The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Membangun budaya siaga bencana dan budaya aman di sekolah dengan mengembangkan jejaring bersama para pemangku kepentingan di bidang penanganan bencana

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ruswan.bks, 2021-03-25 07:44:40

Buku Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana Dalam Menghadapi Erupsi Merapi

Membangun budaya siaga bencana dan budaya aman di sekolah dengan mengembangkan jejaring bersama para pemangku kepentingan di bidang penanganan bencana

Keywords: SSB,Kesiapsiagaan,Rencana Kontijensi,Pengurangan Risiko Bencana

berbeda, kelima organisasi yang dibentuk, pendanaan dari swasta maupun dari
pemerintah. Namun, hal tersebut belum mengubah ketakutan warga sekolah
terhadap ancaman Erupsi Merapi, mereka masih memiliki traumatis sekalipun
sudah berada di lokasi yang cukup aman.

Pada Tahun 2015, BPBD Kabupaten Sleman membentuk SMP N 1
Cangkringan Sleman Yogyakarta sebagai Sekolah Siaga Bencana. Dalam
Pembentukan tersebut, BPBD Kabupaten Sleman melakukan kajian risiko,
pembuatan rencana kontijensi, prosedur tetap, tim siaga, pembuatan SOP, dan
rencana aksi sekolah. Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, warga sekolah
menyadari tingkat kemanan dari sekolah mereka sehingga traumatis yang mereka
rasakan sedikit demi sedikit memudar.

“Tingkat kepanikan warga sekolah turun bila ada informasi
bencana. Mereka cenderung menunggu informasi dari sekolah
terlebih dahulu sebelum bereaksi” (wawancara dengan Ibu Rini
BPBD Kab Sleman, 17 Nopember 2020)
Gambar 5.17 Peresmian SSB SMPN 1 Cangkringan oleh Bupati Sleman

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2020
Pada kondisi saat ini, PRB sudah menjadi budaya bahkan banyak
diantara murid-murid SMP N 1 Cangkirngan Sleman Yogyakarta sudah

88

memaparkan mengenai PRB ini kepada keluarganya. Warga sekolah SMP sudah
mulai siap menghadapi Erupsi Merapi. Hal ini disebabkan keluarga sangat
mendukung budaya PRB yang telah diterapkan.

“Keluraga saya sudah tahu kakak kalau ada Erupsi Merapi,
langsung ketemu di daerah selatan saja. Saya nggak perlu
pulang kerumah dulu” (wawancara dengan Rahmat, 16
Nopember 2020)

Gambar 5.18 Tas Siaga Bencana
Sumber : Dokumentasi BNPB
Ketika terjadi Merapi misalnya, murid yang rumahnya di utara tidak akan
pulang dulu kerumahnya tetapi akan ikut proses evakuasi dari sekolah menuju ke
Selatan. Para orang tua sudah tidak akan panik untuk keselamatan anaknya karena
sudah menjadi tanggung jawab dari sekolah. Keluarga juga mendapatkan
pengetahuan mengenai tas siaga dari beberapa murid. Tas siaga yang berguna

89

untuk dibawa sewaktu-waktu jika terjadi Erupsi Merapi. Gambar 5.18 merupakam
gambaran isi dari tas siaga yang berupa sertifikat-sertifikat atau kartu-kartu
penting seperti ijazah, kartu keluarga, dll, lalu obat-obatan, makanan kecil, air
putih, senter, beberapa pakaian, dan dompet berisikan uang. Para murid juga
memberikan nomor dari teman maupun guru mereka kepada para orang tua
supaya saat mereka dievakuasi dan susah dihubungin, orang tua dapat langsung
menghubungi guru yang bersangkutan. Pengetahuan ini sangat penting bagi para
orang tua terkhusus dari murid yang tinggal di daerah utara supaya saat terjadi
Erupsi Merapi, mereka tidak panik mencari anaknya tetapi dapat mengikuti
kesepakatan yang telah dibangun bersama.
5.4 Tingkat Kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan

Sleman Yogyakarta 2020
Berdasarkan uraian mengenai kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana

SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta pada bab 5.4 maka dapat terlihat
bahwa tingkat kesiapsiagaan masih di level sedang. Hasil dari analisis tingkat
kesiapsiagaan dapat dilihat pada tabel 5.4.

Dalam tingkatan kesiapsiagaan yang dimiliki oleh SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta belum dapat dikatakan tinggi dikarenakan masih ada beberapa
hal yang menjadi gap dalam pelaksanaan Sekolah Siaga Bencana seperti belum
adanya integrasi dengan kurikulum, belum tersedianya dokumen penilaian risiko
bencana dan belum adanya rencana aksi yang direview secara berkala (rencana
kontijensi sekolah). Monitoring dan evaluasi menjadi nilai penting untuk melihat
keberlanjutan dari Sekolah Siaga Bencana.

90

Tabel 5.4 Analisis Tingkat Kesiapsiagaan

No Indikator Tercapai Belum
Tercapai
STRUKTURAL Ya
Ya -
1 Lokasi Aman Ya -
-
2 Penataan ruang kelas yang aman Ya
- -
3 Dukungan sarana prasarana yang aman dan Ya
Ya Belum
PRB Ya -

NON STRUKTURAL - -
Ya -
1 Kebijakan Sekolah
- Belum
 Pengetahuan mengenai bahaya, - -
Ya
kerentanan, dsb - Belum
Ya
 Integrasi PRB pada kurikulum - Belum
Ya -
 Keterampilan menjalan rencana tanggap Belum
Ya -
darurat Belum
Ya -
 Sosialisasi kebencanaan Ya
-
 Pelatihan kebencanaan yang
-
diselenggarakan di sekolah
-
2 Sikap dan Tindakan

 Dokumen PRB

 Akses bagi komunitas sekolah terhadap

informasi

3 Perencanaan Kesiapsiagaan

 Tersedianya dokumen penilaian risiko

bencana

 Rencana aksi sekolah yang direview

 Tersedianya peringatan dini

 Peta Evakuasi

 Rambu Evakuasi

 Titik Kumpul tidak terpasang

 Kesepakatan dan ketersediaan lokasi

evakuasi

4 Mobilisasi sumberdaya

 Perlengkapan dan suplai kebutuhan dasar

pasca bencana yang dapat diakses warga

sekolah

 Jumlah peserta didik yang terlibat dalam

kegiatan kebencanaan

 Kerjasama antara sekolah dengan BPBD,

Dinas Pendidikan, Desa dan LSM

Sumber : Olahan Peneliti, 2020

91

92

BAB VI
KESIMPULAN & REKOMENDASI

6.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pada rumusan masalah dan hasil penelitian yang telah

dideskripsikan oleh peneliti pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:

Implementasi kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana dalam menghadapi
Erupsi Merapi terbagi menjadi dua hal yaitu kesiapsiagaan secara struktural dan
non struktural. Dalam kesiapsiagaan secara a). Struktural, Sekolah Siaga Bencana
SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta sudah berada di lokasi yang aman.
Ancaman erupsi tetap ada lokasi SMP yang sekarang berada di Zona aman lebih
dari 15 km dari puncak Merapi. Penantaan ruang kelas yang tidak teralalu banyak
ornamen, dan dukungan sarana prasarana sudah sesuai dengan SNI yang
berperspektif PRB (Pengurangan Risiko Bencana), b) Non Struktural terbagi
menjadi 4 indikator. Indikator pertama yaitu implementasi kesiapsiagaan Sekolah
Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta berdasarkan sikap dan
tindakan adalah melalui pengetahuan warga sekolah mengenai ancaman, sejarah
maupun pengalaman dalam menghadapi Erupsi Merapi. Sekolah memang belum
memasukkan kebencanaan ke dalam kurikulum dan RPP tetapi secara tidak
langsung masuk ke dalam pelajaran adaptif. Sekolah Siaga Bencana ini juga sudah
pernah melakukan simulasi tetapi belum secara rutin. Implementasi Indikator
kedua yaitu berdasarkan kebijakan sekolah SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta telah memilki dokumen PRB di sekolah, nanum belum menjadi satu
acuan serta belum pernah dilakukan review berkala. Warga sekolah mendapatkan
akses terhadap inforimasi tentang kebencanaan dengan mudah, yaitu melalui
internet, buku dan informasi dari warga sekitar. Indikator ketiga yaitu berdasarkan
perencanaan kesiapsiagaan meliputi telah adanya rencana aksi dengan kekurangan
belum pernah direview serta tidak ada dokumen penilaian sekolah. Namun,
kesiapsiagaan lain diperlihatkan melalui tersedianya sistim peringatan dini yang
terpadu, rambu jalur evakuasi yang telah terpasang di seluruh sekolah, prosedur

93

tetap yang telah direview melalui simulasi serta kesepakatan dengan desa maupun
BPBD mengenai lokasi evakuasi yang aman pada saat terjadi Erupsi Merapi.
Impelementasi kesiapsiagaan Sekolah Siaga Bencana SMP N 1 Cangkringan
Sleman Yogyakarta yang terakhir yaitu berdasarkan mobilisasi sumberdaya
adalah tersedianya perlengkapan dan suplai kebutuhan yang dapat diakses warga
sekolah melalui organisasi yang ada. Kerjasama dengan pihak lain juga dilakukan
oleh Siaga Bencana ini seperti dengan BPBD, LSM dalam hal ini LSM Lingkar
dan pemerintah desa.

6.2 REKOMENDASI
Berdasarkan analisis data hasil penelitian, peneliti memberikan beberapa

rekomendasi yang dapat dijadikan pertimbangan bagi semua pihak terkait, yakni
sebagai berikut:
a) Mengintegrasikan materi mengenai penanggulangan bencana dengan

kurikulum yang kemudian menjadi bahan RPP dan di semua mata pelajaran
baik normatif, adaptif maupun produktif.
b) Sekolah harus meningkatkan kesadaran dan kepeduliannya terhadap
pengurangan risiko bencana dan bergabung ke dalam wadah berupa
organisasi di sekolah.
c) Sosialisasi dan simulasi yang dilakukan setiap tahun pada saat MOS maupun
pada Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional.
d) Adanya bantuan anggaran khususnya untuk penanggulangan bencana dari
berbagai pihak sangat dibutuhkan oleh SMP N 1 Cangkringan Sleman
Yogyakarta (BAPPEDA, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, BPBD dan
BNPB). Pihak Swasta yang selama ini menjadi jembatan untuk dapat
menempatkan pekerjaan maupun praktek sangat memungkinkan untuk
membantu dalam kesiapsiagaan maupun penanggulangan bencana
e) Peningkatan Integrasi antara BPBD, BPPTKG, Pemerintah desa dalam
penanggulangan bencana disekolah. Monitoring dan Evaluasi perlu
dilaksanakan secara berkala diharapkan sekolah juga memiliki dokumen
penilaian sehingga dapat melakukan penilaian ketangguhan terhadap sekolah

94

secara mandiri. Monitoring dan evaluasi juga dapat dilakukan oleh BNPB
(Badan Nasional Penanggulangan Bencana) maupun Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan. Melalui program Sekolah Siaga Bencana yang berada di
Kawasan Rawan Bencana.
f) Rencana Kontijensi yang dimiliki SMP N 1 Cangkringan Sleman Yogyakarta
harus segera di revisi karena sudah lama diperuntukan dari tahun 2015.
g) Kepala Sekolah dan Aktivitas akademisi (guru dan siswa) belum berwawasan
PRB sehingga perlu dilakukan Pendidikan dan Pelatihan Kebencanaan
kembali melalui BPBD Kabupaten Sleman atau Pusdiklat BNPB.
h) Permendiknas 24/2007 seharusnya menjadi Pegangan Hukum atau Dasar
Hukum yang terkait pentingnya fasilitas dan aksebilitas yang mudah, aman
dan nyaman bagi penyandang Disabilitas.
i) Alat Pemadam Kebakaran (Apar) penting bagi lingkungan sekolah, dan
pemasangan harus di dinding yang terlihat oleh manusia dalam memberikan
respon cepat penanganan kebencanaan.
j) Alat Komunikasi (ALKOM) penting bagi penjaga sekolah untuk koordinasi
terkait perkembangan merapi dan sebagai koordinasi pemangku kebijakan
sekolah.
k) Dalam Pos Penjagaan belum terpasang suatu informasi nomor – nomor
penting dalam Penanganan Bencana yang siap dalam 1x 24 Jam.
l) Peta Evakuasi dan Rambu Titik Kumpul harus terpasang untuk mengetahui
siswa dalam lingkup sekolah siaga bencana.

95

DAFTAR PUSTAKA

20401070. (n.d.). siap-sekolah.com/sekolah-profil.
Adiyanti, M. G., & Sofia A. (2013). Hubungan Pola Asuh Otoriatif Orang Tua

Dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Kecerdasan Moral.
Amal., I., & Armawi, A.,. (1996). Sumbangan Ilmu Sosial Terhadap Ketahanan

Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
bappeda.slemankab.go.id/category/produk-bappeda/rpjmd. (2020). RPJMD

Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman: 2020.
bappeda.slemankab.go.id/wp-content/upload/2017/04/02b_Administrasi_color-

kecamatan.pdf. (2017). Administrasi_color-kecamatan.pdf. kabupaten
sleman: bappeda.sleman.kab.
bappeda.slemankab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/08_Kepadatan-
Penduduk.pdf. (2017). Kepadatan-Penduduk. kabupaten sleman:
bappeda.slemankab.
bnpb. (2010). Buku Pembelajaran Sekolah Aman Bencana. Jakarta: bnpb.
bnpb. (2015). Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015 -
2030. Jakarta: bnpb.
bnpb.go.id. (2011). upload/migartion/pubs/448.pdf.
bnpb.go.id. (2020). cloud/dibi/beranda.
bnpb.go.id. (2020). Jaringan Dokumentasi & Informasi Hukum Badan Nasional
Penanggulangan Bencana.
bpbd.slemankab.go.id. (2014). wakil-bupati-resmikan-sekolah-siaga-bencana.
bps.go.id. (2020). Jumlah Penduduk Indonesia.
Cangkringankec.slemankab.go.id. (2020). Pemerintahan Kabupaten Sleman
Kapanewon Cangkringan. Kabupaten Sleman DI Yogyakarta:
Cangkringan.
Center, P. A. (2002). Disaster & Emergencies : Defintions on Training Packages
Presentation of EHA Program (WHO).
cfe-dmha.org. (2015). The Center for Excellence in Disaster Management &
Humanitarian Assistence (CFE-DM).
Creswell, J. W. (2010). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan
Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Creswell, J. W. (2010). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan
Mixed (Edisi ke-3) Hlm 267. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Efendi, Ferry & Makhfudi. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: teori dan
praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data, Hlm 65. Jakarta:
Raja Grafindo.
Enarson, E., & Chakrabarti, P. D. (2009). Women, gender and disaster: global
issues and initatives. SAGE Publication India.

96

https://slemankab.bps.go.id/publication.html?Publikasi%5BtahunJudul%5D=&Pu
blikasi%5BkataKunci%5D=cangkringan&Publikasi%5BcekJudul%5D=0
&yt0=Tampilkan. (2020). Kecamatan Cangkringan Dalam Angka 2020.
Kabupaten Sleman: bpskab.sleman.

IDEP. (2007). Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat,
Edisi Ke -2 . Bali: Yayasan IDEP.

kemhan.go.id. (2017). Nasionalisme dan Bela Negara Dalam Perspektif
Ketahanan Nasional.

Kepmendikbud. (2017). Kepmendikbud 40/P/2017 yang diperbaharui dengan
nomor 110/P/2017 tentang Sekretaris Nasional Satuan Pendidikan Aman
Bencana . Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kollek, Daniel. (2013). Disaster preparedness for health care facilities. USA:
PMPH.

Konsarium Pendidikan Bencana. (2011). Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana.
Jakarta: Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia.

LIPI. (2011). Panduan Monitoring dan Evaluasi Sekolah Siaga Bencana. Jakarta:
Pusat Penelitian Osenografi LIPI.

LIPI. (2013). Panduan Penerapan Sekolah Siaga Bencana. Bandung: Pusat
Penelitian Geoteknologi LIPI.

LIPI UNESCO/ISDR. (2006). Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam
Mengantisipasi Bencana, Gempa dan Tsunami. Jakarta: Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Mohammad, M. (2017). Panduan menulis tugas laporan penelitian kualitatif.
Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Moleong, L. J. (2006). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Monks, F. K. (1994). Psikologi perkembangan (Pengantar dalam berbagai
bagiannya). Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Mulyadi., T dkk. (2009). Cerita dari Maumere Membangun Sekolah Siaga
Bencana. Jakarta: LIPI.

Muttarak, R., & Lutz, W. (2014). Is education a key to reducing vulnerability to
natural disaster and hence unavoidable climate cange ? Emizer, 19 (1), 1-
8.

Newhall, C.G., Bronton, S., Alloway B., Banks, N.G Bahar., I., Del Marmol, M.,
A., & Rubin, M. (2000). (2000). 10,000 Years of Explosive erupstions of
Merapi Volcano, Central Java : archaeological and modern implications.
Journal of Volcanology and Geothermal Research, 100 (1-4), 9-50.

Niekerk & Dewald. (2006). Disaster Risk Reduction, Disaster Risk Management
and Disaster Management : Academic Rhetoric or Reality . Disaster
Management : Southren Africa. , 3.

Nurjanah, dkk. (2012). Manajemen Bencana. Jakarta: Alfabeta, CV.

97

peraturan.bpk.go.id/Home/Details/15043/perda-sleman-no-7-tahun-2013. (2013).
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan
Bencana. Jakarta: JDIH BPK RI Data Base Peraturan.

Perry, RW and MK Lindell. (2008). Volcanic Risk Perception and Adjustement in
Multi Hazard Environment. Journal of Volacanology and Geothermal
Research, 172, 170- 178.

Priyatin, Alien Dan N. Ilham, 2011, Dampak Erupsi Gunung Merapi Terhadap
Kerugian Ekonomi Pada Usaha Peternakan. (2011). Dampak Erupsi
Gunung Merapi Terhadap Kerugian Ekonomi Pada Usaha Peternakan.
Makalah : Wartazoa , Vol.21 No. 4 Th 2011.

pusdiklatbnpb. (2011). Indonesia berada di daerah rawan bencana dan jenis-jenis
bencana yang lengkap. Retrieved from wordpress.com.

Sakurai, A. &, Sato, T. (2016). Promoting Education for Disaster Resilience and
the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction. In J. D. Res, Vol. 11,
No.3 (pp. 402-412).

Sakurai, A., & Sato, T. (2016). Promoting Education for Disaster Resilience and
the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction. J. Disaster Res, Vo.
11 No. 3, pp. 402 - 412.

Septikasari, Z., & Hisbaron. D. R. (2014). Studi Komparasi Kesiapsiagaan
Sekolah Siaga Bencana di Kabupaten Sleman. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada.

slemankab.bps.go.id. (2018). statictable/2019/07/09/517/jumlah-penduduk-
menurut-golongan-umur-dan-jenis-kelamin-di-kabupaten-sleman.

slemankab.bps.go.id/publication.html. (2020). Kecamatan Cangkringan Dalam
Angka 2020. Kabupaten Sleman: bps.kab sleman.

slemankab.bpsd.go.id/publication/2020/09/28/a0Se1d25b33c9a0260786845/keca
matan-sleman-angka-2020.html. (2020). kecamatan-sleman-dalam-angka-
2020.html. Kabupaten Sleman DI Yogyakarta: Badan Pusat Statistik
Kabupaten Sleman.

slemankab.go.id/profil-kabupaten-sleman/geografi/letak-dan-luas-wilayah.
(2020). geografi/letak-dan-luas-wilayah. kabupaten sleman: slemankab.

Soetjiningsih. (2010). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta:
Sagung Seto.

Sugiyono, M. (2007). Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.

Undang - Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.
(2007). Penanggulangan Bencana. Indonesia: BNPB.

UNDP, UNDRO. (1992). Tinjauan Umum Manajemen Bencana, Program
Pelatihan Manajemen Bencana,Ed.2. Jakarta: UNDP.

unisdr.org. (2019). file/1217_HFAbrochureEnglish.pdf.
u-tokyo.ac.jp. (n.d.). adm/iblound/en/life-safety-dp.

98

99


Click to View FlipBook Version