NI NYOMAN KARMINI
Pustaka Larasan 2022 Ni Nyoman Karmini
ii Teori dan Apresiasi Drama Penulis Ni Nyoman Karmini Pracetak Slamat Trisila Penerbit Pustaka Larasan Jalan Tunggul Ametung IIIA/11B Denpasar, Bali 80116 Pos-el: [email protected] Ponsel: 0187 35 34 33 Cetakan Pertama: 2022 ISBN 978-623-6013-67-0
iii PRAKATA Berawal dari sebuah penelitian, maka buku ini dapat diwujudkan. Penelitian dimaksud berkaitan dengan keterampilan menulis, terutama menulis drama. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa semester 5 tahun akademik 2020/2021, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Saraswati. Dari hasil penelitian yang berupa naskah drama yang dibuat oleh para mahasiswa semester 5, menginspirasi penulis untuk mewujudkan buku ini. Buku ini diwujudkan dengan membaca beberapa buku tentang drama (teater) dari beberapa penulis yang dicantumkan dalam daftar pustaka. Dari bukubuku yang dibaca, saya menyunting materi-materi yang sesuai dengan rencana pembelajaran drama (teater) di tempat saya bertugas, yang tentunya tidak bisa lepas dari tuntutan kurikulum, silabus dan RPS dari mata kuliah Apresiasi Drama (Teater). Buku ini diberi judul Teori dan Apresiasi Drama sematamata bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensinya terutama dikaitkan dengan kemampuan mahasiswa dalam mengapresiasi sastra (drama). Materi dalam buku ini sangat singkat, yakni hanya terdiri atas lima bab dan isi materinya mengarahkan pemahaman mahasiswa pada keterampilan mewujudkan sebuah teater dan kemampuan bermain teater itu sendiri. Kemampuan mewujudkan sebuah teater dan kemampuan bermain teater inilah yang ditagih dalam mengakhiri pembelajaran mata kuliah Apresiasi Drama (Teater). Untuk dapat mendukung kompetensi mahasiswa dalam apresiasi drama, buku ini dilengkapi juga dengan
iv contoh-contoh naskah drama hasil karya mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Saraswati, semester 5 tahun akademik 2020/2021. Adapun naskah drama dimaksud, adalah Darendra’s karya Gusti Ayu Putu Budhi Lestari; Kamu Dingin Tapi Aku Telanjur Mencintaimu karya Luh Gede Sari Galih; Persahabatan karya Oci Bili; Pentas Seni karya Andrias Tamo Ama; Warna Yang Telah Hilang karya Gusti Ayu Bintang Wihandhani; Les Piano karya Citra Dian Casvarina; Anak Durhaka karya Ni Putu Sintya Widya Yanti; dan Aku Mencintaimu Tapi Bukan Sifatmu karya Luh Novi Arini. Semoga buku ini dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa dan pembaca lainnya sehingga mampu memperkaya rohani dan mengubah kehidupan Anda ke arah yang lebih baik.
v DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ~ iii DAFTAR ISI ~ v BAB I. GAMBARAN UMUM TENTANG TEATER ~ 1 Wawasan Seni ~ 1 Pengertian Teater ~ 3 Bentuk dan Jenis Teater ~ 5 Dramaturgi ~ 8 Keterampilan Teknis ~ 8 Pemeranan ~ 8 Penyutradaraan ~ 10 Tata Pentas ~ 10 Evaluasi ~ 11 BAB II. PANGGUNG (1) ~ 13 Arah dalam Panggung ~ 13 Wilayah Panggung ~ 15 Watak Petak ~ 15 Evaluasi ~ 17 BAB III. PANGGUNG (2) ~ 19 Teater yang Mudah Dilakukan ~ 19 Movement ~ 22 Jenis Movement ~ 23 Tekanan dan Kekuatan ~ 23 Akhir Movement ~ 24 Panjang Movement ~ 24 Evaluasi ~ 34
vi BAB IV. LATIHAN DASAR SENI DRAMA ~ 25 Suara ~ 26 Bicara (Vokal) ~ 26 Gerak Permainan ~ 27 Watak dan Penghayatan ~ 27 Gaya Permainan ~ 29 Evaluasi ~ 30 BAB V. PENGGARAPAN PERTUNJUKAN SENI DRAMA ~ 31 Tata Rias ~ 31 Keindahan ~ 32 Jenis Rias ~ 33 Tata Busana ~ 34 Tata Bunyi ~ 35 Suara ~ 36 Musik ~ 37 Tata Sinar ~ 37 Dekorasi Pentas ~ 38 Komposisi Pentas ~ 39 Evaluasi ~ 41 LAMPIRAN ~ 43 3DAFTAR BACAAN ~ INDEKS ~ 84 TENTANG PENULIS ~ 86
1 BAB I GAMBARAN UMUM TENTANG TEATER Standar Kompetensi • Memahami tentang teater Kompetensi Dasar • Memahami tentang teater; • Memahami bentuk dan jenis teater • Memahami dramaturgi • Memahami keterampilan teknis (pemeranan, penyutradaraan, dan tata pentas) Indikator • Mampu mengidentifikasi teater • Mampu mengidentifikasi bentuk dan jenis teater • Mampu menjelaskan dramaturgi • Mampu melakukan peran • Mampu mengidentifikasi tugas sutradara • Mampu menjadi sutradara • Mampu mengidentifikasi ruang pentas • Mampu mewujudkan tata pentas WAWASAN SENI Wawasan seni adalah pandangan, sikap, pendekatan, dan pengertian tentang prinsip berkesenian dan terhadap hasil karya seni. Wawasan tentang seni sangat penting sebagai titik tolak dalam membicarakan kesenian. Pada dasarnya setiap manusia mempunyai kepekaan terhadap rasa keindahan, namun kadar kepekaannya berbeda. Apabila kadar kepekaan terhadap rasa keindahan tinggi, seseorang dapat memberikan tanggapan, penghargaan dan penilaian yang lebih dari yang lainnya. Kepekaan terhadap rasa keindahan dapat dilatih dengan menghadapkan seseorang dengan suatu hasil karya seni, melalui sentuhan-
Ni Nyoman Karmini 2 sentuhan inderawi dengan menggunakan kepekaan rasa yang dimiliki. Hal-hal seperti itu dapat dilakukan secara terus-menerus sehingga lama-kelamaan seseorang dapat meningkatkan kadar kepekaan rasa keindahannya. Semakin lama bergaul dan ering menghadapi hasil karya seni, semakin tinggi dan tajam kepekaan terhadap keindahan tersebut. Bila seseorang mempunyai kepekaan sangat tinggi terhadap rasa keindahan, biasanya orang tersebut mempunyai bakat untuk menjadi seniman. Apabla bakat tersebut dipupuk, dilatih, dan dikembangkan, niscaya seseorang akan menjadi seniman yang dapat menghasilkan karya seni. Pendidikan kesenian di sekolah umum pada dasarnya bertujuan memberikan bekal kepada siswa untuk mempertinggi dan mempertajam kadar kepekaannya terhadap rasa keindahan. Hasil karya seni yang dinamakan kesenian merupakan hasil usaha budi daya manusia yang diungkapkan dengan menggunakan kepekaan rasa estetik terhadap lingkungan sekitar. Dalam proses mewujudkan keinginan manusia berekspresi dapat digunakan suatu media, seperti gerak, suara, bunyi, warna, garis, dan lain-lain. Bentuk karya seni dapat berupa: (1) seni sastra (menggunakan media bahasa), (1) seni tari (menggunakan ekspresi gerak tubuh), (3) seni musik (menggunakan ekspresi bunyi dan suara), (4) seni teater (menggunakan ekspresi gerak dan suara), (5) seni rupa (menggunakan ekspresi bahan, cat (warna), dan wujud). Namun, dilihat dari media yang digunakan, kesenian dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni (1) seni sastra, meliputi: prosa, puisi, dan drama, (2) seni pertunjukkan, meliputi: musik, tari, drama, (3) seni rupa, meliputi: lukisan, patung, kriya, grafis, dan arsitektur. Sesuai dengan pengertiannya, kesenian merupakan suatu alat ekspresi yang mengungkapkan gejolak rasa dan
Teori dan Apresiasi Drama 3 jiwa seseorang yang didasarkan atas nilai etis dan estetis. Oleh karena itu, prinsip pendidikan kesenian adalah pendidikan untuk melatih dan mengembangkan kepekaan rasa estetis. Mata pelajaran yang diajarkan hendaknya menyangkut masalah: (1) mempelajari proses penciptaan karya seni, (2) mengenal unsur-unsur seni, (3) merasa ikut serta dalam proses penciptaan. Pendidikan seni teater di sekolah mengutamakan agar siswa dapat merasakan proses berteater dan mempertajam kepekaan rasa estetisnya terhadap kegiatan dan karya seni teater. Dalam seni teater, siswa mencoba praktik berakting atau menyutradarai suatu lakon. Sebenarnya, di sini siswa telah dilatih untuk ikut merasakan dan mencoba proses penciptaan tersebut dan diharapkan dapat ikut berpartisipasi aktif. Jika siswa tidak mampu berakting dengan baik tidaklah menjadi masalah, yang terpenting adalah partisipasinya. Dan dalam pengajaran teater, siswa tidak dididik untuk menjadi pemain teater yang baik, tetapi siswa dirancang dan dilatih untuk merasakan bagaimana suatu proses penciptaan dilakukan. Dalam pengajaran teater, guru harus mengerti permasalahan kesenian, khususnya seni teater yang akan diajarkan. Guru mendekati masalah kesenian bukan sebagai seorang seniman, tetapi guru memandang permasalahan itu dari segi seorang pendidik yang mengharapkan siswanya dapat memperoleh manfaat dari pendidikan kesenian yang diberikan untuk perkembangan diri siswa tersebut. Di sini kesenian bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana pendidikan. PENGERTIAN TEATER Kata teater berasal dari kata Yunani, yaitu theatron yang berarti gedung atau tempat pertunjukkan. Kata theatron diturunkan dari kata theomai yang berarti “dengan takjub
Ni Nyoman Karmini 4 melihat atau memandang”. Secara luas, teater berarti: (1) gedung pertunjukan atau tempat kegiatan seni, (2) publik atau auditorium (tempat penonton menyaksikan pertunjukan), (3) karangan/naskah/cerita yang mengisi kegiatan. Teater adalah pertunjukan yang ditonton publik/ penonton di suatu tempat. Dalam perkembangannya teater selalu berarti pertunjukan, yaitu segala sesuatu yang dipertunjukan dalam kaitannya dengan hasil karya seni. Di samping kata teater ada kata drama. Sebenarnya, teater dan drama berbeda. Teater lebih luas daripada drama. Drama berasal dari kata Yunani dram yang berarti berbuat, bergerak, atau berlaku. Drama berarti laku, yaitu suatu ekspresi kesenian memperagakan suatu cerita (lakon) dalam suatu pertunjukan yang menggunakan laku dan dialog sebagai alat ungkapnya. Penekanan pengertian drama adalah pada naskah lakon yang dipertunjukkan, sedangkan teater mempunyai jangkauan lebih luas, karena alat pengungkapannya tidak terbatas pada laku dan dialog, tetapi dapat juga menggunakan tari, musik, dan segala sesuatu alat ekspresi yang mendukung adanya suatu pertunjukan. Ada istilah yang sama dengan drama atau teater, yaitu sandiwara. Istilah sandiwara dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Surakarta. Sandiwara berasal dari kata sandi yang artinya rahasia dan warah berarti pengajaran. Ki Hadjar Dewantara mengartikan sandiwara sebagai pengajaran yang dilakukan lewat perlambang. Sandiwara lebih dekat dengan drama. Dengan demikian, teater berarti kegiatan berekspresi yang bertolak dari alur cerita yang dipertunjukkan dengan menggunakan tubuh sebagai media utama, sedangkan dalam proses penciptaannya digunakan unsure gerak, suara, bunyi, dan rupa yang disampaikan kepada penonton. Berdasarkan rumusan di atas, unsur-unsur teater terdiri
Teori dan Apresiasi Drama 5 atas: 1) unsur utama, meliputi: (1) manusia, yakni pemeran/ pelaku/pemain, (2) cerita, yakni sebagai unsur utama penjalin proses penciptaan suatu bentuk seni teater, dan 2) unsur penunjang, meliputi: (1) gerak atau laku (gerak tubuh dan peran), (2) suara sebagai penunjang utama (kata/dialog/ ucapan, dan peran), (3) bunyi sebagai unsur pembantu penunjang (bunyi benda, efek, dan musik), (4) rupa sebagai unsur pembantu penunjang (seting, dekor, kostum, dan cahaya). Pendidikan seni teater sebenarnya adalah pendidikan tentang kehidupan manusia, lengkap dengan problema yang terdapat dalam kehidupan, pendidikan moral, watak/ karakter, konflik kehidupan, dan segala aspek kehidupan lainnya. Teater merupakan seni kolektif, artinya dalam proses penciptaan seni teater tidak dapat dikerjakan atau diciptakan sendiri atau oleh satu orang, tetapi dilakukan atau dibantu oleh beberapa orang. Seni kolektif menuntut suatu kerja sama yang baik, suatu karya terpadu, dan suatu kerja sama yang dipimpin oleh seorang sutradara. Dengan mempelajari proses penciptaan karya seni teater, berarti belajar bekerja sama dengan orang lain, menghargai orang lain, dan taat pada ketentuan kebersamaan. Ini juga berarti belajar berorganisasi, belajar mengatur kegiatan, dan belajar menjadi seorang manajer. BENTUK DAN JENIS TEATER Bentuk teater di Indonesia terdiri atas teater tradisional dan teater modern. Kedua teater itu berjalan sesuai dengan kondisi masyarakat pendukung yang berbeda. Perbedaan kedua teater itu terletak pada perbedaan sumber, akar, wawasan, dan konsepnya. Persamaannya yaitu sama-sama bertolak dari cerita yang diperagakan.
Ni Nyoman Karmini 6 Teater tradisional adalah suatu bentuk seni teater yang berakar dan bersumber dari tradisi masyarakat lingkungannya. Teater ini milik masyarakat yang pengolahannya di dasarkan atas cita rasa seniman pendukungnya, erat hubungannya dengan kehidupan dan pandangan hidup serta nilai tradisi yang dimilikinya. Semuanya itu bersumber dari kebudayaan yang dihayati. Teater ini bertolak dari sastra lama atau sastra lisan daerah, karena itu bentuk teaternya dilakukan secara spontan, yaitu melalui ungkapan yang improvisatoris. Jenis-jenis teater tradisional. (1) Teater Tutur adalah suatu jenis teater yang bertolak dari sastra lisan yang dituturkan dan sering dinyanyikan. Misalnya: Cepung, Kentrung. (2) Teater Rakyat adalah suatu jenis teater yang berkembang dan hidup di tengah masyarakat pedesaan. Pada umumnya dilakukan secara spontan dengan cerita-cerita yang hidup di daerah tersebut dan biasanya diambil dari cerita lisan atau sastra lisan. Misalnya: Ketoprak, Randai. (3) Teater Wayang adalah segala macam jenis wayang: Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Golek, Wayang Orang. (4) Teater Bangsawan adalah suatu jenis teater yang sudah mendapat pengaruh konsep teater Barat dan ditunjang oleh kebudayaan Melayu and pengaruh teater dari Timur Tengah. Ceritanya berkisar cerita seribu satu malam. Jenis ini disebut Komedi Bangsawan, Komedi Stambul. Teater modern adalah suatu bentuk yang sering disebut sebagai teater nontradisional. Juga sering disebut teater naskah karena bertolak dari hasil karya sastra yang disebut dengan lakon. Teater modern bersumber dari konsep teater Barat, yang diikat oleh teknik dan hukum dramaturgi. Susunan
Teori dan Apresiasi Drama 7 naskah, cara pementasan, gaya penyuguhan, sekaligus cara pendekatan dan pola pemikirannya banyak dipengaruhi oleh konsep pemikiran budaya Barat. Pendidikan seni teater yang diajarkan di sini bertolak dari pendekatan teknis teater modern (teater Barat). Jenis-jenis teater modern. (1) Teater Konvensional (Sandiwara) adalah teater yang bertolak dari lakon drama yang disajikan secara konvensional. Kelompok ini sering disebut Sandiwara. (2) Teater Kontemporer adalah teater mutakhir, suatu jenis teater yang mendobrak konvensi-konvensi lama dan penuh dengan ide-ide baru, penyajian baru, dan gabungan konsep Barat dan Timur. DRAMATURGI Dramaturgi adalah ilmu yang mempelajari seluk-beluk drama, yang bertolak dari suatu lakon yang dipertunjukkan di atas pentas. Pengarang lakon disebut dramatikus. Dramaturgi lebih ditekankan pada proses menghidupkan secara visual apa yang terdapat dalam lakon. Seni drama pada hakikatnya adalah bentuk kesenian yang memantulkan perikehidupan manusia dengan segala masalahnya dalam bentuk permainan di atas panggung yang bertolak dari naskah lakon. Penggambaran perilaku di atas pentas tidak hanya melalui gerak laku badan tetapi juga gerak laku batiniah. Gerak batiniah pada dasarnya tercermin dalam gerak laku lahiriah. Perikehidupan manusia bersendi pada unsur-unsur psikologi yang menentukan sepak terjang dan sikap hidupnya serta kepribadiannya. Masalah yang dihadapi manusia selalu menimbulkan konflik. Karena itu tidak heran perikehidupan manusia dipenuhi konflik. Konflik-konflik yang ada dibedakan
Ni Nyoman Karmini 8 menjadi tiga jenis, yakni konflik dengan diri sendiri, konflik dengan orang lain, dan konflik dengan lingkungan, seperti konflik dengan kelompok masyarakat, dan lain-lain. Drama akan menjadi hidup, menarik bila di dalamnya terdapat konflik dan benturan-benturan. Setiap drama mempunyai masalah di dalamnya dan masalah itu yang akan menimbulkan konflik. Hakikat seni drama adalah pengungkapan dalam bentuk laku segala kemampuan psikis yang terkandung dalam diri manusia setelah mendapatkan rangsangan dari konflik-konflik dalam kehidupan. Lakon adalah hasil karya sastra yang berbentuk drama yang dipentaskan di atas panggung, sedangkan isi drama pada umumnya adalah masalah kehidupan manusia lengkap dengan konflik dan segala aspek kehidupan. Seniman teater harus memahami persoalan dramaturgi, baik seniman tersebut sebagai penulis lakon maupun sebagai sutradara, demikian juga para pemainnya. Unsur utama yang dapat menghidupkan naskah lakon di atas pentas adalah “laku” atau action yang disebut juga gerak laku. Nilai dramatiknya diperoleh dari laku tersebut, sedangkan laku dapat muncul karena adanya konflik dalam lakon. Setiap manifestasi kehidupan adalah laku yang berupa gerak, sedangkan yang menyebabkan adanya laku/gerak adalah konflik. Setiap kehidupan di dalamnya mengandung konflik dan ini sebenarnya dalam bentuk ungkapan visual yang dinamakan nilai dramatik. KETERAMPILAN TEKNIS Pemeranan Dalam dunia teater sering didengar istilah acting yang sama artinya dengan ”laku”. Orang yang melakukan kegiatan acting disebut aktor atau pemeran. Untuk menciptakan tokoh
Teori dan Apresiasi Drama 9 yang akan diperankan, seorang pemain harus mempunyai modal dalam dirinya, yaitu unsur kreativitas, unsur penguasaan teknik bermain, dan penguasaan unsur intelektualitas yang saling mendukung. Yang disebut penguasaan teknis berperan ialah kemampuan seseorang untuk mendayagunakan peralatan ekspresi, baik yang bersifat kejasmanian maupun yang bersifat kejiwaan, serta mempunyai keterampilan untuk menggunakan setiap unsur penunjang pemeranan. Teknis berperan berupa keterampilan menggunakan segala alat ekspresi yang dimiliki, yaitu penggunaan tubuh, kelenturan tubuh, kewajaran berlaku, kemahiran menggunakan vokal, kekayaan imajinasi yang dituangkan dalam tingkah laku manusia, dan lainnya untuk menambah kekayaan bentuk ungkapan baik secara batiniah maupun secara lahiriah. Penguasaan teknis acting berarti penguasaan terhadap peralatan ekspresi, baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat kejasmanian. Peralatan ekspresi yang bersifat kejiwaan, adalah (1) imajinasi, (2) emosi, (3) kemauan, (4) daya ingat, (5) intelegensi, (6) perasaan, (7) pikiran, sedangkan peralatan ekspresi yang bersifat kejasmanian, adalah (1) pancaindera, (2) anggota tubuh, (3) vokal (suara). Peralatan yang ada pada diri seorang pemeran dalam menciptakan watak tokoh yang akan digambarkan dapat diwujudkan melalui: (1) penampilan fisik, misalnya gagah, bungkuk, gendut, dan lain-lain; (2) penampilan laku fisik, misalnya lamban, dinamis, keras, dan lain-lain; (3) penampilan vokal, seperti kata-kata, dialog, dan nyanyi: (4) penampilan emosi dan intelegensi, seperti pemarah, cengeng, dan lain-lain.
Ni Nyoman Karmini 10 Penyutradaraan Sutradara adalah pemimpin tertinggi dalam pelaksanaan pementasan drama di bidang teknik artistik. Sutradara bertanggung jawab dari pemilihan naskah, latihan sampai pementasan. Penyutradaraan dalam bahasa Inggris disebutkan directed by, yang berarti “diarahkan oleh”. Jadi, tugas seorang sutradara adalah mengarahkan, membimbing, dan menunjukkan jalan. Tata Pentas Tata pentas adalah penggambaran wujud visual di atas pentas tentang lokasi kejadian dalam lakon, lengkap dengan tafsiran tentang ruang, waktu, dan suasana. Seniman yang menata pentas, menata set sering disebut penata artistik. Tetapi sebenarnya, penata artistik tidak bertugas hanya itu melainkan mengkoordinasikan tata cahaya, tata busana, tata rias, dan lain-lain. Suatu pementasan diperlukan suatu tempat pertunjukkan yang dinamakan panggung atau pentas. Bentuk panggung ada bermacam-macam. (1) Panggung biasa (prosenium), yaitu bentuk panggung yang dibatasi oleh relung prosenium dengan tirai layar. Lantai panggung lebih tinggi daripada penonton. (2) Panggung terbuka seperti panggung biasa tetapi tidak memakai penyekat ruang. Lantai panggung tetap lebih tinggi daripada penonton dan tidak ada layar pembatas. Adakalanya penonton ditempatkan pada ketiga sisi panggung. (3) Panggung arena, yaitu tempat pertunjukkan mempunyai lantai yang sama dengan penonton. Tempat penonton berjenjang, yang di belakang lebih tinggi daripada yang di depan.
Teori dan Apresiasi Drama 11 EVALUASI 1. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai teater? 2. Bagaimana ciri-ciri sebuah teater? 3. Jelaskanlah bentuk dan jenis teater? Dan beri contoh teater yang ada di daerahmu! 4. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai dramaturgi? 5. Cobalah Anda memerankan peran sedih! 6. Jelaskanlah hal-hal yang harus dilakukan oleh sutradara! 7. Cobalah Anda lakukan peran sebagai sutradara! (Tokoh dan penokohan yang dibawakan oleh seorang aktor ada dalam imajinasi Anda). 8. Jelaskanlah hal-hal yang ada dalam ruang pentas! (ruang pentasnya sesuai imajinasi Anda)
12
13 BAB II PANGGUNG (1) Panggung untuk bermain sangat diperlukan oleh seorang sutradara dan aktor, karena seorang aktor harus memahami tentang panggung. Untuk itu berikut dipaparkan tentang panggung, yang meliputi: (1) arah dalam panggung, (2) wilayah panggung, dan (3) watak petak dalam panggung. Standar Kompetensi • Memahami panggung Kompetensi Dasar • Memahami arah dalam panggung • Memahami wilayah panggung • Memahami watak petak dalam panggung Indikator • Mampu mengidentifikasi arah dalam panggung • Mampu mengidentifikasi wilayah panggung • Mampu mengidentifikasi watak petak dalam panggung ARAH DALAM PANGGUNG Dimanakah letak kanan dan kiri pada panggung? Arah pentas dilakukan dengan menjadikan seorang pemain yang berdiri menghadap pada penonton sebagai patokan. Arah tangan kanan pemain yang menghadap pada penonton disebut kanan, arah tangan kiri disebut bagian kiri. Di bagian belakangnya disebut atas, sedangkan bagian depan di sebut bawah. Daerah panggung yang dilihat oleh penonton disebut ruang permainan, playing space atau tempat berakting. Kecuali
Ni Nyoman Karmini 14 bagian depan, tempat bermain ini saat pementasan ditutup dengan dinding yang dapat dipindah-pindah, atau ditutup side wing (sayap samping). Di balik dinding wing disebut backstage (balik panggung, belakang panggung). Di balik panggung tempat para pekerja pentas, seperti souffler, yaitu pembisik bagi actor bila actor lupa teks dialognya. Para pemain biasanya ada di balik panggung atau di ruang make up. Di depan playing space adalah proscenium, yaitu paruh atau bidang yang menjorok ke arah penonton dan selalu dalam keadaan terbuka. Antara playing space dan proscenium terdapat tirai lebar yang membentang pementasan dimulai. Gambar 1 menunjukkan pentas dilihat dari atas A = kanan, B = kiri, C = garis tengah yang membagi pentas menjadi dua bagian, D = layar, E = dinding atau wing yang dapat dipindah-pindahkan, F = tangga untuk naik ke panggung dari auditorium, ruang tempat penonton duduk, G = upstage, berarti bergerak ke panggung bagian atas, H = downstage, gerakan kebalikan dari upstage, I = offstage, berarti menjauhi pusat panggung (dapat juga berarti tidak ada di panggung), J = onstage. Istilah-istilah itu biasa digunakan oleh grup drama, karena itu harus dihafal oleh calon aktor.
Teori dan Apresiasi Drama 15 WILAYAH PANGGUNG Henning Nelms membagi panggung menjadi enam daerah. Garis pemisah ini tentu tidak kelihatan karena bersifat maya. Kita anggap ada dan bermanfaat pada saat-saat latihan. Tiap wilayah, daerah atau petak mempunyai kualitas tertentu. Pengambilan posisi seorang pemain pada suatu petak, juga blocking, pengelompokan atau grouping beberapa pemain pada kotak tertentu, akan mengungkapkan kandungan perasaan yang berbeda, sesuai dengan watak petak. Gambar 2 Wilayah Panggung WATAK PETAK Perhatikan gambar 2 mengenai kualitas dan watak petak. I = Kanan Atas (KA). Adegan-adegan kecil yang tidak penting baik dilakukan di sini. Watak wilayah ini bersifat lembut, lemah dan jauh. II = Tengah Atas (TA). Meski jauh dan dingin tetapi cukup kuat. Daerah ini baik untuk memulai suatu adegan penting yang bakal bergerak ke wilayah bawah. Untuk memulai sesuatu yang baru. III = Kiri Atas (KrA). Lembut, jauh, lemah. Untuk adeganadegan tidak penting. Sama seperti KA, tapi lebih lemah.
Ni Nyoman Karmini 16 Daerah ini amat efektif untuk adegan-adegan horror, adegan hantu, sebab daerah ini mengungkapkan kualitas dunia abstrak. IV = Kanan Bawah (KB). Akrab,hangat, kuat. Tepat sekali untuk adegan-adegan percintaan atau perikemanusiaan, cinta kasih. Karena konotasinya dengan iklim rumah tangga, setting pada banyak repertoire Barat menempatkan perapian di daerah ini. V = Tengah Bawah (TB). Daerah ini paling kuat, penuh tekanan, agung. Bidang ini biasa digunakan pada saat kekuatan-kekuatan dalam cerita saling berhadapan. VI = Kiri Bawah (KrB). Sama seperti KB tetapi lebih lemah dibandingkan dengan KB. Amat baik untuk tindak lanjut dari adegan-adegan yang sudah dimulai pada KB. Namun, ciri petak ini adalah untuk adegan-adegan penuh rahasia, skandal, cemburu, dan sebagainya. Di samping itu, bila panggung dibagi dua menjadi sisi kanan dan kiri, maka petak kanan mempunyai pengaruh lebih kuat dibandingkan bagian kiri, sedangkan perbandingan bagian petak atas dengan petak bawah, petak ataslah yang lebih lemah. Semakin jauh dari penonton aktor mengambil posisi, maka kedudukan kian lemah. Pementasan drama panggung dilihat penonton dari satu dimensi. Berbeda dengan film dan televisi. Pada film dan televisi mata penonton diwakili oleh kamera, karena itu kamera harus mampu menangkap apa yang ingin diketahui oleh penonton. Itu sebabnya tekanan pada para pemain pada layar film dan televisi tidak sama dengan di panggung. Media berbeda, bahasanya, ungkapannya juga harus berbeda. Untuk film atau televisi biasanya gambar-gambar ukuran besar (big close up, close up) mempunyai tekanan lebih kuat dibandingkan ukuran lebih kecil (extreme long shot, full shot).
Teori dan Apresiasi Drama 17 EVALUASI 1. Jelaskanlah arah dalam panggung! 2. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai arah dalam panggung? 3. Jelaskanlah wilayah panggung! 4. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai wilayah panggung? 5. Jelaskanlah watak petak dalam panggung! 6. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai watak petak dalam panggung?
18
19 BAB III PANGGUNG (2) Standar Kompetensi • Memahami panggung Kompetensi Dasar • Memahami teater yang mudah dilakukan • Memahami movement Indikator • Mampu mengidentifikasi panggung Tapal Kuda • Mampu mengidentifikasi panggung Arena • Mampu mengidentifikasi movement • Mampu melakukan movement dengan tekanan kuat dan tekanan lemah TEATER YANG MUDAH DILAKUKAN Tempat bermain para aktor (playing space), adalah di panggung. Dalam hal ini, para pemainnya ada di atas panggung, sedangkan penonton duduk di auditorium, seperti halnya di gedung bioskop. Penonton menghadap satu arah. Pentas (teater) ada bermacam-macam, tetapi di sini hanya dibicarakan dua macam pentas, yang keduanya memungkinkan dikerjakan sesuai dengan keadaan yang ada. Bila ditinjau dari pembiayaan lebih murah dan lebih mudah dikerjakan serta memungkinkan penonton lebih akrab dengan para pemain. Pentas (teater) dimaksud adalah teater “tapal kuda” dan teater “arena”. Bila tempat tidak memungkinkan untuk teater arena, misalnya di aula sekolah yang tidak begitu luas, maka dibuat teater “tapal kuda”. Caranya dengan membuat pentas
Ni Nyoman Karmini 20 menepi ke tembok dengan menggunakan bangku tempat siswa menulis. Supaya kuat, kaki-kaki bangku diikat, lalu di atasnya dibentangkan terpal atau karpet. Lampu dipasang di atas pada setiap sudut pentas. Bila mengganggu, lampu dapat ditempatkan di tengah-tengah di atas playing area. Jika dipandang perlu, footlamp dapat dipasang di bagian depan, di bibir pentas. Gunanya untuk menyapu bayangan akibat hairlamp. Alat lainnya, seperti mikrofon tetap diperlukan dalam pentas ini, asalkan jangan menggunakan mik berkaki atau mik untuk meja. Mikrofon yang diperlukan boleh sampai empat. Tempat untuk ke luar-masuk pemain boleh di antara tempat duduk penonton atau boleh menyusur sepanjang tepi tembok tempat dibangun pentas. Panggung Tapal Kuda
Teori dan Apresiasi Drama 21 Teater arena disebut juga circus theater, ring theater, atau round theater. Tempat bermain drama ada di tengah-tengah sebab penonton duduk melingkar. Itu sebabnya teater seperti ini tidak memerlukan setting dekorasi dengan sidewing. Dengan demikian, teater arena tidak ada dekorasi, kecuali property, seperti meja-kursi, sofa, dan lain-lain. Playing space boleh berbentuk “bundar” ataupun “segi empat”, tergantung pada selera. Luasnya tergantung pula pada keadaan. Ke luar masuk para pemain menuju arena ada di antara kursi para penonton. Hairlamp, yaitu lampu untuk menerangi pentas, ada di atas seperti untuk panggung, namun penempatannya berbeda. Lampu yang besar dan terang berada di tengahtengah, sedangkan lampu lainnya ditempatkan di setiap sudut dan semua mengarah ke pentas. Dalam teater arena tidak ada layar, karena itu lampulampu yang ada difungsikan sebagai pengganti layar. Ketika pertunjukan akan dimulai, seluruh lampu dimatikan. Pada saat seperti ini, para pemain segera memasuki pentas. Setelah siap, lampu baru dihidupkan. Demikian pula, bila pertunjukkan selesai, lampu dipadamkan. Cara seperti ini dapat dilakukan pula pada drama yang terdiri atas beberapa babak. Pada saat pergantian babak, petugas pentas menyingkirkan seluruh property yang tidak dipakai dan menggantikannya dengan property yang diperlukan babak baru. Setelah selesai dan para pemain telah standby, baru lampu dinyalakan.
Ni Nyoman Karmini 22 Panggung Arena Para pemain drama pada kedua macam teater ini, harus tetap berusaha supaya semua penonton dapat melihat wajah pelaku. Pelaku tidak boleh mengarahkan wajahnya hanya pada satu arah. Para pemain harus mengusai bidangbidang dan kualitas pembagian bidang. Penguasaan bidang dan kualitas bidang saja belum cukup, karena itu para aktor harus menguasai sesuatu “jembatan” yang disebut dengan movement. MOVEMENT Movement adalah gerakan atau perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Movement terjadi bila seorang pemain ingin mengungkapkan perasaan dalam hubungannya dengan suatu alasan hingga melahirkan satu suasana baru, sedangkan apa yang terdapat dalam suasana adalah motivasi untuk beberapa movement. Karena itu, setiap movement harus
Teori dan Apresiasi Drama 23 berkaitan erat dengan motif yang menyebabkan lahirnya suatu gerakan. Jenis-jenis Movement Movement harus memperlihatkan kekuatan dari motif yang mendorongnya berbuat. Motifnya dapat bermacammacam, yakni dapat kuat dan lemah. Bila motifnya kuat, maka movement-nya harus kuat pula, tidak boleh dilakukan sebaliknya. Gerakan yang didukung motivasi yang amat kuat disebut straight movement (langkah langsung). Motivasi kuat menolak basa-basi, menuntut langkah singkat. Satu garis lurus adalah jarak terpendek antara dua titik, yang diperlukan oleh motivasi kuat. Motivasi yang tidak kuat atau lemah memerlukan gerakan melengkung yang disebut curve movement. Curve movement ada dua macam, yaitu (1) upstage curve movement, yaitu gerakan lengkung ke atas, (2) downstage curve movement, yaitu gerakan lengkung ke bawah. Kedua gerakan ini mempunyai watak yang sama, yakni kurang kuat. Gerakan curve movement lebih lentur, lebih luwes daripada straight movement. Dari dua gerakan melengkung itu, upstage curve lebih menguntungkan. Seorang aktor yang melakukan gerakan ke atas akan berhenti pada suatu titik dengan wajah masih cukup kuat menghadap penonton. Akan tetapi akhir dari gerakan lengkung ke bawah akan memaksa sang pemain membuat satu gerakan baru, gerakan tambahan guna mengalihkan wajahnya ke arah penonton. Tekanan dan Kekuatan Tekanan (emphasis) dan kekuatan (strength) biasanya berdampingan tetapi tidak sama. Movement dari level, permukaan, yang lebih rendah bergerak pada yang lebih
Ni Nyoman Karmini 24 tinggi pada dasarnya adalah kuat dan ada tekanan. Bila hal itu membuat pemain membelakangi penonton, maka efek totalnya adalah mungkin berarti kehilangan kekuatan dan tekanan. Movement agresif memperlihatkan kekuatan, sedangkan movement mundur menunjukkan kelemahan. Movement lengkung lebih lemah aripada yang langsung, straight. Lebih dalam lengkung itu dibuat, maka kian berkuranglah kekuatannya. Movement dari kiri ke kanan, atau dari level rendah pada level yang lebih tinggi adalah kuat. Akhir Movement Akhir dari sebuah movement mempunyai lebih banyak efek pada tekanan dan kekuatan daripada yang dimiliki oleh movement itu sendiri. Ketika seseorang duduk terjadi movement lemah. Sebaliknya, movement yang kuat dengan akhir yang lemah adalah lemah. Panjang Movement Movement yang cukup panjang disebut crossing, persilangan. Istilah ini termasuk movement upstage atau downstage, dan movement memintas pentas. Persilangan langsung downstage itu jarang, sedangkan langsung upstage hampir tidak dikenal. Untuk kedua movement itu dilakukan dengan membentuk sudut 45. EVALUASI 1. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai panggung Tapal Kuda dan panggung Arena? 2. Sejauhmana pemahaman Anda mengenai movement?
25 BAB IV LATIHAN DASAR SENI DRAMA Standar Kompetensi • Memahami latihan dasar seni drama Kompetensi Dasar • Memahami suara olahan • Memahami bicara dalam peran • Memahami gerak permainan • Memahami watak dan penghayatan • Memahami gaya permainan Indikator • Mampu melakukan suara olahan • Mampu melakukan bicara dalam peran • Mampu melakukan gerak permainan • Mampu melakukan penghayatan watak seorang tokoh • Mampu melakukan gaya permainan Latihan dasar seni drama merupakan pegangan pokok bagi setiap pemain drama, karena dengan melakukan latihan dasar kiranya akan dicapai hasil yang memadai. Latihan ini ditekankan pada pengenalan fungsi indra. Manusia sudah dikodratkan memiliki kesadaran akan kediriannya sehingga indra merupakan alat yang maha penting (vital) untuk menghidupkan dirinya ke segala penjuru, bahkan untuk berbuat menurut kehendaknya sendiri. Untuk itu, ikutilah petunjuk-petunjuk latihan dasar permainan drama menurut fungsi indra pada diri kita masing-masing.
Ni Nyoman Karmini 26 SUARA Bagian ini menjelaskan kekuatan suara yang dibentuk atas dasar pernapasan yang benar atau salah. Arti suara dalam permainan drama adalah keutuhan suara agar vokal dengan jelas di dengar penonton. Kekuatan suara ialah tenaga yang membentuk suara menjadi katakata (vokal) yang berasal dari pengumpulan udara dalam ruang dada atau rongga perut. Pernapasan adalah caracara menarik udara untuk dikumpulkan di ruang dada atau rongga perut. Yang benar menurut kesehatan adalah dengan hidung. Perubahan nada atau warna suara dapat dilakukan karena sering latihan. Warna suara ada dua, yaitu suara asli dan suara olahan. Latihan dasar suara dalam kesenian drama dapat dilakukan dengan melatih pernapasan setahap demi setahap. Sebaiknya dilakukan dalam tempat yang lapang dan segar. Pertama, dilakukan latihan suara yang ditekankan pada penghisapan udara sedalam-dalamnya, ditahan di paru-paru, lalu dikeluarkan perlahan-lahan. Ini perlu diulang-ulang. Kemudian latihan ditingkatkan pada penghisapan udara yang cepat, ditahan, lalu dihembuskan segera sampai menimbulkan suara teriakan yang panjang. Cara ini juga perlu diulangulang. Yang penting diperhatikan oleh pemain drama adalah ketepatan meletakkan getar suara. Letak getaran suara di bagian atas kerongkongan akan menimbulkan suara bernada tinggi, dan di bagian bawah kerongkongan akan menimbulkan suara bernada rendah. Hal ini perlu latihan berulang-ulang. Inilah disebut suara olahan. BICARA (VOKAL) Bagian ini membicarakan cara berbicara yang benar. Bicara atau vokal dimaksud di sini adalah percakapan antara pemain dengan pemain sesuai dengan ketentuan naskah.
Teori dan Apresiasi Drama 27 Kalau awal bicara diawali dengan nada rendah, maka pada saat koma harus bernada tinggi. Demikian sebaliknya. Dan pada akhir kalimat harus bernada berlawanan. GERAK PERMAINAN Gerak permainan umumnya untuk setiap peranan dibagi atas 3 arah, yakni arah ke samping (kiri kanan), ke depan (kiri kanan), menyudut (kiri kanan). Selain arah itu sebaiknya digunakan gerak imbangan (improvisasi) agar letak setiap pelaku kelihatan seimbang dan penonton mendapat kesan teratur (harmonis). Dalam istilah drama banyak istilah gerak yang diperggunakan, antara lain: trick (percobaan atau tipuan), move (bergerak), blocking (batas gerakan), move player (gerak permainan), trick move (percobaan gerakan), in side (dalam ruang permainan), off side (di luar ruang permainan), dll. WATAK DAN PENGHAYATAN Watak adalah ciri pribadi seseorang akan tingkah lakunya yang dibawa. sebagai takdir (jiwa kehidupan lahiriah), sedangkan penghayatan adalah peniruan terhadap ciri pribadi seseorang (dalam penokohan). Dalam kesenian drama, terlebih dahulu diadakan pemilihan pemain. Cara pemilihan pemain dalam bahasa Inggrisnya disebut Casting Choise (C.C.) yaitu dengan percobaan (testing) bermain (akting), di mana sutradara sudah menyiapkan bahan. Watak dan acting dalam seni pertunjukan memang bertolak dari sifat pribadi kemanusiaan atau seseorang. Perlu diingat yang ditampilkan bukan watak polos, tetapi watak seni. Latihan dasar watak dan penghayatan dapat dimulai dengan jalan merenung, mengkhayal, menirukan tingkah laku menurut petunjuk naskah, merasakan apa yang terjadi terhadap diri tokoh yang
Ni Nyoman Karmini 28 dibawakan, sehingga sedikit demi sedikit si calon pelaku akan menghayati watak tokoh cerita. Watak dan penghayatan merupakan fondasi yang penting bagi setiap calon pemain drama. Dengan keterbukaan akan didapat rasa percaya diri dan dengan menghayati peranan yang dibebankan pada dirinya berarti pemain itu menjadi figur (bayangan) orang atau tokoh yang diceritakan dalam naskah drama yang ditampilkan. Pedornan permainan drama meliputi tiga hal, yaitu metode ilustrasi musik, metode property, dan metode imajinasi. Metode ilustrasi musik maksudnya adalah dengan musik akan dirasakan suasana tertentu. Kalau musik sesuai dengan adegan, dengan sendirinya menambah nilai pertunjukkan. Dengan metode ilustrasi musik bagi anggota drama banyak memberi manfaat, selain mempercepat daya penghayatan juga menghantar mereka pada cara-cara baru. Cara ini dikatakan baru karena cara lama biasanya hanya menggunakan imajinasi saja dalam latihan dasar. Metode property maksudnya adalah perlengkapan atau benda-benda yang diperlukan dalam permainan drama menurut adegan dan jalan ceritanya. Metode ini mempunyai pengaruh untuk menghidupkan penghayatan si pemain drama sehingga menambah nilai permainan. Property yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dalam naskah. Metode imajinasi maksudnya merupakan cara penghayatan sesuatu yang memerlukan latihan mendalam (intensip). Berangan-angan untuk menghayati watak dan tingkah laku tokoh cerita dalam naskah tidaklah mudah. Dalam drama, semua yang dipertontonkan merupakan penghalusan gerak kehidupan sehari-hari.
Teori dan Apresiasi Drama 29 GAYA PERMAINAN Yang dimaksud gaya dalam kesenian drama adalah gaya yang mendukung watak tokoh dalam cerita drama. Gaya adalah jumlah gerakan, sedangkan gerak adalah bagian gaya. Gaya permainan adalah satu pola permainan (gerakan) yang dibuat, ditampilkan untuk mendukung perwatakan. Gerak mempunyai tingkatan yaitu suatu bentuk penempatan tangan, kaki, kepala, mata (lirikan) untuk menampilkan watak (ekspresi), kehendak hati baik oleh peranan pria maupun wanita. Antara gerak dasar pada gaya tersebut, ada gerak penghubung yang memberi kehalusan gaya permainan. Gerak penghubung adalah satu gerak pengisian pada saat salah satu dari perlengkapan tubuh menuju arah penempatannya. Misal: makan nasi di atas piring. Sudah pasti gerak tangan si pemain tidak seperti robot yang begitu mengambil nasi lalu diangkat ke arah mulut tanpa gerak penghalus plastis. Gerak dalam permainan drama dibedakan antara gerak pria (pa) dan wanita (pi). Gerak tangan pa; untuk ke atas tidak melebihi kepala, ke samping tidak melehihi separo panjang tangan, sedangkan gerak tangan pi ke atas tidak melebihi kepala, ke samping cukup sekitar badan saja. Gerak kaki pa: gerak maju dan ke samping melangkah secukupnya saja, menjejakkan kaki dengan mendahulukan tumit untuk menjaga berat badan, sedangkan gerak kaki pi: untuk maju dan ke samping selalu melangkah secukupnya. Gunakan saja gerak-gerak maju kalau perlu demi kesan feminim. Gerak tubuh pa: sebenarnya tidak penting, melainkan hanya bersifat pengisi saja. Gerak tubuh pi: umumnya sama dengan pria tetapi bagian ini memang kebanyakan menimbulkan daya tarik tersendiri misal: pinggang ramping, membusung, kerempeng, dll. Gerak mata pa: lirikan, tatapan, banyak
Ni Nyoman Karmini 30 menentukan watak. Dengan mata pemain dapat menampilkan kesan bermacam-macam, dapat mengajak bicara pada pihak lawan maupun penonton. Fungsi mata adalah inti ungkapan hati secara langsung (spontan). Gerak mata pi: lirikan, tatapan wanita menentukan peranan. Mata wanita sebenarnya jauh dari perasaannya, artinya mata wanita tidak akan langsung mengungkapkan isi hatinya, apa yang bergema dalam hatinya tidak sepenuhnya tampil di bayangan matanya. Namun, demikian pada umumya mata wanita adalah daya tarik yang mampu membuat hati pria tergila-gila. EVALUASI 1. Ucapkan vokal /a/ panjang dengan suara olahan! 2. Contohkan sebuah pembicaraan yang dimulai dengan nada rendah dan diakhiri nada sebaliknya! 3. Lakukanlah sebuah gerak (move) menuju panggung bawah tengah disertai bicara! 4. Tunjukkan sebuah peran marah! 5. Lakukan sebuah peran marah yang memuncak di atas pentas dari tokoh laki-laki!
31 BAB V PENGGARAPAN PERTUNJUKAN SENI DRAMA Standar Kompetensi • Memahami penggarapan pertunjukan seni drama Kompetensi Dasar • Memahami tata rias; tata busana; tata bunyi; tata sinar • Memahami dekorasi pentas Memahami komposisi pentas Indikator • Mampu melakukan tata rias; tata busana; tata bunyi; tata sinar • Mampu melakukan/membuat dekorasi pentas • Mampu melakukan/mengatur komposisi pentas TATA RIAS S alah satu faktor yang perlu diingat untuk tata rias drama adalah panggung atau pentas sebagai pusat drama. Tata rias ini haruslah mendukung suasana panggung yang dikehendaki sutradara dan cerita yang akan dipentaskan. Tata rias adalah seni menggunakan bahan-bahan kosmetik untuk mewujudkan wajah dari peranan. Perwujudan ini dipandang dari daerah pandang si penonton yang mempunyai jarak paling tidak 4 - 6 meter. Karena itu, dalam tata rias drama perlu diperhatikan dua faktor yang cukup penting: penyinaran lampu (lighting), jarak antara penonton dengan yang ditonton. Tata rias memberikan bantuan dengan jalan perubahan pada para pemain, hingga terbentuknya dunia panggung dengan suasana yang kena dan wajar. Tugas ini dapat berupa
Ni Nyoman Karmini 32 fungsi pokok dan fungsi bantuan. Sebagai fungsi pokok: umpama rias ini mengubah seorang muda menjadi seorang tua, atau seorang laki-laki yang berubah menjadi wanita atau sebaliknya. Sebagai fungsi bantuan bila tata rias hanya menambahkan sedikit saja tata rias wajah dan sang pemeran pada beberapa bagian kecil. Fungsi rias ini akan jauh lebih berhasil seandainya aktor-aktor yang dimaksudkan itu mempunyai syarat watak, tipe dan keahlian yang dibutuhkan oleh peranan-peranan yang akan dilakukannya nanti. Kegunaan seni tata rias dalam drama bisa ditinjau antara lain: (1) merias tubuh manusia, mengubah yang alamiah (nature), yang budaya (culture) dengan prinsip mendapatkan daya guna yang tepat. Agaknya berbeda dengan beauty make up di mana ia mempunysi fungsi mengubah yang jelek menjadi baik; (2) mengatasi efek tata lampu yang kuat; (3) membuat bentuk wajah dan kepala sesuai dengan peranan yang dikehendakinya. Keindahan Rias dalam drama tidaklah hanya membuat wajah menjadi cantik tetapi juga membuat wajah menjadi jelek, namun, tetap artistik dan bernilai estetis. Keindahan ini sifatnya transendental, berdasarkan kerohanian mengatasi yang duniawi dan merupakan sifat yang melekat pada sesuatu yang ada baiknya pada Tuhan maupun pada manusia. Keindahan yang ditangkap manusia adalah keindahan yang estetis yang sebagian besar dipengaruhi oleh jasmani kita. Jadi, keindahan transenden yaitu suatu keindahan yang tidak hanya terpantul dalam akal budi, melainkan oleh akal budi bersama pancaindera yang bersatu padu dalam satu aktivitas. Atau, keindahan estetis adalah keindahan transenden yang berhadapan dengan akal budi yang diliputi oleh pancaindera.
Teori dan Apresiasi Drama 33 Adapun titik tolak dari pemikiran tata rias, adalah (1) melihat dengan jelas apa yang dikemukakan untuk suatu peranan tertentu; (2) kepribadian pemain: jenisnya, bangsanya, wataknya, usianya; (3) dalam hubungan dengan keseluruhan pertunjukan harus diperhatikan hakiki dramanya. Jika peranan tidak memikirkan suatu kekhususan wajah, hendaknya berdandan secantik mungkin, sebab penonton pada dasarnya menyukai suatu kecantikan/keindahan. Mengenai kepribadian, harus memperhatikan bentuk tubuh secara keseluruhan, melebihi wajah. Jenis Rias Dalam seni tata rias terdapat bermacam-macam seni rias yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. 1) Rias jenis, maksudnya rias untuk mengubah jenis seorang pemeran. Misalnya: laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya. 2) Ras bangsa, maksudnya rias untuk mengubah seorang pemain sebagai bangsa asing. 3) Rias usia, maksudnya rias yang berfungsi mengubah seseorang menjadi orang lain yang usianya jauh lebih lanjut. Ketuaan pada wajah biasanya terletak: ada kerut dahi, sudut mata, bibir. 4) Rias tokoh, maksudnya yang terkait antara bentuk luar dengan watak seseorang. Rias tokoh sama dengan rias watak. Misal: rias seorang pelacur berbeda dengan rias seorang tokoh biasa. 5) Rias temporal, maksudnya rias yang mempunyai fungsi untuk membeda-bedakan waktu. Rias untuk sehari-hari berbeda dengan rias untuk ke pesta. 6) Rias eksen maksudnya rias yang mempunyai fungsi untuk mempertegas aksen dari pemeranan. Misal; aksen
Ni Nyoman Karmini 34 yang khas Jawa, Bali, Madura, dll. 7) Rias lokal maksudnya rias yang ditentukan oleh fungsi tempat atau keadaan si pemeran. Dalam seni rias juga dikenal: rias straight make-up, seni rias, ber-make-up sesuai dengan umur dan fungsinya untuk mengatasi kilauan sinar dan menambah keindahan pribadi. Character makeup, melukis dan mengerjakan make-up sesuai dengan watak peranan. TATA BUSANA Pengertian tentang tata pakaian pentas atau kostum atau busana yaitu segala sandangan dan perlengkapannya yang dikenakan dalam pentas. Adapun bagian-bagian kostum sebagai berikut. 1) Pakaian dasar adalah pakaian yang entah kelihatan atau tidak. Ia akan memberikan silhouette pada kostum luar. Misal: korset, stagen, dll. 2) Pakaian kaki (sepatu). Sebetulnya kaki si pelaku dapat menghasilkan atau sebaliknya merintangi efek kostum. Efek kostum adalah efek yang ditimbulkan oleh keseluruhan bagian-bagian dari kostum itu. Stil sepatu amat penting, tidak hanya untuk efek visual saja, tetapi juga sering mempengaruhi cara si pelaku berjalan dan bergerak. Tumit tinggi menyebabkan gerak pinggang lebih banyak, tumit rendah untuk gerak lembut bagi rok bunder, tanpa tumit akan membawa gerak lain. 3) Pakaian tubuh adalah yang kelihatan oleh penonton. Ini meliputi blouse, rok, hemd, baju kerja,dll. 4) Pakaian kepala. Pakaian kepala termasuk juga dandanan rambut. Ini tergantung corak kostum yang dikenakan. Stil rambut kadang juga dikaitkan dengan make-up. Kostum dan make-up sangat terkait karena itu perlu
Teori dan Apresiasi Drama 35 mendapat perhatian bersamaan. Cara menyusun rambut berubah-ubah, karena itu dibantu dengan wig. 5) Perlengkapan-perlengkapan. Pakaian ini sering sangat diperlukan demi efek dekoratif, karakter, dan tujuan lain. Ini meliputi: kaus tangan, dompet, hiasan permata, ikat pinggang, kipas, dll. Perbedaan accessories dan properties tidaklah terlalu jelas. Kadang-kadang bisa saling mengisi. Misal: dompet untuk melengkapi efek kostum adalah accessories, tapi bila dompet itu untuk stage bussines ia telah berubah menjadi properties. Tujuan kostum adalah (1) membantu penonton agar mendapatkan suatu ciri atas pribadi peranan, (2) membantu memperlihatkan adanya hubungan peranan yang satu dengan peranan yang lainnya secara khas. Fungsi kostum adalah agar dapat mencapai efek yang diinginkan, maka hendaknya kostum yang bersangkutan itu, mempunyai fungsi tertentu dalam penampilanya. Fungsinya adalah (1) membantu menghidupkan perwatakan pelaku, (2) mengindividualisasikan peranan, (3) memberikan fasilitas dan membantu gerak pelaku. Dalam penampilannya kostum dapat digolongkan dalam berbagai bentuk: kostum historis, kostum modern, kostum nasional, kostum tradisional, sirkus, hewan, dll. TATA BUNYI Seni drama bersifat auditif visual. Khusus untuk drama radio bersifat auditif. Oleh karena itu, efek bunyi hendaknya membantu penonton untuk lebih mudah membayangkan sesuatu yang sedang terjadi. Efek bunyi dan pembuatannya sebagai berikut.
Ni Nyoman Karmini 36 1) bunyi air laut: air ditempatkan di ember, letakkan didekat mikrofon lalu galaulah sedemikian rupa disertai tiupan ke arah mikrofon; 2) halilintar: selembar seng dijatuhkan/dipukul sedemikian rupa dekat mikrofon; 3) bunyi jam: kotak logam dan kayu atau pensil yang digerakkan kiri kanan dengan teratur yang menyentuh dinding-dindingnya; 4) tembakan: balon karet dipecahkan dekat mikrofon atau pakai petasan; 5) kapal terbang: lipatan kertas yang didekatkan pada kipas angin di muka mikrofon; 6) pintu: buat pintu-pintuan yang engselnya berbunyi berderit, lantainya diberi pasir supaya ada gesekan; 7) sepatu: sepasang sepatu dengan menggunakan tangan digerak-gerakkan di lantai semen atau kayu yang keras dekat mikrofon. Suara Yang dimaksud dengan suara adalah bunyi yang berasal dari makhluk hidup manusia, binatang. Ia merupakan medium manusia untuk mengekspresikan bahasa dalam komunikasinya dengan sesamanya. Suara ini dapat menghidupkan bahasa dan juga sebaliknya. Suara ini juga dapat menunjukkan suasana hati seseorang dalam keadaan marah, susah, riang, dll. Ada beberapa istilah yang perlu diketahui. Texture : kualitet suara yang dapat dirasakan menumbuhkan perasaan suasana senang, kasar, lancar, dll. intonasi : tinggi rendahnya suara pada saat berbicara Mood : perasaan suara yang menggambarkan suasana gembira, susah, marah, dll.
Teori dan Apresiasi Drama 37 Pacing : pengucapan suara pada beberapa kata yang lebih cepat atau lambat dari kata-kata lainnya Stress : tekanan-tekanan suara pada kata-kata yang penting Accent : tekanan pada suatu bagian kata atau suku kata, dalam suatu pengucapan kalimat. Musik Musik akan banyak membantu penonton, menambah imajinasinya. Musik juga membantu sang aktor membawakan warna dan emosi peranannya dalam adegan-adegan yang dilakukannya. Musik dapat juga mengacaukan suasana. Oleh karena itu, musik harus diusahakan sedemikin rupa. TATA SINAR Alat-alat yang digunakan dalam tata sinar dasar. 1) Strip light (tata lampu yang berderet) yang meliputi: (1) open system: bila antara lampu-lampu dalam kotak tidak dipasang sekat-sekat. Lampu itu sendiri sudah berwarna, (2) compartement system: bila di antara lampu-lampu yang bersangkutan dalam kotak sudah ada sekat. Lampu itu kadang sudah berwarna, dan kadang tidak. Jika tidak berwarna bisa dilapisi dengan kertas minyak warna. Penggunaan strip light ada dua macam, yaitu (1) footlights: strip light diletakkan di batas pentas, depan bawah; (2) borderlights: strip light yang diletakkan di atas, digantungkan di belakang border-border. Dalam penggunaannya, strip light ini akan lebih baik bila diletakkan sepanjang mulut pentas. Voltasenya harus sama besar, agar dapat memberikan efek penyinaran yang sama. 2) Spotlights adalah sumber sinar yang dengan intensif
Ni Nyoman Karmini 38 memberikan sinar kepada satu titik atau satu bidang tertentu, memusatkan sinar. Sinar yang keluar ini lalu dikontrol pengaturannya sesuai dengan kebutuhan melalui sebuah lensa. 3) Floodlight adalah sumber lampu yang mempunyai kekuatan cukup besar, tanpa lensa. Lampu-lampu yang digunakan dalam penerangan tersebut dapat digolongkan menjadi tiga: (1) lampu primer (sumber sinar lampu langsung menuju benda yang disinari, sinarnya menimbulkan efek bayangan); (2) lampu skunder (sumber sinar lampu yang sifatnya menetralisir bayangan yang ditimbulkan lampu primer, sehingga tempatnya berlawanan dengan lampu primer. Akan tetapi bila kita membuat kombinasi kedua lampu tersebut saling berlawanan akan menimbulkan efek sinar tiga dimension; (3) lampu khusus untuk menyinari dan menerangi latar belakang (cyclorama). Dalam cara pelaksanaannya haruslah dibedakan antara menerangi dan menyinari. Menerangi hanya sekadar untuk memberi terang, melenyapkan gelap. Menyinari adalah cara penggunaan lampu untuk membuat bagian-bagian tertentu dan pentas sesuai dengan dramatik lakon yang sedang dimainkan. Di mana perhatian penonton dipusatkan pada suatu tempat tertentu, sehingga tempat lain menjadi tidak penting. DEKORASI PENTAS Dekorasi adalah pemandangan yang menjadi latar belakang dan sebuah tempat yang digunakan untuk memainkan lakon. Klasifikasi dekorasi sebagai berikut.
Teori dan Apresiasi Drama 39 1) Ditinjau secara mekanikal: (1) draperies: dan bahan yang tak terlukis, mempertahankan warna-warna aslinya (2) dekorasi terlukis, banyak dijumpai dalam pentas tradisional: wayang orang, topeng. 2) Ditinjau dari sudut konstruksi dekorasi terlukis: (1) flats: dekorasi berbingkai, pada kain tersebut terlukis bentukbentuk yang dibutuhkan, seperti jendela, lubang angin, tiang-tiang, dll.; (2) drops: dekorasi yang dilukis tetapi tidak berbingkai, dipasang pada bagian pentas belakang (cyclorama); (3) plastic pieces: dekorasi ini dibuat dengan menirukan objek asli dan berbentuk tiga dimensional. 3) Ditinjau dan struktur settingnya: (1) drop & wing adalah bilamana sisi atau tepi pentas terbuka, sehingga aktor bisa jalan keluar masuk melewati pintu dekorasi; (2) box. 4) Ditinjau dan sudut lokasi perwujudannya: (1) interrior set: dekorasi mempunyai tujuan rnenggambarkan keadaan di dalam ruangan; (2) exterrior set: dekorasi mempunyai tujuan rnenggabarkan keadaan di luar ruangan. 5) Ditinjau dari sudut. watak desain: (1) naturalistis: dekorasi yang menirukan objek aslinya, alarniah; (2) konvensional: gaya dekorasi menurut konvensi yang sudah berlaku sejak lama. KOMPOSISI PENTAS Pentas adalah bagian dari panggung, suatu tempat yang ditinggikan, agar penonton dapat dengan jelas melihat. Pentas ini bisa saja berbentuk kamar belajar, ruang tamu, dll. Lokasi panggung teater, terbagi atas enam atau empat lokasi akting. Masing-masing lokasi mempunyai makna, untuk menunjukkan adegan-adegan yang dimaksudkan: serius, lucu, sedang rileks, di mana dapur, serambi muka, dll.
Ni Nyoman Karmini 40 Komposisi pentas adalah penyusunan yang berarti dan artistik atas bahan-bahan perlengkapan yang ada pada pentas. Bagaimana pun gerak itu terwujud, sang aktor mempertahankan posisinya membentuk suatu komposisi yang berarti, koposisi yang dinamis. Komposisi-komposisi itu hendaknya: (1) nampak wajar, (2) menceritakan suatu kisah, (3) menggambarkan sesuatu emosi, (4) memberikan indikasi hubungan tokoh perwatakan yang satu dengan yang lainnya, seperti penampilan tokoh antagonis. Dalam pengaturan komposisi ada beberapa aspek yang perlu dikenal lebih lanjut dari segi penempatannya. 1) Unity yaitu kompisisi yang ditampilkan hendaknya nampak sebagai suatu kesatuan yang integral. Kesatuan ini bisa terwujud oleh garis, warna. pakaian, sikap, dll. anasir pentas. 2) Kontras adalah hidup sebuah seni. Penampilan monotoon membosankan. Oleb karena itu, pemeran harus sanggup menciptakan gerak, laku yang tidak sama. 3) Variasi adalah suatu cara pengaturan untuk memberikan kesan yang kuat pada penonton. 4) Koherensif adalah saling tergantung untuk mencapai kesatuan. Saling ketergantungan dalam satu adeganadegan pementasan lakon ini dapat ditumbuhkan dengan jalan mengadakan perpindahan tempat (transisi). 5) Keseimbangan menyangkut benda-benda bergerak, tidak bergerak, dinamis, statis yang harus saling mengimbangi. Keseimbangan ini termasuk di dalamnya keseimbangan jasmaniah di mana aktor tidak berada pada bagian pentas yang tertentu saja. 6) Pemfokusan (titik berat). Dalam penyajian adegan ke adegan hendaknya ada satu titik fokus, pemusatan
Teori dan Apresiasi Drama 41 pandangan. Ini penting guna memperkuat pemeranan lakon dan memudahkan penangkapan penonton. EVALUASI 1. Contohkan tata rias dan tata busana seorang pedagang jamu gedong! 2. Contohkan bunyi angin rebut/badai! 3. Buatlah tata sinar saat peran horror tampil! 4. Buatlah interrior set sebuah ruang makan! 5. Buatlah komposisi pentas dalam sebuah kamar yang melukiskan sang tokoh tidak rapi!
42
43 LAMPIRAN Naskah-Naskah Drama P E N TA S S E N I Karya: Andrias Tamo Ama Kelulusan siswa kelas IX SMP Kennedy’s akan digelar satu bulan lagi. Selama lima puluh tahun berdiri, SMP tersebut tidak pernah mengadakan pesta kelulusan. Pentas seni pun juga tidak pernah. Kali ini, siswa kelas VIII, terutama OSIS, mengajukan untuk mengadakan pentas seni sekaligus pesta kelulusan untuk siswa kelas IX. Tapi Bu Tara, selaku Tata Siswa menolak habis-habisan ide mereka. Rama, Bayu dan Desra—anggota OSIS yang sangat berambisi untuk mengadakan pentas seni—terus membujuk Bu Tara. Perjuangan hari pertama… Desra : “Ayolah, Bu! Saya yakin banyak siswa yang akan merespon baik dengan diadakannya pensi ini.” Bu Tara : “(Menggeleng mantap) Tidak bisa. Pentas seni bukanlah tradisi dari Kennedy’s. Kenapa kamu jadi yakin sekali kalau mereka akan merespon dengan baik?” Rama : “Saya sering mendengar beberapa siswa mengeluh karena tidak diadakannya pentas seni, Bu. Mungkin mereka bosan karena acara-acara di sekolah yang terlalu monoton.” Bayu : “Lagipula, pentas seni akan menguntungkan bagi mereka. Mereka bisa menampilkan bakat masing-masing. Kami akan menerimanya dengan senang hati.” Bu Tara : “Selama lima puluh tahun Kennedy’s berdiri, tidak ada siswa atau pihak mana pun yang ingin diadakannya pentas seni. Tidak ada yang protes kalau selama ini kami tidak pernah mengadakannya. Tapi kalian… (menghela napas).” Alia : “(Tampak berpikir) Mmm… I think their idea isn’t wrong at all.” Rama, Bayu dan Desra: “(Menatap Alia dengan berbinar)” Bu Tara : “(Menatap Alia dengan penuh tanya)” Alia : “Ide mereka mempunyai tujuan yang baik, Bu. Mereka ingin mengadakan pensi, untuk membangkitkan kemampuan siswasiswi di sini dan memberi ‘wadah’ yang tepat. Mereka benarbenar ingin mengadakan pensi dalam artian sebenarnya. Pentas seni. Pentas yang penuh seni. Bukan untuk di jadikan pesta bersenang-senang saja.” Bayu : “Aku baru mau bilang begitu.” Alia : “(Memutar bola matanya)”