B.PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru
sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran
didalamnya mengandung makna belajar dan mengajar, atau merupakan kegiatan belajar
mengajar. Belajar tertuju pada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subjek
yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus
dilakukan guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara
terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta
antara siswa dengan siswa di dalam pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh
guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontribusi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasa yang baik terhadap materi
matematika.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang
mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar
dan mengajar. Kedu aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan
pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan
lingkungan di saat pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa bersama-sama
menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan
mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif.
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu melibatkan seluruh siswa
secara aktif. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil.
Pertama, dari segi proses pembelajaran sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif,
baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan
semangat belajar yang tinggi, dan percaya pada diri sendiri. Kedua, dari segi hasil,
pembelajaran dikatakan efektif apabila terjadi perubahan tingkah laku ke arah positif, dan
tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Menurut Wragg (1997), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
memudahkan siswa untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta,
keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau suatu hasil
belajar yang diinginkan. Proses pembelajaran matematika bukan hanya transfer ilmu dari
guru ke siswa, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interaksi antara guru
dengan siswa serta antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungannya.
Pembelajaran matematika bukan hanya sebagai transfer of knowledge, yang mengandung
makna bahwa merupakan objek dari belajar, namun hendaknya siswa menjadi subjek
dalam belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang dikatakan belajar matematika
apabila pada diri seseorang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika.
Menurut Hans Freudenthal dalam Marsigit (2008), matematika merupakan aktivitas
insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian,
matematika merupakan cara berpikir logis yang dipresentasikan dalam bilangan, ruang,
dan bentuk dengan aturan-aturan yang telah ada yang tak lepas dari aktivitas insani
tersebut. Pada hakikatnya, matematika tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, dalam
arti matematika memiliki
kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah kehidupan yang
membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti mau tidak mau harus berpaling kepada
matematika.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR
Menurut Soedjadi (1998: 40) tujuan pendidikan matematika yang dimaksudkan
adalah tujuan secara umum mengapa matematika diajarkan di berbagai
jenjang sekolah. Matematika sekolah dimaksudkan sebagai bagian matematika yang
diberikan untuk dipelajari siswa SD, SLTP, dan SLTA. Berdasarkan GBPP matematika
Mengemukakan ada tujuan umum dan tujuan khusus yaitu;
1. Tujuan umumnya yaitu;
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di
dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak
atas dasar pemikiran secara logis, rasional kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir
matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan.
2. Tujuan khususnya yaitu;
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan
bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih gunakan melalui
kegiatan matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih
lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat pertama
d. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
Dengan mengkaji secara mendalam tujuan tersebut, terlihat bahwa tujuan
pembelajaran matematika memuat nilai-nilai matematika yang bersifat formal dan
material. Sebagaimana dikatakan Soedjadi (1998: 45) bahwa tujuan pembelajaran
matematika di setiap jenjang pendidikan digolongkan menjadi (1) tujuan yang bersifat
formal, yaitu tujuan yang menekankan pada penataan nalar siswa serta pembentukan
pribadinya; (2) tujuan yang bersifat material, yaitu tujuan yang menekankan pada
penerapan matematika baik dalam matematika itu sendiri maupun di luar matematika.
D. PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Istilah pendekatan dapat dipahami sebagai suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang
ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut
bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus dikelola.
Jadi, pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan rekayasa perilaku untuk merangsang,
memelihara, meningkatkan, terjadinya proses berpikir pembelajar. Dengan demikian,
pendekatan pembelajaran merupakan suatu cara atau titik tolak terhadap proses
pengelolaan dalam pembelajaran.
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang berguna dan membantu
dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan
dengan hitung menghitung atau yang berkaitan dengan urusan angka-angka berbagai
macam masalah, yang memerlukan suatu keterampilan dan kemampuan untuk
memecahkannya. Oleh sebab itu, siswa sebagai salah satu komponen dalam pendidikan
harus selalu dilatih dan dibiasakan berpikir mandiri untuk memecahkan masalah. Karena
pemecahan masalah, selain menuntut siswa untuk berpikir juga merupakan alat utama
untuk melakukan atau bekerja dalam matematika. Melalui pelajaran matematika juga
diharapkan dapat ditumbuhkan kemampuan- kemampuan yang lebih bermanfaat untuk
mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa
depan.
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan komponen yang sangat penting
dalam matematika. Secara umum, dapat dijelaskan bahwa pemecahan masalah
merupakan proses menerapkan pengetahuan (knowledge) yang telah diperoleh siswa
sebelumnya ke dalam situasi yang baru. Pemecahan masalah juga merupakan aktivitas
yang sangat penting dalam pembelajaran matematika, karena tujuan belajar yang ingin
dicapai dalam pemecahan masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan maşalah adalah
pendekatan yang bersifat umum yang lebih mengutamakan kepada proses daripada hasil.
Proses merupakan faktor utama dalam pembelajaran pemecahan masalah, bukannya
produk sebagaimana dijumpai pada pembelajaran konvensional. Pengertian proses dalam
hal ini adalah ketika siswa belajar matematika ada proses reinvention (menemu- kan
kembali), artinya prosedur, aturan yang harus dipelajari tidaklah disediakan dan diajarkan
oleh guru dan siswa siap menampungnya, tetapi siswa harus berusaha menemukannya.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika ini merupakan model
pembelajaran yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan penerapannya di sekolah-
sekolah, termasuk di sekolah dasar. Dengan pemecahan masalah matematika ini siswa
melakukan kegiatan yang dapat mendorong berkem- bangnya pemahaman dan
penghayatan siswa terhadap prinsip, nilai, dan proses matematika. Hal ini akan membuka
jalan bagi tumbuhnya daya nalar, berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif. Dengan
menggunakan model pemecahan masalah ini dapat mengembangkan proses berpikir
tingkat tinggi, seperti: proses visualisasi, asosiasi, abstraksi manipulasi, penalaran,
analisis, sintesis, dan generalisasi yang masing-masing perlu dikelola secara
terkoordinasi. Kemampuan berpikir dan keterampilan yang telah dimiliki anak dapat
digunakan dalam proses pemecahan masalah matematis, dapat ditransfer ke dalam
berbagai bidang kehidupan. Pemecahan masalah matematis dapat membantu memahami
informasi secara lebih baik, dengan demikian bahwa pemecahan masalah merupakan
suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang ditemui untuk mencapai suatu tujuan yang
ingin dicapai.
Menurut Killen (1998), pemecahan masalah sebagai strategi pembelajaran adalah
suatu teknik di mana masalah digunakan secara langsung sebagai alat untuk membantu
siswa memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari. Dengan pendekatan
pemecahan masalah ini siswa dihadapkan pada berbagai masalah yang dijadikan bahan
pembelajaran secara langsung agar siswa menjadi peka dan tanggap terhadap semua
persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-harinya.
Adapun menurut Djamarah (2002), pemecahan masalah merupakan suatu metode
yang merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam pemecahan masalah dapat
digunakan metode-
metode lainnya yang dimulai dengan pencarian data sampai kepada penarikan
kesimpulan. Karena itu, pembelajaran yang bernuansa pemecahan masalah harus
dirancang sedemikian rupa sehingga mampu merangsang siswa untuk berpikir dan
mendorong menggunakan pikirannya secara sadar untuk memecahkan masalah.
Dilihat dari aspek kegunaan atau fungsinya, model pembelajaran atau pendekatan
pemecahan masalah ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu: pemecahan
masalah sebagai tujuan, proses, dan keterampilan dasar. Pertama, pemecahan masalah
sebagai tujuan, digunakan ketika pemecahan masalah dianggap sebagai tujuan secara
umum dalam pemecahan masalah, yang tidak tergantung dari masalah khusus, prosedur
atau metode, dan isi matematika, namun yang paling utama adalah pembelajaran
ditekankan pada bagaimana memecahkan masalah. Jadi, dalam interpretasi ini
pemecahan masalah bebas dari soal, prosedur, metode, atau isu khusus yang menjadi
pertimbangan utama adalah belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah yang
merupakan alasan utama untuk belajar matematika. Kedua, pemecahan masalah sebagai
proses digunakan ser bagai proses yang muncul dari interpretasinya sebagai proses
dinamika dan terus-menerus. Yang ditekankan dalam pemecahan masalah sebagai proses
ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis yang digunakan siswa dalam
pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemecahan masalah sebagai proses ini
dimaksudkan sebagai pemecahan yang menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh
sebelumnya ke dalam situasi baru dan tak dikenal. Yang menjadi pertimbangan utama
dalam hal ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis yang siswa gunakan dalam
memecahkan masalah. Bagian-bagian proses pemecahan masalah ini sangatlah penting
dan menjadi fokus dari kurikulum matematika. Ketiga, pemecahan masalah sebagai
keterampilan dasar, yakni menyangkut keterampilan minimal yang harus dimiliki siswa
dalam matematika, dan keterampilan minimal yang diperlukan seseorang agar dapat
menjalankan fungsinya dalam masyarakat.
Adapun jika dilihat dari jenisnya, pendekatan pemecahan masalah juga dapat
dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yang menurut Bay (2000) terdiri atas: mengajar
untuk pemecahan masalah, mengajar tentang pemecahan masalah, dan mengajar melalui
pemecahan masalah.
Pertama, mengajar untuk pemecahan masalah (teaching for problem solving) adalah
model pembelajaran yang ditujukan untuk mengajarkan konsep terlebih dahulu,
kemudian siswa menerapkan pengetahuannya pada situasi pemecahan masalah.
Pendekatan ini pada umumnya terdapat dalam buku teks, di mana soal latihan diikuti
oleh soal cerita dengan penerapan konsep yang sama.
Kedua, mengajar tentang pemecahan masalah (teaching about problem solving)
adalah model pembelajaran yang dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana
menerapkan strategi pemecahan masalah, tidak perlu mengajarkan konten
matematikanya. Pendekatan ini adalah mengajarkan strategi atau heuristis untuk
menyelesaikan masalah. Salah satu cara yang populer yaitu pemecahan masalah dengan
mengajukan empat langkah pemecahan masalah, yaitu:
1. Memahami masalah
2. Merencanakan masalah
3. Melaksanakan perhitungan
4. Memeriksa kembali proses dan hasil perhitungan
Ketiga, mengajar melalui pemecahan masalah (teaching via problem solving), yaitu
pembelajaran ditempuh melalui masalah yang konkret dan perlahan-lahan menuju
abstrak. Pengajaran ini bertujuan mengajarkan konten matematika dalam suatu
lingkungan pemecahan masalah yang berorientasi inkuiri.
Dalam kajian ini, penulis memfokuskan pada jenis pemecahan masalah yang ketiga,
yaitu mengajar melalui pemecahan masalah, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai
pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah. Di mana dalam pembelajaran
melalui pemecahan masalah ini, guru harus dapat membangkitkan minat siswa untuk
terlibat dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara
bertahap agar siswa dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Menurut Reys
(1980), sedikitnya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran melalui
pemecahan masalah agar siswa berminat terhadap masalah yang sedang dihadapinya,
yaitu:
1. Memberikan pengalaman langsung aktif, dan berkesinambungan dalam
menyelesaikan soal beragam
2. Menciptakan hubungan yang positif antara minat dan keberhasilan siswa
3. Menciptakan hubungan akrab antara siswa, permasalahan, perilaku pemecahan
masalah, dan suasana kelas.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran melalui pemecahan
masalah ini ialah siswa mampu memahami proses dan prosedurnya, sehingga siswa
terampil menentukan dan mengidentifikasi kondisi dan data yang relevan. Dengan
adanya kemampuan siswa dalam memahami proses ini juga siswa mampu
menggeneralisasikan masalah, merumuskan, dan menghasilkan keterampilan yang telah
dimiliki. Akhirnya, siswa akan dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan
masalah.
Menurut Killen (1998), pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam
pembelajaran ini, sebagai berikut:
1. Dapat mengembangkan jawaban siswa yang bermakna menuju pemahaman yang
lebih baik mengenai suatu materi
2. Memberikan tantangan untuk siswa, dan mereka dapat memperoleh kepuasan besar
ketika menemukan pengetahuan baru untuk diri mereka sendiri
3. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran
4. Membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka kepada masalah-masalah dunia
nyata
5. Membantu siswa bertanggung jawab untuk membentuk dan mengarahkan
pembelajaran mereka sendiri
6. Mengembangkan skill-skill berpikir kritis siswa dan kemampuan beradaptasi dengan
situasi-situasi pembelajaran baru
7. Meningkatkan interaksi siswa dan kerja tim, oleh karena itu meningkatkan skill-skill
interpersonal siswa
Selain itu, pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam pelajaran
matematika ini, karena pemecahan masalah berguna untuk kepentingan matematika itu
sendiri dan berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan lain dalam masyarakat.
Dengan memanfaatkan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah,
maka siswa menjadi lebih kritis, analitis dalam mengambil keputusan di dalam
kehidupan. Dengan kata
lain, pemecahan masalah matematika yang diajarkan pada siswa hasilnya adalah siswa
memiliki pemahaman yang baik tentang suatu masalah, mampu mengkomunikasikan ide-
ide dengan baik, mampu mengambil keputusan, memiliki keterampilan tentang
bagaimana mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis dan menyadari betapa
perlunya meneliti kembali hasil yang telah diperoleh.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, guru harus dapat membangkitkan minat
siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa
secara bertahap agar siswa dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Dalam
pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah siswa diharapkan dapat memahami proses
dan prosedurnya, sehingga siswa terampil menentukan dan mengidentifikasikan kondisi
dan data yang relevan, generalisasi, merumuskan, dan mengorganisasikan keterampilan
yang telah dimiliki. Akhirnya, siswa akan dapat belajar secara mandiri mengenai
pemecahan masalah. Di dalam pembelajaran pemecahan masalah dibutuhkan suatu
teknik-teknik, prosedur, dan langkah- langkah (strategi) tertentu, sehingga siswa dapat
memecahkan masalah dalam tingkat kesulitan yang bervariasi.
Selanjutnya, Polya (1985: 5) menyebutkan ada empat langkah dalam pembelajaran
pemecahan masalah, yaitu:
1. Memahami masalah, langkah ini meliputi:
a. Apa yang diketahui, keterangan apa yang diberikan, atau bagaimana keterangan soal
b. Apakah keterangan yang diberikan cukup untuk mencari apa yang
ditanyakan c.. Apakah keterangan tersebut tidak cukup, atau keterangan itu
berlebihan
d. Dan buatlah gambar atau notasi yang sesuai.
2. Merencanakan penyelesaian, langkah ini
terdiri atas:
a. Pernahkah ada soal yang serupa dalam bentuk
lain
b. Rumus mana yang dapat digunakan dalam masalah ini
c. Perhatikan apa yang ditanyakan
d. Dapatkah hasil dan metode yang lalu digunakan di sini
3. Melalui perhitungan, langkah ini menekankan pada pelaksanaan rencana
penyelesaian yang meliputi:
. Memeriksa setiap langkah apakah sudah benar atau belum
a. Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar
b. Melaksanakan perhitungan sesuai dengan rencana yang dibuat
4. Memeriksa kembali proses dan hasil. Langkah ini menekankan pada
bagaimana cara memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh, yang terdiri dari:
. Dapatkah diperiksa kebenaran jawaban
a. Apakah jawaban itu dicari dengan cara lain
b. Dapatkah jawaban atau cara tersebut digunakan untuk soal-soal lain
Dengan mengikuti langkah-langkah atau strategi dari Polya itu, berarti siswa akan
dituntut mulai dari pemecahan masalah, memikirkan cara pemecahannya, sampai siswa
dapat melakukan pemecahannya. Dengan demikian, strategi pemecahan masalah juga
dapat diartikan sebagai suatu cara atau prosedur pemecahan masalah yang langkah-
langkahnya dirancang untuk memudahkan siswa berpikir untuk menemukan pola
pemecahan yang tepat. Karena itu, strategi pemecahan masalah dapat mempengaruhi
proses berpikir seseorang dalam memperoleh
ide-ide baru yang berguna untuk pemecahan masalah. Agar pembelajaran pemecahan
masalah ini mampu membantu siswa dalam memahami konsep-konsep matematika,
menurut Djamarah dan Zain (2002: 105) ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh guru
dalam menerapkan pembelajaran ini, yaitu:
1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir
siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa
2. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering membutuhkan
waktu yang cukup banyak, oleh sebab itu, guru harus membuat suatu desain
pembelajaran sebaik mungkin, sehingga tujuan dari kurikulum tetap tercapai dengan
waktu yang disediakan
3. Harus mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima
informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan masalah
sendiri atau kelompok
Dalam menerapkan pendekatan pemecahan masalah di dalam kelas, diharapkan
kepada guru membantu siswa dalam menumbuhkan semangat atau motivasi dalam
memecahkan masalah. Dalam hal ini, guru harus membimbing dan merasa yakin bahwa
siswa sudah memahami permasalahannya, jika belum atau tidak memahami
permasalahannya maka minat siswa akan hilang, membantu siswa untuk mengumpulkan
materi guna menolong dan menyusun rencana penyelesaian. Siswa juga diarahkan untuk
dapat mengidentifikasi seluruh syarat yang diketahui untuk membangun informasi yang
didapat dan berusaha untuk menciptakan iklim atau suasana yang kondusif dalam
pemecahan masalah.
Kesimpulannya bahwa pendekatan pemecahan masalah dapat membantu siswa
merealisasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh dan dapat diterapkan pada situasi
baru, dan proses ini menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan baru. Dengan
menggunakan pendekatan atau model pembelajaran pemecahan masalah ini
memungkinkan siswa itu menjadi lebih kritis dan analitis dalam mengambil keputusan
dalam kehidupan. Selain itu, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran ini
mengajarkan siswa untuk belajar berpikir (learning to think) atau belajar bernalar
(learning to reason), yaitu berpikir atau bernalar mengaplikasikan pengetahuan-
pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya untuk memecahkan masalah-masalah baru
yang belum pernah dijumpai. Dengan pembelajaran pemecahan masalah menghendaki
siswa belajar secara aktif, bukannya guru yang lebih aktif dalam menyajikan materi
pelajaran. Belajar aktif dapat menumbuhkan sikap kreatif. Sikap kreatif yang dimaksud
ialah sifat kreatif mencari sendiri, menemukan, merumuskan, atau menyimpulkan
sendiri.
E.PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
Pendekatan realistik merupakan suatu pendekatan atau cara pembelajaran dimana
mendekatkan siswa kepada hal yang bersifat nyata yaitu dengan memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai materi pembelajaran. Siswa dalam pendekatan realistik
dituntun agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran yakni dalam memecahkan masalah
matematika baik secara individu maupun diskusi kelompok. Dalam pendekatan tersebut
guru bersifat sebagai fasilitator
kegiatan pembelajaran karena pembelajaran realistik bertajuk situated learning yaitu
proses pembelajaran yang diarahkan kepada dunia nyata atau student center.
Dengan demikian Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan
metodologi pembelajaran yang mengutamakan kenyataan dan lingkungan sebagai alat
bantu pembelajaran dimana mempunyai maksud kebermaknaan kepada siswa sehingga
pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
Terdapat lima karakteristik dalam pendekatan pembelajaran realistik yang
dikemukakan oleh Gravemeijer (Maulana, dkk. 2009) diantaranya sebagai berikut ini.
A. Phenomenological exploration or use contex.
Konteks merupakan suatu lingkungan keseharian peserta didik yang nyata. Dalam
matematika konteks ini tidak selalu diartikan konkret, melainkan dapat juga sesuatu yang
telah dipahami peserta didik atau dapat dibayangkan oleh peserta didik. Konteks juga
tidak selalu dihubungkan dengan pengalaman peserta didik.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika
realistik, guru harus memanfaatkan pengetahuan awal peserta didik untuk memahami
konsep- konsep matematika dengan memberikan suatu permasalahan yang kontekstual.
B. The use models or bringing by vertical instrument.
Model atau gambar diarahkan untuk memberikan pemahaman terhadap peserta didik
dari model konkret atau nyata menuju ke model abstrak. Dalam proses menggunakan
model ini, peserta didik diharapkan dapat menemukan hubungan antara bagian-bagian
masalah kontekstual dan menyampaikannya ke dalam model matematika melalui bentuk
skema, rumusan, serta bentuk visual. Bentuk model ini bertujuan untuk menjembatani
antara masalah matematika yang kontekstual dengan matematika formal yang bersifat
vertikal. Dari karakteristik ini diharapkan peserta didik mampu mengembangkan
kemampuan berpikir logis, kritis, dapat merepresentasikan dan berkomunikasi dalam
matematika.
C. The use of students own production and constructions of students contributions
Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari kontribusi peserta
didik itu sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal kearah yang lebih
formal atau baku melalui bimbingan seorang guru. Strategi-strategi informal peserta
didik berupa skema, grafik, diagram, atau simbol-simbol dalam matematika serta
prosedur pemecahan masalah
1. Pemeran Arti (interpretation)
Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya
dengan kata- kata dan frasa, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi
dari sebuah ide.
2. Pembuatan Ekstrapolasi 9 (extrapolation)
Ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah
pemikiran, gambaran dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan
dengan konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif yang ketiga,
yaitu penerapan yang menggunakan suatu bahan yang sudah dipelajari dalam
situasi baru yaitu berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.
Adapun menurut Skemp dalam Sumarno (1987). Pemahaman matematis dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Pemahaman Instrumental
Pemahaman instrumental dapat diartikan sebagai pemahaman konsep atau
prinsip tanpa kaitan dengan yang lainnya dan dapat menerapkan rumus dalam
perhitungan sederhana. Dalam hal ini. Hanya hafal rumus dan memahami urutan
pengerjaan atau algoritme.
2. Pemahaman Relasional
Pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada
penyelesaian masalah yang lebih luas, dapat mengaitkan suatu konsep atau prinsip
dengan konsep lainnya dan sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Pemahaman matematika yang perlu diterapkan kepada anak didik di sekolah dasar
sebagai pemahaman sejak dini sedikitnya meliputi:
1. Kemampuan merumuskan strategi penyelesaian
2. Menerapkan perhitungan sederhana
3. Menggunakan simbol untuk mempresentasikan konsep
4. Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain yang berkaitan dengan pecahan.
Penerapan pemahaman matematis ini sangat penting untuk siswa dalam rangka
belajar matematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman
yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman instrumental, tetapi sampai kepada
pemahaman rasional. Menurut Ausubel (1986), belajar bermakna adalah bila informasi
yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki.
Artinya, siswa dapat mengaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain
sehingga belajar lebih mengerti.
D. KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS
Komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
yang terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang
tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain di
lingkungannya. Satu-
satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain di lingkungannya ialah
komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.
Komunikasi, secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan
suatu pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik
langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media. Di dalam berkomunikasi
tersebut harus dipikirkan bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan seseorang itu
dapat dipahami oleh orang lain. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi,
orang dapat menyampaikan dengan berbagai bahasa termasuk bahasa matematis.
Adapun komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa dialog atau
saling hubungan yang terjadi di lingkungan kelas, di mana terjadi pengalihan pesan, dan
pesan yang dialihkan berisikan tentang materi matematika yang dipelajari siswa,
misalnya berupa konsep, rumus, atau strategi penyelesaian suatu masalah. Pihak yang
terlibat dalam peristiwa komunikasi di lingkungan kelas yaitu guru dan siswa. Cara
pengalihan pesannya dapat secara lisan maupun tertulis.
Dalam proses pembelajaran akan selalu terjadi suatu peristiwa saling berhubungan
atau komunikasi antara pemberi pesan (guru) yang memiliki sejumlah unsur dan pesan
yang ingin disampaikan, serta cara menyampaikan pesan kepada siswa sebagai penerima
pesan. Dalam konteks pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa, pemberi
pesan tidak terbatas oleh guru saja melainkan dapat dilakukan oleh siswa maupun media
lain, sedangkan unsur dan pesan yang dimaksud adalah konsep-konsep matematika, dan
cara menyampaikan pesan dapat dilakukan baik melalui lisan maupun tulisan.
Kemampuan komunikasi matematis menjadi penting ketika diskusi antar siswa
dilakukan, dimana siswa diharapkan mampu menyatakan, menjelaskan, menggambarkan,
mendengar, menanyakan, dan bekerja sama sehingga dapat membawa siswa pada
pemahaman yang mendalam tentang matematika. Dalam hal ini, kemampuan komunikasi
dipandang sebagai kemampuan siswa mengkomunikasikan matematika yang dipelajari
sebagai isi pesan yang harus disampaikan. Dengan siswa mengkomunikasikan
pengetahuan yang dimilikinya, maka dapat terjadi renegosiasi respons antarsiswa, dan
peran guru diharapkan hanya sebagai filter dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kemampuan komunikasi matematis itu juga penting dimiliki oleh setiap
siswa dengan beberapa alasan mendasar, yaitu: (1) kemampuan komunikasi matematis
menjadi kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi; (2)
kemampuan komunikasi matematis sebagai modal keberhasilan bagi siswa terhadap
pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; dan (3)
kemampuan komunikasi matematis sebagai wadah bagi siswa dalam berkomunikasi
dengan temannya untuk memperoleh informasi, berbagai pikiran.
Beberapa kriteria yang dipakai dalam melihat seberapa besar kemampuan siswa
dalam memiliki kemampuan matematis pada pembelajaran matematika adalah
sebagaimana yang dikemukakan oleh NCTM (1989), sebagai berikut:
1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
matematika baik secara lisan maupun dalam bentuk visual lainnya.
3. Kemampuan menggunakan istilah, notasi matematika dan struktur-strukturnya
untuk menyajikan ide, menggambarkan hubungan dan model situasi.
Adapun menurut Sumarno (1987), kemampuan komunikasi matematis siswa dapat
dilihat dari kemampuan mereka dalam hal-hal, sebagai berikut:
1. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan dan tulisan dengan
benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar.
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.
4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
6. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi.
7. Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.
Dari kriteria-kriteria kemampuan komunikasi matematis seperti yang dikemukakan di
atas, dapat dielaborasi menjadi aspek-aspek komunikasi, sebagai berikut:
1. Representasi (representation), diartikan sebagai bentuk baru dari hasil translasi
suatu masalah atau ide, atau translasi suatu diagram dari model fisik ke dalam
simbol atau kata-kata. Misalnya, bentuk perkalian ke dalam model konkret, suatu
diagram ke dalam bentuk simbol. Representasi dapat membantu anak
menjelaskan konsep atau ide dan memudahkan anak mendapatkan strategi
pemecahan. Selain itu, dapat meningkatkan fleksibilitas dalam menjawab soal
matematika.
2. Mendengar (listening), dalam proses diskusi aspek mendengar salah satu aspek
yang sangat penting. Kemampuan siswa dalam memberikan pendapat atau
komentar sangat terkait dengan kemampuan mendengarkan, terutama menyimak,
topik-topik utama atau konsep esensial yang didiskusikan. Siswa sebaiknya
mendengar dengan hati-hati manakala ada pertanyaan dan komentar dari
temannya. Mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu
grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap pengetahuan
matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif.
3. Membaca (reading), kemampuan membaca merupakan kemampuan yang
kompleks, karena di dalamnya terkait aspek mengingat, memahami,
membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasikan, dan akhirnya
menerapkan apa yang terkandung dalam bacaan.
4. Diskusi (discussing), merupakan sarana bagi seseorang untuk dapat
mengungkapkan dan merefleksikan pikiran-pikirannya berkaitan dengan materi
yang diajarkan. Aktivitas siswa dalam diskusi tidak hanya meningkatkan daya
tarik antara partisipan tetapi juga dapat meningkatkan cara berpikir kritis. Dengan
diskusi ini memungkinkan proses pembelajaran akan lebih mudah dipahami.
Kelebihan lain dari diskusi ini antara lain: (a) dapat mempercepat pemahaman
materi pelajaran dan kemahiran menggunakan strategi; (b) membantu siswa
mengkonstruksi pemahaman matematis; (c) menginformasikan bahwa para ahli
matematika biasanya tidak memecahkan masalah
sendiri-sendiri tetapi membangun ide bersama pakar lainnya dalam satu tim; dan
(d) membantu siswa menganalisis dan memecahkan masalah secara bijaksana.
5. Menulis (writing), kegiatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengungkapkan dan
merefleksikan pikiran, dipandang sebagai proses berpikir keras yang dituangkan di atas
kertas. Menulis adalah alat yang bermanfaat dari berpikir karena siswa memperoleh
pengalaman matematika sebagai suatu aktivitas yang kreatif. Menulis dapat meningkatkan
taraf berpikir siswa ke arah yang lebih tinggi (higher order thinking).
Dalam proses pembelajaran matematika, berkomunikasi dengan menggunakan
komunikasi matematis ini perlu ditumbuhkan, sebab salah satu fungsi pelajaran
matematika yaitu sebagai cara mengomunikasikan gagasan secara praktis, sistematis, dan
efisien. Komunikasi merupakan bagian penting dari pendidikan matematika.
Sebagaimana dikemukakan oleh Asikin (2002), bahwa peran komunikasi dalam
pembelajaran matematika, yaitu:
1. Dengan komunikasi, ide matematika dapat dieksploitasi dalam berbagai
perspektif, membantu mempertajam cara berpikir siswa, dan mempertajam
kemampuan- kemampuan siswa dalam melihat berbagai kaitan materi
matematika.
2. Komunikasi alat untuk mengukur kemampuan pemahaman dan merefleksi
pemahaman matematika siswa.
3. Melalui komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan mengkonsolidasikan
pemikiran matematika mereka.
4. Komunikasi antar siswa dalam pembelajaran matematika sangat penting untuk
pengkonstruksian pengetahuan matematika, pengembangan kemampuan
pemecahan masalah, peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa percaya diri,
serta peningkatan keterampilan sosial.
5. Menulis dan berkomunikasi (writing and talking) dapat menjadi alat yang sangat
bermakna untuk membentuk komunitas matematika yang inklusif.
Agar komunikasi matematika itu dapat berjalan dan berperan dengan baik, maka
diciptakan suasana yang kondusif dalam pembelajaran agar dapat mengoptimalkan
kemampuan siswa dalam komunikasi matematis. Siswa sebaiknya diorganisasikan ke
dalam kelompok-kelompok kecil yang dapat dimungkinkan terjadinya komunikasi multi-
arah yaitu komunikasi siswa dengan siswa dalam satu kelompok.
Kelompok-kelompok kecil tersebut terdiri dari 4-6 orang siswa yang memiliki
kemampuan heterogen. Di dalam kelompok tersebut siswa menyelesaikan tugas dan
memecahkan masalah. Dalam kelompok-kelompok kecil itu memungkinkan timbulnya
komunikasi dan interaksi yang lebih baik antar siswa. Mempertinggi kemampuan
komunikasi matematis secara alami yaitu dengan memberikan kesempatan belajar
kepada siswa dalam kelompok kecil di mana mereka dapat berinteraksi.
Pada saat pembagian kelompok itu perlu diperhatikan komposisi siswa yang pandai,
sedang, dan kurang. Kehadiran siswa pandai dapat menjadi tutor sebaya bagi rekan-
rekannya. Bantuan belajar dari teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan,
bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu,
dan sebagainya untuk bertanya maupun minta bantuan pada teman sebaya.
Melalui komunikasi yang terjadi di kelompok-kelompok kecil, pemikiran matematik
siswa dapat diorganisasikan dan dikonsolidasikan. Pengkomunikasian matematika yang
dilakukan siswa pada setiap kali pelajaran matematika, secara bertahap tentu akan dapat
meningkatkan kualitas komunikasi, dalam arti bahwa pengkomunikasian pemikiran
matematika siswa tersebut makin cepat, tepat, sistematis, dan efisien.
E.SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sikap diartikan sebagai perbuatan dan
sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan. Menurut Unnes (2008), sikap
merupakan kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang khusus terhadap
stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk
mendekat atau menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah
itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep, dan sebagainya.
Yara (2009: 364) mengartikan sikap sebagai konsep yang memperhatikan cara
seorang individu berpikir, bertindak, dan bertingkah laku. Sikap mempunyai pengaruh
yang serius untuk siswa, guru, kelompok sosial yang berhubungan dengan individu siswa
dan seluruh sistem di sekolah. Sikap dibentuk sebagai hasil dari beberapa pengalaman
belajar. Sikap juga dapat dibentuk secara sederhana dengan mengikuti contoh atau
pendapat orang tua, guru, dan teman. Perubahan atau peniruan sikap juga dapat dibentuk
dari situasi pembelajaran. Dalam hal ini, siswa mencontoh dari sifat guru untuk
membentuk sikap mereka.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
dalam diri siswa dan luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa salah satunya adalah
sikap siswa. Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif
siswa terhadap matematika. Sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan karena
berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika. Siswa yang menyukai matematika
prestasinya cenderung tinggi dan sebaliknya siswa yang tidak, menyukai matematika
prestasinya cenderung rendah.
Sikap merupakan salah satu komponen dari aspek afektif, yang merupakan
kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif suatu objek,
situasi, konsep, atau kelompok individu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh
Thorndike dan Hagen yang menyatakan sikap sebagai suatu kecenderungan untuk
menerima atau menolak kelompok- kelompok individu, atau institusi sosial tertentu.
Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau
negatif suatu objek, situasi, konsep, atau orang lain. Matematika dapat diartikan sebagai
suatu konsep
atau ide abstrak yang penalarannya dilakukan dengan cara deduktif aksiomatis. Hal ini
dapat disikapi oleh siswa berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau sebaliknya.
Dengan demikian, sikap siswa terhadap matematika adalah kecenderungan
seseorang untuk menerima (suka) atau menolak (tidak suka) terhadap konsep atau objek
matematika. Sikap merupakan ukuran suka atau tidak suka seseorang .tentang
matematika, yaitu kecenderungan seseorang untuk terlibat atau menghindar dari kegiatan
matematika, siswa yang menerima matematika, berarti bersikap positif sedangkan siswa
yang menolak matematika bersikap negatif.
Bagi siswa yang bersikap positif terhadap matematika memiliki ciri : menyenangi
matematika, terlihat sungguh-sungguh belajar matematika, memperhatikan guru dalam
menjelaskan materi matematika, menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu,
berpartisipasi aktif dalam berdiskusi dan mengerjakan tugas-tugas rumah dengan tuntas.
Adapun siswa yang bersikap negatif terhadap matematika, jarang menyelesaikan tugas
matematika, dan merasa cemas dalam mengikuti pelajaran matematika.
Penelitian tentang komponen sikap yang meliputi pandangan, kekhawatiran, dan
keyakinan siswa terhadap matematika dilakukan di sebuah sekolah di Singapura oleh
Lianghuo, dkk. Hasil penelitian tersebut menunjukkan:
a. Pandangan siswa terhadap matematika
Kebanyakan siswa merasa tertarik terhadap matematika dan mereka berniat untuk
meningkatkan kemampuan mereka, akan tetapi mereka tidak mau menggunakan
waktu mereka lebih banyak untuk mempelajari matematika. Hal ini menunjukkan
kepada kita bahwa matematika yang dipelajari di sekolah terlalu banyak dan hanya
berkisar pada masalah rutin dengan pendekatan close-ended.
b. Kekhawatiran tentang matematika
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa merasa khawatir dengan
matematika dan pembelajaran matematika. Ini menunjukkan hal yang positif karena
menunjukkan bahwa kebanyakan siswa akan serius mempelajari matematika. Akan
tetapi, ini juga mengindikasikan bahwa siswa kurang mempunyai rasa percaya diri,
ketakutan, dan sikap negatif terhadap matematika.
c. Keyakinan siswa akan matematika
Keyakinan siswa akan matematika dapat dilihat dari dua pertanyaan berikut: (1)
apakah siswa berpikir bahwa matematika itu berguna bagi dirinya dan kehidupannya
di masa datang? (2) bagaimana matematika bisa menjadi hal yang penting bagi
siswa? Tingginya siswa yang merasa yakin terhadap matematika menunjukkan
bahwa sebagian besar siswa merasa matematika itu penting bagi dirinya dan
kehidupannya mendatang. Hal ini memungkin guru untuk meningkatkan sikap
positif terhadap matematika.
BAB 6 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DASAR
A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai Wahana
untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya
bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk
perilaku kehidupan siswa sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dan
makhluk ciptaan tuhan yang maha esa, yang merupakan usaha untuk membekali siswa
dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warganegara
dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang
dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Dengan pendidikan kewarganegaraan ini diharapkan mampu Membina dan mengembangkan
anak didik agar menjadi warga negara yang baik. Menurut Somantri(1970) warga negara
yang baik adalah warga yang tahu mau dan mampu berbuat baik. Adapun menurut
winataputra(1978), warga negara yang baik adalah warga yang mengetahui, menyadari, dan
melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Menurut azyumardi Azra(2005) Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang
mengkaji dan membahas tentang pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule
of law, Ham, hak dan kewajiban warga negara serta proses demokrasi. Adapun menurut
Zamroni Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk
mempersiapkan warga masyarakat berikut kritis dan bertindak demokratis. Pendidikan
kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi
muda menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang
dialogial.
Adapun menurut tim Icce UIN Jakarta, Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu
proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dimana seseorang mempelajari orientasi,
sikap dan perilaku politik sehingga yang bersangkutan memiliki politik knowledge,
awareness, attitude, political efficacy, dan political participations, serta kemampuan
mengambil keputusan politik secara rasional.
dari beberapa definisi pendidikan kewarganegaraan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang memberikan
pemahaman dasar tentang pemerintahan, tata cara demokrasi, tentang kepedulian,sikap,
pengaturan politik yang mampu mengambil politik secara rasional, sehingga dapat
mempercepat warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang
berorientasi pada pengembangan berpikir kritis dan bertindak demokratis. Jadi Pendidikan
kewarganegaraan adalah usaha sadar dan terencana Dalam proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kecerdasan, kecakapan,
keterampilan serta kesadaran tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, penghargaan
terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan
gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, harga ikut berperan dalam
percaturan global.
B. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi
warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan negara
kesatuan Republik Indonesia.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan undang-
undang 1945 masih perlu ditingkatkan terus-menerus untuk memberikan pemahaman yang
mendalam tentang NKRI. Konsep konstitusi negara Republik Indonesia perlu ditanamkan
kepada seluruh komponen bangsa Indonesia khususnya generasi muda sebagai generasi
penerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka secara otomatis
pola pikir masyarakat berkembang dalam setiap aspek hal ini sangat berpengaruh besar
terutama dalam dunia pendidikan yang menurut adanya inovasi baru yang dapat
menimbulkan perubahan secara kualitatif yang berbeda dengan sebelumnya. Tanggung jawab
melakukan melaksanakan evaluasi diantaranya terletak pada penyelenggaraan pendidikan di
sekolah di mana guru memegang peran utama dan bertanggung jawab menyebarluaskan
gagasan baru baik terhadap siswa maupun masyarakat melalui proses pengajaran dalam kelas.
Kenyataan tersebut di atas belum sepenuhnya dipahami kalangan pendidikan
khususnya guru Sekolah Dasar proses pembelajaran di di kelas sangat membosankan dan
membuat peserta didik tertekan. Hal ini juga terjadi pada mata pelajaran Pendidikan. Mata
pelajaran PKN ini merupakan suatu mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada Pancasila undang-undang dan norma-
norma yang berlaku di masyarakat masih belum optimal disampaikan pada siswa.
Istilah Pendidikan Kewarganegaraan apabila dikaji secara mendalam berasal dari
kepustakaan asing yang memiliki dua istilah yaitu Civic education dan citizenship education.
Cogan (1999:4) menjelaskan kedua istilah ini sebagai berikut
1. Civic education, diartikan sebagai:..... the Foundation course Work in Scholl designer to
prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives ( suatu mata
pelajaran Dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga negara muda agar
setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat)
2. Citizenship education atau education for citizenship, diartikan sebagai berikut:.... The
more inclusive term and encompasses both their in school experiences as well as out-of
school or 'non-formal/informal' learning which takes place in the family, the religious
organizations, community organizations, the media etc., Which help to shope the total itu of
the citizen ( merupakan istilah generik yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan di
luar sekolah seperti yang terjadi di lingkungan keluarga, dalam organisasi keagamaan, dalam
organisasi kemasyarakatan dan dalam media yang membantunya untuk menjadi warga
negara seutuhnya).
Dari kedua istilah tersebut civic education ternyata lebih cenderung digunakan dalam
makna yang serupa untuk pelajaran di sekolah atau identik dengan PKN yang memiliki
tujuan utama mengembangkan siswa sebagai warga negara yang cerdas dan baik. Civic
Education atau Pendidikan Kewarganegaraan dirumuskan secara luas untuk mencakup proses
penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga
negara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran,
dan belajar, dalam proses penyiapan warga negara tersebut.
C. Landasan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, meningkatkan keyakinan akan ketangguhan Pancasila sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia. Pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan memiliki 2
(dua) dasar sebagai landasannya, landasan yang dimaksud adalah landasan hukum dan ideal.
a. Landasan hukum:
1. Undang-Undang Dasar 1945
Pembukaan UUD 1945. Pembukaan alinea kedua tentang cita-cita mengisi
kemerdekaan dan alinea keempat khusus tentang tujuan negara, yaitu keamanan
dan kesejahteraan.
Pasal 27 (3) (II), setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara. Pasal 30 ayat (1) (II), tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 31 ayat (1) (IV),
setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pasal 28 A-J tentang Hak
Asasi Manusia.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982
Undang-undang No. 20/1982 adalah tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertahanan
Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara 1982 No. 51, TLN 3234).
Pasal 18 Hak dan Kewajiban warga negara yang diwujudkan dengan keikutsertaan
dalam upaya bela negara diselenggarakan melalui pendidikan pendahuluan bela
negara sebagai bagian tidak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional.
Pasal 19 ayat (2) Pendidikan Pendahuluan Bela Negara wajib diikuti oleh setiap
warga negara dan dilaksanakan secara bertahap, yaitu:
(1). Tahap awal pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah dan dalam gerakan
Pramuka.
(2) Tahap lanjutan dalam bentuk Pendidikan Kewiraan pada tingkat Pendidikan
Tinggi.
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 tentang
Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Mahasiswa, serta Nomor 45/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi telah
ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Bahasa dan Pendidikan
Kewarganegaraan merupakan kelompok mata kuliah Pengembangan Kepribadian
yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi atau kelompok program
studi.
4. Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 43 Tahun 2006
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/2006 tentang Rambu-Rambu
Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi.
b. Landasan Ideal
Landasan ideal Pendidikan Kewarganegaraan yang sekaligus menjadi jiwa
dikembangkannya Kewarganegaraan adalah Pancasila.Pancasila sebagai sistem filsafat
menjiwai semua konsep ajaran Kewarganegaraan dan juga menjiwai konsep
ketatanegaraan Indonesia. Dalam sistematikanya dibedakan menjadi tiga hal, yaitu:
Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan Pancasila
sebagai ideologi negara. Ketiga hal itu dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan.
1. Pancasila sebagai Dasar Negara.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan dasar pemikiran tindakan negara dan
menjadi sumber hukum positif di Indonesia.Pancasila sebagai dasar negara pola
pelaksanaannya dipancarkan dalam empat pokok pikiran yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945 sebagai strategi
pelaksanaan Pancasila sebagai dasar negara.
Pembukaan UUD 1945 pokok pikiran pertama yaitu pokok pikiran persatuan yang
berfungsi sebagai dasar negara, merupakan landasan dirumuskannya wawasan
nusantara sebagai bagian dari geopolitik.Pokok pikiran kedua yaitu pokok pikiran
keadilan sosial yang berfungsi sebagai tujuan negara merupakan tujuan wawasan
nusantara sekaligus tujuan geopolitik Indonesia. Tujuan negara dijabarkan langsung
dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu tujuan berhubungan dengan segi
keamanan dan kesejahteraan dan ketertiban dunia. Geopolitik Indonesia pada
dasarnya adalah sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
2. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa.
Pancasila sebagai pandangan hidup merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur yang
diyakini kebenarannya.Perwujudan nilai-nilai luhur Pancasila terkandung juga dalam
konsep geopolitik Indonesia demi terwujudnya ketahanan nasional sebagai geostrategi
Indonesia sehingga ketahanan nasional ini disusun dan dikembangkan berdasarkan
geopolitik Indonesia. Perwujudan nilai-nilai Pancasila mencakup lima bidang
kehidupan nasional yaitu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
hankam yang disingkat dengan Ipoleksosbudhankam. Ipoleksosbudhankam menjadi
dasar pemikiran ketahanan nasional.
Dari lima bidang kehidupan nasional, bidang ideologi merupakan landasan dasar.
Ideologi itu berupa Pancasila sebagai pandangan hidup yang menjiwai empat bidang
lainnya. Dasar pemikiran ketahanan nasional di samping lima bidang kehidupan
nasional tersebut yang merupakan aspek sosial pancagatra didukung pula adanya
dasar pemikiran aspek alamiah trigatra yang merupakan geostrategi Indonesia.
3. Pancasila sebagai Ideologi Negara.
Pancasila sebagai ideologi negara merupakan kesatuan konsep-konsep dasar yang
memberikan arah dan tujuan dalam mencapai cita-cita bangsa dan negara. Cita-cita
bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dipancarkan dalam alinea kedua
Pembukaan UUD 1945 merupakan cita-cita untuk mengisi kemerdekaan, yaitu:
bersatu, berdaulat adil dan makmur.
D. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pembelajaran PKn Sekolah Dasar dimaksudkan sebagai suatu proses belajar mengajar
dalam rangka membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan membentuk
manusia Indonesia seutuhnya dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan
mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila UUD dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat yang diselenggarakan selama 6 tahun.
Esensi pembelajaran PKN bagi anak adalah bahwa secara kodrati maupun
sosiokultural dan yuridis formal keberadaan dan kehidupan manusia selalu membutuhkan
nilai moral dan norma. jangan kehidupannya, manusia memiliki keinginan, kehendak dan
kemauan (human desire) yang berbeda untuk selalu membina, mempertahankan,
mengembangkan dan meningkatkan aneka potensinya berikut segala perangkat
pendukungnya, sehingga mereka dapat mengarahkan dan mengendalikan dunia kehidupan
baik secara fisik maupun nonfisik ke arah yang lebih baik dan bermakna. Secara tegas,
Kosasih Djahiri menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak ada tempat
dan waktu kehidupan yang bebas nilai (value free), karena dengan nilai moral dan norma ini
akan menentukan ke arah pengenalan jati diri manusia maupun kehidupan (Djahiri,1996:2).
namun Sangat disayangkan bahwa dalam aplikasinya, pembelajaran PKn ini kurang banyak
diminati dan dikaji dalam dunia pendidikan dan persekolahan, karena kebanyakan lembaga
pendidikan formal dominan pada penyajian materi yang bersifat kognitif dan psikomotorik
belaka, kurang menyentuh pada aspek afektif hal ini bukan karena tidak disadari esensinya,
mainkan karena ketidakpahaman para pengajar. Padahal, bagi guru profesional, dituntut
untuk memberikan pembinaan keutuhan dari peserta didik agar tidak terjerumus pada erosi
nilai moral serta menjadi penyebab dehumanisasi, yang pada akhirnya manusia menjadi
arogan, egois dan individualistis, materialistis sekuler dan bahkan bersombong diri pada
penciptaannya.
Kenapa PKN itu perlu diajarkan kepada anak setidaknya ada tiga alasan yang
melandasi nya sebagaimana dikemukakan oleh Djahiri (1996: 8-9), yaitu:
1. Bahwa sebagai makhluk hidup, manusia bersifat multikodrati dan multifungsi- peran
(status); manusia bersifat multikompleks atau neopluralistis. manusia memiliki kodrat Ilahi,
sosial, budaya ekonomi dan politik.
2. Bahwa setiap manusia memiliki: sense of..., atau value of..., Dan conscience of...Sense of...
menunjukkan integritas atau keterkaitan atau kebutuhan manusia akan sesuatu. Sesuatu ini
bisa material, imaterial, atau kondisional atau waktu.
3. bahwa manusia ini unik(unique human). Hari ini karena potensinya yang mau di potensi
dan fungsi peran serta kebutuhan atau human desire ya multi peran serta kebutuhan.
Sejalan dengan pendapat Djahiri, Dasim Budimansyah dan sapriya (2012:1) tugas
pendapat bahwa pendidikan PKN ini sangat penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa sehingga pendidikan PKN ini harus dibangun atas dasar tiga paradigma, yaitu:
1. PKN secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia akhlak mulia, cerdas,
partisipatif dan bertanggung jawab.
2. PKN Secara teoritis dirancang sebagai strategi pembelajaran yang memuat dimensi
dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berinteraksi dan
terintegrasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral Pancasila, warga negara
yang demokratis dan bela negara.
3. PKN sejarah programmatic dirancang sebagai saksi pembelajaran yang menekankan pada
isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning
experience) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-
hari dan merupakan tuntutan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut ide, konsep dan moral Pancasila
kewarganegaraan yang demokratis dan bela negara.
memerhatikan uraian di atas maka jelas bahwasanya pembelajaran PKn ini pada intinya
harus diajarkan tidak hanya mentransfer ilmunya saja, tetapi harus sampai pada tahap
operasional sesuai dengan peranan peserta didik saat ini dan di masa mendatang. dengan
demikian pembelajaran PKn ini bukan hanya dalam bentuk konsep belaka, singa kurang
fungsional tidak muncul sebagai jati diri dan acuan perilaku praksis. Celakanya pendidikan
PKN malah hanya menjadi " pembelajaran hafalan" saja. Jadi, pendidikan PKN yang secara
pragmatis sarat dengan muatan aktif dengan dilaksanakan secara kognitif.
Kendala lainnya yaitu pendidikan di Indonesia diadakan pada berbagai persoalan dan
situasi Global yang berkembang cepat setiap waktu, baik yang bermuatan positif maupun
negatif atau bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dilain pihak, Dasim dan Sapriya(2012:3) mengemukakan beberapa permasalahan kurikulum
yang mendasar dan menjadi penghambat dan peningkatan kualitas pendidikan PKN, sebagai
berikut
1. Penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum pendidikan
dijabarkan secara kaku dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka terjadwal
sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan cara tatap muka di kelas menjadi sangat
dominan.
2. Pelaksanaan pembelajaran PKn yang lebih didominasi oleh kegiatan peningkatan dimensi
lainnya menjadi terbengkalai. di samping itu, pelaksanaan pembelajaran diperparah lagi
dengan keterbatasan fasilitas media pembelajaran.
3. pembelajaran yang terlalu menekankan pada dimensi kognitif itu berimplikasi pada
penilaian yang juga menekankan pada penguasaan kemampuan kognitif saja sehingga
mengakibatkan guru harus selalu mengajak target pencapaian materi.
Dari beberapa penelitian diketahui, daya tarik terhadap pelajaran PKn masih lemah,
karena membosankan dan cenderung tidak disukai siswa, dan metodenya tidak menentang
siswa secara intelektual (Azis Wahab, 2004:2). Pendapat lain menyatakan bahwa mata
pelajaran ini dalam pelaksanaannya menghadapi keterbatasan dan kendala terutama berkaitan
dengan kualitas guru keterbatasan dan kendala terutama berkaitan dengan kualitas guru,
keterbatasan fasilitas, dan sumber belajar (Fajar, 2004:2). Kajian kebijakan kurikulum,
kesimpulan bahwa pemahaman guru terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar
masih sangat beragam. Sesuai dengan kondisi yang dialami dalam pembelajaran PKn
diperlukan upaya untuk menemukan model pembelajaran dapat memecahkan masalah
pembelajaran.
E. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Tujuan Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar adalah untuk membentuk watak atau
karakteristik warga negara yang baik. Menurut Mulyasa (2007), tujuan mata pelajaran
Pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menjadikan siswa agar:
1. Mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup
maupun itu kewarganegaraan di negaranya.
2. mampu berpartisipasi dalam segala kegiatan-kegiatan secara aktif dan bertanggung jawab
sehingga baik bisa bertindak secara cerdas dalam semua.
3. bisa berkembang secara positif dan demokratis sehingga mampu hidup bersama dengan
bangsa lain di dunia dan mampu berinteraksi, serta mampu memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi dengan baik. hal ini akan sudah tercapai jika pendidikan nilai dan
norma tetap ditanamkan pada siswa sejak usia dini karena jika siswa tidak memiliki nilai
norma yang baik, maka tujuan Untuk mencapai warga negara yang baik akan mudah
terwujudkan.
Pentingnya pendidikan kewarganegaraan diajarkan di sekolah dasar ialah sebagai
pemberian pemahaman dan kesadaran bahwa setiap anak didik dalam mengisi kemerdekaan,
dimana kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh dengan keras dan penuh pengorbanan harus
diisi dengan upaya membangun kemerdekaan, mempertahankan kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara jadi materinya kita perlu memiliki apresiasi yang memadai
terhadap makna perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan. Apresiasikan
menimbulkan rasa senang, sayang, cinta, keinginan untuk memelihara melindungi membela
negara untuk yaitu Pendidikan Kewarganegaraan penting diajarkan di sekolah sebagai upaya
sadar menyiapkan warga yang mempunyai kecintaan dan kesetiaan dan keberanian bela
bangsa dan negara. mereka adalah para penerus bangsa yang akan mengisi bangsa ini pada
kehidupan yang datang. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu, berilmu, dan
berbudaya. maka dari itu diperlukan generasi muda yang tahu akan hak dan kewajiban dalam
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta peningkatan kualitas dirinya sebagai
manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun sosial demi terjaminnya keutuhan bangsa dan
negara dalam payung NKRI dan terciptanya masyarakat Indonesia yang berbudaya dan
bermartabat.
Pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar memberikan pelajaran kepada siswa
untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah atau di luar sekolah,
karena materi Pendidikan Kewarganegaraan menekankan pada pengalaman dan pembiasaan
dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian sederhana
sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.
Selain itu, perlunya Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan di sekolah dasar ialah agar siswa
sejak dini dapat memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk
menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan
oleh Pancasila dan UUD 1945, dan memahami nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, kata sikap
yang baik terhadap sesamanya, lawan jenisnya, maupun terhadap orang yang lebih tua.
melalui materi Pendidikan Kewarganegaraan juga dapat mendidik siswa agar dapat berpikir
kritis, rasional, dan kreatif menanggapi isu kewarganegaraan; dapat berpartisipasi secara aktif
dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara, Kak Anti Korupsi; siswa dapat berkembang secara positif dan
demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar
dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
Lebih luas tujuan pembelajaran PKn ini adalah agar siswa dapat memahami dan
melaksanakan hak dan kewajiban secara santun jujur dan demokratis serta ikhlas sebagai
warga negara terdidik dan bertanggung jawab. Agar peserta didik menguasai dan memahami
berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta dapat
mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila
wawasan nusantara dan ketahanan nasional. Dan yang tidak kalah pentingnya juga tujuan
mempelajari PKn ini agar Siswa memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai
kejuangan cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa tujuan PKn di Sekolah Dasar adalah
untuk menjadikan warga negara yang baik yaitu warga negara yang tahu mau dan sadar akan
hak dan kewajibannya. demikian diharapkan kelak dapat menjadi bangsa yang terampil dan
cerdas dan bersikap baik sehingga mampu mengikuti kemajuan teknologi modern.
Kenapa PKn harus dimulai dari sekolah dasar? Karena usia mereka haus akan
pengetahuan, sangat penting dan tepat untuk memberikan konsep dasar tentang wawasan
nusantara dan perilaku yang demokratis secara benar dan terarah, jika salah maka akan
berdampak terhadap pola pikir dan perilaku pribadi yang mempengaruhi pada jenjang
selanjutnya juga pada kehidupan di masyarakat. Jika diibaratkan mereka adalah bibit biasa
yang kita pupuk menjadi bibit unggul, yang diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang
bermutu, bermutu akhlaknya, ilmunya. untuk mencapai itu, kita tidak boleh salah memberi
pupuk, sebagai salah dalam memberi pengetahuan. Tanamkan konsep dasar tentang hak dan
kewajiban, wawasan nusantara, demokrasi, hak asasi, peraturan-peraturan, perilaku dan
sikap moral yang berketuhanan yang maha esa secara benar, terukur dan terencana, mobil
samping mereka juga sudah menjadi bagian dari masyarakat yang berinteraksi jadi segera di
arah ke mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah.
F. Fungsi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKn) mempunyai fungsi sebagai sarana
untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, berkomitmen setia kepada bangsa dan negara
Indonesia dengan merefleksikan diri sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan
berkarakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan menurut Mubarokah (2012) Fungsi pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan adalah :
1. Membantu generasi muda memperoleh pemahaman cita-cita nasional atau tujuan
negara
2. Dapat mengambil keputusan-keputusan yang bertanggung jawab dalam
menyelesaikan masalah pribadi, masyarakat dan negara
3. Dapat mengekspresikan cita-cita nasional dan dapat membuat keputusan keputusan
yang cerdas
4. Wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang
setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD NKRI
1945
G. Metode Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ialah penggunaan
metode atom model pembelajaran dalam menyampaikan materi pembelajaran secara tepat,
Iya memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta
mengimplementasikan hakikat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum
memenuhi harapan, seperti yang diinginkan.
Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di atas, suatu model pembelajaran yang efektif
dan efisien sebagai alternatif, itu model pembelajaran berbasis portofolio (portofolio based
learning), yang diharapkan mampu melibatkan seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotor siswa, serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran
sehingga Siswa memiliki suatu kebebasan berpikir, berpendapat, aktif dan kreatif. Melalui
model pembelajaran portofolio, diupayakan dapat membangkitkan minat pemahaman nilai-
nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif, serta diiringi Suatu sikap tanggung jawab.
Adapun alasan penggunaan model pembelajaran portofolio, yang mendasari kegiatan
serta pembelajaran PKn mengacu pada pendekatan sistem Contextual Teaching Learning
(CTL), model kegiatan sosial dan PKN, metode bercerita, model pembelajaran induktif, dan
model pembelajaran deduktif.
1.Model Contextual Teaching Learning
Model Contextual Teaching Learning (CTL) adalah bentuk pembelajaran yang
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan siswa dan pembelajarannya.
b. Dengan menggunakan waktu/ kekinian, yaitu masa yang lalu, sekarang dan yang akan
akan datang.
c. Lawan dari textbook centered.
d. Lingkungan budaya, sosial, pribadi, ekonomi, dan politik.
e. Belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas, bisa dilakukan di dalam kehidupan
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
f. Mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan
antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
g. Membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel dapat diterapkan dari satu
permasalahan ke permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lain.
Model CTL disebut juga REACT, yaitu relating (media dalam kehidupan nyata),
experiencing (dalam konteks eksplorasi, penemuan dan penciptaan). applying (belajar dengan
menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya), cooperating (belajar dalam konteks interaksi
kelompok), dan transferring (belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks baru
atau kontak lain).
2. Model kegiatan sosial dan pendidikan kewarganegaraan
Model yang dipelopori oleh Fred Newman mencoba mengajarkan pada siswa
bagaimana mempengaruhi kebijakan umum. Dengan demikian, pendekatan ini mencoba
memperbaiki kehidupan siswa dalam masyarakat atau negara, mencoba mengembangkan
kompetensi lingkungan dan memberikan dampak pada keputusan-keputusan kebijakan,
memiliki tingkat kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang bermoral. Model ini
mendorong partisipasi aktif siswa dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial dalam
masyarakat.
3. Metode Bercerita
Menciptakan pembelajaran PKn yang menyenangkan dengan metode bercerita,
menjadi salah satu teknik pembelajaran yang berguna dalam membangun karakter dan
kepribadian siswa. Dalam kegiatan ini, guru harus pandai memilih cerita yang sesuai dengan
perkembangan anak, juga diselaraskan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang sedang ditanamkan. Ajaklah anak-anak duduk melingkar di atas karpet. Perlihatkan
buku yang akan dibacakan. kondisikan siswa agar fokus pada cerita yang akan disampaikan.
Selain mengambil kisah-kisah dari buku cerita yang sudah ada guru dapat menciptakan
sebuah cerita dengan melibatkan anak dalam alur cerita. setelah selesai bercerita, guru dapat
mengajukan pertanyaan baik lisan maupun tertulis sesuai dengan isi cerita yang telah
didengarkan. Selain berguna mengukur sejauh mana pemahaman terhadap cerita, sebagai
alat penilaian Di akhir pembelajaran.
4. Metode Pembelajaran Induktif
Pendekatan ini dikembangkan oleh filsuf Francis bacon yang menghendaki penarikan
kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak
fakta semakin mendukung kesimpulan. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
model pembelajaran induktif ini, sebagai berikut:
a. Pemilihan prinsip; Guru harus memiliki konsep, , aturan yang akan disajikan dengan
pendekatan induktif.
b. pemberian contoh; guru menyajikan contoh khusus, yang mendukung prinsip, atau aturan
yang memungkinkan siswa untuk memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh.
C. Pemberian contoh lain; guru menyajikan contoh khusus, pendukung prinsip, atau aturan
yang memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh.
d. Menyimpulkan; guru menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh kemudian
disimpulkan dari contoh tersebut menuju sebuah prinsip yang hendak dicapai siswa.
5. Model Pembelajaran Deduktif
Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang mengutamakan penalaran dari
umum ke khusus. langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran dengan
pendekatan deduktif, sebagai berikut:
a. guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan.
b. Menyajikan aturan prinsip yang bersifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-
contoh.
c. guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara
keadaan khusus dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh media yang cocok.
d. guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan
umum itu merupakan gambaran dari keadaan khusus.
H. Macam Macam Pendekatan Pendidikan dalam Pendidikan kewarganegaraan
Beberapa pendekatan nilai dan moral yang digunakan dalam pembelajaran PKn
adalah sebagai berikut :
1. Evokasi
Pendekatan ini menekankan pada inisiatif siswa untuk mengekspresikan dirinya
secara spontan yang didasarkan pada kekebasan dan kesempatan. Pendekatan seperti ini baik
sekali namun dilihat dari budaya masyarakat ini terutama yang jauh dari kehidupan kota
melaksanakan pendekatan tersebut tentulah menghadapi kendala-kendala kultural dan
psikologikal. Untuk dapat mengimplementasikan pendekatan ini, peran guru amat diperlukan
dalam apa yang disebut dengan “breaking the ice” agar setiap anak merasakan adanya
suasana terbuka, bersahabat dan kondusif untuk dapat “menyatakan dirinya” menyatakan apa
yang menjadi pemikirannya dan mengungkapkan perasaannya.
Melatih siswa dengan cara seperti itu pada dasarnya merupakan salah satu bentuk
pendewasaan agar terbiasa dalam merasakan manfaat situasi seperti itu, sehingga untuk masa-
masa yang akan datang mereka pun dapat berbuat yang sama atau bahkan melebihinya.
Keberhasilan pendekatan tersebut juga amat bergantung pada dorongan dan rangsangan yang
diberikan guru dengan mengandalkan pada stimulus-stimulus tertentu. Selain peranan guru,
peranan keluarga dan masyarakat juga amat penting oleh karena apa yang dibicarakan dalam
kelas yang dibatasi oleh empat dinding kelas dapat member makna dalam belajar siswa.
Peranan kedua unsur tersebut dalam menumbuhkan keyakinan siswa tentang nilai moral yang
dibahas di kelas, harus sejalan dengan apa yang dilihat dan dialaminya dalam kehidupan di
keluarga dan di masyarakat. Jika tidak ada kesesuaian di antara ketiga unsur tersebut maka
akan terjadi konflik dalam diri anak yang dalam istilah Pendidikan Kewarganegaraan disebut
intrapersonal conflict yaitu konflik yang terjadi dalam diri siswa. Konflik dalam diri pribadi
anak itu dapat berlanjut menjadi konflik antar pribadi yang disebut interpersonal conflict
karena melihat tidak adanya kepekaan antara nilai yang dipelajari dan diyakininya dengan
apa yang terjadi di sekolah dan di masyarakat secara keseluruhan.
Pengalaman dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila sebagai tujuan PKn merupakan
langkah-langkah penting dalam pengajaran nilai. Hal itu sejalan dengan pendapat Dewey
yang menyatakan bahwa “…intellectual and ethical competence could be achieved only by
reflecting on one’s actual, concrete, concrete experience.” Sebabnya adalah walaupun
dikenalkan berbagai konsep nilai misalnya tentang demokrasi, keadilan dan menghargai
orang lain jika struktur kelas dan sekolah tetap saja mencontoh dan menekankan pada
hubungan sosial yang otoriter maka jangan diharapkan aka nada belajar yang efektif.
Kepedulian terhadap hubungan antara abstraksi dengan pengalaman siswa sendiri
dalam pemahaman Dewey disebut dengan istilah “child centeredness.” Anak membutuhkan
moral yang ideal yang diharapkan dapat dikuasainya secara intelektual. Pendidikan moral
yang didasarkan pada kerangka kerja Dewey adalah kegiatan kerjasama kelompok, bekerja
dengan orang lain dalam masalah yang faktual atas masalah yang sebenarnya, dalam bidang
apa saja (seni, sains, politik, mekanik) akan membantu anak menghargai pandangan dan nilai
saling memberi dan menerima (mutual exchange).
Moralita memang tidak dapat diajarkan hanya melalui contoh kata-kata yang
disampaikan oleh guru. Siswa membutuhkan untuk saling berinteraksi pada kegiatan-kegiatan
yang betul-betul merupakan kepedulian dan perhatian mereka. Teknik mengajar yang dapat
digunakan dalam menggunakan pendekatan ini diantaranya adalah teknik mengungkapkan
nilai yang dikenal dengan Value Clarification Technique.
Hersh (1980) dkk. Misalnya menjelaskan bahwa “Morality…depends on the orchestration of
human caring, objective thinking, and determinan action. …Morality is neither good motives
nor right reason, nor resolute action. It is all three. …there was no discernible separation
between his feelings, thoughts, and action; they seemed to fit together at once, as part of a
united front against a common threat.” Sikap atau perilaku moralitas itulah yang kiranya
menjadi tugas dan sekaligus tantangan utama guru SD. Masalah akan semakin rumit terutama
jika dikaitkan pengajar nilai dan moral untuk SD.
2. Inkulkasi (Menanamkan)
Pendekatan ini didasarkan pada sejumlah pertanyaan nilai yang telah disusun terlebih
dahulu oleh guru. Tujuannya adalah agar pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah
nilai tersebut dapat digunakan untuk mempengaruhi dan sekaligus mengarahkan siswa
kepada suatu kesimpulan nilai yang sudah direncanakan. Peranan guru dalam hal ini amat
menentukan oleh karena gurulah yang menentukan kearah mana siswa akan dibawa atau
diarahkan atau dikondisikan secara halus dan hati-hati.
Gurulah dengan pertanyaan dan arah kesimpulan atau pendapat yang menentukan
dalam penkdekatan ini adalah Teknik Inkuiri Nilai (Value Inquiry Question Technique) di
mana target nilai yang diharapkan dapat dicapai dengan memanipulasi ke dalam sejumlah
pertanyaan.
3. Pendekatan Kesadaran
Dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah bagaimana mengungkap dan membina
kesadaran siswa tentang nilai-nilai tertentu yang ada pada dirinya atau pada orang lain. Tentu
saja kesadaran itu akan tumbuh menjadi sesuatu yang menumbuhkan kesadarannya tentang
nilai atau seperangkat nilai-nilai tertentu. Hanya dengan kesadaran tertentu itu melalui
kegiatan-kegiatan tertentu yang direncanakan oleh guru anak dapat mengungkapkan nilai-
nilai dirinya atau nilai-nilai orang lain. Jendela Johary (Johary Window) kiranya dapat
membantu menumbuhkan kesadaran siswa tentang dirinya atau diri orang lain.
4. Penalaran Moral
Salah satu pendekatan dalam pendidikan moral adalah penalaran moral dimana anak
dilibatkan dalam suatu dilema moral sehingga keputusan yang diambil terhadap dilema moral
harus dapat diberikan alas an-alasan moralnya yang masuk akal. Dilema moral adalah satu
bentuk teknik mengajar nilai dan moral yang dianggap tepat terutama bagi kelas-kelas yang
tinggi, misalnya kelas IV, V dan VI. Patut disadari bahwa dalam pendidikan nilai dan moral
berbagai cara dapat digunakan sebagai stimulus dalam melibatkan nalar dan afeksi siswa
adalah melalui pertanyaan, pernyataan, gambar, ceritera, dan gambar keadaan yang bersifat
dilematis.
Dalam pengajaran PKn misalnya melibatkan siswa sebagai individu yang “merasakan” dan
“larut” dalam situasi yang sengaja diciptakan untuk mendorong siswa menggunakan nalar
dan perasaannya terhadap suatu situasi atau kejadian, prinsip, pandangan atau masalah
merupakan upaya-upaya dasar dalam pendidikan nilai dan moral. Tanpa upaya-upaya dasar
semacam itu, pendidikan nilai dan moral serta PKn khususnya akan sulit mencapai tujuan-
tujuannya secara optimal. Dalam pendekatan dilematis sebagai salah satu pendekatan akan
lebih efektif jika guru berhasil melibatkan secara intens nalar dan perasaan siswa sebab
walaupun yang menjadi dasar utama adalah nalarnya atau reasoning-nya, namun factor
perasaan siswa juga akan memegang peranan penting dalam member alas an-alasan moral
tersebut.
Peranan stimulus amat besar sebab stimulus yang didasarkan pada hal yang bersifat dilematis,
akan mengundang siswa mengkaji dengan nalar nilai dan moral yang terlibat dalam masalah
yang bersifat dilematis tersebut. Dalam proses pengkajian tersebut siswa akan melibatkan
nilai-nilai yang dimilikinya dihadapkan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam masalah
dilematis tersebut. Dengan itu juga diharapkan siswa sekaligus menghubungkannya dengan
nilai-nilai yang umum dimiliki oleh orang lain atau umum dalam menghadapi masalah-
masalah dilematis seperti itu. Oleh karena dalam pendekatan ini yang menjadi fokus adalah
nalar atau yang berkaitan dengan kognitifnya maka pendekatan ini amat sesuai dengan apa
yang kita sebut dengan Cognitive Moral Development dari Kohlberg. Bagi Kohlberg
terhadap kaitan yang erat antara perkembangan kognitif dan kematangan atau perkembangan
moral seseorang.
5. Pendekatan Analisis Nilai
Melalui pendekatan ini siswa diajak untuk mengaji atau menganalisis nilai yang ada
dalam suatu media atau stimulus yang memang disiapkan oleh guru dalam mengajarkan
pendidikan nilai dan moral. Dalam melakukan pengkajian tentu saja para siswa sudah
dibekali dengan kemampuan analisisnya. Melakukan analisis sebagaimana diketahui adalah
merupakan salah satu tahapan dalam tingkat pengetahuan atau ingatan dan analisis adalah
satu tahapan dalam keterampilan berpikir sebelum sampai pada sintesis dan evaluasi.
Dalam melakukan analisis nilai tentu saja siswa akan sampai pada tahapan menilai apakah
suatu nilai itu dianggap baik atau tidak. Jika menggunakan analisis nilai, tentu saja
disesuaikan dengan kemampuan siswa. Analisis nilai dapat dimulai oleh siswa yang dimulai
dari sekedar melaporkan apa yang dilihat dan dihadapi sampai pada memilih dan
mengemukakan hasil pengkajian yang lebih teliti dan lebih tepat.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa pendekatan ini berkaitan dengan
kognitif maka jelas bahwa antara pendekatan lima berkaitan erat dengan pendekatan empat
yaitu penalaran moral. Pendekatan ini banyak sekali digunakan dalam teknik mengungkap
nilai.
6. Pengungkapan Nilai
Pengungkapan Nilai melihat pendidikan moral lebih pada upaya meningkatkan
kesadaran diri (self-awareness) dan memperhatikan diri sendiri (self-caring) dan bukannya
pemecahan masalah. Pendekatan ini juga membantu siswa menemukan dan memeriksa nilai
mereka untuk menemukan keberartian dan rasa aman diri. Oleh sebab itu maka pertimbangan
(judging) adalah merupakan faktor kunci dalam model tersebut, namun pertimbangan yang
dimaksud adalah pertimbangan tentang yang disenangi dan yang tidak disenangi, dan bukan
sesuatu yang diyakini seorang sebagai hal yang benar atau salah.
Melalui pendekatan ini siswa dibina kesadaran emosionalnya tentang nilai yang ada dalam
dirinya melalui cara-cara kritis dan rasional dan akhirnya menguji kebenaran, kebaikan atau
ketepatannya. Pengungkapan nilai tidak menganggap nilai moral sebagai sebuah status dalam
rentangan nilai-nilai. Semua nilai termasuk moral dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
pribadi dan relatif. Walaupun dikatakan bahwa Teknik Pengungkapan Nilai ini banyak
dipakai ternyata juga banyak menghadapi tantangan, oleh karena itu pendekatan ini dianggap
memiliki banyak kelemahan.
7. Pendekatan Komitmen
Pendekatan komitmen dalam pendidikan nilai dan moral mengarahkan dan
menekankan pada seperangkat nilai yang akan mendasari pola pikir setiap guru yang
bertanggung jawab terhadap pendidikan nilai dan moral. Dalam PKn sudah barang tentu yang
menjadi komitmen dasarnya adalah nilai-nilai moral Pancasila serta Undang-undang Dasar
1945. Nilai moral tersebut telah menjadi komitmen bangsa dan negara Indonesia untuk terus
dilestarikan sebagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Dalam mengajarkan nilai dan moral tersebut nilai moral Pancasila merupakan nilai
sentralnya tanpa menutup kemungkinan mengajarkan nilai-nilai lainnya yang sesuai dan tidak
bertentangan dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Hal itu merupakan
perwujudan dari komitmen Bangsa Indonesia khususnya Orde Baru untuk senantiasa
melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Untuk terlaksananya hal tersebut sudah
barang tentu komitmen terutama guru, orang tua, serta masyarakat dan juga siswa merupakan
hal yang paling pokok bagi keberhasilan PKn tersebut.
Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk melatih disiplin siswa dalam pola pikir dan
tindakannya agar senantiasa sesuai dengan nilai-nilai moral yang telah menjadi komitmen
bersama itu. Oleh karena nilai—nilai yang telah menjadi komitmen tersebut adalah nilai-nilai
bersama maka pendekatan tersebut diharapkan pula dapat membina integrasi sosial para
siswa. Persoalan utama sekarang adalah bagaimana hal itu dilakukan pada tingkat SD.
8. Pendekatan Memadukan (Union Approach)
Pendekatan ke delapan yang diajukan Superka adalah menyatukan diri siswa dengan
pengalaman dalam kehidupan “riil” yang dirancang oleh guru dalam proses belajar-mengajar.
Proses penyatuan tersebut tidak lain adalah dimaksud agar siswa benar-benar mengalami
secara langsung pengalaman-pengalaman yang direncanakan guru melalui berbagai metode
mengajar yang dipilih guru untuk tujuan
tersebut. Untuk mencapai tujuan pengajaran seperti yang diharapkan itu, guru dapat
menggunakan berbagai metode diantaranya Partisipatori, Simulasi, Sosio Drama, dan Studi
Proyek.
Siswa SD sesuai dengan tingkat kemampuan dan perkembangan berpikirnya memang
lebih menyenangi contoh-contoh konkrit. Contoh konkrit tersebut adalah contoh-contoh
perilaku yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan siswa. Penerapannya mungkin dalam
kelompok diskusi di kelas, dalam kelompok bermain di sekolah atau dalam kehidupan di
tengah-tengah keluarga. Karena itu dalam prinsip pengajaran dianjurkan agar guru SD dalam
mengajarnya memulai dari hal-hal konkrit kepada yang abstrak apalagi materi pendidikan
moral pada dasarnya bersifat abstrak.
Salah satu permasalahan pokok yang dihadapi guru adalah bagaimana mencari
contoh-contoh konkrit yang memang secara langsung menyentuh aspek kehidupan anak. Apa
yang secara langsung menyentuh kebuthan seorang akan lebih mudah dihayati dan
dilaksanakan. Kiranya demikian pula dengan mata pelajaran PKn SD.
Oleh sebab itu dalam mengajarnya guru PKn SD diharapkan dapat (a) mengemukakan
berbagai contoh perilaku, (b) membantu siswa agar dapat mengikuti/mencontoh berbagai
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila dan tuntutan kehidupan masyarakat
sekitarnya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila tersebut. Sebagai
contoh misalnya adalah, guru dalam mengajarnya sebaiknya lebih menekankan pada contoh-
contoh yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
Contoh-contoh pengamalan nilai-moral dalam berbagai situasi dan konteks kiranya
dapat membantu siswa untuk lebih memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai
moral yang disampaikan melalui mata pelajaran PKn SD. Nilai-nilai yang mendasari sikap
dan perilaku dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan bermain serta lingkungan yang lebih
luas haru merupakan materi penting untuk dipahami anak-anak SD.
Nilai-nilai dalam keluarga dimaksud diantaranya adalah kasih sayang, saling menghormati,
menyenangi kebersihan dan keindahan, kepatuhan. Dapat juga yang berkaitan dengan
lingkungan belajar anak seperti, saling menyayangi, tolong menolong, adil, berdisiplin,
mematuhi aturan permainan, tertib dan jujur, dan bersikap sportif. Nilai-moral dalam
lingkungan kelas atau sekolah juga perlu diperhatikan misalnya dating dan menyelesaikan
tugasnya tepat waktu, berbari dengan rapih saat memasuki kelas, memelihara kebersihan
kelas dan sekolah, memelihara buku dan peralatan sekolah, menghormati guru dan petugas
sekolah lainnya.
I. Implementasi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Kehidupan Sehari
hari
Kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa hal antara lain kesalahan sistem
pengajaran di sekolah yang kurang menanamkan sistem nilai, transisi kultural, kurangnya
perhatian orang tua, dan kurangnya kepedulian masyarakat pada masalah remaja.
Untuk mengatasi permasalahan remaja tersebut perlu dilakukan secara sistemik dan
komprehensif melalui lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan melalui kebijakan
pemerintah. Hal ini dapat dapat dikaji dan dilakukan melalui berbagai disiplin ilmu
(interdisipliner) yaitu agama, moral (PPKn), olahraga kesehatan, biologi, psikologi, sosial,
hukum, dan politik.
J. Permasalahan dan Solusi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Berikut ini merupakan beberapa permasalahan & solusi Pendidikan Kewarganegaraan
di Sekolah Dasar menurut (Hendrizal, 2017).
Permasalahannya
Mengapa selama ini PKn cenderung kurang diminati siswa? Mengapa PKn kurang
mendapat perhatian seperti pelajaran matematika, IPA, bahasa Indonesia? Apakah karena
PKn tidak di UN kan ditingkat sekolah dasar? Pertanyaan ini muncul bila melihat kenyataan
bahwa sebagian orang yang menganggap remeh pelajaran PKn ini, yang pasti terdapat
dampak pada pencapaian pelajaran PKn yang kurang maksimal. Apa kita harus menyalahkan
peserta didik?
Penyesaiinya:
Sudah seharusnya sebagai pendidik melakukan introspeksi diri. Apakah selama ini
kita sudah mengajar dengan baik serta bisa membuat tertarik pelajaran PKn ini ke peserta
didik ? Masalah demi masalah yang dialami begitu kompleks. Seperti kurikulum yang terlalu
berat, kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci dalam SK dan KD mengajar
berdasarkan buku teks (textbook centre) praktek mengajar PKn selama ini lebih banyak
berlangsung dengan pendekatan konvensional pembelajaran tidak kontekstual evaluasi
cenderung mengarah pada aspek kognitif kurikulum disesuaikan dengan tingkat kemampuan
siswa SD menangkap esensi atau kata kunci dalam SK dan KD secara benar mengajar harus
punya persiapan RPP.
RPP memegang peranan penting bagi guru dalam mengajar mengajar dengan
pendekatan konstruktivisme. Melaksanakan pendekatan konstruktivisme akan banyak
memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplor potensi dirinya belajar berdasarkan
realita. Belajar akan bermakna bagi siswa kalau apa yang dipelajari itu bermanfaat bagi
kehidupannya evaluasi bersifat total (kognitif, afektif, psikomotor). Hasil belajar tidak cuma
diukur dari kemampuan kognitif
BAB 7 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
1. PENGERTIAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Pendidikan Bahasa
Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di
sekolah. Maka mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD karena
dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat
mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis,
dan berbicara. Permendiknas No. 22 Tahun 2006, Bahasa memiliki peran sentral dalam
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang
keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan
membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang
menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis
dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan baik secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar
kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa,
dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini
merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal,
regional, nasional, dan global.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SD dilaksanakan secara terpadu. Pembelajaran
secara terpadu seharusnya dilaksanakan sesuai dengan cara anak memandang dan
menghayati dunianya. Oleh karena itu dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan
siswa dapat memahami secara rasional serta konsep-konsep yang terkait dengan
pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan mata
pelajaran mendasar yang sudah diajarkan sejak TK sampai dengan perguruan tinggi.
Bahasa Indonesia mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran. Pelajaran
bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah dasar sejak kelas 1 SD. Mata
pelajaran bahasa Indonesia diberikan disemua jenjang pendidikan formal. Standar
kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran
bahasa yaitu belajar bahasa belajar berkomunikasi dan belajar sastra belajar menghargai
manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran
bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi
secara lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia Hartati, 2003.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia
di SD adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu. Selain itu juga diarahkan
untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi peserta didik.
Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar isi menyebutkan bahwa mata
pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar memiliki tujuan sebagai berikut.
a. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik
secara lisan maupun tulis.
b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
dan bahasa negara.
c. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk
berbagai tujuan.
d. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial.
e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia. Berdasarkan tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar diharapkan siswa mendapat bekal yang
matang untuk mengembangkan dirinya dalam pendidikan berikutnya dan hidup
bermasyarakat. Dalam bidang pengetahuan siswa memiliki pemahaman dasar-dasar
kebahasaan terutama bahasa baku serta mempunyai sikap positif terhadap bahasa
Indonesia.
2. ESENSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pendidikan dasar atau sekolah dasar merupakan momentum awal bagi anak untuk
meningkatkan kemampuan dirinya. Dari bangku sekolah dasarlah mereka mendapatkan imunitas
belajar yang kemudian menjadi kebiasaan-kebiasaan yang akan mereka lakukan di kemudian
hari. Sehingga peran seorang guru sangatlah penting untuk dapat menanamkan kebiasaan baik
bagi siswanya, bagaimana mereka dituntut memiliki kompetensi-kompetensi yang kemudian
dapat meningkatkan kemampuan siswanya.
Salah satu keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa dari sekolah dasar ini
adalah keterampilan berbahasa yang baik, karena bahasa merupakan modal terpenting bagi
manusia. Dalam pengajaran bahasa indonesia, ada empat keterampilan berbahasa yang harus
dimiliki oleh siswa, keterampilan ini, antara lain: mendengarkan, berbicara, membaca, dan
menulis. Keempat aspek berbahasa ini saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana
seorang anak akan bisa menceritakan sesuatu setelah ia membaca dan berbicara anak, sehingga
keempat aspek ini harus senantiasa diperhatikan untuk meningkatkan kemampuan siswa.
Berikut ini 4 keterampilan berbahasa dasar yang penting dikuasai anak yaitu:
1. Menyimak
Keterampilan yang paling mendasar ialah menyimak. Setiap orang tentu
melakukan kegiatan menyimak, mulai dari mendengarkan berita, cerita, dan berbagai
informasi lainnya baik melalui TV, Radio, dll. Underwood (1990) mendefinisikan
menyimak adalah kegiatan mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang
diucapkan orang, menangkap dan memahami makna dari apa yang didengar.
Menyimak berbeda dengan mendengar, mendengar hanya menerima informasi
yang diperdengarkan saja tanpa melalui penyerapan dan pemilihan informasi dalam
kinerja otak sehingga hanya tersimpan dalam short term memory(ingatan jangka
pendek). Mendengar identik dengan masuk telinga kanan keluar telinga kiri,sedangkan
menyimak adanya sebuah proses penyerapan dan pemilihan informasi dalam otak
sehingga disimpan dalam long term memory (ingatan jangka panjang), disinilah kinerja
otak bekerja dan berkembang dengan baik.
2. Berbicara
Keterampilan berbicara pada umumnya dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi
berbicara yang terampil hanya sebagian orang mampu melakukan. Berbicara secara
umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang
kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat
dipahami oleh orang lain (Depdikbud, 1984:3/1985:7).
Keterampilan berbicara merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran
bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh pendidik dan peserta didik di sekolah.
Terampil berbicara menuntut siswa untuk dapat berkomunikasi dengan siswa lainnya.
Seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi (2005:179) bahwa sebagian besar siswa belum
lancar berbicara dalam bahasa Indonesia. Siswa yang belum lancar berbicara tersebut
dapat disertai dengan sikap siswa yang pasif, malas berbicara, sehingga merasa takut
salah dan malu, atau bahkan kurang berminat untuk berlatih berbicara di depan kelas.
Guru harus mampu menumbuhkan minat berbicara para siswa ketika di dalam
kelas. Ajaklah mereka untuk mempraktikkan teks pidato, puisi, berdrama, dsb. Sehingga
mereka bisa mengalami.
3. Membaca
Pusat pemerolehan berbagai pengetahuan keterampilan dari menyimak,
berbicara, dan menulis ialah membaca. Aktivitas membaca sama halnya dengan
pemerolehan, apa yang kita ketahui adalah dari apa yang kita baca. Stauffer (Petty &
Jensen, 1980) menganggap bahwa membaca, merupakan transmisi pikiran dalam
kaitannya untuk menyalurkan ide atau gagasan. Selain itu, membaca dapat digunakan
untuk membangun konsep, mengembangkan perbendaharaan kata, memberi
pengetahuan, menambahkan proses pengayaan pribadi, mengembangkan intelektualitas,
membantu mengerti dan memahami problem orang lain, mengembangkan konsep diri
dan sebagai suatu kesenangan.
Membaca memiliki pengaruh terhadap perkembangan hidup kita, namun
banyaknya koleksi buku bukan berarti ia gemar membaca. Kegemaran membaca akan
tampak apabila seseorang mampu mengemukakan berbagai pengetahuan, gagasan, dan
ide-ide kreatifnya.
4. Menulis
Tahap keterampilan terakhir ialah menulis. Menulis sebagai pusat
pengaplikasian
berbagai pengetahuan yang telah didapat dari aktivitas menyimak, membaca, dan berbicara
kemudian mengalihkannya ke dalam rangkaian kata dan bahasa yang memiliki makna dan
tujuan. Pranoto (2004:9) berpendapat bahwa menulis berarti menuangkan buah pikiran ke
dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis
juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam
bentuk tulisan.
Orang yang gemar, pandai, dan telah menulis berarti ia telah mencoba
mengaktifkan indera yang ada pada dirinya melalui apa yang ia lihat, dengar, rasakan,
cium, dan raba kemudian diaplikasikan ke dalam rangkaian kata dan bahasa.
Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan, namun menulislah hal yang
paling utama. Perbedaan utama antara menulis dan berbicara, yaitu orang yang menulis
lebih berani daripada orang yang banyak berbicara tanpa memiliki makna dan tujuan.
Orang yang hanya pandai berbicara belum tentu pandai menulis, ia lebih mengandalkan
daya orasi daripada literasi.
3. PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
Pembelajaran bahasa indonesia, terutama di sekolah dasar tidak akan terlepas dari
empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Kemampuan berbahasa bagi manusia sangat diperlukan. Sebagai makhluk sosial,
manusia
berinteraksi, berkomunikasi dengan manusia lain dengan menggunakan bahasa sebagai
media, baik berkomunikasi menggunakan bahasa lisan juga berkomunikasi
menggunakan bahasa tulis. Keterampilan berbahasa yang dilakukan manusia yang
berupa menyimak, berbicara, membaca dan menulis yang dimodali kekayaan kosakata,
yaitu aktivitas intelektual, karya otak manusia yang berpendidikan. Kita mengetahui
kemampuan manusia berbahasa bukanlah instinct,tidak dibawa anak sejak kecil,
melainkan manusia dapat belajar bahasa sampai terampil berbahasa, mampu berbahasa
untuk kebutuhan berkomunikasi.
Penggunaan bahasa dalam interaksi dapat dibedakan menjadi dua yaitu lisan dan
tulisan. Agar individu dapat menggunakan bahasa dalam suatu interaksi, maka ia harus
memiliki kemampuan berbahasa. Kemampuan itu digunakan untuk mengkomunikasikan
pesan. Pesan ini berupa ide (gagasan), keinginan, kemauan, perasaan ataupun interaksi.
Menurut indihadi (2006: 57), ada lima faktor yang harus dipadukan dalam
berkomunikasi, sehingga pesan ini dapat dinyatakan atau disampaikan, yaitu: struktur
pengetahuan (schemata), kebahasaan, strategi produktif, mekanisme psikofisik dan
konteks.
Kemampuan berbahasa lisan meliputi kemampuan berbicara dan menyimak,
sedangkan kemampuan bahasa tulisan meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pada
saat manusia berkomunikasi secara lisan, maka ide-ide, pikiran gagasan dan perasaan
yang dituangkan dalam bentuk kata dengan tujuan untuk dipahami oleh lawan bicaranya.
Demikian pula saat anak memasuki usia TK (taman kanak-kanak) mereka dapat
berkomunikasi dengan sesamanya dalam kalimat berita, kalimat tanya, kalimat majemuk,
dan berbagai bentuk kalimat lainnya. Pada usia ini, anak dianggap telah memiliki
kosakata yang cukup untuk mengungkapkan yang dipikirkan, dan dirasakannya mereka
lebih mengungkapkan dalam bentuk lisan dibandingkan tulisan. Pola bahasa yang
digunakannya masih merupakan tiruan bahasa orang dewasa.
Ketika anak memasuki usia sekolah dasar,anak-anak akan terkondisikan untuk
mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi
kemampuan berbahasa anak pun mengalami perkembangan.
Menulis sebagai keterampilan seseorang (individu) mengkomunikasikan pesan
dalam sebuah tulisan. Keterampilan ini berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam
memilih, memilah, dan menyusun pesan untuk ditransaksikan melalui bahasa tulis.
Cahyani dan Hodijah (2007: 127), pesan yang ditransaksikan itu dapat berupa wujud ide
(gagasan), kemampuan, keinginan, perasaan, atau informasi. Selanjutnya, pesan tersebut
dapat menjadi isi sebuah tulisan yang ditransaksikan kepada pembaca. Melalui sebuah
tulisan, pembaca dapat memahami pesan yang ditransaksikan serta tujuan penulisan.
Perkembangan bahasa anak berkembang seiring dengan perkembangan
intelektual anak. Artinya, anak yang berkembang bahasanya cepat, exposed pada
‘bantuan’ yang meskipun tak tampak nyata, memperlihatkan lingkungan yang kondusif
kemah dalam arti emosional positif. Oleh karena itu, perkembangan bahasa memiliki
keterkaitan dengan perkembangan intelektual anak.
Anak-anak TK yang berusia sekitar lima sampai enam tahun memiliki
kemampuan dalam menghasilkan cerita. Pada usia ini, sebaiknya kemampuan bercerita
anak diasah agar mereka dapat dengan leluasa mengungkapkan pikiran dan perasaannya
yang terungkap dalam bentuk cerita. Cerita yang diungkapkan masih kurang jelas karena
plotnya yang tidak runut. Pada umumnya, yang mereka hasilkan adalah cerita yang erat
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya lingkungan tempat mereka tinggal.
Pada saat anak-anak memasuki usia tujuh tahun, anak dapat membuat cerita yang
lebih teratur. Mereka dapat menyusun cerita dengan cara mengemukakan masalah,
rencana pemecahan masalah, dan menyelesaikan masalah. Adapun pada saat anak-anak
memasuki kelas dua sekolah dasar diharapkan anak-anak dapat bercerita dengan
menggunakan kalimat yang lebih panjang dengan menggunakan konjungsi; dan, lalu,
dan kata depan seperti di, ke, dan dari. Umumnya, plot yang terdapat dalam cerita masih
belum jelas. Pelatihan perlu dilakukan agar anak dapat mengungkapkan kejadian secara
kronologis.
4. KURIKULUM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pendidikan formal dalam lingkungan sekolah memiliki kurikulum tertulis,
dilaksanakan secara terjadwal, dan dalam suatu interaksi edukatif di bawah arahan guru.
Kurikulum merupakan suatu alat yang penting dalam rangka merealisasikan dan
mencapai tujuan sekolah. Begitu pula halnya dengan kurikulum bahasa Indonesia,
merupakan suatu alat yang penting dalam rangka merealisasikan dan mencapai tujuan
kebahasaan Indonesia, yaitu meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi
dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006: 81), standar isi
bahasa Indonesia sebagai berikut: "pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi
terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia." Tujuan pelajaran bahasa Indonesia
di SD antara lain bertujuan agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta
meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa. Adapun tujuan khusus pengajaran bahasa Indonesia, antara lain
agar siswa memiliki kegemaran membaca, meningkatkan karya sastra untuk
meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan, perasaan, dan memperluas wawasan
kehidupannya. Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk melatih
keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis yang masing-masing erat
hubungannya. Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik
secara lisan maupun tulisan.
Fungsi bahasa yang paling utama adalah tujuan kita berbicara. Dengan berbahasa,
kita bisa menyampaikan berita, informasi, pesan, kemauan, dan keberatan kita. Menurut
Richards, Platt, dan Weber dalam Solahuddin (2007) menguraikan bahwa bahasa sering
dikatakan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu (1) deskriptif; (2) ekspresif; dan (3) sosial.
Fungsi deskriptif bahasa adalah untuk menyampaikan informasi faktual. Fungsi ekspresif
ialah memberi informasi mengenai pembaca itu sendiri, mengenai perasaan-perasaannya,
kesenangannya, prasangkanya, dan pengalaman-pengalamannya yang telah lewat. Fungsi
sosial bahasa ialah melestarikan hubungan-hubungan sosial antar manusia.
Pembelajaran menulis di jenjang pendidikan dasar dapat dibedakan menjadi dua
tahap, yakni menulis permulaan di Kelas I-II dan menulis lanjut yang terdiri dari menulis
lanjut tahap pertama di Kelas III-IV serta menulis lanjut tahap kedua di Kelas VI hingga
kelas IX (SMP).
Menulis itu sendiri berkaitan dengan membaca, bahkan dengan kegiatan
berbicara dan menyimak. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang saling
mendukung agar berkomunikasi untuk melakukan kegiatan membaca sebagai kegiatan
dari latihan menulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta
didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan
fungsinya. Menurut Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai
dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan, menghargai dan
bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara,
memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk
berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut,
maka pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan
menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun
teks lisan. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di
dalamnya memiliki situasi dan konteks. Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia
tidak sekadar memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga
mengetahui makna atau bagaimana memilih kata yang tepat yang sesuai tatanan
budaya dan masyarakat pemakainya.
Dalam pembelajarannya menggunakan empat tahapan, yaitu membangun konteks,
membentuk model, membangun teks bersama-sama/kelompok, dan membangun teks
secara individual atau mandiri. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan
saintifik dengan model yang sesuai. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: 1 dan 2
ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: 3 dan 4.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 yang berbasis teks ini
bertujuan agar dapat membawa peserta didik sesuai perkembangan mentalnya, dan
menyelesaikan masalah kehidupan nyata dengan berpikir kritis. Dalam
penerapannya, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki prinsip, yaitu sebagai
berikut.
a. Bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau
kaidah kebahasaan.
b. Penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasan untuk
mengungkapkan makna.
c. Bahasa bersifat fungsional, artinya penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat
dipisahkan dari konteks, karena bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan ide, sikap,
nilai, dan ideologi pemakai/penggunanya.
d. Bahasa merupakan sarana pembentukan berpikir manusia.
Dengan prinsip di atas, maka pembelajaran bahasa berbasis teks membawa
implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Hal ini diawali dari
kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan,
membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara
mandiri. Kegiatan ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang
mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar
meyakini bahwa pada akhirnya peserta didik mampu menyajikan teks secara mandiri.
5. PEMBELAJARAN MENULIS
1. Pengertian Menulis
Ahmad Susanto (2019) “Menulis ialah kegiatan yang paling sering dilakukan
oleh setiap orang yang membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan
senantiasa dilatih. Diperlukan keterampilan tambahan juga motivasi karena menulis
bukan tentang bakat, tidak semua orang mampu menulis. Menulis adalah salah satu
cara mengoperasikan otak secara totalitas menyertakan raga, jari, dan juga tangan”
Berikut beberapa pendapat mengenai pengertian menulis.
1. Menurut KBBI, menulis mempunyai arti: (1) membuat huruf, angka, dan
sebagainya dengan pena, pensil, kabur dan sebagainya; (2) melahirkan pikiran
atau perasaan seperti mengarang, membuat surat dengan tulisan; (3)
menggambar, melukis; (4) membatik kain, mengarang cerita, membuat surat,
berkirim surat.
2. Rusyana (1984: 191) “Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-
pola bahasa dalam penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan
suatu gagasan atau pesan.”
3. Tarigan (1986:4) “Menulis merupakan suatu kegiatan suatu kegiatan yang
produktif dan ekspresif, penulis harus terampil memanfaatkan struktur bahasa
dan kosakata.”
4. Alwasilah (1994:78) “Menulis adalah kegiatan produktif dalam berbahasa.
Menulis adalah proses psikolinguistik, bermula dengan formasi gagasan lewat
semantik, lalu didata dengan aturan sintaksis, kemudian diwujudkan dalam
tatanan sistem tulisan.” Lebih jelasnya bahwa menulis itu adalah kegiatan
menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan, menulis itu sebagai suatu
keterampilan, menulis itu sebagai proses berpikir, menulis itu sebagai
kegiatan informasi, menulis itu sebagai kegiatan berkomunikasi.
Menulis menjadi kegiatan penting yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Menulis
Menurut Purwanto dalam Susanto (2019) mengklasifikasikan fungsi menulis sesuai
kegunaannya, yaitu sebagai berikut:
a. Fungsi penataan, ialah menata suatu gagasan ,pikiran, pendapat, imajinasi, dan
lainnya, terhadap penggunaan bahasa, sehingga tulisan tersusun.
b. Fungsi pengawetan, ialah mengawetkan pengaturan sesuatu dalam dokumen yang
tertulis.
c. Fungsi penciptaan, ialah mewujudkan atau menciptakan sesuatu yang baru.
d. Fungsi penyampaian, ialah menyampaikan gagasan, pikiran, imajinasi,
pengetahuan, informasi yang telah diawetkan dalam karangan lalu disampaikan pada
orang terdekat maupun yang jauh.
e. Fungsi melukiskan, adalah menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu apapun.
f. Fungsi memberi petunjuk, ialah memberikan petunjuk tentang cara melakukan
sesuatu.
g. Fungsi memerintahkan, ialah memberikan perintah, nasihat, permintaan, anjuran
atau saran, supaya pembaca menjalankannya.
h. Fungsi mengingat, adalah suatu kegiatan, keadaan, peristiwa dicatat agar tidak
terlupakan dan dapat dibaca kembali.
i. Fungsi korespondensi, adalah terjadinya timbal balik adanya tanggapan, seperti
memberitahukan, menanyakan, meminta atau memerintah, ditujukan agar pembaca
memenuhi hal tersebut.
3. Tujuan dan Manfaat menulis
Ada empat macam tujuan (the writer intention) menulis, yaitu:
1. Untuk memberitahukan atau mengajar (informative discourse)
2. Untuk menyakinkan dan mendesak pembaca (persuasive discourse)
3. Untuk menghibur atau menyenangkan pembaca (altruistic purpose) dan
wacana kesastraan (literacy discourse )
4. Untuk pernyataan diri dengan pencapaian nilai-nilai artistik (expressive discourse)
Manfaat menulis, yaitu sebagai berikut:
1. Membantu menemukan kembali yang pernah diketahui.
2. Menghasilkan ide-ide baru
3. Membantu mengorganisasikan pikiran dan menempatkannya dalam suatu wacana.
4. Membuat pikiran seseorang siap dibaca dan juga dievaluasi.
5. Membantu menyerap dan mengingat informasi dan pengetahuan baru dengan
baik.
6. Membantu memecahkan masalah
4. Pembelajaran Menulis Permulaan
Menurut Tomkins dalam Susanto (2019:257) menguraikan proses menulis ada
lima tahap yaitu: Tahap pra-menulis (prewriting); tahap penyusunan draf tulisan
(drafting);
tahap perbaikan (revisi); tahap penyuntingan (editing); dan tahap pempublikasian
(publishing).
Dalam pembelajaran menulis peserta didik pertama-tama harus diajarkan dahulu
bagaimana cara memegang alat tulis, dimulai dari pensil saat kelas rendah lalu
menggunakan pena mulai kelas tinggi pada Sekolah Dasar. Kemudian, peserta
didik boleh diarahkan untuk melakukan langkah-langkah pembelajaran dalam
menulis, sebagai berikut ini:
a. Pengenalan, guru mengenalkan dasar dasar menulis dahulu seperti titik, dan garis
maupun lingkaran. Kemudian, guru mengenalkan huruf-huruf dan angka-angka sederhana
dari 0 sampai 10 dahulu.
b. Menyalin, guru mencontohkan huruf atau angka yang akan diajarkan. Peserta didik
menyalin huruf yang sama seperti yang telah dicontohkan oleh guru. Peserta didik
menyalin bunyi bacaan ke huruf tertulis, menyalin huruf kecil menjadi huruf besar,
menyalin huruf lepas menjadi huruf sambung, dan peserta didik dapat diminta melengkapi
kata atau tanda baca.
c. Menulis halus atau indah, menulis yang memperhatikan bentuk, ukuran, tebal tipis
dan kerapian menulis.
d. Menulis nama, bisa menulis nama diri sendiri dahulu, lalu nama benda, hewan,
tumbuhan dan lain-lain.
e. Mengarang sederhana, bisa menceritakan pengalaman yang dirangkai dalam lima
sampai sepuluh baris dan pastinya harus diperhatikan ketepatan ejaan, kerapian, dan isi
yang diceritakan peserta didik.
BAB 8 Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Di Sekolah Dasar
PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Pendidikan seni budaya dan keterampilan (SBK) pada dasarnya merupakan pendidikan seni
yang berbasis budaya yang aspek-aspeknya, meliputi: seni rupa, seni music, seni tari dan
keterampilan. Pendidikan seni di sekolah dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan dalam membentuk
jiwa dan kepribadian, berakhlak mulia. Tujuan dari pendidikan seni budaya dan keterampilan ialah
untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan nilai untuk dirinya sebagai individu maupun
makhluk sosial dan budaya.
Pendidikan SBK pada Sekolah Dasar memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta
didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multi
kecerdasaan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual, musical, linguistic,
logika, matematis, naturalis, dan kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual, moral serta kecerdasan
emosional.
Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.
Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan
berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.
Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan,
pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur
estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni
menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan
mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan
seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
B. HAKIKAT PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Pendidikan SBK di sekolah dirasakan sangat penting, karena pelajaran ini memiliki sifat
multilingual, multidimensional, dan multicultural.
Multilingual bertujuan mengembangpribadi peserta didik yang harmonis dengan
memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multi kecerdasan yang terdiri
atas kecerdasan interpersonal, kecerdasan interpersonal, visual, spasial, moral, emosional,
musical, logic, kinestetik, linguistic, matematis, dan kecerdasan naturals. Semua ini diperoleh
melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya
masyarakat yang bkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara.
Multidimensional berarti bahwa mengembangkan kompetensi kemampuan dasar siswa yang
mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, pengetahuan,
pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi
otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika.
Multicultural bertujuan mengembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap
keberagaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, demokratis,
beradap, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
Pendidikan SBK memiliki peranan dalam pembentukan eragam.
Secara spesifik mata pelajaran SBK meliputi aspek-aspek, sebagai berikut:
1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan karya seni
rupa berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya.
2. Seni music, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat music,
apresiasi terhadap gerak tari.
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan, dan, tanpa
rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari.
4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan memadukan seni music, seni tari,
dan peran.
5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills), yang meliputi
keterampilan personal, social, vokasional, dan akademik.
Diantara bidang seni yang ditawarkan tersebut, minal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan
kemampuan sumber daya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada tingkat sekolah dasar, mata
pelajaran keterampilan ditekankan pada keterampilan vokasional, khususnya kerajinan tangan.
C.TUJUAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Tujuan pembelajaran merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai
dan dimiliki siswa. Dan tujuan pembelajaran seni budaya di sekolah dasar yaitu untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan siswa agar bisa berkreasi, berkreativitas,dan menghargai
kerajinan atau keterampilan seseorang. Materi pada pembelajaran seni budaya yaitu terdiri dari seni
rupa, seni tari, seni musik, dan kerajinan yang masing-masingnya mempunyai karakteristik.
Pembelajaran seni budaya di sekolah dapat membantu siswa untuk mengekspresikan dirinya
secara bebas. Melalui pendidikan seni budaya potensi yang dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak
secara bebas dapat dikembangkan secara optimal. Pembelajaran seni budaya diberikan di sekolah
karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta
didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau
berkreasi dan apresiasi pendekatan belajar dengan seni, dan peran ini tidak dapat diberikan oleh mata
pelajaran lain.
Mata pembelajaran seni budaya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan
4.menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal regional maupun
global
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan
multikultural.
1.Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan
berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.
2.Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan,
pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur
estetika, logika, kinestetika, dan etika.
3.Multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan
kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan
wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta
toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk
Pembelajaran seni budaya di sekolah dasar bukan sekedar proses upaya transformasi
pengetahuan seni dan budaya serta keterampilan tetapi juga perlu diupayakan pengembangan sikap
secara aktif kritis dan kreatif.karena pendidikan seni budaya memiliki fungsi dan tujuan untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan siswa mampu berkreasi dan peka dalam berkesenian atau
memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi.
D. METODE PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Melaksanakan program kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari metode yang akan
digunakan. Sudjana (1999. 70 menyatakan bahwa: "metode adalah cara yang digunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran." Metode ditetapkan oleh
pengajar dengan berpedoman kepada tujuan pengajaran dan atas pertimbangan terhadap bahan
pelajaran yang akan diberikan. Metode mengajar merupakan bagian dari strategi kegiatan yang dalam
fungsinya berperan sebagai alat untuk membantu efisiensi dalam proses mengajar.
Dalam memilih metode yang akan digunakan guru dalam program kegiatan pembelajaran,
guru hendaknya kreatif dalam memilih metode yang akan dipakai, Sehingga dengan pemilihan
metode yang tepat, mampu menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh
siswa agar dapat menghasilkan sesuatu hal yang baru berdasarkan daya pikir atau kemampuannya.
Dengan pemilihan metode yang tepat dapat membantu pembentukan kepribadian anak, Selain itu,
dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan anak dapat menyalurkan ekspresi jiwanya,
menumbuhkan keberanian berkreasi, yaitu menyalurkan pikiran dan perasaan.
Pemilihan metode pembelajaran diperlukan oleh guru pada saat merancang proses kegiatan
belajar mengajar. Karena ketepatan pemilihan metode pembelajaran akan berdampak terhadap
efektivitas pencapaian kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran seni
musik gabungan dari berbagai metode sangat diperlukan, apalagi kalau pembelajaran yang dilakukan
menekankan pada pemberian pengalaman kepada siswa, Pemilihan metode pembelajaran yang
dilakukan oleh para guru berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya mereka
menggunakan metode ceramah, demonstrasi, dan latihan (drill). Metode ceramah digunakan oleh para
guru pada saat menyampaikan berbagai informasi yang terkait dengan materi pembelajaran. Adapun
metode demonstrasi, dilakukan oleh para guru pada saat pembelajaran materi praktik. Karena proses
pembelajaran praktik yang berlangsung lebih menekankan pada strategi ear training, maka pada saat
ada materi baru siswa sangat tergantung pada contoh guru yang dilakukan dengan metode
demonstrasi.
Ketersediaan sarana pembelajaran sangat diperlukan guru dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran seni musik, berdasarkan karakteristik dan
standar kompetensi menurut kreativitas guru dalam memanfaatkan dan mengembangkannya.
Ketersediaan buku sumber dan buku ajar, alat musik, dan media pendukung pembelajaran lainnya
juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran SBK ini.
Ada beberapa sarana pendukung yang diperlukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran seni
musik, seperti ruang praktik musik, perlengkapan elektronik (tape recorder, CD dan DVD player,
televisi, dan lain-lain). ketersediaan sarana pembelajaran tersebut berdasarkan data yang diperoleh
menunjukkan bahwa Danyak sekolah yang tidak memiliki ruang khusus pembelajaran seni musik.
Adapun perlengkapan yang ada seperti tape recorder, CD dan DVD player, serta televisi yang dimiliki
di beberapa sekolah tidak pernah digunakan sebagai sarana elektronik apalagi media dalam
pembelajaran seni musik.
E. EVALUASI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan dari suatu program yang bertujuan untuk menentukan
keberhasilan suatu program. Worthen & Sanders (1981) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah
kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu yang di dalamnya terkandung pemerolehan informasi yang
digunakan untuk menentukan baik buruknya suatu program, produk, prosedur, tujuan, atau rancangan
pendekatan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan
oleh para ahli pendidikan diantaranya:
• Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) (Fernandes, 1984)
• Model evaluasi Scriven yang berorientasi pada “consumer oriented evaluation” karena
filosofi model evaluasi tersebut didasarkan pada kepentingan konsumen (Stufflebeam & Shinkfield,
1985)
• Model evaluasi Alkin yang memperhatikan pengguna potensial, yaitu para pengguna baik
yang berada dalam suatu institusi yang mempunyai potensi menggunakan hasil evaluasi secara
langsung maupun tidak (Alkin, 1985)
• Model evaluasi Valadez (1994) menekankan pentingnya kegiatan monitoring dalam
melakukan evaluasi
• Model evaluasi Performance monitoring indicator yang mengukur dampak, outcomes, output,
input, dari suatu proyek yang dimonitor selama pelaksanaan proyek untuk memperoleh informasi
tentang mengetahui kemajuan proyek (Mosse, Roberto, & Sontheimer, 1996)
Evaluasi pengajaran merupakan bagian dari kepentingan pendidikan yang dianggap penting
untuk mengetahui tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum, evaluasi pengajaran
menurut Harjanto (2000:277) adalah “penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan
peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.” Maksud hukum dalam
pernyataan tersebut adalah tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam kurikulum. Evaluasi pengajaran
dimaksudkan untuk memperoleh data yang akan mengukur tingkat keberhasilan yang telah dicapai
oleh peserta didik dan dapat ditempuh melalui instrumen (alat) yang dibuat oleh pengajar.
Evaluasi untuk pembelajaran SBK meliputi segi keterampilan dengan menggunakan tes
perbuatan atau peragaan, segi pengetahuannya dengan menggunakan tes lisan atau pemahaman, serta
tidak lepas mengenai keadaan sikap dan inisiatif siswa dalam pembelajaran (aspek nilai dan sikap).
Dalam pelaksanaan penelitian, evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur kreativitas siswa dalam
pembelajaran SBK harus didasarkan pada aspek-aspek yang harus dicapai siswa, yaitu:
1. Aspek kognitif (pengetahuan); berkaitan dengan pengetahuan atau pemahaman siswa tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian. Penilaian aspek kognitif dalam pembelajaran SBK
berkenaan dengan pemahaman daya pikir, dan aplikasi daya pikir ke dalam perbuatan.
2. Aspek efektif (sikap); berkaitan dengan perhargaan ilmu terhadap karya kesenian, penghargaan
atau penilaian terhadap karya yang sering diistilahkan dengan apresiasi proses yang diawali dengan
pengamatan dan penghayatan. Aspek afektif yang akan dijadikan sebagai penilaian yaitu respons
siswa dalam menunjukkan sikap kesungguhan dalam belajar dan keberanian untuk mengungkapkan
gagasan melalui gerak, serta respon siswa atas karya yang dihadapi karena pada saat berkreasi
memerlukan apresiasi
3. Aspek psikomotor (keterampilan); berkaitan dengan perilaku siswa yang berupa tindakan, oleh
karena itu tahapan prosedur ketika siswa berkarya atau berproses kreatif dapat menjadi fokus amatan.
Penilaian aspek psikomotor yang dilakukan untuk mengetahui kreativitas siswa mencakup
kemampuan dalam menemukan gerak yang sesuai.
Pembelajaran SBK pada siswa sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah lebih menekankan
kepada proses kreatif. Menumbuhkan respons kreatif pada siswa sekolah dasar diperlukan stimulus
(rangsangan). Rangsangan mampu membangkitkan motivasi, imajinasi, dan inspirasinya. Pada
dasarnya, rangsangan dalam pembelajaran SBK digunakan untuk membantu siswa menemukan dan
mengungkapkan kembali secara estetis apa yang pernah siswa lihat dan rasakan, dan anak dituntut
untuk bisa membayangkannya, kemudian diwujudkan lewat kegiatan yang kreatif. Dalam upaya
menumbuhkan sikap kreatif, siswa diberi rangsang gagasan melalui pertanyaan seputar pengetahuan
siswa mengenai kesenian tradisional. Dengan peran serta pengajar, siswa dibimbing dan diberi
motivasi untuk selalu berpikir secara kreatif dan merealisasikan seluruh imajinasinya ke dalam kreasi
yang kreatif pula, sehingga siswa dapat mencurahkan pikirannya melalui kegiatan secara sederhana
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Anak pada usia sekolah dasar merupakan individu yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat luar biasa. Pada masa ini, anak mengalami pematangan
fungsi-fungsi fisik dan psikisnya yang siap merespons rangsangan yang diberikan oleh lingkungan.
Masa ini merupakan yang tepat untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan
afektif, kognitif, dan psikomotoriknya secara optimal. Kecenderungan anak pada masa ini sangat aktif
dalam melakukan berbagai kegiatan. Keaktifannya dalam bergerak akan meningkatkan perkembangan
motoriknya. Perkembangan motorik merupakan proses memperoleh keterampilan dan pola yang dapat
dilakukan anak. Terdapat dua macam keterampilan motorik pada anak yaitu:
1. Keterampilan motorik kasar, diperlukan pada anak untuk mengendalikan seluruh gerak tubuhnya
sehingga anak mampu untuk melakukan gerak, seperti: berlari, berjalan, melompat.
2. Keterampilan motorik halus, merupakan kegiatan yang menggunakan bagian kecil dari tubuh
terutama tangan. Ini memerlukan kecepatan dan kemampuan menggerakkannya, seperti menulis, dan
menempel.
Berkaitan dengan perkembangan motorik, pembelajaran SBK mampu menjadi media untuk
membangun perkembangan tersebut khususnya perkembangan motorik kasar. Dalam
mengembangkan motorik kasar dibutuhkan keterampilan mengingat dan memahami, serta
memerlukan kesempatan untuk melakukan latihan-latihan.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting terhadap
perkembangan kepribadian dan intelektual siswa. Guru memberikan bantuan, petunjuk, bimbingan,
pujian, dan perbaikan yang dibutuhkan siswa. Dengan kata lain, kedudukan guru ialah sebagai
fasilitator untuk menciptakan lingkungan yang merangsang kreativitas dengan baik agar siswa
memiliki kebebasan dalam menyalurkan pikiran dan perasaan serta imajinasinya, sehingga siswa
mampu menjadi pribadi yang mandiri.
F. PEMBELAJARAN SBK DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
Kurikulum dapat dikatakan sebagai a plan for learning, yaitu suatu rencana atau program
pembelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak. Kurikulum merupakan acuan pokok yang perlu
dipegang oleh para pelaksana pendidikan, dalam hal ini guru.
Menurut Ralph Taylor, dikatakan bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang
direncanakan dan diarahkan Oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dalam pengertian
ini, dijelaskan bahwa kurikulum diartikan segala kegiatan belajar yang telah direncanakan untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu yang meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian
dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh karena itu,
kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan
dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP. KTSP ini mulai diberlakukan di Indonesia sejak tahun
ajaran 2006/2007, yang merupakan hasil penyempurnaan dari kurikulum 2004 (Kurikulum.Berbasis
Kompetensi/KBK) di dalamnya lebih menekankan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan.
Secara umum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dapat diartikan sebagai kurikulum
operasional yang disu§un dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari
tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan
pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.
Kelebihan dari KTSP itu sendiri yaitu alokasi waktu pada kegiatan pengembangan diri siswa.
Siswa tidak terus-menerus mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam sebuah proses
pengalaman belajar.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan rnèrupakan salah satu pelajaran yang wajib
diajarkan di sekolah dasar menurut KTSP. SBK yang terdiri dari empat bagian besar, yaitu seni tari,
seni musik, seni dan keterampilan merupakan mata pelajaran yang di dalamnya terkandung muatan
nilai humaniora yang sangat berguna untuk merangsang kreativitas berpikir bagi peserta didik untuk
semua cabang disiplin ilmu.
Di dalam KTSP dijelaskan bahwa pendidikan SBK merupakan sarana untuk mengembangkan
kreativitas anak. Tujuan dari pendidikan SBK bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman,
melainkan untuk mendidik menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas permainan. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Melalui permainan dalam
pendidikan SBK anak memiliki keleluasan untuk mengembangkan kreativitasnya. Dalam kurikulum
dijelaskan bahwa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam seni budaya, yaitu kesungguhan,
kepekaan, daya produksi, kesadaran berkelompok, dan daya cipta.
G. KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Keberadaan guru dalam proses pembelajaran masih tetap memegang peranan yang sangat
penting. Dalam proses pembelajaran guru bertugas dan bertanggung jawab dalam merencanakan dan
melaksanakan pengajaran di sekolah. Kegiatan belajar mengajar sebaiknya lebih berorientasi pada
kebutuhan siswa dan peranan guru, yaitu sebagai pembimbing. pemimpin, dan memberikan fasilitas
belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan.
Pembelajaran Seni Budaya dan keterampilan sering dikatakan mudah. Anggapan guru pada
umumnya pelaksanaan pendidikan seni hanya menggambar, bernyanyi, bergerak, atau materi yang
hanya disampaikan secara teori. Akibatnya kurang memberikan kontribusi terhadap perkembangan
kreativitas dan siswa cenderung pasif, siswa diposisikan sebagai penerima materi, penerima
informasi, dan meniru apa kata guru. Problem ini diperkuat dengan adanya beberapa guru yang
mengajarkan kesenian bukan berlatar belakang dari pendidikan seni. Hal ini dapat menyebabkan garu
yang terkesan memaksakan diri mengajar pelajaran seni padahal guru tersebut tidak memiliki
kompetensi bidang seni yang tampaknya akan meracuni pendidikan seni di masa yang akan datang
Pendidikan di sekolah (formal) berbeda dengan pendidikan di luar sekolah (nonformal),
karena pada pembelajaran sesi budaya di sekolah guru dituntut untuk mengarahkan proses
pembelajaran seni budaya yang berpengaruh pada perubahan sikap dan perilaku siswa serta
penanaman makna dan nilai-nilai seni yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran seni hute di
sekolah mengharapkan siswa mengalami sebuah proses pembelajaran yang aktif, kritis, dan kreatif.
Adapun pendidikan seni di luar sekolah, pendidikan yang disediakan hanya tertuju pada pengolahan
psikomotorik siswa dan menghasilkan siswa untuk terampil dalam berkesenian tanpa mengalami
proses pembelajaran yang aktif, kritis, dan kreatif
Untuk mewujudkannya, maka diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi yang
optimal, karena guru merupakan kunci keberhasilan suatu proses pendidikan Menurut Hamalik (2002:
38), guru yang dinilal berkompeten secara profesional apabila memiliki kriteria, sebagai berikut
1. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya
2. Guru tersebut mampu melaksanakan peran-peranannya secara berhasil
3. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional)
sekolah
4. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar dalam
kelas.
Menurut Surya (2004) dalam Djumiran (2008:3.4), “kompetensi adalah seperangkat
penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan penampilan
unjuk kerja sebagai guru secara tepat.” Kompetensi yang harus dimiliki guru pendidikan seni budaya
di antaranya kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru seni budaya. Selain itu hal yang perlu
dimiliki oleh seorang guru pendidikan seni budaya adalah sebuah inovasi dalam belajar mengajar
untuk mencapai tujuan pendidikan. Seorang guru seni budaya tidak hanya terampil dalam seni saja,
tetapi juga memberikan sebuah perubahan terhadap pembelajaran seni yang dilakukan melalui
kegiatan pembelajaran yang membangun kreativitas
Guru pendidikan seni budaya harus berupaya menemukan motivasi-motivasi dalam
pelaksanaan pembelajaran seni. Usaha yang inovatif dilakukan guru seni dalam proses pelajar yang
aktif di sekolah yaitu guru lebih berinteraktif dalam menuangkan gagasan-gagasan baru yang dapat
memicu kreativitas, menata letak kelas, memfasilitasi diskusi, dan yang terpenting yaitu bagaimana
menyampaikan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik dengan suasana kelas yang
menyenangkan Bukan hanya itu saja guru pendidikan seni budaya harus bisa memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berkreativitas sesuai dengan kemampuannya
Peranan guru dalam penerapan pendidikan seni ini dianggap sebagai komponen utama, selain
peran siswa serta komponen pengajaran lainnya Peran guru dituntut untuk lebih kreatif, dalam arti
kreativitas seorang guru dalam penerapan pendidikan seni adalah bagaimana seorang guru harus
pandai memilih bahan atau materi pembelajaran, metode yang sesuai dengan kebutuhan materi
pembelajaran yang dipilih, serta kebutuhan peserta didik.