II Daftar Isi DAFTAR ISI .................................................................... Error! Bookmark not defined.i Karya Anita Purnaningsih S.Pd .......................................................................... 3-4 Puisi "Nyanyian Sampan Perahu"................................................................................. 3 Karya Alpina Karliana....................................................................................... 5-12 Puisi "Babad Pujaan Sang Ksatria"............................................................................... 5 Cerpen "Seulas Kasih Istri Sang Pengabdi"................................................................... 6 Karya Cornelyta Dwina B.A ............................................................................ 13-18 Puisi "Balada Pohon Pisang dengan Buahnya" .............................................................13 Cerpen "Segenggam Emas Untuk Ayahanda" ..............................................................14 Karya Fatimah Azzahra .................................................................................. 19-26 Puisi "Candra Mawa" .................................................................................................19 Cerpen "Yang Tersisa" ..............................................................................................21 Karya Stephanie Michelle.......................................Error! Bookmark not defined.27-42 Puisi "Rumah" ..........................................................................................................27 Cerpen "Rumah Teduh".............................................................................................28 Karya Yaumi Indriyani ................................................................................... 43-52 Puisi "Kembali di Titik Pertama Sang Waktu" ...............................................................43 Cerpen "Langit Tak Berwarna Sejak Kau Bersamanya" .................................................44 Karya Yacinta Artha Prasanti ......................................................................... 53-78 Puisi "Kerlip" ............................................................................................................53 Cerpen "Esterin" .......................................................................................................55
3 Antologi Puisi dan Cerpen Nyanyian Sampan Perahu Anita Purnaningsih, S.Pd. SMK N 6 Yogyakarta Awan colomunimbus menari diatas laut sore itu Lolongan petir bersautan seakan tak mau kalah Nyanyian perahu mendayu-dayu Seolah ragu untuk melangkah Namun nyanyian dari balik pintu Membuatnya harus melaju Demi perut dan nafsu Hingga tak ada yang menggerutu Sampan perahu terus melaju Menghantam ombak yang menyerbu Seakan tak mau tahu Petirpun turut memburu Sampan perahu tak lagi bernyali Terhempas terkoyak tak terkendali Nyanyian perahu tetiba sunyi Laksana penyanyi yang terganti Kemudi perahu tak mungkin keliru Ia takkan mungkin menipu apalagi mengadu Semua adalah lagu
4 Antologi Puisi dan Cerpen Sang fajar menjingga, menyilaukan mata perahu Seolah tak percaya mencoba membuka mata Terbelalak, Juta kilau bak permata, melompat riang ingin dipinang Nyanyian sampan telah terjawab indah
5 Antologi Puisi dan Cerpen Babad Pujaan Sang Ksatria Alpina Karliana SMK N 6 Yogyakarta Fajar bangkit menyiangi kurusetra Membakar semangat Sang ksatria Sayup terdengar pekikan sangkakala Maka berpijaklah si ksatria putra Arjuna Datang menantang merasuk cakrabyuha Namun kembalinya menuju Batari Durga Bunga ke tiga belas kini layu sempurna Setia menunggu tak harapkan kemenangan Hanya angan suami pulang dengan aman Sabar Utari menghibur belantara sunyi Yang kini membuat rongga dalam hati Cinta membuat Utari tetap hidup Walau cahaya hati kian meredup Seolah terbawa angin yang bertiup Kini tatakan hati kembali tertutup
6 Antologi Puisi dan Cerpen Seulas Kasih Istri Sang Pengabdi Alpina Karliana SMK N 6 Yogyakarta angkaian cahaya dengan berani menyusup menembus pekatnya embun pagi. Mengusik mimpi seorang wanita dengan perut besarnya. Syahla, nama wanita itu mulai mengernyitkan dahinya dan tangan yang terangkat untuk mengucek matanya yang lengket. Tangannya terulur ke samping meraih handphonenya untuk melihat jam. Seketika senyumnya merekah mengingat hari ini ia akan bertemu dengan suaminya yang pulang setelah bertugas dari Lebanon. Syahla saat ini tengah mengandung anak pertamanya. Mengandung selama 8 bulan terakhir sangat berat untuk Syahla terutama karena sang suami tidak ada di sini untuk mendampinginya. Tiap malam ia sangat kesepian sampai ia berangan-angan sang suami ada di sini sambil mengusap perut buncitnya, pasti akan sangat membahagiakan mengingat itu adalah putra pertama mereka. Namun mulai hari ini ia tak akan kesepian lagi, yang semula hanya angan semata akan menjadi nyata. Untuk merayakan kepulangan suaminya Syahla berniat membuat kejutan. Setelah mandi dan selesai bersiap untuk pergi mata Syahla membulat seakan ingat sesuatu penting yang ia lupakan. Ia segara meraih ponselnya dan menelpon seseorang. "Halo Dokter Ira saya ingin mengatakan sesuatu yang penting, bolehkah saya mengundur jadwal cek kandungan hari ini ?" "......." "Ya saya tidak akan mengundur hari terlalu lama hari ini suami saya pulang, mungkin besok atau lusa saya akan ke rumah sakit. Saya janji dok" ijin Syahla pada dokternya "........" "Baik dok Terimakasih banyak" ucap Syahla dengan wajah berbinar membuatnya terlihat sangat cantik. **** R
7 Antologi Puisi dan Cerpen Flashback Hujan deras tak henti-hentinya mengguyur kota Surabaya bahkan ketika semburat merah telah menyerang dan matahari kian mengalah. Hujan ini seperti mewakili suara hati Syahla, ketika nama Suaminya Angga Endra Bratadikara tercatat sebagai tentara yang ikut dalam misi perdamaian di Lebanon. Syahla sangat sadar inilah resiko dari seorang istri tentara, namun kesedihannya juga manusiawi bukan?. "Dek boleh minta tolong ambilkan sepatuku di rak?" Pinta Angga sembari memakai baju kebanggaan berwarna loreng itu. Sekian detik telah berlalu namun sepertinya tidak ada gerakan apapun dari luar kamar, Angga yang heran dengan itu segera keluar dari kamarnya dan mendapati Syahla sedang melamun sambil memegang sepatu suaminya. "Dek ada apa?" Syahla yang mendengarnya sedikit terlonjak kaget dan langsung menetralkan wajahnya. "Mas apa harus hari ini? apa kamu nggak bisa digantikan yang lain? Kapan kamu pulang? Sama siapa aku harus kontrol kandungan nanti?" Sederetan pertanyaan Syahla membuat Angga tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Kamu tahukan aku ini seorang tentara tentu saja kerjaku di Medan perang bukan di rumah, dari sini pula aku mendapat uang untuk menafkahimu dan calon anak kita, kamu yang sabar ya, nanti kita ketemu lagi beberapa bulan ke depan, aku janji" ucap Angga sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang. Dalam perjalanan Syahla terlihat gelisah ia terus-menerus meremas jemarinya sendiri. Dengan segala keberaniannya akhirnya di membuka suara "Boleh aku mengatakan sesuatu?" Mendengar itu Angga mengangguk sambil tersenyum tanda membolehkan "Selesaikan tugasmu dan cepatlah pulang, aku ingin sekali mendekor kamar bayi bersamamu, berbelanja perlengkapan bayi yang lucu-lucu bersamamu, dan saat anak kita beranjak besar aku ingin mengantarnya pergi ke sekolah untuk pertama kali juga sama kamu. Dibayangin aja udah buat bahagia mas" ucap Syahla dengan senyum tulusnya kali ini dia merasa lebih tegar toh tugas suaminya juga untuk kepentingan banyak orang. Syahla terduduk di pinggir kasur membayangkan percakapan terakhirnya dengan Angga beberapa bulan yang lalu yang membuatnya sedih. Namun perasaannya kembali membaik saat mengingat Angga akan pulang hari ini. Ia segera beranjak dari duduknya dan menuju garasi untuk mengambil mobilnya dan mengendarainya menuju mall untuk sarapan untuk membeli hadiah. *****
8 Antologi Puisi dan Cerpen Di tempat lain seorang pria berbadan gagah dengan pakaian lorengnya sedang duduk sambil bersandar di sebuah bangunan yang sedikit roboh. Ia tersenyum dikala membayangkan wajah istrinya yang sedang tersenyum menyambut kepulangannya. Saat sedang melamun Angganama pria gagah itu dikejutkan dengan suara teriakan wanita tua yang terdengar kesakitan. "Arggg ampuni aku Tuan, tolong jangan pukuli aku Arghh" Angga segera bangkit menuju sumber suara. Terlihat seorang wanita tua dengan pakaian lusuhnya sedang dipukuli oleh 3 orang pria bersenjata lengkap. "BERHENTII, Apa yang kalian lakukan ia hanya seorang wanita tua. Apa yang ia lakukan sampai kalian bertindak keterlaluan seperti ini" teriak Angga sambil berlari menghampiri wanita tua itu. "HEI JANGAN MENDEKAT. APALAGI IKUT CAMPUR DENGAN URUSAN KAMI. PERGILAH SEBELUM KAMI BERUBAH PIKIRAN." Teriak pria yang paling tinggi "TIDAK... Aku tidak akan pergi sebelum kalian melepaskan wanita ini." Balas Angga "HAHAHAHAHAH...... Dengar kuberi kau kesempatan sekali lagi untuk segera pergi dan lupakan tentang hal ini, atau jika kau memilih tinggal dan membela wanita tua ini. Maka, akan kupastikan kau yang mati lebih dulu daripada wanita ini, pikirkanlah mumpung aku masih berbaik hati" ucap pria itu sambil menunjuk wajah Angga Tiba-tiba "DOR.....DOR.....DOR" seorang pria dengan tangan gemetar menembakkan tiga peluru pada tubuh Angga, membuat pria paling tinggi melototkan matanya. "HEI DASAR AMATIR!!!, APA YANG KAU LAKUKAN PADA MAINANKU, Apa kau mulai bersikap sok hebat sekarang HAH!!! Bawa dia ke rumah sakit sekarang, setelah sembuh berikan dia padaku akan ku beri pelajaran hingga dia menyesal" titahnya "Ma-maafkan aku Mr. X kupikir dia musuh kita, maaf Mr. X" sambil menunduk dalam. ***** "Permisi, bolehkah saya melihat-lihat produk jam tangan pria dari Daniel Wellington?" Ucap Syahla pada pegawai yang berjaga "Tentu saja Kak, produk seperti apa yang ingin kakak cari?" "Hmm, yang terlihat simple, elegan, dan berwarna hitam, entahlah tunjukkan saja produk yang recommended disini" karyawan itu mengangguk dan berlalu mengambil produk. "Kak kami mempunyai produk jam tangan Daniel Wellington Classic Petite York Watch, produk ini sangat cocok dengan permintaan kakak" Syahla menerima jam itu dengan hati-hati dan mulai mengecek dengan teliti setiap incinya. Sekian detik berlalu Syahla hanya menimang-nimang jam tangan itu. Syahla menghembuskan napasnya perlahan dan bergumam "Huh aku pusing mikirin mas Angga bakal suka atau engga, tapi yaudahlah mas Angga kan suka warna hitam, pasti dia suka dan harus suka karena ini dari
9 Antologi Puisi dan Cerpen aku" putus Syahla pada akhirnya. Seolah tidak kenal lelah ia sampai melupakan sarapan. Syahla keluar dari mall menuju toko dekorasi yang berjarak tak jauh dari mall, Syahla hanya berjalan kaki padahal matahari sangat terik pikirnya jika mengeluarkan mobil dari parkiran akan memakan waktu. Syahla hanya membeli balon berwarna hitam dan gold serta balon dengan bentuk huruf yang jika disatukan akan bertuliskan 'welcome', serta beberapa terompet kecil seperti di acara ulang tahun. Syahla segera bergegas untuk segara pulang agar dapat mengejar waktu. Sesampainya di rumah Syahla segera mendekorasi dengan balon-balon yang ia beli tak lupa ia juga membungkus kadonya. Tak lama matanya terlihat lelah, wajahnya mulai pucat kelelahan. 'Brukkk' Syahla sudah tak sanggup membuka matanya lagi walaupun sayup terdengar suara mamanya yang baru saja membuka pintu rumah. "ASTAGA JAM BERAPA INI!!" Pekik Syahla setelah bangun dari pingsan. "Syahla bukannya mama udah bilang jangan pernah lewatin sarapan, kenapa kamu selalu ceroboh sihh" ucap mamanya sambil memijit pangkal hidungnya. "Maaf ma, Syahla terlalu bersemangat untuk menyambut mas Angga, jadiii..Syahla lupa hehe" Sedikit lagi decor ala Syahla akan selesai. Ponselnya tiba-tiba berdering ia pun segera beranjak dari sofa dan mengangkatnya siapa tahu itu telepon penting. "Selamat sore Bu Syahla, kami dari anggota TNI AD. Ingin menyampaikan hal penting, sebelumnya tolong ibu tetap tenang dan jangan panik kami disini akan berusaha sebaik mungkin." Mendengarnya Syahla dan Mamanya hanya mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Mengapa mereka terdengar serius sekali jantung Syahla menjadi berdetak tak karuan "Ada apa ya pak, saya tidak mengerti. Apakah acara penyambutan dimajukan dan saya tidak tau sehingga saya terlambat datang?, bukankah acaranya nanti malam, para tentara akan tiba pukul 19.00 WIB bukan? Sekarang baru pukul 17.00 WIB" keseriusan para tentara itu membuat hati Syahla menjadi takut "Tidak bukan itu, kami ingin menyampaikan bahwa Serda Angga Endra Bratadikara dinyatakan hilang di lokasi penugasan. Kami harap ibu tetap tenang dan terus berdoa kami berjanji akan melaksanakan pencarian dengan sebaik-baiknya" mata Syahla membulat sempurna jantungnya bergemuruh lebih cepat dari sebelumnya. Air matanya kini lolos tanpa izin dari Sang pemilik. Hal negatif terus menggelayuti pikirannya. Badannya pun sudah terduduk di lantai karena terlalu lemas. "Ma, ini cuma mimpi kan? Mas Angga pasti pulang kan Ma?" Sambil mengusap air matanya "Nak sudah jangan menangis lebih baik kita doakan Angga saja ya, dia pasti pulang kok" mama Syahla hanya bisa memeluknya sambil menahan air matanya yang akan jatuh melihat Syahla yang histeris seperti ini membuat hatinya teriris sakit.
10 Antologi Puisi dan Cerpen Seminggu telah berlalu sejak suaminya dinyatakan hilang, namun belum ada kabar apapun yang disampaikan oleh para tentara pencari. "Nak makanlah dulu, jika bukan untuk dirimu sendiri pikirkanlah anakmu dia berhak untuk itu. Angga pasti pulang nak" ucap mamanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Ma, aku kangen mas Angga, aku khawatir Ma, aku juga ingin anak kami lahir saat mas Angga ada" ucapnya sambil mengusap pipinya yang basah. " Iya mama tau tapi kamu harus makan ya sayang biar kalau Angga pulang kamu dan bayimu sehat" mendengarnya Syahla mengangguk dan mulai makan hingga dikejutkan dengan suara deringan telepon "Apa kalian menemukan mas Angga? Apa ada kemajuan dalam pencariannya?" Ucap Syahla penuh harap "Serda Angga sudah ditemukan, tetapi kondisinya kritis dan penuh luka. Tetapi rumah sakit disini tidak ada yang mampu menanganinya sehingga kami akan menerbangkannya ke Indonesia dengan segera. Kami juga akan berusaha memberi perawatan di dalam pesawat dengan beberapa dokter. Mohon doakan kami". Air mata bahagia Syahla meluncur begitu saja ia sangat berharap suaminya bisa tertolong dan kembali pulang ke rumah. **** Syahla selalu menatap mata suaminya yang hingga kini masih betah tertutup. Tangannya mengusap lembut rambut Angga, lalu turun ke pipinya sambil bergumam "Bangunlah aku dan bayi kita nunggu kamu mas, kami berdua kangen kamu mas Angga, bangun yuk jangan tidur terus Syahla sedih mas" ucap Syahla dengan lagi dan lagi air matanya turun tanpa perintah. Entah keajaiban darimana jemari Angga mulai bergerak perlahan. Matanya pun mulai terbuka walau tidak sepenuhnya. Melihat hal itu Syahla dengan segera memanggil dokter. Dengan tergesa-gesa dokter segera datang dan memeriksa Angga "Syukurlah bapak Angga telah melewati masa kritisnya, tetapi masih sangat lemah dan lukanya masih basah." Ucap dokter sambil memandang Angga dan luka-lukanya "Syukurlah terimakasih dokter terimakasih" Semua orang yang ada disana bersyukur dengan kesadaran Angga hingga suara Angga menghentikan obrolan mereka "Syahla, apa aku bisa bicara berdua saja sama kamu?" Perkataan Angga membuat semua yang ada di ruangan beranjak keluar kecuali Syahla "Dek, sebelumnya mas minta maaf kalau udah buat kamu khawatir, sekarang mas ada disini kan sama kamu jangan sedih lagi hapus air matamu mas jadi sedih klo kamu nangis gara-gara mas nanti dedek bayinya ikut sedih loh, nanti kamu sakit kalau nangis terus" bukannya berhenti tangis Syahla semakin pecah, bisa-bisanya suaminya itu sedang sakit malah mengkhawatirkan orang lain.
11 Antologi Puisi dan Cerpen Hari ini tepat sebulan Angga di rawat dan hari ini pula hari kelahiran sang buah hati mereka. Kebahagiaan mereka rasanya lengkap sekarang. Angga sesekali menciumi putra kecilnya yang terlelap. "Dek boleh aku kasih nama buat dia?" Syahla tersenyum lalu mengangguk "Tapi namanya yang bagus, kalo norak ntar aku aja yang kasih" jawabnya sambil tertawa. "Hmm, gimana kalau namanya Yasa Anandra Bratadikara?" "Wahh boleh tuh mas bagus" Angga hanya tersenyum bangga ketika nama pemberiannya dipuji oleh istrinya. "Dek, mas pengen bicara berdua sama mama dong boleh kan?" "Boleh dong mas, bentar ya aku panggilin mama sama mau ajak Yasa keluar" ucap Syahla sambil menggerakkan kursi rodanya agar berjalan ke arah pintu sambil menggendong Yasa. Syahla harus memakai kursi roda karena beberapa jam melahirkan Syahla bersikeras ingin bertemu dengan Yasa sekaligus Angga. "Ada apa nak, kamu udah sehat kan?" Tanya mama Syahla dengan lembutnya "Ma, Angga sakit ma. Oleh karena itu Angga suruh Syahla keluar biar dia gak khawatir luka aku sakit banget ma, aku udah nggak tahan. Angga minta maaf kalau selalu buat mama dan Syahla khawatir. Mama tolong jagain Syahla dan Yasa ya ma" ucap Angga dengan badan yang gemetar hebat tangannya meraih besi pada kasur rumah sakit sebagai pelampiasan rasa sakitnya. "Angga kamu kenapa nak, mama panggilkan dokter sebentar ya" ucapan mama mertuanya membuat Angga menggeleng dan menitipkan sesuatu kepada mama mertuanya. Dengan nafas yang mulai tersengal Angga mulai menutup matanya, wajahnya mulai memucat dan badan yang tadi bergetar hebat mulai kehilangan tenaganya. "Nggak Angga bangun Syahla dan Yasa butuh kamu nak, DOKTER...DOKTERR" teriak mama Syahla histeris. Syahla menutup mulutnya tak percaya dengan tangisnya semakin menjadi-jadi saat dokter mengatakan bahwa Angga telah tiada. Pikiran Syahla menjadi kacau bagaimana mungkin Angga meninggalkannya sendiri untuk merawat Yasa. Kini dua hari setelah pemakaman. Mama Syahla memberikan sesuatu yang dititipkan Angga kepadanya untuk Syahla. Yang diberi hanya diam kebingungan seolah bertanya 'apa ini'. "Bukalah itu surat dari Angga untukmu, mama ingin memberikannya padamu kemarin tapi mama belum sanggup. Ikhlaskan Angga ya nak, Allah ambil Angga karena sayang dan karena Allah tau kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa menghadapi semua ini" ucap mama Syahla sambil mengusap air matanya lalu beranjak pergi dari kamar Syahla. Perlahan Syahla membuka isi suratnya : 'Dek maafkan mas karena gabisa menuhin janji mas sendiri. Mas juga pengen mendekor kamar bayi kita dengan dekor yang lucu-lucu. Mas juga pengen beli perlengkapan bayi sama kamu dan mengantar anak kita ke sekolah untuk pertama kalinya.
12 Antologi Puisi dan Cerpen Jiwa mas ingin sekali melakukan itu tapi raga mas udah gak kuat dek, setiap hari mas rasain sakit sampe mas sendiri gak bisa nahan itu semua. Tapi mas yakin walaupun mas pergi kamu tetep bisa ngerawat Yasa dengan baik. Tetep bisa jadi ibu yang terbaik buat Yasa. Mas mencintai kamu dek, tapi mas minta maaf mas gabisa menuhin janji mas....' Air mata Syahla yang sudah mengering kini menetes kembali, namun ia segera menghapusnya ia harus kuat untuk Yasa dan orang-orang yang mencintainya saat ini. "Tatkala kau sedang merindukan seseorang Berdoalah, karena hanya dengan itu rasa rindumu akan tersampaikan kepada seseorang yang dirindu"
13 Antologi Puisi dan Cerpen Balada Pohon Pisang dengan Buahnya Cornelyta Dwina B.A SMKN 6 Yogyakarta Songsongan fajar bangkitkan semua insan Bersukacitalah wahai semua tumbuhan Membuat hati meliriknya menjadi nyaman Yang mengalir dalam kehidupan Melihat seluruh keadaan sekitar Kini membuatku terpaku pada pohon pisang Berparas luar biasa Terkagum-kagum hingga meronta Namun ta kusangka Memiliki kisah pelik kesedihannya Begitupun ia tetap tumbuh dengan kokoh Melawan semua racun-racun dari tanah dan dari tangan-tangan manusia serakah Ia tak ingin hidupnya sia-sia Sampai menumbuhkan buahnya dengan sempurna Menjadi gemintang di hidupnya Yang sungguh berharga
14 Antologi Puisi dan Cerpen Segenggam Emas untuk Ayahanda Cornelyta Dwina B.A. SMK N 6 Yogyakarta ongsongan fajar menyapa di hari baru. Hiduplah keluarga yang serba dengan kemewahan. Dipimpin oleh seorang ayah bernama Pak Ignatius dan berusia 50 tahun. Pak Ignatius merupakan pekerja keras karena ia bekerja dari pagi sampai pulang pagi demi kemajuan usahanya di bidang kuliner hingga telah memiliki cabang di seluruh Indonesia. Di samping ia bekerja tak lupa tuk menyempatkan waktu beribadah kepada Yang Maha Kuasa. Pendamping hidupnya yang sangat ia cintai yakni istrinya berparas cantik namun memiliki sifat yang angkuh dan tak mau peduli dengan orang-orang yang miskin. Sebut saja Bu Evelyn berusia 45 tahun yang setiap harinya hanya bersosialita dengan ibu-ibu yang selevel dengannya. Tak lemgkap jika taka da malaikat kecil, mereka berdua dikaruniai 2 buah hati nan cantik yakni Valora dan Vlarenthia. Pak Ignatius sangat mencintai kedua anaknya, semua permintaan anak-anaknya selalu dituruti dan membuat mereka semua sangat manja kepada ayahnya. Valora dan Vlarenthia kini telah menjadi mahasiswa di luar negeri yaknik Valora di London dan Vlarenthia di California. Itu semua juga berkat jerih payahnya ayahnya. Namun tak disangka uang yang dikirim oleh ayahnya untuk membayar kuliah hanya dihamburhamburkan untuk party dengan teman-temannya. Mendengar hal itu ayahnya sangat kecewa dan sudah salah mendidik mereka berdua, tetapi padahal ia berharap salah satu anaknya nanti bisa meneruskan usahanya. Hingga berjalannya waktu, semua anak-anaknya telah kembali dari pendidikannya ayahnya memiliki tujuan untuk mengangkat anak laki-laki agar bisa menjadi penerus usahanya. Tetapi ia mendapat hambatan bahwa istri dan anak-anaknya sangat tidak setuju. Pada makan malam... Ayah : “Papa, ingin bilang sesuatu ke kalian semua.” Victoria : “Apa, Papa mau bilang apa?” Vlarenthia : “Apakah hal ini sangat penting Pa?” Ayah : “Iya sungguh penting dan papa berharap kalian dapat menyetujui apa yang papa katakan.” Victoria : “Kalau itu baik ya kami setuju Pa. Memangnya mau bilang apa?” Ayah : “Papa ingin sekali mengangkat anak laki-laki untuk meneruskan usaha papa.” Sontak ibunya kaget dan sangat tidak setuju... Ibu : “Apaaaa! Mengangkat anak? Mama sangat tidak setuju dengan keinginan Papa.” S
15 Antologi Puisi dan Cerpen Ayah : “Tetapi Ma, Papa hanya ingin ada yang meneruskan usaha Papa, jika nanti aku sudah tiada anak laki-laki itu yang akan memimpin perusahaan dan melindugi kalian semua.” Valora : “Kenapa bukan Lora aja Pa? Papa tidak percaya dengan kemampuan aku? Aku anak pertamanya Papa loh.” Ayah : “Bukan tidak percaya sayang, Papa hanya tidak mau kamu kecapekan mengurus banyaknya usaha Papa.” Valora : “Capek??? Ngapain harus capek Pa, kalau Papa bisa kenapa anaknya tidak bisa! Pokoknya aku enggak mau ada anak pungut di sini.” Vlarenthia : “Iya loh Pa, kak Lora kan pinter kenapa ga percaya atau Papa punya maksud lain dari ini semua?” Ibu : “Dengar ya Pa, anak-anak saja tidak setuju. Apalagi Mama, kalau Papa tetep kekeh mendingan kita cerai aja! Karena mama gak mau menerima anak pungut yang seperti gembel itu!” Ibunya sambil pergi dan meninggalkan meja makan... Vlarenthia : “Loh Ma, jangan bilang seperti itu kita bisa bicarakan baik-baik. Kita gak mau Mama Papa cerai hanya karena hal yang tidak jelas ini. Ma tunggu sebentar...” Valora : “Papa juga aneh kenapa sih harus punya keinginan seperti itu?” Ayah : “Apa salahnya Papa sih nak, kalau Papa ingin 1 anak laki-laki saja. Kalian seharusnya senang memiliki kakak yang bisa sebagai pelindung bukannya melarang Papa ini, niat Papa baik Lora.” Vlarenthia : “Berarti Papa tidak senang dengan kehadiran kita berdua di dunia ini? Kalau memang begitu mulai besok Papa urus tuh anak pungut gembelnya. Aku gamau anggap dia jadi saudara kandung sendiri! Jijik rasanya !” Vlarenthia pergi meninggalkan Valora dan Ayahnya... Ayah : “Vlarent... tunggu sebentar nak..” Valora : “Sudahlah Pa, memang betul kata-kata Vlarent dan Mama. Buat apa juga aku dilahirkan kalau bukan menjadi penerus usaha Papa? Apa seorang wanita juga tidak bisa menjadi Pengusaha? Tidak pantas yaa?” Ayah : “Tidak sayang, tolong dengarkan perkataan Papa dulu..ini semua untuk kebaikan kamu, Vlarenth, dan Mama.” Valora : “Lora udah capek dengerin kata-kata Papa, mending Lora pergi aja cari hiburan sama teman-teman Lora.”
16 Antologi Puisi dan Cerpen Mereka semua meninggalkan ayahnya dan ayahnya pun hanya bisa meneteskan air mata.... Hingga di esok harinya ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas. Darahnya bercucuran dari bagian kepalanya. Ayahnya ditolong oleh anak laki-laki penjual donat yang sangat baik hati dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Keluarganya sangat cemas ketika diberikan kabar ayahnya mengalami kecelakaan tabrakan dengan truk besar dan pihak rumah sakit sangat membutuhkan banyak darah untuk menolong nyawanya. Ibu dan anaknya sangat takut jika nyawa ayahnya tak tertolong. Banyak saudara dan rekan-rekan ibunya ditelepon untuk mendonorkan darah untuk ayahnya, tetapi golongan darah ia sangat langka yakni AB istri dan anak-anaknya pun tak ada yang cocok. Hingga anak laki-laki penjual donat itu menghampiri Ibu Evlyn untuk mendonorkan darahnya. Anak laki-laki : “Permisi, Bu. Saya tadi yang menolong suami ibu dan saya dengar suami ibu sangat membutuhkan darah? Sekiranya ibu ijinkan saya ingin membantu suami ibu. “ Ibu : “Ooh kamu ya yang sudah menolong suami saya nak, terimakasih banyak nak. Dan kalau kamu tidak keberatan kamu boleh menolong suami saya.” Anak laki-laki : “Tidak keberatan Bu, baik saya segera ke dokternya untuk mendonorkan darah untuk suami ibu.” Ibu : “Terimakasih banyak nak.” Ketika ayahnya dioperasi keluarganya sangat c… Valora : “Ma, aku gamau Papa kenapa-kenapa.” Aku dan Vlarenth masih butuh Papa Ma.” Ibu : “Iya nak, Mama juga menyesal kemarin mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya Mama ucapkan. Jika tanpa Papa hidup Mama juga sudah tidak berarti.” Vlarenthia : “Iya Ma, aku juga nyesel kemarin sudah marah-marah dengan Papa. Aku pun sebenarnya tidak tega melihat Papa harus mengalami kejadian seperti ini.” Datanglah anak laki-laki itu dan mengajak mereka untuk mendoakan ayahnya… Anak laki-laki : “Permisi Bu, lebih baik kita mendoakan saja untuk keselamatan suami ibu. Mari Bu saya temani.” Ibu : “Kamu benar juga nak, mari mendoakan suami saya agar operasinya berjalan lancar. “ Setelah itu operasinya sudah selesai dan ayahnya dipindahkan ke kamar inap… Ibu : “Puji Tuhan operasi suami saya lancar, terimakasih nak sudah mengingatkan saya dengan Tuhan. Saya memang orangnya tidak taat beribadah, tetapi setelah saya bertemu kamu hati saya rasanya adem sekali. Boleh tau namamu siapa?” Anak laki-laki : “Iya Bu sama-sama. Nama saya Aldy Bu.” Ibu : “Oh nak Aldy, nak ini ada sedikit ucapan terimakasih dari keluarga kami.”
17 Antologi Puisi dan Cerpen Aldy : “Tidak perlu Bu, saya ikhlas menolong suami ibu. Uangnya ditabung saja Bu untuk membayar rumah sakit ini.” Ibu : “Kamu sungguh malaikat nak, baik sekali. Saya heran mengapa ada orang yang ikhlas seperti kamu itu padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya.” Aldy : “Namanya juga hidup Bu, kita harus selalu berbuat baik ya meski sikap kita belum bisa dihargai. Kalau begitu saya pamit pulang Bu.” Setelah 3 hari lamanya, ayahnya pun sadar. Ibunya pun menceritakan terutama si Aldy itu. Ayahnya pun ingin sekali melihat Aldy tetapi ibunya binggung bagaimana caranya bisa mempertemukan mereka. Ayah : “Ma..Papa ingin ketemu dengan anak itu. Boleh kan Ma?” Ibu : “Tentu saja boleh, tetapi tunggu sebentar ya Pa Mama juga binggung caranya untuk menghubungi dia. Papa berdoa saja ya supaya bisa bertemu dengan Aldy. Tuhan pun menjawab doa ayahnya. Tiba-tiba Aldy datang untuk menjenguknya. Aldy : “Permisi, Bu saya Aldy ingin menjenguk kesehatan suami ibu. Ibu : “Aldy, iya terimakasih ya nak sudah datang suami saya juga ingin bertemu denganmu.” Ibu : “Pa, ini Aldy yang Mama ceritakan kemarin.” Ayah : “Nak.. terimakasih sudah menolong saya, mungkin kalau tidak ada kamu saya sudah tidak selamat. Aldy : “Tidak Pak, ini semua pertolongan dari Allah juga. Saya hanya perantara dari Allah saja.” Seketika itu perasaan ayahnya sudah tidak enak dan ia ingin mengangkat Aldy sebagai anaknya lagi… Ayah : “Ma, boleh Papa angkat Aldy menjadi anak kita?” Tetapi kalau tidak boleh ya tidak papa.” Ibu : “Pa, maafkan Mama kemarin sudah mengucapkan hal seperti itu. Sekarang Mama sudah setuju Pa, nanti mama sampaikan Lora dan Vlarenth supaya bisa menerima Aldy dikeluarga kita.” Ayah : “Terimakasih Ma. Aldy sekarang kamu sudah jadi anak angkat Pak, tetapi apakah kamu masih mempunyai orangtua?” Aldy : “Maaf Pak, orangtua saya sudah tiada semua sehingga saya hidup sendiri dan berjualan donat untuk memenuhi kebutuhan hidup saya.” Ayah : “Sini nak..anggap Bapak dan Ibu ini menjadi orangtuamu ya…Bapak ingin sekali mempunyai anak laki-laki yang baik seperti kamu. Panggil saja Papa ya nak.. dan Papa ingin
18 Antologi Puisi dan Cerpen menitipkan satu hal kepadamu, tolong jaga Mama dan kedua adik-adikmu nanti. Jadilah penerus untuk usaha Papa ya nakk. Papa sayang sekali dengan kamu.” Aldy : “Papa jangan berkata seperti itu, Papa masih bersama kita kok. Aldy janji akan menuruti kata-kata Papa, asal Papa harus kuat ya.” Ibu : “Iya Pa, jangan ngomong seperti itu ya. Papa akan selalu ada untuk kami.” Ayahnya : “Terimakasih.” Seketika itupun garis gelombang menjadi lurus dan hari itu pun menjadi ajal ayahnya. Ibunya langsung panik memanggil dokter dan menelepon kedua putrinya untuk ke rumah sakit. Namun ternyata dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa ayahnya, semua anggota keluarga dan rekan-rekan kerjanya yang sudah dihubungi sangat sedih. Pada hari itu juga ayahnya dimakamkan dan Aldy pun kini telah resmi menjadi anak dari keluarga tersebut, kedua adikadiknya juga sudah menerima kehadiran seorang kakak. Tak lupa juga Aldy yang sekarang ini mengurus usaha ayahnya yang semakin hari semakin maju. Kini sebuah emas dari Yang Maha Kuasa sudah diberikan oleh ayahnya dan menjadi penerus bagi keluarganya. Namun saat buahnya siap dipetik Membuat benaknya terpekik Melepas dengan rela Melihat buahnya telah dimiliki yang lainnya Meski buahnya telah direnggut Mereka akan tetap saling bertaut Buah tak ingin ia tergores luka Ia adalah nafasnya Buah akan tetap menjadi buah Selalu bersinar terindah Cinta mereka akan selalu terpatri Menempel di lubuk hati Kisahnya tak akan terlupai Hingga waktu terhenti
19 Antologi Puisi dan Cerpen Candra Mawa Fatimah Azzahra SMK N 6 Yogyakarta Mulanya, Hari-hari terasa begitu indahnya, Penuh canda tawa dan bahagia, Seakan hidup di dunia, Tiada cacat dan kurangnya. Hingga suatu ketika, Karena nila setitik, Susu sebelanga rusak, Air susu dibalas air tuba, Kacang lupa pada kulitnya. Tiada angin tiada hujan, Serta-merta tubuhnya menghunjam Mencumbu bumi, membiru, membujur kaku. Indranya memudar, Tiada lagi mata melihat, Pun telinga mendengar , Terlebih kata terucap. Tangisanku melolong memecah malam, Mataku kosong mengerjab, Tanganku menggapai,
20 Antologi Puisi dan Cerpen Nafasku memburu, Sesak memenuhi dadaku, Dalam keseharian, Selalu memendam kesepian, Berharap bisa mengulang, Waktu dan Kenangan, Yang hilang dan terbuang. Sesal dan maaf tak ada artinya, Hilang sudah semua warna, Tersisa candra mawa, Penuh duka lara. Ikhlaslah hari ini terjadi, Maka esok hari, atau nanti, Biar kurajut asa dan mimpi, Walau hanya di dunia fantasi.
21 Antologi Puisi dan Cerpen Yang Tersisa Fatimah Azzahra SMK N 6 Yogyakarta Hari-hari terasa begitu indahnya, Penuh canda tawa dan bahagia, Seakan hidup di dunia, Tiada cacat dan kurangnya. Cahaya Sang Mentari mulai mengintip jendela kamar di sebuah rumah sederhana berwarna merah yang mepet sawah. Seperti biasa, rutinitas pagi dimulai dengan seorang wanita melepas kepergian anak tunggalnya yang duduk di bangku kelas 1 SD. “Ayo lekas berangkat sekolah, Nak. Budi udah nungguin kamu, tuh” teriak seorang wanita kepada anaknya. “Iya, Bunda, ini Ayu lagi pake sepatu” jawab seorang gadis kuncir kuda yang sedari tadi kesulitan merapikan tali sepatunya Sesaat kemudian bunda menghampiri bunda nya. “Bekal nya udah dibawa? Buku PR? Alat tulis? Botol minum?” “Udah semua, Bunda. Ayu berangkat ya.” Jawabnya sembari mencium tangan Ibunda. “Ya udah, hati-hati di jalan, lihat kanan-kiri, jalan nya pelan-pelan.” “Siap, Bunda” Segera setelah gadis kecil itu berangkat ke sekolah, suasana rumah kembali sunyi senyap. Sesekali terdengar suara mesin jahit yang cukup berumur. Karir suaminya yang sebagai Pilot memaksa mereka jarang bertemu dan berkumpul bersama sehingga mau-tak mau-sukatak suka, wanita muda usia 20-an yang biasa dipanggil “Bunda” itu hanya tinggal berdua dengan putri satu-satu nya. Sebagai desainer yang sudah memiliki brand yang cukup terkenal, Bunda sering mendapat penghasilan yang cukup banyak. Walau begitu, pasangan itu memutuskan sepakat untuk hidup sederhana, agar putri mereka memiliki karakter yang baik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.00, yang berarti sebentar lagi putrinya pulang sekolah, Tiba-tiba saja, jari wanita itu tertusuk jarum dan mengeluarkan cukup darah.
22 Antologi Puisi dan Cerpen Firasat nya seperti mengisyaratkan hal buruk akan terjadi. Benar saja, tak lama kemudian, Bunda pun berusaha mengabaikan, dan tetap meneruskan pekerjaannya. Namun ternyata, firasat seorang Ibu memang pada dasarnya tidak bisa diabaikan begitu saja. Hari itu adalah kali terakhir Bunda melihat sosok putri tunggal-nya. Karena, beberapa jam kemudian, Budi ditemani orang tua nya mengabarkan hal buruk. Seketika itu juga, emosi nya terguncang, dunia seakan mendadak runtuh, dan langsung jatuh pingsan. * Tok-tok-tok Seorang gadis bergegas keluar dari rumah, dan seketika itu, polisi memborgol kedua tangannya. “Selamat Siang. Kami dari Polres” “Ada apa ya Pak” “Kami mendapat Surat Penangkapan atas nama Saudari Siti Rahayu” “Bagaimana mungkin? Atas dasar apa saya ditangkap? Saya tidak melakukan kejahatan apapun.” “Jelaskan saja nanti di kantor polisi” “Anda keliru, saya tidak bersalah! Mengapa saya harus ikut dengan anda?” “Kalau anda memang tidak bersalah, seharusnya tidak perlu khawatir. Anda kami pastikan bisa pergi setelah menjawab beberapa pertanyaan” “ Saya tidak bersalah, tolong jangan tangkap saya” Kedua Polisi itu tak memedulikan ucapan gadis itu dan tetap menyeret dan memaksanya masuk mobil polisi, disaksikan beberapa tetangga yang menyaksikan dengan tatapan merendahkan.
23 5 tahun kemudian “Napi 111, silahkan menemui sipir!” “Iya, sebentar” “Selamat, mulai detik ini saudari telah bebas karena terbukti tidak bersalah. Silahkan keluar” “Baik, Terimakasih, Selamat Tinggal” ** Siang itu, selepas ia pulang kerja, tidak seperti biasanya Bapak mengajak Siti makan siang di sebuah restoran yang cukup mewah. Hatinya menduga-duga, ada apa gerangan bapak mengajaknya. Bapak yang sebelum ia masuk penjara ia kenal adalah sosok yang dingin, cuek, dan pemarah siang, mendadak berubah menjadi pribadi yang sangat lembut hangat, dan penyayang. Mulanya ia merasa ada yang aneh dan ada sesuatu disembunyikan oleh bapak. Namun karena perubahan itu sudah berjalan seminggu terakhir ini, ia pun luluh dan menganggap bahwa hal itu hal biasa, bisa dan alami terjadi di setiap orang. Setibanya di restoran, ia segera mencari dan menghampiri bapak. Mereka pun bercakap-cakap layaknya ayah-anak. Hingga tiba-tiba, “Iti, bapak mau ngomong” “Iya, Pak, ada apa ya?” (Katanya dengan tatapan penasaran dan penuh tanda tanya tatkala seorang pemuda menghampiri mereka dan duduk di sampingnya.) “Jadi gini, untuk ngerayain kamu yang udah keluar dari penjara 3 bulan lalu, bapak ada hadiah untuk kamu” “Ohh, apa?” “Eh, nganu, itu. Sebulan lalu, bapak sepakat untuk nikahin kamu sama anak muda disampingmu, Budi namanya. Dua hari lagi pernikahannya diadakan di Gedung xxx Jam yyy” “Kenapa tiba-tiba, Pak? Iti belum siap jadi istri orang, apalagi dia (sambil menunjuk pemuda disamping ayahnya) orang asing yang ngga jelas statusnya siapa dan dari mana”
24 “Iti, kamu ini gimana sih? Masih untung ada pemuda, bahkan pengusaha sukses yang mau nikahin mantan napi kaya kamu! Tambah lagi kamu tinggal terima jadi! Semua sudah diurus Nak Budi, ngerti?” “Iti ngga setuju dan ngga mau kalo gini caranya! Bapak mikirin perasaan Iti ngga sih? Kenapa Iti selalu ngga tau apa-apa?” (segera ia berlari keluar bahkan tanpa mengucap salam) “Om, kalau memang Iti ngga setuju, ngga apa-apa, mungkin dia terlalu kaget dan hanya butuh waktu sendiri” “Ngga bisa begitu, Nak Budi. Maaf, Om pulang duluan ya. Perbincangan tadi kita lanjutkan besok” (segera berlari mengejar Siti) Plakkk Tamparan menghiasi pipi Siti sesampai nya mereka di rumah “Iti! Asal kamu tau ya, Bapak selalu dan lebih tau yang terbaik untuk kamu! Dasar anak tak tahu diuntung! Kecil diurus susah payah, besar bukannya berbakti malah tambah nyusahin! Jadi napi pula! Bikin malu aja! Bapak ngga mau tau, pokoknya pernikahanmu harus jadi! Jeglerrr Perkataan bapak seakan petir di siang bolong. Ia pun hanya bisa terisak dan menahan luka di hatinya teramat besar dan dalam, seraya berlari menuju kamarnya. Ia tak pernah menyangka bapak se-tega itu, hanya karena ia seorang mantan narapidana. *** “Yu? Ayu? Ayuuuu?” “Hahhh, ehh iya?” “Kamu kenapa, sih? Kok belakangan suka ngelamun? Lagi banyak pikiran? “ “Ehh, engga kok, itu, ccuma tiba-tiba keinget ayah aja” “Kamu ini, tolong jangan banyak pikiran, oke? Dokter udah bilang kamu harus sehat fisik mental demi calon anak kita. Kalo ada masalah, cerita aja, oke? “Iya, aku tau kok, makasih ya. “Apapun untuk kamu dan calon anak kita”
25 “Oya, tadi kamu mau ngomong apa? “Ini, barusan dokter bilang, katanya ada sedikit masalah sama posisi janin anak kita. Jadi mungkin terpaksa harus operasi Caesar, gimana? Ngga masalah kan?” Sang istri pun mengangguk lemah dan sedikit memaksakan senyumnya untuk menghindari suami nya cemas. Ia sudah mendapat firasat buruk akan hal itu, namun ia tidak pernah menceritakannya karena takut akan mengecewakan suaminya. 2,5 tahun sudah usia pernikahan mereka. 2 kali pula ia mengalami keguguran. Maka ketika kini janinnya berhasil melalui trisemester kedua, Ia dan suaminya sangat menanti calon anaknya. Bahkan suami nya rela seharian di rumah melayani dan merawatnya bak tuan putri. Ia sangat bersyukur akan hal itu, dan berusaha yang terbaik sebagai pasangannya walaupun pada awal mula pernikahan berjalan dengan unsur keterpaksaan di pihak nya. **** Ikhlaslah hari ini terjadi, Maka esok atau nanti, Biarl kurajut asa dan mimpi, Walau hanya di dunia fantasi. Di sebuah ruangan bernuansa putih, terlihat seorang anak perempuan berlari ke arah sepasang suami istri “Ayah, Bundaa,” katanya sambil menghambur ke pelukan ayah-bunda nya. Seketika, suasana haru dan penuh tangisan rindu pun pecah. "Ayah, Bunda, kenapa selama ini Ayah-Bunda ninggal Ayu sendirian?” “Ayah-Bunda kan harus kerja, sayang” “Ayu bosen sendirian, boleh ngga Ayu ikut? "Belom boleh, sayang. Kasihan anak mu nanti” “Tapi Ayu mau nya sekarang, boleh, ya? Itu ada om-om baju item yang dateng” “Yaudah. Ayu mau ke mana? Mau ke taman?”
26 "Iya Ayah-Bunda, ayukk” Keluarga kecil itu pun berjalan menuju sebuah taman yang sangat indah pemandangan dan isinya. Sosok mereke kian menjauh hinga akhirnya tidak tampak lagi. ~ Nitnitnitnitniiiiiiiiiiiit ~ (Suara alat medis detak jantung menunjukkan gelombang turun drastis, melandai hingga akhirnya bisu) ****** “Jeng, ada kabar terbaru nih” “Apa?” “Tau ngga tetangga sebelah, Bu Siti, “Bu Siti mana? Sundari? Rahayu? “Siti Rahayu. Itu lohh, yang mantan napi. Suaminya meninggal karena gagal jantung. Sosok pria yang dia kira ayahnya masuk penjara karena ternyata ia justru pelaku yang menculik dia di umur 10 tahun, dan juga pelaku yang ngeracunin dia dan calon anaknya biar dia bisa nguasain hartanya. Untung anak nya berhasil di selametin walaupun katanya bakal ada cacat permanen gitu.” “Iya, amit-amit jabang bayi. Orang kalo udah ngga punya hati kejam nya udah kaya setan. Bahkan mungkin setan dibikin takjub dan heran." “Yang bikin heboh lagi, ternyata ortu asli nya dateng di pemakaman suaminya karena ternyata ortu asli-nya itu sahabat ortu suaminya. Tapi, sehari setelahnya, waktu mereka mau mastin Bu Siti bener anak mereka yang ilang, tiba-tiba mereka meninggal karena kecelakaan maut.” “Ohh, iya toh?” “Iyaa. Aku dapat cerita dari Bu Tejo yang paling sering nungguin di RS. Konon sebelum Bu Siti meninggal, dia tiba-tiba nitip jaga dan rawat anak dan rumahnya. Dia mau pergi sama AyahBunda nya yang katanya udah nungguin di depan pintu. Padahal setelah di cek Pak Tejo, di depan pintu ngga ada siapa-siapa.”
27 Rumah Stephanie Michelle SMK N 6 Yogyakarta Kepada mentari, ku coba menguatkan hati Kepada rembulan, ku berbisik lirih Dengan penuh kesadaran diri, Memohon kepada semesta agar memberi Sekian lama aku mencari, Kesana kemari aku berlari, Mengetuk pintu- pintu milik yang lain, Kukira abadi, Namun akhirnya hilang dan pergi. Ternyata tujuan pulang yang paling pasti, Rumah sangat teduh untukku berdiri Adalah aku sendiri.
28 Rumah Teduh Stephanie Michelle SMK N 6 Yogyakarta Tolong! Tolong! Terdengar suara kencang dari pojok kota Malang. Bagas, ketua gengster penguasa daerah dengan sigap mencari sumber suara itu. * Plakk!! “ Hai kamu! Kurang ajar! Berani beraninya bocah kecil beringas sepertimu menghajarku” “ Yang penting saya tidak mencopet seperti anda! Apakah anda tidak punya hati wahai tikus kota ? apa kau tak punya ibu dirumah ? ”. Pencopet itu merenung setelah Bagas melontarkan kata – kata yang cukup sengak. Padahal, Bagas sendiri tidak tahu sosok ibunya. Sejak kecil ia diasuh oleh Bi ijah. Sayangnya, Bi ijah sudah wafat 3 tahun yang lalu. Sejak saat itu, Bagas rajin berlatih bela diri dan menjadi ketua gang. “ Terima Kasih ya nak, sudah mau menolong ibu. Maaf sekali ibu tidak punya apa – apa untuk membalas jasamu. Ibu do’akan supaya kamu terus melakukan kebaikan ya nak ”. “ Sama – sama bu ”. Sahut Bagas. Bagaskara Gallendra, tidak pernah percaya adanya Tuhan selama hidupnya ia merasa hidupnya penuh dengan hal – hal yang sial. Tidak pernah bertemu orang tua, satu – satunya yang ia punya, Bi ijah pun meninggalkanya. (Warung Kopi 57) “ Gimana bos, mau makan apa hari ini ? ” tanya pak yanto pemilik warung. “ Saya mah biasanya aja, nasi telur sama kopi jahe ya pak! ”. “ Siap, Ini bos silahkan. Jangan lupa Berdo’a ya! ”. “ Ah pak Yanto kaga capek – capek ya ingetin gua bero’a, nih gua juga kaga capek – capek ingetin kalo gua kaga percaya Tuhan! ”.
29 “ Ya namanya juga usaha, Bos ” “ Lagian nih ya pak, menurut saya, tidak bisa makan karna punya uang, bukan karna punya Tuhan. Uang kaga jatuh dari langit ! ”. Begitulah Bagas segala prinsip yang ia pegang teguh. Selama ini ia hanya bertahan dengan kekuatan yang ia punya, mendapat uang dari pajak liar yang di berikan warga karena Bagas sudah menjaga keamanan di lingkungan itu. * Gubuk dekat sawah. “ Bos, denger – dengar di kampung sebelah lagi ribut masalah senjata yang namanya Pusaka Bhisma nih ! katanya sih itu kuat banget ! ”. “ Masa sih Den, gue masih kaga percaya begituan ! ”. “ Beneran Bos, bisa dapat dengan cara bertapa 40 hari di goa ( Goa Arung ). Ntar tiba – tiba senjatanya muncul !! ”. “ Tetep gua sih kaga percaya ye. Giman ceritanya tiba – tiba ada, gaib banget itu, Tuhan aja gua kaga percaya! ”. “ Ya terserah sih Boss.. saya juga cuma cerita! ”. Bagas dan Deni adalah sahabat karib , mereka sering menghabiskan waktunya bersama. Namun mereka saling menghargai apa yang mereka percaya dan perbedaan tidak menyurutkan pertemanan mereka. Sepulang dari bertemu Deni, Bagas menjadi sangat ingin tahu tentang senjata tersebut. Padahal, sebelumnya Bagas tidak pernah tertarik dengan hal seperti ini. Aneh baginya, hari ini seakan ada hasrat kuat yang mendorongnya untuk mencari informasi tentang senjata tersebut. Bagas berfikir bagaimana cara untuk mencari informasi tentang senjata tersebut tanpa di ketahui temannya. Ia orang keras dengan prinsipnya. “ Bagaimana caraku mencari lokasi senjata tersebut ya? Apakah aku harus ke kampung sebelah? ”. Gumam Bagas. Setelah Deni harus berpamitan dengan Bagas karena ingin Jum’atan, Bagas bergegas pergi kekampung sebelah. Disana ia mendapati tulisan “ Juru Kunci Gunung Kawi ”. Setelah melihat tulisan itu, ia sangat yakin bahwa bisa bertemu dengan orang yang tepat dan tau informasi tentang senjata tersebut.
30 “ Tok tok tok, permisi ”. “ Tok tok tok, permisi ”. “ Tok tok tok, permisi ”. Hingga tiga kali tidak ada yang merespon ketukan pintu Bagas. Karena hari sangat terik, ia memutuskan untuk mengelilingi kampung tersebut. Kampung itu sangat sepi, bahkan sunyi. Hanya suara langkah kaki Bagas sendiri yang menyertai perjalanannya. Berbeda dari hari biasanya. Sinar matahari menyengat sekali hari ini. Di perjalanan, Bagas melihat cahaya yang menyilaukan matanya. Karena penasaran, ia menghampiri seberkas sinar itu. “ Brakk ” Setelah bagas berusaha menghampiri cahaya itu, ia tergeletak, tak sadarkan diri. Tiba – tiba ia sudah terbangun di rumah orang tua yang ia tak kenal. “ Sudah bangun mas? Duduk santai dulu ”. Mbah Gatot. “ Saya dimana ini mbah ? ”. “ Yo di rumah saya to ”. “ Kok bisa ya mbah ? ”. “ Tadi masnya semput di jalan pas saya lewat. Jadi saya bawa sekalian kerumah saya. Dari pada tidak ada yang menolong ”. “ Iya mbah, Terima Kasih ya mbah ”. “ Ingat kejadian sebelum kamu semaput? ”. “ Mmm....... saya lihat sinar mbah, saya hampiri, sisanya lupa ”. “ Oh.... Sinar ya ... ”. “ Kalau boleh tau kenapa ya iu mbah ? ”. “ Kamu mau di beri jawaban jujur atau tidak ? ”. “ Jujur dong mbah! ”.
31 “ Kalau begitu jangan kaget ya! ”. “ Iya mbah ”. “ Le... aku iki juru kunci Gunung Kawi, sinar yang kamu lihat tadi adalah sosok kekuatan yang berusaha mematahkanmu le! ”. “ Kok bisa mbah ? ”. “ Yo iso – iso ae le .... donyo iki ora Cuma koe .... akeh le, jagad! ”. “ Kalo boleh tau ada hubungannya dengan “Pusaka Bhisma” mbah ? ”. Sontak mbah gatatot terkejut. “ Koe kok iso ngerti Pusaka Bhisma, Le ? ”. “ Iya mbah ada yang kasih informasi di kampung saya ”. “ Kui senjata paling kuat le, Angel iso oleh kui. Ora sembarang wong le ... ora sembarangan ”. “ Saya boleh tau cara dapatnya mbah? ”. “ Koe wes yakin le ? ”. “ Yakin mbah! ”. “ Syarat seng tak sebutno kudu mbo turuti, ojo enek siji pun sing di langgar. FATAL! ”. “ Nggih mbah ”. “ Syarat siji : teko neng Goa ora oleh gowo opo – opo, kowe dewe. Syarat loro : ojo omong sing ora – ora . Syarat telu : ojo nantang. Syarat 4 : semedi 40 dino. Koe meh golek tenan le? Yakin? Sanggup? ”. “ Nggih mbah, yakin lan sanggup ”. “ Eleng – eleng omonganku mau ”. “Jadi kapan saya bisa kesana mbah?” “Sesok, budhal subuh jam 3. Ojo nggawe sandal le”
32 “Nggih Mbah” Jam 1.30 dini hari, Bagas dibangunkan oleh Mbah Gatot untuk bersiap mengikuti ritual semedi 40 hari. Bagas berbeda dari Bagas yang ia kenal. Entah mengapa ia sangat ingin memiliki Pusaka tersebut. “le, elingen tenan wejanganku mau yo” Setelah itu Bagas berjalan menuju goa tanpa menggunakan alas kaki. Dingin menyelimuti raga nya namun api membara di jiwanya. Embun pagi itu seakan pertanda baik baginya. Di perjalanan menuju Goa, Ia bertemu seorang wanita. Karena rasa ingin tau yang dimiliki Bagas tinggi, ia mencoba bertanya kepada perempuan itu. Nama kamu siapa?-Bagas Arunika Kenapa disini? Sendirian jalan pagi2 Mau semedi cari senjata. Buat apa? Buat membalas kejahatan yang sudah bapakku lakukan kepadaku Kenapa? Kamu gaperlu tau. Percakapan singkat ini memancing Bagas untuk mencari tau lebih detail tentang wanita ini. Kira2 kenapa ya ada wanita disini? Aneh -gumam Bagas Lagi lagi Bagas mencoba bertanya terkait kehidupan Arunika. Arunika, kamu percaya adanya Tuhan? Iya Lalu kenapa masih cari senjata? Mau cari yang lebih kuat. Oh, boleh aku bertanya ?
33 Boleh, Arunika. Kamu suka warna apa, Bagas? Pink Kenapa suka warna pink? -nika Memangnya nggaboleh?-bagas Ya boleh, tapi kan jarang, biasanya pink identik sama cewek kan?-nika Ya itu kan menurut kacamata mereka, kacamataku warna ya warna aja, semua bebas suka apa, hidup itu pilihan. -bagas Nika pun tercengang mendengar jawaban dari Bagas. Mereka berjalan dan tak terasa pintu Goa sudah didepan mata. Perjalanan semedi 40 hari akan segera dimulai, gua yang digunakan pun berbeda antara mereka berdua. Sebelum semedi, mereka membaca peraturan dengan seksama, dan mereka sudah berhenti bicara sejak sampai didepan pintu Goa. *Semedi 40 hari* Di hari pertama semedi, Bagas duduk bersila dan memejamkan mata. Dan cerita inti baru saja dimulai... Dari pusat imajinasinya, Ia mendapati sinar yang sangat terang, lebih terang dari sinar yang Ia temui dijalan. Pikirannya terus melaju, entah siapa yang membuat dirinya tidak bisa fokus. Hingga ia dibawa pada suatu perang, dimana semua yang ada bersimbah darah, tidak ada satupun yang selamat. Semua berteriak meminta tolong, kesakitan, hanya ada tangis dan ratapan. Namun disitu ada sesosok bayangan yang sangat besar. Sosok bayangan tersebut hanya diam dan memandangi tubuh kecil Bagas. Bayangan itu tidak pergi dari hadapan Bagas. Ketika Bagas ingin mencoba menolongnya, Bagas tidak bisa. Entah mengapa dia sangat lemah. Padahal di kampungnya, Bagas adalah orang paling kuat. Dalam alam bawah sadar dimana terjadi perang, Bagas berjalan. Setiap langkahnya di ikuti oelh bayangan tersebut. Lalu Bagas berjalan, jauh, sangat jauh, dan dari perang itu, terdapat jurang. Langkahnya terhenti. Lalu sosok bayangan tersebut mengangkat Bagas dan menyebrangi jurang itu. Bagas tertegun.
34 Setelah area perang, ada hamparan rumput yang sangat luas, ada air terjun yang mengalir deras, dan ada pelangi yang terlukis indah. Bagas tambah kebingungan. Sosok bayangan itu masih saja diam. Hanya memandangi Bagas. Bagas mengelilingi hamparan tersebut, dan menemukan taman yang sangat indah. Bahkan belum pernah ia temui sebelumnya. Di taman tersebut, Bagas berjalan dan menemui banyak sekali orang yang tertawa dan bergembira, tidak ada satupun yang sedih dan terluka. Bagas masih mencoba menerka nerka, mereka ulang apa yang terjadi. Masih belum tertebak. Bagas hanya bisa pasrah dan berjalan lagi. Semakin jauh Bagas berjalan, ia menemukan langit dan segala isinya, ia melihat dunia disitu. Benar- benar menakjubkan. Di luar pikiran. Mengherankan. Ketika melihat dunia, sosok bayangan itu seakan-akan memegang Bagas dan berbisik: “pulang, kekuatanmu tidak sekuat itu, pulang” Setelah itu, alam bawah sadar Bagas kembali menjadi hitam pekat. Kepala Bagas pusing. Bagas ingin menyudahi semedi ini. Ia mencoba bangun, namun kepalanya terasa berat. “Pacu lebih kuat!” “Siap dokter” “Bagaimana hasilnya?” “Ada peningkatan dokter” Mata Bagas mulai terbuka. Ia mendapati tempat yang berbeda dari tempat samedi nya. “Dokter, pasien mulai merespond, matanya sudah mulai terbuka!” Dokter pun bergegas menghampiri tubuh Bagas yang terbaring lemah di kasur rumah sakit. “Tuan Bagas... sudah bangun?” “Saya dimana?” “Di rumah sakit” “Kenapa saya disini” “Benar Tuan Bagas melakukan semedi?” “Benar”
35 “Anda terjatuh dari goa tempat anda semedi. Anda tidak sadarkan diri. Seseorang membawa anda kesini” “Siapa?” “Nona Arunika” “Dimana ia sekarang?” “Didepan” “Bisa saya bicara dengan Arunika” “Silahkan” Arunika memasuki ruangan menemui Bagas “Arunika...” “Ya, Bagas” “Kenapa kamu membawaku kesini? Padahal kamu juga melakukan semedi.” “Ceritanya panjang. Intinya aku nggak dapet senjata nya, gas” “Kok bisa?” “Waktu semedi, aku dibawa ke perjalanan dimana aku menemui sosok ayahku, ayahku memangis kebingungan mencariku, ayahku sayang kepadaku, ternyata apa yang dia lakukan bukan kehendaknya, dia gelap mata. Lalu dari situ ada suara yang menyuruhku pulang. Aku terbangun paksa. Bukan mauku untuk bangun, lalu aku terbangun dan menemui sosok dirimu yang sudah terbaring berkucuran darah. Aku lari membawamu ke rumah sakit. Kamu sudah koma selama 7 hari, Gas” “Kamu sudah bertemu ayahmu, Nika?” “Sudah. Beliau langsung memelukku dan minta maaf kepadaku” “Apa yang beliau lakukan sehingga kamu sangat marah?” “Ayahku selingkuh. Ibuku sedih, sangat sedih dan hampir depresi. Aku pikir dengan senjata yang ku dapatkan, aku bisa lebih kuat dari ayahku, aku bisa membalas perbuatannya. Namun semua itu dipatahkan oleh Ibuku. Kekuatan sujdudnya membuat ayahku kembali pulang ke
36 rumah. Doa yang Ia panjatkan dijawab oleh Yang Kuasa. Sekarang aku tau kalau yang paling kuat Cuma Yang punya Bumi ini, Gas. Tuhan. Cuma Tuhan” “Kau tau, Nika. Apa yang membuatku jatuh terbaring lemah sekarang?” “Apa?” “Aku merasa aku adalah orang yang paling kuat. Semua yang pernah terlibat masalah denganku tidak ada yang tidak bisa kulawan, Nika” “Lalu?” “Di perjalanan semedi ku, ada yang berbisik dengan penuh keyakinan, katanya aku harus pulang, kekuatanku tidak sekuat itu. Setelah bisikan itu, semua gelap, dan aku terbangun disini. Aku tidak percaya adanya Kuasa selain kekuatanku. Tetapi setelah perjalanan ini, aku percaya. Bisa kau kenalkan aku dengan sosok Sang Kuasa itu ?” “Aku baru saja menangis dan tersungkur di hadapannya karena meremehkan kekuatanNya. Aku mengakui kelemahanku, dan disitu kekuatanNya menguatkan aku. Yang Maha Kuasa selalu punya cara untuk memaafkan. Semua ini belum terlambat, Gas. Setelah kamu sehat, aku akan perkenalkan dirimu kepada orang yang membimbing imanku selama ini” “Nika, terima kasih. Sejak awal, sosokmu hangat kukenal. Dekat mendekap kelemahanku.” “Pikirkan dulu kesehatan ragamu, Gas” Lalu Nika meninggalkan ruangan tersebut. Setelah percakapannya dengan Arunika, Bagas merenungi perbuatannya selama ini. Ternyata perjalanan semedi yang membawanya pada pengalaman mengenal sang Kuasa, yang dirasa hanya 15 menit sudah berjalan selama satu minggu. Air matanya menetes. Padahal belum pernah Bagas menangis. Ia selalu kuat. Kali ini ia rapuh. Terlampau rapuh. Di sela- sela perenungannya itu, Deni, sahabatnya datang. “Bos, gimana kondisi lu” “Cukup membaik, Den. Maaf ya dulu aku selalu ngeremehin kamu. Menganggap kamu cupu karna kekuatan mu bersandar pada Yang Kuasa. Ternyata aku ini lemah, Den. Setitik debu saja aku ini. Sekarang aku mau percaya dengan Sang Kuasa tersebut” “Bos, semua orang itu beda- beda perjalanan nya. Apapun itu asal membawa kepada kebaikan disyukuri aja Bos. Kalau ngga gini kan lu ngga berubah. Semangat ya Bos!”
37 “Makasih Den, lu memang sahabat gue yang baik” Setelah 7 hari dirawat di rumah sakit, Bagas diperbolehkan pulang. Arunika menjemput Bagas, dan Bagas menemui orang yang akan dikenalkan oleh Arunika. “Nih, Gas, kenalin, namanya Pak Hilman” “Selamat siang Nak Bagas, ada yang bisa saya bantu?” “Perkenalkan Pak, saya Bagas. Saya baru saja mendapatkan pengalaman spiritual. Apakah Bapak bersedia membimbing iman saya untuk menjalankan perintah Yang Kuasa di bumi? Saya ingin jadi orang lebih berguna, Pak” “Bisa cerita pengalamannya?” “Bisa Pak, ketika semedi saya menemui perang, sosok bayangan, taman, dan saya melihat bumi beserta semua isinya. Saya melihat diri saya amat kecil disitu” “Nak, semua pengalamanmu tadi bukan kebetulan. Itu jalan dari Yang Kuasa supaya kamu mengenalNya.” “Iya Pak, saya mau. Bisa bimbing saya Pak?” “Ya disini saya hanya sebagai mentor saja, Nak. Tetap kamu yang menjalani, dan seberapa besar kemauanmu untuk lebih tekun dalam bersujud kepadaNya.” “Iya Pak, tolong bantu saya dari awal” “Baik, Nak. Sering- sering datang kesini” “Iya, Pak” Lalu mereka meninggalkan kediaman Pak Hilman. “Nika, makasih ya. Makasih karna kamu nggak menghakimi aku dengan pilihan di masa laluku. Makasih sudah mau mendampingi aku menuju hal yang lebih baik. Makasih.” “Iya, Gas.” Setelah itu, Bagas mulai mencari pekerjaan yang halal, dan kerap kali menyempatkan diri bertemu dengan Nika disela sela kesibukan nya, tak lupa ia tetap mengunjungi Pak Hilman. Rutinitas ini sudah berjalan satu tahun.
38 Pada malam minggu, Nika dan Bagas bertemu untuk mengobrolkan kehidupan mereka. “Nika, ayo membangun dunia baru yang lebih teduh” “Maksudmu?” “Aku ingin serius denganmu. Lebih serius dari ini.” “What u talk about, Gas?” “Ya aku mau melamarmu” “Sekarang?” “Dalam waktu dekat, itupun kalau kamu mau. Gimana? Will u marry me? *memberikan cincin* “I think yes i will, Gas” “Thank you, my Nika. Terima kasih sudah setia. Sudah mendampingi menyusuri petualanganku. Dari pemuda beringas bertatto preman jalanan hingga bisa mencari pekerjaan halal dan menemukan sumber kehidupanku, Sang Kuasa. Terima kasih. Izin kan aku bertemu dengan Ayah dan Ibu mu, Nika.” “Besok. Datanglah kerumahku” Keesokan harinya, benar saja Bagas datang dengan berpakaian rapi, menemui ayah dan ibu Nika. “Selamat pagi, Bapak, Ibu. Saya Bagaskara Gallendra, orang yang memilih Nika menjadi teman sehidup-semati saya” “Pagi, Nak. Kamu dengan siapa kesini?” -Ayah Nika “Sendiri Pak, dari kecil yatim piatu, diasuh oleh bibi saya, dan Bibi juga sudah dipanggil Yang Kuasa” “Maaf, nak. Bapak tidak tau”
39 “Tidak apa-apa Pak, karena tragedi itu saya merasa sial dan tidak percaya adanya Tuhan, malah nantangin, dan ya memang kekuatan saya nggak ada apa-apa nya. Untunglah saya ketemu Nika.” “Jadi kenal Nika darimana, nak Bagas?”-Ibu Nika “Dari semedi Pak, Bu... hahaha. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Tujuan kami berdua sama- sama dipatahkan Yang Kuasa supaya kami lebih dekat kepadaNya” “Iya nak. Ajaib toh Yang Kuasa itu” “Iya Pak, ajaib. Saya bisa ketemu orang sebaik Nika juga sudah diatur semuanya.” *Nika tersipu malu* “Bagas, kalau boleh tau, pernah liat Ayah Ibu mu?”-Nika “Enggak. Sampai umur segini juga nggak pernah ketemu. Tapi kata Bi Ijah sih Ibuku kecil badannya, cantik parasnya, lembut hatinya, sayangnya aku nggak merasakan itu” “Tapi kamu punya aku. Tenang aja” Setelah itu mereka mulai membicarakan kisah- kisahnya ketika bertemu dan semakin serius menjalin hubungan. Lalu Bagas berpamitan karena harus pulang. “Sampai ketemu lagi, Bapak, Ibu, dan Nika” “Iya, hati-hati Nak” “Nika, Ibu punya temen, ciri- cirinya mirip sama yang Bagas sebutkan, teman mama ini juga mencari anak satu-satunya yang beliau titipkan dahulu. Jangan- jangan itu Bagas?” “Bu, ciri- ciri yang Bagas sebutkan tadi kan nggak spesifik. Banyak orang lain yang seperti itu juga” “Iya sih ka, yasudah” Ke esokan harinya... *Tok tok tok* “Iya, siapa?”-Ibu Nika “Aku, Pramitha”
40 “Oalah.. masuk masuk, gimana, mitha?” “Iya jeng jadi kedatanganku bermaksud pamit dari Malang, aku mau ke Surabaya saja. Aku sudah disini 3 tahun terakhir dan masih belum ketemu sama anakku, mungkin itu sanksi yang harus kuterima karna meninggalkannya seorang diri menghadapi kerasnya dunia” Tiba- tiba... “Ibu, Nika pulang, ini sekalian Bagas mau mampir” *Deg* “Selamat siang Ibu... ini Bagas bawakan makanan” “Terima kasih Nak” Mitha memandangi wajah Bagas. Wajah yang ia cari puluhan tahun lamanya. Wajah yang ia rindukan. Wajah yang sempat ia ingin hapus dari ingatannya. “Ka.. kamu... Bagaskara Gallendra?” “Iya, Ibu ini siapa ya? Saya belum pernah bertemu” Sontak Mitha menangis. “Ya Allah, terima kasih karena sudah mempertemukan aku dengan permata hatiku, yang sudah lama aku cari, terima kasih Ya Allah, aku bertemu anakku” Bagas masih tidak memahami maksud Mitha, sedangkan Nika dan Ibunya ikut menitikkan air mata. Mitha mendekati Bagas, dan mulai memeluknya, mengusap usap wajah Bagas. “Maafkan Ibu ya Nak, karena kamu lahir dari Ibu sepertiku, hidupmu harus susah sejak kecil. Kamu sudah ditempa banyak hal, dihimpit rintangan, terima kasih kalau sampai saat ini kamu bertahan” Bagas mulai memahami bahwa Pramitha adalah Ibunya, Bagas menangis dan memeluk Ibunya dengan erat. Lihatlah, cara kerja Yang Kuasa melalui semesta yang tidak terduga. Dari semedi dengan tujuan mencari kekuatan, Bagas justru menemukan kekuatan yang lebih luat daripada senjata itu.
41 Lihatlah bila yang mempunyai seisi bumi ini menetapkan garis hidup setiap umatNya. Indah bukan? Semua dari kita yang menjalaninya, ingin bersyukur atau mengeluh? Pertemuan Bagas dengan Ibunya berjalan dengan haru, mereka akhirnya menghabiskan waktu bersama. “Bu, kalau Bagas boleh tanya, kenapa waktu kecil Bagas ada bersama Bi Ijah?” *sambil menangis Ibu Bagas menjawab* “Dulu Ibu nggak punya uang. Nggak mampu biayain hidup kamu. Bi Ijah orang baik yang mau merawat kamu. Maafkan semua kesalahan Ibu ya. Maaf. Bahkan kalau kamu tidak bisa memaafkan Ibu, Ibu tidak apa- apa. Setidaknya izinkan Ibu meminta maaf” “Bu... bahkan sejak aku lahir menjadi anakmu, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Aku bisa berdiri hari ini, semua juga bantuan Nika yang tak kenal lelah dalam mendampingi, menerima, menemani langkah langkah ku, bahkan memaafkan apa yang terjadi di masa laluku.” “Nak, boleh peluk Ibu?” *Mereka berpelukan, sangat lama dan enggan melepasnya* “Oh iya Bu, Bagas mau melamar Nika. Ibu datang ya, sama Bagas“ “Anak Ibu sudah besar, sudah bisa mengambil tanggung jawab yang besar pula... Apapun keputusanmu mulai hari ini Ibu mendukung dan bersedia menemanimu Nak.” Di hari lamaran, semua berjalan dengan baik, Pak Hilman pun datang untuk menyaksikan kebahagiaan mereka. Bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Semua bahagia, gembira, dan memanjatkan doa- doa yang akan menyempurnakan kehidupan sejoli ini. “Arunika, wanita hebat dan hangat, aku berjanji membuatmu bahagia. Selamanya. Terimakasih sudah menjadi teduh, tertanda, Bagaskara” “Tuhan, Yang Kuasa, kupanjatkan doa ini di sepertiga malamku, karena sesungguhsungguhnya Engkaulah rumah, untukku kembali berpulang” ...Jika cinta adalah kamu, Nika.
42 Akan kukejar Kau hingga dapat. Sehingga kita bersama Mengarungi samudera kehidupan Dibawah restu sang Kuasa... Sesuai dengan namanya, Bagaskara yang berarti matahari, dan Arunika yang berarti hangat, mereka saling melengkapi dalam setiap langkah kehidupannya. ------------- TAMAT-----------
43 Kembali di Titik Pertama Sang Waktu Yaumi Indriyani SMK N 6 Yogyakarta Rona indah sayapmu mengukir rasa ingin tahu Kepakanmu memikat bagai candu Hingga mereka selalu ingin mengejarmu Sengaja raga itu terbang Menyisakan hati yang terasa gersang Tak menghiraukan panasnya siang Bahkan hembusan angin petang Kepakan menuntut pertemuan Tertuju bunga indah di taman Berujung pada hangatnya penantian Menunggu nektar yang diberikan Senja menuntut kupu-kupu untuk mundur Meniti takdir dengan akur Nasi telah menjadi bubur Impian hati kini telah terkubur
44 Langit Tak Berwarna Sejak Kau Bersamanya Yaumi Indriyani SMK N 6 Yogyakarta Premis : “Miya adalah gadis yang mengalami trauma karena dulu sering sakit hati hingga takut untuk mencintai lagi. Ia merasakan cinta dengan seorang siswa baru yang bernama Lana. Hingga rasa takutnya dalam jatuh cinta pun hilang.Namun ternyata selama ini Lana telah menjalin kasih dengan anak penjaga kantin yang ada di sekolah. Rona indah sayapmu mengukir rasa ingin tahu Kepakanmu memikat bagai candu Hingga mereka selalu ingin mengejarmu ~~ Sinar cahaya pagi yang indah diiringi oleh senyum tipis khas Miya, membuat hangat tubuh mereka. Itulah hal yang sering dilakukan Miya dalam membalas sapaan para siswa di lorong sekolah. Menurut siswa disana menyapa Miya membuat mood mereka membaik. Senyum yang meneduhkan dan suaranya yang lembut terasa sangat serasi. “ Miya hari ini seperti biasa menurutku.” Celoteh salah satu siswa sambil menatap Miya dengan penuh kebingungan. “Seperti biasa bagaimana menurutmu?” Tanya teman yang berada disamping dirinya. Siswa itu langsung menghadap kearah temannya yang bertanya, dengan wajah yang sangat serius lalu ia memegang kedua pundak temannya dan berkata “Seperti biasa… sama menawannya dengan hari yang telah berlalu.” Kemudian disusul dengan senyum sumringahnya. “Dasar kamu ini.” ujarnya sambil menyingkirkan kedua tangan temannya dan pergi meninggalkannya. Sengaja raga itu terbang Menyisakan hati yang terasa gersang Tak menghiraukan panasnya siang
45 Bahkan hembusan angin petang ~~ “Selamat pagi school flower.” Ucap salah satu sahabat Miya yang bernama Ayu. “Bunga sekolah? Apa hubungannya Miya dengan bunga yang ada di taman sekolah?” Tanya sahabat Miya yang bernama Fleta “Ah kamu ini, masa gitu aja tidak paham. Apakah aku harus menjelaskannya juga?” Jawab Ayu dengan nada yang sedikit kesal. “Iya… jelaskan saja sekarang kepadaku!” Sahut Fleta dengan raut wajah penuh penasaran. “Kamu tahu bunga desa? Kalau itu kan memiliki arti wanita tercantik di suatu desa. Nah, berhubung Miya sedang berada di sekolah jadi aku ganti bunga sekolah lah.” Jawab Ayu dengan ngegas. “Owh seperti itu….” Sahut Fleta dengan wajah polosnya. “Aduh si Ayu ting ting bisa aja.” Ucap Miya dengan tertawa kecil. Namun seketika Miya merasa ada keanehan didalam laci mejanya. Dugaan Miya benar, ketika ia mengeceknya terdapat sebuah coklat batangan yang mereknya pun cukup terkenal apalagi disaat Hari Valentine. Coklat itu terpampang sangat jelas dan dipamerkan dengan disusun menyerupai hati diberbagai mini market. Tak hanya sampai disitu, ternyata terdapat surat kecil berpita silver yang didalamnya tertulis ajakan untuk jalan dan anehnya lagi si pengirim hanya meninggalkan inisial namanya dan angka 12. Miya masih saja melihat dan mengelus-elus surat tersebut. Dan raut wajahnya tergambar sangat jelas bahwa ia sedang berpikir keras menebak siapa sebenarnya yang mengirim surat ini. “Aku tahu!” Teriak Fleta yang membuat kaget warga kelas. Gara-gara teriakannya banyak pasang mata yang menatapnya. Fleta pun tersenyum malu dan menyatukan kedua telapak tangannya sebagai kode maaf atas sikapnya tadi. “Aku tahu siapa pengirim surat itu!’ bisik Fleta kepada Ayu dan Miya. “12… jangan-jangan itu sebagai simbol bahwa si pengirim surat ini dari kelas 12.” Ucap Fleta. “Dan inisialnya adalah za, apa jangan-jangan Kak Eza.” Sahut Ayu “Jika benar Kak Eza, kalau be….” Tet Teet Teett
46 Tanda bel masuk sekolah telah dibunyikan. Ucapan Miya yang belum selesai, terpotong oleh tanda bel itu. Lalu mereka mengikuti pelajaran dengan penuh semangat. Ditambah bulan depan sudah memasuki ujian akhir semester, mau tidak mau mereka harus mengejar materi yang belum mereka pahami karena dengan begitu mereka akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Saat istirahat kedua. Mereka bertiga langsung menuju kantin untuk membeli makanan dan memberikannya kepada cacing yang ada diperut. Saat mereka masih menyantap, Kak Eza bersama temannya lewat. Menyadari hal itu Ayu dan Fleta langsung mengamati gerak-gerik dari Kak Eza, dan benar saja disaat Kak Eza memesan makanan yang ia pandang bukan ibu kantin melainkan malah Miya. Sontak Ayu langsung memberikan kode kepada Miya dengan menyenggol lengan tangannya. Lalu Miya melihat Ayu dan mengarah ke tatapan yang Ayu tatap, saat tahu Miya menatapnya Kak Eza langsung memberikan senyuman kepada Miya dan Miya pun membalas senyumannya. Dan anehnya setelah mendapatkan balasan senyuman dari Miya, Kak Eza langsung salah tingkah. “Miya, benar bukan dugaan ku tadi!’ Bisik Ayu kepada Miya. “Kak Eza Putra Mahe… kelas 12 anak IPA II jago memainkan bola volly dan banyak dikagumi para ciwi-ciwi.” Bisik Fleta dengan mata yang masih tertuju pada kak Eza. Namun Miya tetap memilih diam dan enggan mengomentari apa pun. Karena menurutnya, jalan dengan laki-laki yang banyak dikagumi wanita itu sulit. Pasti banyak pasang mata yang memantaunya dan jika ada yang tahu, pasti dibicarakan esok paginya. “Sudah lanjutin lagi makannya, sebentar lagi jam istirahat habis lo.” Ucap Miya untuk mengalihkan pembicaraan. Setelah selesai makan mereka tak lupa menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah. Kemudian dilanjut menuju ke kelas dan bersiap untuk mengikuti pelajaran jam terakhir. Teet Teet Teett Teettt Itulah tanda bel yang disukai oleh semua warga sekolah, suaranya sangat dinantikan. Iya betul, itu adalah bel yang menunjukkan waktu untuk pulang. Miya menyuruh Ayu dengan Fleta untuk pulang duluan, dan mereka pun menuruti perkataan Miya. Miya langsung bergegas dan naik ke lantai 3, dan tak lupa selalu melihat kondisi disekelilingnya. Benar saja, Kak Eza sudah menunggu didekat tangga lantai 3 seakan-akan dia tahu bahwa Miya akan menemuinya. Kak Eza langsung tersenyum saat melihat Miya menghampirinya.
47 “Itu Kak Eza yaa, yang mengirim coklat dan sepucuk surat untukku.” Ucap Miya. “Iya Miya. Bagaimana, kamu mau jalan denganku?” Tanya Kak Eza dengan wajah penuh harap. “Maaf kak, sebentar lagi kan ujian. Dan aku pun memiliki jadwal les, jadi lain kali saja ya kak. Tidak apa-apa kan?” Jawab Miya. “Owh gitu ya Miya, kalau begitu next time deh.” Sahut Kak Eza. “Iyaa kak, kalau begitu aku duluan ya.” Ucap Miya dalam mengakhiri pembicaraan. “Iya Miya, sukses ya buat ujian besok.” Sahut Kak Eza. Miya hanya membalas dengan senyum manisnya. Dan tak tahu siapa, ada seseorang wanita yang menyeret Miya keruangan dekat tangga lantai 2. Tak disangka orang itu adalah Ayu dan Fleta. Ternyata tadi mereka mengikuti Miya, mereka langsung mengintrogasi Miya tentang ajakan jalan. Miya menjawab bahwa dirinya menolak untuk jalan bersama Kak Eza, dengan dalih ia memiliki jadwal les. Ayu dan Fleta sangat kecewa mendengar ucapan itu, karena sudah banyak tawaran jalan dari pria yang Miya tolak, namun lagi dan lagi mereka berdua harus menghargai keputusan yang Miya buat. Karena bagaimanapun juga mungkin Miya memiliki alasan tersendiri mengapa selama ini ia menolak semua tawaran tersebut. Kepakan menuntut pertemuan Tertuju bunga indah di taman. Berujung pada hangatnya penantian Menunggu nektar yang diberikan ~~ Matahari seperti tersenyum dalam menyambut hari ini. Miya segera bergegas berangkat menuju sekolah tercinta. Namun sesampainya di sekolah banyak siswi yang berlalu-lalang didepan ruang BK dan membicarakan sesuatu yang tak jelas itu apa, dipikiran Miya mungkin ada siswa/siswi yang berbuat onar. Tet Teet Teett
48 Terdengar jelas bahwa bel tanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai, dan jam pertama untuk mapel hari ini cukup santai dan mengasyikan. Mapel BK, menurut Miya tak semua mapel BK itu menegangkan karena menurutnya yang membuat menegangkan itu adalah gurunya. “Selamat pagi anak-anak.” Ucap Pak Jarot selaku guru BK yang mengajar di sekolah ini. “Selamat pagi Pak Jarot.” Jawab seluruh murid yang ada di kelas. “Silahkan masuk mas, baik anak-anak kelas kamu kedatangan murid baru. Semoga kalian bisa akrab dengannya, inget ojo di nakali !” Ucap Pak Jarot “Baik Pak Jarot” Ucapan balas semua siswa. Semua mata tertuju pada siswa baru itu. Begitu pun dengan Miya “Perkenalkan nama saya, Lana Perwira Jalesveva. Saya pindahan dari kota Surabaya, semoga saya bisa diterima dengan baik di kelas ini.” Ucap siswa baru tersebut. “Ngomong-ngomong nama panggilanmu apa? Kok tidak kamu sebutkan, kan tidak mungkin kalau kamu aku panggil sayang.” Sahut Wanda, si salah satu murid kelas kami yang terkenal akan kecentilannya. “Tak tutuk kowe nda, durong opo-opo kok wes mbok godani.” Ujar Pak Jarot dengan senyuman Sontak semua warga kelas tertawa, setelah mendengar basa jawanya Pak Jarot keluar. Dan entah kenapa mata Lana jadi tertuju ke arah Miya yang sedang tertawa, lalu ia tersenyum tipis saat melihatnya. “Dipanggil Lana juga boleh.” Ujarnya sambil menatap Miya dengan penuh arti “Baik makasih Mas Lana, sekarang kamu boleh duduk.” Balas Pak Jarot. “Nama yang indah.” Ucap batin Miya. Dan Miya merasakan ada yang aneh di dalam dirinya, jantungnya berdegub kencang saat Lana dan dirinya menatap satu sama lain . Namun Miya tetap menahan diri agar tak memiliki perasaan yang lebih terhadap Lana. Setelah itu mereka lanjut kegiatan belajar mengajarnya Teet Teett Bel dengan suara 2 kali telah dibunyikan.
49 Saat yang lainnya sibuk mengisi perutnya dulu, Lana malah pergi ke masjid untuk memenuhi panggilan Tuhan. Dan disitulah Miya semakin yakin bahwa Lana ini berbeda dengan yang lainnya. Berhubung masjid dengan kantin cukup dekat, jadi memudahkan Miya dalam memantaunya. Tampak jelas setelah melakukan ibadah, Lana sempat berbincang dengan guru-guru yang ada disitu. Menurut Miya, Lana ini cukup menarik karna tak banyak seorang siswa yang habis melaksanakan ibadah mau berbincang sebentar dengan guru. “Apa gara-gara dia murid baru kali ya, makanya dia seperti itu. Itung-itung sebagai pendekatan diri dengan guru barunya.” batin Miya. ~~ Hari menuju Kesuksesan telah tiba, dan jadwal ujian terakhir hari ini adalah MATIMATIKA kami menyebutnya dengan begitu karena bagi yang tak bisa mengerjakannya dia akan hanya terdiam dan memandang kertas itu bak mumi yang mati diatas bangku. Dan Miya melihat Lana sedang megunyah sesuatu. “Sepertinya kamu sedang sibuk mengunyah Lan.” Ucap Miya “Iyaa nih aku lagi makan permen karet, katanya sih permen karet dapat membantu kita saat ujian matematika. Kamu mau yak?” Sahut Lana “Boleh Lan, makasih yaa.” Ucap Miya dengan senyum manisnya Setelah menyelesaikan semua soal-soal yang sulit, kini kami tinggal menunggu hasilnya. Semua para siswa berharap mendapatkan nilai yang memuaskan apalagi berharap namanya bisa masuk mewakili kelasnya dalam daftar Nilai Siswa Terbaik. Kertas putih itu sudah terpasang di papan pengumuman, kami pun harus berdesak-desakan saat ingin melihatnya. Saat dilihat ternyata perwakilan dari kelas kami yang masuk ke dalam daftar Nilai Siswa Terbaik adalah LANA PERWIRA JALESVEVA. Sontak kami semua segera mengucapkan selamat untuk Lana. “Selamat ya Lan, baru pindah disini kamu sudah meraih gelar itu. Aku kagum sama kamu.” Ucap Miya “Iya Miya… berjanjilah setelah namaku, namamu lah yang masuk daftar itu .” Sahut Lana sambil memegang lengan Miya. Ucapan dan sikap Lana membuat Miya semakin bersemangat dan mulai jatuh hati padanya. Dan kami memiliki tradisi dimana setelah hasil itu diumumkan. Kami sekelas berfoto bersama, dan menjadikan itu sebagai dokumentasi atas prestasi yang kami dapat. Namun disaat foto, nampak Wanda mencuri-curi kesempatan agar bisa berdekatan dengan Lana. Namun Lana tetap berjaga jarak dengan Wanda.
50 Lana memberi kode kepada Miya, bahwa ia tak nyaman dengan sikap Wanda Miya tertawa dan berkata tanpa suara bahwa mereka sbenarnya itu cocok. Lana lalu membalasnya dengan raut wajah marah. Setelah sesi foto bersama selesai, kami sekelas menuju ke kantin untuk makan bersama. Dan Lana diam-diam mendekati Miya dan berbisik padanya, menyarankan bahwa makan soto di jam segini sangat nikmat rasanya.. Lalu Miya tersenyum dan menoleh sedikit ke arah Lana serta menganggukan kepalanya secara perlahan. “Makasih Lana berkat kamu hidupku menjadi berwarna kembali” Ucapnya dalam hati. “Miya… Lana itu idaman banget ya, udah baik, pinter, sholeh lagi.” Ucap Fleta “Jangankan idaman para cewe-cewe, aku yakin pasti dirinya juga idaman para ibu-ibu.” Sahut Ayu dengan tertawa. “Idaman ibu-ibu kaya Mas Al yang di ikatan cinta?” Tanya Miya dengan tertawa “Aku merindu…. ku yakin kau tahu….” Sahut Fleta dengan percaya diri menyanyikan lagu itu “Bukan begitu, maksud aku dia itu idaman para ibu-ibu yang memiliki anak perempuan. Pasti ibu-ibu berebut untuk menjodohkan anaknya dengan si Lana, karena menurutku ga ada yang kurang dari sosok Lana .” Jawab Ayu “ Iya deh Ayu ting ting.” Sahut Miya dengan senyum lebarnya. “Dan kalian tahu tidak, saking baiknya dirinya ibu kantin pun pernah dibantu sama Lana. Dari mengangkat galon dan memasangkan gas untuk ibu kantin.” Bisik Ayu kepada Miya dan Fleta. Menurut Miya kali ini tak memakan waktu yang lama untuk mencintai. Dengan sikap manis yang ditunjukkan Lana selama ini, sudah cukup bagi Miya untuk jatuh hati padanya. Senja menuntut kupu-kupu untuk mundur Meniti takdir dengan akur Nasi telah menjadi bubur Impian hati telah terkubur ~~ Langit tampak gelap, tak ada satupun yang menghiasinya seakan bintang sedang enggan bersama dirinya. Miya pun sedang dilanda perasaan dan pikiran yang sangat gelisah, namun Miya masih tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Kemudia Miya mencoba menghilangkan itu dengan cara menyetel alunan instrumen yang menenangkan, tetapi masih juga tak kunjung hilang lalu Miya memutuskan untuk tidur saja.