i
ii
MENIRAN
(Phyllanthus niruri L.)
Si Kecil Bermanfaat Besar
Ika Yanti M. Sholikhah
Rahma Widyastuti
Nurul Husniyati Listyana
Devi Safrina
M. Bakti Samsu Adi
Nuning Rahmawati
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
TANAMAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL
2018
i
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang memperbanyak
buku sebagian atau seluruhnya tanpa izin dari Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Badan Lit-
bangkes, Kementerian Kesehatan RI
MENIRAN (Phyllanthus niruri L.): Si Kecil Bermanfaat Besar
Penasehat : Kepala Badan Litbang Kesehatan
Penanggung jawab : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengemban-
gan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Penyusun:
Ika Yanti M. Sholikhah
Rahma Widyastuti
Nurul Husniyati Listyana
Devi Safrina
M. Bakti Samsu Adi
Nuning Rahmawati
Desain dan layout :
Cetakan pertama :
ii
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
karunia-Nya sehingga buku “Meniran, Si Kecil Bermanfaat Besar” dapat disele-
saikan. Buku ini merupakan rangkaian buku tentang Tanaman Obat dari Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Buku
ini merupakan kajian dari hasil penelitian dan pengembangan tanaman meniran
dari berbagai aspek ilmu.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman ha-
yati yang sangat tinggi di dunia, salah satunya adalah tumbuhan berkhasiat obat.
Tidak kurang dari 9.000 spesies tumbuhan telah ditemukan memiliki khasiat se-
bagai obat dan telah digunakan secara turun temurun oleh nenek moyang. Pene-
litian dan pengembangan tumbuhan obat terus dilakukan agar penggunaannya
dalam pengobatan dapat dimanfaatkan. Masyarakat yang merupakan pengguna
tumbuhan obat diharapkan dapat membudidayakan dan mengolahnya secara
aman dan baik.
Seri buku meniran mengulas tentang asal tanaman, budidaya dan pascapanen,
khasiat dan keamanan, serta aspek sosial ekonominya. Terbitnya buku ini kami
harap dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang tanaman meniran
dan dapat menjadi pedoman dalam pemanfaatan tanaman meniran tersebut.
Tiada gading yang tak retak. Tiada yang sempurna di dunia ini. Begitu pula den-
gan buku seri meniran ini yang tentunya mempunyai kekurangan dan kesalahan.
Kami dengan terbuka menerima saran, masukan, dan koreksi demi penyempur-
naan buku ini. Akhir kata, semoga buku ini memberikan manfaat bagi kita semua
dalam hal pengembangan tumbuhan obat dan kesehatan masyarakat Indonesia
Tawangmangu, Desember 2018
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Akhmad Saikhu
iiiv
Prakata
Keanekaragaman tumbuhan obat Indonesia merupakan karunia yang patut
disyukuri melalui pengembangan pemanfaatannya secara lebih meluas. Penelitian
tanaman obat saat ini sudah berkembang dengan pesat. Publikasi hasil riset
tanaman obat telah banyak dilakukan oleh lembaga riset baik di dalam maupun
luar negeri. Namun belum ada database yang memuat informasi menyeluruh
sebagai dasar penelitian dan pengembangan tanaman obat. Buku ini bertujuan
menyatukan informasi terkait hasil riset tanaman obat meniran serta penerapan
yang telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat
dan Obat Tradisional.
Meniran sebagai salah satu tanaman obat utama yang digunakan di Klinik
Saintifikasi Jamu Hortus Medicus memiliki peluang untuk diteliti dan
dikembangkan. Pembahasan berbagai aspek dari hulu ke hilir terkait tanaman obat
meniran diharapkan memberikan informasi awal sebagai dasar pengembangan
sehingga kemanfaatannya akan dirasakan lebih luas baik dari aspek kesehatan
maupun aspek ekonomi.
Beragam hasil penelitian semakin hari semakin gencar dipublikasikan. Penyusun
membuka pintu selebar-lebarnya untuk saran maupun kritik dalam rangka
penyempurnaan buku ini. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan buku ini ke hadapan para
pembaca. Semoga buku ini menuai kemanfaatan yang besar dan luas.
Tawangmangu, Desember 2018
Penyusun
ivv
Daftar Isi iv
Kata Pengantar v
Prakata
Daftar Isi vi
Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Botani dan Ekologi 1
Bab 3 Budidaya
Bab 4 Pascapanen 5
Bab 5 Fitokimia dan Farmakologi 23
Bab 6 Aspek Ekonomi 37
Daftar Pustaka 47
55
70
vvi
vi
BAB 1
Pendahuluan
Meniran (Phyllanthus niruri L.) merupakan salah satu tanaman dari
famili Phyllanthaceae. Meniran merupakan tumbuhan asli India namun
tumbuh tersebar di hutan Amazon dan hutan tropis di Asia termasuk
Bahama, China, dan Malaysia (Mediani dkk., 2015). Tanaman ini tercatat
dalam berbagai naskah kuno, termasuk dalam sejarah pengobatan kuno
Ayurveda India, pengobatan tradisional Cina, serta jamu tradisional
Indonesia (Bagalkotkar dkk., 2006). Di wilayah Asia Selatan dan Asia
Tenggara, meniran telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk
mengatasi berbagai macam penyakit, antara lain penyakit kuning, diare,
dispepsia, infeksi saluran kencing, dan batu ginjal (Lee dkk., 2016). Di
Indonesia, herba meniran digunakan secara empirik untuk mengobati
gangguan ginjal, sariawan, malaria, tekanan darah tinggi, kencing batu,
gangguan empedu, diare, demam, serta sebagai peluruh air seni atau
diuretik (Mardisiswojo dan Rajakmangunsudarso, 1975; Perry, 1980).
Berdasarkan hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu oleh Kementerian
Kesehatan tahun 2012, 2015, dan 2017, diketahui bahwa hampir seluruh
etnis di Indonesia memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan ramuan
dalam pengobatan tradisionalnya.
Meniran merupakan tumbuhan semak menahun yang dapat tumbuh
secara liar di tempat yang lembab dan berbatu mulai dari dataran rendah
sampai ketinggian 1.000 mdpl. Tanaman ini biasa ditemukan di sepanjang
jalan, sawah, sekitar kebun, lembah, tepi sungai, dan dekat danau. Saat
ini di bidang pertanian, meniran dianggap sebagai gulma, sehingga upaya
yang dilakukan terkait tanaman ini adalah bagaimana menghilangkan
atau mengontrol keberadaannya, agar tidak mengganggu pertumbuhan
1
dan produksi tanaman pangan yang dibudidayakan. Namun tumbuhan ini
berpotensi digunakan sebagai obat sehingga perlu dikembangkan.
Meniran merupakan salah satu tanaman yang kaya akan metabolit
sekunder. Kandungan golongan senyawa utama dalam meniran meliputi
alkaloid, terpenoid, lignan, dan tanin. Salah satu senyawa aktif yang
terkandung dalam meniran adalah filantin yang merupakan golongan
senyawa lignan. Filantin dan hipofilantin diketahui memiliki efek
hepatoprotektif (Bagalkotkar dkk., 2006). Senyawa lain yang berhasil
diisolasi dari meniran adalah metil brevifolin karboksilat yang memiliki
aktivitas sebagai vasorelaksan dan penghambat agregasi platelet (Lee
dkk., 2016). Efek anti-ulcer juga ditunjukkan oleh senyawa asam galat,
β-sitosterol, asam elagat, dan alkaloid-4-metoksi-sekurinin (Okoli dkk.,
2009).
Saat ini di pasaran sudah banyak beredar produk berbahan dasar meniran
baik yang berbentuk jamu, obat herbal terstandar maupun fitofarmaka.
Pemanfaatan meniran dalam berbagai produk industri obat tradisional
antara lain untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh, membantu
mengobati radang ginjal, membantu meluruhkan air seni, membantu
mengatasi rematik, membantu menurunkan demam, dan lain lain.
Berdasarkan data BPS tahun 2015, meniran (P. niruri) termasuk ke dalam
12 jenis tanaman obat yang digunakan dalam industri obat tradisional.
Volume meniran yang digunakan dalam industri obat tradisional tercatat
sebesar 5.496 kg dengan nilai transaksi sebesar Rp. 21.986.000,00.
Kebutuhan bahan baku meniran sejauh ini hanya dipenuhi dari dalam
negeri saja sehingga peluang pengembangan meniran untuk bahan baku
industri masih sangat luas. Namun terdapat beberapa kendala yang
dihadapi industri jamu obat tradisional, antara lain kualitas, kuantitas,
dan kontinuitas bahan baku obat tradisional. Kebanyakan meniran yang
2
diperoleh merupakan tumbuhan liar dan belum dibudidayakan. Masyarakat
tidak tertarik membudidayakan meniran diantaranya disebabkan karena
budidaya meniran yang tidak efisien, biomassa meniran sangat rendah
sehingga tidak sebanding dengan faktor produksi yang dikeluakan dalam
budidaya meniran. Untuk mendukung pengembangan meniran sebagai
fitofarmaka, diperlukan kecukupan teknologi baku dari budidaya sampai
pasca panen agar dihasilkan simplisia dan ekstrak yang bermutu dan
terstandar.
3
4
BAB 2
Botani dan Ekologi
Pendahuluan
Genus Phyllanthus termasuk familia phyllanthaceae, memiliki lebih
dari 700 spesies meliputi tanaman akuatik, pohon, semak, pemanjat,
terna tahunan dan perenial dengan sebaran di daerah tropis maupun
subtropis. Genus ini merupakan genus utama di Asia (DePadua dkk.,
1999). Spesies-spesies tanaman dari genus ini banyak dimanfaaatkan
oleh masyarakat sebagai makanan, buah-buahan, pakan ternak bahan
kosmetik, bahan farmasi dan sebagainya. Tanaman yang masuk ke dalam
genus Phyllanthus (ITIS, 2018) diantaranya adalah:
Di Indonesia, sebutan tumbuhan meniran mengacu kepada 3 spesies, an-
tara lain P. niruri, P. amarus, dan P. urinaria. Meskipun demikian, dalam
buku ini yang dimaksud dengan meniran adalah P. niruri.
Spesies Phyllanthus yang banyak mengindikasikan tingkat kemiripan
antar spesies cukup tinggi dari segi morfologi maupun anatomisnya.
Berdasarkan hal tersebut diperlukan upaya riset mendalam untuk
dapat membedakan antara spesies Phyllanthus. Spesies yang sangat
mirip dengan meniran, dan seringkali menyebabkan kesalahan dalam
identifikasi adalah Phyllanthus amarus. Penampakan morfologi dan
kandungan fitokimianya sangat mirip. Perbedaan utama antara P. niruri
dan P. amarus adalah karakter morfologi kuantitatif (ukuran daun),
tanaman meniran lebih besar.
5
Spesies Nama lokal
P. niruri L. meniran
P. buxifolius sligi
P. reticulatus buah tinta
P. abnormis Baill. drummond’s leaf-flower
P. acidus L. Skeels ceremai
P. acuminatus Vahl Jamaican gooseberry tree
P. amarus Schumach. & Thonn. meniran/ carry me seed
P. angustifolius (Sw.) Sw. foliage flower
P. caroliniensis Walter Carolina leaf-flower
P. distichus Hook. & Arn. pamakani mahu
P. emblica L. kemloko/malaka
P. epiphyllanthus L. swordbush
P. ericoides Torr. heather leaf-flower
P. fraternus G.L. Webster gulf leaf-flower
P. jugldanifolius Willd. gamo de costa
P. liebmannianus Müll. Arg. Florida leaf-flower
P. orbicularis Kunth wedge leaf-flower
P. pentaphyllus C. Wright ex Griseb. fivepetal leaf-flower
P. polygonoides Nutt. ex Spreng. smartweed leaf-flower
P. pudens L.C. Wheeler birdseed leaf-flower
P. pulcher Wall. ex Müll. Arg.
tropical leaf-flower
P. stipulatus (Raf.) G.L. Webster stipulate leaf-flower
P. tenellus Roxb. mascarene Isldan leaf-flower
P. urinaria L. meniran merah
P. warnockii G.L. Webster sdan reverchonia
6
Gambar 1. Habitus meniran (Sumber foto: M Bakti Samsu Adi)
Meniran (P. niruri) diambil dari bahasa Yunani dalam kaidah bahasa Latin.
Phyllanthus berasal dari kata phullon yang artinya daun dan anthos yang
artinya bunga sedangkan niruri berasal dari bahasa Latin, yang artinya
mengacu pada sifat diuretik tanaman (Wiart, 2006). Di dunia pertanian,
meniran dianggap sebagai gulma, sehingga upaya yang dilakukan
adalah bagaimana menghilangkan atau mengontrol keberadaannya, agar
tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman pangan yang
dibudidayakan. Habitus meniran sebagaimana tampak pada Gambar 1.
Meniran adalah tanaman terna menahun, yang secara tradisional di
Indonesia telah banyak digunakan oleh masyarakat terutama sebagai
bahan baku tanaman obat secara turun temurun. Di bidang industri
jamu dan industri farmaka, tanaman ini digunakan sebagai bahan baku.
Meniran dalam industri jamu maupun farmasi, telah dimanfaatkan
sebagai obat herbal untuk menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh.
7
Sistematika
Klasifikasi meniran mengikuti Angiospermae Phylogenetic Group (APG)
(ITIS, 2018)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Infrakingdom : Streptophyta
Superdivisi : Embryophyta
Divisi : racheophyta
Subdivisi : Spermatophytina
Classis : Magnoliopsida
Superorder : Rosanae
Order : Malpighiales
Familia : Phyllanthaceae
Genus : Phyllanthus L.
Species : Phyllanthus niruri L.
Synonim
Diasperus niruri (L.) Kuntze, Niruris annua Raf., Niruris indica
Raf., Nymphanthus niruri (L.) Lour., Phyllanthus carolinianus
Blanco, Phyllanthus ellipticus Buckley, Phyllanthus erectus (Medik.)
M.R.Almeida, Phyllanthus filiformis Pav. ex Baill., Phyllanthus humilis
Salisb., Phyllanthus kirganelia Blanco, Phyllanthus lathyroides var.
commutatus Müll.Arg., Phyllanthus lathyroides f. decoratus Standl. &
Steyerm., Phyllanthus moeroris Oken, Phyllanthus niruri subsp. niruri ,
Urinaria erecta Medik (The Plant List, 2013).
Nama Lokal
Nama lokal: Aceh: si dukung anak; Sumatera Utara: sirap-rap, si dukung
anak; Sumatera Barat: si dukung anak; Riau: ambil buah, dukung anak;
Jambi: dukung anak; Sumatera Selatan: ambin buah, rumput gendong
anak; Bengkulu: sedukung anak, dukung anak; lampung: raremis, pepetah;
8
Bangka Belitung: malu-malu; Jawa Barat: memeniran; Jawa Tengah:
meniran; Jawa Timur: Meniran; Banten: Meniran; Nusa Tenggara Barat:
marimuncu, nyonya menir; Nusa Tenggara Timur: cinta buah, kiu keraka
rai, raha’da, rubalengo, le logo, pareh wenit; Kalimantan Barat: ngamen
anak, pole’ turun panas, tarum tikus putih, rumput sahang, dojak, kayu
tahtah, berbadi; Kalimantan tengah: hambin buah, ambin buah, uru
hdanalai; Kalimantan Selatan: hahambin buah, hambin-hambin buah;
Kalimantan Timur: kaput burit; uroq tiang, nyiur sekalleng, nyiur ongo,
dikut maba anak; Kalimantan Utara: ambin anak; Sulawesi Utara: dukung
anak, ekor tikus; Sulawesi Tengah: porom, dukung anak, teturu, pae-pae,
duria pampa, panuntu, duku’ana, bongontoyom putih; Sulawesi Selatan:
buana ribokona, cempa sibokoreng, camba-camba, banni’-banni’,
barakati, kololingka, kototuru’; Sulawesi Tenggara: kani’i-ni’ino puru
mobula, cempa-cempa, sampa-sampalu, olu-olu mdanara, kaghaighai;
Gorontalo: duku ana; Sulawesi Barat: mamma’-mamma’, camba-camba
merah, anjoanjoro, manyiran; Maluku: daun cinta-cinta, cinta-cinta,
maniram merah, manirang, kerincing, cinta buah: Maluku Utara: goroho
majapu, gasaomadungi, belakang babiji, lahe; Papua barat: blakang
babiji; Papua: semdanil, mesumbeng hijau, mesumbeng, belakang babiji,
kakarvaya, momokhoa akha, cesla.
Deskripsi Morfologi
Perawakan: terna 1 tahun tumbuh tegak, tinggi dapat mencapai 0,8 m.
Batang: berwarna hijau pucat, letak cabang tersebar, letak cabang tegak
lurus terhadap batang pokok. Daun: daun tunggal, letak berseling pada
ujung, helaian daun berbentuk elip pendek sampai lonjong, panjang
0,4-2 cm, lebar 0,25-0,5 cm, pangkal membulat sampai tumpul, ujung
membulat, tumpul atau runcing, warna hijau pucat. Bunga: tunggal,
bunga betina di ketiak daun ujung, kadang dengan beberapa bunga
9
jantan, letak bunga di sisi bawah ketiak daun, 2-3 bunga jantan di sekitar
pangkal cabang, tangkai bunga 0,5-1 mm. Mahkota bunga berbentuk
bulat telur terbalik (sungsang), panjang 0,75-1 mm, warna hijau muda
bergaris merah, tangkai bunga 1,25-1,5 mm. Ukuran buah lebih dari 1,75
mm berbentuk genta, buah licin, garis tengah 2-2,5 mm, panjang tangkai
buah 1,5-2 mm (Kemenkes RI, 2012). Gambar 2 menunjukkan bagian-
bagian tubuh meniran.
AB
CD
Gambar 2. Tanaman Meniran. Keterangan: A. Habitus (perawakan). B.
Susunan daun.
C. Bunga dan Buah (diperbesar). D. Daun (diperbesar). (Sumber foto:
M. Bakti Samsu Adi)
Habitat dan Sebaran Geografis
Meniran dapat tumbuh pada daerah yang kurang subur dan lembab,
mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan
laut. Spesies ini asli dari India Selatan dan Sri Lanka yang kemudian
diintroduksi ke Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia,
Papua Nugini, Kepulauan Pasifik dan India Barat (DePadua dkk., 1999).
Tanaman ini umum tumbuh di sepanjang jalan, sawah, sekitar kebun,
10
lembah, tepi sungai dan dekat danau. Meniran juga dapat tumbuh dengan
baik di tempat yang lembab dalam keadaan teduh maupun bercahaya.
Karakter Fisiologis
Pertumbuhan dan perkembangan meniran menggunakan berbagai
mineral dari tanah tempat tumbuhnya. Mineral diserap tanaman akan
berpengaruh terhadap aktifitas farmakologinya. Penelitian Danso dkk.
(2013) dengan tehnik Instrumental Neutron Activation Analysis (INAA)
mendeteksi 11 elemen yang terdapat pada tanah maupun tanaman yang
meliputi Yodium (I), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Chlorine (Cl),
Alumunium (Al), Kadmium (Cd), Bromin (Br), Natrium (Na), Kalium
(K), Magnesium (Mg) dan Kalsium (Ca). Konsentrasi kandungan
Makroelemen Ca, Mg dan K serta mikroelemen Cl dan Na secara umum
sangat tinggi pada seluruh sampel meniran. Sementara ditemukan juga
elemen beracun Tungsten (W) dan Arsen (As) dengan konsentrasi di
bawah ambang batas deteksi pada beberapa sampel meniran. Kehadiran
unsur Tungsten (W) dan Arsen (As) ini karena pada tanah tempat tumbuh
meniran mengandung kedua unsur tersebut dalam jumlah yang cukup
besar. Kelebihan maupun kekurangan zat mineral pada tanaman, jika
dikonsumsi manusia dapat mengakibatkan gangguan fungsi faal, bahkan
bisa menyebabkan keracunan, sebagaimana Arsen (As), merkuri (Hg) dan
timbal (Pb) walaupun konsentrasinya rendah. Berdasarkan hal tersebut,
unsur beracun seperti Tungsten dan Arsen tidak boleh terkandung dalam
tanaman yang akan dikonsumsi oleh manusia maupun hewan.
Nutrisi mineral penting dalam tanaman obat berpengaruh terhadap
aktifitas farmakologi, disamping senyawa organiknya (Iyengar, 1989).
Kebanyakan unsur-unsur mineral yang diperlukan oleh manusia didapat
dari tunas maupun akar tanaman. Tanaman menyerap unsur-unsur
tersebut dari tanah tempat tumbuhnya (Danso dkk., 2013).
11
Meniran merupakan tanaman yang mampu tumbuh pada berbagai
kondisi, baik tanah maupun iklim lingkungan, dengan sebaran yang
cukup luas. Tanaman ini banyak ditemukan secara liar di tanah berpasir
dan daerah yang lembab dan tumbuh baik pada daerah dengan naungan.
Pertumbuhan yang optimal meniran pada daerah dengan naungan
menunjukkan bahwa tanaman ini tidak memerlukan intensitas cahaya
maksimal dalam pertumbuhannya. Sebagaimana diketahui, intensitas
cahaya sangat berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban udara sebagai
lingkungan mikro, yang akan mempengaruhi proses metabolisme dan
biosintesis yang dilakukan oleh tanaman.
Proses metabolisme dan biosintesis yang dipengaruhi oleh faktor
lingkungan tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas maupun
kuantitas produk metabolit tanaman sehingga efek bioaktivitasnya akan
berbeda-beda pada setiap tahap pertumbuhannya. Penelitian Mediani
dkk. (2015) yang mencoba membandingkan sifat fitokimia dan biologi
tanaman meniran dan P. urinaria pada tahap pertumbuhan yang berbeda
(usia 8, 10 dan 12 minggu) menunjukkan bahwa pada P. urinaria umur 8
minggu kandungan jumlah asam lemak, asam amino (leucine dan alanin),
phyllanthin dan choline lebih tinggi daripada umur panen yang lain. Usia
panen 10 minggu, zat yang dominan adalah hypophyllanthin, asam malat,
sukrosa, dan fenolik. Kondisi yang berbeda juga ditunjukkan pada usia
panen 12 minggu, dengan kandungan gula, asam malat dan leusin menjadi
lebih tinggi. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa panen pada
usia 10 minggu akan menghasilkan jumlah produk metabolit sekunder
tertinggi dengan bioaktifitas yang signifikan. Apabila dibandingkan
dengan P. urinaria, meniran mengandung jumlah hypophyllanthin dan
senyawa fenolik lebih tinggi.
12
Strategi Konservasi Meniran
Pertimbangan penggunaan obat yang berlebihan, biaya yang semakin
mahal, kesadaran terhadap efek samping yang semakin berat, dan tingkat
kejenuhan terhadap obat-obatan konvensional yang semakin tinggi,
membuat masyarakat berusaha mencari alternatif yang memungkinkan
untuk terlepas dari permasalahan-permasalahan tersebut. Kecenderungan
yang terjadi menunjukkan bahwa tidak hanya kelompok usia tua saja,
tetapi usia muda juga, baik untuk kepentingan preventif maupun kuratif.
Pemanfaatan tanaman obat sebagai salah satu alternatif untuk menjaga
kesehatan, saat ini semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan adanya
kecenderungan untuk mencari anternatif pengobatan tersebut. Kondisi
tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap tanaman obat itu sendiri.
Seperti sudah diketahui, saat ini perhatian terhadap tanaman obat belum
sebaik tanaman-tanaman hortikultura maupun tanaman ekonomis lain
yang sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Teknologi di bidang
pembudidayaan tanaman obat perkembangannya masih jauh dari harapan.
Kalaupun ada tanaman obat yang sudah berkembang dengan baik, hal itu
lebih dikarenakan oleh banyaknya penggunaan untuk kepentingan selain
sebagai bahan baku ramuan obat, seperti untuk bumbu masak, bahan
tambahan makanan, dan sebagainya.
Akibat kesadaran masyarakat yang belum baik terhadap pentingnya
kelestarian lingkungan, untuk memenuhi kebutuhannya masyarakat
lebih banyak memanen tanaman obat secara langsung dari alam. Kondisi
tersebut tentu akan berpengaruh terhadap kelestariannya. Pengembangan
dan pemanfaatan teknologi budidaya bagi tanaman obat yang belum
begitu menarik bagi petani yang diikuti tata kelola niaga yang baik
dan pasti, diharapkan dapat mengurangi pemanenan langsung dari
alam sehingga keberadaan plasma nutfah dan ketersediaan bahan baku
13
tanaman obat tetap lestari dan dapat dipertahankan untuk kepentingan
jangka panjang.
Rendahnya minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman obat
saat ini lebih banyak disebabkan oleh nilai ekonomisnya yang masih
rendah, meskipun kebutuhannya semakin meningkat. Kondisi tersebut
menyebabkan lambatnya perkembangan teknologi budidaya tanaman
obat.
Etnobotani Meniran
Eksplorasi pemanfaatan tanaman obat beberapa tahun terakhir sedang
digalakkan oleh pemerintah untuk menginventarisasi kekayaan
pengetahuan lokal etnis-etnis secara turun-menurun di seluruh
Indonesia, termasuk bahan-bahan ramuan yang menggunakan tanaman
obat. Eksplorasi tersebut dilakukan oleh lembaga penelitian baik
secara serentak maupun insidentil untuk menggali informasi sebanyak-
banyaknya tentang pemanfaatan, komposisi ramuan, cara penggunaan,
cara mendapatkan bahan dan sebagainya.
Meniran, di Indonesia lebih banyak dikenal sebagai tanaman obat.
Penggunaannya sebagai tanaman obat cukup beragam. Hampir seluruh
etnis di Indonesia memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan ramuan
dalam pengobatan tradisionalnya. Kondisi tersebut menunjukkan
beragamnya pengetahuan dan kearifan lokal pada masing-masing etnis.
Berikut adalah penggunaan meniran sebagai tanaman obat di masing-
masing etnis dari seluruh wilayah Indonesia (Tabel 1).
14
Tabel 1. Pemanfaatan meniran di seluruh Indonesia berdasarkan etnis
Prov Etnis Penyakit
Aceh Kluet Kencing manis
Bangka Belitung Singkil Demam/panas
Banten Sawang Belitung Ambeien
Bengkulu Banten Obat berak darah;
Gorontalo Enggano Gangguan kebugaran
Jambi Muko Muko Ramuan melahirkan
Jawa Barat Pekal Sakit pinggang
Rejang Kepahiang Sakit perut
Jawa Tengah Bune Ginjal
Melayu Jambi Malaria
Minangkabau Maek Perawatan ibu pasca melahir-
Bandung kan, patah tulang
Cirebon Malaria
Sakit kuning
Tasik Batuk
Jawa Darah tinggi
Gagal ginjal
Gangguan buang air kecil
Gangguan HAID
Gangguan kebugaran
Gangguan vitalitas
Panas dalam
Pegal, capek
Penyakit kelamin
Sakit pinggang
Tbc
Tbc
Epilepsi/ayan
Kencing manis
Kencing manis
15
Prov Etnis Penyakit
Pegal, capek
Jawa Timur Samin Sakit kulit
Jawa Sakit kuning
Sakit pinggang
Madura Sakit kulit
Kencing manis
Kalimantan Barat Dayak Desa Sakit kulit
Jangkang Asi tidak lancar
Suru’ Gangguan kesuburan/infertil-
Taba itas
Ut Danum Perawatan Bayi (0-<12 bulan)
Perawatan kecantikan/kosme-
Kalimantan Selatan Lau tik
Mayan Perawatan pra/pasca persalinan
Rembay Rematik, asam urat
Banjar Segala penyakit
Menurunkan tekanan darah,
Lawangan pusing kepala
Kalimantan Tengah Ngaju Demam tidak menggigil
Kencing manis
Sampit Patah tulang
16 Obat sakit kelamin
Demam/panas
Demam/panas
Sakit kulit
Sakit kepala
Ginjal
Sakit berkemih
Kepanasan/melepuh
Asma
Batu ginjal, cacar api
Rematik, asam urat
Prov Etnis Penyakit
Siang Perawatan kecantikan/kosme-
tik
Kalimantan Timur Banuaq Sakit kulit
Halok Jerawat
Kalimantan Utara Paser Ambiyen/ dubur berdarah
Lampung Apokayan Penyubur rahim
Bahau Perawatan pra/pasca persalinan
Kutai Perawatan pra/pasca persalinan
Kenyan Perawatan anak
Krayan Kencing batu
Bulongan Stamina , pegal linu
Pesisir Mencret
Peminggir Radang gusi
Sakit pinggang
Maluku Alune Menambah kekuatan, batuk, ,
Amahai influensa
Ambon Malaria
Encok, ukup
Ambalau Darah tinggi, sakit kulit
Aru Pegal linu
Buru Malaria
Kei Usus
Kisar Kencing manis
Malaria
Lumoli Hosa, asma , batuk darah
Perawatan ibu pasca melahir-
Manipa kan
Naulu Kencing yang tidak lancar,
Pelauw ginjal
Wemale Demam
Penyakit dalam
Sesak napas, cuci darah
17
Prov Etnis Penyakit
Alfuru Maag
Segala penyakit
Roman Sesak nafas
Gangguan HAID
Maluku Utara Banda Maag
Togutil Sakit pinggang
Tumor/kanker
Ibu Sakit pinggang
Batuk
NTB Kao Dalam Sakit pinggang
Demam/panas
Sawai Panas dalam
Segala penyakit
Mboja Gangguan kebugaran
Sasak Kolesterol tinggi
Pegal, capek
NTT Belu Bunaq Untuk infeksi saluran kencing,
Gaura pegal linu
Papua Kodi Demam
18 Ngada Infeksi saluran kencing, gagal
ginjal, kencing manis
Sabu Sakit ginjal
Sikka Sakit pinggang
Isirawa Sakit telinga
Marind Beri-beri
Nimboran Menyembuhkan kanker rahim
Memperlancar haid , mencegah
keputihan
Kewanitaan
Panas/demam
Penurun panas & malaria
Demam
Prov Etnis Penyakit
Ngompol
Papua Barat Ormu Mencret
Riau Sentani Kadas
Skouw Malaria
Waris Rematik
Mengobati capekcapek/pegal
Moraid linu
Akit Nyeri haid/ senggugut
Bonai Sakit perut
Duano Batuk
Sakit perut
Hutan Gangguan kebugaran
Maag
Sulawesi Barat Hutan Sakit pinggang
Galumpang Tumor/kanker
Tumor/kanker
Sulawesi Selatan Mandar Mempermudah persalinan,
Mandar sakit maag
To Binggi Malaria/bengkak limpah,
Bugis muntah darah, demam
Makasar Sakit kepala
To Bento Berak darah
To Rampi Diabetes
Kencing batu
Tolotang Stroke
Toraja Obat diare
Toraja Batu ginjal
Wotu Muntah darah
Demam/panas
Tipus
Batu ginjal
Sakit kulit
19
Prov Etnis Penyakit
Sulawesi Tengah Buol Penyakit dalam
Dampelas Usus buntu
Sulawesi Tenggara Kalawi Usus turun
Sulawesi Utara Lauje Penyakit ginjal
Membersihkan pencernaan ,
Mori sehabis bersalin
Saluan/Luwuk Antibiotik
Taa Obat ginjal
Liver, kanker payudara , pen-
Taijo yakit dalam
Balantak Demam/panas
Banggai Berak darah
Perawatan pra/pasca persalinan
Tomanui Sakit pinggang
Muna Usus buntu
Keseleo, lalemusa
Muna Meningkatkan daya tahan
Kolesusu tubuh, ba, , kencing batu,
Mekongga penurun tekanan darah, pen-
Wangi wangi awar racun
Wawonii Segala penyakit
Sakit perut
KAIDIPANG Rematik, asam urat
Demam/panas
Mongondow (lolak) Sakit kuning
Tonsea 44 sakit tidak sembuh
Tosawang Makatana
Bintauna Malaria , susah buang air kecil
Bolaang Itang Sakit belakang/nir
Ginjal
Rematik, asam urat
Sakit pinggang
20
Prov Etnis Penyakit
Sumatera Barat Minahasa
Sumatera Selatan Rematik, asam urat
Sumatera Utara Ratahan Sakit kuning
Sesak nafas
Yogjakarta Minangkabau Si- Sakit sabun, sakit perut, susah
manau tidur, melancarkan bab
Musi Menambah nafsu makan, untuk
Ogan ibu melahirkan Malaria
Daya Nyeri haid
Meranjat Sakit pinggang
Rematik, asam urat
Nias Darah tinggi
Simalungun Gangguan vitalitas
Toba Berbicara
Mengobati step
Ulu Maag Tumor Penyakit jantung
Karo Jahe Penyakit lever
Sakit pinggang
Mandailing Sakit perut
Melayu Batu Bara Gangguan kesuburan/infertil-
Simalungun itas
Jawa Berak darah
Sakit pinggang
Kencing manis
21
22
BAB 3
Budidaya
Budidaya tanaman obat penting dilakukan untuk melindungi tanaman
obat dan menjaga kestabilan pasokan bahan baku obat tradisional.
Tanaman obat yang dihasilkan dari budidaya tanaman dapat lebih terjaga
kualitas kandungan senyawa aktifnya (Saifudin dkk., 2011). Hasil panen
dapat diatur dan dijaga agar menghasilkan kualitas bahan baku yang
seragam.
Syarat Tumbuh
Setiap tanaman memerlukan tempat tumbuh yang sesuai dengan
karakter dari tanaman tersebut, termasuk meniran. Tanaman meniran
mudah tumbuh di berbagai tempat pertumbuhan, di daerah dataran
rendah sampai dengan ketinggian 1.000 mdpl. Tanaman meniran
umumnya tumbuh liar pada tanah gembur dengan tekstur mengandung
pasir (Heyne, 1988), lembab, dan kaya bahan organik. Tanaman meniran
cocok ditanam pada tempat yang ternaungi dengan ukuran naungan 60%
paranet (Hanudin dkk., 2012).
Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan meliputi pengolahan tanah, pembuatan bedengan,
dan pemberian pupuk dasar.
1. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah mempunyai tujuan untuk meningkatkan
peredaran air dan udara dalam tanah sehingga tanah menjadi bongkah-
bongkah dan berpori-pori besar. Tanah yang telah diolah dapat
dilakukan pengolahan tanah lanjutan (Aak, 1983). Pada pengolahan
23
tanah lanjutan, tanah yang akan digunakan sebagai tempat budidaya
meniran dicangkul dengan kedalaman sekitar 20 cm (Gambar 3).
Selama proses ini, tanah yang dicangkul dibersihkan dari gulma yang
masih tertinggal di dalam tanah dari kegiatan budidaya sebelumnya,
batu dan bahan pengotor seperti plastik, sisa tanaman serta lain-
lainnya.
Gambar 3. Proses pencangkulan tanah untuk membuat bedengan
(Sumber: Widyantoro, 2018)
2. Pembuatan bedengan
Tanah yang telah diolah selanjutnya dibuat bedengan-bedengan
tempat penanaman dengan ukuran lebar 1 m dan tinggi 20 cm – 30 cm.
Panjang bedengan disesuaikan dengan ukuran lahan yang digunakan
untuk budidaya. Jarak antar bedengan dibuat sekitar 50 cm untuk
mempermudah proses pemeliharaan tanaman. Bedengan (Isroi dan
Yuliarti, 2009) yang akan digunakan sebaiknya diberi penutup mulsa
plastik hitam perak (Gambar 5). Pemberian penutup mulsa plastik
hitam perak bertujuan untuk mengurangi tumbuhnya gulma di lahan
pertanaman, menjaga kelembaban, dan mengurangi serangan hama
dan penyakit tanaman.
24
Gambar 4. Bedengan hasil pengolahan tanah (Sumber:
Widyantoro, 2016)
Gambar 5. Pemasangan mulsa pada bedengan yang telah siap
digunakan (Sumber: Widyantoro, 2017)
3. Pemberian pupuk dasar
Lahan yang telah dibuat bedengan-bedengan selanjutnya
disiapkan dengan cara diberi pupuk kandang atau pupuk. Pupuk yang
diberikan harus diperhatikan tingkat kematangan. Pupuk yang matang
dapat dilihat secara fisik, antara lain penurunan volume, warna menjadi
coklat kehitaman, dan bahannya terasa lunak, apabila dipegang hancur
(Isroi dan Yuliarti, 2009).
25
Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang atau
kompos. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari salah satu
atau campuran dari beberapa jenis kotoran ternak yang biasanya telah
tercampur dengan sisa makanan dari ternak atau hewan tersebut,
seperti kotoran kambing, sapi, ayam, kelelawar, dan kelinci. Kompos
adalah hasil dekomposisi dari limbah tanaman dan hewan, dimana
dekomposisi tersebut terjadi dengan bantuan fungi, aktinomisetes,
atau cacing tanah. Selain pupuk kandang dan kompos, pupuk dasar
lain yang dapat diberikan adalah pupuk hijau, limbah ternak, limbah
industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota yang
bisa diubah menjadi kompos. (R.D.M. dkk., 2006).
Lahan yang telah diberi pupuk dasar mempunyai kandungan
bahan organik yang tinggi sehingga mampu meningkatkan kandungan
zat aktif dalam meniran.
Pembibitan
Untuk memperoleh tanaman meniran yang mempunyai
penampakan yang seragam, pembibitan meniran harus dilakukan.
Pembibitan juga dilakukan untuk mengurangi risiko kematian tanaman di
lahan. Dalam pembibitan hal-hal yang harus dipersiapkan adalah media
tanam yang akan digunakan dan asal bibit tanaman.
1. Media tanam
Media tanam yang digunakan untuk pembibitan meniran
hampir sama dengan media tanam pada umumnya yaitu campuran
sekam, pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
Media tanam yang digunakan harus mempunyai sifat yang porous
(berpori-pori) agar mempermudah pertumbuhan tanaman muda.
26
2. Asal bibit
Bibit meniran yang digunakan berasal dari benih tanaman
induk (Gambar 6). Pengambilan benih tanaman obat yang akan
digunakan sebagai benih dilakukan pada saat tanaman telah masak
fisiologis atau sering juga disebut matang fungsional. Benih yang
telah masak fisiologis dicirikan dengan warna buah lebih kusam,
ukuran benih lebih besar, kulit buah terasa lebih kering, bobot kering
meningkat, kadar air menurun (Bunga F.M., 2013), berat kering
maksimum, daya tumbuh dan daya berkecambah yang maksimum
pula (Widiyastuti dkk., 2011). Benih yang bermutu tinggi merupakan
salah satu faktor penting yang menentukan produksi tanaman (Aak,
1983).
Gambar 6. Benih meniran (Sumber: Widyantoro, 2018)
Gambar 7. Bibit meniran umur satu minggu (Sumber: Widyantoro,
2018)
27
Benih disebarkan di media tanam secara merata. Bibit akan
mulai bertunas setelah berumur satu minggu (Gambar 7) Bibit
yang berumur dua minggu atau mempunyai tinggi sekitar 10 cm
dapat dipindahkan ke polibag berukuran 10 x 15 cm. Pembibitan
dengan menggunakan polibeg ini dilakukan selama 3 minggu.
Selanjutnya bibit bisa langsung ditanam di lahan yang telah
disiapkan.
Penanaman
Bibit yang dikecambahkan selanjutnya diseleksi, dipilih yang
terlihat sehat dan memiliki pertumbuhan yang baik. Bibit yang terpilih
ditanam pada bedengan lahan pertanaman. Jarak tanam yang digunakan
adalah 20 x 30 cm (Setiawan dan Rahardjo, 2014). Bibit dipindahkan
ke lubang tanam dengan cara merobek salah satu sisi polibeg, bibit
dipindahkan dengan hati-hati beserta dengan tanah yang menempel pada
akarnya. Tanah di sekitar bibit dipadatkan agar pertumbuhannya kokoh.
Kemudian bibit disiram dengan air secukupnya
Pemeliharaan
Pada awal pertumbuhan, terutama pada musim kemarau, meniran
perlu disiram. Ketika tanaman masih muda, biasanya meniran kurang
mampu bersaing dengan gulma, karena itu penyiangan perlu dilakukan
agar pertumbuhannya baik. Penyiangan dapat dilakukan secara manual
yaitu dengan mencabut gulma.
Pertumbuhan meniran hampir tidak pernah mengalami gangguan
akibat serangan hama atau penyakit. Apabila terdapat gangguan hama
penyakit, pengendalian cukup dilakukan dengan cara mekanis yaitu
menangkap atau membuang bagian tanaman yang terserang.
28
Gambar 8. Pertanaman meniran di lahan terbuka tanpa mulsa (Sumber:
Widyantoro, 2018)
Pemupukan
Meniran dapat tumbuh baik di berbagai keadaan tanah yang
marginal. Apabila lahan banyak mengandung humus yang kaya bahan
organik seperti pupuk kandang dan kompos, pemupukan lanjutan tidak
perlu dilakukan. Pupuk N mempunyai korelasi positif dalam peningkatan
flavonoid dan filantin simplisia meniran (Hanudin dkk., 2012). Untuk
memperoleh produksi 3 ton/ha diperlukan kombinasi pupuk Urea 400
kg/ha, TSP 200 kg/ha, dan KCl 200 kg/ha (E. dkk., 1993). Pemupukan
dilakukan secara bertahap pada saat tanaman berumur 1 dan 2 bulan
setelah tanam, masing-masing sepertiga dosis (Setiawan dan Rahardjo,
2014).
Pemupukan mempunyai peran penting dalam pertumbuhan
dan produktivitas tanaman. Pemberian dosis pupuk yang tepat akan
meningkatkan pertumbuhan hasil panen yang lebih maksimal (Cahyono,
2003). Pemupukan unsur mineral mempunyai peranan utama bagi
tanaman, yaitu unsur N yang memegang peranan penting bagi produktivitas
tanaman seperti perkembangan daun yang lebar dan berwarna hijau tua,
fotosintesis berjalan baik, serta pertumbuhan tanaman baik. Unsur P
sangat membantu perkembangan perakaran dan mengatur pembungaan
29
serta pembuahan. Unsur K berfungsi dalam peningkatan kerja N karena
K ikut serta dalam pembentukan protein. Unsur S merupakan unsur
utama berbagai jenis protein yang sangat dibutuhkan tanaman (Aak,
1983). Namun penggunakan pupuk mineral yang tidak bijaksana akan
menimbulkan dampak negatif bagi tumbuhan hidup (Wijaya, 2008).
Berdasarkan hal tersebut, penggunaan pupuk organik lebih dianjurkan
untuk digunakan, apalagi dalam budidaya tanaman obat.
Pengairan
Pengairan bisa dilakukan dengan menyirami tanaman secara
teratur, minimal sehari satu kali saat matahari tidak bersinar terik (pagi
atau sore hari). Hal ini dilakukan untuk mencegah banyaknya air yang
menguap. Yang perlu diperhatikan dalam penyiraman adalah menjaga
kelembaban tanah. Apabila lahan budidaya mempunyai luasan yang
sangat luas, penyiraman dapat dilakukan dengan menggunakan sprinkle
yang diatur atau dinyalakan saat-saat tertentu.
Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan
cangkul, arit, atau secara kultur teknis dengan mengatur jarak tanam
atau menggunakan mulsa. Untuk memperoleh produksi tanaman yang
tinggi, penyiangan sebaiknya dilakukan secara rutin, sekitar 1-2 minggu
sekali. Sampah sisa hasil penyiangan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
kompos.
Penyiangan gulma dilakukan secara teratur untuk menghindari
terjadinya kompetisi dalam hal penyerapan unsur hara dan air, serta
penerimaan cahaya matahari antara meniran dengan gulma. Penyiangan
juga bertujuan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit yang
berasal dari gulma, dimana gulma tersebut dapat menjadi tanaman inang
30
bagi hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman meniran. Selain
itu, penyiangan juga dapat digunakan sebagai cara memperbaiki struktur
tanah agar tetap gembur (Permadi, 2008).
Pengendalian Hama Terpadu
Tanaman meniran merupakan salah satu tanaman yang jarang
diserang oleh hama dan penyakit. Namun ada beberapa hama yang
dilaporkan menyerang pada tanaman meniran.
1. Hama tanaman
Hama adalah semua binatang yang mengganggu dan merugikan
tanaman yang diusahakan manusia (Pracaya, 2005). Hama pada
tanaman meniran adalah Grammodes geometrica dan Bemisia sp
(Widiyastuti, 2011).
a. Grammodes geometrica
G. geometrica (Gambar 9) merupakan ngengat yang berasal
dari family Erebidae, ordo Lepidoptera. Larva ngengat ini
memakan pada beberapa spesies dari genus Phyllanthus, Cistus,
Diospyros, Oriza, Polygonum, Ziziphus, dan Tamarix.
Gambar 9. Imago Grammodes geometrica (Ilustrasi: Widyantoro,
2018)
31
b. Bemisia sp.
Serangga yang termasuk dari genus Bemisia berasal dari
ordo Hemiptera. Serangga ini banyak terdapat pada tanaman
di daerah tropis. Merusak tanaman dengan cara menghisap
cairan epidermis tanaman. Begitu juga keberadaan Bemisia sp.
(Gambar 10) pada tanaman meniran akan menghisap cairan
epidermis tanaman.
Gambar 10. Imago Bemisia sp. (Sumber: balitkabi.go.id)
Beberapa hama lain yang juga ditemukan menyerang pada
genus Phyllanthus yaitu Betousa stylophora – Pembuat gall
pada tunas, Inderbela quardinatata – Ulat pemakan kulit kayu,
Virchola Isocrates – Kupu-kupu delima, Tricentrus congetus –
Penggerek tunas, Gacillaria acidula – Ulat penggulung daun,
Selepa celtis – Ulat bulu, Schoutedeni aemblica – Kutu daun,
Odentotermis obesus – Rayap (Neelesh dkk., 2017).
2. Penyakit Tanaman
Berbeda dengan hama, penyakit pada tanaman adalah
terjadinya perubahan seluruh atau sebagian organ tanaman yang
menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis tanaman. Penyakit
32
tanaman dapat disebabkan oleh gangguan atau serangan jamur,
bakteri, virus, maupun akibat kekurangan air atau unsur hara pada
tanaman (Pracaya, 2005). Sampai saat ini masih belum ada laporan
tentang penyakit yang menyerang tanaman meniran.
3. Pengelolaan Hama Terpadu
Pengelolaan hama terpadu (PHT) merupakan suatu
perencanaan, penerapan, dan evaluasi sistem pengelolaan hama dan
penyakit yang terkoordinasi dengan baik. PHT memperhitungkan
dampak kegiatan pengelolaan hama dan penyakit yang bersifat
ekologis, ekonomis, dan sosiologis sehingga dapat memberikan
hasil yang terbaik (Untung, 2001).
Keberadaan hama pada tanaman dapat menurunkan
produktivitas tanaman, bahkan apabila serangan tinggi, dapat
mengakibatkan kematian tanaman (Saifudin dkk., 2011). Meskipun
tanaman meniran masih jarang terserang hama, namun pengendalian
tetap perlu dilakukan. Jika serangan hama tidak terlalu banyak,
pengendalian dapat dilakukan secara fisik atau mekanik dengan cara
mengumpulkan hama pengganggu dan segera dimusnahkan. Apabila
serangan hama melebihi ambang batas ekonomi, pengendalian dapat
dilakukan secara kimiawi menggunakan pestisida. Namun untuk
tanaman meniran yang berfungsi sebagai tanaman obat, sebaiknya
pestisida yang digunakan adalah pestisida nabati. Penggunaan
pestisida nabati tidak mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan,
terbebas dari bahan kimia beracun, dan lebih cepat terdegradasi
sehingga ramah terhadap lingkungan (Saifudin dkk., 2011).
33
4. Pestisida Nabati
Beberapa pestisida nabati yang dapat digunakan untuk
mengendalikan hama tanaman, yaitu mimba (Azadirachta indica),
daun wangi (Melaleuca bracteata), selasih (Ocimum spp.), serai
(Cymbopogon nardus), cengkeh (Syzygium aromaticum), akar
tuba (Deris eliptica), piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium),
kacang babi (Tephrosia vogelii), gadung (Dioscorea hispida),
tembakau (Nicotiana tabacum), Sirsak (Annona muricata), srikaya
(Annona squamosa), dan suren (Toona sureni) (Karmawati dan
Kardinan, 2012).
Penggunaan pestisida nabati dapat dilakukan oleh masyarakat
luas secara mudah, karena bahan-bahan tersebut banyak tersedia
di alam. Pembuatannya juga dapat dilakukan secara ekstraksi
sederhana yang bisa dilakukan oleh petani secara langsung sehingga
dapat mengurangi biaya pembuatannya. Berikut contoh pembuatan
pestisida nabati secara sederhana yaitu :
a. Penggerusan, penumbukan, pembakaran atau
pengepresan untuk menghasilkan produk berupa tepung,
abu atau pasta.
b. Perendaman untuk pembuatan ekstrak dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu:
Tepung tumbuhan + air
Tepung tumbuhan + air, kemudian dipanaskan/direbus
Tepung tumbuhan + air + deterjen
Tepung tumbuhan + air + surfaktan (pengemulsi)
pestisida (Asmaliyah dkk., 2010)
34
Pemanfaatan tumbuhan penghasil pestisida nabati dalam
pengendalian hama sudah banyak dilakukan, terutama di bidang
pertanian dan perkebunan dan hasilnya efektif. Penggunaan suatu
pestisida nabati akan lebih baik hasilnya atau lebih efektif apabila
dipadukan dengan pestisida nabati lainnya. Aplikasinya dapat
dilakukan secara pencampuran atau secara berselang-seling, misal
ekstrak daun sirsak dan ekstrak biji mimba. Penggunaan pestisida
nabati juga dapat dipadukan dengan musuh alami bila bahan pestisida
nabati tersebut tidak beracun bagi musuh alami.
Panen
Waktu yang terbaik untuk melakukan panen adalah saat
tanaman mengandung kadar metabolit tertinggi (Saifudin dkk., 2011)
atau pada saat tanaman berumur 2 – 3 bulan di lahan. Untuk buah
yang akan digunakan sebagai benih, panen buah dapat dilakukan
pada umur 3, 5, dan 8 minggu setelah tanam. Pemanenan terbaik
untuk menghasilkan produksi flavonoid total dan filantin tertinggi
adalah pada panen ketiga (3 bulan setelah tanam atau umur tanaman
sekitar 4 bulan) (Hanudin dkk., 2012). Ciri tanaman meniran yang
siap dipanen adalah daun tampak hijau tua hampir menguning dan
buah agak keras jika dipijit (A. dan Kusuma, 2004).
35
36
BAB 4
Pascapanen
Proses pascapanen merupakan proses yang dilakukan setelah panen
hingga bahan digunakan atau diolah lebih lanjut. Pada umumnya,
meniran digunakan dalam bentuk simplisia sebelum diolah lebih lanjut
sebagai obat tradisional (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka),
kosmetik, makanan atau minuman kesehatan, maupun suplemen. Tujuan
proses pascapanen yaitu mempertahankan dan menjaga kualitas bahan
dari kerusakan fisiologis, biologis, kimiawi dan kontaminasi hama;
meningkatkan daya simpan simplisia; serta meningkatkan nilai jual
simplisia.
Proses ini sangat penting dalam menghasilkan produk tanaman obat.
Proses pascapanen meliputi seluruh kegiatan mulai dari sortasi basah,
pencucian, penirisan, perajangan, pengeringan, pengemasan dan
penyimpanan.
1. Sortasi Basah
Sortasi basah meniran bertujuan untuk mengurangi jumlah pengotor
yang masih tercampur dengan bahan baku dikarenakan proses panen
dan pengumpulan bahan yang kurang tepat. Sortasi basah merupakan
proses memisahkan antara meniran segar yang digunakan dengan
bahan pengotor yang tidak diinginkan. Proses ini menjamin bahwa
meniran yang disortasi betul-betul murni. Bahan pengotor ini dapat
berupa bagian dari tanaman itu sendiri yang tidak dimanfaatkan
sebagai obat, tanaman lain atau bagian tanaman lain, maupun
pengotor yang tidak berupa tanaman (batu, serangga, kerikil). Bagian
tanaman meniran yang digunakan sebagai bahan obat adalah herba
37
(seluruh bagian tanaman kecuali akar). Sebelum melakukan sortasi
basah, petugas menggunakan sarung tangan, masker dan penutup
kepala untuk menjamin keamanan serta kebersihan bahan. Sortasi
basah meniran dilakukan dengan meletakkan meniran di atas tampah,
lalu memotong dan membuang bagian akarnya, serta memotong atau
membuang bagian yang busuk kemudian memisahkan selanjutnya
memisahkan dari pengotor lain kemudian diletakkan di ember plastik
untuk pencucian. Alat yang digunakan untuk memotong disarankan
menggunkan pisau dari stainless steel.
2. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang melekat
pada bahan dan mengurangi cemaran mikroba pada meniran. Hal
pertama yang perlu diperhatikan dalam proses pencucian yaitu air
yang digunakan. Air yang digunakan harus air bersih. Air yang
digunakan dapat berasal dari air sumur, air PDAM, maupun air dar
sumber mata air.
Pencucian meniran dapat dilakukan dengan 2 cara antara lain :
a. Air mengalir : dilakukan menggunakan selang atau kran air yang
terbuka terus menerus hingga air yang mengalir jernih.
b. Pencucian bertingkat : dilakukan menggunakan beberapa wadah
pencuci hingga air di sisa pencucian jernih.
38
Gambar 11. Pencucian bertingkat
Proses pencucian dilakukan dengan singkat untuk mencegah
menurunnya kualitas meniran karena zat aktif yang larut air juga
dapat hilang. Selain itu juga mencegah daun yang rontok akibat
pencucian. Sifat daun meniran yang daunnya mudah rontok juga
perlu diperhatikan sehingga wadah yang digunakan adalah wadah
yang berlubang kecil.
3. Penirisan
Tujuan penirisan adalah menghilangkan air yang melekat pada
bahan setelah proses pencucian, mempermudah perajangan, serta
mempercepat proses pengeringan. Penirisan dilakukan dengan
menghamparkan bahan pada rak dari kawat kasa yang berlubang
sehingga air sisa pencucian dapat menetes.
39
Gambar 12. Penirisan meniran
4. Perajangan
Perajangan bertujuan untuk memudahkan proses pengeringan dan
keseragaman ukuran. Proses perajangan merupakan proses pengecilan
ukuran bahan.Proses ini bertujuan untuk memudahkan dalam proses
pengeringan. Pada proses perajangan, perlu diperhatikan alat yang
digunakan. Alat yang digunakan harus cukup tajam, bersih, dan tidak
boleh bersifat inert (mudah bereaksi dengan bahan lain). Misalnya
besi. Sebaiknya untuk merajang meniran menggunakan alat berbahan
stainless steel.
Gambar 13. Perajangan meniran secara manual
40
Perajangan meniran dipotong sepanjang 8-10 cm menggunakan pisau
stainless steel. jika terlalu panjang dikhawatirkan akan sulit kering
dan jika telalu pendek dikhawatirkan kandungan kimia yang labil
terhadap panas hilang.
5. Pengeringan
Pengeringan adalah proses pemanasan untuk menghilangkan kadar
air sesuai dengan yang diinginkan. Pengeringan bertujuan untuk
mengurangi aktivitas air. Pada kadar air tertentu, mikroba tidak dapat
berkembangbiak serta pertumbuhan jamur dan aktivitas enzim juga
dapat terhambat. Hal ini dapat memperpanjang umur simpan serta
meningkatkan kualitas simplisia.
Beberapa jenis pengeringan yang dapat digunakan antara lain :
a. Pengeringan alami
Pengeringan alami adalah pengeringan tanpa bantuan alat.
Pengeringan ini dapat menggunakan energi panas matahari
secara langsung (terbuka), pengeringan sinar matahari tidak
langsung (ditutup kain hitam atau rumah kaca), dan kering angin,
pengeringan dengan cara bahan dihamparkan di tempat yang
teduh dan dibiarkan hingga kadar air yang diinginkan. Tujuan
pengeringan ditutup dengan kain hitam yaitu untuk melindungi
simplisia dari cemaran debu dan kotoran, serta kain hitam dapat
lebih menyerap panas. Pengeringan ini lebih sederhana sehingga
lebih mudah dan murah. Kelemahan pengeringan ini adalah
mudah terkontaminasi oleh mikroba udara, kurang higienis,dan
bergantung kepada cuaca.
41
b. Pengeringan dengan mesin pengering
Pengeringan ini menggunakan alat yang dilengkapi dengan kontrol
suhu, kelembaban dan aliran udara. Pengeringan menggunakan
mesin dapat menggunakan oven (udara dipanaskan) atau
menggunakan blower (udara panas dialirkan) sehingga sirkulasi
udara lebih homogen kemudian uap air dikeluarkan melalui
exhaust.
c. Pengeringan kombinasi
Metode ini adalah kombinasi antara pengeringan alami dan mesin
pengering. Pengeringan ini dilakukan dengan memanaskan bahan
hingga setengah kering (ditandai dengan bahan sedikit layu) dan
dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan mesin hingga
kadar air yang diinginkan. Pengeringan kombinasi memiliki
keuntungan kualitas yang baik, serta biaya operasional yang lebih
rendah dibandingkan pengeringan menggunakan mesin.
Perlu diperhatikan dalam tahap pengeringan meniran untuk
membolak-balik bahan agar pengeringan lebih merata. Selain itu,
dalam tahap pengeringan manual perlu diberikan alas, dan lubang
pada rak tidak boleh terlalu lebar karena biji meniran akan banyak
rontok pada tahap ini.
Metode pengeringan meniran menggunakan sinar matahari langsung
maupun tidak langsung (ditutup kain hitam) serta menggunakan
udara panas tidak berpengaruh signifikan terhadap mutu simplisia
meniran. Mutu simplisia ini meliputi kadar air, kadar abu total, kadar
abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut alkohol,
randemen, kadar tanin, dan kadar flavonoid (Sembiring, 2016). Untuk
mendapatkan senyawa fenolat, proses pengeringan yang terbaik
42