Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 1
Bismillah
Dengan bismillah, memulai langkah
Kupercaya, hidup mengukir karya, membekas rasa
Bukanlah berpangku tangan, enggan berupaya, mematung
diri
Geliat setiap sel dalam tubuh
Telah berikrar mengukir mimpi
Namun bukanlah menjadi kebanggaan diri
Seharusnya merunduk hati seperti padi
Sebab Ikhwal diri hanyalah bayangan
Bukanlah kulihat hasil,
Berjuang dengan segenap asa, sebuah nikmat tak terhingga
Berotasi bermetamorfosa, memahat prasasti waktu,
Menulis cerita hidup, Bukan seberapa jauh langkah telah
dipijakkan
Namun jalan manakah yang belum tertempuh
Walau terkadang surut menghambat
Lalui kisah ini segenap daya
Sebab hakikat insan berusaha, Laahaulawala quwwata
illabillah
Seiring garisan takdir, Sampai raga berpisah dengan dunia
(RH - 28 April 2016)
2 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Untukmu Baginda Nabi
Bagaimana mungkin aku dapat melukiskan keindahanmu
Sedangkan pena ini tak sanggup tuk menuliskannya
Telah kuhimpun ribuan aksara
itu pun tak mampu mengurai kata dalam kerinduan padamu
ini bukan syair tentang insan kasmaran...
Tapi inilah goresan hati seorang insan,
yang rindu pada sebaik-baik makhluk
Tapi aku malu, apakah pantas aku mengaku umatmu,
sedang diri ini berlumur dosa
diri yang terhijab dari cahaya di atas cahaya...
Akupun malu pada Sang Pencipta
Bahkan para malaikat pun berbaris bersaf-saf memuji
kemuliaanmu
Rembulan dan mentari pun tersipu karena cahayamu
Semesta pun tersenyum padamu...
Allahummasholli ala sayyidina Muhammad wa ala aliyi
sayyidina Muhammad
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 3
Demi Waktu
Dan demi waktu,
Masa lalu tak pernah kembali
laku diri sudah terpatri
Keburukan dahulu tinggalkan tangis
Tinggal kini merista dalam hati
Sesal pasti, atau mata hati terkunci
Demi waktu kebenaran datang menanti
Kebaikan kini menuai janji nanti
Hidup bergulir menunggu gilir
Demi waktu yang meluncur cepat
Kekuatan, kejayaan, kemenangan,
kemegahan, kekayaan, kesehatan,
semua digilas waktu,
adakah lagi yang berani menantang waktu
walau kau kini raja, kelak kan jadi rangka
waktu kan memakanmu
Salahkah waktu?
Tidak, waktu hanya berjalan menurut
pada titah Pencipta
Dan demi waktu
Berbuatlah kebaikan,
Bersabarlah, dan saling menasihatilah
dalam kebaikan dan kebenaran.
RH, Selepas Isya: 7 Mei 2016
4 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Sang Waktu
Kamu adalah buku catatan
Kamu adalah kanvas gambar
Kamu adalah potret
Kamu adalah recorder
Kamu adalah kamera
Kamu adalah pendengar setia
Kamu adalah pemahat ulung
Kamu adalah kenangan
Kamu adalah roda yang tak pernah berhenti
Kamu adalah anak panah yang terlepas dari busurnya
Tapi kamu tak pernah mau menungguku
Kamu sang WAKTU
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 5
Suara Adzan
Suara panggilan
sayup, rendah bersahaja
Riuh terdengar
Gemuruh dalam dada bagi siapa yang sadar
Suara panggilan
Syahdu menyapa
Getar sejuta rindu
Menuju langkah terdepan bagi siapa yang berakal
Suara panggilan
Merdu membelai
Insan lelah pada dunia
Bersandar pada harap, berujung doa
Suara panggilan
Lantang bak halilintar
Menggelegar hancurkan dosa
Membuka pintu titian syurga
Suara panggilan
Saling bersahutan
Tak pernah berhenti
Berputar mengelilingi bumi tunduk mengucap asma
Suara panggilan adzan, di antara ramai kelakar bocah di
surau
Suara panggilan adzan, di antara gemercik air wudhu para
pencari pertolongan dan kemuliaan hidup sesudah mati
Suara adzan jangan kau abaikan
Suara adzan tanda Allah memanggilmu
Suara adzan berkumandang lima waktu
Suara adzan bergegaslah datang
setiap langkah adalah pembasuh dosa
Tambatkan hatimu pada masjid duhai yang muda
Suara adzan jawablah dengan langkahmu
Suara adzan penuhilah panggilanNYA, walau kau harus
merangkak dengan mata buta...
Suara adzan suara panggilan menuju kemenangan
6 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Ramadhan
Curahkan kegembiraan atas nikmat Ramadhan
Allah jadikan satu momentum
Bagi umat baginda Rasul
Datang sebagai penyejuk hati
menjadi pembasuh dosa
Ramadhan memberikan energi
untuk melatih diri
sehingga nafsu kita tahan
Ramadhan memberikan rasa welas asih
agar kita bersyukur
Ramadhan datang dengan keberkahan
syiamul quran
Di dalamnya ada satu malam
Lebih baik dan indah dari seribu bulan
Perhias duhai diri dengan amal
Kemudian menangislah karena singgahnya hanya sebentar
Rindulah duhai hati pada ramadhan yang akan segera pergi
Boleh jadi perpisahan kali ini untuk selamanya
Karena mungkin umurku takkan sampai
bertemu denganmu tahun depan
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 7
Lailatul Qadar
Malam berhias gemintang
Desir angin pun lembut
Hangat bersama sinar rembulan
Semesta khusyuk dalam takluk
Satu waktu yang sangat istimewa
Allah berikan kepada umat Baginda Nabi
Satu malam lebih baik dari seribu bulan
Duhai diri jangan kau malas bergemul dengan selimut hangatmu
Bersihkan raga, diam tafakur, bacalah Quran
Sujud dalam hening, tersungkur tanda menghamba
Sujud dalam munajat mengharap ridho sang Robbul Izzati
Hingga kemuliaan terpancar di pagi berseri
(RH: malam 21 Ramadhan 1437H)
8 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Do’a di Penghujung Ramadhan
Seuntai do’a di penghujung ramadhan
Ya Robbana,
Terimalah amal ibadah kami yang sedikit ini
Hanya dengan ridhoMu Ya Allah semua kebaikan akan
dikabulkan
Ampunilah semua Dosa dan khilaf kami
Panjangkanlah umur kami ya Robb, hingga bertemu lagi
Ramadhan
Pada malam-malam sunyi munajat kami semoga Kau ijabah,
Rindu ini semakin terasa
laksana kekasih yang akan berpisah
Berduaan dalam khusyuk di malam-malam nan indah
Berharap meraih fitri
Semoga Istiqomah di hari depan
(RH: 2011)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 9
Borneoku Kini (Kicau Si Burung Enggang)
Sebelah Timur Laut bumi Etam
Menjelajahimu tak kan terbatas waktu
Di antara hijau rimba belatara
Bagai Jambrut terhampar permadani
Suaka alam bagi para satwa
Pongo si orang utan, beruang madu si penabur benih
Gemercik air mengalir terkena dayung gubang
Hingga kapal tambangan memecah buih membelah sungai
Pesut menari lincah menebur ombak
Mahakam membentang membelah benua
Berkelok indah di tengah khatulistiwa
Riak kehidupan berjuta insan mengais asa
Di antara perkasanya hutanmu kulihat lamin etam, rumah panjang
tempat
mereka berkumpul, menari, memainkan dawai sampek
Meliuk elok bak burung Enggang mengepak
sayap kehidupan, menghias rona wajah gadis dayakmu nan gemulai
Hikayat lama ini sudah lama kudengar
Waktu mengurai peradaban
Perlahan kisah berganti
Mesin bertarung dengan manusia
Persaingan hajat, harkat dan martabat
Untuk satu ungkapan kemajuan zaman
Kini Borneoku, terluka
Hutanmu gundul terkikis keserakahan
Masihkah kau peduli
Atau....
Ketamakkan membuang kearifan
Memuntahkan bencana
Terhutang bagi anak cucu
Tertinggal sepenggal cerita
10 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Untukmu Pencari Ilmu
Saksikanlah olehmu wahai kusuma
Tinta ini tertoreh bukan sekedar aksara
Kuhimpun selaksa makna agar kau faham adanya
Mulakanlah waktumu dengan suka dan cinta
Tapi bukan pada buaian asmara
Tetapkanlah jiwamu agar asa tertanam
Cintamu pada ilmu, minatmu pada buku
Dengarkan tutur gurumu, nyanyian merdu itu kelak kan jadi
sahabatmu
Duhai paramuda waktumu adalah senjata
Gunakanlah sebijak rasa, kerja keras mengukir cerita pada dunia
Bacalah alam dan mahfumlah dalam laku
Goresanku ini laksana nasihat
Tinggalkan aral kemalasan, kemuraman sebab enggan adalah
musuh dalam diri
Tancapkan tonggak, kibarkan bendera
Bahwa dirimu mampu bicara lewat kata penuh logika, lewat karya
dengan semangat, lewat kebajikan dengan keikhlasan
Cermin laku dalam kebaikan
Tak ada waktu tersisa, lekaslah semaikan benih, sebab peluhmu,
segenap lelahmu kan berbalas ranum untuk kaupetik
Kau tuai kebahagiaan di hari kelak
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 11
Anak Mahakam
Bagai berada di antara kemegahan masa lalu
Duduk di tepimu, mendengar desir angin
berpadu gemercik airmu menghempas pelan
dalam riak yang menyimpan seribu misteri
di bingkai cerita bahari
Termangu sejenak kulihat hilir mudik sibuk tak berkesudahan
namun seakan kau diam dalam kesendirian tak terusik bingar
aku ikut terhanyut memandangmu, seakan kembali kulihat
segurat wajah, laksana nyanyian itu terdengar merdu
walau hanya selintas sayup tapi kini terasa sumbang
12 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Zambrut Khatulistiwa
Dari kejauhan terdengar kabarnya
Kisah kemakmuran bagi penghuninya
Jauh di ujung timur laut Borneo
Membentang alam penuh pesona
Mengundang siapa kan datang
Mengais sekedar rezeki atau janji bertabur permata
Dikelilingi hijau si akar napas, habitat burung putih si kaki
perak
Kekayaan alam dan potensi lautnya
Menjanjikan penghidupan layak
Bergantung berjuta mimpi
Bessai berinta semboyannya
Bertahta dua raksasa industri
Jaminan masyarakat pekerja
Subur dalam balutan kota Taman
Kerja keras yang dibutuhkan
Hasil niscaya kan tercapai
Bontang ...
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 13
Prasasti Merah putih
(Nopember 2015)
Medan laga pertempuranmu
Adalah ajang sebuah kebulatan tekad
Langkah menuju Indonesia jaya
Bumi nusantara bebas dari belenggu
Di antara desing peluru musuh
Memikul senjata sederhana
Tetesan darah dan kucuran peluh
Tangis pilu jelata
Kau jadikan nyala api semangat
Perjuanganmu adalah sejarah
Merahnya darah dan putihnya niat
Bukti suatu ketika dalam pusaran zaman
Bagi generasi agar takkan lupa
Luluh lantak raga,
Memaknai nilai sebuah pengorbanan
Asa itu masih tertinggal
Semangat itu tetap berkobar
Dalam dada anak negeri
Tersimpan dalam prasasti
Cerita mungkin menjadi usang
Lekang termakan waktu
Namun monumen tanda baktimu
Menjadi pengikat batin
Bagi jiwa yang juga punya cinta pada kedamaian, rasa untuk sebuah
negeri
Tempat kita dilahirkan dan hidup
Sebagai wujud ungkap syukurku,
Terima kasihku untukmu pahlawan bangsa
14 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Pena, Pikir, Laku dan Waktu
Lelah getir dalam menapak hidup
Bejalan tertatih, jatuh hingga bangkit
Tak ada yang didapat hanya dengan enggan
Jalan terasa panjang
Padahal waktu sangatlah singkat
Tiada waktu yang dapat terulang
Jika ia tersia-sia
Penyesalan jadi teman
Masih banyak anak-anak negeri
Yang kesulitan karena keadaan
Tak berdaya karena tidak berpunya
Kutitipkan pesan ini pada penguasa
Berikan kesempatan anak negeri
Menikmati pengetahuan
Berikan mereka bekal yang sama
Agar jadi terampil
Asahlah jiwa mereka
agar merunduk seperti padi,
Terbang tinggi bercengkrama di batas cakrawala
Laksana Garuda menjaga pusaka
Hakikat insan mestinya memegang ilmu
Agar bermanfaat pada semesta
Letakkan niat, kuatkan asa
Belajar pada ayat-ayat yang nyata
Hingga cahaya tetap benderang
Belajar, hingga waktu berpulang
Hari Pendidikan Nasional: 2 Mei 2016
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 15
Melebur Dosa
Luluh lantak seluruh jiwa dan raga
Syaitan membisikkan seribu muslihat
Menunggangi nafsu,
Keputus-asaan, kulihat diri di titik nadir
Kami telah dzholim pada diri sendiri
Betapa khilafan dan berjuta dosa tak terhitung...
Namun Allah Sang Pemilik Kebesaran Maha Pengampun
Wahai Jiwa beristirahatlah dengan tenang malam ini
Berselimut Kasih sayang ArRahman ArRahim,
Robb semesta alam
16 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Sangkima
Melangkah perlahan jalan setapak
Berurai peluh sekujur tubuh
Walau penat, namun canda alam
Kian membuncah menuntas hingga ujung
Deru napas mendaki bukitmu
Undakan, terjal, berliku, dipenuhi akar pepohonan
Waspada kaki tersandung,
Napas tersengal,
Tapi hijaumu menutup segenap kejenuhan
Lintasan anak sungai dan mata air
Sayang kau masih belum berhias
Mungkin biarlah begitu adanya
Melepas rindu pada alam
Hamparan luas flora mu di timur Borneo
Menyimpan selaksa fauna milik sang bumi
Kuhela sekali lagi agar udara bersemayam di tubuh lelahku,
sepatu lusuhku berdebu
Menahan berat sisa langkah berkelok
Ingin kubermain kembali menuai seribu janji
Adakah kisah tentangmu kan tetap sama....Sangkima
RH: Taman Nasional Kutai – Bukit Sangkima, Mei 2016
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 17
Ahmad Hafizh
Tersungkurku dalam sujud kebahagiaan
Mendengar kau kan hadir ke dunia nak,
Bersama harapan tak putus kubisikkan
Seiring detak jantung kulantunkan surah Al Mulk
Di awal kelahiranmu kau sudah berjuang
Memulai satu langkah kehidupan dengan berat, tertatih
Namun yakinku kau kan tumbuh dan terpelihara
Surah Al Hadid menguatkan tubuhmu yang kecil dan ringkih,
bersama air mata yang mengalir deras kubaca dengan suara
lirih
Cobaan dan rasa sakit tubuhmu tak pernah kau keluhkan,
Nak, Allah akan senantiasa menjagamu
Kuatlah, karena kau adalah amanah dan anugrah tak
terhingga
Doaku dan helaan nafas adalah kasih sayang yang Allah
titipkan di hatiku
Robbihabli minassholihin...
Pada namamu kusematkan nama Nabimu yang mulia
Jadilah kuat, jadilah harapan kulekatkan dalam namamu...
RH: Bontang, 4 Nopember 2009
Catatan:
Judul Puisi ini adalah nama anak pertama saya, lahir dengan
kondisi prematur, seorang putra, dengan segenap harapan
dan doa semoga dia tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat,
soleh, bermanfaat dan bahagia dunia dan akhirat.
18 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Hilyah Auliya Rahmah
Kau adalah kerinduanku
Hadirmu ke dunia ini adalah bagian hidupku
Sorot matamu adalah mataku
Dalam darahmu mengalir darahku
Setiap langkahmu terbersit seuntai doa
Jadilah wanita mulia
karena kau perhiasan
Jadilah wanita dengan cahaya ilmu
Karena dalam namamu tersemat cintaku
Hiduplah dalam kemuliaan bersama para kekasih Allah
Sebab rinduku bersamamu kelak
Dalam taman penuh kebahagiaan
berhias indahnya kasih sayang Allah
RH: Bontang, 7 September 2012
Catatan:
Judul Puisi ini adalah nama anak saya yang ke-2, seorang
putri dan dengan segenap harapan dan doa semoga dia
tumbuh menjadi anak solehah, bermanfaat dan bahagia
dunia dan akhirat.
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 19
Syair Srikandi
Nama indah yang dititipkan untukmu
Adalah doa
Dengan segenap rasa kasih dan sayang
Ilmu dan cinta yang diberikan
Akan menjadi berkah hidupmu
Mulia dan hiduplah dalam kebaikan
Elok dipandang manis dalam tutur kata
Untaian keanggunan
Tiada jalan yang mudah
Hidup adalah perjuangan
Indah bila dicapai dengan semangat
Asa dan doa menjadi kekuatan
Harapan akan selalu terbentang
Manis dan getir pasti menghadang
Alam tersenyum bila kamu kuat
Hari pasti berganti membawa seribu cerita
Asih dan berjalanlah dengan tenang
Rahasia keindahan ada pada ketulusanmu
Anggun dalam tutur dan laku
Nuansa indahmu jadi anugerah
Indah seperti doa yang terijabah
20 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Senandung Rindu
Duhai waktu,
kau tertawa kala hatiku bergetar karena cinta
Duhai waktu,
Kau tertawa kala jiwaku bersenandung sendu karena rindu
Duhai waktu,
Kau tertawa saat ragaku sakit karena menahan rasa
Duhai waktu,
Berhentilah sejenak biarkan kunikmati perjumpaan ini
melepas belenggu rindu
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 21
Pertemuan Denganmu
Kau dan aku
dua atom berjalan bersisian
Menelusuri rimba jagad raya
Sunyi ku melihat kemilaumu
Silau ku memandang cahayamu
22 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Kasih Abadi
Menuliskan untaian kata ini
Sesungguhnya ku sedang menikmati
Kemesraan dengan sang empunya Aksara
Penanya bersemayam dalam pesonamu
Aku selalu menunggumu ada
Walau hanya lewat kata
Meski tak pernah lagi kulihat senyummu
Aku selalu menantimu dalam rindu
Tanpa harus bertanya sampai kapan kuberhenti menyapa
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 23
Titah Insani
Cinta dipatutkan sebagai keindahan surgawi melekat pada
insan,
Seperti dirimu wujud dalam padangan mataku yang penuh
khilaf,
tak sekedar raga elok, suara merdu atau binar nafsu
Semisal kudapat memandang jauh ke dalam bathinmu
di situlah rasaku bersemayam
Seperti setitik cahaya dalam gelap
Manis dalam kecapan, candu dalam khayalan... namun
Kutertunduk bersimpuh dalam ke tidak berdayaan
Di mana waktu menjadi pemotret kisah
tersimpan dalam asmara sejuta rindu
Menjadi racun bagi siapa yang hilang akal
Jika keindahanmu sebagai insan wujud
Sesungguhnya itulah hijab bagi pandanganku
Kau jadi candu dalam khayalan kosong
Racun ini menyengat terbungkus asmara sejuta rindu
Hilang akal ...
Pergilah melebur dalam cahaya agar silaunya tak mampu
kulihat
Selamatlah mata dan bathinku
24 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Lembar Berdebu
Berderet tersusun rapi
Sedikit berdebu
Di rak kayu, berurutan
Berdasakan abjad dan bidang ilmu
Suasana hening nikmat bagi pembaca
Satu buku sejuta ilmu
Segudang buku lautan cahaya
Sebab ilmu adalah cahaya
Jadikan buku penerang gulita
Buku sahabat yang tak pernah marah
Buku teman paling mengerti
Dengan buku ku banyak tahu
Buku mengajar pengetahuan tak terbatas waktu
Buku mahakarya orang berilmu
Jadikan buku teman dalam kehidupan
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 25
Hujan dalam Kemarau
Angin berbisik pada dedaunan
Yang telah lama dinanti singgah sesaat
Di ujung gulana pada rinainya
Hujan datang membasuh debu
Bercekrama di pucuk, bermain di tanah
Melepas rindu pada sungai, danau
Tanda alam tengah bertasbih
Berpagut sayang dihantar beribu malaikat
Alhamdulillah, bumi etam basah sesaat
Menyapu dahaga hati nan mengering,
Tetes ini semoga membawa berkah
26 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Selamat Jalan Sang Bintang
Hembus angin di bulan Juni
Turun bersama derasnya hujan dini hari
Lentera harapan itu kan padam
Bersama asa yang pudar di dalam dada
Pergilah kau rembulan jingga
Saat musim berganti nan layu mengering
Air mata tak kan berarti lagi
Jika kasih terbang jauh dari pandangan
Masa berganti senja
Selamat jalan duhai penghias mimpi
Pergilah bersama kenangan
Menghanyutkan goresan duka
Kian terlupa
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 27
Cemburu 1000 Rindu
Kucemburu pada rembulan yang dapat kau pandangi di langit
malam
Kucemburu pada bintang-bintang dengan kerlipnya genit
menggodamu setiap malam
Kucemburu pada desir angin yang bertiup sejuk membelai
wajahmu
Kucemburu pada hangat mentari pagi yang tersenyum
padamu setiap hari
Kucemburu pada awan yang setia menaungi parasmu
Kucemburu pada hijau dedaunan yang kau sentuh saat kau
berjalan di taman
Kucemburu pada bunga-bunga yang wanginya kau cium
Kucemburu pada kicauan burung-burung pagi dan sore yang
menemanimu bersenandung
Kucemburu pada hujan yang membawa lagu rindu di ruang
hatimu
Kucemburu pada ombak di tepian pantai menerpa kaki
lembutmu saat berpijak di pasirnya
Kucemburu pada bumi tempatmu berpijak
Kucemburu pada dunia tempatmu berada
28 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Masih Kurasa Rindu
Hujan pun turun sore ini
Perciknya jatuh membasahi
Setiap helai daun dan kuntum bunga
Perlahan menghanyutkan nyanyian sendu
Rinaimu menghadirkan senyum
Segores wajah dalam ingatan
Mengiring membawaku pada batas asa
Mulai senja dingin merayap sepi
Kuhela napas sambil berbisik
Masihkah rindu ini berarti
Atau hanya terpendam bersama luka
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 29
Sajak Rindu
Biarkan aku jadi pena
menuliskan setiap keindahanmu
Jadikan aku penghapus
setiap duka di hatimu
Akulah insan yang terjebak
dalam pusara waktu bertemu denganmu
Tepanah keelokanmu dan terluka
Ku tak pernah tahu, sampai kapan?
yang kutahu hanya merindu
30 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Rindu Tak Berujung
Mulut terkunci jemari kaku
Pikiran mati suri rasa hati pilu
Tak ada aksara indah kususun untukmu
Selain berangan-angan nikmati senyummu
Untaian merdu lirik memadu
Tanda rindu mengalun sendu
Sampai kapankah ku menunggu
Sekedar menuai janji semu
Akankah candu melepas ragu
Mengais asa dalam cemburu
Jauh tanpamu kulintasi waktu
Mengurai kasih terbitkan rindu
Dalam diam kubingkai auramu
Riuh bergemuruh di dalam kalbuku
Perjumpaan denganmu satu hal yang kutunggu
Dahagaku akanmu berpagut dalam syahdu
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 31
Sayap Patah
Sayap telah patah
tertancap busur panah
yang terlepas tak tentu arah
Bersama hujan di bulan Juni
membawa pergi semua cerita
tentang kepak sayap yang gagah di angkasa
ku ingin kau temani jasadku yang belum mati
kucoba terbang tinggi namun tak berdaya
jika semua pergi meninggalkan yang terbaik
Bersama musim yang berganti
ku lukis langit dan merangkai awan mendung
di malam seribu bintang hilang di kesunyian
Ku selalu menunggumu ada
Walau hanya lewat kata
Meski tak pernah lagi kulihat parasmu
aku selalu menantimu dalam rindu
ku tak mampu melawan takdir sang Raja Manusia
yang mesra memanggilku dengan cintanya
32 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Menangislah
Kurindu pada biru
kurindu pada getar jiwa terluka
kurindu pada waktu berduka
Kurindu pada cerita sendu
kurindu ketika hati terkoyak
kurindu ketika diri terhina
kurindu saat kau hilang jauh
kurindu pada penantian sia-sia
kurindu pada setiap hembus angin membawa asa
kurindu pada saat kumencarimu
kurindu pada getir pahit jalan hidup
kurindu pada tangis haru kehilanganmu
kurindu pada sejuk mata memandangku
kurindu seulas senyum lembut menyapaku
kurindu pada padamu
kurindu tangisanku dulu...
menagislah wahai hati.....
menangislah wahai jiwa...
jiwa yang tak pernah berhenti merindu...
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 33
Suriah Memerah Darah
Derai nestapa terurai basah bukan karena air mata
Namun berganti lautan merah darah
Di antara desing peluru dan bombardir rudal
Apa yang kulihat bukan cerita rekaan
Apa yang kubaca bukan kisah negeri dongeng
Tentang kepiluan tak berujung,
Tentang ribun bocah polos dibantai
Di depan mata,
Ayah ibu mereka telah syahid terkubur di reruntuhan
Ini Kisah tentang angkara mesin penghacur
Peradaban tanpa nurani,
Sebab dunia tak punya hati
Sebab dunia diam seribu aksara
Sebab kemanusiaan telah menjadi sampah
Ilusi menjadi fakta
Kebenaran terberangus dendam durjana
Malaikat pun geram, bahkan menitikkan air mata
kaki tangan syetan telah menembakkan anak panah ke
langit...
Sejarah di akhir zaman mulai menuliskan tinta kelam...
tentang para penantang jejak Tuhan di atas dunia
Semesta pun menangis tak sanggup menjadi saksi
Wahai yang lantang berteriak kemanusiaan!!!
Kalian bahkan bersorak di atas ribuan mayat
Mereka yang masih hidup pun Tenggelam mereggang nyawa
Bahkan iblis pun kalah buasnya
Suriah, mereka berteriak nyaring!!!! Di mana lagi saudaraku?
Kebiadaban menjadi awal kehancuran dunia
Hanya kutitipkan untaian doa,
Terbanglah sayang burung-burung syurga
Bersama para bidadari dan sungai-sungai yang mengalir
nikmatilah perjumpaan indah dengan sang Pencipta.
Goresan ini belum selesai, angkara masih meraja
34 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
May 14th, 2016
Merah Padam Hati
Kemarahan adalah api
Jangan kau sulut dalam jiwaku
Jangan kau percik dalam hatiku
Jangan kau nyalakan dalam pikiranku
Sebab ku dititah bukan tuk membenci
Jika kau benci jangan kau tuangkan
Jika kau tak suka jangan kau nyanyikan
Kau jadikan aku sebab
Kau buatkan aku pemicu
Kau nyatakan alasan tak masuk aqal
Luka menganga pada nurani tak berdaya
Dendam membara pada diri yang terlupa
Kau mainkan genderang perang
Kau robek kepercayaan bathin
Kau abaikan hak insan
Kau rakus, berangus,
Kau sikat, ikatan hati terurai
Sampai jelaga hitam menutupmu
Dendam...
(RH; 14-05-2016)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 35
Di Simpang Jalan
Segores catatan masih tersisa
Di antara wajah-wajah yang dulu lugu
Kini berganti rona, suara canda itu perlahan menghilang,
tak kan lagi kudengar
Secepat kilat waktu berjalan bersama selaksa cerita
menyimpan kisah masa remaja
Saatnya menghantarkan kalian ke gerbang masa depan
Selamat jalan anak-anak bangsa,
Masih jauh perjalanan
Cita-cita dan obsesi hidup menanti
Teriring untaian doa
Semoga impian dan harapan
dapat kau raih
Teguhlah duhai hati,
pahit manis hanya hiasan
Sampai berjumpa nanti dengan senyum ikhlas,
tanda usia menuai janji
Selamat jalan...
Tepian - Kota Raja, 21-05-2016
36 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
MayDay-MayDay
Buruh-buruh tumpah ke jalan
Suarakan jeritan atas himpitan
Harga kebutuhan melambung
Banyak mulut dan perut di rumah butuh diisi
Sementara kepastian menjadi menara tinggi tak berpintu
Ribuan jelata menganga butuh segera disuapi
Penguasa sibuk bermain kertas
Utak-atik kebijakan
Dalih keseimbangan peran
Pengusaha, buruh dan pemerintah
Mereka lupa, kesempatan kerja kian langka
Pengusaha tak mampu bayar standar tinggi
Jika buruh mogok, atau diPHK
Roda ekonomi keluarga lumpuh
Teriakkan, jaminan bebas pelecehan,
Bebas kekerasan
Jaminan kesehatan
Jaminan keselamatan kerja
Jaminan hari tua
Butuh kepastian dan standar yang memadai
MayDay-MayDay
Serukan tutuntan hak buruh tertindas terpenuhi
Dengarlah wahai wakil rakyat
Lidahku sambungkan suara mereka
Itu janji penguasa lindungi jelata
Bukan lupa atau terlena
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 37
Dawai Berkarat
Dawai berkarat nadanya sumbang
Cukup lama tak kusapa engkau
Dentingmu kurasa mulai hambar
Meski detak jantung masih sama
Menuai nada terlupa
Kayumu melapuk berdebu
Kupinjam rasa pada hati yang terkoyak
Seperti gurat tercermin di wajah
Tanda nyata zaman berganti
Kulantunkan walau rasa sudah berbeda
Menapak tinggi jalan kearifan
Tersengal napas, menahan seribu tanya
Mengapa?
Ini tentang realita yang bersembunyi
Semakin kabur tertutup keserakahan
Kedurjanaan pada dunia semakin merajalela
Menyeringai taring arogansi penguasa
Sementara...,
Lagu ini masih terdengar semakin jelas
Jelata membatin pilu melihat kenyataan
Siapakah lagi jiwa yang bersih
Mampu berperang melawan angkuh angkara dan tipu daya...
Jiwa lelah tak satu nada kembali tercipta
Dawai berkarat nadanya semakin sumbang
38 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Kasih di Ujung Waktu
Sepahit ampas kopi yang tersisa
Di cangkir yang mulai kering
Tanganku yang penat memegang dawai
Dentingnya mulai mengusik malam tuan & puan
dalam mahligai peraduan
Rasa bersalah atas asa yang terurai
Membumbung lewat titian syair tak terucap
Guratan halus menggetarkan lubuk hati
Vibrasi nya melantunkan senandung rindu
Tak bertepi
Namun kala cahayanya menyapaku
Jiwa ini berujar andai hidupku ribuan tahun
Lingkar jemari kan dapat kuraih
Tentu smaradhana kan tercipta
Aah, kerinduan akan makna kelugasan
Tanpa harus bertopeng laku
Kau kenal aku dalam kurun yang terlewati
Kini kita hanya dapat bercanda pada fatamorgana
Walau resonansinya tak sekuat dulu
Aku tau kau ada dalam pagutan kesejatian
hilangku dalam takut
Jadilah belenggu tak berkesudahan
hingga ku luluh dalam simpuh ketiadaan
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 39
Rakyat disikat, Konglomerat diangkat
Dunia terbalik, Awas kualat!!!
Kaca mata tak lagi diperlukan
Jelas melihat tanpa tabir
Melihat fakta namun tak mengerti
Hilang akal diputar kemilau dusta
Imagiku bermain di ruang berbatas aksara
Maknanya pun tak sejelas dulu
Kebenaran dan keadilan itu
Ilusi dalam pikiran yang bodoh
Tersimpan dalam kotak Pandora
Yang hilang di dasar samudera yang dalam
Terkubur lumpur hanyut tak tertuju arah
Masih terkunci, kuncinya hilang di antara semak di dalam
rimba belantara
tak terjamah
Entah di pulau mana?
Kian surut yang peduli
Atau mungkin berada pada dimensi lain
Dunia khayal dan mimpi
Atau mati dalam sunyi
40 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Pertiwi Menjerit!!!
Pentas ‘policik’ kembali bergoyang atas nama rakyat
Setan pun tertawa ngakak sambil mengangkang...
Hasrat berkuasa menipu mata,
Berselimut kata ‘kejujuran’
Menyeringai bagai belati siap menikam
Banyak yang tertawan oleh silau kerlip
Sepak terjang bak pahlawan kesorean
Padahal para bedebah melumuri pertiwi dengan noda
Mengikis senyum anak-anak bangsa
Suram masa depan, sulitnya ekonomi,
birokrasi komplek milik para cukong
Berkantong gentong
Kenyataan ini bagai cemilan selalu ada di setiap
setiap meja perbincangan, diskusi kosong
mendistorsi pikiran...
Ah sudahlah takkan berakhir angkara murka
sampai akhir dunia
(RH: 13 Maret 2016)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 41
Koma Belum Titik,
Begitu terang benderang,
Terlalu vulgar, menyilaukan
Hingga tak terlihat kasat mata
Siapa mengaku bersyahadat
Lupa titah,
hingga kebodohan membutakan nurani???
Lupa tujuan,
Hingga kezhaliman membuai akal!!!
Lupa diri,
Hingga tak tau kaummu terjajah!!!
Lupa musuh sejati,
Hingga fitnah berbungkus buaian???
Bagi yang yakin,
Laksana menggenggam bara api
Lari lah sejauh hembusan angin!!!
Cepaaat!!! Secepat kilat!!!
Tutup kesaksian hati, lemparkan kuncinya
ke dalam luas samudera batin
Nantikan di menara putih dengan iman,,,
42 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Tirani, tirani....Tirani
Biar bau bangkai menyengat tetap saja banyak tak
perduli...(revolusi runtuhkan tirani)
Busuknya tercium tapi tak ada yang beranjak...(masih terus
dibela pemujanya yang dungu)
Kuberharap pada hujan , ombak, atau angin sebagai jawaban
atas doa...dapat menyapu bersih gunung sampah
itu...(Rezim topeng)
Atau karunia sabar ini tetap jadi penutup hidung, dan mata...
bak benteng pertahanan...
Doa yang menjadi parfum wangi ...
Sambil menanti hilangnya kebusukan
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 43
Bontang, 38°C Gerah
Ada nada rindu di tengah desir angin
Membawa kering dedaun yang menguning
Nampak menjadi coklat, ada yang hitam
berasap terbakar kepanasan
Bumi ini dahaga curahanmu
Dimana tetesmu yang jatuh dibawah beribu malaikat
Tertakankah oleh tangan penguasa
Sehingga berani durhaka pada sang maha kaya
Lupa atau ingkar lalu sang maha adil memberi istidrot
Engkau mengira itu ijabah
Ribuan insan menghiba
Agar sejuk tanah ini dapat dirasa
Rindu pada hujan
Inikah nikmat yang terlupa
Selipkan satu pinta dalam doa
Bontang, panas kering meradang
(RH: 12 Maret 2016)
44 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
High Fever
Patah gigi geraham
Harta dunia melintas berkilat
Ulu hati terasa tertusuk
Takkan tersilau dalam panjang angan
Demam sampai geligi gemertak
Menghitung diri sebatas mimpi
Aral melintangi raga
Rasa terkecap pun ikut bermetamorfosis
Perubahan yang abadi itu nyata
Kadang menyimpul hati terang tanpa jarak
Kadang menguak tabir tanpa batas
Jika intan tercipta maka cahaya bathin
Jadi penyembuh
Absurd ini sebuah pertanda...
Mengejar sebutir micro atom kebaikan
Berharap sekepal makna akan dituai....
Biarlah syukur menjadi tameng
Dan bukan aksara bermain ke-akuan
Cukuplah waktu jadi nasehat
(RH - edited Nov 22,2015)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 45
Muntah!!
Menyingkirlah jauh..sejauh jangkauan pusaran angin mampu
menjamahmu…karna karma malapetaka hanya utk para pendusta
Seranglah si Gembala, maka domba2nya pasti berhamburan…
tak peduli si gembala sdh jadi nabi atau manusia suci ..
semua hanya tabir ilusi
Jangan salah masuk barisan..jika tak paham tata aturan.. baik
tinggal di rumah ..duduk diam bersemayaman sembari panjatkan
doa kepada Ilahi
Ketika burung nazar berkumpul berpesta di atas bangkai musuh
negeri..lebih baik menonton dari jauh..agar paham apa yg terjadi..
Petaka itu bukan untukmu …bencana itu bukan utk kita para anak
bangsa pencinta negeri …karma itu hanya utk mereka para
pengkhianat negri
Nikmati dan sykurilah peran mu.. Jangan berkeinginan berperan
menjadi yg bukan sejatinya dirimu,karena yakin pasti kau jadi abu.
Gelitik menggelitik apa yang kubaca dan kulihat....
Kisah kekinian negeri ini
Geli menggelikan...sampai muak memuakkan....
Adakah cerita sejuk jika pandang sudah kehilangan dimensinya...
Tak peduli lagi apapun lakon terjadi...
Wayang bertopeng durjana rakus melalap mangsa
Sudah cukup akal meraih asa
Itulah kecapan yang harus dirasa
Bukan sekedar jawaban atas mengapa...
Kini kata tak lagi bermakna
Diam bukan pilihan
tapi setidaknya ada langkah kecil
Yang tak buta meski dicerca seribu aksara...
#MUNTAH 18-19/2/2015
46 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Menuai Makna Dalam Diam
Bercerminku pada samudera
Namun tak terlihat
Bertanyaku pada belantara
Tak terjawab
Berkataku pada semesta
Tak terbalas
Bermainku di ujung galaksi
Serasa seorang diri
Duduk ku diam di batas pandang mata
Kuberbisik pada jutaan sel tubuhku
Mereka tak mendengar
Hanya ada satu tangga vertikal
Untuk sampai ke tujuan
Namun sang bayu selalu menerpa
Namun sang surya kerap panas menyengat
Namun badai kerap jadi penghalang
Butuh beratus dimensi agar fahami makna dari gerak jasad
ini
Si bodoh hilang akal berkabut jelaga dosa senantiasa
menutup tabir mengaburkan lukisan indah harum dan merdu
mengalun untaian notasi sang maestro bak mimpi yang tak
pernah nyata...
Ini bukan permainan aksara melainkan jeritan roh yang
menerawang dalam genggaman Sang Perkasa...
Microorganisme dalam universe ini sungguh tak bermakna,
tunduk dalam titah...sujud dalam rasa...inginkan keabadian
yang lebur bersama, fana.
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 47
Gundah Sebutir Peluru
Kau teriakkan dengan lantang...
beri pelajaran anak negeri dengan kesantunan akhlak
Kau teriakkan pula dengan lantang
kata-kata keji mematikan nurani
Ku hanya bisa berbisik lirih dalam hati penuh lara
sambil menangis di pangkuan ibuku,
ini yang sedang terjadi padamu...
Hilang rasa manis kecapan,
kelu lidah dalam dahaga, yang ada hanya tangan-tangan
kotor,
hati penuh karat, mata yang kabur atau membuta,
sehingga ocehannya mampu menggelabui makna.
Kurindu air hujan yang setiap tetes yang jatuh ke bumi
dihantar oleh beribu malaikat yang patuh pada PenciptaNYA,
walau terhijab dalam pandangan mata.
Kubasuh wajah penuh debu ini, kuasah mampukah kuasah
mata hati sambil menangis menanti terbit matahari jingga
entah kapan nanti.
48 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Spektrum Warna Dalam Lensa
Ketika garis-garis memukau
Smaradana mendekap impian
Goresan putihmu tak sebanding
Bercerminku pada samudera
Pastilah waktu yang bersalah
Bias cahaya ini bukan masanya
Tetapku silau kan kharismanya
Bermainku dalam ruang imagi
Menemukanmu dalam dimensi
Puncak rasa yang tertuang
Dahagaku dalam buaian
Berbisikku lirih membelai sanubari
Duhai dunia fana, inikah hiasanmu?
Sebandingkah dengan kesejatian
Kekal dalam pagutan keabadian
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 49
Ruang 4x4
Melambungkan tinggi imajinasi; menghina akal sehat...
Secangkir kopi pahit mengurai dimensi ruang
waktu yang berbau busuk.
Sirami waktu ini dengan air putih pemoles haus dahaga
membelai lembut
Logika dan kesadaran menuai kepastian akan sebuah
keagungan nampak di anggunnya pagi nan rupawan
Itulah wajahMU yang kau munculkan lewat nama-nama
indahmu
Tersungkurku dalam damai
Ruang 4x4...
(Pagi ini,10 Nopember 2015)
50 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Bisikan Masa Lalu
Kala selimut malam menutup dalam gelap
Kubutuh secercah cahaya untuk mencari kesejatian, atas
makna cinta yang vibrasinya menyapa qalbu kala dirundung
rindu
Kurindu pada masa, kurun dari sepenggal kisah dalam zaman
Kurindu pada dimensi, ruang fana tuk sekedar membawaku
pulang
Kurindu pada rajutan kisah, terungkap dalam aksara rahasia
Andai roda itu berputar kembali, apakah sama kan kuhitung,
bingkai cerita yang tergores, ada luka namun harum tertiup
Buaian ini hanya sementara
Menggapainya hanya sekejap mata
Namun kurasakan hingga kucuran air mata
Berderai membilas asa
12 Nop 2015