Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 51
Lembar Tertutup Debu
Duhai sepasang mata
Sepotong hati yang terpinjam
Lihatlah dengan baik sangka
Maka batinmu kan faham,
Duhai sepasang mata
Sepenggal hasrat yang tersimpan
Rasakan lewat makna
Perhatikan dengan tatapan
Aku ini hanya dititipkan setetes embun rasa
Kucurahkan untuk mengisi dahaga jiwaku sendiri
Dengarkan dengan seksama
Aku ini bukan lawanmu, aku ada dalam medan
pertempuranku sendiri
Jadilah pendengar
Maka akalmu kan mahfum
Jika riak itu muncul dari diriku,
Janganlah kau anggap gelombang,
Sebab perciknya tak pernah menghantam
Buka tabir dan belenggu nafsu
Maka kau kan jadi sahabatku
Arungi samudera laga ukir cerita penuh
makna...bila rasa kita sama
RH – 052
52 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Mahkota Imitasi
Dan tunggangan itu bernama
kedaulatan rakyat, kebesaran nusantara
Tirani menunggangi hingga rezim jatuh,
Karena keping tak seberapa rendahkan martabat bangsa
Penguasa Sejatinya adalah cukong-cukong
di balik layar berpundi permata hasil jarahan
tetes keringat dan air mata pribumi
Dengan kekuatan uang mereka mampu
menghipnotis mata hati
melihat putih jadi hitam, dan hitam menjadi putih...
Merah pun kini jadi abu-abu
Kolonialisme di depan mata, di pertontokan vulgar,
menyayat rasa
Mulut ternganga takjub, memuja sang
pemegang mahkota imitasi
Rakus dan keji tertutup kerja bodong
Layar sudah tercabik,
Merah Putihku compang-camping namun tak pernah dirasa
Masuk angin duhai para pejabat
Hidup dalam gemerlap harapan palsu
Nyatanya berjalan semakin suram
Mana lagi satria yang mampu melawan tirani
Satria pemilik tahta kehormatan pertiwi
(RH; 14 Maret 2016 10:06 PM)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 53
Gerhana dalam Secangkir Kopi
Cangkir kopi masih panas
Hitamnya masih pekat
Bacalah tanda-tanda kebesaran-Nya
Matahari dan bulan usai berpelukan
Perlu perenungan dalam membaca alam
Masih tercoreng tangan-tangan kotor
Pertiwi masihkah bermahkota?
Mulut bungkam, telinga tak mendengar,
Mata silau pendaran gerhana panjang
Yang ingin lepas dari pagutan
Hanya mata hati mampu melihatnya
Berujar bijak kata waspada
Ah sudahlah... kopi sudah mulai dingin
Esok masih panjang...
Kututup malam menunggu pagi penuh harap
Karena hidup dalam genggamanNYA
(RH; 10 Maret 2016 03:00 AM)
54 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Smaradhana Daun Layu
Gurat wajah tercermin pada atsiran pensil
Senyum itu masih tertahan
Bersama berjuta kenangan dan rasa
Dalam buku coretan lugu masa lalu
Kubuka lagi puisi tentang hembus angin,
Derai hujan menyertai langkah kaki kecil,
Terkadang gontai kelelahan mengejar mimpi
Bersama luka tergores waktu takkan kembali
Menembus batas rasio, terbungkus aksara
Beribu makna menuai arti keindahan
Kudamba hanya fatamorgana
Kulit legam terbakar berlari meraih asa
Pungguk merindu pada bulan
Kasmaran pada permata
Aku hanya ilalang rebah terinjak langkah
Sepenggal kasih dalam bingkai
menghilang rautnya merona zaman
Duhai sang warna, kutengok kau
Dalam pandang mata hati
Abadi dalam pagutan memori
( 13 Maret 2016 08:58 PM)
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 55
Celoteh si Daun Teh
Cerita ini, bukan tentang secangkir kopi . . .
Tapi pagi ini, secangkir teh hangat yang diseduh beraroma
dari rasa cinta,
mencoba menggali makna dari rangkaian aksara
di antara kata-kata indah, ada terselip susunan dusta
berbalut rupa, mahfum sudah tersirat, namun tak semua
mata melihat,
isi kepala, getaran jiwa kita memang berbeda,
namun tak bisakah ia berjalan besisian...
rasa dengki, kesumat akut, mengkristal, menjadi racun dalam
diri.
Raksasa memakan cakrawala
Terlupa atau lalai
Tentang penciptaan langit dan bumi
Sampai pada waktunya
Siapa ingkar akan dapat ganjaran
Muntahkan asam lambung yang terlalu pekat
Tutup dan kunci semua indra ...
Ku hanya mengadu dan merasa dengan hati
(13 Maret 2016 08:58 AM)
56 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Seringai Fatamorgana
Pesonanya mampu menyilaukan
Tatapannya seolah mengisyaratkan
Gundah di pelukan zaman
Terkurung dalam dimensi masa berbeda
Hati ini tak bisa berdusta
Insan tak mampu bersandiwara
Tuk sekedar berbagi rasa menuai dosa
Tuk sekedar mencicipi rindu asmara
Sekilas nampak ini nyata
Cerita ini hanya fatamorgana
Esok waktu berganti kisah berubah
Kenyataan hanyalah keindahan
Tersisa di pinggir waktu
Menjadi puing kenangan tanpa arti
Hanya lelah berpagut gelisah
Sampai saatnya mimpi berlalu
Terbingkai potret kusam masa lalu
Lupakanlah, jangan kau terbawa romansa
Manis khayal pahit terdulang
Bontang, 25 April 2016
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 57
Sungai Mahakam, Ku Cari Sayang
Meliuk-liuk elok rupawan
Seakan membelah benua
Aliran yang menyimpan seribu cerita
Tentang mimpi di tanah Borneo
Arusmu deras jadi denyut kehidupan
Berlabuh kapal, rakit dan gubang
Mewarnai laju krida kota Tepian
Berkisah tentang harapan di bumi etam
Melambai daun pohon rumbia tertiup bayu
Menghias cantik panoramamu
Habitat para satwa bercanda,
Dulu pernah kulihat pesut menari
Memainkan nada indah pada gemercik airmu
Kicau burung Enggang adalah irama
Teman perjalanan menuju ke hulu
Mencari kasih hilang nan lama kucari
Singgahku di rumah lamin,
Sampaiku di kota Raja saat temaram senja
Tak kudapati kau di sana
Masih kucoba menggali sejuta misteri
Sesaat kuberhenti termangu di tepianmu...
Mahakam, di mana ku cari sayang
Harapku tak pernah hilang
Tetaplah mengalir walau berganti zaman
(RH: Ba’da Tarawih 21 Ramadhan 1437H/ 25 Juni 2016)
58 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Sahabat Hati
Walau kau jauh, tak sungkan ku menyapamu
Meski lewat tulisan
Sebab ku tahu, kan kan selalu ada
Walau tak pernah lagi ada canda menghias hari
Tapi seulas senyum selalu hadir dari kejauhan
Ke mana pun kumelangkah menemukan arti
Kau ternyata lebih memahami
Kau bahkan mampu memasuki relung-relung pikiran dan jiwa
Membawaku mengembara berjalan dalam logika
Memandang lebih bijak dan tenang
Tak jarang lebih tajam dari mata hati
Kau sahabat yang selalu kumiliki
Hingga usia berhenti di batas senja
Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang 59
Gowes ... Kayuh si roda 2
Melintasi jalanan beraspal
Kadang berbatu
Sering menanjak
Sesekali menurun dan licin
Tak jarang dipenuhi mesin bermotor
Egois tak mau mengalah dan bising
Melewati jalan yang panjang
Tak terasa peluh mengucur
Membasahi tubuh ini yang tak lagi muda
Terus kukayuh si roda dua
suara rantai bak mengalun
bagai nada indah terdengar
Membawa nikmat tak terlukis kata
Keceriaan, kekuatan hati, kesabaran sampai pada tujuan...
Mengalahkan malas diri sendiri
Melawan lelah memagar raga
Gowes, itu kata yang lekat saat ku melaju di atas roda.
Sesekali kriing, ciit...suara rem kanvas
kunyalakan semangat untuk mengayuh, gowes!!!
60 Antologi Puisi – Celoteh si Burung Enggang
Jika Kau Merasa
Hidup ini bukan sekedar kau jadi aku
Aku jadi kamu, aku jadi dia, kita jadi mereka
Tapi seberapa dalam rasamu
Sekuat apa bila engkau menjadi
Setangguh apa bila kita mengalami
Seteguh apa jika aku mendapat peran
Tentang nenek tua duduk di tepi jalan
Kisah gadis kecil menjajakan jualan
Cerita kakek renta mengayuh sepeda butut
Seorang wanita cantik bersolek di mall
Atau seorang lelaki necis bermobil mewah
Pejabat dengan kekuasaan
Aparat dengan kekuatan
Ulama dengan pengaruh ilmu
Tapi apakah kau benar merasa
Benarkah kita mau menjalani
Mampukah kita hidup berbagi