1
Buku Konseling
Muhammad Hamdan Luthfi
Mahasiswa Uin Sunan Ampel Surabaya
2022
APPRAISAL KONSELING
Cetakan ke 1
Surabaya, 2022
Penulis
Kelompok 1, Kelompok 2, Kelompok 3, Kelompok 4, Kelompok 5, Kelompok 6, Kelompok 7
(Kelompok Mata Kuliah Appraisal Konseling)
Desain Cover
Muhammad Hamdan Luthfi
Penata Letak
Muhammad Hamdan Luthfi
Pembimbing
Mohamad Thohir, S.Pd.I., M.Pd.I
Penyusun
Muhammad Hamdan Luthfi
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas berkah, rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Buku Appraisal Konseling ini dengan
baik. Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang
menuntun umat dari alam gelap gulita menuju alam terang benderang.
Penyusun sangat berterima kasih kepada Dosen Pembimbing Bapak Mohamad
Thohir, S.Pd.I., M.Pd.I yang telah membimbing dalam pengerjaan Buku ini sehingga dapat
terselesaikan dengan baik. Adapun isi dari buku yang penyusun buat ini dikutip dari beberapa
buku ataupun juga situs-situs internet yang berhubungan dengan pembahasan materi makalah
ini. Namun, penyusun sangat menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 1
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 2
BAB I PENGERTIAN PRINSHIP DAN DATA APPRAISAL KONSELING.............. 3
A. Pengertian Appraisal.................................................................................................. 4
B. Appraisal Bk .............................................................................................................. 4
C. Tujuan Dan Manfaat Appraisal Bk ............................................................................ 4
D. Prinsip-Prinsip Dalam Appraisal ............................................................................... 5
E. Data Yang Dikumpulkan Dalam Appraisal ............................................................... 7
BAB II TAHAPAN APPRAISAL KONSELING ............................................................. 10
A. Pengertian Tahapan Appraisal Konseling.................................................................. 11
B. Tahap Perencanaan Appraisal Konseling .................................................................. 11
C. Tahap Pelaksana Appraisal Konseling....................................................................... 13
D. Tahap Analisis Data Appraisal Konseling................................................................. 13
E. Tahap Interpretasi Appraisal Konseling .................................................................... 14
BAB III APPRAISAL NON TEST OBSERVASI ............................................................ 15
A. Observasi.................................................................................................................... 16
B. Catatan Anekdot......................................................................................................... 18
C. Skala Penilaian........................................................................................................... 19
BAB IV APPRAISAL NON TEST ASESMENT BK ....................................................... 20
A. Pengertian Asesmen Non Test ................................................................................... 21
B. Angket........................................................................................................................ 24
C. Pertanyaan Tertutup ................................................................................................... 27
BAB V APPRAISAL NON TEST WAWANCARA ......................................................... 30
A. Pengertian Wawancara............................................................................................... 31
B. Macam-Macam Wawancara ...................................................................................... 31
C. Langkah-langkah dalam Melakukan Wawancara ...................................................... 34
D. Jenis Pertanyaan dalam Proses Wawancara............................................................... 34
E. Proses Perencanaan dalam Wawancara ..................................................................... 35
F. Kelebihan dan Kekurangan Wawancara .................................................................... 37
BAB VI APPRAISAL NON TEST SOSIOMETRI .......................................................... 39
A. Sosiometri .................................................................................................................. 40
B. Studi Kasus ................................................................................................................ 43
BAB VII AUTOBIOGRAFI DAN KARTU PRIBADI..................................................... 47
A. Pengertian Autobiografi............................................................................................. 47
B. Tujuan, Ciri-ciri ......................................................................................................... 47
C. Pengertian Kartu Pribadi............................................................................................ 48
D. Pengertian Kunjungan Rumah ................................................................................... 48
E. Tujuan Kunjungan Rumah......................................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 52
2
3
A. PENGERTIAN APPRAISAL
Dalam bimbingan dan konseling secara sederhana dapat diartikan sebagi kegiatan
penilaian dan penaksiran oleh seorang konselor (yang sudah ahli) terhadap konseli yang
meliputi berbagai kondisi pribadi, keluarga dan lingkungan sekitarnya dalam rangka
membantu pelaksanaan layanan-layanan bimbingan dan konseling.
Appraisal merupakan layanan pengumpulan data yakni suatu usaha yang dilakukan oleh
konselor untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan selengkap mungkin tentang
diri individu dan lingkungan yang relevan dengan keperluan pengembangan individu.
Kegiatan layanan pengumpulan data ini merupakan tahapan awal yang perlu dilakukan
dalam mendukung suksesnya kegiatan bimbingan dan konseling. Layanan ini dimaksudkan
untuk mengumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan segala aspek kepribadian dan
kehidupan individu serta keluarga yang dilanjutkan dengan kegiatan menganalisis dan
menafsirkannya
B. APPRAISAL BK
Menurut W.S Winkel, apparsial dalam bimbingan konseling ialah suatu usaha untuk
memperoleh data tentang individu, menganalisis, dan menafsirkan data serta menyimpan
data tersebut.1Sedangkan Dewa Ketut Sukardi mengemukakan bahwa apparsial dalam
bimbingan konseling merupakan layanan pengumpulan data atau dapat dikatakan sebagai
suatu usaha yang dilakukan oleh konselor untuk memperoleh informasi sebanyak dan
selengkap mungkin tentang diri konseli dan lingkungan yang relevan dengan keperluan
pengembangan individu.2 Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa apparsial konseling adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh konselor untuk memperoleh data dan informasi tentang
konseli meliputi berbagai kondisi pribadi, keluarga dan lingkungan sekitar konseli, dimana
data tersebut digunakan untukdianalisis dan ditafsirkan serta disimpan oleh konselor.
C. TUJUAN DAN MANFAAT APPRAISAL BK
Selanjutnya, Cormier dan Cormier mengemukakan bahwa terdapat enam tujuan
appraisal konseling, yaitu: 3 (1) mendapatkan informasi secara menyeluruh mengenai
permasalahan yang diungkapkan oleh konseli dan permasalahan lain yang terkait, sehingga
individu bisa lebih menyadari apa yang sedang dialaminya dan termotivasi untuk mengatasi
1 W.S. Winkel, Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 1991)
2 Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah (Jakarta: Rineka Cipta, 1995)
3 Nurul Wahidah, Cucu Cuntini, and Siti Fatimah, “Peran dan Aplikasi Assessment dalam Bimbingan dan
Konseling,” Fokus: Kajian Bimbingan & Konseling Dalam Pendidikan 2, no. 2 (2019): 25–36
4
masalahnya; (2) mengenali variabel pengontrol dan pengkontribusian yang berhubungan
dengan permasalahan yang dialami konseli; (3) menentukan apa yang menjadi
tujuan/harapan konseli setelah melewati proses konseling; (4) mengumpulkan data dasar
yang akan dibandingkan dengan data berikutnya untuk menilai progres dan mengevaluasi
kemajuan konseli serta efek dari strategi treatment yang digunakan; (5) mengedukasi dan
memotivasi konseli dengan membagi sudut pandang konselor mengenai situasi yang dialami
konseli, meningkatkan penerimaan konseli terhadap treatment dan berkontribusi pada
perubahan yang merupakan hasil dari terapi; dan (6) menggunakan informasi yang didapat
dari konseli untuk merencanakan cara dan strategi treatment yang efektif.
Appraisal konseling sangat bermanfaat dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling serta dapat juga dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tindak lanjut penilaian
maupun layanan selanjutnya. Dengan melakukan appraisal konseling, konselor dapat
menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi konseli, sehingga konseli
bersedia mengikuti proses konseling dengan perasaan nyaman tanpa terkesan terpaksa. Hal
ini juga diperlukan untuk menghindari kesalahan yang dapat menghambat saat proses
konseling.4
D. PRINSIP-PRINSIP DALAM APPRAISAL
Pengumpulan data (appraisal) yang bermutu perlu diselenggarakan secara
berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu, bersifat tertutup dan bermanfaat.
• Berkelanjutan atau kontinyu
Pengumpulan data harus dilaksanakan menurut suatu pola perencanaan dalam
rangka keseluruhan program bimbingan dan konseling dari jenjang tertentu sampai
jenjangberikutnya. Dengan demikian, individualitas seorang konseling menjadi tampak
utuhbersama dengan perkembangannya.
• Sistematik
Berarti proses pengumpulan data terdiri atas beberapa bagian yang saling terkait
untuk mencapai satu tujuan. Dalam pengumpulan data, konselor menggunakan berbagai
macam alat pengumpul data sesuai dengan karakter data yang ingin dihimpun. Berbagai
macam alat pengumpul data tersebut saling terkait satu dengan yang lain dan menjadi
satu
kesatuan dalam menangani permasalahan individu.
4 Maftuhatur Anis, Artikel Appraisal Konseling: “Konsep Dasar dan Teknik Nontes Dalam Appraisal Konseling”,
Surabaya, Oktober 2021
5
• Komprehensif dan terpadu
Berarti bahwa seharusnya pengumpulan data terhadap konseli tidak hanya
mengandalkan satu alat saja, tetapi sebaiknya menggunakan alat tes dan non-tes secara
terpadu dan saling melengkapi karena ada data yang hanya dapat diambil dengan teknik
tesdan ada data yang hanya dapat diambil Melalui teknik non-tes.
• Bersifat tertutup
Artinya bahwa hasil pengumpulan data harus dijaga kerahasiaannya dan
dipergunakan hanya atas kesediaan dan izin dari konseli serta tidak dipergunakan untuk
membuka aib konseli. Data konseli yang sampai bocor atau terdengar ke pihak lain yang
tidak berwenang lalu kemudian membuat konseli malu akan dapat menyebabkan
konselingtrauma (kapok) dalam mengikuti proses bimbingan dan konseling.
• Bermanfaat
Artinya bahwa pengumpulan data harus dapat memberi keuntungan kepada
konselidan mampu mendukung kepentingannya. Data yang dikumpulkan, disimpan dan
ditafsirkan sejauh yang dibutuhkan demi peningkatan diri individu. Pengumpulan data
seharusnya dilakukan bukan karena alasan administratif atau menghabiskan program
sehingga data yang menumpuk di lemari ruang konseling yang tidak memberikan
perubahan signifikan bagi konseli.5
Shertzer mengemukakan prinsip-prinsip appraisal (termasuk tes)[13] sebagai berikut:
1. Penilaian haruslah dilakukan bagi kepentingan individual.
2. Penilaian tidak dicapai pada jumlah dan derajat kebutuhan yang sama pada tiap-tiap
konseli pada waktu yang sama pula.
3. Tidak ada metode atau pemilihan tes tunggal dan prosedur yang sama pada tiap-tiap
situasi.
4. Praktek penilaian mencakup antara pelajar individu dan lingkungan mereka.
5. Penilaian membantu individu secara bersama-sama, tidak terpisah-pisah pada tahap-
tahapnya.
6. Mengakui keterbatasan pengukuran penilaian.
7. Tujuan dasar penilaian untuk meningkatkan pemahaman diri dan pengambilan
keputusan.
5 W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Insitusi Pendidikan, (Jakarta:Grasindo, 1991), hal 226
6
8. Data penilaian harus dijaga di administrasikan dan diamankan dengan baik.6
E. DATA YANG DIKUMPULKAN DALAM APPRAISAL
Kegiatan pengumpulan data dalam appraisal dimaksudkan untuk menghimpun
berbagai informasi dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan konseli
dalam berbagai aspeknya. Data yang berhasil dikumpulkan selanjutnya dimanfaatkan
sebesar- besarnya dalam kegiatan layanan sesuai dengan kebutuhannya.
Data yang dihimpun ketika appraisal dalam bimbingan dan konseling di sekolah antara lain:
data pribadi konseli, keluarga, sosial, budaya, agama, status ekonomi, prestasi, kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, ketahanan terhadap masalah,
ketekunan, dan sebagainya.7
Informasi dan data yang lengkap tentang konseli akan membantu guru BK atau konselor
dalam proses bimbingan dan konseling. Data yang dihimpun dapat berupa data pribadi
individu dan data lain yang terkait dengan konseli. Secara umum data yang diperlukan oleh
guru BK atau konselor pada kegiatan appraisal dalam bimbingan dan konseling[15] antara
lain:
Data tentang diri individu
a. Bakat khusus
Yakni kemampuan untuk mencapai prestasi tinggi di bidang tertentu saja. Alat tes yang
digunakan untuk mengetahui data ini adalah tes bakat khusus. Adapun alat non tes yang
digunakan adalah kartu pribadi yang memuat kolom dan informasi tentang hasil evaluasi
belajar di sekolah, yang memberikan indikasi tentang prestasi yang lebih tinggi pada bidang-
bidang tertentu, dan salinan buku rapor dari sekolah.
b. Riwayat pendidikan
Data ini meliputi jenjang jenjang pendidikan yang telah ditempuh oleh individu, dalam
waktu berapa lama pendidikan ditempuh, dimana dan pada tahun ke berapa masuk dan
keluarnya, dan keterangan mengenai kesulitan-kesulitan belajar yang pernah dialami. Alat
yang digunakan dalam appraisal ini dapat berupa angket tertulis, wawancara, autobiografi
dan kartupribadi.
c. Tingkat prestasi studi
6 Bruce Shertzer and Shelley C. Stone, Foundamentals of guidance, (Boston:Houghton Mifflin Company, 1981),
hal. 264-265
7 Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling dakam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung:Raflika
Aditama, 2006), hal. 19
7
Data ini menggambarkan prestasi dalam studi atau nilai pelajaran yang telah ditempuh yang
mempunyai relevansi bagi perencanaan pendidikan lanjutan dan jenis pekerjaan kelak
setelahselesai masa pendidikan. Alat tes yang digunakan adalah tes hasil belajar yang telah
distandarisasi. Alat non tes yang digunakan antara lain: kartu pribadi yang membuat kolom
prestasi dan salinan buku rapor.
d. Taraf kemampuan intelektual atau akademik
Yakni kemampuan individu untuk mencapai prestasi akademik di institusi pendidikan yang
erat kaitan nya dengan kemampuan berfikir otak. Alat tes yang dapat digunakan untuk
mengukurnya adalah tes inteligensi. Adapun saat non tes yang dapat digunakan untuk
melihatkemampuan intelektual konseli adalah kartu pribadi dan salinan buku rapor.
e. Minat studi dan bidang pekerjaan tertentu
Yakni kecenderungan individu untuk tetap tertarik secara kontinyu pada bidang tertentu.
Alat tes yang dapat digunakan adalah tes minat. Alat non tes antara lain angket tertulis,
wawancara,dan kartu pribadi.
f. Pengalaman di luar sekolah
Yakni kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh individu di luar sekolah yang meliputi kegiatan
organisasi kepemudaan dan pengalaman kerja. Alat non tes yang digunakan angka tertulis,
wawancara, otobiografi dan kartu pribadi
g. Ciri-ciri kepribadian
Adalah sifat, temperamen, karakter, corak, kehidupan emosional, nilai-nilai kehidupan yang
dijunjung tinggi, kadar pergaulan dengan sesama teman, sikap dalam menghadapi
permasalahan dalam berbagai bidang kehidupan dan taraf kesehatan mental. Alat tes yang
digunakan adalah tes kepribadian. Alat non tes yang digunakan adalah laporan anekdot,
skala penilaian, angket, sosiometri, autobiografi, studi kasus, laporan kunjungan rumah,
kartu pribadi.
h. Kesehatan jasmani
Yakni kegiatan kesehatan individu pada umumnya, gangguan pada alat alat indera, dan
penyakit serius yang pernah diderita. Data kesehatan jasmani pada individu berkaitan
dengan kelancaran studi di sekolah dan untuk dikaitkan dengan rencana masa depan. Alat
pengumpul data teknik non tes yang dapat digunakan adalah angket/kuesioner, wawancara,
laporankunjungan rumah, kartu pribadi, autobiografi dan laporan petugas kesehatan/dokter.
Data tentang lingkungan individu
a. Latar belakang keluarga
8
Data yang dikumpulkan meliputi data tentang keadaan orang tua, taraf pendidikan orang tua,
jumlah saudara kandung dan saudara yang lain, taraf pendidikan saudara, taraf
perekonomian keluarga, dan suasana kehidupan dalam keluarga. Alat yang digunakan dalam
appraisal ini berupa angket tertulis, wawancara, laporan kunjungan rumah, autobiografi,
studi kasus dan kartu pribadi.
b. Lingkungan teman sebaya
Data lingkungan teman sebaya meliputi data yang berupa dengan siapa saja biasanya
individuberteman dan bermain, aktivitas aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan bersama
teman- temannya di lingkungannya dan bagaimana sikap teman-teman sebayanya kepada
individu tersebut. Pengumpulan data di lingkungan teman sebaya dapat dilakukan dengan
menggunakanteknik wawancara, angket dan observasi.
c. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah meliputi kondisi dan suasana sekolah, jarak antara sekolah dengan
rumahkonseli, jumlah konseli di sekolah, fasilitas yang tersedia di sekolah, pencahayaan di
kelas selama pembelajaran, dan bagaimana suasana persaingan antar teman serta pertemanan
di sekolah. Pengumpulan data dapat menggunakan wawancara, observasi, tes hasil prestasi,
nilairapor.
d. Lingkungan pekerjaan
Data pada lingkungan pekerjaan meliputi jenis pekerjaan individu yang meliputi berat dan
ringannya pekerjaan, suasana atau kompetisi di tempat kerja, lama waktu dalam bekerja,
fasilitas ditempat kerja dan sistem komunikasi antar pekerja.8
8 8 Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Jakarta Rineka Cipta, 1995), hal. 77-80
9
10
A. Pengertian Tahapan Appraisal Konseling
Appraisal merupakan salah satu layanan Bimbingan dan yang sekaligus menjadi salah
satu layanan bimbingan. Komponen ini mencakup usaha-usaha untuk memperoleh data
tentang siswa dan mahasiswa, menganalisis dan menafsirkan data, serta menyimpan data itu.
Dewa Ketut Sukardi mengemukakan bahwa apparsial dalam bimbingan konseling merupakan
layanan pengumpulan data atau dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh
konselor untuk memperoleh informasi sebanyak dan selengkap mungkin tentang diri konseli
dan lingkungan yang relevan dengan keperluan pengembangan individu.2
Appraisal konseling sangat bermanfaat dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling serta dapat juga dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tindak lanjut penilaian
maupun layanan selanjutnya. Dengan melakukan appraisal konseling, konselor dapat
menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi konseli, sehingga konseli
mengikuti proses konseling dengan perasaan nyaman tanpa terkesan terpaksa. Hal ini juga
diperlukan untuk menghindari kesalahan yang dapat menghambat saat proses
konseling.Penerapan appraisal ini harus dilakukan sesuai dengan prosedur. Dengan begitu,
data yang didapatkan akan sesuai dengan informasi yang ingin digali. Adapun tahapan yang
perlu dilakukan yakni perencanaan, pelaksanaan, analisis data, serta interpretasi data.
B. Tahap Perencanaan Appraisal Konseling
Perencanaan merupakan proses awal sebelum masuk dalam proses pelaksanaan
program yang disusun secara sistematis, terorganisir dan terkoordinasi dalam jangka waktu
tertentu, yaitu harian, mingguan, bulanan, dan satu tahunan Perencanaan program layanan
BK yang dilaksanakan secara optimal juga melibatkan semua pihak. Aspek-aspek yang perlu
diperhatikan oleh seorang konselor dalam tahap perencanaan antara lain:
1) Pemilihan data
Salah satu penentu keberhasilan dalam bimbingan dan konseling adalah
kemauan dan kemampuan konseli sendiri Dalam konseling. keputusan akhir untuk
pemecahan masalah berada di tangan konseli Konselor bukan penasehat dan bukan
pula pengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan oleh konseli dalam
memecahkan masalahnya. Demi keberhasilan proses bimbingan dan konseling,
konseli dapat bekerjasama dengan konselor untuk memecahkan masalahnya. Dengan
bantuan konselor, konseli diharapkan mampu memunculkan ide-ide pemecahan
masalah, memiliki keberanian dan kemampuan mengambil keputusan, mampu
memahami diri sendiri dan mampu menerima dinnya sendiri. Berdasarkan hal
tersebut di atas, seorang konselor perlu menentukan dan memfokuskan pengumpulan
data pada salah satu atau beberapa aspek yang paling relevan dengan pemecahan
masalah pada din konseli individu. Pemilihan data yang ingin dihimpun akan
memudahkan pemilihan instrumen dan penyiapan item item dalam instrumen Ketika
menggunakan teknik tes tujuan pemilihan data akan menentukan jenis tes, misalnya
tes prestasi berbeda dengan tes inteligensi.
2) Pemilihan Instrumen
Setelah menentukan dan menfokuskan aspek yang dihimpun datanya, seorang
konselor selanjutnya dapat memilih alat-alat instrumen pengumpulan data yang
paling tepat serta dapat mengadakannya sesuai dengan kebutuhan Pemilihan
instrumen untuk diberikan pada situasi tertentu dapat dilakukan dengan
memperhatikan dengan tepat tingkat validitas, realibilitas dan kepatutan
11
(appropriateness) dalam instrumen tersebut. Hal ini cukup beralasan, mengingat
bahwa secara umum validitas, realibilitas dan keterkaitan instrumen dengan beberapa
isu yang ada, akan menjadi pertanyaan tersendiri bagi para konselor baik dari sisi
legal maupun etikanya ketika mereka hendak mempergunakan instrumen atau tes-tes
tersebut dalam usaha layanan vokasional, seleksi pendidikan, penempatan atau
konseling itu sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih instrumen yang
tepat dalam appraisal yaitu :
a) Kemampuan Konselor Sendiri dalam Menggunakannya
Sebagus apapun instrumen yang akan dipakai dalam kegiatan appraisal, kalau
konselor tidak menguasai prosedurnya tentu tidak akan dapat menghimpun
data secara maksimal. Konselor yang tidak mempunyai kemampuan dapat
bekerjasama dengan ahli lain yang lebih berkompeten dalam appraisal.
b) Kewenangan Konselor
Beberapa konselor mempunyai kewenangan yang berbeda-beda sesuai dengan
bidang keahlian dan izin yang diperolehnya dalam melakukan penilaian atau
tes. Tidak semua konselor mampu mengadministrasi data, menganalisis data
dan menafsirkannya. Oleh karena itu, kewenangan konselor perlu diperhatikan
dalam tahap perencanaan pengumpulan datanya sampai konselor melakukan
tahapan yang bukan kewenangannya.
c) Ketersediaan Instrumen
Dalam kegiatan pengumpulan data tidak semua instrumen mudah didapatkan,
misalnya Instrumen tes. Tidak banyak lembaga yang mempunyai instrumen
tes dan kalaupun ada lembaga yang punya untuk mendapatkannya diperlukan
syarat tertentu. Oleh karena itu perencanaan appraisal juga perlu
mempertimbangkan instrumen yang paling relevan dengan aspek yang digali
dan mudah didapat atau tersedia dengan mudah.
d) Ketersediaan Waktu
Jika misalnya konselor mempuyai waktu yang sempit, maka penggunaan angket
lebih cepat dari pada wawancara terhadap konseli. Pemilihan instrumen
dengan mempertimbangkan waktu akan dapat memudahkan pengumpulan
data.
e) Ketersediaan Dana
Beberapa instrumen memerlukan dana yang besar dan instrumen lain hanya
membutuhkan dana yang kecil. Konselor perlu mempersiapkan data yang
sesuai dengan kebutuhan appraisal agar menggunakan Instrumen yang sesuai
sehingga mendapat informasi yang relevan. Jangan sampai hanya karena tidak
mampu mengadakan Instrumen yang mahal, lalu konselor memakai instrumen
seadanya yang tidak relevan dengan tujuan pengumpulan data.
3) Penetapan Waktu
Kapan appraisal dilakukan juga harus direncanakan dengan sebaik baiknya.
Penetapan waktu appraisal erat sekali kaitannya dengan keberhasilan pelaksanaan
appraial. Dengan adanya penetapan waktu, maka akan membantu dalam
mempersiapkan Instrumen, tempat waktu pengadministrasian, dan analisis serta
Interpretasi data.Penetapan waktu menjadi sesuatu yang penting, karna konselor
tidak selalu bekerja sendirinian yang bisa menggunakan waktu sesukanya, apalagi
jika konselor harus bekerjasama dengan orang lain, misalnya psikolog yang
mempunyai kewenangan dalam tes psikologi, inteligensi, inventori kepribadian dan
tes minat.
4) Validitas dan Reliabilitas
Apabila instrumen yang digunakan oleh guru BK adalah buatan sendiri atau
12
dikembangkan sendiri, maka instrumen itu perlu diuji validitas dan reliabilitasnya,
karena syarat mutlak dari instrumen appraisal adalah valid dan reliabel. Namun
apabila, konselor menggunakan instrumen yang sudah terstandar, maka tidak perlu
lagi dipermasalahkan karena dimungkinkan akan dapat mengumpulkan data dengan
lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya.
C. Tahap Pelaksanaan Appraisal Konseling
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan appraisal yaitu bahwa pelaksanaannya
harus sesuai dengan aturan yang seharusnya pada masing-masing instrumen. Pelaksanaan
yang asal-asalan dan tidak mengikuti prosedur bisa saja memungkinkan data yang terkumpul
tidak valid. Aturan instrumen dalam pelaksanaan appraisal dalam bimbingan dan konseling
biasanya memuat beberapa hal yaitu antara lain :
1. Tata Cara Mengerjakan Instrumen
Pada teknik tes, tata cara mengerjakan instrumen disertakan untuk memandu penyelenggara
maupun individu yang dites. Pada teknak non-tes, tata cara mengerjakan instrumen bisa berisi
tahapan-tahapan yang harus dijalani oleh konselor dalam proses pengumpulan data.
2. Waktu yang Digunakan untuk Mengerjakan atau yang Diperlukan dalam Appraisal
Beberapa tes psikologi mengharuskan testee (orang yang dites) untuk mengerjakan tes dalam
batasan waktu tertentu, karena ketika tes dikerjakan dalam waktu terbatas (terlalu sempit) dan
kondisi santai (atau terlalu lama) bisa memunculkan hasil yang interpretasinya berbeda
dengan penggunaan waktu yang ditentukan. Teknik non-tes juga perlu memperhatikan waktu
Wawancara misalnya, data yang diperoleh pada saat jam-jam sibuk tentu berbeda dengan saat
santai. Observasi misalnya, perlu memilih waktu yang tepat agar konselor mendapatkan data
dari individu yang menarik guna membantu bimbingan dan konseling lebih tepat.
3. Kunci Jawaban
Pada teknik tes kunci jawaban dan pedoman penskoran harus tersedia agar hasil tes tidak
disalahartikan, apalagi jika yang melaksanakan tes bukan ahlinya. Pada teknik non-tes tidak
diperlukan kunci jawaban. Namun juga diperlukan pedoman penilaian yang berisi ukuran
atau tmgkatan nilai, misalnya pada lembar observasi.
4. Cara Menganalisis
Cara menganalisis berarti cara mengelola data yang telah diperoleh untuk kemudian dapat
dijadikan dasar tindakan selanjutnya.
5. Interpretasi
Yaitu cara menafsirkan data yang telah diperoleh untuk kemudian dapat dijadikan dasar
tindakan selanjutnya.
D. Tahap Analisis Data Appraisal Konseling
Analisis data dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing
masing instrumen pengumpul data. Metode analisis data appraisal dalam bimbingan dan
konseling bergantung pada data yang diperoleh, apakah termasuk data kualitatif atau
13
kuantitatif Data kualitatif dianalisis dengan analisis kualitatif misalnya deskriptif naratif
misalnya data yang diperoleh dengan teknik wawancara, observasi kunjungan rumah dan
lain-lain. Wilcox (dalam Ratna Widiastuti, 2010) misalnya menggunakan pendekatan "kry
incident dalam analisis deskripsi kualitatif tentang kegiatan pendidikan Pendekatan key
incident memungkinkan bagi kita untuk memasukkan sejumlah besar kesimpulan dari
bermacam-macam data yang berasal dari berbagai sumber, misalnya dari catatan lapangan,
dokumen informasi demografi, atau wawancara. Apabila banyak data kualitatif yang
dianalisis sementara asesmen masih berlangsung maka beberapa analisis dapat ditunda
pelaksanaannya sampai evaluator selesai melakukan assesmen.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan konselor/guru BK dalam analisis data
kualitatif, antara lain :
1) Yakinkan semua data telah tersedia
2) Buatlah salinan data untuk mengantisipasi jika data hilang
3) Aturlah data dalam judul dan masukkan dalam file
4) Gunakan sistem-sistem kartu dalam map; periksa kebenaran hasil pengumpulan data.
Data kuantitatif dapat dianalisis dengan menggunakan statistik Dalam bimbingan
konseling, statutik biasanya digunakan untuk analisis data hasil tes psikologs, misalnya tes
inteligensi, tes bakat dan minat Dewasa ini, program statistik dapat dengan mudah dilakukan
dengan bantuan komputer, seperti program excel, USREL, SPSS, dan sebagainya.
E. Tahap Interpretasi Appraisal Konseling
Interpretasi data maksudnya menilai fakta juga menyimpulkan hasil analisis yang telah
dilakukan. Interpretasi juga dapat dikatakan sebagai refleksi konselor ketika proses
pengumpulan data hingga analisisnya. Serta tahap yang terakhir yakni tindak lanjut. Maksud
dari tindak lanjut disini yaitu sebuah upaya perbaikan setelah mengetahui kesimpulan dari
data yang telah diperoleh. Misal, setelah diadakannya appraisal, seseorang diketahui
mempunyai IQ rendah. Maka untuk proses belajar, ia tidak bisa disamakan dengan anak-
anak yang mempunyai IQ rata-rata atau di atas rata-rata, dan sebagainya.
14
15
A. Observasi
a. Pengertian Observasi
Secara umum, observasi merupakan cara atau metode menghimpunketerangan atau
data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Dengan kata lain, observasi
dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan observee yang sebenarnya. Dengan
demikian, melalui kegiatan observasi dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
kehidupan sosial yang sukar diperoleh dengan menggunakan metode lain. Observasi
merupakan kegiatan pengamatan (secara indrawi) yang direncanakan, sistematis, dan
hasilnya dicatat serta dimaknai (diinterpretasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman
tentang subjek yang diamati.9 Observasi sangat diperlukan jika observer belum memiliki
banyak keterangan tentang masalah yang diselidikinya. Sehingga observer dapat memperoleh
gambaran yang jelas tentang masalahnya serta petunjuk- petunjuk cara memecahkannya.
Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengumpul data, maka observasi harus
dilakukan secara sistematis dan terarah, bukan dengan secara kebetulan saja. Dalam hal ini,
observasi serta pencatatannya sedapat mungkin dilakukan menurut prosedur dan aturan-
aturan tertentu sehingga hasil observasi memberi kemungkinan untuk ditafsirkan secara
ilmiah. Lebih jauh dikatakan, kegiatan observasi diusahakan mengamati keadaan yang wajar
dan yang sebenarnya tanpa ada usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur, dan
memanipulasi situasi dan kondisi yang sedang diamati.10
Pentingnya mengadakan observasi secara sistematis dan terarah dikarenakan oleh
kegiatan observasi yang sesuai dengan kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata yang
cermat dan tepat tentang apa yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya secara
ilmiah bukanlah pekerjaaan mudah. Hal tersebut dikarenakan apakah hasil pengamatan
tersebut sudah valid dan reliabel, dan apakah obyek pengamatan tersebut representatif bagi
gejala yang sama. Terdapat banyak jenis situasi sosial yang dapat diselidiki dengan observasi,
mencakup bermacam penelitian mengenai tingkah laku fisik, sosial, dan emosional, dari
murid TK, SD, Sekolah Menengah sampai kepada pengamatan terhadap tingkah laku orang
dewasa, di pabrik, di kantor, di rumah, dalam kelompok diskusi, dan dalam situasi-situasi lain
di masyarakat.
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan
sengaja, melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala- gejala yang diselidiki.
Observasi memiliki nilai :
(1) memberikan informasi yang tidak mungkin didapatkan melalaui teknik lain;
(2) memberi tambahan informasi yang sudah didapat melalui teknik lain;
(3) dapat menjaring tingkah laku nyata bila sebelumnya tidak diketahui;
(4) pengamatan secara selektif;
(5) pengamatan mendorong perkembangan subjek pengamatan.
9 Susilo Rahardjo & Gudnanto, Pemahaman Individu, (Jakarta: Kencana, 2013), hal. 47.
10 Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 106.
16
Konselor harus memiliki kriteria spesifik untuk melakukan observasi. Hal ini menjadi
dasar untuk mengidentifikasi kriteria spesifik yang akan mengarahkan pada kita apa yang
akan diamati. Observasi harus dilakukan pada beberapa periode waktu, semakin lama dan
semakin sering dilakukan, akan memantapkan reliabilitas hasil pengamatan. Objek
pengamatan harus diamati pada situasi berbeda dan situasi natural. Saat pengamatan,
pengamat tidak boleh hanya fokus pada konseli dengan mengabaikan berbagai kondisi
interaksi dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkah lakunya.
b. Jenis Observasi
Dalam garis besarnya, observasi dapat dilakukan: 1) dengan partisipasi pengamat, 2)
tanpa partisipasi pengamat, dan 3) quasi partisipasi.11 Pada observasi partisipasi, peneliti
melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan obyek yang sedangditeliti. Hal ini mengandung arti
bahwa peneliti harus ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok
yang ditelitinya. Jika seorang peneliti ingin meneliti di sebuah perusahaan, peneliti tersebut
menjadi pekerja dalam perusahaan yang akan diselidikinya.
Dalam observasi partisipasi, peneliti menjadi bagian integral dari situasi yang
ditelitinya, peneliti terlibat langsung sehingga dapat lebih menghayati, merasakan serta
mengalami sendiri seperti apa yang dialami oleh obyek penelitiannya, karena kehadirannya
tidak mempengaruhi situasi yang sebenarnya. Dengan demikian, hasil pengamatan akan lebih
berarti dan lebih objektif, sebab dapat dilaporkan sebagaimana apa adanya sesuai dengan
kenyataan. Namun, di sisi lain, metode ini sering mengandung suatu kelemahan. Kelemahan
tersebut ada dalam diri peneliti itu sendiri. Artinya, terkadang peneliti kurang cermat dan
kurang konsentrasi sehingga hasil pengamatannya lebih banyak dipengaruhi oleh
pendapatnya sendiri, bukan oleh perilaku objek yang sedang diamatinya. Kelemahan lain,
karena peneliti terlibat langsung dalam kegiatan obyek yang ditelitinya, maka besar
kemungkinan ia tidak dapat lagi melihat dan “membaca” secara tajam hal-hal yang khas yang
harus diamati dan dicatat, karena baginya hal-hal tersebut sudah tidak khas lagi. Untuk
meminimalkan kelemahan tersebut, observasi sebaiknya dilakukan oleh dua orang atau lebih
secara terpisah terhadap satu obyek. Kemudian hasilnya dibandingkan dan dicocokkan untuk
menentukan hasil akhir pengamatan dari semua pengamat.
Sedangkan pada observasi nonpartisipasi, peneliti berada “di luar garis” dari kegiatan
obyek observasi, misalnya peneliti mengobservasi para pekerja tanpa menjadi pekerja dalam
perusahaan itu. Observasi jenis ini banyak dipergunakan oleh para peneliti karena banyaknya
kesulitan yang ditemui ketika menggunakan metode observasi partisipasi. Namun,
kelemahannya terkadang kehadiran peneliti dapat mempengaruhi kelakuan atau perilaku
obyek yang ditelitinya, atau dengan kata lain, situasi sudah tidak sewajarnya lagi. Untuk
mengurangi kelemahan tersebut, peneliti harus sanggup menyesuaikan diri dalam situasi
tersebut dan jangan terlalu menonjol, agar tidak mempengaruhi kewajaran kelakuan orang
yang diamatinya. Di samping itu, peneliti dapat mengadakan pengamatan dengan cara
menyamar, sehingga kehadirannya sebagai seorang peneliti tidak disadari observee. Pada
11 Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 106.
17
observasi quasi partisipasi, observer melibatkan diri pada saat-saat tertentu, dan pada saat-
saat lain observer berada di luar situasi yang sedang ditelitinya.12
B. Catatan Anekdot
a. Pengertian Catatan Anekdot
Catatan menurut KBBI adalah hasil mencatat, sedangkan anekdot adalah catatan
tentang kejadian yang bertalian dengan masalah yang sedang mengalami pusat perhatian
pengamat, terutama catatan tentang tingkah laku individu yang bersifat khas.13 Anecdotal
Record atau catatan anekdot adalah deskripsi atau penggambaran secara tertulis dari perilaku
anak.14 Selain itu catatan anekdot juga dapat diartikan dengan suatu deskripsi atau catatan
rekaman tentang episode-episode atau peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam situasi
natural alias wajar atau alamiah. Hal-hal pokok yang dicatat dalam catatan meliputi nama
anak yang dicatat perkembangannya, kegiatan main atau pengalaman belajar yang diikuti
anak dan perilaku, termasuk juga ucapan yang disampaikan anak selama kegiatan. Catatan
anekdot dibuat dengan menuliskan apa yang dilakukan atau dibicarakan anak secara akurat
(tepat), objektif (apa adanya, tanpa memberikan label pada anak, seperti cengeng, malas,
nakal), spesifik (khusus/tertentu), sederhana (tidak bertele-tele) dan catatan guru terkait
dengan indikator yang muncul dari perilaku anak.
b. Macam-macam Catatan Anekdot
Berikut ini beberapa macam-macam bentuk catatan anekdot, yaitu sebagai berikut:15
1. Bentuk evaluatif, menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi berupa penilaian oleh
guru berdasarkan ukuran baik-buruk, benar-salah, layak-tidak layak, dan dapat
diterima-tidak dapat diterima. Contohnya: pada hari kelima Dzakiy memperlihatkan
sikap yang lebih baik terhadap temannya, ia mulai memberikan pertolongan kepada
teman-temannya.
2. Bentuk deskripsi umum, catatan dan pernyataan umum tentang perilaku anak didik
dalam situasi tertentu.
3. Bentuk deskripsi khusus, catatan dan pernyataan khusus tentang perilaku anak didik
dalam situasi khusus. Contohnya: Pada saat istirahat cuaca diluar sedang hujan, anak-
anak yang biasanya bermain diluar kelas karena cuaca hujan mereka bermain didalam
kelas.
4. Bentuk interpretatif, penafsiran terhadap perilaku yang telah diamati oleh guru yang
didukung oleh faktor yang diamati. Contohnya: Pada hari Jum’at Bintang tampak
diam, giginya sakit. Sakit giginya itulah yang membuatnya lebih diam.
c. Karakerisik Catatan Anekdot
Karakeristik dari catatan anekdot, adalah sebagai berikut:16
12 Sitti Mania, “Observasi Sebagai Alat Evaluasi Dalam Dunia Pendidikan Dan Pengajaran”, JURNAL LENTERA
PENDIDIKAN, Vol. 11 No. 2, 2008, hal. 223.
13 Departemen Pendidikan Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 106
14 Sofia Hartati. Pengembangan Model Asesmen Perkembangan Anak Taman Kanak- Kanak – Portal UNJ,
PDFjournal.unj.ac.id, diakses 21 September 2022, hal. 31.
15 Sofia Hartati. Pengembangan Model Asesmen Perkembangan Anak Taman Kanak- Kanak – Portal UNJ,
PDFjournal.unj.ac.id, diakses 21 September 2022, hal. 31.
18
1. Berupa deskripsi singkat peristiwa factual.
2. Catatan tersebut tidak boleh mengandung inferensi atau kesimpulan, pendapat, atau
penilaian dari pihak pengamat.
3. Catatan tersebut harus berisi rekaman tentang critical incident atau kejadian penting
terkait si murid. Penentuan nilai penting atau kurang pentingnya suatu peristiwa
ditentukan oleh tujuan pengamatan.
4. Hanya sesudah memperoleh rekaman peristiwa dalam jumlah yang dipandang
memadai, pengamat boleh membuat kesimpulan tentang adanya pola perilaku tertentu
pada subjek yang menjadi sasaran pengamatan.
C. Skala Penilaian
a. Pengertian Skala Penilaian
Skala penilaian adalah salah satu bentuk pedoman observasi yang dipergunakan untuk
mengumpulkan data individu dengan menggolongkan, menilai tingkah laku individu atau
situasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Metode skala penilaian adalah metode
penilaian kinerja yang menggunakan skala untuk mengukur faktor-faktor kinerja. Skala
penilaian memiliki kesamaan dengan ceklis. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan
dengan ceklis. Karena ceklis digunakan untuk menandai apakah sebuah perilaku hadir
atau tidak, sedangkan skala penilaian menghendaki penilaian dilakukan menurut
pertimbangan kualitatif menyangkut tingkat kehadiran sebuah perilaku. Di dalam skala
penilaian didasarkan pada suatu skala tertentu dari rendah sampai tinggi seperti skala
lainnya, dalam skala peilaian responden akan memilih salah satu jawaban yang telah
disediakan.
Skala Penilaian merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk membangun
sistem penilaian. Skala Penilaian yaitu data yang di peroleh berupa angka atau data
Kuantitatif yang ditafsirkan kedalam pengertian Kualitatif.17 Sebuah skala penilaian
mengandung seperangkat karakteristik atau kualitas yang harus diputuskan dengan
menggunakan suatu prosedur yang sistematis. Skala penilaian biasanya terdiri dari suatu
daftar yang berisi gejala-gejala atau ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara
bertingkat, sehingga observer tinggal memberi tanda cek pada tingkat mana gejala atau
ciri-ciri tingkah laku itu muncul.
Adapun gejala atau ciri-ciri tingkah laku yang dapat diamati dengan alat skala
penelitian, antara lain: partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi, kegiatan partisipasi siswa
dalam kegiatan diskusi, kegiatan belajar dengan sistem modul, kehadiran siswa dalam
mengikuti pelajaran di kelas, kebiasaan mengganggu teman, ketrampilan di dalam kelas,
dan lain-lain topik yang relevan dengan kehidupan di sekolah. Kelebihannya yaitu Rating
Scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga bisa digunakan untuk
mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk
mengukur status sosial, ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain. Dalam proses
penilaiannya juga memudahkan bagi Team Penilai. Team Penilai hanya tinggal
16 Dadan Suryana, Pendidikan Anak Usia Dini Simulasi dan Aspek Perkembangan Anak, (Jakara: Kencana, 2016),
hal. 341
17 T. Windiyani, Instrumen untuk Menjaring Data Interval. Nominal, Ordinal dan Data tentang Kondisi,
Keadaan, Hal Tertentu dan Data untuk Menjaring Variabel Kepribadian, Jurnal Pendidikan Dasar, Vol.3, No.5,
pp, 2012, hal. 203-208
19
memberikan tanda silang (x) atau contreng (√ ) pada kolom yang sesuai untuk masing-
masing faktor atau karakteristik yang dinilai. Akan tetapi Werther dan Davis menjelaskan
bahwa metode ini mempunyai kelemahan, salah satunya yaitu adanya kecenderungan
menilai secara Subjektif,18 namun kelemahan diatasi dengan mendeskripsikan skala
penilaian secara kuantitatif, yaitu berdasarkan standar nilai yang sudah di tentukan di
masing-masing kriteria.
b. Bentuk-bentuk Skala Penillaian
Bentuk-bentuk skala yang dipakai antara lain: (1) kuantitatif; (2) deskriptif; (3)
grafis.1. Skala penilaian kuantitatif Skala penilaian kuantitatif adalah suatu bentuk pedoman
observasi yang mendiskripsikan aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam
skala berbentuk bilangan atau angka. Penilai cukup menandai indikasi tingkat sebuah
karakteristik yang hadir. Sejumlah nomor yang berurutan ditentukan untuk mendeskripsikan
kategori-kategori.19 Keputusan penilai diharapkan dalam menilai karakteristik-karakteristik
tersebut. Satu sistem penilain dengan angka yang umum digunakan sebagai berikut.
a. Tidak memuaskan
b. Di bawah rata-rata
c. Rata-rata
d. Di atas rata-rata
e. Luar biasa
Skala angka menjadi sulit digunakan bila terdapat sedikit kesesuaian dalam penentuan nilai
atau angka. Dalam keadaan demikian maaka interpretasi bisa bervariasi.
2. Skala penilaian deskriptif
Skala penilaian deskriptif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang
mendiskripsikan aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam skala berbentuk
kata-kata diskripti.
3. Skala penilaian dengan grafis
Skala penilaian grafis berbentuk rangkaian (continuum). Satu set kategori
dideskripsikan pada poin-poin tertentu sepanjang baris, namun penilai dapat menandai
keputusannya pada salah satu tempat pada baris tersebut. Sebagai tambahan, skala penilaian
grafis menyediakan gambaran serangkaian visual yang membantu penilai meletakkan posisi
jawaban secara benar. Contoh deskripsi skala penilaian grafis seperti berikut.
1) Tidak pernah
2) Jarang
3) Sekali-sekal
18 Mutiara S. Panggabean, Manajemen Sumberdaya Manusia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), hal. 56
19 Syahriandi Akbari Siregar, Skala Penilaian, Sikap dan Minat, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Teknologi
Agroindustri, 2014, hal. 72.
20
4) Seringkali
5) Selalu
c. Langkah-langkah Penyelenggaraan Skala Penilaian
Terdapat tiga tahap penyelenggaraan kegiatan observasi dengan teknik skala
penilaian, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis hasil.
1. Tahap persiapan meliputi: langkah penetapan topik, langkah penentuan variabel,
indikator, prediktor, item-item pernyataan, langkah penentuan alternatif skala,
langkah penentuan kriteria, langkah penyusunan pedoman observasi.
2. Tahap pelaksanaan, meliputi: langkah-langkah penyiapan pedoman observasi,
pengambilan atau penentuan posisi observasi, dan pengamatan perilaku observee
serta pencatatan dengan skala.
3. Tahap ketiga, analisis hasil, meliputi: langkah-langkah penyusunan data hasil
observasi dan penyimpulan data.
d. Penggunaan Skala Penilaian
Satu bentuk skala penilaian yang sangat akrab digunakan adalah skala laporan dalam
bentuk kartu. Sekolah-sekolah kadang-kadang menggunakan skala penilaian untuk
melaporkan ciri-ciri perkembangan personal dan sosial dalam bentuk kartu laporan. Atribut-
atribut seperti kebiasaan bekerja, memimpin kelas, kerapian, dan perilaku yang umum
sebagai anggota pada tingkat sekolah dasar dilaporkan dalam bentuk kartu. Para siswa dan
para orang tua kadang-kadang percaya bahwa penilaian dengan skala penilaian cenderung
bisa dan mengandung unsur perasaan.
Satu bentuk pengamatan menurut Kamil & Rosenblum (dalam Wortham, 2005: 134-
138) yang digunakan untuk merekam progress dalam bentuk angka merupakan contoh lain
dari skala penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi konsep perkembangan di kalangan
anak usia dini.20
20 Syahriandi Akbari Siregar, Skala Penilaian, Sikap dan Minat, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Teknologi
Agroindustri, 2014, hal. 72.
21
22
A. PENGERTIAN ASSESMENT NON TEST
Assessment yaitu sebuah proses yang ditempuh untuk mendapatkan
informasi yang digunakan dalam rangka membuat keputusan-keputusan mengenai
para siswa, kurikulum, program-program, dan kebijakan pendidikan.21 Pendapatnya
Aiken (1997: 454) yang di kutip oleh Anwar Sutoyo Human assessment adalah suatu
cara untuk memahami, menilai, atau menaksir karakteristik, potensi, atau masalah-
masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelompok orang.22
Salah satu bagian penting dari pelaksanaan pembelajaran yang tidak dapat
diabaikan adala pelaksanaan penilaian. Assessment dalam konteks bimbingan dan
konseling yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor
sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan atau berlangsung.
Karena itulah assessment dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang
terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan dan konseling.
Tujuan assessment dalam bimbingan konseling yaitu mengumpulkan informasi yang
memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar
belakang serta situasi ang ada ada masalah konseling.23
Assesment teknik non tes merupakan penilaian hasil belajar peserta didik
dilakukan tanpa menguji, melainkan dengan melakukan pengamatan secara
sistematis atau observasi, wawancara, menyebarkan angket atau kuesioner,
memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen skala, studi kasus, dan sosiometri. Hal
tersebut adalah teknik non tes.24
Teknik non tes sifatnya lebih konprehensif, yaitu dapat digunakan untuk
menilai berbagai aspek dari individu sehingga penilaian tidak hanya terbatas pada
aspek kognitif, namun juga megungkap aspek afektif dan psikomotoris.25 Non tes
biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill,
terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh
21 Hamzah B. Uno dan Satria Koni, Assessment Pembelajaran, PT Bumi Aksara, Jakarta, 2013, hlm. 1.
22 iti Wahyuni Siregar, “Assesment dalam Bimbingan dan Konseling”, (online)
tersedia: https://www.google.co.id/url?q=http://jurnal.iain-
padangsidimpuan.ac.id/index.php/Hik/article/download/696/611/&sa=U&ved=2ahUKEwf7rW1INvgAhXEuY8
KHTr3DoYQfjAJegQIBhAB&usg=OAvVaw2EvDejtFjI1EIAc7kAahWJ. (diakses: 18 September 2022), hlm.
3.
23 Ibid.,
24 Sitti Mania, “Teknik Non Tes: Telaah Atas Fungsi Wawancara dan Kuesioner dalam Evaluasi
Pendidikan”, Lentera Pendidikan, Vol. 11 No. 1, Juni 2008, hlm. 45.
25 Ibid., hlm. 46.
23
peserta didik dari yang telah mereka ketahui dan pahami. Hal ini berhubungan
dengan penampilan yang dapat diamati daripada pengetahuan dan proses mental
lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indera.26
B.Angket
Teknik pengumpul data ini dapat juga dipandang sebagai “wawancara
tertulis”, dengan beberapa perbedaan.Pada angket, yang disebut juga kuesioner
(questionnaire), responden dihubungi melalui daftar pertanyaan tertulis.Teknik ini
praktis dipakai untuk menjaring informasi atau keterangan bagi sejumlah besar
responden dalam waktu yang singkat.Angket bersifat kooperatif. Maksudnya,
responden diharapkan bekerja sama untuk menyisihkan waktu dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan tertulis, sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan.
Karena itulah, perlu diusahakan adanya motivasi yang kuat. Motivasi ini harus dapat
mengarahkan perhatian, menimbulkan simpati, keinginan bekerja sama (membantu),
dan kesadaran akan pentingnya jawaban yang jujur. Angket dapat mengungkap
gejala-gejala yang tidak dapat diperoleh dengan jalan observasi, misalnya seperti:
harapan, pendapat, prasangka, sikap dan sebagainya.
Sebagai teknik pengumpul data, angket dibedakan berdasarkan: (1) subyek
atau responden, meliputi: angket langsung dan tidak langsung; (2) menurut jenis
pertanyaan, meliputi: pertanyaan terbuka, tertutup, fakta, dan pendapat. Dapat pula
dibedakan menurut bentuk isiannya, meliputi: bentuk isian terbuka, isian singkat,
jawaban tabuler, berskala, berderajat, cek, kategorikal, pilihan benar-salah, dan
jawaban ganda.
Adapun sasaran pengumpulan data dengan teknik ini adalah siswa sebagai
sumber data langsung dan orang lain yang memberikan keterangan mengenai siswa,
sebagai sumber data tidak langsung.
Pengertian Angket
Angket atau kuesioner adalah serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis
yang diajukan kepada responden untuk memperoleh jawaban secara tertulis
pula.Pertanyaan
Untuk mengetahui contoh teknik assessment non test dalam bentuk angket .
oleh jawabannya
26 Sitti Mania, “Teknik Non Tes: Telaah Atas Fungsi Wawancara dan Kuesioner dalam Evaluasi
Pendidikan”, Lentera Pendidikan, Vol. 11 No. 1, Juni 2008, hlm. 45.
24
Bagian yang mengandung data identitas merupakan bagian yang
mengandung data tentang keadaan diri orang atau anak yang diberi angket tersebut,
misalnya nama, tanggal lahir, jenis kelamin, bangsa, agama, dsb.
Bagian yang mengandung pertanyaan fakta atau opini ialah bagian yang
mengandunng pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan fakta atau opini.
Serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden melalui angket
dapat berupa: pertanyaan fakta, mencakup: umur, pendidikan, agama, alamat, nama,
kelas; pertanyaan tentang pendapat dan sikap, mencakup perasaan dan sikap
responden tentang sesuatu; pertanyaan tentang informasi, mencakup apa yang
diketahui oleh responden dan sejauh mana hal tersebut diketahuinya; dan pertanyaan
tentang persepsi diri, mencakup penilaian responden terhadap perilakunya sendiri
dalam hubungannya dengan orang lain.
Untuk keperluan di sekolah, angket disiapkan untuk membantu para guru
agar dapat memahami siswa lebih mendalam.
2. Kelebihan dan Keterbatasan Teknik Angket
Pengumpulan data dengan teknik angket memiliki kelebihan dan
keterbatasan.Kelebihan angket sebagai instrumen pengumpul data.
1. Teknik angket lebih efisien bila ditinjau dari pembiayaan dan jumlah
responden karena dapat mengumpulkan data dalam jumlah responden yang besar
dalam waktu yang singkat.
2. Dapat mengungkap data yang memerlukan perkembangan dan
pemikiran, dan bukan jawaban spontan. Setiap jawaban dapat dipikirkan masak-
masak terlebih dahulu, karena tidak terikat oleh cepatnya waktu yang diberikan
kepada responden untuk menjawab pertanyaan sebagaimana dalam wawancara.
3. Dapat mengungkap keterangan yang mungkin bersifat pribadi dan tidak
akan diberikan secara langsung. Dalam menjawab pertanyaan melalui angket,
responden dapat lebih leluasa karena tidak dipengaruhi oleh sikap mental hubungan
antara peneliti dan responden.
4. Data yang dikumpulkan dapat lebih mudah dianalisis, karena pertanyaan
yang diajukan kepada setiap responden sama.
Sedangkan keterbatasan angket sebagai instrumen pengumpul data adalah
sebagai berikut.
1. Tidak akan dapat menjaring data yang sebenarnya jika petunjuk
pengisian tidak jelas.
25
2. Tidak dapat diketahui dengan pasti bahwa responden sungguh-sungguh
dalam mengisi angket. Sering terjadi angket juga diisi oleh orang lain (bukan
responden yang sebenarnya), karena dilakukan tidak secara langsung berhadapan
muka antara peneliti dan responden.
3. Tidak dapat ditambah keterangan yang dapat diperoleh lewat observasi;
dan angket diberikan terbatas kepada orang yang melek huruf.
4. Jenis-jenis Angket
Ada pelbagai macam angket. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu:
Dilihat dari sumber datanya, angket dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Angket Langsung
yaitu apabila angket tersebut langsung diberikan kepada orang yang dimintai
pendapat atau jawabannya atau responden yang ingin diselidiki. Jadi, kita
mendapatkan data dari sumber pertama (first resource), tanpa menggunakan
perantara untuk memperoleh jawaban. Misalnya: angket siswa.
b. Angket Tidak Langsung
yaitu apabila angket disampaikan kepada orang lain yang dimintai pendapat
tentang keadaan seseorang. Jenis angket ini membutuhkan perantara untuk
mendapatkan data sehingga jawaban yang diperoleh tidak dari sumber pertama
Misalnya: angket orangtua tentang anaknya, angket guru tentang siswanya, dan lain-
lain.
Dilihat dari strukturnya, angket dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Angket berstruktur
ialah angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan beserta jawabannya yang
jelas, singkat, dan konkret
b. Angket tidak berstruktur
ialah angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki jawaban
yang bebas dan uraian yang panjang lebar dari responden.
Berdasarkan jenis pertanyaannya, angket dibedakan sebagai berikut.
a. Pertanyaan terbuka (open questions)
yaitu angket yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
responden untuk memberikan jawaban atau tanggapannya. Biasanya jenis angket ini
26
digunakan apabila ingin mendapatkan opini.
c. Pertanyaan tertutup (closed questions)
yaitu pertanyaan-pertanyaan yang membuat responden tinggal memilih
jawaban yang telah disediakan di dalam angket itu. Jadi, jawabannya
terikat.Responden tidak dapat memberikan jawaban secara bebas seperti yang
mungkin dikehendaki oleh responden. Biasanya jika masalah yang hendak dicari
jawabannya sudah jelas maka orang akan menggunakan jenis angket ini.
c. Kombinasi terbuka dan tertutup (open and closed questionaire)
yaitu jika jawabannya sudah ditentukan, kemudian disusul pertanyaan
terbuka.
4. Langkah-langkah penyelenggaraan angket
Didalam menyelenggarakan pengumpulan data dengan angket terdapat tiga
tahap yang lazim ditempuh, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis hasil.
Tahap pertama, persiapan penyusunan angket meliputi langkah: memerinci
variabel-variabel yang akan diukur, menetapkan model jawaban, dan menyusun
angket. Tahap kedua, pelaksanaan, meliputi: menyiapkan format angket dan lembar
jawaban jika diperlukan, melancarkan angket kepada sejumlah banyak responden
yang dituju, dan membacakan petunjuk pengisian. Tahap ketiga, analisis hasil,
meliputi: memberikan kode pada pertanyaan-pertanyaan tertentu jika akan dianalisis
lebih lanjut atau lebih dikenal dengan penyekoran jawaban, pengelompokkan setiap
variabel, serta kesimpulan dan penginterpretasian. Selanjutnya diuraikan tahap-tahap
penyelenggaraan angket satu persatu.
a. Tahap persiapan
Langkah pertama yang dilakukan dalam penyusunan angket ialah memerinci
atau menjabarkan variabel-variabel yang akan diukur. Contohnya dalam angket
siswa variabel-variabelnya meliputi: riwayat pendidikan atau sekolah, harapan-
harapan, cita-cita, kebiasaan belajar, hobi, aktivitas di luar sekolah atau
keorganisasian, keadaan keluarga, dan lingkungan tempat tinggal.
Langkah kedua menetapkan model jawaban, yang ditentukan oleh bentuk
jawaban yang dikehendaki dari variabel angket tertentu.Seperti jawaban uraian
singkat, jawaban kategorikal, jawaban berskala, jawaban tabuler, jawaban dengan
cek atau pilihan gAnda.Pada tahap ini perlu dipertimbangkan juga kelebihan dan
27
kelemahan masing-masing model jawaban.
Langkah menyusun angketyang perlu memperhatikan komponen-komponen:
pengantar, petunjuk pengisian, butir-butir pertanyaan, dan penutup.
a. Pengantar
Maksud utama dari pengantar ialah mengadakan pendekatan terhadap
responden agar bersedia memberikan keterangan yang dibutuhkan. Dengan
demikian, pengantar perlu dirumuskan dengan baik, yang memuat tentang: tujuan
angket secara jelas dan diplomatis serta harapan kerjasama, dan menunjukkan
ketegasan tentang jaminan kerahasiaan informasi yang diberikan siswa.
b. Petunjuk pengisian
Petunjuk pengisian angket harus dirancang dengan baik dan jelas sebab akan
mempermudah responden dalam mengisi setiap butir pertanyaan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam petunjuk angket adalah: petunjuk pengisian angket hendaknya
dirumuskan dengan bahasa yang sederhana, singkat dan mudah dimengerti, petunjuk
memuat tentang cara mengisi angket, misal: jawaban dengan melingkari, memberi
tanda silang, memberi tAnda cek, diisi dengan jawaban bebas atau isian singkat, dan
dimana mengisinya.
c. Penyusunan butir pertanyaan
Beberapa petunjuk yang harus diperhatikan dalam menyusun butir
pertanyaan adalah susunan kalimat hendaknya sederhana dan jelas, gunakan kata-
kata yang tidak mempunyai arti gAnda, pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan
kemampuan responden, hindarkan kata-kata yang bersifat sugestif, pertanyaan
jangan bersifat memaksa untuk dijawab, pertanyaan jangan menuntut siswa/
responden untuk berpikir terlalu berat, gunakan kata-kata yang netral, hindarkan
kata-kata yang tidak berguna atau tidak perlu.
d. Penutup
Bagian ini berisi ucapan terima kasih kepada responden atau siswa karena
dedikasinya dalam bekerjasama untuk kepentingan bimbingan.
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini kita mempersiapkan instrumen angket beserta lembar jawaban
yang diperlukan.Kemudian membagikan instrumen tersebut untuk diisi siswa/
responden.Selanjutnya kita membacakan petunjuk pengisiannya dan mengecek
28
jumlah siswa/responden yang sudah mengembalikan angket dan lembar jawabannya.
c. Tahap Analisis Hasil
Pada tahap ini terlebih dahulu dilakukan penyekoran terhadap jawaban
responden.Penyekoran ini dibedakan atas penyekoran terhadap pertanyaan-
pertanyaan tertutup atau berstruktur dengan model jawaban yang sudah tersedia dan
terbatas, serta penyekoran terhadap pertanyaan-pertanyaan terbuka atau tidak
berstruktur yang memerlukan jawaban uraian bebas.Kemudian, mengelompokkan
jawaban responden atas variabel-variabel yang diukur. Selanjutnya, akan diperoleh
gambaran menyeluruh tentang responden. Adapun untuk keperluan penginterpre-
tasian data hasil analisis angket ini harus pula dikaitkan dengan hasil analisis data
dengan teknik lain, misalnya: teknik observasi, wawancara, dsb.
29
30
A. Pengertian Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan
data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (inter- view) adalah
suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber
informasi atau orang yang diwawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung. Dapat
pula dikatakan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka ( face to face) antara
pewawancara dengan sumber informasi, di mana pewawancara bertanya langsung tentang
sesuatu objek yang diteliti dan telah dirancang sebelumnya.27
Menurut Moelong (2012) menjelaskan wawancara adalah percakapan dengan maksud
tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu.28
Menurut Koentjaraningrat (1997) mendefinisikan wawancara sebagai cara yang
digunakan untuk tujuan tugas tertentu, mendapatkan informasi dari responden secara lisan,
dan untuk berkomunikasi secara tatap muka.29Arikunto menjelaskan bahwa wawancara yang
sering juga disebut dengan interview atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang
dilakukan untuk memperoleh informasi.30
Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang sering digunakan oleh
guru bimbingan dan konseling/ konselor untuk mendapatkan data dari tujuan yang
diinginkan. Wawancara juga merupakan salah satu teknik non tes untuk mengetahui
kebutuhan siswa. Pelaksanaan wawancara bisa melibatkan guru bimbingan dan konseling dan
siswa, bedanya dengan layanan konseling adalah teknik yang digunakan dan sasarannya.
Wawancara yang baik dilaksanakan harus menggunakan pedoman yang telah dipersiapkan
sebelumya.Dari beberapa definisi wawanara yang telah dijelaskan dapat diambil kesimpulan
bahwa pengertian dari wawancara adalah teknik atau cara yang digunakan penanya dengan
maksud menggali informasi kepada responden secara lisan dan bertatap muka.
B. Macam-Macam Wawancara
A Muri Yusuf (2014) berpendapat bahwa walaupun wawancara merupakan
percakapan tatap muka atau wawanmuka namun kalau ditinjau dari bentuk pertanyaan yang
diajukan maka wawancara dapat dikategorikan atas tiga bentuk, yaitu:
1. Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur merupakan bentuk wawancara di mana pewawancara dalam
hal ini peneliti menyusun secara terperinci dan sistematis rencana atau pedoman pertanyaan
menurut pola tertentu dengan menggunakan format yang baku dalam hal ini sistematisnya
pewawancara hanya membacakan pertanyaan yang telah disusun dan kemudian mencatat
27 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: KENCANA, 2014),
hal372.
28 Lexy J Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal186.
29 3 Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat- Metode Wawancara, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1997).
30 3 Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat- Metode Wawancara, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1997).
31
jawaban sumber informasi secara tepat.31 Dalam melakukan wawancara, selain harus
membawa instrurnen sebagai pedornan untuk wawancara, rnaka pengumpul data juga dapat
menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat
membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.
2. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur merupakan apabila peneliti atau pewawancara menyusun
rencana wawancara yang mantap tetapi tidak menggunakan format dan urutan yang baku.
Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka,
di mana fihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam rnelakukan
wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan
oleh informan.
3. Wawancara bebas
Wawancara bebas berarti wawancara itu berlangsung secara alami tidak terikat atau
diatur oleh suatu pedoman atau suatu format yang baku. Pedoman wawancara yang
digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.32Dalam
wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan
diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceriterakan oleh
responden.
Apabila diuraikan berdasarkan jenis-jenisnya wawancara dibagi menjadi dua, yaitu
menurut prosedur dan menurut sasaran penjawabnya.
1. Menurut Prosedur
a. Wawancara terpimpin
Wawancara ini disebut juga dengan interview guide, controlled interview atau
structure interview, yaitu wawancara yang menggunakan panduan pokok-pokok
masalah yang diteliti. Ciri pokok wawancara terpimpin adalah bahwa pewawancara
terikat oleh suatu fungsi bukan saja sebagai pengumpul data relevan dengan maksud
penelitian yang telah dipersiapkan, serta ada pedoman yang memimpin jalannya
Tanya jawab. Dengan adanya pedoman atau panduan pokok-pokok masalah yang
akan diselidiki memudahkan dan melancarkan jalannya wawancara.
b. Wawancara tidak terpimpin
Proses wawancara dimana interviewer tidak sengaja mengarahkan tanya jawab
pada pokok-pokok persoalan dari fokus penelitian dan interviewee (orang yang
diwawancarai). Dalam banyak hal, wawancara bebas akan lebih mendekati
pembicaraan bebas atau free talk, sehingga menemukan kualitas wawancara.
c. Wawancara bebas terpimpin
Wawancara jenis ini merupkan kombinasi antara wawancara bebas dan
terpimpin, pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti,
31 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: KENCANA, 2014),
hal376.
32 Ibid, Hal 377
32
selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi pewawancara
harus pandai mengarahkan yang diwawancarai apabila ternyata ia menyimpang. Pada
metode ini, pedoman interview berfungsi sebagai pengendali, jangan sampai proses
wawancara kehilangan arah.
2. Menurut Sasaran Penjawab
a. Wawancara perseorangan
Wawancara ini terjadi apabila proses tanya jawab tatap muka itu berlangsung
secara langsung antara pewawancara dengan yang diwawancarai. Dengan
menggunakan metode ini, data yang didapatkan akan lebih intensif.
b. Wawancara kelompok
Wawancara ini terjadi apabila proses interview berlangsung sekaligus dua
orang pewawancara atau lebih menghadapi dua orang atau lebih yang diwawancarai.
Wawancara jenis ini berguna sebagai alat pengumpulan data yang sekaligus
difungsikan sebagai check cross check. Wawancara kelompok juga akan menjadi alat
untuk mempermudah informasi yang luas dan lengkap tentang hubungan sosial dan
aksi reaksi pribadi dalam hubungan sosial.
c. Research Interview
Wawancara ini dirancang untuk mendapatkan data riset, bentuk dari
wawancara ini terstruktur dan terfokus, yang ditentukan berdasarkan tujuan ruset
daripada kebutuhan individu. Pada penelitian ini, semua individu diberikan
pertanyaan yang sma, sebagai bahan pertimbangan. Pelaksanaan wawancara ini harus
seusai dengan etika riset, persetujuan dan pelemahan klien.
d. Diagnostic Interview
Wawancara ini lebih relevan di dunia medis, biasanya digunakan pada pasien
atau klien psikiatri, yang berfokus pada symptom-simptom pada klien, untuk
mendeskripsikan berbagai macam kemungkinan seperti tipe, tingkat keparahan,
durasi, waktu, sejarah masa lalu, dsb. Menggunakan Mental-status Examination yang
meliputi: proses pikir dan ntelektual, gangguan persepsi, atensi dan orientasi, ekspresi
emosi, insight dan konsep diri, perilaku dan penampilan.
e. Clinical Interview
Wawancara ini dirancang untuk mengenalkan klien dengan kondisi klinis;
menilai apakah proses tersebut memenuhi kebutuhan klien atau tidak. Wawancara ini
berfokus pada keinginan-keinginan klien, motivasi untuk mengikuti treatment,
harapan terhadap klinik dan kegiatan yang akan dilaksanakan selama proses klinis
berlangsung. Klien diberi penjelasan tentang prosedur klinis, biaya, jadwal dan
berbagai hal yang berfungsi untuk member kejelasan kepada klien untuk melakukan
kontak selanjutnya. Wawancara ini biasanya dilakukan oleh pekerja sosial.33
33 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: KENCANA, 2014),
hal378.
33
C. Langkah-langkah Wawancara
Lincoln dan Guba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah dalam
proses wawancara untuk mengumpulkan data , yaitu:
1. Menetapkan subjek wawancara yang aakn disampaikan
2. Menyiapkan pokok-pokok permasalahan yang akan menjadi topik pembahasan
3. Mengawali alur wawancara
4. Melangsungkan alur wawancara
5. Mengonfirmasi hasil wawancara dan pengakhiran
6. Menuliskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan
7. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.34
Wawancara dapat dilakukan di rumah, di kantor, ataudi tempat lain, yang
memungkinkan wawancara aman, tertib, dan teratur. Wawancara merupakan suatu proses
tatap muka antara dua orang. Di samping itu, juga merupakan suatu interaksi sosial dan
hubungan fungsional serta tujuan tunggal. Dalam pelaksanaan wawancara terdapat beberapa
aturan yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Ikuti tata aturan yang telah ditetapkan dalam petunjuk.Perkenalkanlah tujuan penelitian
secara jelas dan tepat. Janganlah menerangkan sesuatu yang akan menambah atau
menyimpang dari tujuan.
2. Tanyakan pertanyaan dengan hati-hati dan berusahalah agar bersifat infor-mal sehingga
hubungan tanya jawab menjadi lebih komunikatif.
3. Ikutilah urutan pertanyaan yang ada dalam pedoman pertanyaan. Jangan sekali-kali
melompati pertanyaan.
4. Jangan bersikap reaktif terhadap jawaban sumber informasi, seperti tertawa, marah, dan
sebagainya.
5. Tugas wawancara mengambil dan mengumpulkan informasi, bukan memberi informasi.
6. Usahakan merekam atau mencatat dengan baik, semua jawaban dari sumber informasi.
Jangan berusaha mengubah semua jawaban yang diberikan sumber informasi.
7. Usahakan untuk tidak menceritakan pertanyaan berikutnya, sebelum pertanyaan yang
diberikan dijawab sumber informasi.35
D. Jenis-jenis Pertanyaan dalam Wawancara
Patton menggolongkan pertanyaan dalam wawancara, yang terkumpul menjadi enam
jenis pertanyaan yang saling berkaitan yaitu:
34 8 Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2018) hal. 118
35 9 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: KENCANA,
2014), hal380.
34
1. Pertanyaan berkaitan dengan latar belakang atau demografi Pertanyaan ini digunakan
dalam pengungkapan latar belakang subjek yang dipelajari meliputi status sosial ekonomi,
latar belakang pendidikan, asal usul, tempat tanggal lahir, usia, dan lain-lain. contoh: berapa
usia anda sekarang?
2. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman Pertanyaan mengenai pengalaman ini
digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang telah dialami oleh subjek dalam hidupnya.
Baik di masa lalunya ketika masih berusia belia, selama di masyarakat, di sekolah, di tempat
kerja, dan lain-lain. hasil dari wawancara ini akan peneliti rekontruksikan mengenai profil
subjek sejak lahir hingga akhir hayat. Contoh: bagaimana pengalamanmu ketika dapat
memenangkan olimpiade tingkat nasional?
3. Pertanyaan tentang pengetahuan Pertanyaan jenis ini digunakan untuk mengungkapkan
pengetahuan subjek mengenai suatu peristiwa yang mungkin diketahui. Subjek dapat diduga
sebagai orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. contoh: dapatkah anda ceritakan
bagaimana detik-detik terjadinya gempa pada saat itu?
4. Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapatPeneliti juga membutuhkan pendapat subjek
mengenai data yang diperoleh dari sumber lainnya. Oleh sebab itu peneliti melontarkan
pertanyaan berkenaan dengan pendapat mengenai data tersebut. contoh: bagaimana
pendapatmu tentang maraknya konser yang di adakan diberbagai daerah pada saat ini?
5. Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaanUntuk mendapatkan data tentang perasaan
seorang subjek yang sifatnya afektif lebih susah dibandingkan mendapat data yang sifatnya
kognitif atau psikomotorik. Namun untuk jawaban pertanyaan ini dapat juga diamati dari non
verbal subjek. Oleh sebab itu pertanyaan yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan
menggunakan pertanyaan tidak langsung. Dapat diawali dengan percakapan biasa, yang
selanjutnya diarahkan pada pertanyaan yang dapat mengungkapkan perasaan. Contoh: anda
terlihat begitu lesu, apa yang sedang anda rasakan?
6. Pertanyaan yang berkaitan dengan inderaPertanyaan mengenai indera ini digunakan untuk
mengungkapkan data yang erat hubungannya dengan fungsi indera seperti pengeliatan,
pendengaran, perasa, dan penciuman dari subjek ketika berada dalam suatu peristiwa.
Contoh: apakah kamu mendengar gerombolan temanmu tengah membicarakan
kejelekanmu?36
E. Perencanaan Wawancara
1) Alasan Menggunakan Wawancara
Wawancara digunakan untuk mendapatkan fakta dan pemahaman akan opini, sikap,
pengalaman, proses, perilaku, atau prediksi. Wawancara dapat dilakukan terhadap beberapa
subjek secara individu satu per satu maupun sekelompok orang dalam bentuk grup terfokus.
Wawancara cocok digunakan bagi peneliti yang ingin memahami dan mencari teori tentang
isu sosial. Melalui wawancara dapat diperoleh pemahaman yang mendalam dan ekstensif
tentang fenomena sosial melalui interpretasi tekstual dari data yang diperoleh. \
36 0 Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016) hal. 192-194
35
2) Memilih Pertanyaan Wawancara
Pertanyaan dalam wawancara digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Tentunya pertanyaan penelitian tidak langsung ditanyakan ke responden. Pertanyaan
wawancara perlu disusun agar responden mau menceritakan seputar topik penelitian.
Pertanyaan penelitian bisa memengaruhi jenis pertanyaan wawancara. Selain itu pengalaman
praktis, teori, maupun penelitian sebelumnya juga dapat menjadi inspirasi untuk menyusun
pertanyaan wawancara. Penelitian induktif seringkali menggunakan teori sebagai inspirasi.
Berikut ini adalah panduan singkat untuk mengembangkan pertanyaan wawancara yang
diadopsi dan dimodifikasi dari Harvard Department of Sociology (2017):
a. Pertanyaan harus sederhana dan jangan mengajukan lebih dari satu pertanyaan
sekaligus.
b. Pertanyaan terbaik adalah pertanyaan yang mendapatkan jawaban terpanjang dari
responden.
c. Jangan ajukan pertanyaan yang mengharuskan responden Anda melakukan analisis
untuk Anda.
d. Jangan meminta bagaimana pendapat orang lain atau kelompok lain di lingkungan
responden. Ajukan pertanyaan yang sama ke si responden mengenai pendapat dia
sendiri.
e. Jangan takut untuk mengajukan pertanyaan yang sederhana. Jika Anda tidak bertanya,
mereka tidak akan memberi tahu.37
Peneliti seringkali kesulitan dalam menuliskan pertanyaan wawancara. Berikut ini
penjelasan mengenai langkah-langkah dalam menyusun pertanyaan wawancara.
a. Tuliskan pertanyaan penelitian secara umum. Buat garis besar bidang pengetahuan
yang relevan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
b. Kembangkan pertanyaan di bawah topik umum. Pertanyaan disesuaikan dengan jenis
responden tertentu sesuai pengalaman dan keahlian mereka.
c. Sesuaikan bahasa wawancara dengan siapa responden yang dituju.
d. Berhati-hatilah menyusun kata-kata dalam pertanyaan sehingga responden termotivasi
untuk menjawab sepenuhnya dan sejujur mungkin. Tanyakan "bagaimana" daripada
"mengapa" untuk mendapatkan cerita tentang proses.
f. Kembangkan probe yang akan menggali tanggapan yang lebih rinci untuk pertanyaan-
pertanyaan kunci. Semakin detail, semakin baik.
g. Mulailah wawancara dengan pertanyaan pemanasan. Sesuatu yang dapat dijawab
dengan mudah dan segera oleh responden. Tidak harus berhubungan langsung dengan
apa yang Anda teliti. Membangun hubungan awal ini akan membuat Anda lebih nyaman
37 1 Harvard Department of Sociology. Strategies for qualitative interviews. Harvard University. Boston. 2017.
Retrieved from https://sociology.fas.harvard.edu/files/sociology/files/interview_strategies.pdf. diakses pada
11 oktober 2022, hal. 3
36
dengan satu sama lain dan dengan demikian akan membuat sisa wawancara mengalir
lebih lancar.
h. Pikirkan tentang alur logis dari wawancara. Topik apa yang harus didahulukan?
Penyesuaian pertanyaan dapat dilakukan setelah beberapa wawancara.
i. Pertanyaan-pertanyaan yang sensitif sebaiknya ditanyakan menjelang akhir wawancara
di saat hubungan kepercayaan sudah terjalin.
j. Pertanyaan terakhir dapa berupa penutup untuk wawancara. Biarkan responden merasa
diberdayakan, didengarkan, atau senang bahwa mereka berbicara dengan Anda.
3) Lama Wawancara dan Jumlah Responden
Durasi dan jumlah wawancara sangat bergantung pada pertanyaan penelitian serta
strategi penelitian yang sedang dilakukan. Biasanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
kurang terstruktur dan jumlah respondennya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan studi
yang menggunakan survei dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terstruktur. Selain itu,
durasi dan jumlah wawancara juga bergantung pada ketersediaan waktu dan jumlah
responden yang bersedia untuk diwawancarai. Sebisa mungkin mewawancarai sejumlah
orang yang cukup dari berbagai latar belakang, peran, pengalaman dan hal lainnya yang
mungkin mempengaruhi informasi yang disampaikan. Hal ini dilakukan agar penelitian
menghasilkan temuan menarik dan komprehensif. Peneliti juga harus mempertimbangkan
ketersediaan waktu dan kemampuan peneliti untuk melakukan wawancara dan menganalisis
data.
4) Memilih Responden
Kualitas dari data akan sangat dipengaruhi oleh para informan atau subjek yang
dipilih. Responden dapat dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti. Peneliti
dapat memikirkan siapakah responden yang memiliki posisi untuk menjawab pertanyaan
wawancara atau memberi wawasan yang peneliti perlukan. Pertimbangan berikutnya adalah
akses ke responden. Akses amat tergantung pada beberapa faktor seperti kemauan dan
ketersediaan waktu responden dan juga kemampuan peneliti untuk menemui responden. Jika
peneliti tidak mengenal baik responden maka pendekatan awal sangatlah penting. Peneliti
harus mengirimkan permohonan sebagai responden. Peneliti paling tidak harus menjelaskan
beberapa hal sebagai berikut kepada subjek: Identitas diri peneliti dan alasan melakukan
penelitian; Mendapatkan ketertarikan responden melalui penjelasan singkat tentang penelitian
yang akan dilakukan; Jelas perihal lama waktu wawancara yang akan dilakukan; Meminta
izin merekam percakapan; Memastikan kerahasiaan terjaminjika diminta; Menjelaskan
manfaat penelitian; Memberi detail kontak dan meminta kesediaan waktu mereka; dan
Melakukan kontak lanjutan jika tidak ada respon.12
F. Kelebihan dan kelemahan Wawancara
Dalam suatu metode dalam pengumpulan data pasti memiliki kelebihan maupun
kelemahan, tidak terkecuali dalam metode wawancara ini, berikut penjelasannya.
1) Kelebihan wawancara dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Dengan wawancara kita dapat memperoleh keterangan yang sedalamdalamnya
tentang sesuatu masalah, terlebih dalam masalah pribadi seseorang.
37
b. Dengan wawancara peneliti dapat dengan cepat memperoleh informasi yang
diinginkan secara tepat dan efisien.
c. Dengan wawancara peneliti dapat memastikan bahwa respondenlah yang memberi
jawaban.
d. Dalam wawancara peneliti dapat berusaha agar pertanyaan benar-benar dipahami
oleh responden.
e. Wawancara memungkinkan fleksibilitas dalam cara-cara bertanya. Bila jawaban
tidak memuaskan, tidak tepat atau tidak lengkap, pewawancara dapat mengajukan
pertanyaan lain atau merumuskan dengan kata-kata lain.
f. Pewawancara yang sensitif dapat menilai validitas jawaban berdasarkan gerak-
gerik, nada dan air muka responden.
g. Informasi yang diperoleh melalui wawancara akan lebih dipercayai kebenarannya
karena salah tafsiran dapat diperbaiki sewaktu wawancara dilakukan. Jika perlu
pewawancara dapat lagi mengunjungi responden bila masih perlu penjelasan.
h. Dalam wawancara responden lebih bersedia mengungkapkan keterangan-
keterangan yang tidak mau diberikannya dalam angket tertulis.
2) Kelemahan
Kelemahan dalam wawancara tersebut antara laian :
a. Apakah jawaban verbal dapat dipercaya ? Apa yang diucapkan seseorang tentang
kelakukannya belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Oleh karenanya
ada kesangsian validitas jawaban-jawaban yang diperoleh melalui wawancara, apalagi
jika menyangkut nilai-nilai.
b. Pewawancara sendiri tidak konstan keadaannya dalam menghadapi berbagai orang
secara berurut-urut. Faktor keletihan, kurang konsentrasi atau faktor lain yang embuat
perubahan pada diri pewawancara, sehingga mempengaruhi validitas dan reabilitas
data yang dikumpulkan.
c. Adapula keberatan terhadap pengolahan hasil wawancara. Bila digunakan tape
recorder, maka pengolahannya menjadi bentuk tulisan memakan waktu yang cukup
banyak, apalagi jika wawancara itu tak terstruktur atau bebas.
d. Belum ada sistem tertentu tentang cara mencatat hasil wawancara, apakah harus dicatat
kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan tertentu atau hanya cukup denganjika diminta;
Menjelaskan manfaat penelitian; Memberi detail kontak dan meminta kesediaan waktu
mereka; dan Melakukan kontak lanjutan jika tidak ada respon.38
38 J. Rowley. Conducting research interviews. Management Research Review, (ttp: tp, 2009) hal. 260–271
38
39
A. Sosiometri
1) Pengertian Sosiometri
Kata sosiometri berasal dari bahasa Latin “socius”, yang berarti sosial dan bahasa
Latin “metrum”, yang berarti ukuran (measure). Sosiometri adalah cara untuk mengukur
tingkat keterkaitan atau hubungan sosial pada anak-anak dan orang dewasa dengan berbagai
konteks sosial. Pengukuran keterkaitan dapat berguna tidak hanya dalam penilaian perilaku
dalam kelompok, tetapi juga untuk intervensi yang membawa perubahan positif dan untuk
menentukan tingkat perubahan. Sosiometri adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari
suatu kelompok individu berdasarkan penelaahan terhadap relasi sosial dan status sosialdari
masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan.39
Jacob Levy Moreno menciptakan istilah sosiometri dan melakukan penelitian sejak
1932-1938 di New York. Definisi kerja sosiometri adalah metodologi untuk melacak vektor
energi hubungan interpersonal dalam kelompok. Bagaimana pola individu mengasosiasikan
satu sama lain ketika bertindak sebagai kelompok menuju suatu tujuan (Criswell di Moreno,
1960, hal. 140). Moreno sendiri mendifinisikan sosiometri sebagai "studi matematika sifat
psikologis pada suatu populasi, teknik eksperimental dan hasil yang diperoleh dengan
penerapan metode kuantitatif".
Dalam kelompok kerja, sosiometri dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengurangi
konflik dan meningkatkan komunikasi karena memungkinkan kelompok untuk melihat
dirinya secara obyektif dan menganalisis dinamika tersendiri. Ini juga merupakan alat yang
ampuh untuk menilai dinamika dan perkembangan dalam kelompok dikhususkan untuk terapi
atau pelatihan. Metode ini didasarkan atas postulat-postulat bahwa kelompok mempunyai
struktur yang terdiri dari hubungan-hubungan interpersonal yang kompleks. Hubungan-
hubungan ini dapat diukur secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Posisi tiap-tiap
individu. di dalam struktur kelompoknya dan hubungannya yang wajar dengan individu yang
lain dapat diukur dengan metode ini.40
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian sosiometri adalah suatu
tehnik untuk mengumpulkan data untuk mempelajari hubungan sosial individu di dalam
kelompok, sebagai cara untuk mengukur tingkat keterkaitan di antara manusia, yang
merupakan hubungan sosial seorang individu dengan individu lain, struktur hubungan
individu dan arah hubungan sosialnya dalam suatu kelompok. Dengan kata lain sosiometri
merupakan studi kuantitatif tentang hubungan interpersonal dalam suatu populasi. Peneliti
memiliki data yang kuat, untuk melakukan intervensi yang tepat.
2) Syarat-Syarat
Syarat untuk melakukan metode sosiometri adalah:
a) Setiap anggota kelompok harus memahami situasi kriterium/aktivitas khusus yang
dijadikan ‘tema’ pengukuran sosiometrik. Untuk membantu pemahaman semua
anggota kelompok, pertanyaan sosiometrik harus jelasdan aplikable, sehingga anggota
dapat benar-benar terlibat dalam pengukuran kualitas kelompok dengan teknik
39 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: UGM. 1987), hlm. 7
40 Wayan Nurkancana, Pemahaman Individu, (Surabaya: Usana Offset Printing, 1993), hlm. 109
40
sosiometri. Pengukuran inimemakai kriterium (aktivitas kelompok) yang jelas dan
familiar bagianggota kelompok.
b) Anggota kelompok harus sudah saling mengenal sehingga dapatmerefleksikan
sikap dan perasaan tertentu yang selama ini cenderungdialami terhadap anggota
kelompok. Semakin lama individu yang diukurdengan sosiometri memiliki
pengalaman berinteraksi dalam kelompok, hasil pengukuran dengan sosiometri
semakin bermakna (berkualitas).
c) Semakin dewasa usia individu yang diukur dengan sosiometri hasilnyaakan
cenderung semakin reliable (konsisten) dan valid (sesuai kriteria) sebab semakin
dewasa kecenderungan preferensi individu terhadap sesuatusemakin menetap.
d) Anonim: yaitu hasil pilihan setiap orang tidak boleh diketahui olehanggota
kelompok yang lain untuk menjaga kondisi psikologis anggota kelompok. Jika
individu tahu bahwa ia adalah orang yang terisolir atau bahkan ditolak di kelompok,
akan menimbulkan dampak psikologis yang buruk.
3) Bentuk-Bentuk
a) Nominatif
Pada tipe ini kepada setiap individu dalam kelompok ditanyakan,siapasiapa kawan
yang disenangi/tidak disenangi untuk diajak melakukansuatu aktivitas tertentu. Pilihan
harus ditulis berurutan dari pilihan pertama (paling disenangi), pilihan kedua, ketiga,dst.
Pilihan pertama diberi skor 3, kedua diberi skor 2, ketiga diberi skor 1. Hasil pengukuran
angket sosiometri nominatif diperoleh data sebagai berikut:
1) Luas tidaknya hubungan sosial seseorang berdasarkan sedikit banyaknya mendapat
pilihan dari teman-temannya
2) Intensitas hubungan seseorang berdasarkan nomor urutan pilihan yangditujukan
padanya.
3) Struktur hubungan yang terjadi dalam kelompok (sosiogram)
4) Status hubungan (analisis indeks) pemilihan, penolakan, atau status pemilihan dan
penolakan.
b) Skala Bertingkat
Pada tipe skala bertingkat, disediakan sejumlah pernyataan yang disusun
bertingkat, dari pernyataan yang menyatakan hubungan paling dekat, sampai hubungan
paling jauh. Sosiometri tipe siapa dia sering juga disebut tipe terkalah dia (guess who).
Dan karena pada tiap statemen ada kemungkinan pilihan lebih dari seorang maka tipe ini
sering juga disebut tipe siapa mereka (who are they). Pada setiap pernyataan, individu
diminta menuliskan nama salah seorang temannya sesuai jarak hubungannya. Pilihan
pertama diberi skor 2, kedua skor 1, ketiga skor 0, keempat skor -1, kelima skor -2.
Hasilnya diperoleh gambaran status hubungan sosial setiap individu.
c) Siapa Dia
41
Tipe sosiometri siapa dia, disediakan pernyataan tentang sifat-sifatindividu. Sebagai
pernyataan mengungkapkan sifat positif dan sebagian negatif. Setiap anggota diminta
memilih kawannya yang memiliki sifat yang cocok dengan pernyataan tersebut. Setiap
individu dapat memilih lebih dari satu orang. Pilhan item (+) mendapat skor 1, item (-)
mendapatskor -1
4) Tahapan-Tahapan
a. Tahap Persiapan. Menentukan kelompok siswa yang akan diselidiki. Memberikan
informasi atau keterangan tentang tujuan penyelenggaraan sosiometri. Mempersiapkan
angket sosiometri.
b. Tahap Pelaksanaan. Membagikan dan mengisi angket sosiometri. Mengumpulkan kembali
dan memeriksa apakah angket sudah diisi dengan benar.
c. Tahap Pengolahan. Memeriksa hasil angket Mengolah data sosiometri dengan cara
menganalisa indeks, menyusun tabel tabulasi, membuat sosigram.Analisis hasil sosiometri.
Langkah ini merupakan langkah ketiga dalam penyelenggaraan sosiometri. Tahap-tahap yang
harus dilakukan dalam menganalisis hasil sosiometri adalah:
a. Memeriksa hasil angket sosiometri,
b. Membuat tabulasi yang berupa matrik sosiometri,
c. Membuat sosiogram,
d. Menghitung indeks pemilihan (i.p), yakni indeks pemilihan dibuat dengan
rumus: ip = Jumlah yang memilih/n-1
Keterangan:
i.p = indeks pemilihan
n = jumlah anggota dalam kelompok
e. Membuat laporan hasil analisis sosiometriAngket sosiometri Langkah pertama dalam
analisis sosiometri adalah memeriksa angket sosiometri. Angkat sosiometri dapat dilakukan
dengan dua cara:
a. Melalui penilaian oleh teman sejawat, baik untuk kelompok diskusi maupun
untuk kelas dengan jumlah 10 sampai 50 siswa.
b. Penilaian dilakukan oleh observer
5) Kelebihan dan Kekurangan
Sosiometri merupakan metode pemahaman individu yang tepat digunakan oleh seorang
peneliti dalam mengevaluasi hubungan sosial responden di lingkungannya..Namun dalam
setiap metode pasti memiliki kelebihan dan kelemahan yang perlu diperhatikan oleh peneliti,
berikut kelebihan dan kelemahannya: Kelebihan sosiometri adalah:41
41 3 Susilo Raharjo dan Gudnanto, Pemahaman Individu Teknik Non Tes, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2013), hlm. 156
42
a) Teknik ini relatif sederhana, dilaksanakan berdasarkan pada pilihan murid kepada
kawannya dalam beberapa situasi kelompok atau aktivitas.
b) Memberi informasi yang akurat tentang latar belakang (alasan) seorang murid
dipilih dan/atau ditolak oleh murid lainnya.
c) Memberi kesempatan pada konselor untuk melakukan analisis secara kualitatif
dan/atau kuantitatif. Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan menganalisis
sosiogram untuk mengetahui konfigurasi hubungan sosial. Sementara itu, analisis
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis indeks tentang status pilihan
(cs=choice status), penolakan (rs=rejection status), dan pemilihan penolakan
(crs=choice rejection status).
d) Memiliki keakuratan untuk mengorganisasi kelompok-kelompok kelas.
e) Meningkatkan penyesuaian sosial individu murid.
f) Meningkatkan struktur sosial kelompok.
g) Memberikan gambaran tentang ada tidaknya jaringan sosial antara kelompok yang
satu dengan kelompok yang lainnya.
Adapun kelemahan metode sosiometri antara lain:42
a) Semua murid harus berpartisipasi dalam aktivitas maupun situasi kelompok. Jika
ada murid yang tidak berpartisipasi, maka konselor akan mengalami kesulitan untuk
mendudukkan murid yang bersangkutan dan murid lainnya dalam sosiogram.
b) Komitmen konselor untuk menjaga kerahasiaan pilihan-pilihan dan/atau
penolakan-penolakan setiap murid. Jika konselor tidak dapat menjaga rahasia
tersebut, maka murid-murid bisa jadi mengalami gangguan hubungan sosial dengan
sesame murid sekelas setelah mereka mengetahui tentang pilihan-pilihan dan/atau
penolakan-penolakan diantara mereka dan murid akan kehilangan kepercayaan
terhadap konselor karena tidak menjaga rahasia tersebut.
c) Prosedur sosiometri memerlukan kecermatan dan ketelatenan konselor dalam
menyusun matriks sosiometri dan sosiogram
B. Studi Kasus
1) Pengertian
Studi kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case
Studies”. Kata “Kasus” diambil dari kata “Case” yang menurut kamus Oxford Advanced
Learner’s Dictionary of Current English yang dapat diartikan :43
a. Instance or example of the occurrence of sth (Contoh kejadian sesuatu)
b. Actual state of affairs; situation (Kondisi aktual dari keadaan atau situasi)
42 Susilo Raharjo dan Gudnanto, Pemahaman..., hlm. 165
43 5 Horby dan Albert Sydney, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, (Oxford: Oxford
Univercity Press, 1995), hlm. 173
43
c. Circumstances or special conditions relating to a person or thing (Lingkungan atau
kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu)
Studi kasus secara sederhana diartikan sebagai proses penyelidikan ataupemeriksaan
secara mendalam, terperinci, dan detail pada suatu peristiwa tertentuatau khusus yang terjadi.
Studi kasus dapat diperoleh dari metode-metode penelitian formal. Banyak disiplin ilmu yang
menggunakan studi kasus dalam proses penelitiannya, baik itu ilmu sosial maupun ilmu
eksakta. Kata kasus yang terdapat di dalam studi kasus bisa merujuk pada individu,kelompok,
peristiwa, fenomena, perilaku dan banyak lainnya. Makna yang dirujuk oleh kata kasus, dapat
berbeda pada setiap penelitian atau topik. Hal ini tergantung dari si peneliti memaknainya
dalam penelitian yang ia lakukan.
Sedangkan menurut Kasie dan Hermien studi kasus dalam pelayanan bimbingan
merupakan metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang siswa secara
lengkap dan mendalam, dengan tujuan untuk memahami individualitas siswa dengan baik dan
membantunya dalam perkembangan selanjutnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan
bahwa studi kasus adalah metode atau teknik yang digunakan untuk mempelajari seorang
individu secara mendalam, dengan tujuan untuk membantu individu dalam perkembangan
yanglebih baik.
2) Macam-Macam
Terdapat 3 macam jenis penelitian studi kasus, yakni:44
a. Studi kasus intrinsik (intrinsic case study), apabila kasus yang dipelajari secara
mendalam mengandung hal-hal yang menarik untuk dipelajari berasal dari kasus itu
sendiri, atau dapat dikatakan mengandung minat intrinsik (intrinsic interest).
b. Studi kasus intrumental (intrumental case study), apabila kasus yang dipelajari
secara mendalam karena hasilnya akan dipergunakan untuk memperbaiki atau
menyempurnakan teori yang telah ada atau untuk menyusun teori baru. Hal ini dapat
dikatakan studi kasus instrumental, minat untuk mempelajarinya berada di luar
kasusnya atau minat eksternal (external interest).
c. Studi kasus kolektif (collective case study), apabila kasus yang dipelajari secara
mendalam merupakan beberapa (kelompok) kasus, walaupun masingmasing kasus
individual dalam kelompok itu dipelajari, dengan maksud untuk mendapatkan
karakteristik umum, karena setiap kasus mempunyai ciri tersendiri yang bervariasi.
3) Tujuan
Studi kasus merupakan teknik untuk mengentaskan permasalahan siswa melalui
pendekatan yang mendalam dan melalui tahap-tahap pengamatan dan penelitian yang
digunakan untuk mengetahui penyebab permasalahan yang dialami siswa.Tujuan studi kasus
adalah untuk memahami individu secara mendalam tentang perkembangan individu dalam
penyesuaian dengan lingkungan.45 Tujuan studi kasus adalah untuk mempelajari
44 Sri Wahyuningsih, Metode Penelitian Studi Kasus (Konsep, Teori Pendekatan Psikologi Komunikasi, dan
Contoh Penelitian), (Bangkalan: UTM Press, 2013), hlm. 17-22.
45 Winkel, W. S., Buku Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 1991), hlm. 660
44
secaraintensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan, individu,
kelompok, lembaga, dan masyarakat.46
a. Tujuan studi kasus secara umum
Stake (2005) memaparkan bahwa tujuan dari penelitian studi kasus adalah untuk
mengungkapkan atau mendeskripsikan kekhasan suatu individu, kelompok, dan sebagainya.
Selain itu, studi kasus juga dapat memberikan penekanan pada analisis suatu kasus hanya
dengan menggunakan sedikit saja jumlah, kejadian, atau fenomena dalam sebuah penelitian.
Tujuan penelitian studi kasus sebagai penelitian kualitatif, secara umum adalah untuk
mengkaji mengenai pemahaman dan perilaku manusia yang didasarkan pada kepercayaan,
teori saintifik, dan perbedaan nilai.47Tujuan studi kasus secara umum bisa dirinci sebagai
berikut.
1. Peneliti menggunakan metode untuk memahami atau menyesuaikan permasalahan
yang diteliti
2. Efektif untuk menunjukkan hubungan responden dengan peneliti
3. Memungkinkan para pembaca untuk menemukan hasil yang berkaitan dengan
konsistensi gaya, faktual, dan internal, yaitu berupa kepercayaan pada hasil penelitian
tersebut.
4. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa tujuan studi kasus
adalah untuk memahami individu secara mendalam guna membantu individu
mencapai penyesuaian yang lebih baik.
b. Tujuan studi kasus secara khusus
Tujuan utama studi kasus yang bersifat intropsektif adalah mengungkapkan
bagaimana peristiwa-peristiwa diinterpretasikan oleh orang yang mengalaminya. Untuk
memberikan kualifikasi terhadap hasil penelitian studi kasus introspektif ini sebagai suatu
kajian, maka perlu menyajikan pengalaman yang cukup unik untuk mewakili suatu
sumbangan pada ilmu
pengetahuan (Sutama, 2016).
Prihatsanti, dkk (2018) menjelaskan bahwa penelitian studi kasus dimaksudkan atau
bertujuan secara khusus untuk menyelidiki kegiatan atau suatu proses yang kompleks yang
tidak terpisahkan dari konteks sosial tempat fenomena tersebut terjadi. Tujuan studi kasus
secara spesifik bisa dijabarkan seperti berikut.
1. Pada bidang psikologi, dapat mengungkap atau mendapatkan informasi pada suatu
perilaku, sikap, respon, pemikiran kognitif, dan sebagainya.
2. Pada bidang sosiologi, dapat mengkaji secara mendalam mengenai interaksi
antarkomunitas, organisasi, masyarakat, dan sebagainya.
3. Pada bidang eksperimen, dapat menemukan suatu teori atau menghasilkan teori baru.
46 Suryabrata. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 30
47 Polit dan Beck, Nursing Research: Principles and Method. Ed, (Philandelpia: Lippnoott Williams & Wilkins,
2004), hlm. 98
45
4) Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
a. Studi kasus bisa mengungkapkan hal-hal spesifik, detail, dan rinci dan bisa
dijelaskan dengan penelitian yang lain. Penelitian studi kasus juga bisa menguak makna
dibalik permasalahan atau fenomena yang diteliti dengan kondisi sesuai fakta.
b. Tidak hanya sekedar memberi laporan secara faktual, namun juga memberi suasana
dan pikiran yang mampu dikembangkan lebih menjadi bahan-bahan penelitian lain untuk
selanjutnya digunakan sebagai bahan penelitian.
Kekurangan
a. Untuk penelitian kuantitatif, metode studi kasus dipersoalkan karena segi
reliabilitas, validitas dan generalisasi.
b. Studi kasus tidak selalu cocok dengan menggunakan penelitian kuantitatif, karena
tujuan yang digunakan untuk menggeneralisasi.
c. Studi kasus bersifat observasional yang mengharuskan peneliti untuk terjun langsung,
sehingga bisa mendapatkan data yang valid.
46
47