajar jika mereka dinamakan Dwitunggal. 34


Selanjutnya, naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik. Rancangan pernyataan kemerdekaan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI yang diberi nama Piagam Jakarta, akhirnya tidak dibacakan pada 17 Agustus 1945 karena situasi politik yang berubah (Lihat Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi, William Frederick dan Soeri Soeroto, 2002: hal. 308 –- 311). Sampai detik ini, teks Proklamasi yang dikenal luas adalah sebagai berikut: Proklamasi Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Halhal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll. diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 2605 Atas Nama Bangsa Indonesia Soekarno-Hatta Pada 18 Agustus 1945, PPKI bersidang untuk menentukan dan menegaskan posisi bangsa Indonesia dari semula bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka. PPKI yang semula merupakan badan buatan pemerintah Jepang, sejak saat itu dianggap mandiri sebagai badan nasional. Atas prakarsa Soekarno, anggota PPKI ditambah 6 orang lagi, dengan maksud agar lebih mewakili seluruh komponen bangsa Indonesia. Mereka adalah Wiranatakusumah, Ki Hajar Dewantara, Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Iwa Koesoema Soemantri, dan Ahmad Subarjo. 35


Indonesia sebagai bangsa yang merdeka memerlukan perangkat dan kelengkapan kehidupan bernegara, seperti: Dasar Negara, Undang-Undang Dasar, Pemimpin negara, dan perangkat pendukung lainnya. Putusanputusan penting yang dihasilkan mencakup hal-hal berikut: 1. Mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara (UUD ‘45) yang terdiri atas Pembukaan dan Batang Tubuh. Naskah Pembukaan berasal dari Piagam Jakarta dengan sejumlah perubahan. Batang Tubuh juga berasal dari rancangan BPUPKI dengan sejumlah perubahan pula. 2. Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama (Soekarno dan Hatta). 3. Membentuk KNIP yang anggota intinya adalah mantan anggota PPKI ditambah tokoh-tokoh masyarakat dari banyak golongan. Komite ini dilantik 29 Agustus 1945 dengan ketua Mr. Kasman Singodimejo. Rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejarah bangsa Indonesia juga mencatat bahwa rumusan Pancasila yang disahkan PPKI ternyata berbeda dengan rumusan Pancasila yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan dari wakil yang mengatasnamakan masyarakat Indonesia Bagian Timur yang menemui Bung Hatta yang mempertanyakan 7 kata di belakang kata “Ketuhanan”, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Tuntutan ini ditanggapi secara arif oleh para pendiri negara sehingga terjadi perubahan yang disepakati, yaitu dihapusnya 7 kata yang dianggap menjadi hambatan di kemudian hari dan diganti dengan istilah “Yang Maha Esa”. 36


DAFTAR PUSTAKA https://malvaspalette.wordpress.com/2017/09/25/konsep-dan-urgensi-pancasila-dalam-arussejarah-bangsa-indonesia/ 37


BAB 4 SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, DAN POLITIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT SUMBER HISTORIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT (1) 1.Kemerdekaan Indonesia dan kelahiran Pancasila dipengaruhi oleh agama yang berkembang di Indonesia. 2.Nilai kemanusiaan dalam masyarakat Indonesia dilahirkan dari perpaduan pengalaman bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim yang adil dan beradab, cinta kedamaian, dan kemerdekaan SUMBER HISTORIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT (2) 1. Indonesia adalah bangsa majemuk paripurna, baik secara sosial, kultural, dan teritorial. 2. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia sudah menjalankan sistem yang demokratis. 3. Masyarakat yang adil dan makmur adalah impian kebahagiaan yang telah berkobar ratusan tahun lamanya. SUMBER SOSIOLOGIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT KELOMPOK MASYARAKAT AWAM Memahami Pancasila sebagai sistem filsafat yang sudah dikenal masyarakat Indonesia dalam bentuk pandangan hidup (agama, adat istiadat, dan budaya berbagai suku bangsa di Indonesia). KELOMPOK MASYARAKAT ILMIAH-AKADEMIS Memahami Pancasila sebagai sistem filsafat dengan teori-teori yang bersifat akademis. SUMBER POLITIS PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT KELOMPOK PERTAMA, meliputi wacana politis tentang Pancasila sebagai sistem filsafat pada sidang BPUPKI, sidang PPKI, dan kuliah umum Soekarno antara tahun 1958 dan 1959 tentang pembahasan sila-sila Pancasila secara filosofiS 38


KELOMPOK KEDUA, mencakup berbagai argumen politis tentang Pancasila sebagai sistem filsafat yang disuarakan kembali di era reformasi dalam pidato politik Habibie 1 Juni 2011. Pembahasan sila-sila Pancasila sebagai sistem filsafat dapat ditelusuri dalam sumber sejarah masyarakat Indonesia sebagai berikut. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak zaman dahulu hingga Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia melewati masa panjang pengaruh agama Hindu-Buddha, Islam, dan Kristen. Artinya, manusia Indonesia telah mengenal Tuhan sejak dahulu sampai sekarang masih berlangsung sistem penyembahan dari berbagai kepercayaan dalam agama-agama yang hidup di Indonesia. Pada semua sistem religi-politik tradisional di muka bumi, termasuk Indonesia, agama memiliki peran sentral dalam pendefinisian institusi sosial (Latif, 2011: 57-59). Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Nilai kemanusiaan dalam masyarakat Indonesia lahir dari perpaduan pengalaman bangsa Indonesia dalam sejarah. Bangsa Indonesia merupakan bangsa maritim yang telah menjelajah ke seluruh dunia sehingga membentuk karakter internasionalisme dalam kepribadian manusia Indonesia. Hasilnya terlihat setelah Indonesia merdeka, di mana sila kedua mengakar dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Kemerdekan Indonesia menghadirkan suatu bangsa berwawasan global dengan kearifan lokal, memiliki komitmen pada penertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial, serta pada pemuliaan hakhak asasi manusia dalam suasana kekeluargaan kebangsan Indonesia (Latif, 2011: 201). Sila Persatuan Indonesia. Kebangsaan Indonesia merefleksikan suatu kesatuan dalam keragaman, kebaruan dan kesilaman. Indonesia adalah bangsa majemuk paripurna yang menakjubkan karena kemajemukan sosial, kultural, dan teritorial dapat menyatu dalam suatu komunitas politik kebangsaan Indonesia. Indonesia adalah sebuah bangsa besar yang mewadahi warisan peradaban Nusantara dan kerajaankerajaan bahari terbesar di muka bumi. 39


Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat merupakan fenomena baru di Indonesia yang muncul sebagai dampak kemerdekaan Indonesia. Sejarah menunjukkan kerajaan-kerajaan praIndonesia adalah kerajaan feodal yang dikuasai raja-raja autokrat. Meskipun demikian, nilai-nilai demokrasi dalam taraf tertentu telah berkembang dalam budaya Nusantara dan dipraktikkan setidaknya dalam unit politik kecil, seperti desa di Jawa, nagari di Sumatera Barat, banjar di Bali, dan lain sebagainya. Tan Malaka mengatakan paham kedaulatan rakyat sebenarnya telah tumbuh di alam kebudayaan Minangkabau, kekuasaan raja dibatasi ketundukannya pada keadilan dan kepatutan. Hatta menambahkan ada dua anasir tradisi demokrasi di Nusantara, yaitu (1) hak protes terhadap peraturan raja yang tidak adil dan (2) hak menyingkir dari kekuasaan raja yang tidak disenangi (Latif, 2011: 387-388). Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Masyarakat adil dan makmur adalah impian yang telah lama ada di dalam dada keyakinan bangsa Indonesia. Impian itu terpahat dalam ungkapan “Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”. Demi impian masyarakat yang adil dan makmur itu, pejuang bangsa mengorbankan dirinya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Sejarah mencatat bangsa Indonesia dahulunya adalah bangsa yang hidup dalam keadilan dan kemakmuran, sebelum akhirnya dirampas kolonialisme (Latif, 2011: 493-494) Sumber sosiologis Pancasila sebagai sistem filsafat dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, yaitu masyarakat awam yang memahami Pancasila sebagai sistem filsafat dalam bentuk pandangan hidup. Hal ini ada dalam agama, adat istiadat, dan budaya berbagai suku bangsa di Indonesia. Kelompok pertama memahami sumber sosiologis Pancasila sebagai kearifan lokal yang memperlihatkan unsur-unsur filosofis Pancasila itu masih berbentuk pedoman hidup yang bersifat praktis dalam berbagai aspek kehidupan. 40


Dalam konteks agama, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius karena perkembangan kepercayaan yang ada di masyarakat sejak animisme, dinamisme, politeistis, hingga monoteis. Kelompok kedua, masyarakat ilmiah-akademis yang memahami Pancasila sebagai sistem filsafat dengan teori-teori yang bersifat akademis (Paristiyanti, dkk., 2016: 159). Sumber politis Pancasila sebagai sistem filsafat dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, meliputi wacana politis tentang Pancasila sebagai sistem filsafat pada sidang BPUPKI, sidang PPKI, dan kuliah umum Soekarno antara tahun 1958 dan 1959 tentang pembahasan sila-sila Pancasila secara filosofis. Kelompok kedua, mencakup argumen politis tentang Pancasila sebagai sistem filsafat yang disuarakan melalui pidato politik Habibie 1 Juni 2011. Wacana politis Pancasila sebagai sistem filsafat mengemuka ketika Soekarno mengemukakan konsep Philosofische Grondslag, dasar filsafat negara. Soekarno meletakkan kedudukan Pancasila sebagai dasar kerohanian bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara di Indonesia. 1. Dalam kuliah umum di Istana Negara pada 22 Mei 1958, Soekarno menegaskan kedudukan Pancasila sebagai Weltanschauung dapat mempersatukan bangsa Indonesia dan menyelamatkan negara Indonesia dari disintegrasi bangsa (Soekarno, 2001: 65, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). 2. Pada kuliah umum di Istana Negara pada 26 Juni 1958, Soekarno menjelaskan manusia Indonesia percaya kepada Tuhan sesuai agama yang dianutnya masingmasing. Sila pertama diterima semua kelompok agama, jika dihilangkan maka akan membuat batin segenap rakyat Indonesia hilang. Sila ini sejatinya bintang penuntun dalam bertindak (Soekarno, 2001: 93, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). 3. Soekarno menjelaskan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab diperlukan untuk mencegah semangat chauvinisme atau rasialisme yang tidak sesuai dengan rasa berperikemanusiaan (Soekarno, 2001: 142, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). 4. Pada Juli 1958 di Istana Negara, Soekarno menjelaskan sebagai sebuah bangsa, 41


Indonesia lahir dari sekumpulan manusia yang mempunyai keinginan bersatu hidup bersama (Le desire d’etre ensemble) dan adanya kesamaan nasib. Maka bangsa Indonesia harus hidup dalam suatu kesatuan yang kuat dalam sebuah negara dengan tujuan untuk mempersatukan (Soekarno, 2001: 114, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). 5. Soekarno memberikan kuliah umum tentang sila kerakyatan pada 3 September 1958 di Istana Negara bahwa demokrasi Indonesia harus membawa kepribadian Indonesia sendiri. Demokrasi Indonesia bukan alat teknis, melainkan suatu alam jiwa pemikiran dan perasaan bangsa Indonesia (Soekarno, 2001: 165, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). 6. Pada kuliah umum seminar Pancasila di Yogyakarta 21 Februari 1959, Soekarno menguraikan Keadilan Sosial bagi Seluruh Bangsa Indonesia merupakan suatu keharusan karena hal itu merupakan amanat dari para leluhur bangsa Indonesia— yang menderita pada masa penjajahan—dan para pejuang yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan (Soekarno, 2011: 191, dalam Paristiyanti, dkk., 2016). Diwakili Habibie dalam pidato 1 Juni 2011, yang menyuarakan kembali pentingnya Pancasila bagi kehidupan bangsa Indonesia setelah dilupakan cukup panjang—sekitar satu dasawarsa pada euforia politik di awal reformasi. Secara ringkas, berikut intisari pidato Habibie. 1. Pancasila memiliki kedudukan penting sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia dalam dinamika sejarah sistem politik sejak Orde Lama hingga era reformasi (Habibie, 2011: 1). 2. Ada tiga faktor perubahan yang menimbulkan pergeseran nilai dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu globalisasi dalam segala aspeknya, perkembangan Hak Asasi Manusia (HAM) yang mengabaikan kewajiban asasi manusia (KAM), dan lonjakan pemanfaatan teknologi informasi yang berdampak kekuatan sekaligus rentan terhadap "manipulasi" informasi (Habibie, 2011: 2). 3. Pentingnya reaktualisasi Pancasila untuk memperkuat paham kebangsaan Indonesia yang majemuk. 42


(Habibie,2011: 5). 4. Perlunya implementasi nilai-nilai Pancasila secara cerdas, konsekuen, dan konsisten dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia, baik masa kini dan masa depan. DAFTAR PUSTAKA https://elektros1.blogspot.com/2019/05/sumber-historis-sosiologis-dan-politis.html PERTANYAAN: 1. Sebutkan dua anasir tradisi demokrasi dinusantara dalam sila kelima pancasila 2. Ada dua kelompok sumber sosiologis pancasila sebagai sistem filsafat , sebutkan ? 3. Penegasan apa yg disebutkan soekarno dalam kuliah umum di istana negara pada tanggal 22 mei 1958 ? 43


BAB V ESENSI PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA A. PENDAHULUAN `1.latar belakang Pancasila adalah lima nilai dasar luhur yang ada dan berkembang bersama dengan bangsa Indonesia sejak dahulu.Sejarah merupakan deretan peristiwa yang saling berhubungan. Peristiwa-peristiwa masa lampau yang berhubungan dengan kejadian masa sekarang dan semuanya bermuara pada masa yang akan datang. Hal ini berarti bahwa semua aktivitas manusia pada masa lampau berkaitan dengan kehidupan masa sekarang untuk mewujudkan masa depan yang berbeda dengan masa yang sebelumnya. Dasar Negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah Negara. Negara Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu pancasila. Pancasila, dalam fungsinya sebagai dasar Negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur Negara Republik Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni pemerintah, wilayah, dan rakyat. Pancasila dalam kedudukannya merupakan dasar pijakan penyelenggaraan Negara dan seluruh kehidupan Negara Replubik Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai arti yaitu mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Konsekuensinya adalah Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Hal ini menempatkan pancasila sebagai dasar Negara yang berarti melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam semua peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka diangkat dalam bentuk makala yang berjudul 44


“PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA INDONESIA”. B.PEMBAHASAN 1. Pancasila Era Pra Kemerdekaan Asal mula Pancasila secara budaya,Menurut Sunoto (1984) melalui kajian filsafat Pancasila, menyatakan bahwa unsur-unsur Pancasila berasal dari bangsa Indonesia sendiri, walaupun secara formal Pancasila baru menjadi dasar Negara Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, namun jauh sebelum tanggal tersebut bangsa Indonesia telah memiliki unsurunsur Pancasila dan bahkan melaksanakan di dalam kehidupan merdeka. Sejarah bangsa Indonesia memberikan bukti yang dapat kita cari dalam berbagai adat istiadat, tulisan, bahasa, kesenian, kepercayaan, agama dan kebudayaan pada umumnya. (Sunoto, 1984: 1). Dengan rinci Sunoto menunjukkan fakta historis, diantaranya adalah : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa : bahwa di Indonesia tidak pernah ada putus-putusnya orang percaya kepada Tuhan. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab : bahwa bangsa Indonesia terkenal ramah tamah, sopan santun, lemah lembut dengan sesama manusia. 3. Persatuan Indonesia : bahwa bangsa Indonesia dengan ciri-cirinya guyub, rukun, bersatu, dan kekeluargaan. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan : bahwa unsur-unsur demokrasi sudah ada dalam masyarakat kita. 5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia : bahwa bangsa Indonesia dalam menunaikan tugas hidupnya terkenal lebih bersifat social dan berlaku adil terhadap sesama. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara, maka nilai-nilai kehidupan berbangsa, bernegara dan berpemerintahan sejak saat itu haruslah berdasarkan pada Pancasila, namun pada kenyataannya, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila telah dipraktekkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan kita praktekkan hingga sekarang. Hal ini berarti bahwa semua nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada dalam kehidupan rakyat Indonesia sejak zaman nenek moyang.Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan berhasil merumuskan Rancangan pembukaan Hukum Dasar, yang oleh Mr. M. Yamin dinamakan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta. 45


Di dalam rancangan pembukaan alinea keempat terdapat rumusan Pancasila yang tata urutannya tersusun secara sistematis: 1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Selain itu, dalam piagam Jakarta pada alenia ketiga juga memuat rumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang pertama berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Kalimat ini merupakan cetusan hati nurani bangsa Indonesia yang diungkapkan sebelum Proklamasi kemerdekaan, sehingga dapat disebut sebagai declarationof Indonesian Independence. 2. Pancasila Era Kemerdekaan Bangsa Indonesia pasca kemerdekaan mengalami banyak perkembangan. Sesaat setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, Pancasila melewati masa-masa percobaan demokrasi. Pada waktu itu, Indonesia masuk ke dalam era percobaan demokrasi multi-partai dengan sistem kabinet parlementer. Partai-partai politik pada masa itu tumbuh sangat subur, dan proses politik yang ada cenderung selalu berhasil dalam mengusung kelima sila sebagai dasar negara (Somantri, 2006). Pancasila pada masa ini mengalami masa kejayaannya. Selanjutnya, pada akhir tahun 1959, Pancasila melewati masa kelamnya dimana Presiden Soekarno menerapkan sistem demokrasi terpimpin. Pada masa itu, presiden dalam rangka tetap memegang kendali politik terhadap berbagai kekuatan mencoba untuk memerankan politik integrasi paternalistik (Somantri, 2006). Pada akhirnya, sistem ini seakan mengkhianati nilainilai yang ada dalam Pancasila itu sendiri, salah satunya adalah sila permusyawaratan. Kemudian, pada 1965 terjadi sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia dimana partai komunis berusaha melakukan pemberontakan. Pada 11 Maret 1965, Presiden Soekarno memberikan wewenang kepada Jenderal Suharto atas Indonesia. Ini merupakan era awal orde baru dimana kemudian Pancasila mengalami mistifikasi. 46


3. Pancasila Era Orde Lama Pancasila sebagai idiologi Negara dan falsafah bangsa yang pernah dikeramatkan dengan sebutan azimat revolusi bangsa, pudar untuk pertama kalinya pada akhir dua dasa warsa setelah proklamasi kemerdekaan. Meredupnya sinar api pancasila sebagai tuntunan hidup berbangsa dan bernegara bagi jutaan orang diawali oleh kahendak seorang kepala pemerintahan yang terlalu gandrung pada persatuan dan kesatuan. Kegandrungan tersebut diwujudkan dalam bentuk membangun kekuasaan yang terpusat, agar dapat menjadi pemimpin bangsa yang dapat menyelesaikan sebuah revolusi perjuangan melawan penjajah (nekolim, neokolonialisme) serta ikut menata dunia agar bebas dari penghisapan bangsa atas bangsa dan penghisapan manusia dengan manusia. Orde lama berlangsung dari tahun 1959- 1966. Pada masa itu berlaku demokrasi terpimpin. Setelah menetapkan berlakunya kembali UUD 1945, Presiden Soekarno meletakkan dasar kepemimpinannya. Yang dinamakan demokrasi terimpin yaitu demokrasi khas Indonesia yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi terpimpin dalam prakteknya tidak sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya dan bahkan terkenal menyimpang. Dimana demokrasi dipimpin oleh kepentingan-kepentingan tertetu. Masa pemerintahan Orde Lama, kehidupan politik dan pemerintah sering terjadi penyimpangan yang dilakukan Presiden dan juga MPRS yang bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945. Artinya pelaksanaan UUD1945 pada masa itu belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan terpusat pada kekuasaan seorang presiden dan lemahnya control yang seharusnya dilakukan DPR terhadap kebijakan-kebijakan. Selain itu, muncul pertentangan politik dan konflik lainnya yang berkepanjangan sehingga situasi politik, keamanaan dan kehidupan ekonomi makin memburuk puncak dari situasi tersebut adalah munculnya pemberontakan G30S/PKI yang sangat membahayakan keselamatan bangsa dan Negara. Mengingat keadaan makin membahayakan Ir. Soekarno selaku presiden RI memberikan perintah kepada Letjen Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret 1969 (Supersemar) untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan bagi terjaminnya keamanaan, ketertiban dan ketenangan serta kesetabilan jalannya pemerintah. Lahirnya Supersemar tersebut dianggap sebagai awal masa Orde Baru. 47


4. Pancasila Era Orde Baru Era dalam sejarah republik ini merupakan masa pemerintahan yang terlama, dan bisa juga dikatakan sebagai masa pemerintahan yang paling stabil. Stabil dalam artian tidak banyak gejolak yang mengemuka, layaknya keadaan dewasa ini. Stabilitas yang diiringi dengan maraknya pembangunan di segala bidang. Era pembangunan, era penuh kestabilan, menimbulkan romantisme dari banyak kalangan. Diera Orde Baru, yakni stabilitas dan pembangunan, serta merta tidak lepas dari keberadaan Pancasila. Pancasila menjadi alat bagi pemerintah untuk semakin menancapkan kekuasaan di Indonesia. Pancasila begitu diagung-agungkan; Pancasila begitu gencar ditanamkan nilai dan hakikatnya kepada rakyat; dan rakyat tidak memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang mengganjal. Menurut Hendro Muhaimin bahwa Pemerintah di era Orde Baru sendiri terkesan “menunggangi” Pancasila, karena dianggap menggunakan dasar negara sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. Disamping hal tersebut, penanaman nilai-nilai Pancasila di era Orde Baru juga dibarengi dengan praktik dalam kehidupan sosial rakyat Indonesia. Kepedulian antarwarga sangat kental, toleransi di kalangan masyarakat cukup baik, dan budaya gotong-royong sangat dijunjung tinggi. Selain penanaman nilai-nilai tersebut dapat dilihat dari penggunaan Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berorganisasi, yang menyatakan bahwa semua organisasi, apapun bentuknya, baik itu organisasi masyarakat, komunitas, perkumpulan, dan sebagainya haruslah mengunakan Pancasila sebagai asas utamanya. Pada era Orde Baru sebagai era “dimanis-maniskannya” Pancasila. Secara pribadi, Soeharto sendiri seringkali menyatakan pendapatnya mengenai keberadaan Pancasila, yang kesemuanya memberikan penilaian setinggi-tingginya terhadap Pancasila. Ketika Soeharto memberikan pidato dalam Peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1967. Soeharto mendeklarasikan Pancasila sebagai suatu force yang dikemas dalam berbagai frase bernada angkuh, elegan, begitu superior. Dalam pidato tersebut, Soeharto menyatakan Pancasila sebagai “tuntunan hidup”, menjadi “sumber tertib sosial” dan “sumber tertib seluruh perikehidupan”, serta merupakan “sumber tertib negara” dan “sumber tertib hukum”. 48


Kepada pemuda Indonesia dalam Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1974, Soeharto menyatakan, “Pancasila janganlah hendaknya hanya dimiliki, akan tetapi harus dipahami dan dihayati!” Dapat dikatakan tidak ada yang lebih kuat maknanya selain Pancasila di Indonesia, pada saat itu, dan dalam era Orde Baru. 5. Pancasila Era Reformasi Memahami peran Pancasila di era reformasi, khususnya dalam konteks sebagai dasar negara dan ideologi nasional, merupakan tuntutan hakiki agar setiap warga negara Indonesia memiliki pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan, peranan dan fungsi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai paradigma ketatanegaraan artinya pancasila menjadi kerangka berpikir atau pola berpikir bangsa Indonesia, khususnya sebagai dasar negara ia sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai negara hukum, setiap perbuatan baik dari warga masyarakat maupun dari pejabat-pejabat harus berdasarkan hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dalam kaitannya dalam pengembangan hukum, Pancasila harus menjadi landasannya. Artinya hukum yang akan dibentuk tidak dapat dan tidak boleh bertentangan dengan sila-sila Pancasila. Substansi produk hukumnya tidak bertentangan dengan sila-sila pancasila. Memahami peran Pancasila di era reformasi, khususnya dalam konteks sebagai dasar negara dan ideologi nasional, merupakan tuntutan hakiki agar setiap warga negara Indonesia memiliki pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan, peranan dan fungsi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semenjak ditetapkan sebagai dasar negara (oleh PPKI 18 Agustus 1945), Pancasila telah mengalami perkembangan sesuai dengan pasang naiknya sejarah bangsa Indonesia (Koento Wibisono, 2001) memberikan tahapan perkembangan Pancasila sebagai dasar negara dalam tiga tahap yaitu : 49


Click to View FlipBook Version