A. Pengertian Autobiografi
Autobiografi atau otobiografi (dari bahasa Yunani αὐτός-autos sendiri + βίος-bios
hidup + γράφειν-graphein menulis) adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis olehdirinya
sendiri.Dalam bahasa Inggris, istilah autobiography pertama kali digunakan oleh penyair
Robert Southey pada 1809. Namun, bentuk otobiografi sendiri sudah ada sejak zaman kuno.
Ovidius disebut sebagai penemu bentuk otobiografi kuno di awal abad pertama Masehi
dengan bukunya yang berjudul Tristia. Teks Pengakuan-pengakuan (Latin: Confessiones)
adalah contoh bentuk teks otobiografi kuno terdiri dari 13 buku yang ditulis dalam bahasa
Latin oleh Santo Agustinus dari Hippo pada periode397-400 Masehi.48
Pengarang biografi biasanya mengandalkan berbagai sudut pandang dan beragam
dokumen, sedangkan otobiografi bisa saja didasarkan sepenuhnya pada ingatan pengarang.
Otobiografi juga berkaitan dengan memoar dan terkadang sedikit sukarmembedakan
keduanya. Autobiografi adalah sebuah tulisan yang memuat tentang perjalanan seseorang,
dari mulai riwayat hidup, pengalaman, dan dikemasmenggunakan sudut pandang orang
pertama. Jadi, autobiografi adalah tulisanperjalananan hidup seseorang yang ditulis oleh
dirinya sendiri. Pengertiannya secara singkat, yaitu tulisan yang berisikan mengenai
pengalaman, riwayat atau perjalanan hidup seseorang mulai dari masa kecil hingga
kondisinya sekarang ini yang ditulis olehdirinya sendiri (atau sudut pandang orang pertama).
Suatu autobiografi mengisahkan lika-liku kehidupan seseorang dalam menjalani
masa-masa sulit, kegagalan, kesedihan, kebahagiaan sampai dapat mencapai kondisinya
sekarang ini. Penulisannya memakai sudut pandang orang pertama (aku, saya) yang tentu
sangat berbeda dengan penulisan biografi yang memakai sudutpandang orang ketiga. Sebuah
tulisan autobiografi akan menulis dengan jelas perjalanan hidup seseorang, baik sebagai
tokoh nasional, pengusaha, pemangku agama,dan motivator. Dalam sebuah autobiografi
penulis akan menceritakan kisah hidup, mulai dari dilahirkan hingga usianya saat ini.
B. Tujuan, Ciri – Ciri, dan Contoh Autobiografi
Tujuan
- Mengenalkan diri sendiri dengan lebih mendetail kepada orang lain.
- Memberikan gambaran, pelajaran dan juga kisah-kisah inspiratif tentangseseorang bisa
sukses dalam bidang yang sedang digeluti sekarang ini, baik itudalam karier, bisnis, politik
maupun bidang lainnya.
- Bahan pencitraan seseorang.
Ciri-Ciri
- Suatu autobiografi merupakan suatu perjalanan hidup seseorang, yang ditulis olehtokoh itu
sendiri, atau dengan bantuan penulis lain, yang ditulis menurutpengalaman atau ingatan tokoh
itu sendiri.
- Autobiografi seringkali berisi informasi tentang masa kehidupan tokoh itu sendiridari yang
sulit sampai mencapai keberhasilan.
48 1 Dita Yulianda (2017). "Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Autobiografi dengan Menggunakan
Pendekatan Contextual Teaching And Learning". Alinea. 6 (2): 104
48
- Autobiografi juga biasa menampilkan informasi yang sifatnya positif saja. Bahkanbiasa
ditulis dalam rangka pencitran seorang tokoh politik.
- Autobiografi seringkali ditulis supaya masyarakat lebih kenal dan tahu tentang apayang
telah dilakukannya selama ia hidup, menjadikan dapat mengambil hikmah,dan pelajaran yang
berharga, yang ada di dalamnya.
C. Pengertian Kartu Pribadi
Kartu pribadi atau daftar pribadi yaitu suatu daftar yang memuat semua aspek dari
keadaan anak. Dari kata pribadi, maka kartu ini bersifat perseorangan (individual). Setiap
siswa mempunyai kartu pribadi sendiri-sendiri, ini tidak berarti bahwa yang menyimpan kartu
pribadi itu siswa sendiri. Tetapi kartu pribadi menjadi hak milik sekolah dan tetap disimpandi
sekolah, bila perlu salinannya dapat dikirimkan ke sekolah lain dimana siswa melanjutkan
studi ke jenjang yang lebih tinggi. Misalnya sekolah mempunyai 300 murid, maka sekolah
akan mempunyai 300 daftar pribadi pula. Adanyapenerapan kartu pribadi di sekolah
sangatlah penting sehingga perlu untuk segera dapatditerapkan di sekolah-sekolah. Dari kartu
tersebutlah pembimbing dapat bertolak kesegala jurusan, baik untuk bimbingan maupun
proses konseling.
Keefektifan konseling sebagian besar di tentukan oleh kualitas hubungan antara
konselor dan konseli11. Khususnya Di sekolahsekolah (menengah ke atas baik di sekolah
dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas ) telah menyelenggarakan kartu
pribadi, dalam rangka realisasi bimbingan dan konsseling di sekolah. Pembimbing yangakan
mencantumkan data dalam kartu pribadi, maka harus menggunakan dasar pemikiran sebagai
berikut:49
1. Anak sebagai individu yang berpribadi merupakan sattu kesatuan atau totalitas dari
fisik dan psikis, yang kedua-duanya tidak dapat di pisahkan. Berdasarkan hal ini,
maka harus di peroleh dalam kartu tersebut
2. Di samping sebagai seorang individu, anak juga merupakan anggota masyarakat,
baik masyarakat keluarga, sekolah maupun masyarakat yang lebih luas. Berdasarkan
atas hal tersebut maka materi mengenai keadaan latar belakang keluarga, sekolah,
serta keadaan anak di luar keluarga dan sekolah juga harus di dapatkan di dalam kartu
tersebut.
3. Anak adalah individu yang sedang mengalami perkembangan
dansenantiasamengalami perubahan. Dengan demikian, perlu pula di lakukantinjauan
dari segi perkembangan tersebut, terutama di dalam kemampuannyamengikuti
pelajaran di sekolah di samping perkembangan-perkembangan lainnya. Jadi tinjauan
disini bersifat historis.
E. Pengertian Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah kegiatan pendukung bimbingan konseling untuk memperoleh data,
keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannyapermasalahan klien melalui
kunjungan ke rumahnya. Kunjungan rumah dilakukan apabila konselor perlu melengkapi dan
49 2 Dede Rahmat Herdi,Bimbingan Konseling Kesehatan Mental di Sekolah, (Bandung:Remaja Rosda Karya,
2013),146.
49
memvalidasi data yang berkaitan dengan latarbelakang kehidupan keluarga konseli, yang
tidak bisa terungkap melalui teknikpengumpulan data lainnya. Melalui kunjungan rumah,
proses penyelesaian masalah konseli bisa dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan
peran orang tua ataukeluarga. Prayitno dalam Tohirin menjelaskan, kunjungan rumah bisa
bermakna dalamupaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan
individu atau siswa yang menjadi tanggung jawab pembimbing atau konselor dalam
pelayanan BK.50
W.S. Winkel dalam Tohirin menjelaskan kunjungan rumah bertujuan untuk mengenal
lebih dekat lingkungan hidup siswa seharihari. Secara khusus tujuan kunjungan rumah
berkenaan dengan fungsifungsi bimbingan.Misalnya kaitannya dengan fungsi pemahaman,
kunjungan rumah bertujuan untuk lebih memahami kondisi siswa, kondisirumah dan kondisi
keluarga. Kegiatan kujungan rumah dilakukan untuk memperoleh data
tambahanpermasalahan klien.Seringkali orang tua siswa kurang tahu tentang perkembangan
anaknya di sekolah, oleh karena itu kunjungan rumah juga dilakukan untuk menyampaikan
pada orang tua mengenai permasalahan yang dihadapi anaknya.
Ketika orang tua sudah mengetahui informasi, diharapkan terbangun komitmen yang
sama antara pihak sekolah dengan orang tua untuk menangani masalah anaknya.51Kunjungan
rumah merupakan suatu kegiatan pendukung bimbingan konseling untukmemperoleh data,
keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terselesaikannyapermasalahan siswa melalui
kunjungan ke rumahnya.Kegiatan ini perlu adanya kerjasama seluruh keluarga karena
keluarga memegang peran dalam perkembangan siswa.Masalah yang dibahas dapat berupa
bimbingan pribadi, sosial, belajar dankarier.52
Menurut Prayitno dalam Tohirin menjelaskan bahwa kunjungan rumah bisa bermakna
upaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan individu atau
siswa yang menjadi tanggung jawab pembimbing atau konselor dalampelayanan bimbingan
dan konseling. Kunjungan rumah dilakukan apabila data siswa untuk kepentingan pelayanan
bimbingan dan konseling belum atau tidak diperolehmelalui wawancara dan angket.Selain
itu, kunjungan rumah juga perlu dilakukanuntuk melakukan cek silang berkenaan dengan
data yang diperoleh melalui angket danwawancara.
F. Tujuan Kunjungan Rumah
Secara umum, kunjungan rumah bertujuan untuk memperoleh data yang lebih lengkap dan
akurat tentang siswa yang berkenaan dengan masalah yang dihadapinya. Selain itu, juga
bertujuan untuk menggalang komitmen antara orang tua dan anggota keluarga lainnya
denganpihak sekolah atau madeasah, khususnya berkenaan denganpemecahan masalah klien.
Menurut W.S Winkel dalam Tohirin, kunjungan rumah bertujuan untuk mengenal lebih
dekatlingkungan hidup siswa sehari-hari.53 Kunjunganrumah mempunyai dua tujuan, yaitu
pertama, untuk memperoleh bebrbagaiketerangan (data) yang diperlukan dalam pemahaman
lingkungan dan permasalahan siswa dan kedua, untuk pembahasan dan pengentasan
50 Tohirin.Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2007, h.241
51 Endang Artiati Suhesti, Bagaimana Konselor Bersikap, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, h.23-24
52 Riswani, Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling, Pekanbaru: Suska Press, h.67
53 Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta, 1998, h. 324
50
permasalahan siswa.Fungsi utama bimbingan yang diemban oleh kunjungan rumah akan
diperoleh berbagai d ata dan keterangan tentang berbagai hal yang besar kemungkinan ada
sangkut pautnya dengan siswa. Data atau keterangan itu meliputi:
1. Kondisi rumah tangga dan orang tua,
2. Fasilitas belajar yang ada dirumah,
3. Hubungan antar anggota keluarga
4. Sikap dan kebiasaan anak dirumah,
5. Berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya terhadap anak,
6. Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak
danpengentasan masalah anak
Secara khusus tujuan kunjungan rumah berkenaan dengan fungsifungsi-fungsi
bimbingan.Misalnya dalam kaitannya dengan fungsi pemahaman, kunjungan rumah bertujuan
untuk lebih memahami kondisi siswa, kondisi rumah dan kondisi keluarga.54Untuk
menyampaikan tujuan yang mana pun, sebagian atau bertahap, dalam kunjungan rumah
konselor terlebih dahulu;
a. menyampaikan perlunya kunjungan rumah kepada siswa yang bersangkutan. Siswa perlu
memahami perlunya dan kegunaan kunjungan itu berkenaandengan penanganan masalahnya.
Kunjungan rumah tidak dapat dilakukan sebelum siswa memahami kegunaannya itu dan
mempersilahkannya.
b. menyusun rencana dan agenda yang konkrit dan menyampaikannya kepada orang tua yang
akan dikunjungi itu. Kunjungan rumah tidak dapat dilakukansebelum orang tua
mengizinkannya.
54 Dewa Ketut Sukardi, Nila Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah,Jakarta: Rineka Cipta, 2008,
h. 74
51
DAFTAR PUSTAKA
Shertzer, Bruce and C. Stone, Shelley. 1981, Foundamentals of Guidance,
Boston: HoughtonMifflin Company
Winkel, W.S. 1991, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta :
Grasindo Sukardi, Dewa Ketut. Proses Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta, 1995.
W.S. Winkel. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Jakarta:
Grasindo, 1991.Wahidah, Nurul, Cucu Cuntini, and Siti Fatimah. “Peran Dan
Aplikasi Assessment Dalam
Bimbingan Dan Konseling.” Fokus: Kajian Bimbingan & Konseling Dalam
Pendidikan2, no. 2 (2019): 25–36.
Dewa Ketut Sukardi. 1995. Proses Bimbingan Dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.
https://www.academia.edu/36030762/MANAJEMEN_BIMBINGAN_DAN_KONSE
LING diakses pada 21 September 2022
Lewis R. Aiken dan Gary Groth-Mamat. 2008. Pengentasan dan Pemeriksaan
Psikologi, ter. Hartati Widiastuti. Jakarta: Indeks.
Sugiyanto, “Testing dalam Bimbingan Konseling”, Paradigma, 01 (Januari, 2006).
Ratna Widiastuti. 2010. “Assesmen Instrumen Untuk Melakukan Assesmen dalam
Bimbingan Konseling”. (http://blog.unila.ac.id)
Mohamad Thohir, Appraisal dalam Bimbingan dan Konseling, (Surabaya: tp, tt).
W.S. Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:
Grasindo
Departemen Pendidikan Indonesia. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka.
Hartanti, Sofia. Pengembangan Model Asesmen Perkembangan Anak Taman Kanak-
Kanak –Portal UNJ, PDFjournal.unj.ac.id, diakses 21 September 2022.
Mania, Sitti. 2008. “Observasi Sebagai Alat Evaluasi Dalam Dunia Pendidikan Dan
Pengajaran”, JURNAL LENTERA PENDIDIKAN, Vol. 11 No. 2.
Mulyasa. 2014. Manajemen PAUD, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nasution.
2000. Metode Research, Jakarta: Bumi Aksara.
Nurkencana, Wayan Nurkencana & P. P. N. 1986. Sunarta, Evaluasi Pendidikan,
Surabaya: Usaha Nasional.
Panggabean, Mutiara S. 2002. Manajemen Sumberdaya Manusia, Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Rahardjo, Susilo & Gudnanto. 2013. Pemahaman Individu, Jakarta: Kencana.
52
Siregar, Syahriandi Akbari. 2014. “Skala Penilaian, Sikap dan Minat”, Jurnal Ilmu
Pendidikan dan Teknologi Agroindustri.
Suryana, Dadan. 2016. Pendidikan Anak Usia Dini Simulasi dan Aspek
Perkembangan Anak, Jakara: Kencana.
Windiyani, T. 2012. Instrumen untuk Menjaring Data Interval. Nominal, Ordinal dan
Data tentang Kondisi, Keadaan, Hal Tertentu dan Data untuk Menjaring Variabel
Kepribadian, Jurnal Pendidikan Dasar, Vol.3, No.5
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Bina Aksara.
Harvard Department of Sociology. Strategies for qualitative interviews.
Harvard University. Boston. 2017. Retrieved from
https://sociology.fas.harvard.edu/files/sociology/files/interview_strategies.pdf.
diakses pada 11 oktober 2022.
J. Rowley. 2009. Conducting research interviews. Management Research
Review. ttp: tp.
Koentjaraningrat. 1997. Metode-Metode Penelitian Masyarakat- Metode
Wawancara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Moelong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Nasution. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Yusuf, A. Muri. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian
Gabungan. Jakarta: KENCANA
Horby dan Sydney, Albert. 1995. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current
English.Oxford: Oxford Univercity Press.
Nurkancana, Wayan. 1993. Pemahaman Individu. Surabaya: Usana Offset Printing.
Polit dan Beck. 2004. Nursing Research: Principles and Method. Ed. Pholandelpia:
Lippnoott Williams & Wilkins.
Raharjo, Susilo dan Gudnanto. 2013. Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Suryabrata. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wahyuningsih, Sri. 2013. , Metode Penelitian Studi Kasus (Konsep, Teori Pendekatan
Psikologi Komunikasi, dan Contoh Penelitian). Bangkalan: UTM Press.
Walgito, Bimo. 1987. Psikologi Sosial. Yogyakarta: UGM.
53
Winkle, W. S. 1991. Buku Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:
Grasindo
Artiati Suhesti, Endang. 2012. Bagaimana Konselor Bersikap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ketut Sukardi, Dewa dan Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno dan Erman Amti. 1998. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta. 1998.
Rahmat Herdi, Dede. 2013. Bimbingan Konseling Kesehatan Mental di Sekolah.
Bandung:Remaja Rosda Karya.
Riswani. 2009. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. Pekanbaru: Suska Press.
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Yulianda, Dita. 2017. "Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Autobiografi dengan
Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning". Alinea. 6 (2)
54
55