The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alyac2003, 2021-12-09 01:50:52

E-BOOK_25_ALYA CRISTINA_06131382126083

E-BOOK_25_ALYA CRISTINA_06131382126083

Belajar

Dan

Pembelajaran

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDIDIKAN TINGKAT SEKOLAH DASAR
A. Tujuan sekolah dasar
B. Karakteristik siswa sekolah dasar
C. Standar kompetensi lulusan sekolah dasar

Pembelajaran di Sekolah Dasar.......................................................................................
Prinsip-Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar..............................................................
Tujuan Pembelajaran di Sekolah Dasar...........................................................................
Peran Guru Dalam Pembelajaran.....................................................................................
Pembelajaran Terpadu...................................................................................................
Pengembangan Kreativitas............................................................................................
Sikap Kreatif..................................................................................................................
Berfikir Kreatif...............................................................................................................
Berfikir Kritis.................................................................................................................
Penguasaan Materi Pelajaran Oleh Guru.....................................................................

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan pada Allah SWT. Hanya kepada-Nya lah kami memuji dan
hanya kepada-Nya lah kami memohon pertolongan. Tidak lupa shalawat serta salam kami
haturkan pada junjungan nabi agung kita, Nabi Muhammad SAW. Risalah beliau lah yang
bermanfaat bagi kita semua sebagai petunjuk menjalani kehidupan. Dengan pertolongan-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah tentang pengertian belajar, macam – macam hasil belajar,
factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, dan pengertian pembelajaran. untuk
memenuhi tugas mata kuliah belajar dan pembelajaran. Kami mengucapkan terima kasih
kepada ibu Dra. Hasmalena M.Pd dan bapak Dr.Makmun Raharjo S.Sn M.Sn., selaku dosen
mata kuliah belajar dan pembelajaran, yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Terima
kasih juga kepada pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Penyusunan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kami menyadari bahwa banyak kekurangan dan
kelemahan pada penyusunan dan penulisan. Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat
berharap adanya kritik dan saran dari pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik.. Semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan pembaca. Apabila terdapat banyak
kesalahan pada makalah ini terkait penulisan kami memohon maaf. Demikian yang dapat
penulis sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.

Palembang, 9 Desember 2021

BAB 1 PENDIDIKAN TINGKAT SEKOLAH DASAR

A. TUJUAN SEKOLAH DASAR

Secara formal dan institusional,sekolah dasar masuk pada kategori Pendidikan dasar.
Pendidikan dasar menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 Pasal 17 ayat 1 dan 2 merupakan jenjang Pendidikan yang dilandasi jenjang
menengah ; Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI)
atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

Jadi, Pendidikan dasar yang dimaksudkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tersebut adalah Pendidikan yang berbentuk sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah dan
sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah .pendidikan dasar tersebut tidak
hanya Pendidikan dasar di sekolah saja ,tetapi juga pada sekolah menengah pertama.
Dengan kata lain, yang dimaksud Pendidikan dasar dalam Undang-Undang tersebut
adalah Pendidikan wajib 9 tahun, yakni sejak sekoklah dasar sampai sekolah menengah
pertama, atau sejak maddrasah ibtidaiyah sampak madrasah tsanawiyah. Dengan
demikian, sekolah dasar masuk pada kategori Pendidikan dasar.

Adapun apabila dilihat dari tujuan pendidikan sekolah dasar menurut Mirasa dkk.
(2005) dimaksudkan sebagai proses pengembangan kemampuan yang paling mendasar
setiap siswa, dimana setiap siswa belajar secara aktif karena adanya dorongan dalam diri
dan adanya suasana yang memberikan kemudahan (kondusif) bagi perkembangan dirinya
secara optimal.

Dengan demikian sekolah dasar atau Pendidikan dasar tidak semata-mata membekali anak
didik berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung semata, tetapi harus
mengembangkan potensi pada siswa baik potensi mental, sosial dan spiritual. Sekolah dasar
memiliki visi mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab.

B. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Suatu hal yang juga tidak boleh dilupakan oleh guru Pendidik di sekolah dasar ini adalah
guru hendak memahami karakteristik siswa yang akan diajarkannya. karena anak yang berada
di sekolah dasar masih tergolong anak usia dini terutama di kelas awal,adalah anak yang
berada di rentangan anak usia dini.oleh karena itu,pada masa saat ini anak perlu didorongkan
sehingga akan berkembang secara optimal.

Adapun pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan bagian dari pengetahuan yang
harus dimiliki oleh guru.pentingnya mempelajari perkembangan peserta didik bagi guru
,sebagai berikut:

Kita akan memperoleh ekspektasi yang nyata tentang anak dan remaja.

Pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak membantu kita untuk merespons
sbagimana mestinya pada perilaku tertentu pada seorang anak

Pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu mengenali berbagai penyimpangan
dari perkembangan yang normal.

Dengan mempelajari perkembangan anak akan membantu memahami diri sendiri.

Setiap manusia secara psikologis memahami tahap pertumbuhan dan
perkembangan.bagaimana pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah
anak.perkembangan pada anak meliputi aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik dan
mental.pertembang mental meliputi perkembangan intelektual,emosi,Bahasa,sosial,dan moral
keagamaan.

Fase perkembangan anak,menurut santrok dan yussen terdiri dari lima fase,yaitu:

1. Fase prenatal,saat dalam kandungan dari masa pembuahan sampai dengan masa kelahiran

2. Fase bayi,yaitu saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai usia 18 atau 24
bulan.

3. Fase kanak-kanak awal,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira kira umur lima
atau enam tahun

4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira
umur enam dan sampai sebelas tahun.

5. Fase remaja,masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa awal.

Menurut havighurst dalam juntika (2007:93),pada masa kanak-kanak akhir dan anak
sekolah,yaitu usia enam hingga dua belas tahun,memiliki tugas-tugas perkembangan sebagai
berikut:

1. Belajar keterampilan fisik untuk pertandingan biasa sehari-hari

2. Membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sebagai organisme yang sebagai tumbuh
kembang.

3. Belajar bergaul dengan teman yang seusianya.

4. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari

5. Belajar peran sosial yang sesuai dengan pria atau Wanita.

6. Mengembangkan kata hati,moralitas,dan atau skala nilai-nilai.

7. Mengembangkan kebebasan pribadi

8. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok dan institusi sosial.

Selanjutnya havighurst mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul
pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang jika berhasil akan
menumbuhkan rasa bangga dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-
tugas berikut.

a. Perkembangan Intelektual.

Pada usia sekolah dasar (usia 6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksikan rangsangan
intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual
atau kemampuan kognitif, seperti membaca, menulis, dan menghitung. Menurut Syamsu
Yusuf (2004: 178). Pada anak usia 6-12 tahun ini ditandai dengan ketiga kemampuan atau
kecakapan baru, yaitu mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, dan
mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan.
Disamping itu, pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan

masalah (problem solving) yang sederhana. Menurut Piaget, kadang-kadang anak usia 5-7
tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete operations), yaitu pada waktu itu anak
dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatunya.

b. Perkembangan Bahasa.

Bahasa merupakan simbol-simbol sebagai sarana untuk komunikasi dengan orang lain.
Menurut Syamsu Yusuf (2007:138), Perkembangan bahasa mencangkup semua cara
untuk berkomunikasi, yaitu dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk
tulisan, lisan, isyarat, atau menggerakan dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi,
lambang, gambar atau tulisan.

Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenall
dan memguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Menurut Abin Syamsuddin, pada awal
masa ini ( usia 6-7 tahun), anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir
(usia 11-12 tahun), anak telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata.

Sedangkan, Menurut Syamsu Yusuf (2005:180), terdapat dua faktor yang mempengaruhi
perkembangan bahasa, yaitu:

Proses jadi matang, yaitu anak menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi)
untuk berkata-kata.

Proses belajar, yaitu anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang
lain dengan jalan mengimitasi atau menipu ucapan/ perkata yang didengarnya.

Perkembangan bahasa itu, minimal dapat menguasai tiga kategori, yaitu:

Dapat membuat kalimat yang lebih sempurna

Dapat membuat kalimat majemuk, dan

Dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

c. Perkembangan Sosial.

Perkembangan sosial sebagaimana proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan
norma-norma kelompok, tradisi, dan moral keagamaan. Menurut Charlotte Buhler,
perkembangan sosial sebagai sequence dari perubahan yang berkesinambungan dalam
perilaku individu untuk menjadi makhluk sosial yang dewasa. Proses perkembangan
sosial berlangsung secara berirama. Pada masa anak sekolah masuk pada masa objektif,
dimana perkembangan ini pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya
perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru
dengan teman yang sebaya (peer group) atau teman sekelasnya.

Pada anak usia sekolah mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri
(egosentris) kepada sikap bekerja sama (kooperatif), dan sikap peduli atau mau
memperlihatkan kepentingan orang lain (sociocentrism).

d. Perkembangan Emosi

Emosi adalah perasaan yang terefleksikan dalam bentuk perbuatan atau Tindakan nyata
kepada orang lain atau pada diri sendiri untuk menyatakan suasana batin atau jiwanya. Emosi

seseorang akan tercermin dalam segala Tindakan dan perilakunya yang terwujud dalam
perkataan dan perbuatan serta sikap yang ditunjukkannya.

Menurut Juntika Nurihsan (2007:153),emosi adalah suatu suasana yang kompleks (a
complex feeling state)dan getaran jiwa (a stride up state)yang menyertai atau muncul
sebelum atau sesudah terjadinya perilaku.

Dalam implementasinya,emosi pada anak sekolah sudah mulai menyadari bahwa
pengungkapan emosi tidak boleh sembarangan,mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi
secara kasar misalnya,tidaklah diterima di masyarakat. Menurut Syamsu Yusuf
(2007:153),pada usia sekolah dasar ini anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol
ekspresi emosinya. Syamsu juga mengatakan bahwa karakteristik emosi yang
stabil(sehat)ditandai dengan teman secara baik.dapat berkonsentrasi dalam belajar,bersifat
respek(menghargai)terhadap diri sendiri dan orang lain.

e. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar adalah bahwa anak dapat mengikuti
peraturan atau tuntutan dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini(usia 11
atau 12 tahun),anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan.
Disamping itu,anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep
benar salah atau baik buruk.

Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget(1950),yang menyatakan bahwa setiap tahapan
perkembangan kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda yang secara garis
besarnya dikelompokkan kepada empat tahap,yaitu:

1. Tahap sensorimotor(usia 0-2 tahun),pada tahap ini belum memasuki usia sekolah.

2. Tahap pra-operasional(usia 2-7 tahun),pada tahap ini kemampuan skema kognitifnya
masih terbatas.peserta didik suka meniru perilaku orang lain.

3. Tahap operasional konkret(usia 7-11 tahun),pada tahap ini peserta didik sudah mulai
memahami aspek-aspek kumulatif materi,misalnya volume dan jumlah;mempunyai
kemampuan memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang bervariasi
tingkatannya.selain itu,peserta didik sudah mampu berpikir sistematis

4. Tahap operasional formal (usia 11-15 tahun),pada tahap ini peserta didik sudah
menginjak usia remaja,perkembangan kognitif peserta didik pada tahap ini telah memiliki
kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif baik secara
simultan(serentak)maupun berurutan. Misalnya, kapasitas merumuskan hipotesis dan
menggunakan prinsip-prinsip abstrak.

Selanjutnya,Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya,setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata,yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran
sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.

Dengan mengacu pada teori pemahaman perkembangan kognitif Piaget tersebut,maka dapat
diketahui bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret (usia 7-11
tahun). Dimana pada rentang usia ini anak mulai menunjukkan perilaku belajar yang
berkembang,yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Anak mulai memandang dunia secara objektif,bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain
secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak

b. Anak mulai berpikir secara operasional,yakni mampu memahami aspek-aspek kumulatif
materi,seperti volume,jumlah,berat,luas,Panjang,dan pendek. Anak juga mampu memahami
tentang peristiwa-peristiwa yang konkret.

c. Anak dapat menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasi benda-benda
yang bervariasi beserta tingkatannya.

d. Anak mampu membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan-aturan,prinsip
ilmiah sederhana,dan menggunakan hubungan sebab akibat.

e. Anak mampu memahami konsep substansi,volume zat
cair,Panjang,pendek,lebar,luas,sempit,ringan,dan berat.

C. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SEKOLAH DASAR

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006 diberlakukan
bahwa Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan ( SKL-SP) pada sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah, sebagai berikut:

1.Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.

2.Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

3.Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.

4.Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.

5.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis dan kreatif.

6.Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru atau
pendidik.

7.Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.

8.Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

9.Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial dilingkungan sekitar.

10.Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

11.Menunjukkan kecintaan dan kebangsaan terhadap bangsa, negara dan Tanah Air
Indonesia.

12.Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.

13.Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman memanfaatkan waktu luang.

14.Berkomunikasi secara jelas dan santun.

15.Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam
lingkungan keluarga dan teman sebaya.

16.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

17.Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca,menulis dan berhitung.

Sedangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terbaru tahun 2012, bahwa
standar kompetensi lulusan di SD/MI menetapkan bahwa mutu lulusan merupakan bagian
penting dalam pemenuhan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yaitu: Standar
Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan
Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan. Tinggi rendah mutu lulusan ditentukan oleh tinggi
rendahnya sumber daya manajemen. Manajemen dalam menentukan kurikulum, pendidik,
proses pembelajaran, penilaian, sarana dan prasarana yang diperlukan oleh sekolah dapat
menunjang keberhasilan mutu lulusan yang tinggi.

Oleh karena itu, Kepala sekolah selayaknya mampu menciptakan sekolah yang efektif
untuk mengelola sumber daya yang ada, sehingga sekolah dapat mewujudkan tujuan mutu
lulusan yang tidak lebih rendah dari standar nasional pendidikan. Sekolah harus memiliki
patokan pengarah yang baku yaitu menggunakan SKL sebagai standar penentuan target
seluruh kegiatan pemenuhan yang terstruktur dan sistematis.

Adapun Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI tahun 2012 adalah meliputi lima
aspek yang meliputi: a) iman-taqwa, b) belajar berinovasi, c) seni dan budaya, d)
keterampilan hidup dan karir, dan e) wawasan kebangsaan. Kelima aspek SKL tersebut
secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Iman – Takwa

Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak

Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri

Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.

2. Belajar dan Berinovasi

Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif

Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan Guru/Pendidik

Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya

Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari

Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar

Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis

Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.

3. Seni dan Budaya

Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal

4. Keterampilan Hidup dan Karir

Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya

Berkomunikasi secara jelas dan santun

Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong,dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan
keluarga dan teman sebaya.

5. Wawasan Kebangsaan

Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Adapun menurut peraturan UU yang terbaru, yaitu Berdasarkan Permendiknas
No. 20 Tahun 2016. Dalam Lampiran Permendiknas No.20 Tahun 2016 dijelaskan bahwa: “
Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Berdasarkan SKL tersebut, setiap lulusan
satuan pendidikan dasar diharapkan memiliki kompetensi pada tiga ranah yaitu sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.

Tujuan utama ditetapkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016 tentang Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) agar SKL tersebut digunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar-standar ikutan lainnya. Standar-standar lainnya meliputi standar isi,
standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,
standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik
yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan
pada jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan dasar terdiri dari tingkat kompetensi
Sekolah Dasar dan SMP.Untuk tingkat kompetensi Sekolah Dasar, kompetensi yang
diharapkan ketika siswa lulus sekolah dasar berdasarkan masing-masing dimensi dapat
diuraikan sebagai berikut:
A. Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/Paket A
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:

1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME
2. berkarakter, jujur, dan peduli
3. bertanggungjawab
4. pembelajar sejati sepanjang hayat
5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga,

sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara

B. Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/Paket A
1. memiliki pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif

a. Memiliki pengetahuan faktual
Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

b. Memiliki pengetahuan konseptual
Pengetahuan konseptual merupakan terminologi/ istilah yang digunakan, klasifikasi,
kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi,
seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

c. Memiliki pengetahuan prosedural
Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau
kegiatan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya
terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa dan negara.

d. Memiliki pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif merujuk pada pengetahuan tentang kekuatan dan
kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan,

teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat
dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara. berkenaan dengan:

1. ilmu pengetahuan,
2. teknologi,
3. seni, dan
4. budaya.

2. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
C. Dimensi Ketrampilan SD/MI/SDLB/Paket A
SKL yang diharapkan dari lulusan SD/MI/SDLB/Paket A sudah mengadopsi ketrampilan
yang diharapkan dari pembelajaran berciri Abad 21. Lulusan pada tingkat Sekolah Dasar
diharapkan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:

1. kreatif,
2. produktif,
3. kritis,
4. mandiri,
5. kolaboratif, dan
6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak yang

relevan dengan tugas yang diberikan

dari uraian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan di sekolah dasar adalah
dimaksudkan untuk membentuk manusia yang memiliki karakter serta kepribadian yang
mulia, kreatif, kritis, santun, taat beragama, peduli terhadap sesama manusia dan lingkungan
alam sekitar, bekerja sama, dan saling menolong, yang dalam bahasa undang-undang disebut
sebagai “manusia Indonesia seutuhnya”.

Tujuan dari proses pendidikan di sekolah dasar adalah agar siswa mampu memahami
potensi diri, peluang dan tuntutan lingkungan serta merencanakan masa depan melalui
pengambilan serangkaian keputusan yang paling mungkin bagi dirinya. Tujuan akhir
pendidikan dasar adalah diperolehnya pengembangan pribadi anak didik yang membangun
dirinya dan ikut serta bertanggung jawab terhadap pengembangan bangsa, mampu
melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau pada jenjang pendidikan
selanjutnya, dan mampu hidup di masyarakat, dan mampu mengembangkan diri sesuai
dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan seutuhnya atau yang paripurna itu, maka sekolah
merupakan salah satu tempat yang tepat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi
diri sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Adapun fungsi dari pendidikan dasar adalah dalam rangka mengembangkan
kemampuan dan meningkatkan kualitas kehidupan, harkat, dan martabat manusia masyarakat
Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

BAB 2 Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar

1. Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Pendidikan adalah upaya yang terorganisasi, Berencana dan berlangsung secara terus-

menerus sepanjang hayat untuk membina anak didik menjadi paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan seluruh aspek potensi anak didik, diantaranya aspek kognitif, efektif, dan
berimplikasi pada aspek psikomotorik.

Bagi peserta didik, belajar merupakan proses interaksi antara berbagai potensi diri
siswa, (Fisik, non fisik, emosi dan intelektual), Interaksi siswa dengan guru, siswa dengan
siswa lainnya, serta lingkungan dan konsep fakta, interaksi dari berbagai stimulus dengan
berbagai respon terarah untuk melahirkan perubahan.

Untuk mengambangkan potensi siswa harus perlu menerapkan sebuah model
pembelajaran yang inovatif dan konstruktif. Dalam mempersiapkan pembelajaran, para
pendidik harus memahami karakteristik materi pembelajaran, karakteristik murid atau
peserta didik serta memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran
kan lebih variatif,inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan
dan implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, berkenaan dengan upaya yang
mewujudkan proses pembelajaran yang variatif, inovati, dan konstruktif yaitu :
 Situasi kelas yang dapat merangsang anak melakukan kegiatan belajar secara bebas
 Peran guru sebagai pengarah dalam belajar
 Guru berperan sebagai penyedia fasilitas
 Guru berperan sebagai pendorong, dan
 Guru berperan sebagai penilai proses dan hasil belajar anak.

2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6

hingga kira-kira usia 11 atau 12 tahun. Sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah
dasar yang suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh oleh
lingkungan dan gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di
sekolah dasar di usahakan untuk terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Untuk itu, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan
agar terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan tersebut. Beberapa prinsip
pembelajaran tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1. Prinsip Motivasi adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar, baik dari

dalam diri anak atau dari luar diri anak, sehingga anak belajar seoptimal mungkin
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Prinsip Latar Belakang adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar
memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak agar
tidak terjadi pengulangan yang membosankan.
3. Prinsip Pemusatan Perhatian adalah usaha untuk memusatkan perhatiannya dengan
jalan mengajukan masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai
tujuan yang hendak dicapai.
4. Prinsip Keterpaduan, merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Oleh karena
itu, guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan
dengan pokok bahasan lain atau sub pokok bahasan dengan sub pokok bahasan lain
agar anak mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.

5. Prinsip Pemecahan Masalah adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah
masalah hal ini dimaksudkan agar anak peka dan juga mendorong mereka untuk
mencari memilih dan menentukan pemecahan masalah sesuai dengan kemampuannya.

6. Prinsip Menemukan adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk
mencari, mengembangkan hasil perolehan nya dalam bentuk fakta dan informasi.
Untuk itu, proses belajar mengajar yang mengembangkan potensi anak tidak akan
menyebabkan kebosanan.

7. Prinsip Belajar Sambil Bekerja, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan berdasarkan
pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalaman baru. Pengalaman
belajar yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah dilupakan oleh anak. Dengan
demikian, proses belajar mengajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk
bekerja, berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri, gembira dan puas karena
kemampuannya tersalurkan dengan melihat hasil kerjanya.

8. Prinsip Belajar Sambil Bermain, merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan
suasana menyenangkan bagi siswa dalam belajar, karena dengan bermain
pengetahuan keterampilan, sikap dan daya fantasi anak berkembang. Suasana
demikian akan mendorong anak aktif dalam belajar.

9. Prinsip Perbedaan Individu, yakni upaya guru dalam proses belajar mengajar yang
memperhatikan perbedaan individu dari tingkat kecerdasan, sifat dan kebiasaan, atau
latar belakang keluarga. Hendaknya guru tidak memperlakukan anak seolah-olah
sama semua.

10. Prinsip Hubungan Sosial adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh
yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan belajar hendaknya
dilakukan secara berkelompok untuk melatih anak menciptakan suasana kerja sama
dan saling menghargai satu sama lainnya.

Memperhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran di atas sangat
mendesak untuk dilakukan oleh setiap guru yang melakukan proses pembelajaran di sekolah
dasar. Tanpa itu, pembelajaran hanya mampu menyentuh aspek ingatan dan pemahaman saja.
Karena guru yang masih cenderung mendominasi pengajaran, merupakan salah satu
penyebab rendahnya hasil belajar yang dicipta oleh siswa. Hasil belajar optimal harus dicapai
oleh siswa, karena untuk saat ini hasil belajar dijadikan patokan keberhasilan siswa serta
dijadikan tolak ukur tercapainya tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar
mengajar. Dengan melihat hasil belajar, maka bisa diukur ketercapaian Standar Kompetensi
(SK), Kompetensi Sasar (KD), serta bisa dijadikan patokan untuk menentukan Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM).

3. Tujuan Pembelajaran di Sekolah Dasar
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai tonggak awal peningkatan sumber

daya manusia, banyak pihak menaruh perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan
bagi upaya peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetisi dalam Skala
regional maupun internasional. Di samping itu juga, sekolah dasar merupakan landasan bagi
pendidikan selanjutnya. Mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada
dasar kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu

pendidikan yang baik di tingkat Sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara
sistematik mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada
tingkat sekolah dasar sangat memungkinkan Untuk dikembangkan usaha dalam perubahan
mutu pendidikan, hal ini dilakukan melalui penataan kelembagaan, pengelolaan, dan
peningkatan mutu pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan

merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kawasan Asia
Tenggara (ASEAN), seperti: Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia lebih baik dibanding
dengan negara Indonesia. Di Indonesia, minat baca masyarakat masih rendah, yang otomatis
berakibat pada sumber daya manusia yang rendah pula. Padahal, minat itu merupakan kunci
utama dalam belajar, termasuk minat membaca. Pendeknya, tidak akan ada proses belajar
atau membaca tanpa minat (ro learning without interest). Problematika rendahnya minat
membaca juga terlihat dari produk buku yang dipublikasikan baik secara kuantitas maupun
kualitas.

Ini sangat berkaitan dengan minat membaca masyarakat kita yang secara logika akan
berimbas kepada kultur membaca dan tentu saja berakibat pula kepada kemampuan membaca
itu sendiri, bahkan selanjutnya sangat berpengaruh terhadap minat menulis. Pemahaman
terhadap bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses yang bergulir terus-menerus dan
berkelanjutan, Membaca pemahaman sebagai proses mempercayai bahwa upaya memahami
bacaan sudah terjadi ketika kita belum membaca buku apa pun. Kemudian, pemahaman itu
menapaki tahapan yang berbeda dan terus berubah saat baris demi baris, kalimat demi
kalimat, paragraf demi paragraf dari bacaan itu, yakni ketika menutup buku, novel, atau apa
saja. Apakah pemahaman sampai di sini? Belum. Proses pemahaman terus berlangsung
bahkan setelah proses membaca telah selesai. Agar peningkatan pemahaman dalam diri siswa
itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan interaksi beberapa pihak
dapat terjadi. Untuk itu, guru harus membuat perencanaan yang mantap.

Tuntutan lain selain optimalnya hasil belajar siswa adalah tuntutan sebagaimana yang
diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun
2003 yang menghendaki upaya pengembangan potensi diri dan keterampilan siswa. Dua
aspek ini akan tercapai jika guru membangun kemampuan kreativitas siswa. Dengan
kreativitas yang tinggi, maka potensi dan keterampilan diri siswa akan berkembang. Amanat
tersebut juga sekaligus mengisyaratkan bahwa pembentukan sumber daya manusia
berkualitas merupakan prioritas pendidikan di Indonesia. Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa pendidikan masih diabdikan untuk menghasilkan manusia berkualitas untuk menjadi
insan yang berpengetahuan dan berakhlakul karimah (akhlak mulia).

Rendahnya minat baca menjadi problem utama yang dihadapi bangsa kita. Hal ini
terlihat dari tertinggalnya kualitas SDM kita oleh negara-negara tetangga, dan ini
menunjukkan kualitas pendidikan kita lebih rendah dibanding mereka.

2.4 Peran Guru dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai tonggak awal peningkatan

SDM,banyak pihak menaruh Perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya
peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetisi dalam skala regional
maupun internasional.di samping itu juga,sekolah pendidikan dasar Merupakan landasan bagi
pendidikan selanjutnya.mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada
dasar kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu
pendidikan yang baik di tingkat sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara sistematik
mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada tingkat sekolah
dasar Sangat memungkinkan untuk di kembangkan usaha dalam perubahan mutu pendidikan,
dan peningkatan mutu pendidikan.

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh Dalam proses pembelajaran. kepiawaian dan kewibawaan guru sangat
menentukan kelangsungan proses belajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus
pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang
membentuk kewibawaan guru, antara lain penguasaan materi yang diajarkan,metode
mengajar yang sesuai dengan situasi siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang

terkait dalam proses pendidikan seperti administrasi,kepala sekolah dan tata usaha serta
masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.

Namun sayangnya, sebagaimana dilaporkan oleh Solihatin-Raharjo (2007),
menyebutkan bahwa dalam pembelajaran di sekolah dasar saat ini, guru masih menganggap
siswa sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam pembelajaran,sehingga guru dalam proses
pembelajaran masih mendominasi aktivitas belajar. Siswa hanya menerima informasi dari
guru secara pasif. Selanjutnya,Solihatin menyebutkan Kelemahan-kelemahan di lapangan,
antara lain ditemukan sebagai berikut

a.Model pembelajaran konvensional/Ceramah.
b.Siswa hanya dijadikan objek pembelajaran.
c.Pembelajaran yang berlangsung cenderung tidak melibatkan pengembangan pengetahuan
siswa, karena guru selalu mendominasi Pembelajaran (teacher centered),akibatnya proses
pembelajaran sangat terbatas, sehingga kegiatan pembelajaran hanya diarahkan pada
mengetahui (learning to know), Ke arah pengembangan aspek kognitif dan mengabaikan
aspek afektif serta psikomotor.
d.Pembelajaran bersifat hafalan semata sehingga kurang bergairah dalam belajar
e.Dalam proses pembelajaran proses interaksi searah hanya dari guru ke siswa.

Salah satu upaya mengatasi permasalahan ini,guru harus mampu merancang model
pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru harus kreatif dalam mendesain
model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi,aktif, kreatif, terhadap
materi yang diajarkan. Dengan cara demikian diharapkan siswa dapat memahami materi yang
diberikan dan mencapai Pembelajaran bermakna

Pentingnya merancang model pembelajaran yang bermakna ini karena fungsi setiap
mata pembelajaran yang bermakna ini karena fungsi utama setiap mata pelajaran di sekolah
dasar,yaitu mengembangkan pengetahuan, nilai,dan sikap, serta keterampilan sosial yang
dihadapi sehari hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan
masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, Sedangkan tujuannya agar siswa
mampu mengembangkan pengetahuannya, nilai dan sikap serta keterampilan sosial agar
siswa merasa bangga sebagai bangsa Indonesia.

2.5 Pembelajaran Terpadu

Dunia anak adalah dunia nyata dan tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai
dari tahap berpikir nyata dalam kehidupan sehari-hari yang memandang objek yang ada di
sekelilingnya secara utuh. Untuk itu, pembelajaran hendaknya dari lingkungan terdekat, yaitu
mulai dari diri sendiri kemudian dikembangkan kepada keluarga dan sekolah. Di pihak lain,
proses pembelajaran di kelas masih tampak adanya pemisahan antara mata pelajaran satu
dengan mata pelajaran lainnya sehingga anak akan merasa menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan pembelajaran terpadu. memungkinkan serta ilustrasi pembelajaran yang
dapat mencapai beberapa target konsep yang ada dalam beberapa mata pelajaran (Fogarty,
1991).

Gambaran di atas sesuai dengan landasan pemikiran pembelajaran terpadu seperti
yang dikembangkan oleh Tim Pengembangan PGSD (1997) yang mengemukakan bahwa
pembelajaran terpadu dikembangkan dengan landasan pemikiran, sebagai berikut:

1. Progresivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya berlangsung secara alami, tidak
artifisial. Pembelajaran di sekolah harus dapat mengakomodasi keadaan dalam dunia nyata
sehingga dapat memberikan makna kepada kebanyakan siswa.

2. Konstruktivisme

Aliran ini menyatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi sendiri oleh individu dan pengalaman
merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya
dengan mendengarkan ceramah atau dengan membaca buku tentang pengalaman orang lain.
Memahami sendiri merupakan kunci utama kebermaknaan dalam pembelajaran.

3. Landasan normatif
Aliran ini menghendaki bahwa pembelajaran terpadu hendaknya dilaksanakan berdasarkan
gambaran ideal yang ingin dicapai oleh tujuan-tujuan pembelajaran.

4. Landasan praktis
Aliran ini mengharapkan bahwa pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan memperhatikan
situasi dan kondisi praktis yang berpengaruh terhadap kemungkinan pelaksanaannya
mencapai hasil yang optimal.

5. Developmentally Appropriate Practice (DAP)
yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan
usia dan individu yang meliputi perkembangan kognitif, emosi, minat, dan bakat siswa.

Teori-teori lain yang sangat mendukung tentang pentingnya pembelajaran terpadu Ini
antara lain:
1. Teori Perkembangan Jean Plaget

Jean Piaget menyatakan bahwa seorang anak maju melalui empat tahap
perkembangan kognitif sejak lahir hingga dewasa, yaitu: tahap sensorimotor, pra-operasional,
operasi konkret, dan operasi formal. Kecepatan perkembangan setiap individu melalui urutan
tiap tahap ini berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu tahap ini.
2. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan
lama, dan merevisinya apakah aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Menurut Slavin dalam
Trianto (2007:26), agar siswa benar benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
mereka harus memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha
dengan susah payah dengan ide-ide.

Pada dasarnya, pendekatan konstruktivisme menghendaki bahwa pengetahuan
dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar
bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau
dengan membaca buku tentang pengalaman orang lain.
3. Teori Vygotsky

Vygotsky menyatakan bahwa, pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam
jangka kemampuannya, atau tugas-tugas tersebut berada dalam zone proximal development
(Trianto:2007).

Ada dua implikasi utama teori Vigotsky dalam pembelajan sains pertama,
dikehendakinya suasana kelas, berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa, sehingga siswa
dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi
pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of proximal development
mereka. Kedua, dalam pembelajaran menekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama
semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri.
4. Teori Bandura

Menurut Bandura bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara
selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Seseorang belajar menurut teori ini dilakukan
dengan mengamati tingkah laku orang lain (model), hasil pengamatan ini kemudian
dimantapkan dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya
atau mengulang-ulang kembali.

5. Teori Brunner
Jerome Bruner, adalah seorang ahli psikologi Harvard adalah salah seorang pelopor

pengembangan kurikulum terutama dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran
penemuan (inkuiri). Teori Bruner selanjutnya disebut pembelajaran penemuan, adalah suatu
model pengajaran yang menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi dari
suatu ilmu yang dipelajari perlunya belajar secara aktif sebagai dasar dari pemahaman
sebenarnya, dan nilai dari berpikir secara induktif dalam belajar.

Menurut Brunner, belajar akan lebih bermakna bagi siswa jika mereka memusatkan
perhatian untuk memahami struktur materi yang dipelajarinya.

2.6 Pengembangan Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan mengenai sesuatu dengan cara baru
yang tidak biasa dan menampilkan cara pemecahan masalah yang unik. Kreativitas dan
kecerdasan bukan hal yang sama. Sternberg (1999) memperkenalkan kreatifitas dalam teori
mengenai kecerdasan, mengatakan bahwa banyak individu-individu yang kecerdasannya
tinggi yang menghasilkan karya karya besar tetapi tidak selalu karya-karya baru. Dia juga
percaya bahwa orang orang yang kreatif menentang pendapat orang banyak, sedangkan orang
yang kecerdasannya tinggi tapi tidak kreatif seringkali berusaha untuk menyenangkan orang
banyak. Orang-orang yang kreatif cenderung berpikir divergen (Guildford, 1967). Berpikir
divergen, menghasilkan berbagai jawaban terhadap sebuah pertanyaan. Sebaliknya, cara
berpikir yang dipersyaratkan dalam berpikir konvensional, adalah berpikir konvergen.
Misalnya, pertanyaan “berapa lembar uang seribuan yang akan kamu dapat, bila kamu
menukarkan selembar uang sepuluh ribuan ? ”Untuk pertanyaan ini hanya ada satu jawaban
yang benar. Berbicara mengenai kecerdasan dan kreativitas, kebanyakan orang kreatif
memang benar-benar cerdas, tetapi tidak semua orang cerdas kreatif.

1. Bagaimana membimbing anak agar kreatif?

Ada beberapa cara yang harus dilakukan :

a. Libatkan anak dalam kegiatan Brainstorming, sehingga menghasilkan
sebanyak mungkin ide

Brainstorming adalah sebuah kegiatan yang memberikan kebebasan anak untuk
mengutarakan pikiran-pikirannya secara bebas mengenai sebuah ide tertentu. Brainstorming
ini merupakan sebuah teknik dimana anak didorong untuk berani mengutarakan ide-ide
(kreatif) nya dalam sebuah kelompok, menyajikannya bersama ide-ide orang lain, dan
mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Teman-teman yang mendengarkan disarankan
untuk menahan diri untuk tidak menyampaikan kritik, paling tidak hingga akhir presentasi.
Hal ini perlu dilakukan agar anak berani mengemukakan ide-idenya, apapun idenya.
Kesempatan-kesempatan untuk mengeluarkan ide-ide itu perlu dijadwalkan agar anak mau
mengeluarkan sebanyak-banyak idenya walaupun ide tersebut tidak kreatif. Pablo Picasso,
pelukis Spanyol yang terkenal, telah membuatkan sebanyak 20.000 karya seni. Dari karya-
karya yang dihasilkan tersebut, yang tergolong karya besar hanya beberapa. Hal ini
menunjukkan bahwa untuk bisa menghasilkan karya seni yang benar-benar karya besar, tidak
bisa sekali jadi. Makin banyak ide yang dikeluarkan oleh anak, maka makin besar
kemungkinan dia mengkreasikan sesuatu yang unik. Anak yang kreatif tidak takut untuk
gagal dan tidak takut melakukan kesalahan. Mereka mungkin saja memasuki 20 kali jalan
buntu sebelum dia bisa mengutarakan/ menemukan sebuah ide yang inovatif. Anak harus
berani menghadapi risiko tersebut, sebagaimana dialami oleh Picasso.

b. Buatlah lingkungan sedemikian rupa, agar bisa menstimulasi (merangsang) kreativitas
anak.

Setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang alami. Guru yang ingin mengembangkan
kreativitas anak bisa mengandalkan rasa ingin tahu pada anak tersebut sebagai sebuah sarana
agar anak bisa bebas berpikir. Untuk itu sebaiknya guru melakukan kegiatan-kegiatan yang
justru membuat anak mencari jawaban-jawaban yang muncul dari pikiran anak sendiri, tidak
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dihafal, yang ada dalam benak
guru atau dalam pikiran guru. Guru bisa juga merangsang kreatifitas dengan cara mengajak
anak-anak ke tempat-tempat dimana kreativitas ditampilkan, misalnya di museum (untuk
anak-anak ), di galeri-galeri yang menampilkan proses-proses fisika atau penemuan-
penemuan ilmiah (Museum Ilmiah di SABUGA ITB).

c. Hindari mengendalikan anak secara berlebihan.

Hindari mengendalikan anak secara berlebihan. Hasil penelitian
mengungkapkan bahwa mengajarkan pada anak hal apa saja yang harus dilakukan, membuat
mereka beranggapan bahwa hal yang original itu salah, buruk, dan bahwa kegiatan
menjelajah (eksplorasi) itu adalah perbuatan yang sia-sia. Memberi kesempatan pada anak
untuk memilih sesuatu hal sesuai minatnya dan mendukung minatnya tersebut yang mungkin
berbeda dari anak lain, akan meningkatkan rasa ingin tahunya. Hal ini akan lebih baik, dari
pada guru mendiktekan aktivitas-aktivitas mana yang harus mereka kerjakan. Bila orangtua
atau guru terus menerus menunggui anak maka anak akan merasa bahwa dia (pekerjaannya)
selalu diawasi. Bila anak merasa diawasi terus maka semangat untuk berpetualang, maupun
keberanian untuk mengambil risiko melakukan kreatifitas bisa menjadi surut, dan mereda.
Hal lain yang bisa merusak kreativitas anak adalah harapan atau tuntutan yang terlalu tinggi
agar anak menunjukkan prestasi kerja, dan agar dia melakukan segala sesuatu secara
sempurna.

d. Kembangkan motivasi yang ada dalam diri anak.

Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan anak secara bebas, menimbulkan
sebuah kesenangan tersendiri bagi anak. Oleh karena itu, penggunaan hadiah yang terlalu
eksesif (misalnya mainan, uang atau benda-benda lain) bisa menghambat kreatifitas. Karena
kesenangan yang muncul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan kreatif itu sendiri menjadi
pudar oleh hadirnya iming-iming hadiah. (Amabile dan Hennessey, 1992, dari Santrock,
2004).

e. Kembangkan cara berpikir fleksibel, dengan cara yang menyenangkan.
Seorang pemikir yang kreatif pada saat menghadapi masalah, dia bersikap fleksibel dan

cenderung mengolah masalah. Dalam proses ini akan sering muncul paradoks (hal-hal yang
bertentangan). Usaha untuk berpikir kreatif akan berjalan lancar bila siswa menghadapinya
dengan senang hati. Dalam bahasa sederhananya, humor bisa menjadi pelumas dari roda-roda
kreatifitas. Pada saat anak “bercanda ria” mereka cenderung menampilkan pemecahan-
pemecahan masalah yang tidak biasa, yang unik. Bersenang-senang dan bergurau, akan
membantu melepaskan sensor dalam diri yang biasanya “memarahi, mengutuk, melarang“
ide-ide bebas anak sebagai sebuah hal yang kurang baik.

f. Kalau mungkin undang orang-orang yang kreatif sehingga anak bisa mendapat
pengalaman kreatif.
Minta mereka menerangkan pada anak anak hal apa atau pengalaman apa yang

membuat mereka menjadi orang yang kreatif. Bisa juga tokoh yang kreatif itu diminta
menampilkan kemampuan kreatifnya. Guru bisa mengundang penulis yang kreatif, penyair,

musikus, ilmuwan atau siapa saja, bisa membawa barang-barang yang dia miliki atau hasil-
hasil karyanya ke dalam kelas, sehingga kelas menjadi semacam podium/ teater yang
menyajikan kreatifitasnya pada anak-anak. Salah satu pengarang yang terkenal di USA
(Richard Lewis, 1997 dari Santrock 2004) mengunjungi salah satu kelas yang
mengundangnya. Dia membawa sebuah kelereng kaca yang besar, dia pegang diatas
kepalanya, sehingga setiap anak bisa melihat spektrum warna yang ada dalam kelereng kaca
tersebut. Dia bertanya, “Siapa yang bisa melihat apa yang sedang terjadi dalam bola kaca
ini?” Lalu dia minta anak-anak menuliskan, apa yang mereka masing masing lihat dalam
kelereng tersebut. Seorang siswa menulis, bahwa ia melihat pelangi sedang terbit, ada
matahari sedang bergerak terus, lalu dia melihat matahari itu tidur dengan bintang-bintang.
Dia juga melihat hujan turun ke tanah, lalu dia melihat ranting-ranting patah, buah apel
berjatuhan dari pohonnya dan melihat angin meniup daun-daunan.

2.7 Sikap Kreatif

1. Definisi Kreatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Kreatif adalah kemampuan untuk

menciptakan atau daya cipta, kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru dan
orisinil yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses mental yang unik untuk menghasilkan
sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil.” Pembicaraan tentang kreatif tidak dapat terlepas dari
pembahasan tentang sikap kreatif. Menurut Carin dan Sund (1975: 303), orang-orang kreatif
memiliki karakteristik tertentu. Mereka memiliki rasa ingin tahu, banyak akal, mempunyai
keinginan menemukan, memilih pekerjaan sulit, senang menyelesaikan masalah, mempunyai
dedikasi terhadap pekerjaan, berpikir luwes, banyak bertanya, memberikan jawaban yang
lebih baik dari yang lainnya, mampu mensintesis, mampu melihat implikasi baru, mempunyai
semangat tinggi untuk menyelidik, dan mempunyai pengetahuan yang luas.

Adapun Russefendi (1991: 238) mengemukakan bahwa manusia yang kreatif ialah
manusia yang selalu ingin tahu, fleksibel, awas, sensitif terhadap reaksi dan kekeliruan,
mengemukakan pendapat dengan teliti dan penuh keyakinan tidak bergantung pada orang
lain, berpikir ke arah yang tidak diperkirakan, berpandangan jauh, cakap menghadapi
persoalan, tidak begitu saja menerima suatu pendapat, dan kadang susah diperintah.
2. Bentuk – Bentuk Kreatif

Di dalam kehidupan di dunia ini, sikap kreatif dapat diwujudkan melalui berbagai hal.
Bentuk-bentuk kreatif itu sendiri meliputi:
a. Ide Kreatif

Pemikiran kreatif akan memicu munculnya ide unik yang tidak terpikir sebelumnya,
Ide adalah pemikiran yang dapat menciptakan solusi dari permasalahan yang terjadi di tengah
masyarakat.

b. Produk Kreatif (Barang dan Jasa)
Produk kreatif dihasilkan dari ide-ide yang muncul. Jadi, bisa dikatakan jika produk

adalah tangan panjang dari ide. Ide yang diejawantahkan dalam bentuk produk tertentu akan
sangat berguna bagi masyarakat dan konsumen. Tanpa ada proses kreatif, maka produk yang
dihasilkan tidak bisa sesuai dengan kebutuhan zaman.

c. Gagasan Kreatif
Kreatif dapat juga diwujudkan dalam bentuk gagasan. Gagasan ini dapat

dikemukakan langsung atau melalui tulisan. Banyak media yang dapat digunakan untuk
mengeluarkan gagasan kreatif.
3. Contoh Sikap Kreatif

 Memanfaatkan drum menjadi bangku cantik untuk ruang tamu. Drum ini dicat ulang
dan diberi beberapa ornamen sehingga membuatnya menjadi bangku yang indah
untuk menemani orang-orang yang bertamu di rumah Anda.

 Buku bekas tebal yang sudah tidak terpakai bisa Anda gunakan sebagai pot tanaman.
Pada bagian tengah buku, silakan dilubangi lantas diberi media tanam seperti tanah
dan kemudian Anda tanami bunga atau tanaman hias. Pot buku tebal bisa ditaruh
sebagai hiasan cantik di sudut ruangan!

 Gantungan baju dari roda sepeda. Bagi orang-orang yang kreatif, benda yang rusak
pun bisa memiliki nilai fungsi yang tinggi. Contohnya adalah roda sepeda tak
terpakai. Benda ini dapat digantung pada tiang yang tinggi untuk menjemur baju-baju
Anda.

 Vertical Garden dari botol Aqua bekas. Dikarenakan lahan yang sempit, banyak orang
yang menjadikannya dalih untuk tidak melakukan penghijauan. Namun, beda dengan
orang kreatif. Mereka akan membuat vertical garden dari barang bekas yakni botol
aqua. Dengan menggantungkan botol tersebut dengan susunan vertikal, lantas
dilubangi pada bagian tengahnya sebagai media tanam, maka taman vertikal di rumah
Anda pun akan tampak cantik.

 Gelang warna yang terbuat dari manik-manik dan peniti. Pengerjaan dari produk
kreatif ini relatif mudah serta akan memiliki nilai seni yang tinggi. Meskipun hasilnya
bagus, tapi tetap saja membutuhkan kesabaran ekstra untuk membuatnya.

4. Teori Pembentukan Sikap Kreatif
Banyak teori yang membahas tentang pembentukan sikap atau pribadi kreatif,

Munandar (2009: 32) misalnya memaparkan teori-teori pembentukan pribadi kreatif menurut
pandangan teori psikoanalisis dan teori humanistis yang digunakan sebagai landasan
pendidikan anak berbakat, antara lain:

a. Teori Psikoanalisis
Pertama, menurut teori Freud, yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) adalah

tokoh utama yang menganut pandangan bahwa kemampuan kreatif merupakan ciri
kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan. la menjelaskan proses
kreatif dari "mekanisme pertahanan", yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari
kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima. Karena
mekanisme pertahanan mencegah pengamatan yang cermat dari dunia dan karena
menghabiskan energi psikis, mekanisme pertahanan biasanya merintangi produktivitas
kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif,
mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.

Kedua, teori Kris dari Ernest Kris (1900-1957) yang menekankan bahwa mekanisme
pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan, jika
perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam
tindakan kreatif. Jika seseorang mampu untuk regress ke kerangka berpikir atau pola perilaku
seperti anak, rintangan antara alam pikiran sadar dan tidak sadar menjadi kurang, dan bahan
yang tidak disadari yang sering mengandung benih kreativitas dapat menembus ke alam
kesadaran. Orang-orang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan
dari alam pikiran tidak sadar, dengan demikian mereka dapat melihat masalah-masalah serius
dalam kehidupan dengan cara yang segar dan inovatif.

Ketiga, teori Jung dari Carl Jung (1857-1961) yang mengemukakan bahwa
ketidaksadaran memainkan peranan yang sangat penting dalam kreativitas tingkat tinggi.
Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi.
2. Teori Humanistis

Berbeda dengan teori psikoanalisis, teori humanistis melihat kreativitas sebagai hasil
dari kesehatan psikologis tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, dan tidak
terbatas pada lima tahun pertama. Di antara tokoh-tokoh yang termasuk kategori teori
humanistic ini adalah teori Maslow, yang di tokohi oleh Abraham Maslow (1908-1970),
pendukung utama dari teori humanistis. Menurutnya manusia mempunyai naluri-naluri dasar
yang menjadi nyata sebagai kebutuhan, di mana kebutuhan tersebut harus dipenuhi dalam
urutan tertentu.

Tokoh berikutnya yang termasuk teori humanistic ini adalah teori Rogers, dari Carl
Rogers (1902-1987). Rogers mengemukakan tiga kondisi dari pribadi kreatif, yaitu:
keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi
seseorang (internal locus of evaluation), dan kemampuan untuk bereksperimen.

2.8 Berpikir Kreatif

Setelah membahas apa itu kreatif ? dan bagaimana proses pembentukan sikap kreatif
tersebut?. Pada sub materi kali ini melanjutkan pembahasan tersebut mengenai apa itu
berpikir kreatif ? dan penerapannya pada pembelajaran di sekolah dasar. Telah dijelaskan,
kreativitas adalah kemampuan untuk mengungkapkan hubungan-hubungan baru, melihat
sesuatu dari sudut pandang baru dan membentuk kombinasi baru dari dua konsep atau lebih
yang dikuasai sebelumnya. Kreativitas ini juga bersifat spontan, terjadi karena adanya arahan
yang bersifat internal, dan keberadaanya tidak terprediksi. Secara garis besar, maka berpikir
kreatif dapat dimaknai dengan berpikir yang dapat menghubungkan atau melihat sesuatu dari
sudut pandang yang baru.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering mengalami dan menghadapi
permasalahan. Baik masalah yang muncul berulang (routine problems) atau juga
permasalahan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya (nonroutine problems). Maka dari
itu diperlukan cara yang efektif dan efisien dalam memecahkan masalah-masalah tersebut,
salah satu solusinya dengan kemampuan berpikir kreatif. Torrance dalam Filsaime (2008 :
20) menganggap berpikir kreatif merupakan sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur
orisinalitas, kelancaran, fleksibilitas, dan elaborasi.

Dikatakan lebih jelas, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah adalah
sebuah proses menjadi sensitif atau sadar terhadap masalah-masalah, kekurangan, dan celah-
celah di dalam pengetahuan yang didalamnya tidak ada solusi yang dipelajari, membawa
informasi yang ada di dalam memori atau sumber-sumber eksternal, mendefinisikan
kesulitan, mencari solusi-solusi, menduga, menciptakan alternatif-alternatif yang mungkin
untuk menyelesaikan masalah tersebut, menguji kembali alternatif yang sebelumnya sudah
ditemukan, menyempurnakannya dan pada akhirnya mengomunikasikan hasil-hasilnya.

Definisi berpikir kreatif ini dikemukakan oleh Ennis (1981), dapat dimanifestasikan
ke dalam 5 kelompok keterampilan berpikir, yaitu :

a. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification)
b. Membnagun Keterampoilan Dasar (basic support)
c. Menyimpulkan (inference)
d. Memberi penjelasan lanjut (advanced clarification)
e. Mengatur Strategi dan taktik (strategy and tactics)
Dari berpikir kreatif ini dapat menimbulkan ketekunan dan disiplin penuh. Yang
didalamnya dapat melibatkan aktivitas mental, seperti :

a. Mengajukan pertanyaan

b. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan
pemikiran terbuka
c. Membangun keterkaitan, khususnya di hal-hal yang berbeda
d. Menghubungkan berbagai hal yang bebas
e. Menerapkan imajinasi di setiap situasi untuk menghasilkan hal baru dan
berbeda
f. Mendengarkan intuisi
Selanjutnya, ada komponen-komponen berpikir kreatif yang dikemukakan oleh
Munandar (1999), berikut ini penjelasannya :

a. Keterampilan berpikir lancar (fluency)
Ciri- Cirinya :

1. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau
pertanyaan.

2. Memberikan banyak cara atau saran dalam melakukan berbagai hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Mengajukan banyak pertanyaan.
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
3. Memiliki banyak gagasan cara penyelesaian masalah.
4. Lancar dalam mengungkapkan gagasannya.
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan hal lebih banyak dari anak-anak lain.
6. Cepat melihat dan mendeteksi kesalahan atau kekurangan dari suatu objek

atau situasi.
b. Keterampilan berfikir luwes (flexibility)
Ciri- Cirinya :

1. Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3. Mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda.
4. Mampu dengan mudah mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Memeriksa aneka ragam penggunaan yang tidak lazim dari suatu objek
2. Memberi macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar,

cerita, atau masalah.
3. Menerapkan suatu konsep atau asa dengan cara yang berbeda-beda.
4. Memberikan pertimbangan terhadap situasi yang berbeda dari orang lain.
5. Dalam pembahasan atau mendiskusikan situasi selalu mempunyai posisi

yang berbeda atau bertentangan dengan mayoritas kelompok.
6. Memikirkan penyelesaian yang bermacam-macam dan berbeda-beda

terhadap suatu masalah.
7. Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda-beda
8. Mampu mengubah arah berfikir secara spontan.
c. Berfikir orisinil (originality)
Ciri- Cirinya :

1. Mampu mengungkapkan hal yang baru dan unik.
2. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
3. Mampu membuat kondisi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-

usur.

Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Memikirkan masalah-masalah dan hal-hal yang tidak pernah terpikir oleh
orang lain.

2. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara
yang baru.

3. Memilih asimetri dalam gambar atau membuat desain.
4. Memiliki cara berfikir yang lain dari yang lain.
5. Mencari pendekatan baru.
6. Setelah gagasan-gagasan bekerja untuk menemukan penyelesaian baru,

lebih senang mensintesis daripada menganalisis situasi.
d. Keterampilan memerinci (elaboration)

Keterampilan memerinci atau mengelaborasi adalah kemampuan atau
keterampilan memperkaya dan mengembangan suatu gagasan sehingga lebih menarik.

Ciri- Cirinya :

1. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
2. Menambah atau mengembangkan suatu gagasan atau produk.
3. Menambah atau memerinci secara detail dari suatu objek, gagasan,

ataupun situasi sehingga lebih menarik.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan
masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.

2. Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
3. Mencoba atau menguji secara detail untuk melihat arah yang akan

ditempuh.
4. Mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan

penampilan yang kosong dan sederhana.
5. Membuat garis-garis, warna-warna dan detail-detail tethadap gambarnya

sendiri ataupun gambar orang lain.
Selanjutnya, pembahasan mengenai alasan pentingnya belajar kreatif. Menurut
Treffinger dalam Munandar (1984:37) :

a. Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil-guna jika kita tidak bersama
mereka.

Belajar kreatif adalah aspek penting dari upaya kita membantu siswa agar mereka
lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri. Dengan
pesatnya perubahan masyarakat dan teknologi, kita tidak mungkin mengajarkan
anak-anak sesuatu yang harus mereka tahu untuk hari depan mereka. Kita pun
tidak hanya mengajarkan agar anak-anak dapat mengulang kembali ide-ide. Kita
mengharapkan anak-anak dapat belajar hal-hal yang berharga dan bermanfaat
bagi dirinya sehingga mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah
pada waktu kita tidak bersama mereka.
b. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan
masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan, yang timbul di masa depan.
Dunia kita cepat sekali berubah. Pada sepuluh tahun terakhir ini kita saksikan
perkembangan yang cepat di segala bidang: teknologi, ekonomi, sosial,
pendidikan, dan sebagainya. Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang ini
sangat berbeda dengan masalah-masalah yang kita hadapi dua puluh tahun yang
lalu.

c. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita.
Banyak pengalaman belajar kreatif yang lebih daripada sekedar hobi atau hiburan
bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi,
bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita. Di samping itu, belajar
kreatif dapat menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani kita.

d. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Dengan belajar kreatif memungkinkan timbulnya ide-ide, cara-cara, dan hasil-
hasil baru sebagai sumbangan yang berharga pada pembangunan nasional.

Berfikir kreatif adalah suatu cara emmbangun ide yang dapat diterapkan dalam
kehidupan. Prose kreatif ini muncul jika ada stimulus. Berikut berbagai langkah dalam
melakukan proses kreatif, melalui 5 tahap yaitu :

1. Stimulus
Konteks stimulus pada kaitanya, diartikan sebagai rangsangan atau awalan

yang diberikan oleh guru untuk memancing dan memicu siswa untuk menantangnya
berfikir akan suatu permasalahan atau objek.

2. Eksplorasi
Sebelum membuat atau mengambil suatu keputusan , siswa dibantu untuk

memperhatikan alternatif-alternatif pilihan yang ada. Untuk berfikir kreatif, siswa
harus menginvestigasi secara lanjut. Teknik-teknik perlu dilakukan untuk
meningkatkan range dan kualitas dari ide yang dikumpulkan. Teknik ini meliputi :

a. Different Thinking, jenis berpikir yang membangun, banyak jawaban yang berbeda,
dan tidak terbatas.
b. Differing Judgement, prinsip berpikir sekarang lalu mempertimbangkannya. Prinsip
ini berguna saat siwa bekerja secara individu atau memikirkan ide-ide dalam suatu kelompok.
c. Extending Effort, Memperluas upaya siswa perlu diberi kesempatan, dukungan, minat,
pertanyaan, dan stimulus dari orang dewasa.
d. Allowing Time, memberi siswa waktu yang cukup untuk membangun ide-ide dengan
tahapan penting dalam proses kreatif.
e. Encourading Play, melihat seberapa jauh ide dapat diperluas, dengan memberikan
siswa kesempatan untuk membangunnya, mempresentasikannya, dan mengujinya dalam aksi
dan tindakannya.
3. Perncanaan

Merencanakan berbagai rencana atau strategi dalam pemecahan masalah. Dari
strategi dan rencana yang ada, diambil beberapa yang paling tepat sebagai solusi.

4. Aktivitas
Berpikir kreatif dituangkan dengan aksi dan aktivitas siswa.

5. Review
Siswa perlu melakukan evaluasi dan meninjau kembali pekerjaannya dengan

menggunakan judgement dan imajinasi mereka.

Adapun upaya guru dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif ini dapat
ditempuh dengan langkah-langkah sebagaimana dikemukakan oleh Filsaime (2008:25)
berikut ini :

1. Menghilangkan penghalang-penghalang daya berfikir kreatif dari siswa.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghalangi ekspresi-ekspresi kreatif

siswa (seperti, ketakutan akan kegagalan) dan menemukan cara yang tepat dalam
mengatasi ketakutan tersebut.

2. Membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir kreatif.
Guru membantu lebih lanjut siswa untuk mengetahui apa itu berpikir kreatif.

Dengan cara memperkenalkan dan menjelaskan secara detail tahap demi tahap dari
teori-teori dan model berpikir kreatif. Sehingga membuat siswa yakin bahwa mereka
juga dapat berpikir kreatif.

3. Mengenalkan dan mempraktekan strategi-strategi berpikir kreatif.
Memperkenalkan dan menjelaskan strategi untuk berpikir kreatif. Membantu

siswa untuk menerapkannya ke dalam proses pembelajaran yang mereka lakukan.

4. Menciptakan sebuah lingkungan kreatif.
Guru memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan daya berpikir

kreatif mereka

Bakat kreatif pada hakikatnya ada pada setiap orang. Namun dalam pendidikan, yang
lebih penting adalah bahwa bakat kreatif ini dapat dipupuk dan dikembangkan. Berkaitan
dengan ini, menurut Munandar (1984:11) adapun kondisi lingkungan yang dapat memupuk
kreativitas anak, yaitu :

a. Keamanan Psikologis, dapat diciptakan dengan langkah-langkah :
1. Pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat, tanpa melihat
kelebihan dan kelemahannya, tetap memberikan kepercayaan kepada siswa
bahwa mereka mampu.
2. Prose pendidikan mengusahakan suasana dimana anak merasa tidak dinilai
oleh orang lain.
3. Pembelajaran dilakukan guna memberikan pengertian, memahami pikiran,
perasaan dan perilaku anak dengan menempatkan diri dalam situasi dan sudut
pandang anak.

b. Kebebasan Psikologis,
Kebebasan psikologis ini bukan hanya peran guru namun orang tua juga ikut

turut serta. Namun adapun langkah yang harus dilakukan guru dalam menciptakan
kebebasan psikologis bagi siswanya, sebagai berikut :

1. Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan anak.
2. Memberi waktu kepada siswa untuk memikirkan dalam pengembangan

gagasan kreatifnya.
3. Menciptakan suasana yang saling menghargai dan menerima sesama.
4. Dorong kegiatan berpikir divergen dan jadilah narasumber.
5. Ciptakan suasana yang hangat dan mendukung, serta memberi keamanan dan

kebebasan untuk berpikir eksploratif.
6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan dalam mengambil

keputusan.
7. Mengusahakan setiap siswa turut serta dalam pengambilan keputusan dan

pemecahan suatu masalah bersama atau dalam menjalankan suatu proyek.
8. Bersikap positif terhadap kegagalan, membantu siswa menyadari kegagalan

dan kelemahan dan tetap membimbingnya untuk kembali mencoba.

2.9 Berpikir Kritis

Berpikir tidak terlepas dari aktivitas manusia, karena berpikir merupakan ciri yang
membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Berpikir pada umumnya
didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan Keterampilan

berpikir dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir
tingkat tinggi. Berpikir ternyata mampu mempersiapkan peserta didik berpikir pada berbagai
disiplin serta dapat dipakai untuk pemenuhan kebutuhan intelektual dan pengembangan
potensi peserta didik.

Berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berpikir tentang ide atau gagasan
yang berhubung dengan konsep yang diberikan atau masalah yang dipaparkan. Berpikir kritis
juga dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang lebih
spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji, dan
mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna. Berpikir kritis berkaitan dengan asumsi
bahwa berpikir merupakan potensi yang ada pada manusia yang perlu dikembangkan untuk
kemampuan yang optimal.

Menurut Ennis (1981), berpikir kritis adalah suatu berpikir dengan tujuan membuat
keputusan masuk akal tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Berpikir kritis merupakan
kemampuan menggunakan logika. Logika merupakan cara berpikir untuk mendapatkan
pengetahuan yang disertai pengkajian kebenaran berdasarkan pola penalaran tertentu.
Selanjutnya, Ennis menyebutkan ada enam unsur dasar dalam berpikir kritis, yang disingkat
dengan FRISCO, yaitu Focus (fokus), Reason (alasan), Inference (menyimpulkan), Situation
(situasi), Clarity (kejelasan), dan Overview (pandangan menyeluruh).

Menurut Halpen (1966), berpikir kritis adalah member kan keterampilan atau strategi
kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan,
mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran. Berpikir kritis merupakan
bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan
kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika
menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat.
Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yang
akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.
Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus
yang akan dituju.

Pendapat senada dikemukakan juga Oleh Angelo ( 1955 : 6), bahwa berpikir kritis
adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan
menganalisis, mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan
mengevaluasi.

Menurut Tapilouw (1997), berpikir kritis merupakan cara berpikir disiplin dan
dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini mengikuti alur logis dan rambu-rambu
pemikiran yang sesuai dengan fakta atau teori yang diketahui. Tipe berpikir ini
mencerminkan pikiran yang terarah.

Berpikir kritis dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara. Fister (1995) misalnya,
mengemukakan bahwa proses berpikir kritis adalah menjelaskan bagaimana sesuatu itu
dipikirkan. Belajar berpikir kritis berarti belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan apa
metode penalaran yang dipakai. Seorang siswa hanya dapat berpikir kritis atau bernalar
sampai sejauh ia mamPU menguji pengalamannya, mengevaluasi pengetahuan, ide-ide, dan
mempertimbangkan argumen sebelum mencapai suatu justifikasi yang seimbang. Menjadi
seorang pemikir yang kritis juga meliputi pengembangan sikap-sikap tertentu, seperti
keinginan untuk bernalar, keinginan untuk ditantang, dan hasrat untuk mencari kebenaran.

Pada prinsipnya, orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja
menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganalisis, dan mengevaluasi
informasi sebelum menentukan apakah mereka menerima atau menolak informasi. Jika
belum memiliki cukup pemahaman, maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan
mereka tentang informasi itu. Dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi

kognitif tertentu yang tepat untuk menguji kehandalan gagasan, pemecahan masalah, dan
mengatasi masalah serta kekurangannya.

Baron dan Sternberg (1987; 10), mengemukakan lima kunci dalam berpikir kritis, yaitu:
praktis, reflektif, masuk akal, keyakinan, dan tindakan. Proses berpikir dapat dikelompokkan
dalam berpikir dasar dan kompleks. Berpikir dasar merupakan gambaran dari proses berpikir
rasional yang mengandung sejumlah langkah dari sederhana menuju yang kompleks.
Aktivitas berpikir rasional, meliputi menghafal, membayangkan, mengelompokkan,
menggeneralisasi, membandingkan, mengevaluasi, menganalisis, mensintesis, mendeduksi,
dan menyimpulkan.

Fisher (1995) membagi strategi berpikir kritis ke dalam tiga jenis, yaitu: strategi afektif,
kemampuan makro, dan keterampilan mikro. Ketiga jenis strategi in satu sama lain saling
berkaitan. Pertama, strategi afektif bertujuan untuk Apa yang saya meningkatkan berpikir
independen dengan sikap menguasai atau percaya diri; misalnya, saya dapat mengerjakannya
sendiri. Siswa harus didorong untuk mengembangkan kebiasaan self-questioning seperti: Apa
yang saya yakini? Bagaimana saya dapat meyakininya? Apakah saya benar-benar menerima
keyakinan ini? Untuk mencapainya, siswa perlu suatu pendamping yang mengarahkan pada
saat mengalami kebuntuan, memberikan motivasi pada saat mengalami kejenuhan dan
sebagainya, misalnya guru.

Kedua, kemampuan makro adalah proses yang terlibat dalam berpikir,
mengorganisasikan keterampilan dasar yang terpisah pada saat urutan yang diperluas dari
pikiran, tujuannya tidak untuk menghasilkan suatu keterampilan-keterampilan yang saling
terpisah, tetapi terpadu dan mampu berpikir komprehensif.

Ketiga, keterampilan mikro adalah keterampilan yang menekankan pada kemampuan
global. Guru dalam melakukan pembelajaran harus memfasilitasi siswa dalam
mengembangkan proses berpikir kritis, melakukan tindakan yang merefleksikan kemampuan,
dan disposisi seperti yang direkomendasikan.

Klasifikasi berpikir kritis menurut Ennis dibagi ke dalam dua bagian, yaitu aspek umum
dan aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran. Pertama, yang berkaitan dengan aspek
umum, terdiri atas:

1. Aspek kemampuan (abilities), yang meliputi: (a) memfokuskan pada suatu isu
spesifik; (b) menyimpan maksud utama dalam pikiran; (c) mengklasifikasi dengan
pertanyaan-pertanyaan; (d) menjelaskan pertanyaan-pertanyaan; (e) memerhatikan pendapat
siswa, baik salah maupun benar, dan mendiskusikannya; (f) mengkoneksikan pengetahuan
sebelumnya dengan yang baru; (g) secara tepat menggunakan pernyataan dan simbol; (h)
menyediakan informasi dalam suatu cara yang sistematis, menekankan pada urutan logis; dan
(i) kekonsistenan dalam pertanyaan-pertanyaan.

2, Aspek disposisi (disposition), yang meliputi: (a) menekankan kebutuhan untuk
mengidentifikasikan tujuan dan apa yang harus dikerjakan sebelum menjawab; (b)
menekankan kebutuhan untuk mengidentifikasikan informasi yang diberikan sebelum
menjawab; (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi yang
diperlukan; (d) memberikan kesempatan kepada Siswa untuk menguji solusi Yang diperoleh;
dan (e) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan informasi dengan
menggunakan tabel, grafik, dan Iain-Iain.

Kedua, aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran, meliputi: konsep, generalisasi,
dan algoritme, serta pemecahan masalah. Berikut ini merupakan indikator-indikator dari
masing-masing aspek berpikir kritis yang berkaitan dengan materi pelajaran, yaitu:

1. Memberikan penjelasan sederhana, yang meliputi; (a) memfokuskan
pertanyaan; (b) menganalisis pertanyaan; dan (c) bertanya dan menjawab tentang suatu
penjelasan atau tantangan.

2. Membangun keterampilan dasar, yang meliputi: (a) mempertimbangkan
apakah sumber dapat dipercaya; (b) mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil
observasi.

3. Menyimpulkan, yang meliputi: (a) mendeduksi dan mempertimbangkan hasil
induksi; (b) menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi; dan (c) membuat dan
menentukan nilai pertimbangan.

4. Memberikan penjelasan lanjut, yang meliputi: (a) mendefinisikan istilah dan
pertimbangan definisi dalam tiga dimensi; (b) mengidentifikasi asumsi.

5. Mengatur strategi dan taktik, yang meliputi: (a) menentukan tindakan; (b)
berinteraksi dengan orang Lain.

Pengembangan kemampuan berpikir kritis yang optimal mensyaratkan adanya kelas
yang interaktif. Agar pembelajaran dapat interaktif, maka desain pembelajarannya harus
menarik sehingga Siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran
yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis lebih melibatkan Siswa sebagai pemikir,
bukan seorang yang diajar. Adapun pengajar berperan sebagai mediator, fasilitator, dan
motivator yang membantu siswa dalam belajar dan bukan mengajar.

Keterampilan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam diri siswa karena melalui
keterampilan berpikir kritis, siswa dapat lebih mudah memahami konsep, peka akan masalah
yang terjadi sehingga dapat memahami dan menyelesaikan masalah, dan mampu
mengaplikasikan konsep dalam situasi yang berbeda. Pendidikan perlu mengembangkan
peserta didik agar memiliki keterampilan hidup, memiliki kemampuan bersikap dan
berperilaku adaptif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara
efektif. pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam proses pembelajaran memerlukan
keahlian guru. Keahlian dalam memilih media Yang tepat merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan

Model pembelajaran yang selama ini dilakukan secara konseptual dapat dikembangkan
untuk Lebih menekankan pada peningkatan menumbuhkan kemampuan siswa dalam kritis
yang sesuai dengan tingkat perkembangan usianya. Menurut Sutisna (1997), kemampuan
berpikir kritis siswa dapat ditumbuhkembangkan melalui proses membandingkan,
mengelompokkan, data. menafsirkan, menyimpulkan. menyelesaikan masalah. dan
mengambil keputusan.

Dalam proses pembelajaran, misalnya dalam pembelajaran IPS, dapat dijadikan sarana
yang tepat dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. Karena dalam
pembelajaran IPS banyak konsep atau masalah yang ada di lingkungan siswa, sehingga dapat
dijadikan suatu objek untuk dapat menumbuhkan cara berpikir kritis siswa.

Untuk dapat menumbuhkan berpikir kritis siswa dapat diterapkan suatu bentuk latihan-
latihan yang mengacu pada pola pikir siswa. Latihan-latihan ini dapat dilakukan secara
kontinu, intensif, serta terencana sehingga pada akhirnya siswa akan terlatih untuk dapat
menumbuhkan cara berpikir yang Lebih kritis.

Memang, sesungguhnya upaya untuk menumbuhkan berpikir kritis siswa merupakan
suatu kewajiban yang harus dilakukan guru. Dalam proses pembelajaran guru harus dapat
melahirkan cara berpikir yang Lebih kritis pada siswa. Guru dapat memberikan kesempatan
dan dukungan kepada siswa untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritisnya
dengan memberikan metode pembelajaran yang sesuai diharapkan dapat membantu siswa
menumbuhkan pengetahuan keterampilan nalar yang nantinya dapat berpengaruh pada
kemampuan untuk berpikir kritis. Guru harus dapat mengembangkan suasana kelas dimana
siswa berpart'isipasi selama proses belaiar berlangsung. Kegiatan kelas yang mengacu pada
aktivitas siswa adalah dengan mengisi lembar kerja atau dengan mengadakan tanya jawab
yang dikembangkan guru. Hal ini dapat berupa mengingat kembali informasi yang telah

disampaikan. Pemahaman secara luas atau mendalami tersebut dapat melatih siswa dalam
mengembangkan berpikir kritisnya.

Dalam kaitannya dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, hakikat
pembelajaran yang dilakukan guru berarti interaksi langsung antara guru dengan siswa, guru
dalam pembelajaran dapat berperan sebagai mediator antara siswa dengan apa yang
dipelajarinya. Guru bukan hanya memberi informasi saja tetapi juga dapat memberi petunjuk
agar siswa dapat berpikir secara kritis sehingga siswa mampu menyelesaikan setiap
permasalahan yang muncul dalam kehidupannya. Savage dan Amstrong mengembangkan
empat pendekatan yang dapat mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis dalam pembelajaran, yaitu: 1) kemampuan berpikir kreatif (creative thinking);
2) kemampuan berpikir kritis (critical thinking); 3) kemampuan memecahkan masalah
(problem solving); clan 4) kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis
dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat student-centered, yaitu
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa ini,
guru memberikan kebebasan berpikir dan keleluasaan bertindak kepada siswa dalam
memahami pengetahuan serta dalam menyelesaikan masalahnya. Guru tidak mendoktrin
siswa untuk menyelesaikan masalah hanya dengan cara yang telah ia ajarkan, namun juga
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan cara-cara baru.
Dalam hal ini, siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuan oleh dirinya
sendiri, tidak hanya menunggu transfer dari guru.

Untuk mengajarkan atau melatih siswa agar mampu berpikir kritis harus ditempuh
melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Arief
(2004), yaitu:

1. Keterampilan menganalisis, yaitu suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur
ke dalam komponen komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut. Dalam
keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara
menguraikan atau memerinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan
terperinci. Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, di
antaranya: menguraikan, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, dan
memerinci.

2. Keterampilan mensintesis, yaitu keterampilan yang berlawanan dengan keterampilan
menganalisis, yakni keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentuk atau
susunan yang baru, Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua
informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru
yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya

3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah merupakan keterampilan aplikatif
konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk
memahami bacaan dengan kritis sehingga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu
menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu membuat sebuah konsep.
Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-
konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru.

4. Keterampilan menyimpulkan, yaitu kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
pengertian atau pengetahuan yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian atau
pengetahuan (kebenaran) baru yang Iain. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu
menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu
formula baru yaitu sebuah simpulan.

5. Keterampilan mengevaluasi atau menilai. Keterampilan ini menuntut pemikiran yang
matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan

menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan
menggunakan standar tertentu.

Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir kritis ini adalah
bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap
perkembangan kognitif anak. Suprapto (2008) mengemukakan tahapan tersebut, sebagai
berikut:

1. Identifikasi komponen-komponen prosedural, yakni sis_ erkenalkan ada
keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut.
Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang
digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.

2. Instruksi dan pemodelan langsung, yakni guru memberikan instruksi dan pemodelan
secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan
pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan
yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.

3. Latihan terbimbing, yakni dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada anak
agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini,
guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.

4. Latihan bebas, yaitu dengan cara guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga
siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah (PR).
Latihan mandiri (PR) tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat
melatih keterampilan yang telah diajarkan.

Antara kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan
memecahkan masalah saling berhubungan satu sama lain. Dengan adanya kemampuan
berpikir kreatif akan melahirkan ide-ide baru dalam menghadapi masalah. Adapun untuk
menguji kebenaran diperlukan keterampilan berpikir kritis. Dalam memecahkan masalah
yang dihadapi diperlukan keterampilan berpikir kreatif dan kritis, sehingga dapat mengambil
keputusan secara reflektif. Pengambilan keputusan yang dilakukan dapat bermanfaat bagi
kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara serta komunitas.

2.10 Penguasaan Materi Pelajaran Oleh Guru
Penguasaan materi pembelajaran dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam

memberikan materi pembelajaran dalam bentuk tema tema dan topik-topik, sehingga dapat
membentuk kompetensi tertentu pada peserta didik. Kemampuan ini diharapkan dimiliki oleh
guru untuk 5 (lima) bidang studi inovatif yang terdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia,
IPA, IPS, PKN, dan Matematika.

Penguasaan materi pembelajaran oleh guru adalah kemampuan yang dimiliki guru
dalam menerapkan sejumlah fakta, konsep, prinsip dan keterampilan untuk menyelesaikan
dan memecahkan soal-soal atau masalah yang berkaitan dengan pokok bahasan yang
diajarkan. Materi pembelajaran merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan
guru/instruktur untuk perencanaan dan penelitian implementasi pembelajaran. Materi
pembelajaran adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh sebab itu, materi pembelajaran
adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga
tercipta lingkungan/suasana yang memung-kinkan siswa untuk belajar.

Penguasaan materi pembelajaran bagi guru merupakan hal yang sangat menentukan
khususnya dalam proses pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan
kualitas pembelajaran dalam kelas. Maka dari itu, untuk dapat mengajar dengan baik, seorang
guru harus menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.

Kinerja adalah kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan
efisien dan efektif melalui penggunaan seluruh sumber daya yang terdapat dalam lingkungan

kerja, sehingga pada akhirnya akan meng-hasilkan mutu kerja optimal. Guru yang kurang
menguasai materi ajar dapat memicu kehilangan motivasi untuk mengajar, dan akibatnya
kinerja guru menurun. Oleh karena itu, diduga ada pengaruh langsung positif penguasaan
materi pembelajaran terhadap kinerja guru SD.

Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan dipelajari oleh siswa harus
dipersiapkan dengan baik untuk disampaikan kepada siswa. Mata pelajaran harus disusun
secara sistematis berdasarkan frekuensinya serta melihat rancangan program pembelajaran
(RPP) untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam proses pelaksanaan penyampaian
materi harus diperhatikan sumber belajar yang menunjang terhadap pengembangan
kemampuan siswa.

Pembahasan tentang peserta didik akan dilakukan pada kesempatan lain. Kali ini akan
akan diulas tentang penguasaan materi pelajaran oleh sang guru. Apa itu materi ajar?
Bagaimana syarat menguasai materi ajar? Bagaimana indikator guru yang menguasai materi
ajar akan dibahas dibawah ini? Dalam tinjauan klasik, mengajar adalah menyampaikan materi
ajar. Guru dituntut menguasai bidang keilmuannya secara detail dan bersifat tetap. Dengan
demikian guru dituntut untuk menguasai dengan cara menghafal semua materi ajar seperti
halnya ensiklopedia yang berjalan.Seiring dengan perkembangan teknologi tentu tuntutan di
atas tidak lagi relevan. Karena ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan cepat sekali
perkembangannya. Dengan demikian penguasaan materi dengan cara menghafal seluruh
informasi sering kali tidak diperlukan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran yang perlu
dikuasai guru adalah materi ajar. Materi ajar artinya materi yang disusun oleh guru sehingga
bisa disajikan kepada siswa dengan penuh pemahaman.Suatu materi keilmuan bisa menjadi
materi ajar apabila guru menguasai tiga hal berikut ini:

Pertama, menguasai gambar besar dari materi yang diajarkan
Guru perlu mengetahui apa saja dan berapa jumlahnya standar kompetensi dan
kompetensi dasar yg diajarkan dalam satu semester dan satu tahun. Guru juga telah memiliki
rancangan kapan dan berapa lama materi itu akan disampaikan kepada siswa.

Kedua, menguasai prinsip dasar pengembangan ilmu yang diajarkan
Ilmu pengetahuan alam contohnya, akan memiliki objek berupa kajian benda nyata,
pendekatannya pengamatan dan percobaan, hasilnya untuk mendapatkan generalisasi atau
teori. Berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial, objek kajiannya masyarakat, pendekatannya
pengamatan dan hasilnya untuk memperoleh gambaran umum.

Ketiga, mampu menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ditulis di papan tulis merupakan pemandu materi ajar.
Dengan demikian sang guru perlu memilah dan memilih materi-materi yang perlu disajikan
atau tidak disajikan. Dengan demikian hanya materi yang sesuai dengan tujuan belajar saja
yang disajikan.Sama seperti menyajikan makanan, menyajikan materi ajar juga perlu aturan
tertentu. Beberapa aturan yang perlu dilakukan untuk menyajikan materi kepada siswa
adalah sebagai berikut:
1. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan
Pastikan materi ajar memiliki kaitannya dengan materi sebelumnya, materi yang akan
datang dan materi pada ilmu-ilmu lain

2. Mengaitkan materi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pastikan materi ajar merupakan bagian dari perkembangan iptek dengan demikian jika
menguasainya akan dapat ikut andil dengan pengembangan iptek

3. Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata

Kaitkan materi yang dipelajari dengan dunia sehari-hari di lingkungan siswa, dunia
yang nyata, benda-benda yang nyata

4. Menyajikan materi secara simpel dan sistematis
Sajikan materi ajar dengan bahasa yang mudah dipahami siswa, atur intonasi yang tepat
dan dengan ujaran yang runtut. Jika bahan ajar perlu dituangkan dalam bentuk visual buatlah
dengan gambar yang sederhana yang mudah dimengerti siswa. Selain itu, penyajian materi
yang sistematis dan berkesinambungan penting agar antara bahan yang satu dengan bahan
berikutnya ada hubungan fungsional, dimana bahan yang satu menjadi dasar untuk bahan
berikutnya. Sementara dalam menentukan materi pelajaran perlu memasukkan bahan yang
faktual dan sifatnya konkret dan mudah diingat, serta bahan yang sifatnya konseptual
berisikan konsep-konsep abstrak.

5. Menyajikan materi mudah ke sulit
Sajikan materi dari hal-hal mudah ditingkatkan secara berurutan tingkat kesulitannya

6. Menyajikan materi konkrit ke abstrak
Ambillah benda-benda yang konkrit untuk disajikan di awal pembelajaran dilanjutkan
dengan ilustrasi gambar dan kemudian membuat konsep

7. Menyajikan materi umum ke khusus
Mulanya sampaikan berbagai aktivitas umum bisa dilakukan sendiri maupun kelompok
selanjutnya diakhiri penyimpulan bersama Dengan demikian penguasaan materi ajar tidak
sekedar penguasaan secara statis akan tetapi penguasaan yang dinamis sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran siswa.

Dengan melihat kenyataan dan tuntunan seperti di atas, menuntut guru untuk
menguasai materi pelajaran dengan baik. Mustahil, guru dapat merencanakan pembelajaran,
memfasilitasi pembelajaran hingga pada tahap evaluasi pembelajaran jika guru tidak
menguasai materi pembelajaran. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pembelajaran
guru harus menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, seperti mata pelajaran apa yang harus
disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya dan media apa yang harus digunakan.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru atau pendidik yang profesional, menurut Raka Joni
(2007), guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu : kompetensi kepribadian,
pedagogis, sosial, dan professional. Seluruh kompetensi profesi yang dituntut dari seorang
guru, semata-mata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat
dinilai dari proses dan hasil belajar.

Jadi, dapat ditegaskan lagi disini, bahwa kemampuan menguasai materi pelajaran oleh
guru menjadi prasyarat penting bagi tercapainya keberhasilan proses belajar mengajar.
Adanya buku paket pelajaran yang dapat dibaca oleh siswa tidak mengandung arti bahwa
guru tidak perlu menguasai bahan. Memang guru tidak mungkin serba tahu, tetapi mata
pelajaran yang diembannya menjadi tanggung jawab guru bersangkutan. Yang menjadi
persoalan ialah konsep-konsep manakah yang harus dikuasai oleh guru sehubungan dengan
pelaksanaan proses belajar mengajar. Menurut Udin, secara jelas dan tegas sesungguhnya
konsep-konsep tersebut telah ada dalam kurikulum, khususnya RPP bidang studi yang
dipegangnya.

BAB 3 PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI
SEKOLAH DASAR

TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Lebih jauh lagi dalam Pendidikan IPS di kembangkan 3 aspek atau 3 ranah
pembelajaran, yaitu:

Aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tiga
aspek ini merupakan acuan yang berorientasi untuk mengembangkan pemilihan materi,
strategi, dan model pembelajaran.

Tujuan Pendidikan ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa Pendidikan
ilmu – ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran suatu disiplin ilmu, sehingga tujuan
Pendidikan nasional dan tujuan institusional menjadi landasan pemikiran mengenai tujuan
Pendidikan ilmu nasional.

Tujuan utama pembelajaran IPS ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif
terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap
masalah yang terjadi sehari – hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang
menimpa masyarakat.

Secara rinci, Mutakin (1998) merumuskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah, adalah
sebagai berikut :

1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya,melalui
pemahaman terhadap nilai – nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang
diadaptasi dari ilmu – ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan
masalah – masalah sosial.

3. Mampu menggunakan model – model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.

4. Menaruh perhatian terhadap isu dan masalah sosial, serta mampu analisis yang kritis,
selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.

5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar
survive dan kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

Nurhadi (1997: 13) menyebutkan bahwa ada 4 tujuan pendidikan IPS, yaitu: Knowledge,
skill, attitude, dan value.

1. Knowledge, yaitu sebagai tujuan utama dari pendidikan IPS yaitu membantu para
siswa sendiri untuk mengenal diri mereka sendiri dan lingkungannya, dan mencakup
geografi, sejarah, politik, ekonomi, dan sosiologi psikologi.

2. Skill, yang mencakup keterampilan berpikir (thinking skill).
3. Attitudes, yang terdiri atas tingkah laku berpikir (intelektual behavior) dan tingkah

laku sosial (sosial behavior).
4. Value, yaitu nilai yang terkandung didalam masyarakat yang diperoleh dari

lingkungan masyarakat maupun Lembaga pemerintahan, termasuk didalamnya ia
kepercayaan,nilai ekonomi, pergaulan antar bangsa, dan ketaatan terhadap pemerintah
dan hukum.

Tujuan utama Pendidikan IPS, sebagaimana disebutkan oleh Nurhadi di atas adalah
untuk mengenal diri mereka sendiri dan lingkungannya, untuk membentuk dan

mengembangkan pribadi warganegara yang baik (good citizenship) yang secara umum
dapat digambarkan sebagai warga negara yang mempunyai ciri-ciri,seperti yang
dikemukakan Barth and Shermis sebagai berikut:

1. Memiliki sifat patriotisme, yaitu cinta tanah air ,bangsa, dan negara.

2. Mempunyai penghargaan dan perhatian terhadap nilai-nilai, perawat, dan praktik
kehidupan kemasyarakatan.

3. Memiliki sifat integritas sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.

4. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya atau tradisi yang
diwariskan oleh bangsanya.

5. Mempunyai motivasi untuk turut serta secara aktif dalam pelaksanaan kehidupan
demokratis.

6. Memiliki kesadaran (tanggap akan) masalah sosial.

7. Memiliki ide, sikap, dan keterampilan yang diharapkan sebagai seorang warga negara.

8. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap sistem ekonomi yang berlaku.

Secara khusus, tujuan Pendidikan IPS di sekolah dapat dikelompokkan menjadi 4
komponen, sebagaimana yang dikemukakan oleh Chapin dan Messick (1992) yaitu

1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan
bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencari dan mengolah atau
memproses informasi.

3. Menolong siswa untuk mengembagkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan
masyarakat.

4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berperan serta dalam kehidupan sosial.

Hamid Hasan (1996 :98) membagi tujuan Pendidikan ilmu sosial dalam 3 kategori sebagai
berikut :

1. Pengembangan kemampuan intelektual siswa yag berorientasi pada pengembangan
kemampuan pengembagan intelektual yang berhubungan dengam diri siswa dan
kepentingan ilmu.

Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir dan memahami
ilmu sosial serta kemampuan proses dalam mencari informasi.

2. Pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan
bangsa berorientasi pada pengembangan diri siswa dan kepentingan masyarakat yang
dinamakan kemampuan sosial. tujuannya mengembangkan kemampuan partisipasi dalam
kegiatan-kegiatan masyarakat dan bangsa termasuk tanggung jawab sebagai warga dunia
selain itu juga mengembangkan pemahaman dan sikap positif siswa terhadap nilai,norma,
dan moral yang berlaku di masyarakat.

3. Pengembangan diri sebagai pribadi berorientasi pada pengembangan pribadi siswa baik
untuk kepentingan dirinya masyarakat,maupun ilmu. Tujuannya berkenaan dengan
pengembangan sikap nilai, norma, moral,yang menjadi panutan siswa dalam pembentukan

kebiasaan positif untuk kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk
memacu perkembangan diri sebagai pribadi.

Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran dapat memberikan wawasan
pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun Global sehingga mampu hidup
bersama-sama dengan masyarakat lainnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sekolah Dasar
sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang
mampu melahirkan manusia yang andal baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek
moralnya.

Tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar berdasarkan kurikulum sekolah dasar 1945
pada kepentingan siswa ilmu dan sosial (masyarakat). Tujuan pembelajaran IPS yang
tercantum dalam kurikulum,adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti,
tujuan pendidikan IPS bukan hanya sekedar membekali siswa dengan berbagai informasi
yang bersifat hafalan kognitif saja akan tetapi pendidikan IPS harus mampu
mengembangkan keterampilan berpikir, agar siswa mampu mengkaji berbagai kenyataan
sosial beserta permasalahannya. Tujuan yang harus dicapai oleh siswa sekolah dasar harus
disesuaikan dengan taraf perkembangannya, yang dimulai dari pengenalan dan
pemahaman lingkungan sekitar menuju lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dimulai
dari lingkungan terdekat menuju lingkungan yang lebih luas.

Demikian pula dalam kaitannya dengan KTSP, pemerintah telah memberikan arah yang
jelas pada tujuan dan ruang lingkup pembelajaran IPS,yaitu:

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya.

2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

4. Memiliki kemampuan berkomunikasi bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat
yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Pembelajaran IPS mempunyai misi utama yang sangat mulia sebagaimana dikemukakan
oleh djahiri (1996 : 36) yang memanusiakan manusia dan masyarakat secara fungsional
dan penuh rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab hendaknya Mampu menampilkan
harapan-harapan, sebagai berikut :

1. Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk
kehidupannya dalam astra kehidupan.

2. Membina kesadaran keyakinan dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat dan penuh rasa
kebersamaan bertanggungjawab dan manusiawi.

3. Kondisi kehidupan masyarakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan.

4. Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu dijangkau dan
diperakan siswa kini dan kelak dikemudian hari.

5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa dari negara Indonesia.

Adapun tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar menurut Munir (1997 :132), sebagai
berikut:

1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelak di
masyarakat.

2. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun
alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

3. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga
masyarakat dan bidang keilmuan serta bidang keahlian.

4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan
keilmuan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan
tersebut.

5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan
IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan
teknologi.

Tujuan lain secara eksplisit, dengan mempelajari kondisi masyarakat Seperti yang
dimuat dalam pendidikan IPS ini, maka siswa akan dapat mengamati dan mempelajari
norma norma atau peraturan serta kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku dalam
masyarakat tersebut, sehingga siswa mendapat pengalaman langsung adanya hubungan
timbal balik yang saling mempengaruhi antara kehidupan pribadi dan masyarakat dalam
pendidikan IPS tersebut, siswa akan memperoleh pengetahuan dari yang sederhana sampai
yang lebih luas (expanding community), yakni siswa akan mulai diperkenalkan dengan
diri sendiri (self) kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT dan RW, kelurahan atau
desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia.

Pengetahuan anak secara pasti akan berkembang Namun karena anak memiliki
berbagai potensi yang masih laten maka mereka memerlukan proses serta sentuhan-
sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari potensi dirinya
kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu
yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk
intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS merupakan salah satu upaya
yang akan membawa kesadaran terhadap ruang ,waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak,
khususnya dalam hal ini adalah siswa sekolah dasar.

Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berada
pada usia berkisar antara 6- 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun. Masa usia ini, menurut
Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitif nya pada
tingkatan konkret operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh,
dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka
pedulikan ialah masa sekarang (konkret) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka
pahami (abstrak) padahal bahan materi pendidikan IPS adalah dengan pesan-pesan yang
bersifat abstrak .Konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata
angin, lingkungan,ritual agama, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai,peranan,
permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS
harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar tersebut.

Oleh karena itu, berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan
konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978 : 4) misalnya memberikan
pemecahan berbentuk jembatan Bailey untuk mengkonkretkan abstrak yaitu dengan
enactive, iconic, dan symbolic, melalui bertentangan dengan gerak tubuh, gambar, bagan,
peta, grafik, lambang, keterangan lanjut atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat
dipahami siswa. Itulah sebabnya pendidikan IPS di sekolah dasar bergerak dari yang
konkret menuju ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang
semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan

memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari
yang dekat menuju ke yang jauh, dan seterusnya.

2.3 METODE PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Metode secara harfiah diartikan cara. Dalam pemakaian yang umum diartikan sebagai
cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan
faktor dan konsep-konsep secara sistematis. Metode dapat dianggap sebagai suatu
prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan
segala sesuatu. Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam
menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah
dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan
efektif. Sedangkan mengajar diartikan sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang
memungkinkan terjadinya proses belajar. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa
metode mengajar adalah cara atau alat yang dipakai oleh seorang pendidik dalam
menyampaikan bahan pelajaran sehingga bisa diterima oleh siswa dan juga tercapainya
tujuan yang diinginkan, atau bagaimana teknisnya pelaksanaan proses belajar mengajar.

Metode Pembelajaran IPS berpijak pada aktivitas yang memungkinkan siswa baik secara
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta
prinsip IPS secara holistis dan autentik. Melalui pembelajaran IPS, peserta didik dapat
memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima,
menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan
demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan metode yang akan diterapkan dalam
proses pembelajaran :

Dalam pemilihan atau penetapan metode yang akan diterapkan dalam proses
pembelajaran, maka hendaknya memperhatikan faktor faktor yang dapat
mempengaruhinya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Subiyanto (1990 : 71) berikut:

1. Metode hendaknya sesuai dengan tujuan. Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai
dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun metode dengan tujuan saling berhubungan.
Artinya, metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka akan
sia-sialah perumusan tujuan tersebut.

2. Metode hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran. Metode pengajaran untuk mata
pelajaran yang satu berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Bahan pelajaran dapat
dianggap sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru untuk menentukan metode mengajar
yang akan digunakan.

3. Metode hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa. Menyesuaikan metode
mengajar dengan kemampuan siswa, didasarkan pada tingkat atau jenjang pengajaran.
Metode dalam mengajarkan perkembangan untuk siswa sekolah dasar akan berbeda
dengan siswa sekolah menengah. Selain itu juga, penyesuaian metode mengajar itu
menyangkut pemilihan media yang dimanfaatkan. Seyogianya guru memanfaatkan media
yang berbeda dalam mengajar di sekolah dasar, karena terdapat perbedaan kematangan
siswa yang bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.

2. Metode Pengajaran dalam IPS di Sekolah Dasar

Metode pengajaran IPS dapat dibagi dua klasifikasi yaitu metode yang interaksi
edukatifnya berlangsung di dalam kelas misalnya metode ceramah, tanya jawab,
diskusi, demonstrasi, eksperimen, sosiodrama, role playing, dan tugas atau resitasi serta

kerja kelompok dan interaksi yang edukatif yang berlangsung di luar kelas misalnya
metode karya wisata dan observasi.

1. Metode Interaksi Edukatif Dalam Kelas

a. Metode ceramah

Menurut Tjipto Utomo & Ruitjen : 1982, metode ceramah merupakan bentuk
pengajaran dimana guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar siswa
dengan cara yang utama bersifat verbal atau kata-kata.

b. Metode tanya-jawab

Metode tanya jawab adalah suatu format interaksi antara guru dengan siswa melalui
kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respon lisan dari
siswa, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa.

c. Metode Diskusi atau Metode Musyawarah

Metode diskusi dalam pembelajaran IPS adalah suatu cara penyajian materi
pelajaran dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah, baik berupa pernyataan
maupun berupa pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas atau dipecahkan
oleh siswa secara bersama-sama.

d. Metode Penugasan (Pemberian tugas)

Metode penugasan adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan
laporan sebagai hasil dari tugas yang dihasilkannya.

e. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok merupakan format belajar mengajar yang menitikberatkan
kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu
kelompok, guna menyelesaikan tugas secara bersama-sama.

f. Metode Demonstrasi

Demonstrasi merupakan format belajar mengajar yang sengaja mempertunjukan atau
memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang
lain kepada seluruh atau sebagian siswa.

g. Metode Eksperimen (Percobaan)

Eksperimen adalah format interaksi belajar mengajar yang melibatkan logika induksi
untuk menyimpulkan pengamatan terhadap proses atau hasil percobaan.

h. Metode Simulasi

Simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang
didalamnya menampakan adanya perilaku pura-pura (simulasi) dari orang yang
terlibat dalam proses pembelajaran atau suatu peniruan situasi tertentu, sehingga
siswa dapat memahami konsep, prinsip-prinsip keterampilan, nilai dan sikap dari
sesuatu dari yang sedang disimulasikan.

i. Metode Inkuiri dan Discovery

Metode Inkuiri dan Discovery dalam pembelajaran merupakan suatu prosedur yang
menekankan belajar secara individual dimana siswa berusaha melakukan aktivitas
sendiri untuk mencari dan meneliti sesuatu sebelum menarik suatu kesimpulan.

2. Metode Interaksi Edukatif di Luar Kelas

a.Metode Karyawisata

Metode karyawisata merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa
dibawa ke suatu objek di luar kelas untuk mengkaji atau mempelajari suatu masalah
yang berhubungan dengan materi pelajaran atau dengan kata lain karyawisata
merupakan suatu upaya mendekatkan atau membawa diri siswa kepada kehidupan
nyata yang menjadi sumber belajar bagi para siswa.

b. Metode Observasi

Merupakan kelanjutan atau alat yang diperlukan pada saat pelaksanaan karyawisata.

Metode observasi adalah format pembelajaran di mana siswa dibawa ke luar kelas
untuk mengamati suatu objek atau peristiwa kemudian merekamnya dengan
menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

3. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode pembelajaran
IPS di sekolah dasar

Dalam memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar, berdasarkan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru diharapkan memperhatikan prinsip-prinsip
berikut:

1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik
menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran
tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan
waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensi.

2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam kompetensi dasar dan
standar kompetensi tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap,
pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.

3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap
siswa. Siswa memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh
karena itu, dalam kelas dengan jumlah siswa tertentu, guru perlu memberikan layanan
individu agar dapat mengenal dan mengembangkan siswanya.

4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus menerapkan prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan.
Siswa yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas
diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.

5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga siswa menjadi
pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh
karena itu, guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan
kehidupan atau konteks kehidupan siswa dan lingkungan.

6. Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan
pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik.

7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber.

Jadi, metode pembelajaran IPS yang dikembangkan hendaknya memperhatikan
karakteristik siswa yang memberikan ruang kepada siswa untuk dapat secara terbuka
menganalisis dan menjelaskan nilai-nilai yang berhubungan dengan masyarakat,
memutuskan tindakan, dan mengambil tindakan dengan keputusan yang reflektif.

2.4 TEMA-TEMA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah mulai dari sekolah
dasar sampai sekolah menengah dengan menyajikan materi yang mengkaji seperangkat
peristiwa,fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu-isu sosial.

Secara garis besar, tema- tema pendidikan IPS di sekolah dasar dapat diklasifikasikan
menjadi 3 bagian besar, yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yaitu :

1. Pendidikan IPS sebagai pendidikan nilai (value education) , yakni :

- Mendidikkan nilai- nilai yang baik, yakni merupakan norma-norma keluarga dan
masyarakat

- Memberikan klasifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa

- Nilai-nilai inti atau nilai utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan,
kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work), sebagai
upaya membangun kelas yang demokratis.

2. Pendidikan IPS sebagai pendidikan multikultural ( multicultural education ), yakni :

- Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar

- Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya
bangsa

- Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas

3. Pendidikan IPS sebagai pendidikan Global ( global education ), yakni :

- Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan perbedaan di dunia

- Menanamkan kesadaran ketergantungan antarbangsa

- Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa
di dunia

- Mengurangi kemiskinan, kebodohan, perusakan lingkungan

Ruang lingkup materi pelajaran IPS di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang
tercantum dalam kurikulum, Menurut Depdiknas ( 2006 ), sebagai berikut :

1. Madrasah,tempat, dan lingkungan.

2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.

3. Sistem sosial dan budaya.

4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

2.5 PEMBELAJARAN IPS DALAM STRUKTUR KURIKULUM
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk

meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL pada
pendidikan sekolah dasar untuk IPS, sesuai petunjuk dari Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 23 Tahun 2006, sebagai berikut:

1. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.

2. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.

3.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.

4. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru

5. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-
hari.

6. Menunjukkan gejala alam dan sosial di lingkungan sekitarnya.

7. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

8. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan Tanah Air
Indonesia.

9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu
luang.

Dari berbagai standar kelulusan tersebut di atas dapat dipahami bahwa program
pendidikan IPS bertujuan untuk menciptakan lulusan atau siswa yang memiliki sikap,
etika, kepribadian, serta pengetahuan dan keterampilan yang paripurna, yang tidak hanya
terampil tangannya saja, tetapi juga lembut hatinya, dan cerdas otaknya.

BAB 4 PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKOLAH DASAR

A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu pengetahuan alam, yang sering disebut juga dengan istilah pendidikan sains,
disingkat menjadi IPA. IPA merupakan salah satu mata pembelajaran pokok dalam
kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Mata pelajaran
IPA merupakan mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar
peserta didik, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Anggapan
sebagian besar peserta didik yang menyatakan sulit adalah benar terbukti dari hasil
perolehan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat
jauh dari standar yang diharapkan. Ironisnya, justru semakin tinggi jenjang pendidikan,
maka perolehan rata-rata nilai UAS pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah
lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Proses
Pembelajaran yang terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan kemampuan
berpikir peserta didik. Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya
diarahkan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi,otak siswa dipaksa hanya
untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami
informasi yang diperoleh untuk menghubungkan dengan situasi dalam kehidupan sehari-
hari.

Kondisi ini juga menimpa pada pembelajaran IPA, yang hanya memperlihatkan
bahwa selama ini proses pembelajaran sains di sekolah dasar masih banyak yang
dilaksanakan secara konvensional. Para guru belum sepenuhnya melaksanakan
pembelajaran secara aktif dan kreatif dalam melibatkan siswa serta belum menggunakan
berbagai pendekatan/strategi pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi
pelajaran.

Dalam proses belajar mengajar,kebanyakan guru hanya terpaku pada buku teks
sebagai satu-satunya sumber belajar mengajar. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam
pembelajaran IPA adalah masalah teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan
menyeluruh. Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan
pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat
ukurnya. Dengan cara penilaian seperti ini, berarti pengujian yang dilakukan oleh guru
baru mengukur penguasaan materi saj dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat
rendah-rendah. Keadaan semacam ini merupakan salah satu indikasi adanya kelemahan
pembelajaran di sekolah.

Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru
tidak melakukan kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada pengembangan
keterampilan proses sains anak. Pada akhirnya, keadaan semacam ini yang menyebabkan
kegiatan pembelajaran dilakukan hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku
teks saja. Keadaan seperti ini juga mendorong siswa untuk berusaha menghafal pada
setiap kali diadakan tes atau ulangan harian atau tes hasil belajar, baik ulangan tengah
semester (UTS), maupun ulangan akhir semester(UAS).

Padahal, untuk anak jenjang sekolah dasar, menurut Marjono (1996), hal yang
harus diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya berpikir
kritis mereka terhadap suatu masalah.

Sains atau IPA adalah usaha manusia memahami alam semesta melalui
pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan
dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.Dalam hal ini diharapkan
mengetahui dan mengerti hakikat pembelajaran IPA, sehingga dalam pembelajaran IPA
guru tidak kesulitan dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran dalam mendesain
dan melaksanakan pembelajaran. Siswa yang melakukan pembelajaran juga tidak
mendapat kesulitan dalam memahami konsep sains.

Hakikat pembelajaran sains yang didefinisikan sebagai ilmu tentang alam yang
dalam bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan, dapat diklasifikasikan
menjadi tiga bagian, yaitu: ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap.
Dari ketiga komponen IPA ini, Sutrisno (2007) menambahkan bahwa IPA juga sebagai
prosedur dan IPA sebagai teknologi. Akan tetapi, penambahan ini bersifat
pengembangan prosedur dari proses,sedangkan teknologi dari aplikasi konsep dan
prinsip-prinsip IPA sebagai produk.

Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah. Jadi, dengan
pembelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti
seorang ilmuwan. Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud, yaitu: sikap ingin tahu,
percaya diri, jujur, tidak tergesa-gesa, dan objektif terhadap fakta.

Pertama, ilmu pengetahuan alam sebagai produk,yaitu kumpulan hasil penelitian
yang telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai
kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk antara lain: fakta-
fakta, prinsip, hukum, dan teori-teori IPA. Jadi ada beberapa istilah yang dapat diambil
dari pengertian IPA sebagai produk, yaitu :

1. Fakta dalam IPA, pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar
ada,atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dan mudah dikonfirmasi secara
objektif.

2. Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA. Konsep
merupakan penghubung antara fakta-fakta yang ada hubungannya.

3. Prinsip IPA yaitu generalisasi tentang hubungan di antara konsep-konsep IPA.
4. Hukum-hukum alam (IPA), prinsip-prinsip yang sudah diterima meskipun juga

bersifat tentatif (sementra, akan tetapi karena mengalami pengujian yang
berulang-ulang maka hukum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian
yang lebih akurat dan logis.
5. Teori Ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta, konsep,
prinsip yang saling berhubungan.

Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses,yaitu untuk menggali dan
memahami pengetahuan tentang alam.Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan
konsep, maka IPA membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang
digeneralisasi oleh ilmuwan.Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan
keterampilan proses sains (science process skills) adalah keterampilan yang dilakukan
oleh para ilmuwan, seperti mengamati, mengukur, mengklasifikasi, dan menyimpulkan.

Mengamati (observasi) adalah mengumpulkan semua informasi dengan panca
indra. Adapun penarikan kesimpulan (inferensi) adalah kesimpulan setelah melakukan
observasi dan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Disamping kedua
komponen ini sebagai keterampilan proses sains masih ada komponen lainnya seperti
investigasi dan eksperimen. Akan tetapi, yang menjadi dasar keterampilan proses adalah

merumuskan hipotesis dan menginterpretasikan data melalui prosedur-prosedur tertentu
seperti melakukan pengukuran dan percobaan.

Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap. Sikap ilmiah harus
dikembangkan dalam pembelajaran sains. Hal ini sesuai dengan sikap yang harus
dimiliki oleh seorang ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengkomunikasikan
hasil penelitiannya. Menurut Sulistyorini (2006), ada Sembilan aspek yang
dikembangkan dari sikap ilmiah dala pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin
mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka,
mawas diri, bertanggung jawab, dan kedisipilinan diri.

Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan siswa dalam
pembelajaran IPA pada saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan
proyek lapangan. Pengembangan sikap ilmiah di sekolah dasar memiliki kesesuaian
dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Menurut Piaget, anak usia sekolah dasar yang
berkisar 6 atau 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun masuk dalam kategori fase operasional
konkret. Fase yang menunjukkan adanya sikap keingintahuannya cukup tinggi untuk
mengenali lingkungannya. Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan sains, maka pada
anak sekolah dasar siswa harus diberikan pengalaman serta kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap terhadap alam, sehingga dapat
mengetahui rahasia dan gejala-gejala alam.

Lebih lanjut, IPA juga memiliki karakteristik sebagai dasar untuk
memahaminya. Karakteristik tersebut menurut Jacobson & Bergman (1980), meliputi :

1. IPA merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori.
2. Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental, serta mencermati fenomena alam,

termasuk juga penerapannya.
3. Sikap keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan dalam dalam menyingkap

rahasia alam.
4. IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya sebagian atau beberapa

saja.

Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran yang bersifat objektif.

Dari uraian hakikat IPA di atas, dapat dipahami bahwa pembelajaran sains
merupakan pembelajaran berdasarkan pada prinsip-prinsip, proses yang mana dapat
menumbuhkan sikap ilmiah siswa terhadap konsep-konsep IPA. Oleh karena itu,
pembelajaran IPA disekolah dasar dilakukan penyidikan sederhana dan bukan hafalan
terhadap kumpulan konsep IPA. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut pembelajaran IPA
akan mendapat pengalaman langsung melalui pengamatan, diskusi, dan penyelidikan
sederhana. Pembelajaran yang demikian dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa yang
diindikasikan dengan merumuskan masalah, menarik kesimpulan, sehingga mampu
berpikir kritis melalui pembelajaran IPA.

B. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Pembelajaran sains di sekolah dasar dikenal dengan pembelajaran ilmu
pengetahuan alam (IPA). Konsep dasar Ipa di sekolah dasar merupakan konsep yang
masih terpadu seperti mata pelajaran kimia, biologi, dan fisika.

Adapun tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar dalam Badan Nasional standar
Pendidikan (BSNP, 2006) dimaksud untuk:

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa berdasarkan,
keberadaan, keindahan, keteraturan alam ciptaan Nya.

2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat
dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.

4. Mengembangkan keterampilan proses, untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan
masalah, dan membuat keputusan.

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan alam.

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturan sebagai salah
satu ciptaan Tuhan.

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP.

C. Pembelajaran IPA Berbasis INKUIRI

Dalam kurikulum 2004 dan Standar isi BSNP (Badan Standar Nasional
Pendidikan) mencantumkan inkuiri sebagai proses maupun sebagai produk yang
diterapkan secara terintegrasi di kelas.

Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dalam meliputi kegiatan-
kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan relevan, mengevaluasi buku dan
sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi,
me-review apa yang telah diketahui ,melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan
menggunakan alat untuk memperoleh data,menganalisis dan menginterpretasi data, serta
membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya.

Tujuan Utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council
(NRC, 2000), sebagai berikut:

1. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan
konsep sains.

2. Mengembangkan keterampilan Ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti
layaknya seorang ilmuwan

3. Membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan

Tujuan di atas dapat dicapai dengan mengikuti sintaks yang ada dalam pembelajaran
inkuiri. Joyce & Well (1996) mengemukakan bahwa sintaks inkuiri sains terdiri atas 4
fase yaitu:

A). Fase investigasi dan pengenalan pada siswa
B). Pengelompokan masalah oleh siswa
C). Identifikasi masalah dalam penyelidikan
D). Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/ masalah

Pembelajaran inkuiri dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan dan cara
bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Melalui pernyataan tersebut siswa dapat
dilatih melakukan observasi terbuka, ber hipotesis, bereksperimen yang akhirnya dapat
menarik suatu kesimpulan.

Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki lima komponen yanh umum yaitu:
bertanya, keterlibatan siswa, kerja sama, untuk kerja (perform task), dan sumber-sumber
yang bervariasi.

Pembelajaran inkuiri yang masyarakat keterlibatan siswa aktif terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains. Metode ini dapat membantu
perkembangan, antara lain: literasi sains dan pemahaman proses-proses ilmiah,
pengetahuan perbendaharaan kata (vocal bulary), dan pemahaman konsep, berpikir kritis,
dan bersikap positif. Inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia
untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin
tahu.

Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topic
masalah, sumber masalah atau pertanyaan bahan, prosedur atau rancangan kegiatan,
pengumpulan analisis serta pengambilan kesimpulan. Dari komponen-komponen ini,
Bonnstetter (2000) mengklasifikasi tipe inkuiri ini kedalam 4 tingkat yaitu: 1) Praktikum
(traditional hands-on); 2) pengalaman sains terstruktur (structured science experiences);
3) inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry); dan 4) penelitian siswa (Student
research).

Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan
dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarah pada
kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan. Dalam proses
pembelajaran melalui kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan inkuiri atau keterampilan proses sains sehingga pada akhirnya
dapat menghasilkan sikap Ilmiah, seperti menghargai gagasan baru, berpikir kritis, jujur
dan kreatif.

Menurut Nasional Science Educational Standard (NRC,1996) perancangan pengajaran
inkuiri dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut :

1. Mengembangkan kerangka kerja jangka panjang (setahun) dan tujuan-tujuan
jangka pendek bagi siswanya.

2. Memilih kontens sains, mengadaptasi dan merancang kurikulum yang memenuhi
minat, pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan pengalam siswa.

3. Memilih strategi mengajar dan penilaian yang mendukung pengembangan
pemahaman siswa dan memberikan damapak rigan terhadap masyarakat
pemelajaran sains

4. Berkerja sama sebagai kolega di dalam disiplin, juga lintas disiplin dan jenjang
kelas.

Tahap pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran sains atau IPA di sekolah dasar dapat
dikelompokan dalam lima tahap, yaitu:

1. Adanya kegiatan merumuskan pertanyaan yang dapat diteliti melalui percobaan
sederhana.

2. Adanya perumusan hipotesis atau membuat prediksi.

3. Merencanakan dan melaksanakan suatu percobaan sederhana.
4. Mengkomunikasikan hasil pengamatan dan menggunakan data serta peralatan yang

digunakan dalam percobaan sederhana.
5. Menyimpulkan hasil pengamatan dan eksperimen yang telah dilakukan.

Tahap kegiatan diatas merupakan kegiatan pembelajaran inkuiri yang
disedrhanakan brdasarkan sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.

Sintaks dapat dijadikan sebagai aspek evaluasi dari pembelajaran tersebut. Aspek-
aspek dapat dilihat dari soal-soal yang diberikan guru sebagai bentuk evaluasi.
Tujuannya adalah mengukur nilai kemampuan seorang siswa serta menjadi rujukan
untuk pengembangan pembelajaran selanjutnya.

Adapun bentuk soal yang yang berbasis inkuiri dapat berupa, seerti dikemukakan
oleh Hodgson & Scanlon (1985),sebagai berikut:

1. Tes untuk kerja (performance task), dengan ketentuan:
a. Tes dilaksanakan dengan melakukan investigasi;
b. Tes dilaksanakan dengan melakukan observasi;

2. Tes tulis, dengan ketentuan-ketentuan yang meliputi
a. Merencanakan suatu investigasi;
b. Menjelaskan suatu informasi dengan mengaplikasikan konsep sains melalui data
pengamatan atau data hasil investigasi;
c. Melalui hipotesis
d. Menggunakan tabel, grafik atau chart dalam menjelaskan konsep sains;dan
e. Membuat kesimpulan sebagai hasil pengamatan yang dapat membangun pemahaman
siswa terhadap konsep-konsep sains.

Ditinjau dari aspek inkuiri, kriteria pembuatan soal-soal diatas merupakan langkah-
langkah yang terdapat dalam langkah-langkah yang terdapat dalam tahap pembelajaran
inkuiri. Evaluasi yang diberikan akan sesuai dengan konsep pembelajaran yang telah
dilaksanakan serta sesuai dengan hakikat sains. Sebaiknya evaluasi dilakukan atau
direncanakan dalam pembelajaran.

D. Tugas Utama Guru Dalam Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar

Pada umumnya, tugas-tugas guru sekolah dasar, baik yang mengajar IPA ataupun
sains maupun pelajaran lainnya adalah sama. Ditinjau dari pengertian guru menurut
Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik, baik pada jenjang pendidikan usia dini, jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta di perguruan tinggi.

Jelas bahwa tugas utama guru sebagaimana yang dikemukakan dalam undang-
undang guru tersebut adalah bahwa guru mempunyai tugas sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pemberi evaluasi kepada peserta didik, baik
yang mengajar di tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar, maupun sekolah
menengah. Tugas ini sejalan dengan definisi guru yang dikemukakan oleh Hasbullah
(2006), bahwa guru adalah orang yang berfungsi sebagai pembimbing untuk
menumbuhkan aktivitas peserta didik dan sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab

terhadap pelaksanaan pendidikan. Guru tidak hanya mengajar dan memberikan informasi
saja pada siswa, akan tetapi guru juga mempunyai tugas melatih, membimbing, serta
mengarahkan siswa kepada materi pelajaran sehingga siswa mampu belajar dan bersikap
sebagai manusia yang terdidik secara akademis.

Guru sebagai profesi pendidik diharapkan memiliki kemampuan dalam
mengembangkan dirinya guna memenuhi tugas-tugas di lembaga pendidikan. Guru
diminta untuk memenuhi beberapa kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Ada dua
unsur pokok dalam kecakapan atau kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh guru,
yaitu: 1) menguasai bidang pengetahuan; dan 2) menguasai keterampilan pedagogis atau
kepiawaian dalam mengajar.

Pengembangan pengertian kompetensi disini, yaitu kompetensi pedagogik,
professional, pribadi, dan sosial. Lebih luas lagi bagaimana yang dijelaskan dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 Tahun 2003, ada sepuluh
kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam mengajar dan bersikap, yaitu:

1. Memiliki kepribadian ideal sebagai guru untuk keperluan
2. Penguasaan landasan kependidikan
3. Menguasai bahan pembelajaran
4. Kemampuan menyusun program pembelajaran
5. Kemampuan melaksanakan program pembelajaran
6. Kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
7. Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
9. Kemampuan bekerja sama dengan sejawat dan masyarakat
10. Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana

pembelajaran.

Selain itu, guru memiliki tugas, peran, dan fungsi dalam pembelajaran di sekolah,
maka guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran ini. Tanggung jawab guru tersebut menurut Wasliman (2007), meliputi:

1. Menguasai cara belajar mengajar yang efektif
2. Mampu membuat satuan pembelajaran (satpel)
3. Mampu dan memahami kurikulum dengan baik
4. Mampu mengajar di kelas
5. Menjadi model bagi peserta didik
6. Mampu membuat dan melaksanakan evaluasi, dll.

Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab sebagai ilmuwan. Guru sebagai
ilmuwan bertanggung jawab dan turut serta dalam memajukan ilmu pengetahuan,
terutama yang telah terjadi spesialisasinya, dengan melaksanakan penelitian dan
pengembangan.

Uraian diatas menunjukkan kompetensi guru secara umum, sedangkan secara
khusus dalam pembelajaran IPA, guru dapat melakukannya melalui praktikum sederhana
dengan pembelajaran berbasis inkuiri, maka guru memiliki tugas-tugas yang lebih
spesifik, seperti memfasilitasi siswa untuk dapat melakukan pengamatan dan diskusi
dimana pembelajaran ini membutuhkan peralatan dan bahan-bahan dalam
pembelajarannya. Dengan demikian, guru juga harus mengetahui prosedur, konsep, dan
keterampilan dalam pembelajaran siswa. Karena tidak ada perbedaan tahapan

pembelajaran IPA dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya, maka tugas-tugas guru
di dalam pembelajaran dapat meliputi: menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan melaksanakan evaluasi.

BAB 5 PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

A. PENGERTIAN MATEMATIKA

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada semua jenjang
pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan
matematika diajarkan di taman kanak-kanak secara informal.

Belajar matematika merupakan suatu syarat cukup untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang berikutnya. Karena dengan belajar matematika, kita akan bernalar secara kritis,
kreatif dan aktif. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol,
maka konsep- konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi
simbol-simbol itu.

Pada usia siswa sekolah dasar (7-8 tahun hingga 12-12 tahun), menurut teori kognitif
Piaget termasuk pada tahap operasional konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ini,
maka anak usia sekolah dasar mengalami kesulitan dalam memahami matematika yang
bersifat abstrak. Karena keabstrakannya matematika relative tidak mudah untuk dipahami
oleh siswa sekolah dasar pada umumnya.

Bidang studi matematika merupakan salah satu komponen pendidikan dasar dalam
bidang- bidang pengajaran. Bidang studi matematika ini diperlukan untuk proses
perhitungan dan proses berpikir yang sangat dibutuhkan orang dalam menyelesaikan
berbagai masalah.

Dalam kurikulum Depdiknas 2004 disebutkan bahwa standar kompetensi
matematika di sekolah Dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan
pembelajaran bukanlah penguasaan materi, namun yang diperlukan ialah dapat
memahami dunia sekitar, mampu bersaing, dan berhasil dalam kehidupan. Standar
kompetensi yang dirumuskan dalam kurikulum ini mencakup pemahaman konsep
matematika komunikasi matematis, koneksi matematis, penalaran dan pemecahan
masalah, serta sikap dan minat yang positif terhadap matematika.

Kata matematika berasal dari bahasa Latin, manthanein atau mathema yang berarti
"belajar atau hal yang dipelajari," sedang dalam bahasa Belanda, matematika disebut
wiskunde atau ilmu Pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas,
2001:7). Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisikan dengan baik,
penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau ketertarikan antar konsep yang
kuat.

Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam dunia kerja serta
memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebutuhan akan aplikasi matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk
keperluan sehari-hari, tetapi terutama dalam dunia kerja, dan mendukung perkembangan
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, matematika sebagai ilmu dasar perlu dikuasai dengan
baik oleh siswa, terutama sejak usia sekolah dasar.

Namun dalam kenyataan yang ada sekarang, penguasaan matematika selalu menjadi
permasalahan besar. Hal ini terbukti dari hasil ujian nasional (UN) yang diselenggarakan
memperlihatkan rendahnya persentase kelulusan siswa dalam ujian tersebut. Pada
umumnya, yang menjadi faktor penyebab ketidaklulusan siswa dalam ujian nasional ini
adalah rendahnya kemampuan siswa dalam materi pembelajaran matematika.


Click to View FlipBook Version