The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by B2P2TOOT Tawangmangu, 2022-01-10 02:39:03

Meniran; Si Kecil Bermanfaat Besar

Meniran; Si Kecil Bermanfaat Besar

adalah dengan kering angin jika dibandingan dengan pengeringan
oven 40oC dan 60oC maupun segar (Rivai dkk., 2011).

Proses pengeringan dapat dikatakan selesai jika kadar air yang
diperoleh sudah di bawah 10%, salah satunya ditandai dengan
simplisia yang mudah dipatahkan dan mudah hancur ketika
diremas. Pendekatan yang biasa dilakukan adalah menentukan susut
pengeringan dengan menggunakan Moisture Analyzer.

6. Sortasi kering

Sortasi kering bertujuan untuk memisahkan simplisia meniran dari
kotoran yang mungkin masih terbawa selama proses pengeringan.
Sortasi kering dilakukan dengan memisahkan bahan kering dengan
bagian tanaman lain atau kotoran lain.

7. Pengemasan

Pengemasan dilakukan agar melindungi bahan dari lingkungan
sekitar (suhu dan kelembaban), cemaran mikroba, serangan serangga,
kerusakan mekanis pada saat pengangkutan maupun penyimpanan.
Proses pengemasan juga dapat mempermudah penyimpann di gudang.
Bahan pengemas harus terbuat dari bahan yang kedap air, kuat dan
bersih. Beberapa persyaratan bahan pengemas yaitu bahan bersifat
inert (tidak bereaksi dengan simplisia), dapat mencegah kerusakan
mekanis maupun biologis, serta mudah digunakan (Kemenkes, 2011).
Bahan kemasan dapat berupa plastik, kertas, alumunium foil, kain,
dan lain-lain. Kemasan alumunium memberikan umur simpan yang
lebih lama dibandingkan kemasan dari plastik PP yang disimpan
dengan suhu 25-45oC (Panggalih, 2010), akan tetapi dinilai kurang
ekonomis.

43

Penyimpanan simplisia juga perlu diberikan juga label berupa identitas
bahan, jumlah, kualitas, dan tanggal produksi). Label berfungsi untuk
mengetahui umur simpan meniran untuk dicek lebih lanjut apakah
bahan masih layak untuk digunakan atau tidak. Pengemasan sebaiknya
hampa udara dan ditambahkan silica gel untuk mencegah kerusakan
simplisia. Umur simpan simplisia dengan penyimpanan hampa udara
lebih lama jika dibandingkan dengan tanpa hampa udara (Panggalih,
2010). Proses ini dapat menggunakan vacuum sealer. Simplisia juga
di timbang beratnya untuk melengkapi identitas simplisia.

AB
Gambar 14. a. Penimbangan simplisia, b. Pengemasan dengan vacuum
sealer
8. Penyimpanan

Tujuan penyimpanan yaitu untuk menjaga ketersediaan simplisia
tanpa menurunkan mutu simplisia (Katno, 2008). Penyimpanan
perlu memenuhi persyaratan ruangan yang digunakan. Faktor yang
menyebabkan kerusakan simplisia selama penyimpanan antara lain
kadar air, kelembaban, sinar matahari langsung, oksigen, reaksi
kimia, hama (kutu, rayap, tikus, kecoa), serta kapang.
44

Gambar 15. Gudang simplisia
Syarat tempat penyimpanan simplisia meniran yaitu ruangan harus
bersih, tertutup, penerangan cukup dan sirkulasi udara baik serta tidak
terkena sinar matahari secara langsung. Kelembaban kurang dari 60%
dan suhu tidak lebih dari 30oC. Proses ini perlu dilakukan monitoring
suhu dan kelembaban secara rutin Jika kelembaban terlalu tinggi,
dapat menggunakan alat dehumidifier untuk menyerap kelembaban.
Simplisia sebaiknya diletakkan di rak dan tidak boleh bersentuhan
dengan lantai atau dinding karena dapat meningkatkan kelembaban.
Sistem pengeluaran simplisia harus mendahulukan yang disimpan
lebih awal (sistem First in First Out).

45

46

Bab 5

Fitokimia dan Farmakologi

Fitokimia
Penelitian tentang fitokimia meniran sudah banyak dilakukan. Riset
tersebut mentelaah berbagai macam senyawa kimia yang terkandung
dalam meniran. Senyawa kimia tersebut sebagian sudah teruji aktivitas
farmakologinya baik pada hewan coba maupun secara klinis pada subjek
manusia.
Hasil penelitian beberapa puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih
dari 50 senyawa yang berhasil diidentifikasi dari seluruh bagian tanaman
meniran, meliputi golongan senyawa flavonoid, terpen, kumarin, lignan,
tanin, saponin, dan alkaloid. Kandungan senyawa yang paling melimpah
dari tanaman ini adalah alkaloid, terpen, lignan, dan tanin. Senyawa yang
terkandung dalam meniran terangkum dalam tabel berikut (Bagalkotkar
dkk., 2006; Calixto dkk., 1998).

47

Tabel 2. Kandungan senyawa dalam meniran

Golongan Senyawa
senyawa norsekurinin, nirurin, filokrisin

Alkaloid

Kumarin asam elagat, metil brevifolin karboksilat, asam
brevifolin karboksilat, etil brevifolin karboksilat

Flavonoid rutin, kuersetin, kuersitrin, astragalin, katekin,
Lignan dan flavonoid lainnya berupa glikosida flavon ter-
prenilasi, nirurin, quersetol, niruriflavon
Tanin
Terpenoid Filantin, hipofilantin, dimetil eter kubebin, urina
Lain-lain tetralin, niranthin, nirtetralin, filtetralin, linte-
tralin, solintetralin, 2,3-desmetoksi seko-isolin-
tetralin, 2,3-desmetoksi seko-isolintetralin diase-
tat, linantin, demetilenedioksiniranthin, nirfillin,
filnirurin, seko-4-hidroksilintetralin, seko-isolar-
isiresinol trimetil eter, hidroksinirantin, dibenzil-
butirolakton

asam repandusinat, geraniin, korilagin, isoko-
rilagin, asam galat

limonen, p-simen, lupeol

diosgenin, β-glukogalin, nirurisida, β-sitosterol

Farmakologi

Meniran merupakan herba yang memiliki beragam aktivitas farmakologi
dan telah banyak sekali dimanfaatkan secara empiris dan dibuktikan
kemanfaatannya secara ilmiah. Berikut ini adalah beberapa aktivitas
farmakologi yang telah diuji dalam berbagai penelitian baik in vitro, pra
klinik, maupun uji klinik.

48

1. Antidiabetes

Sebuah penelitian melaporkan efek ekstrak metanol herba meniran
terhadap berbagai parameter aktivitas antidiabetes terhadap tikus yang
diinduksi aloksan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak herba
meniran menurunkan kadar gula darah, menekan peningkatan gula darah
postprandial, menurunkan glikasi hemoglobin, meningkatkan kandungan
glikogen hati, serta meningkatkan berat badan tikus. Uji in vitro
menunjukkan bahwa ekstrak tersebut mampu menekan aktivitas enzim
α-amilase dengan IC50: 2,15 ± 0,1 mg/mL dan α-glukosidase dengan
IC50 0,2 ± 0,02 mg/mL (Okoli dkk., 2011).

Pemberian ekstrak daun meniran dengan dosis 5,0 mg/kg bb/hari
selama 8 minggu berturut turut menunjukkan aktivitas hipoglikemik
serta efek perbaikan kerusakan sel-β pankreas sel pada tikus uji yang
diinduksi aloksan 125 mg/kg bb setiap minggu dan diberikan pakan
tinggi lemak setiap hari selama 7 minggu. Kadar glukosa darah tikus
uji kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sebelum dan sesudah
perlakuan berurutan sebesar 217,46±23,38; 206,17±22,16 mg/dL dan
217,49±23,33 ; 117,93±21,23 mg/dL. Penurunan kadar glukosa tersebut
disebabkan oleh kandungan beberapa senyawa aktif pada daun meniran
yang berpotensi dimanfaatkan sebagai antioksidan dan antihiperglikemia
seperti flavonoid kuersetin (Wahjuni, 2017).

2. Hepatoprotektor

Efek ekstrak air meniran terhadap kerusakan hati mencit yang diinduksi
parasetamol dosis 250 mg/kg BB telah diuji. Pemberian ekstrak air
meniran secara oral selama 7 hari dengan dosis 100 mg/kg BB mampu
menurunkan kadar serum glutamat oksaloasetat transaminase (SGOT)
dan serum glutamat piruvat transaminase (SGPT), serta meningkatkan
aktivitas enzim katalase (Sabir dan Rocha, 2008).

49

Uji aktivitas filantin, senyawa utama dalam meniran, yang diberikan
secara oral dengan dosis 120 mg/kg BB sebelum induksi kerusakan hati
menggunakan CCl4 menunjukkan bahwa filantin mampu mencegah
kerusakan hati melalui penurunan alanine aminotransferase (ALT) and
aspartate aminotransferase (AST). Penurunan tersebut berkisar antara
74-83% pada dosis 120 mg/kg BB dan 62-63% pada dosis 180 mg/kg.
Efek hepatoprotektif tersebut setara dengan obat standar silimarin yang
mampu menurunkan kadar ALT dan AST hingga 66% (Ooi dkk., 2015).

3. Analgesik dan antiinflamasi

Uji aktivitas analgesik dengan metode hot plate dan paw pressure test
telah dilakukan pada tikus yang diberi ekstrak metanol daun meniran
secara oral. Potensi analgesik yang kuat ditunjukkan oleh ekstrak meniran
dosis 600 dan 750 mg/kg pada kedua metode. Efek analgesik tersebut
signifikan (p< 0.05) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya
diberikan larutan garam normal (Sijuade, 2016).

Korilagin, suatu senyawa yang diisolasi dari meniran, diketahui memiliki
aktivitas analgesik terhadap mencit. Pada metode uji geliat, korilagin
menunjukkan aktivitas penurunan geliat yang diinduksi asam asetat.
Aktivitas ini kurang lebih 20,6 kali lebih poten dibandingkan asam asetil
salisilat. Korilagin juga terbukti mampu menurunkan efek licking pada
uji formalin-induced paw licking . Demikian juga pada uji nyeri yang
diinduksi kapsaisin, korilagin dosis 3 mg/kg BB menunjukkan aktivitas
yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol, yaitu penurunan nyeri
sebesar 32,6% (Moreira dkk., 2013).

Aktivitas antiinflamasi ekstrak metanol daun meniran diujikan pada tikus
Swiss albino yang dibuat inflamasi dengan induksi injeksi karagenan
1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun meniran

50

secara signifikan (p < 0.01) mampu menurunkan derajat edema sebesar
46,80% pada dosis 100 mg/kg BB, 55,32% pada dosis 200 mg/kg BB,
and 69,14% pada dosis 400 mg/kg BB (Mostofa dkk., 2017).

4. Antimalaria

Aktivitas antiplasmodium ekstrak metanol dan fraksi kloroform, etanol,
serta air dari meniran telah diuji terhadap Plasmodium berghei yang
sensitif terhadap klorokuin. Ekstrak metanol dosis 100-400 mg/kg BB
mampu menekan indeks parasitemia sebesar 37,65%-50,53 %. Fraksi
kloroform, etanol, dan air dosis 100 mg/kg BB mampu menurunkan
indeks parasitemia masing-masing sebesar 85,29%, 67,06%, dan
51,18%. Uji antiplasmodium lebih lanjut menunjukkan bahwa ekstrak
metanol mampu mereduksi indeks parasitemia sebesar 15,81% - 62,96%,
sedangkan ekstrak kloroform secara signifikan (P<0.01) menekan indeks
parasitemia sebesar 44,36%-90,48% dengan efek sebanding terhadap
klorokuin (96,48%). Aktivitas antiplasmodium profilaksis ekstrak
metanol juga signifikan menurunkan indeks parasitemia (92,50%) bahkan
lebih efektif daripada pyrimethamine (85,00%) (Obidike dkk., 2013).

5. Antihiperurisemia

Meniran dilaporkan memiliki aktivitas farmakologi sebagai
antihiperurisemia. Ekstrak metanol meniran pada konsentrasi 10 mg/
kg bb memiliki aktivitas penghambatan xantin oksidase secara in vitro
ditunjukkan dengan nilai IC50 sebesar 39,39 g/ml namun memiliki
aktivitas penghambatan xantin oksidase moderat secara in vivo.
Namun demikian, pemberian ekstrak yang sama secara intra peritoneal
menunjukkan peningkatan ekskresi urinary uric acid sebesar 1,69 kali
dibandingkan kelompok kontrol. Senyawa aktif filantin, hipofilantin dan
filtetralin menunjukkan peningkatan ekskresi antara 2,51 – 11,0 kali lebih

51

tinggi dibandingkan kelompok kontrol (Murugaiyah dan Chan, 2009).

6. Imunomodulator

Efek imonumodulasi ekstrak air meniran telah diujikan pada sel limfosit
mencit dan sel makrofag sumsum tulang. Hasil penelitian menunjukan
bahwa ekstrak air meniran merupakan mitogen yang kuat terhadap sel
limfosit, ditunjukkan dengan adanya peningkatan signifikan (p < 0,01)
ekspresi CD69 dan proliferasi sel B dan sel T. Selain itu, produksi IFN-
γ dan IL-4 semakin meningkat (p < 0,05) seiring dengan penambahan
konsentrasi ekstrak. Sedangkan pada sel makrofag, ekstrak air meniran
menunjukkan efek peningkatan yang signifikan (p < 0,05) meliputi
fagositosis , aktivitas enzim lisosom, dan sekresi TNF-α. Ekstrak tersebut
juga memodulasi nitrit oksida yang dikeluarkan oleh sel makrofag
(Nworu dkk., 2010).

Pemberian ekstrak etanol meniran konsentrasi 10; 30; 100 dan 300
mg/kg bb secara oral selama 6 hari berturut turut menunjukkan efek
imunomodulator pada ayam broiler ditunjukkan dengan adanya
peningkatan indeks fagositosis yang signifikan (p<0,05) dibandingkan
kelompok kontrol. Indeks fagositosis tertinggi diperoleh pada pemberian
dosis 300 mg/kg bb (Aldi dkk., 2014).

7. Antioksidan

Uji aktivitas antioksidan secara in vitro menunjukkan bahwa ekstrak air
maupun metanol dari daun dan buah meniran merupakan penghambat
yang poten terhadap peroksidasi lipid microsomal yang diinduksi
Fe2+ dan askorbat. Hasil uji penghambatan terhadap superoksida ROS
menunjukkan bahwa ekstrak air lebih poten dibandingkan ekstrak
metanol. Selain itu, keempat jenis ekstrak meniran juga memiliki potensi
penangkapan yang tinggi terhadap radikal bebas yang dibuktikan dengan
uji DPPH, dengan nilai IC50 berkisar antara 10-30 µg/ml. Demikian
pula dengan uji aktivitas antioksidan secara in vivo, baik ekstrak air dan

52

metanol meniran menunjukkan efek penghambatan peroksidase lipid
pada hepar tikus yang diinduksi CCl4 (Harish dan Shivanandappa, 2006).

Sediaan teh meniran dosis 5 g dalam 750 ml air telah diujikan terhadap
kelompok manusia sehat. Hasil observasi sebelum dan pada 1, 2, dan 4 jam
setelah rebusan diminum, subjek menunjukkan tidak adanya perubahan
pada aktivitas katalase dan superoksida Namun teh meniran ini mampu
meningkatkan kadar asam galat dan asam askorbat dalam plasma yang
signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan
750 ml air (Colpo dkk., 2014).

8. Efek hematologis

Serbuk daun meniran dosis terbukti mampu meningkatkan kadar
hematokrit, sel darah merah, serta hemoglobin tikus. Serbuk daun
meniran diberikan bersamaan dengan pelet berlapis madu selama 28 hari.
Hasil observasi menunjukkan bahwa kadar hematokrit, sel darah merah,
dan hemoglobin mengalami peningkatan yang signifikan saat hari ke-28
pada tikus yang diberikan serbuk daun meniran dosis rendah 10 mg/kg
BB. Namun serbuk daun meniran tidak memberikan efek peningkatan
terhadap kadar sel darah putih, granulosit, limfosit dan monosit, maupun
platelet (Montejo dkk., 2015).

9. Efek penyembuhan luka

Tikus albino yang diberikan salep berisi ekstrak herba meniran
menunjukkan penurunan diameter luka pada hari ke 18 setelah perlukaan.
Salep meniran dosis 5% dan 10% memiliki efek kontraksi luka sebesar
masing-masing 90,9 dan 93,7%. Ekstrak tersebut juga menunjukkan
aktivitas penurunan waktu epitelisasi luka dan peningkatan kecepatan
penutupan luka dengan nilai wound closure 50 (WC50) sebesar 8,7%
(Okoli dkk., 2009).

53

54

BAB 6

Aspek Ekonomi

Gambaran Umum Industri Obat Tradisional

Pasar tanaman obat dan aromatik di tingkat dunia tumbuh sebesar 10-15%
pertahun (USAID, 2006). Di Indonesia industri pengolahan tanaman obat
dibedakan menjadi 3 yaitu industri obat tradisional (IOT), industri kecil
obat tradisional (IKOT) dan industri farmasi. Penggolongan industri IOT
dan IKOT berdasarkan jumlah asset yang dimiliki, dimana IOT memiliki
asset > Rp 600 juta dan IKOT memiliki aset < Rp 600 juta (Departemen
Pertanian, 2007). Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 006 Tahun 2012 tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional,
industri pengolahan tanaman obat dibedakan menjadi 6 kelompok dyaitu
Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA),
Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional
(UMOT), Usaha Jamu Racikan dan Usaha Jamu Gendong.

Saat ini pelaku industri masih mengandalkan bahan baku yang berasal
dari hasil bumi dalam negeri. Tetapi belakangan beberapa bahan baku
herbal dan obat diincar negara lain untuk kepentingan industri mereka.
Kendala yang dihadapi oleh pelaku industri obat tradisional yaitu adanya
upaya merusak citra jamu melalui iklan herbal dan klinik asing di media
yang melanggar ketentuan periklanan obat tradisional. Kendala lain yaitu
tingginya harga bahan baku, kebijakan ekspor negara tujuan sampai
dengan serbuan citra produk jamu (Saerang, 2015).

Bahan baku obat tradisional yang sedang dikembangkan antara lain
ekstrak kering temulawak terstandar; ekstrak kering temulawak
terfraksinasi terstandar; ekstrak kering sambiloto terstandar; ekstrak
kering sambiloto terfraksinasi terstandar; ekstrak kering pegagan

55

terstandar; ekstrak kering terstandar herba meniran; ekstrak kering
terstandar rimpang kunyit; ekstrak kering terstandar herba binahong;
ekstrak kering terstandard herba kumis kucing; ekstrak kering terstandar
daun salam (Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian
Kesehatan RI, 2012).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
88 Tahun 2013 tentang rencana induk pengembangan bahan baku obat
tradisional, penyusunan rencana induk pengembangan bahan baku obat
tradisional bertujuan untuk meningkatkan pengembangan dan produksi
bahan baku obat tradisional dalam negeri dan mengurangi angka impor,
yang dijamin bermutu tinggi.

Menurut (Gunawan, 2014), perusahaan industri obat dan industri
farmasi menyerap produksi tanaman obat sebesar 63%, sementara 23%
merupakan konsumen rumah tangga dan 14% untuk ekspor. Hal ini juga
sesuai dengan data Kementerian Pertanian, yang menyatakan bahwa total
produksi tanaman obat di Indonesia 63%-nya diserap oleh industri yang
mencapai 1.023 perusahaan industri obat tradisional, dan industri farmasi.
Sementara itu, 14% diantaranya untuk tujuan ekspor, dan sisanya sebesar
23% untuk konsumsi langsung rumah tangga (Departemen Pertanian,
2007).

Saat ini pengembangan obat tradisional sudah semakin pesat karena
mulai didukung oleh berbagai penelitian serta menggunakan teknologi
modern. Berdasarkan penelitian (Wicaksena dan Subekti, 2010), telah
terjadi perubahan preferensi responden konsumen terhadap bentuk
jamu yang dikonsumsi. Hal ini dapat dilihat dari persentase responden
konsumen tentang bentuk jamu yang pernah dikonsumsi antara lain cair
(51%), puyer/serbuk (40%), dan pil/kapsul (9%) sementara bentuk jamu
yang paling diminati adalah cair (59%), puyer/serbuk (30%), dan pil/
kapsul (11%).
56

Berdasarkan laporan kunjungan kerja komisi IX DPR RI ke Balai
Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu
tahun 2016 dijelaskan bahwasanya industri obat tradisional tumbuh dan
berkembang dengan kekuatan sumber daya hayati lokal dan didukung
oleh pengetahuan pengobat tradisional. Berbeda dengan industri farmasi
konvensional yang masih tergantung 100% pada bahan baku impor. Hal
ini terlihat dengan tumbuhnya industri jamu yang mencapai lebih dari
1200 industri dan usaha kecil/menengah. Industri jamu ini didukung
oleh pengumpul simplisia tanaman obat untuk memenuhi kebutuhan
industri jamu. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala yang
dihadapi industri jamu obat tradisional. Salah satu masalah penting
yang dihadapi adalah kualitas, kuantitas dan kontinuitas bahan baku
obat tradisional, baik berupa bahan baku simplisia maupun bahan baku
ekstrak. Masalah pada bahan baku simplisia adalah ketersediaan bahan
tanaman yang terbatas dan teknologi pengolahan yang umumnya masih
tradisional. Banyak tanaman obat merupakan tumbuhan liar dan belum
dibudidayakan. Masyarakat tidak tertarik membudidayakan meniran
diantaranya disebabkan karena budidaya meniran yang tidak efisien.
Masalah efisiensi pada budidaya meniran salah satunya disebabkan
karena biomassa meniran yang sangat rendah sehingga tidak sebanding
dengan faktor produksi yang dikeluakan dalam budidaya meniran. Teknik
pengolahan dan penyimpanan masih menggunakan cara sederhana, tidak
higienis dan sangat jauh di bawah standar. Sedangkan masalah pada
bahan baku ekstrak pada dasamya akibat teknologi rancang bangun
peralatan yang masih sangat kurang, sehingga diperlukan biaya investasi
yang besar untuk pembelian peralatan dan kegiatan pengembangan
teknologi proses ekstraksi (Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR
RI ke B2P2TO2T Tawangmangu Propinsi Jawa Tengah Pengembangan
Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, 2016).

57

Baik industri jamu maupun ekstrak bertumpu pada usaha pengumpul
tanaman obat dengan skala usaha kecil dan menengah. Pangsa pasar
industri jamu dan obat tradisional dalam negeri tergolong kecil dan
terfragmentasi, salah satunya disebabkan oleh belum diterimanya produk
obat tradisional dalam sistem pelayan kesehatan formal.

Industri jamu meliputi industri bahan baku (hulu), industri manufaktur
(hilir) dan industri perantara atau pendukung lainnya, seperti industri alat
dan mesin, pengemas, marketing, promosi (iklan) dan lain-lain. Struktur
industri jamu nasional belum kuat, utamanya dari aspek bahan baku,
teknologi dan permodalan serta masih terkonsentrasinya industri jamu
di Jawa. Komposisi industri kecil, menengah dan besar yang kurang
proposional juga memperlambat peningkatan daya saing industri jamu
nasional. Untuk itu perlu adanya regulasi dan program pembinaan yang
tepat dan komprehensif, penguatan teknologi dan permodalan, serta
clustering untuk mendorong kemajuan industri jamu nasional agar
mempunyai daya saing yang kuat (Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian RI, 2011).

Kebutuhan Meniran Untuk Industri

Berdasarkan data BPS tahun 2015, meniran (P. niruri L.) termasuk
ke dalam 12 spesies tanaman obat yang digunakan dalam industri
obat tradisional. Volume meniran yang digunakan dalam industri obat
tradisional tercatat sebesar 5.496 kg dengan nilai transaksi sebesar Rp.
21.986.000,00. Kebutuhan bahan baku meniran sejauh ini hanya dipenuhi
dari dalam negeri saja sehingga peluang pengembangan meniran untuk
bahan baku industri masih sangat luas. Jumlah meniran yang masuk ke
Industri Obat Tradisional dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah bahan baku Industri Obat Tradisional tahun 2015

58

Impor Lokal Total

Nama simplisia Jum- Nilai Jumlah Nilai (ribu Jumlah Nilai (ribu
lah (ribu (kg) rupiah) (kg) rupiah)
(kg) rupiah)

Curcuma     2.360.938 16.554.533 2.360.938 16.554.533
zanthorrhiza
5.820.176 1.558.062 5.820.176
Kaempferia     1.558.062
galanga 25.361.719 1.491.866 25.361.719
26.718.828 1.484.379 26.718.828
Zingiber     1.491.866 3.640.417 3.640.417
aromaticum 727.886
1.907.982 1.950.126
Alpinia galanga     1.484.379 84.745
1.231.762 1.273.902
Imperata cylindrica     727.886 315.355 45.145 357.499
522.732 21.789 522.732
Eurycoma 7.098 13.067 7.098
21.986 8.351 21.986
longifolia 1.831 4.2144 82.914 5.496
1.614 1.614
Cinnamomum 1.899

burmanii 1.493 4.2140 43.652

Curcuma domestica 2.057 4.2144 19.732

Zingiber officinale     13.067

Cyperus rotundus     8.351

Phyllanthus niruri     5.496

Curcuma     1.899
aeruginosa

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015

Perkembangan jumlah industri farmasi dan obat tradisional di Indonesia
dapat dilihat pada Gambar 16.

59

Gambar 16. Grafik jenis dan jumlah industri obat tradisional tahun 2010-
2015 (BPS, 2015)

Berdasarkan Gambar 16 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik
tahun 2015 dapat di lihat perkembangan jumlah industri farmasi dan
industri obat tradisional yang ada di Indonesia selama kurun waktu
6 tahun terakhir. Selama 6 tahun terakhir terjadi perkembangan
yang fluktuatif. Berdasarkan kategori yang ada, paling banyak yaitu
industri obat tradisional. Tahun 2012 industri farmasi dan industri
obat tradisional jumlahnya mengalami kenaikan, sedangkan industri
kecil obat tradisional mengalami penurunan jumlah yang signifikan.
Sedangkan pada tahun 2013, di saat industri farmasi dan industri obat
tradisional mengalami penurunan jumlah, industri kecil obat tradisional
justru mengalami kenaikan jumlah yang sangat sangat besar. Dengan
semakin berkembangnya jumlah industri obat tradisional secara otomatis
meningkatkan kebutuhan tanaman obat sebagai bahan baku industri obat
tradisional sehingga meningkatkan peluang bagi petani dan pemasok
tanaman obat.

Dengan semakin berkembangnya jumlah industri obat tradisional
membuat industri-industri tersebut harus semakin kreatif mengembangkan
produknya. Saat ini di pasaran sudah banyak beredar produk berbahan

60

dasar meniran baik yang berbentuk jamu, obat herbal terstandar maupun
yang sudah fitofarmaka. Jamu merupakan merupakan obat asli Indonesia
(BPOM RI, 2005). Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data
empiris, memenuhi persyaratan mutu yang berlaku (BPOM RI, 2004).
Sedangkan obat herbal terstandar didefinisikan sediaan obat bahan alam
yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan
uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi (BPOM RI, 2005).
Obat Herbal Terstandar harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/
pra klinik, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang
digunakan dalam produk jadi serta memenuhi persyaratan mutu yang
berlaku (BPOM RI, 2004). Sedangkan fitofarmaka yaitu sediaan obat
bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara
ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya
telah di standarisasi (BPOM RI, 2004). Fitofarmaka harus memenuhi
kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat
dibuktikan secara ilmiah/ pra klinik, telah dilakukan standarisasi
terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi serta memenuhi
persyaratan mutu yang berlaku (BPOM RI, 2004).
Contoh beberapa produk berbahan baku meniran yang beredar di
masyarakat dapat dilihat pada Tabel 4.

61

Tabel 4. Produk berbahan baku meniran yang beredar di masyarakat

No Nama Produk Kategori Nama Produsen Komposisi Indikasi

1 Jamu Toga Nusan- P h y l l a n - Membantu memelihara

tara thus niruri daya tahan tubuh, Mem-
herba 500 bantu mengobati radang
mg ginjal, meningkatkan
imunitas dan membantu
mengatasi rematik

Sumber foto : www.pejuangprodukhalal.com

Jamu Herbal Insani P h y l l a n - Meningkatkan sistem
thus niruri kekebalan tubuh,
herba ek-
strak 500 mengatasi infeksi dan
mg mengatasi infeksi dan

peradangan saluran ke-
mih, melarutkan batu
ginjal serta melancarkan
air seni

Sumber foto : www.bioterra.id Tiap kapsul Membantu memelihara
m e n g a n d - daya tahan tubuh
Jamu Rachma Sari ung ekstrak
yang se-
tara den-
gan 2 gram
simplisia
Phyllan-
thus niruri
herba

Sumber foto : www.bukalapak.com
62

No Nama Produk Kategori Nama Produsen Komposisi Indikasi

Fitotar- Dexa Medica Setiap 1 Membantu sistem imun
maka sendok ta- tubuh agar bekerja lebih
kar (5 ml) aktif dan dapat memper-
sirup sti- banyak produksi antibo-
muno men- di sehingga kekebalan
gandung 25 tubuh lebih kuat
mg ekstrak
Phyllan-
thus niruri

Sumber foto : www.stimuno.com

O b a t Jamu Boro- Phyllanthi Memelihara kesehatan,
H e r b a l budur Herba Ex- meningkatkan daya tah-
Terstan- tract 550 an tubuh, mempercepat
dar mg penyembuhan penyakit,
menangkal virus dan
bakteri, diuretic dan
penurun demam

Sumber foto : www.jamuborobudur.com

Jamu Meniran Sari Daun Me- Mengobati asam urat,
niran 25% stroke, nyeri tulang, pen-
gapuran
Piper ni-
grum 20%

Extrak Gin-
seng 15%

Zingiber-
is rhizoma
20%

Buah Merah
10%

Mahkota
Dewa 10%

Sumber foto : www.depotjamudipawirya.blogspot.com

63

No Nama Produk Kategori Nama Produsen Komposisi Indikasi

Fitofar- Dexa Medica Tiap kapsul Membantu sistem imun
maka
m e n g a n d - tubuh agar bekerja lebih

ung ekstrak aktif dan dapat memper-

P h y l l a n - banyak produksi antibo-

thus niruri di sehingga kekebalan

50 mg tubuh lebih kuat

Sumber foto : www.stimuno.com

Jamu Tazakka Herba me- Mengobati sakit kuning,
niran dan malaria, ayan
daun teh

Sumber foto : www.bukalapak.com S i m p l i s i a Menyembuhkan sakit
Jamu Sari Jamu
herba me- kuning, menyembuh-
Sumber foto : www.tokopedia.com
Jamu Sringanis niran kan malaria, mengatasi

Sumber foto : www.sringanis.com demam, menyembuh-

kan penyakit ayan atau

epilepsy, menyembuh-

kan disentri, menga-

tasi gangguan haid,

menyembuhkan luka ba-

kar, mengatasi jerawat,

menyembuhkan koreng

Mengand- Dapat meningkatkan

ung ekstrak imunitas, menghambat

herba me- pertumbuhan virus dan

niran bakteri, melancarkan

kencing, menurunkan

panas, membantu men-

gatasi radang, pembeng-

kakan dan nyeri persen-

dian.

64

No Nama Produk Kategori Nama Produsen Komposisi Indikasi

Jamu PT. Deltomed Meniran Meningkatkan kekebal-
Laboratories an tubuh, mencegah batu
ginjal

Sumber foto : www.jagapati.com

Jamu T r a d i m u n E k s t r a k Obat hati

Gresik meniran Anti bakteri

Sumber foto : www.fjbkaskus.co.id

Jamu Al-Ghuroba E k s t r a k Membantu memelihara
herba me- daya tahan tubuh
niran 500
mg

Somber foto : www.antarherbal.com

Dari sekian banyak produk obat tradisional yang beredar di pasaran,
belum semuanya mempunyai ijin edar dari Badan POM. Berikut daftar
produk yang sudah mempunyai ijin edar dari Badan POM (Tabel 5).

65

Tabel 5. Daftar produk meniran yang sudah mempunyai ijin edar sampai
tahun 2018

No No Registrasi Nama Produk Produsen
1 TR133370351 Meniran Rachma Sari

2 TR122366791 Jamu Leo Meniran Leo Agung Raya

3 TR122663061 Obat Batuk Herbal Junior PT Deltomed Laboratories
Plus Meniran Kemasan Sa-
chet

4 TR122663051 Obat Batuk Herbal Junior PT Deltomed Laboratories
Plus Meniran Kemasan Bot-
ol

5 TR172300221 Deltoherb Meniran Deltomed Laboratories
6 TR122362851 Sari Meniran Sido Muncul

7 TR142581231 Antangin Forte Plus Me- PT Deltomed Laboratories
niran

8 TR142581221 Antangin Forte Plus Me- PT Deltomed Laboratories
niran

9 TR143380001 Meniran CV Herbal Insani

10 TR142378501 Herbana Meniran PT Deltomed Laboratories

11 TR133373821 Kapsul Meniran Toga Nusantara

12 TR063658841 Phyllanthus Kemasan Botol PT Tradimun Gresik
150 ml

13 TR063358851 Phyllanthus Kemasan 100 PT Tradimun Gresik
Kapsul

14 TR152588881 Phyllanthus PT Natura Laboratoria Prima
15 TR042539701 Phyllanthus Citra Deli Kreasitama

16 TR183316311 Herbacure Ekstrak Meniran Terapi Alam Nabati

17 FF172600721 Stimuno Rasa Jeruk Beri PT Dexa Medica
Kemasan 60 ml

66

No No Registrasi Nama Produk Produsen
18 FF172600731
Stimuno Rasa Jeruk Beri PT Dexa Medica
19 FF152300671 Kemasan @ 5 ml
20 FF152300641
Stimuno PT Dexa Medica

Stimuno Forte PT Dexa Medica

21 FF041300411 Stimuno Forte PT Dexa Medica
22 FF152600631 Stimuno PT Dexa Medica
PT Dexa Medica
23 FF152600651E Stimuno Rasa Anggur

24 FF152600651 Stimuno Rasa Anggur PT Dexa Medica
25 HT122300231 Niran Kemasan Botol Industri Jamu Borobudur

26 HT122300251 Niran Kemasan Dus Industri Jamu Borobudur

Sumber : (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2018)

Rantai Pemasaran Meniran

Meniran untuk kebutuhan industri selama ini dipasok oleh petani
pengumpul yang melakukan pemanenan tanaman liar dari hutan,
pinggir jalan atau lahan kosong. Sampai saat ini belum ada petani yang
membudidayakan meniran. Hal ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan
untuk proses budiaya tidak sepadan dengan hasil yang diperoleh. Hal
ini menyebabkan kebutuhan bahan baku meniran masih mengandalkan
pemanenan liar di alam. Meniran yang dikumpulkan dari alam
selanjutnya dikeringkan terlebih dahulu. Setelah terkumpul banyak,
petani pengumpul menyetorkan hasilnya kepada pengepul simplisia,
selanjutnya didistribusikan ke beberapa tempat. Bagan alur pemasaran
meniran dapat dilihat pada gambar 17.

67

Petani Pengumpul Pengepul Simplisia I Pengepul Simplisia II

Pasar Simplisia

Industri

Pengepul Besar

Gambar 17. Rantai pemasaran simplisia meniran

Harga simplisia herba meniran tahun 2018 dari petani pengumpul
berkisar antara Rp 8.000,00 – Rp. 9.0000,00 tergantung kondisi simplisia
tersebut. Sedangkan harga simplisia daun meniran di tingkat petani
berkisar antara Rp. 12.000,00 – Rp. 15.000,00. Untuk bentuk herba harga
yang ditetapkan akan lebih murah dibandingkan dengan simplisia daun.
Semakin bagus kualitas simplisia yang dihasilkan (warna hijau segar,
hanya daun saja) harga akan semakin tinggi. Sedangkan harga simplisia
meniran di tingkat pengepul berkisar antara Rp. 18.000,00 – Rp.
20.000,00. Harga simplisia meniran di pasar simplisia berkisar antara Rp.
30.000,00 – Rp. 40.000,00. Harga simplisia dari pengepul yang masuk
ke industri berkisar antara Rp 20.000,00 – Rp. 25.000,00. Penambahan
harga berkaitan dengan proses yang dilakukan oleh pengepul simplisia
meliputi sortasi, pengemasan dan pengiriman. Proses pembayaran di
tingkat petani pengumpul dilakukan secara tunai atau cash sedangkan
pembayaran di tingkat industri dilakukan dengan cara tempo. Tempo
yang diberikan biasanya sekitar 3-6 bulan dari saat simplisia disetor.

68

69

Daftar Pustaka

A., F. R. K., dan Kusuma (2004): Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh
Alami, Agromedia, Jakarta, 62.

Aak (1983): Dasar-Dasar Bercocok Tanam, Kanisius, Yogyakarta, 218.

Aldi, Y., Rasyadi, Y., dan Handayani, D. (2014): Immunomodulatory
Activity of Meniran Extracts (Phyllanthus niruri Linn.) on Broiler
Chickens, Jurnal Sains Farmasi & Klinis, diperoleh melalui situs
internet: http://jsfkonline.org/index.php/jsfk/article/view/21, 1(1),
20–26.

Asmaliyah, H, E. E. W., Utami, S., Mulyadi, K., Yudhistira, dan Sari, F.
W. (2010): Pengenalan Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati (I.
Anggraeni, Ed.), p 58.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (2018): Cek Produk BPOM,
diperoleh melalui situs internet: http:/cekbpom.pom.go.id.

Bagalkotkar, G., Sagineedu, S., Saad, M., dan Stanslas, J. (2006):
Phytochemicals From Phyllanthus niruri Linn. and Their
Pharmacological Properties: A Review, The Journal of Pharmacy
and Pharmacology, 58, 1559–1570. https://doi.org/10.1211/
jpp.58.12.0001

BPOM RI (2004): Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan
Makanan Republik Indonesia No. HK. 00.05.4.2411Tentang
Ketentuan Pokok Pengelompokan Dan Penandaan Obat Bahan
Alam Indonesia, Indonesia.

BPOM RI (2005): Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.00.05.41.1384 Tentang Kriteria
dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal
terstandar dan Fitofarmaka, 1–16. https://doi.org/10.1017/
CBO9781107415324.004

BPS (2015): Statistik Industri Manufaktur Indonesia 2015.

Bunga F.M., N. (2013): Karakterisasi Berbagai Aksesi Meniran
(Phyllanthus niruri L .), Studi Perkecambahan Dan Pematahan

70

Dormansi, Institut Pertanian Bogor, 43.

Cahyono, B. (2003): Teknik dan Strategi Budidaya Sawi Hijau (Pat Tsai),
Penerbit Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta.

Calixto, J., Santos, A., Cechinel Filho, V., dan Yunes, R. (1998): A
Review of the Plants of the Genus Phyllanthus: Their Chemistry,
Pharmacology, and Therapeutic Potential, Medicinal Research
Reviews, 18, 225–258. https://doi.org/10.1002/(SICI)1098-
1128(199807)18:4<225::AID-MED2>3.0.CO;2-X

Colpo, E., Vilanova, C. D. D. A., Pereira, R. P., Reetz, L. G. B., Oliveira,
L., Farias, I. L. G., Boligon, A. A., Athayde, M. L., dan Rocha, J. B.
T. (2014): Antioxidant Effects of Phyllanthus niruri Tea on Healthy
Subjects, Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 7(2), 113–
118. https://doi.org/10.1016/S1995-7645(14)60005-5

Danso, K. E., Adusei-Fosu, K., dan Klu, G. Y. P. (2013): Analysis of
Mineral Nutrients Status of Whole Plant and Growth Substratum of
Phyllanthus niruri L., an Anti-plasmodial Herb Using Instrumental
Neutron Activation Analysis, J. Radioanal Nucl. Chem, 295, 643–
648. https://doi.org/10.1007/s10967-012-1881-0

DePadua, L. S., Bunyapraphatsara, N., dan Lemmens, R. H. M. J. (1999):
Plant Resources of South East Asia 12(1) Medicinal and Poisonous
Plants 1, Prosea Foundation, Bogor.

Departemen Pertanian (2007): Prospek dan Arah Pengembangan
Agribisnis Tanaman Obat Edisi Kedua.

E., R. D., E., E., dan Undang (1993): Pengaruh Pemupukan Terhadap
Pertumbuhan Dan Produksi Meniran (Phyllanthus niruri L.), Warta
Tumbuhan Obat Indonesia, diperoleh melalui situs internet: http://
ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/wtoi/article/view/2838,
2(4).

Gunawan, W. (2014): Bioprospeksi: Upaya Pemanfaatan Tumbuhan
Obat Secara Berkelanjutan Di Kawasan Konservasi, diperoleh
melalui situs internet: http://www.forda-mof.org/files/3_.

71

Hanudin, E., Wismarini, H., dan Sunarminto, B. H. (2012): Effect of
Shading, Nitrogen and Magnesium Fertilizer on Phyllanthin and
Total Flavonoid Yield of Phyllanthus niruri in Indonesia Soil,
Journal of Medicinal Plants Research, 6(30), 4586–4592. https://
doi.org/10.5897/JMPR12.591

Harish, R., dan Shivanandappa, T. (2006): Antioxidant Activity and
Hepatoprotective Potential of Phyllanthus niruri, Food Chemistry,
95, 180–185. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2004.11.049

Heyne, K. (1988): Tumbuhan Berguna Indonesia, Yayasan Sarana Wana
Jaya, Jakarta, 2521.

Isroi, N., dan Yuliarti (2009): Kompos: Cara Mudah dan Cepat
Menghasilkan Kompos, Andi Offset, Yogyakarta, 52.

ITIS (2018): Phyllanthus L., , diperoleh 29 Oktober 2018, melalui situs
internet: https://www.itis.gov/.

Iyengar, G. (1989): Elemental analysis of biological systems: biomedical
environmental, compositional and methodological aspects of trace
elements, vol 1, CRC Press, Boca Raton, p 242.

Karmawati, E., dan Kardinan, A. (2012): Pestisida Nabati, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan, Bogor, 26.

Katno (2008): Pengelolaan Pascapanen Tanaman Obat, Badan
Litbangkes, Jakarta.

Kemenkes RI (2011): Pedoman Umum Panen & Pascapanen Tanaman
Obat, Badan Litbangkes, Jakarta.

Kemenkes RI (2012): Vademekum Tanaman Obat Untuk Saintifikasi Jamu
Jilid 1, Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan
kesehatan, Jakarta.

Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI ke B2P2TO2T Tawangmangu
Propinsi Jawa Tengah Pengembangan Bahan Baku Obat dan Obat
Tradisional (2016): , diperoleh melalui situs internet: www.dpr.
go.id/.../K9-12-60542206d20538f9bd44d6fae409e285.

72

Lee, N. Y. S., Khoo, W. K. S., Akmal, M., dan Prasat, T. (2016): The
Pharmacological Potential of Phyllanthus niruri, Journal of
Pharmacy and Pharmacology, 68, 953–969. https://doi.org/10.1111/
jphp.12565

Mardisiswojo, S., dan Rajakmangunsudarso, H. (1975): Cabe Puyang
Warisan Nenek Moyang, PT Karya Wreda, Jakarta.

Mediani, A., Abas, F., Khatib, A., Tan, C. P., Ismail, I. F., Shaari, K.,
Ismail, A., dan Lajis, N. H. (2015): Phytochemical and Biological
Features of Phyllanthus niruri and Phyllanthus urinaria Harvested at
Different Growth Stages Revealed by 1H NMR-based Metabolomics,
Industrial Crops and Products, 77, 602–613.

Montejo, J. F., Mondonedo, J. A. B., Lee, M. G. A., Ples, M. B., dan
Vitor, R. J. S. (2015): Hematological effects of Ipomoea batatas
(camote) and Phyllanthus niruri (sampa-sampalukan) from
Philippines in the ICR mice (Mus musculus), Asian Pacific Journal
of Tropical Biomedicine, 5(1), 29–33. https://doi.org/10.1016/
S2221-1691(15)30166-0

Moreira, J., Klein-Júnior, L. C., Filho, V. C., dan Buzzi, F. D. C.
(2013): Anti-hyperalgesic Activity of Corilagin, a Tannin
isolated from Phyllanthus niruri L. (Euphorbiaceae), Journal of
Ethnopharmacology, 146(1), 318–323. https://doi.org/10.1016/j.
jep.2012.12.052

Mostofa, R., Ahmed, S., Begum, M. M., Sohanur Rahman, M., Begum,
T., Ahmed, S. U., Tuhin, R. H., Das, M., Hossain, A., Sharma,
M., dan Begum, R. (2017): Evaluation of Anti-inflammatory and
Gastric Anti-ulcer Activity of Phyllanthus niruri L. (Euphorbiaceae)
Leaves in Experimental Rats, BMC Complementary and Alternative
Medicine, 17(1), 267. https://doi.org/10.1186/s12906-017-1771-7

Murugaiyah,V.,danChan,K.-L.(2009):MechanismsofAntihyperuricemic
Effect of Phyllanthus niruri and Its Lignan Constituents., Journal
of Ethnopharmacology, 124(2), 233–239. https://doi.org/10.1016/j.
jep.2009.04.026

73

Neelesh, D., Dipesh, K., Rajesh, J., Narendra, V., dan Pawan, R.
(2017): Research Article STUDIES ON THE SUCCESSION AND
INCIDENCE SHOOT GALL MAKER ( Betousa stylophora ) ON
AONLA ( Phyllanthus emblica L .), 9(17), 4139–4141.

Nworu, C. S., Akah, P. A., Okoye, F. B. C., Proksch, P., dan Esimone,
C. O. (2010): The Effects of Phyllanthus niruri Aqueous Extract on
the Activation of Murine Lymphocytes and Bone Marrow-Derived
Macrophages, Immunological Investigations, 39(3), 245–267.
https://doi.org/10.3109/08820131003599585

Obidike, E. I., Samuel, O., Aboh, M., dan Oluwakanyinsola Adeola,
S. (2013): Isolation, Fractionation and Evaluation of The
Antiplasmodial Properties of Phyllanthus niruri Resident in Its
Chloroform Fraction, Asian Pacific Journal of Tropical Medicine,
6, 169–175. https://doi.org/10.1016/S1995-7645(13)60018-8

Okoli, C. O., Ezike, A. C., Akah, P. A., Udegbunam, S. O., Okoye, T.
C., Mbanu, T. P., dan Ugwu, E. (2009): Studies on Wound Healing
and Antiulcer Activities of Extract of Aerial parts of Phyllanthus
niruri L. (Euphorbiaceae), American Journal of Pharmacology
and Toxicology, 4(4), 118–126. https://doi.org/10.3844/
ajptsp.2009.118.126

Okoli, C. O., Obidike, I. C., Ezike, A. C., Akah, P. A., dan Salawu, O. A.
(2011): Studies on The Possible Mechanisms ofAntidiabeticActivity
of Extract of Aerial Parts of Phyllanthus niruri., Pharmaceutical
Biology, 49(3), 248–255. https://doi.org/10.3109/13880209.2010.5
01456

Ooi, K. L., Loh, S. I., Sattar, M. A., Muhammad, T. S. T., dan Sulaiman,
S. F. (2015): Cytotoxic, Caspase-3 Induction and In Vivo
Hepatoprotective Effects of Phyllanthin, A Major Constituent of
Phyllanthus niruri, Journal of Functional Foods, 14, 236–243.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jff.2015.01.032

Panggalih, A. D. I. I. (2010): Pengaruh Jenis Kemasan dan Suhu
Penyimpanan Pada Umur Simpan Teh Hijau, Institut Pertanian
Bogor.

74

Permadi, A. (2008): Membuat Kebun Tanaman Obat, Pustaka Bunda,
Jakarta, 126.

Perry, L. (1980): Medicinal Plant of East and Southeast Asia, MIT Press,
Massachusett.

Pracaya (2005): Hama dan Penyakit Tanaman, Penebar Swadaya,
Jakarta, 417.

Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan
RI (2012): Ketersediaan Bahan Baku Obat, Ketersediaan Bahan
Baku Obat, diperoleh 6 April 2018melalui situs internet: www.
depkes.go.id.

R.D.M., W. S., D.A., S., R., S., D., S., dan Hartatik (2006): Pupuk Organik
dan Pupuk Hayati, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Bogor.

Rivai, H., Nurdin, H., Suyani, H., dan Bakhtiar, A. (2011): Pengaruh Cara
Pengeringan Terhadap Mutu Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.),
Majalah Farmasi Indonesia, 1(22), 73–76.

Sabir, S., dan Rocha, J. B. (2008): Water-extractable Phytochemicals
from Phyllanthus niruri Exhibit Distinct in vitro Antioxidant and
in vivo Hepatoprotective Activity Against Paracetamol-induced
Liver Damage in Mice, Food Chemistry, 111, 845–851. https://doi.
org/10.1016/j.foodchem.2008.04.060

Saerang, C. (2015): Industri Jamu: Gawat! 5 Bahan Baku Jamu Indonesia
Diincar Asing, diperoleh 5 April 2018, melalui situs internet: http://
industri.bisnis.com/read/20150525/99/436865/industri-jamu-
gawat-5-bahan-baku-jamu-indonesia-diincar-asing.

Saifudin, A., Rahayu, V., dan Teruna, H. W. (2011): Standarisasi Bahan
Obat Alam, Graha Ilmu, Yogyakarta, 104.

Sembiring, B. B., dan Suhirman, S. (2014): Pengaruh Cara Pengeringan
dan Teknik Ekstraksi Terhadap Kualitas Simplisia dan Ekstrak
Meniran, Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi
Pertanian, Politeknik Negeri Lampung, Lampung, 509–513.

75

Setiawan, dan Rahardjo, M. (2014): Respon Pemupukan Terhadap
Pertumbuhan, Produksi Dan Mutu Herba Meniran (Phyllanthus
niruri), Buletin Littro, 26(1), 25–34.

Sijuade, A. O. (2016): In vivo Evaluation of Analgesic Activities of
Phyllanthus niruri Leaf Methanol Extract in Experimental Animal
Models, Journal of Advances in Medical and Pharmaceutical
Sciences, 8(3), 1–8. https://doi.org/10.9734/JAMPS/2016/26826

The Plant List (2013): Phyllanthus niruri L., .

Untung, K. (2001): Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta, 273.

USAID (2006): Madagascar Aromatic and Medicinal Plant Value Chain
Analysis Combining the Value Chain Approach and Nature, Health,
Wealth and Power Frameworks, Washington.

Wahjuni, S. (2017): Ekstrak Daun Meniran (Phyllanthus niruri L.)
Memperbaiki Kerusakan Sel-β Pankreas dan Menurunkan Kadar
Gula Darah Tikus Wistar Hiperglikemia Diinduksi Aloksan, Intisari
Sains Medis, 8(2), 160–163. https://doi.org/10.1556/ism.v8i2.134

Wiart, C. (2006): Medicinal Plants of Asia and the Pasific, Taylor &
Francis Group, LLC, Boca Raton.

Wicaksena, B., dan Subekti, A. (2010): Potensi Pengembangan Pasar
Jamu, Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 4(2), 210–225. https://
doi.org/https://doi.org/10.1016/0002-9343(65)90195-6

Widiyastuti, Y., Supriyati, N., Sugiarso, S., Widodo, H., Sudrajad, H.,
Fauzi, Listyana, H. L., Subositi, D., Widayat, T., Mujahid, R., dan
Widyastuti, R. (2011): Pedoman Umum Budidaya Tanaman Obat,
Kemenkes RI, Jakarta, 66.

Wijaya, K. A. (2008): Nutrisi Tanaman, Prestasi Pustaka, Jakarta.

Wijayanti, S. (2016): Penentuan Umur Simpan Simplisia Kunyit (Curcuma
domestica Val.) Dalam Kemasan Vakum Dan Non Vakum Dengan
Menggunakan Metode Accelerated Shelf Life Test, UNIVERSITAS
KATOLIK SOEGIJAPRANATA.

76

77

78


Click to View FlipBook Version