The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by karyadosen, 2024-01-28 18:45:02

Teori dan Apresiasi Drama

Teori dan Apresiasi Drama

44 Bu Tara : “(Menatap keempat muridnya dengan alis terangkat) Kalian pikir semua yang kalian inginkan itu tidak memakan biaya yang banyak, hah? Apa kalian—yang benar-benar terobsesi sekali— bersedia untuk membiayai keinginan kalian itu?” Rama : “(menatap Bu Tara dengan tegas) Saya yakin Kennedy’s masih mempunyai persediaan biaya yang melimpah dari donatur. Kita bisa menggunakannya sedikit. Ini tidak akan memakan biaya banyak.” Alia : “Benar, Bu. Dan kita juga bisa menggunakan uang kas OSIS. Dalam peraturan, acara yang bersangkutan dengan sekolah, OSIS diwajibkan untuk menyumbangkan uang kas.” Bu Tara : “(Menatap Alia tegas) Bu Bimbing tidak akan mengizinkan kamu, Alia.” Alia : “(tersenyum mantap) Saya bisa yakinkan itu. Bu Bimbing malah akan dengan senang hati menerima pensi ini. Beliau pengajar seni. Jadi, pasti beliau akan senang jika beliau tau bahwa tempatnya mengajar, masih menghargai seni.” Desra : “Lagipula, pengisi acara akan diambil dari siswa-siswi Kennedy’s yang ingin menampilkan bakatnya. Jadi, sekolah tidak perlu repot untuk membayar pengisi acara.” Bayu : “Saya yakin mereka akan senang tanpa dibayar. Mereka pasti sudah cukup senang dengan hanya tampil. Ini juga ajang ‘pamer’ kreatifitas. ‘Pamer’ dalam arti baik.” Rama : “Bayu, benar. Ini akan dijadikan ajang untuk menampilkan beberapa bakat siswa-siswi Kennedy’s.” Bayu : “Kita juga bisa mengambil Alia sebagai pembawa acara. Dia pasti ikhlas tanpa dibayar. Ya, kan, Al?” Alia : “Aku?” Bayu : “Ya!” Alia : “(Tersenyum dipaksakan) Tidak, terima kasih. Kenapa bukan kamu saja, Tuan Vokalis?” Bayu : “(Menatap Alia penuh ancaman) Jangan bawa-bawa hal itu, okay?” Bu Tara : “(sambil menggebrak meja dengan keras) Cukup!” Alia, Rama, Bayu dan Desra: “(Terkejut dan segera terdiam)” Bu Tara : “Saya tidak ingin berdiskusi dengan kalian tentang masalah ini.” Rama : “Tapi, Bu…” Bu Tara : “(Memotong kalimat Rama) Cukup, Rama! Sekali saya melarang, kalian dilarang untuk menyelanggarakan pensi. Jika kalian tetap mengadakan tanpa seizin saya atau pun kepala sekolah, (memberikan jeda sejenak sambil menatap keempat muridnya) Siap-siap tunggu sanksi dari saya.” Alia, Rama, Bayu dan Desra: “(Menatap Bu Tara dengan mata terbelalak)” Bu Tara : “(Tersenyum meremehkan) Saya yakin, Bu Rina tidak menyetujui acara tidak bermutu kalian.”


45 Alia : “Mm.. Bu…” Bu Tara : “Dan Alia, jangan harap saya mengizinkan kamu untuk ikutikut mereka (menunjuk Bayu, Rama Desra) dalam pensi bodoh kalian. Kamu masih ada tugas proposal dari saya. Dan kamu dilarang untuk meninggalkannya. Barang sedetik. Got it, Alia?” Alia : “(Menghela napas kesal lalu menunduk) Mengerti, Bu.” *** Perjuangan hari kedua… Saat sepulang sekolah, Rama, Bayu dan Desra melihat Alia masih berada di dalam ruang OSIS. Mata ketiganya berbinar begitu melihat gadis itu yang notabene alat OSIS yang paling penting. Rama : “(Mendekat ke arah Alia lalu duduk di sebelahnya, diikuti oleh Desra dan Bayu) Kamu belum pulang?” Alia : “Belum. Masih ada proposal yang harus diselesaikan. Buat Praktek Karya Ilmiah OSN. Kalian sendiri?” Rama, Bayu, dan Desra: “(Nyengir lebar) Hehehe…” Alia : “Oh, let me guess. Masalah pensi, isn’t it?” Rama : “(Menghela napas) Begitulah, Al. Aku masih belum rela Bu Tara belum mengijinkan kita. Aku benar-benar ingin pensi ini diadakan.” Bayu : “Aku juga. Ini bakal jadi unjuk gigi pertama band aku. Pasti bakal keren! (menerawang)” Alia : “(Melemparkan tutup bulpoin ke arah Bayu)” Bayu : “(Mengaduh lalu berdecak sambil menatap marah ke arah Alia)” Desra : “Oh, ayolah, tahun depan kita bakal naik kelas! Dan jabatan OSIS sudah tidak akan kita pegang. Kita tidak akan bisa membujuk Kepala Sekolah atau pun Bu Tara. Suara senior tidak mungkin didengar.” Bayu : “(Mencibir) Kayak kamu bakal naik kelas saja.” Desra : “(Melotot) Heee, jaga omongmu, ya!” Rama : “(Mencoba menenangkan) Sshh, guys, ayolah, coba serius! Dan Alia, kita butuh bantuan kamu.” Alia : “Aku? Apa hubungannya dengan aku?” Rama : “Ya, kita butuh bantuanmu. Kamu ketua OSIS. Dan kamu sering berinteraksi dengan Bu Rina. Aku yakin kamu murid yang dibanggakan di sekolah ini. Dan aku yakin Bu Rina akan menyetujui acara ini. Dengan bantuan kamu tentunya.” Alia : “Meskipun aku setuju dengan acara ini. Tapi apa kamu pernah berpikir, jika kamu sedang memanfaatkan aku dalam hal ini. (bersiap keluar ruangan)” Desra : “(menahan lengan Alia) Wait, oke aku lurusin. Maksud Rama, dia yang bakal ‘ngomong’ sama Bu Rina, tapi kamu harus ikut dengan kami. Bantuin kami ‘ngomong’ tentang ini. Bagaimana?”


46 Alia : “Kamu sudah dengar, kan, Desra? Aku sangat dilarang untuk ikut dalam kepentingan ini. Aku bahkan tidak boleh menelantarkan proposal ini barang sedetik.” Rama : “Kamu bisa menunda dulu pengerjaan proposal ini. Lagipula, event ini masih untuk saat tahun ajaran baru, kan?” Alia : “Tapi, Ram, aku sangat tidak bisa menyelesaikan tugas dengan tidak bertanggung jawab seperti itu. Kamu tahu, kan, orangorang yang menyebut mereka alat OSIS malah asik dengan outbond tidak penting mereka itu! (Suara Alia sedikit meninggi)” Bayu : “Okay, Miss Virgo yang sangat pandai dalam mengatur waktu. Kita akan membantu kamu untuk proposal Karya Ilmiah— apalah itu. Tapi dengan syarat, kamu juga membantu kita untuk pentas seni ini. Apalagi untuk urusan berbicara dengan Kepala Sekolah kita, Bu Rina. Setuju?” Alia : “(Menatap Rama, Bayu dan Desra bergantian lalu menghela napas) Baiklah, aku setuju.” Bayu, Rama dan Desra: “(Menghela napas, lega lalu tersenyum ke arah Alia) Bayu : “(Berbicara ke arah Alia) Lusa adalah hari pemeriksaan oleh Tim Dinas mengenai Adiwiyata. Seharian, Bu Rina akan berada di sekolah. Jadi, kamu dan Rama bisa menemuinya setelah pulang sekolah.” Alia : “(Mengernyit) Hanya aku dan Rama? Terus kamu dan Desra?” Desra : “Ada deh! (Dengan nada misterius)” Alia : “(Mencibir)” Rama : “Terima kasih, Al!” Alia : “(Mengangguk lalu tersenyum)” *** Perjuangan hari ketiga… Mereka berdua -Alia dan Rama- keluar dari ruang Kepala Sekolah dengan wajah yang tertunduk ke bawah. Desra dan Bayu menatap bingung pada keduanya dari tempat mereka duduk di bangku depan ruang Kepala Sekolah. Rama : “(duduk lemas di samping Desra)” Alia : “(duduk lemas di samping Bayu)” Bayu : “Pada kenapa nih? (mengernyit heran) Gagal ya? Yah..” Alia : “We did it! (berteriak sambil berdiri dari duduknya)” Rama : “(nyengir senang)” Desra : “Sialan! (meninju pundak Rama pelan)” Bayu : “Huwanjir, kalian nipu nih! Eh, gimana respon Bu Rina awalnya?” Alia : “(Mengangkat bahu) Ya, begitu deh! Sama dengan alasan Bu Tara. Bukan tradisi lah, takut OSIS tidak bisa menanganilah, takut kurang di respon dengan murid-murid lah. Banyak takutnya.” Rama : “Tapi Bu Rina lebih kompeten. Dia masih mementingkan


47 kemauan siswa-siswinya. Dan sepertinya Bu Rina tidak yakin ini akan berjalan dengan baik.” Alia : “Jadi, kita masih perlu bukti untuk menunjukkan pada Bu Rina bahwa kita dan semua siswa Kennedy’s akan merespon baik pensi ini.” Bayu : “Menunjukkan bukti dengan cara apa?” Desra : “(Tampak berpikir) Err… Voting?” Alia : “(Tersenyum) That’s right!” Rama : “Aku sudah memikirkan hal ini dengan Alia. Jadi, kita dan beberapa anggota OSIS yang masih tinggal akan berpencar ke seluruh kelas untuk melakukan voting, mengenai setuju atau tidak dengan diadakannya pensi ini.” Alia : “Ya, dan suara dari semua guru akan semakin menguatkan kemungkinan kita.” Desra : “Lalu bagaimana nantinya untuk konsep pentas seni kita ini?” Alia : “Sudah ada dalam pemikiranku. Ini akan sangat keren. Nanti malam aku akan tulis lalu aku kirim ke email kalian masingmasing.” Bayu : “Masalah pengisi acara? Apa kita yang akan mengaudisi?” Rama : “Aku rasa tidak. Kita pasti akan dibagikan tugas sendiri saat konsep Alia selesai nanti. Ada ide masalah audisi?” Desra : “Aku ada. Tiara, kelas VIII-3. Dia anak ketua ekskul Drama Musikal. Dia juga aktif dalam beberapa ekskul kesenian. Bagaimana?” Alia : “Oke. Kita gunakan Tiara. Besok kita akan ke ruang DM. Sepulang sekolah.” Hening sebentar. Keempatnya sibuk dengan pikiran masing-masing. Menerawang bagaimana kerennya nanti pensi mereka ini. Sampai tiba-tiba Bayu memecah kesunyian. Bayu : “(Menatap Alia, Rama, dan Desra bergantian) Semoga berhasil, ya, guys!” Desra : “(Menerawang) Aamiin! (semuanya hanya mengangguk)” *** Perjuangan hari keempat… Alia, Rama, Bayu dan Desra berdiri tepat di depan pintu ruangan ekskul drama musikal. Mereka ingin bertemu dengan Tiara, ketua ekskul drama musikal, yang dimaksud Desra sebelumnya. Tapi yang mereka lakukan sekarang hanya berdiam sambil menatap pintu sejauh 5 meter di depan mereka. Tanpa berniat mengetuk pintu atau semacamnya. Alia : “(Menatap Rama lalu menyenggol lengannya)” Rama : “(Meringis. Lalu melotot ke arah Bayu sambil menyikut pinggangnya)” Bayu : “(Memukul punggung Desra)”


48 Desra : “Aku?” Alia, Rama dan Bayu: “(Mengangguk kompak)” Desra : “Oh, ayolah. Aku kemarin sudah dengan gemetaran memberikan hasil voting kepada Bu Rina. Dan sekarang, Tiara?” Bayu : “Ayolah!” Desra : “Kenapa harus aku? Kenapa bukan kamu saja sih, Al?” Alia : “(Berdecak) Aku nggak ada yang kenal dengan anak DM.” Desra : “Kamu pikir aku ada?!” Alia : “Oh come on Desra! (mendorong Desra ke arah pintu)” Desra : “Please deh, Al! Kamu aja deh! (menahan tubuhnya sekuat mungkin dari dorongan Alia)” Alia : “(melotot) Okay, alright then (melepas dorongannya pada Desra, lalu menghela napas sebentar). Rama, please kamu aja! (menatap ke arah Rama yang ada di samping kanannya).” Rama : “Kok jadi aku? (mengernyit heran lalu melengos) Alia : “Kamu deh, Yu? (beralih menatap Bayu yang ada di belakangnya)” Bayu : “May I say, ‘Sorry, I can’t!’, Al?” Alia : “No, you can not! (meninggikan suaranya) Desra, Rama dan Bayu: (bertatapan bertiga dengan aura jahil di sekitarnya) Alia : “Aku mencium aura yang beda di sini (mundur selangkah, mendekat ke arah pintu).” Desra, Rama dan Bayu: “(mendekati Alia)” Alia : “(berbalik dan…membentur pintu) Astaga! (meringis kesakitan)” Desra, Rama dan Bayu: “(tertawa)” Tiba-tiba pintu di buka dari dalam dengan Tiara muncul setelahnya. Alia, Desra, Rama dan Bayu: “(meringis senang)” Tiara : “(tersenyum manis) Silahkan masuk!” Di dalam ruangan ekskul DM. Desra : “Sibuk nggak, kamu? (melangkah ke dalam ruangan)” Tiara : “Oh nggak, udah beres kok! (mempersilakan) Duduk!” Desra : “Thanks! (duduk berhadapan dengan Tiara, diikuti dengan Alia, Rama dan Bayu)” Tiara : “Sorry ya sebelumnya, am I know you before? (menatap Desra, Alia, Rama dan Bayu)” Desra : “Oh ya, Desra! (mengulurkan tangan ke arah Tiara)” Tiara : “Tiara! (membalas uluran tangan Desra) Kamu Desra ketua ekskul karate itu, kan? (melepaskan tangan Desra)” Desra : “Yeah! You’re right! (tersenyum) Ternyata aku terkenal juga ya. (menggumam)” Alia : “Aku Alia! (menjabat tangan Tiara) Tiara : “Oh, ketua OSIS itu kan? (melepas tangan Alia)” Alia : “Iya. (tersenyum) Ini Rama. Dan ini Bayu. (menunjuk Rama, kemudian Bayu)”


49 Rama dan Bayu: “(bergantian menyalami Tiara)” Tiara : “Ada yang bisa aku bantu?” Rama : “Kami berempat sudah mendapat izin dari Kepala Sekolah untuk mengadakan pensi di tahun kelulusan ini.” Tiara : “Wow! Kalian keren bisa membujuk Kepala Sekolah kita! Aku senang kalau ada pentas seni seperti ini. Okay, lalu?” Alia : “Kami ingin meminta bantuan kepada kamu, untuk ikut berkontribusi dalam acara ini.” Desra : “Kami ingin kamu mengambil alih pada bagian seleksi. Semacam audisi.” Bayu : “Dengan kriteria penampilan yang memang pantas ditampilkan untuk acara sekolah.” Alia : “Apa kamu ingin membantu kami? Please? (mengatupkan tangan)” Tiara : “Ini ide yang sangat menarik. (tersenyum) Oke, aku setuju.” Alia, Desra, Rama dan Bayu: “Yes!” Tiara : “Errr… Tapi aku tidak tahu konsep apa yang kalian inginkan.” Rama : “Sepulang sekolah, kamu bisa datang ke ruang OSIS. Atau kita akan menghampiri kamu ke sini.” Tiara : “Okay, seminggu lagi audisinya insya allah akan selesai. Setelah itu, kalian akan kukabari.” Rama : “Terima kasih, Ra!” Tiara : “(Mengangguk) Semoga tahun depan dan seterusnya akan berlanjut ya?” Alia, Desra, Rama dan Bayu: “Aamiin!” *** Setelah seminggu mengaudisi peserta yang ingin berpartisipasi dalam acara ini. Tanggal pensi telah ditentukan. 21 Juni 2014. Sepuluh hari lagi. Karena panitia pensi menginginkan agar belajar para murid tidak terganggu. Maka pensi diadakan sehari setelah pembagian rapor. Alia, Tiara, Rama, Bayu dan Desra tengah disibukkan oleh berbagai macam kesibukkan. Mengatur dekorasi panggung agar sesuai konsep, mengatur latihan para siswa yang akan tampil, menyewa beberapa properti, mengatur makanan dan minuman dan lain-lain. Walaupun ada panitia yang disediakan oleh sekolah, mereka tetap ingin membantu berlangsungnya acara ini. *** Di belakang panggung, tampak Alia, Tiara, Rama, Bayu dan Desra berdiri mengumpul. Wajah mereka sama tegangnya. Mungkin karena acara ini adalah acara pertama mereka yang ikut campur tangan. Tiara : “Semoga mereka bisa tampil dengan baik nantinya.” Alia : “Ya, latihan dari mereka sudah sangat baik. Aku sangat yakin


50 kalau mereka juga akan tampil dengan baik.” Bayu : “Tapi kan, Al, latihan dengan tampil di depan banyak orang itu beda! Apa lagi ini banyak wali murid!” Alia : “Sudah ini, optimis saja. (Bergumam) Mentang-mentang mau tampil.” Bayu : “He, aku dengar, ya?” Alia : “Who cares?” Rama : “Jangan berantem dong! Oh ya, Ra, makasih sangat lho! Kamu sangat berjasa sekali dalam pentas seni ini.” Tiara : “(Tersenyum) Sama-sama. Aku juga sangat berterima kasih pada kalian karena telah melibatkan aku dalam acara ini. Padahal aku hanya mengaudisi saja.” Desra : “Jangan merendah, Ra. Mengaudisi itu juga pekerjaan susah lho! Kita harus memilih penampilan yang cocok untuk di tampilkan di pentas seni ini.” Alia : “Dan kamu menyeleksi tiga puluh orang dari ratusan siswa di sini. Itu hebat lho, Ra!” Bayu : “Dan makasih juga sudah meloloskan bandku, ya, Ra! Baik banget.” Alia : “(Menatap sinis) Idih, paling juga Tiara pilih band kamu cuma karena kamu panitianya!” Bayu : “Apa sih, sirik saja kamu!” Tiara : “(Tertawa) Nggak kok, Al. Bayu dan band-nya memang benarbenar keren. Bayu berbakat. Jadi, nggak salah dong kalau aku lolosin Bayu?” Bayu : “Tuh! Tiara itu orang yang paling paham seni saja tahu kalau aku berbakat. Apa lagi kamu yang tidak tahu seni sama sekali.” Alia : “(Menatap sinis ke arah Bayu)” Tiara : “Ya Tuhan, aku sama sekali tidak pernah menyangka Kennedy’s akan menyelenggarakan pentas seni juga!” Desra : “Dan itu semua berkat kegigihan kita.” Rama : “(Mengangguk) Benar. Memang seharusnya bersakit-sakit dahulu. Baru bersenang-senang.” Akhirnya, pentas seni hari itu berlangsung secara lancar dan meriah. Nah, kalau ada yang butuh naskah buat tugas drama. Ini saya sediakan. Untuk 7 orang termasuk narrator. Bukan romance. Kalau nggak sempurna, maafkan.


51 DARENDRA’S Karya Gusti Ayu Putu Budhi Lestari Hari ini adalah hari Senin, hari yang kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Tak terkecuali siswa yang kini tengah duduk di salah satu bangku kelasnya dengan dua kancing baju atas yang terbuka, jas sekolah yang tersampir di atas kepalanya, dasi yang masih berada di saku celananya, serta kaki yang sudah berada di atas meja. Anak itu bernama Darendra Pramuditha Sentanu atau biasa dipanggil Daren. Anak dengan citra yang amat baik itu kini sedang menunjukkan sisi yang tidak diketahui oleh banyak orang. Toh ini masih pukul 06.15 pagi, siapa juga yang mau datang ke sekolah sepagi ini, pikirnya. Brak!!! (suara pintu terdorong keras) Abi : “What’s Up Everybody” Daren : “Berisik lo Bi pagi pagi gini” Abi : “Weissshh, kalem bos” Maraka : “Gila, mukanya Daren pucet banget. Takut ketauan ya Lo?!” Daren : “Pikir aja sendiri” Abi : “Eh Ren, mending lo siap-siap. Udah ada yang dateng tuh, tadi mereka hampir masuk sini. Untungnya gua sama Raka cepetcepet cegat mereka” Maraka : “Bener kata si Ubi, mending lo rapi- rapi gih” Abi : “Maaf nih, nama gue Abi bukan UBI!” Daren : “Anak-anak juga udah pada datang?” Maraka : “Udah pada nunggu di Sekre” Daren : “Gimana? Udah belum?” Maraka : “Udah, lo—“ Celline : “Kamu selalu ganteng, Re. Udah yuk, kita ke Sekre. Jinar, Rey sama anak anak yang lain udah kumpul. Kita briefing sama doa dulu bentar” Abi : “Eh ada Celline” Maraka : “Lo duluan aja Cel, nanti kita nyusul. Si Daren mau dandan dulu katanya” Celline : ”Yaudah kalau gitu, aku duluan ya semua” Seperginya Celline dan Daren sudah rapi, mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke ruang Sekretariat karena acara akan dimulai 30 menit lagi. Seperti yang dibayangkan, di saat ketiga lelaki itu keluar dari kelas, semua mata langsung tertuju kepada mereka, terutama siswa perempuan. Bisikbisik dari mereka pun mulai terdengar dan tak jarang juga terdengar pekikan tertahan di saat ada satu dua siswa menyapa ketiganya dan dibalas dengan senyum ramah mereka.


52 Acara MPLS SMA Neo 27 dimulai pukul 07.00 kini Daren dan rekanrekannya sudah berada di lapangan, berdiri di depan ratusan siswa yang akan menjadi adik kelasnya. Acara sejauh ini berjalan dengan lancar dan tertib, hingga satu orang siswa menarik perhatian mereka semua, iya semua. Panitia 1 : “KAK ADA YANG TELAT NIH” Reyhan : “Siapa yang telat?” Daren : “Suruh istirahat dulu Rey, mukanya pucet, gua gak mau dia pingsan di sini” Reyhan : “Ok, Ren” “Nah, sekarang istirahat dulu di sini sambil nunggu Daren, dia yang bakal ngasi sanksi ke lo” Reyhan : “Nama lo siapa?” Karina : “Nama saya Karina kak, kakak sendiri namanya siapa?” Reyhan : “hah?” Karina : “Eh… kenapa kak?” Reyhan : “Ah… Enggak enggak.. Nama gue Reyhan, tapi temen-temen manggil gue Rey” Karina : “Salam kenal” Reyhan : “Iya” Setelah lima belas menit berlalu Daren menghampiri siswi yang terlambat itu. Daren : “Istirahatnya udah cukup, ikut saya sekarang” Reyhan : “Dia emang gitu, kaku. Tapi aslinya baik kok. Dah, Sana samperin dia, lo telat 3,5 jam paling dikasi hukuman bersihin WC sama dia” Karina : “Ah, iya kak. Saya permisi kak” Reyhan : “Jagain anak orang, Ren” Daren : “Iyyeee” (Sesampainya di kelas) Daren : “Duduk” Daren : “Nama kamu siapa?” Karina : “Karina, kak”. Daren : “Kenapa telat?” Karina : “Rumah saya jauh kak, tadi saya udah naik ojek berangkat jam 6 pagi tapi di tengah jalan ojeknya mogok, akhirnya saya milih buat naik angkot dan ternyata saya salah jurusan dan kesasar, saya sadarnya juga lama, jadi pas sampai di terminal saya baru ngeh kalau saya itu salah angkot. Cari ojek di terminal dan perjalanan ke sini juga nempuh waktu satu setengah jam, belum tadi ada orang kecelakan terus macet kak. Sebenarnya bisa aja saya bawa motor ke sekolah, tapi di sini dilarang bawa motor selama MPLS jadi mau gak mau saya harus ngojek” Daren : “Udah? Ada lagi yang mau dijelasin?” Karina : “Siap, tidak kak”


53 Daren : “Kamu ngapain?” Karina : “Eh??” Daren : “Kita gak lagi upacara, kamu gak perlu hormat” Karina : “Aduh… maaf kak” Daren : “Sekarang bersihin toilet wanita yang di gedung bawah sama gedung sebelah perpustakaan, kalau udah selesai temui saya lagi. Paham?” Karina : “Siap paham kak, saya permisi kak” Daren : “Bunda, bukan hanya mata kalian, bahkan namanya kalian juga sama. Daren kangen, Bun”. Selesai memberikan hukuman kepada Karina, Daren pergi menuju ruang OSIS karena dia tidak mendapat tugas untuk mengampu kelas, jadi dia memilih menunggu di ruang kebanggannya itu dan ternyata di dalam sana ada Jinar dan Rey yang tengah menyiapkan peralatan untuk sesi bermain nanti. Jinar : “Ren, jangan bilang bukan cuma kita yang ngerasain hal itu?” Daren : “Haha.. Iya gue juga ngerasain itu, mirip banget Ji. Bahkan namanya juga sama. Sama sama Karina” Abi : “Lo gak papa, Ren?” Daren : “Gak papa, santai aja” (40 menit berlalu) Tok Tok Tok Karina : “Hallo Kak Daren, saya sudah selesai mengerjakan hukumannya” Daren : “Makasi ya, sekarang kamu boleh kembali ke kalas kamu” Karina : “Iya kak, permisi” Jinar : “Et dah, liatin aja terus sampe sampe Raka manggil dari tadi gak lo gubris, tuh liat anaknya udah lari ke sini” Daren : “Ngapain dia?” Jinar : “Entah” Maraka : “DARENDRA PRAMUDITHA SENTANU! (dengan emosi) Lo Gua panggil dari tadi gak nyaut-nyaut ya!! Ayo ikut gue ke ruang guru sekarang” Selama kegiatan MPLS berlangsung, Daren tak henti-hentinya mencuri pandang kepada Karina dan tak jarang juga ia mendatangi kelas Karina dengan alasan “kontrol kegiatan”. Ayolah.. Kontrol kegiatan apa yang memakan waktu sampai berjam-jam lamanya??. Bahkan sempat suatu hari salah satu pengampu kelas Karina merasa risih akan kehadiran Daren hingga ia tidak segan mengusir ketuanya yang terhormat itu. Di hari terakhir MPLS Daren melihat Karina tengah berdiri di halte dekat sekolahnya, jam sudah menunjukkan pukul 16.00 yang berarti Karina sudah berdiri di sana kurang lebih 1,5 jam lamanya. Tanpa berpikir panjang,


54 Daren segera menepikan motornya di depan Karina dan menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Awalnya Karina menolak tawaran Daren, namun karena cuaca yang sebentar lagi akan hujan akhirnya Karina menerima tawarannnya. Hening menyelimuti perjalanan mereka hingga Karina yang merasa bosan mengeluarkan Karina :“Kak, lo gak mau nanya gitu kenapa gue diem di halte sampai jam segini?” Daren : “Emang kenapa?” Karina : “Pak Doni gak bisa jemput gue tepat waktu, katanya harus nganter nyonya dulu” Daren : “Nyonya siapa??” Karina : “Mama gue kak” Dua bulan sudah Daren dan Karina saling kenal dan semakin dekat pula keduanya. Banyak fakta yang Daren ketahui tentang Karina. Mulai dari gadis itu adalah pecinta kucing, fakta bahwa Karina bukan gadis yang lugu, halus, anggun, atau segala hal sempurna dalam benak lelaki itu di saat pertama kali mereka bertemu. Nyatanya Karina adalah gadis yang kadang tidak suka mentaati aturan, terkadang jika kesal ia akan mengabsen kebun binatang, tetapi gadis itu memang pintar, bertanggungjawab, social butterfly, dan yang membuat Daren cukup terkejut adalah Karina yang juga menyukai arena malam seperti dirinya, sungguh di luar pemikiran Daren. Salah satu fakta yang teramat Daren senangi adalah bahwa gadis itu adalah anak dari teman dekat sang ayah, dunia sungguh sempit dan tidak sesuai ekspektasi. Reyhan : “Ren, nanti malem turun gak?” Maraka : “Turunlah, ya kali engga. Ya gak, Ren?” Daren : “Iya, gue turun” Abi : “NAHHH, MANTAP!” Jinar : “Tanu is back yohoooo” Pukul 20.00 Daren dan kawan-kawannya sudah bersiap untuk pergi menuju arena yang biasa mereka datangi. Mereka memutuskan berkumpul di lapangan yang dekat dengan rumah Abi. Tak membutuhkan waktu lama, kelima remaja itu sudah sampai di arena dan disambut oleh beberapa remaja yang kenal dengan mereka. Orang 1 : “Yo Tanu, tumben gak make si merah?” Daren : “Lagi di bengkel sob, jadi make si hitam dulu” Abi : “Rame banget malem ini, tumben” Jinar : “Hari terakhir liburan kan, mungkin aja mereka mau rayain dulu sebelum masuk sekolah” Reyhan : “Kita bahkan udah masuk dari dua minggu lalu” Abi : “Nyadar, kita OSIS” Dikta : “Yooo Twinsss”


55 Jinar : “Yooo Bang” Dikta : “Nih jadwal tanding malam ini” Reyhan : “Wah.. si Jevi” Daren : “Lagi-agi sama si Jevi” Dikta : “Dia gak terima kalah dari lo, Nu” Daren : “Nanti kalau lawan gue dia lagi, ganti ya Dik, bosen gue” Dikta : “Siaapp, yaudah gue ke Theo dulu ya” Jinar : “Sini lah suruh bang Theo join kita” Dikta : “Lagi sama Juno dia” Reyhan : “Titip salam bang” Dikta : “Siap” Tibalah sekarang giliran Daren dan Jevian, sorak sorai penonton terdengar riuh. Pendukung keduanya tak bisa dibilang sedikit, bahkan hampir sama rata karena keduanya memang terkenal di kalangan itu. Daren menatap Jevian yang tengah menatap lurus jalan sembari memainkan gas motornya. Daren : “Tumben diem, biasanya berisik” (15 menit kemudian) Abi : “Aduh pak bos tumben banget kalah, kenapa? Gak dikabarin sama ayangnya ya?” Jinar : “Kayak punya aja, orang kaku mana mau dideketin cewek” Maraka : “Lah, itu anak yang telat waktu hari pertama MPLS gimana kabarnya? Makin hari makin deket gue liat-liat” Daren : “Diem” Reyhan : “Rasain lo” Abi : “Songong banget gue liat-liat, lu kalah gue tawain lu. Awas aja” Maraka : “Mau kemana?” Daren : “Tempat biasa” Di saat Daren tengah asik menikmati kesendiriannya, samar-samar dia mendengar suara yang tak asing baginya, segera ia matikan rokoknya dan memakai helmnya kembali dan mencari dari mana asal suara tersebut karena penasaran. Daren terus berjalan hingga sampailah dia ditumpukkan kayu yang tak jauh dari tempat ia merokok tadi, terlihat seseorang tengah duduk di atas salah satu balok kayu dan seseorang tengah berdiri di hadapannya, orang yang sedang berdiri itu melepaskan helmnya dan betapa terkejutnya Daren saat melihatnya. Dengan langkah tergesa, Daren menghampiri tiga orang tersebut yang terlihat asik berbincang, entah membicarakan hal apa . Daren : “Karina? Jevian?” Sena : ”Sena” Jevian : “Tanu, lo ngapain di sini?” “Tanu!!!! Riri mau dibawa kemana?! Hoy!!! Tanu?!” Karina : “Jevi, pulang bareng Sena aja ya! Gue bakal baik-baik aja kok sama ni orang, gue tau dia siapa”


56 Karina : “Mau kemana kak?” Daren : “Ikut aja” 45 menit perjalanan, akhirnya keduanya sampai di sebuh taman. Karina : “Udah sampe?” Daren : “Iya” Daren : “Karina” Karina : “Kenapa kak?” Daren : “Lo sebenarnya udah tau gue siapa sebelum sekolah di SMANEO kan?” Karina : “Iya kak” Daren : “Kenapa engga kaget?” Karina : “Kaget kenapa? Karena sikap kakak di sekolah dan di luar itu beda?” Daren : “Iya” Karina : “Buat apa kak? Banyak kok di luar sana yang memilih untuk menjadi orang yang berbeda jika di sekolah atau di tempat lainnya dengan alasannya tertentu” Daren : “Karina, gue udah kehilangan sosok ibu dari umur 8 tahun. Selama ini gue tinggal bareng Ayah tapi gue gak pernah ngerasain gimana rasanya disayang sama sosok ayah. Kalau gue sedih, gue pasti lari ke makam bunda dan cerita semua unek-unek gue di sana. Dulu kalau gue cerita banyak hal ke dia, pasti dia senyum cerah banget dan kalau gue bandel dia pasti cerewet banget terus kalau buat kesalahan pasti dia ngelejasin semua dengan detail, persis kayak lo. Karina, lo tau? Mata lo dan sifat lo mirip almarhumah bunda gue, gue sempet ngira kalau lo itu bunda dan hampir aja gue lari dan meluk lo, tapi untungnya Jinar cepet bikin gue sadar. Dan lucunya hobi kalian juga sama, sama-sama suka balap. Gue gak paham, bisa gitu ya. Semesta bercanda banget asli” Daren : “Ah, maaf. Gue jadi curhat ke lo” Karina : “Gak papa kak, gue seneng bisa denger cerita lo dan mengenyampingkan fakta kalau kita baru aja kenal. Terimakasih udah percaya sama gue buat jadi tempat lo cerita, lo keren kak bisa bertahan sampai sekarang, lo hebat, bunda lo pasti bahagia liat anaknya bisa sehebat ini” Karina : “Tapi kak, apa lo gak ngerasa capek ngelakuin itu terus? I mean… Jadi orang yang berbeda terus menerus? Kenapa lo memilih untuk ngelakuin itu?” Daren : “Capek kadang, tapi ini udah pilihan gue. Gue udah janji sama Bunda kalau di sekolah gue gak boleh jadi anak berandalan, gue juga gak mau ayah dapet cap jelek karena anaknya yang suka arena malam, lo tau sendiri kan kolega-kolega di sini selalu bandingin anaknya satu sama lain, memamerkan gimana sempurnanya anak mereka, gue gak mau bunda sama


57 ayah kecewa kalau tau anak semata wayang mereka urakurakan.” Karina : “udah coba tanya ke ayah lo tentang hobi lo itu kak?” Daren : “Belum” Karina : “Kenapa engga cooba tanya?” Daren : “Takut dia marah dan kecewa sama gue” Karina : “Lo udah takut bahkan sebelum lo coba kak, ayo coba tanyain sekarang, gue temenin” Daren : “Cantik” Karina : “Jangan liatin gue kayak gitu, gue salting” Daren : “Iyaaa.. ini gue chat Papa ya” Karina : “Iyaaa, semangat Dareenn” Daren : “Yah, kalau Daren punya hobi balap, gimana?” (berselang lima menit) Karina : “Gimana?” Daren : “Di read aja” Karina : “Kak, maaf” Daren : “Ngga apa, udah biasa kok”. Daren : “Hey, liat sini jangan nunduk gitu, gue gak papa” Daren : “Aduh.. Lo cengeng banget ya ternyata, muka sama tingkah doang yang sangar” Karina : “Ish, bukannya nenangin malah ngeledek. Pantes jomblo” Daren : “Gue gak nyangka kalau orang yang bisa ngalahin gue di arena ternyata cengeng gini” Karina : “Diem gak atau gue aduin ke Jevi nih” Daren : “Lo siapanya Jevian?” Karina : “Kakaknya, kita berdua saudara kembar tau” Daren : “Ah…” Karina : “Kenapa? Cemburu ya?” Daren : “Engga” “Oh iya… Karina, gue tau ini bukan waktu yang tepat, tapi gue mau minta izin sama lo. Boleh gak kalau gue jadiin lo tempat cerita, jadiin lo tempat gue buat ngadu, tempat gue buat pulang. Boleh nggak?” Karina : “Ini maksudnya hubungan atau…” Daren : “Sahabat dulu… Lebihnya liat nanti… Tapi pasti, Cuma belum aja” Karina : “Kenapa lo gak minta izin dulu sama Jevian? Dia agak protektif orangnya, setelah itu baru gue pertimbangin izin lo” Daren : “Okay, ayo sekarang kita ke rumah lo” Karina : “Hahahaha.. Ayo, tapi kita beli sogokan dulu buat Jevi” (Sesampainya di rumah Karina) Karina : “Yuk kak, masuk dulu. Kita ngobrol di dalem” Jevian : “Apaan, gak. Gak ada” Daren : “Nih, Jev ada oleh-oleh buat lo tapi gue mau ngobrol sama lo


58 sebentar, boleh?” Jevian : “Waduh… boleh, tapi jangan deket-deket Riri” Daren : “Iya” Sena : “Semangat bang” Jevian : “Jadi lo mau ngomongin apa?” Daren : “Gue mau deket sama kakak lo” Jevian : “Gak ada basa-basi dulu? Langsung ke inti banget?” Daren : “Karena gue serius, makanya gue gak mau bertele-tele” Jevian : “Kalau lo deketin kakak gue dan jadiin dia sahabat, gue fine aja. Silahkan. Tapi kalau lo deketin kakak buat-buat jadiin dia pacar, gue gak bakal kasi dulu karena kalian baru aja kenal dan belum tahu betul satu sama lain, gue gak mau kakak gue sakit karena perasaan lo yang belum tentu itu” Daren : “Iya, gue juga belum berpikiran ke hal itu lo tenang aja, Jev. Selama gue di fase ini, lo bisa menilai gue orangnya gimana dan mempertimbangkan hal selanjutnya.” Jevian : “Iya” Daren : “Makasi Jev, gue ke sini Cuma mau bilang itu aja, sekarang gue mau pulang. Udah malem” Jevian : “Yaa, tiati lo” Daren : “Yoi” (Di depan rumah Karina) Daren : “Jadi gimana tawaran gue tadi setelah lo denger kata-kata Jevian?” Karina : “Karena Jevian ngizinin, jadi iya, gue terima tawaran lo, Kak Daren” Daren : “Makasi,, makasi banyak, Rin” Karina : “R-rin?” Daren : “Iya, gue manggil lo Rin mulai sekarang hehe” Jevian : “Sahabat gak boleh peluk-peluk ya! Jangan sampe gue cabut izin gue buat lo ya Darendra!” Daren : “Eittsss… Kalau gitu gue pulang dulu, Bye Rin” Karina : “Iyaa, hati-hati. Kabarin kalau udah sampe rumah” Daren : “Iyaaa” (Di perjalanan) Ting Daren : “Ayah” “Pulang sekarang” Setelah mengatakan itu, sambungan terputus. Rasa senang digantikan rasa gelisah yang Daren rasakan sekarang, apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan dilakukan sang ayah kepadanya nanti. Ah, bukan waktunya memikirkan itu, sekarang ia harus pulang sesegera mungkin agar sang ayah tidak semakin marah dengannya.


59 (Di rumah) Ayah Daren : “Duduk, Ren” Ayah Daren : “Anak ayah udah besar ya” “Pertama, ayah mau minta maaf ke Daren. Maaf karena ayah belum bisa menjadi ayah yang baik buat Daren, maaf karena ayah selalu gak ada untuk Daren, maaf karena ayah lalai dalam merawat Daren maaf karena ayah gak pernah tanyain Daren udah makan apa belum, gak pernah nanyain Daren ngapain aja hari ini, gak pernah nanyain apa Daren baik-baik aja atau engga. Maaf karena ayah gagal menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk kamu. Dan maaf karena ayah baru sadar sekarang setelah mendengar pembicaraanmu dengan Karina, maaf bukan maksud ayah ingin menguping kalian berdua, tetapi rasanya ayah berhak tau, karena itu menyangkut kamu, Daren. Ayah duduk di belakang kalian berdua tadi, ayah datang di saat kamu mulai cerita tentang bunda ke Kirana. Sakit rasanya mengetahui itu dan melihat wajahmu yang terlihat kecewa dan sedih selama bercerita dengan Kirana, terlebih raut wajah takutmu saat hendak menghubungi ayah. Setakut itukah kamu, nak? Ayah menyeramkan ya? Maafin ayah ya, Daren. Maaf.. Seharusnya ayah semakin dekat dengan Daren setelah bunda meninggal tapi ayah malah ngejauh ya, Daren. Maaf Daren.. Tolong maafin ayah ya jagoan”. Daren : “Ayah” Ayah Daren : “Maafin ayah ya jagoan, mulai sekarang ayah akan banyak luangin waktu buat Daren, Daren mau cerita ayo sini cerita sama ayah nak, ceritain semua yang kamu rasain, senang, sedih, marah, gelisahnya kamu semua ceritain ke ayah ya. Kasi tau ayah ya, nak. Biar nanti kita jalanin bareng-bareng, ya.” Daren : “Jangan diemin Daren lagi, yah…. Daren mau kayak anakanak di luar sana yang jadiin orang tuanya rumah mereka. Jangan kayak kita engga pernah kenal, jangan jauh dari Daren. Daren butuh ayah.” Ayah Daren: “Iya nak… ayah pasti akan jadi rumahnya Daren, selalu jadi rumahnya Daren pulang. Jagoannya ayah. Ayah sayang kamu, Daren. Selalu dan selalu begitu. ” Darendra : “Ayah.. kalau misalnya Daren kasi tau kalau aku suka balap ke temen-temen di sekolah, gimana?” Ayah Daren : “Boleh dong, cakep. Itu hak kamu, ayah dukung kamu asal itu yang bikin kamu seneng” Darendra : “Tapi itu kan balapan liar, yah? Nanti rekan kerja ayah tau kalau aku balap liar gimana? Reputasi ayah turun jadinya” Ayah Daren: “HAHAHAHA jadi kamu mikirin ini? Tenang aja, kamu nggak usah mikirin itu. Reputasi ayah juga akan baik-baik aja,


60 Daren” Darendra :“Bener?” Ayah Daren :“Bener jagoan” Malam itu hubungan ayah dan anak itu membaik, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka di saat mereka bertemu dengan satu sama lain. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk bercengkrama, menceritakan kisah satu sama lain yang belum diketahui oleh keduanya, walau Darenlah yang lebih banyak mengambil bagian dengan menceritakan dirinya di sekolah dan di arena malam. Iya, Daren memutuskan untuk memberitahu ayahnya tentang fakta itu lebih dulu karena sang ayah tak kunjung membahas tentang pesan yang Daren kirim tadi kepadanya. Awalnya sang ayah terkejut mendengar cerita anaknya, tetapi ia tidak melarang Daren untuk melakukan apa yang dia suka, toh dia dan istrinya juga seperti itu dulu, memiliki hobi ekstrem, tak heran jika anaknya juga memiliki hobi yang sama. Hanya saja Daren harus tau batasnya dan mampu menjaga diri. Percakapan keduanya diakhiri dengan Ayah yang mendesak Daren untuk menjelaskan bagaimana ia bisa dekat dengan Karina, anak dari sahabat sekaligus rekan kerjanya tetapi Daren memilih untuk pergi ke kamarnya, menghindar. Hangat, itulah yang dirasakan keduanya setelah percakapan malam ini. Daren tidak akan pernah menyesal karena telah membawa Karina ke taman dan mengirim pesan kepada ayahnya malam ini. (Di kamar) Daren : “Rin..” Karina : “Hallo Kak?” Daren : “Rin, Aku mau cerita…” Kirana Gestya Dewi adalah gadis yang menjadi pilihan Daren untuk mengisi cerita hidupnya selanjutnya. Dengan berbagai rahasia yang hanya diketahui keduanya. Menjadi perempuan kedua setelah sang bunda dalam bagian hidupnya. Daren : “Oh ya, tentang balapan. Ayo besok kita by one. Yang menang bebas mau minta apapun dari yang kalah” Karina : “SIAPA TAKUT” Karina dan Darendra, dua adam hawa yang semakin hari semakin terlihat jelas kedekatannya. Tak hanya itu, Darendra sudah mulai memperlihatkan sifat yang ia tutup rapat-rapat. Seperti sekarang ini, jam pulang sekolah, pekerjaan OSIS sudah selesai, dan sekarang Daren dan teman-temannya tengah duduk di depan kelas dengan kondisi pakaian yang cukup acakacakan. Kancing baju pramuka yang mereka kenakan sudah tidak terpasang pada tempatnya dan memperlihatkan kaos putih yang mereka kenakan, rambut acak-acakan, dan Abi yang hampir saja mengeluarkan satu putung rokok dari dalam saku celananya kalau saja Rey tidak memberi jitakan di


61 kepala Abi. Rey : “Lo tuh ya suka ngelunjak kalau udah bebas gini” Abi : “Ya maaf, udah asem” Maraka : “Asem tuh ngemut permen, bukan ngemut rokok” Daren : “Emang si Abi ngada-ngada doing” Abi : “Diem lu bulol” Daren : “Sirik jomblo” Maraka : “Oh ya,, Dikta tadi chat gue” Rey : “Ada jadwal tanding?” Maraka : “Yoi” Daren : “Tumben ngasi taunya mendadak” Abi : “Kayak tahu bulat aja mendadak” Rey : “Diem lu garing” Abi : “Kayaknya lu dendam banget ya sama gue” Rey : “Iya lah, lu punya hutang sama gue” Abi : “HUTANG APAAN?!” Daren : “Udah kenapa si, itu Raka mau ngomong engga jadi” Abi : “Rey duluan” Daren : “Gue bilang udah” Abi : “IYA IYA” Maraka : “HAHAHA mampus lu” Rey : “Lanjut Rak” Maraka : “Tandingnya dadakan karena pada baru minta, toh juga hari jumat kan sekarang” Daren : “Hmm bener, terus gimana?” Maraka : “Pada mau turun?” Rey : “Mau lah, yakali engga” Abi : “Nah, sekarang waktunya lu turun ya. Udah lama lu engga pake Seren” Daren : “Seren?” Rey : “Ducati merah gue” Daren : “PUNYA NAMA?!” Rey : “PUNYA LAH, emang motor lu engga?” Daren : “Engga, gila kali?” Rey : “Payah” Abi : “Turun semua nih?” Maraka : “Yoi” Seperti yang mereka katakan bahwa keempatnya akan turun ke arena balap malam ini. Mereka berjanji bertemu di tempat biasa, yaitu lapangan dekat rumah Abi, tetapi Daren tidak ikut berkumpul di sana karena harus menjemput Karina terlebih dahulu. Karina wajib ada di sana karena malam ini, untuk pertama kalinya Darendra akan menunjukkan dirinya di arena malam.


62 Sesampainya di lokasi, Darendra dan Karina disambut oleh teriakan dari Abi, memang lelaki satu itu tidak pernah kehabisan energi. Karina : “Hai semua” Semua : “Haaiii, Na” Karina : “Loh, Rey mana? Engga ikut?” Abi : “Tuh, lagi ngobrol sama Bang Janu” Karina : (mengangguk) Daren : “Kamu tunggu di sini bentar ya, aku mau ketemu sama Dikta” Karina : “Iya, gih sana” Daren : “Titip ya, jagain yang bener” Maraka : “Yaaa” Abi : “Gue ajak lu keliling, Daren gimana ya Na?” Maraka : “Paling tangan lu patah ntar” Karina : “Daren engga sekasar itu ya” (15 menit kemudian) Daren : “Udah mau mulai nih, yuk ke depan liat Rey” Karina : “Kamu turun ngga entar?” Daren : “Turun, habis Rey” Karina : “Hati-hati” Abi : “Tuhan kapan saya punya pacar?” Maraka : “Kapan-kapan” Abi : “Adu mekanik aja lah kita sekarang” Maraka : “Lu gue sentil juga melayang, Bi. Mending sekarang lu diem dulu” Karina : “Sabar ya hahaha” Pertandingan pertama dimenangkan oleh Rey, tak mengherankan karena keempat anak adam itu memang cukup jago kalau urusan balapan. Walau, Rey memang jarang turun langsung karena ia tidak ingin membuangbuang bensin dan tentu tenaganya untuk mengikuti lomba yang tidak ada hubungannya dengan masa depannya, tetapi Rey memiliki skill yang setara dengan keempat teman-temannya. Maraka : “Wihhh kasi selamat dulu dong buat yang baru comeback” Rey : “Biasa aja kenapa si, kayak engga pernah liat gue turun aja” Daren : “Bro, lu turun bisa dihitung berapa kali ya” Abi : “Anatomi tubuh lebih menarik dari balap, betul gak Rey?” Rey : “Tumben bener” Abi : “Sabar Abi sabar” Karina : “Selamat ya Rey” Rey : “Makasi Na, engga turun lu?” Karina : “Engga dong, kan bintang kita malam ini lu sama Daren” Maraka : “Udah kayak acara penghargaan bergengsi aja” Daren : “Penghargaan balap liar” Rey : “Hahahaha diem lu” Abi : “Ren, sana lu. Giliran lu kan sekarang? Tuh, Dikta udah manggil-manggil”


63 Daren : “Oh iya, yaudah gue ke sana dulu ya. Jagain” Maraka : “Bawel banget, sana-sana” Daren : “Bye Rin” Karina : “SEMOGA MENANG, SEMANGAT!!!” Abi : “Dua-duanya bucin banget, heran” Rey : “Sirik mulu, engga baik” Maraka : “Tuh, dengerin kata bunda” Rey : “Diem!” Lagi dan lagi, kemenangan berada di pihak Darendra dan temantemannya. Setelai pertandingan, Darendra tidak langsung pergi menuju teman-temannya, melainkan berdiri di dekat motor Ducati hitam miliknya. Tangannya terulur memegang helm yang masih setia melindungi kepalanya sejak ia berangkat dari rumah hingga sekarang. Semua orang menjadikan Darendra pusat perhatian karena hari ini, untuk pertama kalinya mereka akan melihat Tanu, pemenang telak di setiap pertandingan. Mereka tentu tidak sabar melihat paras dari idola mereka. Karina yang masih berdiri di tempat semula bersama Abi, Reyhan, dan Maraka menatap Darendra dengan penuh kecemasan, memikirkan bagaimana respon orang-orang jika melihat Ketua OSIS SMANEO yang namanya terkenal sangat amat baik dan hampir sempurna itu kini tengah berada di arena balap dan ia adalah seorang Tanu. Perlahan, Daren melepas helm yang ia gunakan. Menyisir rambut hitamnya dengan jari-jarinya lalu menatap sekelilingnya. Seketika suara riuh orangorang berhenti, menatap Darendra tidak percaya. Orang 3 : “DARENDRA?! KETUA OSIS SMANEO KAN?!” Orang 4 : “WAAHHH” Orang 5 : “Idola gue di sekolah, idola gue di arena juga?? KEREN!!!” Keempat orang mendengar reaksi semua orang merasa lega, lega karena respon baik semua orang yang berada di sana, yang kebanyakan adalah anakanak SMANEO. Darendra memandang ketiga temannya dan Karina dengan senyum manis andalannya, lalu mengacungkan ibu jarinya, memberi tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Daren : “Jadi, seperti yang kalian lihat. Di sini gue, Darendra Pramuditha Sentanu. Ketua OSIS SMANEO sekaligus orang yang sering balapan liar bareng kalian. Udah, itu aja yang mau gue bilang. Terima kasih buat dukungannya, tapi maaf, gue harus balik duluan karena gue bawa cewek. Selamat senengseneng kalian” Maraka : “Wih bintang kita nih” Karina : “Lega kan?” Daren : “Banget, udah nggak perlu kucing-kucingan lagi” Abi : “Capek kan lu kucing-kucingan?” Rey : “Capek lah, makanya dia bongkar identitasnya sekarang”


64 Abi : “Gue nggak nanya sama lu ya” Maraka : “Ribut terus, sana adu jotos lu berdua di depan” Daren : “Nah kan, dimarah” Karina : “Udah kenapa si, ribut terus” Abi : “Iya iya” Maraka : “Lu jadi pulang kan, Bi? Udah malem kasian Karina” Daren : “Jadi, telat dikit bisa-bisa dicabut izin gue sama Jevi” Rey : “Lucu banget, dulu saling adu mulut, eh sekarang akur kalian berdua. Ini kalau ada Jinar bakal diketawain habishabisan dah lu” Karina : “Eh iya, Jinar mana? Pantesan dari tadi rasanya ada yang kurang” Abi : “Lagi pulang kampus dia, ada acara keluarga” Karina : “Kampungnya dimana emangnya?” Rey : “Paris” Karina : “GILA?! ITU MAH BUKAN PULANG KAMPUNG!” Maraka : “Hahaha, itu rumah neneknya, Na. Tiap tahun memang ada acara khusus gitu buat menjaga hubungan keluarga. Biasanya ganti-ganti tempat dan kebetulan sekarang dapetnya di rumah neneknya yang di luar negeri. Tau kan Jinar anak tunggal, udah pasti nggak dibolehin absen sama keluarganya” Daren : “Anak tunggal, cucu cowok pertama lagi. Tahta tertinggi” Abi : “Lu juga ya, sadar diri kenapa” Rey : “Merendah di amah” Daren : “Sembarangan” Maraka : “Udah pulang sana lu, Ren. Kasian nih Karina” Karina : “Kalian lupa, kalau gue juga sering balap?” Rey : “Engga, mana bisa lupa? Lu satu-satunya cewe yang balap di sini ya” Abi : “Mana nyamar lagi isinya” Karina : “hehehe kan misterius ceritanya” Maraka : “Udah, udah ngobrolnya. Besok lagi. Sekarang Daren, Karina pulang kalian” “Dan lu berdua, stop ngajak Daren sama Karina ngobrol. Kapan pulangnya mereka coba” Rey : “Posesif banget bapak” Abi : “Tau” Daren : “Yaudah, kita pamit ya. Hati-hati kalian” “Yuk, Rin” Karina : “Duluan ya semua” Maraka : “Iya, hati-hati kalian” Abi : “Habis nganter tuan putri, balik lagi ya, Ren” Rey : “Sekalian beliin minum ya, Ren” Maraka : “GAK ADA BALIK KE SINI, PULANG!” Daren : “IYAA AMAN”


65 Karina tertawa melihat Maraka yang dikerjai oleh Abi dan Reyhan. Memang, Maraka adalah “ibu” dari kelompok mereka karena dia yang paling dewasa di antara mereka berlima. Sesampainya di parkiran, Darendra memakaikan helm kepada Karina. Memandang gadis itu dengan tatapan geli karena melihat Karina seperti anak kecil. Karina : “Sebelum pulang, mau jalan-jalan dulu nggak?” Daren : “Jevi gimana?” Karina : “Izin dulu nanti sogok pake martabak” Daren : “Hahaha boleh, bentar aku izin dulu ya” Karina : “Iya” Daren : “Dikasi izin nih, mau kemana kita?” Karina : “YESS, keliling aja yuk. Kalau ketemu yang menarik baru turun” Daren : “Siap tuan putri” Motor Darendra melaju menjauh dari arena balap, entah kemana tujuan mereka nantinya. Darendra senang-senang saja, karena ia pergi bersama Karina. Di saat lampu merah yang menyebabkan Daren harus memberhentikan motornya, ia melirik ke sebelah kanan, ia melihat dua sejoli yang Daren perkiraan lebih tua darinya sedang bercanda mesra dengan si perempuan memeluk pinggang lelakinya. Daren melirik pinggangnya, tidak ada tangan Karina melingkar di sana, melainkan tangan Karina berada di pundaknya, memegang erat bahunya. Karina pun melakukan hal yang sama, lamatlamat ia memperhatikan sejoli di sebelahnya, memikirkan kapan ia dan Daren akan seperti itu. Namun, Daren dan Karina harus bersabar, karena ini belum waktunya mereka untuk ke jenjang selanjutnya, dan keduanya sadar akan hal itu. Daren : “Rin, tunggu sebentar lagi ya” Karina : “Pasti” Tamat.


66 AKU MENCINTAIMU TAPI BUKAN SIFATMU Karya: Luh Novi Arini Pagi itu Dinda akan berangkat ke Sekolah ,sebelum berangkat Sekolah Dinda pamitan kepada kedua orang tuanya. Dinda : Pa,Ma Dinda berangkat Sekolah dulu ya.(sambil mencium tangan kedua orang tua). Papa Dinda : Ya din,kamu yang rajin ya belajarnya. Mama Dinda : Ya Din,kamu hati-hati di jalan.(sambil mengelus rambut Dinda). Sebelum pergi ke Sekolah Dinda menjeput Bella sahabatnya.Di jalan Dinda mulai menelpon Bella untuk memberitahukan bahwa ia akan segera menjemputnya. Dinda : Bell lo udah selesai siap-siap? Bella : Udah Din,ni gue lagi sarapan. Dinda : Oke.gue lagi bentar sampe rumah lo. Bella : Oke gue tunggu,lo hati- hati Din. Dinda sampai di depan rumah Bella.dan langsung menelpon Bella,supaya cepat-cepat keluar Dinda : Bell gue udah di depan rumah lo ni,lo cepetan keluar! Bella : Lo gak mau masuk dulu Din? Dinda : Gak dulu Bell,udah siang ni entar kita telat lagi,gue titip salam sama Papa,Mama lo ya bilangin gue gak bisa mampir. Bella : Oke Din, sekarang gue keluar Dinda dan Bella berangkat bareng menuju Sekolahnya. Bell : Din lo udah bawa topi?hari ini senin kita ada upacara bendera Dinda : Udah Bell,tadi makannya gue juga sempetin sarapan karena gue tau hari ini ada upacara bendera Bella : Gimana ya suasana Sekolah ,setelah kita libur sekolah cukup lama? Dinda : Entar kita liat aja Bell sampai di Sekolah. Dinda dan Bella sampai di Sekolah ia memarkirkan mobilnya dan langsung menuju kelas untuk menaruh tasnya karena upacara bendera sebentar lagi akan dimulai.Priska sahabat Dinda ia sudah dari tadi berada di barisan upacara. Priska : Kalian berdua tu ya untung gak telat,lagi bentar upacara akan dimulai!!! Dinda : Rumah gue jauh Pris,isi tadi macet lagi.


67 Terdengar suara dari pembawa upacara,upacara bendera akan segera dimulai, Dinda dan Priska tidak melanjutkan obroanya lagi. Setelah upacara selesai,semua siswa kembali ke kelas masing masing. Dinda :Gais ke toilet bentar yuk,mau rapiin rambut nih. Bella dan Priska : Yuk(mereka menjawab barengan) Setelah sampa di tolilet mereka sibuk merapikan rambut masing-masing Priska : Din pinjem sisir lo dong Dinda : Nih Pris Setelah dari toilet mereka langsung menuju kelas.karena hari ini Pak Anton tidak bisa mengajar karena ada rapat guru,ia pun memberikan tugas. Priska : Tugas Pak Anton emang selalu sulit ,bikin gue sakit kepala aja! Bella : Lo sih gak pernah dengerin Pak Anton kalo lagi ngajar Priska : Ya juga sih,masalahnya gue kalo pelajaran Pak Anton selalu mengantuk Bella : Dasar lo tu kebiasaan!Din lo udah nomer berapa? Dinda asik chattingan dengan Adit, cowok yang lagi dekat dengannya Dinda : Gue baru nomor 2 nih Bella : Cieee yang lagi pdkt sama Adit Dinda : Hehehehe,gue mau ngajakin Adit ketemuan nih!gak mungkin kan kalo cuma tau lewat sosmed aja Priska : Bener tuh Din,gue ikut ya? Bella : Lo ngapain coba ikut,lo mau jadi nyamuk? Dinda : Boleh lo ikut tapi,entar tunggu di parkiran ya!hehehe Priska : Gak deh,entar gue kayak anak hilang diem di parkiran Dinda, Bella : Hahaha (mereka tertawa barengan) Setelah pulang sekolah Dinda dan Adit ketemuan di taman dekat dengan Sekolah Dinda Adit mengambil ponselnya dan langsung menelpon Dinda Adit : Din udah dimana? Dinda : Aku dekat tempat orang main bola Adit : Oke tunggu,aku lagi bentar sampai disana Setelah itu Adit mematikan telponnya Adit : Haii Din Dinda : Haii Mereka duduk di kursi berwarna putih di taman Adit : Akhirnya kita ketemu juga ya setelah 5 hari cuma chattingan Dinda : Ya Dit(Dinda menjawab dengan singkat karena ia merasa canggung) Adit : Din kamu suka olahraga gak? Dinda : Suka Dit,aku biasanya kalo olahraga bareng sahabatku Adit : Sama Din ,aku juga biasanya olahraga bareng teman-


68 teman,btw rumah kamu dimana Din Dinda : Rumah aku di Sanur,lumayan jauh dari Sekolah,rumah kamu dimana Dit? Adit : Wihhh,jauh ya,rumah aku di jl Hayam wuruk,kamu berani pulang sendiri ini dah malam? Dinda : Berani kok, udah malam aja,yuk pulang Dit! Adit : Yuk Din Dinda dan Adit jalan menuju parkiran Adit : Din mulai sekarang kamu mau gak kta jadi lebih dekat? Dinda : Ya Dit, aku mau Adit : Oke Din, mulai hari ini kita pdkt dulu ya? Dinda : Ya Dit Sesampainya di tempat parkir mereka pun berpisah karena tempat parkir mereka berjauhan Adit : Din, hati hati ya Dinda : Ya Dit, kamu juga ya Setelah itu mereka langung meninggalkan tempat parkir Keesokan harinya Priska dan Bella menanyakan bagaimana pertemuannya dengan Adit kemarin Bella : Gimana lo kemarin sama Adit?lancar ketemunya? Dinda : Lancar Bell,terus dia ngajakin gue pdkt Priska : Lo mau Din? Dinda : Mau, soalnya dari awal gue chattingan sama Adit gue udah ngerasa suka sama dia Priska : Bakalan ada yang gak jomblo lagi nih(ejek Priska) Bella : Ya nih kayaknya Pris Dinda : Kan baru pdkt ,belum tau juga bakalan jadian atau gak Suara ponsel Dinda berbunyi,dan itu pesan dari Adit Bella : Gais pulang Sekolah kita nongkrong sambil buat tugas yuk Priska : Yuk Dinda : Sori sori gue gak bisa ikut ,gue udah janji sama Adit mau keluar sama dia Bella, Priska : Yahhh (meraka menjawab dengan nada kecewa) Hampir setiap pulang Sekolah Dinda dan Adit selalu keluar bareng, sehingga Dinda tidak mempunyai waktu buat keluar bareng sahabatnya Adit dan Dinda makan di Restaurant sepulang dari sekolah Adit : Din besok aku mau kenalin kamu ke temen-temen aku


69 Dinda : Tapi Dit, aku mau keluar sama sahabat aku besok Adit : Kan km bisa keluar sama sahabatmu kapan-kapan! Dinda : Tapi Dit, aku kan udah sering keluar sama kamu,terus akhir-akhir ini aku gak pernah keluar bareng sahabatsahabatku. Adit : Aku gak mau tau Din,besok aku jemput di rumah jam 7 malam Keesokan harinya Adit dan Dinda pergi ke Restaurant untuk bertemu teman-teman Adit Mereka duduk,berdampingan,dan beberapa menit kemudian teman-teman Adit datang Teman Adit : Hallo bro, sori-sori kita baru sampai (tos tangan) Adit : Gak apa-apa bro,gue juga baru sampai,nih kenalan Dinda teman deket gue Dinda bersalaman satu-persatu dengan teman Adit Teman Adit : Gue gak pernah ragu sama pilihan lo bro Adit : Bisa aja lo bro,yuk kita pesan makan Setelah mereka memasan makanan,mereka melanjutkan obrolannya,dan tidak lama pun makanan yang di pesan pun datang Setelah selesai makan Adit mengeluarkan vapenya Adit : Ni bro(ia memberikan vapenya kepada teman-temannya) Dinda merasa tidak diangGap ada di sana oleh Adit karena Adit terlalu asik sama teman-temannya Dinda : Dit yuk pulang! Adit : Bentar Din! Dinda pun lanjut memainkan ponselnya sambil menunggu Adit. Jam menunjukan pukul 22.00 WITA tetapi Adit masih sibuk dengan temantemannya. Dinda : Yuk Dit pulang,udah malam juga. Adit : Bentar-bentar Din! Dinda : Hmm. Kemudian Dinda pergi ke toilet. Dinda : Aku ke toilet ya dit. Adit : Ya Din. Dinda tidak pergi ke toilet, melainkan dia keluar dari restaurant itu, karena ia sudah memesan taksi untuk pulang. Adit pun merasa Dinda lama ke toilet,akhirnya ia pun menelpon Dinda,tetap Dinda tidak mengangkatnya. Sesampai di rumah Dinda pun mengirimkan pesan ke Adit


70 Adit pun langsung menelpon Dinda. Adit : Kamu pantesnya nungguin aku, kan aku jadi malu sama teman-teman ku,gara-gara kamu pulang gitu aja. Dinda : Maaf Dit aku kan udah terus ngajakin kamu pulang tapi kamu bilang bentar-bentar terus ,Itu juga udah malam. Adit : Kamu gak bisa hargain aku ya!!!!!! Adit pun langsung memutuskan telponnya. Dinda pun kepikiran dengan sikap Adit seperti itu. Keesokan Harinya di Sekolah. Bella : Lo kenapa melamun aja dari tadi Din? Dinda : Gue mikirin sifat Adit yang terlalu egois dan gak pernah mau ngerti gue. Bella : Emang lo ada masalah apa sama Adit? Dinda : Gue kemarin dikenalin Adit ke teman-temannya, sampailarut malam, terus gue ngajakin Adit pulang tapi dia bilang bentar-bentar aja, akhirnya gue pesan taksi dan gue bohong ke dia gue bilang ke toilet, setelah itu gue tinggalin dia pulang,terus dia malah marahin gue. Priska : ihhhh, parah Adit dia gak minta maaf, tapi malah marah sama lo!!!! Bella : Lo masih mau deket sama Adit,dengan sikap dia kayak gitu? Dinda : Gue bingung,gue mencintai dia tapi bukan sifatnya yang gk pernah ngerti gue,yang egois(Dinda pun berkaca-kaca menahan air matanya). Priska : Gue pengen lo kayak dulu Din,yang selalu happy dan selalu sama kita. Air mata yang Dinda tahan dari tadi pun akhirnya pecah keluar setelah mendengar kata Priska, Dinda rindu keluar bareng sahabtnya itu. Bella : Jangan nangis Din, yuk kita anter ke toilet. Mereka pun pergi ke toilet. Dinda pun dikelas memikirkan sifat Adit dengannya, dia pun memutuskan kalo tidak bisa lagi deket dengan Adit. Dinda pun mengajak Adit untuk ketemu. Dinda : Dit entar kita ketemu di taman dekat Sekolahku ya,ada yang aku mau omongin Adit : Ya (Adit pun membalas pesan Dinda dengan singkat karena masih marah dengan Dinda) Mereka pun sampai di taman.


71 Dinda : Dit aku mau kita berhenti sampai di sini pdktnya, aku gak bisa nerima sifat kamu, yang egois dan gak mau ngertiin aku. Adit : Lo yang egois, tiba-tiba mau udahan pdkt sama gue!! Dinda : Aku dah pikirin Dit,semenjak aku dekat sama kamu,aku jarang kumpul bareng sahabatku,dan selalu mementingkan jalan-jalan daripada tugas sekolah. Adit : Oke Din klo lo gak bisa nerima sifap gue yang seperti ini, emang bener kita gak usah deket lagi, masih banyak cewek yang mau deket sama gue (kata Adit yang kelihatannya tidak terima). Dinda : Oke Dit, Makasih buat selama ini. (sahut Dinda dengan nada yang kecewa). Di dalam hatinya Dinda pun mengatakan “Aku mencintaimu Dit,tapi bukan sifatmu, semoga kelak kamu bisa sadar dengan sifatmu itu”. Setelah itu Adit pun pergi begitu saja meninggalkan Dinda. Setelah Dinda tidak dekat lagi dengan Adit, Dinda pun kembali seperti dulu selalu ada waktu buat bisa kumpul bareng sahabat-sahabatnya.


72 ANAK DURHAKA Karya Ni Putu Sintya Widya Yanti Sinopsis : Drama ini menceritakan tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya yang terbiasa hidup mewah dan seiring berjalannya waktu orang tuanya tiba-tiba bangkrut dan ayahnya jatuh sakit, mereka kini hidup miskin dan hanya sang ibu yang bekerja di sawah untuk hidup mereka. Naskah Drama : (Di pagi hari asih yang baru bangun langsung ke dapur untuk sarapan tetapi di meja sarapan hanya ada singkong tetapi asih tidak suka makan itu lalu ia marah ke ibunya dan meminta di belikan makanan yang dia suka) Asih : (membuka tudung saji) lohh kok cuma ada singkong aja sih, bu.....bu ( memanggil ibunya) Ibu Asih : iyaa nakk, kenapa? Asih : kenapa di meja makan Cuma ada singkong aja? Aku kan udah laper bu Ibu asih : iya kamu makan itu dulu nak, ibu lagi tidak ada uang, sudah untung ada singkong Asih : aku tidak mau bu, aku mau dibelikan ikan goreng kesukaan ku Ibu asih : tapi ibu tidak ada uang nak Asih : aku tidak mau tau pokoknya harus ada ikan, kalau tidak ada ikan, aku tidak mau makan titik. Ibu asih : hmmm, ya sudah ibu coba pinjem uang dulu di tetangga (lalu ibu asih pergi ke rumah ibu Azan untuk meminjam uang) Ibu Asih : tok...tok..tok... bu Azan Ibu zan : ehh bu Asih, ada apa bu Asih? Ibu Asih : gini bu saya mau minjem uang, ibu bisa meminjamkan saya uang? Ibu Azan : emang untuk apa bu? Ibu Asih : ini untuk saya ke pasar beli ikan karena anak saya belum makan dan saya tidak punya uang Ibu Azan : tapi saya Cuma punya uang 35 ribu saja bu, apakah bu Asih mau? Ibu Asih : iya gapapa bu yang penting saya bisa beli ikan hari ini Ibu Azan : kalau begitu ini buu Ibu Asih : terima kasih banyak ya bu sudah mau meminjamkan saya uang, pasti saya akan secepatnya mengembalikan. Ibu Azan : iya pakai saja dulu bu, nanti kalau sudah ada baru dikembalikan Ibu Asih : iyaa bu terimakasih, saya ke pasar dulu (lalu ibu Asih pergi ke pasar membeli ikan, setelah membeli ikan ibu asih pun pulang dan sesampainya di rumah ibu Asih


73 melihat Asih lemas tergeletak di lantai karena ia belum makan dari pagi) Ibu Asih : (ketika membuka pintu dan melihat Asih tergeletak di lantai) aduh nak kamu kenapa? Asih : badan ku lemas bu, aku lapar Ibu Asih : ya sudah ini makan nak, ibu sudah membelikan kamu ikan Asih : iyaa bu (setelah Asih selesai makan ibu Asih mengajak Asih ke sawah untuk bekerja) Ibu Asih : nak ikut ibu kerja ke sawah yuk Asih : aduh gak bisa bu nanti kulit aku gosong gimana? Ibu Asih : tidak akan gosong nak , bantu ibu yuk Asih : tidak mau ibu, ibu pergi ke sawah sendiri saja Ibu Asih : baik lah nak ( pergi ke sawah dengan raut wajah yang sedih) (suatu ketika bapak Asih meminta asih mengambilkannya makan tetapi asih malah asik sendiri) Bapak Asih : nak.... Asih tolong ambilkan bapak makan Asih : aduhh aapaan sihh, males banget deh (tidak mendengarkan ucapan bapaknya dan malah lain-lain) (karena asih tidak mendengarkan ucapan bapaknya dan dengan berat hati bapaknya bangun untuk mengambil nasi, di tengah perjalanan ke dapur tiba-tiba penglihatan bapak asih kabur dan terpeleset hinggal kepalanya terbentur di lantai lalu pingsan. setelah beberapa menit asih pergi ke dapur dan kaget melihat bapaknya yang pingsan di dapur) Asih : ya ampun bapak, bangun pakk ( sambil berteriak minta tolong) (lalu bapaknya dibawa ke rumah sakit dan setelah diperiksa ternyata bapaknya sudah meninggal, dan jenazah bapaknya dibawa pulang ke rumah untuk dimakamkan, dan tiba-tiba ibu Asih datang dan kebingungan karena di rumah banyak orang) Ibu Asih : ada apa ini? kok rame begini di rumah Asih : bapak bu (sambil menangis) (lalu ibu Asih masuk kedalam dan syok melihat suaminya yang sudah dbungkus kain kafan) Ibu Asih : aduhh bapakkk.... bapak kenapa ini asih? Kenapa bisa begini? (sambil menangis dan teriak-teriak) Asih : (hanya bisa menangis saja dan tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya) (di saat upacara pemakaman ibu Asih sangat syok sehingga beberapa kali pingsan dan tidak sadarkan diri) ( 2 hari kemudian asih meminta ibunya untuk di belikam baju baru) Asih : bu belikan aku baju baru ya, aku mau pergi ke ulang tahun temen ku Ibu asih : tapi ibu enggak ada uang nak , ibu kan belum kerja lagi


74 Asih : pokoknya aku mau baju baru bu, kalau tidak rumah ini aku hancurin Ibu Asih : iya sudah ayo ke pasar ikut ibu (dengan muka terpaksa meng iyakan untuk membelikan baju baru daripada rumahnya harus hancur) Asih : asikkk gitu dong bu Ibu Asih : tapi kamu jangan beli baju yang mahal-mahal yaa Asih : iyaa buuu (sesampainya di toko baju asih asik memilih-milih baju dan tidak sengaja bertemu dengan nurul temannya dan temannya bertanya) Nurul : ehhh itu siapa yang kamu ajak sih? Ibu mu? Asih : (menjawab dengan sombong) itu pembantuku bukan ibuku Ibu Asih : ya Tuhan kenapa tega sekali anak ku berbicara seperti itu di depanku, aku sudah tidak kuat berikanlah anakku hukuman yang pantas untuknya Tuhan (berbicara dalam hati sambil menangis) (setelah selesai membeli baju Qsih dan ibunya pulang ke rumah, tapi di tengah perjalanan ibunya jatuh pingsan dan berkata) Ibu Asih : nak ibu sudah tidak kuat nak (sambil memegang dadanya dan menghembuskan nafas terakhir) Asih : buuu bangun bu, jangan tinggalin Asih ( sambil minta tolong) (sesampai di rumah sakit ternyata nyawa ibunya sudah tidak tertolong, Asih sangat syok dan teriak-teriak ia tidak terima ibunya harus meninggal dan kini Asih menjalani hidup sebatang kara dan tidak mempunyai siapa-siapa dan inilah hukuman bagi anak yang durhaka)


75 LES PIANO Karya Citra Dian Casvarina Siang itu di sekolah, Ratna, Gita dan Alyssa makan di kantin sembari mengobrol bersama. Ratna : “Sa, Git, selesai UAS nanti kita jalan-jalan yuk!” Gita : “Hmm... Kayaknya aku gak bisa deh. Aku ada jadwal les piano” Alyssa : “Iya aku juga nih” Ratna : “Oh iya, kalian berdua kan les piano.” Gita : “Katanya kamu juga mau les piano na?” Ratna : “Gak jadi deh. Susah main piano. Lagian juga udah terlambat.” Gita : “Terlambat apanya?” Ratna : “Aku udah umur segini, beda sama kalian yang belajar piano dari kecil” Alyssa : “Oh jadi karena itu” Gita : “Na, gak ada yang namanya terlambat kalau kita mau belajar. Kalau kamu mau tekun belajar piano, pasti kamu bisa.” Alyssa : “Dengerin tuh kata Gita, na.” Ratna : “Tapi aku gak akan bisa menyamai kalian berdua” Gita : “Gak ada yang instan na, semua butuh proses. Semangat!” Ratna : “Iya Git. Makasih ya udah memotivasi aku.” Gita : “Iya, sama-sama na” Ratna : “Aku jadi les piano deh” Alyssa : “Nah gitu dong! Nanti kita satu tempat les saja” Gita : “Ide bagus tuh!” Ratna : “Oke deh” Tak terasa waktu berlalu, bel sekolah pun berbunyi tanda siswa harus memasuki kelas karena pembelajaran akan dimulai. Ratna, Gita dan Alyssa menghentikan obrolan, mereka bergegas untuk memasuki ruang kelas. Sepulang sekolah Ratna dan Alyssa tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mampir ke rumah Gita untuk mengerjakan tugas sekolah. Ada 2 tugas yang mereka kerjakan saat itu. Sambil mengerjakan tugas, Ratna kembali menanyakan tentang les piano itu. Ratna : “Git, gimana cara ikut les piano?” Gita : “Kamu daftar dong. Baru bisa ikut lesnya” Ratna : “Aku perlu isi formulir gak?” Gita : “Gak usah. Daftarnya langsung ke pelatihnya kok.” Ratna : “Kalau biaya perpertemuannya sampai 500 ribuan gak?” Gita : “Enggaklah na. Cuma 200 ribu kok 1 kali pertemuannya” Ratna : “Oh gitu. Besok antar aku daftar ya Git”


76 Gita : “Oke deh sipp na! Sekalian aku les juga besok” Alyssa : “Ehh, tapi kita beda kelas dong sama nana?!” Gita : “Iya sih, nana bakal masuk kelas pemula” Ratna : “Yah, kok gitu? Aku takut kalau gak sama kalian. Aku kan sama sekali gak bisa” Alyssa : “Santai aja na, dulu aku juga gitu kok. Kamu kira aku udah pro kayak Gita?! Aku dulu juga beda kelas sama Gita” Gita : “Ngawur kamu! Pro dari mananya?!” Alyysa : “Emang bener kan? Aku susah payah lho belajar main piano sampai akhirnya aku bisa sekelas sama kamu Git” Ratna : “Oh gitu sa. Tapi iya sih Gita emang jago main piano” Gita : ”Aku biasa aja kok na, cuma aku lebih dulu les pianonya dari sasa... Pokoknya kamu tenang aja na, yang penting kamu ikuti apa yang diberikan oleh pelatih” Alyssa : “Kamu pasti bisa. Semangat!” Gita : “Semangat na!” Ratna : “Makasih ya kalian selalu memberi semangat dan memotivasiku. Aku sayang kalian!” Alyssa : “Oh iya, besok aku nebeng ya ke tempat les piano. Soalnya besok motorku dipakai sama mama. Hehehe” Gita dan Ratna: “Yeeeee......” Hari sudah mulai malam, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Mereka pun mengakhiri obrolan mereka, lalu mereka pulang ke rumah masingmasing.


77 WARNA YANG TELAH HILANG Karya Gusti Ayu Bintang Wihandhani Pagi hari ketika mentari mulai menyapa, Gita terpaku melihat Ibunya menangis dengan sepucuk surat perceraian yang ada di atas meja makan. Ibu Gita : “Ayah sudah memilih perempuan lain, besok ayah tidak tinggal lagi di rumah ini” Gita : “Kenapa? Kenapa semua jadi kayak gini bu?” Sang ibu hanya memeluknya. Mereka pun menangis bersama. Sejak saat itu kehidupan Gita pun mulai berubah. Gita : “Bu, nanti aku mau pergi ke acara ulang tahun temen ya” Ibu Gita : “Kamu gak usah pergi ya, bantu ibu jaga Adel” Gita : “Jaga Adel terus. Aku kapan punya waktu untuk main sama temen-temen?” Ibu Gita : “Bantuin ibu kenapa sih? Jaga adik sendiri kok gak mau” Gita : “Yaudah iya” Di kamarnya, Gita hanya bengong dan berbicara pada dirinya sendiri. Gita : “Rasanya kayak kurang perhatian dan gak ada yang ngerti sama aku. Ketemu ayah cuma sebulan sekali, itupun cuma ngasih uang jajan. Ibu sibuk ngurus pekerjaan rumah dan perhatiannya selalu untuk Adel.. Ahhh.. rasanya rumah bukan lagi tempat untuk pulang” Keesokan harinya seperti biasa Gita berpamitan dengan Ibunya untuk pergi ke sekolah. Gita : “Bu aku berangkat” Ibu Gita : “Yang bener ya ngerjain ujiannya” Gita : “Iyaa” Ketika sudah agak jauh dari rumah, Gita tak benar-benar pergi ke sekolah. Gita memilih untuk nongkrong di kafe kopi favoritnya. Gita : “Mbak pesan es kopi susu satu ya” Pelayan : “Baik kak, ditunggu” Gita : “Iyaa..” Ketika sedang menunggu kopi pesananya, Gita terus melamun memikirkan permasalahan yang ia hadapi. Pelayan : “Pemisi kak, ini es kopinya” Gita : “Terima kasih” Pelayan : “Sama-sama” Setelah menikmati kopinya, Gita pun mulai merasa bosan. Gita : “Aaah bosan.. ke mana lagi ya sekarang? Jalan aja dulu deh”


78 Usai dari kafe, Gita pun menuju sebuah bangunan kosong dan menyendiri di sana. Gita : “Ngapain juga aku ikut ulangan, toh gak sempet belajar karena terus-terusan jaga Adel. Buat apa aku berusaha menjadi gadis baik kebanggan semua orang, sementara kehidupan gak bersikap baik kepadaku” Gilang : “Hallo boleh gabung?” Gita : “Kamu siapa?” Gilang : “Kenalin, aku Gilang. Kamu?” Gita : “Aku Gita” Gilang : “Kok nangis? ada masalah apa?” Gita : “Gapapa kok” Gilang : “Nih cobain dulu rokok sebatang” Gita : “Uhuk uhuk uhuk” Gilang : “Hahaahaha belum pernah ngerokok ya?” Gita : “Belum” Gilang : “Pantesan aja.. yaudah kalau gabisa, siniin rokoknya” Gita : “Gak. Mau nyoba lagi” Gilang : “Okey.. rokok kadang bisa bikin perasaan kita sedikit lebih tenang walaupun lagi ada masalah.” Gita : “Orangtuaku cerai lang. Dan sekarang hidupku berubah banget. Gak ada yang peduli dan ngerti sama aku. Ayah cuma sebulan sekali dateng, itupun Cuma ngasih uang jajan doang. Sedangkan ibu, selalu sibuk ngurus rumah dan adikku. Capek banget deh” Gilang : “Berat juga ya.. ini kamu bolos ya Git? Pakai seragam sekolah tapi malah diem di sini” Gita : “Iyaa.. hari ini sebenernya ada ujian, tapi aku males. Pasti gak bakalan bisa jawab, soalnya aku gak pernah ada waktu untuk belajar. Disuruh jaga adik mulu. Aku juga udah sering bolos belakangan ini. Pergi ke sekolah malah bikin pikiran makin kacau” Gilang : “Bener.. gak usah ke sekolah kalau gitu. Ngapain juga bikin beban pikiran makin nambah” Gita : “Hahaha iyaa juga. Eh lang keasikan ngobrol nih kita. Udah sore, aku balik dulu ya” Gilang : “Yoi” Begitu sampai di rumah, Gita disambut oleh kemarahan sang ibu. Ibu Gita : “Bilang ke sekolah tapi ternyata keluyuran! Kemana aja kamu? Jangan pikir kamu bisa ya bohongin ibu!! Guru kamu nelfon tadi bilang kamu enggak ikut ulangan!! Bahkan udah beberapa minggu kamu sering absen di sekolah. Kamu kemana aja?” Ibu Gita : “Kenapa gak jawab? Selain berubah jadi anak membangkang, kamu sekarang berubah jadi anak tuli juga ya?! Ibu di rumah capek-capek ngurusin ini itu, belum lagi jagain Adel.. kamu malah enak-enakan keluyuran sana-sini”


79 Gita : “CUKUP BU CUKUP!! Ibu selalu merasa jadi yang paling capek, sedangkan ibu sedikit pun gak pernah mikirin aku. Aku juga capek bu!! Kalau ibu mengharapkan Gita si anak baik, rajin, kebanggaan semua orang, ibu gak akan pernah ketemu sama dia lagi. Karena sekarang, bagiku Gita yang seperti itu sudah mati!!” Gita pergi dari rumah dan berlari menuju bangunan kosong. Gita : “Gak ada lagi yang bener-bener peduli!! Gak ada yang ngertiin aku! Aaaakkhh!!” Gilang : “Ngapain teriak-teriak di sini? Kerasukan?” Gita : “Ya kamu tau lah lang” Gilang : ”Nih ngerokok dulu biar tenang” Gita : “Katanya Tuhan bisa bantu, tapi kemana Tuhan sekarang? Aku udah gak percaya siapapun lagi termasuk Tuhan. Hidupku udah beneran kelabu” Gilang : “Mungkin ini bisa bantu kamu lupain semuanya” Gita : “Ini apa?” Gilang : “Coba aja dulu. Kalau butuh lagi, bisa hubungi aku. Nih nomor teleponku” Gita pun meminum obat tersebut, dan beberapa saat kemudian Gita merasakan ada hal berbeda dalam dirinya yang membuat ia merasa nyaman dan melupakan segalanya. Sejak saat itu Gita selalu rutin mengkonsumsi obat yang diberikan oleh Gilang. Tanpa obat itu, tubuh Gita akan menggigil seperti orang kedinginan. Gilang : “Barang baru nih Git, efeknya lebih mantap” Gita : “Wah boleh tuh. Aku beli lang” Gilang : “Kalau butuh lagi, seperti biasa hubungi aku” Gita : “Siap” Suatu hari, Gita menemukan obat miliknya sudah habis. Seperti biasa ia pun menghubungi Gilang untuk mendapatkannya. Gita : “Lang aku butuh obat yang minggu lalu” Gilang : “Harganya naik 2 kali lipat ya Git, karena susah dapetinnya. Kamu siapin aja uangnya, nanti sore kita ketemu di tempat biasa” Gita : “Hah kok jadi mahal banget? Aku gak ada uang segitu” Gilang : “Kan aku udah bilang dapetinnya susah jadi sekarang harganya udah naik Git.. harga biasa udah gak dapet lagi” Gita : “Tapi sekarang aku gak megang uang segitu lang.. tolonglah kasi aku barangnya dulu, nanti sisanya aku bayar” Gilang : “Gak bisa ya Git. Ada uang ada barang” *tut tut tut* Setelah Gilang mematikan sambungan telepon, Gita pergi menuju sebuah taman yang sangat ramai pengunjung. Ada sebuah niat jahat yang timbul dalam pikiran Gita.


80 Gita : “Atau aku nyopet aja? Di sini lumayan ramai, pasti gak akan ketahuan” Gita pun memulai rencana jahatnya. Ia berniat mengambil dompet seseorang. Gita pun memasukkan tangannya ke sebuah tas milik seorang wanita tua dengan sangat hati-hati. Namun belum sempat dompet itu terambil, ternyata ada seorang anak kecil yang melihatnya. Anak kecil: “Nenekkkk.. ada pencuri!!” Gita : “Sialan” Setelah anak kecil itu berteriak, semua orang yang ada di taman itu pun meneriaki Gita dan berusaha mengejarnya. Setelah berlari dengan sangat kencang, Gita berhasil lolos dari kejaran orang-orang itu. Gita : “Sial. Di mana aku bisa dapetin uang kalau kaya gini? Oh iya aku lupa! Ibu pasti punya tabungan. Aku ambil aja tabungan ibu sekarang” Gita pun kembali ke rumahnya dan menuju kamar ibunya secara diamdiam. Gita : “Yeah ini dia” Setelah mengambil tabungan milik ibunya, Gita pun melakukan transaksi dengan Gilang. Dan Gita segera menikmati obat tersebut di kamarnya. Ibu Gita : “Apa ini Gita??!!! Ya Tuhan.. kamu pakai narkoba??!! Uang ibu yang di kamar kamu yang ambil kan? Kamu pakai buat beli narkoba ini?!” Gita : “Berisikkk!!” Gita pergi dari rumah dan berlari menuju bangunan kosong tempatnya biasa menyendiri. Gita : “Hidupku udah jauh dari kata bahagia. Kehidupani yang ada banyak warna udah lama hilang. Maaf ayah, maaf ibu..” Gita menyuntikkan obat ke tubuhnya dan Gita pun tak sadarkan diri. Malam hari pukul 10 malam, polisi menemukan jasad Gita di bangunan kosong. Diduga penyebab tewasnya Gita adalah karena overdosis obatobatan terlarang. Ayah dan Ibu Gita turut hadir di lokasi penemuan. Ayah Gita : “Gitaaaa... maafin ayahhhh” Ibu Gita : “Giiitaaaaaaa” Kehidupan yang awalnya penuh warna pun bisa berubah menjadi kelabu. Hargai keberadaan keluargamu selagi ada. Kita tidak akan pernah tahu seberapa berharganya kehadiran seseorang hingga kita merasakan kehilangan. TAMAT


81 PERSAHABATAN Karya Oci Bili Laki, Dono,dan Mona merupakan 3 sahabat yang sudah berteman sejak mereka duduk dibangku sekolah dasar. Ketiganya tidak pernah bersebrangan hingga pada suatu hari Dono seolah menjadi sosok yang lain. Pada suatu hari mereka bertiga sedang berkumpul disebuah halaman sekolah tempat mereka sedang menimba ilmu. Skenario drama Babak 1 Laki : Don, kamu kayak yang kelihatan aneh gitu? Dono : Aneh? Emang kenapa? Mona : Iya, btul kamu lak, dono kayak nggak biasanya deh, nggak tau aneh gitu! Dono : Apaan sih maksudnya kalian? Emang ada apa dengan gue? Mona : Nggak tau, mukakamu juga kayak kelihatan suram gitu? Laki : Iya, bener itu mon. Dono : Ya kalian ini ngaco aja! Semalem kan menjelang pagi gue baru tidur, ya wajar aja kalo muka gue terlihat pucat. Laki : Nah, kan mau pagi baru tidur ngapain aja semaleman? Dono : Biasa, main game. Mona : Main game sampai nggak tidur?! payah kamu don! Laki : Iyakamu Don. Main itu kan harus tau waktu. Dono : Ah.. kalian kayak ibu gue aja, banyak ngomong. Mona : Nggak bias gitu dong Don. Kalo kamu terbiasa main game sampai larut malam gitu otomatis kan Kesehatan kamu bias terganggu karena kurang istirahat. Selain itu, jadwal belajar kamu lamalama juga ikut keganggu. Dono : Ah.. nggak mau tau gue,yang jelas gue bias menikmati main game,ya udah. Laki : jangan gitu Don, main game sih boleh-boleh saja, tap ikan kamu harus tau waktunya Dono terdiam, dan tidak merespon perkataan laki. Dan setelah itu tidak lama kemudian mereka bertiga masuk ke ruang kelas karena lonceng sudah berbunyi. Sore harinya mereka Kembali bertemu di sebuah taman di dekat rumah mona. Laki Kembali mencoba melanjutkan pembahasan mereka bertiga pada saat di sekolah.


82 Dialog drama Babak 2 Laki : Don, gue mau nyambung bahasan kita tadi waktu di sekolah. Mona : Iya, kok kamu lebih mementingkan game sih Don daripada Pendidikan kamu? Dono : sebenarnya gue jadi orang mau enjoy aja. Ya, dengan main game kan gue bias terbawa suasana yang asyik, sementara kalo belajar meluluh gue jadi nggak betah. Laki : Bukannya gue tuh nggak suka kalo kamu main game,tapi maksud gue kamu jangan main sampai larut malam dan menyepelehkan program belajar kamu. Mona : Benar tu Don. Dono : nggak tau, akhir-akhir ini gue emang rasa malas dengan belajar. Mona : pantasan nilai kamu anjlok! Laki : Iya, orang kamu main game melulu. Mona : Terus kamu sampai kapan mau terus kaya begitu? Jangan siasiain waktu kamu untuk main game doang Don. Ingat, sebentar lagi kamu akan menjadi orang dewasa, dan kamu akan memikul tanggung jawab yang cukup besar. Dono : Iya deh, gue akan coba untuk mengatur waktu gue lebih bijak lagi. Laki : Bagus itu Don, benar kata mona. Jangan menghabiskan sisa waktu kamu hanya untuk main game doang dan kamu harus gunakan waktu kamu untuk belajar dan kamu harus Ingat masa depan yang akan datang Don! Dono : Iya, terima kasih sudah ngingatin gue. Mona : Eh udah mau adzan maghrib nih, kalian nggak pada pulang? Mau sholat di rumah gue yaa? Dono : Iya ya..udah gelap amat nih…Ya sudah deh gue pulang duluan mon,,,sampai ketemu besok di sekolah. Mona : Oke, see you… Selesai…..!!


83 DAFTAR BACAAN Asmara, Adhy. 1979. Apresiasi Drama. Yogyakarta: Nur Cahaya. Hamzah, A. Adjib.1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: C.V. Rosda. Harymawan, RMA. 1986. Dramaturgi. Yogyakarta. Karmini, Ni Nyoman. 2000. “Teori dan Apresiasi Drama”. Tabanan: IKIP Saraswati. Karmini, Ni Nyoman. 2007. “Teater”. Tabanan: IKIP Saraswati. Karmini, Ni Nyoman. 2011. Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama. Denpasar: Pustaka Larasan bekerja sama dengan Saraswati Institut Press. Nalan, Arthur S. 1984. ”Pengantar Tata Pentas”. Bandung: Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Sub proyek Akademi Seni Tari Indonesia. Riantiarno, N. 2004. Trilogi Opera Kecoa. Yogyakarta: Mahatari. Sugiyati SA. Ed. 2002. Menjadi Sutradara. Karya Suyatna Anirun. Bandung: STSI Press Bandung, Puslitmas STSI Bandung.


84 INDEKS A artistik 10, 32, 40 auditorium 4, 14, 19 B Bali ii, 34 beauty make up 32 borderlights 37 budaya Barat 7 C Casting Choise 27 Cepung 6 circus theater 21 D downstage 14, 23, 24 drama iii, iv, 2, 4, 7, 8, 10, 14, 16, 21, 22, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 35, 47, 50, 81, 82 dramaturgi 1, 6, 8, 11 E ekspresi bunyi 2 ekspresi gerak 2 estetis 3, 32 extreme long shot 16 F full shot 16 H Hairlamp 21 Henning Nelms 15 I improvisatoris 6 Indonesia iii, iv, 5, 83 J Jawa 34 K Kentrung 6 Ketoprak 6 Ki Hadjar Dewantara 4 Komedi Bangsawan 6 Komedi Stambul 6 M Madura 34 Mangkunegara VII 4 Melayu 6 metode ilustrasi musik 28 metode imajinasi 28 metode property 28 Movement v, 22, 23, 24 move player 27 O offstage 14 onstage 14 P panggung Arena 19 Panggung arena 10 Panggung biasa 10 panggung Tapal Kuda 19, 24 Panggung terbuka 10 penyutradaraan 1


85 playing space 13, 14, 19 proscenium 14 publik 4 R Randai 6 ring theater 21 round theater 21 S sastra lisan 6 Seni kolektif 5 Strip light 37 Surakarta 4 T tata pentas 1 teater iii, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 11, 19, 21, 22, 39 Teater Bangsawan 6 Teater Kontemporer 7 Teater Konvensional 7 teater modern 5, 7 Teater Rakyat 6 teater tradisional 5, 6 Teater Wayang 6 Timur Tengah 6 transendental 32 trick move 27 W Wayang Beber 6 Wayang Golek 6 Y Yunani 3, 4


86 TENTANG PENULIS Ni Nyoman Karmini dilahirkan di Wanasari, Tabanan pada tanggal 23 Agustus 1959. Saat ini, tercatat sebagai Dosen LLDIKTI Wilayah 8 Denpasar dipekerjakan di IKIP Saraswati di Tabanan sejak tahun 1987. Meraih Gelar Sarjana di FKIP Singaraja Unud. Meraih Magister Humaniora (M.Hum.) tahun 2002 dan meraih Doktor (Dr.) Linguistik (Wacana) di Universitas Udayana pada tahun 2008. Meraih Jabatan Fungsional Guru Besar atau Profesor pada tahun 2017. Selama menjadi Dosen, pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Saraswati Tabanan. Sejak tahun 2014 sampai saat ini sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Beberapa karya yang telah diteribitkan antara lain: Buku pertama berjudul Assesmen Penilaian Bahasa Indonesia terbit tahun 2010; Buku kedua berjudul Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama terbit tahun 2011; Buku ketiga berjudul Perempuan dalam Geguritan Bali terbit tahun 2013. Buku pertama, kedua dan ketiga diterbitkan oleh Pustaka Larasan dan Saraswati Institut Press. Buku keempat berjudul Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi tahun 2020 diterbitkan oleh Pustaka Larasan.


Buku ini diberi judul Teori dan Apresiasi Drama semata-mata bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensinya terutama dikaitkan dengan kemampuan mahasiswa dalam mengapresiasi sastra (drama). Materi dalam buku ini sangat singkat, yakni hanya terdiri atas lima bab dan isi materinya mengarahkan pemahaman mahasiswa pada keterampilan mewujudkan sebuah teater dan kemampuan bermain teater itu sendiri. Kemampuan mewujudkan sebuah teater dan kemampuan bermain teater inilah yang ditagih dalam mengakhiri pembelajaran mata kuliah Apresiasi Drama (Teater).


Click to View FlipBook Version