Yuni Sri Astuti, S. Sos, Kasi Pelayanan 196707131990032007 III/d
M.Si Umum 197002021994031010 III/d
196608071986031008 III/d
Agung Dwi M, SH, M.Si Kasi Pemerintahan
196510011988122003 III/d
Bejo, SIP Kasubag Umum dan
Pegawai
Rini Ida Sri Lestari, SH Kasubag KPE
Sumber : Kantor Kecamatan Cangkringan
Informasi jumlah penduduk Kecamatan Cangkringan berdasarkan data
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman tahun 2019 sebesar 31.309 jiwa, terdiri
15.405 laki-laki dan 15.884 perempuan. Perbandingan jenis kelamin di
Kecamatan Cangkringan laki-laki terhadap perempuan adalah 98%. Dengan luas
wilayah 47,99 km2, menurut data registrasi penduduk, jumlah Kepala Keluarga di
Kecamatan Cangkringan adalah 10.793, dengan rata – rata jiwa per Kepala
Keluarga adalah 3 jiwa. Dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.6 Banyaknya Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di
Desa Wukisari, 2019
Kelompok Laki – laki Perempuan Jumlah
Umur
(1) (2) (3) (4)
690
0–4 366 324 807
859
5–9 373 343 690
669
10 – 14 435 424 730
664
15 – 19 361 329 861
853
20 – 24 348 321 804
744
25 – 29 353 377 607
496
30 – 34 323 341
35 – 39 428 433
40 – 44 448 405
45 – 49 385 419
50 – 54 361 383
55 – 59 289 318
60 – 64 241 255
65 + 591 690 1281
Kecamatan 5.302 5.453 10.755
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sleman
Kecamatan Cangkringan memiliki sekolah dasar sebanyak 20 terdiri dari
17 sekolah negeri dan 3 swasta, SMP sebanyak 4 terdiri dari 2 sekolah negeri dan
38
2 swasta, SMA/SMK sebanyak 4, terdiri dari 2 sekolah negeri dan 2 swasta.
Fasilitas kesehatan di Kecamatan Cangkringan tahun 2019 sebanyak 1 Puskesmas,
4 Pustu, 1 dokter praktek, dan 1 rumah sakit bersalin. Sedangkan Posyandu
sebanyak 78 dan Pos pelayanan KB sebanyak 6. Dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
Tabel 4.7 Banyaknya SD, SM dan SMA per Desa di Kecamatan
Cangkringan, 2019
Desa SD SMP SMA
Negeri Swasta
Negeri Swasta Negeri Swasta
(6) (7)
(1) (2) (3) (4) (5) 1-
-1
1. Wukisari 6 2 1 - --
--
2. Argomulyo 6 - - 1 --
11
3. Glagaharjo 2 1 - -
4. Kepuharjo 1 -1 -
5. Umbullharjo 2 - - 1
Kecamatan 17 3 2 2
Sumber: BPS, Pendataan Potensi Desa (Podes) 2019
Tabel 4.8 Keberadaan Fasilitas/Upaya Antisipasi/Mitigasi Bencana Alam menurut
Desa di Kecamatan Cangkringan, 2019
Desa Sistem Sistem Perlengkapan
Peringatan Dini Peringatan Dini Keselamatan
(1) Bencana Alam Khusus Tsunami
1. Wukisari (4)
2. Argomulyo (2) (3) Ada
3. Glagharjo Ada - Ada
4. Kepuharjo Ada - Ada
5. Umbulharjo Ada - Ada
Ada - Ada
Ada -
Desa Rambu – Rambu dan Pembuatan, Perawatan,
Jalur Evakuasi Bencana atau Normalisasi,
(5)
1. Wulkisari (6) Sungai, Kanal, Tanggul,
2. Argomulyo Ada Parit, Drainase, Waduk,
3. Glagharjo Ada
4. Kepuharjo Ada Pantai, dll
Ada (7)
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada
39
5. Umbulharjo Ada Tidak Ada
Catatan: (-) bukan wilayah potensi tsunami
Sumber: BPS, Pendataan Potensi Desa (Podes) 2019
Gambar. 4.1 Peta Wilayah Kecamatan Cangkringan
40
4.2 Profil Sekolah SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
Adapun profil SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta adalah:
Nama Sekolah : SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
Alamat
: Watuadeg, Wukisari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta,
Keputusan Dinas
Pendidikan Telepon (0274) 89752. Koordinat -
NPSN 7o38’57’110o26’37”,523,2m,1860
NSS
Akreditasi : 090/Kanwil.PK/E.III/1976 tentang Penunjukan
Email
Jenjang Penggunaan/Pemakaian Tanah, Gedung Sekolah dan
Status
Situs Perlengkapannya untuk S.T. Negeri II Sleman/ SMP
Visi
Negeri Peralihan Cangkringan Sleman.
Misi
: 20401070
: 201040211022
: Akreditasi A
: [email protected]
: SMP
: Negeri
: http://20401070.siap-sekolah.com
: Berbudi Perkerti Luhur, Berprestasi, Berwawasan
Lingkungan dan Berbudaya
: a) Mewujudkan Sekolah Inovatif Dalam Pembelajaran
b) Mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah Yang
Tangguh
c) Mewujudkan Pembinaan Kompetensi Siswa Secara
Kompetitif
d) Meningkatkan Keterampilan, Bakat, Dan Minat Peserta
Didik Melalui Bimbingan Ekstrakurikuler Yang
Bermutu
e) Membimbing Perkembangan Moral Dan Budi Pekerti
Siswa Dengan Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia
f) Mewujudkan Pendidikan Berbasis Budaya Serta
Penataan Lingkungan Dan Mitigasi Bencana
g) Mengkondisikan Sekolah Yang Nyaman Bagi Anak,
Memastikan Sekolah Memenuhi Hak Anak Dan
Melindunginya
h) Melaksanakan Pembinaan Etika Berlalu Lintas
41
Gambar 4.2 Surat Keputusan Berdirinya SMPN 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
42
4.2.1 Letak Geografis SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta masuk dalam administasi wilayah Dusun Watuadeg, Desa
Wukisari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Sekolah ini berdiri
pada Tahun 1975, dengan luas tanah 20.000m2, dipergunakan untuk bangunan
seluas 1.556 m2. Sekolah ini memiliki ruang kelas sejumlah 12 kelas, dengan
jumlah siswa pada tahun ajaran 2019/2020 sebanyak 131 siswa yang terdiri
dari siswa laki – laki (52 orang) serta siswa perempuan (79 orang). Sedangkan
tenaga kependidikan berjumlah 28 orang. Tabel Daftar Pendidik dan Tenaga
Kependidikan SMP N 1 Cangkringan Periode 01 Juli 2020 dapat dilihat
sebagai berikut:
Tabel 4.9 Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
No Nama Nip Pangkat Gol Jb.
Fungsional
(1) (2) (3) (4) Guru/TU
1 Hadi Suparmo,SPd, M.Pd 19680520 199203 1 010 Pembina TK .I
2 Triyono, A.Md. Pd 19600820 198203 1 009 Pembina (5) (6)
3 Siti Triastuti, S. Pd 19601025 198302 2 004 Pembina IV/b Guru Madya
4 Daryanto, S. Pd. Jas 19611109 198303 1 008 Pembina IV/a Guru Madya
5 Agustina Parasi Astuti, S. Pd.T 19600819 198403 2 003 Pembina IV/a Guru Madya
6 Sidik Purmomo, S. Pd 19610921 198403 1 005 Pembina IV/a Guru Madya
7 Suharto, S. Pd 19641230 198412 1 003 Pembina IV/a Guru Madya
8 Mulyo Widodo, S. Pd 19610404 198503 1 011 Pembina IV/a Guru Madya
9 Umi Hidayatun Muhayati, S. Ag 19650507 198603 2 002 Pembina IV/a Guru Madya
10 Dwi Suatmini, S. Pd 19661007 198811 2 001 Pembina IV/a Guru Madya
11 Dra. Nanik Eryanti 19670401 199403 2 004 Pembina IV/a Guru Madya
12 Daryati, S. Pd 19690212 200701 2 019 Penata TK. I IV/a Guru Madya
13 R. Kulup Suhandriya, S.Pd 19690520 200701 1 015 Penata Md. TK. I IV/a Guru Madya
14 Ardi Harwiyanti, S. S 19820515 201001 2 024 Penata Md. TK. I III/c Guru Muda
15 Daru Dita Widieatni, S. Pd 19820918 200903 2 001 Penata Md. TK. I III/b Guru Pertama
16 Rumeka Cahyo Suseno, S. Pd 19801031 201406 1 002 Penata Muda III/b Guru Pertama
17 Rita Suryani, S. Pd 19940708 201903 2 020 Penata Muda III/b Guru Pertama
18 Kuwatni, S. Pd III/a Guru Pertama
19 Yuliah Mandasari, S. Pd. Si - - III/a Guru Pertama
20 Ndaru Kurniawan Suseno, S. Pd - -
21 Martinah - - - GTT
19670228 198602 2 002 Penata Md. TK. I - GTT
22 Heni Widiastuti - GTT
19721015 199412 2 001 Penata Muda III/b Pej. Pelkes.
23 Hariyanta
24 Suratna 19700715 201406 1 002 Pengatur Muda TU
25 Suryanto, SE 19620727 198103 1 004 Pengatur Muda III/b Urs.
- - Inventaris
II/a Perpusatakaan
II/a Pejaga Malam
- Operator
43
26 Ervan Nur Wahid, ST - Sekolah
27 Sugeng Wahyudi 904020607 - - Kesiswaan
- - Penjaga
28 Sugiyarta 904020605
Sekolah
- - Kebersihan
Sumber : Sekolah SMP N 1 Cangkringan, 2020
Gambar 4.3 Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
44
Gambar 4.4 Penerimanaan Siswa Baru
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Wilayah Kecamatan Cangkringan sebagian masuk Kawasan Rawan
Bencana (KRB) Gunungapi Merapi, menjadikan semua lembaga baik
pemerintah, swasta, maupun masyarakat bisa berperan dalam menghadapi
ancaman gunung merapi. Sebagai salah satau lembaga/instansi yang ada di
wilayah kecamatan Cangkringan, SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
yang berada di luar wilayah Kawasan Rawan Bencana gunungapi merapi juga
dituntut untuk kesiapsiagaan penanganan darurat. Sebagai lembaga pendidikan,
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta dapat berperan dalam
penyelenggaraan pendidikan darurat.
45
Gambar. 4.5 Penunjukan Tempat Pengungsian
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
4.2.2 Situasi Fisik Sekolah
Bangunan SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta relatif masih aman
dikarenkan gedung telah dilaksanakan renovasi kembali pada tahun 2019,
dengan dana APBD Kabupaten Sleman sumber Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan. Sekolah tertata rapi, bersih serta sejuk. Masih banyak terdapat
ruang terbuka hijau untuk serapan air. Adapun Sarana dan Prasarana yang
dimiliki oleh SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta sebagai berikut:
a) Kantor Kepala Sekolah;
b) Kantor TU;0
46
c) Kantor Guru;
d) Ruang BP, R. UKS;
e) Ruang Staf Kasek;
f) Ruang OSIS & KOP;
g) Sumur Timba;
h) Kamar Mandi;
i) WC;
j) Gudang;
k) Mushola;
l) Lap Badminton;
m) Laboratorium;
n) Lap Loncat;
o) Sumur Pompa;
p) Lap Volly;
q) Ruang UKS;
r) Kolam;
s) Parit;
t) Tempat Sepeda Guru;
u) Tempat Sepeda Siswa;
v) R Praktik Elektrok;
w) Kantin;
x) Rumah Jaga;
y) Dapur;
z) Pagar;
aa) Kebun;
bb) Tiang Bendera;
cc) Lap Basket;
dd) Pintu depan.
47
Gambar 4.6 Denah Keadaan Bangunan
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
48
Gambar. 4.7 Tampak Depan SMP N 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Gambar 4.8 Halaman Sekolah SMP N 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
49
Gambar. 4.9 Ruang Guru
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Gambar 4.10 Ruang Kelas
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
50
Gambar. 4.11 Stuktur Organisasi SMP N 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Gambar 4.12 Struktur Komite Sekolah
51
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
52
BAB V
IMPLEMENTASI KESIAPSIAGAAN SEKOLAH SIAGA
BENCANA DALAM MENGHADAPI ERUPSI MERAPI
5.1 Pembahasan Hasil Penelitian
Bab ini akan membahas mengenai hasil penelitian serta analisis data
berdasarkan penelitian langsung dan observasi di lapangan. Hasil penelitian
tersebut berupa pengamatan, dokumentasi maupun proses wawancara yang
dilakukan di Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta.
Data – data yang didapatkan bertujuan untuk melihat peran SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta dalam melakukan pengurangan risiko bencana (PRB).
Beberapa indikator yang digunakan dalam proses penelitian ini yaitu indikator
sikap dan tindakan, perencanaan kesiapsiagaan, kebijakan sekolah, dan mobilisasi
sumberdaya.
Hasil penelitian ini akan disajikan menjadi beberapa bagian diantaranya
membahas mengenai Sekolah Siaga Bencana di Kawasan Rawan Bencana (KRB)
Merapi, warga sekolah yang menjadi pelaku penting dalam pengurangan risiko
bencana, serta pengembangan kesiapsiagaan sekolah berdasarkan indikator –
indikator penting dalam mewujudkan Sekolah Siaga Bencana yang tangguh. Data
– data tersebut kemudian dianalisis menjadi sebuah analisis bagaimana peran
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta dalam mewujudkan kesiapsiagaan
dalam menghadapi erupsi merapi.
5.1.1 Sekolah Siaga Bencana SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta beralamat di Watuadeg,
Wulkisari, Cangkringan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sekolah Menengah
Pertama ini mulai berdiri pada tahun 1976, Menurut Keputusan Kepala Kantor
Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa
53
Yogyakarta Nomor: 090/Kanwil.PK/E.III/1976, tanggal 14 April 1976.
(gambar 5.1)
Gambar 5.1 Gerbang Masuk SMPN 1 Cangkringan
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
memiliki ruang kelas sejumlah 12, dengan jumlah siswa pada tahun ajaran
2019/2020 sebanyak 131 siswa yang terdiri dari siswa laki – laki (52 orang)
serta siswa perempuan (79) orang. Sedangkan tenaga kependidikan berjumlah
28 orang.
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta memberikan tempat bagi
putra-putri masyarakat lereng Merapi yang mencintai dunia perikanan untuk
mengembangkan bidang tersebut sekaligus mendukung program pemerintah
untuk lebih mencintai bidang perikanan sebagai karakteristik utama bangsa
Indonesia yang merupakan negara Agraris, sebagaimana terlihat pada gambar
5.2.
“ Iya mas, SMP N 1 Cangkringan memiliki icon perikanan
sehingga putra-putri siswa siswi SMP N 1 Cangkringan
54
diharapkan mencintai dunia perikanan” (Wawancara dengan Pa
Sugiarto 27 Nopember 2020).
Gambar 5.2 Perikanan SMPN 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Selain itu, kesuburan kawasan Merapi dan hasil bumi pertanian yang
melimpah membutuhkan banyak sumber daya manusia yang mampu mengelola
geografis tersebut. SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta tidak begitu luas
menurut salah satu informan yang sudah bekerja di SMP dari 2010.
Secara umum SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta memiliki
fasilitas utama didukung dengan fasilitas lainnya, diantaranya:
1) Ruang Belajar Mengajar
Ruang belajat mengajar SMP terdiri dari 12 ruang kelas yang terbagi
menjadi 4 ruang kelas VII, 4 ruang kelas VIII dan 4 ruang kelas IX. Masing –
masing kelas sudah dilengkapi dengan fasilitas LCD dan Proyektor, white
board, kursi sesuai dengan kapasitas jumlah siswa dan papa tulis untuk
55
adminitrasi kelas. Gambar 5.3 menunjukkan fasilitas belajar mengajar SMPN 1
Cangkringan.
Gambar 5.3 Fasilitas Belajar Mengajar SMPN 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
2) Ruang Perpustakaan
56
Ruang perpustakaan cukup digunakan secara optimal oleh guru maupun
siswa sebagai tempat pembelajaran alternatif. Di dalamnya terdapat buku –
buku yang relevan untuk digunakan dalam pembelajaran siswa. Rak buku
lumayan tertata dengan rapi.
3) Laboratorium Komputer
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta memiliki ruang laboratorium
komputer dilengkapi dengan wi-fi
4) Ruang Praktik Keterampilan
Ruang keterampilan berada di sebelah ruang seni musik, Ruang ini
memiliki ukuran yang cukup luas. Oleh karena itu, sering digunakan untuk
kegiatan PKK.
5) Ruang Pratik OSIS, UKS, BK
Ruang OSIS terletak di sebelah utara kantor guru. Ruang ini bisa
digunakan oleh siswa-siswi pengurus OSIS untuk mengadakan pertemuan guna
membahas program kerja OSIS di bawah bimbingan koordinator bidang
kesiswaan. Sedangkan Ruang UKS terletak juga disebelah utara kantor guru.
Berfungsi sebagai tempat penanganan siswa yang sakit dan tempat pendataan
kesehatan siswa. Ruang UKS memiliki sarana dan prasarana yang cukup
memadai baik perlengkapan maupun obat-obatan.
Ruang bimbingan dan Konseling terletak di sebelah barat kelas VIII A.
Ruang ini berfungsi untuk menampung siswa yang akan mendapatkan
bimbingan yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi maupun karena telah
melakukan pelanggaran.
6) Lapangan Olah Raga
Lahan yang dimiliki SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta cukup
luas, lapangan yang berada di tengah sekolah dimanfaatkan untuk upacara
bendera dan untuk olahraga
7) Mushola
Mushola terletak di sebelah utara laboratorium IPA. Bangunan ini juga
dilengkapi dengan tempat wudhu yang memadai, selain itu di dalam ruangan
57
juga terdapat perlengkapan ibadah yang tertata dengan baik, sebagaimana
terlihat pada gambar 5.4.
Gambar 5.4 Mushola SMPN 1 Cangkringan
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2020
Sekolah ini berada dekat dengan Merapi sehingga tingkat rawan bencana
Erupsi Merapi Tinggi. Hal tersebut serupa disampaikan oleh beberapa guru
yang sudah mengajar di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta dari tahun
2010:
“SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta, jarak dengan
Merapi 15 Km. Masuk dalam KRB” (Wawancara dengan Bapak
Daryanto, 27 Nopember 2020).
Berdasarkan BPPTKG, Desa Wulkisari berada dalam zona KRB I, berarti
kawasan rawan bencana yang sangat dekat dengan kawah Gunungapi Merapi.
Pada tahun 2010, sekolah ini berada diantara 15 Km dari puncak Gunungapi
58
Merapi. Kawasan Rawan Bencana (KRB) ini sangat berpotensi menjadi aliran
Wedhus gembel atau awan panas, lava, guguran batu, gas beracun maupun baju
pijar dari kawah. Wedhus gembel maupun lava itulah yang kemudian menjadi
perusak (destruction) bagi lingkungan yang ada disekitar baik itu alam, rumah
penduduk, maupun sarana prasarana publik sedangkan hujan abu yang terjadi
dapat juga menggangu kesehatan dari makhluk hidup yang ada di sekitar
Merapi.
Gambar 5.5 Ancaman Erupsi Merapi
Sumber : Dokumentasi KUA Kec Cangkringan, 2010
5.1.2 SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta Pascaerupsi Merapi
Erupsi Merapi yang terjadi di Kawasan Sleman khususnya di Desa
Wukisari di tahun 2010, memberikan dampak yang sangat signifikan. Beberapa
dampak yang telihat yaitu:
a) Kematian Budi Daya Perikanan
59
Perikanan yang menjadi ikon SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
merupakan salah satu budi daya perikanan selama ini, seluruh ikan yang
dimiliki oleh sekolah mengalami kematian 100%
“Ia mas, perikanan yang berada disini mati semua dikarena
debu/abu panas dari erupsi merapi” (wawancara dengan Bapak
Daryanto, 27 Nopember 2020)
Kerugian yang dialami sekolah tidak saja telihat dari perikanan yang mati
juga tapi tanaman – tanaman yang berada di lingkup sekolah ini mati karena
awan panas juga pada saat itu. Kondisi lingkungan di Kecamatan Cangkringan
yang seperti itu memberikan dampak yang signifikan bagi daerah di sekitarnya
juga bagi daerah di luar kecamatan. Hal ini sependapat dengan (Priyatin, Alien
Dan N. Ilham, 2011, Dampak Erupsi Gunung Merapi Terhadap Kerugian
Ekonomi Pada Usaha Peternakan, 2011) dalam jumlahnya “ Dampak Erupsi
Gunung Merapi Terhadap Kerugian Ekonomi Pada Usaha Peternakan” bahwa
kematian ternak pada tahun 2010 di Kabupaten Sleman mencapai 2.468 ekor
atau sekitar 21 % dari populasi ternak terancam di wilayah tersebut sedangkan
Jumlah kematian ternak seperti domba, kambing dan unggas tidak
terindentifikasi secara lengkap.
b) Kerusakan Fasilitas Sekolah
Pasca Erupsi Merapi, SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta tidak
mengalami suatu kerusakan akibat dari erupsi merapi tetapi hanya
meninggalkan debu merapi setinggi 5 meter di halaman ruang kelas dan
halaman sekolah. Informasi ini dipertegas oleh guru SMP serta Pejaga Sekolah.
“Ketika Erupsi Merapi terjadi di Tahun 2010 tidak ada aktifitas
pembelajaran waktu itu, erupsi merapi ini hanya meninggalkan
debu atau lumpur setinggi 5 meter serta SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogayakarta yang diperuntukan sebagai penyanggah
KRB diatasnya tidak ada pengungsi sama sekali” (Wawancara
dengan Pak Sugeng Wahyudi, 27 Nopember 2020)
Kondisi SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta terlihat sangat
memperhatikan pasca Erupsi Merapi. Sehingga kegiatan mengajar siswa
diahlikan ke tempat lain dalam hal ini tempat pengungsian yang telah
60
direkomendasi pihak Penanggulangan Bencana bekerjasama dengan Dunia
Pendidikan setempat.
“Sampai 3 bulan pasca erupsi merapi siswa belajar ditempat
pengungsian dan para guru mencari siswa ditempat
pengungsian lain serta guru mendata keberadaan siswa
tersebut, misalnya menurut informan Pa Daryanto mencari
siswa ke daerah Prambahan di wilayah klaten, setelah itu siswa
yang terdekat belajar di SMP N 3 Depok, sehingga
pembelajaran terasa tidak maksimal yang dialami oleh para
guru SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta” (wawancara
Pak Daryanto, 27 Nopember 2020)
5.1.3 Ancaman Erupsi Merapi pada Sekolah Siaga Bencana di SMP N 1
Cangkringan Sleman Yogyakarta
Tahun 2015, SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta dibentuk
menjadi Sekolah Siaga Bencana yang saat ini menurut undang-undang berubah
menjadi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Satuan Pendidikan Aman
Bencana (SPAB) tersebut merupakan program Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) dalam hal ini adalah BPBD Kabupaten Sleman.
Sekolah telah melakukan pemetaan dan mengkaji risiko – risiko yang dapat
menggangu kestabilan sekolah khususnya dalam konteks bencana.
“Saat ini sekolah udah lebih aman daripada lokasi yang dulu.
Kalau sekarang, ancamannya paling besar ya abu vulkanik,
terus gempa sama paling angin puting beliung. Di tahun 2018,
Abu Vulkaninya sampai kesini” (wawancara dengan Sugiarto
dan Sugeng, 27 Nopember 2020)
“Kajian risiko di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
dilakukan pada waktu pembentukan SSB tahun 2015. Kajian
risiko ini dilakukan supaya warga sekolah mengetahui ancaman
bencana yang ada di sekitarnya. Ada beberapa ancaman
bencana tapi yang paling besar Erupsi Merapi” (wawancara
dengan Sugiarto, 27 Nopember 2020).
Berdasarkan kajian risiko yang dilakukan oleh warga sekolah, beberapa
bencana yang terpetakan yaitu Erupsi Merapi, Gempa Bumi dan Angin Puting
Beliung. Ancaman Erupsi Merapi menjadi perioritas di SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta. Tingkat risiko untuk Erupsi Merapi dapat dilihat di
gambar 5.6.
61
Selain melihat ancaman paling prioritas, warga sekolah juga memetakan
bagaiamana karakteristik ancaman Erupsi Merapi dilihat dari asal
penyebabnya, faktor perusak, tanda – tanda peringatan, sela waktu dari antara
tanda – tanda dengan datangnya ancaman, kecepatan hadirnya ancaman dan
lain – lainnya.
Gambar 5.6 Ancaman Prioritas di SMPN 1 Cangkringan
Sumber: Hasil olahan Peneliti, 2020
Tabel 5.1 Karakteristik Ancaman Erupsi Merapi
No Karakteristik Penjelasan Karakteristik
1 Asal/Penyebab Pengerakan Magma Gunungapi
Merapi
2 Kekuatan/Faktor yang merusak Abu, Pasir dan Awan Panas
3 Tanda – tanda peringatan
Suara gemuruh, gempa vulkanik,
hewan – hewan turun dari
gunung dan suhu meningkat
4 Sela Waktu 1 Minggu
5 Kecepatan Hadir 360 km/jam (hitungan menit)
6 Frekuensi Satu hari sekali
7 Periode Lima Tahun
8 Durasi 20 Menit
9 Intensitas Besar
10 Posisi 15 km
Sumber : Rencana kontijensi SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta, 2015
62
Tabel 5.1 menujukkan periode Erupsi Merapi yang dapat terjadi dalam
kurun waktu 4-5 tahun sekali. Erupsi Merapi terjadi sangat cepat sekali
terdapat sela waktu antara peringatan dini peringatan status sampai akhirnya
Merapi benar-benar erupsi. Sela waktu perlu dimanfaatkan oleh warga sekolah
dengan baik untuk dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman
bencana Erupsi Merapi.
Pengurangan risiko bencana bertujuan untuk mengurangi dampak-
dampak kerugian yang timbul dikarenakan terjadinya bencana, dalam hal ini
adalah Erupsi Merapi. Bencana dapat mempengaruhi lima hal dari kehidupan
sekolah seperti manusia (adanya korban jiwa), perekonomian, alam, fisik,
infrastruktur dan sosial politik.
Dampak-dampak yang pernah sekolah alami pada tahun 2010, tidak akan
terulang lagi dengan syarat sekolah sudah siap menghadapi bencana secara
mandiri. Risiko dampak bencana dapat diturunkan apabila kerentanan di
sekolah dikurangi dan kapasitas sekolah dalam menghadapi bencana di
tingkatkan melalui kegiatan – kegiatan ketangguhan.
5.1.4 Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMPN 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta
Belajar dari pengalaman masa lalu, SMP mulai membenahi sekolahnya.
Pengurus sekolah tidak ingin kejadian di tahun 2010 dialami kembali oleh
warga sekolah. Sebisa mungkin pengurus sekolah meningkatkan
kesiapsiagaanya terhadap ancaman Erupsi Merapi.
5.1.4.1 Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMPN 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta secara struktural
Di awal pembangunan SMP, Kepala Sekolah dan Guru belum
berwawasan pengurangan risiko bencana. Seiring dengan waktu mereka
berpikir bagaimana membuat sekolah yang lebih berkembang daripada di
lokasi yang masuk dalam KRB. Namun berjalan waktunya sekolah telah
melakukan kesiapsiagaan secara stuktural.
63
a) Lokasi Aman
Beberapa aspek mendasar dalam pemilihan pembangunan sekolah yang
aman yaitu luas lahan yang efektif untuk dibangun bangunan/gedung sekolah,
tempat bermain serta sarana olahraga. Lahan tersebut harus jauh dari potensi
bahaya yang mengancam pembelajaran maupun keselamatan jiwa warga
sekolah.
“Sekolah SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta saat ini
berjarak 15 km dari KRB 3 merapi, kami pun menyekolahan
anak terasa aman karena lokasi jauh dari Gunungapi. Dan bila
terjadi bencana kami pun sebagai orang tua siswa akan cepat
bertindak dalam mengevakuasi anak kami, bencana 2010
menjadi gambaran kami dalam melakukan apa yang harus kami
lakukan untuk menyelamatakan harta yang berharga adalah
keluarga” (wawancara orang tua siswa SMP 1 N Cangkringan
Sleman Yogyakarta dengan ibu Tukilah, 16 Nopember 2020)
“Sekolah kami dibangun dengan jarak 15 km dari KRB
Gunungapi, sehingga sekolah kami masih aman untuk
melaksanakan pembelajaran tetapi kami pun cemas dengan apa
yang saat ini menjadi perioritas kebencanaan. Saat ini kami pun
telah, menginformasikan kepada seluruh siswa untuk melakukan
tindakan pencegahan atau mitigasi karena kondisi merapi saat
ini memasuki Level 3 yang telah di informasikan oleh BPPTKG
Provinsi, Dinas Pendidikan Kab Sleman serta Stakholders
setempat. Untuk saat ini semasa wabah covid 19 siswa belajar
di rumah masing – masing (wawancara Pa Daryanto, 16
Nopember 2020)
“Kami sebagai siswa SMP N 1 Cangkringan merasa aman
Kakak untuk sekolah disini, jarak merapi dari sekolah jauh
sekali kurang lebih 15 km, dari bangunan dan fasilitas selama
sekolah di sini cukup aman walaupun kami masih terbilang
siswa baru Ta. 2019. Selain itu rumah kami dengan sekolah ini
tidak terlalu jauh sekali, begitu pun dengan teman teman kami
yang bersekolah disini. (wawancara siswa dengan Adik Ramat
dan Galang Pradana, 16 Nopember 2020)
Menurut warga sekolah lokasi sekolah yang mereka tempati saat ini
sudah aman, khususnya dar ancaman Erupsi Merapi. Jarak Merapi ke sekolah
sekitar 15 km dan tidak masuk dalam KRB 3. SMP N 1 Cangkringan Sleman
64
Yogyakarta juga tidak dibangun di atas tanah bekas pembuangan sampah
maupun dekat dengan sutet.
Gambar. 5.7 Halaman Dalam Sekolah
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
b) Penataan Ruang Kelas
Ruang kelas yang aman dari ancaman bencana adalah ruang kelas yang
memiliki luas yang disesuaiakan dengan jumlah muridnya. Barang – barang di
kelas tidak terlalu banyak dan begitu juga dengan ornamen yang
membahayakan. Di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta, ruang kelas
terdiri dari 20 meja dan 40 kursi.
“Satu kelas biasanya isi 32 anak, 32 an kursi, sama 16 meja.
Untuk jarak meja tidak sempit si Pa bisa untuk keluar”
(wawancara dengan Pak Sugiarto, 27 Nopember 2020)
“Barang yang bisa jatuh mungkin kalai ada hiasan ditaruh di
atas lemari itu bisa jatuh. Di kelasku ada jam sama ada
bingkai-bingkai itu. Kemungkinan itu yang akan jatuh. Itu Cuma
ditaruh di paku” (wawancara dengan Rahamat, 16 Nopember
2020)
65
Gambar. 5.8 Kelas Siswa
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
66
Gambar 5.9 Ornamen di Kelas Siswa
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
c) Dukungan Sarana Prasarana
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta memiliki berbagai sarana
prasarana dalam mendukung pembelajaran di sekolah ini. Fasilitas pendukung
seperti pintu juga seharusnya sesuai dengan kriteria pengurangan risiko
bencana yaitu pintu terbuka keluar. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti,
seluruh pintu ruang kelas di SMP sudah mengarah keluar semua.
67
Gambar 5.10 Pintu yang Terbuka Keluar
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Sarana prasarana lain untuk mendukung kegiatan pembelajaran yaitu
sarana parkir. Sarana transportasi menjadi salah satu kebutuhan warga sekolah.
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta jauh dari pusat kota sehingga tidak
dilalui oleh tranportasi publik. Hal tersebut menyebabkan warga sekolah
memilih menggunakan sepeda motor maupun sepeda. Sepeda motor menjadi
tranportasi yang paling mudah sehingga sekolah menyedikan kantong –
kantong parkir sesuai dengan jumlah warga sekolah.
“90 % anak disini naik motor kesekolah kakak ada juga yang
diantar orang tuanya.kalau parkirnya hadap – hadapan, depan
– depanaan gitu kak. Jadi depan motornya yang hadap jalan,
68
biar gampang keluarnya” (wawancara dengan Galang, 16
Nopember 2020)
Gambar 5.11 Parkir Sekolah
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Hal ini menjadi salah satu indikator kepedulian sekolah terhadap
kesiapsiagaan bencana, dengan parkir menghadap jalan dapat mempermudah
proses evakuasi murid secara mandiri dan cepat. Dalam Permendiknas 24/2007
tertulis sekolah seharusnya menyediakan fasilitas dan aksebilitas yang mudah,
aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
5.1.4.2 Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta secara non struktural
Kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana tidak hanya dilihat dari
stuktur bangunan fisik saja tetapi juga kesiapsiagaan non struktural.
Kesiapsiagaan non struktural merupakan cara pengurangan risiko bencana yang
69
berorientasi kepada kebijakan sekolah, serta kampanye untuk membangun
sikap kesiapsiagaan dari warga sekolah maupun masyarakat terhadap bencana
yang dapat terjadi kapan saja.
5.1.4.2.1 Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta dilihat dari sikap dan tindakan
Membangun persepsi dalam kesiapsiagaan sekolah menjadi dasar
untuk warga sekolah melakukan aktifitas pembelajaran yang berperspektif
pengurangan risiko bencana (PRB). Adanya persepsi pengetahaun serta
keterampilan dalam menghadapi bencana secara cepat dan tepat maka akan
menjadi dasar bagi sikap dan tindakan warga sekolah yang akan dilakukan
secara berulang hingga menjadi sebuah kebiasaan.
1) Pengetahuan mengenai bahaya, kerentanan dan sebagainya
Seseorang akan mulai meningkatkan kesiapsiagaan ketika mereka
mengetahui ancaman apa yang ada disekitarnya dan dampak dari ancaman
itu. Begitu juga dengan pandangan SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta, warga sekolah akan meningkatkan kewaspadaan ketika mereka
tahu risiko bencana apa yang mereka hadapi.
“Eh. Kaya apa ya.... yang kalau Merapi merugikan dan
menguntungkan. Rumah kan pada hancur kalau menguntungkan
kan karna pasirnya bisa ditambang. Merapi kan udah terkenal
banget. Tapi ya tetap banyak merugikannya.” (wawancara
dengan Ramat, 16 Nopember 2020)
“ Bencana alam itu sesuatu yang akan terjadi yang bisa kita
ketahui tapi ada yang belum bisa ketahui. Dampaknya ya,
misalnya Merapi itu banyak yang kehilangan harta bendanya,
ada yang kehilangan keluarga/kerabatnya, banyak yang
trauma/stress” (wawancara dengan Galang Pradana, 16
Nopember 2020)
Wawancara yang dilakukan peneliti kepada beberapa anak kelas VII
D/1D, membuktikan bahwa warga sekolah sudah mengetahui apa itu
bencana dan dampak-dampak bencana. Mereka juga mengetahui ancaman
prioritas serta sejarah bencana yang terjadi di sekolah mereka.
70
Melalui pengetahuan mereka mengenai sejarah bencana dan tanda –
tanda dari ancaman bencana tersebut, warga sekolah dapat meningkatkan
kewaspadaannya terhadap bencana Erupsi Merapi. Tidak hanya
pengetahuan mengenai sejarah, dampak dan tanda-tanda dari ancaman saja
yang seharusnya diketahui oleh mereka, tetapi pengetahuan mengenai
kerentanan di sekolah juga perlu ditingkatkan.
“Kalau menurut kerentanan yang bisa menghambat orang untuk
selamat di sekolah ini adalah tangga. Karena teman saya yang
jatuh itu pas di tangga” (wawancara dengan Rahmat, 16
Nopember 2020)
Pada beberapa sekolah termasuk di SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta, tangga merupakan jalur evakuasi paling rentan. Hal ini
disebabkan lantai yang terlalu licin atau tangga yang terlalu curam,
ditambah lagi kepanikan murid – murid pada saat bencana terjadi.
Penyadaran warga sekolah akan kerentanan di sekolahnya tersebut, dapat
membentuk pola pikir kesiapsiagaan dari warga sekolah. Gambar 5.12
menunjukkan gambar tangga.
Sebagain besar murid SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
merupakan murid yang bertempat tinggal di kawasan utara Kabupaten
Sleman. Mereka adalah saksi hidup sekaligus menjadi subyek yang pernah
mengalami dampak dari Erupsi Merapi. Hal ini memperlihatkan perbedaan
dengan murid yang bertempat tinggal di kawasan selatan. Mereka yang
bertempat tinggal di utara, dari kecil sudah terbiasa dengan tanda – tanda
Erupsi Merapi dan bersekolah di lereng Merapi. Pembelajaran mengenai
ancaman maupun dampak sudah mereka terima sadari dini.
71
Gambar 5.12 Tangga di Ruang Guru & Kelas Siswa
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
“Bencana itu ia bisa ngerusak alam, Menurut saya dampaknya
ya bisa banyak korban. Kalau sekolah bisa, kan kalau ada
bencana alam terus pas masih ada pembelajaran sekolah masih
efektif itu kan kalau ada bencana alam malah keganggu, malah
ketinggalan pelajaran semua siswa. SMPN 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta dekat dengan Merapi 15 km, teringat di
2010 sekolah terkena dampaknya seperti tebalnya abu, matinya
perikanan yang menjadi icon kami serta hujan kerikil sampai
kerumah, terus pada keluar satu desa disuruh ngungsi semua
sama dukunya. Satu desa itu di SMP N 3 Depok” (wawancara
dengan Pak Sugeng, 27 Nopember 2020)
Pengalaman dan pendidikan sedari dini sangat mendukung
berkembangnya pola pikir serta cara mereka menghadapi ancaman bencana
Erupsi Merapi. Mereka sudah tidak lagi panik tetapi sudah dapat melakukan
evakuasi secara mandiri maupun membantu orang lain.
Temuan di lapangan tersebut sejalan dengan pendapat (Mulyadi., T
dkk, 2009) mengenai tujuan Sekolah Siaga Bencana yakni memberikan
bekal pengetahuan kepada peserta didik tentang adanya risiko bencana yang
72
ada di berbagai macam jenis bencana, dan cara – cara
mengantisipasi/mengurangi risiko yang ditimbulkannya.
2) Integrasi Pengurangan Risiko Bencana di SMK N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta
Kesiapsiagaan bencana akan terpatri di dalam pola pikir anak apabila
guru dapat mengintegarsikan materi kebencanaan ke dalam kurikulum dan
menjadi satu dalam pembelajaran yang diampu oleh guru. Kurikulum
pembelajaran dapat menjadi jembatan supaya murid didik memahami
kebencanaan dan meningkatkan kesiapsiagaan.
“Kalau di pelajaran bencana nggak ada si disekolah, Baru
sosisalisasinya aja cara menghadapi bencana/ waktu kegiatan
Pendidikan Kesehatan. Cuma disosialisasikan ke titik
kumpulnya dimana karena tulisan titik kumpul hilang atau rusak
Kakak, habis dari titik kumpul jalan ke barak pengungsian.
Nama desanya lupa tapi utara sini. Desanya dekat sini. Jalan
ini ke utara trus ke kiri, Nanti utara jalan ada barak
pengungsian” (wawancara dengan Rahmat dan Galang, 16
Nopember 2020)
“Ya kalau untuk pembelajaran di kelas itu memang nggak ada,
tapi yang ada itu semacam simulasi itu pernah, Terus sama
kalau Merapi habis erupsi itu hanya ada himbauan dari
sekolah, diharap tenang, posisinya gimana gitu, Tapi kalau
pelajarannya khusus itu belum” (wawancara oleh Pa Daryanto,
27 Nopember 2020)
“Kami sebagai penjaga sekolah disini, melihat langsung
bagaimana adik adik siswa dibekali oleh pengetahuan hal
kebencanaan seperti melakukan simulasi dalam menghadapi
bencana, serta pelatihan pernah melibatkan dari organisasi
lain, saya lupa !! dari mana itu, pa. (wawancara oleh Pa
Sugiarto dan Pa Sugeng, 27 Nopember 2020)
Pada SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta terbagi menjadi
beberapa jenis pembelajaran seperti mata pelajaran normatif, adaptif dan
produktif. Produktif adalah mata pelajaran yang bersangkutan dengan
jurusan yang diambil, sedangkan mata pelajaran normatif contohnya seperti
agama dan mata pelajaran adaptif seperti pendidikan jasmani/ olahraga.
73
Secara umum, SMP memang belum mengintegrasikan materi mengenai
bencana ke dalam RPP kurikulum pelajaran normatif.
Namun pada pembelajaran-pembelajaran yang lebih mengutamakan
praktik, kesiapsiagaan terhadap bencana tersebut sudah terselipkan juga
untuk risiko bencana lain selain Erupsi Merapi yaitu ancaman kebakaran.
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta adalah sekolah yang
mengutamakan praktik sehingga dekat dengan ancaman kebakaran.
Dalam konteks pembelajaran di SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta, sekaligus kebencanaan belum tertuang dan terintegrasi
sebagaimana Surat Edaran Mendiknas 70a/MPN/SE/2010 tetapi para guru
telah mengaplikasikan kepada para murid.
3) Keterampilan menjalankan rencana tanggap darurat
Indikator keterampilan dalam menjalankan rencana tanggap darurat
berarti cara warga sekolah dalam mengimplementasikan rencana aksi
sekolah. Hal ini juga menjadi bagian bagiamana sekolah memperhatikan
rencana tanggap darurat yang sudah warga sekolah sepakati bersama.
Simulasi menjadi salah satu cara menguji warga sekolah dalam menjalan
rencana tanggap darurat sesuai rencana kontijensi.
“Sudah pada saat hari Kesiapsiagaan Nasional April 2019
walaupun kami menggunakan rencana kontijensi yang telah ada
pada 2015 dan belum kami lakukan pembaharuan kembali.
Simulasi sederhana yang penting anak itu mengikuti protap
sekolah. Jalur evakuasinya dimana lalu titik kumpulnya dimana.
Lalu setelah di titik kumpul baru diberikan sosialisasi tentang
penanganan bencana erupsi merapi anak tidak boleh langsung
pulang tetapi ikuti dulu arahan guru dan jalur evakuasinya.
Lalu bersama – sama ke tempat yang aman ke barak terdekat
dari sekolah. Yang paling penting memberikan pendidikan ke
anak yang penangananya dan tidak langsung pulang kerumah
sehingga malah menambah jumlah korban” (wawancara
dengan Pak Daryanto dan Ibu Nanik Eryanti, 16 Nopember
2020)
Pada Bulan April 2019, sekolah mendapatkan surat edaran dari
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa pada Hari Kesiapsiagaan
74
Bencana Nasional 2019, seluruh sekolah tanpa terkecuali harus melakukan
Simulasi Bencana. Simulasi sudah dilakukan oleh seluruh warga sekolah,
terakhir kali melakukan simulasi aadalah pada saat Hari Kesiapsiagaan
Bencana Nasional. Simulasi di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
dilakukan secara mandiri dengan melibatkan beberapa warga masyarakat
disekitarnya.
Simulasi yang dilakukan oleh SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta telah selinier dengan PP 21 tahun 2008 yang berisi pendidikan
dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh
pemerintah dan pemerintan daerah dalam bentuk formal, non formal, dan
informal yang berupa pelatihan dasar, lanjutan, teknis, simulasi dan gladi.
4) Sosialisasi Kebencanaan
Sosialisasi kebencanaan termasuk dalam indikator Sekolah Siaga
Bencana. Tujuan dari sosialisasi kebencanaan ini adalah warga sekolah
dapat mengetahui serta aktif beraprtisipasi dalam kegiatan – kegiatan yang
berspektifkan pengurangan risiko bencana. Warga sekolah mungkin juga
menjadi pasif karena mereka belum mendapatkan sosialisasi dari pihak –
pihak yang memiliki pengetahuan tentang PRB. Saat pengetahuan mengenai
kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana minim maka pelaku – pelaku PRB
juga akan sangat sedikit.
“Ketika ada sosialisasi kami mengajak masyarakat sekitar.
Kemudian kami juga melibatkan masyarakat. Jadi nanti
masyarakat tidak kaget kalau ada bencana yang ikut gabung
sini. Memang diikutsertakan dalam panitia tanggap bencana
pun dikutsertakan karena tidak menutup kemungkinan ketika
ada bencana masyarakat akan ikut gabung ke sekolah”
(wawancara dengan ibu Nanik Eryanti, 16 Nopember 2020).
Sosialiasi mengenai penanggulangan bencana pernah dilakukan di
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta pada tahun 2015. Sosialisasi
tersebut dilakukan seturut dengan pembentukan Sekolah Siaga Bencana dari
BPBD Kabupaten Sleman. Sosialisasi dilakukan selama kurang lebih satu
minggu, peserta yang hadir merupakan perwakilan dari beberapa guru,
75
murid, kepala sekolah, warga masyarakat maupun petugas keamanan di desa
seperti Linmas/BABINSA/BHABINKAMTIBMAS. Sosialisasi tersebut
didampingi oleh LSM Lingkat sebagai fasilitator maupun narasumbernya.
“Kami mendampingi sekolah ini pada bulan Nopember tahun
2015. Saat itu kami diminta BPBD Kabupaten Sleman untuk
menjadi pendamping sekaligus fasilitator dalam sosialisasi
pembentukan Sekolah Siaga Bencana” (wawancara dengan
Untung, 16 Nopember 2020)
“Setiap tahun kami menganggarkan sekolah Pa untuk
Pembentukan Sekolah Siaga Bencana. Pendanaanya langsung
dari APBD. Kami memfasilitasi sosialisasi dan juga beberapa
peralatan untuk kesiapsiagaan Sekolah” (wawancara dengan
Ibu Rini Bid 1 BPBD Kab. Sleman, 17 Nopember 2020)
Dalam pembentukan Sekolah Siaga Bencana tersebut, berbagai
materi diberikan kepada peserta seperti pengkajian risiko bencana bersama
dengan peserta didik, penyusunan rencana aksi sekolah, pembentukan tim
siaga sekolah, penyusunan prosedur tetap untuk masa pra, saat dan paska
bencana, dan simulasi. Materi-materi tersebut didasari pengertian mengenai
pentingnya Sekolah Siaga Bencana serta kebijakan-kebijakan dalam
implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana.
5) Pelatihan Kebencanaan yang diselenggarakan di Sekolah
Pelatihan kebencanaan menjadi salah satu aspek yang dilakukan
paska sosialisasi Sekolah Siaga Bencana ke warga sekolah. Pengetahuan
yang memiliki warga sekolah belum dirasa cukup apabila skill warga
sekolah belum di Upgrade.
“Saya kan baru setahun, jadi baru sekali pelatihan dan
sosilisasi. Waktu MOS nga ada. Pas MOS Cuma pengenalan
sekolah ini saja. Terus kalau dulu disini lebih aman daripada
yang SD dulu karena yang diatas. Sekolah SMP N 1
Cangkringan Sleman Yogyakarta termasuk sebagai Penyangga
Sekolah diatas. Itu diceritakan kenapa, terus dikasih tahu kalau
kita dekat dengan Merapi tapi jangan khawatir karena pasti ada
pertolongan evakuasinya. Dikasih tau sama guru sama
seniornya.” (wawancara dengan Rahmat, 16 Nopember 2020)
76
Menurut murid-murid di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta,
pihak sekolah belum mengadakan pelatihan – pelatihan rutin kembali untuk
mendukung penanggulangan bencana, hanya satu kali saat simulasi saja. Hal
yang sama juga diungkapkan oleh salah satu pegawai honorer di sekolah
tersebut.
Pelatihan mengenai penanggulangan bencana bukan hanya terpaku
pada bagaimana sekolah mengadakan pelatihan “apa yang dimaksud
bencana” tetapi bagaimana pelatihan penanganan dampak dari bencana
tersebut.
5.1.4.2.2 Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMPN 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta dilihat dari Kebijakan Sekolah
Kebijakan Sekolah merupakan sebuah penetapan yang dibuat oleh
sekolah untuk mendukung pelaksanaan Sekolah Siaga Bencana secara
khusus ataupun terpadu. Penetapan ini bersifat formal sehingga memiliki
legalitas yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengikat. Biasanya
kebijakan ini meliputi panduan pelaksanaan kegiatan terkait penerapan
Sekolah Siaga Bencana.
1) Dokumen PRB di Sekolah
Dokumen pengurangan risiko bencana di sekolah dapat berbentuk
rencana aksi sekolah atau rencana kontijensi sekolah. Namun beberapa
literatur menyebutkan bahwa untuk Satuan Pendidikan Aman Bencana
(SPAB) tidak perlu menggunakan rencana kontijensi dapat digantikan
dengan rencana kegawatdaruratan.
“Pada saat pembentukan SSB, kami memfasilitasi rencana
kontijensi dengan satu ancaman Erupsi Merapi. Di dalam
Rencana Kontijensi tersebut sudah ada protap, SOP, Rencana
aksi dan lain – lain” (wawancara dengan Untung dan Rahmat,
16 Nopember 2020)
77
SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta telah memiliki rencana
kontijensi yang dibuat pada saat pembentukan Sekolah Siaga Bencana. LSM
Lingkar Membantu dalam pembentukan rencana kontijensi tersebut.
2) Akes bagi komunitas sekolah terhadap informasi
Informasi menjadi dasar pengetahuan warga sekolah dalam
kebencanaan. Kemudahan mendapatkan informasi – informasi terkait
penanggulangan bencana maka pemahaman warga sekolah terhadap
kesiapsiagaan bencana juga akan meningkat. Informasi menjadi aspek
penting untuk membentuk sikap dan perilaku PRB. Berbagai media
informasi yang dapat digunakan seperti majalah dinding. Buku – buku
literatur di perpusatakaan, maupun modul yang berisikan tentang informasi
PRB.
“Buku tentang kebencanaan sudah ada tetapi belum begitu
lengkap. Tapi minat membaca anak sekarang begitu kurang,
mungkin karena anak millenial jadi lebih tertarik pada media
online” (wawancara dengan Ibu Nanik Eryanti, 16 Nopember
2020)
Media online dirasa lebih efektif oleh orang-orang milenial.
Kelemahan dari media online adalah sulit dibendungnya informasi hoax.
Banyak informasi dari media online yang tidak benar dan hanya memicu
kepanikan warga masyarakat saja. Sebagai murid – murid yang sekolah di
utara, Mereka memiliki website maupun beberapa akun instagram yang
dapat dipercaya. Selain media online, informasi yang turn menurun selalu
dapat menjadi informasi dasar bagi warga sekolah dalam meningkatkan
kesiapsiagaan.
5.1.4.2.3 Kesiapsiagaan SSB berdasarkan Perencanaan Kesiapsiagaan
Perencanaan kesiapsiagaan merupakan sebuah dokumen maupun
rencana kedaruratan termasuk peringatan dini yang berguna untuk
mempercepat tanggap darurat yang efektif serta tepat. Rencana tersebut
78
diadaptasi dan disesuaikan dengan konteks lokal atau kondisi wilayah
setempat.
1) Tersedianya dokumen penilaian Risiko Bencana
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta belum pernah memiliki
dokumen penilaian risiko bencana. Berdasarkan Perka BNPB 4/2012
mengenai pembentukan SPAB, dokumen penilaian risiko bencana ini dibuat
bersama – sama secara partisipatif, antara guru, murid serta komite sekolah.
Dokumen ini disusun secara berkala disesuaikan dengan kerentanan
sekolah.
2) Rencana aksi sekolah yang belum direview dan dibaharui
Dalam rencana kontijensi yang dimiliki SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta belum tertuang rencana aksi. Namun, terdapat beberapa
kebijakan dan strategi yang akan dilakukan setelah dibentuk Sekolah Siaga
Bencana. Kebijakan ini belum direview oleh sekolah sampai sekarang.
Penyebaran luas kepada warga sekolah pun juga belum dilakukan.
3) Peta evakuasi dan rambu jalur evakuasi
Aspek yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan sekolah yang
aman dari bencana yaitu adanya peta evakuasi dan rambu evakuasi. Kedua
hal ini berfungsi sebagai arahan warga sekolah dalam melakukan
penyelamatan diri secara mandiri jika terjadi Erupsi Merapi.
Ibu Nanik Eryanti serta Bapak Daryanto mengatakan bahwa sudah
terdapat peta evakuasi SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta sudah
termasuk sekolah siaga bencana sehingga terkondisikan, harus kemana
anak-anak sudah tahu. Tindakan apa yang harus dilakukan juga harus lewat
mana juga sudah dikondisikan. Namun pandangan tersebut berbeda dengan
para murid.
“Ya mungkin ada, pinggir tangga. Tapi bukan peta hanya
lambang” (wawancara dengan Rahmat, 16 Nopember 2020)
Peta Evakuasi yang seharusnya terpasang tetapi sudah tidak ada
begitu pula dengan denah sekolah. Warga sekolah memang sudah hapal
ruangan – ruangan maupun denah sekolah tetapi tidak begitu dengan tamu.
79
Gambar. 5.13 Rambu Evakuasi
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Hal ini dapat diminimalisir dikarenakan sekolah masih memberikan
rambu – rambu jalur evakuasi menuju titik kumpul, begitu juga rambu untuk
titik kumpul. Sesuai dengan gambar 5.13 sudah terlihat petunjuk atau rambu
jalur evakuasi maupun titik kumpul yang ada di lapangan.
“Lapangan/ Di titik kumpul jalur evakuasinya juga sudah
dikasih tau. Ada tulisannya udah ditempel – tempel per kelas.
Dari gedung pusat langsung turun lewat sini, udah dikasih tau
sendiri – sendiri jalurnya, saat ini titik kumpul (papan rambu)
tidak terpasang dikarenakan rusak” (wawancara Pa Sugiarto,
27 Nopember 2020)
4) Kesepakatan dan ketersediaan lokasi evakuasi
Sekolah yang berada di Utara memiliki lokasi evakuasi yang
teritegrasi dengan masyarakat. BPBD telah membuat kesepakatan barak
evakuasi yang terdekat dari sekolah dan disosialisasikan kepada seluruh
warga sekolah maupun orang tua murid.
80
Dari SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta, menuju ke kanan
lebih efektif untuk menyelamatkan diri daripada ke kanan/atas.
“Tokoh pengiat kebencanaan dan profesi sebagai Kepala
Sekolah TK Kuncup Mekar, menyampaikan bahwa dalam hal
bilamana terjadi Erupsi Merapi, warga yang berada di Radius
KRB harus segera melakukan evakuasi yang telah disepakati
oleh masyarakat setempat dan stakeholders. Lokasi tidak jauh
dari kantor Kecamatan Cangkringan bertempat di desa
Glagaharjo” (wawancara dengan Ibu Naymi, 10 Desember
2020)
Gambar 5.14 Kantor Kecamatan Cangkringan
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Berdasarkan dokumentasi peneliti pada gambar 5.14 merupakan
jalur evakuasi desa menuju Glagaharjo. Hal ini sudah menjadi kesepakatan
warga masyarakat yang juga dipatuhi oleh pihak sekolah untuk
menyelamatan murid-murid SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta.
5) Protap direview dan dimutakhirkan secara partisipatif
Protap merupakan prosedur tetap yang akan dilakukan oleh seluruh
warga sekolah dalam upaya tanggap darurat. Protap SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta telah dilakukan secara partisipatif pada saat
81
pembentukan Sekolah Siaga Bencana. Protap tersebut juga tercantum dalam
rencana kontijensi yang dimiliki oleh SMP.
Dalam rencana kontijensi yang masih dimiliki oleh LSM Lingkar,
terdapat beberapa prosedur tetap yang akan dilakukan warga sekolah
berdasarkan status Merapi. Pada status normal, sekolah akan melakukan
aktivitas pembelajaran seperti biasanya. Pada status waspada, SMP N 1
Cangkringan Sleman Yogyakarta sebagai sister school. Persiapan yang
dilakukan oleh SMP antara lain: mempersiapkan kelas, jadwal, guru yang
mengajar, dan sarana prasarana. Kenaikan status yang ketiga, ketika status
Gunungapi Merapi dinaikan menjadi SIAGA, kelas belajar mengajar di
SMP masih berjalan biasa. Komunikasi masih tetap berjalan dengan BPBD
maupun BPPTKG serta masih menjadi sekolah paseduluran bagi SMP
Taman Dewasa. Pada status ke empat “ status AWAS” Tim Informasi dan
Pendataan menerima status AWAS dari BPPTKG/BPBD/UPT
Pendidikan/Lurah dan instruksi evakuasi dari UPT Pendidikan dan/atau
Lurah. Lalu Tim Informasi dan Pendataan memberikan informasi perubahan
status pada Kepala Sekolah dan tim yang lain dan seluruh tim mulai bekerja
untuk evakuasi anak serta memikirkan untuk sekolah darurat esok hari.
5.1.4.2.4 Kesiapsiagaan SSB berdasarkan Mobilisasi Sumberdaya
Sekolah sebisa mungkin berkewajiban untuk mempersiapkan
sumberdaya manusia, sarana prasarana, pendanaan dalam mengelola
kesiapsiagaan yang ada di sekolah. Mobilisasi sumber daya ini berdasarkan
pada kemampuan sekolah untuk mengumpulkan partisipasi – partisipasi
aktif dari para pemangku kepentingan.
1) Jumlah peserta didik yang terlibat dalam kegiatan kebencanaan
Peserta didik yang telibat dalam kebencanaan terkhusus menjadi tim
siaga bencana sebenarnya tidak terlalu banyak. Bahkan, anak-anak yang
terlibat dalam pembentukan sekolah siaga bencana dan menjadi tim siaga
bencana, saat ini sudah tidak lagi bersekolah di SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta. Peserta didik yang terlibat dalam kegiatan kebencanaan
sebenarnya tercemin dalam organisasi sekolah.
82
“Kami memiliki tim siaga bencana saat ini yang terdiri dari
siswa baru, untuk saat ini kami pun dibantu oleh organisasi
PMR dan Pramuka. Ketika ada bencana mereka sudah
melakukan tindakan awal pergerakan dalam evakuasi, saat ini
mereka telah dimasukan dalam satuan tugas SMP N 1
Cangkringan Sleman Yogyakarta sebagai bagian garda
kemanusiaan kebencanaan” (wawancara dengan Ibu Nanik
Eryanti, 16 Nopember 2020)
2) Kerjasama antar Sekolah dengan BPBD, Dinas Pendidikan, Desa dan
LSM
Kerjasama antara sekolah dengan lembaga – lembaga lain telah
dilakukan melalui beberapa hal. Khususnya dalam penanggulangan
bencana, BPBD maupun Dinas Pendidikan telah menjadi partner bagi
sekolah. Pembentukan Sekolah Siaga Bencana dan Tentunya simulasi di
tahun 2015 merupakan salah satu jenis kerjasama yang dilakukan sekolah
dengan BPBD. Kerjasama tidak hanya berhenti di tahun tersebut saja tetapi
juga sampai sekarang melalui informasi-informasi tentang kebencanaan dan
rekomendasi. Selain BPBD, Pemerintah desa maupun warga masyarakat
juga ikut serta dalam penanggulangan bencana. Rencana tanggap darurat
haruslah diketahui dan sejalan dengan perencanaan yang ada di desa. Hal ini
dimaksudkan supaya sekolah yang merupakan tanggung jawab desa
termonitor oleh desa maupun DESTANA dan dapat juga menjadi salah satu
perioritas dalam tanggap darurat. LSM pun menjadi pendamping dalam
penyelenggaraan Sekolah Siaga Bencana di sekolah yaitu LSM Lingkar.
Rencana kontijensi dalam bentuk Hardcopy maupun dokumentasi terkait
pembentukan Sekolah Siaga Bencana masih tersimpan di BPBD Kabupaten
Sleman.
5.2 Kendala dalam Implementasi Sekolah Siaga Bencana
Implementasi Sekolah Siaga Bencana dalam Menghadapi Erupsi Merapi
juga memiliki banyak kendala. Kendala tidak hanya dirasakan oleh murid ataupun
guru sebagai subyek PRB di sekolah tetapi juga dirasakan oleh masyarakat,
lembaga pendampingan maupun BPBD sebagai implementor program dari pusat.
1) Tidak tersedianya dana yang dialokasikan langsung ke kegiatan SSB
83
Dukungan sekolah terhadap pelaksanaan SSB juga dapat dilihat melalui
penganggaran untuk kesiapsiagaan bencana. Dana tersebut dapat melalui
anggaran dari BOS maupun dana anggaran sekolah. Menurut informan murid
di SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta, sekolah belum pernah
menganggarakan pendanaan untuk kesiapsiagaan bencana. Hal serupa juga
diungkapkan oleh beberapa guru di sekolah tersebut.
Berdasarkan modul “Pendidikan Tangguh Bencana yang dibuat oleh
Sekretaris Nasional SPAB “ tertulis bahwa petunjuk teknis penggunaan BOS
2017 yang dikeluarkan dari Kemendikbud sudah memasukan kegiatan sekolah
aman artinya dan BOS dapat digunakan untuk keberlangsungan program SSB.
Namun, khususnya SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta belum
melakukan hal tersebut.
2) Integrasi PRB ke dalam kurikulum
Sekolah Siaga Bencana merupakan irisan program dari BNPB serta
Kementerian Pendidikan. Berdasarkan Perka BNPB 4/2012 tentang pedoman
penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana, sekolah berkewajiban untuk
memasukkan materi – materi mengenai penanggulangan bencana maupun PRB
ke dalam kurikulum sekolah disesuaikan dengan karakteristik ancaman
sekolah.
Pendidikan kepada anak tidak hanya melalui kurikulum yang formal dan
membosankan tetapi dapat juga melalui pembelajaran-pembelajaran yang
menarik. Pendidikan menjadi salah satu strategi yang paling efektif untuk
diseminasi pengurangan risiko bencana dan budaya hidup PRB
3) Pengkinian
Sekolah Siaga Bencana di SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
dibentuk pada tahun 2015. Berdasarkan kebijakan dan strategi yang telah
dirumuskan pada saat pembentukan SSB, sekolah telah mengidentifikasi
beberapa sektor berbagai bagian dari Tim Siaga Bencana SMP dengan struktur
yang tertera pada gambar 5.15.
Gambar 5.15 Struktur Tim Siaga Bencana
84
Sumber : Rencana Kontijensi SMP N 1 Cangkringan
Tim Siaga bencana yang telah dibentuk disesuaikan dengan fungsi dan
kebutuhan pada saat tanggap darurat. Tim tersebut terdiri dari murid,
guru/staff, masyarakat, serta komite sekolah.
Dalam sosialisasi SSB tahun 2015 tersebut, disepakati bahwa koordinator
tim merupakan guru dan anggota tiap tim merupakan murid maupun
masyarakat. Sampai tahun 2020 ini, Tim siaga bencana di SMP seharusnya
selalu di perbarui sesuai dengan kondisi sekolah saat ini. Tidak hanya tim siaga
saja tetapi prosedur tetap maupun SOP dalam tanggap darurat maupun
kesiapsiagaan dalam rencana kontijensi dapat ditinjau secara berkala.
4) Pihak Swasta belum membantu untuk PRB
Sekolah Siaga Bencana yang bertujuan untuk membudayakan
pengurangan risiko bencana pada anak didik merupakan program jangka
panjang yang membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Program ini
seharusnya juga dapat didukung oleh berbagai pihak seperti LSM, Pemerintah
desa maupun Swasta. Saat ini swasta hanya bekerja sama untuk penyaluran
pekerjaan saja.
“Ini kerjasama dalam arti luas ya mas, dengan koramil pernah.
Polsek, Rindam untuk pendidikan diksar limbut, tahun 2015.
Jadi pendidikan karakter kami kesana. Kasus swasta untuk
ranah penyaluran kerja. Ya pak hari ketuanya, dengan
perusahaan. Jadi tidak mencari sendiri tapi disalurkan. Jadi
seperti torabika, pertanian Cianjur, dll”
85
“Sebagai lambang BPBD Kabupaten Sleman, segitiga yang
berarti pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Selama ini
belum banyak dunia usaha yang membantu dalam pengurangan
risiko bencana” (wawancara dengan Pak Henry BPBD
Kabupaten Sleman)
Hal serupa didukung oleh Pa Henry selaku Kabid PK (Kepala Bidang
Pencegahan dan Kesiapsiagaan di BPBD Sleman) bahwa pentingnya
bekerjasama dengan pihak swasta supaya program sekolah siaga bencana di
sekolah ini dapat berkelanjutan.
5) Monitoring dan evaluasi berkala
Monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan melihat progress capaian
dari suatu kegiatan dengan tujuan informasi yang diperoleh dari hasil
pengamatan tersebut dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan
tindakan selanjutnya yang diperlukan serta melihat kendala – kendala dalam
pencapaian program tersebut. Begitu juga dengan program Sekolah Siaga
Bencana, program ini seharusnya dapat dimonitoring secara berkala seperti
yang disampaikan oleh lembaga pendamping LSM Lingkar.
“Beberapa kendala dalam implementasi SPAB yaitu waktu
pelaksanaan yang singkat, berkelanjutan SPAB yang telah
dibentuk oleh BPBD Kabupaten Sleman, belum ada monitoring
dan evaluasi setelah dibentuk, dan perwakilan yang ikut SPAB
belum tentu bisa diseminasi pada semua warga sekolah”
(wawancara dengan Rahmat LSM Lingkar, 16 Nopember 2020)
Pemerintah dalam hal ini BPBD Kabupaten Sleman memang belum
memiliki sistim monitoring secara berkala. Namun, sebenarnya monitoring
dapat dilakukan secacara mandiri maupun dari masyarakt. Beberapa baseline
sebagaimana yang terdapat pada Perka BNPB Nomor 4 Tahun 2012 juga dapat
digunakan sebagai monitoring SSB secara mandiri.
5.3 Tingkat Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta
86
SMPN 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta mengalami dampak yang
sangat signifikan saat terkena Erupsi Merapi 2010. Sarana parsarana seperti kelas,
kursi, meja maupun perikanan yang dijadikan ikon sekolah mati semua dikarena
panasnya abu merapi yang sangat panas. Kondisi ini menyebabkan di SMP
sampai tersendat dan diharuskan untuk pindah sementara waktu di SMPN 3
Depok. Pembelajaran yang kurang maksimal tersebut berjalan kurang lebih 3
bulan di tahun 2010. Di tahun 2010 justru merupakan titik balik perkembangan
SMP bukan untuk semakin pesimis tetapi mempunyai pandangan sekolah baru.
Gambar 5.16 Momental Terjadinya Resilensi
Proses daya lenting (resilensi) terjadi di SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta berdasarkan perubahan sikap dan pola pikir warga sekolah SMP
melalui beberapa tahapan. Daya lenting yang dimaksud disini adalah bagaimana
sekolah dapat tangguh kembali setelah mengalami dampak dari bencana yang
sangat signifikan. Dalam gambar 5.16, terlihat bahwa SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta mengalami 3 proses hingga pada kondisi saat ini.
Pada tahun 2012, SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
dipindahkan ke lokasi yang aman. Kesempatan itulah kemudian para perangkat
guru bersama -sama membuat satu kerangka sekolah yang mereka inginkan.
Perubahan tersebut meliputi kurikulum yang berbeda, cara pembelajaran yang
87