MODUL
PEMBELAJARAN TEMATIK
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Tematik SD/MI
Dosen Pengampu: Bapak Muhammad Suwignyo Prayogo, M.Pd.I
Disusun Oleh:
Dina Safira Jannati (T20194083)
PROGAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
DESEMBER 2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
karunianya penulis dapat menyelesaikan Modul Pembelajaran Tematik. Modul ini disusun
untuk:
1. Memenuhi Tugas Pembuatan Modul Pembelajaran Tematik Semester V di jenjang
Pendidikan S1
2. Guna dapat membantu para guru dalam mempelajari materi Pembelajaran
Tematik Dan tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada rektor UIN KH
Achmad Siddiq Jember Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., Dekan Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Dr. Hj. Mukni'ah, M.Pd.I., dan Dosen Pengampu
Mata Kuliah Pembelajaran Tematik MI/SD Muhammad Suwignyo Prayogo,
M.Pd.I yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan
Modul ini. Modul ini merupakan rancangan dari buku
Pembelajaran Tematik yang ada di Sekolah dasar. Dengan penuh rasa syukur
Demikian pula modul dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena Itu, penulis
menyadari bahwa dalam penulisan modul ini jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan. Sehingga penulis harapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun apapun bentuknya sangat diharapkan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Deskripsi Singkat
Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang juga berperan
dalam menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Menurut Kemendikbud 2017
menyatakan pembelajaran merupakan proses yang interaktif antara guru dengan
peserta didik dengan melibatkan multi pendekatan dengan menggunakan teknologi
yang akan membantu memecahkan permasalahan di dalam kelas.
Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk
mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir
siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru.
Pembelajaran juga menjadi sebuah upaya meningkatkan penguasaan yang baik
terhadap materi pelajaran. Hal ini tentu berbeda dengan pengertian belajar, yang dapat
diartikan sebagai sebuah upaya untuk memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih,
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Dari beberapa pengertian tentang pembelajaran dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan peserta didik
untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dan
membantu memecahkan permasalahan di dalam kelas.
Pembelajaran tematik terpadu di SD dikembangkan salah satunya adalah
kemampuan berpikir anak SD menurut teori Piaget berada pada tahap berpikir
operasional konkrit dimana anak sudah mampu berpikir secara rasional untuk
menyelesaikan masalah yang konkrit (aktual).
Untuk memudahkan pembelajaran tematik ini maka perlu adanya modul
pembelajaran yang dapat memberikan pengamalan belajar bagi calon guru P3K dalam
memahami teori dan konsep dari pembelajaran dari setiap materi dan substansi materi
yang disajikan.
Modul belajar mandiri calon guru P3K diberikan latihan-lathan soal dan kasus
beserta pembahasan yang bertujuan memberikan pengalaman dalam meningkatan
pengetahuan dan keterampilan calon guru P3K. Rangkuman pembelajaran selalu
diberikan disetiap akhir pembelajaran yang berfungsi untuk memudahkan dalam
membaca substansi materi esensial, mudah dalam mengingat pembelajaran dan
materi-materi esensial, mudah dalam memahami pembelajaran dan matari-materi
esensial, dan cepat dalam mengingat kembali pembelajaran dan matari-materi
esensial.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi pada modul belajar mandiri calon guru P3K ini disusun
dalam dua bagian besar, bagian pertama adalah pendahuluan dan bagian berikutnya
adalah pembelajaran – pembelajaran.
Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat, Peta Kompetensi yang
diharapkan dicapai setelah pembelajaran, Ruang Lingkup, dan Tujuan Belajar. Bagian
Pembelajaran terdiri dari materi.
Modul belajar mandiri diakhiri dengan Penutup, dan Daftar Pustaka.
C. Petunjuk Penggunaan Modul
Modul ini diperuntukkan bagi calon guru. Masing-masing modul saling
berurutan dan menjadi satu kesatuan pemahaman untuk dihayati dan diamalkan.
Cepat atau lambatnya penyelesaian modul tersebut sangat tergantung pada
kesungguhan dan kerajinan Anda mempelajarinya.
D. Cara Belajar
Ikutilah petunjuk belajar ini agar Anda dapat memahami isi modul ini dengan
baik.
1. Yakinkan diri Anda bahwa Anda telah siap untuk belajar.
2. Tenangkan pikiran dan pusatkan perhatian Anda pada modul yang akan Anda pelajari.
3. Berdoalah sejenak sesuai agama dan keyakinan Anda dan sekarang Anda siap untuk
belajar.
4. Baca dan pahami pengantar modul dengan seksama.
5. Bacalah uraian materi secara seksama.
E. Tujuan Pembelajaran Modul
Materi pada modul ini menjelaskan tentang Pembelajaran tematik Dengan
mempelajari modul ini diharapkan calon guru dapat memahami materi pembelajaran
tematik dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-
hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR DAN LANDASAN DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU
Konsep Dasar dan Landasan Dasar
Pembelajaran Tematik Terpadu
Sejarah Landasan Yudiris Prinsip, Konsep, dan Landasan Filosofis
Pembelajaran Pendidikan dan Ciri Pembelajaran Pembelajaran
Tematik Terpadu Pembelajaran Tematik Terpadu
Kurikulum Tematik Tematik Terpadu
Terpadu
Landasan Pendidikan
Landasan Psikologi Landasan filosofis,
Pembelajaran Kurikulum progresivisme, humanisme,
Tematik Terpadu dan kontruktivismme
1. Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) atau integrated thematic instruction
(ITI) dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970. Pembelajaran tematik
terpadu diyakinisebagai salah satu model pembelajaran yang efektif.
2. Pembelajaran tematik merupakan usaha untuk engintegrasikan pengetahuan,
keterampilan,nilai atau sikap pembelajaran dan pemikiran yang efektif.
3. Landasan yuduris pendidikan dan pembelajaran kurikulum tematik terpadu :
Landasan pendidikan
Landasan pendidikan UUD merupakan hukum tertinggi di
Indonesia, pasal yang berkaitan dengan pendidikan dalam UUD 1945
terdapat dua pasal, yaitu Pasal 31 dan 32. Pasal 31 Ayat 1 menceritakan
tentang pendidikan yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak
mendapatkan pengajaran”, kemudian Pasal 31 Ayat 2berbunyi “Setiap
warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya ” dan Pasal 31 Ayat 3 “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional”. Ayat ini
mengharuskan pemerintah mengadakan satu sistem pendidikan nasional
untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga negara
mendapatkan pendidikan.
Landasan psikologi pembelajaran kurikulum tematik terpadu
a. Psikologi Kognitif
Teori psikologi kognitif adalah nagian terpenting dari sains
kognitif yang telah memberi kontrubusi yang sangat berarti dalam
perkembangan psikologi belajar. Pendekatan psikologi kognitif
lebih menekankan arti penting proses internal dan mental manusia.
Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang
tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses
mental, yaitu motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.
Adaptasi terjadi dalam dua bentuk, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses menerima dan mengubahapa yang diterima
dari lingkungan agar sesuai dengan dirinya. Sedangkan akomodasi
adalah proses individu mengubah dirinya agar sesuai dengan apayang
diterima dari lingkungan.
Tidak bisa dipungkuri bahwa penyempurnaan kurikulum di
Indonesia yang menjadi landasan utama justru landasan yudiris.
Misalnya, kurikulum 2004 landasan utamanya adalah
diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi
Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai
Daerah Otonom, serta UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Sementara itu, kurikulum 2013 landasan
utamanya adalah diberlakukannya Peraturan Presiden Nomor 5
Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2010-2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standart Nasional Pendidikan.
b. Psikologi Gestalt
Istilah Gestalt merupakan istilah Jerman yang sukar dicari
terjemahannya dalam bahasa lain. Makna Gestalt bisa bermacam-
macam, yaitu form, shape (bahasa inggris). Gestalt merupakan
keseluruhan dalam satu kesatuan dan kebulatan atau totalitas yang
mempunyai makna keseluruhan. Prinsip dasar Gestalt adalah
interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual
field. Setiap perceptual field memiliki organisasi yang cenderung
dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Oleh karena
itu, kemampuan persepsi inimerupakan fungsibawaan manusia,
bukan skill yang dipelajari.
Prinsip pengorganisasian Gestalt, yaitu :
- Principle of Proximity
- Principle of Similary
- Principle of Objective Set
- Principle of Continuity
- Principle of Closure/Principle of Good Form
- Principle of Figure and Ground
- Principle of Isomorphism
4. Landasan filosofi pembelajaran tematik terpadu
a. Progresivisme
Progresivisme merupakan suatu aliran yang menekankan
bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan
pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi beragam
aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berfikir secara
menyeluruh, sehingga mereka dapat berfikir secara sistematis melalui
cara ilmiah seperti penyediaan ragam data empiris dan informasi
teoritis, memberikan analisis, pertimbangan dan pembuatan kesimpulan
menuju alternatif yang paling memungkinkan untuk pemecahan
masalah yang tengah dihadapi.
Sebagai sebuah aliran pragmatis, aliran ini mengakui bahwa
tidak ada perubahan dalam setiap realitas yang bersifat permanen.
Aliran ini memandang bahwa pendidikan dalam hal ini mesti dipandang
sebagai hidup itu sendiri, bukan sebagai aktivitas untuk yang
mempersiapkan subjek didiknya untuk hidup.
b. Humanisme
Psikologi humanistik mengutamakan peserta didik sebagai
subjek. Artinya pembelajaran berpusat pada siswa (student central
learning). Peran guru membimbing potensi peserta didik hingga
memiliki potensi (talenta) berkembang sesuai kemampuan yang
dimiliki siswa.
c. Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang
dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kia
membangun, mengkontruksi pengetahuan dan pemahaman kita tentang
dunia tempat kita hidup.
Menurut Driver and Bell, karateristik
pembelajaran kontruktivisme sebagai berikut:\
Peserta didik tidak dipandang sebagai suatu yang pasif
melainkan memilikitujuan
Belajar harus mempertimbangkan seoptimal mungkin proses
keterlibatanpeserta didik
Pengetahuan bukan sesuatuyang datang dari luar,
melainkandikontruksikan secara personal
Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan
melibatkanpengaturan situasi lingkungan belajar
Kurikulum bukanlah sekedar hal yang dipelajari, melainkan
seperangkat pembelajaran, materi dan sumber belajar.
5. Konsep pembelajaran tematik terpadu, pembelajaran tematik terpadu
menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang
memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka,
untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.
Pembelajaran tematik terpadu relevan untuk mengakomodasi perbedaan
kualitatif lingkungan belajar dan diharapkan menginspirasi peserta didik
untuk memperoleh pengalaman belajar. pembelajaran tematik terpadu
memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model
pembelajaran lain, karena sifatnya memadu peserta didik mencapai
kemampuan berfikir tingkat tinggi (higver levels of thinking) atau
keterampilan berfikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple
thinking skills) sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap,
keterampilan dan pengetahuan. Tahap-tahap pembelajaran tematik terpadu,
yaitu:
a. Menentukan tema
b. Mendesain rencana pembelajaran
c. Melaksanakan aktivitas pembelajaran
6. Prinsip pembelajaran tematik terpadu, yaitu :
a. Peserta didik mencari tau,bukan diberi tau
b. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi
melalui tema yangpaling dekat dengan kehidupan peserta didik
c. Terdapat tema yang menjadi sejumlah kompetensi dasar yang
berkaitan denganberbagai konsep, keterampilan dan sikap
d. Sumber belajar tidak terbatas buku
e. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai
dengankarateristik kegiatan yang dilakukan.
7. Ciri-ciri pembelajaran tematik terpadu
a. Berpusat pada anak
b. Pengalaman langsung
c. Pemisahan mata pelajaran tidak jelas
d. Penyajian beberapa mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran
e. Fleksibel
f. Bermakna dan utuh
g. Mempertimbangkan waktu dan ketersediaan sumber
h. Tema terdekat dengan anak
i. Pencapaian kompetensi dasar bukan tema
B. KERANGKA DASAR KURIKULUM TEMATIK, KONSEP SKL, KI, KD DAN
TAKSINOMI BLOOM BESERTAPENILAIAN DAN HASIL BELAJAR
Kerangka Dasar Kurikulum Tematik, Konsep SKl, KI, KD
dan Taksinomi Bloom beserta Penilaian dan Hasil Belajar
Mengidentifikasi Struktur Menganalisis Beban Belajar
Kurikulum Tematik Terpadu Kurikulum
Kalender Pendidikan Membandingkan Konsep SKL,
Kurikulum Terpadu (Kaldik) KI, KD dan Taksinomi
Menganalisis Beberapa Menganalisis Contoh Perilaku
Perilaku Hasil Belajar Hasil Belajar Sesuai Level
Taksinomi
Menganalisis Hubungan beserta
Skema SKL, KI, KD Penilaian
dan Hasil Belajar
Struktur Kurikulum MI yang diharapkan, yaitu:
Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat Bahasa Daerah.
Kegiatan Ekstrakurikuler, yaitu:
1. Pramuka (utama).
2. Unit KesehatanMadrasah.
3. Palang Merah Remaja.
4. Kegiatan Rohani Islam (Rohis)
5. Olahraga.
6. Kesenian.
7. Karya Ilmiah Remaja.
8. Olimpiade
Kegiatan-kegiatan diatas dalam rangka mendukung pembentukannya
kepribadian, kepemimpinan dan sikap sosial peserta didik, terutama sikap
peduli.
Mata pelajaran kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya
dikembangkan oleh pusat.
Mata pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya serta
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan kelompok mata
pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan
konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Mata pelajaran Bahasa Daerah sebagai muatan lokal dapat diajarkan secara
terintegrasi dengan mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya. Satuan pendidikan
dapat menambah jam pelajaran per-minggu sesuai dengan kebutuhan satuan
pendidikan tersebut.
Angka jumlah pelajaran per-minggu untuk tiap mata pelajaran adalah
relatif. Guru dapat menyesuaikan sesuai kebutuhan peserta didik dalam
pencapaian kompetensi yang diharapkan. Jumlah alokasi waktu jam
pembelajaran setiap kelas merupakan jam minimal yang dapat ditambah
sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik
dalam satu minggu, satu semester dan satu tahun pembelajaran. Rincian
mengenai beban belajar sebagai berikut:
Beban belajar di Madrasah Ibtidaiyah dinyatakan dalam jam
pembelajaran per-minggu.
Beban belajar satu minggu Kelas I adalah 34 jam pembelajaran.
Beban belajar satu minggu Kelas II adalah 36 jam pembelajaran.
Beban belajar satu minggu Kelas III adalah 40 jam pembelajaran.
Beban belajar satu minggu Kelas IV, V dan VI adalah 43 jam
pembelajaran,durasi setiap satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
Beban belajar di Kelas I, II, III, IV dan V dalam satu semester paling
sedikit 18Minggu dan paling banyak 20 Minggu.
Beban belajar di kelas VI pada semester ganjil paling sedikit 18
Minggu danpaling banyak 20 Minggu.
Beban belajar di kelas VI pada semester genap paling sedikit 14
Minggu danpaling banyak 16 Minggu.
Beban belajar dalam satu tahun pelajaran sedikit 36 Minggu dan paling
banyak40 Minggu.
Kalender Tematik dibuat setelah matrik Kompetensi Inti dan Kompetensi
Dasar yang diikat dalam tema, kalender ini dibuat sebagai panduan guru
dalam pelaksanaan pembelajaran tematik sebagai jadwal. Melihat kalender
pendidikan nasional yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, dalam hal ini
Kementrian Pendidikan Nasional atau Kementrian Agama sebagai acuan
untuk menentukan kalender pendidikan pada masing-masing satuan
pendidikan.
Rumusan SKL tertuang dalam:
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
(Permendikbud RI) Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Standar Komepenti
Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Rumusan KI dan KD tertuang dalam:
Permendikbud RI Nomer 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar
danPendidikan Menengah. Hasil belajar adalah
perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik menyangkut aspek kognitif,
afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. belajar
memiliki tujuan yang hendak dicapai, berikut beberapa tujuan belajar :
Untuk mendapatkan pengetahuan.
Pemahaman konsep dan keterampilan.Pembentukan sikap guru harus
bertindak bijak dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan
pribadi siswa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar ada 2, yaitu:
1. Faktor Internal
Faktor psikologis ini meliputi hal berikut:
Intelegensi
Perhatian
Kemauan
Bakat
2. Faktor Eksternal
Motif
Kematangan
Kesiapan
Faktor eksternal adalah lingkungan keluarga, cara orang tua mendidik,
relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan akan mempengaruhi
keberhasilan belajarnya.
CONTOH PERILAKU HASIL BELAJAR SESUAI
LEVEL TAKSINOMI
KAWASAN KAWASAN KAWASAN
KOGNITIF AFEKTIF PSIKOMOTOR
Aspek-aspek kawasan kognitif, yaitu :
1. Pengetahuan (Knowledge)
2. Pemahaman (Comprehension)
3. Penerapan (Application)
4. Penguraian (Analysis)
5. Memadukan (Synthetis)
6. Penilaian (Evaluation)
Aspek-aspek kawasan afektif, yaitu :
1. Penerimaan (receiving/attending)
2. Sambutan (responding)
3. Penilaian (valuing)
4. Pengorganisasian (organization)
5. Karakterisasi (characterization)
Aspek-aspek kawasan psikomotor, yaitu :
Kawasan psikomotor berkaitan dengan aspek keterampilan yang
melibatkansistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi
psikis, terdiri dari :
1. Kesiapan
2. Peniruan (Imitation)
3. Membiasakan (Habitual)
4. Menyesuaikan (Adaptation)
5. Menciptakan (Origination)
Analisis SKL, KI, KD adalah kegiatan menguraikan kterkaitan SKL, KI,
KD atas berbagai bagiannya, menelaah bagian itu sendiri serta hubungan antar
bagian untuk memperoleh berbagai informasi pedagogig yang bermanfaat untuk
membuat perencanaan pembelajaran yang benar, analisis SKL, KI, KD
menjabarkan komponen SKL, KI dan KD baik KD pengetahuan maupun KD
keterampilan. Hasil analisis SKL,KI, KD penting antara lain, yaitu :
Kompetensi dasar KD yang sudah dilinierisasi atau disesuaikan
sehingga KD pengetahuan dan KD keterampilan cocok berpasangan.
Ini berarti kita sudah mantap pada titik tolak yang benar untuk
menjabarkan pasangan KD ke dalam indikator pencapaian
kompetensi.
Ditemukan pula tingkat dimensi kognitif apakah berada pada C1
mengingat, C2 memahami, C3 menerapkan, C4 menganalisis, C5
mengevaluasi atau C6 mengkreasi. Hal ini memastikan kita mencari
dan menggunakan kata kerja Operasional (KKO) yang tepat untuk
digunakan dalam indikator pencapaian kompetensi dan tujuan
pembelajaran.
Analisis SKL KI KD menemukan bentuk pengetahuan faktual,
konseptual, prosedual, ataupun meta kognitif dan jenis keterampilan
kongkrit maupun abstrak dan dengan itu memudahkan kita memilih
model pembelajaran yang tepat untuk digunakan.
Pada tahap ini pula bisa kita bayangkan pemerolehan hasil belajar
apakah padaLow Order Thinking Skills (LOTS) ataukah sudah berada
pada Higher Order Thinking Skills (HOTS)
C. MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARANTEMATIK TERPADU
Model Pengembangan Tematik Terpadu
Konsep Memadukan sintak Outcome pendidikan Model
Pengembangan dan metode suatu model model fogarty pembelajaran
Penerapan Model terpadu fogarty
pembelajaran
Pembelajaran
a). model Terpisah-pisah (The Pragmented), b.) model Terhubung (The Connected), c.) model
Tersarang (The Nested model), d.) model Terurut (The Sequenced model), e). model Terbagi, f).
model jarring laba-laba (The Webed model), g.) model Pasang benang (The Threaded model),
h). model Integrasi (The integrated model), i). model Jaringan (The Netwoekrd model), j).
menentukan metode dan model pembelajaran tematik berbasis Problem
Konsep Pengembangan dan Penerapan model pembelajaran
Konsep Pembelajaran Tematik
Pada dasarnya pembelajaran tematik merupakan terapan dari
pembelajaran terpadu. Pendekatan terpadu berawal dari konsep interdisipliner
dalam kurikulum terpadu yang dikemukakan oleh Jacob (1989). Kurikulum
terpadu cenderung lebih memandang bahwa suatu pokok bahasan harus terpadu
(integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui
pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan
melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan. Sehingga
batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. Kurikulum terpadu
memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara kelompok maupun
individu dengan lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar,
memungkinkan pembelajaran bersifat individuterpenuhi.
Penerapan Model Pembelajaran Tematik
1. Hakikat Model Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang
menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga
dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi
nyata;
7. Guru dapat menghemat waktu.
Pembelajaran tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:
Berpusat pada anak.
Memberikan pengalaman langsung pada anak
Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses.
Bersifat fleksibel.
Memadukan sintak metode suatu model pembelajaran
Menurut Trianto (2007:15) model pembelajaran tematik memiliki tiga
langkah atau tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi.
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Puskur (2007:10) yang
menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran tematik di SD meliputi tiga
tahap, yaitu tahap persiapan pelaksanaan/perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap
penilaianatau evaluasi.
a. Tahap Perencanaan
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap perencanaan,
yaitu pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema,
pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Model-model Pembelajaran HOTS (High Order Thinking Skill)
Implementasi Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No. 22
Tahun 2016 tentang Standar Proses menggunakan 3 (tiga) model
pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik,
sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan. Model ketiga tersebut
adalah
1. Model Pembelajaran Melalui
Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry
Learning),
2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(Problem- basedLearning/PBL),
3. Model Pembelajaran Berbasis Projek
(Project-basedLearning/PJBL).
Selain 3 model yang tercantum dalam
Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, guru juga
diperbolehkan mengembangkan pembelajaran di
kelas dengan menggunakan model pembelajaran yang
lain, seperti Cooperative Learning yang memiliki
berbagai metode seperti: Jigsaw, Numbered Head
Together (NHT), Make a Match, Think- Pair-Share
(TPS), Contoh NotExample, Picture and Picture, dan
lainnya.
b. Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan model pembelajaran tematik secara umum
terbagi dalam tiga tahapan, yaitu pembukaan atau pendahuluan/eksplorasi,
kegiatan intivelaborasi, dan kegiatan penutup/konfirmasi.
Tahap pelaksanaan dalam pembelajaran tematik harus sesuai dengan
standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator serta keterampilan lain
yang ingin dipadukan.
c. Tahap evaluasi
Menurut Tim Puskur (2007:14) evaluasi dalam pembelajaran tematik
adalah usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala,
berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan
dan perkembangan yang telah dicapai oleh siswa melalui pembelajaran.
Tujuan dari tahap evaluasi ini adalah untuk mengetahui pencapaian indikator
yang telah ditetapkan, memperoleh umpan balik bagi guru untuk mengetahui
hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran,
memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan,
keterampilan dan sikap siswa, sebagian acuan dalam menentukan rencana
tindak lanjut.
Outcome pendidikan fogarty
Model pembelajaran terpadu fogarty memberi pendidikan kepada siswa yang
meliputi keterampilan : (1) kognitif, (2) afektif.
Model pembelajaran terpadu fogarty
Robin fogarty mengungkapkan sepuluh model pembelajaran terpadu, model
pembelajaran terpadu ini sebagai upaya guru untuk menolong dan mempermuda
belajar siswa. Berikut model pembelajaran fogarty diantaranya:
a. Model Terpisah-pisah (The pragmented model)
Model pembelajaran fragmented memberikan penjelasan bahwa model
pembelajaran pragmented adalah kurikulum tradisional yang diajarkan secara
terpisah-pisah.
b. Model Terhubung (The Connected model)
Model ini berkaitan antara topic dengan topic, dan konsep dengan
konsep dalam suatu mata pelajaran. Model ini menekan terletak pada perlu
adanya integrasi bidang studi itu sendiri.
c. Model Tersarang (The Nested model)
Model nested merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep
keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran.
d. Model Terurut (The sequenced model
Berdasarkan asal kata “sequenced” adalah rangkaian, urutan, atau
ntingkatan. Sequenced adalah susunan bahan ajar yang terdiri atas
topik/subtopik,dan di dalam tiap topik/subtopik terkandung ide pokok yang
relevan dengan tujuan.
e. Model Terbagi
Model pembelajaran terpadu tipe shared merupakan bentuk pemaduan
pembelajaran akibat adanya tumpang tindih ide-ide atau konsep dua mata
pelajaran atau lebih.
f. Model Jaring laba-laba (The Webed model)
Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang
menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yangdijabarkan
dalam beberapa kegiatan dan/ bidang pengembangan.
g. Mode Pasang Benang (The Threaded Model)
Model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum (merupakan
jantung/inti dari semua pokok bahasan) yang menggantikan atau yang
berpotongan dengan inti materi pelajaran.
h. Model integrasi (The integrated Model)
Pembelajaran terpadu tipe integrated (keterpaduan) adalah tipe
pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi,
menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan
menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam
beberapa bidang studi.
i. Model Jaringan (The Networked Model)
Model pembelajaran yang berupa kerja sama antara peserta didik dengan
seorang ahli (expert) dalam mencari data, keterangan, atau lainnya
sehubungan dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang diminatinya
sehingga peserta didik secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai
sumber.
Menentukan Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Problem
Based Learning (PBL), konstruktivistik dan model Kooperatif Lerning dengan
berbagai Type seperti STAD, Jigsaw, TPS, TAI, dll.
1. Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Problem Based
Learning (PBL)
Model Problem Based Learning dapat membantu siswa
meningkatkan kemampuan memahami materi karena pembelajaran yang
diberikan bermakna.
2. Metode dan Model Pembelajaran Tematik berbasis Kontruktivistik
Pendekatan konstruktivistik dan pembelajaran tematik, keduanya
menyajikan proses belajar yang nyata dan menjadikan peserta didik lebih
aktif, serta membuat peserta didik dapat membangun atau membentuk
pengetahuan baru berdasarkan pengalaman belajarnya.
3. Metode dan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)
Model Kooperatif tipe STAD dapat kemampuan berpikir kritis siswa
karena siswa aktif terlibat ikut serta dalam diskusi dengan menggunakan
bahasa mereka sendiri, sehingga lebih mudah dipahami oleh teman
bicaranya.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah
salah satu strategi dalam pembelajaran kooperatif yang memberikan
siswa waktu untuk lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling
membantu satu sama lain.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok
yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan
mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam
kelompoknya.
Model pembelajaran TAI (Team-Assisted Individualized) menjadi
model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran kooperatif
dengan pengajaran yang individual.
D. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN MEDIA
PEMBELAJARAN
Konsep Media Pembelajaran Kedudukan dan Fungsi Media
Pembelajaran
Konsep Media Pembelajaran Prosedur Pemilihan Media
Pembelajaran
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Tematik
Merumuskan Dan
Strategi Dalam Membuat Media Mengembangkan Media Dan
Pembelajaran Interaktif Audio Sumber Belajar Yang Berbasis
Tpack (Ict) Dan Media Video
Visual Berserta Contohnya
Visual Interaktif
Media adalah salah satu alat yang dapat digunakan sebagai perantara
untuk menyampaikan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan
kemajuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar.
Media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan
dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi
komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna
dan berdaya guna.
Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan pada konsep bahwa
belajar dapat ditempuh melalui berbagai cara , antara lain dengan mengalami
secara langsung (melakukan dan berbuat), dengan mengamati orang lain, dan
dengan membaca mendengar.
Media pembelajaran diperlukan disamping untuk wahana penyampiran
materi pembelajaran juga untuk meningkatkan kejelasan pembahasan
materi.Selain itu, juga untuk memotivasi belajar siswa.
Kedudukan dan Fungsi Media Pembelajaran
a. Kedudukan Media Pembelajaran
Kedudukan media dalam komponen pembelajaran sangat penting
bahkan sejajar dengan metode pembelajaran, karena metode yang digunkan
dalam proses pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat
diintegrasikan dan dapat diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi.
Terjadinya pengalaman belajar yang bermakna ini tidak terkepas dari
peran media, terutama dari kedudukan dan fungsinya. Secara umum media
mempunyai kegunaan:
- Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas.
- Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra.
- Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid
dengan sumber belajar.
- Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan
kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya.
- Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman
menimbulkan persepsi yang sama.
b. Fungsi Media Pembelajaran
- Fungsi media sebagai sumber belajar
- Fungsi semantic
- Fungsi manipulative
- Fungsi psikologis
- Fungsi sosio-kultural
Jenis-Jenis Media Pembelajaran Tematik
Haney dan Ullmer sebagaimana di kutip dalam Miarso menyatakan bahwa
ada tiga kategori utama berbagai bentuk media pembelajaran. Pertama, media
yang mampu menyajikan informasi, karena itu disebut media penyaji; kedua,
media yang mengandung informasi disebut media objek; dan ketiga media yang
memungkinkan untuk berinteraksi yang disebut media interaktif.
Media penyaji terbagi atas tujuh kelompok. Kelompok pertama terdiri atas
grafis, bahan cetak, dan gambar diam. Kelompok kedua, yaitu media proyeksi
diam. Kelompok ketiga, yaitu media audio, yaitu hanya menyalurkan informasi
dalam bentuk bunyi seperti radio dan telepon. Kelompok keempat, yaitu audio
ditambah media visual diam. Kelompok kelima, yaitu gambar hidup (film),
adalah media presentasi yang cukup canggih karena dapat menyampaikan lima
macam bentuk informasi: gambar, garis, simbol, suara, dan gerakan. Contohnya
dalah film, dan video.
Kelompok keenam, yaitu televisi. Televisi memberikan penyajian yang
serupa dengan dengan film tetapi menggunakan proses elektronis dalam
merekam, menyalurkan, dan memperagakan gambar. Kelompok ketujuh yaitu
multimedia, pengertian multimedia merujuk pada berbagai bahan ajar yang
membentuk satu unit terpadu, yang dikombinasikan dalam bentuk modul,
bahkan dapat digunakan untuk belajar mandiri maupun kelompok tanpa harus
didampingi guru.
Media objek adalah benda tiga dimensi yang mengandung informasi, tidak
dalam bentuk penyajian tetapi ciri fisiknya seperti. ukuran, berat, bentuk,
susunan, warna, fungsi dan sebagainya Media objek meliputi objek yang
sebenarnya dan objek pengganti.
Media interaktif, pada media ini karakteristik terpenting adalahpeserta didik
tidak hanya memperhatikan penyajian atau objek, tetapi dipaksa untuk
berinteraksi selama mengikuti pelajaran. Paling sedikit adatiga macam interaksi
yang dapat diidentifikasi. Pada tingkat pertamapeserta didik berinteraksi dengan
sebuah program. Tingkat berikutnya peserta didik berinterksi dengan mesin.
Tingkatan ketiga adalah mengatur interaksi antar peserta didik secara teratur
tetapi tidak terprogram.
Berbagai ragam dan bentuk dari media pembelajaran, klasifikasi atas media
dan sumber belajar menurut Rusman (2011: 62) dapat juga ditinjau dari
jenisnya, yaitu media audio, media visual, media audiovisual, dan media serba
aneka.
Berikutnya klasifikasi media berdasarkan sifat, jangkauan, dan teknik
pemakaiannya:
a) Dari sifatnya, media dapat dibagi menjadi; media audiotif, media
visual, media audio-visual.
b) Dari kemampuan jangkauannya, media dibagi menjadi;
- Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak;
- Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan
waktu.
c) Dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam:
- Media yang diproyeksikan;
- Media yang tidak di proyeksikan.
Prosedur Pemilihan Media Pembelajaran
Ada beberapa prinsip yang perlu Anda perhatikan dalam pemilihan me-dia.
Pertama, kompetensi dasar dan indikator apa yang akan dicapai dalam suatu
kegiatan pembelajaran ataupun diklat. Kedua, materi pembelajaran (instructional
content), yaitu bahan atau kajian apa yang akan diajarkan pada program
pembelajaran tersebut. Ketiga, familiaritas media dan karakteristik siswa/guru,
yaitu mengkaji sifat-sifat dan ciri media yang akan digunakan. Keempat, adanya
sejumlah media yang bisa diperbandingkan karena pe-milihan media pada
dasarnya adalah proses pengambilan keputusan dari se-jumlah media yang ada
ataupun yang akandikembangkan.
Bila kita akan merancang media, seharusnya melalui tiga tahap utama,
yaitu:
1) Pertama, define (pembatasan), dalam fase ini menyangkut rumusan
tuju-an, rancangan media apa yang akan dikembangkan,
beberapa persiapan awal dalam perancangan media yang
menyangkut: bahan, materi, dana, serta aspek perancangan
lainnya.
2) Kedua, develop (pengembangan), dalam fase ini sudah
dimulai proses pembuatan media yang akan dikembangkan,
sesuai dengan fase pertama.
3) Ketiga, evaluation (evaluasi), yaitu fase terakhir untuk menilai media
yang sudah dikembangkan/dibuat, setelah melalui tahap uji coba, revisi,
kajian dengan pihak lain.
Selain pertimbangan di atas, dalam memilih media pembelajaran yang
tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari
access, cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.
Strategi Dalam Membuat Media Pembelajaran Interaktif Audio
Visual Berserta Contohnya
1) Karakteristik Peserta Didik
Seorang dosen atau pengajar harus mengetahui karakteristik peserta
didiknya.
2) Merumuskan tujuan pembelajaran.
Langkah ini bertujuan untuk menentukan, dan merumuskan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai adalah aspek
kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik
3) Mendesain materi dan media yang tepat.
Materi dan media pembelajaran yang akan digunakan sebaiknya
didesain menjadi lebih efektif.
4) Tahap percobaan media.
Tahapan terakhir dalam persiapan adalah percobaan media sebelum
digunakan.
Merumuskan Dan Mengembangkan Media Dan Sumber Belajar Yang
Berbasis TPACK (ICT) Dan Media Video Visual Interaktif
Saat menggunakan media pembelajaran yang ada, guru dan dosen harus
membuat pilihan media yang tepat yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai. Dalam hal ini, Strauss dan Frost mengidentifikasi sembilan
faktor kunci yang perlu dipertimbangkan ketika memilih media pendidikan,
yaitu: Keterbatasan sumber daya kelembagaan, kesesuaian materi pembelajaran,
karakteristik peserta didik, sikap dan tingkat keterampilan guru/guru, tujuan
pembelajaran, hubungan dalam proses pembelajaran. , lokasi pembelajaran,
waktu pembelajaran (sinkron atau asinkron) dan tingkat kekayaan media.
E. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)BERBASIS TPACK (ICT)
PENGEMBANGAN Konsep LKPD
MEDIA Macam-macam LKPD
Fungsi dan Manfaat LKPD
PEMBELAJARAN Diagram penyusunan LKPD
Strategi /cara membuat LKPD
Cara menegmbangkan LKPD yang
berbasis TPACK (ICT
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan panduan peserta didik yang
digunakan untuk melakukan pengembangan aspek kognitif dan semua aspek pembelajaran
dalam bentuk kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah sesuai indikator pencapaian
hasil belajar yang harus dicapai. LKPD (student worksheet) ialah lembaran-lembaran
berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik biasanya berupa petunjuk, langkah-
langkah untuk menyelesaikan suatu tugas dengan mengacu kompetensi dasar yang akan
dicapainya.
Ditinjau dari tujuannya, LKPD dibagi menjadi 5 bagian :
• Membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagaikonsep
yang telah ditemukan
• Membantu peserta didik menemukan suatu konsep
• Sebagai penuntun belajar
• Penguatan
• Sebagai petunjuk praktikum
Manfaat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) :
• Mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran
• Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep
• Melatih peserta didik dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan
proses
• Sebagai pedoman pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses
pembelajaran
• Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari
melalui kegiatan belajar
• Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang
dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
Prosedur penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ada 3 macam,
yaitu:
1. Syarat didaktik
2. Syarat kontruksi
3. Syarat teknis
Macam-macam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) :
LKPD Penemuan / LKPD Eksploratif, serangkaian langkah-langkah yang
dilakukan dalam pembelajaran dan di dalamnya terdapat kegiatan mengamati
dan menganalisis konsep materi untuk membantu peserta didik menemukan
informasi atau pengetahuan yang relevan.
LKPD Aplikatif-Integratif / LKPD Psikomotorik, dilengkapi laporan kegiatan
peserta didik dalam menerapkan berbagai pengetahuan yang sedang dipelajari.
LKPD Penuntun, membuat petunjuk, langkah kerja dan urutan materi
yang harus dikuasai oleh peserta didik secara bertahap mulai dari konkret
ke abstrak,, faktual kekonseptual, formal ke nonformal dan mudah ke sulit.
LKPD Penguatan, memuat petunjuk langkah kerja yang dilengkapi dengan
materi utama dan materi tambahan.
LKPD Praktikum / LKPD Eksperimental, memandu peserta didik dalam
melaksanakan eksperimen atau percobaan dan praktik didalam atau uar
laboratorium dan dilengkapilangkah-langkah melakukan eksperimen.
Fungsi LKPD :
1. Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan para pendidik namun lebih
mengatifkanpeserta didik
2. Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi
yangdiberikan
3. Sebagai bahan ajar ringkas dan kaya tugas untuk berlatih mengembangkan
keterampilanpeserta didik
4. Memudahkan proses pelaksanaan pembelajaran kepada peserta didik
5. Mengaktifkan peserta didik dalam proses belajar
6. Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep
Diagram Penyusunan LKPD
1. Analisis Kurikulum
2. Menyusun Peta Kebutuhan LKPD
3. Menentukan judul LKPD
4. Penulisan LKPD
- Perumusan KD yang harus dikuasai
- Menentukan alat penilaian
- Penyusunan materi
- Merumuskan kompetensi dasar
- Menentukan alat penilaian
- Menyusun materi
- Memperhatikan struktur LKPD
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunanmateri, yaitu :
Materi LKPD sangat tergantung pada KD yang akan dicapai
Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku majalah, internet,
jurnal hasil penelitian
Tugas-tugas harus ditulis secara jelas untuk mengurangi pertanyaan dari
peserta didik
Struktur LKPD secara umum terdiri atas 6 komponen, yaitu : judul, petunjuk
belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan
langkah-langkah kerja, penilaian.
F. JARING TEMA (PEMETAAN) DAN PENGEMBANGAN SILABUS
PEMBELAJARAN TEMATIK
Konsep Pengembangan Silabus
Prinsip Pengembangan Silabus
Komponen-komponen Silabus
Cara Mengembangkan Silabus
Pembelajran Tematik
1. KONSEP PENGEMBANGAN SILABUS
Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan
pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-
komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.
Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran seperti
pembuatan rencana pembelajaran sebab proses pembelajaran di sekolah
dilaksanakan dalam jangka waktu yang sudah ditentukan, sebagai pengelolaan
kegiatan pembelajaran karena memberikan gambaran mengenai pokok-pokok
program yang akan dicapai dalam suatu mata pelajaran misalnya pembelajaran
secara klasikal, kelompok kecil atau pembelajaran individual dan pengembangan
sistem penilaian yang dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi
sistem penilaian selalu mengacu pada standar kompetensi, kompetensi dasar dan
pembelajaran yang terdapat di dalam silabus, dengan demikian sebagai ukuran
dalam melakukan penilaian keberhasilan suatu program pembelajaran serta
manfaat selanjutnya sebagai dokumentasi tertulis (written document) sebagai
akuntabilitas suatu program pembelajaran.
2. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS
1) Ilmiah
Pengembangan silabus berbasis KTSP harus dilakukan dengan prinsip
ilmiah, yang mengandung arti bahwa keseluruhan materi dan kegiatan yang
menjadi muatan dalam silabus harus benar, logis, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2) Relevan
Relevan dalam silabus mengandung arti bahwa ruang lingkup,
kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus
disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yakni tingkat perkembangan
intelektual, sosial, emosional dan spiritual peserta didik. Disamping itu,
relevan mengandung arti kesesuaian atau kerasian antara silabus dengan
kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat pemakai lulusan. dengan
demikian lulusan pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di
lapangan baik secara kuantitas maupun kualitas.
3) Fleksibel
Pengembangan silabus KTSP harus dilakukan secara fleksibel fleksibel
dalam silabus dapat dikaji dari 2 sudut pandang yang berbeda, yakni fleksibel
sebagai suatu pemikiran pendidikan, dan fleksibel sebagai kaidah dalam
penerapan kurikulum.
4) Kontinuitas
Kontinuitas atau kesinambungan mengandung arti bahwa setiap
program pembelajaran yang dikemas dalam silabus memiliki keterkaitan satu
sama lain dalam kompetensi dan pribadi peserta didik. kontinuitas atau
kesinambungan tersebut bisa secara vertikal, Yakni dengan jenjang
pendidikanyang ada di atasnya dan bisa juga secara horizontal Yakni dengan
program- program lain atau dengan silabus lain yang sejenis.
5) Konsisten
Pengembangan silabus berbasis KTSP harus dilakukan secara
konsisten, Artinya bahwa antara standar kompetensi, Kompetensi dasar
indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem
penilaian memiliki hubungan yang konsisten dalam membentuk kompetensi
peserta didik.
6) Memadai
7) Actual dan kontekstual
8) Efektif
9) Efisien
3. KOMPONEN-KOMPONEN SILABUS
a) Identitas Mata Pelajaran, memuat nama mata pelajaran dan tingkat/kelas.
b) Identitas Sekolah, memuat nama satuan pendidikan dan kelas.
c) Standar kompetensi
Merupakan seperangkat kompetensi yang dilakukan dan harus dicapai
siswa sebagai hasil belajarnya dalam setiap satuan pendidikan (SKL).
Digunakan untuk memandu penjabaran kompetensi dasar menjadi
pengalaman belajar.
d) Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran
yang harus dicapai siswa. kompetensi dasar dalam silabus berfungsi untuk
mengarahkan guru mengenai target yang harus dicapai dalam pembelajaran.
e) Materi pokok/pembelajaran
Materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa
sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan
menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasarkan indikator
pencapaian belajar.
f) Kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran adalah bentuk atau pola umum kegiatan
pembelajaran yang akan dilaksanakan. strategi pembelajaran meliputi
kegiatan tatap muka dan non tatap muka.
g) Indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang
ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan dan keterampilan. indikator digunakan sebagai dasar untuk
menyusun alat penilaian.
h) Penilaian
Alat penilaian dapat berupa tes dan non tes. pada pembelajaran penilaian
dilakukan untuk mengkaji ketercapaian kompetensi dasar dan indikator
pada tiap-tiap mata pelajaran.
i) Alokasi waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar
didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran
per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan,
kedalaman, tingkat kesulitan,dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
j) Sumber belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran. sumber belajar dapat berupa media cetak dan
elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
dan indikator pencapaian kompetensi
4. CARA MENGEMBANGKAN SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK
Perencanaan, mengumpulkan informasi dan referensi yang dapat
dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi
seperti komputer dan internet. Kemudian mengidentifikasi dan mengkaji
sumber belajar yang diperlukan dalam pengembangn silabus.
Pelaksanaan, merumuskan KD dan tujuan pembelajaran serta materi
dan indicator. Kemudian menentukan strategi, metode, dan teknik
pembelajaran dan yang terakhir menentukan sarana dan prasarana.
Evaluasi / penilaian, tahap ini dilakukan untuk mengetahui apakah silabus
yang telah dikembangkan itu mencapai sasarannya atau sebaliknya. Dari
hasil evaluasi ini dapat diketahui sampai dimana tingkat ketercapaian SK
dan KD yang telah ditetapkan. Dengan demikian, silabus dapat segera
diperbaiki dan disempurnakan.
Revisi, silabus yang dikembangkan perlu diuji kelayakannya melalui
analisiskualitas silabus, penilaian akhir dan uji lapangan.
G. PENILAIAN OTENTIK DALAM KURIKULUM 2013
Menjelaskan Penilaian Autentik
alam Kurikulum 2013
JENIS-JENIS PENILAIAN
OTENTIK
PENILAIAN OTENTIK TEKNIK DAN INSTRUMEN
DALAM KURIKULUM 2013 PENILAIAN OTENTIK
RUMUSAN INTERVAL MENDISKUSIKAN
PREDIKAT LULUSAN PENDEKATAN PENILAIAN
OTENTIK HASIL BELAJAR
PEMANFAATAN HASIL
PENILAIAN PRINSIP DAN PENDEKATAN
PENILAIAN
RUMUSAN KRITERIA
KETUNTASAN MINIMAL
Penilaian autentik (authentic assesment) merupakan pengukuran yang bermakna
secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan dan
pengetahuan. Assesment merupakan sinonim dari penilaian pengukuran, pengujian dan
evaluasi. Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment ini adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Authentic assesment memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Karena assesment semacam ini
mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik baik dalam rangka
mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring dan lain-lain. Kata lain assesment
autentik adalahpenilaian kinerja, potofolio dan penilaian proyek.
1. JENIS-JENIS PENILAIAN AUTENTIK
Penilaian sikap
Observasi
Penilaian diri
Penilaian antar teman
Jurnal catatan guru
Penilaian pengetahuan
Tes tulis
Tes lisan
Penugasan
Penilaian keterampilan
Penilaian kinerja
Penilaian proyek
Penilaian portofolio
2. TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN AUTENTIK
- teknik dan instrumen penilaian sikap spiritual dan sosial
Sikap spiritual (KI-1) meliputi kegiatan beribadah, berperilaku syukur, berdoa
sebelum dansesudah melakukan kegiatan dan toleransi dalam beribadah.
Sikap sosial (KI-2) meliputi sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli dan percaya diri.
- teknik dan instrumen penilaian pengetahuan
Penilaian pengetahuan (KD dari KI-3) dilakukan dengan cara mengukur
penguasaan siswa. Mencakup dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
dan metakognisi dalam berbagai tingkatan proses berfikir. Teknik penilaian
pengetahuan menggunakan tes tulis, tes lisan dan penugasan.
- penilaian keterampilan
Penilaian keterampilan (KD dari KI-4) dilakukan dengan teknik penilaian kinerja,
penilaian portofolio. Penilaian keterampilan menggunakan angka dengan rentang
skor 0 sampai dengan 100, predikat dan deskripsi.
- pemanfaatan dan tindak lanjut
Hasil analisis penilaian pengetahuan dan keterampilan menjadi dasar penentuan
tindak lanjut program yang dibutuhkan peserta didik. Bagi peserta didik yang
nilainya belum mencapai KKM akan mendapat remidial. Peserta didik yang telah
mencapai nilai KKM atau lebih akan mendapatkan pengayaan.
PENILAIAN AUTENTIK DAN BELAJAR AUTENTIK
Penilaian semacam ini cenderung berfokus pada tugas kompleks dan kontekstual
bagi peserta didik yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau
keterampilan yang dimilikinya. Contoh penilaian autentik antara lain, keterampilan kerja,
kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan pengetahuan tertentu, simulasi
dan bermain peran, potofolio, memilih kegiatan yang strategis serta memamerkan dan
menampilkan sesuatu.
Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi
dengan pendekatan saintifik, memahami aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu
sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang
luar sekolah. Guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta
didik pun tahu apayang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel dan
bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Penilaian autentik pun mendorong peserta
didik mengkontruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan,
menjelaskan dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi
pengetahuan baru.
PRINSIP PENILAIAN DAN PENDEKATAN AUTENTIK
objektif, berarti penilaian berbasis pada standart dan tidak dipengaruhi faktor
subjektivitas.
terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan dilakukan secara terencana,
menyatudengan kegiatan pembelajaran dan berkesinambungan.
ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan
pelaksanaan danpelaporannya.
transparant, berarti prosedur penilaian dan dasar pengambilan keputusan dapat
diaksesoleh semua pihak.
akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal
sekolahmaupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur dan hasilnya.
edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Pendekatan penilaian yang digunakan adalah Penilaian Acuan Kriteria (PAK).
PAKmerupakan penilaian pencapaian kompetens yang didasarkan pada Kriteria Ketentuan
Minimal (KKM), KKM merupakan kriteria ketentuan belajar minimal yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karateristik Kompetensi Dasar yang akan
dicapai, daya dukung dan karateristik peserta didik.
Rumusan Interval Predikat Lulusan :
alur penentuan KKM
teknik penetapan KKM
perumusan KKM
teknik penyusunan KKM
teknik menentukan KKM dengan pemberian poin
teknik penentuan KKM dengan rentang nilai
Model Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal
Ada 2 model penetapan KKM :
1. Lebih dari satu Kriteria Ketuntasan Minimal
Satuan pendidikan dapat memilih setiap mata pelajaran memiliki KKM
yang berbeda. Misalnya, KKM IPA (64), Matematika (60), Bahasa Indonesia (75),
dan seterusnya.
2. Satu Kriteria Ketuntasan Minimal
Satuan pendidikan dapat memilih satu KKM untuk semua mata
pelajaran, setelah KKM setiap mata plejaran ditentukan, KKM satuan pendidikan
dapat ditetapkan dengan memilih KKM yang terendah, rata-rata atau modus dari
seluruh KKM mata pelajaran berdasarkanmodel KKM yang ada, satuan pendidikan
dibolehkan memilih salah satu model sesuai ketetapan yang ada pada panduan
penilaian jenjang SD, SMP, SMA dan SMK.
MANFAAT HASIL PENILAIAN
Hasil dari penilaian juga dapat membangkitkan minat an motivasi belajar siswa.
Dengan adanya persaingan yang terjadi dikelas maka motivasi belajar siswa akan
naik dan tujuan dari sebuah penilaian akan tercapai.
Hasil dari penilaian autentik juga dimanfaatkan oleh guru dalam mengelompokkan
peserta didik berdasarkan prestasi masing-masing. Setelah dikelompokkan
berdasarkan prestasi yang sama dalam satu kelas guru akan lebih mudah memilih
metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan pemahaman siswa.
Guru menggunakan hasil penilaian autentik sebagai sarana perbaikan dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran. Sebab, hasil dari sebuah penilaian yang
dilakukan oleh guru dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satu diantaranya
adalah perencanaan pembelajaran, selain itu rencana pembelajaran juga merupakan
bagian penting dari tugas guru selaku pengelola pembelajaran.
H. DIMENSI PENILAIAN SIKAP PADA PEMBELAJARAN TEMATIK
DIMENSI PENILAIAN SIKAP PADA
PEMBELAJARANN TEMATIK
Konsep Penilaian Sikap Macam-macam Teknik Penilaian
Sikap
Format Penilaian Sikap dengan
Teknik Observasi Format Penilaian Sikap dengan
Teknik Penilaian Diri
Format Penilaian Sikap dengan Teknik
Penilaian Antar Peserta didik Mendeskripsikan KKO Afektif
Contoh Format Penilaian Sikap
dengan MenggunakanKKO Afektif
1. Menjelaskan Konsep Penilaian Sikap
Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur
tingkat pencapaian kompetensi sikap dari peserta didik yang meliputi aspek
menerima atau memerhatikan (receiving atau attending), merespons atau
menanggapi (responding), menilai atau menghargai (valuing), mengorganisasi
atau mengelola (organization), dan berkarakter (characterization). Dalam
kurikulum 2013 sikap dibagi menjadi dua, yakni sikap spiritual dan sikap sosial.
Bahkan kompetensi sikap masuk menjadi kompetensi inti 1(KI 1) untuk sikap
spiritual dan kompetensi inti 2 (KI 2) untuk sikap sosial.
Penilaian sikap merupakan bagian dari pembinaan dan
penanaman/pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik yang
menjadi tugas dari setiap pendidik. Penanaman sikap diintegrasikan pada setiap
pembelajaran KD. dari KI-3 dan KI-4. Selain itu, dapat dilakukan penilaian diri
(self assessment) dan penilaian antar sesama teman (peer assessment) dalam
rangka pembinaan dan pembentukan karakter peserta didik, yang hasilnya dapat
dijadikan sebagai salah satu data untuk konfirmasi hasil penilaian sikap oleh
pendidik.
2. Macam-macam Teknik Penilaian Sikap
Penilaian sikap spiritual dan sosial harus mengacu pada indikator yang
dirinci dari Kompetensi Dasar (KD) dari kompetensi inti spiritual dan sosial
yang ada di kerangka dasar dan struktur kurikulum untuk setiap jenjang dari dasar
sampai menengah.
Adapun teknik penilaian sikap dibagi menjadi dua macam yaitu penilaian
sikap utama dan penilaian sikap penunjang. Adapun penilaian sikap utama
dilakukan dengan cara observasi yang dilakukan oleh guru baik dilaksanakan
pada saat proses pembelajaran maupun diluar pembelajaran.
a. Observasi
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indra, baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman atau lembar
observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku atau aspek yang
diamati.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan
penilaian sikap dengan teknik observasi:
Jurnal digunakan oleh guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas
selama periode satu semester.
Jurnal oleh guru mata pelajaran dibuat untuk seluruh peserta didik
yang mengikuti mata pelajarannya.
Hasil observasi guru mata pelajaran dan guru BK dibahas dalam rapat
dewan guru dan selanjutnya wali kelas membuat predikat dan
deskripsi sikap setiap peserta didikdi kelasnya.
Perilaku sangat baik atau kurang baik yang dicatat dalam jurnal tidak
terbatas pada butir-butir sikap (perilaku) yang hendak ditumbuhkan
melalui pembelajaran yang saat itu sedang berlangsung sebagaimana
dirancang dalam RPP.
b. Penilaian Diri
Dalam melakukan penilaian diri terhadap kompetensi sikap, baik
sikap spiritual maupun sikap sosial harus mengacu pada indikator
pencapaian kompetensi yang sudah dibuat oleh guru sesuai dengan
kompetensi dasar dari kompetensi inti sikap spiritual dan sikap sosial.
Penilaian diri oleh peserta didik dilakukan melalui langkah-langkah
sebagai berikut:
Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri.
Menentukan indikator yang akan dinilai.
Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
Merumuskan format penilaian, berupa daftar cek
3. Penilaian Antar Peserta Didik atau Penilaian Antar Teman
Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi sikap, baik sikap
spiritual maupun sosial dengan cara meminta peserta didik untuk menilai satu
sama lain.Kriteria penyusunan instrumen penilaian antarteman sebagai berikut:
Sesuai dengan indikator yang akan diukur.
Indikator dapat diukur melalui pengamatan peserta didik.
Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana
Menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik.
Menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik.
Indikator menunjukkan sikap/perilaku peserta didik dalam situasi yang
nyata atau sebenarnya dan dapat diukur.
4. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Observasi
Dalam format penilaian sikap dengan teknik Observasi guru hendaknya
mengamati sikap peserta didik dengan menggunakan lembar observasi.
a) Observasi sikap spiritual
b) Observasi sikap sosial
c) Observasi Sikap Tanggung Jawab
5. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Penilaian Diri
Pada penilaian diri siswa diminta untuk mengumumkan kekurangan dan
kelebihan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Adapun format yang
digunakan dalam penilaian diri berupa lembar penilaian diri yang dilengkapi
dengan identitas siswa
a. Penilaian Diri Spiritual
b. Penilaian Diri Sosial (Sikap Jujur)
c. Penilaian Diri Tanggung Jawab
6. Format Penilaian Sikap dengan Teknik Penilaian antar Peserta Didik
Penilaian antar teman merupakan suatu penilaian yang dilakukan oleh peserta
didik untuk menilai dua orang temannya. Adapun format penilaian ini sama
dengan teknik penilaian sikap secara observasi, perbedaannya hanya terletak pada
perbandingan dua subjek yang diamati. Dalam hal ini pernyataan atau indikator
pengamatan yang disusun oleh guru disesuaikan dengan karakteristik peserta
didik
7. Kata Kerja Oprasional (KKO) Afektif (A1, A2, A3, A4, dan A5)
Ranah Afektif berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan
emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.Indikator afektif
merupakan sikap yang diharapkan saat dan setelah siswa melakukan serangkaian
kegiatan pembelajaran. Indicator afektif disusun dengan menggunakan kata kerja
operasional dengan objek sikap ilmiah. Beberapa contoh sikap ilmiah adalah:
berlaku jujur, peduli, tanggungjawab, dan lain sebagainya.
Pada bagian ini Bloom membuatnya dengan David Krathwohl. Diantaranya
adalah
a. Level Penerimaan
b. Level Tanggapan
c. Level Penghargaan
d. Level Pengorganisasian
e. Level Karakterisasi Berlandaskan Nilai
8. Contoh Format Penilaian Sikap dengan KKO Afektif
Format penilaian sikap dengan kata kerja oprasional Afektif yang
dilaksanakan dengan teknik observasi:
Skor 43
No Aspek pengamatan
12
Siwa mampu menghargai perbedaan
1
dalam ibadah
Siswa mampu mempraktekkan tata cara
2
solat
Siswa menunjukkan sikap menghargai
3
pendapat temannya
Siswa mampu mengintegrasikan materi
4
ibadah dengan materi lainnya
Siswa dapat menyelesaikan konflik
5
anatar teman
Keterangan :
b. Pada no 1 sikap yang ditunjukkan adalah sesuai KKO A1
c. Pada no 2 sikap yang ditunjukkan adalah sesuai KKO A2
d. Pada no 3 sikap yang ditunjukkan adalah sesuai KKO A3
e. Pada no 4 sikap yang ditunjukkan adalah sesuai KKO A4
f. Pada no 5 sikap yang ditunjukka adalah sesuai KKO A5
Adapun skor akhir menggunakan skala 1 sampai 4
I. DIMENSI PENILAIAN SIKAP PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KONSEP
PENGETAHUAN PENILAIAN
Dimensi Penilaian Pengetahuan Konsep Penilaian Pengetahuan
pada Pembelajaran Tematik
Teknik dan Instrumen Penilaian
Pengetahuan
Kata Kerja Operasional Aspek
Pengetahuan
Format Penilaian Pengetahuan
Berbasis HOTS dengan
Menggunakann KKO C4, C5, danC6
Dimensi proses berpikir untuk mendapat pengetahuan terdiri mengingat,
memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta.
Pengetahuan Faktual
Merupakan Elemen-elemen dasar yang harus diketahui peserta didik untuk
mempelajarisuatu ilmu atau menyelesaikan masalah di dalamnya.
Pengetahuan konseptual
Merupakan Hubungan-hubungan antar elemen dalam sruktur besar yang
mermungkinkan elemennya berfungsi secara bersama-sama.
Pengetahuam Prosedural
Merupakan pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang
terkait dengan pengetahuan teknis, spesifik, algoritma, metode dari tingkat
sederhana sampai tingkat tinggi dan kriteria untuk menentukan prosedur.
Pengetahuan Metakognitif
Metakognitif merupakan kesadaran seseorang tentang bagaimana ia
belajar,kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan
untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan menggunakan
berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan
belajar sendiri.
TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN
1) Tes Tulis
Tes tertulis adalah tes yang soal dan jawabannya secara tertulis, antara lain
berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.Penggunaan
bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis, sangat tergantung pada kompetensi
pengetahuanyang akan diukur.
Instrumen tes tertulis yang biasa dipakai antara lain tes pilihan ganda,
isian,benar salah, menjodohkan dan uraian. Setiap butir soal yang ditulis harus
berdasarkan rumusan indikator yang sudah disusun dalam RPP maupun dalam kisi-
kisi.
2) Tes Lisan
Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan secara langsung antara
pendidik dan peserta didik. Menurut Thoha (2011) tes lisan terkategori tes verbal, tes
dimana soal dan jawabannya diberikan secara lisan. Tes lisan merupakan pertanyaan-
pertanyaan yang diberikan pendidik secara lisan dan peserta didik merespon
pertanyaan tersebut secara lisanpada saat proses pembelajaran berlangsung. Tes lisan
terdiri dari tes lisan bebas dan tes lisan berpedoman. Tes lisan bebas dilakukan
pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa menggunakan pedoman
yang dipersiapkan secara tertulis. Tes lisan berpedoman, pendidik menggunakan
pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepadapeserta didik.
3) Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada siswa untuk mengukur atau
memfasilitasi siswa memperoleh atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang
berfungsi untuk penilaian dilakukan setelah proses pembelajaran
(assessmentoflearning). Sedangkan penugasan sebagai metode penugasan bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan yang diberikan sebelum atau selama proses
pembelajaran (assessmentforlearning). Tugas dapat dikerjakan baik secara individu
maupun kelompok sesuai karakteristik tugas yang diberikan, yang dilakukan di
sekolah, di rumah, dan di luar sekolah. Pada prinsipnya, penilaian melalui
pendekatan penugasan adalah menilai hasil (produk) dari penugasan tersebut.
KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) ASPEK PENGETAHUAN
Ranah kognitif (Pengetahuan) adalah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut
Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.
Upaya pengembangan fungsi kognitif akan berdampak positif bukan hanya terhadap
kognitif sendiri, melainkan terhadap afektif dan psikomotor. Ada dua macam kecakapan
kognitif siswa yang perlu dikembangkan secara khusus oleh guru yaitu:
a. Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
b. Strategi menyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta
menyerappesan-pesan moral yang terkandungdidalam materi tersebut.
FORMAT PENILAIAN PENGETAHUAN BERBASIS HOTS DENGAN
MENGGUNAKAN KKO C4, C5, C6
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar oleh pendidikbertujuan
untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar
peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar peserta didik meliputi
aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui
observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan, danpelaporannya menjadi
tanggung jawab wali kelas atau guru kelas. Sebelum menerapkan pembelajaran dan
penilaian HOTS, tentunya guru terlebih dahulu harus menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang mencerminkanpembelajaran dan penilaian HOTS, karena RPP
tersebut akan menjadi panduan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hasil
pembelajaran HOTS akan diukur melalui penilaian HOTS pada aspek pengetahuan,
sikap, dan keterampilan.
Tujuannya untuk mengetahui ketercapaian Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
dari sebuah Kompetensi Dasar (KD) yang diwakilioleh sebuah Kata Kerja Operasional
(KKO).
Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal
HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai contoh kata kerja
“menentukan‟ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam
kontekspenulisan soal-soal HOTS, kata kerja “menentukan‟ bisa jadi ada pada ranah C5
(mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir
menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta
menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja “menentukan‟ bisa digolongkan
C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan
masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses
berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Adapun penilaian pada Aspek pengetahuan (KI-3) itu diukur melalui tes, baik test
lisan atau test tulisan. Test lisan berupa sejumlah pertanyaan yang telah disiapkan oleh
guru dan dijawab secara lisan oleh siswa. Test tertulis terdiri dari dua model yaitu
objektiffdan non objektif. Model soal objektif seperti Pilihan Ganda (PG), menjodohkan,
Benar-Salah (BS), dan isian singkat. Sedangkan non objektif yaitu soal uraian. Dalam
kaitannya dengan soal HOTS, tipe soal yang digunakan adalah PG dan uraian.
J. DIMENSI PENILAIAN KETERAMPILAN PSIKOMOTORIK PADA PEMBELAJARAN
TEMATIK
Konsep Penilaian Keterampilan
Konsep Penilaian Macam-Macam Teknik Format Penilaian
Keterampilan Penilaian Keterampilan Keterampilan dengan Teknik
Unjuk Kerja/ Kinerja/ Praktik
Format Penilaian Format Penilaian Deskripsi KKO Aspek
Keterampilan dengan Teknik Keterampilan dengan Teknik Keterampilan yaitu P1, P2, P3,
Proyek Portofolio P4, dan P5
1. KONSEP PENILAIAN KETERAMPILAN
Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan
peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu di
berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi. Prosedur
pembelajaran psikomotor meliputi langkah-langkah dalam mengajar praktik, yaitu:
- Menentukan tujuan dalam bentuk perbuatan.
- Menganalisis keterampilan secara rinci dan berurutan.
- Mendemonstrasikan keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan
memberikan perhatian pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar.
- Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba melakukan
praktik dengan pengawasan dan bimbingan.
- Memberikan penilaian terhadap usaha peserta didik.
Tahap - Tahap Penilaian Keterampilan, penilaian aspek keterampilan
dilakukan melalui tahapan :
1) Perencanaan penilaian
2) Penyusunan instrumen penilaian
3) Pelaksanaan penilaian
4) Pemanfaatan hasil penilaian
5) Pelaporan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan
didukungdari deskripsi yang diperoleh dari hasil portofolio
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur
penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik.
a. Tes simulasi. Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika
tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk
memperagakan penampilan peserta didik
b. Tes unjuk kerja (work sample). Kegiatan psikomotorik yang dilakukan
melalui tes ini, dilakukan dengan sesungguhnya dan tujuannya untuk
mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil
menggunakan alat tersebut
2. MACAM-MACAM TEKNIK PENILAIAN KETERAMPILAN
a. Penilaian Praktik
Penilaian praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa
keterampilan melakukan suatu aktivitas sesuai dengan tuntutan kompetensi.
Dengan demikian, aspek yang dinilai dalam penilaian praktik adalah kualitas
proses mengerjakan/melakukan suatu tugas.
b. Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan peserta didik
dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam wujud produk
dalam waktu tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan baik dari segi
proses maupun hasil akhir.
c. Penilaian Projek
Penilaian projek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan
siswa dalam mengaplikasikan pengetahuannya melalui penyelesaian suatu
instrumen projek dalam periode/waktu tertentu.
d. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan teknik untuk melakukan penilaian terhadap
aspek keterampilan. Dalam panduan ini portofolio merupakan kumpulan
sampel karya terbaik dari KD – KD pada KI-4. Sampel tersebut pada dasarnya
dikumpulkan dari produk yang dihasilkan dari penilaian dengan teknik projek
maupun produk.
3. FORMAT PENILAIAN KETERAMPILAN DENGAN TEKNIK UNJUK
KERJA/ KINERJA/ PRAKTIK
Penilaian keterampilan melalui penilaian unjuk kerja/kinerja/ praktik
adalah penilaian yang dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peseta didik,
penilaian keterampilan melalui penilaian produk adalah penilaian terhadap
kemampuan peserta didik dalam membuat produk-produk (hasil karya)
teknologi maupun seni. Penilaian Unjuk Kerja/ Kinerja/ Praktik dilakukan
dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu.
4. FORMAT PENILAIAN KETERAMPILAN DENGAN TEKNIK PROYEK
Penilain proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu yugas yang
harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. tugas tersebut berupa
suatu instevigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan, pengorganisasian,
pengolahan dan penyajian data. pada penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga)
hal yang perlu dipertimbangkan :
a. Kemampuan Pengolahan, kemampuan peserta didik dalam memilih data
serrta penulisan laporan,
b. Relevansi, kesesuaian dengan mata pelajaran dan indikator/topik,
dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan
tereampilan dalam pembelajaran.
c. Keaslian, proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil
karyanya, dengan ,pempertimbangkan konstrbusi guru berupa petunjuk
dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
5. FORMAT PENILAIAN KETERAMPILAN DENGAN TEKNIK
PORTOFOLIO
Penilaian portofolio merupakan penilaian berbasis kelas terhadap
sekumpulan karyasiswa yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang
diambil selama prosespembelajaran dalam kurun waktu tertentu, digunakan oleh
guru dan siswa untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap siswa dalam pelajaran tertentu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
melaksanakan penilaianportofolio yaitu:
a. Peserta didik merasa memiliki portofolio sendiri,
b. Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan,
c. Kumpulkan dan simpan hasil kerja peserta didik dalam 1 map atau folder,
d. Beri tanggal pembuatan,
e. Tentukan kriteria untuk menilai hasil kerja peserta didik,
f. Minta peserta didik untuk menilai hasil kerja mereka secara
berkesinambungan,
g. Bagi yang kurang beri kesempatan perbaiki karyanya, tentukan jangka
waktunya, dan h. Bila diperlukan maka jadwalkan pertemuan dengan
orang tua siswa.
6. DESKRIPSI KKO (KATA KERJA OPERASIONAL) ASPEK
KETERAMPILAN(PSIKOMOTORIK) YAITU P1, P2, P3, P4, P5
KKO merupakan singkatan dari Kata Kerja Operasional yang mempunyai
tujuan untuk pengembangan Indikator Silabus dan RPP berdasarkan taksonomi
Bloom dibagi dalam beberapa pencapaian kompetensi dasar. Contoh Kata Kerja
Operasional yang dapat digunakan dalam perumusan indikator pada ranah
psikomotor (P1, P2, P3, P4, dan P5), (edisi revisi teori Bloom: Menafsirkan
rangsangan (stimulus). Kepekaan terhadap rangsangan: Menyalin Mengikuti
Mereplikasi Mengulangi Mematuhi Membedakan Mempersiapkan Menirukan