The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by eriefwibowo17, 2022-08-13 06:06:20

3. ELEMEN 1 Proses Bisnis Dibidang AKL

3. ELEMEN 1 Proses Bisnis Dibidang AKL

LAMPIRAN MATERI ELEMEN 1
( GURU DAN PESERTA DIDIK )
A. PROSES BISNIS
Perhatikan ilustrasi gambar berikut ini !

(Sumber gambar : https://cutt.ly/nK1rLkR)
1) Darimanakah sumber sebuah proses bisnis itu dimulai ?
2) Mengapa untuk memulai sebuah proses bisnis perlu membuat perencanaan ?
3) Mengapa dalam sebuah usaha harus ada proses untuk menjalankannya ?
4) Dalam sebuah proses bisnis, kita mengenal adanya proses langsung dan proses tidak

langsung, jelaskan maksudnya !
5) Bagaimanakah proses bisnis yang terjadi pada perusahaan jasa, perusahaan dagang,

dan perusahaan manufaktur ?
Bagaimana ?, sudahkah mempunyai gambaran pemahaman kalian untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan di atas ?

Ketika hendak membangun
bisnis, Anda akan merancang konsep,
tujuan serta strategi promosi untuk
mengenalkan produk bisnis. Jika
ketiganya telah direncanakan dengan
matang, produk bisnis siap untuk
diluncurkan. Segala sesuatu yang
berkaitan dengan hal tersebut
dinamakan sebagai proses bisnis. Setiap
proses bisnis di setiap perusahaan pasti
memiliki hambatan dan tantangan yang
berbeda-beda. Namun, itulah pokok dari sebuah bisnis karena akan selalu ada langkah yang
berliku-liku.

1

1. Pengertian Proses Bisnis
Secara garis besar, proses bisnis adalah serangkaian aktivitas bisnis yang

berkaitan dengan produk bisnis. Aktivitas tersebut akan memiliki syarat dan ketentuan
berlaku sehingga mampu memenuhi tujuan bisnis. Ketentuan tersebut dapat dilakukan
secara berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tetapi bisa saja
memaksimalkan sebuah proses yang terjadi pada saat itu. Setiap proses pasti memiliki
tugas dan peran yang berbeda-beda, tetapi tetap pada satu jalur dan tujuan yang sama.
Tujuannya adalah mengembangkan visi dan misi perusahaan ke arah yang lebih baik.

Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, proses tersebut akan dibagi ke dalam
beberapa sub proses, dengan tugas atau aktivitas berbeda-beda di tiap bagiannya. Namun
beberapa ahli memiliki pendapat tersendiri mengenai proses bisnis ini. Adapun proses
bisnis menurut para ahli adalah:
1) Davenport (1993) mendefinisikan proses bisnis sebagai:

“aktivitas yang terukur dan terstruktur untuk memproduksi output tertentu
untuk kalangan pelanggan tertentu. Terdapat di dalamnya penekanan yang kuat pada
“bagaimana” pekerjaan itu dijalankan di suatu organisasi, tidak seperti fokus dari
produk yang berfokus pada aspek “apa”. Suatu proses oleh karenanya merupakan
urutan spesifik dari aktivitas kerja lintas waktu dan ruang, dengan suatu awalan dan
akhiran, dan secara jelas mendefinisikan input dan output.”
2) Kelly R. Rainer

Menurut pendapat Kelly, proses dalam bisnis merupakan kegiatan yang saling
berhubungan dalam upaya menghasilkan produk atau jasa yang bernilai bagi
perusahaan.
3) Magal dan Word

Tidak jauh berbeda, Magal dan Word juga mengartikannya sebagai rangkaian
kegiatan untuk menghasilkan sesuatu. Dimana setiap proses dilakukan berdasarkan
atas suatu kejadian.
4) Hammer & Champy’s

Mereka berpendapat jika proses tersebut sebagai aktivitas yang memerlukan
satu atau lebih masukan guna menghasilkan output yang bernilai bagi pelanggan.
5) Rummler & Brache

Proses dalam sebuah bisnis adalah seluruh aktivitas yang dijalankan dengan
tujuan menghasilkan produk maupun jasa.
6) Weske

Segala aktivitas yang bisa dijalankan dengan baik dengan bantuan sistem
informasi dan juga secara manual.

(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

Jadi bisa disimpulkan, yang dimaksud dengan proses bisnis adalah suatu
kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menyelesaikan
suatu masalah tertentu atau yang menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan
tertentu). Suatu proses bisnis dapat dipecah menjadi beberapa sub proses yang masing-
masing memiliki atribut sendiri tapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari sub
prosesnya. Analisis proses bisnis umumnya melibatkan pemetaan proses dan subproses
di dalamnya hingga tingkatan aktivitas atau kegiatan.

2

Beberapa karakteristik umum yang dianggap harus dimiliki suatu proses bisnis adalah:
1) Definitif: Suatu proses bisnis harus memiliki batasan, masukan, serta keluaran yang

jelas.
2) Urutan: Suatu proses bisnis harus terdiri dari kegiatan yang berurut sesuai waktu dan

ruang.
3) Pelanggan: Suatu proses bisnis harus mempunyai penerima hasil proses.
4) Nilai tambah: Transformasi yang terjadi dalam proses harus memberikan nilai

tambah pada penerima.
5) Keterkaitan: Suatu proses tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus terkait dalam

suatu struktur organisasi
6) Fungsi silang: Suatu proses umumnya, walaupun tidak harus, mencakup beberapa

fungsi.
7) Sering kali pemilik proses, yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap kinerja dan

pengembangan berkesinambungan dari proses, juga dianggap sebagai suatu
karakteristik proses bisnis.

Terdapat tiga jenis proses bisnis:
1) Proses manajemen, yakni proses yang mengendalikan operasional dari sebuah

sistem. seperti Manajemen Strategis
2) Proses operasional, yakni proses yang meliputi bisnis inti dan menciptakan aliran

nilai utama. seperti proses pembelian, manufaktur, pengiklanan dan pemasaran, dan
penjualan.
3) Proses pendukung, yang mendukung proses inti. seperti keuangan, rekruitmen,
sistem informasi.

(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

2. Jenis-jenis Proses Bisnis

Pada praktiknya, ada tiga jenis proses dalam
sebuah usaha. Apa saja jenisnya?
a. Proses Utama (Primer)

Proses ini menjadi inti dari operasional
perusahaan yang berkaitan dengan aliran nilai utama
dalam usaha. Ada tiga fase dalam proses ini,
diantaranya:
1) Produksi
2) Pemasaran
3) Layanan kepada pelanggan

Dengan menjalankan tiga tahap tersebut, maka sebuah perusahaan telah menambah
nilai bagi penawaran akhir serta sukses mengirimkannya kepada pelanggan. Hal itu berarti
operasional usaha telah berjalan sesuai rencana dan tujuan.
b. Proses Dukungan (Sekunder)

Proses ini tidak menambahkan nilai secara langsung pada produk akhir. Namun
proses ini fokus menyiapkan lingkungan yang mampu mendukung proses utama

3

dengan efektif dan efisien. Proses dukungan ini yang memastikan operasional
perusahaan tetap berjalan. Artinya proses ini fokus melayani internal perusahaan.
c. Proses Manajemen

Dalam pelaksanaannya, proses manajemen memerlukan keterlibatan
pengawasan, perencanaan juga pemantauan. Proses ini akan mengatur seluruh
kegiatan, pengelolaan dan juga manajemen strategi organisasi atau perusahaan. Proses
manajemen akan menentukan standar juga tujuan yang mengarahkan proses utama
juga pendukung agar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien. Proses ini
dimanfaatkan untuk pengelolaan usaha lewat rencana strategis, rencana taktis dan juga
operasional.
(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

3. Tahap-tahap dalam Proses Bisnis
Pada pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan proses bisnis yang harus Anda

lewati. Tujuannya adalah agar semua dapat berjalan dengan teratur, sehingga mampu
mencapai apa yang sudah direncanakan dan menjadi tujuan usaha. Tahapan-tahapan
tersebut, diantaranya yaitu:
1) Analisa Kegiatan Bisnis

Pada tahap yang pertama ini, pihak owner dan manajemen perusahaan akan
bertumbuh dalam menentukan usaha yang akan dijalankan. Proses ini akan
membantu Anda mengetahui tindakan yang paling sesuai dengan kebutuhan juga
tujuan usaha kedepannya.
2) Penentuan

Setelah berdiskusi dan mencapai kesepakatan, maka selanjutnya pihak
manajemen akan menentukan kegiatan atau proses yang akan dijalankan dalam
usaha. Penentuan tersebut biasanya terkait biaya operasional agar usaha tersebut
dapat berjalan, serta menghasilkan keuntungan sesuai harapan. Penentuan ini akan
dilakukan berdasarkan pada hasil analisa dan diskusi yang sudah dilakukan
sebelumnya.
3) Pelaksanaan

Setelah berdiskusi dan dilanjutkan dengan menentukan, maka setelah itu
saatnya untuk melaksanakan atau menjalankan. Segala perencanaan juga tujuan
usaha yang sudah didiskusikan serta disepakati bersama, tidak akan bisa dicapai
tanpa adanya pergerakan.

Maka setiap bagian dari perusahaan harus bisa menjalankan peran dan
tugasnya masing-masing secara optimal, guna mewujudkan apa yang dijadikan
tujuan. Penggunaan aplikasi ERP yang terintegrasi juga akan mengoptimalkan
pelaksanaan tugas setiap tim atau divisi, karena data yang dihasilkan akan lebih
selaras, terintegrasi dan akurat.
4) Evaluasi

Tahap terakhir dalam proses sebuah bisnis yaitu evaluasi. Dengan adanya
evaluasi, Anda dapat melakukan penilaian terhadap strategi bisnis dan juga kinerja
karyawan. Apakah sudah cukup efektif dan memberi kontribusi yang maksimal untuk
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

4

Hal itu akan lebih efektif jika Anda melakukan evaluasi secara berkala di akhir
periode. Dengan begitu performa SDM juga strategi usaha selalu dalam kendali dan
bisa dioptimalkan. Anda bisa melakukan perubahan strategi dan juga meningkatkan
performa kerja karyawan ketika hal itu diperlukan.

(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

4. Fungsi Proses Bisnis
Proses bisnis memiliki fungsi penting bagi perusahaan. Beberapa fungsinya adalah:
1) Membantu manajer memperoleh solusi untuk mengatasi permasalahan dalam
perusahaan selama proses dijalankan
2) Menjadi alat indikator bagi pelanggan, untuk bisa memprediksikan kapan proses
tersebut akan dimulai, berakhir ataupun dijalankan secara berkelanjutan
3) Membantu memberikan informasi kepada seluruh tenaga kerja yang terlibat, untuk
mengetahui tugas dan perannya masing-masing agar proses dari usaha tersebut dapat
berjalan lancar dan mencapai tujuan.

(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

5. Manfaat Proses Bisnis
Setelah memahami definisi, tujuan, fungsi, jenis dan juga tahapan-tahapannya,

kini kita cari tahu apa saja manfaat yang diberikannya. Berikut ini adalah beberapa
manfaat yang bisa didapat dari proses yang dilalui sebuah bisnis.
1) Dapat dijadikan acuan dalam memproyeksikan bisnis secara keseluruhan dan juga

realtime
2) Memberikan informasi terkait kondisi perusahaan
3) Meningkatkan nilai kompetitif perusahaan, untuk bisa bertahan di tengah persaingan

bisnis dan berbagai perubahan
4) Memungkinkan perusahaan untuk lebih responsif atas setiap tantangan yang bisa

muncul kapan saja
5) Membantu perusahaan untuk lebih cepat mengidentifikasi peluang bisnis terbaru dan

juga pergerakan kompetitor
6) Lebih fokus pada kebutuhan konsumen atau pelanggan
7) Meminimalkan human error karena menempatkan tenaga kerja sesuai dengan

kemampuannya
8) Proses yang tepat meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja, sehingga proses

operasional dapat lebih cepat
9) Melalui proses yang ada, dapat memaksimalkan komunikasi antara perusahaan

dengan pelanggan seperti melalui riset dan juga menjawab feedback konsumen
10) Mempermudah proses evaluasi, dengan begitu perusahaan akan lebih mudah

menemukan solusi atas permasalahan dan juga melakukan perbaikan atas
kekurangan yang ada
11) Menghindarkan perusahaan dari sikap reaktif yang dapat memicu kondisi
kontraproduktif

5

Dari penjelasan di atas, maka bisa kita pahami bahwa proses bisnis merupakan
bagian penting dalam sebuah usaha sebelum mencapai tujuannya. Oleh karena itu,
diperlukan pelaksanaan proses bisnis dengan tahapan yang tepat agar bisa memperoleh
manfaatnya dengan maksimal dan memastikan perusahaan dapat bertahan bahkan terus
berkembang.

(Sumber : https://cutt.ly/ZKM7unS)

B. PERUSAHAAN
Di Indonesia, ada beragam bentuk perusahaan yang

lazim ditemui. Ketika melamar kerja, tentu kamu akan
mencari klasifikasi yang dimiliki dari perusahaan, mulai
dari bisnis, sistem kerja, hingga kepada bentuknya. Untuk
membuatmu mengenal lebih dalam mengenai perusahaan,
berikut akan menjelaskan arti dari perusahaan serta
berbagai macam bentuknya.

Perusahaan adalah tempat memproduksi barang atau
jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Terdapat jenis-jenis perusahaan di
Indonesia. Dilansir dari buku Hukum Perusaaan oleh Handri Raharjo, mulanya istilah
perusahaan disebut sebagai pedagang. Namun, seiring dihapusnya Pasal 2 sampai Pasal
5 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, istilah pedagang dihapus dan diganti dengan
perusahaan. Perusahaan berfungsi untuk menggerakkan perekonomian suatu negara.
Pasalnya, perusahaan menyerap tenaga kerja untuk memproduksi suatu barang atau jasa
agar bisa dijual ke masyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perusahaan adalah kegiatan yang
diselenggarakan dengan peralatan atau dengan cara teratur dengan tujuan mencari
keuntungan. Perusahaan juga didefinisikan sebagai organisasi berbadan hukum yang
mengadakan transaksi atau usaha. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997,
pengertian perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang melakukan kegiatan secara tetap
dan terus-menerus untuk memperoleh keuntungan, baik yang diselenggarakan oleh
perseorangan maupun badan usaha yang berbentuk badan hukum atau bukan badan
hukum yang didirikan dan berkedudukan di wilayah Indonesia.

Sementara berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan,
pengertian perusahaan adalah badan usaha yang didirikan dan beroperasi di wilayah
Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan tujuan menghasilkan keuntungan.
Berdasarkan pengertian perusahaan di atas, sesuatu dapat disebut sebagai perusahaan
apabila memenuhi unsur-unsur berikut:
1) Adanya kegiatan produksi yang bersifat tetap dan berlangsung terus-menerus.
2) Dijalankan secara terang-terangan.
3) Diadakan pembukuan untuk transparansi keuangan dan pemungutan pajak.
4) Bertujuan mencari laba atau keuntungan.
5) Ada bentuk usaha yang jelas seperti siapa pemilik perusahaan dan berbadan hukum

atau tidak.

(Sumber : https://cutt.ly/rK1i8Ys)

6

Dengan demikian, pengertian perusahaan adalah badan hukum yang dibentuk untuk
menjalankan bisnis komersial ataupun bisnis. Tujuan perusahaan adalah memanfaatkan
sumber daya manusia dan alam untuk memproduksi suatu barang atau jasa yang bermutu
tinggi agar bisa menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya. Lini bisnis perusahaan
adalah untuk menentukan struktur bisnis perusahaan seperti kemitraan, kepemilikan, atau
korporasi.

Dalam dunia bisnis, kita akan mengenal tiga macam usaha berbeda yang tentunya
sedikit mempengaruhi bentuk akuntansi dari pencatatan keuangannya. Apa perbedaan
antara perusahaan jasa, dagang, dan manufaktur serta proses akuntansi yang dijalankan?
Tiga jenis usaha yang mempengaruhi pencatatan akuntansi tersebut adalah perusahaan
dagang, perusahaan manufaktur, dan perusahaan jasa. Kita akan membahas perbedaan
akuntansi perusahaan tersebut dilihat dari beberapa aspek. Pertanyaan selanjutnya yang
muncul adalah: apa yang membuat bentuk akuntansi dan pencatatan keuangan dari ketiga
jenis bisnis tersebut berbeda? Jawabannya tentu saja adalah perbedaan dari struktur bisnis
dan sistem yang berlaku di masing-masing jenis bisnis tersebut.

Praktik akuntansi di setiap jenis perusahaan ini berbeda untuk mengakomodir
segala pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh bisnis. Untuk mengetahui secara
lengkap, mari kita menyimak penjabaran dari perbedaan perusahaan dagang, manufaktur
dan jasa di bawah ini.
1) Perusahaan Jasa

Perusahaan jasa merupakan perusahaan yang menyediakan produk jasa kepada
konsumen untuk mendapatkan laba. Contoh perusahaan yang menyediakan jasa
adalah perusahaan transportasi, komunikasi, pengiriman, infrastruktur, dan lain
sebagainya. Karakteristik dari perusahaan jasa adalah dalam kegiatan usahanya
mereka menjual jasa sehingga tidak menyediakan produk dalam bentuk fisik. Jasa
yang diberikan juga tidak sama sehingga setiap konsumen bisa mendapatkan jenis
layanan yang berbeda tergantung kebutuhan

Jadi, perusahaan jasa merupakan perusahaan yang memiliki kegiatan
memproduksi dan menyediakan berbagai macam layanan seperti keamanan,
kenyamanan dan semacamnya kepada konsumen yang membutuhkan pelayanan jasa.
Berikut adalah beberapa contoh perusahaan jasa yang terdapat di Indonesia :

Indosat Ooredoo Hutchison
(Bidang Jasa Telekomunikasi)

Telkomsel
(Bidang Jasa Telekomunikasi)

Garuda Indonesia
(Bidang Jasa transportasi)

Bank BRI
(Bidang Jasa Perbankan)

Gojek
(Bidang Jasa Transportasi)

7

Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)
(Bidang Jasa Ekspedisi)

Dari contoh-contoh perusahaan di atas, bisakah kalian menyebutkan contoh-
contoh perusahaan jasa dari bidang jasa yang lainnya ?

2) Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang merupakan perusahaan yang membeli barang untuk

kemudian dijual kembali dengan tujuan mendapatkan laba. Perlu diingat bahwa
perusahaan dagang tidak menjual barang yang diproduksi sendiri melainkan barang
yang didapatkan dengan cara membeli produk dari supplier. Contoh perusahaan
dagang yaitu toko, swalayan, distributor, dan lain-lain.

Perusahaan dagang memiliki beberapa karakteristik, yaitu dalam kegiatannya
perusahaan ini melakukan pembelian dan penjualan barang dagangan. Selain itu,
barang yang dijual tidak melalui proses apa pun sehingga perusahaan dagang tidak
melakukan proses produksi. Jadi, beban operasionalnya terdiri atas beban penjualan
dan beban administrasi. Berikut ini beberapa contoh perusahaan dagang yang ada di
Indonesia:

PT Indomarco Prismatama
(Indomaret)
PT Matahari Putra Prima Tbk
(Hypermart)
PT Hero Supermarket Tbk
(Hero Supermarket)

PT Alfaria Trijaya
(Alfamart)

PT Transmart Carrefour

Giant

Dari contoh-contoh perusahaan di atas, bisakah kalian menyebutkan contoh-
contoh perusahaan yang masuk ke dalam bidang usaha dagang ?

3) Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang bergerak dalam

perakitan bahan baku untuk dijadikan produk tertentu. Setelah itu, produk akan
dipasarkan kepada masyarakat. Di Indonesia sendiri kita sering sekali mendengar
kata “pabrik” atau dalam bahasa inggris disebut “factory”. Pabrik merupakan istilah
penyebutan tempat yang digunakan untuk proses manufacturing atau fabrikasi.

Karakteristik dari perusahaan manufaktur adalah adanya proses produksi atau
proses pengolahan dari bahan baku mentah hingga menghasilkan produk setengah
jadi maupun produk siap pakai. Selain itu, perusahaan manufaktur juga memiliki

8

persediaan berupa persediaan bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses
produksi, dan persediaan barang jadi. Berikut ini beberapa contoh perusahaan
manufaktur yang ada di Indonesia:

PT Sri Rejeki Isman / Sritex
(Bidang manufaktur tekstil)
Astra Group
(Bidang manufaktur otomotif)
PT Maspion Electronics
(Bidang manufaktur elektronik)
PT Indofood
(Bidang manufaktur makanan
dan minuman)

Dari contoh-contoh perusahaan di atas, bisakah kalian menyebutkan contoh-
contoh perusahaan yang masuk ke dalam bidang usaha manufaktur yang
lainnya?

(Sumber : https://cutt.ly/JK1pfSD)

C. TAHAPAN AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA
Perhatikan ilustrasi gambar berikut ini !

1) Apakah usaha JNE menghasilkan barang? Berikan alasanmu!
2) Apa yang diutamakan bila berbisnis seperti usaha JNE?

1. Pengertian Perusahaan Jasa
Pernahkan kalian mengirimkan suatu barang kepada orang lain di daerah yang jauh

lokasinya? Perusahaan pengiriman barang apakah yang kalian gunakan? Ketika
membayar jasa pengiriman tersebut adakah barang yang kalian terima? Tidak. Yang kita
terima adalah layanan pengiriman barang dari suatu tempat ke tempat yang lainnya.
Karena barang kita sudah dikirimkan maka kita akan membayar jasa pengirimannya
sesuai tarif berdasarkan jarak dan berat barang yang kita kirimkan tersebut.

Secara umum, pengertian perusahaan jasa adalah suatu perusahaan yang menjual
dan menawarkan produk dalam bentuk pelayanan jasa kepada konsumen. Sama halnya
ketika seseorang mendirikan badan usaha yang menghasilkan produk fisik dan kemudian
dijual kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan, hal tersebut juga berlaku pada
perusahaan yang bergerak di bidang jasa.

9

Perusahaan di bidang jasa atau sering disebut sebagai perusahaan penyedia layanan
jasa menawarkan keahlian tertentu yang bermanfaat untuk konsumen. Misalnya; jasa
travel, jasa transportasi, jasa penjualan tiket, jasa akupuntur, jasa laundry, jasa keuangan,
maupun produk jasa lainnya yang kini sudah berkembang di Indonesia.

Agar memudahkan kita memahami apa itu perusahaan jasa, maka kita bisa merujuk
kepada pendapat beberapa ahli berikut ini:
a. Philip Kotler

Menurut Philip Kotler, perusahaan jasa adalah perusahaan yang menawarkan
suatu tindakan bersifat abstrak atau tidak berwujud dan tidak menyebabkan
perpindahan kepemilikan pada orang lain.
b. Christian Gronross

Menurut Christian Gronross, perusahaan penyedia jasa adalah perusahaan yang
dalam kegiatannya terdiri dari serangkaian aktivitas intangible yang terjadi antara
pelanggan dan pegawai jasa untuk mengatasi masalah pelanggan.
c. Djaslim Saladin

Menurut Djaslim Saladin, industri jasa adalah badan usaha yang melakukan
kegiatan yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan yang ditawarkan
suatu pihak ke pihak lainnya.
d. Norman Flynn

Menurut Norman Flynn, pengertian perusahaan jasa adalah perusahaan yang
melakukan tindakan atau interaksi berupa kontak sosial antara produsen dan
konsumen yang lebih dari sekedar hasil suatu yang tidak terhalang.
e. Adrian Payne

Menurut Adrian Payne, organisasi di bidang jasa adalah perusahaan yang
melakukan aktivitas ekonomi yang memiliki nilai atau manfaat intangible, dimana
terdapat interaksi dengan konsumen atau dengan barang miliki tapi tidak
menghasilkan transfer kepemilikan.

(Sumber : https://cutt.ly/tK1x7XA)

2. Karakteristik Perusahaan Jasa
Mengacu pada penjelasan definisinya, berikut ini adalah beberapa karakteristik

perusahaan yang bergerak di bidang jasa:
a. Kegiatan Utamanya Adalah Menjual Jasa/Pelayanan

Perusahaan yang bergerak di bidang jasa menjual produk berupa layanan yang
bermanfaat dan dibutuhkan konsumen. Sehingga kegiatan utama dalam operasional
perusahaan adalah menjual dan menawarkan jasa kepada konsumen.
“Mengapa kegiatan utamanya adalah pelayanan ?”
b. Tidak Menyediakan Produk dalam Bentuk Fisik

Umumnya pada perusahaan penyedia jasa tidak menyediakan produk dalam
bentuk fisik atau barang. Badan usaha jasa menjual produk-produk yang tidak dapat
disimpan dan tidak kasat mata (abstrak) namun manfaatnya dapat dirasakan.
“Mengapa tidak ada stock produk?”
“Mengapa harus membayar bukankah tidak ada yang diterima?”
Jawablah pertanyaan itu dari hasil pengalamanmu menggunakan jasa

10

c. Bisa Membutuhkan atau Tidak Membutuhkan Barang Berwujud
Tergantung dari jenis usaha jasa yang didirikan, bisa membutuhkan atau tidak

membutuhkan barang berwujud. Misalnya dalam bisnis jasa travel, tentu
membutuhkan armada untuk konsumen yang memesan jasa travel. Beda halnya jika
membangun jasa keuangan maka tidak membutuhkan produk nyatanya.
“Bisakah kalian menyebutkan jenis-jenis barang berwujud yang dipergunakan
dalam bisnis usaha jasa lainnya?”
“Bisakah kalian menyebutkan jenis usaha jasa lainnya yang tidak menggunakan
barang berwujud?”
d. Produk Jasa Tidak Bisa Sama Persis Antar Konsumen

Jika Anda menjual produk berwujud dimana barang yang dijual antar
konsumen akan memiliki wujud dan hasil yang sama. Lain halnya pada badan usaha
jasa dimana hasil jasa yang akan diterima setiap konsumen bisa jadi berbeda dengan
konsumen lain. Misalnya dalam hal kualitas jasa atau kemampuan pemberi jasa.
“Pernahkan kalian membandingkan sebuah usaha jasa misalnya bengkel motor
yang satu dengan bengkel motor yang lainnya?”
“Apakah ada kepuasan dan ketidakpuasan ketika kalian membandingkan dari apa
yang dihasilkan dari usaha jasa bengkel tersebut?”

e. Harga Jasa Tidak Dapat Dipatok General
Umumnya, konsumen yang membutuhkan produk jasa memiliki kebutuhan

yang berbeda-beda. Sehingga harga jasa tidak dipatok secara general atau umum dan
tergantung dari kebutuhan konsumen.
“Apakah tinggi rendahnya harga sebuah usaha jasa berbanding lurus dengan
pelayanan jasa yang diberikan ?”
f. Tidak Ada Harga Pokok Produksi dan Penjualan

Karena pada perusahaan di bidang jasa biasanya tidak membutuhkan bahan
baku produksi yang berwujud, maka dalam pelaporan keuangan tidak bisa dilihat
harga pokok produksi dan penjualan karena tidak ada patokan biaya yang dikeluarkan
untuk bahan-bahan produksi. Sehingga dalam laporan keuangan hanya terdapat unsur
pendapatan dan biaya lain-lain untuk perhitungan laba-rugi.
“Bila dalam usaha jasa tidak ada harga pokok maka bagaimana menentukan
harganya?”
Silahkan berdiskusi dengan temanmu, atau kamu bisa bertanya pada pemilik
usaha jasa yang bisa kamu datangi.

3. Kelebihan dan Kekurangan Perusahaan Jasa
Sama seperti jenis usaha lainnya, perusahaan penyedia jasa juga memiliki kelebihan

dan kekurangan tertentu. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan jenis
usaha yang satu ini:
a. Kelebihan Usaha Jasa

• Dengan berbisnis jasa tidak membutuhkan tempat untuk display produk
sehingga dalam hal sewa tempat usaha akan lebih hemat.

• Tidak memerlukan tempat untuk penyimpanan barang atau gudang.
• Pada badan usaha jasa tertentu tidak membutuhkan banyak karyawan sehingga

menghemat pengeluaran gaji karyawan.

11

b. Kekurangan Usaha Jasa
• Strategi promosi membutuhkan testimoni pelanggan sebanyak-banyaknya
karena tidak ada produk yang bisa digunakan untuk demo.
• Meskipun ada komplain, namun dalam badan usaha jasa tidak bisa
mengembalikan apa yang sudah dibeli (diretur).

4. Proses Bisnis Akuntansi Perusahaan Jasa
Perhatikan ilustrasi dari gambar berikut !

Pencatatan
(Recording)

Pelaporan Proses Penggolongan
(Reporting) Akuntansi (Classifying)

Peringkasan
(Summarizing)

Gambar. Proses Akuntansi

12

• Pembuatan neraca saldo dan kertas kerja termasuk dalam siklus akuntansi tahap apa?
• Menutup akun buku besar dalam siklus akuntansi termasuk tahap yang mana?
• Langkah setelah melakukan penyesuaian transaksi adalah apa saja?
• Tahap pencatatan dalam kegiatan akuntansi adalah apa saja?
• Tahapan yang dilakukan setelah tahapan entry adalah apa?
• Tahap terakhir proses pencatatan dalam siklus akuntansi adalah?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa proses bisnis adalah suatu
kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menyelesaikan
suatu masalah tertentu atau yang menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan
tertentu). Suatu proses bisnis dapat dipecah menjadi beberapa sub proses yang masing-
masing memiliki atribut sendiri tapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari sub
prosesnya.

Siklus Akuntansi merupakan sebuah proses bisnis yang menunjukkan langkah-
langkah aktivitas atau perkerjaan yang terstruktur yang saling terkait yang diperlukan
guna penyelesaian akuntansi secara manual sehingga menghasilkan sebuah sebuah
produk atau layanan dalam bentuk laporan keuangan. Alur, urutan, tahapan, siklus
akuntansi adalah penting untuk diketahui terutama bagi yang bekerja sebagai akuntan
atau untuk perusahaan.

Aktivitas pengumpulan dan pengolahan data akuntansi secara sistematik dalam satu
periode akuntansi tersebut dikenal sebagai proses akuntansi atau tahap siklus akuntansi.
Tujuannya adalah menyediakan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan
keputusan. Dalam alur akuntansi ini, para akuntan melakukan serangkaian kegiatan
berupa pengumpulan dan pengolahan data akuntansi secara sistematik selama periode
berjalan, biasanya selama satu tahun.
1) Pencatatan (Recording)

Pencatatan merupakan suatu aktivitas yang digunakan untuk mencatat
transaksi keuangan perusahaan yang terjadi dalam dokumen (bukti transaksi
misalnya : nota, kwitansi, cek dan lainnya). Pada tahap selanjutnya dokumen dijurnal
dengan cermat oleh perusahaan. Contohnya : transaksi pembelian tunai yang dicatat
dalam bukti transaksi atau nota.
2) Penggolongan (Classifying)

Aktivitas ini berupa penggolongan atas transaksi ke dalam buku besar. Contoh:
transaksi pembelian tunai yang dicatat dalam jurnal pengeluaran kas dan digolongkan
dalam akun buku besar kas.
3) Peringkasan (Summarizing)

Merupakan aktivitas meringkas suatu transaksi keuangan yang telah
digolongkan dalam akun buku besar (pada proses b) ke bagian neraca saldo, jurnal
penyesuaian, jurnal penutup, neraca saldo setealah penyesuaian dan jurnal pembalik.
4) Pelaporan (Reporting)

Pada kegiatan ini yaitu menyusun laporan keuangan. Dalam pelaporan
keuangan terdiri dari laporan laba rugi, laba ditahan, neraca, laporan perubahan
ekuitas/modal, laporan arus kas serta catatan atas laporan keuangan.

13

Akuntansi adalah proses mengolah data akuntansi menjadi informasi yang berguna
dalam rangkaian pengambilan keputusan bagi para pemakainya. Karena itu ada enam
kegiatan pokok yaitu sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi data akuntansi.
b. Mencatat data akuntansi ke dalam catatan akuntansi.
c. Mengelompokkan data akuntansi yang sejenis ke dalam kelompok tertentu.
d. Meringkas data akuntansi
e. Menyajikan data akuntansi dalam bentuk laporan keuangan
f. Menganalisis laporan keuangan dalam rangka pengambilan keputusan.

Menurut Harnanto (2002), siklus akuntansi yang lengkap memiliki 11 tahap, tetapi
dua tahap diantaranya bersifat opsional. Urutan tahapan siklus akuntansi ini termasuk
yang dilakukan setelah tahapan entry adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi Transaksi Dalam Tahapan Siklus Akuntansi

Langkah pertama dalam siklus akuntansi adalah mengidentifikasi transaksi.
Akuntan harus mengidentifikasi transaksi sehingga dapat dicatat dengan benar. Tidak
semua transaksi dapat dicatat. Transaksi yang dapat dicatat adalah transaksi yang
mengakibatkan perubahan posisi keuangan perusahaan dan dapat dinilai ke dalam
unit moneter secara objektif.

Selain itu, transaksi yang akan dicatat juga harus memiliki bukti, jika tidak ada
bukti maka transaksi tidak dapat dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan.
Bukti transaksi biasanya berupa buku kwitansi, nota, faktur, bukti kas keluar, memo
penghapusan piutang dagang dan lain sebagainya. Bukti-bukti tersebut tentu saja
harus sah dan diverifikasi.
2. Analisis Transaksi Dalam Tahapan Siklus Akuntansi

Setelah mengidentifikasi transaksi, akuntan harus menentukan pengaruhnya
terhadap posisi keuangan. Untuk memudahkan, Anda dapat menggunakan rumus
persamaan dasar akuntansi:
Aktiva = Pasiva
Harta = Kewajiban + Ekuitas

Sistem pencatatan adalah double-entry system, yaitu setiap transaksi yang
dicatat akan berefek terhadap posisi keuangan didebit dan dikredit dalam jumlah
yang sama. Sehingga setiap transaksi mempengaruhi sekurang-kurangnya dua
rekening pembukuan.
3. Pencatatan Transaksi pada Jurnal

Setelah informasi transaksi dianalisis, kemudian dicatat secara runtut di buku
jurnal. Jurnal adalah suatu catatan kronologis tentang transaksi-transaksi yang terjadi
dalam suatu periode siklus akuntansi atau alur akuntansi. Proses pencatatan transaksi
ke dalam jurnal disebut penjurnalan (journalizing).

Terdapat dua macam jenis jurnal dalam tahapan siklus akuntansi yakni, jurnal
umum dan jurnal khusus. Jurnal umum atau dikenal dengan istilah jurnal saja.
Biasanya tahapan yang dilakukan setelah tahapan entry adalah pencatatan transaksi
yang dimasukan ke dalam satu rekening yang didebit dan satu rekening dikredit.
Sedangkan, jurnal khusus, diselenggarakan untuk meningkatkan efisiensi pencatatan
terhadap transaksi yang berulang. Contohnya seperti jurnal penjualan, jurnal
pembelian, jurnal penerimaan kas, dan lainnya.

14

4. Posting Buku Besar
Langkah selanjutnya dalam alur akuntansi atau urutan siklus akuntansi yaitu

mem-posting transaksi yang sudah dicatat dalam jurnal ke dalam buku besar
akuntansi. Buku besar adalah kumpulan rekening-rekening pembukuan yang masing-
masing digunakan untuk mencatat informasi tentang aktiva tertentu.

Pada umumnya, perusahaan mempunyai daftar susunan rekening-rekening
buku besar yang disebut chart of accounts. Masing-masing rekening biasanya diberi
nomor kode, untuk memudahkan dalam mengidentifikasi dan membuat cross-
reference dengan pencatatan transaksi di dalam jurnal.
5. Penyusunan Neraca Saldo

Neraca saldo adalah daftar saldo rekening-rekening buku besar pada periode
tertentu. Cara membuat neraca saldo sangat mudah, Anda hanya perlu memindahkan
saldo yang ada di buku besar ke dalam neraca saldo untuk disatukan.

Saldo pada neraca saldo harus sama jumlahnya. Jika jumlah saldo debit tidak
sama dengan jumlah yang ada di kredit maka dikatakan bahwa neraca saldo tidak
seimbang, masih ada kesalahan. Jika demikian, maka akuntan harus mencari
kesalahan yang terjadi sebelum laporan disusun.
6. Penyusunan Jurnal Penyesuaian

Jika pada akhir periode alur akuntansi, terdapat transaksi yang belum dicatat,
atau ada transaksi yang salah, atau perlu disesuaikan maka dicatat dalam jurnal
penyesuaian. Penyesuaian dilakukan secara periodik, biasanya saat laporan akan
disusun.

Pencatatan penyesuaian sama seperti pencatatan transaksi umumnya. Transaksi
penyesuaian dicatat pada jurnal penyesuaian dan kemudian dibukukan kedalam buku
besarnya. Setelah itu saldo yang ada di buku besar siap disajikan dalam laporan
keuangan. Dengan kata lain, hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan
yang disusun secara akrual basis.
7. Penyusunan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian

Pada tahapan siklus akuntansi ini, Anda hanya perlu menyusun neraca saldo
kedua dengan cara memindahkan saldo yang telah disesuaikan pada buku besar ke
dalam neraca saldo yang baru.

Saldo dari akun-akun pada buku besar dikelompokan ke dalam kelompok
aktiva atau pasiva. Saldo antara kelompok aktiva dan pasiva pada neraca saldo ini
juga harus seimbang. Namun, ingat saldo yang seimbang belum tentu benar tetapi
saldo yang benar pasti seimbang.
8. Penyusunan Laporan Keuangan

Berdasarkan informasi pada neraca saldo setelah penyesuaian, urutan siklus
akuntansi selanjutnya yaitu menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan yang
disusun seperti:
1) Laporan laba rugi, untuk menggambarkan kinerja keuangan perusahaan
2) Laporan perubahan modal, untuk melihat perubahan modal yang telah terjadi
3) Neraca perusahaan, dapat digunakan memprediksi likuiditas, solvensi, dan

fleksibilitas
4) Laporan arus kas, memberikan informasi yang relevan mengenai kas keluar dan

kas masuk pada periode berjalan

15

9. Tahap Terakhir Silklus Akuntansi: Penyusunan Jurnal Penutup
Setelah membuat laporan keuangan, akuntan harus membuat jurnal penutup.

Jurnal penutup hanya dibuat pada akhir periode akuntansi saja. Fungsi jurnal penutup
sendiri yakni melakukan penutupan rekening pada rekening laba rugi pada periode
tertentu. Caranya adalah dengan me-nol kan atau membuat nihil rekening terkait.

Rekening-rekening nominal harus ditutup karena rekening tersebut digunakan
untuk mengukur aktivitas atau aliran sumber-sumber yang terjadi pada periode
berjalan. Pada akhir periode akuntansi, rekening nominal sudah selesai menjalankan
fungsinya sehingga harus ditutup. Selanjutnya, pada periode berikutnya dapat
digunakan kembali untuk mengukur aktivitas yang baru dan mulai terjadi.

Ilustrasi Siklus Akuntansi diatas akan disajikan kembali dengan cara yang berbeda.
Penyajian ini menekankan pembedaan (1) Dokumen Sumber, (2) Proses, (3) Buku, dan
(4) Keluaran (output) dalam Siklus Akuntansi dengan harapan semakin mudah dipahami.
Siklus Akuntansi diatas disajikan kembali dalam ilustrasi dibawah ini:

Dalam Siklus Akuntansi terdapat komponen berupa (1) Dokumen Sumber, (2)
Proses, (3) Buku, dan (4) Keluaran. Pemilahan komponen tersebut diharapkan
memberikan pemahaman yang lebih baik. Pada Siklus Akuntansi ada dokumen yang
harus dicatat yaitu Dokumen Sumber, ada proses yaitu menganalisis dokumen sumber,
mencatat transaksi dalam Buku Jurnal Umum dan memindahkan angka debet atau kredit
jurnal ke dalam Buku Besar, yang akan menghasilkan keluaran berupa laporan keuangan.

a. Komponen pertama adalah Dokumen Sumber (Bukti Transaksi). Dokumen Sumber
sebagai dasar pencatatan transaksi dapat dikelompokkan menjadi :
1) dokumen sumber untuk jurnal transaksi berjalan,
2) dokumen sumber untuk jurnal penyesuaian, dan
3) dokumen sumber untuk jurnal penutupan.
Setiap transaksi harus didukung oleh dokumen sumber.

b. Komponen kedua adalah Proses (Process). Proses dalam siklus akuntansi meliputi
jurnal dan posting. Jurnal adalah using the rules of debit and credit, transactions are
initially entered in a record (Warren, Reeve, Duchac; 2009). Berdasarkan definisi

16

tersebut, jurnal dapat diartikan sebagai pencatatan transaksi pertama kali (ke dalam
Buku Jurnal Umum) dengan menggunakan aturan debet dan kredit.
Jurnal meliputi :
1) jurnal transaksi berjalan,
2) jurnal penyesuaian, dan
3) jurnal penutupan.

Setelah transaksi dijurnal, langkah selanjutnya adalah posting ke dalam akun
Buku Besar. Posting adalah the process of transferring the debits and credits from the
journal entries to the accounts (Warren, Reeve, Duchac; 2009). Jadi posting dapat
diartikan sebagai proses memindahkan angka debit atau kredit dari ayat jurnal ke
akun Buku Besar. Jurnal dilakukan secara kronologis berdasarkan tanggal transaksi.
Sedangkan posting merupakan proses mengikhtisarkan transaksi berdasarkan akun,
agar diketahui saldo akhir setiap akun.

c. Komponen ketiga adalah Buku. Buku yang digunakan adalah Buku Jurnal Umum
dan Buku Besar. Buku Jurnal Umum digunakan untuk mencatat transaksi pertama
kali secara berpasangan pada sisi debet dan kredit. Jurnal transaksi berjalan, jurnal
penyesuaian dan jurnal penutupan dicatat pada Buku Jurnal Umum yang sama secara
kronologis sesuai tanggal transaksi. Selain Buku Jurnal Umum, ada juga Buku Jurnal
Khusus. Buku Jurnal Khusus hanya digunakan untuk akuntansi manual. Apabila
menggunakan perangkat lunak komputer, cukup menggunakan Jurnal Umum. Buku
yang kedua adalah Buku Besar. Buku Besar digunakan untuk mengikhtisarkan
transaksi. Siklus Akuntansi mempunyai 3 proses yang berulang, dimulai dari analisis
Dokumen Sumber sampai dengan diperoleh keluaran. Setiap proses tersebut
mempunyai langkah yang sama, tetapi berbeda Dokumen Sumber dan Keluarannya.
Tiga proses tersebut adalah:
1) Analisis Dokumen Sumber Transaksi Berjalan, pencatatan dalam Buku Jurnal
Umum, posting ke dalam akun Buku Besar, kemudian disusun Neraca Saldo
sebagai keluaran. Pada gambar diatas diilustrasikan dengan langkah 1a, 2a dan
3a (atau A sampai dengan B).
2) Analisis Dokumen Sumber Penyesuaian, pencatatan dalam Buku Jurnal Umum,
posting ke dalam akun Buku Besar, kemudian disusun Laporan Keuangan
sebagai keluaran. Pada gambar diatas diilustrasikan dengan langkah 1b, 2b dan
3b (atau B sampai dengan C). Penyusunan Laporan Keuangan dapat
menggunakan Kertas Kerja atau Worksheet atau Neraca Lajur. Sebelum disusun
Laporan Keuangan, keseimbangan total saldo debet dan kredit seluruh akun
dicek menggunakan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian.
3) Analisis Dokumen Sumber Penutupan, pencatatan dalam Buku Jurnal Umum,
posting ke dalam akun Buku Besar, kemudian disusun Neraca Saldo Setelah
Penutupan. Pada gambar diatas diilustrasikan dengan langkah 1c, 2c dan 3c (atau
C sampai dengan A). Posting jurnal penutupan akan membuat akun nominal
bersaldo nol pada akhir periode akuntansi. Pada awal periode akuntansi
berikutnya, akun nominal sudah siap digunakan untuk mencatat transaksi
berjalan (kembali pada proses butir pertama).

17

Jadi siklus akuntansi terdiri dari 3 proses yang mirip, yaitu analisis transaksi,
pencatatan ke Buku Jurnal Umum, posting ke akun Buku Besar, dan menyusun
Neraca Saldo atau Laporan Keuangan.
• Buku Besar berisi semua akun yang digunakan entitas. Antara lain akun Aset,

akun Kewajiban, akun Ekuitas, akun Pendapatan, akun Beban/Belanja.
• Penjurnalan merupakan pencatatan secara kronologis berdasarkan tanggal

transaksi.
Oleh karena itu, di dalam Buku Jurnal Umum belum dapat diketahui saldo tiap akun.
Untuk mengetahui saldo setiap akun, maka perlu dilakukan posting tiap ayat jurnal
ke dalam akun Buku Besar.

d. Komponen keempat adalah Keluaran (Output). Setelah dilakukan penjurnalan dan
posting, akan diperoleh keluaran berupa Neraca Saldo Sebelum Penyesuaian, Neraca
Saldo Setelah Penyesuaian, Laporan Keuangan dan Neraca Saldo Setelah Penutupan.
1) Neraca Saldo bukan Laporan Keuangan, tetapi alat untuk mengecek kesamaan
total saldo debet dan saldo kredit dari seluruh akun yang digunakan.
2) Laporan Keuangan meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional,
Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan
Saldo Anggaran Lebih, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.
3) Laporan Keuangan yang hanya dibuat oleh Bendahara Umum Negara adalah
Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih. Untuk
menghasilkan Laporan Keuangan dapat menggunakan Kertas Kerja atau
Worksheet atau Neraca Lajur.

5. Tahapan Pencatatan Transaksi Ke Dalam Jurnal Umum (General Journal)
Objek dari Akuntansi adalah transaksi.

Transaksi adalah setiap aktivitas yang terjadi diantara
dua pihak atau lebih yang dapat menimbulkan
perubahan terhadap posisi keuangan dan kepemilikan
kekayaan diantara dua pihak tersebut. Transaksi
biasanya memiliki kaitan yang erat dengan urusan
keuangan dan juga kepemilikan produk, baik dalam
bentuk barang maupun jasa. Transaksi dapat
dilaksanakan baik oleh organisasi atau perusahaan, maupun oleh perorangan. Dan
transaksi juga dapat berlangsung antar pihak dalam perusahaan maupun antar perusahaan
dengan pihak luar perusahaan atau perorangan.

Jenis-Jenis Transaksi
Perhatikan ilustrasi gambar sebagai berikut !

Apa yang anda ketahui tentang transaksi
bisnis?Jelaskan!
Mengapa setiap transaksi bisnis harus didukung
dengan dokumen transaksi? Jelaskan!
Apa tujuan analisis dokumen transaksi? Jelaskan!
Jelaskan perbedaan antara bukti intern dan bukti
ektern?

18

Transaksi terbagi menjadi dua jenis, antara lain:
a) Transaksi internal, yaitu transaksi yang terjadi di lingkungan internal suatu

perusahaan saja. Transaksi internal hanya melibatkan pihak-pihak yang ada di dalam
perusahaan tanpa melibatkan pihak-pihak di luar perusahaan. Contoh transaksi
internal yaitu pembayaran gaji kepada karyawan dan pengalokasian beban
perusahaan.
b) Transaksi eksternal, yaitu transaksi yang terjadi antara pihak internal dengan phak
eksternal perusahaan. Berbeda dengan transaksi internal yang tidak membutuhkan
keterlibatan pihak eksternal sama sekali, transaksi eksternal justru membutuhkan
keterlibatan pihak eksternal perusahaan sebagai mitra transaksi. Contoh transaksi
eksternal yaitu pembelian bahan baku, penjualan produk perusahaan, serta
pembayaran utang usaha.

Kegiatan akuntansi bermula dengan terjadinya transaksi, baik transaksi intern
maupun ekstern. Transaksi ini perlu diidentifikasikan dan diukur terlebih dahulu,
maksudnya jika mempengaruhi komposisi harta, utang dan modal perusahaan maka perlu
diadakan pencatatan dengan satuan nilai tertentu. Secara umum transaksi yang sering
terjadi pada perusahaan jasa sekaligus merupakan sumber kegiatan akuntansi, meliputi
transaksi :
a. Pengeluaran/pembayaran uang
b. Penerimaan/pemasukan uang
c. Penjualan/penyerahan jasa
d. Pembelian/penerimaan barang/jasa
e. Lain-lain (biasanya intern perusahaan).

Perbedaan Transaksi dan Transaksi Akuntansi
Lalu apakah perbedaan antara transaksi dengan transaksi akuntansi? Perbedaan

transaksi jika dibandingkan dengan transaksi akuntansi adalah bahwa transaksi akuntansi
harus berpengaruh pada persamaan akuntansi. Ketika sebuah transaksi akuntansi terjadi,
maka transaksi ini akan menjadi penyebab dilakukannya pencatatan akuntansi. Dengan
kata lain, pencatatan akuntansi hanya dapat dilakukan dengan syarat jika dan hanya jika
terdapat transaksi akuntansi yang terjadi pada perusahaan. Transaksi akuntansi selalu
memiliki dampak keuangan, oleh karena itu pasti bisa diukur atau dinyatakan nilainya
dalam bentuk uang. Karena nilai tersebut bisa diukur menggunakan uang, maka transaksi
akuntansi bisa juga disebut dengan transaksi keuangan bisnis.

Transaksi akuntansi adalah kesepakatan atau perjanjian yang terjalin diantara dua
pihak, dimana pihak pertama berlaku sebagai penjual barang atau jasa, sedangkan pihak
kedua berlaku sebagai pembeli barang atau jasa. Syarat terjadinya sebuah transaksi
akuntansi adalah transaksi tersebut harus mempunyai dampak keuangan, baik di waktu
sekarang maupun di waktu yang akan datang.

Sistem Transaksi
Pengertian sistem transaksi adalah sistem pencatatan transaksi yang dilakukan secara

rutin yang dimanfaatkan untuk berbagai proses bisnis. Terdapat dua sistem transaksi yang
berkembang di masyarakat, yaitu tunai dan nontunai. Akhir-akhir ini, sistem transaksi non-
tunai semakin banyak bermunculan karena adanya digitalisasi dalam sektor keuangan
internasional. Sementara itu, sistem transaksi dengan menggunakan uang fiat kertas telah

19

membentuk dna baru selama beberapa dekade terakhir, adanya perubahan dalam dunia
non-tunai lambat laun mampu meningkatkan daya tarik sendiri karena semakin populernya
dunia internet dan perangkat smartphone.

Pemerintah juga turut berperan penting dalam mendorong sistem pembayaran non-
tunai ini yang diklaim mampu memerangi kegiatan ilegal dalam pasar gelap. Kelemahan
terbesar dari mata uang tunai adalah adanya ketersedian cara yang tidak mampu dilacak
guna memicu serta memberikan sarana dalam kegiatan ilegal. Melakukan pendeteksian
transaksi gelap akan lebih mudah dengan tanpa uang kertas, mengingat jejak kertas yang
ditinggalkan dalam pembayaran uang elektronik. Saat ini bahkan semakin banyak orang
yang beralih ke uang elektronik untuk menyelesaikan transaksi, sehingga uang kertas tunai
menjadi semakin berkurang. Tingkat popularitas kartu kredit dan kartu debit pun terus
berkembang karena kemampuan keduanya dalam membebaskan setiap orang dari beban
mengantongi uang tunai. Tapi, saat ini kartu bukan lagi masa depan yang baik untuk para
pengguna uang non tunai.

Adanya proliferasi perangkat seluler yang bisa terkoneksi ke internet mampu
melahirkan bentuk pembayaran yang baru lainnya. Sebut saja pembayaran elektronik
seperti PayPal, GoPay, GrabPay, OVO hingga Dana yang perlahan-lahan mampu
mengalihkan alat pembayaran yang andal. Selain itu, hadirnya Apple Pay dan Google Pay
juga semakin meningkatkan daya tarik masyarakat karena memudahkan mereka untuk
melakukan pembayaran langsung dari smartphonenya.

Pelaku Transaksi
a. Pemberi Dana
Pemberi dana adalah mereka yang memberikan sejumlah uang atas kegiatan
pembelian terhadap suatu produk barang atau jasa. Para pemberi dana akan
memberikan uangnya berdasarkan kesepakatan transaksi.

b. Penerima Dana
Penerima dana adalah mereka yang menerima uang dari kegiatan transaksi jual beli
yang dijalankan atas suatu produk barang atau jasa. Para penerima dana akan
menerima uang berdasarkan metode, jumlah, dan waktu pembayaran yang
sebelumnya telah disetujui.
Penerima dana adalah orang yang menerima dana atas transaksi jual beli yang
dilakukan terhadap suatu produk baik berupa barang atau jasa.

Bukti Transaksi
Setiap transaksi yang dijalankan di dalam perusahaan biasanya disertai dengan bukti

transaksi. Lalu apakah bukti transaksi itu? Bukti transaksi adalah dokumen pendukung
yang berisi data transaksi yang dibuat setelah melakukan transaksi untuk kebutuhan
pencatatan keuangan. Bukti transaksi tersebut di dalam perusahaan biasanya
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Pertama adalah bukti transaksi internal, yaitu bukti pencatatan kejadian setiap

transaksi yang terjadi antar bagian dalam internal perusahaan. Bukti transaksi internal
biasanya berupa memo ataupun berkas laporan serah terima bagian.
2. Kedua adalah bukti transaksi eksternal, yaitu bukti transaksi yang terjadi antara
pihak internal dengan pihak eksternal perusahaan. Berbeda dengan bukti transaksi

20

internal yang cenderung terbatas bentunya, bukti transaksi eksternal cenderung jauh
lebih banyak bentuknya, biasanya berbentuk nota, faktur, kwitansi, dan lain-lain.

Alat Bukti Transaksi
Kegiatan transaksi harus selalu dilengkapi dengan alat bukti untuk bisa

dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Alat bukti transaksi tersebut juga diperlukan jika
sewaktu-waktu terjadi sengketa yang tidak diinginkan. Berikut ini adalah bukti transaksi
yang harus digunakan oleh perusahaan.
a. Bukti Transaksi Internal

Bukti transaksi internal yaitu pencatatan kejadian dalam intern perusahaan itu sendiri,
biasanya berupa memo dari pimpinan atau orang yang ditunjuk. Misalnya bukti
pencatatan untuk penyusutan aktiva tetap, penghapusan piutang, pengalokasian beban,
dan lainnya.
b. Bukti Transaksi Eksternal
Bukti transaksi eksternal yaitu bukti pencatatan transaksi yang terjadi dengan pihak
luar perusahaan, misalnya faktur, kuitansi, nota debit, dan nota kredit.
Beberapa alat bukti transaksi eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktur, adalah perhitungan penjualan kredit yang dibuat oleh pihak penjual

disampaikan pada pihak pembeli. Faktur ini biasanya dibuat rangkap, yang asli
diberikan kepada pembeli sebagai bukti pembelian barang secara kredit,
sedangkan copy-nya dipegang pihak penjual sebagai bukti pencatatan penjualan
kredit.

• Informasi yang biasanya dimuat dalam faktur apa saja?
• Dokumen pendukung faktur penjualan apa saja?
• Apa sajakah yang bukan merupakan komponen faktur?
• Tanggal penjualan, nama pelanggan, nama barang, jumlah penjualan

merupakan contoh dari komponen apa?
• Apa sajakah yang bukan merupakan komponen bukti transaksi faktur ?

2. Kuitansi, adalah bukti penerimaan uang yang sudah ditandatangani oleh pihak
penerima untuk diberikan kepada yang membayar dan bisa dimanfaatkan sebagai
bukti transaksi yang sah.

21

3. Nota (Nota Kontan), adalah penjualan/pembelian barang secara tunai. Nota
biasanya dibuat rangkap, dimana yang aslli diberikan pada pembeli, copy-nya
dijadikan bukti pencatatan bagi penjualan.

4. Nota debit, adalah perhitungan atau pemberitahuan yang dikirim oleh suatu
perusahaan kepada langganannya, bahwa akunnya telah didebet dengan jumlah
tertentu. Bagi langganan yang menerima Nota Debit ini akan mencatat pada akun
pihak pengirim nota pada sisi yang berlawanan, yaitu sisi kredit.

5. Nota kredit,

6. Cek, adalah suatu surat atau dokumen yang berisi perintah tanpa syarat dari
nasabah bank agar pihak bank melakukan pembayaran sejumlah uang yang tertulis
dalam surat tersebut kepada pembawa surat cek.

22

7. Rekening koran, adalah suatu rangkuman transaksi finansial yang telah
dilakukan pada beberapa waktu tertentu pada rekening bank yang dimiliki oleh
perusahaan atau seseorang.

8. Bilyet giro, adalah suatu perintah pada pihak bank penyimpan dana untuk
memindahkan dana dalam jumlah tertentu pada rekening lain yang sudah tertulis.

9. Bukti setoran bank, adalah slip setoran yang yang sudah disediakan oleh pihak
bank dan memiliki fungsi untuk alat bukti nasabah bahwa mereka sudah
menyetorkan uangnya dalam rekening tujuan.

10. Bukti kas masuk dan keluar, bukti kas masuk adalah suatu bukti penerimaan
uang yang sudah disertai dengan dokumen tertentu, sedangkan bukti kas keluar
adalah bukti transaksi keluar kas dengan disertai dokumen tertentu.

23

11. Bukti memorandum, adalah bukti transaksi yang diterbitkan oleh pimpinan
perusahaan untuk berbagai kejadian yang terjadi di dalam internal perusahaan dan
biasanya berlangsung pada akhir periode, seperti memo untuk menulis gaji
karyawan yang masih harus dibayar.

Akun (Rekening) dan Kode Akun (Kode Rekening)
Perkiraan (account) adalah daftar tempat mencatat secara sistematis transaksi-

transaksi finansial yang mengakibatkan perubahan pada aktiva, utang, modal, penghasilan,
dan biaya. Tiap-tiap jenis harta, utang, modal, pendapatan dan beban disediakan sebuah
akun tersendiri. Dengan demikian banyaknya akun yang diperlukan oleh setiap perusahaan
berlainan dengan perusahaan lain, yaitu disesuaikan dengan kebutuhan. Perkiraan-
perkiraan tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok :
1. Perkiraan real/permanent (perkiraan-perkiraan neraca). Yaitu perkiraan-

perkiraan yang terdapat dalam neraca yang terdiri dari perkiraan aktiva, hutang, dan
modal.
2. Perkiraan nominal / temporer (perkiraan-perkiraan laba-rugi). Yaitu perkiraan-
perkiraan yang terdapat dalam laporan laba-rugi yang terdiri dari perkiraan
penghasilan dan perkiraan biaya.

Akun pada umumnya dapat digolongkan menurut sifatnya (karakteristik), yaitu
meliputi harta, utang, modal, pendapatan, dan beban. Tiap-tiap golongan dapat
dikelompokan lagi kedalam sub golongan. Kemudian sub golongan dapat dipecah lagi
menjadi beberapa jenis. Sehingga setiap jenis benar-benar hanya tersedia sebuah akun.

a. Harta (Assets), adalah semua hak milik (kekayaan) perusahaan, baik yang berwujud
maupun yang tidak berwujud, yang dapat dinilai dengan uang. Pada umumnya harta
dapat dibagi menjadi 5 golongan:
1) Harta Lancar (Current Assets), yaitu uang tunai dan harta lain yang
diharapkan dapat dicairkan menjadi uang tunai dalam jangka waktu 1 tahun atau
kurang, melalui operasi normal perusahaan. Yang termasuk golongan ini antara
lain :

24

a) Kas (Cash), yaitu semua uang tunai dan surat berharga yang berfungsi
sebagai uang tunai.

b) Efek (Surat Berharga), yaitu surat berharga berupa saham atau obligasi yang
dapat diperjualbelikan melalui bursa.

c) Piutang (Account Receivable), yaitu tagihan kepada pihak lain tanpa
perjanjian tertulis yang pelunasannya terjadi dalam jangka pendek atau
dibawah satu tahun.

d) Wesel Tagih (Notes Receivable), yaitu tagihan kepada pihak lain dengan
perjanjian tertulis yang pelunasannya terjadi dalam jangka pendek atau
dibawah satu tahun.

e) Perlengkapan (supplies), barang habis pakai yang digunakan untuk kegiatan
perusahaan dalam jangka waktu dibawah satu tahun.

f) Beban Dibayar Di muka, yaitu beban yang telah dikeluarkan tetapi belum
menerima manfaatnya atau belum menjadi kewajiban. Contoh: sewa
dibayar di muka, bunga dibayar di muka.

g) Pendapatan yang Akan Diterima, yaitu pendapatan atas pekerjaan yang telah
diselesaikan, tetapi belum menerima pembayarannya.

h) Persediaan, yaitu barang siap untuk dijual.

2) Investasi Jangka Panjang(Long Term Investment),yaitu investasi yang
dimaksudkan untuk menguasai perusahaan atau memperoleh penghasilan
tetap. Termasuk didalamnya antara lain: penanaman modal dalam saham dan
penanaman modal dalam obligasi.

3) Harta Tetap (Fixed Assets), adalah harta berwujud yang dipergunakan
dalam operasi perusahaan yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu
tahun atau yang bukan merupakan barang dagangan yang akan dijual. Yang
termasuk dalam golongan ini antara lain: kendaraan, peralatan kantor,
mesin-mesin, gedung dan tanah. Harta tetap dalam penggunaannya secara
bertahap akan menyusut atau berkurang nilai kegunaannya kecuali tanah.

4) Harta Tak Berwujud, yaitu harta yang berupa hak-hak istimewa atau posisi
yang menguntungkan perusahaan. Harta ini antara lain:
a) Hak Patent, adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah melalui
Direktorat Patent kepada seseorang atau badan untuk penemuan baru.
Contoh penemuan produk formula.
b) Hak Cipta, adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada
seseorang atau badan untuk memperbanyak dan menjual hasil karya
seni atau karya intelektual. Contoh menulis buku, mencipta lagu.
c) Hak Merk, adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada
seseorang atau badan untuk menggunakan cap, nama, logo, lambang,
atau merk usaha.
d) Franchise, adalah hak tunggal atau istimewa yang diperoleh suatu
perusahaan dari pemerintah, orang, atau perusahaan lain. Contoh:
Franchise dari Kentucky Fried Chicken.
e) Goodwill, adalah suatu nilai lebih yang dimiliki oleh suatu perusahaan
karena adanya keistimewaan tertentu, misalnya karena letak strategis,
merk terkenal, personalia yang profesional, pelayanan yang
memuaskan, dan lain-lain.

25

5) Harta Lain-lain, yaitu harta yang tidak dapat dikelompokan pada kriteria
diatas. Misalnya mesin yang tak terpakai, tanah yang tidak dijadikan tempat
usaha.

b. Utang/Kewajiban (Liabilities), yaitu suatu kewajiban yang harus dibayar kepada
pihak lain dalam jangka waktu tertentu. Utang dibagi menjadi 2 golongan: utang
lancar dan utang jangka panjang.
1. Utang Lancar (Current/Short term liabilities), yaitu suatu kewajiban yang
harus dibayar dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Yang termasuk
golongan ini adalah:
a) Utang Usaha (Account Payable), yaitu utang jangka pendek yang tidak
disertai perjanjian tertulis. Contoh utang yang timbul akibat pembelian
secara kredit.
b) Wesel Bayar (Notes Payable), yaitu utang jangka pendek dengan disertai
perjanjian tertulis.
c) Beban yang masih harus dibayar, misalnya utang gaji.
d) Pendapatan diterima di muka, misalnya Sewa diterima di muka

2. Utang Jangka Panjang (Long Term liabilities), yaitu kewajiban yang harus
dibayar dalam jangka waktu yang relatif lama atau lebih dari satu tahun. Jika
sebagian atau seluruh utang tersebut telah jatuh tempo, maka bagian yang
telah jatuh tempo tersebut menjadi utang jangka pendek. Yang termasuk
dalam golongan ini antara lain:
a) Pinjaman Obligasi. Obligasi adalah surat bukti utang perusahaan kepada
pemegang obligasi disertai pembayaran bunga sesuai tingkat bunga yang
disepakati.
b) Utang Hipotik, yaitu utang jangka panjang dengan jaminan harta tetap.

c. Modal, yaitu kekayaan pemilik perusahaan atau hak milik atas harta perusahaan.
d. Pendapatan, yaitu penambahan dalam modal perusahaan yang berasal dari

kegiatan usaha. Pendapatan dapat dibedakan:
a. Pendapatan Operasional, yaitu pendapatan yang diperoleh dari usaha

pokok/utamanya.
b. Pendapatan Non Operasional, yaitu pendapatan yang diperoleh diluar dari

usaha pokok/utamanya. Misalnya dari pendapatan bunga, pendapatan komisi,
laba penjualan aktiva, dll.

e. Beban, yaitu pengorbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh hasil. Beban
dapat dibedakan menjadi:
a. Operasional/Beban Usaha, yaitu beban yang dikeluarkan untuk dapat
mendapat hasil dari usaha pokoknya. Misalnya Beban gaji, beban listrik,
telepon, dll.
b. Beban diluar usaha/Non Operasional, yaitu beban yang dikeluarkan yang
tidak ada hubungannya dengan usaha pokok/utamanya. Misalnya beban
bunga, rugi penjualan aktiva.

26

Kode Akun
Untuk mempermudah pencatatan, akun umumnya disusun sedemikian rupa dan diberi

kode, agar lebih mudah mencarinya dan mendapatkannya kembali pada kelompoknya
masing-masing. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian kode akun,
yaitu :
a. Kode akun dibuat secara sederhana dan mudah untuk diingat.
b. Kode akun dalam penggunaannya harus konsisten.
c. Jika ada penambahan akun baru, usahakan jangan sampai mengubah kode yang sudah

ada .

Berikut beberapa macam kode akun :

1. Kode Numeral, adalah cara pemberian kode akun dengan menggunakan nomor (0-9).

a. Kode Nomor berurutan, pada cara ini akun dibei nomor secara berurutan. Nomor

yang diinginkan dapat mulai dari 1 atau 100 atau sesuai yang diinginkan. Cantoh :

Nomor Kode Nama Akun

100 Kas

101 Bank

102 Piutang Usaha

103 Wesel Tagih

121 Tanah

122 Gedung

201 Utang Usaha

202 Wesel Bayar

2. Kode Kelompok, dengan cara in akun yang ada dikelompokkan menjadi beberapa

kelompok, dan setiap kelompok dibagi menjadi golongan dan seterusnya diberi nomor

kode tersendiri. Kode akun bisa terdiri atas 2,3, atau 4 angka yang masing-masing

mempunya arti tersendiri, misal : suatu akun kas diberi kode 111 (1 pertama :

a. Kelompok akun Harta; 1 kedua menunjukkan golongan akun Harta Lancar; 1

ketiga menunjukkan jenis akun kas)

Nomor Kode Arti

Angka pertama Kelompok Akun

Angka kedua Golongan Akun

Angka ketiga Subgolongan Akun

Angka keempat Jenis Akun

b. Kode Blok, dalam cara ini, akun yang ada dikelompokkan menjadi beberapa

kelompok, tiap kelompok dibagi menjadi beberapa golongan, dan tiap

golongan menjadi beberapa jenis. Masing-masing kelompok, golongan, dan

jenis diberi satu blok nomor kode yang berbeda. Contoh :

Kelompok Kode
Harta
Utang 100 – 199
Modal 200 – 299
Pendapatan 300 – 399
400 – 499

Beban 500 - 599

27

Golongan Kode
Harata Lancar
Harta Tetap 100 – 149
Utang Lancar 150 – 199
Utang Jgk. Pnjg 200 – 249
500 – 299

Jenis Kode
Kas 100
Piutang 101
Peralatan 150
Kendaraan 151
Utang usaha 201

c. Kode Desimal, pada cara ini akun diklasifikasikan menjadi kelompok atau
rubrik, tiap rubrik menjadi golongan, dan tiap golongan dibagi menjadi jenis
akun. Setiap rubrik, golongan dan jenis akun diberi nomor kode mulai 0 sampai
9.
a. Akun dibagi menjadi beberapa rubrik, misalnya :
Rubrik 0 : Akun Harta Lancar
Rubrik 1 : Akun Harta Tetap
Rubrik 2 : Akun Utang Lancar
Rubrik 3 : Akun Utang Jangka Panjang
Rubrik 4 : Akun Modal
Rubrik 5 : Akun Pendapatan
Rubrik 6 : Rubrik Beban

b. Rubrik dibagi menjadi beberapa golongan, misalnya :

Rubrik 2 : Akun Utang Lancar

Golongan 20 : Utang Usaha

Golongan 21 : Utang Wesel

c. Golongan dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya :

Golongan 20 : Utang Usaha

Jenis 201 : Utang Gaji

Jenis 202 : Utang Sewa

d. Kode Mnemonik, pada cara ini pemberian kode dilakukan dengan

menggunakan huruf. Contoh :

Jenis Kode

Harta H

Harta Lancar HL

Harta Tetap HT

Utang U

Utang Lancar UL

Modal M

28

e. Kode Kombinasi Huruf dan Angka, Cara ini dilakukan dengan

mengkombinasikan huruf dan angka untuk membentuk kode yang diinginkan.

Contoh :

Jenis Kode

Harta H

Harta Lancar HL

Kas HL 01

Piutang HL 02

Harta Tetap HT

Utang U

Utang Lancar UL

Utang Dagang UL 01

Modal M

Analisis Bukti Transaksi Dalam Tahap Pencatatan Dalam Jurnal Umum

1. Pengaruh Transaksi Terhadap Harta, Utang, dan Modal
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa setiap terjadi transaksi akan berpengaruh

terhadap komposisi harta, utang, dan modal. Namun perubahan tersebut tetap dalam
keadaan seimbang. Pencatatan yang demikian pada dasarnya merupakan penerapan
sistem pembukuan berpasangan. Artinya setiap transaksi akan dicatat pada 2 aspek
yang berbeda, yakni sisi kiri (debet) dan sisi kanan (kredit) pada dua atau lebih akun
(account) yang terpengaruh.

Dengan demikian sebelum suatu pencatatn dilakukan atas suatu transaksi
berdasarkan dokumen sumber, maka bukti pencatatan perlu dianalisis terlebih dahulu.
Analisis ini dimaksudkan untuk menetapkan :
a. Akun apa saja yang terpengaruh dengan transaksi tersebut (harta, utang, moda,

pendapatan, dan beban).
b. Pengaruh transaksi tersebut bertambah atau berkurang terhadap akun yang

bersangkutan.
c. Akibat penambahan atau pengurang itu akun-akun yang bersangkutan darus

didebit atau dikredit.
d. Berapa jumlah pengaruh tersebut.

29

2. Posisi Normal Akun Harta, Utang, Modal, Pendapatan, dan Beban
Pengaruh suatu transaksi terhadap dua atau lebih akun dilakukan dengan

menambah atau mengurangi atau dengan kata lain mendebit atau mengkredit sejumlah
nilai tertentu pada akun tersebut. Setiap akun mempunyai posisi normal/seharusnya.
Posisi normal akun dasar pemikirannya adalah posisi sebuah neraca.

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Dengan demikian akun-akun harta mempunyai posisi normal sebelah kiri
(debet), jika harta bertambah, harta akan di-debet, sebaliknya jika harta berkurang,
harta akan dikredit. Secara lebih jelas posisi normal akun seperti tabel berikut :

Kelompok Akun Normal Bertambah Berkurang
Harta/Aset/Aktiva Debet Debet Kredit
Utang/Liabilitas/Kewajiban Kredit Kredit Debet
Modal/Ekuitas Kredit Kredit Debet
Pendapatan/Revenue Kredit Kredit Debet
Beban/Expense Debet Debet Kredit

3. Pencatatan Dalam Jurnal Umum
Kata jurnal berasal dari Bahasa Perancis “jour” yang berarti “hari”. Dengan

demikian pengertian jurnal atau catatan harian adalah formulir khusus yang dipakai
untuk mencatat setiap transaksi, berdasarkan dokumen/bukti transaksi, secara
kronologis sesuai akun-akun yang terpengaruh dalam jumlah tertentu dengan cara
didebet atau dikredit. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan jurnal mempunyai
fungsi sebagai berikut :

30

31

Ada dua jenis jurnal yaitu jurnal khusus dan jurnal umum.
a) Jurnal umum / Jurnal memorial (general journal). Jurnal umum adalah jurnal

untuk mencatat transaksi selain transaksi yang dicatat oleh jurnal khusus, seperti
penyesuaian atau koreksi. Untuk menjurnal transaksi-transaksi yang karena sifatnya
tidak dapat dicatat dalam buku jurnal khusus seluruhnya maka dicatat dalam jurnal
umum (general journal), contohnya transaksi-transaksi penyesuaian. Akun-akun yang
termasuk ke dalam jurnal memorial diantaranya:
• Retur penjualan dan pengurangan harga,
• Potongan penjualan,
• Retur pembelian dan
• Pengurangan harga,
• Depresiasi aktiva tetap berwujud,
• Amortisasi aktiva tetap tidak berwujud,
• Penyesuaian akhir tahun,
• Pembetulan kesalahan,
• Penutupan,
• Penyesuaian kembali di awal tahun.

Format Jurnal Umum / Jurnal Memorial
Jurnal Umum

Halaman :

Tanggal Keterangan Ref Debet Kredit

Cara Membuat Jurnal Umum/Memorial
1. Kolom tanggal diisi tanggal transaksi
2. Keterangan diisi jenis transaksi
3. Ref diisi nomor rekening saat sudah di posting
4. Debit dan kredit diisi sesuai dengan jumlah akibat transaksi (perhatikan aturan

debit kredit dalam akuntansi)

b) Jurnal khusus (special journal). Buku jurnal yang digunakan untuk mencatat
transaksi-transaksi tertentu. Jenis-jenis jurnal khusus :
1. Jurnal pembelian (purchases journal). adalah jurnal khusus yang digunakan
guna mencatat semua transaksi pembelian barang dagang atau barang lain, secara
kredit.
2. Jurnal penjualan (sales journal). adalah jurnal khusus yang digunakan untuk
mencatat semua transaksi penjualan barang yang juga secara kredit. Sehingga
setiap penjualan barang secara kredit akan dicatat dalam jurnal penjualan.
3. Jurnal penerimaan kas (cash receipt journal). adalah buku harian khusus yang
fungsinya untuk mencatat semua transaksi penerimaan kas dari hasil penjualan
secara tunai baik berupa kas ataupun cek.

32

4. Jurnal pengeluaran kas (cash payment journal). adalah buku harian khusus
yang fungsinya untuk mencatat semua transaksi pembayaran hutang, pembayaran
beban dan sebagainya secara tunai, baik menggunakan cek ataupun kas.

Berikut ini adalah tabel perbedaan antara Jurnal Umum dan Jurnal Khusus :

Jurnal umum adalah sebuah jurnal yang dipergunakan untuk tempat melakukan
pencatatan bagi segala jenis bukti transaksi keuangan yang muncul akibat terjadinya
berbagai transaksi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Pada umumnya,
jurnal ini dipergunakan dalam akuntansi perusahaan jasa karena pada prinsipnya
segala transaksi dalam perusahaan jasa dapat dicatat secara kronologis, sedangkan
pada akuntansi perusahaan dagang lebih efektif menggunakan jurnal khusus.
Pembuatan jurnal umum atau disebut juga penjurnalan mempunyai tujuan diantaranya
untuk melakukan identifikasi, melakukan penilaian, dan melakukan pencatatan
dampak ekonomi dari sebuah transaksi atau beberapa transaksi dalam perusahaan.

Pada pembahasan kita kali ini kita hanya akan membahas mengenai pencatatan
transaksi pada Jurnal Umum pada perusahaan jasa saja.Untuk membuat jurnal umum,
Anda harus paham mengenai saldo normal masing-masing akun. Dalam akuntansi ada
lima akun yang perlu Anda tahu posisi saldo normalnya. Agar lebih mudah, lihat tabel
berikut:

Tabel Saldo Normal Akun

Nama Akun Debit Kredit Saldo Normal
Aset (harta/aktiva) – Debit
Utang (kewajiban) + Kredit
Modal – + Kredit
Pendapatan – Kredit
Beban – + Debit

+ +


33

Keterangan:
• Pada saat aset atau harta atau aktiva bertambah maka catatlah pada posisi

debit, sementara jika aset berkurang maka catatlah pada posisi kredit.
Adapun saldo normal akun aset berada pada debit.
• Akun utang atau kewajiban berbanding terbalik dengan aset. Jika utang
bertambah maka dicatat pada posisi kredit, sementara jika utang Anda
berkurang dicatat pada posisi debit. Sehingga saldo normal akun utang atau
kewajiban pada sisi kredit.
• Akun modal sama dengan akun utang, jadi jika modal bertambah dicatat pada
posisi kredit dan jika modal berkurang dicatat pada posisi debit. Saldo normal
modal pada sisi kredit.
• Akun pendapatan pun sama dengan akun utang dan modal. Jika pendapatan
bertambah maka dicatat pada posisi kredit dan jika pendapatan berkurang
catat pada posisi debit. Sehingga saldo normal pendapatan pun pada sisi kredit.
• Pada akun beban pencatatan sama dengan akun aset. Jika beban bertambah
dicatat pada posisi debit, sementara jika beban berkurang dicatat pada posisi
kredit. Dan saldo normal beban juga berada pada posisi debit.

Tahapan Cara Membuat Jurnal Umum
Berikut tahapan contoh cara membuat jurnal umum secara manual yang perlu
diketahui, antara lain:
1. Pahami Persamaan Akuntansi

Untuk membuat jurnal umum dengan benar, maka langkah pertama yang
harus dilakukan adalah memahami persamaan dasar akuntansi.
Persamaan dasar akuntansi yakni :
Aset = Utang + Modal
yang kemudian diperluas menjadi :
Aset = Utang + Modal + (Pendapatan – Beban)

Pemahaman persamaan dasar akuntansi yang dimaksud juga berkaitan
dengan kelompok-kelompok akun yang masuk didalamnya. Misalnya piutang
usaha masuknya kelompok aset, persediaan juga masuk dalam aset dan lain
sebagainya. Selain persamaan akuntansi dan kelompok akun lainnya, juga harus
memahami saldo normal dari setiap akun. Dengan begitu saat menemui sebuah
transaksi, nantinya secara otomatis dapat langsung mengelompokkan.
2. Kumpulkan Bukti Transaksi

Jika langkah pertama berupa pengetahuan, maka langkah kedua ini
merupakan langkah langsung dalam praktik. Untuk dapat menuliskan transaksi
pada jurnal maka Anda harus memiliki bukti transaksi. Bukti transaksi merupakan
dasar yang sangat penting untuk pencatatan sebuah transaksi pada sebuah jurnal,
karena tanpa adanya bukti transaksi tidak dapat dicatat pada jurnal. Oleh karena
itu, pastikan Anda memiliki bukti transaksi yang akan dicatat dalam jurnal umum.
Adapun bukti transaksi dapat berupa nota, faktur, kuitansi, invoice dan lain
sebagainya.
3. Identifikasi Transaksi

Langkah selanjutnya mengidentifikasi transaksi. Tidak semua transaksi dapat
dicatat, transaksi yang boleh dicatat yakni transaksi yang mengakibatkan

34


Click to View FlipBook Version