The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ayidadirukmana, 2022-11-11 03:25:07

IPA_TERAPAN_X_2

IPA_TERAPAN_X_2

Apabila X dan Z bersenyawa, rumus senyawa yang terbentuk adalah ….

a. X3Z berikatan dengan unsur maka rumus senyawa dan jenis
b. X3Z2 yang terjadi adalah ….
c. X2Z
d. X2Z3
e. XZ3
15. Jika unsur
ikatan

a. XZ dan ion

b. X2Z dan ion
c. XZ2 dan ion
d. X2Z dan kovalen
e. XZ2 dan kovalen

B. Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
1. Bagaimana cara membedakan larutan elektrolit dengan larutan nonelektrolit?
2. Sebutkan alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan eksperimen uji daya hantar

listrik larutan!
3. Mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan

nonelektrolit tidak?
4. a. Sebutkan tiga contoh senyawa ion!

b. Tuliskan reaksi ionisasinya!
5. Termasuk larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah, ataukah larutan nonelektrolit senyawa-

senyawa berikut ini?
a. CO(NH2)2
b. KCl
c. CH3COOH
d. C6H6
e. FeCl3

87

BAB 5
ASAM, BASA DAN GARAM

A. Teori Asam

Teori asam basa yang digunakan dalam mempelajari kimia adalah: teori asam-basa
Arrhenius, teori asam-basa Bronsed Lowry, dan teori asam basa G.N. Lewis.

1. Teori Asam-Basa Arrhenius
Svante Arrhenius (1887) menggemukakan bahwa asam adalah suatu zat yang jika

dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion hidronium (H+). Asam umumnya
merupakan senyawa kovalen dan akan menjadi bersifat asam jika sudah larut dalam air.
Sebagai contoh gas hidrogen klorida bukan merupakan asam, tetapi jika sudah dilarutkan
ke dalam air akan menghasilkan ion H+. Reaksi yang terjadi adalah:

HCl(aq) → H+(aq) + Cl–(aq)
Beberapa jenis senyawa Asam, di antaranya:
a. Asam Biner ( terdiri dari dua jenis unsur)
Contoh:
 Asam Fluorida : HF(aq) → H+(aq) + F–(aq)
 Asam klorida : HCl(aq) → H+(aq) + Cl–(aq)
 Asam sulfida : H2S(aq) → H+(aq) + S2-(aq)
b. Asam Oksi
Contoh:
 Asam nitrat : HNO3(aq) → H+(aq) + NO3–(aq)
 Asam karbonat : H2CO3(aq) → 2H+(aq) + CO32-(aq)
 Asam sulfat : H2SO4(aq) → 2H+(aq) + SO42-(aq)
 Asam Posfat : H3PO4(aq) → 3H+(aq) +PO43-(aq)
c. Asam organik
Contoh:
 Asam format : HCOOH(aq) → H+(aq) + HCOO–(aq)
 Asam asetat : CH3COOH(aq) → H+(aq) + CH3COO–(aq)
 Asam benzoat : C6H5COOH(aq) → H+(aq) + C6H5COO–(aq)
 Asam oksalat : H2C2O4(aq) → 2H+(aq) + C2O42-(aq)

88

d. Oksida asam

Contoh:

 Karbon dioksida : CO2(g) + H2O(l) → H2CO3(aq)

 Belerang trioksida : SO3(g) + H2O(l) → H2SO4(aq)

 Dinitrogen pentaoksida : N2O5(g) + H2O(l) → 2HNO3(aq)

Dari persamaan reaksi di atas menunjukan bahwa satu molekul asam dapat

melepaskan satu, dua, atau tiga ion H+. Asam yang hanya menghasilkan sebuah ion H+

disebut sebagai asam monoprotik, atau asam berbasa satu, asam yang menghasilkan dua

ion H+ setiap molekulnya disebut asam diprotik atau asam berbasa dua.

Menurut teori asam basa Arrhenius, asam kuat merupakan asam yang derajat

ionisasinya besar atau mudah terurai dan banyak menghasilkan ion H+ dalam larutannya.

Asam kuat di antaranya HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, dan HClO4.

Menurut teori asam basa Arrhenius, basa adalah senyawa yang di dalam air (larutan)
dapat menghasilkan ion OH–. Umumnya basa terbentuk dari senyawa ion yang

mengandung gugus hidroksida (-OH) di dalamnya. Akan tetapi, amonia (NH3) meskipun

merupakan senyawa kovalen, tetapi di dalam air termasuk senyawa basa, karena setelah

dilarutkan ke dalam air dapat menghasilkan ion OH–.

Beberapa jenis senyawa basa, di antaranya:

a. Senyawa yang mengandung ion hidroksida

Contoh:

 Natrium hidroksida : NaOH(aq) → Na+(aq) + OH–(aq)

 Kalsium hidroksida : Ca(OH)2(aq) → Ca2+(aq) + 2OH–(aq)

 Aluminium hidroksida: Al(OH)3(aq) → Al3+(aq) + 3OH–(aq)

b. Oksida basa

Contoh:

 Natrium oksida : Na2O(s) + H2O(l) → 2NaOH(aq)

 Kalsium oksida : CaO(s) + H2O(l) → Ca(OH)2(aq)

 Aluminium oksida : Al2O3(s) + H2O(l) → 2Al(OH)3(aq)

c. Senyawa yang bereaksi dengan air melepaskan ion hidroksida
Contoh:

89

 Amonia : NH3(aq) + H2O(l) → NH4+(aq) + OH–(aq)
 Metil amina: CH3NH2(aq) + H2O(l) → CH3NH3+(aq) + OH–(aq)
 Fenil amina: C6H5NH2(aq) + H2O(l) → C6H5NH3+(aq) + OH–(aq)
Tidak semua senyawa yang mengandung gugus –OH merupakan suatu basa.
Contohnya CH3COOH dan C6H5COOH justru merupakan asam. Sementara itu, CH3OH
tidak menunjukan sifat asam atau basa di dalam air (ini termasuk oksida indiferen).
Menurut teori asam basa Arrhenius, terdapat basa kuat dan basa lemah. Basa kuat
merupakan basa yang mudah terionisasi dalam larutannya dan banyak mengahsilkan ion
OH–. Contohnya KOH, NaOH, Ba(OH)2, dan Ca(OH)2.

2. Teori Asam-Basa Bronsed Lowry
Penjelasan tentang asam basa Arrhenius tidak memuaskan untuk menjelaskan tentang

sifat asam basa pada larutan yang bebas air atau tidak mengandung air. Sebagai contoh,
asam asetat akan bersifat asam jika dilarutkan dalam air, tetapi ternyata sifat asam tersebut
tidak tampak pada saat asam asetat dilarutkan dalam benzena. Demikian juga dengan
larutan amonia (NH3) dalam natrium amida (NaNH2) yang menunjukan sifat basa meskipun
tidak mengandung ion OH–. Berdasarkan kenyataan tersebut, Johannes Bronsted dan
Thomas Lowry secara terpisah mengusulkan bahwa yang berperan dalam memberikan
sifat asam dan basa suatu larutan adalah ion H+ atau proton (ingat bahwa hidrogen hanya
mempunyai sebuah elektron dan sebuah proton, jika elektronnya dilepaskan menjadi ion
+1, yang tertinggal hanya proton saja).

Menurut teori asam basa Bronsted Lowry, asam adalah spesi (ion atau molekul) yang
berperan sebagai donor proton (pemberi proton atau H+) kepada suatu spesi yang lain.
Basa adalah spesi (molekul atau ion) yang bertindak menjadi akseptor protn (penerima
proton atau H+).

Atau bisa juga dikatakan bahwa menurut teori asam basa Bronsted Lowry , jika suatu
asam memberi proton (H+), maka sisa asam tersebut mempunyai kemampuan menerima
proton atau bertindak sebagai basa. Sisa asam tersebut dinamakan basa konjugasi dari asam
semula. Demikian pula, jika suatu basa menerima proton (H+), maka basa yang terbentuk
mempunyai kemampuan untuk melepas proton tersebut atau bertindak sebagai asam
konjugasi dari basa semula. Secara umum pasangan asam basa konjugasi ini bisa
digambarkan sebagai berikut:
Definisi tersebut dinyatakan dalam persamaan kesetimbangan:

90

asam + basa basa konjugat + asam konjugat.

Jika asam ditulis sebagai HA, persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:

HA + B A− + HB+

Digunakan tanda kesetimbangan, karena reaksi dapat terjadi bolak-balik.
Asam HA, dapat melepas proton menjadi basa konjugatnya, A−. Sedangkan basa B, dapat
menerima proton menjadi asam konjugatnya, HB+. Reaksi asam-basa pada umumnya
berlangsung cepat sehingga komponen reaksi biasanya berada dalam kesetimbangan
dinamis satu sama lain.

Bisa disimpulkan menurut teori asam basa Bronsted Lowry:
Asam adalah pemberi/ donor proton (H+)
Basa adalah penerima/ akseptor proton (H+)

Contoh :
NH3(aq) + H2O(l) ↔ NH4+(aq) + OH–(aq)
Basa Asam Asam Basa

Untuk reaksi ke kanan:
H2O merupakan asam karena memberikan ion H+ (donor proton) kepada molekul NH3

untuk berubah menjadi NH4+. NH3 adalah basa karena menerima H+ (akseptor proton) dari
molekul H2O.

Untuk reaksi ke kiri:
Ion NH4+ adalah asam karena memberikan ion H+ (donor proton) kepada ion OH– dan
berubah menjadi molekul NH3. Sedangkan ion OH– adalah basa karena menerima ion H+
(akseptor H+) untuk berubah menjadi molekul H2O. H2O dan ion OH– adalah pasangan
asam basa konjugasi, dimana ion OH– merupakan basa dari H2O dan sebaliknya H2O adalah
asam konjugasi dari ion OH–.
NH3 dan NH4+ juga merupakan pasangan asam basa konjugasi, di mana NH3 adalah
basa konjugasi dari NH4+ dan sebaliknya NH4+ adalah asam konjugasi dari NH3.

91

Contoh 2:
HCl(g) + H2O(l) ↔H3O+(aq) + Cl – (aq)

Asam 1 Basa 2 Asam 2 Basa 1
HCl dan Cl– serta H2O dan OH– merupakan pasangan asam basa konjugasi. HCl adalah
asam konjugasi dari ion Cl– dan sebaliknya Cl– merupakan basa konjugasi dari HCl.

Sifat basa dari larutan Na3PO4 dalam air juga dapat dijelaskan dengan teori asam basa
Bronsted Lowry. Dalam larutan tersebut, yang menyebabkan sifat basa adalah ion PO43-.

H2O(l) + PO43-(aq) ↔HPO42-(aq) + OH–(aq)

Asam 1 Basa 2 Asam 2 Basa 1

3. Teori Asam-Basa G.N Lewis
Konsep asam–basa menurut Bronsted Lowry mempunyai keterbatasan, terutama di

dalam menjelaskan reaksi–reaksi yang melibatkan senyawa tanpa proton (H+), misalnya
reaksi antara senyawa NH3 dan BF3, serta beberapa reaksi yang melibatkan senyawa
kompleks.

Pada tahun 1932, ahli kimia G.N. Lewis mengajukan konsep baru mengenai asam-
basa, sehingga dikenal adanya asam Lewis dan basa Lewis. Menurut teori asam basa Lewis
tersebut, yang dimaksud dengan asam Lewis adalah suatu senyawa yang mampu menerima
pasangan elektron dari senyawa lain, atau akseptor pasangan elektron, sedangkan basa
Lewis adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada senyawa lain
atau donor pasangan elektron. Teori asam basa Lewis ini lebih memperluas konsep asam-
basa yang telah dikembangkan oleh Brosted Lowry.

Contoh teori asam basa Lewis
H+ + NH3 ↔ NH4+

92

Pada gambar di atas, ditunjukan bahwa ion H+ merupakan asam Lewis karena mampu

menerima pasangan elektron, sedangkan NH3 merupakan basa Lewis. Pada reaksi antara

BF3 dengan NH3, yang merupakan asam Lewis adalah BF3 karena mampu menerima

sepasang elektron, sedangkan NH3 merupakan basa Lewis.
Konsep asam–basa yang dikembangkan oleh Lewis didasarkan pada ikatan kovalen

koordinasi. Masih ingat kan ya? Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kimia yang

terbentuk dari pemakaian elektron bersama yang digunakan elektron tersebut berasal dari

salah satu atom atau molekul yang berikatan. Atom atau spesi yang yang memberikan

pasangan elektron di dalam membentuk ikatan kovalen koordinasi akan bertindak sebagai

basa, sedangkan atom, molekul atau spesi yang menerima pasangan elektron disebut

sebagai asam. Dengan konsep ini dapat dijelaskan terjadinya reaksi asam basa yang terjadi

pada ion logam dengan suatu molekul atau ion.

Ag+(aq) + 2NH3(aq) → Ag(NH3)+(aq)

Asam Basa
Cd2+(aq) + 4I–(aq) → CdI4–(aq)

Asam Basa

Ni(s) + 4CO(g) → Ni(CO)4(g)

Asam Basa

Dalam dunia kedokteran dan farmasi dikenal adanya senyawa basa Lewis yang

digunakan sebagai obat keracunan logam berat, misalnya merkuri, timbal, kadmium, dan

sejenisnya. Obat tersebut dikelompokan sebagai British Anti Lewis Acid (BAL).

Kandungan obat tersebut antara lain oksalat dan etilendiamintetraasetat (EDTA). Peranan

BAL dalam obat tersebut adalah mengikat logam berat agar mengganggu kerja enzim.
Hg2+(aq) + 2C2O42-(aq) → [Hg(C2O4)2]2-(aq)

Asam Basa

Cd2+(aq) + 2(EDTA4-)(aq) → [Cd (EDTA)2 ]6- (aq)

93

Asam Basa

B. Asam

Asam adalah suatu zat yang bila dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion
hidrogen (H+). Asam umumnya merupakan senyawa kovalen. Misalnya gas hidrogen
klorida yang merupakan senyawa kovalen, tetapi apabila dilarutkan ke dalam air akan
terurai menjadi ion-ionnya.

HCl(aq) + H2O(l)  H+(aq) + Cl–(aq)

Ion H+ tidak berupa proton bebas akan tetapi terikat pada molekul air, membentuk
H3O+(aq) (ion hidronium). Akan tetapi untuk kepraktisan di sini kita akan menuliskannya
sebagai H+ saja. Perlu diingat bahwa yang menyebabkan sifat asam adalah ion H+. Oleh
karena itu, senyawa seperti etanol (C2H5OH), gula pasir (C12H22O11), meskipun
mengandung atom hidrogen tetapi tidak bersifat asam, sebab tidak dapat melepaskan ion
H+ ketika dilarutkan ke dalam air.

Namun ada senyawa yang tidak mempunyai atom hidrogen tetapi bersifat asam yaitu
beberapa oksida bukan logam, sebab mereka dapat bereaksi dengan air menghasilkan ion
H+. oksida semacam ini disebut oksida asam.

Pada Tabel 5.1 berikut tercantum nama asam dan reaksi ionisasinya.
Tabel 5.1 Asam dan Reaksi Ionisasinya

Rumus Asam Nama Asam HF(aq) Reaksi Ionisasinya
HF Asam flourida H+(aq) + F–(aq)
HBr Asam bromide
H2S Asam sulfide HBr(aq) H+(aq) + Br–(aq)
CH3COOH (aq) Asam asetat (cuka)
HNO3 Asam nitrat H2S(aq) 2H+(aq) + S2–(aq)
H2SO4 Asam sulfat
H3PO4 Asam fosfat CH3COOH(aq) H+(aq) +CH3COO–
HNO3(aq) H+(aq) + NO3–(aq)

H2SO4(aq) 2H+(aq) + SO42–(aq)

H3PO4(aq) 3H+(aq) + PO43–(aq)

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah ion H+ yang dihasilkan untuk setiap
molekul asam dapat satu, dua, atau tiga. Asam yang menghasilkan sebuah ion H+ disebut

94

sebagai asam monoprotik atau asam berbasa satu, sedangkan asam yang menghasilkan dua
ion H+ disebut asam diprotik atau berbasa dua.

C. Basa

Basa adalah suatu senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion
OH–. Yang menyebabkan sifat basa adalah ion OH–.

Contoh:
NaOH merupakan suatu basa sebab dapat melepaskan OH– jika dilarutkan ke dalam air.

NaOH(aq)  Na+(aq) + OH–(aq)

Tabel 5.2 Beberapa Basa dan Ionisasinya dalam Air

Rumus Basa Nama Basa Ionisasi Basa
NaOH Natrium hidroksida
KOH Kalium hidroksida NaOH(aq) Na+(aq) + OH–(aq)
Ca(OH)2 Kalsium hidroksida
Ba(OH)2 Barium hidroksida KOH(aq) K+(aq) + OH–(aq)
NH3 Amonia
Ca(OH)2(aq) Ca2+(aq) + 2OH–(aq)
Ba(OH)2(aq) Ba2+(aq0 + 2OH–(aq)
NH3(aq) NH4+(aq) + OH–(aq)

Dari tabel di atas NH3 tidak mempunyai gugus OH namun NH3 dalam larutannya
dapat menghasilkan OH–. Namun tidak semua senyawa yang mengandung gugus OH–
merupakan suatu basa. Misalnya, CH3COOH dan C6H5OH justru merupakan

D. Garam

Garam adalah suatu senyawa yang terbentuk dari reaksi antara asam dan basa.
Reaksinya disebut reaksi netralisasi. Garam yang dihasilkan dari reaksi ini dapat bersifat
asam, bersifat basa, maupun bersifat netral. Berdasarkan sifatnya, garam dibedakan
menjadi 3 macam, yaitu garam netral, garam asam dan garam basa.
1. Garam Netral

Garam netral adalah garam yang terbentuk dari basa kuat dengan asam kuat. Garam
ini bersifat netral dan mempunyai pH=7. Contoh: NaCl, KCl, K2SO4, NaNO3, MgSO4, KBr,
NaBr, dan lain-lain.

95

2. Garam Asam
Garam asam adalah garam yang terbentuk dari basa lemah dan asam kuat. Garam ini

bersifat asam dan mempunyai pH7. Contoh: NaCN, CH3COONa, K2CO3, KCN, KF,
BaCO3 dan lain-lain. Tabel 3 Berikut garam beserta keberadaannya

Tabel 5.3 Garam Asam dan Keberadaanya

E. pH Larutan

pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau
kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas
ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah
skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya
ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0.
Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH
lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting
dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia,
biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi.

H2O(l)+H2O(l)↔ H3O+(aq)+OH-(aq)

Tetapan kesetimbangan untuk ionisasi tersebut adalah:
K= [H3O+][OH-] / [H2O]

[H2O] sangat besar (55.5M) dibanding dengan [H3O+] dan [OH-] sehingga dapat
dianggap konstan. Dengan demikian harga K dapat ditulis sebagai Kw untuk menunjukkan
faktor [H2O].

Kw=[ H3O+][OH-]

96

Untuk air murni [H3O+]=[OH-]
Kw=[ H3O+][OH-]
Kw=[ H3O+][ H3O+]
Kw=[ H3O+]2
[ H3O+]= √ =√1.00 10−14
[ H3O+]=1.00x 10-7 M
Selanjutnya pH (pH= -log [ H3O+]) dan pOH (pOH= -log [OH-]).
pH= -log 1.00x 10-7= 7
pKw= pH+pOH = 14

Sifat suatu larutan elektrolit ditentukan oleh banyaknya [ H3O+] dan [OH-]. Jika
[ H3O+] = [OH-], pH = pOH = 7 (larutan bersifat netral)
[ H3O+] > [OH-], pH < 7, pOH > 7 (larutan bersifat basa)
[ H3O+] < [OH-], pH > 7, pOH < 7 (larutan bersifat asam)

F. Indikator

Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa, salah satunya dapat
menggunakan indikator asam basa. Indikator asam-basa adalah zat yang mengalami
perubahan warna dalam larutan dengan sifat yang berbeda. Indikator asam-basa ada yang
berupa indikator alami dan indikator buatan.

1. Indikator Buatan
Kertas lakmus yang terdiri dari lakmus merah dan lakmus biru merupakan contoh dari

indikator buatan. Dalam larutan asam, lakmus biru berubah warnanya menjadi merah,
sedangkan lakmus merah tetap merah. Dalam larutan basa, lakmus merah berubah warna
menjadi biru, sedangkan lakmus biru tetap biru. Jika ke dalam suatu larutan kita masukkan
kertas lakmus merah atau lakmus biru dan ternyata tidak terjadi perubahan warna kertas
lakmus, maka larutan tersebut bersifat netral.

97

Sumber: http://purewatercare.com/

Gambar 5.1 Indikator lakmus
Indikator buatan lain yang berupa kertas adalah indikator universal. Indikator
buatan dapat juga berupa larutan indikator seperti indikator phenolftalein dan metil
jingga.Indikator buatan dapat juga merupakan perangkat elektronik seperti pH meter.
Larutan yang bersifat asam memiliki ph < 7, larutan yang bersifat netral memiliki pH = 7
dan larutan yang bersifat basa memiliki ph > 7.

Sumber: https://www.slideshare.net/

Gambar 5.2 Indikator universal

Sumber: https://www.ec.gc.ca/

Gambar 5.3 Skala derajat keasaman

98

Sumber: https://laylakimiapasca.files.wordpress.com/

Gambar 5.4 Rentang Ph indikator

2. Indikator Alami
Indikator alami merupakan indikator yang berasal dari bahan alam. Contohnya kunyit,

bunga sepatu. Berdasarkan pembahasan di atas, secara garis besar dapat dinyatakan bahwa
sifat asam memiliki ciri:
1. Rasa masam
2. Dapat mengubah warna ke merah
3. Mempunyai nilai pH < 7
4. Bersifat korosif. Indikator alami merupakan indikator yang berasal dari bahan alam.

Contohnya kunyit, bunga sepatu, daun bayam merah dan daun kubis ungu.

99

Sumber: http://www.bukupedia.net/

Gambar 5.5 Indikator alami

Berdasarkan pembahasan di atas, secara garis besar dapat dinyatakan bahwa:
a. Sifat asam

1.) Rasa masam
2.) Dapat mengubah warna ke merah
3.) Mempunyai nilai pH < 7
4.) Bersifat korosif
b. Sifat basa
1.) Rasa pahit
2.) Terasa licin seperti sabun apabila terkena kulit
3.) Dapat mengubah warna kertas lakmus merah menjadi warna biru
4.) Mempunyai nilai pH>7

G. RANGKUMAN

➢ Teori asam-basa Arrhenius asam adalah suatu zat yang jika dilarutkan ke dalam air
akan menghasilkan ion hidronium (H+). Basa adalah senyawa yang di dalam air
(larutan) dapat menghasilkan ion OH–.

➢ Teori asam-basa Bronsted Lowry asam adalah spesi (ion atau molekul) yang
berperan sebagai donor proton (pemberi proton atau H+) kepada suatu spesi yang lain.
Basa adalah spesi (molekul atau ion) yang bertindak menjadi akseptor proton
(penerima proton atau H+).

➢ Teori asam-basa Lewis yang dimaksud dengan asam Lewis adalah suatu senyawa
yang mampu menerima pasangan elektron dari senyawa lain, atau akseptor pasangan
elektron, sedangkan basa Lewis adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan
elektron kepada senyawa lain atau donor pasangan elektron.

100

➢ Asam adalah suatu zat yang bila dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion
hidrogen (H+).

➢ Asam dan reaksi Ionisasinya

Rumus Asam Nama Asam Reaksi Ionisasinya

HF Asam flourida HF(aq) H+(aq) + F–(aq)

HBr Asam bromide HBr(aq) H+(aq) + Br–(aq)

H2S Asam sulfide H2S(aq) 2H+(aq) + S2–(aq)

CH3COOH (aq) Asam asetat (cuka) CH3COOH(aq) H+(aq) +CH3COO–

➢ Basa adalah suatu senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion

OH–. Yang menyebabkan sifat basa adalah ion OH

➢ Beberapa basa dan ionisasinya dalam air

Rumus Basa Nama Basa Ionisasi Basa

NaOH Natrium hidroksida NaOH(aq) Na+(aq) + OH–(aq)

KOH Kalium hidroksida KOH(aq) K+(aq) + OH–(aq)

Ca(OH)2 Kalsium hidroksida Ca(OH)2(aq) Ca2+(aq) + 2OH–(aq)

Ba(OH)2 Barium hidroksida Ba(OH)2(aq) Ba2+(aq0 + 2OH–(aq)

NH3 Amonia NH3(aq) NH4+(aq) + OH–(aq)

➢ Garam adalah suatu senyawa yang terbentuk dari reaksi antara asam dan basa.

➢ Berdasarkan sifatnya, garam dibedakan menjadi 3 macam, yaitu garam netral, garam

asam dan garam basa.
➢ pH adalah derajat keasamaan suatu larutan
➢ pH= - log [H+]
➢ Indikator asam-basa adalah zat yang mengalami perubahan warna dalam larutan

dengan sifat yang berbeda.
➢ Indikator asam-basa ada yang berupa indikator alami dan indikator buatan.

UJI KOMPETESI

I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang tepat!

1. Asam adalah suatu zat yang bila dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan .. .

a. Asam d. asam asetat

b. ion hidrogen e. natrium hidroksida

c. reaksi kimia

2. Sifat asam memiliki pH … .

a. > 5 d. > 10

b. >3 e. < 3

c. < 7

101

3. Suatu bahan bersifat basa jika mempunyai sifat . . . .

a. dapat menghantarkan arus listrik

b. terasa licin di kulit

c. melepaskan ion hidrogen (H+) dalam air

d. memerahkan lakmus biru

e. tidak dapat menghantarkan arus listrik

4. Pada pelarutan NH3 terjadi kesetimbangan sebagai berikut.
NH3(aq) + H2O(l) ↔ NH4+ (aq) + OH– (aq)
Yang merupakan pasangan asam-basa konjugasi adalah ….

a. NH3 dan H2O d. H2O dan NH4+
b. NH4+ dan OH– e. H2O dan OH–
c. NH3 dan OH–

5. Garam yang terbentuk dari basa kuat dengan asam kuat adalah

a. garam dapur d. garam buatan

b. garam asam e. garam netral

c. garam basa
6. Kertas lakmus yang terdiri dari lakmus berwarna … .

a. hijau dan kuning d. putih dan abu-abu

b. merah dan hijau e. hitam dan merah

c. merah dan biru
7. Contoh dari indikator alami adalah … .

a. kunyit dan bunga sepatu d. garam dan pewarna makanan

b. pandan dan daun suji e. lakmus dan pandan

c. pewarna makanan dan soda kue
8. Asam menurut Arrhenius adalah ….

a. spesi donator (pemberi) proton dalam suatu reaksi

b. senyawa yang dapat menerima pasangan elektron (akseptor pasangan elektron)

c. senyawa yang dapat memberikan pasangan electron kepada senyawa lain (donor

pasangan elektron)

d. Suatu zat yang dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion H+

e. Suatu zat yang dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion OH–
9. Di bawah ini adalah senyawa yang tergolong suatu basa adalah ….

a. CH3COOH

b. HNO3

102

c. NH3
d. H2O
e. C6H12O6
10. Suatu gas dalam air membentuk larutan. Larutan tersebut dapat mengubah warna
lakmus merah menjadi biru. Gas tersebut adalah ….

a. SO2 d. HCl
e. NH3
b. CO2
d. 2H+(aq) + S2–(aq)
c. H2S e. Ca2+(aq) + 2OH–(aq)

11. Ionisasi basa NH3 (ammonia) adalah … .
a. Ba2+(aq0 + 2OH–(aq)
b. NH4+(aq) + OH–(aq)
c. Na+(aq) + OH–(aq)

12. Sifat basa adalah memiliki rasa … .

a. manis d. pahit

b. pedas e. asin

c. asam

13. Tanah yang bersifat asam dapat dinetralkan dengan menambahkan . . .

a. kalsium hidroksida d. magnesium hidroksida

b. natrium hidroksida e. natrium oksida

c. amonium hidroksida

14. Fenolftalein dapat berubah warna dalam larutan yang mempunyai pH . . .

a. 1 d. 5

b. 7 e. 9

c. 2

15. Larutan garam dapur mempunyai nilai pH . . . .

a. 1 d. 14

b. 10 e. 8

c. 7

II. Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
1. Jelaskan masing-masing pengertian dari asam, basa, dan garam!
2. Sebutkan ciri masing-masing dari asam dan basa!

103

3. Sebutkan dan jelaskan 2 jenis garam!
4. Sebutkan macam-macam basa beserta nama kimianya!
5. Jelaskan 2 macam indikator!

104

BAB 6
KOMPOSISI SEL

A. Konsep Sel

Saat terdengar kata “sel”, mungkin yang tebersit dalam benak adalah tempat untuk
mengurung penjahat atau pelaku tindak kriminal. Sel diibaratkan sebuah kamar-kamar
kecil yang tersebar di seluruh tubuh. Isi kamar tersebut berupa organela sel yang selalu
beraktivitas. Karena itu, sel dapat diartikan sebagai unit terkecil penyusun makhluk hidup
dan sebagai tempat berlangsungnya aktivitas kehidupan. Aktivitas kehidupan sel meliputi
sintesis, pengangkutan zat, pernapasan, pengeluaran zat sisa, pertumbuhan dan
perkembangan.

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti
biologis. Semua fungsi kehidupan di atur dan berlangsung di dalam sel karena itulah, sel
dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi. Makhluk
hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular, misalnya, bakteri, archaea,
serta sejumlah fungi dan protozoa) atau dari banyak sel (multiselular). Pada organisme
multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel penyusunnya, yang menjadi dasar
bagi hirarki hidup.

Sel adalah jaringan penyusun bagian dalam tubuh manusia yang terdiri atas suatu
membran limitas eksternal sitoplasma dari suatu inti. Berdasarkan penelitian biokomia
diketahui bahwa reaksi kompleks terjadi di dalam sel, tetapi tidak diketahui dengan pasti
karena mikroskop hanya memperlihatkan bahwa sitoplasma mengandung sari sel dan
struktur khusus yaitu organela.

Untuk mengamati struktur sel digunakan mikroskop, yang saat ini dikenal ada dua
jenis yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya jenisnya antara
lain: mikroskop fluoresen, fase kontras, kontras-interferensi, lapang-gelap, dan lapang-
terang. Mikroskop fase-kontras, kontras-interferensi, dan lapang gelap digunakan untuk
mengamati dan mempelajari sel-sel hidup. Mikroskop fluoresen untuk mengetahui tempat
molekul-molekul tertentu di dalam sel hidup maupun yang sudah dimatikan. Zat-zat yang
akan dilihat ditandai dengan fluorokrom, suatu senyawa berpendar, menggunakan cahaya
sinar ultraviolet.

105

Mikroskop elektron ada dua jenis yaitu mikroskop elektron transmisi dan mikroskop
elektron payar (scaning). Mikroskop elektron transmisi memberikan bayangan dua dimensi
dan digunakan untuk mempelajari struktur halus sel dan komponen-komponennya.
Sedangkan mikroskop elektron payar memberikan bayangan tiga dimensi, digunakan untuk
mempelajari bentuk permukaan seperti mikrovili, stereosilia, dan organisme uni sel.

Selain dengan mikroskop mempelajari sel bisa dengan teknik fraksinasi yang
digunakan untuk mengisolasi komponen sel, teknik kultur sel, teknik isolasi DNA dan lain-
lain.

1. Sejarah Penemuan Sel
Penemuan sel pertama kali diawali dengan ditemukannya mikroskop oleh Antoni von

Leeuwenhoek. Bentuk mikroskop tersebut adalah sebagaimana Gambar 6.1. Penemuan
mikroskop ini mengilhami ilmuwan Inggris, Robert Hooke (1635-1703), ahli pembuat
mikroskop, melakukan pengamatan terhadap suatu objek biologi. Saat itu ia mengamati
irisan penampang melintang gabus batang tumbuhan, sebagaimana Gambar 6.2.

Gambar 6.1 Bentuk mikroskop pertama Gambar 6.2 Irisan melintang gabus batang

tumbuhan oleh hooke

Hooke melihat bahwa di dalam irisan itu terdapat rongga segi enam yang kosong dan

mati. Ia menyebut rongga tersebut dengan nama sel, yang berasal dari kata cellula yang
berarti ‘kamar’. Tahun 1838, dua ahli biologi Jerman, yakni Mathias J. Schleiden yang ahli

botani dan Theodor Schwann yang ahli zoologi, membuktikan bahwa sel itu hidup dan

bukanlah kamar kosong. Namun, di dalam sel tersebut terdapat sitoplasma yang berisi

cairan. Oleh karena itu, muncullah teori terkait sel. Teori ini dinamakan teori sel yang

berbunyi bahwa semua makhluk hidup tersusun atas sel. Sel merupakan bagian terkecil

makhluk hidup yang memiliki aktivitas kehidupan.

106

Sehingga hal ini menunjukkan bahwa sel merupakan penyusun dasar tubuh makhluk
hidup. Penelitian tentang sel kemudian dilanjutkan oleh Felix Dujardin. Ia menemukan
bahwa sel terdiri atas dinding sel dan isi sel. Isi sel ini meliputi materi yang bersifat hidup
dan termasuk bagian terpenting sel hidup. Isi sel tersebut dinamakan protoplasma dengan
arti zat pertama yang dibentuk. Sebenarnya, istilah protoplasma sudah diperkenalkan
pertama kali tahun 1839 oleh ahli fi siologi J. Purkinye. Protoplasma merupakan bagian sel
yang berisi cairan menyerupai agar-agar.

Pada tahun 1858 Rudolf Virchow melengkapi teori tentang sel tersebut. Ia menemukan
bahwa setiap sel berasal dari sel yang ada sebelumnya (omnis cellula cellula), sehingga
muncul teori sel yang menyatakan bahwa sel merupakan kesatuan pertumbuhan. Virchow
berperan dalam banyak penemuan penting. Meskipun dia dan Theodor Schwann tidak
disebutkan bersamaan, dia paling banyak diketahui karena theorinya tentang sel. Ia adalah
orang pertama yang menemukan sel-sel leukemia. Dia adalah orang pertama yang
menerima dan menjiplak hasil kerja Robert Remak yang menyatakan asal usul sel adalah
pembagian unsur sebelumnya. Teori ini ia tuangkan dalam epigram Omnis cellula e cellula
(setiap sel berasal dari sel sebelumnya) yang dipublikasikan tahun 1858. Tahun 1880
August Weismann memberikan suatu kesimpulan bahwa sel yang ada saat ini dapat
ditelusuri asal-usulnya hingga makhluk hidup yang paling awal.

Inilah sejarah penemuan sel dari awal hingga abad ke-19. Tentunya, pembahasan sel
saat ini semakin berkembang, dimana dipahami bahwa sel hidup memiliki berbagai ukuran
dan bentuk, yakni bulat, oval, panjang, pendek, berekor, atau lainnya. Untuk mengetahui
berbagai bentuk sel pada makhluk hidup, perhatikan Gambar 6.3.

107

Sumber: http://www.pintarbiologi.com/

Gambar 6.3 Berbagai bentuk sel
Sekelompok sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama akan membentuk sebuah
jaringan. Sekelompok jaringan yang berbeda akan menyusun suatu organ. Kemudian,
organ-organ yangberbeda bekerja membentuk sistem organ. Berbagai sistem organ yang
berbeda akan berkumpul sehingga terbentuk individu.
Seiring perkembangan teknologi mikroskop dan teknik pewarnaan, penemuan bagian
sel pun mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan organel sel
sebagai penyusun sel hidup. Alhasil, komponen sel yang diketahui semakin bertambah. Sel
tidak hanya tersusun atas membran plasma, inti sel dan sitoplasma saja, namun juga organel
sel. Bahkan, pada tahun 1944 telah ditemukan komponen sel yaitu DNA atau gen.

108

Sumber: http://newpcairport.com/study/chromosome-worksheet.html

Gambar 6.4 Gambar DNA
Selain sebagai unit terkecil dalam kehidupan, sel juga sebagai unit fungsional.
Artinya, sel-sel yang menyusun tubuh makhluk hidup tersebut dapat melakukan fungsi atau
kegi atan hidup. Selain itu, sel juga berperan sebagai unit hereditas (pewaris), yakni
penurun sifat genetis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2. Komponen Kimiawi Sel
Protoplasma adalah sejenis substansi kompleks seperti agar-agar yang tidak habis

digunakan saat aktivitas kimiawi dalam menjaga kelangsungan hidup sel. Substansi
kompleks sel tersebut merupakan campuran beberapa senyawa yang memiliki
perbandingan sama. Sebagian besar komposisi protoplasma adalah air, yakni sekitar 70%
sampai 90%. Di dalamnya terdapat garam mineral dan senyawa organik/senyawa karbon
seperti karbohidrat, lemak, dan protein.

109

Sumber: http://www.perpusku.com/

Gambar 6.5 Protoplasma

Komposisi protoplasma dalam setiap sel makhluk hidup berbeda. Sebab, protoplasma
tersusun atas berbagai campuran zat. Oleh karena itu, kemungkinan protoplasma yang
menyusun sel penyusun organ tubuh tertentu berbeda dengan sel penyusun organ tubuh
yang lain. Sebagai contoh, protoplasma yang menyusun sel otot berbeda dengan
protoplasma penyusun sel otak.

Berdasarkan asal bahannya, protoplasma memiliki dua bentuk, yakni bagian cair dan
semi cair seperti gel. Kedua bentuk protoplasma ini amat bergantung pada bahan fisiologis
sel. Sekalipun para ilmuwan mengetahui berbagai jenis senyawa dalam protoplasma,
namun tidak satupun yang mampu membuat sebuah campuran sehingga bisa disebut
protoplasma. Kendalanya adalah sifat pasti dari protoplasma masih belum diketahui. Selain
itu, para ilmuwan belum mampu menghasilkan kondisi lingkungan yang hidup dapat mulai.
Ini membuktikan kuasa dari Tuhan Yang Maha Esa.

B. Struktur Sel

Sebuah sel merupakan unit terkecil dalam kehidupan. Di dalamnya berisi suatu zat
hidup yang dinamakan protoplasma. Protoplasma merupakan gabungan dua kata yang
berasal dari Yunani, yakni protos artinya pertama dan plasm artinya bentuk.

Secara umum, struktur sel makhluk hidup terbagi dalam dua jenis, meliputi sel
prokariotik dan sel eukariotik. Prokariotik (prokaryote) berasal dari bahasa Yunani, yakni
pro artinya ‘sebelum’ dan karyon artinya ‘kernel’ atau ‘nukleus’. Berdasarkan asal kata
tersebut, sel prokariotik diartikan sebagai sel makhluk hidup yang tidak bernukleus. Ciri-
ciri sel prokariotik adalah materi genetiknya berada di dalam nukleoid; tidak bermembran;
dan tidak memiliki beberapa organel khusus, seperti mitokondria, kloroplas, reticulum
endoplasma, aparatus Golgi, lisosom, dan peroksisom.

110

Sumber: http://fandy-irfan99.blogspot.co.id/

Gambar 6.6 Sel dan bagiannya

Di samping itu, sel prakoriotik memiliki materi genetik seperti DNA dan RNA, DNA
plasmid, dan beberapa organel sel, semisal ribosom, dinding sel, mesosom, dan kromatofor
yang berfungsi sama dengan kloroplas dan mitokondria. Makhluk hidup yang berjenis sel
prakoriotik, misalnya bakteri dan alga hijau biru.

Sebaliknya, sel eukariotik (Yunani: eu, berarti sebenarnya) merupakan sel makhluk
hidup bernukleus yang diselaputi membran. Di dalam membran ini terdapat cairan yang
disebut sitoplasma. Contoh sel eukariotik adalah protozoa (seperti amoeba, flagellata,
ciliata), sel hewan, dan sel tumbuhan.

Telah disebutkan di depan bahwa protoplasma sel tersusun oleh membran sel,
sitoplasma, dan organel sel. Kita dapat mengetahui struktur dan fungsinya dengan
menyimak dan memahami uraian berikut.

a. Membran Sel
Membran sel disebut juga membran plasma. Membran sel merupakan bagian sel

yang terletak pada bagian terluar. Sebagian besar bagian sel ini dimiliki oleh sel organisme
eukariotik. Perhatikan Gambar 6.7.

111

Sumber: http://www.nafiun.com/

Gambar 6.7 Struktur membran sel

Membran sel merupakan pembatas antara bagian dalam sel dengan lingkungan
luarnya. Fungsinya antara lain melindungi isi sel, pengatur keluar-masuknya molekul-
molekul, dan juga reseptor rangsangan dari luar. Bagian khusus membran sel yang
berfungsi sebagai reseptor adalah glikoprotein. Glikoprotein merupakan bagian membran
sel yang tersusun atas karbohidrat dan protein. Selain itu, pada membran plasma terdapat
glikolipid yang tersusun atas karbohidrat dan lemak.

Membran sel tersusun atas molekul yang disebut lipoprotein. Lipoprotein merupakan
senyawa kimia yang terdiri atas lemak fosfolipid dan protein. Letak molekul lemak berada
di tengah membran. Karena itu, membran ini dinamakan fosfolipid lapis ganda (bilayer
fosfolipid). Di sebelah luar dan sebelah dalam lapisan lemak pada membrane sel terdapat
dua lapisan protein, yakni protein integral dan protein periferal. Protein membran yang
terbenam di antara lapisan lemak disebut protein integral. Sementara, protein yang
menempel pada lapisan lemak disebut protein tepi (protein periferal).

Pada bagian luar membran plasma terdapat karbohidrat yang melekat pada protein. Di
samping itu, karbohidrat juga melekat pada fosfolipid. Fosfolipid merupakan bagian
membran plasma yang memiliki kepala dan ekor. Bagian kepala fosfolipid bersifat hidrofi
lik atau suka air, sedang kan bagian ekornya bersifat menolak air atau hidrofobik. Membran
sel berbentuk tak simetris. Walau demikian, berbagai zat yang masuk dan keluar dari sel
dapat terseleksi dengan baik. Zat yang masuk melalui fosfolipid lapis ganda meliputi
molekul-molekul hidrofobik. Sementara, zat yang tertolak misalnya saja ion Na+, K+, dan
Cl-. Kemampuan ini dimiliki karena membran sel bersifat selektif permeabel.

112

b. Sitoplasma
Sitoplasma merupakan cairan yang mengelilingi inti sel dengan membran sel sebagai

batas luarnya. Dasar penyusunnya ialah sitosolyang bersifat koloid. Di dalam sitosol
terdapat ion sederhana misalnya sodium, fosfat dan klorida, molekul organik seperti asam
amino, ATP dan neuklotida, dan tempat penyimpanan bahan. Sitosol dapat berubah dari
fase sol (cair) ke fase gel (semi-padat) atau juga sebaliknya. Cairan sitosol yang lebih pekat
dan berbatasan dengan membran sel dinamakan ektoplasma. Keberadaan sitoplasma bagi
sel amatlah penting. Ini ditunjukkan dengan beragamnya fungsi yang dimiliki, antara lain:
tempat penyimpanan bahan-bahan kimia yang berguna saat proses metabolisme sel (seperti
enzim, protein, dan lemak); tempat berlangsungnya reaksi metabolisme; dan tempat
organel-organel untuk bergerak dan bekerja sesuai fungsinya.

Sumber: https://biologiunwir.wordpress.com/

Gambar 6.8 Sitoplasma
c. Organel Sel

Organel sel menyusun setiap sel makhluk hidup prokariotik dan eukariotik. Organel
sel prokariotik telah kita singgung di depan, sementara sel eukariotik memiliki beberapa
organel sel khusus. Organel sel eukariotik meliputi nukleus, retikulum endoplasma,
mitokondria, plastida, aparatus Golgi/badan Golgi, lisosom, badan mikro, sentriol,
kloroplas, mikrotubulus, dan mikrofi lamen. Sel tumbuhan mempunyai beberapa organel
yang khas seperti adanya dinding sel, vakuola, dan kloroplas. Sedangkan sel hewan tidak
memiliki ketiga organel tersebut. Sel hewan bisa mempunyai vakuola dengan ukuran
sangat kecil. Sel hewan juga bisa memiliki dua vakuola misalnya hewan bersel satu.

113

Organel sel makhluk hidup dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yakni
organel sel bermembran dan tidak bermembran.Mari kita perhatikan ulasan berikut.
1.) Organel Sel Bermembran

Organel sel bermembran dari makhluk hidup antara lain; nukleus, retikulum
endoplasma, aparatus Golgi, mitokondria, lisosom, badan mikro, vakuola, dan kloroplas.

a.) Nukleus (Inti Sel)
Nukleus atau inti sel merupakan orga nel sel terbesar dibanding organel sel lainnya.

Diameter nukleus berkisar antara 10 sampai 20 m. Nukleus ini berbentuk bulat oval.
Bagian-bagian yang melapisi nukleus meliputi membran inti, nukleoplasma, dan nukleolus
(anak inti). Perhatikan Gambar 6.9.

Sumber: http://www.ilmudasar.com/

Gambar 6.9 Struktur nukleus

Membran inti atau karioteka merupakan lapisan pembungkus inti sel. Pada
permukaannya terdapat pori-pori yang berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya molekul
dari sitoplasma ke nukleoplasma. Membran inti ini berhubungan dengan membrane sel
melalui organel yang disebut retikulum endoplasma.

Di dalam nukleus terdapat cairan yang dinamakan nukleoplasma. Cairan
nukleoplasma tersusun dari air, asam inti, protein, dan enzim. Sifat cairannya adalah gel.
Pada nukleoplasma bisa ditemui benang kromatin. Saat sel mengalami pembelahan, benang
kromatin ini akan mengalami penebalan sehingga membentuk kromosom. Kromosom
merupakan zat yang berisi materi genetik. Nukleoplasma menyelubungi bagian penting sel
yang disebut nukleolus (anak inti). Setiap nukleolus memiliki peran dalam pembentukan
protein, semisal RNA ribosom (disingkat RNAr) dan RNA. RNA ribosom merupakan salah
satu bahan pembentuk ribosom. Saat pembelahan sel secara mitosis, tepatnya saat fase

114

profase, nukleolus lenyap atau hilang. Namun, saat fase interfase, nukleolus terbentuk
kembali.

Di dalam sel, nukleus memiliki peran penting, antara lain: menjadi pusat kontrol sel;
pembawa perintah sintesis protein dalam inti DNA; memperbaiki sel yang rusak dalam
nukleolus; memengaruhi produksi ribosom dan RNA; dan berperan dalam pembelahan sel.

b.) Retikulum Endoplasma
Antara organel sel satu dengan organel sel lainnya, seperti nukleus dan membran sel,

dihubungkan oleh organel yang disebut retikulum endoplasma (RE). Retikulum
Endoplasma merupakan sebuah sistem membran kompleks yang membentuk kantong pipih
dan meluas hampir menutupi sitoplasma. Retikulum endoplasma memiliki jaringan tubula
dan gelembung membran yang disebut sisterne. Retikulum endoplasma terbagi atas dua
macam, yakni retikulum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma halus.

Retikulum endoplasma merupakan bagian sel yang terdiri atas sistem membran. Di
sekitar retikulum endoplasma adalah bagian sitoplasma yang disebut sitosol. Retikulum
endoplasma sendiri terdiri atas ruangan-ruangan kosong yang ditutupi dengan membran
dengan ketebalan 4 nm (nanometer, 10−9 meter). Membran ini berhubungan langsung
dengan selimut nukleus atau nuclear envelope.

Pada bagian-bagian retikulum endoplasma tertentu, terdapat ribuan ribosom atau
ribosome. Ribosom merupakan tempat di mana proses pembentukan protein terjadi di
dalam sel. Bagian ini disebut dengan retikulum endoplasma kasar atau rough endoplasmic
reticulum. Kegunaan retikulum endoplasma kasar adalah untuk mengisolir dan membawa
protein tersebut ke bagian-bagian sel lainnya. Kebanyakan protein tersebut tidak diperlukan
sel dalam jumlah banyak dan biasanya akan dikeluarkan dari sel. Contoh protein tersebut
adalah enzim dan hormon.

Sedangkan bagian-bagian retikulum endoplasma yang tidak diselimuti oleh ribosom
disebut retikulum endoplasma halus atau smooth endoplasmic reticulum. Kegunaannya
adalah untuk membentuk lemak dan steroid.

Retikulum endoplasma memiliki struktur yang menyerupai kantung berlapis-lapis.
Kantung ini disebut cisternae. Fungsi retikulum endoplasma bervariasi, tergantung pada
jenisnya. Retikulum endoplasma merupakan labirin membran yang demikian banyak
sehingga retikulum endoplasma melipiti separuh lebih dari total membran dalam sel-sel
eukariotik.

115

Permukaan retikulum endoplasma kasar tertutup oleh ribosom, sedangkan permukaan
retikulum endoplasma halus tidak tertutupi oleh ribosom. Perhatikan Gambar 6.10.

Sumber: http://www.biologi-sel.com/

Gambar 6.10 Retikulum endoplasma (RE) kasar dan RE halus.

RE kasar berfungsi sebagai penampung protein skretoris yang telah disintesis oleh
ribosom. Protein ini akan dimasukkan ke dalam kantong pipih yang disebut lumen RE. RE
kasar juga berperan dalam produksi membran yang ditranspor ke organel lainnya.
Membran yang demikian dinamakan membran RE.

Berbeda dengan RE kasar, RE halus memiliki beberapa fungsi,antara lain: mensintesis
berbagai zat seperti lemak, kolesterol, fosfolipid, dan steroid; metabolisme karbohidrat,
misalnya proses penyimpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen pada sel hati; dan
membantu proses penetralan obat dan racun yang biasa terjadi pada RE sel hati.

Sumber: http://gracertrgg.blogspot.co.id/

Gambar 6.11 Struktur retikumul endoplasma kasar dan halus

116

Namun demikian, RE kasar dan RE halus mempunyai fungsi yang sama, yakni sebagai
alat transpor molekul dari satu sel ke sel lain, memproduksi antibodi, dan berperan dalam
proses glikolasi yaitu penambahan gula pada molekul protein.

c.) Aparatus Golgi
Badan golgi dapat disebut juga dengan nama aparatus uolgi, kompleks golgi atau

diktiosom merupakan sebuah organel yang dikaitkan dengan fungsi ekskresi sel, serta
strukturnya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Badan golgi
terdapat hampir di semua sel eukariotik serta banyak dijumpai pada organ tubuh yang
melakukan fungsi ekskresi, misalnya pada ginjal. Setiap sel pada hewan mempunyai 10
sampai 20 badan golgi, sedangkan sel tumbuhan memiliki badan golgi sampai ratusan.
Badan golgi yang terdapat pada tumbuhan disebut diktiosom. Badan golgi pertama kali
ditemukan oleh seorang ahli histologi serta patologi yang memiliki kebangsaan Italia yang
bernama Camillo Golgi.

Badan golgi merupakan organel terbesar yang terdapat dalam sitoplasma. Badan golgi
memiliki bentuk kantung pipih yang bertumpuk dan tersusun dari ukuran besar hingga
ukuran kecil (memiliki panjang sekitar 1-3 mikrometer serta lebar 0,5 mikrometer) dan
terikat oleh membran. Badan golgi tersebar di seluruh sitoplasma serta berhubungan satu
dengan lainnya sehingga badan golgi membentuk sperti struktur kompleks seperti jala.

Protein yang dihasilkan ribosom akan ditranspor melewati aparatus golgi. Di dalam
aparatus golgi tersebut, protein diproses dan disimpan, kemudian dikirim ke organel
lainnya. Dinamakan aparatus golgi karena ditemukan oleh ilmuwan yang ber nama Camilio
Golgi. Organel ini disebut pula badan Golgi atau diktiosom. Secara struktural, aparatus
golgi tersusun atas kan tong pipih bertumpuk-tumpuk yang disebut sisterne. Perhatikan
Gambar 6.12.

117

Sumber: http://woocara.blogspot.co.id/

Gambar 6.12 Aparatus golgi
Pada proses metabolisme sel, aparatus golgi berfungsi sebagai penerima dan pengirim
vesikula transpor yang berisi protein. Selain itu, aparatus golgi dijadikan tempat terjadinya
glikolasi. Glikolasi merupakan suatu proses modifi kasi protein seusai protein disintesis
dengan mereaksikan bersama glikosilat (gula). Hasil glikolasi yang berupa glikoprotein
disimpan dan selanjutnya dikirimkan ke luar sel oleh vesikula transpor.
Di samping fungsi tersebut, aparatus golgi dapat pula berperan dalam pembentukan
lisosom dan berbagai enzim pencernaan yang belum aktif, misalnya enzim zymogen dan
koenzim.

Sumber: http://www.nafiun.com/

Gambar 6.13 Aparatus golgi dan hubungannya dengan nukleus,retikulum endoplasma dan lisosom
Sebagian besar badan golgi terdapat pada sel-sel sekretori, sehingga produknya

banyak disekresikan. Sebagai contoh, sel sekretori pada kelenjar pencernaan yang
mengeluarkan enzimenzim pencernaan, misalnya laktase dan peptidase. Badan golgi juga

118

ada yang terdapat pada sel-sel pankreas yang mengeluarkan tripsin dan lipase, termasuk
juga pada kelenjar air mata yang mengeluarkan antibodi.

d) Lisosom
Lisosom (lysis = pemisahan, pembelahan, soma = tubuh) adalah badan berbentuk

bulat seperti kantong kecil dengan diameter 0,1 sampai 1 m. Di dalam lisosom terdapat 50
enzim dan kebanyakan adalah enzim hidrolitik yang bersifat asam. Enzim hidrolitik
digunakan lisosom untuk mencerna makromolekul saat pencernaan intraseluler. Contoh
enzim hidrolitik adalah lipase, protase, nuklease, dan fosfatase. Sementara, makromolekul
yang dihidrolisis misalnya protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat.

Fagositosis merupakan proses pencernaan yang dilakukan makhluk hidup dalam
memakan organisme atau zat makanan yang lebih kecil dari tubuhnya. Pada makhluk hidup
uniselluler, proses fagositosis terjadi pada Amoeba. Sementara pada manusia, prosesini
terjadi pada sel makrofaga, yakni suatu sel yang berperan dalam pertahanan tubuh dari
bakteri perusak dan penyerang lainnya.

Selain proses fagositosis, lisosom berperan dalam prosesautofagi. Autofagi adalah
proses daur ulang materi organik oleh enzim hidrolitik secara individual. Di dalam tubuh
manusia, proses autofagi misalnya terjadi pada sel hati. Di dalam sel, lisosom mencerna
partikel-partikel yang masuk secara endositosis dan pengeluaran enzim secara eksositosis
misalnya, saat terjadi pembentukan tulang keras dari tulang rawan. Lisosom dapat
melakukan autolisis, yang termasuk terjadi pada lisosom. Autolisis merupakan proses
penghancuran bagian tertentu makhluk hidup secara mandiri, misalnya perusakan sel ekor
katak saat masih berudu.

Sumber: http://www.sridianti.com/pengertian-pencernaan-intraseluler.html

Gambar 6.14 Lisosom

119

e) Mitokondria
Mungkin kalian pernah melihat sosis, makanan yang bahan bakunya dari daging

berbentuk bulat lonjong. Bentuk mitokondria hampir menyerupai sosis. Perhatikan Gambar
6.15. Di dalam sel, mitokondria berperan dalam proses respirasiaerob yang menggunakan
oksigen. Untuk itu, mitokondria memiliki jumlah lebih dari satu di dalam sel. Variasi
jumlahnya bergantung pada tingkat metabolismenya. Andaikan kebutuhan energi sel besar,
jumlah mitokondria di dalam sel sangat banyak. Sebaliknya, apabila kebutuhan energi sel
kecil, jumlah mitokondria sedikit.

Sumber: http://marlisadarwi.blogspot.co.id/2015/08/

Gambar 6.15 Mitokondria

Mitokondria memiliki membran rangkap. Membran rangkap ini terdiri atas membrane
luar yang halus dan membran dalam yang berlekuk-lekuk.

Membran dalam mitokondria dinamakan krista. Krista memiliki lekukan yang banyak
jumlahnya. Fungsi krista adalah memperluas permukaan saat berlangsung respirasi.
Dengan begitu, hasil respirasi seluler yang diperoleh dapat meningkat. Perhatikan Gambar
6.16.

Sumber: http://www.wikiwand.com/ca/Mitocondri

Gambar 6.16 Struktur mitokondria

120

Membran dalam mitokondria terbagi menjadi dua ruangan, yaitu ruang inter membran
dan ruang matriks mitokondria. Ruang inter membran adalah ruang sempit yang berada
di antara membrane dalam dan membran luar. Sedangkan ruang matriks mitokondria
diselubungi oleh membran dalam. Pada matriks mitokondria ini terdapat enzim pernapasan
yang disebut sitokrom, sehingga oksidasi asam lemak dapat berlangsung. Enzim sitokrom
ini berfungsi sebagai pengontrol siklus asam sitrat yang mengandung protein.

Sumber: http://hisham.id/2015/08/pengertian-mitokondria.html

Gambar 6.17 Mitokondria di dalam sel
f ) Badan Mikro

Sesuai namanya, badan mikro berukuran kecil dengan diameter 0,3 hingga 1,5 m.
Organel ini terbungkus oleh selapis membran yang terdiri atas peroksisom dan glioksisom.
Perhatikan Gambar 6.18.

Sumber: http://www.nafiun.com/

Gambar 6.18 Peroksisom yang berada pada sel daun
Perioksisom mengandung banyak enzim katalase. Enzim katalase berperan untuk
menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) sehingga menjadi netral dari racun. Selain itu,
enzim katalase juga berperan dalam metabolisme lemak dan fotorespirasi. Perioksisom
dapat kita temukan pada sel hewan dan sel tumbuhan. Pada sel hewan, banyak perioksisom
terdapat pada sel hati, sel otot, dan sel ginjal. Perioksisom ini sangat terkait dengan
relitikulum endoplasma. Sebab, peroksisom merupakan membrane yang dihasilkan
retikulum endo plasma. Sementara itu, glioksisom terdapat banyak pada sel tumbuhan yang
berlemak, misalnya saja pada biji. Di dalamnya terdapat enzim katalase dan oksidase yang

121

berperan dalam metabolisme lemak yakni mengubah lemak menjadi gula. Energi hasil
metabolisme ini digunakan saat perkecambahan biji.

g) Vakuola
Vakuola merupakan organel dalam sel yang berisi cairan. Di dalam vakuola terdapat

membran yang disebut tonoplas. Organel ini banyak terdapat pada sel tumbuhan. Kalau
pun ada pada sel hewan, bentuk vakuolanya amat kecil. Sebuah vakuola tumbuhan berisi
larutan garam mineral, gula, asam amino, bahan sisa dan beberapa pigmen seperti
antosianin. Setiap sel tumbuhan memiliki bentuk vakuola yang amat beragam. Vakuola sel
tumbuhan dewasa berbentuk besar, sedangkan vakuola tumbuhan muda berbentuk kecil.
Semakin tua usia tumbuhan, maka vakuolanya akan bertambah besar,bahkan bisa menjadi
dominan dalam sel.

Pada sel tumbuhan, vakuola memiliki berbagai fungsi,antara lain: sebagai tempat
menyimpan cadangan makanan danion anorganik, seperti gula, protein, kalium, dan
klorida; sebagai osmoregulator yakni penjaga nilai osmotik sel; dan berperan dalam proses
sekresi hasil sisa metabolisme yang membahayakan sel.

Untuk menarik datangnya serangga penyerbuk, sebagian vakuola sel tumbuhan
memiliki pigmen. Contohnya, pigmen merah dan biru pada mahkota bunga. Sebaliknya,
supaya hewan pemangsa tidak datang mendekat, vakuola sel tumbuhan mengandung
senyawa beracun dan bau tak sedap.

Pada sel hewan, vakuola hanya terdapat pada hewan uni selluler saja, misalnya
protozoa. Fungsi vakuola adalah sebagai vakuola pencernaan makanan (vakuola non-
kontraktil). Selain itu,protozoa juga memiliki vakuola berdenyut (vakuola kontraktil)yang
berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sitoplasma.

Sumber: http://www.jendelasarjana.com/2014/03/10-fungsi-vakuola.html

Gambar 6.19 Vakuola

122

h) Kloroplas
Selain vokuola, ciri organel khas yang dimiliki sel tumbuhan adalah kloroplas.

Kloroplas termasuk pada sebuah kelompok organel besar yang disebut plastida. Pada sel
tumbuhan, kloroplas ini tersebar pada cairan sitoplasma. Kloroplas memiliki diameter
sekitar 5 sampai 10 m. Hampir setiap sel tumbuhan mengandung kloroplas dengan jumlah
20 hingga 40 buah.

Secara struktural, kloroplas memiliki membran rangkap yang disebut selubung
kloroplas. Selubung kloroplas ini tersusun atas membran luar dan membran dalam. Untuk
membran dalamnya, memiliki struktur yang sama dengan membran sel.

Kloroplas juga mempunyai dua bagian, yakni bagian grana dan stroma. Grana
merupakan tumpukan sejumlah tilakoid. Tilakoid adalah suatu kantong yang berbentuk
pipih. Adapun stroma merupakan cairan yang berada di luar tilakoid. Di dalam stroma
terkandung pelbagai macam zat, misalnya enzim, asamasam organik, dan karbohidrat hasil
fotosintesis dalam bentuk tepung.

Sumber: http://www.edubio.info/2015/01/struktur-kloroplas.html

Gambar 6.20 Struktur kloroplas

Bagi tumbuhan, kloroplas mempunyai peran penting terutama saat terjadi fotosintesis.
Sebab, di dalam kloroplas terdapat klorofil berpigmen hijau dan pigmen fotosintetik
lainnya. Klorofil dan pigmen fotosintetik ini terdapat pada sistem membran dan stroma.

Pada proses fotosintesis, pigmen fotosintetik khususnya klorofil dan karotenoid akan
menyerap energi cahaya matahari yang selanjutnya diubah menjadi energi kimia. Klorofil
menyerap sinar merah, biru, dan ungu, sementara sinar hijau dipantulkan.

Sehingga, warna yang terlihat pada klorofil adalah warna hijau. Berbeda dengan
klorofil, karatenoid memiliki banyak pigmen, seperti ungu, biru, kuning, oranye, merah
dan coklat. Di antara warna tersebut, warna yang diserap karatenoid hanyalah warna ungu

123

dan biru. Karatenoid ini banyak terdapat pada bunga dan buah tumbuhan. Selain menyerap
warna, karatenoid juga berperan dalam melindungi klorofi l dari sinar matahari yang terlalu
kuat.
Beberapa jenis plastida selain klorofi l adalah sebagai berikut:
(1) Kromoplas, yakni plastida yang berpigmen merah, jingga atau kuning, dan biasanya

terdapat pada buah tomat dan wortel.
(2) Leukoplas, merupakan plastida yang tidak memiliki pigmen. Plastida ini terletak pada

jaringan yang tidak terkena cahaya. Selain itu, leukoplas terdapat pula pada sel-sel
embrional empulur batang. Kemudian, plastida ini terdapat pula pada bagian tanaman
yang berwarna putih di dalam tanah.
(3) Amiloplas, adalah plastida yang tak berpigmen dan mengandung banyak amilum.
Nah, inilah uraian struktur dan fungsi berbagai organel sel bermembran. Untuk
selanjutnya, kita akan membahas struktur dan fungsi organel sel yang tidak
bermembran.

2.) Organela Sel Tak Bermembran
Pada sel makhluk hidup, terdapat pula organel yang tidak bermembran, antara lain:

ribosom, sitoskeleton, sentriol dan dinding sel. Pahami penjelasannya berikut.
a) Ribosom

Ribosom merupakan organel sel yang bentuknya kecil berupa butiran nukleoprotein.
Pada sel eukariotik, ribosom berbentuk bulat dengan diameter 25 nm, sedangkan pada sel
prokariotik lebih kecil lagi. Ribosom tersusun atas subunit besar dan subunit kecil. Di
dalamnya, berisi RNA ribosom (RNAr) dan protein. Fungsi utamanya adalah sebagai
tempat sintesis protein. Perhatikan Gambar 6.21.

Sumber: http://www.firdaus45.com/

Gambar 6.21 Struktur ribosom

124

Pada permukaan ribosom, butiran nukleoprotein memiliki dua letak persebaran.
Butiran nukleoprotein yang tersebar bebas pada sitoplasma disebut ribosom bebas.
Sementara, butiran nukleoprotein yang menempel pada permukaan reticulum endoplasma
disebut ribosom terikat. Ribosom bebas berperan dalam proses sintesis enzim. Enzim
yang dihasilkan berfungsi menjadi katalisator di dalam cairan sitosol dan ribosom terikat
berguna dalam sintesis protein.

Sumber: https://melajr.wordpress.com/page/3/

Gambar 6.22 Ribosom bebas dan terikat

b) Sitoskeleton
Salah satu organel yang cukup penting keberadaannya dalam sel adalah sitoskeleton.

Sitoskeleton merupakan struktur rangka sel yang berbentuk jalinan serabut. Strukturnya
membentang dalam sitoplasma. Di dalam sel, sitoskeleton memiliki beberapa fungsi.

Fungsi itu antara lain sebagai pendukung pergerakan sel dan penjaga kestabilan bentuk
sel, atau menjadi rangka sel dan pemberi bentuk sel; pemberi kekuatan mekanik sel dan
pembantu motilitas sel (gerakan substansi dari satu bagian ke bagian lain); menjaga
keseluruhan organel sel supaya tetap pada posisinya; dan membantu gerakan kromosom ke
arah kutub saat pembelahan sel. Berdasarkan fungsinya, sitoskeleton memiliki tiga jenis
serabut, meliputi mikrotubulus, filamen antara (serabut antara), dan mikrofi lamen (filamen
aktin).

(1) Mikrotubulus
Bentuk mikrotubulus adalah tabung berongga dengan diameter 25 nm. Panjang

tubuhnya antara 200 nm sampai 25 μm. Mikrotubulus mempunyai suatu protein yang
disebut tubulin. Tubulin terdiri atas dua macam, yakni alpha-tubulin dan betatubulin.
Mikrotubulus ini berfungsi memperta hankan bentuk sel; berperan saat motilitas sel, seperti
silia atau fl agela; dan membantu pergerakan kromosom saat pembelahan sel.

125

Sumber: https://www.slideshare.net/rilika/biologi-organel-sel-11-sma-semester-1

Gambar 6.23 Mikrotubulus
(2) Filamen antara

Filamen antara disebut juga dengan serabut antara atau filamen intermediet.
Diameter serabut antara lebih besar dibandingkan diameter mikrofi lamen. Namun, bila
dibandingkan dengan diameter mikrotubulus, serabut antara memiliki diameter yang lebih
kecil, yakni 8-10 nm. Sebagian besar bahan penyusun filamen antara dalam sel adalah
fimentin. Berbeda dengan lainnya, filamen antara pada sel kulit bernama protein keratin.
Fungsi filamen antara misalnya sebagai penguat bentuk kerangka sel saat beraktivitas dan
pemerkokoh posisi organel dalam sel.

126

Sumber: http://ellavioletta.blog.unsoed.ac.id/
Gambar 6.24 Mikrofilamen

(3) Mikrofilamen
Serabut sitoskeleton yang terdiri atas bola-bola molekul protein disebut

mikrofilamen. Serabut ini dinamakan pula filamen aktin. Sebab, mikrofi lamen tersusun
dari protein aktin, meskipun sebagian kecil juga terbuat dari miosin. Fungsi utama
mikrofilamen adalah sebagai penahan tegangan (gaya tarik) saat sel bergerak dan
bermanfaat saat proses pengaliran sitoplasma.

c) Sentriol
Sentriol memiliki struktur dasar yang sama seperti tubuh dasar sili, yakni berbentuk

silinder. Sentriol ini tersusun atas mikrotubulus seperti jala. Hanya sel hewan saja yang
memilikinya. Di dalam sel, sentriol memiliki jumlah sepasang yang disebut sentrosom.
Saat terjadi pembelahan sel, sentriol membentuk benang gelondong atau benang spindel.
Kedua ujung benang ini mempunyai tempat pelekatan yang berbeda. Ujung yang satu
melekat pada sentriol, sedangkan ujung yang lain melekat pada kromosom.

127

Sumber: http://evagalag.blogspot.co.id/

Gambar 6.25 Struktur sentriol
d) Dinding Sel

Dinding sel merupakan organel yang berada pada sel tumbuhan,sementara sel hewan
tidak memilikinya. Dinding sel bersifat kaku, sehingga bentuk sel tumbuhan tidak mudah
berubah. Ketebalannyaberkisar 0,1 μm. Bagi sel tumbuhan, dinding sel berfungsi sebagai
pelindung dan pencegah dari penghisapan air yang berlebihan sehingga sel tetap utuh.

Berdasarkan jenisnya, dinding sel ada dua, yaitu dinding selprimer dan dinding sel
sekunder. Dinding sel primer terbentuksaat sel membelah, sedangkan dinding sel
sekunder terbentuk setelah sel mengalami penebalan.

Saat masih muda, dinding sel tersusun oleh selulose polisakarida (lignin dan pektin)
yang memiliki daya renggang. Akibatnya, dinding sel berbentuk tipis dan lentur. Antara
dinding sel satu dengan dinding sel lainnya dipisahkan oleh lamela tengah. Lamela tengah
tersusun dari gel yang berisi magnesium dan kalsiumpektat. Antara dinding sel yang satu
dengan lainnya dihubungkan oleh pori-pori yang memiliki benang plasma atau
plasmodermata.

128

Sumber: http://kliksma.com/2015/08/struktur-dan-fungsi-dinding-sel.html

Gambar 6.26 Dinding sel

Adanya plasmodemata memberikan peluang zat antarsel bergerak. Sementara itu,
dinding sel sekunder berada di antara membran plasma dan dinding primer. Di dalam
dinding sekunder terdapat jaringan xilem dan sklerenkim. Sehingga, selulosa dinding
sekunder bisa mengalami penebalan oleh zat lignin (zat kayu) melalui proses lignifi kasi.
Melalui proses ini, dinding sekunder sel menjadi keras, kaku, dan tahan tekanan. Nah,
itulah struktur dan fungsi organel sel makhluk hidup yang bermembran dan tidak
bermembran.

C. RANGKUMAN

➢ Sel merupakan unit struktural, unit fungsional, dan unit heriditas terkecil makhluk
hidup.

➢ Sel mempunyai komponen kimiawi yang dinamakan protoplasma. Di dalam
protoplasma ini terdapat garam mineral dan senyawa organik/senyawa karbon seperti
karbohidrat, lemak, dan protein.

➢ Sel tersusun atas tiga bagian, antara lain membran sel, sitoplasma, dan organel sel
(termasuk nukleus).

➢ Sel memiliki organel yang bermembran dan tidak bermembran. Organel sel yang
bermembran meliputi nukleus, retikulum endoplasma, aparatus golgi, mitokondria,
lisosom, badan mikro, vakuola, dan kloroplas. Sedangkan organel sel yang tak
bermembran meliputi ribosom, sitoskeleton, sentriol, badan mikro, dan dinding sel.

129

UJI KOMPETENSI
I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang tepat!
1. Penemu sel pertama kali adalah ….

a. Antonie von Leeuwenhoek
b. Robert Hooke
c. Mathias J. Schleiden
d. Theodor Schwann
e. Felix Dujardin
2. Orang yang memublikasikan pernyataan omnis cellula cellula adalah ….
a. Antonie von Leeuwenhoek
b. Robert Hooke
c. Rudolf Virchow
d. Theodor Schwann
e. Felix Dujardin
3. Komponen utama protoplasma adalah ….
a. air
b. protein
c. karbohidrat
d. lemak
e. mineral
4. Sel prokariotik memiliki ciri yakni ….
a. tidak bermembran sel
b. tidak berendomembran dan membrane nucleus
c. tidak memiliki reticulum
d. tidak memiliki mitokondria
e. tidak bermembran
5. Robert Brown mengemukakan adanya benda kecil yang terapung dalam cairan sel yang
disebut ....
a. Nukleus
b. Vakuola
c. Lisosom
d. Mitokondria
e. Ribosom

130

6. Berikut merupakan bahan-bahan organik penyusun sel, kecuali ....

a. Karbohidrat

b. Air

c. Lemak

d. Protein

e. Glikogen

7. Menurut Robert Brown, bagian terpenting dari suatu sel hidup adalah ....

a. Kromosom

b. Nukleus

c. Lisosom

d. Sitoplasma

e. Ribosom

8. Organel yang berperan aktif dalam proses pembelahan sel dan hanya terdapat dalam

sel hewan adalah ....

a. Mitokondria d. Vakuola

b. Ribosom e. Kromosom

c. Sentrosom
9. Zat semi cair yang terdapat dalam sitoplasma dinamakan ….

a. Sitosol d. protein perifer

b. fosfolipid ganda e. karioteka

c. protein integral
10. Salah satu fungsi sitoplasma adalah ….

a. menyeleksi zat-zat yang masuk dan keluar sel

b. pengendali metabolism

c. penyimpan informasi genetic

d. pembentuk membran sel

e. memproduksi antibody
11. Berikut yang bukan organel sel adalah ….

a. membran sel

b. ribosom

c. nucleus

d. mesosom

e. mitokondria

131

12. Organel sel yang bertanggung jawab pada proses respirasi adalah ….

a. inti sel

b. ribosom

c. mitokondria

d. reticulum

e. sentriol
13. Tempat pembentukan RNA ribosom berada pada ….

a. ribosom

b. karioteka

c. anak inti

d. nukleoplasma

e. retikulum endoplasma
14. Organel sel yang ditemukan pada sel hewan dan tumbuhan adalah ….

a. dinding sel d. lisosom

b. ribosom e. vakuola kontraktil

c. plastid

15. Perhatikan pernyataan berikut.

(1) Nukleolus adalah tempat sintesis RNA ribosomal

(2) Unit pembawa sifat (gen) terletak di dalam nukleus

(3) Membran plasma merupakan membran permeabel

(4) Sintesis protein terjadi di dalam nukleus

(5) DNA terletak di dalam nukleus dalam bentuk kromatin

Pernyataan yang benar adalah ....

a. 1, 2 dan 3 d. 2, 4 dan 5

b. 1, 2 dan 4 e. 2, 3 dan 4

c. 1, 2 dan 5

2. Kerjakan soal-soal berikut dengan benar!
1. Bagaimanakah proses penemuan sel pertamakali oleh Robert Hooke?
2. Jelaskan perbedaan bagian sel penyusun seleukariotik dan sel prokariotik!
3. Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian dalam nukleus. Jelaskan pula fungsinya!
4. Sebutkan dan jelaskan fungsi lisosom dalam sel!
5. Sebutkan dan jelaskan jenis plastida selain kloroplas!

132

BAB 7
ENZIM DAN HORMON

A. Enzim

Enzim adalah protein tunggal atau gabungan dari protein dan senyawa nonprotein
yang hanya dapat dihasilkan makhluk hidup.

Struktur enzim:

Sumber: http://artikeltop.xyz/

Gambar 7. 1 Enzim dan cara kerja
1. Apoenzim

Adalah bagian enzim yang berupa senyawa protein yang mengandung binding site:

Sumber: http://academic.pgcc.edu/

Gambar 7.2 Enzim dan bagiannya
a. Sisi aktif

Adalah sisi yang berikatan dengan substrat. Substrat adalah zat yang akan dijadikan
produk.
b. Sisi alosterik

Sisi alosterik dalah sisi yang berikatan dengan kofaktor (aktivator) enzim. Sisi
alosterik dapat diganggu oleh inhibitor nonkompetitif yang berstruktur sama dengan
kofaktor. Inhibitor akan mencegah enzim untuk mengubah-ubah bentuk sisi aktif (kaku).

133

2. Kofaktor/aktivator enzim
Adalah bagian enzim berupa senyawa non-protein. Kofaktor dapat mengubah-

ubahbentuk sisi aktif sehingga dapat ditempelisubstrat tertentu.
Macam-macam kofaktor enzim:
a. Koenzim

Adalah kofaktor berupa senyawaorganik (vitamin) yang berikatan secaranon-kovalen
dengan enzim.

Contoh: koenzim NAD+
b. Gugus prostetik

Adalah kofaktor berupa senyawa anorganik (mineral) yang berikatan secara kovalen
dengan enzim.

Contoh: Cl- dan Ca2+ pada enzim amilase,
Fe pada hemoglobin, dan Mg padaklorofil.

Enzim yang telah berikatan dengan kofaktor disebut holoenzim.
Sisi aktif dapat diganggu oleh inhibitor kompetitif yang berstruktur sama dengan
substrat. Inhibitor akan mencegah substrat untuk berikatan. Sisi alosterik dapat diganggu
oleh inhibitor non-kompetitif yang berstruktur sama dengan kofaktor. Inhibitor akan
mencegah enzim untuk mengubah-ubah bentuk sisi aktif (kaku).
Sifat-sifat enzim sebagai katalis:
1. Terlibat dalam jalannya reaksi, namun jumlahnya tidak berubah.
2. Mempercepat laju reaksi, namun tidak mengubah komposisi produk.
3. Menurunkan energi aktivasi.
4. Hanya dapat mengkatalisis reaksi tertentu.
5. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
6. Dapat dihambat zat tertentu.
7. Dapat bekerja dalam reaksi bolak-balik.
Cara kerja enzim dijelaskan dalam dua teori, yaitu teori gembok dan kunci (lock and
key) dan teori kecocokan terinduksi (induced fit).
1. Teori Gembok dan Kunci

Menurut teori ini, enzim dan substrat dimisalkan sebagai gembok dan kunci.
Menurut teori ini, suatu enzim hanya bekerja untuk satu jenis substrat saja, dengan
berikatan pada sisi aktif.

134

Sumber: https://saylordotorg.github.io/

Gambar 7.3 Teori gembok-kunci enzim

2. Teori Kecocokan Terinduksi
Menurut teori ini:
a. Kofaktor/aktivator enzim akan berikatan dengan sisi alosterik.
b. Kofaktor mengubah bentuk sisi aktif agar dapat mengikat substrat tertentu.
c. Substrat kemudian diubah menjadi produk dan lepas dari enzim.
d. Enzim dapat digunakan kembali untuk substrat berikutnya.

Sumber: http://bionomipa.blogspot.co.id/

Gambar 7.4 Teori kecocokan terinduksi enzim

Faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain adalah konsentrasi enzim dan
kofaktor, konsentrasi substrat, konsentrasi inhibitor, suhu dan pH. Pengaruh konsentrasi
zat-zat yang berhubungan dengan enzim:
1. Konsentrasi enzim yang lebih besar dari substrat akan mempercepat laju reaksi

(mempercepat pembentukan produk).
2. Konsentrasi substrat yang lebih besar dari enzim akan menimbulkan konsentrasi

substrat jenuh (laju reaksi maksimum), yang menyebabkan ada substrat yang tidak
dikatalisis.

135

3. Konsentrasi inhibitor yang besar akan memperlambat laju reaksi (menghambat
pembentukan produk).
Inhibitor atau penghambat merupakan zat dengan struktur yang mirip substrat dan

dapat bergabung dalam reaksi enzimatik sehingga menyebabkan fungsi enzim terganggu.
Inhibitor berikatan dengan enzim membentuk kompleks enzim-inhibitor. Berdasarkan
posisi kerjanya, inhibitor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Inhibitor Kompetitif

Inhibitor kompetitif merupakan zat penghambat yang menghambat kerja enzim pada
sisi aktif. Inhibitor kompetitif memiliki struktur yang mirip dengan substrat dan cocok
dengan bentuk sisi aktif enzim. Inhibitor dan substrat akan bersaing untuk berikatan dengan
enzim.

Sumber: http://indimasia.blogspot.co.id/

Gambar 7. 5 Inhibitor kompetitif
Jika inhibitor berhasil menempel pada sisi aktif enzim lebih dulu, maka substrat tidak
akan bisa berikatan dengan sisi aktif enzim. Hal itu menyebabkan fungsi enzim terhambat.

b. Inhibitor Nonkompetitif
Inhibitor nonkompetitif merupakan penghambat yang bekerja pada sisi pasif enzim.

Inhibitor berikatan dengan sisi pasif enzim dan mengakibatkan bentuk sisi aktif berubah.
Karena bentuk sisi aktif enzim telah berubah, maka enzim tidak dapat mengikat substratnya
lagi.

136


Click to View FlipBook Version