The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi saraf otak yang mempengaruhi perkembangan bahasa, kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal, berinteraksi sosial, perilaku motorik, emosi dan persepsi sensoris. Buku ini membahas tentang penerapan teknologi virtual reality sebagai media terapi sensori integrasi dengan menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan perangkat Google CardBoard dan Unity3D sebagai software aplikasi berbasis android. Bertujuan untuk meningkatan kompetensi baik kognitif maupun psikomotorik, dan stimulus sensorik anak.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by M4@5 Collection, 2021-07-27 11:48:20

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi saraf otak yang mempengaruhi perkembangan bahasa, kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal, berinteraksi sosial, perilaku motorik, emosi dan persepsi sensoris. Buku ini membahas tentang penerapan teknologi virtual reality sebagai media terapi sensori integrasi dengan menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan perangkat Google CardBoard dan Unity3D sebagai software aplikasi berbasis android. Bertujuan untuk meningkatan kompetensi baik kognitif maupun psikomotorik, dan stimulus sensorik anak.

Keywords: Autisme, terapi sensori integrasi,virtual reality,Google CardBoard

VIRTUAL REALITY

Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

i

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak
Cipta

Pasal 1:

1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis
berdasakan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk
nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang undangan.

Pasal 9:

2. Pencipta atau Pengarang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 8
memiliki hak ekonomi untuk melakukan a.Penerbitan Ciptaan; b.Penggandaan
Ciptaan dalam segala bentuknya; c.Penerjemahan Ciptaan; d.Pengadaptasian,
pengaransemen, atau pentrasformasian Ciptaan; e.Pendistribusian Ciptaan
atau salinan; f.Pertunjukan Ciptaan; g.Pengumuman Ciptaan; h.Komunikasi
Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan.

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak C ipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii

Muhaimin Hasanudin, S.T., M.Kom.
Indrianto, S.Kom., MT.

VIRTUAL REALITY

Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Penerbit Lakeisha
2021
iii

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Penulis :
Muhaimin Hasanudin, S.T., M.Kom.
Indrianto, S.Kom., MT.

Editor: Dedy Prasetya Kristiadi, M.Kom.
Layout : Yusuf Deni Kristanto
Desain Cover : Tim Lakeisha
Cetak I Juni 2021
15,5 cm × 23 cm, 69 Halaman
ISBN: 978-623-6322-06-2

Diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha
(Anggota IKAPI No.181/JTE/2019)

Redaksi
Jl. Jatinom Boyolali, Srikaton, Rt.003, Rw.001, Pucangmiliran,
Tulung, Klaten, Jawa Tengah
Hp. 08989880852, Email: [email protected]
Website : www.penerbitlakeisha.com

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan
dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurahkan kehadirat Tuhan yang maha esa, atas
segala rahmat, taufik, serta hidayahnya. Sehingga penulis
bisa menyelesaikan buku yang judul VIRTUAL REALITY
Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Buku penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknologi
Virtual Reality sebagai salah satu media terapi sensor integrasi
dengan menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan perangkat
Google CardBoard dan Handphone kepada siswa autis. teknologi
VR dapat memberikan salah satu alternatif sebagai media
pendidikan karakter, meningkatan kompetensi baik kognitif
maupun psikomotorik, serta mendukung kegiatan praktikum secara
dinamis, animatif dan interaktif sehingga tidak membosankan dan
menarik minat siswa Autis untuk belajar.

Pelulis mengucapkan banyak terima kasih kepada orang yang
sudah turut membantu secara langsung maupun tidak langsung
dalam penerbitan buku ini.

v

Penulis menyadari buku ini masih jauh dari kata sempurna
maka dari itu kritik dan sarannya sangat diharapkan demi
kesempurnaan penulisan buku di masa mendatang. Harapannya
penulis semoga buku ini bermanfaat bagi yang baca.
3 Juni 2021
Penulis

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................. vii
BAGIAN I PROLOG .................................................................. 1

1.1 Latar Belakang................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................... 5
1.3 Tujuan Kegiatan.............................................................. 7
BAGIAN II SENSORI INTEGRASI DAN TEKNOLOGI
VIRTUAL REALITY ................................................................. 8
2.1 Penelitian Tindakan Kelas............................................... 8
2.2 Sensori Integrasi ........................................................... 11

2.2.1 Sistem taktil........................................................... 12
2.2.2 Sistem Vestibular................................................... 16
2.2.3 Sistem proprioseptif ............................................... 17
2.3 Teknologi Virtual Reality.............................................. 17
2.3.1 Virtual Reality ....................................................... 18
2.3.2 Google Cardboard.................................................. 22

vii

2.2.3 Unity 3D ................................................................ 23
2.2.4 VR dan Autis ......................................................... 24
2.4 Skema Alir Kegiatan..................................................... 26
BAGIAN III PEMBAHASAN .................................................. 27
3.1 Analisis Situasi ............................................................. 27
3.2 Kendala yang dihadapi dalam penelitian ....................... 31
3.3 Konfigurasi Google Cardboard SDK............................ 31
3.4 Script Program.............................................................. 39
3.5 Solusi............................................................................ 44
3.6 Hasil ............................................................................. 46
3.7 Publikasi Ilmiah ............................................................ 52
BAGIAN IV EPILOG ............................................................... 54
DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 55
LAMPIRAN – LAMPIRAN ..................................................... 62
TENTANG PENULIS............................................................... 68

viii

B

AI

B BAGIAN I PROLOG

1.1 Latar Belakang

utism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering
disebut autisme merupakan gangguan perkembangan
fungsi saraf otak yang mempengaruhi perkembangan
bahasa, kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi baik secara
verbal (bahasa) maupun non verbal, berinteraksi sosial, perilaku
motorik, emosi dan persepsi sensoris[1,2]. Gangguan perilaku ini
dapat menghambat perkembangan anak autis maka orang tua perlu
melakukan intervensi atau observasi untuk mengurangi gejala yang
ditunjukkan dan memperbaiki perilaku anak autis ke dokter[3,5].

Pengidap austisme tidak dapat disembuhkan[6,9]. Oleh
karena itu, orang tua harus mewaspadai gejalanya sedini
mungkin[2,3]. Meski demikian, ada banyak jenis penanganan yang
bisa dilakukan untuk membantu penyandang autisme agar dapat
menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari dan
mengembangkan potensi dalam diri mereka secara maksimal.

Tindakan penanganan yang dilakukan pada tiap pengidap
bisa berbeda-beda. Namun, penanganan yang diberikan pada
pengidap autisme umumnya berupa terapi[5,9]. Berikut beberapa
pilihan metode terapi untuk pengidap autisme:

a) Edukasi kepada keluarga
Keluarga memiliki peran yang penting dalam membantu
perkembangan anak. Bagaimanapun juga, orang tua adalah

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 1

orang terdekat yang dapat membantu anak untuk belajar
berkomunikasi, berperilaku terhadap lingkungan. Bisa
dikatakan keluarga adalah jendela bagi penderita autisme untuk
masuk ke dunia luar. Meski perlu diakui bahwa ini bukanlah
hal yang mudah, perlu kesabaran dan keikhlasan hati dalam
mengajarkannya agar anak bisa hidup mandiri.

b) Penggunaan obat-obatan
Pemberian obat-obatan tidak bisa menyembuhkan autisme,
melainkan dapat mengendalikan gejalanya. Penggunaan obat
pada penderita autisme harus dibawah pengawasan dokter.
Pengobatan ini diberikan jika dicurigai terdapat gangguan di
otak yang mengganggu pusat emosi dari penderita autisme. Hal
ini seringkali menimbulkan gangguan emosi mendadak,
agresifitas, hiperaktif dan stereotipik. Beberapa obat yang bisa
diberikan adalah haloperidol (antipsikotik), fenfluramin,
naltrexone (antiopiat), clompramin (mengurangi kejang dan
perilaku agresif).

Sensori integrasi merupakan sebuah proses mengenal,
mengubah, dan membedakan sensasi dari sistem sensori untuk
menghasilkan suatu respons berupa “perilaku adaptif bertujuan”[5]

Sensori integrasi (SI) merupakan proses organisasi dan
interpretasi yang dilakukan oleh otak saat menerima informasi
sensorik dari luar tubuh[4-6]. Informasi sensorik ini bisa berupa
sentuhan, gerakan, penglihatan, suara, bau, dan rasa. Sensori
integrasi berkembang seiring perkembangan aktivitas anak dan
berperan penting dalam proses belajar maupun perilaku
anak[4,5,8].

Namun pada beberapa anak, sensori integrasi tidak
berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan terjadinya
gangguan perkembangan dan pertumbuhan, proses belajar, serta

2 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

perilaku anak[2,5]. Gangguan pemrosesan sensori integrasi
seringkali dialami oleh anak yang mengidap autisme dan masalah
perkembangan lainnya.

Terapi sensori integrasi adalah metode terapi untuk
membantu anak dengan gangguan sensori integrasi[3,5,10]. Dalam
terapi ini, anak akan dihadapkan pada stimulus sensorik secara
berulang dan terstruktur. Seiring berjalannya waktu, otak anak
diharapkan mengalami adaptasi sehingga dapat memproses dan
menanggapi stimulus sensorik dengan lebih baik. Pada anak
dengan autism spectrum disorder (ASD), gangguan dalam
memproses impuls sensorik dapat menyebabkan masalah yang
memengaruhi perilaku dan keterampilan anak. Hal ini
menyebabkan anak menjadi kurang sensitif atau malah terlalu
sensitif terhadap stimulus sensorik di sekitarnya.

Terapi Sensori Integrasi dapat membantu anak kebutuhan
khusus dalam permasalahan di sekolah dan keterampilan hidup
sehari-hari agar bisa mandiri. Terapi sensori integrasi menekankan
stimulasi pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular dan
proprioseptif. Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu
familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran, namun
sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan
respons anak terhadap lingkungan[2,5,6].

Dalam pelaksanaan penelitian ini, dilakukan di Dilaraf
Islamic School yang berlokasi di jalan Kp Kelapa PLN Cikokol –
Tangerang - Banten. Dilaraf Islamic School adalah sekolah reguler
juga menerima siswa autis dengan kuota terbatas yang telah
melalui tahap penilaian (assessment) sebelum bergabung ke
program inklusi. Pelayanan pendidikan inklusi diberikan oleh
sekolah Dilaraf pada mata pelajaran tertentu bersamaan dengan
anak reguler, sehingga terbangun interaksi dan toleransi antara
anak normal dengan autis, saling memahami, mengerti adanya
perbedaan, dan meningkatkan empati, percaya diri dan kecerdasan

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 3

emosi bagi anak-anak reguler. Sedangkan pada autis akan
terbangun latihan sosialisasi dan interaksi yang merupakan bagian
dari terapi mereka. Anak-anak autis dengan kriteria tertentu tetap
bisa belajar di kelas regular dengan bantuan guru pendamping
(guru shadow) selain guru kelas. Dan untuk proses belajar mata
pelajaran lainnya, bagi sebagian anak autis akan belajar di ruang
khusus untuk ditangani guru khusus (trafis) dengan tambahan
kegiatan lain sesuai dengan individual program yang dibuat oleh
sekolah, khususnya divisi Spesial Education (SE)[22]. Dengan
sistem pendidikan inklusi Dilaraf Islamic School, anak autis
mendapatkan modifikasi pembelajaran yang sesuai program
sekolah anak autis sehingga anak dapat belajar dan
mengembangkan potensi dirinya untuk menatap masa depan yang
lebih baik. Salah Satu aktifitas dan Trafi Sensor Integrasi di
Dilaraf Islamic School Tangerang Banten dapat dilihat pada
gambar 1 dibawah ini.

(a) (b)

4 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

(c) (d)
Gambar 1. Aktifitas dan Media Trafi SI (a) Naik Turun Tangga,

(b)Berseluncur, (c) Meronce, (d) Belajar Bersama

Berdasarkan hasil observasi di Dilaraf Islamic School
Tangerang proses terapi dilakukan secara konvensional dengan
melibatkan peserta autis dan trafis dalam satu ruangan trafi dengan
bantuan alat peraga seperti Puzzle, meronce, naik turun tangga dan
lain sebagainya. pada penelitian ini bertujuan untuk menerapkan
teknologi Virtual Reality (VR) sebagai media terapi sensor
integrasi dengan menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan
perangkat Google CardBoard dan Handphone kepada siswa autis.
Penerapan teknologi VR diharapkan dapat memberikan salah satu
alternatif sebagai media pendidikan karakter, meningkatan
kompetensi baik kognitif maupun psikomotorik, serta mendukung
kegiatan praktikum secara dinamis, animatif dan interaktif sehingga
tidak membosankan dan menarik minat siswa Autis untuk
belajar[13, 5,14]

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil observasi dan penelitian diketahui bahwa
di Dilaraf Islamic Scholl khususnya divisi Spesial Education (SE)
yakni proses terapi dilakukan secara konvensional atau manual
seperti tempat-tempat sekolah atau tempat terapi yang lainnya

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 5

yakni dengan melibatkan anak autis dan trafis(guru) ditempatkan
dalam satu ruangan trafi dengan bantuan alat peraga seperti Puzzle,
meronce, naik turun tangga dan lain sebagainya, trafis mengajarkan
siswa autis dengan bantuan alat tersebut, trafi tersebut akan
merangsang stimulasi otak anak autis saat bermain dengan alat
peraga.

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknologi Virtual
Reality sebagai salah satu media terapi sensor integrasi dengan
menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan perangkat Google
CardBoard dan Handphone kepada siswa autis. teknologi VR dapat
memberikan salah satu alternatif sebagai media pendidikan
karakter, meningkatan kompetensi baik kognitif maupun
psikomotorik, serta mendukung kegiatan praktikum secara dinamis,
animatif dan interaktif sehingga tidak membosankan dan menarik
minat siswa Autis untuk belajar.

Aplikasi Sensori Integrasi dibangun dengan menggunakan
Unity yang memanfaatkan teknologi realitas virtual dan
diimplementasikan pada perangkat bergerak berbasis android.
Aplikasi ini akan memvisualisasikan objek 3D yang sudah diatur
sedemikian rupa sehingga membentuk lingkungan virtual.
Kemudian aplikasi ini akan menampilkan lingkungan virtual
kepada siswa autis menggunakan perangkat Google Cardboard.
Dengan begitu pengguna akan merasakan sensasi yang lebih nyata
didalam dunia realitas virtual dan diharapkan aplikasi terapi ini
lebih efektif dalam trafi Sensori Integrasi.

6 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

1.3 Tujuan Kegiatan

Berdasarkan masalah pada penelitian ini, maka tujuan dari
penelitian ini adalah :

1. Mengimplementasikan dalam Penerapan Teknologi Virtual
Reality sebagai Media Terapi Sensori Integrasi dengan
menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan komputer dan
perangkat google CardBoard.

2. Sosialiasi kepada trafi dan orang tua murid yang memiliki anak
autis dalam menggunakan teknologi virtual reality

3. Parenting Education secara berkala dengan tenaga trapis dan
akademis baik seminar dan workshop terkait masalah dan
problem solving untuk anak kebutuhan khusus baik teori
maupun praktik.

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 7

B

A II

G BAGIAN II SENSORI INTEGRASI

DAN TEKNOLOGI VIRTUAL REALITY

2.1 Penelitian Tindakan Kelas
enelitian Tindakan Kelas disingkat PTK atau Classroom
Action Research adalah bentuk penelitian yang terjadi di
dalam kelas berupa tindakan tertentu yang dilakukan

untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna meningkatkan
hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya[7].

Penelitian tindakan kelas dapat dipakai sebagai
implementasi berbagai program yang ada di sekolah, dengan
mengkaji berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil
pembelajaran yang terjadi pada siswa atau keberhasilan proses dan
hasil implementasi berbagai program sekolah[21].

Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk mengubah
perilaku mengajar guru, perilaku peserta didik di kelas,
peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran, dan atau
mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas yang
diajar oleh guru tersebut sehingga terjadi peningkatan layanan
profesional guru dalam menangani proses pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan
tindakan (Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi
dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (Observation and
evaluation)[8]. Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan

8 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning),
pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan
yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan). Gambar dan
penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah
sebagai berikut:

Gambar 2. Penelitian Tindakan Kelas[21]

1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk
pelaksanaan Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media
pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang
akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan
dikerjakan serta prosedur tindakan yang akan diterapkan.

3. Observasi (Observe), Observasi ini dilakukan untuk melihat
pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik,
tidak ada penyimpangan-penyimpangan yang dapat
memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 9

hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan
cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang
sesuai dengan data yang dibutuhkan.
4. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang
perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang
terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah
dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan
yang terjadi. Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang
ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah
secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan
tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

Pada penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas
dengan berkolaborasi dengan trapis kelas Early Starter TK A
Dilaraf Islamic School Tangerang - Banten, yang dilaksanakan
selama dua siklus melalui proses yang terdiri 4 (empat) tahapan
dasar yang saling terkait dan berkesinambungan

Pendampingan dan pelatihan ke trafis dan wali siswa autis
bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan
tentang penggunaan Teknologi Virtual Reality sebagai Media
Terapi Sensori Integrasi. Ada beberapa langkah dalam pembuatan
teknologi virtual reality, yaitu Perencanaan dan perancangan,
Pengembangan dan implementasi Aplikasi teknologi Virtual
Reality. Metodologi penelitian yang digunakan terlihat pada
Gambar 3 di bawah ini:

10 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Gambar 3. Metodologi Penelitian

2.2 Sensori Integrasi
Terapi Sensori Integrasi dapat membantu anak kebutuhan

khusus dalam permasalahan di sekolah dan keterampilan hidup
sehari-hari agar bisa mandiri Terapi sensori integrasi menekankan
stimulasi pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular, dan

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 11

proprioseptif. Sistem sensori ini sangat penting karena membantu
interpretasi dan respons anak terhadap lingkungan[1,5]

Adapun ketiga (3) indra utama yang ada pada terapi sensori
integrasi, sebagai berikut :

2.2.1 Sistem taktil

Sistem taktil merupakan sistem sensori terbesar yang
dibentuk oleh reseptor di kulit, yang mengirim informasi ke otak
terhadap rangsangan cahaya, sentuhan, nyeri, suhu, dan tekanan.
Sistem taktil terdiri dari dua komponen, yaitu protektif dan
diskriminatif, yang bekerja sama dalam melakukan tugas dan
fungsi sehari-hari. Hipersensitif terhadap stimulasi taktil, yang
dikenal dengan tactile defensiveness, dapat menimbulkan
mispersepsi terhadap sentuhan, berupa respons menarik diri saat
disentuh, menghindari kelompok orang, menolak makan makanan
tertentu atau memakai baju tertentu, serta menggunakan ujung
ujung jari, untuk memegang benda tertentu. Bentuk lain disfungsi
ini adalah perilaku yang mengisolasi diri atau menjadi iritabel.
Bentuk hiposensitif dapat berupa reaksi kurang sensitif terhadap
rangsang nyeri,suhu, atau perabaan suatu obyek. Anak akan
mencari stimulasi yang lebih dengan menabrak mainan, orang,
perabot, atau dengan mengunyah benda. Kurangnya reaksi terhadap
nyeri dapat menyebabkan anak berada dalam bahaya[1,5]

Para ahli terapi sensori integrasi dari Amerika Serikat telah
menyusun konsensus tentang elemen inti terapi sensori integrasi,
bisa dilihat pada Tabel 1 dibawah ini. Parham dkk menganalisis
apakah berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan terapi
sensori integrasi telah menerapkan elemen inti secara
konsisten[24]. Dari 34 penelitian yang dianalisis, Parham dkk

12 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

memperlihatkan bahwa sebagian besar peneliti secara eksplisit
mendeskripsikan strategi intervensi yang tidak konsisten dengan
elemen inti terapi sensori integrasi. Dari sepuluh elemen proses,
hanya satu elemen yang digunakan oleh semua studi, yaitu
memberikan rangsangan sensori. Peneliti menyatakan bahwa hal ini
wajar karena memang semua penelitian yang menggunakan prinsip
sensori integrasi akan memberikan rangsangan sensori yang
sebesar-besarnya. Keseluruhan elemen proses diterapkan hanya
pada dua (6%) penelitian, sedangkan sebagian besar penelitian
menerapkan kurang dari lima elemen proses yang merupakan
elemen inti terapi sensori integrasi[24].

Tabel 1. Elemen inti terapi sensori integrasi[24]

No Elemen inti Deskripsi sikap dan perilaku terapis

1 Memberikan Memberikan kesempatan pada anak untuk
rangsangan mengalami berbagai pengalaman sensori,
sensori yang meliputi taktil, vestibular, dan/atau
proprioseptif; intervensi yang diberikan
melibatkan lebih dari satu modalitas
sensori.

2 Memberikan Memberikan aktivitas yang bersifat

tantangan yang menantang, tidak terlalu sulit maupun

tepat terlalu mudah, untuk membangkitkan

respons adaptif anak terhadap tantangan

sensori dan praksis.

3. Kerjasama Mengajak anak berperan aktif dalam proses

menentukan terapi, memberikan kesempatan pada anak

pilihan aktivitas mengontrol aktivitas yang dilakukan, tidak

menetapkan jadwal dan rencana terapi

tanpa melibatkan anak.

4. Memandu Mendukung dan memandu anak untuk

organisasi mandiri mengorganisasi perilaku secara mandiri,

memilih dan merencanakan perilaku yang

sesuai dengan kemampuan anak, mengajak

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 13

anak untuk berinisiatif, mengembangkan
ide, dan merencanakan aktivitas.

5. Menunjang Menjamin lingkungan terapi yang kondusif

stimulasi optimal untuk mencapai atau mempertahankan

stimulasi yang optimal, dengan mengubah

lingkungan atau aktivitas untuk menarik

perhatian anak, engagement,dan

kenyamanan.

6. Menciptakan Menciptakan permainan yang membangun

konteks bermain motivasi intrinsik anak dan kesenangan

dalam beraktivitas; memfasilitasi atau

mengembangkan permainan objek, sosial,

motorik, dan imaginatif.

7. Memaksimalkan Memberikan atau memodifikasi aktivitas
kesuksesan anak sehingga anak dapat berhasil pada sebagian
atau seluruh aktivitas, yang menghasilkan
respons terhadap tantangan tersebut

8. Menjamin Meyakinkan bahwa secara fisik anak dalam
keamanan fisis kondisi aman, dengan menggunakan
peralatan terapi yang aman atau senantiasa
ditemani oleh terapis

9. Mengatur ruangan Mengatur peralatan dan ruangan sehingga
untuk interaksi dapat memotivasi anak untuk memilih dan
anak terlibat dalam aktivitas

10. Memfasilitasi Menghormati emosi anak, memberikan
kebersamaan pandangan positif terhadap anak, menjalin
dalam terapi hubungan dengan anak, serta menciptakan
iklim kepercayaan dan keamanan emosi

Sistem taktil memainkan peran penting dalam organisasi
otak sensorik. Bagaimanapun, kulit adalah organ sensorik terbesar
dan sistem sensorik pertama yang berkembang di dalam rahim.
Taktil bersama dengan stimulasi vestibular (yaitu gerakan) dan

14 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

propiosepsi (tekanan dalam) mendorong integrasi sensorik yang
baik. Otak memberi tahu anak dengan integrasi sensorik yang baik
bahwa menggenggam benda terasa enak dan sensasi, kulit memberi
tahu dia di mana tubuhnya akan memulai atau mengakhiri gerakan.
Anak-anak yang memiliki integrasi sensorik yang buruk sering
memiliki diskriminasi taktil yang buruk dan tampak canggung.

Bayi mendapat manfaat dari sentuhan kuat yang diberikan
dengan dibungkus dalam selimut atau dipegang erat-erat. Anak-
anak di panti asuhan atau lembaga lain yang belum menerima
cukup pegangan dan sentuhan awal dapat mengembangkan apa
yang disebut "pertahanan taktil." Anak-anak menganggap sentuhan
biasa seperti tepukan di bahu menakutkan atau menjengkelkan.
Anak-anak penyandang cacat seperti autisme tampaknya
mengalami kesulitan memproses informasi sensorik sejak ia lahir
dan menemukan juga sentuhan yang kurang nyaman buat mereka.
Perilaku umum yang mungkin mengindikasikan pertahanan taktil
meliputi:

 Menangis jika tidak disukai

 Menghindari bertelanjang kaki berjalan di atas rumput

 Menghindari tekstur makanan keras

 Tidak suka potong rambut dan potong kuku

Anak-anak dengan gangguan autisme sering mengalami
kesulitan dengan sistem taktil pelindung dan diskriminatif. mereka
sering pilih-pilih apa yang akan mereka makan atau sentuh dan ini
berdampak pada perkembangan motorik lisan dan keterampilan
motorik halus. Perawatan terapi okupasi dan pusat diet sensorik
memberikan pengalaman sentuhan yang mendalam seperti

 Menggulung di dalam selimut

 Bermain dengan tanah liat dan memeras mainan

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 15

 Merangkak menggunakan terowongan

 Bermain dengan bantal dan benda lunak lainnya

Saat anak mengembangkan toleransi terhadap stimulasi
taktil tekanan, ia mulai bermain benda yang bertekstur dan objek
yang akan disentuh dan dimanipulasinya, yang mengarah pada
pengembangan diskriminasi taktil dan keterampilan motorik
halus[23].

2.2.2 Sistem Vestibular

Sistem vestibular terletak pada telinga dalam (kanal
semisirkular) dan mendeteksi gerakan serta perubahan posisi
kepala. Sistem vestibular merupakan dasar tonus otot,
keseimbangan, dan koordinasi bilateral. Anak yang hipersensitif
terhadap stimulasi vestibular mempunyai respons fight atau flight
sehingga anak takut atau lari dari orang lain. Anak dapat bereaksi
takut terhadap gerakan sederhana, peralatan bermain di tanah, atau
berada di dalam mobil.Anak dapat menolak untuk digendong atau
diangkat dari tanah, naik lift atau eskalator, dan seringkali terlihat
cemas. Anak yang hiposensitif cenderung mencari aktivitas tubuh
yang berlebihan dan disengaja, seperti bergelinding, berputar-putar,
bergantungan secara terbalik, berayun-ayun dalam waktu lama,
atau bergerak terus-menerus[1,5].

Sistem vestibular dianggap memiliki pengaruh terbesar
pada sistem sensorik. Sistem vestibular melibatkan saraf
pemrosesan sistem tubuh dalam kaitannya dengan tarikan gravitasi
sehingga tubuh dapat menjaga keseimbangannya, dan dipengaruhi
oleh kecepatan, arah dan posisi tubuh. Siswa dengan ASD biasanya
menikmati gerakan berirama seperti berputar, bergoyang dan
berayun, yang berfungsi sebagai kegiatan menenangkan[5,51].

16 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Siswa yang mengalami kesulitan dengan pemrosesan
vestibular mungkin memiliki keseimbangan yang buruk, kontrol
otot, dan tonus otot. siswa yang memiliki kesulitan hiper-vestibular
untuk melakukan transisi ke gerakan secara perlahan, dan memberi
mereka pengetahuan selama durasi waktu aktivitas sambil
menawarkan kesempatan untuk beristirahat. Siswa-siswa yang
memiliki keseimbangan terbatas atau yang pusing karena berdiri
disediakan kursi yang memungkinkan mereka untuk terus berlatih
melempar dan menangkap sementara sistem vestibular mereka
beristirahat. Ketika keseimbangan mereka kembali, mereka
didorong untuk berdiri[51].

2.2.3 Sistem proprioseptif

Sistem proprioseptif terdapat pada serabut otot, tendon, dan
ligamen, yang memungkinkan anak secara tidak sadar mengetahui
posisi dan gerakan tubuh.Pekerjaan motorik halus, seperti menulis,
menggunakan sendok, atau mengancingkan baju bergantung pada
sistem propriosepsif yang efisien. Hipersensitif terhadap stimulasi
proprioseptif menyebabkan anak tidak dapat menginterpretasikan
umpan balik dari gerakan dan mempunyai kewaspadaan tubuh yang
rendah.Tanda disfungsi sistem proprioseptif adalah clumsiness,
kecenderungan untuk jatuh, postur tubuh yang aneh, makan yang
berantakan, dan kesulitan memanipulasi objek kecil, seperti
kancing. Hiposensitif sistem proprioseptif menyebabkan anak suka
menabrak benda, menggigit, atau membentur-benturkan kepala
[1,5].

2.3 Teknologi Virtual Reality

Pertumbuhan pesat dalam pengembangan teknologi VR
selama sepuluh tahun terakhir telah melihat argumen kuat yang
dibuat untuk penggunaannya sebagai alat pendidikan untuk anak-

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 17

anak, remaja dan orang dewasa[47]. Lingkungan virtual (VE)
memungkinkan pengguna untuk mengalami representasi dari
pengaturan imajiner atau "kata nyata" yang dihasilkan dalam 3-D
oleh teknologi digital[48]. Pengembangan lingkungan imersif yang
dihasilkan komputer telah dimungkinkan melalui penggabungan
lingkungan pendidikan dan hiburan, teknologi imersif (misalnya
head-mounted display (HMDs)), perangkat input canggih
(misalnya sarung tangan, pelacak dan antarmuka otak-komputer)
dan grafik komputer[49].

Penggunaan VR dalam konteks pendidikan cenderung
berfokus pada dua bidang penelitian yang saling terkait:
menyelidiki interaksi sosial dan penggunaannya sebagai alat
metodologis. VE bisa digunakan untuk menciptakan lingkungan
yang otentik dan valid secara ekologis yang berarti eksperimental
kondisi dapat direplikasi di berbagai studi dan peserta dapat
ditugaskan secara acak dengan kondisi percobaan, sehingga
meningkatkan efek generalisasi[50].

2.3.1 Virtual Reality

Virtual Reality adalah lingkungan yang disimulasikan oleh
komputer, yang dapat menstimulasi sensasi secara fisik seperti
pada dunia nyata atau dunia imajinasi. Realitas virtual dapat meniru
atau menciptakan ulang pengalaman yang dirasakan secara
sensorik oleh manusia. Kebanyakan realitas virtual menyediakan
lingkungan virtual memanfaatkan indra penglihatan. Hal itu
ditampilkan baik menggunakan layar monitor ataupun dengan
menggunakan alat bantu penglihatan lain. Selain indra penglihatan,
indra pendengaran juga dapat dipengaruhi oleh realitas virtual
dengan bantuan pengeras suara. Realitas virtual berbeda dengan
animasi maupun video yang citranya dimainkan atau diulangi
dalam suatu sekuen yang sudah diatur, realitas virtual bisa dilihat,

18 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

berinteraksi dan melihat dari berbagai prespektif. Sehingga
memberikan fleksibilitas yang lebih besar dari biasanya[18].
Penerapan Teknologi Virtual Reality pendidikan dapat dilihat pada
Gambar 4.

Gambar 4. Virtual Reality untuk Pendidikan

Gangguan spektrum autisme (ASD) adalah sekelompok
gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan defisit inti
dalam tiga domain, yaitu interaksi sosial, komunikasi dan perilaku
berulang atau stereotip[25], lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada perempuan. Ada peningkatan signifikan ASD selama
beberapa dekade terakhir, dengan kejadian sekitar 4 per 10.000
hingga 6 per 1000 anak [26,27,28]. Penyebab autisme sebagian
besar masih belum diketahui, tetapi ada bukti bahwa faktor genetik,
perkembangan saraf, dan lingkungan terlibat, sendiri atau bersama-
sama, sebagai kemungkinan efek kausal atau predisposisi
perkembangan autisme[29]. Meskipun tingkat gangguan di antara
individu yang menderita autisme dapat bervariasi, dampak pada
individu yang terkena dan keluarga mereka umumnya mengubah
hidup. Sebagian besar studi ASD difokuskan pada epidemiologi,
genetika dan neurobiologi, tetapi penelitian intervensi lebih lanjut

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 19

diperlukan untuk membantu individu dengan autisme, pengasuh
dan pendidik mereka. Dalam konteks ini, sangat penting untuk
mengembangkan alat untuk habilitasi neurokognitif yang
memungkinkan anak-anak dengan ASD untuk meningkatkan
kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-
hari. Alat yang cukup menjanjikan baru-baru ini muncul di banyak
domain rehabilitasi, yaitu virtual reality (VR) [30]. VR adalah
simulasi dunia nyata berdasarkan grafik komputer dan dapat
digunakan sebagai alat pendidikan dan terapi oleh instruktur dan
terapis untuk menawarkan lingkungan belajar yang aman kepada
anak-anak. Lingkungan(environment) virtual (VE) mensimulasikan
dunia nyata sebagaimana adanya atau menciptakan dunia yang
benar-benar baru, dan memberikan pengalaman yang dapat
membantu pasien memahami konsep serta belajar melakukan tugas
tertentu, yang dapat diulang sesering yang diperlukan [31].
Selanjutnya, VE lebih cocok untuk belajar daripada lingkungan
nyata karena mereka[32] :

1. Menghilangkan rangsangan untuk bersaing dari sosial dan
lingkungan

2. Memanipulasi waktu dengan istirahat pendek untuk
menjelaskan kepada peserta variabel yang terlibat dalam proses
interaksi

3. Memungkinkan subjek untuk belajar sambil bermain

Realisme lingkungan simulasi memungkinkan anak untuk
mempelajari keterampilan penting, meningkatkan kemungkinan
untuk mentransfernya ke dalam kehidupan sehari-hari mereka [33].
Sampai baru-baru ini, tampilan yang dipasang di kepala (HMD)
biasanya digunakan dalam VR untuk meningkatkan perasaan
tenggelam dalam VE. Sayangnya, selain menjadi solusi yang lebih
mahal dan kurang nyaman untuk monitor komputer biasa, HMD
juga dapat menyebabkan 'cyber-sickness' [34] yang gejala

20 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

sementaranya yang paling umum termasuk mual, muntah, sakit
kepala, mengantuk, kehilangan keseimbangan dan koordinasi mata-
tangan yang berubah. Namun, VE juga dapat divisualisasikan dan
dieksplorasi menggunakan monitor komputer biasa yang terhubung
ke komputer pribadi umum (desktop VE). Pengguna dapat bergerak
di VE menggunakan perangkat input umum, seperti keyboard,
mouse, joystick atau layar sentuh, dan interaksi antara anak dan
terapis juga didukung. Desktop VE lebih terjangkau dan dapat
diakses untuk penggunaan pendidikan, dan kurang rentan terhadap
gejala penyakit dunia maya.

Literatur semakin mengakui potensi manfaat VR dalam
mendukung proses pembelajaran, khususnya yang berkaitan
dengan situasi sosial, pada anak autis [33]. Penelitian telah
menganalisis kemampuan anak-anak dengan ASD dalam
menggunakan VE dan beberapa penelitian, kecuali satu [30],
menunjukkan bahwa mereka berhasil memperoleh informasi baru
dari VE. Secara khusus, peserta dengan ASD belajar bagaimana
menggunakan peralatan dengan cepat dan menunjukkan
peningkatan kinerja yang signifikan setelah beberapa percobaan di
VE[33].

Dua penelitian, menggunakan VE desktop sebagai alat
habilitasi, baru-baru ini dilakukan untuk mengajar anak-anak
bagaimana berperilaku dalam domain sosial dan bagaimana
memahami konvensi sosial [35]. Studi pertama melaporkan bahwa
dengan menggunakan VE yang mereproduksi 'warnet virtual' untuk
mengajarkan keterampilan sosial, kecepatan pelaksanaan tugas
sosial di VE meningkat setelah pengulangan tugas. Studi yang
sama menunjukkan peningkatan pemahaman keterampilan sosial
setelah sesi VE. Studi kedua menggunakan VE yang mereproduksi
'supermarket virtual' dengan beberapa latihan tentang penggunaan
objek secara fisik, fungsional dan simbolis, menemukan bahwa
kinerja peserta, dinilai dengan tes khusus, meningkat setelah

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 21

intervensi VE dan satu anak dapat mentransfer keterampilan yang
diperoleh dengan lingkungan nyata. Studi lebih lanjut dilakukan
dengan menggunakan lingkungan virtual kolaboratif (CVE) yang
mendukung beberapa pengguna simultan, khususnya pasien dan
terapis, yang dapat berkomunikasi satu sama lain.

2.3.2 Google Cardboard
Perangkat realitas virtual yang dikembangkan oleh Google

dengan bahan karton yang dilipat dan menggunakan perangkat
bergerak sebagai layarnya. Google Cardboard dimaksudkan
sebagai alternatif yang relatif murah dan terjangkau untuk
meningkatkan minat dan pengembangan dalam realitas virtual[18],
dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini. Google menyediakan dua
software development kits untuk mengembangkan aplikasi
Cardboard, keduanya menggunakan OpenGL, yang pertama untuk
Android menggunakan Java, dan yang kedua untuk game engine
Unity menggunakan C#.

VR BOX 2 adalah generasi terbaru kacamata 3D VR,
memiliki lebih banyak fitur untuk menikmati 3D VR game dan
video. Pilihan terbaik untuk menikmati film 3D, Video 360 &
memainkan game-game VR. VR BOX 2 telah diupgrade dari VR
BOX terdahulu. diantaranya :
1 Dengan Magnetic Button, membuat lebih banyak game VR

dapat anda mainkan.
2 Menggunakan system buka tutup, memasang smartphone

lebih mudah. lebih besar, dapat digunakan smartphone sampai
dengan maksimal size casing 16.38.51 cm. Upgrade holder
smartphone, dapat mengunci agar tidak goyang atau miring.

22 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Gambar 5. Google Cardboard

2.2.3 Unity 3D

Unity atau Unity 3D adalah sebuah perangkat lunak yang
berfungsi untuk membangun permainan atau aplikasi.Unity
merupakan suatu game development ecosystem yang mampu
digunakan untuk membuat permainan atau aplikasi dalam berbagai
macam platform baik console, desktop, dan mobile. Bahasa
pemrograman utama Unity adalah C# dengan IDE
MonoDevelope[4]. Unity menyediakan berbagai pilihan bahasa
pemrograman untuk mengembangkan game, antara lain JavaScript,
dan C Sharp (C#). Dalam penelitian ini penulis menggunakan
bahasa pemrograman C Sharp (C#) untuk mengembangkan
aplikasi[18].

Aplikasi unity 3D adalah game engine merupakan sebuah
software pengolah gambar, grafik, suara, input, dan lain-lain yang
ditujukan untuk membuat suatu game, meskipun tidak selamanya
harus untuk game. Contohnya adalah seperti materi pembelajaran
untuk simulasi trafi anak kebutuhan khusus,simulasi membuat
SIM, dan masih banyak tang lainnya. Kelebihan dari game engine
ini adalah bisa membuat game berbasis 3D maupun 2D, dan sangat
mudah digunakan.

Unity merupakan game engine yang ber-multiplatform.
Unity mampu di publish menjadi Standalone (.exe), berbasis web,
berbasis web, Android, IoS Iphone, XBOX, dan PS3. Walau bisa
dipublish ke berbagai platform, Unity perlu lisensi untuk dapat

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 23

dipublish ke platform tertentu. Tetapi Unity menyediakan untuk
free user dan bisa di publish dalam bentuk Standalone (.exe) dan
web.

2.2.4 VR dan Autis

Fitur utama VE telah disebut-sebut memiliki manfaat
potensial bagi individu autis karena mereka dapat menjadi
individual, dapat dikontrol, dapat diprediksi, dan menawarkan
"ruang aman" bagi pengguna untuk mempelajari keterampilan baru
[37, 39]. Ini berarti bahwa individu autis dapat mempraktikkan
interaksi dan perilaku dalam lingkungan realistis yang dapat
diprogram untuk mengurangi input sensorik dan sosial ke tingkat
yang dapat dikelola.

Publikasi beberapa tinjauan konseptual dan mutakhir dalam
beberapa tahun terakhir telah memfokuskan perdebatan lebih luas
tentang masalah yang berkaitan dengan penggunaan VR oleh, dan
dengan, individu autis [38,39]. Selain itu, sifatnya yang imersif VE
telah terbukti memungkinkan rasa kehadiran untuk remaja autis
[40] serta menyediakan alat motivasi untuk belajar [41]. Ada juga
bukti bahwa kemampuan untuk mengindividualisasikan, melatih,
dan mengulangi skenario sosial di berbagai konteks telah
memberikan peluang untuk generalisasi keterampilan sosial yang
dipelajari di VE ke dalam kehidupan sehari-hari interaksi
kehidupan[39, 42,43].

Studi yang ditinjau sebelumnya terutama mencakup jenis
media berbasis layar (yaitu monitor/TV layar) atau sistem yang
lebih mendalam yang melibatkan proyeksi animasi yang
ditampilkan di dinding dan langit-langit ruang yang disaring[39].
Namun, dan sebagai akibat langsung dari temuan positif terkait
dengan VRT ini, ada minat yang tumbuh pada potensi HMD
sebagai bentuk VE untuk kelompok autis[44,45]. Format ini (yaitu

24 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

HMD) adalah fokus dari makalah ini dan kami bertujuan untuk
menjelaskan keadaan seni di bidang ini

Penting untuk ditekankan bahwa masih ada basis bukti yang
terbatas dalam bidang ini dan kurangnya studi yang mengeksplorasi
penggunaan VR di semua rentang usia[39, 46] atau karakteristik
populasi yaitu diagnosis, IQ atau pengaturan pendidikan. Lain
peneliti telah menyebutkan kekhawatiran bahwa VR dapat
meningkatkan isolasi sosial dan biayanya yang tinggi dan
kurangnya ketersediaan umum merupakan hambatan potensial
untuk adopsi yang lebih luas oleh sekolah atau pengaturan
pendidikan [41]. Masalah biaya dan ketersediaan telah menjadi
berkurang oleh perkembangan terakhir dalam perangkat keras
teknologi yang telah membuat penggunaan dan penelitian dari VR
lebih terjangkau dan semakin beragam; maka perlunya tinjauan
mutakhir ini. Bagian berikut melihat lebih detail pada temuan dari
literatur penelitian di bidang ini, yaitu, penggunaan teknologi VR-
HMD dalam pendidikan individu pada spektrum autistik.

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 25

2.4 Skema Alir Kegiatan
Dalam merancang teknologi virtual reality sebagai media

terapi sensor integrasi dirumuskan skema kegiatan seperti pada
gambar 6 dibawah ini :

Gambar 6. Skema Alir kegiatan
26 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

B BAGIAN III PEMBAHASAN

A III

G

3.1 Analisis Situasi

ilaraf Islamic School adalah sekolah berkarakter islami
yang dibangun dengan tujuan menanamkan nilai-nilai
islami pada anak didik sejak usia dini. Program
pembelajaran yang mengarah pada pembentukan karakter islami
siswa dengan tetap mengedepankan adab dan ilmu serta
pengembangan potensi siswa. Dilaraf Islamic school berada
dibawah naungan Yayasan Sekolah Islam Dilaraf yang pada tahun
2015, mendirikan TK Dilaraf Islamic School dan telah mendapatkan
ijin operasional dari Pemerintah Kota Tangerang. Setahun
berikutnya mendirikan Play Group (PG) dan Sekolah Dasar (SD)
dan Spesial Education (SE) Dilaraf Islamic School. Lokasi sekolah
Dilaraf Islamic School berada di wilayah Pusat Kota Tangerang,
yaitu dekat dengan Kota Ayodya dan Tangerang City. Dilaraf
Islamic School terus berkomitmen dan berusaha mengembangkan
tempat belajar yang memadai untuk anak didik agar program
pembelajaran dapat terlaksana dengan baik[22].

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 27

Gambar 7. Lokasi Dilaraf Islamic School Tangerang

Pendidikan inklusif adalah Sistem penyelenggaraan
pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta
didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan
dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau
pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-
sama dengan peserta didik pada umumnya. Sehingga pendidikan
inklusi adalah adanya sebuah layanan yang mampu menaungi atau
mewadahi anak-anak yang memiliki hambatan/kekurang secara
fisik, mental dan emosi. Dan dapat diselenggarakan pada setiap
sekolah karena kebijakan-kebijakan telah ditetapkan oleh
pemerintah untuk memberikan layanan khusus sekolah formal
seperti autis[13].

Dilaraf Islamic School adalah sekolah reguler yang juga
menerima siswa autis dengan kuota terbatas yang telah melalui
tahap assessment sebelumnya melalui program inklusi. Siswa autis
ini memiliki kesempatan yang sama untuk belajar karena setiap
siswa adalah unik dan memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan
yang baik dan berkualitas. Pelayanan pendidikan inklusi diberikan

28 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

secara terpadu, yaitu pada mata pelajaran tertentu diberikan secara
bersamaan dengan anak reguler, sehingga terbangun interaksi dan
toleransi antara keduanya, saling memahami, mengerti adanya
perbedaan, dan meningkatkan empati, percaya diri dan kecerdasan
emosi bagi anak-anak reguler. Sedangkan pada autis akan
terbangun latihan sosialisasi dan interaksi yang merupakan bagian
dari terapi mereka. Anak-anak autis dengan kriteria tertentu tetap
bisa belajar di kelas regular dengan bantuan guru pendamping
(guru shadow) selain guru kelas. Dan untuk proses belajar mata
ajaran lainnya, bagi sebagian autis akan belajar di ruang khusus
untuk ditangani guru khusus dengan tambahan kegiatan lain sesuai
dengan individual program yang dibuat oleh sekolah, khususnya
divisi Spesial Education (SE). Dengan sistem pendidikan inklusi
Dilaraf Islamic School, anak autis mendapatkan modifikasi
pembelajaran yang sesuai sehingga anak dapat belajar dan
mengembangkan potensi dirinya untuk menatap masa depan yang
lebih baik[2]. Berikut ini sarana dan prasarana dilaraf islamic
school tangerang.

Gambar 8. Ruang Terapi SI 29

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Gambar 9. Ruang Terapi Edukasi

Gambar 10. Arena Bermain

Gambar 11. Ruang Terapi Sensor Integrasi
30 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

3.2 Kendala yang dihadapi dalam penelitian
Adapun Kendala kendala yang dihadapi saat penelitian yakni :

1. Sumber pendanaan dalam implementasi dan workshop untuk
menerapkan teknologi Virtual Reality sehingga penggunaan
alat secara bergantian.

2. Sebagaian anak autis sulit konsentrasi dan cenderung hiperaktif
saat memakai alat Google Cardboard

3.3 Konfigurasi Google Cardboard SDK
Panduan ini menunjukkan cara menggunakan Google

Cardboard XR Plugin for Unity for Unity untuk menciptakan
pengalaman Virtual Reality (VR). Kita dapat menggunakan
Cardboard SDK untuk mengubah ponsel cerdas menjadi platform
VR. Ponsel cerdas dapat menampilkan adegan 3D dengan
rendering stereoskopik, melacak dan bereaksi terhadap gerakan
kepala, dan berinteraksi dengan aplikasi dengan mendeteksi saat
pengguna menekan tombol penampil.

3.1.1 Persiapan

Sebelum memulai installasi ini, ada beberapa hal yang perlu
Anda unduh terlebih dahulu:

- Unity Engine; Unity Engine trial dan berbayar versi bisa
didownload https://unity3d.com/get-unity/download

- Google Cardboard SDK; Google Cardboard SDK bisa
didownload
https://developers.google.com/vr/develop/unity/download

3.1.2 Konfigurasi di Android
Arahkan ke File > Build Settings.
1. Pilih Android dan pilih Beralih Platform.

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 31

2. Pilih Add Open Scenes dan pilih HelloCardboard.

Pengaturan Pemain
Resolusi dan Presentasi
Arahkan ke Pengaturan Proyek > Pemutar > Resolusi dan
Presentasi.
 Atur Orientasi Default ke layar lebar(Landscape) Kiri.
 Nonaktifkan Kecepatan Bingkai yang Dioptimalkan.

Pengaturan lainnya
Arahkan ke Pengaturan Proyek > Pemutar > Pengaturan Lainnya.
1. Pilih OpenGLES2, atau OpenGLES3, atau keduanya di

Graphics API.
2. Pilih IL2CPP di Scripting Backend.
3. Pilih arsitektur yang diinginkan dengan memilih ARMv7,

ARM64, atau keduanya di Arsitektur Target.
4. Pilih Perlu di Akses Internet.
5. Tentukan domain Anda di bawah Nama Paket.

Pengaturan Penerbitan
Arahkan ke Pengaturan Proyek > Pemutar > Pengaturan
Penerbitan.
 Di bagian Build, pilih Custom Main Gradle Template dan

Custom Gradle Properties Template.
 Tambahkan baris berikut ke bagian dependensi dari

Assets/Plugins/Android/mainTemplate.gradle:

implementation 'androidx.appcompat:appcompat:1.0.0'
implementation 'androidx.constraintlayout:constrain
tlayout:1.1.3'
implementation 'com.google.android.gms:play-
services-vision:15.0.2'
implementation 'com.google.android.material:materia
l:1.0.0'

32 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

implementation 'com.google.protobuf:protobuf-
javalite:3.8.0'

3. Tambahkan baris berikut ke
Assets/Plugins/Android/gradleTemplate.properties:

android.enableJetifier=true
android.useAndroidX=true

Jika Target API Level diatur ke API Level 29 atau Otomatis
(tertinggi terpasang) (menghasilkan API Level 29), langkah-
langkah berikut juga diperlukan:
 Pilih 'Manifes Utama Kustom' di bagian Bangun.
 Tambahkan atribut berikut ke tag aplikasi

Assets/Plugins/Android/AndroidManifest.xml:

<application android:requestLegacyExternalStorage="
true" ... >

...
</application>

Pengaturan Manajemen Plug-in XR
Arahkan ke Pengaturan Proyek > Manajemen Plug-in XR.
 Pilih Cardboard XR Plugin di bawah Plug-in Providers.

Pengembangan Aplikasi
Arahkan ke File > Build Settings.
 Pilih Bangun, atau pilih perangkat dan pilih Bangun dan

Jalankan.

3.1.3 Integrasi Unity dengan Google Cardboard SDK
Tahapan integrasi antara Unity dengan Google Cardboard

SDK. Hal utama yang perlu diintegrasi adalah Stereoscopic
Camera. Stereoscopic Camera merupakan sistem pada kamera di

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 33

dalam game yang dibagi menjadi kamera kanan dan kamera kiri
agar dapat terbaca oleh Cardboard dengan baik.

Tahapan pertama adalah setup package Google Cardboard
SDK. Yang perlu kita lakukan adalah sebagai berikut:
- Buka project baru Unity. Pastikan memilih 3D sebelum

membuat project baru
- Import package Google Cardboard SDK For Unity. Klik Assets

 Import Package -> Custom Package, lalu pilih file
Cardboard SDK For Unity.unitypackage

3.1.4 Setup kamera menjadi Stereoscopic Camera
Setup kamera didalam game menjadi Stereoscopic camera,

ada beberapa cara untuk melakukan hal ini. Yang paling mudah
adalah dengan menggunakan prefab yang sudah disediakan di
dalam Google Cardboard SDK. Caranya adalah sebagai berikut:
 Hapus Main Camera yang ada di dalam hierarchy dengan cara

klik kanan "Main Camera"  Delete
 Masukan prefab yang bernama CardboardMain ke dalam

hirarchy dengan cara klik di tab project Assets  Cardboard 
Prefabs, lalu drag file CardboardMain ke dalam hierarchy
 Untuk memastikan kamera di dalam game kita sudah
Stereoscopic Camera, kita bisa menekan tombol Play dan
melihat di dalam tab Game layar kita sudah terbagi dua.
 Setelah memasukan prefab CardboardMain ke dalam tab
hierarchy, secara umum fungsi deteksi gyroscope sudah
terpasang.
 Selanjutnya menambahkan komponen di dalam scene

34 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

3.2 Implementasi Project 3D
Buka Aplikasi Unity dan kemudian buat project 3d baru

dengan nama SampleVRUniversal. Kemudian klik Create
Project

Gambar 12. Create Project 3D
Kemudian masukkan Object 3D sederhana dengan cara klik
kanan pada Hierachy -> 3D Object -> Cube. Atur posisi di X=0,
Y=0, dan Z=0 supaya terlihat di kamera seperti di bawah ini :

Gambar 13. Membuat Object 3D

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 35

Kemudian tambahkan pointer. klik kanan pada Main
Camera -> 3D Object -> Sphere. Atur posisi Z dengan nilai 2 dan
scale 0.05. Jangan lupa hapus Component Sphere Collider.
Lengkapnya seperti gambar di bawah ini:

Gambar 14. Setting Pointer
3.3 Menjalankan di Device Android untuk Cardboard

Pastikan device android Anda support Gyroscope.
Kemudian masuk ke Build Settings yang berada di menu File
> Build Settings. Jangan lupa untuk menyimpan Scene dan
menambahkannya di list scenes. kemudian switch ke platform
Android seperti gambar di bawah ini :

36 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Gambar 15. Menambahkan Scene

Setelah itu buka Player Settings, pastikan Default Orientation
menjadi Landscape Left.

Gambar 16. Player Setting 37

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Dan pada pilihan Other Settings pastikan Virtual Reality
Supported sudah dalam keadaan tercentang. Pada bagian Virtual
Reality SDKs isikan dengan Cardboard karena akan di build untuk
Google Cardboard. Lebih lengkapnya seperti gambar di bawah ini.

Gambar 17. Setting Virtual Reality
Sebelum melakukan build, pastikan sudah mengisi package
name, Bundle Version Code serta memasukkan keystore pada
pilihan Publishing Settings

38 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

Gambar 18. Publishing Settings

3.4 Script Program

Setelah itu kita membuat script yang sekiranya dapat digunakan
baik di Cardboard maupun di GearVR. Tambahkan script pada
game object Cube dengan cara klik Add Component > New
script. Contoh nama script TeleportUniversal.cs. Kemudian tulis
script seperti di bawah ini.

Scripting adalah unsur penting dalam semua aplikasi yang kita
buat di Unity. Sebagian besar aplikasi membutuhkan skrip untuk
menanggapi masukan dari pemain dan mengatur agar peristiwa
terjadi saat seharusnya. Selain itu, skrip dapat digunakan untuk

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 39

membuat efek grafis, mengontrol perilaku fisik objek, atau bahkan
menerapkan sistem AI khusus untuk karakter.

Bagian ini menjelaskan konsep utama yang berlaku untuk
scripting di Unity.

using UnityEngine;
public class TeleportUniversal : MonoBehaviour
{

void Update()
{

RaycastHit hit;
Vector3 posMainCam = Camera.main.transform.posit
ion;
Vector3 direction = Camera.main.transform.Transf
ormDirection(Vector3 .forward);
if ( Physics.Raycast(posMainCam, direction, out
hit))
{

if (hit.transform.name.Equals( "Cube"))
{

// ketika pointer diatas object yang ber
mana Cube

IsSelected( true);
if ( Input.GetMouseButtonDown(0))
{

// ketika klik Object yang bernama C
ube

Teleport();
}
}
}
else
{
// Ketika pointer diluar object

40 VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis

IsSelected( false);
}
if ( Input.GetKeyUp( KeyCode.Escape))
{

Application.Quit();
}
}
public void Teleport()
{
Vector3 direction = Random.onUnitSphere;
float distance = 5 * Random.value + 1.5f;
transform.localPosition = Camera.main.transform.
localPosition + direction * distance;
}

public void IsSelected( bool selected)
{

GetComponent< Renderer>().material.color = selec
ted ? Color.green : Color.red;

}
}

void Update () {
RaycastHit hit;
Vector3 posMainCam = Camera.main.transform.posit

ion;
Vector3 direction = Camera.main.transform.Transf

ormDirection(Vector3 .forward);
if ( Physics.Raycast(posMainCam, direction, out

hit))
{
if (hit.transform.name.Equals( "Cube"))
{
// ketika pointer diatas object yang ber

nama "Cube"

VIRTUAL REALITY Trafi Sensor Integrasi untuk Anak Autis 41


Click to View FlipBook Version