MODUL UNTUK KELUARGA
“BUDAYA KESELAMATAN LANSIA ASRi”
(AMAN, SELAMAT DARI RISIKO)
PANDUAN BAGI CAREGIVER UNTUK MENINGKATKAN
KESELAMATAN LANSIA DI RUMAH
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allaah SWT Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas karunia-Nya sehingga Modul Budaya
Keselamatan Lansia ASRi (Aman, Selamat dari Risiko) dapat
diselesaikan. Kondisi lansia dengan perubahan fisik dan
psikologisnya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan
yang perlu diperhatikan oleh keluarga saat merawat.
Perawatan di rumah perlu mengutamakan keselamatan lansia,
sehingga lansia dapat tinggal di rumah dengan aman dan
nyaman.
Modul ini merupakan pelaksanaan model budaya keselamatan
lansia dengan melibatkan keluarga dalam perawatan mandiri
di rumah. Modul ini disusun untuk meningkatkan pemahaman
keluarga terutama anggota keluarga pengasuh lansia dalam
mengupayakan keselamatan bagi lansia.
Terimakasih kepada semua pihak atas keterlibatan dan
kontribusinya. Semoga modul ini dapat memberikan kontribusi
dalam mewujudkan lansia yang sehat, mandiri dan aktif melalui
masyarakat ramah lansia, yang diawali dari keluarga. Masukan
dan saran untuk perbaikan sangat kami harapkan untuk
menyempurnakan kegiatan ini.
2
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
MODUL I 3
KONSEP LANSIA 3
MENGENAL LANSIA 4
MODUL II 9
KONSEP KESELAMATAN LANSIA 9
KONSEP KESELAMATAN LANSIA 10
MENGENALI TANDA-TANDA BAHAYA YANG HARUS
DIWASPADAI OLEH KELUARGA 15
MODUL III 18
BUDAYA KESELAMATAN LANSIA AMAN DAN SELAMAT 18
DARI RISIKO (LANSIA ASRI) 18
MEMAHAMI BUDAYA KESELAMATAN 19
DIMENSI INDIVIDU 20
DIMENSI LINGKUNGAN 22
DIMENSI PERILAKU 31
DIMENSI SPIRITUAL 35
MODUL IV 39
MEMAHAMI PERAN KELUARGA 40
BAGAIMANA BERKOMUNIKASI DENGAN LANSIA? 44
PEMELIHARAAN KEBERSIHAN DAN KEAMANAN LINGKUNGAN 49
PEMANTAUAN PENGGUNAAN OBAT 44
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEADAAN DARURAT 52
PENCEGAHAN JATUH 66
PENCEGAHAN LUKA TEKAN 67
MENGENAL DAN MENGELOLA STRES PADA LANSIA 69
MONITORING KESELAMATAN LANSIA DI RUMAH 79
3
2
MODUL I
KONSEP LANSIA
4
3
MENGENAL LANSIA
Siapakah Lansia itu?
Lansia adalah seseorang yang berusia di atas 60 tahun
(Undang-Undang No.13 Tahun 1998)(1).
Menurut Kementrian Kesehatan, lansia dibagi menjadi bebera-
pa kategori(2), yaitu:
Pra Lansia : 45-59 tahun
Lansia : 60-69 tahun
Lansia Risiko Tinggi : lebih dari 70 tahun/60 tahun dengan
masalah kesehatan
Apa saja tipe lansia?(3)
1) Tipe konstruktif
Tipe ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidup,
memiliki toleransi tinggi, humoris, luwes dan tahu diri. Lansia ini
dapat menerima proses menua, menghadapi masa pensiun
dengan tenang dan mampu mengahadapi masa akhir.
2) Tipe ketergantungan
Tipe ini masih dapat diterima di masyarakat, namun selalu
pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak mempunyai
inisiatif dan tidak praktis dalam bertindak. Lansia ini biasanya
senang menghadapi masa pensiun, biasa makan dan minum
yang banyak, tidak suka bekerja dan senang berlibur.
3) Tipe defensif (menentang)
Tipe ini biasanya sebelumnya memiliki pekerjaan/jabatan
yang tidak stabil, suka menolak bantuan, tidak dapat
mengontrol emosi, memegang teguh kebiasaannya, dan
suka marah.
5
4
Tipe ini sering menganggap orang lain yang menjadi
penyebab kegagalannya, selalu mengeluh, bersifat agresif
dan curiga. Lansia tipe ini menganggap tidak ada hal-hal
baik ketika menjadi tua, takut mati dan iri pada yang lebih
muda.
5) Tipe membenci/menyalahkan diri sendiri
Tipe ini suka bersikap kritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak
memiliki ambisi, dan mengalami penuruan kondisi sosial
ekonomi. Lansia ini biasanya memiliki hoby yang sedikit,
pernikahannya kurang Bahagia, merasa menjadi korban dari
keadaan, namun menerima proses menua, tidak iri dengan
yang muda serta merasa cukup dengan yang dimiliki.
Keluarga perlu mengenali tipe-tipe dari lansia
agar bisa menghadapi lansia dengan baik.
Apa saja peran Lansia?(2)
Memberi nasihat
Memberi teladan
Mengamalkan ilmu dan pengalaman
Apakah perubahan yang terjadi pada lansia?
Menginjak usia lanjut, lansia dapat mengalami “geriatric giant”
yaitu 4i, antara lain(4)
6
5
Inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil)
Immobilitas (gangguan mobilitas/bergerak)
7
6
Instabilitas (jatuh dan syncope/pingsan)
Intelectual impairement (delirium dan demensia)
Apabila lansia mengalami satu atau lebih gejala
di atas, maka sebaiknya anda segera konsultasi
ke dokter anda.
8
7
DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
1998.
2. Nelwan IS, Amelia I, Gondodiputro S, Thaib C. Panduan
Hidup Sehat Bagi Lansia dan Pendamping. Bandung; 2018.
3. Martono H, Pranarka K. Buku Ajar Boedhi Darmojo: Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). 5th ed. Jakarta: Balai Penerbit
FK-UI; 2015.
4. Cooper N, Forrest K, Mulley G. ABC of Geriatric Medicine.
West Sussex: Blackwell Publishing Ltd; 2009.
9
8
MODUL II
KONSEP KESELAMATAN LANSIA
10
9
KONSEP KESELAMATAN LANSIA
Apa pengertian keselamatan lansia?
Keselamatan merupakan sebuah konsep yang berkaitan
dengan keamanan dan pencegahan kecelakaan atau
cedera(1). Keselamatan juga dapat diartikan sebagai kondisi
atau tempat dimana seseorang merasa aman dan tidak
dalam bahaya, termasuk didalamnya dimensi fisik, sosial
dan individu(2). Keselamatan lansia menjadi perhatian yang
penting dalam perawatan lansia di berbagai tempat
perawatan, termasuk perawatan di rumah (1,3) .
Mengapa keselamatan pada lansia itu penting?
Keselamatan pada lansia menjadi penting karena lansia
memiliki beberapa karakteristik yang akan berpengaruh
terhadap keselamatannya (4), antara lain:
1) Penyakit fisik yang ditandai gangguan mental seperti
kebingungan, gangguan orientasi, dan pusing.
2) Penurunan fungsi tubuh secara fisik dan psikologis
3) Efek samping pengobatan;
4) Adanya tanda dan gejala penyakit yang tidak dikenali
5) Masalah fisik, psikologis dan sosial yang bersifat kompleks
Apa saja yang mempengaruhi keselamatan
lansia? (1,3)
Penurunan fungsi tubuh (gangguan keseimbangan,
penurunan kekuatan otot, gangguan penglihatan dan
pendengaran)
Penyakit yang diderita
11
10
Penggunaan obat-obatan (seperti antihipertensi,
sedative, hypnotics, diuretics, anti peradangan)
Lingkungan
Keamanan rumah
Kecelakaan
Suhu
Apa saja aspek keselamatan di rumah?(2)
1) Keselamatan fisik
Keselamatan fisik di lingkungan rumah berkaitan
dengan kondisi ruangan di dalam rumah.
Contoh: Obat -obatan, penataan rumah, kejadian
jatuh yang berkaitan dengan gangguan kesehatan.
2) Keselamatan sosial
Berkaitan dengan kondisi ketika lansia bertemu dan
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Contoh: Mengurung diri dan masalah keuangan
3) Keselamatan mental dan emosional
Keselamatan mental dan emosional diartikan sebagai
lansia yang memiliki hubungan saling percaya dengan
pendamping atau keluarga dan memiliki perasaan
aman di rumah.
12
11
4) Keselamatan kognitif
Keselamatan kognitif berkaitan dengan masalah yang
dapat ditimbulkan akibat gangguan kognitif pada
lansia seperti demensia.
JENIS BAHAYA YANG DAPAT TERJADI
PADA LANSIA DI RUMAH
Bahaya atau insiden dapat terjadi di mana saja, termasuk di
rumah. Keluarga harus mengenali jenis-jenis bahaya yang
mungkin terjadi, antara lain bahaya/insiden terkait dengan fisik
dan bahaya/insiden terkait dengan psikologis:
Apa saja bahaya yang berkaitan dengan fisik?
Jatuh
Lansia banyak mengalami jatuh karena penurunan fungsi
tubuh dan adanya gangguan keseimbangan serta faktor
lingkungan seperti lantai licin dan tangga yang curam
13
12
Luka tekan
Luka tekan pada lansia disebabkan karena faktor aktivitas,
mobilisasi dan gesekan
Kebakaran
Kebakaran dapat terjadi akibat lansia atau keluarga yang
lupa mematikan kompor, atau akibat dari listrik
Keracunan
Keracunan bisa saja terjadi dikarenakan salah makan,
adanya makanan basi/kadaluarsa di kulkas, juga
obat-obatan yang sudah kadaluarsa.
14
13
Apa saja bahaya yang berkaitan dengan
psikososial ?(8)
Seringkali kita mengabaikan bahaya yang berkaitan dengan
psikososial, karena mungkin dianggap bukan sebagai masalah.
Namun terdapat beberapa masalah psikososial yang dapat
dialami lansia di rumah antara lain:
Kesepian karena kehilangan pasangan dan teman dalam
jangka panjang
Merawat pasangan yang sakit
Kesulitan mengatur aktivitas secara mandiri
Menyesuaikan dan menerima perubahan fisik akibat
penuaan
Mengatasi masalah medis yang sedang berlangsung
Meningkatnya jumlah obat sehari-hari
Merasa terisolasi dan kurang penting karena anak-anak
sudah dewasa dan kurang memperhatikan orang tuanya
Merasa tidak mampu untuk bekerja
Kurangnya kegiatan rutin sehari-hari
Hambatan keuangan karena penghasilan berkurang
15
14
MENGENALI TANDA-TANDA BAHAYA
YANG HARUS DIWASPADAI
OLEH KELUARGA
Apa saja tanda- tanda bahaya yang harus
diwaspadai oleh keluarga?
Tanda-tanda bahwa seorang lanjut usia membutuhkan bantuan
karena tidak bisa lagi sepenuhnya mandiri, bisa dilihat pada:
1. Penampilan Fisik
- Tampilan tidak rapi/ tidak bersih menunjukkan lansia
kesulitan mandi, berpakaian dan dandan.
- Terdapat luka bekas jatuh/memar di badan tanda
bahwa lansia sudah jatuh atau menghadapi kesulitan
berjalan/berpindah tempat.
- Terdapat luka bakar menunjukkan lansia menghadapi
kesulitan memasak
2. Tampilan rumah dan sekitarnya
- Halaman rumah yang tidak terpelihara seperti biasanya
kesulitan melaksanakan tugas sehari-hari.
- Bagian dalam rumah yang tidak terpelihara seperti
biasanya kesulitan melaksanakan tugas sehari-hari.
- Kendaraan tergores menunjukkan kemunduran
kemampuan mengemudi
16
15
- Noda bekas tumpahan di lantai atau karpet rumah
- Bau pesing di dalam rumah tanda penurunan kemampuan
menahan buang air kecil.
- Bekas hangus pada panci atau alat masak menandakan
lansia lupa pada saat memasak, sehingga hangus.
- Tidak adanya makanan di rumah menunjukkan
kemungkinan penurunan kemampuan melaksanakan tugas
sehari hari.
- Resep yang tidak dibeli kesulitan melaksanakan tugas
sehari-hari.
17
16
DAFTAR PUSTAKA
1. Meiner SE. Gerontologic Nursing. FifthEditi. Vol. (5)2, Elsevier.
Missouri: Elsevier; 2015. 285–299 p.
2. Kivimäki T, Stolt M, Charalambous A, Suhonen R. Safety of older
people at home: An integrative literature review. Int J Older People
Nurs. 2020 Mar;15(1):e12285.
3. Wold GH. Meeting Safety Needs of Older Adults. Elsevier.
2012;6th:167–79.
4. Dorward M, Endowed S, Helen W, Hill C, Reichel W. Reichel ’ s Care of
the Elderly. Sixth edit. New York: Cambridge University Press; 2009.
5. Kementrian Kesehatan RI. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2018. 2019. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan
6. Susilowati IH, Nugraha S, Sabarinah S, Peltzer K, Pengpid S, Hasiholan
BP. Prevalence and risk factors associated with falls among
community-dwelling and institutionalized older adults in indonesia.
Malaysian Fam Physician. 2020;15(1):30–8.
7. Sari SP, Everink IH, Sari EA, Afriandi I, Amir Y, Lohrmann C, et al. The
prevalence of pressure ulcers in community-dwelling older adults: A
study in an Indonesian city. Int Wound J. 2019;16(2):534–41.
8. Erwanto R, Endah D, Amigo T. E. Sekolah Lansia. Sleman: Yayasan
Indonesia ramah Lansia; 2020.
9. Nelwan IS, Amelia I, Gondodiputro S, Thaib C. Panduan Hidup Sehat
Bagi Lansia dan Pendamping. Bandung; 2018.
18
17
MODUL III
BUDAYA KESELAMATAN LANSIA AMAN
DAN SELAMAT DARI RISIKO (LANSIA ASRI)
UNTUK MENINGKATKAN KESELAMATAN
LANSIA DI RUMAH
19
18
MEMAHAMI BUDAYA KESELAMATAN
Apakah budaya keselamatan itu?
Budaya keselamatan merupakan gabungan dari sikap nilai,
keyakinan, norma dan persepsi dari pekerja yang berkaitan
dengan keselamatan, perilaku aman dan praktek yang aman (1) .
Pengertian budaya keselamatan lansia di keluarga adalah
sebagai nilai-nilai, norma, keyakinan dan seperangkat perilaku
yang dikembangkan oleh keluarga yang berkaitan dengan
keselamatan lansia di rumah.
Motto Budaya Keselamatan
LANSIA ASRI
A : Ciptakan lingkungan yang AMAN bagi lansia
S : SELAMATkan lansia dari risiko yang dapat membahayakan
R : Kenali RISIKO yang dapat mengancam lansia
I : Tingkatkan IMAN dan takwa agar selamat lahir dan bathin
Apa saja budaya keselamatan yang harus
dikembangkan oleh keluarga?
Selama merawat lansia di rumah, keluarga perlu
mengembangkan budaya keselamatan yang terdiri dari 4
aspek/dimensi yaitu:
1) Dimensi individu(2)
Dimensi individu ini berkaitan dengan aspek yang melekat
pada individu anggota keluarga pengasuh lansia.
20
19
2) Dimensi lingkungan(2)
Dimensi lingkungan ini berkaitan dengan kondisi lingkungan
rumah yang aman bagi lansia.
3) Dimensi perilaku(2)
Dimensi perilaku ini berkaitan dengan bagaimana keluarga
bertindak dalam rangka mengupayakan keselamatan bagi
lansia di rumah.
4) Dimensi Spiritual(3)
Dimensi spiritual berkaitan dengan bagaimana keluarga
menanamkan keyakinan spiritual berkaitan dengan kesela-
matan lansia.
Lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
DIMENSI INDIVIDU
Beberapa hal yang harus dimiliki oleh keluarga antara lain :
Terdapat anggota keluarga pengasuh lansia yang
bertanggungjawab dalam merawat lansia
Pengetahuan (2,4,5)
Keluarga lansia perlu memiliki pengetahuan yang cukup
dalam memberikan perawatan yang aman dan
pencegahan bahaya/insiden di rumah sehingga dapat
meningkatkan keselamatan lansia.
21
20
Sikap(2)
Sikap keluarga yang mendukung keselamatan sebagai
sesuatu yang penting dan menjadi prioritas akan
berpengaruh pada bagaimana pendamping bertindak
dalam mengupayakan keselamatan.
Keterampilan (2,4,5)
Kemampuan anggota keluarga pengasuh lansia
dalam memberikan perawatan yang aman,
melakukan pencegahan dan penanganan yang
berkaitan dengan insiden di rumah juga diperlukan.
Jika pendamping/keluarga tidak terampil dalam
merawat, maka akan berpotensi menyebabkan
bahaya bagi lansia.
Motivasi (2)
Motivasi keluarga lansia dalam merawat lansia akan
mempengaruhi bagaimana keluarga lansia
memperlakukan lansia. Dalam konteks budaya di
Indonesia motivasi merawat biasanya berkaitan
dengan kewajiban anak atau pasangan terhadap
lansia, merawat sebagai ladang pahala, merawat
sebagai bentuk tanggungjawab anak/pasangan
kepada lansia(6).
22
21
DIMENSI LINGKUNGAN
Lingkungan internal di dalam rumah yaitu berkaitan dengan
kondisi rumah seperti lantai, tangga, pencahayaan, dapur,
kamar mandi, kamar tidur, yang tentunya harus ramah lansia.
Lingkungan eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan di
sekitar rumah lansia. Lingkungan eksternal dapat berupa
kondisi fisik ( misalnya jalan yang licin, tidak rata, dan banyak
kendaraan) ataupun berupa sosial (misalnya komunitas,
pergaulan dengan tetangga, dan orang asing yang
mengancam keamanan).
23
22
Lingkungan rumah Ramah Lansia Vs Tidak Ramah Lansia(4-6)
Rumah Ramah Lansia Rumah Tidak Ramah Lansia
KONDISI UMUM
Lantai tidak licin Lantai licin
Vs
Ventilasi Udara Baik dan Ventilasi udara tidak baik.
ruangan tidak terlalu terang Ruangan terlalu gelap
dan tidak terlalu gelap
Vs
24
23
Ruang tidur berada di Ruang tidur berada di
lantai dasar lantai atas
Vs
Perabot tak terlalu Perabot terlalu
banyak hingga ruang banyak hingga ruang
gerak terasa bebas
gerak terbatas
Vs
Kabel listrik tertata Kabel listrik tidak
dengan baik tertata dengan baik
Vs
25
24
Jika menggunakan Alas karpet mudah
alas karpet, pastikan goyah dan terdapat
tidak mudah bergerak
dan tidak ada lipatan lipatan
Vs
Terdapat pintu darurat Tidak terdapat pintu
darurat
Vs
Kotak penyimpanan obat Kotak penyimpanan obat susah
mudah dijangkau lansia, dijangkau, penyimpanan kurang
diberi label jelas dan tidak
baik dan terdapat obat yang
ada yang kadaluarsa kadaluarsa
Vs
26
25
Tangga tidak curam dan tidak terdapat Tangga curam dan
benda-benda di sekitar tangga berantakan
Vs
KAMAR TIDUR
Tinggi tempat tidur disesuakan Tinggi tempat tidur tidak
dengan tinggi badan, disesuaikan dengan
tinggi badan
memudahkan untuk naik turun
Vs
Gunakan pembatas tempat tidur Tidak terdapat
untuk mencegah jatuh pembatas tempat tidur
Vs
27
26
Tersedia telepon rumah/HP Tidak tersedia telepon
di kamar tidur Dan terdapat rumah/HP di kamar tidur
nomor telepon darurat
Vs
Perabotan di kamar tidur tertata Perabotan di kamar tidur
rapih, sehingga membebaskan berantakan sehingga ruang
ruang gerak lansia gerak lansia terbatas
Vs
DAPUR
Perlengkapan dapur terutama Perlengkapan dapur
yang tajam disimpan di tempat berserakan di tempat terbuka
aman dan tertutup
Vs
28
27
Benda-benda mudah terbakar Benda mudah terbakar dekat
dijauhkan dari kompor dengan kompor
Vs
Pastikan kompor gas aman untuk Pemakaian kompor gas yang
menghindari kebakaran. Lansia tidak aman
risiko tinggi, misalnya yang sering
jatuh sebaiknya tidak melakukan
aktivitas di dapur
Vs
KAMAR MANDI
Lantai dialasi karet agar Lanta licin karena tidak
tidak licin dialasi karet
Vs
29
28
Pembuangan air baik sehingga Terdapat genangan air
tidak ada genangan air karena pembuangan air
tidak baik
Vs
Terdapat tempat duduk di Tidak terdapat tempat
kamar mandi sehingga lansia duduk di kamar mandi
dapat duduk saat mandi
Vs
Jamban duduk dengan Jamban jongkok berpotensi
tinggi yang memudahkan menyulitkan lansia untuk
untuk duduk dan berdiri duduk dan berdiri
Vs
30
29
Terdapat pegangan di sekeliling tembok Tidak tersedia pegangan di
kamar mandi agar tak mudah jatuh dan sekeliling tembok kamar
mandi
memudahkan pergerakan
Vs
Jika ada tangga menuju kamar mandi, Tidak ada pegangan pada
harus ada pegangan dan pencahayaan tangga menuju ke kamar
mandi, dan pencahayaan
yang cukup. Jalan masuk dari luar ke gelap. Jalan masuk dari
dalam kamar mandi cukup untuk kursi luar ke dalam kamar mandi
roda dan pendamping sempit
Vs
31
30
DIMENSI PERILAKU
Perilaku yang berkaitan budaya keselamatan, antara lain :
1. Komunikasi (2,4,10)
Lakukanlah komunikasi yang terbuka antara lansia dengan
pendamping/keluarga, juga antar anggota keluarga.
Jika ada masalah yang berkaitan dengan perawatan lansia,
atau keselamatan lansia, anggota keluargaa lain yang tidak
tinggal serumah sebaiknya diberitahukan.
Keluarga dapat membuat WA Group atau melakukan
pertemuan rutin membahas kondisi lansia.
32
31
2. Kerjasama(2,4,10)
Kerjasama antar anggota keluarga/pendamping di dalam
rumah ataupun dengan yang tidak satu rumah perlu dilakukan.
Kerjasama dapat berupa :
Penjadwalan dalam merawat lansia
Kerjasama dalam memberikan bantuan untuk keperluan
merawat lansia atau memenuhi kebutuhan keselamatan
lansia
3. Belajar(10)
Pengalaman menjadi pelajaran yang berharga dalam
merawat lansia. Riwayat kejadian yang pernah dialami
berkaitan dengan insiden diharapkan dapat membuat
keluarga menjadi lebih waspada dan berhati-hati.
Belajar dapat dilakukan juga dengan membaca dari
berbagai sumber media cetak atau elektronik, mengikuti
webinar atau mengikuti penyuluhan yang dilaksanakan di
Posbindu atau Prolanis
4. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga dapat berupa :
a. Dukungan instrumental
Memenuhi kebutuhan dasar lansia (memberi makan,
minum, kebersihan diri)
33
32
Memberikan obat-obatan dan vitamin
Mendampingi saat berobat
Memfasilitasi lingkungan rumah yang aman
Ajak lansia untuk jalan-jalan keluar rumah
b. Dukungan informasional
Mengingatkan lansia untuk lebih hati-hati
Memberikan pengertian jika ada kondisi yang
membahayakan
Konsultasi dengan tenaga kesehatan terkait
pencegahan dan penanganan jika ada insiden di
rumah
c. Dukungan Emosional
Keluarga menanggapi jika lansia ada masalah
Keluarga menunjukkan wajah yang menyenangkan
saat berbicara dengan lansia
Keluarga merawat dengan penuh kasih sayang
Keluarga menghibur saat lansia sedih
Keluarga membantu lansia saat menghadapi masalah
d. Dukungan Penghargaan
Keluarga menghormati lansia
Keluarga memberi kesempatan lansia mengikuti
kegiatan social
34
33
Keluarga melibatkan lansia jika ada acara keluarga
Keluarga melibatkan lansia dalam mengambil keputusan
5. Melakukan Pengawasan dan Tindakan untuk Mencegah
Bahaya Fisik
Awasi dan damping saat lansia berada di tempat yang
gelap
Awasi dan damping saat lansia beraktivitas di dapur
Cek ulang kompor dan listrik saat hendak meninggalkan
r1u.maYehung KC, Chan CC. Measuring safety climate in elderly homes. J
Safety Res [Internet]. 2012;43(1):9–20. Available from:
Perhhatttpik:a//ndxp.deonig.ogrgu/n1a0a.10n1o6/bj.ajstr.2011.10.009
L2a.kukan penataan perabotan rumah dengan baik dan
amaGneller ES. The Psychology of Safety Handbook. Florida: Lewis
Publishers; 2001.
3. Keenan PM. Spiritual vulnerability, spiritual risk and spiritual safety—
answer to a question: ‘why is spirituality important within health and
social care?’ at the ‘second international spirituality in healthcare
conference 2016—nurturing the spirit.’ trinity col. Religions.
2017;8(3):2015–7.
4. Feng X, Bobay K, Weiss M. Patient safety culture in nursing: a
dimensional concept analysis. JAN Theor Pap. 2008;(May).
5. Kruger N, Hurley AC, Gustafson M. Framing patient safety initiatives:
working model and case example. J Nurs Adm. 2006
Apr;36(4):200–4.
6. Solihin AH. PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT LANSIA
YANG MENGALAMI ALZHEIMER DI KOTA BANDUNG [Internet]. 2012
(Thesis - 000117187 ). A3v5ailable from:
http://repository.unpad.ac3.4id/frontdoor/index/index/docId/117187
DIMENSI SPIRITUAL
Aspek spiritual lansia diantaranya keyakinan, nilai, komitmen dan
agama yang dianut. Dalam hal ini, keagamaan merupakan faktor
utama yang tidak dapat diabaikan. Masalah spiritual yang sering
ditemukan yaitu distress spiritual. Distres spiritual dapat timbul
seiring dengan seseorang mencari makna tentang apa yang
terjadi pada dirinya yang mungkin dapat mengakibatkan
seseorang merasa sendiri dan terkucilkan dari pergaulan.
Bagaimana kaitan spiritual dengan keselamatan??
Terdapat dua hal penting dalam dimensi spiritual yang dapat
meningkatkan keselamatan lansia, yaitu:
36
35
Keyakinan spiritual
Keyakinan bahwa musibah merupakan ketentuan dari Tuhan
dapat membuat lansia lebih pasrah menerima musibah,
namun pendamping/keluarga harus tetap berupaya untuk
mencegah dan mengatasi jika ada bahaya terjadi.
Praktek ibadah
Lansia di Indonesia sebagian besar merupakan penganut
agama yang baik. Praktek ibadah seperti shalat, berdo’a dan
membaca kitab suci diyakini dapat meningkatkan
keselamatan lansia terutama keselamatan psikologis.
Berdo’a agar dijauhkan dari bahaya, diberi keselamatan
juga membuat lansia merasa lebih aman.
Keluarga pengasuh lansia dapat membantu memfasilitasi
lansia melaksanakan ibadah dengan cara(11) :
Mengingatkan apabila sudah masuk waktu ibadah
Menawarkan bantuan pada lansia dalam pelaksanaan
ibadah sesuai dengan kondisinya
Memastikan lansia dalam keadaan bersih agar lansia dapat
beribadah dengan baik dan tenang
Meletakkan perlengkapan ibadah ditempat yang mudah
dilihat dan dijangkau
Memfasilitasi lansia untuk mendapatkan bimbingan rohani di
lingkungan terdekat sesuai dengan agama dan keyakinan
lansia.
37
36
DAFTAR PUSTAKA
1. Yeung KC, Chan CC. Measuring safety climate in elderly homes. J
Safety Res [Internet]. 2012;43(1):9–20. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jsr.2011.10.009
2.
Geller ES. The Psychology of Safety Handbook. Florida: Lewis
Publishers; 2001.
3. Keenan PM. Spiritual vulnerability, spiritual risk and spiritual safety—in
answer to a question: ‘why is spirituality important within health and
social care?’ at the ‘second international spirituality in healthcare
conference 2016—nurturing the spirit.’ trinity col. Religions.
2017;8(3):2015–7.
4. Feng X, Bobay K, Weiss M. Patient safety culture in nursing: a
dimensional concept analysis. JAN Theor Pap. 2008;(May).
5. Kruger N, Hurley AC, Gustafson M. Framing patient safety initiatives:
working model and case example. J Nurs Adm. 2006
Apr;36(4):200–4.
6. Solihin AH. PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT LANSIA
YANG MENGALAMI ALZHEIMER DI KOTA BANDUNG [Internet]. 2012.
(Thesis - 000117187 ). Available from:
http://repository.unpad.ac.id/frontdoor/index/index/docId/117187
7. Nelwan IS, Amelia I, Gondodiputro S, Thaib C. Panduan Hidup Sehat
Bagi Lansia dan Pendamping. Bandung; 2018.
8. Public Health Agency of Canada. The Safe Living Guide A guide to
home safety for seniors. 2015.
9. Dorward M, Endowed S, Helen W, Hill C, Reichel W. Reichel ’ s Care of
the Elderly. Sixth edit. New York: Cambridge University Press; 2009.
38
10. Sorra J, Gray L, Famolaro T, You3n7t N, Behm J. Nursing Home Survey on
Bagi Lansia dan Pendamping. Bandung; 2018.
8. Public Health Agency of Canada. The Safe Living Guide A guide to
home safety for seniors. 2015.
9. Dorward M, Endowed S, Helen W, Hill C, Reichel W. Reichel ’ s Care of
the Elderly. Sixth edit. New York: Cambridge University Press; 2009.
10. Sorra J, Gray L, Famolaro T, Yount N, Behm J. Nursing Home Survey on
Patient Safety Culture [Internet]. 2018. Available from:
http://www.ahrq.gov/professionals/quality-patient-safety/patientsafet
yculture/ nursing-home/index.html
11. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktis untuk Caregiver dalam
Perawatan Jangka Panjang Bagi Lanjut Usia. 2019. 11–12 p.
39
38
MODUL IV
PERAN KELUARGA DAN TINDAKAN
YANG PERLU DIPERHATIKAN
KELUARGA
40
39
MEMAHAMI PERAN KELUARGA
Apa tugas perkembangan keluarga yang
memiliki lansia?
Menurut Duval & Miller (1,2) tugas keluarga lansia adalah:
Penyesuaian tahap masa pensiun dengan cara
merubah cara hidup,
Menerima kematian pasangan, kawan dan
mempersiapkan kematian,
Memertahankan keakraban pasangan dan saling
merawat
Melakukan life review masa lalu dan memahami
eksistensi hidup.
Apa saja peran keluarga dalam keselamatan
lansia?
1. Asistensi dalam tugas sehari-hari(3–8)
Peran keluarga yang terkait dengan asistensi dalam tugas
sehari-hari meliputi modifikasi keselamatan, membantu
dalam mengatur keuangan serta transportasi.
2. Membantu Perawatan diri
Keluarga membantu lansia dalam aktivitas perawatan diri
seperti mandi dan mengurus rumah(7)
41
40
3. Memberikan dukungan emosional dan sosial (4,5,7)
Menghargai lansia
Membangun hubungan lansia dengan lingkungan
4. Memberikan perawatan kesehatan(7,9–12)
Membantu perawatan dasar
Pengaturan pengobatan
5. Memberikan advokasi dan koordinasi (3,8,11,13–19)
Memberikan informasi kepada tenaga kesehatan
Berkomunikasi dengan tenaga kesehatan
Terlibat dalam pengambilan keputusan
42
41
Penting diperhatikan oleh keluarga lansia! (20)
Selalu menjaga kesehatan diri sendiri
Luangkan waktu setiap hari untuk melakukan sesuatu untuk
diri sendiri seperti : membaca, mendengarkan musik dan
tetap melakukan komunikasi dengan orang-orang terdekat
Konsumsi makanan sehat dan jangan melewatkan waktu
makan
Sebaiknya anggota keluarga lain harus dilibatkan dalam
tugas pemberian perawatan.
Tugas memberikan perawatan sewaktu-waktu dapat
digantikan oleh anggota keluarga lain/teman/tetangga agar
keluarga lansia dapat beristirahat atau melakukan urusan
pribadinya. Peralihan tugas diberikan setelah pendampingan
bersama kurang lebih selama satu minggu.
Dianjurkan secara rutin untuk menghadiri
pertemuan/kegiatan pada kelompok keluarga lansia
sehingga dapat berinteraksi dengan sesama agar dapat
bertukar informasi, saling menyemangati dan terlepas dari
rutinitas untuk sementara waktu.
Keluarga juga perlu untuk mengembangkan diri,
meningkatkan kesejahteraan dan mendapatkan
perlindungan sosial.
43
42
Ingat…!!!!
Dalam melakukan perawatan pada lansia, perlu bekerjasama
dengan anggota keluarga lainnya, kader/relawan, dan
berkonsultasi dengan tenaga kesehatan khususnya dalam hal
perawatan yang dapat dilakukan di rumah atau tempat tinggal
lainnya.
Apabila menemukan kendala dalam melakukan suatu tindakan
perawatan pada lansia, diharapkan segera berkonsultasi
dengan tenaga kesehatan.
44
43
BAGAIMANA BERKOMUNIKASI
DENGAN LANSIA?
Komunikasi harus dilakukan dengan baik, agar pesan yang
ingin disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan
baik.
Apa Manfaat komunikasi yang baik?(21)
Membangun hubungan dan kepercayaan yang baik
Meningkatkan hubungan baik dan saling memahami
Mengurangi stress
Apa Kerugian akibat komunikasi yang buruk?(21)
Komunikasi yang buruk akan merugikan keluarga lansia
maupun lansia karena dapat menimbulkan:
Kekesalan
Frustasi
Kesalahpahaman dan perasaan negative lainnya
Apa Penyebab kesulitan dalam berkomunikasi?(21)
Masalah fisik : misalnya kehilangan atau menurunnya
kemampuan mendengar, melihat, bicara, meraba, alat
bantu dengar tak berfungsi dengan baik, dll.
Masalah perilaku : misalnya masalah dalam sikap,
persepsi dan tindakan ( dapat dipengaruhi oleh pola
asuh, pendidikan, budaya, kepercayaan, dll atau gejala
kepikunan).
45
44
Kemampuan berkomunikasi yang buruk
a) Kurangnya kemampuan dalam menyampaikan
pesan termasuk Bahasa, ucapan, nada dan teknik
ekspresi wajah dan bahasa tubuh.
b) Kurang mampu mendengarkan dan mengamati
dengan baik, serta menunjukkan bahwa pesan itu
dipahami.
Masalah lingkungan : misalnya lingkungan yang bising
Bagaimana teknik komunikasi pada lansia?(22)
1. Teknik asertif dan
Sikap menerima, memahami, peduli
memperhatikan ketika lansia berbicara
2. Responsif
Bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan
dari lansia
3. Fokus
Tetap konsisten terhadap materi atau bahan
pembicaraan
46
45
4. Supportif
Sikap menumbuhkan kepercayaan diri lansia agar
tidak merasa menjadi beban
5. Klarifikasi
Mengajukan pertanyaan ulang dan memberi
penjelasan agar dapat dipahami dan diterima oleh
lansia
Bagaimana kiat melakukan komunikasi
dengan lansia?(21)
Secara umum:
a) Gunakan metode komunikasi yang sesuai, missal: Tanya
jawab/Bahasa isyarat sederhana
b) Bicaralah secara perlahan, jelas dalam nada yang normal
c) Fokuskan pada satu pembicaraan dan ulangi pesan jika
perlu
d) Lakukan kontak mata dengan lansia dengan posisi sejajar
untuk menciptakan suasana yang nyaman sehingga lansia
lebih terbuka
e) Mendengarkan dengan sabar dan berfokus pada apa yang
sebenarnya lansia sampaikan
47
46
f) Konfirmasikan kembali pesan yang telah diterima dengan
meminta lansia mengulangi pesan yang disampaikan, atau
keluarga lansia mengulangi pesan yang disampaikan lansia
g) Beri dukungan lansia untuk menyampaikan kebutuhan,
pandangan, dan keinginan mereka, bersabarlah, dan beri
waktu lansia untuk menyampaikan hal tersebut
h) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh lansia ( misal
penggunaan Bahasa daerah)
Kiat berkomunikasi dengan lansia yang mengalami
masalah komunikasi:
a) Periksa keadaan telinga apakah ada yang
menghalangi/menyumbat. Bila menggunakan alat bantu
dengar, pastikan dalam kondisi baik dan terpasang dengan
benar.
b) Lakukan kontak mata dengan lansia, gunakan kacamata
bagi lansia yang mengalami gangguan penglihatan.
Kontak mata sangat penting untuk komunikasi non verbal.
c) Pastikan lansia dapat melihat gerakan bibir anda dengan
jelas ( jangan melebih-lebihkan),
d) Gunakan isyarat tubuh dan gerakan yang sesuai,
e) Berbicara dengan jelas pada kecepatan normal tetapi
dengan nada yang lebih rendah,
48
47
f) Bila perlu gunakan papan tulis/kertas untuk menuliskan
pesan/kode, gambar-gambar objek dan aktivitas yang
umum dibutuhkan seperti minuman dingin, minuman
panas, makanan, waktu, radio/televisi, sisir rambut, sikat
gigi, gelas, toilet,dll. Dapat juga dibuat dalam bentuk kartu.
g) Gunakan tanda dan gerakan, tunjukkan objek, ekspresi
wajah, dan tindakan fisik lainnya, misalnya menunjuk,
menggunakan gerakan mata, dll.
h) Jangan pernah memperlakukan lansia yang tidak dapat
berbicara seolah-olah dia seorang anak atau seseorang
yang tidak memiliki kecerdasan.
i) Penting untuk melibatkan lansia dalam percakapan dan
memberi waktu untuk berkontribusi. Berbicara dengan
lansia tanpa memberi mereka waktu untuk menjawab akan
menghancurkan kepercayaan diri dan membuat mereka
menyerah untuk berusaha mengemukakan keinginan dan
pilihan mereka.
49
48
PEMELIHARAAN KEBERSIHAN DAN
KEAMANAN LINGKUNGAN(21)
Apa tujuannya?
Untuk mencegah timbulnya penyakit karena keadaan
lansia yang rentan, mencegah terjadinya kecelakaan, dan
menjaga kesehatan anggota keluarga yang lain.
Apa saja yang harus dilakukan?
Menjaga dan mempertahankan kebersihan dengan selalu
mencuci tangan menggunakan sabun
Buang kotoran ke dalam kakus/kloset jika menggunakan
popok sekali pakai, setelah kotoran dibuang, bersihkan sisa
kotoran yang menempel pada popok kemudian bungkus
popok dalam kantong dan sebaiknya tidak dicampur
dengan sampah rumah tangga yang lain agar tidak
terbongkar oleh binatang atau manusia’
Selalu mengganti baju minimal setelah mandi pagi dan
sore atau jika berkeringat, serta handuk, sprei, selimut dan
sarung bantal guling minimal seminggu sekali atau segera
jika terkena kotoran.
Bersihkan ruangan dan buang sampah setiap hari.
Buka jendela dan pintu ruangan setiap pagi agar udara
berganti dan usahakan agar sinar matahari masuk
ruangan.
50
49