PEMANTAUAN PENGGUNAAN OBAT
Keluarga lansia perlu mengenali obat-obatan yang sedang
digunakan oleh lansia sesuai anjuran/resep dokter atau
petugas kesehatan.
Bagaimana cara menggunakan obat dengan
benar? :(21,22)
Minumlah obat sesuai petunjuk penggunaan: pelajari dosis,
waktu dan cara pemberian obat sesuai petunjuk.
Konsultasi dengan dokter jika akan menghentikan
penggunaan suatu obat. Misalnya jika ada efek samping
atau jika obat tidak berefek.
Perhatikan obat yang sedang dikonsumsi: pastikan obat
tersebut sedang digunakan sesuai instruksi petugas
kesehatan. Bila ada obat yang sudah tidak digunakan agar
terpisah sendiri
Perhatikan cara penyimpanan: harus sesuai petunjuk
Jangan minum obat orang lain, meskipun memiliki keluhan
yang sama
Cek tanggal kadaluarsa: obat yang sudah kadaluarsa harus
dibuang
51
50
Untuk memudahkan lansia dan keluarga , sebaiknya obat
yang akan diberikan sudah dipilah menurut dosis dan waktu
pemberian untuk setiap harinya. Untuk memudahkan
pemantauan, dapat dibuat format seperti contoh di bawah
ini:
Tabel Contoh Format Pemantauan Pemberian
Obat pada Lansia
Tgl Nama Cara Waktu Jumlah Waktu ket
obat pakai Pagi Siang Sore Malam obat kontrol
52
51
PERTOLONGAN PERTAMA PADA
KEADAAN DARURAT
Apa itu pertolongan pertama?
Pertolongan pertama adalah tindakan langsung yang
diberikan kepada lansia yang mengalami keadaan yang
membahayakan jiwanya sebelum ambulan atau petugas
kesehatan tiba.
Apa tujuannya?
Tujuan dari pertolongan pertama adalah untuk mengambil
langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan hidup
lansia apabila lansia mengalami kondisi kegawatdaruratan.
Hal penting yang perlu diperhatikan oleh keluarga lansia
diantaranya:
1) Segera hubungi petugas kesehatan dan ambulan
2) Meminta bantuan orang terdekat atau tetangga
3) Amankan lingkungan sekitar lansia dan hindarkan jalur
pemindahan lansia dari penghalang
4) Selama menunggu bantuan datang, jangan
melakukan tindakan tertentu apabila tidak yakin atau
ragu-ragu
5) Menanyakan apa saja yang bisa dilakukan kepada
petugas kesehatan melalui alat bantu komunikasi
53
52
Ingat…!!!!
a. Saat melakukan bantuan selalu libatkan orang lain
dan minta bantuan orang lain (anggota keluarga lain
atau tetangga untuk menghubungi petugas kesehatan
sembari memberikan bantuan pada Lansi)
b. Simpan nomor darurat dimana semua orang dapat
menemukannya
c. Simpan kotak pertolongan pertama dan periksa isinya
secara teratur
d. Pastikan keluarga lansia telah dilatih tentang
pertolongan pertama pada keadaan darurat
e. Pemberian penanganan utama merupakan
kewenangan petugas kesehatan
54
53
Apa saja kondisi darurat dan penanganan
yang bisa dilakukan caregiver?
1. Luka lecet/tergores/tersayat(22)
Cucilah dengan air mengalir
Tutup luka dengan plester atau kassa
Jika luka gores/robek terlalu besar, harus segera
ditangani dokter
2. Keracunan(22)
Berilah minum (air biasa, susu, dan air kelapa) sebanyak
mungkin hingga korban bisa muntah, dan bawalah ke
dokter.
3. Penurunan Kesadaran(21)
Gangguan kesadaran dapat terjadi karena beberapa
kondisi seperti: payah jantung, serangan jantung, infeksi
paru-paru, infeksi saluran kemih, gula darah terlalu rendah,
atau gila darah terlalu tinggi dan kadar garam terlalu
rendah, dsb.
55
54
Bila keluarga mendapati lansia mengalami penurunan
kesadaran/tidak sadarkan diri, sebaiknya lakukan hal
berikut:
Baringkan lansia tanpa alas bantal di kepala
Naikkan bagian kaki dengan menambahkan ganjalan
(bisa dengan menggunakan bantal atau selimut yang
digulung) sehingga posisi mata kaki lebih tinggi dari dada
lansia.
Pastikan tidak ada sesuatu yang
menutupi bagian hidung dan
tenggorokan lansia agar tetap
bernafas dan aliran udara
tetap masuk. Bila ada segera
bersihkan.
Periksa apakah masih ada nafas
dan denyut jantung dengan meletakkan tangan di atas
dada lansia, dari hidung terasa ada hembusan angina
yang berasal dari pernafasannya.
Bila tidak ada pernafasan, lakukan pernafasan buatan
dengan meniupkan udara pernafasan kita ke lansia
melalui mulut dan hidung.
Selain itu segera periksa adakah denyut nadi leher.
Bila tidak ada, maka segera
lakukan penekanan/kompresi
jantung dari luar sebanyak
15 kali diselingi 2 kali
pernafasan buatan
sehingga menghasilkan
denyut jantung sekitar
100x/menit
56
55
Jika lansia muntah maka miringkan badan dan kepala
agar tidak tersedak
Sambil melakukan pertolongan, segera panggil orang lain
agar mencari pertolongan petugas kesehatan dan
mencari ambulans untuk bantuan lebih lanjut
Tunggu hingga bantuan datang dan jangan memberikan
makanan atau minuman selama memberikan bantuan.
57
56
4. Luka Bakar (20-22)
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang
disebabkan karena adanya kontak dengan sumber panas
misalnya api, terkena air panas, tersentuh benda panas,
akibat sengantan listrik, akibat bahan kimia dan sengatan
matahari.
Tindakan yang harus diambil saat menangani luka bakar :
Hentikan sumber pembakaran misalnya matikan api,
cabut arus listrik, dsb.
Dinginkan area luka bakar atau
melepuh selama 2-3 menit di bawah
air mengalir atau rendam dalam
air dingin. Bila ada bahan kimia
alirkan terus menerus selama
20 menit atau lebih.
Tutup dengan kassa steril atau kain
bersih yang telah dibasahi dengan air
Jangan menggunakan mentega,
odol, kecap atau air es.
Panggil bantuan petugas kesehatan
atau rujuk ke rumah sakit
58
57
5. Patah Tulang (21-23)
Patah tulang atau tulang yang retak dapat disebabkan oleh
tekanan atau benturan keras yang dapat mengakibatkan
terjadinya retakan atau hingga patah tulang, baik tertutup
maupun terbuka.
Berikut ini merupakan tanda-tanda adanya patah tulang:
a. Nyeri di tempat luka atau disekitarnya
b. Timbul bengkak atau benjolan
c. Timbul memar
d. Bentuk anggota tubuh tidak terlihat normal,
dibandingkan dengan anggota badan lain
e. Pada patah tulang terbuka, dapat terjadi
perdarahan
f. Anggota tubuh yang terluka mengalamj
keterbatasan atau tidak bisa bergerak
h. Mungkin dapat timbul tanda-tanda syok (dada
berdebar, bibir dan mata pucat serta diikuti pingsan)
Jika keluarga mencurigai adanya patah tulang pada lansia,
lakukan langkah sebagai berikut:
a. Memanggil anggota keluarga yang lain atau tetangga
untuk segera mencari bantuan petugas kesehatan
59
58
b. Sementara orang lain sedang menghubungi petugas
kesehatan, caregiver dapat melakukan hal berikut:
1) Berikan penyangga dan cegah gerakan anggota
tubuh yang terluka
2) Tutupi luka terbuka (bila ada) dengan kassa atau
kain bersih
3) Pertahankan area yang terluka dalam posisi yang
paling nyaman
4) Mencegah pergerakan anggota tubuh dengan
meletakkan gulungan selimut atau bantal di samping
anggota tubuh yang terluka
5) Perhatikan apakah ada tanda-tanda penurunan
kesadaran. Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan
terdekat. Sebaiknya didampingi oleh petugas
kesehatan.
60
59
6. Perdarahan (21-23)
a. Perdarahan kecil dan luka yang tidak dalam
1) Bersihkan tangan keluarga lansia dengan sabun dan air,
keringkan, gunakan sarung tangan bila tersedia
2) Bersihkan luka dan daerah sekitar luka dengan air bersih,
lalu keringkan dengan kassa steril sambil ditekan untuk
menghentikan perdarahan
3) Oleskan antiseptic, letakkan kassa steril kering di atas luka
4) Balut luka dengan kassa steril, gunakan plester
5) Apabila setelah diberikan tekanan, perdarahan belum
berhenti,mungkin nadi atau pembuluh darah terputus.
6) Tetap lakukan penekanan sampai mendapatkan
penanganan oleh tenaga medis atau segera bawa ke
dokter.
b. Perdarahan Hebat
1) Bersihkan tangan dengan sabun dan air lalu pakai
sarung tangan
2) Hentikan perdarahan
dengan membebat bagian
yang terluka sambil
memberikan tekanan
selama sekitar 10 menit
61
60
3) Jika perdarahan terjadi pada anggota badan,
baringkan lansia dan angkat anggota badan yang
terluka
4) Balut dengan perban di atas kain pembebat, beri
tekanan lebih besar pada luka tetapi tidak terlalu
ketat untuk memungkinkan sirkulasi darah tetap
terjadi
5) Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat
6) Jika terdapat bagian tubuh yang tertusuk benda
bensar, jangan ambil bendanya. Berikan pengganjal
di kanan dan kiri benda tersebut, balut dengan
perban tanpa memberikan tekanan. Baru lakukan
rujukan
7. Syok (21,22)
Syok disebabkan karena kegagalan jantung untuk memompa
darah sehingga aliran darah di dalam tubuh menjadi
berkurang. Kondisi ini dapat terjadi karena perdarahan hebat,
kekurangan cairan yang parah (dehidrasi) dan penyakit
misalnya penyakit jantung. Tanda-tanda syok adalah sebagai
berikut:
62
61
a. Lansia terlihat pucat
b. Kulit dingin dan lembab
c. Bernafas cepat dan pendek
d. Denyut nadi cepat dan lemah
e. Dalam kasus lanjut, lansia bisa menjadi tidak sadar
Hal –hal yang harus dilakukan caregiver jika ditemukan
tanda-tanda syok pada lansia:
Baringkan lansia, angkat dan tahan kakinya pada posisi
yang lebih tinggi daripada kepala, kecuali apabila
terdapat luka di kepalanya.
Longgarkan pakaian
ketat terutama di
leher dan pinggang.
Pastikan sirkulasi
udara baik.
Jaga lansia agar tetap hangat dengan memakaikan
mantel atau selimut, tetapi jangan terlalu panas.
Jangan berikan makanan atau minuman apapun.
Periksa denyut nadi dan pernafasan secara teratur.
Berikan kenyamanan.
Konsultasi ke petugas kesehatan untuk penanganan lebih
lanjut
63
62
8. Tersedak(21,22)
Tersedak adalah terjadinya penyumbatan pada jalan nafas
yang menyebabkan kesulitan bernafas. Pada lansia yang
sering terjadi adalah tersedak saat pemberian makan karena
adanya penurunan kemampuan menelan.
Pada lansia yang mengalami
tersedak, dapat ditemui
tanda-tanda :
a. Kesulitan berbicara
dan bernafas,
b. Awalnya disertai
batuk-batuk
c. Tanda khas
tersedak; lansia
memegangi
lehernya dengan ibu jari dan jari telunjuk
d. Kulit wajah berwarna merah sampai menjadi
kebiruan,
e. Lansia memegang lehernya karena kesulitan
bernafas.
Apabila keluarga lansia menemui lansia yang mengalami
tersedak, lakukan:
a. Tenangkan lansia, minta untuk atur nafas sambil
mengeluarkan makanan/ minuman yang masuk ke
saluran nafas dengan cara mendehem atau batuk
64
63
Lakukan dorongan pada punggung lansia dengan
menggunakan telapak salhs satu tangan Anda sebelum
lanjut melakukan manuver Heimlich.
Jika tersedak dengan makanan padat yang cukup besar
hingga menyumbat jalan nafas seluruhnya, lakukan
langkah “ Manuever Hemlich” sebagai berikut:
Pertama keluarga lansia berdiri di belakang lansia.
Posisikan kepalan tangan dengan ibu jari pada perut
lansia bagian atas.
Kemudian pegang kepalan tangan pertama dengan
tangan kedua
Lakukan dorongan pada perut lansia dengan
menggunakan kedua tangan ke arah dalam dan ke atas
Lakukan dorongan ke perut 5 kali dengan cepat. Ulangi
dorongan hingga jalan nafas bebas dari sumbatan dan
lansia dapat batuk atau bernafas.
Jika lansia tidak sadarkan diri, segera cari bantuan
petugas kesehatan
65
64
9. Penanganan Pertama Saat Cidera dengan RICE(20)
a. Rest
Istirahatkan area yang cedera
Kurangi pergerakan yang berlebihan pada area yang
cedera
b. Ice
Masukan sejumlah es batu/es balok yang dihancurkan
ke dalam kantung plastic
Lapisi kantung plastic dengan handuk tipis basah
(apabila menggunakan ice bag, tidak perlu dilapisi
handuk)
Lakukan kompres es di lokasi cedera selama 15-20
menit tiap 2-3 jam dalam 72 jam pertama
c. Compression
Lakukan pembebatan pada kulit yang cedera
sepanjang hari, kecuali saat tidur.
Pembebatan dapat dilakukan dengan menggunakan
perban elastis
d. Elevation
Tinggikan area yang cedera di atas ketinggian
jantung. Elevasi dapat dilakukan saat tidur atau dalam
posisi terbaring.
66
65
PENCEGAHAN JATUH
Apa saja hal yang dapat dilakukan keluarga
untuk mencegah kejadian jatuh pada lansia?(24–28)
1. Mengenali faktor risiko, penilaian keseimbangan dan
gaya berjalan Keluarga dapat mengkaji apakah lansia
beresiko jatuh atau tidak, dengan menggunakan
pengkajian skala jatuh
2. Berikan Latihan fleksibilitas Gerakan, Latihan
keseimbangan fisik dan koordinasi keseimbangan
3. Melakukan evaluasi bagaimana keseimbangan
badannya dalam melakukan gerakan berpindah tempat
dan pindah posisi
4. Anggota keluarga dianjurkan menengok lansia secara
rutin, mengamati kemampuan dan keseimbangan dalam
berjalan, berjalan bersama dan membantu stabilitas
tubuh
5. Memperbaiki kondisi lingkungan yang dianggap tidak
aman
6. Menanggapi adanya keluhan pusing, lemas, atau adanya
penyakit yang baru
7. Pemberian informasi mengenai kejadian jatuh dan
pencegahannya
67
66
PENCEGAHAN LUKA TEKAN
Apakah luka tekan itu?
Luka tekan merupakan cedera yang diakibatkan tekanan,
gesekan, maupun kombinasi tekanan dan regangan pada
area tulang yang menonjol.
Bagaimana pencegahan luka tekan?
Pencegahan luka tekan dapat dilakukan dengan beberapa
tindakan yaitu(29-31)
a. Nutrisi dan Hidrasi
Berikan nutrisi yang seimbang pada lansia atau yang
berisiko mengalami kekurangan gizi
Optimalkan asupan energi, protein dan berikan
makanan yang sehat
Berikan cairan yang memadai
b. Perawatan kulit dan jaringan
Menjaga kulit tetap bersih
Bersihkan kulit segera setelah BAK
Gunakan produk pampers yang memiliki daya serap
baik untuk menjaga kulit lansia
Perhatikan penggunaan bahan yang tidak mudah
membuat lecet pada tempat tidur lansia
Hindari posisi lansia di area yang kemerahan
Hindari penggunaan sabun alkali
Hindari menggosok kulit dengan kuat
68
67
c. Perubahan posisi
Lakukan perubahan posisi sesuai dengan tingkat
aktivitas dan kemandirian lansia
Motivasi dan berikan pemahaman pada lansia agar
secara teratur merubah posisi saat di tempat tidur dan
duduk.
Posisi kepala diupayakan sedater mungkin. Hindari
posisi bungkuk yang dapat meningkatkan tekanan
pada area belakang dan tulang ekor.
Pastikan permukaan tempat tidur cukup lebar untuk
memungkinkan perubahan posisi
69
68
MENGENAL DAN MENGELOLA
STRES PADA LANSIA
Apa tujuannya?
Tujuan pengenalan dan pengelolaan stress pada lansia
adalah memberikan kenyamanan dan ketenangan bila
mengalami stress.
1. Stres pada lansia
Apa saja gejala stress pada lansia?
a. Gejala kognitif, diantaranya adalah : susah
konsentrasi, sulit mengambil keputusan, mudah lupa,
melamun secara berlebihan, dan pikiran kacau.
b. Gejala psikologis, diantaranya adalah: kecemasan,
ketegangan, mudah marah, kebosanan, gelisah,
gugup, takut, mudah tersinggung, dan sedih.
c. Gejala perilaku, diantaranya adalah meningkatnya
kebiasaan makan, merokok, bicara cepat, gelisah dan
gangguan tidur.
Apa saja faktor yang mempengaruhi stress pada lansia?
a. Kondisi kesehatan fisik
Penurunan kondisi fisiologis
Lansia dengan penyakit degeneratif (hipertensi, DM,
demensia dll).
Tidak rajin membiasakan pola hidup sehat
70
69
b. Kondisi psikologis
Memiliki perasaan sensitif
Merasa tidak berguna dan kurang dihargai
Minder dan menarik diri dari pergaulan
Sulit berkomunikasi
Kebingungan
Cemas
Kebencian
Kesedihan
c. Keluarga
Adanya konflik dalam keluarga
Kurangnya dukungan keluarga
Kematian atau perceraian
d.Lingkungan
Hubungan sosial atau kondisi lingkungan yang buruk
seperti macet, kepadatan, bising, cahaya ekstrem.
Hubungan social kemasyarakatan yang kurang
harmonis
Bagaimana cara penanganannya?
a. Berinteraksi dengan keluarga
Berikan perhatian pada lansia
Sering berkomunikasi yang baik
71
70
b. Olahraga
Lakukan olahraga secara teratur
Olahraga dapat meningkatkan kekuatan otot,
memperlancar aliran darah dan oksigen sehingga akan
lebih segar
c. Minum air putih
Minum air putih akan meningkatkana kesegaran dan
terhindar dari kekurangan cairan
d. Melakukan hobi
Melakukan hobi dapat meningkatkan kenangan indah
di masa muda yang dapat mengurangi stres
e. Mendekatkan diri pada Tuhan
Berdoa, melakukan ritual ibadah dan mendengarkan
kajian keagamaan dapat membawa ketenangan dan
perasaan ikhlas dalam menghadapi masalah.
2. Depresi pada lansia(22)
Apa itu depresi?
Depresi merupakan gangguan emosional yang sifatnya
berupa perasaan tertekan, tidak merasa Bahagia, sedih,
merasa tidak berharga, tidak mempunyai semangat, tidak
berarti dan pesimis terhadap hidup.
72
71
Apa saja gejala dari depresi?
Bad mood/gangguan perasaan hamper setiap hari
Insomnia (kurang tidur) atau hypersomnia (terlalu banyak
tidur)
Hilangnya minat dan rasa senang dalam aktifitas mereka
Berat bada menurun atau bertambah secara drastis
Kelelahan atau tidak memiliki tenaga
Sulit berkonstentrasi
Menurunnya harga diri
Adanya perasaan bersalah pada diri sendiri
Merasa pesimis dalam memandang masa depan
Adanya perubahan pola tidur
Berkurangnya nafsu makan
Merasa tidak berguna atau rasa bersalah yang berlebihan
Pikiran yang berulang tentang kematian
Adanya percobaan bunuh diri
Bagaimana penanganan depresi?
a. Penyembuhan dari diri sendiri
Sering berkumpul dengan banyak orang untuk
membangkitkan semangat hidup
Kontak social dengan cara menulis surat, mengirim
pesan lewat media elektronik
Mengisi waktu dengan aktifitas ringan seperti
menonton TV, menyiram bunga, olah raga.
Selalu berusaha berpikir positif
73
72
b. Penyembuhan dari keluarga dekat, keluarga jauhl
tetangga, teman dan lingkungan sekitar
Menjenguk lansia agar tidak merasa dilupakan
Luangkan waktu untuk meninmati kebersamaan
dengan lansia
74
73
DAFTAR PUSTAKA
1. Friedman MM, Bowden VR, Jones EG. Family Nursing: Research, theory
and practice. New Jersey: Prentice Hall; 2003.
2. Maryam S, Eksari MF, Rosidawati, Jubaedi A, Batubara I. Mengenal Usia
Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika; 2008.
3. Duhn L, Medves J. A 5-facet framework to describe patient Heal
engagement in patient safety. Heal Expect an Int J public Particip
care Heal policy. 2018 Dec;21(6):1122–33.
4. Häikiö K, Sagbakken M, Rugkåsa J. Dementia and patient safety in the
community: a qualitative study of family carers’ protective practices and
implications for services. BMC Health Serv Res. 2019;19(1):635.
5. Kuluski K, Gill A, Naganathan G, Upshur R, Jaakkimainen RL, Wodchis
WP. A qualitative descriptive study on the alignment of care goals
between older persons with multi-morbidities , their family physicians
and informal caregivers. BMC Fam Pract [Internet]. 2013;14(1):1.
Available from: BMC Family Practice
6. Roter DL, Narayanan S, Smith K, Bullman R, Rausch P, Wol JL, et al.
Family caregivers’ facilitation of daily adult prescription medication use.
Patient Educ Couns [Internet]. 2018;101(5):908–16. Available from:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S073839911730664X
7. Rn JA, Hons BA, Nursing L, Rn AMH, Nsg BA, Monash N, et al. User
experience and care for older people transitioning from hospital to
home: Patients ’ and carers ’ perspectives. 2018;(October 2017):518–27.
8. Naganathan G, Kuluski K, Gill A, Jaakkimainen L, Upshur R, Wodchis WP.
Perceived value of support for older adults coping with multi-morbidity:
Patient, informal care-giver and family physician perspectives. Ageing
Soc. 2016;36(9):1891–914.
75
74
9. Lang A, Macdonald M, Marck P, Toon L, Gri n M, Easty T, et al.
Seniors managing multiple medications: using mixed methods to view
the home care safety lens. BMC Health Serv Res [Internet]. 2015 Dec
12;15:1–15. Available from:
https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=jlh&AN=1116
45434&login.asp&site=ehost-live&scope=site
10. Hays R, Daker-white G, Esmail A, Barlow W, Minor B, Brown B, et al.
Threats to patient safety in primary care reported by older people
with multimorbidity : baseline findings from a longitudinal qualitative
study and implications for intervention. BMC Health Serv Res.
2017;17(754):1–12.
11. Hunter KF, Parke B, Babb M, Forbes D, Strain L. Balancing safety and
harm for older adults with dementia in rural emergency departments:
healthcare professionals’ perspectives. Rural Remote Health.
2017;17(1):4055.
12. Dokhie KD, Strating MMH, Buljac-samardzic M, De AHM Van, Paauwe
AJ. The di erent perspectives of patients , informal caregivers and
professionals on patient involvement in primary care teams . A
qualitative study. Heal Expect. 2018;(June):1171–82.
13. Forster AJ, Huang A, Lee TC, Jennings A, Choudhri O, Backman C.
Study of a multisite prospective adverse event surveillance system.
BMJ Qual Saf. 2020 Apr;29(4):277–85.
14. Backman C, Cho-young D. Engaging patients and informal caregivers
to improve safety and facilitate person- and family-centered care
during transitions from hospital to home – a qualitative descriptive
study. 2019;
15. Jennings LA, Palimaru A, Corona MG, Cagigas XE, Ramirez KD, Zhao
T, et al. Patient and caregiver goals for dementia care. Qual Life Res.
2017 Mar;26(3):685–93.
76
75
16. Je s L, Kitto S, Merkley J, Lyons RF, Bell CM. Safety threats and
opportunities to improve interfacility care transitions : insights from
patients and family members. Dove Press J Patient Prefer Adherence.
2012;6:711–9.
17. Manias E. Communication relating to family members’ involvement
and understandings about patients’ medication management in
hospital. Heal Expect An Int J Public Particip Heal Care Heal Policy
[Internet]. 2015 Oct;18(5):850–66. Available from:
http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=mnh&AN=23
405906&site=ehost-live
18. Wol JL, Roter DL, Boyd CM, Roth DL, Echavarria DM, Aufill J, et al.
Patient-Family Agenda Setting for Primary Care Patients with
Cognitive Impairment: the SAME Page Trial. J Gen Intern Med
[Internet]. 2018 Sep;33(9):1478–86. Available from:
http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=mnh&AN=3
0022409&site=ehost-live
19. Chimowitz H, Gerard M, Fossa A, Bourgeois F, Bell SK. Empowering
Informal Caregivers with Health Information: OpenNotes as a Safety
Strategy. Jt Comm J Qual Patient Saf [Internet]. 2018;44(3):130–6.
Available from:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1553725017302404
20 Endah D, Erwanto R, Suratmi T, Amigo T. E. Sekolah Caregiver
. Informal. Sleman: Yayasan Indonesia ramah Lansia; 2019.
21. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktis untuk Caregiver dalam
Perawatan Jangka Panjang Bagi Lanjut Usia. 2019. 11–12 p.
22 irektorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan BKKBN.
. Panduan Perawatan Jangka Panjang (PJP)/Long Term Care (LTC)
pada Lansia Berbasis Keluarga. Jakarta: BKKBN; 2017. 100 p.
77
76
23. Endah D, Erwanto R, Suratmi T, Amigo T. E. Sekolah Caregiver
Informal Perawatan Jangka Panjang Lanjut Usia Berbasis Masyarakat.
Rahardjo TBW, Ogawa T, editors. Yogyakarta: Yayasan Indonesia
Ramah Lansia; 2019.
24. Probosuseno, Soehardo M. Menangani Mudah Roboh/Jatuh pada
Usia Lanjut.
25. Abraham S. Fall prevention conceptual framework. Health Care
Manag (Frederick). 2011;30(2):179–84.
26. Gunn H, Andrade J, Paul L, Miller L, Creanor S, Stevens K, et al. A
self-management programme to reduce falls and improve safe
mobility in people with secondary progressive MS: the BRiMS
feasibility RCT. Health Technol Assess [Internet]. 2019;23(27):1‐166.
Available from:
https://www.cochranelibrary.com/central/doi/10.1002/central/CN-019
81175/full
27. El-Khoury F, Cassou B, Latouche A, Aegerter P, Charles MA,
Dargent-Molina P. E ectiveness of two year balance training
programme on prevention of fall induced injuries in at risk women
aged 75-85 living in community: Ossébo randomised controlled trial.
BMJ. 2015;351.
28. Centers for Disease Control and Prevention. Algorithm For Fall Risk
Screening, Assessment, And Intervention. 2017; Available from:
www.cdc.gov/steadi
29. NPUAP. Prevention and treatment of pressure ulcers: Clinical practice
guideline. [Internet]. Vol. www.npuap. 2014. 39 p. Available from:
https://www.ehob.com/media/2018/04/prevention-and-treatment-of-
pressure-ulcers-clinical-practice-guidline.pdf
78
77
30. Suharto DN, Manggasa DD. Upaya Pencegahan Luka Tekan pada
Keluarga dengan Anggota Keluarga Mengalami Immobilisasi.
Madago Community Empower Heal J. 2021;1(1):14–20.
31. Mahmuda INN. Pencegahan Dan Tatalaksana Dekubitus Pada
Geriatri. Biomedika. 2019;11(1):11.
32. Nelwan IS, Amelia I, Gondodiputro S, Thaib C. Panduan Hidup Sehat
Bagi Lansia dan Pendamping. Bandung; 2018.
79
78
MONITORING KESELAMATAN LANSIA DI RUMAH
DATA LANSIA DAN KELUARGA
DATA UMUM LANSIA
1. Nama :
2. Usia :
3. Jenis Kelamin :
4. No Telepon :
5. Alamat :
DATA PENANGGUNG JAWAB LANSIA
1. Nama :
2. Usia :
3. Jenis kelamin :
4. Hubungan dengan lansia :
5. No Telepon :
6. Pendidikan :
7. Pekerjaan :
DATA KESEHATAN LANSIA
1. Penyakit yang dialami :
2. Alergi yang diketahui :
Obat :
Pantangan :
Makanan :
Minuman :
3. Data Dasar
- Tekanan darah :
- Gula darah :
- Berat Badan :
- Golongan darah :
4. Obat-obatan yang dikonsumsi:
80
79
CATATAN MONITORING KESELAMATAN LANSIA
Tanggal Insiden/ Kecelakaan/ Keluhan Ket/Tindak Lanjut
81
80
PENILAIAN ACTIVITY DAILY LIVING (ADL) DENGAN INSTRUMEN BARTHEL INDEX
MODIFIKASI(1)
No Fungsi Skor Keterangan Hasil
Tidak terkendali/tak teratur (perlu pencahar)
1 Mengendalikan rangsang 0 Kadang-kadang tak terkendali (1x/minggu)
Terkendali teratur
BAB 1 Tak terkendalai atau pakai kateter
Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam)
2 Mandiri
Butuh pertolongan orang lain
2 Mengendalikan rangsang 0 Mandiri
BAK 1 Tergantung pertolongan orang lain
Perlu pertolongan pada beberapa kegiatan tetapi
2 dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan lain
Mandiri
3 Membersihkan diri 0
Tidak mampu
(mencuci wajah, menyikat 1 Perlu ditolong memotong makanan
Mandiri
rambut, mencukur kumis, Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda
sikat gigi Bantuan minimal 1 orang
Mandiri
4 Penggunaan WC (keluar 0 Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda
masuk WC, 1 Berjalan dengan bantuan 1 orang
Mandiri
melepas/memakai celana, Tidak mampu
Butuh pertolongan
cebok, menyiram) Mandiri
Tidak mampu
2 Butuh pertolongan
Mandiri
5 Makan minum (jika harus 0 Tergantung orang lain
Mandiri
berupa potongan, dianggap 1
dibantu) 2
6 Bergerak dari kursi roda 0
ke tempat tidur dan 1
sebaliknya (termasuk 2
duduk di tempat tidur) 3
7 Berjalan di tempat rata 0
(atau jika tidak bisa 1
berjalan, menjalankan 2
kursi roda) 3
8 Berpakaian (termasuk 0
memasang tali sepatu, 1
mengencangkan sabuk) 2
9 Naik turun tangga 0
1
2
10 Mandi 0
1
Skor Modifikasi Barthel Index (Nilai AKS)
20 : Mandiri (A)
12-19 ; Ketergantungan ringan (B)
9-11 : Ketergantungan sedang (B)
5-8 : Ketergantungan berat (C)
0-4 : Ketergantungan total (C)
82
81
CEKLIST KEAMANAN PENGGUNAAN OBAT-OBATAN(2)
No Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah Bapak/Ibu berdiskusi dengan tenaga kesehatan
tentang alterna�f pengobatan?
2 Apakah Bapak/Ibu menyampaikan kepada Dokter atau
farmasi mengenai semua obat yang diminum serta
pengunaan tembakau
3 Apakah Bapak/Ibu membaca instruksi pada se�ap obat
dan memeriksa efeksamping atau efek jika
menggabungkan dengan obat lain?
4 Apakah Bapak/Ibu minum obat sesuai dengan yang
diresepkan
5 Apakah Bapak/Ibu meniliki da�ar obat yang diminum dan
apakah keluarga mengetahui hal itu?
6 Jika Bapak/Ibu memiliki alergi obat, apakah Anda
mengenakan tanda (gelang atau kalung) untuk
menunjukkan hal tersebut?
7 Jika Bapak/Ibu bereaksi terhadap obat atau mengalami
efek samping, apakah anda melaporkannya ke dokter atau
apoteker?
8 Apakah Bapak/Ibu hanya menggunakan satu apotek untuk
semua kebutuhan resep Anda
9 Apakah Bapak/Ibu membuang tempat obat dan obat yang
sudah kadaluarsa?
10 Se�ap kali Bapak/Ibu mendapatkan obat baru, apakah
Bapak/Ibu meminta penjelasan dan mendapatkan
informasi mengenai penggunaan dan efek sampinynya?
Sumber: The Safe Live Living Guide. A Guide to home safety for seniors (2)
TIPS:
Informasikan kepada dokter atau apoteker semua obat-obatan yang
dikonsumsi, simpan semua obat termasuk obat-obatan herbal, obat
bebas dan suplemen ke dalam satu tempat dan bawa ketika lansia
memeriksakan kesehatan ke dokter.
Jika obat-obatan yang dikonsumsi menyebabkan pusing atau ngantuk,
batasi aktivitas lansia agar terhindari dari risiko jatuh.
83
82
CATATAN PEMANTAUAN PENGGUNAAN OBAT
Tgl Nama Obat Cara pakai Waktu Jumlah Waktu Ket
obat kontrol
Pagi Siang Sore Malam
84
83
PENILAIAN RISIKO JATUH(4)
Langkah penilaian:
• Kader/petugas kesehatan/ pendamping lansia membantu lansia mengisi ceklis
instrument M-IFRAT dengan menjawab semua pertanyaan dan menuliskan skornya
• Setelah lansia menjawab keseluruhan pertanyaan, jumlahkan skornya. Skor
keseluruhan dikelompokkan dalam 2 kategori risiko yang ditentukan berdasarkan
nilai cut off,
Risiko tinggi: skor = 11
Risiko rendah: skor < 11
85
84
Skrining risiko
jatuh
Hitung
Jumlah
Skor
Skor <11 Risiko Skor >11 Risiko
Rendah Tinggi
Edukasi untuk Edukasi untuk
Pencegahan jatuh Jika memiliki Riwayat jatuh,
Jaga lingkungan rumah waspadai kemungkinan jatuh
tetap aman Kembali
Anjurkan lansia untuk tetap
aktif dan rutin melakukan Lakukan olah raga untuk melatih
olahraga keseimbangan
Rutin melakukan
pemeriksaan kesehatan min 1 Eliminasi faktor risiko lingkungan
tahun sekali
Lakukan pemeriksaan di Rutin berobat ke dokter jika
tahun berikutnya memiliki Riwayat penyakit
86 Waspadai penggunaan
obat-obatan penyebab jatuh
85
Jika memiliki gangguan
penglihatan/ pendengaran
pertimbangkan penggunaan
alat bantu
Jika ada gangguan berkemih/
PENILAIAN RISIKO LUKA TEKAN (SKALA BRADEN)(5)
87
86
Jika lansia beresiko mengalami luka tekan, maka segera
lakukan pencegahan untuk tidak terjadi kondisi yang lebih
parah BACA PENCEGAHAN LUKA TEKAN
88
87
DAFTAR PUSTAKA
1. Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Instrumen Pengkajian
Paripurna Pasien Geriatri (P3G). 2017;1. Available from:
http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/INSTRUMEN P3G.pdf
2.
Public Health Agency of Canada. The Safe Living Guide A guide to
home safety for seniors. 2015.
3. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktis untuk Caregiver dalam
Perawatan Jangka Panjang Bagi Lanjut Usia. 2019. 11–12 p.
4. Satariano WA. The Ecological Model in the Context of Aging
Populations: A Portfolio of. 2010;(Jasp):1–20.
5. Kale ED, Nurachmah E, Pujasari H. Penggunaan Skala Braden
Terbukti Efektif dalam Memprediksi Kejadian Luka Tekan. J
Keperawatan Indones. 2014;17(3):95–100.
89
88
MODUL UNTUK KELUARGA
“BUDAYA KESELAMATAN LANSIA ASRi”
(AMAN, SELAMAT DARI RISIKO)
PANDUAN BAGI CAREGIVER UNTUK MENINGKATKAN
KESELAMATAN LANSIA DI RUMAH
90