51 Terdengar jelas suara rintikan air dari luar jendelanya. Miya pun terbangun dan melihat jam ponselnya, sontak Miya langsung kaget saat melihat waktu menunjukkan pukul 5. Miya langsung melaksanakan ibadah terlebih dahulu setelah itu bergegas untuk mandi. Pukul 6 rintikan air sudah berhenti, namun cahaya kuning itu belum menampakkan diri. Saat Miya sampai disekolah, Miya melihat Lana merangkul seorang wanita di dalam kantin sekolah. Miya pikir wanita itu adalah ibu kantin namun saat dilihat-lihat lagi, wanita itu tampak masih muda dan sepantaran dengan dirinya. Dan Miya mencoba tetap berpikir positif tentang hal itu. Namun disaat setengah perjalanan menuju kelas, ada suara wanita dari belakang yang memanggil nama Miya. Dan suara itu tak asing bagi Miya. “Miya….” teriaknya Dan Miya langsung membalikan badannya, dan benar saja suara itu adalah milik Ayu. “Kamu lihat tidak wanita yang dirangkul oleh Lana dikantin tadi?” Tanya Ayu dengan serius. “Iyaa, aku lihat yu. Emang siapa dia?” Jawab Miya penuh penasaran. “Dia itu ternyata kekasih Lana miy, mereka sudah menjalin hubungan yang cukup lama.” Ujar Ayu dengan nada yang sedikit kecewa “Yang benar yu?” Tanya MIya “Iyaa miy masak aku bohong sih, dan yang lebih kagetnya lagi wanita itu ternyata anak dari ibu kantin!” Ucap Ayu. “ Kamu tahu dari mana kalau dia anaknya ibu kantin?” Pertanyaan Miya yang ke tiga kalinya. “Tadi ibu kantin lewat didepan ku, dan aku memberhentikannya lalu bertanya siapa wanita yang dirangkul oleh Lana itu. Dan apa dia memiliki hubungan khusus dengan Lana.” Ujar Ayu “Lalu beliau menjawab bahwa itu anaknya, dan beliau berkata benar bahwa Lana memiliki hubungan khusus dengan anaknya karena mereka berdua memang sudah dijodohkan dari sejak kecil.” Ujar Ayu “Dan kamu lihat tidak pakaian yang dikenakan wanita itu? Muslimah banget bukan! Tapi kenapa dia malah berpacaran yaa…. dan mau dirangkul lelaki begitu saja. Dan rasanya tak pantas sekali ia menggunakan pakaian seperti itu, malu-maluin agama kita saja.” Ucap Ayu dengan nada kesal “STOP yu…! yang salah itu bukan pakaiannya yaa melainkan diriya yu. Bukankah di agama kita wanita itu dianjurkan untuk menutup auratnya. Intinya jika ada seseorang yang berbuat maksiat jangan sekali-kali salahkan agamanya, pakaiannya maupun lainnya jadi salahkan saja pada dirinya kenapa dia bisa berbuat seperti itu. Semua agama itu pasti mengajarkan yang baik-baik. Jadi jaga ya ucapanmu yu.”
52 Sontak setelah mendengar hal itu Ayu hanya bisa terdiam, dia sangat menyesali apa yang telah ia ucapkan tadi. Miya pun langsung menatap ke arah langit “Inikah jawaban dari ketidak munculannya sinarmu.” Ucap Miya dalam hati. Miya yang sudah mencoba untuk membuka hati, kini harus menerima bahwa ia dikecewakan lagi. Miya berpikir kenapa ia kemarin begitu mudahnya percaya kepada Lana, atau dirinya saja yang terlalu menaruh harap terhadap Lana. Miya mencoba menahan air matanya agar tak jatuh dihadapan Ayu. TAMAT
53 Kerlip Yacinta Artha Prasanti SMK N 6 Yogyakarta Nyatanya, hadirmu yang paling ku nanti Senyum bulan sabitmu yang paling ku gemari Tak terhitung berapa ratus jarak yang membatasi Aku tetap disini dengan rasa yang terpatri Ini semua tentang rasa Yang ku tumpahkan melalui aksara Bagaimana bisa hadirmu terasa sangat dekat? Padahal kau bersinar begitu jauh disana Sinarku sama dengan yang lainnya Tapi jarak kita terbentang seluas samudera Malam ini kilaumu begitu bercahaya Dan sang bintang tetap redup seperti malam-malam sebelumnya Aku disini Masih dengan kilau yang redup Dengan naungan harapan dapat memiliki Namun pijarku kalah terang dengan mereka Sempatku meragu Menengok banyaknya bintang menyandingimu Namun, aku bisa apa? Apakah kilauku sanggup membersamai kilaumu?
54 Kapan kau sempat melirik ke arahku? Yang berharap dengan sejuta angan kelabu Masih kah kau tutup mata padaku? Nyatanya semua hanya anganku
55 Esterin Yacinta Artha Prasanti SMK N 6 Yogyakarta Ding dong! Suara lonceng berbunyi ketika pintu ditutup. Seorang gadis berambut pendek menundukan kepalanya pada pelanggan yang baru saja pergi dengan menenteng tas belanjaannya. “Terima kasih dan selamat berbelanja kembali!” ucap gadis itu ramah. Suara jarum jam berhasil mengalihkan pandangan pegawai kasir tersebut. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Itu berarti jam kerjanya sudah habis. Dengan senyum yang terulas lebar, ia segera pergi menuju toilet untuk mengganti seragam kerjanya dengan seragam sekolah. Name tag yang ditulis dengan huruf hangul terpasang jelas di seragam sekolahnya. Shanon. Nama gadis berambut pendek itu adalah Shanon Bridella. Setelah memastikan semua barangnya tidak ada yang tertinggal, Shanon melangkah menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke meja kasir yang sekarang ditempati oleh Ahn Yujin, teman kerjanya yang giliran berjaga sampai pagi. Shanon mengepalkan tangannya ke udara sambil tersenyum pada gadis pemilik gigi kelinci itu. “Semangat Yujin!” Yujin balas tersenyum. “Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Shanon!” Lantas keduanya tertawa kecil dan kembali fokus pada tujuannya masing-masing. Shanon harus bergegas pulang sebelum terlalu larut. Jalanan masih ramai oleh kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang. Kota Incheon adalah kota metropolitan terbesar ketiga setelah Seoul dan Busan yang tidak pernah sepi. Shanon melangkahkan kakinya secara perlahan dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku seragamnya. Telinganya sengaja disumbat oleh earphone dengan lagu boy group NCT kesukaannya yang diputar keras. Untung saja jarak rumahnya dari supermarket tempat ia bekerja tidak terlalu jauh. Jadi, gadis berdarah Indonesia itu memutuskan untuk berjalan kaki. Hitung-hitung sambil menikmati suasana kota Incheon yang sangat indah.
56 Dengan banyak bangunan berupa gedung-gedung tinggi, toko sampai penginapan yang berjejer unik membuat Shanon selalu terkagum. Apalagi, disini Shanon sama sekali tidak melihat ada sampah yang berserakan. Jalanan benar-benar bersih dan tertata rapi. Walau kadang ada beberapa pejalan kaki yang memperhatikan Shanon terlalu intens. Shanon hanya bisa mengulas senyumnya dan memilih fokus untuk melanjutkan perjalanan sambil mendengarkan suara nyanyian idolanya yang terdengar jelas di telinga. “I will dive into you..” senandung Shanon riang mengikuti lirik lagu yang diputar. Terdengar sederhana, namun hanya dengan mendengarkan suara idolanya saja mampu membuat rasa lelah Shanon berkurang. Seketika semua beban Shanon terangkat. Ini semua berkat lagu milik NCT Dream. Apalagi lagu berjudul Dive Into You yang baru saja dirilis beberapa hari lalu membuat Shanon tambah antusias untuk mendengarkannya secara terus menerus. Ditemani lagu NCT dengan suasana malam kota Incheon yang begitu mendukung membuat perjalanan Shanon terasa menyenangkan. “Kenapa nilai kamu turun?” Baru saja Shanon memasuki ruang tamu, ia sudah mendapat sebuah pertanyaan dari ibunya. Terlihat seorang wanita masih dengan setelan jas kantor sedang duduk di sofa sembari menyesap cangkir berisi teh hangat. Tatapan tajamnya itu seolah menyuruh Shanon untuk duduk di sebelahnya. Shanon yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini berlanjut, melangkahkan kakinya dengan gontai dan duduk di sebelah Helin, ibunya. “Kenapa nilai kamu akhir-akhir ini turun? Kamu gak belajar? Terus jam segini kenapa baru pulang? Oh iya, kamu masih kerja part time itu ya?” cerca wanita yang sudah memasuki kepala tiga tersebut. Shanon menghembuskan napas pelan. Ia tidak berani menatap wajah Helin. “Maaf,” lirih Shanon. “Jangan cuma bilang maaf tapi gak ada usaha. Kamu sudah besar. Seharusnya bisa bagi waktu dan banyakin waktu untuk belajar. Ayolah, sebentar lagi ujian. Sampai kapan mau seperti ini terus?” “Sekali lagi Shanon minta maaf. Besok Shanon akan lebih giat belajar lagi. Shanon ke kamar duluan,” ucap Shanon lesu dan segera beranjak menuju kamarnya. Namun langkah Shanon terhenti ketika Helin kembali bersuara. “Mulai besok kamu berhenti kerja part time. Mama sudah mendaftarkan kamu les private. Belajarlah yang giat!” pintanya tegas.
57 Tanpa membalas ucapan Helin, Shanon mempercepat langkahnya menuju kamar. Sekarang dadanya terasa sangat sesak. Air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya keluar dan tambah deras ketika Shanon melihat foto sang idolanya yang ditempel di dinding kamarnya, Lee Jeno. Tampak sosok pria tampan dengan senyum yang sangat manis. “Jeno, aku dimarahin mama lagi. Aku gak dibolehin kerja part time lagi. Aku capek, Jeno. Aku capek dituntut terus! Nanti kalau gak kerja, gimana caranya aku ketemu kamu?” isak Shanon. Gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu pun berjalan tertatih menuju meja belajarnya. Disana sudah tersusun banyak buku dan lembar kertas latihan. Tersisa satu tugas yang harus Shanon kerjakan untuk esok hari. Setelah membasuh wajah dan mengganti pakaian, Shanon kembali duduk di depan meja belajarnya. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam dan Shanon masih harus mengerjakan tugas. Perkataan Helin tadi terngiang jelas di telinganya. Hal tersebut membuat Shanon meremas pulpen yang ia pegang. Sakit dan rasa tidak terima yang ia rasakan. Bagaimana caranya ia bertemu sang idola jika ia berhenti kerja? Darimana uang yang akan didapat? Walau kerja part time membuat waktu istirahatnya berkurang, Shanon tidak masalah. Tiap harinya, Shanon pulang sekolah pukul delapan malam. Setelah itu ia langsung berangkat menuju minimarket tempat ia bekerja sebagai kassir. Shanon berusaha menarik senyumnya. Ia mulai membuka buku latihan dan bekerja sama dengan otaknya. Lumayan mudah bagi Shanon untuk mengerjakan sepuluh soal fisika. Di tengah penyelesaian soal yang sedikit rumit, Shanon melirik ke arah figura yang ia taruh di atas meja belajarnya. Di dalam figura tersebut, ada sebuah foto seorang lelaki yang membuatnya kembali bersemangat menyelesaikan soal. Ya, Shanon harus bisa! Ia mengingat setiap senyum bulan sabit yang dimiliki oleh orang yang sangat dicintainya, Lee Jeno. “Akhirnya selesai!” serunya meletakan pulpennya kembali. Malam sudah sangat larut dan Shanon harus tidur. Esok ia harus menjalani kegiatannya dari pagi sampai mau tidur lagi. Memang, kehidupannya di negara Gingseng untuk pertama kalinya jauh lebih berat ketimbang hidup di Indonesia. Berangkat pagi dan pulang larut malam adalah rutinitas yang sebenarnya belum terbiasa dijalani oleh Shanon. Namun mau tidak mau Shanon harus menerima semuanya. Banyak hal yang ingin Shanon capai di tanah kelahiran idolanya tersebut. Di samping itu, ia pindah ke Korea juga karena kedua orang tuanya yang memiliki bisnis lebih besar di negara ini.
58 Ternyata yang dijalani Shanon hari ini jauh lebih berat. Kelasnya disuruh membentuk kelompok untuk menyelesaikan soal bersama. Ketika yang lain sudah mendapatkan kelompok, Shanon masih duduk di bangkunya sendiri. Berulang kali Shanon menawarkan diri untuk masuk ke kelompok, tapi tidak ada yang mau menerimanya. Shanon menghela napas panjang. Hal seperti ini sudah biasa terjadi padanya, tapi kenapa masih terasa sangat sakit? “Mau masuk kelompokku?” tanya seseorang tiba-tiba. Shanon mendongak dan mendapati Jung Yesung yang tengah menatapnya. Shanon mengangguk antusias. “Aku mau! Benarkah kamu menawariku? Tidak salah orang, kan?” Lantas, Yesung berjalan menuju meja miliknya yang sudah dikelilingi oleh tiga siswa. Shanon mengikuti Yesung dari belakang. “Benar Shanon, silahkan duduk,” ucapnya pelan. Dengan ragu, Shanon duduk di kursi kosong tepat di sebelah Yesung. Tiga siswa lainnya menatap sinis pada Shanon. Di antaranya ada dua perempuan yang sekarang sedang saling berbisik dan tertawa melihat Shanon. Shanon menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kenapa mereka masih belum bisa menerima kehadirannya? “Mari mulai berdiskusi agar cepat selesai,” himbau Yesung yang langsung disetujui oleh para anggota kelompok. Yesung membagi pekerjaan soal pada tiap orang sama rata. Setelah itu, semuanya langsung fokus pada tugas masing-masing. Sesekali diselingi oleh diskusi. Tidak butuh waktu sepuluh menit, Shanon dan Yesung selesai dengan pekerjaannya. Tiga orang lainnya masih sibuk berkutat bersama kertas. “Ada yang butuh bantuan?” tanya Shanon. “Ada. Tolong kerjakan lima nomer ini, aku harus ke toilet. Perutku sakit.” Siswa perempuan berambut panjang itu menaruh kertasnya tepat di depan Shanon dan langsung mengajak teman satunya pergi ke toilet. “Jadi, aku harus mengerjakan semua jatahnya?” gumam Shanon pelan. “Sini, biar aku bantu.” Yesung mengambil pena dan mulai mengerjakan milik anggota kelompoknya. Shanon terkejut. Tidak biasanya ada orang yang ingin membantunya. “Yesung, kenapa kamu membantunya? Jangan terlalu baik. Biarkan saja dia mengerjakan sendiri,” celutuk salah satu anggota kelompok.
59 “Lebih baik kamu diam dan selesaikan pekerjaanmu daripada namamu yang nanti akan ku hapus dari kelompok!” jawab Yesung tajam. Anggota tadi langsung terdiam. Sampai akhirnya semua pekerjaan di dalam kelompok itu selesai. Dua anggota perempuan yang izin ke toilet tadi datang bersamaan dengan Shanon dan Yesung yang selesai mengerjakan tugas mereka. Memang dasar siswa tidak bertanggung jawab! Shanon bernapas lega ketika bel jam istirahat berbunyi. Seperti biasa, ia menikmati bekalnya sendirian di dalam kelas. Tidak ada satu orang pun yang menemaninya. Teman lain yang tidak pergi ke kantin sibuk bergurau, mengobrol dan makan bersama di dalam kelas tanpa mempedulikan kehadiran Shanon. Menginjak kantin saja Shanon tidak berani. Pasti akan ada lebih banyak orang yang memandangnya aneh. Berusaha tersenyum untuk menerima keadaan, Shanon kembali memasukan satu suapan ke dalam mulutnya. Sambil menikmati waktu istirahat, gadis itu menghidupkan ponselnya dan mulai menonton perform terbaru NCT Dream yang kemarin belum sempat ia lihat. Kali ini mereka membawakan lagu berjudul Rainbow dan Dive Into You. Dari tujuh orang yang tampil di atas panggung, pandangan Shanon lebih terfokus pada satu member yang mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dan rambut hitam dengan beberapa poni yang jatuh di dahinya. Lee Jeno, kau tampak sangat indah. “Kenapa ganteng banget sih?!” bisik Shanon berusaha menahan heboh. Gadis itu beberapa kali menutup mulutnya sendiri supaya tidak berteriak. “Boleh aku duduk disini?” tanya Yesung yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya sambil membawa beberapa lembar kertas. Shanon hanya mengangguk pelan. Yesung mengambil salah satu bangku kosong lantas duduk di depan Shanon. Hal itu membuat beberapa murid di dalam kelas saling berbisik. Mereka tambah menatap Shanon dengan pandangan kesal. Namun, Shanon memilih fokus untuk menatap layar ponsel sambil melanjutkan makannya. “Kenapa duduk disini? Kamu tidak takut?” tanya Shanon membuka pembicaraan. “Takut kenapa?” “Nanti kamu ikut dijauhi satu kelas karena bergaul denganku. Lebih baik kamu duduk di tempat lain.” Shanon menutup kotak makannya dan menaruhnya di laci. Perform NCT Dream sudah selesai. Ia mau melanjutkan untuk menonton perform lainnya tapi tidak enak jika harus mengacuhkan Yesung.
60 “Mereka tidak akan sanggup menjauhi anak paling pintar sekaligus paling tampan sepertiku. Tenang saja,” jawab Yesung menyombongkan diri. “Yesung, jika kamu hanya ingin menyombongkan diri lebih baik jangan duduk disini.” Shanon memutar bola mata malas. “Apa? Jadi, barusan kamu mengusirku? Hey Shanon, disini kamu tidak punya teman. Jangan galak-galak dong!” balas Yesung “Makannya jangan sombong. Kamu mau ngapain kesini?” tanya Shanon to the point. “Aku ingin mengerjakan latihan soal ujian ini denganmu. Lagian, aku bingung harus berdiskusi dengan siapa.” Yesung mulai fokus mengerjakan nomer pertama. Dua minggu lagi ujian kenaikan kelas. Pasti lelaki ini sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Shanon jadi ragu, apakah nilainya akan naik? “Kenapa harus denganku? Kamu kan bisa berdiskusi dengan anak lainnya,” tukas Shanon. Akhirnya Shanon ikut mengambil satu kertas berisi latihan soal yang mirip dengan milik Yesung. Ada dua puluh soal matematika yang begitu familiar di mata Shanon. “Jujur saja, karena kamu yang selalu membuatku takut. Takut kalah saing karena nilai. Kamu pintar, Shanon. Sadar gak? Kalau peringkat kita selalu atas bawah. Dulu, aku menganggap kehadiranmu sebagai ancaman. Tapi sekarang aku ingin membangun sebuah pertemanan.” Yesung mengulurkan tangannya. Shanon terdiam selama beberapa saat. Ia masih mencerna ucapan Yesung barusan. Sampai akhirnya Shanon ikut mengulurkan tangannya dan berjabat dengan Yesung. Yesung tersenyum lebar. “Terima kasih. Aku anggap ini adalah awal pertemanan kita,” ujar Yesung. “Kamu serius mau berteman denganku, Yesung? Kamu tidak takut dijauhi?” Shanon meyakinkan. Yesung menggeleng mantap. “Tidak. Sekarang kita teman. Kita bersaing secara sehat ya? Aku mau kita saling membantu satu sama lain jika ada kesulitan. Shanon, sekarang kamu tidak sendiri. Tenang, tidak ada yang berani menjauhi seorang Jung Yesung.” Senyum Shanon langsung terpatri lebar. Hatinya menghangat. Untuk kali pertamanya, Shanon mendapat teman di sekolah. Sejak ia pindah sekolah di Korea setahun yang lalu, tidak ada satu orang pun yang mau berteman dengannya. Dari dulu Shanon selalu mengerjakan semuanya sendiri. Namun sekarang Yesung sudah resmi menjadi temannya. Jung Yesung, laki-
61 laki berperawakan tinggi dengan kulit putih seperti susu itu kerap disegani oleh orang-orang. Bukan hanya karena parasnya yang menawan, tapi otaknya juga otak Einsten. Satu hal yang membuat Shanon bingung, Yesung tidak pernah ikut mengejeknya atau sekedar melihat Shanon dengan tatapan aneh. Yesung berbeda dari yang lain. Lelaki itu juga sering terlihat menyendiri dengan buku-buku yang menemani. Tapi, masih banyak teman yang datang ke Yesung untuk menanyakan jawaban atau sekedar mengobrol santai. “Yesung, kenapa kamu tidak pernah memandangku dengan tatapan aneh? Kenapa tidak ikut menjauhiku? Bukannya teman-teman yang lain seperti itu?” cerca Shanon. Yesung tertawa. “Jangan samakan aku dengan mereka. Aku tidak mungkin menjauhimu hanya karena kamu murid pindahan dari Indonesia.” “Aku tidak pernah punya teman disini, Yesung. Aku selalu sendiri. Mereka menjauh karena ras kita berbeda. Apalagi warna kulitku, paling beda sendiri,” lirih Shanon. “Kamu satu-satunya murid yang memiliki kulit sawo matang di sekolah ini. Bukankah menjadi satu-satunya itu istimewa? Kamu berbeda, artinya kamu unik,” ujar Yesung lalu menepuk pelan pundak Shanon. “Aku mengerti, Yesung. Sampai sekarang aku masih mencoba terbiasa dengan rasis.” “Shanon, aku yakin mereka akan menyesal pernah menjauhi anak baik sepertimu.” Yesung tersenyum hangat pada Shanon. Setelah itu Yesung melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ayo kerjakan soal ini, lima belas menit lagi jam istirahat selesai.” Shanon dan Yesung kembali fokus pada kertas di atas meja. Sambil berdiskusi ringan diselingi gurauan, keduanya berhasil menyelesaikan semua soal dengan lancar. Shanon sangat senang, akhirnya ia bisa merasakan bekerja sama dengan seorang teman. Sejak Yesung menjadi temannya, hari-hari Shanon di sekolah lebih berwarna. Shanon tidak perlu takut mendapat ejekan atau tatapan penuh kebencian lagi karena Yesung selalu berada di sisinya. Bagi Shanon, Yesung adalah sahabat sekaligus rekan belajarnya. Setidaknya letih yang dirasakan Shanon tiap pulang sekolah berkurang. Walau setelah itu dirinya masih harus mengikuti les private. Kadang, Shanon merasa waktu berjalan cepat jika ia sedang bahagia. Tapi Shanon juga merasa jika waktu berjalan sangat lambat ketika ia sedang merasa sedih. Seperti saat ini ketika dirinya harus mendengar ceramah dari Helin. Padahal Shanon baru saja selesai dengan les privatenya.
62 “Guru les private kamu adalah guru yang sangat berpengalaman. Sistem ngajarnya juga enak kan? Kamu pasti nyaman. Sha, mama cuma pengen kamu dapat nilai sempurna. Jangan sampai reputasimu sebagai anak pintar berganti menjadi anak pemalas yang kurang tidur. Lihat saja matamu sudah seperti mata panda!” cerca Helin tajam sambil menunjuk kedua mata Shanon. Shanon masih terdiam di tempatnya. “Sekarang mama tanya. Ulangan tinggal berapa hari lagi?” “Seminggu lagi,” jawab Shanon lesu. “Kalu sudah siap?” tanya Helin lagi yang dibalas anggukan mantap oleh Shanon. “Kenapa kamu sangat yakin? Kamu saja seperti kelihatan kurang tidur. Apa yang kamu lakukan sampai larut malam selain belajar? Nonton drama? Atau chattan dengan temanmu?” Helin kembali menyerang Shanon dengan prasangka-prasangka buruknya. Shanon berusaha menarik senyumnya. Namun gagal. Sekarang yang terlihat hanya air mata yang mengalir semakin deras. Shanon benci jika harus menangis di depan sang ibu. Pasti ia akan terlihat lemah. Ingin sekali Shanon berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mulutnya seakan dibungkam paksa. “Sha, jawab mama! Mama malu kalau anak mama dapat nilai jelek. Look at you, kamu anak orang berada. Kamu difasilitasi lengkap. Jadi, otakmu juga harus terisi dengan berkualitas.” Helin melipat kedua tangannya di depan dada. Ucapan Helin membuat otak Shanon merekam semua kejadian beberapa waktu lalu. Shanon tersenyum lebar lalu ber-high five ria dengan Yesung setelah melihat hasil latihan ujiannya. Ia mendapat nilai paling sempurna. Terpampang angka seratus di pojok kanan atas lembar jawaban. Sedikit demi sedikit Shanon berhasil meraih nilai seratus kembali. “Kamu hebat Shanon!” puji Yesung sambil mengacak pelan rambut Shanon. Shanon masih tersenyum lebar. “Kamu juga tidak kalah hebat, Yesung! Kamu ingat tidak? Waktu belajar mengerjakan tiga soal terakhir kemarin, aku sampai frustasi karena tidak menemukan jawabannya. Tapi berkat bantuan kamu, sekarang aku bisa! Terima kasih banyak!” ucap Shanon lantas membungkukan badannya sedikit, sebagai tanda ucapan terima kasih. “Kamu juga sering membantuku. Jika bukan karena kamu yang memberi arahan untuk menggunakan rumus cepat, aku akan memakan waktu lama untuk mengerjakan soal seperti
63 nomer pertama tadi. Karena aku menggunakan rumus yang begitu panjang,” jelas Yesung tampak sangat semangat. “Ah, senang mendengarnya. Ya sudah, ayo sekarang aku traktir kamu iga babi! Kamu pasti suka kan?!” Tanpa menunggu persetujua, Shanon langsung menyeret Yesung menuju kantin sekolah. “Tidak usah! Biar aku yang traktir kamu saja,” bantah Yesung berusaha menepis tangan Shanon. Namun Shanon menggeleng tegas. Ia tetap akan mentraktir Yesung iga babi. Lelaki jangkung itu sudah sangat baik pada Shanon. Dan berkat Yesung juga, Shanon sudah tidak takut pergi ke kantin. Banyak tatapan tidak suka yang dilayangkan orang-orang saat Shanon melewati koridor. Tapi Shanon tetap melanjutkan langkahnya dengan Yesung yang berjalan di sebelahnya. “Lihat, sekarang aku sudah tidak takut lagi kan? Karena kata Jung Yesung, orang-orang itu belum tentu memiliki otak Einsten seperti seorang Shanon. Bukan begitu, Yesung?” Shanon sengaja menyipitkan kedua matanya ke arah Yesung. Yesung tertawa. “Memang sudah seharusnya kamu menuruti perkataanku, Shanon.” Bahkan Helin saja tidak pernah merasa bangga padanya. Memangnya pernah Helin mengapreasi kerja keras Shanon? Tidak. Helin selalu menuntut hasil akhir, yaitu nilai. Lihat, nilai Shanon meningkat lagi dan itu juga berkat Jung Yesung. Seharusnya Helin bisa mengerti! Otak Shanon kembali merekam malam-malam sebelumnya. “Jeno-ssi, aku capek banget! Mataku sudah sakit. Kayaknya sebentar lagi kepalaku juga akan meledak. Apakah aku harus berhenti sekarang?” keluh Shanon sambil mengamati photocard Jeno di tangannya. Foto Jeno selalu menemaninya kala ia sedang belajar. “Apakah kau bangga padaku? Aku berhasil mengerjakan tiga puluh latihan soal tanpa melihat kunci jawaban. Dan ketika aku mencocokan jawabanku dengan kunci jawaban, hanya salah satu! Daebak!” Shanon tersenyum bangga masih dengan mengamati wajah Jeno di photocard. Setelah itu ia meletakan photocard tersebut di tempat paling aman dan membereskan bukubukunya. Shanon menghela napas lega ketika tugasnya untuk belajar sudah selesai, apalagi ia baru saja mengobrol dengan photocard kesayangannya. Kebanyakan orang menganggap gila apa yang dilakukan Shanon barusan. Tapi itu memang kebiasaan Shanon tiap malam. Curhat serta berbagi keluh kesah di depan foto idola seakanakan mereka ada di hadapan kita langsung. Tak jarang Shanon menangis sambil mendengarkan lagu atau menonton MV mereka karena banyak tuntutan serta beban berat yang ia pukul. Shanon tidak pernah merasa sendiri. Ia merasa sang idola selalu berada di
64 sisinya dan menjadi penyemangat setia walau jarak mereka jauh. Bahkan ketika Shanon belum pernah bertemu Jeno secara langsung.. Jam sudah menunjukan pukul setengah dunia dini hari. Dan di jam itu Shanon baru selesai belajar. Padahal sebelumnya ia sudah belajar dengan guru les. Sangat berat bukan? “Jeno, tunggu aku ketemu kamu ya? Terima kasih sudah menjadi sumber motivasiku sekaligus menjadi penyemangatku setiap harinya. Aku yakin usahaku tidak akan sia-sia. Aku ingin menjadi sepertimu, Jen. Menjadi orang pintar yang keren,” lirih Shanon sambil memperhatikan poster Jeno yang ditempel di dinding kamarnya. Sebelum tidur, Shanon merancang skenario haluan di dalam otaknya. Skenario jika ia bisa bertemu dengan Jeno. Lalu Shanon akan mengucapkan banyak terima kasih pada idolanya tersebut. Lama kelamaan jalan skenario berjalan keluar dari jalur. Shanon yang notabenenya seorang pelajar dan non selebriti berangan menjadi kekasih dari seorang idol bernama Lee Jeno yang posisinya sudah dikenal setengah dunia. Ia merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang beruntung yang terpilih dari jutaan penggemar lainnya. Ah, menyenangkan sekali bukan berangan seperti ini? Lee Jeno adalah alasan terbesar Shanon untuk terus berjalan meraih mimpinya. Ia ingin menjadi orang pintar seperti Jeno. Shanon pernah membaca latar belakang Jeno sebelum lelaki itu menjadi seorang idol. Dulu saat bersekolah, Jeno selalu mendapat nilai sembilan apalagi di pelajaran matematika. Padahal Jeno tidak menyukai matematika, ia lebih menyukai pelajaran sejarah. Jeno masuk ke dalam sepuluh murid terpintar di sekolahnya. Hal itu yang paling membuat Shanon sangat termotivasi sampai sekarang. Tidak sampai disini saja. Otak Shanon masih terus memutar beberapa hal yang dilakukan gadis itu untuk mendapatkan nilai sempurna. Seakan tidak ada kata letih, sepulang sekolah Shanon mengajak Yesung ke perpustakaan untuk mencari materi tambahan di buku yang tadi disarankan oleh gurunya. Yesung juga kerap mengeprint banyak paket latihan soal tahun lalu sebagai bahan belajar ujian kenaikan kelas besok. Kedua orang itu sering bertukar materi dan soal. Sehingga setiap latihan yang diberikan guru berhasil Shanon kerjakan dengan mudah. “Pintar sekali anak Nyonya Helin ini,” komentar Park Soo young, guru les private Shanon setelah mengoreksi semua jawaban Shanon yang benar semua. Shanon tersenyum. “Jadi, semua jawabanku benar?” guru tersebut mengangguk mantap.
65 “Okay, cukup untuk belajar hari ini. Kamu hebat!” sambil membereskan barangnya untuk bergegas pulang, Park Soo young memberi latihan soal tambahan kepada Shanon. Shanon menerimanya. “Kerjakan. Besok akan saya koreksi. Seperti perintah dari Nyonya Helin, kamu harus sering dikasih latihan soal untuk terus berlatih lagi dan lagi. Saya jamin hasilnya tidak akan mengecewakan. Ya? Belajarlah yang giat, anak manis!” jelas Soo young sambil menepuknepuk kepala Shanon. Senyum Shanon langsung luntur ketika mendengar bahwa ibunya yang menyuruh sang guru untuk terus memforsirnya dengan banyak latihan soal. Tapi lagi dan lagi, Shanon teringat Jeno. Ia tidak boleh menyerah! Tiga puluh menit setelah selesai les, Shanon kembali duduk di depan meja belajarnya ditemani lembaran kertas soal yang tersusun rapi. Shanon akan mulai belajar lagi. “Semangat Shanon! Aku yakin kamu bisa! Jeno bangga sama kamu,” bisiknya pada diri sendiri. Latihan soal sudah seperti makanan sehari-hari untuk Shanon. Tidak di sekolah atau pun di rumah, Shanon selalu menghabiskan waktunya hanya untuk membaca materi dan mengasah kemampuannya dengan mengerjakan latihan soal. Bahkan gadis itu jadi jarang menonton konten NCT Dream yang sekarang sudah tertumpuk banyak. Namun, tiap harinya Shanon masih rajin mendengarkan lagu-lagu boy grup kesayangannya itu. Belajar setiap saat membuat kantung mata Shanon menghitam. Jam tidur Shanon berkurang. Gadis itu jadi lebih sering mengeluh pada Jeno melalui photocardnya. Ia memiliki Yesung sebagai temannya, tapi entah kenapa Shanon enggan bercerita. Bagi Shanon, berkeluh kesah dengan sang idola jauh lebih menyenangkan. Sampai suatu hari di hari Minggu pagi, Yesung berkunjung ke rumah Shanon dengan mengenakan outfit date. Yesung juga menggendong tas berwarna hitam yang biasa ia bawa ke sekolah. Lelaki itu akan mengajak Shanon belajar bersama di tempat langganannya. Jantung Yesung terpacu dua kali lebih cepat ketika yang membuka pintu adalah ibu Shanon. Helin menatap Yesung datar. Sampai akhirnya Yesung membungkukan badannya untuk memberi salam pada Helin. Di Korea, salam membungkukan badan disebut bow and handshake. Helin balas menundukan sedikit kepalanya.
66 “Selamat pagi, saya Jung Yesung sahabat Shanon. Tujuan saya berkunjung kesini untuk mengajak Shanon pergi ke cafe. Apakah ibu mengizinkan?” tanya Yesung menggunakan bahasa Korea yang sangat formal dan sopan. “Dalam rangka apa? Jika tidak terlalu penting, lebih baik kamu pulang dan belajar untuk ujian. Begitu juga dengan Shanon, anak itu akan merasa keenakan jika saya izinkan pergi ke cafe,” ketus Helin. Yesung justru menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum lembut. Helin terhenyak sesaat melihat senyum Yesung yang sangat tampan. Di dalam pikiran wanita tiga puluh tahun itu, ia menilai Yesung adalah anak tampan yang baik. Yesung kembali membuka suara. “Maaf, tapi saya hanya ingin mengajak Shanon belajar bersama di cafe langganan saya. Tempatnya sangat nyaman dan tenang untuk mempelajari materi. Bahkan, banyak murid SMA sampai mahasiswa yang juga mengerjakan tugas disana. Ibu tidak perlu khawatir.” Helin terdiam, berusaha mempercayai perkataan yang dilontarkan Yesung. “Kamu tidak bohong? Beneran untuk belajar kan?” Yesung mengangguk mantap. “Saya tidak pernah berbohong kepada orang tua. Anda bisa mempercayakan semuanya pada saya.” Sampai akhirnya Helin mengangguk dan memanggil Shanon di kamar. Shanon yang sedang belajar sangat terkejut dengan kehadiran Yesung yang sangat tiba-tiba. Tapi Shanon lebih terkejut pada Helin yang mengizinkan Yesung untuk mengajaknya pergi. “Lagian kamu kenapa datang tiba-tiba? Sebelumnya kita belum janjian untuk pergi bersama bukan?” tanya Shanon ketika mereka sudah sampai di cafe dan mulai mengulas materi. “Maaf, aku hanya sedikit kebingungan. Bukankah sangat stress terus menerus belajar di rumah? Kamu juga butuh refreshing. Tuh, lihat kantung matamu.” Yesung menunjuk ke arah bawah mata Shanon menggunakan dagunya. Dari tadi lelaki itu sama sekali belum membuka materi. “Tapi di cafe pun aku juga harus belajar kan? Tak apa Yesung, ini semua demi nilai. Aku malas mendengarkan kritikan mamaku,” ucap Shanon menghela napas panjang. Yesung sedikit terkekeh dan menyeruput lemon teanya yang masih penuh. “Dasar gila belajar! Jangan belajar demi orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Ini hidupmu. Kamu yang berhak
67 mengatur semuanya karena kamu yang menjalaninya. Shanon, cukup berjalan sesuai kecepatanmu sendiri. Jangan terlalu diforsir. Jika kau sakit, pasti akan sangat merepotkan,” Yesung mendecih setelah mengatakan kalimat terakhir. Lantas lelaki itu tertawa. “Ngomongngomong soal ibumu, aku masih mendengar aksen Indonesianya saat mengobrol menggunakan bahasa Korea denganku tadi. Tapi aku tidak pernah mendengar aksen Indonesiamu. Cara bicaramu sangat terlihat seperti orang Korea. Daebak!” sambung Yesung. Astaga, teman di depan Shanon ini rupanya sangat cerewet. Shanon sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Yesung. Semua yang diucapkan Yesung memang benar. Shanon terbahak sembari geleng-geleng kepala. “Hey Jung Yesung! Kenapa kamu jadi banyak bicara seperti ini?” “Ini adalah sebuah bentuk mengekspresikan perasaan. Banyak yang terkumpul di otakku, jadi aku mau mengeluarkan semuanya.” Shanon mengulas senyum lebar. Gadis itu menepuk pelan tangan Yesung. “Jung Yesung, terima kasih banyak untuk semua nasihatnya. Dan tentang aksen Korea tadi, aku anggap itu adalah sebuah pujian. Terima kasih.” Lalu keduanya melanjutkan untuk mengulas materi bersama diselingi gurauan yang mampu membuat Shanon terbahak kencang. Dua anak itu belajar dengan cara santai sambil menikmati makanan ringan dan minuman yang mereka pesan. Hari itu Shanon merasa sangat bahagia. Materi yang ia pelajari sudah masuk semua ke otak, ditambah cara Yesung menghibur Shanon membuat hati Shanon menghangat. Shanon kembali pada realita. Semua kilasan kejadian yang terputar di otaknya banyak menampilkan perjuangan Shanon untuk belajar, tekanan yang dirasakan Shanon karena terlalu banyak tuntutan sampai akhirnya ia merasa bahagia karena Jeno dan Yesung. “Udah cukup mama nyuruh aku berhenti kerja part time sampai mama sewa Miss Soo Young untuk jadi guru private-ku. Aku belajar sampai larut, ma. Dari pagi sampai jam delapan malam aku sekolah, pulang sekolah udah harus les. Selesai les aku masih harus belajar. Mama juga tahu kalau sekarang nilaiku sudah meningkat seperti dulu. Kurang apa? Kenapa mama nuduh Shanon yang enggak-enggak?” balas Shanon dengan suara yang bergetar menahan amarah. “Kenapa dulu kamu harus kerja part time sih? Kalau kamu tidak melakukan pekerjaan itu, mungkin nilaimu tidak akan turun. Jadi mama melakukan ini semua juga demi kamu! Supaya nilai tinggi kamu selalu bertahan, jangan sampai turun. Kamu juga gak tahu Sha seberapa malu
68 mama waktu tahu nilai kamu turun. Mama malu!” Helin menatap Shanon tajam. Deru napasnya terlihat tidak beraturan. Shanon terkekeh sinis tidak habis pikir. “Nilai paling jelek yang pernah aku dapatkan adalah tujuh. Kemarin aku cuma dapet tujuh dan itu gak seberapa! Masih berada pas di KKM. Mama kenapa terlalu terobsesi dengan nilai sempurna sih? Kenapa ma?” “Karena mama ingin kamu menjadi seperti mama. Mama gampang mendapat pekerjaan yang sangat menguntungkan karena otak mama pintar. Kamu harus bisa seperti mama, Sha! Mama sudah punya banyak bisnis dimana-mana. Bahkan lihat, sekarang kita tinggal di negara maju karena mama punya bisnis paling besar disini! Ini semua karena otak mama. Mama harap, besok setelah lulus sekolah dan mulai kuliah kamu bisa sambil mengurus perusahaan mama, Sha. Mama ingin lihat kamu jadi CEO muda.” jawab Helin panjang lebar. Wanita itu tersenyum bangga. Bahu Shanon bergetar hebat. Shanon mengepalkan kedua tangannya sangat erat sampai semua kukunya memutih. Ia balas menatap Helin tak kalah tajam. Sekarang kesabarannya sudah habis. “Mau sampai kapan mama ngatur hidup aku kayak gini ma?! Aku juga mau hidup bebas, aku mau main bareng temen kayak remaja pada umumnya, aku mau belajar dengan caraku sendiri, aku mau melakukan apa yang aku suka tapi aku gak pernah bisa! Mama selalu nuntut aku supaya aku mendapat nilai yang sempurna tapi mama gak pernah pikirin kebahagiaan aku! Mama gak pernah lihat gimana perjuangan aku selama ini! Karena mama cuma ingin melihat hasil akhirnya aja, mama cuma puas sama nilai yang aku dapet. Iya kan?!” PRANGGG!!! Shanon membanting gelas kaca yang berada di meja ruang tamu. Shanon berteriak pilu di depan Helin. Kakinya terasa lemas seakan tidak mempunyai tenaga untuk menyokong tubuhnya sendiri. Shanon terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir deras. Gadis itu masih berteriak mengeluarkan semua beban dan unek-unek yang selama ini ia rasakan. Bahkan ia sampai menjambak kencang rambutnya sendiri. “Mama gak pernah tahu gimana capeknya aku menghadapi rasis di sekolah. Mama juga gak tahu kalau aku cuma punya Yesung kan? Mama gak pernah peduli soal itu semua! Aku kerja part time untuk cari uang sendiri biar bisa kekumpul banyak terus ketemu Jeno! Tapi mama justru nyuruh aku untuk berhenti kerja. Tau kok, aku paham kalau keluarga kita orang berada. Kita orang punya. Tapi mama juga selalu bilang kalau aku pengen sesuatu, harus berusaha sendiri. Makannya aku kerja biar dapet uang untuk nonton konser ma!”
69 Helin mulai menitikan air matanya. Wanita itu cukup tertampar dengan semua ucapan anaknya. “Sha..” Shanon menghapus air matanya kasar dan berusaha berdiri. Ia menatap Helin dengan pandangan kecewa. “Aku tahu kalau mama berhak ikut campur soal hidupku. Tapi gak semua bisa mama atur. Aku anak mama, bukan investasi mama,” ucap Shanon tegas tanpa isakan tangis. Helin semakin tercekat di tempatnya, namun ia tidak bisa bersuara. Atmosfer di ruang tamu semakin mencekam. Setelah itu Shanon berbalik badan dan menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Helin dengan sejuta kebungkaman. Semenjak kejadian di ruang tamu, Helin menjadi lebih perhatian pada Shanon. Wanita itu tidak lagi memarahi atau memberi Shanon kritikan. Tapi sesekali Helin masih mengingatkan Shanon supaya jangan sampai berhenti belajar karena ujian sudah di depan mata. Hari ujian pun tiba. Semua penghuni di dalam kelas sibuk berperang dengan soal di hadapan mereka. Kelas terasa sangat hening. Hanya terdengar suara gesekan kertas dan suara orang menulis. Namun di barisan belakang, masih ada beberapa murid yang bekerja sama secara diam-diam. Shanon sendiri belum menemukan kendala selama mengerjakan soal. Dari awal hingga akhir, Shanon berhasil melewati semuanya dengan lancar. Gadis itu merapikan kertas soal dan kertas jawabannya lantas tersenyum sumringah. Ia selesai ujian hari pertama! Di tempatnya, diam-diam Yesung tersenyum memperhatikan Shanon. Yesung ikut senang sekaligus lega ketika sahabatnya tidak mengalami kendala apapun. Begitu juga dengan Yesung. Sama seperti Shanon, lelaki jangkung itu berhasil mengerjakan semua soal tanpa ada hambatan apapun. “Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Shanon! Masih ada lima hari lagi. Semangat!” Yesung menyodorkan sebuah susu kotak rasa cokelat pada Shanon ketika mereka sedang berjalan menuju gerbang depan untuk menunggu jemputan. Hari pertama sudah dilewati Shanon dengan baik. Sekarang saatnya mereka pulang lebih awal. Shanon menerima susu cokelat itu dengan antusias. Ia sedikit berjinjit untuk mengelus singkat kepala Yesung. “Terima kasih juga untuk kerja kerasmu hari ini, Jung Yesung!” Lantas keduanya saling melempar senyum hangat.
70 Hari-hari ujian berlangsung dengan lancar. Dari hari pertama sampai hari terakhir, Shanon sama sekali tidak mengalami kesulitan. Ia bisa mengerjakan semua soal dengan lancar. Shanon merasa sangat puas. Tapi di satu sisi, ia takut untuk melihat hasil nilainya. Sampai hari paling mendebarkan tiba, yaitu penerimaan rapot. Jantung Shanon sudah hampir copot ketika Helin selesai mengambil rapot milik Shanon. “Mama lihat dulu nilai kamu, tadi baru dikasih tau kamu dapat peringkat berapa,” ujar Helin. “Aku dapat peringkat berapa ma?” tanya Shanon penasaran. Helin tersenyum lembut ke arah Shanon. “Anak mama yang paling hebat dapat peringkat satu! Peringkat duanya Jung Yesung.” Sontak Shanon menutup mulutnya untuk menahan teriak. Sedangkan Helin masih tersenyum sumringah. Ibu satu anak itu mulai membuka rapot dan melihat semua nilai Shanon. Tak henti-hentinya Shanon mengucap syukur ketika mengetahui nilainya. Helin merengkuh Shanon ke dalam pelukannya. Pelukan itu sangat erat dan hangat. Sambil memeluk putrinya, Helin menangis dalam diam. Ia terus mengucapkan terima kasih dan maaf. “Anak mama hebat, anak mama pinter. Kamu keren banget sayang. Makasih ya? Makasih buat kerja kerasmu selama ini. Maafin mama, Sha. Maafin mama. Mama bangga sama kamu. Bangga banget, mama sebangga itu,” bisik Helin lalu memberi kecupan yang lama di pucuk kepala Shanon. Shanon mengangguk dan tersenyum lega. “Terima kasih ma, I did it!” “Mama punya hadiah buat kamu.” Perlahan Helin melepas pelukannya. “Apa itu?” tanya Shanon antusias. “Akhir bulan besok waktu kamu udah libur, NCT Dream konser di Seoul bukan?” Shanon mengangguk mantap. “Iya bener ma! Mama tahu darimana?” Helin membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Shanon berteriak cukup keras. Shanon terperangah dengan apa yang dipegang oleh Helin. Sebuah tiket konser dengan nama NCT DREAM yang terpampang sangat jelas disana. “Mama udah pesenin tiket buat kamu. Besok kamu nonton sama anaknya rekan kerja mama ya?” Shanon masih terdiam memperhatikan tiket konser tersebut. Helin tersenyum lalu menaruh tiket konser ke tangan Shanon. Tangan Shanon sedikit gemetaran. Pasalnya, baru kali ini ia mendapat hadiah berupa tiket konser. Ini seperti di dalam mimpi.
71 “Mama serius kasih aku tiket konser? Bukan prank kan? Ini asli?” cerocos Shanon masih terkejut. Helin terkekeh geli sambil menggeleng. Beliau mengecup kedua pipi Shanon secara bergantian. “Mama gak pernah bohongin kamu, sayang. Itu beneran tiket konser. Pokoknya semuanya sudah mama urus. Kamu tinggal nonton aja oke?” “Ma, sumpah aku masih gak nyangka! Terus besok aku ke Seoul sama anak temen mama? Dia NCTzen juga? Namanya siapa?” tanya Shanon antusias. “Mama juga udah pesenin tiket pesawat pulang pergi buat kamu. Temen mama juga udah urus semua soal tiket, jadi kamu sama Minjeong tinggal pergi terus nonton.” “Oalah jadi namanya Minjeong. Seumuran sama aku ma?” tanya Shanon lagi yang dibalas anggukan oleh Helin. Baiklah, sekarang saatnya Shanon menunggu hari bahagianya. Waktu terasa lebih lama jika Shanon menunggu. Jadi ketika hari libur tiba, Shanon banyak menyusun acara dengan Yesung. Tentunya sekarang Helin sangat mengizinkan Shanon pergi bermain keluar, asal itu bersama Yesung. Banyak tempat wisata seru yang mereka kunjungi. Seperti tempat wisata Wolmido, Incheon Chinatown, melewati Incheon Bridge saat malam hari, Wolmi Theme Park dan melihat bangunan karya arsitektur bersejarah di Incheon Art Platform. Yesung juga mengajak Shanon melihat gedung pencakar langit yang sangat terkenal di kota metropolitan tersebut, yaitu GTower. Di setiap tempat yang mereka kunjungi, Shanon tak berhenti terpesona dengan hal baru yang ia ketahui. Pastinya Yesung juga lebih banyak bercerita tentang kota Incheon dan tempat yang mereka datangi kepada Shanon. Shanon jadi mendapat lebih banyak wawasan baru dari Yesung. Tiga hari sebelum Shanon berangkat ke Seoul untuk menonton konser, Yesung mengajak Shanon ke Incheon Central Library untuk meminjam buku mengenai pengetahuan luar angkasa. Incheon Central Library yaitu perpustakaan besar yang terkenal di kota Incheon. “Kamu sering berkunjung kesini?” tanya Shanon sambil melihat-lihat buku yang berjejer rapi di rak. Yesung yang masih ingin meminjam buku lainnya pun mengangguk. “Aku suka karena bukubuku disini sangat lengkap. Belajar disini juga nyaman.”
72 Shanon hanya ber-oh panjang dan terus berjalan di sebelah Yesung. Namun pandangan Shanon berhenti pada sebuah buku sejarah mengenai Korea Selatan yang sangat tebal. Sayangnya buku tersebut berada jauh dari jangkauannya. Melihat gerak-gerik Shanon, dengan mudahnya Yesung mengambil buku yang Shanon mau. “Mau ini kan?” tebak Yesung. “Pintar sekali kamu bisa langsung peka.” Shanon mengambil buku sejarah tersebut. “Terima kasih Yesung.” Yesung tersenyum lantas mengacak rambut Shanon. “Pendek sih.” “Coba bilang sekali lagi,” ketus Shanon. “Shanon pendek.” “Lagi Yesung, lagi!” Yesung tak kuasa menahan tawanya. Ia terbahak. “Kamu pendek. Shanon pendek tapi lucu!” Shanon tidak bisa marah pada Yesung. Yesung hanya bergurau. Lagian, Shanon merasa bangga menjadi orang pendek. Bukankah perempuan pendek itu menggemaskan? Seperti yang sering Shanon lihat di drama Korea, gadis pendek selalu mendapat lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. Hal itu membuat interaksi mereka terlihat menggemaskan. Shanon ikut tertawa. “Aku anggap itu adalah pujian. Terima kasih.” Yesung harus sedikit menunduk untuk melihat Shanon. Untuk ukuran anak kelas sebelas, tubuh Shanon memang tergolong sangat mungil. “Yesung,” panggil Shanon. Yesung membalas dengan deheman. “Setelah lulus, aku mau kuliah di Seoul,” ucap Shanon. “Kamu serius?” Shanon mengangguk, menjawab pertanyaan Yesung. “Apakah wajahku terlihat tidak meyakinkan?” Shanon sedikit mendongak untuk melihat wajah Yesung. Kali ini Shanon menampilkan mimik wajah serius. Yesung balas menatap Shanon. Pandangan keduanya saling terkunci selama beberapa saat. “Manis,” bisik Yesung.
73 “Apa? Coba katakan sekali lagi,” balas Shanon sedikit terkejut. “Kamu manis Shanon, kamu cantik.” Namun Shanon justru tertawa. “Ya iyalah! Aku kan perempuan. Terima kasih.” Setelah itu terdengar hembusan napas panjang dari Yesung. “Aku akan tetap menetap di Incheon.” “Maksudmu, kita akan berpisah? Kan masih lama, Yesunggg.” Yesung mendecak kesal. “Besok kita sudah kelas akhir dan waktunya akan lebih cepat berjalan. Setelah itu kita akan lulus dan kuliah.” “Aku harap kita sekelas lagi,” lirih Shanon. “Aku yakin kita sekelas lagi!” “Kenapa kau sangat yakin?” tanya Shanon menaikan sebelah alisnya. “Karena aku Jung Yesung,” jawab Yesung begitu percaya diri. “Dasar aneh!” Shanon memukul pelan bahu Yesung. Yesung menahan tangan Shanon yang terlihat mungil jika didekatkan dengan tangannya. “Shanon, aku mau membuat sebuah pengakuan,” ujar Yesung. Sambil melanjutkan jalan, Yesung meneruskan ucapannya. “Bagaimana jika ada orang yang menyukaimu?” “Siapa dulu orangnya?” tanya Shanon. “Misalnya aku.” Yesung menunjuk dirinya sendiri. “Aku akan berterima kasih karena kamu telah menyukaiku. Setelah itu aku akan meminta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu. Terakhir, aku akan memberi tahumu bahwa kamu pantas mendapatkan orang yang lebih baik dan sama-sama bisa membalas perasaanmu.” jawab Shanon serius. Yesung termenung dengan jawaban Shanon barusan. “Kenapa diam? Ada yang sedang menyukaimu?” Shanon menyenggol bahu Yesung. “Bukan, tapi aku yang menyukainya.”
74 “Siapa orangnya?” tanya Shanon begitu penasaran. “Kamu.” Shanon seakan ditampar sesuatu yang begitu keras. Jantungnya terpompa lebih kencang. Di saat Shanon sedang mati-matian menetralkan ekspresinya, Yesung justru tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. “Kamu seperti habis melihat hantu. Tenang, aku hanya mengutarakan perasaan bukan ingin mengajak pacaran.” Yesung tambah tergelak melihat wajah Shanon yang memerah. “Astaga Jung Yesung! Bagaimana bisa?” Yesung mengangkat kedua bahunya. Keduanya masih melanjutkan jalan sambil membawa buku masing-masing. “Yesung, terima kasih sudah menyukaiku. Maaf jika aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku menyukai orang lain,” jujur Shanon. Ia teringat senyum dari seorang Lee Jeno. Bagi Shanon, ia tidak membutuhkan pacar jika sudah ada Jeno. Dengan Jeno, Shanon selalu bahagia. “Siapa orangnya?” “Lee Jeno.” “Shanon, kamu sedang tidak bercanda kan?” Yesung menghentikan langkahnya diikuti oleh Shanon yang ikut menghentikan langkahnya juga. “Kenapa aku harus bercanda?” “Jeno itu idol. Yang benar saja?” sanggah Yesung. “Memang kenapa jika aku mencintai seorang idol?” balas Shanon. “Selama ini hatiku hanya terisi penuh oleh Jeno. Tidak ada yang lain. Aku benar-benar mencintainya, Yesung,” lirih Shanon. “Tidak ada yang salah dari mencintai seseorang. Wajar, kamu juga punya perasaan. Tapi aku harap semoga kamu bisa merubahnya pelan-pelan ya? Jeno itu idola yang wajarnya hanya kamu kagumi saja. Sampai kapanpun kamu tidak bisa memilikinya. Kamu hanya penggemar, tidak lebih,” ucap Yesung lembut. Malamnya setelah mempersiapkan semuanya untuk keperluan konser, Shanon membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar, otaknya merekam semua ucapan Yesung di perpustakaan tadi siang. Shanon mendesah kesal. Ia seakan ditampar oleh
75 realita yang begitu menyakitkan. Memang benar, jika ia hanya menjadi salah satu pengagum di antara jutaan pengagum lainnya. Ia hanya menjadi salah satunya. Jaraknya dan Jeno juga jauh. Tapi Shanon tidak pernah memikirkan tentang itu. Yang Shanon pikirkan, yaitu dampak positif yang kerap Jeno beri untuknya setiap hari. Di hari-hari beratnya sekali pun, Jeno yang selalu membuat beban Shanon berkurang. Walau mereka tidak pernah bertemu, tapi Shanon sangat merasakan energi positif yang Jeno berikan padanya. Apalagi jika melihat senyum Jeno, pasti semangat Shanon akan berkobar lagi. Banyak yang menganggap Shanon aneh dan tidak masuk akal. Tapi Shanon tidak peduli. Karena orang-orang itu tidak tahu bagaimana rasanya dibuat bahagia dan bangkit lagi karena seseorang yang bahkan tidak pernah ditemui. Tapi hanya dalam hitungan hari, Shanon akan bertemu kebahagiaan terbesarnya. Shanon akan bertemu langsung dengan Jeno dan member lainnya! Shanon beranjak dari ranjang dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia sudah menyiapkan secarik kertas beserta pena. Gadis itu mulai menuliskan sesuatu dengan huruf hangul. Dear Jeno.. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, namun sekarang aku hanya ingin mengubah perasaanku seperti di awal. Ketika aku masih bisa melihatmu sebagai idola yang aku kagumi, bukan sebagai laki-laki yang bisa aku miliki. Ternyata benar ya, kalau tidak semua yang kita inginkan bisa tercapai. Beberapa hal memang cukup untuk dikagumi saja, tidak sampai dimiliki. Ada sesuatu yang memang bisa kita kejar dan kita dapatkan, tapi ada sesuatu yang hanya cukup kita kagumi. Dan perasaanku seperti di opsi kedua. Jeno, aku tidak menyangka akan jatuh sedalam ini padamu. Di saat dunia sedang tidak berpihak padaku, bayangmu yang tetap menemaniku. Ketika banyak orang yang menjatuhkanku, kamu adalah satu-satunya alasanku untuk bangkit kembali. Ketika banyak sedih dan sakit yang aku rasa, senyum manismu yang selalu menenangkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tidak hanya jatuh hati karena parasmu saja, tapi aku menetap karena tutur kata serta bagaimana kehadiranmu yang mampu memberikan warna cerah ke dalam hidupku. Terima kasih sudah menjadi sosok yang sangat hebat dan kuat. Terima kasih banyak sudah lahir ke dunia dan menjadi obat untuk banyak luka. Bagiku, Jeno adalah obat terbaik.
76 Jeno, sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi sumber kebahagiaan terbesarku. Maaf jika aku belum bisa membersamai langkahmu sejak awal kamu bersinar menjadi seorang bintang. Jeno, tolong bahagia dan sehat selalu ya? Please always take care, my idol. With Love, Shanon Bridella. Shanon menghapus air mata yang sudah berjatuhan di pipinya. Ia melipat kertas itu dengan rapi dan memasukannya ke dalam tempat ia menyimpan semua photocardnya. Sekarang ia harus beristirahat karena besok ia dan Minjeong sudah harus berangkat ke Seoul. South, September 12, 2020. Suasana Venue dipenuhi oleh jutaan penggemar yang sibuk mengangkat lightstick berwarna hijau. Shanon dan Minjeong berdiri di stage paling depan. Sejak mengantri sampai masuk ke dalam tempat konser, Minjeong tidak berhenti mengoceh sambil terus meremas tangan Shanon. Begitu juga dengan Shanon yang tak henti-hentinya mengatur napas untuk menetralkan degup jantungnya. “Aku tidak sabar melihat seorang Huang Renjun dari jarak dekat! Aku benar-benar tidak sabar! Aduh, bagaimana jika nanti aku terlalu histeris sampai pingsan?” komentar Minjeong hiperbola yang berhasil membuat Shanon tergelak. “Minjeong, tanganku sudah penuh keringat dingin. Aku juga tidak kuat jika nanti harus melihat Jeno secara langsung!!” Suasana Venue yang terasa engap karena harus berdesakan tidak ada apa-apanya ketika lampu di panggung mulai menyala. Sontak semua orang yang berada di dalamnya bersorak kencang. Shanon mengayunkan lightsticknya beberapa kali sambil ikut berteriak ketika tujuh orang yang berada di atas panggung mulai bernyanyi. Tujuh pria tampan itu mulai menyebar dan bernyanyi di dekat para fans. Lalu para member kembali saling mendekat membentuk sebuah koreografi untuk bernyanyi. Mereka menggerakan badan dengan sangat lihai mengikuti irama lagu. Setelah itu mereka kembali membawakan lagu dengan santai tanpa koreografi. Kedua mata Shanon memanas. Gadis itu berulang kali menutup mulutnya dengan telapak tangan lalu berteriak cukup heboh. Sekarang Shanon sangat ingin menangis ketika melihat Jeno dengan jarak dekat sedang menyanyikan bagian part miliknya. Mereka membawakan lagu berjudul Beautiful Time.
77 Sorakan demi sorakan terus terdengar semakin kencang. Banyak penggemar yang meneriakan nama member. Dengan kompak, semua orang yang ada di Venue menyebutkan nama member satu persatu dimulai dari nama leader, urutan nama member yang paling tua sampai paling muda. “JENOOOO!!!!” Di luar dugaan, tepat ketika Shanon berteriak barusan, Jeno mengalihkan pandangan kepadanya. Mata Jeno dan mata Shanon bertemu. Laki-laki itu menatap Shanon sembari tersenyum. Tapi setelah itu Jeno kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sungguh, Shanon tambah ingin menangis sekarang juga. Kau tahu senyum seorang Lee Jeno? Senyum yang selalu membuat Shanon jatuh hati untuk kesekian kalinya. Ketika Jeno tersenyum, kedua mata laki-laki itu ikut menghilang. Makannya Shanon memberi sebutan dengan senyum bulan sabit. Shanon mengambil ancang-ancang untuk kembali berteriak. “JANGAN SAMPAI ADA YANG MENGHAPUS SENYUM LEE JENO!! KARENA DUNIA IKUT SENYUM KETIKA JENO TERSENYUM!!!” teriakan Shanon kali ini jauh lebih kencang. Sampai beberapa penggemar menoleh ke arah Shanon. Minjeong menyenggol lengan Shanon. “Shanon, jangan membuatku malu!” “Ini satu-satunya cara supaya Jeno dengar!” balas Shanon. Sayangnya, teriakan Shanon kali ini tidak berhasil membuat Jeno melihat ke arahnya lagi. Karena posisi Jeno sudah tidak berada di dekat Shanon. Tapi kau tahu? Teriakan Shanon barusan berhasil membuat seorang Na Jaemin dan Park Jisung tersenyum. Kedua member itu melihat ke arah Shanon. Jelas saja para penggemar berteriak lebih histeris karena wajah keduanya terekam di layar belakang yang sangat besar. Sehingga siapa saja bisa melihat senyum Jaemin dan Jisung. Tuhan, rasanya Shanon akan terbang ke langit detik itu juga. Konser berlangsung sangat meriah dan menyenangkan. Sepanjang konser, Shanon tidak berhenti tersenyum. Ia tidak peduli jika sebentar lagi rahangnya akan copot. Hari ini adalah hari paling bahagia yang pernah Shanon jalani. Dan tentunya adalah hadiah paling indah yang ia terima dari sang ibu. Shanon belajar dari pengalamannya. Bahwa di balik sesuatu yang terjadi, disitu Tuhan sedang merencanakan sesuatu. Di awal, Shanon dibuat sangat tertekan dan letih karena banyak tuntutan serta beban yang dijalani. Tapi di sela-sela rasa sakitnya, Tuhan memberi Shanon seorang pelipur lara berupa Lee Jeno dan seorang teman, Jung
78 Yesung. Di akhir, semua rasa sakitnya terobati dengan hadiah istimewa yang sangat membuat Shanon bahagia. Shanon mengambil banyak pelajaran di hidupnya sekarang. Tidak semua perasaan akan terbalaskan. Sejak Yesung menasihatinya di perpustakaan, Shanon mulai belajar mencintai Jeno sebagai idola lagi seperti dulu. Shanon mengaku sudah cukup sadar diri. Bahwa angannya untuk mendampingi Jeno di sisi pria itu secara langsung adalah sebuah ketidakmungkinan. Apalagi untuk memiliki pria itu adalah sebuah kemustahilan. Karena pada nyatanya, ia hanya sebuah bintang yang bersinar di antara jutaan bintang lainnya yang juga menginginkan sang bulan. Jeno adalah bulan untuk Shanon karena Jeno selalu menerangi Shanon di hari-hari terberatnya. Namun tak apa, tugas Shanon dan Jeno itu sama. Sama-sama menjadi jembatan kebahagiaan sampai akhirnya mereka bertemu dengan pendamping hidup masing-masing. “Jeno, ayo kita bahagia bersama. Kamu bahagia di jalanmu dan aku bahagia di jalanku sendiri.” -Shanon Bridella. TAMAT