The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pedoman Penyusunan Perencanaan Kontingensi 5.0 dapat menjadikan penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi sebagai suatu gerakan, dan tersusunya Dokumen Rencana Kontingensi dapat memberikan rasa aman kepada Pemerintah Daerah, Lembaga dan Organisasi Serta Masyarakat

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ruswan.bks, 2022-01-03 06:15:16

Pedoman Penyusunan Perencanaan Kontingensi 5.0

Pedoman Penyusunan Perencanaan Kontingensi 5.0 dapat menjadikan penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi sebagai suatu gerakan, dan tersusunya Dokumen Rencana Kontingensi dapat memberikan rasa aman kepada Pemerintah Daerah, Lembaga dan Organisasi Serta Masyarakat

Keywords: Pendahuluan,Konsep Perencanaan Kontingensi,Tatalaksana Perencanaan Kontingensi,Tahapan dan Proses Perencanaan Kontingensi,Struktur dan Isi Dokumen Rencana Kontingensi

Pedoman Perencanaan Kontingensi
Versi 5.0

Desember 2021

Direktorat Kesiapsiagaan
Kedeputian Bidang Pencegahan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Kata Pengantar

2

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

PEDOMAN PERENCANAN KONTINGENSI
Versi 5.0

PENGARAH
Prasinta Dewi - Deputi Bidang Pencegahan - BNPB

PENANGGUNGJAWAB
Pangarso Suryotomo - Direktur Kesiapsiagaaan, BNPB

EDITOR
Eko Teguh Paripurno - PSMB UPN “Veteran” Yogyakarta

PENYUSUN Pujiono Centre
Puji Pujiono Pujiono Centre
Sigit Purwanto Yayasan PRB
Sugeng Triutomo LPTP Surakarta
Sumino Lingkar
Yugyasmono BNPB
Dyah Rusmiasih BNPB
Dian Oktiari BNPB
Ardhy Abetriawan MPBI
Catur Sudiro KAPPALA
Gandar Mahojwala Pujiono Centre
Anggoro Budi Prasetyo

KONTRIBUTOR BNPB
Meliawati BNPB
Indah Fitrianasari BNPB
Mochamad Andrian BNPB
Rini Ambarwati BNPB
Gita Tamba O. BNPB
Faiz Damayanti Pujiono Centre
Zela Septikasari Pujiono Centre
Putu Hendra Wijaya Pujiono Centre
Ficky Adi Kurniawan IAMMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Arif Jauhari IAMMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Jimmy Jati IAMMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Wana Kristanto MMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Inggit Fandayati MMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Slamet Haryanto PSMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Wiratama Putra PSMB UPN “Veteran” Yogyakarta
Wahyu Sugeng Triadi

Direktorat Kesiapsiagaan
Kedeputian Bidang Pencegahan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
2021

3

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................................. 2

Daftar Isi ............................................................................................................................ 4

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................................... 5
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................. 5
1.2. Landasan Hukum ......................................................................................................... 7
1.3. Tujuan Pedoman.......................................................................................................... 8
1.4. Sasaran Pedoman ........................................................................................................ 8
1.5. Ruang Lingkup Pedoman ............................................................................................. 8
1.6. Pengertian.................................................................................................................... 8

BAB 2. KONSEP PERENCANAAN KONTINGENSI .............................................................. 10
2.1. Kerangka Konseptual Perencanaan Kontingensi ....................................................... 10
2.2. Fungsi Perencanaan Kontingensi............................................................................... 10
2.3. Perencanaan Kontingensi Dalam Hirarki Perencanaan Penanggulangan Bencana .. 10
2.3. Perencanaan Kontingensi dan Konteks Wabah Penyakit.......................................... 12
2.4. Prinsip Perencanaan Kontingensi .............................................................................. 13

BAB 3. TATALAKSANA PERENCANAAN KONTINGENSI .................................................... 14
3.1. Pemrakarsa ................................................................................................................ 14
3.2. Metode dan Pendekatan ........................................................................................... 14
3.3. Penganggaran ............................................................................................................ 14
3.4. Waktu Perencanaan Kontingensi .............................................................................. 14
3.5. Dasar Perencanaan Kontingensi ................................................................................ 14
3.6. Ambang Batas Kewenangan ...................................................................................... 15
3.7. Penetapan Hasil Perencanaan Kontingensi ............................................................... 15
3.8. Pemutakhiran ............................................................................................................ 15
3.9. Tim Penyusun ............................................................................................................ 15
3.10. Narasumber dan fasilitator........................................................................................ 17

BAB 4. TAHAPAN DAN PROSES PERENCANAAN KONTINGENSI....................................... 18
4.1. Tahap Persiapan ........................................................................................................ 18
4.2. Tahap Pelaksanaan .................................................................................................... 19
4.3. Tahap Finalisasi.......................................................................................................... 25
4.4. Tahap Tindak Lanjut................................................................................................... 25

BAB 5. STRUKTUR DAN ISI DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI..................................... 28
5.1. Struktur Isi Dokumen Rencana Kontingensi .............................................................. 28
5.2. Panduan Penulisan Dokumen Rencana Kontingensi ................................................. 30

BAB 6. PENUTUP............................................................................................................ 80

4

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Perencanaan kontingensi merupakan pemodelan mutakhir respon bencana cepat, tepat,
efektif, efisien, bertanggung gugat1 dalam pelaksanaan mandat perlindungan dan
pengungsian masyarakat terpapar bencana secara terpadu antara pemerintah, perguruan
tinggi, media, dunia usaha, masyarakat. Konstruksi logika dan hukumnya ada pada undang-
undang, peraturan, SNI, pedoman-pedoman dan sistem respon kemanusiaan global.

Alinea ke-4 pembukaan UUD 1945 yang eksplisit menyatakan “melindungi segenap bangsa
Indonesia'' dituangkan pada UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Klausul
relevan terhadap perencanaan kontingensi pada UU tersebut ada di Pasal 33, huruf b;
penyelenggaraan penanggulangan bencana saat tanggap darurat. Pengertian tanggap darurat
dijelaskan pada Pasal 1 Ayat 10 dengan bunyi; “bahwa tanggap darurat bencana adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan
evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan
pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana”. Tanggap darurat
kemudian diatur terperinci dilanjutkan mulai dari Pasal 48 hingga Pasal 59 yang secara garis
besar memberikan arahan tegas penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat
tanggap darurat.

Arahan penyelenggaraan tanggap darurat lebih operasional dijabarkan dalam aturan turunan
yakni Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana. Di dalamnya, Pasal 17 Ayat 1, berbunyi; “rencana penanggulangan kedaruratan
bencana (RPKB) merupakan acuan bagi pelaksanaan penanggulangan bencana dalam keadaan
darurat. Selanjutnya rincian tata laksana penyelenggaraan tanggap darurat diatur pada BAB
III, mulai Pasal 21 sampai dengan Pasal 54, yang terdiri dari tujuh bagian pengaturan sasaran,
teknis, manajerial, dan administratif. Pasal 17 ayat 3, menyatakan bahwa rencana
penanggulangan kedaruratan bencana dapat dilengkapi dengan penyusunan rencana
kontingensi. Tahun 2019, BNPB menerbitkan pedoman Rencana Penanggulangan Kedaruratan
Bencana (RPKB) sebagai rujukan dan panduan bagi pemerintah di berbagai tingkatan, baik
pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, maupun pemerintah daerah kabupaten/kota
dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya situasi
kedaruratan akibat bencana.

1 Tanggung gugat adalah posisi seseorang atau badan hukum yang dipandang harus membayar suatu bentuk
kompensasi atau ganti rugi setelah adanya peristiwa hukum yang menimbulkan kerugian bagi orang atau badan
hukum yang diakibatkan entah oleh perbuatan melawan hukum, pelanggaran norma, atau kegagalan
melaksanakan kewajiban, tidak melaksanakan selayaknya, atau tidak tepat waktu.

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Perencanaan Kontingensi Sebagai Bagian dari Kewajiban Pemerintah Daerah
Demi memastikan perlindungan warga dari bahaya (bencana) maka Kementerian Dalam
Negeri menerbitkan Permendagri Nomor 101 Tahun 2018 Tentang Standar Teknis Pelayanan
Dasar. Permendagri tersebut menegaskan perencanaan kontingensi sebagai kewajiban dalam
standar pelayanan minimal sub-urusan bencana daerah kabupaten/kota.

Gambar 1.1. Diagram Standar Pelayanan Minimal (Permendagri 101/2018)

Pelaksanaan Permendagri 101/2018 diatur dan dijelaskan lebih rinci dalam Kepmendagri No
050-3708 Tahun 2020. Permendagri ini menetapkan nomenklatur perencanaan
pembangunan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Di dalamnya tegas menyatakan perencanaan
kontingensi merupakan urusan wajib pemerintah kabupaten/kota dan diakomodir dalam
perencanaan pembangunan dengan kode rekening pembiayaan khusus.
Pada tahun 2019 BNPB bersama BSN menerbitkan Standar Nasional Indonesia Perencanaan
Kontingensi (SNI 8751:2019) sebagai acuan standar minimal perencanaan kontingensi yang
dapat menjadi standar perencanaan kontingensi tingkat kabupaten. Di tahun yang sama BNPB
menerbitkan Pedoman Perencanaan Kontingensi 4.0. Pedoman tersebut bersifat lebih
operasional sebagai turunan SNI tersebut.
Pedoman perencanaan kontingensi 5.0 merupakan pembaharuan pedoman yang ada dengan
mempertimbangkan perkembangan situasi mutakhir, terutama:

 Peningkatan kompleksitas karakteristik bahaya dan penanganan kedaruratannya.
 Peningkatan risiko akibat pandemi dan atau endemi.
 Perkembangan pola pengendalian penanggulangan kedaruratan bencana.

6

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

1.2. LANDASAN HUKUM

Penyusunan Pedoman Perencanaan Kontingensi ini dibuat berdasarkan landasan idiil
Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan landasan konstitusional,
yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Sedangkan landasan operasional hukum dan standar yang
dirujuk dalam pedoman ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
5. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan
6. Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan

Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease
2019 (Covid-19) dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan
Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan
7. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit
Menular
8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan
Bantuan Bencana;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Lembaga Asing dalam
Penanggulangan Bencana
12. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas Terhadap
Permukiman, Pelayanan Publik, dan Perlindungan dari Bencana Bagi Penyandang
Disabilitas
14. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar
Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)
15. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Penanggulangan
Bencana 2020-2044;
16. Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan
Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 101 Tahun 2018 Standard Pelayanan Minimum
Sub Urusan Penanggulangan Bencana.
18. SNI 7937:2013 tentang Layanan Kemanusiaan dalam Bencana
19. SNI 8751:2019 tentang Perencanaan Kontingensi

7

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

1.3. TUJUAN PEDOMAN

Memberikan pegangan atau panduan dalam melakukan perencanaan kontingensi yang
menyeluruh, terarah dan terpadu di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota atau unit pemerintahan
lainnya (kecamatan/desa), perguruan tinggi, swasta, serta organisasi masyarakat dan
organisasi kemanusiaan dengan penyesuaian pada karakter kelembagaan, mandat dan
lingkup kewenangan masing-masing.

1.4. SASARAN PEDOMAN

Pedoman perencanaan kontingensi dimaksudkan untuk menyasar pemerintah daerah beserta
mitra pemangku dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

1.5. RUANG LINGKUP PEDOMAN

Ruang lingkup pedoman perencanaan kontingensi ini meliputi:
1. Konsep Perencanaan Kontingensi
2. Tatalaksana Perencanaan Kontingensi
3. Tahapan dan Proses Perencanaan Kontingensi
4. Struktur Isi dan Penulisan Dokumen Rencana Kontingensi
5. Rencana tindak lanjut

1.6. PENGERTIAN

1. Perencanaan Kontingensi adalah suatu proses perencanaan penanganan situasi darurat
bencana pada jenis bahaya tertentu, dalam keadaan yang tidak menentu, dengan
skenario dan tujuan disepakati, tindakan teknis dan manajerial ditetapkan, dan sistem
tanggapan dan pengerahan potensi disetujui bersama untuk mencegah, atau
menanggulangi secara lebih baik dalam situasi darurat dan ditetapkan secara formal.

2. Dokumen Rencana Kontingensi adalah suatu dokumen memuat kesepakatan-
kesepakatan tentang sistem tanggapan situasi darurat dalam seluruh proses perencanaan
kontingensi terbagi dalam bab-bab dan lampiran pendukung.

3. Risiko Bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu
wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat merupakan kematian, luka, sakit, jiwa
terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan
gangguan kegiatan masyarakat.

4. Bahaya adalah suatu proses, fenomena atau aktivitas manusia yang dapat menyebabkan
hilangnya nyawa, cedera atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan properti, gangguan
sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.

5. Kapasitas adalah kombinasi semua kekuatan, atribut, dan sumber daya yang tersedia
dalam organisasi, komunitas atau masyarakat untuk mengelola dan mengurangi risiko
bencana dan memperkuat ketahanan.

8

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

6. Kerentanan adalah kondisi yang ditentukan oleh faktor fisik, sosial, ekonomi dan
lingkungan atau proses yang meningkatkan risiko individu, komunitas, aset atau sistem
terhadap dampak bahaya.

7. Kejadian Bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal
kejadian, lokasi, jenis bencana, korban, dan ataupun kerusakan. Jika terjadi kejadian
bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung
sebagai satu kejadian.

8. Skenario Kejadian adalah gambaran kejadian secara jelas dan rinci tentang bencana yang
diperkirakan akan terjadi meliputi lokasi, waktu, durasi dan dampak bencana yang terjadi.

9. Peringatan Dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin
kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh
Lembaga yang berwenang.

10. Keadaan Darurat Bencana adalah suatu keadaan yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan sekelompok orang/masyarakat yang memerlukan tindakan
penanganan segera dan memadai.

11. Status Keadaan Darurat Bencana adalah Keadaan Darurat Bencana yang ditetapkan oleh
Pemerintah atau pemerintah daerah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi
badan yang menyelenggarakan urusan di bidang penanggulangan bencana dimulai sejak
status siaga darurat, tanggap darurat dan transisi darurat ke pemulihan.

12. Status Siaga Darurat adalah keadaan ketika potensi ancaman bencana sudah mengarah
pada terjadinya bencana yang ditandai dengan adanya informasi peningkatan ancaman
berdasarkan sistem peringatan dini yang diberlakukan dan pertimbangan dampak yang
akan terjadi di masyarakat.

13. Status Tanggap Darurat adalah keadaan ketika ancaman bencana terjadi dan telah
mengganggu kehidupan dan penghidupan sekelompok orang/masyarakat.

14. Status Transisi Darurat ke Pemulihan adalah keadaan ketika ancaman bencana yang
terjadi cenderung menurun eskalasinya dan/atau telah berakhir, sedangkan gangguan
kehidupan dan penghidupan sekelompok orang/masyarakat masih tetap berlangsung.
Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana adalah satu kesatuan upaya terstruktur
dalam satu komando yang digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan penanganan
darurat secara efektif dan efisien dalam mengendalikan ancaman/penyebab bencana dan
menanggulangi dampak pada saat keadaan darurat bencana.

15. Bidang Operasi adalah kelompok tugas yang melakukan tugas/peran sejenis. Pelaku
dalam bidang operasi terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat dan lembaga usaha.

9

BAB 2. KONSEP PERENCANAAN KONTINGENSI

2.1. KERANGKA KONSEPTUAL PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi merupakan satu dari sekumpulan perencanaan dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana yang dirancang untuk melakukan pengaturan -
pengaturan kesiagaan untuk mempersiapkan segala kemungkinan sehubungan dengan risiko
luar biasa yang berpeluang untuk mengakibatkan bencana, dan dapat mencakup kebijakan,
strategi dan operasi untuk mengurangi potensi dampak bencana.

Perencanaan kontingensi merupakan suatu proses perencanaan penanganan situasi darurat
bencana untuk mencegah dan/atau menanggulangi secara lebih baik situasi darurat. Ini
dilakukan terhadap suatu jenis bahaya tertentu yang menunjukkan tanda, mempunyai
kecenderungan, atau dipandang berpeluang, untuk terjadi. Baik dalam situasi ketika kejadian
sudah dapat ditentukan ataupun belum, dalam perencanaan ini disusun suatu skenario
sebagai dasar perencanaan dan disepakati tujuan, penetapan, tindakan manajemen dan
pengaturan teknis, dan persetujuan tentang sistem tanggapan dan pengerahan potensi yang
disetujui bersama. Kegiatan ini dimaksud untuk dan yang hasilnya ditetapkan secara formal.

2.2. FUNGSI PERENCANAAN KONTINGENSI

a. Perencanaan kontingensi dilakukan untuk membantu mengkoordinasikan lembaga,
organisasi, dan perorangan untuk memberikan respon yang cepat dan efektif.

b. Perencanaan kontingensi memastikan kemampuan sumberdaya yang tersedia dan
menciptakan mekanisme untuk pengambilan keputusan yang cepat yang mampu
mempersingkat respon bencana dan yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa.

c. Perencanaan kontingensi merupakan ikhtiar menyatukan komitmen di antara pihak yang
terlibat untuk bertindak dengan cara yang terkoordinasi sebelum keadaan darurat terjadi.

d. Perencanaan kontingensi mewujudkan rencana konkrit dan berlanjut sampai keadaan
darurat terjadi dan dapat dilanjutkan apabila bahaya tidak lagi mengancam.

e. Perencanaan kontingensi untuk menggerakkan sumberdaya secara efektif saat
penanganan darurat terjadi

2.3. PERENCANAAN KONTINGENSI DALAM HIRARKI PERENCANAAN
PENANGGULANGAN BENCANA

Perencanaan dalam sistem penanggulangan bencana di Indonesia, merupakan salah satu pilar
membangun ketangguhan bangsa terhadap bencana. Peraturan perundang-undangan telah
menyebutkan sejumlah perencanaan di dalam sistem penanggulangan bencana.

Kajian Risiko Bencana (KRB) merupakan dasar penyusunan Rencana Induk Penanggulangan
Bencana (RIPB) dan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB). RPB memuat perencanaan

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

penanggulangan bencana secara strategis yang meliputi tahap pra bencana, tahap
penanganan darurat hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Masing-masing tahapan
tersebut menurunkan perencanaan di lingkupnya masing-masing yakni,

1) Rencana Aksi (Renaksi) PRB untuk tahap pra bencana,
2) RPKB untuk tahap penanganan darurat dan
3) Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk tahap pasca bencana.
Dalam lingkup kesiapsiagaan terdapat berbagai bentuk perencanaan untuk diaplikasikan pada
situasi kedaruratan. Secara hierarkis, strata perencanaan kesiapsiagaan untuk menghadapi
kedaruratan bencana secara terdiri dari RPKB, rencana kontingensi, rencana operasi darurat
bencana dan rencana aksi/tindak harian.

Gambar 2.3. Hierarki Rencana Kedaruratan

a. RPKB, rencana kontingensi dan rencana operasi darurat bencana adalah tiga
perencanaan untuk penanganan kedaruratan bencana. RPKB disusun saat potensi
ancaman dikenali dan memuat garis besar tindakan penanganan kedaruratan bencana
untuk semua jenis ancaman.

b. Rencana kontingensi disusun ketika gejala satu jenis ancaman bereskalasi dan memuat
rincian tindakan penanganan kedaruratannya.

c. Rencana operasi disusun saat darurat bencana terjadi sebagai pedoman pelaksanaan
operasi darurat bencana. Rencana operasi ini didasarkan pada rencana kontingensi
yang telah diperbaharui dengan data karakteristik kedaruratan waktu nyata melalui
prosedur dan mekanisme sesuai peraturan.

d. Rencana Aksi Tindakan Harian
11

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

2.3. PERENCANAAN KONTINGENSI DAN KONTEKS WABAH PENYAKIT

Wabah penyakit perlu diperhatikan karena bila tidak ditangani dengan baik akan berkembang
menjadi endemi dan bahkan pandemi. Pengalaman pandemi Covid-19 telah memberi
pelajaran bahwa potensi wabah penyakit telah meningkatkan risiko dan menjadi jenis bahaya
sekunder atau dampingan. Pedoman ini mengarahkan proses perencanaan kontingensi yang
mempromosikan penanganan wabah penyakit dengan 6 pendekatan baru.

1. Transformasi digital
Perkembangan teknologi informasi memungkinkan proses-proses perencanaan dilakukan
melalui proses atau menggunakan platform digital. Sehingga, proses perencanaan
kontingensi menjadi lebih terbuka, partisipatif, efektif, dan efisien.

2. Situasi wabah penyakit sebagai bahaya sekunder atau dampingan.
Penanganan kedaruratan bencana penting untuk juga memperhatikan situasi
pandemi/endemi/wabah penyakit yang terjadi sebelum ataupun bersamaan. Konsentrasi
massa (masyarakat terdampak/penyintas dan para responder dari berbagai wilayah) di
situasi darurat, berpotensi menimbulkan peningkatan penularan wabah penyakit. Dan
pedoman ini mengarahkan wabah penyakit menjadi satu kesatuan perencanaan
kontingensi.

3. Standar layanan kesehatan
Pengalaman pandemi Covid-19 telah menuntut perubahan mendasar pada standar-
standar layanan kesehatan. Pedoman ini mengarahkan pemenuhan standar layanan
kesehatan dalam penanganan kedaruratan bencana sekaligus penanganan wabah
penyakit.

4. Prosedur tetap (SOP) wabah penyakit
Penerapan standar dan prosedur pencegahan penularan wabah merujuk pada regulasi
dan/atau pedoman Kementerian Kesehatan.

5. Peningkatan fungsi bidang kesehatan
Bidang operasi kesehatan dalam melaksanakan fungsi pelayanan kesehatan pada masa
darurat bencana sekaligus melakukan;
(1) Pengawasan dan penegakan protokol kesehatan untuk memastikan penerapan
standar dan prosedur penanganan dan pencegahan penularan wabah penyakit
(2) Penanganan penyintas, pegiat maupun pekerja kemanusiaan yang terinfeksi wabah
penyakit.

6. Rencana Operasi
Rencana operasi adalah jantung proses bisnis operasi darurat bencana. Untuk itu, rencana
operasi harus merujuk pada ketentuan rencana operasi diatur dalam Perka BNPB Nomor

12

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

24 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Operasi sebagai penjabaran dari Pasal 50 PP
21/2008 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang
Penanggulangan Penyakit Menular atau peraturan sejenis yang terbaru.

2.4. PRINSIP PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi merupakan proses menemukan kesepakatan multipihak mengenai
tindakan teknis dan manajerial, sistem tanggapan dan pengerahan sumberdaya terhadap
suatu skenario kejadian dan dampak sebuah ancaman, dengan prinsip-prinsip:

1. Untuk penanggulangan kedaruratan bencana dan menjadi dasar penyusunan rencana
operasi penanganan darurat bencana.

2. Proses penyusunan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama, inklusif, dan
terbuka.

3. Berlaku untuk satu jenis ancaman bencana dengan memperhitungkan pemicu beserta
kemungkinan bencana turunan yang akan terjadi (collateral).

4. Pembagian peran dan tugas setiap pemangku kepentingan disepakati berdasarkan
bidang tugas sesuai kompetensi dan mandat masing-masing dan diorganisasikan
dalam Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana.

5. Pengerahan sumberdaya bertumpu pada sumberdaya yang tersedia/pengerahan
sumberdaya lokal

6. Disusun berdasarkan skenario, asumsi, dan tujuan yang disepakati bersama
7. Selalu dimutakhirkan atau dikaji ulang secara periodik berdasarkan perubahan

komponen risiko, yaitu ancaman, kerentanan, dan kapasitas.
8. Menjadi mandat bersama pemangku kepentingan dan bertanggung-gugat pada para

pemangku kepentingan.

13

BAB 3. TATALAKSANA PERENCANAAN KONTINGENSI

3.1. PEMRAKARSA

Selain pemerintah sebagai pemangku mandat penanggulangan bencana, lembaga/organisasi
non pemerintah juga dapat memprakarsai atau mendukung penyusunan perencanaan
kontingensi. Pelaksanaan perencanaannya dikoordinasikan oleh BPBD
(Kabupaten/Kota/Provinsi). Namun jika daerah belum memiliki BPBD, maka koordinasi
dilakukan oleh Bappeda atau OPD yang memiliki tugas dan fungsi bidang penanggulangan
bencana. Dalam penyusunan dengan bersumber pada APBN atau APBD, perencanaan
kontingensi dapat disusun melalui mekanisme swakelola atau kontraktual.

3.2. METODE DAN PENDEKATAN

Perencanaan kontingensi dilaksanakan dengan rangkaian kegiatan pertemuan atau rapat
untuk koordinasi, asistensi, audiensi, pengkajian data, review, diskusi publik, konsultasi publik,
dan legalisasi dengan bentuk kegiatan pengumpulan data, pemetaan, survei lapangan,
lokakarya, diskusi kelompok terarah/FGD, dan sebagainya.

Kegiatan-kegiatan tersebut di atas dapat dilaksanakan secara daring, luring (tatap muka)
dengan menerapkan protokol kesehatan ketat atau hybrid (paduan daring-luring).

3.3. PENGANGGARAN

Perencanaan kontingensi dapat menggunakan beberapa sumber pendanaan, antara lain:
 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
 Dukungan dana dari lembaga usaha, lembaga sosial, lembaga donor dan lembaga lain
serta sumber pendanaan lain yang tidak mengikat

3.4. WAKTU PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi sesuai sifatnya dilaksanakan pada tahap pra bencana. Tidak tersedia
acuan baku mengenai durasi waktu ideal proses perencanaan kontingensi. Batasan atau
kerangka waktu proses perencanaan kontingensi berupa tahapan proses yang dibahas pada
BAB IV serta pertimbangan-pertimbangan dasar perencanaan kontingensi pada bagian 3.5.

3.5. DASAR PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi dapat dilaksanakan untuk:
1. Merespon tingkat bahaya yang telah bereskalasi dan diperkirakan keadaan darurat
bencana akan segera terjadi berdasarkan data dan analisis resmi dari lembaga
kredibel;

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

2. Menyusun template dokumen rencana kontingensi yang akan dikembangkan jika
kelak suatu jenis bahaya meningkat atau

3. Memenuhi kebutuhan kompetensi perencanaan kontingensi (pelatihan,
pembekalan atau bimtek)

3.6. AMBANG BATAS KEWENANGAN

Perencanaan kontingensi disusun dengan mempertimbangkan skenario kejadian, intensitas
risiko yang ditimbulkan, dan kemampuan sumberdaya daerah untuk menangani situasi
kedaruratan. Untuk itu, perencanaan kontingensi perlu memastikan bagaimana pembagian
peran, fungsi, dan kewenangan masing-masing pemangku mandatnya. Pemangku mandat
tersebut adalah pemerintah tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten, dan Desa. Fungsi dan peran
perencanaan kontingensi setidaknya dapat dibagi 2 (dua), yaitu pelaksana penanganan dan
pendukung/pendamping penanganan. Dengan telah memastikan peran dan fungsi masing-
masing tingkat pemerintahan diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam penanganan
kedaruratan untuk kejadian yang sama.

3.7. PENETAPAN HASIL PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi menghasilkan dokumen rencana kontingensi yang selanjutnya
ditetapkan sebagai peraturan atau perundangan daerah. Legalisasi ini penting untuk
memastikan kekuatan hukum agar dapat dilaksanakan. Selain itu, hal ini dapat menjadi
perekat dari masing-masing instansi/lembaga dan sekaligus untuk mengetahui tugas dan
fungsi masing-masing pelaku di dalam perencanaan tersebut.

3.8. PEMUTAKHIRAN

Perencanaan kontingensi perlu mendapatkan peninjauan untuk pemutakhiran/pembaruan
secara periodik setidaknya 3 tahun sekali atau dengan mempertimbangkan perubahan faktor-
faktor risiko bencana (bahaya/ancaman, kerentanan, dan kapasitas).

3.9. TIM PENYUSUN

Sebagai koordinator, BPBD dan / atau Bappeda, dapat membentuk Tim Penyusun untuk
mengorganisasikan, memfasilitasi, menyiapkan rancangan dokumen, dan memastikan
substansi dokumen. Struktur Tim Penyusun dapat terdiri dari Tim Teknis, Penulis, dan
Sekretariat.

 Tim Teknis adalah para pemangku kepentingan dan multi sektor yang
bertanggungjawab dan mempunyai mandat dalam melaksanakan penanggulangan
bencana, baik dari unsur-unsur instansi pemerintah, organisasi non pemerintah,
lembaga usaha, media dan masyarakat; yang memiliki kemauan, kemampuan dan

15

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

otoritas dalam pengambilan keputusan untuk mewakili instansi/lembaga/
organisasinya; tanpa diskriminasi, berkeadilan dan kesetaraan gender.

Tim Teknis mewakili instansi/lembaga/organisasi pemilik mandat yang berkaitan
dengan kebencanaan di daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Personil
yang masuk dalam tim ini tidak harus Kepala OPD, Direktur, atau pejabat pada instansi
tersebut, tapi dapat diisi oleh personil yang memiliki pemahaman substansi dan dapat
memberikan informasi. Adapun kriteria Tim Teknis meliputi:

1. Perwakilan resmi lembaga/instansi pemilik mandat dibuktikan dengan surat
tugas atau bukti syah sejenisnya.

2. Berkomitmen terlibat secara penuh dalam setiap kegiatan di seluruh tahapan
perencanaan.

3. Memiliki kewenangan pengambilan keputusan mobilisasi sumberdaya di
lembaga/instansinya

4. Proses perencanaan di setiap tahapan dengan perspektif kuat dan
mempertimbangkan kesetaraan gender, keterlibatan kelompok
berkebutuhan khusus, serta kelompok rentan.

Tim Teknis memiliki tugas:
 Memberikan data dan informasi secara substansi untuk RPB
 Mengawal proses penyusunan rencana kontingensi dan bertanggung jawab
terhadap kualitas rencana kontingensi
 Menyelaraskan arah kebijakan dan sebagai quality control.
 Memastikan pengarusutamaan kesetaraan gender, disabilitas, dan kelompok
rentan lainnya dalam perencanaan kontingensi
 Menindaklanjuti dokumen rencana kontingensi dalam pengarusutamaan pada
pelaku dan dokumen perencanaan lainnya

 Penulis adalah seseorang atau beberapa orang yang bertanggung jawab untuk menulis
naskah dokumen rencana kontingensi berdasarkan bahan-bahan yang dihasilkan dari
tiap-tiap tahapan. Penulis ini dapat terpisah atau merupakan bagian dari Tim Penyusun
atau dapat merekrut dari pihak di luar OPD.
Penulis memiliki tugas:
 Menuliskan dokumen rencana kontingensi sesuai dengan format yang telah
ditentukan dalam pedoman penyusunan rencana kontingensi
 Melakukan studi literatur dan turut serta dalam pengumpulan data
 Menjadi notulen dan merumuskan hasil dari tiap-tiap tahapan teknis yang
dilaksanakan.

 Sekretariat adalah seseorang atau beberapa orang yang bertanggung jawab
mengkoordinasikan teknis penyelenggaraan kegiatan perencanaan kontingensi.
Sekretariat ini dapat dibentuk dari unsur BPBD atau instansi lain (misalnya Bappeda)

16

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

jika di daerah belum ada BPBD atau kondisi lain yang menyebabkan BPBD tidak mampu
menjadi pelaksana.
Sekretariat memiliki tugas:

 Menyusun timeline tiap tahapan penyusunan rencana kontingensi
 Mengidentifikasi pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam proses penyusunan

rencana kontingensi
 Mempersiapkan penyelenggaraan secara teknis untuk tiap tahapan

penyusunan rencana kontingensi
 Melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan administrasi kegiatan

3.10. NARASUMBER DAN FASILITATOR

Narasumber adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan kompetensi di bidangnya
untuk menyampaikan materi, arahan, dan masukan khususnya dalam penentuan kejadian
bencana, penilaian risiko, dan pengembangan skenario, serta dampak bencana, agar skenario
yang disusun dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuan.

Narasumber merupakan perwakilan resmi dari lembaga teknis, akademisi, birokrasi, praktisi
atau gabungan dari keempatnya yang bertanggung gugat mendiseminasikan data analisis
karakteristik bahaya hasil kajian ilmiah yang menjadi subjek perencanaan kontingensi.

Fasilitator adalah seseorang atau beberapa orang yang membantu proses untuk memahami
tujuan bersama dan membantu membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa
mengambil posisi tertentu dalam diskusi.

Fasilitator merupakan pelaksana tugas dan fungsi berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan
ketrampilannya memaparkan materi/topik, mengarahkan diskusi dan tanya jawab,
memberikan tugas kelompok, serta pendampingan pada proses penyusunan rencana
kontingensi sampai dengan selesainya penyusunan detail dokumen rencana kontingensi di
lokakarya.

Kriteria fasilitator yang diperlukan untuk membantu proses perencanaan kontingensi, antara
lain adalah (1) dapat berasal dari praktisi, akademisi, birokrasi berkualifikasi menguasai
konsep dan konteks perencanaan dalam penanggulangan bencana, (2) memahami sistem
respon kemanusiaan nasional-global, (3) menguasai dan mampu mendemonstrasikan
penerapan metode-metode perencanaan partisipatif serta (4) berkomitmen memfasilitasi
proses perencanaan kontingensi hingga tuntas.

Fasilitator memiliki tugas:
 Menyiapkan bahan-bahan untuk fasilitasi
 Menentukan metode fasilitasi yang sesuai dengan tujuan dan kondisi peserta
 Mengarahkan/mengingatkan peserta kembali pada tujuan jika diskusi meluas
ke tema yang berbeda

17

BAB 4. TAHAPAN DAN PROSES PERENCANAAN KONTINGENSI

Perencanaan kontingensi merupakan suatu proses yang terdiri dari rangkain kegiatan
partisipatif yang melibatkan parapihak untuk membangun kesepakatan dan komitmen.
Kegiatan dilaksanakan melalui pertemuan rapat dan lokakarya terdiri dari 4 tahapan, yaitu
Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan, Tahap Finalisasi, dan Tahap Tindak Lanjut. Setiap
tahapan terdiri dari beberapa kegiatan seperti digambarkan dalam diagram berikut ini.

4.1. TAHAP PERSIAPAN

1. Penyusunan Kerangka Acuan Kegiatan
Kerangka kerja penyusunan perencanaan kontingensi meliputi latarbelakang,
maksud dan tujuan, metode, rangkaian rencana dan waktu kegiatan (timeline),
rencana anggaran, serta sumber anggaran.

2. Penentuan Jenis Bahaya
Penentuan jenis bahaya dalam perencanaan kontingensi didasarkan pada kajian
risiko bencana, atau adanya tanda tanda awal akan terjadi bencana; yang
disepakati bersama oleh para pemangku kepentingan

3. Identifikasi dan Pengorganisasian Pelaku
Pelaku penyusunan perencanaan kontingensi terdiri dari Tim Penyusun dan
Narasumber. Tim Penyusun memiliki tugas untuk mengorganisasikan,
memfasilitasi, menyiapkan rancangan, dan memastikan substansi perencanaan
kontingensi. Tim Penyusun terdiri dari Tim Teknis, Penulis, Fasilitator, dan
Sekretariat. Tim Penyusun dapat ditetapkan melalui Surat Keputusan pejabat yang
berwenang.

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Sedangkan Narasumber adalah seseorang yang merupakan perwakilan resmi dari
lembaga teknis, akademisi, birokrasi, praktisi atau gabungan dari keempatnya
yang bertanggung gugat mendiseminasikan data analisis terutama dalam
karakteristik bahaya hasil kajian ilmiah yang menjadi subjek perencanaan
kontingensi.

4. Pengumpulan dan Pengelolaan Data
Kegiatan untuk mengumpulkan, mengorganisasir, dan analisis data/informasi
yang diperlukan untuk seluruh kegiatan penanggulangan kedaruratan bencana.
Data dan informasi tersebut meliputi:
 Gambaran ancaman bencana, mengacu pada dokumen kajian risiko
bencana yang tersedia dan kajian ancaman yang dikeluarkan oleh lembaga
terkait;
 Peraturan dan kebijakan daerah terkait kebencanaan dan penganggaran;
 Standar pemenuhan kebutuhan dasar;
 Prosedur tetap instansi terkait;
 Ketersediaan sumberdaya lembaga/organisasi pelaku penanggulangan
kedaruratan bencana (personel, peralatan, dan logistik);
 Sarana-prasarana vital

4.2. TAHAP PELAKSANAAN

Tahap ini merupakan tahapan substantif penyusunan perencanaan kontingensi yang
dilaksanakan melalui lokakarya partisipatif untuk membangun kesepakatan perencanaan.
Proses lokakarya dipandu oleh Fasilitator secara squence untuk menyepakati:

1. Penentuan Cakupan Kedaruratan
Meliputi cakupan geografis, demografis, dan intensitas kedaruratan yang
dirangkum dalam 3 bagian, yakni karakteristik bahaya/ancaman, skenario
kejadian, dan asumsi dampak bencana.

1) Karakteristik Bahaya
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun persepsi dan pemahaman tentang
gambaran bahaya dan potensi risiko akibat bencana di daerah. Karakteristik
bahaya disusun dengan membangun genesa keterjadian bencana yang meliputi:
meliputi lokasi, waktu, asal/penyebab, durasi, frekuensi, durasi, periode, luasan
terdampak, intensitas, kecepatan kejadian, jarak, proses, serta potensi bahaya
lanjutan atau ikutannya.

19

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

2) Pengembangan Skenario dan Asumsi Dampak
Pengembangan skenario adalah prakiraan kejadian yang mungkin timbul akibat
suatu bencana yang melanda. Skenario disusun berdasarkan data/kajian ilmiah
dengan memperhatikan masukan dari Narasumber atau Pakar yang kompeten
atau berasal dari instansi berwenang/memiliki otoritas di bidangnya untuk
memberikan perspektif, pertimbangan, dan arahan tentang bahaya dan
faktor/elemen risiko bencana di daerah/kawasan. Selain itu, skenario dapat
merujuk atau mempertimbangkan sejarah kebencanaan terburuk yang pernah
dialami. Skenario kejadian dapat disusun dengan mempertimbangkan waktu
kejadian, lokasi, asal/penyebab, intensitas, kecepatan kejadian, jarak, proses,
luasan terdampak, serta potensi bahaya lanjutan atau ikutannya.

Asumsi dampak adalah prakiraan/proyeksi dampak negatif yang mungkin timbul
akibat suatu bencana yang melanda. Proyeksi akibat langsung dikembangkan
berdasarkan skenario kejadian dan peta risiko atau peta bahaya dengan
mempertimbangkan aspek kerentanan dan kapasitas publik/swasta/komunitas
yang terkena dampak bencana. Asumsi dampak diklasifikasikan dalam aspek-
aspek sebagai berikut; lingkungan, kependudukan, ekonomi, infrasturktur/fisik,
dan layanan sipil pemerintahan.

Dapat berupa asumsi terburuk berdasarkan sejarah kejadian, atau asumsi yang
paling mungkin terjadi. Dikembangkan berdasarkan kesepakatan para pemangku
kepentingan.

2. Pengembangan Kerangka Tanggapan
Meliputi turunan dari kebijakan dalam RPKB untuk mengarahkan tanggapan,
seperti azas, prinsip, kerangka kebijakan-strategi dan tujuan.

3. Penentuan Rancangan Tanggapan
Merupakan pengaturan langkah demi langkah dari “mesin” yang akan
menggerakkan dan mengendalikan jalannya operasi penanganan kedaruratan.
Rancangan tanggapan terdiri dari:

1) Penatalaksanaan Tanggapan
Tata laksana penanganan kedaruratan meliputi:

(1) Tugas Pokok, yaitu menyepakati mandat yang diberikan kepada organisasi
penanganan kedaruratan bencana sebagai pedoman pelaksanaan operasi
tanggap darurat. Disusun sebagai narasi (satu paragraf) yang memuat
doktrin (asas, prinsip), tujuan tanggap darurat—hanya penanganan darurat
bencana dan tujuan khusus sesuai kebijakan daerah; dan kerangka
waktu/periode operasi yang ditentukan.

20

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

(2) Sasaran, yaitu menyepakati target atau capaian dari tugas pokok atau
operasi penanganan kedaruratan. Sasaran dapat disajikan/dinyatakan
dalam angka atau prosentase.

(3) Konsep Operasi dan Sasaran Tindakan, yaitu ruang lingkup operasi tanggap
darurat dan penjabaran tindakan yang akan dilakukan dalam kerangka
waktu atau periode operasi yang telah ditentukan. Konsep operasi tanggap
darurat terdiri dari 3 fase, yaitu Siaga Darurat, Tanggap Darurat, dan
Transisi Darurat ke Pemulihan. Setiap fase dijabarkan dalam tindakan-
tindakan yang sesuai dan fokus pada tanggap darurat.

(4) Struktur Organisasi Penanganan Kedaruratan, yaitu mengidentifikasi dan
menyepakati fungsi-fungsi atau bidang-bidang dan struktur organisasi
penanganan kedaruratan bencana. Fungsi/bidang dipilih dan disepakati
berdasarkan dan atau berorintasi untuk menangani akibat sesuai dengan
skenario/asumsi dampak kejadian bencana.

(5) Fungsi dan Kegiatan Pokok, yaitu menyapakati definisi operasional dari
masing-masing fungsi/bidang dan penjabaran kegiatan pokok dari setiap
fungsi/bidang. Kegiatan pokok merupakan kerangka tanggapan dalam
penyusunan rencana kontingensi. Kegiatan-kegiatan pokok harus disusun
sebagai strategi-taktis penanganan kedaruratan bencana, terutama pada
fungsi operasi. Kegiatan dapat dikelompokkan menjadi kegiatan prioritas
dan kegiatan-kegiatan lain, di mana kegiatan prioritas dirancang
berdasarkan kemampuan sumberdaya yang tersedia.

(6) Tugas-Tugas Bidang, yaitu menyepakati tugas-tugas dari setiap fungsi dan
sub bidang atau unit di bawahnya. Tugas-tugas setiap fungsi atau sub-
bidang/unit disusun secara spesifik berdasarkan kelompok-kelompok
kegiatan pokok.
Pernyataan tentang Sasaran, Sasaran Tindakan, Kegiatan, dan Tugas-tugas
harus memiliki karakter “SMART”, yaitu
 Specific (Spesifik). Kata-katanya harus tepat dan tidak ambigu dalam
menggambarkan sasaran.
 Measurable (Dapat diukur). Rancangan dan pernyataan sasaran
harus memungkinkan untuk dilakukannya penilaian akhir, apakah
sasaran telah tercapai.
 Act (Berorientasi pada tindakan). Sasarannya harus memiliki kata
kerja tindakan yang menggambarkan pencapaian yang diharapkan.
 Realistic (Realistis/relevan). Sasaran harus dapat dicapai dengan
sumber daya yang dapat dialokasikan badan (badan pembantu)
untuk keadaan darurat itu, meskipun mungkin diperlukan beberapa
periode operasional untuk menyelesaikannya.

21

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

 Time-boud (Memperhatikan waktu). Kerangka waktu harus
ditetapkan (jika dapat diterapkan).

(7) Instruksi Koordinasi, yaitu menyepakati ringkasan arahan/perintah/pokok-
pokok mandat/langkah penanganan darurat bencana yang diberikan oleh
otoritas dan Komandan Penanganan Darurat Bencana. Instruksi juga dapat
disajikan sebagai rangkuman dari rangkaian proses/mekanisme mulai dari
peringatan dini, pengkajian cepat, penetapan status darurat, hingga
perintah pelaksanaan dan pengelolaan pananganan kedaruratan oleh
Komandan Penanganan Darurat Bencana.

2) Penatakelolaan Admin dan Logistik
Tata kelola administrasi dan logistik mencakup mekanisme pembiayaan
penanggulangan kedaruratan bencana dan pemenuhan kebutuhan logistik yang
digunakan dalam melaksanakan operasi. Selain sumberdaya lokal, tata kelola ini
mengatur dan penyepakati mekanisme pembagian peran dan tanggung jawab
Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional dalam pembiayaan maupun logistik
penanggulangan kedaruratan bencana.

(1) Administrasi, yaitu menyepakati mekanisme pengelolaan administrasi dan
keuangan untuk penanganan kedaruratan, termasuk sumber-sumber
pembiayaan yang dapat dikelola, sesuai berdasarkan regulasi dan kebijakan
yang berlaku

(2) Logistik, yaitu menyepakati mekanisme pengelolaan sumberdaya
penanganan kedaruratan dengan menjabarkan ketersediaan, kebutuhan,
dan kesenjangan (gap) sumberdaya. Di bagian ini termasuk menyepakati
mekanisme dan strategi mengurangi dan menghilangan kesenjangan.
Detail ketersediaan dan kebutuhan dirincikan dalam Lampiran Dokumen
Rencana Kontingensi.

3) Pengendalian
Pengendalian penanganan kedaruratan bencana terdiri dari 4 komponen utama
yang saling terkait dalam sistem komando penanganan darurat bencana, yaitu:

(1) Komando dan Kendali (Command and Control) yaitu mengidenfikasi dan
menyepakati tentang kewenangan untuk memberikan perintah,
mengkoordinasikan, mengendalikan, memantau dan mengevaluasi
kegiatan tanggap darurat bencana. Identifikasi dan kesepakatan yang
dibangun pada bagian ini meliputi:

22

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

 Komandan, yaitu menyepakati individu yang diberikan tugas dan
kewenanganan untuk memimpin operasi. Individu yang ditunjuk dan
dipilih dengan mempertimbangkan kapasitas/kemampuan yang
dimiliki.

 Pos Komando (Posko), yaitu menyepakati lokasi/posisi atau letak
koordinat Pusat Komando dan Kendali Operasi.

 Pos Lapangan, yaitu menyepakati lokasi/posisi atau letak koordinat pos-
pos operasi dan pelayanan penanganan darurat.

 Posisi Pos Pendukung/Pendamping, yaitu menyepakati pos lokasi/posisi
atau letak koordinat pos pendukung dan atau pos pendamping.

(2) Koordinasi (Coordination), yaitu menyepakati mekanisme pemaduan peran
dan fungsi sektor-sektor yang terkait secara proporsional, sinergis dan
saling mendukung dalam penanganan tanggap darurat bencana. Koordinasi
terdiri dari koordinasi horisontal dan koordinasi vertikal.

Koordinasi horizontal dilakukan untuk memastikan tanggap darurat
berjalan efektif dan semua entitas yang terlibat tidak mengupayakan tujuan
yang saling berlawanan, mengurangi efektivitas respon, saling
memperebutkan sumber daya, dan menyebabkan kebingungan di wilayah
bencana. Koordinasi ini dilakukan di antara pelbagai pelaku tanggapan, baik
kementerian, lembaga dan organisasi nonpemerintah dan unit
pemerintahan.

Koordinasi vertikal dilakukan antar entitas-entitas nasional dan daerah
untuk memastikan kesatuan respon dan menghindarkan persaingan
sumber daya. Koordinasi ini bertujuan untuk menghindari atau
meminimalisir terjadinya inkongruensi dalam implementasi kebijakan di
tingkat daerah yang menyebabkan kebingungan di kalangan masyarakat
terdampak dan persepsi bahwa perangkat komando-kendali, koordinasi,
komunikasi, informasi tidak efektif.

Koordinasi dapat terlaksana melalui komunikasi langsung, melalui petugas
perantara (Liaison officer) pada setiap lembaga yang terlibat atau dengan
saling berbagi Rencana Aksi Tanggap Darurat.

(3) Komunikasi (Communications), yaitu menyepakati moda komunikasi yang
digunakan dalam penanganan kedaruratan.

Dalam struktur organisasi komando, komunikasi harus bersifat dua arah,
yang memungkinkan pejabat yang lebih tinggi memberikan arahan dan

23

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

pejabat bawahan mengajukan pertanyaan, menyampaikan informasi
menyangkut kegiatan tanggap darurat dan permintaan sumber daya.

Jalur komunikasi formal perlu diciptakan, bila pertukaran informasi pada
hakekatnya bersifat formal. Jalur komunikasi informal, utamanya metode
orang-ke-orang dapat dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan
koordinasi secara informal, tetapi dapat menyebabkan informasi penting
gagal dilaporkan ke struktur organisasi komando.

(4) Pengelolaan Informasi (Information management), yaitu menyepakati
pengelolaan data dan informasi untuk mendukung operasi penanganan
kedaruratan.

Pengelolaan data dan informasi merupakan kunci dalam pengambilan
keputusan, perumusan tujuan/sasaran, rencana, taktik maupun pengkajian
efektivitas tanggap darurat. Standarisasi pengumpulan, pengiriman,
integritas, dan interoperabilitas data menjadi penting untuk memastikan
relevansi dan kualitas data.

Efektivitas pengelolaan dan berbagi informasi (information sharing)
meningkatkan pemahaman situasi secara realtime (real-time situational
awareness). Pengelolaan informasi tidak hanya mencakup data, tetapi juga
sistem, aplikasi, metode analisis, dan pengguna akhir yang memberikan
data awal/mentah. Agar mekanisme berbagi informasi menjadi efektif,
perlu dirumuskan template dan standar data bakunya, sebagai data primer.
Selain itu, data dapat diperoleh dan dianalisis dari berbagai sumber lainnya,
termasuk laporan maupun media sosial.

4) Perencanaan Kelengkapan Operasi
Kelengkapan operasi merupakan dokumen dan atau perangkat pendukung
perencanaan kontingensi yang menjadi rujukan dan panduan taktis organisasi
penanganan darurat Bencana dalam melaksanakan operasi. Dokumen/perangkat
dapat menggunakan dokumen formal dari instansi/lembaga, seperti peta
bahaya/risiko, peta jalur/titik evakuasi, dan lainnya. Selain itu, terdapat
dokumen/perangkat yang harus disusun dan disepakati bersama, seperti susunan
pelaksana tugas, proyeksi wilayah dan penduduk terdampak, SOP atau prosedur
tetap, dan lainnya.

Kelengkapan operasi terletak di bagian dari Lampiran Dokumen Kontingensi, yang
meliputi;

24

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Lampiran 1. Konversi Rencana Kontingensi menjadi Rencana Operasi:
Penyusunan Rencana Operasi Penanganan Darurat
Lampiran 2. Proyeksi Wilayah dan Penduduk Terdampak
Lampiran 3. Susunan Pelaksana Tugas
Lampiran 4. Jaring Komunikasi
Lampiran 5. Estimasi Ketersediaan dan Kebutuhan Sumberdaya
Lampiran 6. Album Peta
Lampiran 7. Mata Rantai Peringatan Dini
Lampiran 8. Rencana Evakuasi
Lampiran 9. SOP / Protap
Lampiran 10. Lembar Komitmen
Lampiran 11. Lembar Berita Acara Penyusunan
Lampiran 12. Profil Lembaga/Organisasi

4.3. TAHAP FINALISASI

1. Konfirmasi Kesepakatan Parapihak
Diseminasi rencana kontingensi ditujukan kepada pemerintah, pemerintah
daerah, masyarakat dan lembaga usaha, agar diperoleh informasi dan timbul
pemahaman terkait tugas dan kewajiban pada saat penanganan darurat bencana.
Diseminasi dilaksanakan melalui diskusi dalam forum untuk memperoleh
kesepakatan para pihak.

2. Penyempurnaan Draf Rencana Kontingensi
Penyempurnaan draf rencana kontingensi dapat dilakukan dengan metode
latihan, rapat koordinasi, geladi ruang, geladi posko dan geladi lapang.

4.4. TAHAP TINDAK LANJUT

1. Formalisasi Perencanaan Kontingensi
Proses formalisasi perencanaan kontingensi melalui penetapan/legalisasi
Perencanaan Kontingensi sebagai peraturan atau perundangan daerah yang
menjadi lembar daerah.

2. Penyepakatan Komitmen Parapihak
Memastikan komitmen parapihak dalam penanganan kedaruratan perlu
diwujudkan dalam sebuah kesepakatan formal. Komitmen yang dibangun dan
disepakati meliputi:

1) Komitmen peran, tugas, dan tanggungjawab dalam bidang dan atau kegiatan
penanganan kedaruratan.

25

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

2) Komitmen mobilisasi sumberdaya untuk mengurangi dan menghilangkan
kesenjangan (gap) dari proyeksi kebutuhan sumberdaya. Pokok sumberdaya yang
menjadi objek komitmen meliputi kuantitas dan kualitas.

3. Uji Perencanaan Kontingensi
Pengujian sistem melalui latihan kesiapsiagaan untuk (1) pengujian
operasionalitas perencanaan dan mobilitasi sumberdaya; (2) membangun
kesadaran peran parapihak dalam penanganan kedaruratan, dan (3) membangun
pengetahuan dan ketrampilan dalam penanganan kedaruratan.

Latihan kesiapsiagaan dilaksanakan melalui penyelenggaraan:
1) Latihan Dasar, yaitu kegiatan-kegiatan dalam bentuk diskusi, seminar, lokakarya
untuk membangun dan memperkuat pemahaman parapihak dalam rencana
kontingensi, serta pembagian peran dan tugas dalam penanganan darurat
bencana. Kegiatan ini dipandu oleh narasumber atau instruktur.
2) Simulasi, yaitu kegiatan uji latihan untuk meningkatkan ketrampilan pada
bidang-bidang atau aktivitas spesifik dalam penanganan darurat, seperti Simulasi
Rapat Koordinasi, gladi ruang, simulasi dapur umum, simulasi SAR, dan lainnya.
Kegiatan ini dipandu oleh fasilitator.
3) Uji Sistem, yaitu kegiatan pengujian untuk operasionalitas dan kesesuaian
perencanaan melalui gladi posko/uji posko dan gladi lapang/uji lapang. Kegiatan
ini dilaksanakan dengan menghadirkan evaluator untuk memberikan penilaian
operasionalitas fungsi-fungsi.

4. Pemutakhiran Dokumen Rencana Kontingensi
Pemutakhiran rencana kontingensi bertujuan untuk memutakhirkan rencana
sesuai dengan situasi terkini. Data yang dimutakhirkan mencakup perubahan:

 besaran ancaman bencana
 besaran kerentanan;
 kapasitas atau kemampuan sumberdaya.

Pemutakhiran data dilakukan melalui berbagai cara antara lain:
 menyusun rencana kegiatan tindak lanjut dalam tabel yang memuat tahapan

dan para pelaku/sektor serta waktu pelaksanaan kegiatan;
 melakukan inventarisasi, pemeliharaan ketersediaan dan kesiapan sumber

daya, sarana dan prasarana yang ada dilakukan secara berkala;
 melakukan pertemuan berkala untuk kaji ulang dalam rangka pemutakhiran

data dan asumsi dampak bencana atau proyeksi kebutuhan sumberdaya;
 menyusun prosedur tetap untuk mendukung pelaksanaan/aktivasi rencana

kontingensi yang telah disusun;

26

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

 melakukan pemantauan secara periodik terhadap ancaman dan peringatan
dini beserta diseminasinya;

 melakukan pemutakhiran data dengan mempertimbangkan kajian apabila
tidak terjadi bencana dalam suatu periode tertentu.

27

BAB 5. STRUKTUR DAN ISI DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI

Dokumen rencana kontingensi merupakan manifestasi dari keseluruhan proses dan tahapan
perencanaan kontingensi. Dokumen ini memuat aspek dan gambaran situasi kedaruratan,
kebijakan, manajerial, dan tindakan penanganannya. Uraian-uraian penjelasan pada bagian
lampiran yang terpisah.

5.1. STRUKTUR ISI DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI

Outline Struktur isi Dokumen Rencana Kontingensi
LEMBAR PENGESAHAN PIMPINAN DAERAH
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Landasan Hukum
1.3. Kebijakan dan Strategi
1.4. Maksud dan Tujuan
1.5. Ruang Lingkup
1.6. Pendekatan, Metode, dan Tahapan Proses
1.7. Umpan Balik
1.8. Masa Berlaku dan Pemutakhiran
1.9. Konversi Rencana Kontingensi menjadi Rencana Operasi

BAB II. SITUASI
2.1. Karakteristik Bahaya
2.2. Skenario Kejadian
2.3. Asumsi Dampak

BAB III. TUGAS POKOK DAN FUNGSI POKOK ORGANISASI KOMANDO
PENANGGULANGAN DARURAT BENCANA
3.1. Tugas Pokok
3.2. Sasaran

BAB IV PELAKSANAAN
4.1. Konsep Operasi dan Sasaran Tindakan
4.2. Struktur Organisasi Komando
4.3. Fungsi dan Kegiatan Pokok

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

4.4. Tugas-Tugas Bidang
4.5. Instruksi Koordinasi

BAB V ADMINISTRASI DAN LOGISTIK
5.1. Administrasi
5.2. Logistik

BAB VI PENGENDALIAN
6.1. Komando
6.2. Kendali
6.3. Koordinasi
6.4. Komunikasi
6.5. Informasi

BAB VII RENCANA TINDAK LANJUT
7.1. Komitmen Parapihak dalam Penanganan Kedaruratan
7.2. Penyiapan Kesiapsiagaan

LAMPIRAN
Lampiran 1. Konversi Rencana Kontingensi menjadi Rencana Operasi: Penyusunan
Rencana Operasi Penanganan Darurat
Lampiran 2. Proyeksi Wilayah dan Penduduk Terdampak
Lampiran 3. Susunan Pelaksana Tugas
Lampiran 4. Jaring Komunikasi
Lampiran 5. Estimasi Ketersediaan dan Kebutuhan Sumberdaya
Lampiran 6. Album Peta
Lampiran 7. Mata Rantai Peringatan Dini
Lampiran 8. Rencana Evakuasi
Lampiran 9. SOP / Protap
Lampiran 10. Lembar Komitmen
Lampiran 11. Lembar Berita Acara Penyusunan
Lampiran 12. Profil Lembaga/Organisasi

29

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

5.2. PANDUAN PENULISAN DOKUMEN RENCANA KONTINGENSI

PENGESAHAN PIMPINAN DAERAH
Surat Keputusan/Peraturan Kepala Daerah:

1. komitmen pengerahan sumberdaya secara optimal untuk penanganan
kedaruratan

2. tanggal mulai berlaku,
3. tanggal kadaluarsa,
4. jadwal pemutakhiran
5. klausul yang mewajibkan semua pihak mematuhi perencanaan kontingensi

RINGKASAN EKSEKUTIF
Ringkasan eksekutif disusun maksimal 2 halaman yang terdiri dari 4 hal yaitu:

a. Ringkasan tentang latar belakan dan mandat perencanaan kontingensi. Bagian
ini merupakan ringkasan dari BAB II.

b. Ringkasan tentang karakteristik bahaya, skenario kejadian dan asumsi dampak.
Bagian ini merupakan ringkasan dari BAB II.

c. Penjelasan ringkas tentang tata kelola dan tata laksana penanganan
kedaruratan. Bagian ini merupakan ringkasan dari BAB III s/d BAB VI.

d. Penjelasan yang menegaskan kegiatan tindak lanjut yang harus dilakukan
setelah penyusunan perencanaan kontingensi. Bagian ini merupakan ringkasan
dari BAB VII

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
Bagian ini memuat penjelasan istilah-istilah dan singkatan yang digunakan dalam
Dokumen Rencana Kontingensi untuk mempermudah pemahaman pembaca.
Pengertian istilah tersebut merujuk pada pengertian dan atau definisi yang ada dalam
peraturan-peraturan dari pemerintah atau pemerintah daerah. Apabila terdapat
pengertian istilah lain, pemerintah daerah dapat memberikan pengertian sesuai
dengan konteksnya.

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bagian ini menjelaskan latar belakang dan urgensi perencanaan kontingensi bagi
daerah.

1. Gambaran umum daerah
2. Gambaran risiko bahaya
3. Gambaran umum urgensi perencanaan kontingensi, yaitu memberikan

perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat.

30

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

1.2. Landasan Hukum
Regulasi yang dirujuk dalam perencanaan kontingensi, yaitu;

1. Undang-Undang
2. Peraturan Pemerintah
3. Peraturan/Instruksi/Keputusan Presiden
4. Peraturan/Keputusan/Instruksi Tingkat Kementerian
5. Peraturan BNPB
6. Peraturan Daerah
7. Peraturan/Keputusan Kepala Daerah

1.3. Maksud dan Tujuan
Narasi yang menyatakan tentang maksud dan tujuan atau manfaat penyusunan
perencanaan kontingensi bagi daerah yang bersangkutan.

Contoh:
Dokumen rencana kontingensi ini disusun sebagai landasan strategi, operasional, dan pedoman
dalam penanganan darurat bencana tsunami akibat gempabumi megathrust Jawa Timur dan
sebagai dasar untuk pengerahan sumberdaya dari seluruh pemangku kepentingan yang terlibat
dalam penanganan darurat bencana di wilayah Kabupaten Malang.

1.4. Ruang Lingkup
Yaitu penjelasan tentang ruang lingkup atau cakupan dokumen Rencana Kontingensi.
Ruang lingkup Rencana Kontingensi terdiri dari 3 (tiga) hal, yaitu:

1. Lingkup Bahaya dan Risiko Bencana, yaitu jenis bahaya/ancaman bencana yang
disusun perencanaan kontingensinya.

2. Lingkup Wilayah Risiko, yaitu menjelaskan batas penanganan yang dikelola
penanganan kedaruratannya, seperti desa, kabupaten, provinsi, nasional, atau
berbasis kawasan.

3. Lingkup Pelaksana Aksi, yaitu menjelaskan tata kelola dan tata laksana
penanganan kedaruratan. Selain pemerintah sebagai pemangku pemangku
utama, semua pemangku kepentingan penanggulangan bencana, baik lembaga
usaha, kelompok masyarakat, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah
lainnya, yang dilibatkan dalam penanganan kedaruratan.

Contoh:
Ruang lingkup rencana kontingensi ini mencakup hal-hal yang perlu dilaksanakan untuk menghadapi
kemungkinan terjadinya peristiwa dan situasi darurat bencana tsunami akibat gempabumi
megathrust Jawa Timur di wilayah Kabupaten Malang, yaitu:

a. Pengumpulan data dan informasi dari berbagai unsur baik Pemerintah, Swasta, Lembaga Non
Pemerintah, dan Masyarakat

b. Pembagian peran dan tanggung jawab antar sektor
c. Proyeksi kebutuhan lintas sektor

31

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

d. Identifikasi, inventarisasi dan penyiapan sumber daya dari setiap sektor.
e. Pemecahan masalah berdasarkan kesepakatan-kesepakatan dan komitmen untuk melakukan

peninjauan kembali/kaji ulang Rencana Kontingensi, jika tidak terjadi bencana, termasuk
dilaksanakan geladi sebagai metode/alat uji coba rencana kontingensi.

1.5. Kebijakan dan Strategi
Bagian ini menjelaskan Kebijakan dan Strategi Penanganan Kedaruratan Daerah. Bagi
daerah yang sudah memiliki dokumen Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana
(RPKB), penanganan kedaruratan dapat merujuk pada kebijakan dan strategi yang
telah ditetapkan.

Kebijakan. Tanggap darurat mewujudkan pemberian hak masyarakat (yang dijamin
dalam UU Penanggulangan Bencana), yakni mendapatkan perlindungan sosial dan rasa
aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana; dimana setiap orang
yang terkena bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar.

Prinsip-prinsip penanggulangan bencana yakni cepat dan tepat, prioritas, koordinasi
dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna; transparansi dan akuntabilitas;
kemitraan, pemberdayaan, nondiskriminatif, dan nonproseliti.

Strategi. Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat
meliputi: pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber
daya; penentuan status keadaan darurat bencana; penyelamatan dan evakuasi
masyarakat terkena bencana; pemenuhan kebutuhan dasar; perlindungan terhadap
kelompok rentan; dan pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.

Contoh:
Kebijakan penanganan darurat bencana adalah arahan/pedoman umum yang bersifat mengikat
bagi para pihak yang terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya serta Struktur Komando
Penanganan Darurat Bencana dalam melaksanakan tugas pokok dan operasinya. Kebijakan-
kebijakan tersebut adalah sebagai berikut;

1) Menetapkan koordinasi pelaksanaan Penanggulangan Bencana (PB) secara terencana,
terpadu dan menyeluruh,

2) Memberikan perlindungan pada masyarakat terdampak,
3) Optimalisasi pos anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT) APBD tahun berjalan untuk

penanggulangan kedaruratan bencana (PKB),
4) Mengajukan pendampingan dan fasilitas Dana Siap Pakai (DSP) kepada Pemerintah Pusat

melalui BNPB,
5) Membuka jejaring bantuan dari masyarakat, swasta, lembaga non pemerintah, dan luar

negeri,
6) Melibatkan masyarakat, relawan dan pemberi bantuan dalam pencarian dan pertolongan.
7) Membebaskan seluruh biaya pelayanan kesehatan untuk masyarakat terdampak bencana.
8) Melaksanakan sosialisasi dan pendampingan pemenuhan kebutuhan masyarakat pasca

bencana
9) Melakukan monitoring dan evaluasi penanganan penanggulangan bencana.

32

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Strategi penanganan kedaruratan bencana adalah pedoman pelaksanaan umum bagaimana
kebijakan diimplementasikan selama operasi guna mencapai efektifitas kebijakan. Strategi-strategi
tersebut adalah;

1) Mengaktifkan Sistem Komando Penanggulangan Darurat Bencana (SKPDB),
2) Meningkatkan akses informasi satu data dalam penanganan penanggulangan bencana,
3) Melaksanakan pencarian dan pertolongan jiwa yang terdampak,
4) Memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak
5) Perbaikan sarpras vital serta pemulihan fungsi layanan umum dan layanan pemerintahan

diwilayah terdampak bencana,
6) Pembuatan pos bantuan,
7) Pengerahan personil pencarian dan pertolongan yang terlatih, sarana pencarian dan evakuasi

yang mencukupi dengan melibatkan masyarakat, relawan dan pemberi bantuan,
8) Pemanfaatan semua fasilitas umum yang aman milik pemerintah atau masyarakat sebagai

tempat evakuasi,
9) Pengobatan gratis bagi korban bencana dan Psychological First Aid,
10) Mendistribusikan cadangan logistik untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat

terdampak bencana,
11) Monitoring dan evaluasi penanganan penanggulangan bencana disemua sektor.

1.6. Pendekatan, Metode dan Tahapan Proses
Bagian ini menjelaskan metode-strategi dalam penyusunan perencanaan kontingensi,
yaitu;

1. Pendekatan dan metode yang dalam penyusunan (partisipatif)
2. Tahapan proses/kegiatan penyusunan
3. Para Pihak yang terlibat dalam penyusunan

Contoh:

Pendekatan partisipatif dilakukan untuk memastikan bahwa penyusunan rencana kontingensi ini
disepakati para pihak yang terlibat dalam penangganan darurat bencana erupsi Gunungapi Rinjani-
Barujari.

Kegiatan penyusunan rencana kontingensi ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Penyamaan persepsi terhadap semua pelaku penanggulangan bencana tentang pentingnya
rencana kontingensi erupsi Gunungapi Rinjani-Barujari.

2. Pengumpulan data dan pembaruan: Pengumpulan data dilakukan pada semua sektor
penanganan bencana dan lintas administratif.

2. Verifikasi data: Analisa data sumberdaya yang ada dibandingkan proyeksi kebutuhan
penanganan bencana saat tanggap darurat.

3. Penyusunan dokumen rencana kontingensi, pembahasan dan perumusan dokumen rencana
kontingensi disepakati dalam wokshop yang meliputi penilaian karakteristik bahaya dan
penentuan kejadian, pengembangan skenario, penyusunan kebijakan dan strategi,
perencanaan sektoral dan rencana tindak lanjut.

4. Penandatanganan komitmen, public hearing/konsultasi publik hasil rumusan rencana
kontingensi: Penyebaran/ diseminasi dokumen rencana kontingensi kepada pelaku
penanggulangan bencana (multi stake holder).

33

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

1.7. Umpan Balik
Bagian ini menjelaskan tentang peluang pemutakhiran/penyempurnaan dari
parapihak. Pemutakhiran terkait dengan data-data terbaru dan metode
pemutakhiran/penyempurnaan. Inisiatif reviu dan pemutakhiran perencanaan
kontingensi dapat dikoordinasikan melalui BPBD Provinsi Papua atau organisasi
perangkat daerah yang memiliki tugas dan fungsi penanggulangan bencana di daerah.

Contoh:
Untuk memastikan rencana kontingensi sesuai dengan situasi dan kondisi yang terbarukan maka
diperlukan masukan-masukan terutama terkait data-data, sehingga perlu dilakukan dengan
lokakarya atau rapat konsultasi. Inisiatif reviu dan pemutakhiran perencanaan kontingensi dapat
dikoordinasikan melalui BPBD Provinsi Papua.

1.8. Masa Berlaku dan Pemutakhiran
Bagian ini menjelaskan masa berlaku dan pemutakhiran perencanaan kontingensi.
Secara umum masa berlaku atau waktu yang harus dilakukan pemutahiran adalah 3
tahun. Pemutakhiran sebelum masa berlaku dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan; adanya perubahan faktor risiko (ancaman, kerentanan, dan
kapasitas) dan adanya kejadian bencana di daerah.

Contoh:
Dokumen rencana kontingensi erupsi Gunungapi Rinjani-Barujari berlaku selama 3 (tiga) tahun.
Agar rencana kontingensi sesuai dengan situasi terbaru seperti misalnya: perubahan dinamika skala
bencana, perubahan besaran dan bentuk atau jenis kerentanan, perubahan kapasitas atau
kemampuan sumberdaya maka dapat dilakukan kaji ulang atau update sesuai kebutuhan.

1.9. Konversi Rencana Kontingensi menjadi Rencana Operasi
Bagian ini menjelaskan penegasan perencanaan kontingensi sebagai basis penyusunan
rencana operasi.

Contoh:
Rencana kontingensi ini menjadi dasar dalam menyusun rencana operasi penanganan kedaruratan
erupsi Gunungapi Rinjani-Barujari. Aktivasi rencana kontingensi dilakukan setelah mendapatkan
data dan analisis kaji cepat bencana.

34

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

BAB II. SITUASI
2.1. Karakteristik Bahaya
Bagian ini menjelaskan tentang karakteristik bahaya dan faktor-faktor risiko yang
dituangkan berdasarkan data analisa resmi dari lembaga kompeten dan kredibel.
Karakter bahaya setidaknya memberikan informasi tentang pemicu, tanda-tanda,
unsur yang mengancam, frekuensi, periode, durasi, tipe, kecepatan, jarak, dan lainnya.
Perlu disampaikan juga kategori bahaya, apakah berangsur / lambat (slow onset) atau
tiba-iba / mendadak (rapid onset). Bagaimana system peringatan dini yang ada,
layanan informasi tentang bahaya tersebut dan lainnya. Karakter bahaya ini akan
berkaitan dengan masalah yang ditimbukannya, dan berujung pada dampaknya.
Setiap bahaya mempunyai karakter yang dipengaruhi oleh sumberdaya yang ada di
lokasi tersebut.

Contoh:
Karakteristik Bahaya Bencana Tsunami yang dipicu gempabumi megathrust Jawa Timur
Kabupaten Malang
Generator gempa yang dapat memicu tsunami di selatan Provinsi Jawa Timur adalah zona subduksi
lempeng Australia dan Eurasia. Potensi kegempaan zona subduksi di Jawa, termasuk Jawa Timur,
besar kemungkinan mengikuti pola isolated locked-zone di batas subduksi Jawa, yaitu gempa yang
akan datang kemungkinan terjadi di daerah yang terdapat seismic gap (zona dengan seismisitas
rendah) di sepanjang zona seismik yang sempit (Pusgen, 2017). Data seismisitas BMKG menunjukkan
adanya zona seismik gap di selatan Jawa Timur. Zona seismik gap perlu diwaspadai karena pada zona
ini seharusnya relatif aktif secara tektonik, tetapi jarang terjadi gempa signifikan dalam jangka waktu
yang lama. Kondisi ini dikhawatirkan terjadi akumulasi energi gempa, sehingga dapat terjadi gempa
dengan magnitude yang tinggi serta dapat memicu tsunami yang lebih besar.
Berdasarkan pengkajian dan modelling BMKG (2021) wilayah pesisir selatan Jawa tsunami yang
dipicu oleh gempabumi. Secara geologis, jarak garis pantai selatan Jawa dengan zona pertumbukan
(subduction zone) 200-250 km di mana pertumbukan 2 (dua) lempeng benua Lempeng Indo-
Australia dan Lempeng Benua Eurasia. Pertumbukan terjadi karena Lempeng Indo-Australia yang
bergerak ke utara menunjam Lempeng Benua Eurasia dengan kecepatan ± 7 cm/tahun.

35

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Gambar…. Sumber Gempabumi Pemicu Tsunami dan Distribusi Gempa Bumi 2001-2020 (BMKG, 2021)

BMKG mencatat tiga kejadian yang dipicu oleh gempa di zona subduksi selatan Jawa Timur, yaitu
tahun 1859 (M 7,5) di selatan Kabupaten Pacitan serta tahun 1985 dan 1994 (M 7,8) di selatan
Banyuwangi (BMKG, 2019). Gempa tahun 1994 memicu terjadinya tsunami dengan tinggi
gelombang 13,9 meter dan menelan korban jiwa sekitar 250 orang. Di Kabupaten Malang, Desa
Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan tercatat memiliki riwayat diterjang tsunami pada
tahun 1996 dan 2004.

Mengikuti modeling skenario terburuk tsunami akibat gempa megatrust BMKG tersebut diatas,
potensi gempabumi berkekuatan 8,7-8,8 berpotensi memicu tsunami di selatan Pulau Jawa, di Jawa
Timur wilayah berpotensi terdampak mencakup Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek,
Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten
Jember, wilayah pantai selatan dan pantai timur Banyuwangi, dan Kabupaten Situbondo. Di
Kabupaten Malang sendiri, 6 kecamatan dan 20 desa berpotensi terdampak tsunami akibat
gempabumi megathrust ini.

36

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

2.2. Skenario Kejadian
Bagian ini memuat perincian skenario kejadian. Bagian ini juga memuat tentang
bahaya primer dan bahaya sekunder. Skenario dikembangkan dengan menggunakan
perkiraan skenario yang didasarkan dari data dan analisis resmi dari lembaga yang
memiliki otoritas maupun memiliki kompetensi dan kredibilitas. Pengembangan
skenario juga dapat mempertimbangkan sejarah kejadian bencana terburuk yang
pernah terjadi. Penyajian Skenario Kejadian dapat dilengkapi dengan tabel.

Contoh:
Kejadian gempabumi megathrust berpotensi memicu tsunami di selatan Pulau Jawa. Nilai
magnitude maksimum yang dipakai dan yang mungkin terjadi serta lokasi titik pusat gempa
mengadopsi skenario terburuk yang dibuat oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).

Gambar …. Peta Bahaya Tsunami Skenario Terburuk, Pantai Sendang Biru & Sekitarnya Kab. Malang (BMKG, 2021)

Ringkasan Skenario Kejadian

Waktu kejadian Tsunami terjadi pada hari Minggu, siang harI

Lokasi Pesisir pantai wilayah selatan Kabupaten Malang:
Pantai Clungup, Pantai Sendang Biru, __

Pemicu Kejadian Gempa berdurasi 20 detik dengan skala magnitude 8,7 – 8,8
atau Skala MMI V – VII, terjadi di zona subduksi megathrust Jawa
Timur: koordinat 10,23 LS dan 110,39 BT, Kedalaman 18 Km

37

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Bahaya primer Reruntuhan akibat gempa dan terjangan gelombang tsunami. Tinggi
gelombang maksimal 17-20 meter, kedatangan landaan tsunami ke
wilayah terdampak 17-20 menit

Peringatan Dini Peringatan dini potensi bencana tsunami dari BMKG dikeluarkan 5
Bencana menit setelah kejadian gempa

Cakupan wilayah 6 kecamatan dan 20 desa, yang terdiri dari;
terdampak

Bahaya sekunder Wabah atau sumber penyakit dari pembusukan bahan organik pada
sisa-sisa genangan tsunami.

Bahaya pendamping Epidemi atau Pandemi COVID-19

2.3. Asumsi Dampak
Bagian ini memuat tentang perkiraan akibat atau dampak langsung dari kejadian
bencana sesuai Skenario Kejadian yang ditetapkan. Identifikasi akibat/dampak
langsung dituangkan dalam 5 aspek, yaitu kependudukan, fisik/infrastruktur, ekonomi,
lingkungan, dan layanan publik/pemerintahan. Identifikasi dampak langsung menjadi
pertimbangan penyusunan sektor-sektor atau bidang dan kegiatan penanganan
kedaruratan. Asumsi dampak dapat disajikan dalam format tabel.

1. Aspek Kependudukan, yaitu perkiraan tentang jumlah dan kondisi (meninggal,
luka, mengungsi). Detail data terpilah sebaiknya dirincikan dalam Lampiran
Proyeksi Wilayah dan Penduduk Terdampak. Data pilah penduduk dapat disajikan
berdasarkan jenis kelamin, usia, kerentanan; bayi, balita, bumil, busui, sakit, lansia,
difabel, maupun penduduk dengan komorbid.

2. Aspek Fisik/Infrastruktur, yaitu perkiraan jenis dan jumlah kerusakan atau
perubahan fisik infrastruktur. Selain permukiman penduduk, bagian ini juga
merincikan jenis infrastruktur publik vital yang mengalami kerusakan, seperti jalan,
jembatan, jaringan listrik, jaringan air, fasilitas energi, jaringan komunikasi, tempat
ibadah, sarana pendidikan, tempat pelayanan kesehatan, dan lainnya. Bentuk
kerusakan dinilai dalam 3 kategori, yaitu ringan, sedang, dan berat/hilang.

3. Aspek Ekonomi, yaitu perkiraan bentuk-bentuk kehilangan aset dan gangguan
fungsi ekonomi yang rusak atau tidak berfungsi.

4. Aspek Lingkungan, yaitu bentuk kerusakan/gangguan lingkungan hidup, baik
kuantitas maupun kualitasnya. Elemen lingkungan, meliputi air, udara, tanah,
vegetasi dan lainnya.

5. Aspek Layanan Publik/Pemerintahan, yaitu perkiraan gangguan fungsi layanan
publik vital. Layanan publik tersebut meliputi; layanan administrasi pemerintahan
desa/kelurahan/daerah, layanan kesehatan, layanan pendidikan, , layanan ibadah
dan lainnya

38

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Contoh:

A. Aspek Kependudukan

Asumsi jumlah penduduk yang akan terdampak langsung di tiga Kabupaten di Pulau Lombok
berdasarkan Kajian Risiko Bencana Tahun 2020 adalah sekitar 4.093 KK, 20.467 jiwa, terdiri dari
10.457 laki-laki, 12.375 perempuan. Jumlah penduduk terluka sekitar 91 orang, terdiri dari luka
ringan 68 orang, luka berat 23 orang, dan meninggal dunia 3 orang. Sedangkan jumlah wisatawan
domestik terdampak diperkirakan sekitar 1.883 orang dan wisatawan mancanegara sekitar 129
orang (Laporan Pengunjung Gunung rinjani National Park 2020).

Berikut asumsi jumlah penduduk terdampak yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten
Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Utara.

1. Kabupaten Lombok Timur

Asumsi lokasi terparah berada di Kecamatan Sembalun (Desa Sembalun Lawang, Desa Sembalun
Bumbung, Desa Sembalun Timbang Gading, Desa Sembalun), Kecamatan Suela (Desa Bebidas),
Kecamatan Wanasaba (Desa Karang Baru), Kecamatan Aik Mel (Desa Lanek Daya), Kecamatan
Pringgasela (Desa Timba Nuh, Desa Jurit Baru, Desa Pengadangan Barat), Kecamatan Sikur (Desa
Kembang Kuning, Desa Tete Batu, Desa Jeruk Manis, Desa Tete Batu Selatan), Kecamatan Montong
Gading (Desa Perian, Desa Jenggik Utara, Desa Pesanggrahan, Desa Pringgajurang Utara) dengan
jumlah penduduk terancam sebanyak 12.328 atau 16,5% dari jumlah penduduk keseluruhan (16,5%
x 74.370 jiwa). Adapun perkiraan dampak korban yang ditimbulkan sebagai berikut:

Jiwa terancam : 12.328 orang (16,5% dari jumlah penduduk keseluruhan)
Meninggal : 1 orang
Hilang : 3 orang
Mengungsi : 11.173 orang (± 90% dari jumlah jiwa terancam)
Luka berat : 13 orang
Luka ringan : 51 orang

2. Kabupaten Lombok Tengah

Asumsi lokasi terparah berada di Kecamatan Batu Keliang Utara (Desa Karang Sidemen, Desa Lantan,
Desa Aik Berik, Desa Setiling) dan Kecamatan Kopang (Desa Aik Buai, Desa Waje Geseng) dengan
jumlah penduduk terancam sebanyak 6.563 atau 15% dari jumlah penduduk keseluruhan (15% x
43.742 jiwa). Adapun perkiraan dampak korban yang ditimbulkan sebagai berikut:

Jiwa terancam : 6.563 orang (15% dari jumlah penduduk keseluruhan)
Meninggal : 1 orang
Hilang :0
Mengungsi : 5.704 orang (± 87% dari jumlah jiwa terancam)
Luka berat : 7 orang
Luka ringan : 12 orang

3. Kabupaten Lombok Utara

Asumsi lokasi terparah berada di Kecamatan Bayan (Desa Sambik Elen, Desa Loloan, Desa Senaru,
Desa Sukadana, Desa Bayan Baleg),dan Kecamatan Kayangan ( Desa Santong, Desa Sesait,
Gumantar, Selengen, Salut), dengan jumlah penduduk terancam sebanyak 4729 atau ± 15% dari
jumlah penduduk keseluruhan (15% x 31529 jiwa). Adapun perkiraan dampak korban yang
ditimbulkan sebagai berikut:

Jiwa terancam : 1.576 orang (15% dari jumlah penduduk keseluruhan)
Meninggal : 1 orang
Hilang :0

39

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Mengungsi : 4.114 orang (± 87% dari jumlah jiwa terancam)
Luka berat : 3 orang
Luka ringan : 5 orang

2. Aspek Fisik

Berdasarkan skenario erupsi G. Rinjani bahaya primer berupa awan panas, lontaran batu pijar, abu
vulkanik, dan gas beracun diperkirakan mengenai KRB III (3 km dari puncak). Diperkirakan fasilitas
dan sarana prasarana yang terkena adalah fasilitas umum jalur tracking G. Rinjani beserta pos-pos
pendakian. Selain itu, bahaya primer erupsi G. Rinjani lainnya berupa sebaran abu vulkanik (aliran
piroklastik) dan lahar dingin (bahaya sekunder) akan melanda hingga KRB I sejauh 8 kilometer. Hal
ini diperkirakan akan mengancam sarana prasarana serta aset yang berada di wilayah 3 kabupaten,
bahkan dampak abu vulkanik juga dirasakan di seluruh Pulau Lombok sampai ke Pulau Bali dan Jawa
timur. Adapun sarana prasarana yang diperkirakan terkena dampak ikutan bencana erupsi G. Rinjani
adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Proyeksi Sarana Prasarana Terdampak Abu Vulkanik di 3 Kabupaten

No Jenis Kerusakan Terancam (%) Keterangan

1 Prasarana jalan dan jembatan 30 Rusak Ringan

2 Kantor Pemerintahan 30 Rusak Ringan

3 Instalasi Listrik 30 Rusak Ringan

4 Telekomunikasi (BTS) 30 Rusak Ringan

5 Prasarana Transportasi Darat 30 Gangguan operasional

6 Prasarana Transportasi Laut 30 Gangguan operasional

7 Prasarana Transportasi Udara 80 Tidak beroperasi

8 Prasarana Ekonomi (Pasar, Toko, Peternakan, 30 Rusak Ringan

Perikanan, Perkebunan, Pertanian)

9 Penginapan 30 Rusak Ringan

10 Pasar/pertokoan 30 Rusak Ringan

(Rencana Kontingensi G. Api Barujari/Rinjani NTB 2016)

Tabel 2. Proyeksi Sarana Prasarana Terdampak Lahar Dingin di 3 Kabupaten

No Jenis Kerusakan Kerusakan (%) Keterangan

1 Prasarana jalan dan jembatan 45 Rusak Berat

2 Kantor Pemerintahan 35 Rusak Sedang

3 Instalasi Listrik 35 Rusak Sedang

4 Telekomunikasi (BTS) 35 Rusak Sedang

5 Prasarana Sumber Daya Air 45 Rusak Berat

6 Prasarana Ekonomi (Pasar, Toko, Peternakan, 35 Rusak Sedang

Perikanan, Perkebunan, Pertanian)

7 Penginapan 40 Rusak Sedang

8 Pasar/pertokoan 20 Rusak Sedang

(Rencana Kontingensi G. Api Barujari/Rinjani NTB 2016)

Tabel 3. Proyeksi Jembatan Terdampak Lahar Dingin di 3 Kabupaten

No Kabupaten Kecamatan Nama Jembatan Koordinat

1 Lombok Tengah Batu Keliang Utara

2 Lombok Utara Bayan Jembatan Karang Bajo

3 Lombok Timur Aikmel Jembatan Lanek Daya
Pringgasela Jembatan Juri Baru

40

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Jembatan Pengadangan

C. Aspek Ekonomi

Pada sektor ekonomi diperkirakan dampak yang ditimbulkan berupa kerugian baik di bidang
perdagangan, jasa, pariwisata, retail, industri, transportasi, pertanian, perkebunan, perikanan,
hingga hilangnya mata pencaharian masyarakat, menurut data InaRisk diperkiraan total kerugian
bisa mencapai 7,5 M. Untuk total kerugian akibat bandara ditutup selama beberapa hari mencapai
Rp 3 Miliar, terdiri dari kerugian yang dialami maskapai, bandara dan pedagang. Sementara PT
Angkasa Pura I mengalami kerugian mencapai ratusan juta dari airport tax yang diterima.

D. Aspek Lingkungan

Dampak erupsi G. Rinjani juga diperkirakan akan berpengaruh terhadap lingkungan berupa
kerusakan cukup parah pada kondisi air, tanah/lahan, udara, hutan. Berikut skenario dampak yang
ditimbulkan dari erupsi G. Rinjani.

1. Air dalam tanah (sumber mata air berasal dari sungai dan mata air sekitar G. Rinjani)
G. Rinjani merupakan sumber mata air utama bagi Pulau Lombok. Puluhan sungai di Pulau Lombok
berhulu di G. Rinjani. Erupsi G. Rinjani menyebabkan terganggunya stabilitas sumberdaya air
(kuantitas dan kualitas) di Daerah Tangkapan Air (DTA), selain itu juga menyebabkan terganggunya
aliran sungai yang berhulu dari G. Rinjani karena membawa material lahar hujan dan luapan Danau
Segara Anak hingga kawasan permukiman.

2. Udara
30% udara Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur dan kawasan yang dilalui angin akan
tercampur abu vulkanik dengan ketebalan endapan 2-3 mm. Berdasarkan data satelit dan kondisi
lapangan, asap dan abu vulkanik Gunung Barujari berpotensi membahayakan keselamatan
penerbangan. Beberapa bandara dihentikan operasionalnya untuk sementara seperti Bandar Udara
Internasional Lombok (BIL) di Kabupaten Lombok Tengah yang melayani rute penerbangan ke
sejumlah provinsi di Indonesia dan luar negeri, Bandara Selaparang di Mataram yang digunakan
untuk kegiatan pelatihan penerbangan, Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III (Brangbiji)
Kabupaten Sumbawa, Bandar Udara Ngurah Rai di Bali, dan Bandar Udara Internasional
Banyuwangi.

3. Tanah/lahan
Erupsi G. Rinjani diperkirakan berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan manusia termasuk
bidang pertanian. Lahan pertanian penduduk dan vegetasi akan tertutup material erupsi sehingga
menyebabkan kerugian sektor ini. Kandungan pH yang tinggi pada abu vulkanik akan menyebabkan
tanaman rusak dan gagal panen. Dampak lahar dingin terhadap lahan pertanian perlu diwaspadai
karena berpengaruh pada pengurangan kesuburan lahan pertanian akibat tergerus atau tertutup
lahar. Wilayah yang kemungkinan terdampak lahar dingin adalah yang dekat dengan bantaran
sungai diantaranya yang dilewati Kokok Belimbing, Kokok Joga, Kokok Beringin, Kokok Tanggek,
Kokok Putih, Kokok Jelingo, Kokok Sedutan, Kokok Penggolong, Kokok Lenek, Telabah Dasanagung,
Kokok Bubak.

5. Hutan dan Flora Fauna di Taman Nasional Gunung Rinjani
Dengan meningkatnya aktivitas G. Rinjani menyebabkan suhu air danau akan terus meningkat dan
akan mengganggu habitat flora dan fauna di area danau. Selain itu aneka tumbuhan endemik yang
dikenai aliran lava juga akan mengalami kerusakan baik tumbuhan besar maupun kecil.

E. Aspek Layanan Publik/Pemerintahan

Tidak ada

41

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

BAB III. TUGAS POKOK
Bab ini menjelaskan tentang 2 hal, yaitu Tugas Pokok dan Sasaran. Tugas Pokok
merupakan uraian naratif/tabel tugas pokok organisasi komando penanggulangan
darurat bencana di dalam operasi tanggap darurat yang dilakukan dalam
periode/proyeksi waktu operasi yang ditentukan. Sedangkan sasaran merupakan
uraian target pencapaian dari tugas pokok. Sasaran dapat disajikan/dinyatakan dalam
angka atau prosentase.

Tugas pokok menyatakan:
1. Nama organisasi komando
2. Batasan waktu operasi (hari),
3. Tujuan-tujuan operasi, antara lain; a) penyelamatan jiwa; b) penyelamatan aset
warga dan pemerintah; dan c) pemenuhan kebutuhan dasar
pengungsi/penyintas di wilayah terpapar
4. Prinsip-prinsip pelaksanaan operasi

Contoh:
3.1. Tugas Pokok
Komando Penanganan Darurat Bencana Tsunami Kabupaten Malang, melaksanakan operasi
penanganan darurat bencana tsunami dan tugas kemanusiaan selama 30 hari atau dapat
diperpanjang atau dipersingkat sesuai situasi di lapangan, secara cepat dan terpadu untuk evakuasi,
pencarian dan penyelamatan, perlindungan, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak,
pemulihan sarana-prasarana vital, serta mengendalikan situasi darurat.

3.2. Sasaran
1. Tersusunnya rencana operasi penanganan darurat bencana dalam waktu 72 jam
2. Terselenggaranya koordinasi yang melibatkan 5 unsur helix dan 20 desa terdampak.
3. Terlaksananya pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak dengan setidaknya 80%
sumberdaya dan anggarannya bersumber dari DSP dan BTT.
4. Terkerahkan 90% sumber daya dari seluruh pihak terkait yang telah berkomitmen dalam
operasi penanganan darurat bencana.
5. Terselenggaranya 100% evakuasi warga terdampak atau korban.
6. Terlaksananya 100% pelayanan kesehatan untuk warga terdampak atau korban dan
pencegahan mencegah penularan COVID-19 di lokasi bencana.
7. Terselenggaranya 100% pemullihan fungsi sementara (rehabilitasi) sarana-prasarana vital
meliputi jaringan air, listrik, dan komunikasi.
8. Terlaksananya 30 hari operasi penanganan darurat bencana dengan tanggung jawab dan
bertanggung gugat penuh.

42

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

BAB IV. PELAKSANAAN
4.1. Konsep Operasi dan Sasaran Tindakan
Konsep Operasi. Bagian ini memuat tentang definisi operasional dari setiap fase dalam
Tahap Tanggap Darurat dalam perencanaan kontingensi. Fase tersebut meliputi Fase
Siaga Darurat, Fase Tanggap Darurat, dan Transisi Darurat ke Pemulihan.
Sasaran Tindakan. Bagian ini menjabarkan dan merincikan sasaran tindakan atau
target dari setiap fase kedaruratan.

Contoh:

1. Fase Siaga Darurat; serangkaian tindakan penyelamatan awal yang dilakukan segera saat
potensi bahaya terdeteksi, meliputi penyelamatan dan evakuasi, pengamanan harta benda,
pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kelompok rentan dan pengurusan pengungsi.

2. Fase Tanggap Darurat; serangkaian tindakan yang dilakukan segera saat bencana terjadi,
meliputi kaji cepat, layanan pengungsian dan perlindungan untuk menangani dampak buruk
yang ditimbulkan bencana,

3. Fase Transisi Darurat; serangkaian tindakan layanan pengungsian dan perlindungan serta
pengelolaan data perencanaan rehabilitasi-rekonstruksi

Fase Siaga Darurat Fase Tanggap Darurat Fase Transisi Darurat
1…….. 1…….. 1……..
2…….. 2…….. 2……..
dst……. dst……. dst…….

Sasaran Tindakan Sasaran Tindakan
Fase 1 Tersedianya material, tim dan jadwal pelaksanaan diseminasi

Siaga Darurat sistem peringatan dini banjir bandang di kawasan berisiko
2 Terdesiminasinya sistem peringatan dini banjir bandang kepada
Tanggap Darurat
masyarakat di kawasan berisiko
3 Masyarakat di kawasan berisiko mengetahui Sistem Peringatan

Dini (SPD) banjir bandang dan memiliki perencanaan evakuasi
4 Tersedianya Surat Keputusan Bupati tentang Status Siaga Darurat

Bencana
5 Terselenggaranya jejaring SPD banjir bandang
6 Masyarakat di kawasan berisiko melakukan evakuasi

penyelamatan nyawa dan harta benda
7 Terselenggaranya pemenuhan kebutuhan dasar dan perlindungan

sosial penyintas
1 Terselenggaranya kaji cepat di kawasan terdampak banjir

bandang

43

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Transisi Darurat ke 2 Tersedianya data hasil kaji cepat yang diperbaharui setiap hari
Pemulihan
3 Tersedianya Surat Keputusan Bupati tentang Status Tanggap
Darurat Bencana

4 Terselenggaranya rapat penyusunan rencana operasi

5 Tersedianya rencana operasi PDB Banjir Bandang

6 Terbentuknya SKPDB banjir bandang Kabupaten Bima

7 Terselenggaranya posko PDB banjir bandang

8 Terselenggaranya pemenuhan kebutuhan dasar dan
perlindungan sosial penyintas

9 Terselenggaranya pengamanan aset penyintas di kawasan
rawan bencana

1 Diterbitkannya Keputusan Bupati tentang Status Transisi Darurat
Ke Pemulihan

2 Berfungsinya sementara sarana-prasarana layanan publik

3 Pengakhiran status dari transisi darurat ke pemulihan yang
dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi.

4.2. Struktur Organisasi Komando
Menggambarkan fungsi-fungsi dalam struktur organisasi penanggulangan kedaruratan
bencana

44

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Contoh:

4.3. Kegiatan Pokok
Bagian ini merupakan penjabaran kegiatan utama untuk mencapai Sasaran Tindakan.

Untuk mencapai seluruh sasaran tindakan, organisasi menurunkan setiap pekerjaan
dari masing-masing fungsi dalam bentuk kegiatan-kegaitan yang harus dijalankan
setiap Fungsi dan bidang/unit dibawahnya. Pastikan bahwa seluruh tindakan yang
ditetapkan sebagai sasaran operasi dapat tercapai.

Agar nanti perencanaan dan operasi benar-benar (nyata) dapat dilaksanakan, maka
kegiatan-kegiatan harus disusun sebagai strategi-taktis penanganan kedaruratan
bencana – terutama pada fungsi operasi. Kegiatan dapat dikelompokkan menjadi
kegiatan prioritas dan kegiatan-kegiatan lain, dimana kegiatan prioritas dirancang
berdasarkan kemampuan sumberdaya yang tersedia.

Contoh: KEGIATAN POKOK
TINDAKAN Kegiatan 1.1. ……………………
TIndakan 1 ……………………. Kegiatan 1.2. ……………………
dst

45

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

TIndakan 2. …………………… Kegiatan 2.1. ……………………
dst Kegiatan 2.2. ……………………
dst

Contoh Kegiatan Pokok.

1. Melakukan kajian pemenuhan kebutuhan penanganan darurat bencana berdasarkan hasil
kaji cepat dan rencana kontingensi;

2. Mengkoordinasikan instansi/lembaga terkait;
3. Mengendalikan pelaksanaan penanganan darurat bencana;
4. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan penanganan darurat bencana;
5. Melaksanakan manajemen informasi pelaksanaan penanganan darurat bencana;
6. Menyusun rencana kegiatan operasi penanganan darurat bencana;
7. Melakukan kajian awal upaya/rencana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi;

46

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

4.4. Tugas-Tugas
Bagian ini memuat dan merincikan tugas-tugas dari setiap fungsi/bidang/subbidang

Contoh: Penjabaran Tugas Pelaksana Penjabaran Tugas
Fungsi Sub-Bidang/ Unit/

Seksi

1. Komando, …………………… Komando, Kendali, ……………………
Kendali, Koordinasi,
Koordinasi, Komunikasi dan
Komunikasi dan Informasi
Informasi

Sekretariat dan ……………………

Hubungan Masyarakat

(Humas)

Keamanan dan ……………………
Keselamatan

Penghubung ……………………

(perwakilan institusi)

2. Administrasi …………………… …………………… ……………………
dan Keuangan

3. Perencanaan …………………… …………………… ……………………

…………………… ……………………

…………………… ……………………

4. Operasi …………………… …………………… ……………………
…………………… ……………………
5. Logistik …………………… …………………… ……………………
…………………… ……………………
…………………… ……………………
…………………… ……………………

Fungsi Uraian Fungsi/Keterangan

Koordinasi dan  Pelaporan seluruh kegiatan PDB kepada Pos Komando.
Pelaporan  Pengkoordinasian kepada Pos Komando serta Pengawasan aktivitas penanganan

Koordinasi dan bencana di Pos Lapangan.
Pelaporan
 Membantu koordinator dalam penyusunan laporan seluruh kegiatan PDB
kepada Pos Komando

 Membantu Koordinator dalam pengkoordinasian kepada Pos Komando serta
Pengawasan aktivitas penanganan bencana di Pos Lapangan.

47

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

Administrasi  Pelaksanaan fungsi tatakelola administrasi yang memenuhi prinsip akuntabilitas

dalam PDB di tingkat Pos Lapangan.
 Penyiapan wadah untuk saran, masukan, dan aduan dari masyarakat di tingkat

Unit Pos Lapangan

Koordinasi  Pengkoordinasian kegiatan Evakuasi, Perlindungan dan Pengungsi Kepada Pos

Komando.
 Pelaksanaan Evakuasi, Perlindungan dan Pengungsi di Pos Lapangan.
 Penyiapan ruang isolasi dan identifikasi bagi korban bencana.
 Pelibatan dan pengkoordinasian dengan Forum PRB dan kelompok-kelompok

siaga bencana di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa.

Pengumpulan dan  Penyiapan tempat dan penampungan sementara logistik.
Penyimpanan  Pendistribusian logistik ke masyarakat terdampak.
Logistik  Pencatatan keluar masuk logistikdari penampungan sementara.

Penyediaan  Koordinasi Penyediaan hunian dan bantuan non pangan.
 Pelaporan

Layanan  Koordinasi Penyediaan layanan air bersih, sanitasi hunian dan layanan

kesehatan.
 Pelaporan

Pengamanan dan  Pengamanan dan penertiban lingkungan.
Ketertiban  Pengamanan evakuasi tanggap darurat dan distribusi bantuan logistik kepada

pengungsi.
 Mengkoordinir masyarakat yang tergabung dalam bidangpengamanan.
 Pelibatan Forum PRB dan kelompok- kelompok siaga bencana di tingkat

kabupaten, kecamatan dan desa

4.5. Instruksi Koordinasi
Memuat arahan/perintah/pokok-pokok mandat kepada organisasi komando
penanganan darurat bencana yang diberikan oleh otoritas, atau komandan kepada
seluruh fungsi/sub-bidang/unit dalam organisasi. Tujuanya adanya instruksi koordinasi
untuk menggerakkan seluruh ’sistem’ atau kesatuan tatalaksana organisasi
penanggulangan kedaruratan bencana ini.

Contoh:

Instruksi Koordinasi

1. Pengkajian Cepat Akibat Bencana Tsunami.

BPBD Kabupaten Malang melakukan pengkajian cepat untuk menilai akibat langsung dari bencana
Tsunami Akibat Gempabumi Megathrust Jawa Timur. Pengkajian dilakukan dengan pengumpulan
data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan menugaskan dan mengerahkan Tim Reaksi
Cepat ke lokasi terdampak bencana. Data sekunder dihimpun dari pelaporan, media massa,
instansi/lembaga terkait, masyarakat, internet, dan informasi lainnya yang relevan. Lingkup kaji
cepat meliputi:

• Apa : jenis bencana
• Bilamana : hari, tanggal, bulan, tahun, jam, waktu setempat
• Di mana : tempat/lokasi/daerah bencana

48

Pedoman Perencanaan Kontingensi 5.0

• Berapa : jumlah korban, kerusakan sarana dan prasarana
• Penyebab : penyebab terjadinya bencana
• Bagaimana : upaya yang telah dilakukan

2. Penetapan Status / Tingkat Bencana

Bupati Kabupaten Malang menetapkan Status Darurat Bencana Tsunami Kabupaten Malang dengan
mempertimbangkan:

a. Laporan BPBD Kabupaten Malang atas hasil pengkajian cepat Tsunami Akibat Gempabumi
Megathrust Jawa Timur.

b. Pertimbangan para pihak dalam forum rapat dengan instansi/lembaga/organisasi.
c. Penerbitan Surat Keputusan Bupati tentang Status Darurat Bencana Kabupaten Malang.

 Surat Keputusan Bupati sekaligus sebagai keputusan mengaktivasi rencana kontingensi
operasi penanganan kedaruratan, melalui pemutakhiran atau penyesuaian situasi dan
dampak kejadian yang ada, menjadi Rencana Operasi Penanganan Darurat Bencana.

 Dalam Surat Keputusan Bupati sekaligus menegaskan keputusan aktivasi Sistem
Komando Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Malang dan personil-personil yang
diberi mandat sebagai pengampu tugas pendukungan penanganan kedaruratan
bencana Tsunami Akibat Gempabumi Megathrust Jawa Timur.

 Dalam Surat Keputusan Bupati sekaligus memastikan dan menegaskan pemerintah
kabupaten merupakan pengampu utama penanganan kedaruratan melalui Sistem
Komando Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Malang dan Pos Komando
Kabupaten Malang.

 Dalam Surat Keputusan Bupati sekaligus memastikan penggunaan relokasi anggaran
Pemerintah Daerah Kabupaten Malang untuk penanganan kedaruratan bencana.

3. Penyusunan Rencana Operasi
Penyusunan Rencana Operasi Penanganan Kedaruratan Bencana berdasarkan Rencana Kontingensi
yang disesuaikan dengan intensitas dampak langsung bencana.

4. Penyelenggaraan Operasi Penanganan Kedaruratan Bencana Tsunami Akibat Gempabumi
Megathrust Jawa Timur, meliputi:

 Pengerahan sumberdaya Provinsi Jawa Timur
 Aktivasi Pos Lapangan
 Aktivasi Jaringan Komunikasi
5. Pengorganisasian Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Malang.

BAB V. ADMINISTRASI DAN LOGISTIK
Bab ini memuat kebijakan, mekanisme atau strategi pemenuhan kebutuhan logistik
yang digunakan dalam melaksanakan operasi, termasuk pembagian peran dan
tanggung jawab Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional terkait pembiayaan atau
pengerahan sumberdaya untuk penanggulangan kedaruratan bencana.

5.1. Administrasi
Bagian ini menjabarkan mekanisme administrasi dan keuangan dalam penanganan
kedaruratan.

49


Click to View FlipBook Version