Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Merdeka Atau Mati 1
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Merdeka atau Mati
Karya :
Asmaraman S Kho Ping Hoo
Pelukis : YANES
Penerbit : 2
C.V. GEMA
Solo – 1965
Merdeka Atau Mati
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Nama - nama semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif atau
khayalan pengarang semata.
Persamaan nama dengan orang-orang, baik yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal dunia, hanya merupakan suatu
kebetulan yang tidak disengaja belaka.
Pengarang
Merdeka Atau Mati 3
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Merdeka atau Mati
Karya : Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Bagian 1
Pada tanggal 1 Maret 1942 bala tentara Dai Nippon (Jepang)
mendarat di pulau Jawa. Pada tanggal 8 Maret tentara Hindia
Belanda menyerah tanpa syarat! Ya betul, hanya SATU
MINGGU atau delapan hari saja. Alangkah mudahnya! Tentara
Hindia Belanda yang dibantu tentara Australia, yang sebelum
balatentara Dai Nippon datang berlagak sombong, mondar-
mandir dengan mobil-mobil lapis baja nya, baru mendengar nama
tentara jepang, baru melihat bayangan tentara Jepang, sudah lari
kocar-kacir tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. Lari
tunggang langgang ke australia. Mobil mobil lapis baja bukan
untuk berperang melakukan perlawanan, melainkan dipergunakan
melarikan diri!
Tidak aneh! Demikianlah mentalitas ( watak) serdadu
Serdadu belian, serdadu serdadu sewaan dari kaum penjajah.
Mana mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk tanah
jajahan? Hanya Patriot-Patriot bangsa sajalah yang akan rela
mengorbankan darah daging dan nyawanya hanya untuk tanah
air.
Balatentara Dai Nippon memasuki Indonesia membawa
semboyan-semboyan yang amat muluk-muluk menggembirakan
hati bangsa Indonesia.
Siapa orangnya yang tak akan gembira melihat Jepang
datang mengusir penjajah Belanda dari tanah airnya? Siapa
takkan berbesar hati kalau melihat balatentara Dai Nippon
Merdeka Atau Mati 4
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
mematahkan belenggu penjajahan yang sudah mengikat kaki
tangan rakyat kita Selama ratusan tahun?
"Asia untuk bangsa Asia"
"Kemakmuran bersama Asia Timur Raya!"
"Indonesia - Nippon sama-sama!"
Semboyan-semboyan ini disambut oleh rakyat Indonesia
dengan penuh harapan, apalagi ketika di desas-desuskan bahwa
“Indonesia akan merdeka”! Akan tetapi, baru beberapa bulan saja
rakyat terpaksa menelan pel kekecewaan yang amat pahit. Bukti
bukti kekejaman tentara Jepang dengan pasukan Kenpetainya
(Polisi Militer) sedikit demi sedikit melunturkan kepercayaan
rakyat, mengubah kegembiraan dan kepercayaan menjadi
ketakutan dan kebencian. Biarpun tiada habisnya dan berusaha
memasukkan pengertian ke dalam hati sanubari rakyat akan
kebesaran Jepang, baik secara propaganda halus maupun secara
kekerasan, melalui pelajaran huruf-huruf Jepang, melalui taisho
(gerak badan) dan penghormatan ke arah negara Jepang untuk
menghormati Kaisar Tenno Heika yang harus kita puja sebagai
maha dewa keturunan Amaterasu omikami, namun rakyat tak
dapat melenyapkan kebencian dan ketakutan dari lubuk hatinya.
Agaknya para pemimpin Jepang maklum pula akan hal ini,
maklum akan apa yang tersembunyi dalam hati rakyat bahwa
rakyat tak mudah dibodohi, bahwa rakyat menaruh curiga kepada
mereka. Maka disamping propaganda-propaganda murah yang
tak termakan begitu saja oleh rakyat yang sudah ratusan tahun
sudah dilolohi kebohongan-kebohongan kaum penjajah, Jepang
mulai melakukan kekerasan yang luar biasa. Agaknya dengan
jalan ini mereka hendak mempertebal rasa takut sehingga rakyat
akan tunduk dan taat karena ketakutan.
Merdeka Atau Mati 5
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Di mana-mana dilakukan pemenggalan kepala. Yang
dipenggal kepalanya adalah orang-orang hukuman di penjara.
Akan tetapi caranya melakukan hukuman ini adalah biadab, jelas
dimaksudkan untuk menanamkan rasa takut yang hebat di kalbu
rakyat. Di banyak kota beberapa orang hukuman digiring ke alun-
alun. Rakyat dipaksa keluar rumah untuk menyaksikan
pelaksanaan hukuman itu. Dengan terang-terangan para hukuman
ini disuruh berlutut, disaksikan puluhan ribu pasang mata rakyat,
pedang samurai diayun dan...... untuk pertama kali rakyat dipaksa
menyaksikan darah mengucur keluar dari leher yang terpancung.
Leher penjahat besar, katanya. Bagi rakyat tetap saja, leher dan
darah orang Indonesia, bangsanya!
Pemancungan kepala yang dipertontonkan secara paksa
kepada rakyat ini disusun oleh siksaan siksaan yang luar biasa.
Darah tidak berhenti mengalir. Penjudi yang tertangkap di suruh
makan kartu, penyabung ayam digunduli kepalanya lalu dilumuri
nasi dan diberikan kepada ayam untuk dipatuki sampai berdarah-
darah, pencopet di pasar dipaku kuku-kuku jari tangannya pada
papan, pendeknya tidak ada siksaan yang biasa saja. Semuanya
merupakan siksaan yang selama hidupnya belum pernah dilihat
oleh rakyat, bahkan pernah dibayangkan dalam mimpi. Apakah
semua ini dilakukan untuk membuat rakyat menjadi "bersih",
tidak menyeleweng kedalam kebiasaan-kebiasaan buruk seperti
berjudi, sabung ayam dan sebagainya? Demikian memang
propagandanya! Namun, pada pokoknya tak bisa lain hanya
untuk menanamkan rasa takut yang teramat sangat kepada Jepang
sehingga semua orang takkan berani untuk membangkang
terhadap perintahnya, tidak ada berani melawan Jepang!
Untuk melakukan propagandanya, oleh Jepang dibangkitkan
Gerakan Tiga "A", yaitu "Dai Nippon cahaya ASIA", " dai
Nippon pelindung Asia", dan " dai Nippon pemimpin Asia".
Gerakan ini untuk dimasukkan untuk lebih meyakinkan rakyat
Merdeka Atau Mati 6
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
indonesia akan kebesaran Dai Nippon. Namun rakyat tak dapat
dikelabuhi lagi. Apalagi setelah diadakan gerakan" romusha",
yaitu yang pada hakekatnya tiada lain hanyalah kaum kerja paksa,
pemuda di desa-desa dipaksa untuk memasuki Romusha,
dikirimkan ke negeri-negeri pendudukan lain terutama sekali ke
Birma, di mana para pemuda kita ini disuruh kerja paksa seperti
orang-orang buangan sehingga banyak di antaranya yang mati di
tempat kerja, banyak malah yang sampai tidak dapat kembali
tanah airnya pula. Setelah semua derita ini, rakyat menjadi makin
benci.
Lihat saja! Orang orang kurus kering berpakaian karung! Ya,
karung bagor yang semestinya untuk membungkus beras itu kini
menjadi pembungkus tubuh manusia yang kurus kering! Mungkin
karena beras sudah tidak ada lagi. Memang tidak ada beras,
diangkut ke luar secara diam-diam oleh balatentara Jepang
sipelindung cahaya pemimpin itu, pada waktu "kut-su-kai-ho"
(tanda bahaya serangan udara) di sirenekan sehingga tak
seorangpun mengetahui bahwa beras rakyat diangkut ke luar
Jawa! Beras dihabiskan sampai rakyat makan seadanya, itupun
amat kurang. Pakaian dihabiskan sampai-sampai muncul pakaian
karung Bagor, pakaian karet yang kalau kena hujan bukan main
dinginnya dan kalau kena panas matahari menjadi amat panasnya
dan lengket pada kulit badan! Bukan sandang pangan saja
dihabiskan, malah malah semua rumah yang mempunyai pagar
besi dicabuti besi besi itu diperlukan oleh Dai Nippon, untuk
bikin senjata, katanya. Lucunya lagi, mereka yang mempunyai
uang emas harus disetorkan dan dibeli, juga yang memiliki batu-
batu intan berlian. Semua itu untuk "gerakan kebaktian" ,katanya.
Dibeli dengan uang Jepang yang terus dikeluarkan sampai seperti
sampah, harganya pun seperti sampah.
Akan menghabiskan sebuku tebalnya kiranya kalau kita
kenangkan kembali aksi "si jago wiring kuning dari lor-wetan"
Merdeka Atau Mati 7
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
itu. Memang, pada masa Jepang datang rakyat teringat akan
ramalan Jayabaya yang menyebutkan bahwa kelak akan datang
“jago berbulu kekuningan dari timur laut” yang akan
membebaskan kita dari belenggu penjajahan. Memang ada
cocoknya dan rakyat mulai berpegang kepada ramalan Jayabaya
ini. Bukankah dalam ramalan itu disebut-sebut bahwa jago bulu
kuning itu hanya akan menguasai Jawa selama “seumur jagung”?
Tak seorangpun dapat menafsirkan berapa lamanya “seumur
jagung” itu, dan nyatanya kemudian, tiga setengah tahun
lamanya.
Baiklah kita mulai dengan cerita ini yang dimulai pada masa
Jepang sedang ganas-ganasnya menangkapi rakyat. Kesadaran
rakyat membuka mata hati bahwa tak mungkin kemerdekaan dan
kemakmuran Bangsa Indonesia dapat disandarkan kepada Dai
Nippon yang nyata-nyata amat kejam dan ganas itu. Dimana-
mana mulai timbul pemberontakan. Di Singaparna
(Tasikmalaya), di Blitar dan di setiap kota terdapat gerakan-
gerakan rahasia untuk menentang Jepang. Di balik setiap
anggukan pemberian hormat disertai ucapan-ucapan
“kombangwa” (selamat malam), selamat siang atau selamat pagi
oleh setiap orang yang lalu lalang di depan setiap penjaga Jepang
(ini diharuskan dengan ancaman gaplokan!), tersembunyi
kebencian dan dendam yang mendalam.
Dai Nippon mengamuk. Kenpetai-kenpetai (polisi militer )
membabi buta. Setiap orang yang dicurigai ditangkap. Malah
telunjuk telunjuk manusia iseng yang dikuasai sentimen dan
dendam perseorangan dapat merupakan bahaya yang lebih
dahsyat dari pada ujung senapan. Sehelai kartupos saja dikirim ke
Kenpetai menyebutkan nama seseorang, akan ditangkaplah orang
itu dan bagaimana nasibnya? Marilah kita menengok sebentar
keadaan di dalam gedung Kenpetai yang bagi rakyat merupakan
Merdeka Atau Mati 8
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Neraka Dunia itu! Sehelai kartupos melayang ke meja Kenpetai
dapat berakibat melayangnya nyawa dari badan seseorang!
––––––––
Sudah tiga hari tiga malam Waluyo menjadi tahanan
Kenpetai ! Pada Malam hari itu, tiga hari yang lalu, ia sedang
mengeriki punggung istrinya. Penuh perasaan iba hatinya,
terhadap istrinya yang tercinta dan setia ini. Kustiah, bekas guru
sekolah taman kanak-kanak sekarang harus membanting tulang
berdagang sayur-sayuran di pasar. Ini perlu sekali, kalau tidak,
mereka bertiga, Waluyo, Kustiah dan Sakri akan terancam bahaya
kelaparan. Sakhri masih terlalu kecil untuk dapat membantu
mencari nafkah, baru empatbelas tahun usianya. Terpaksa
berhenti sekolah. Dia sendiri, Waluyo sudah lama tak bekerja.
Enggan rasanya bekerja di bawah perintah algojo-algojo Jepang.
Kebenciannya kepada Jepang yang tidak saja menyiksa dia
sekeluarga, bahkan menyiksa seluruh bangsa Waluyo rela
menggabungkan diri dengan para anggauta gerakan rahasia
menentang Jepang. Sebagai tukang cukur ia biasa berkeliling dan
dengan bebas dapat memasuki halaman - halaman asrama. Dapat
menghubungi para Peta ( Pembela Tanah Air ), yaitu pasukan
bentukan Jepang yang terdiri dari pemuda-pemuda kita dan lain-
lain orang yang ada hubungannya dengan gerakan rahasia.
Karena ia berkeliling bukan dengan maksud mencari uang , maka
istrinya lah yang harus mencari nafkah untuk mereka bertiga.
Malam hari itu istrinya mengeluh karena pundaknya terasa
pegal dan dadanya sesak. Agaknya masuk angina atau terlalu
capai menggendong barang dagangannya ke pasar. Sambil
menggerakkan uang tembaga di kulit punggung isterinya, Waluyo
merasa betapa isterinya sekarang menjadi begitu kurus. Tubuh
yang dulu indah montok kini menjadi kurus kehilangan daging.
Padahal isterinya baru berusia tigapuluh lebih. Kasihan
Merdeka Atau Mati 9
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Kustiah….! Dan pada saat itulah di luar terdengar derapnya
sepatu tentara dan ketika dibukanya pintu, ia sudah berhadapan
dengan dua orang Kentapai!
“Mas Waluyo….!”
“Bapak……, bapak…..!”
Dua keluhan inilah suara - suara kesayangan terakhir yang
terdengar olehnya, wajah istrinya pucat dengan luka basah, wajah
putranya yang terbelalak matanya, itulah penglihatan yang
terakhir, yang selalu terbayang di pelupuk matanya.
Sudah tiga hari tiga malam ia ditahan, Sudah....... entah
berapa kali dia lupa, ia diseret ke ruang pemeriksaan yang lebih
tepat disebut tempat penyembelihan atau tempat siksaan..
Bermacam-macam siksaan ia alami, pukulan pukulan tangan,
pukulan dengan sabuk kulit berujung besi, tendangan, merupakan
hal biasa. Ia sampai merasa ngapal (menebal kulitnya) oleh
pukulan dan tendangan itu. Pernah rambut pelipisnya ditarik ke
atas sampai serasa copot jantungnya menahan sakit, pernah kedua
tangannya diikat kebelakang hantu digantung sampai pangkal
lengannya serasa patah-patah. Pernah Ia digantung dengan kepala
dibawah kaki diatas sampai terngiang-ngiang segala bunyian di
dalam telinganya dan matanya melihat merah, merah darah.
Semua siksaan hanya diakhiri dengan pingsan, pingsan yang
mendekati maut dan amat nikmat rasanya.
"Tidak......!" waluyo mengeluarkan kata-kata ini sambil
memegang ruji ruji besi kamar tahanannya dengan erat. Kedua
tangan terasa lumpuh, pada saat ia mengeluarkan kata-kata itu,
seakan-akan ada tenaga mukjizat memasuki tubuhnya. "Tidak
seribu kali tidak! Biar mereka akan membeset kulitku, biar
mereka akan mengiris-iris dagingku, membunuhku sekerat demi
sekerat, mereka takkan mampu membuka mulutku!"
Merdeka Atau Mati 10
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Waluyo tidak merasa diri gagah. Tidak merasa diri patriotik.
Apa artinya semua pengorbanannya Kalau dibanding dengan
Mini dan Oom San yang kemarin malam disiksa sampai Mati?
Keduanya ia kenal baik, tentu saja! Siapa tidak mengenal Mini
atau Harmini, gadis hitam manis yang bekerja di Stasiun Blitar
itu? Harmini Seorang anggauta gerakan rahasia yang aktip, kan
berkat kecerdikan gadis inilah maka dapat diseludupkan barang
barang melalui kereta api, di bawah "hidung" para penjaga
Nippon! Gadis ini ditangkap, di siksa, dihina, namun tetap
membungkam. Dari selnya ia mendengar gadis ini menjerit-
menjerit karena tak tahan nyeri, tidak tahan hinaan yang
dilakukan diluar batas perikemanusiaan. Hinaan yang tak berani
ia membayangkannya, namun yang sudah pasti dapat diterkanya.
Hinaan yang paling hebat bagi seorang gadis, lebih hebat
daripada maut. Dan apa ucapan terakhir gadis hebat sini?
terdengar suara ketawanya, berkemandang sampai sekarang di
dalam telinga Waluyo, lalu disusul kata-kata yang menggetar,
"Siksalah.......,hinalah......,bunuhlah aku! Aku...... Harmini.....
bukan apa-apa! Kau takkan mendengar sesuatu dariku. Aku tidak
tahu apa-apa. Yang kutahu...... hik hik hik,, usiamu hanya seumur
jagung........!" Kemudian tidak terdengar sesuatu dan ia melihat
dengan mata kepalanya sendiri sebuah usungan dipanggul dua
orang, usungan membawa mayat gadis itu. Waluyo menitikkan
dua butir air mata, air mata yang dibiarkan berlinang, tak
diusapnya, air mata tanda terima kasih, tanda penghormatan
terakhir yang takkan pernah terhapus dari dalam kalbunya.
Kemudian Oom san. Siapa tidak mengenalnya? Seorang
Babah yang lahir di Blitar dan mati di Blitar. Seorang babah yang
sebelum Jepang masuk amat bernyala semangat kebangsaannya,
tentu saja terhadap Tiongkok yang diinjak-injak oleh Jepang.
Kebenciannya terhadap Jepang menyala-nyala. Kepatriotannya
terhadap tanah leluhur berubah menjadi kepatriotan terhadap
Merdeka Atau Mati 11
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
tanah tumpah darahnya, Indonesia. Uluran tangan para pejuang
yang terdiri dari bekas bekas muridnya di HiS (Hollands
Inlandsche School) yang mempercaya berkas gurunya ini,
disambut dengan penuh semangat. Simpatinya yang timbul
melihat penderitaan rakyat dibawah penindasan Jepang,
kebenciannya terhadap Jepang semenjak Jepang belum
menduduki Indonesia karena kebiadaban Jepang di Tiongkok,
kesemuanya ini mendorong Oom San untuk ikut berjuang,
menjadi anggauta gerakan rahasia. Dialah pengumpul dana
bantuan yang mengalir dari simpatisan. Namun akhirnya seorang
diantara simpatisan itu sendiri menghianatinya ia ditangkap
Kenpetai!
Oom San sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih.
Namun bagi Waluyo seolah-olah melihat seorang pemuda
perkasa ketika ia mendengar ucapan terakhir pesan Oom San di
depan para algojonya, melihat dari ruji-ruji selnya yang
menghadap ruangan siksa itu betapa Oom San yang sudah hampir
lumpuh oleh siksa itu membusungkan dadanya yang kurus.
“Tuan-tuan, aku sudah tua gigiku ompong semua. Tidak ada
kenikmatan lagi di dunia, makan pun tidak enak lagi. Kenikmatan
satu-satunya bagiku hanya melihat penindas penindas, penjajah
penjajah, hancur lebur oleh semangat rakyat rakyat tertindas.
Tuan-tuan sudah cukup mencekik leher rakyat di Tiongkok,
sekarang di Indonesia, sudah banyak orang menderita dan mati.
Ditambah Aku seorang Apa artinya?”
“Plakk!” Seorang Jepang menampar pipinya, sampai
bengkak pipi itu dan Oom San roboh. “Cina busuk! Peringatan
terakhir. Hayo katakan di mana pemberontak pemberontak itu,
kalau tidak, nyawamu akan melayang!”
Dengan susah payah Oom San bangun berdiri, aneh sekali,
mulutnya tersenyum dan darah yang menitik keluar mulutnya
Merdeka Atau Mati 12
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
menambah terang senyumnya. “Nyawaku hanya merupakan
penambahan pupuk bagi kebangkitan rakyat.....” Ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena sudah diseret ke tempat siksaan,
didudukkan diatas “korsi listrik”, yaitu sebuah korsi biasa yang
dilengkapi dengan kawat-kawat yang ditalikan pada pergelangan
kaki tangan, kemudian seorang Kenpetai memutar sebuah alat
seperti dynamo. Tubuh kakek itu berkelojotan, matanya mendelik
-delik, mulutnya mengeluarkan bunyi seperti kerbau disembelih
dan Waluyo tak tahan lagi melihatnya. Waluyo, bekas murid
Oom san pula, meramkan matanya dan menyumbat kedua telinga
dengan tangannya. Hanya beberapa jam sesudah ia melihat mayat
harmini diusung keluar, ia melihat usungan yang itu juga
membawa mayat Oom San keluar.
Untuk ke dua kalinya pada malam hari itu , yaitu malam tadi,
Waluyo menitikkan air mata yang tak diusapnya. Banyak sudah
tahanan tahanan disiksa sampai mati, pemuda pemuda tampan
tegap, orang orang tua. Dan dia akan mendapatkan gilirannya.
“Tidak apa,” Waluyo menghibur menghibur diri apabila
kadang-kadang Sinar kematian membuatnya gelisah, teristimewa
kalau ia teringat akan kustinah dan Sakri. “..... Kalau mereka
membunuhku, di sana menanti harmini, Oom San, saudara-
saudara yang lain.....”
Pada keesok harinya, sebuah truck yang penuh tawanan
membawanya ke Surabaya. Kembali dijebloskan ke dalam
tahanan Kenpetai, malah keadaannya lebih menyeramkan
daripada tahanan Kenpetai di Blitar. Sebuah kamar segi empat
berukuran dua meter, berpintu besi, hanya ada dua buah lubang
angin yang tak cukup banyak memasukkan hawa segar. Keadaan
kamar tahanan yang lebih kotor daripada kandang babi, makan di
situ, tidur di situ buang air besar kecil di situ. Tak tertahankan!
Belum lagi menyusul siksaan siksaan yang maha hebat. Kalau
Merdeka Atau Mati 13
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
yang di Blitar disebut siksaan keji, yang di Surabaya ini adalah
embahnya ( kakeknya) siksaan tak berperikemanusiaan. Kuku-
kuku jari dicabuti, kulit pelipis di beseti, ujung-ujung jari ditusuk
jarum, dan seribu satu macam siksaan mengerikan lagi. Kadang-
kadang Waluyo termenung. Mengapa manusia bisa keji ini dalam
perang? Mereka itu, para penyiksa itu, merekapun manusia-
manusia yang beranak bini, yang akan menangis kalau melihat
anaknya menderita sakit payah, yang akan menangis kalau Ayah
atau ibunya mati.
Saking seringnya disiksa, waliyo tak kenal lagi apa itu nyeri
dan apa itu takut. Makin hebat siksaannya, makin kuat pula
bibirnya digigit sampai berdarah menahan keluarnya kata-kata. Ia
sudah siap menghadapi maut, sudah siap menghadapi siksa yang
paling berat. Akan tetapi, apa yang dihadapi pada hari ketujuh di
dalam tempat tawanan itu benar-benar di luar dugaannya sama
sekali.
“Kustiah...... Sakri....!” hatinya menjerit, namun mulutnya
tidak mengeluarkan sesuatu. Mukanya menjadi pucat dan
jantungnya berdetak. Tadi ia dimasukkan ke dalam ruangan siksa
dan tahu-tahu sekarang ia melihat anak dan istrinya digiring. Apa
artinya ini? Orang ketiga di liriknya. Sugeng! Seorang pendatang
baru dalam gerakan. Makin berdebar hati Waluyo. Kalau ia
melihat anak dan istrinya yang sama- sekali tidak tahu-menahu
tentang pergerakan, ia tidak menguatirkan nasib mereka, hanya
menguatirkan kalau kalau mereka itu akan terbawa bawa olehnya.
Sekarang ia melihat Sugeng, kekuatirannya lebih besar lagi.
Jangan-jangan Sugeng akan membacakan rahasia, akan
menghianati saudara-saudara perjuangan.
“Ayah......” Sakri memanggil dengan suara tersendat ketika
melihat ayahnya dengan pakaian compang-camping dan tubuh
rusak. Ia hendak lari menghampiri ayahnya, akan tetapi sebuah
Merdeka Atau Mati 14
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
tamparan Kenpetai membuat ia terguling. Ibunya lalu menolong
anaknya yang menjadi ketakutan itu.
“Bakero! (makian) Banyak mulutkah? Bentak Kenpetai yang
menampar tadi.
Dengan tubuh gemetar ketakutan Sakri memeluk ibunya
akan tetapi sepasang matanya yang lebar menatap wajah ayahnya
dengan perasaan yang sukar dilukiskan pada saat itu. Selain
Waluyo yang duduk di bangku dan tiga orang pendatang baru,
yaitu Kustinah Sakri dan Sugeng itu, di dalam ruangan
pemeriksaan itu terdapat tiga orang Jepang berpakaian militer,
seorang Jepang pendek gemuk berpakaian preman, dan dua orang
jepang Kenpetai berdiri menjaga pintu dengan senjata siap di
tangan. Seorang polisi sebagai penterjemah berdiri di belakang
Jepang berpakaian preman. Inilah Hasimo, tukang periksa yang
berwajah ramah, selalu tersenyum dengan mata sipit hampir tak
tampak biji matanya. Dengan gerakan tangan ramah ia
mempersilahkan Kustinah maju dan duduk di bangku depan meja
tulis. Sambil memeluk anaknya. Kustinah melangkah maju,
wajahnya pucat namun badannya tidak gemetar seperti Sakri.
Oleh seorang Jepang berpakaian militer yang berbaju burik
(bopeng), Sugeng diseret dan didorong ke bangku yang diduduki
Waluyo di pojok ruangan. Sugeng mengeluh kecil dan jatuh
terduduk di dekat Waluyo akan tetapi seperti orang yang takut
ketularan penyakit buduk, ia menggeser duduknya menjauhi
Waluyo, di ujung bangku itu.
“Ona... Hemm, nyonya..... Siapa nama-kah?” Hasimo yang
pangkatnya setingkat dengan Kapten pada Kenpetai itu bertanya,
mulutnya tersenyum lebar sehingga nampaklah giginya yang
kecil-kecil meruncing seperti gigi tikus, matanya makin menyipit
hampir tertutup.
Merdeka Atau Mati 15
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“Nama saya Kustinah tuan,” jawab yang ditanya, suaranya
halus perlahan, pak di tenang-tenangkan sambil tangan kiri
mengelus-elus kepala Sakri yang duduk di sebelah kirinya dan
dirangkulnya.
“Kenal dia itu? Siapa dia?” Telunjuk pendek gemuk
menuding ke arah tempat duduk Waluyo. Kustina hanya
mengerling sedikit, tak tahan ia memandang suaminya lama-
lama.
“Dia itu suami saya Tuan”
“Hemmm, dan ini anak?”
“Betul tuan, ini anak kami”
“Bagus... Bagus.... nyonya cinta suami dan anak?”
Kustiah mengangguk, bibirnya tak mampu mengeluarkan
jawaban karena pertanyaan ini mengandung ancaman maha besar.
Jepang itu memberi tanda kepada polisi penterjemah di
belakangnya. Polisi ini tubuhnya tinggi kurus, mukanya tak
membayangkan perasaan apa-apa, seperti muka tengkorak saja.
Iya maju menghadapi kustinah.
“Kustiah, kalau kau betul mencintai suami dan anaknya, kau
harus memberi keterangan yang selengkapnya, harus berterus
terang. Kalau kau mau mengaku Sejujurnya, suami dan anakmu
akan pulang bersamamu sekarang juga.”
Kustiah mengangguk lagi.
“Waluyo bekerja apa?” tiba-tiba Jepang itu bertanya lagi.
Agaknya iaa hanya sanggup mengeluarkan kalimat pendek-
pendek, maka untuk penjelasan-penjelasan yang membutuhkan
kalimat-kalimat panjang, ia harus minta bantuan si muka
tengkorak itu.
Merdeka Atau Mati 16
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“Dia tukang cukur......” jawab Kustiah. “Saya sendiri
berjualan sayur mayur di pasar, anakku berhenti sekolah karena
tak kuat bayar dan harus jaga rumah....” Keterangan istilah seperti
air bah mengalir keluar dari mulutnya dalam usahanya “mengaku
terus terang” seperti yang diminta tadi.
“Cukup jelas ........bagus sekali. Emmmm.... Waluyo ini
anggauta gerakan rahasia, ya? Semua mata orang Jepang dan
polisi yang berada di kamar itu kini ditujukan kepada Kustiah,
dengan pandangan tajam penuh ancaman dan selidik.
Kustiah menjadi pucat sekali mukanya. Dia sesungguhnya
tidak tahu bahwa suaminya menjadi anggauta gerakan rahasia,
akan tetapi dia tahu apakah itu artinya gerakan rahasia dan
bagaimana pula nasib anggautanya yang tertangkap! “Tidak, dia
bukan...... dia tukang cukur, tuan.”
Tiba-tiba Kustiah merasa bulu tengkuknya berdiri. Sebuah
tangan bemegang belakang lehernya, tangan yang kasar. “Jadi
kau tahu tentang gerakan rahasia?” tanya polisi yang meraba
belakang lehernya itu.
Kustiah menggeleng kepalanya cepat-cepat. “Tidak tahu,
saya tidak tahu sama sekali.”
“Kalau tidak tahu bagaimana kau bisa bilang bahwa
suaminya bukan anggauta gerakan rahasia?” Polisi itu
membentak marah.
Mulai pening kepala Kustiah. Selama hidupnya dia belum
pernah berurusan dengan polisi, belum pernah menghadapi
pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh dan yang berbelit-belit
membingungkan, yang penuh perangkap perangkap. “Saya tidak
tahu...... tidak tahu apa-apa...... hanya jualan di pasar. Suami saya
seorang tukang cukur yang tak berdosa........” Kustinah mulai
menangis.
Merdeka Atau Mati 17
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Hasimo memberi tanda dengan anggukan kepala. Seorang
algojo Jepang memegang tangan Waluyo dan menyeretnya ke
dekat meja. Kustiah mengangkat muka dan memandang
suaminya dengan mata terbelalak, juga Sakri menggigil sekujur
badannya.
“Kaulihat, kau tidak mau mengaku bahwa suamimu,
anggauta gerakan rahasia, kami akan menyiksa suamimu sampai
mati di depan matamu!” Polisi itu menerangkan.
Kustiah hanya menggeleng-geleng kepala tak mampu
menjawab. Ia ketakutan, akan tetapi juga terheran-heran melihat
suaminya yang kurus dan rusak tubuhnya itu kini memandang
kepadanya dengan mata berseri dan bibir tersenyum! Pandang
mata dan senyum seperti dulu, seperti ketika mereka baru
bertemu dan berkasih kasihan! Hampir Kustiah menjerit, akan
tetapi melihat senyum dan pandang mata ini yang jelas
memperlihatkan bahwa suaminya menyetujui sikapnya, kembali
ia menggeleng geleng kepala dan menjawab. “Saya tidak tahu,
tuan. Dia hanya tukang cukur biasa.....”
Hasimo kembali memberi isyarat. Dua orang algojo tukang
siksa Jepang bergerak cepat dan kedua tangan Waluyo dudah
dipuntir ke belakang dengan keras lalu diikat kuat-kuat. Waluyo
pernah disiksa seperti ini, maka ia tahu apa yang selanjutnya akan
ia alami. Ia menahan sakit dan ketika mengerling ke arah istrinya,
ia masih mempertahankan senyumnya. Kustiah dan Sakri yang
tidak mengerti apa yang selanjutnya akan terjadi, hanya
memandang dengan mata terbelalak. Di ujung sana, Sugeng
mengeluarkan keringat dingin dan kedua kakinya menggigil
seperti orang terkena demam malaria.
Tali pengikat yang panjang itu dilempar melalui atas balok
melintang dan mulailah dua orang Jepang tukang siksa itu
menarik ujung tali tambang itu. Kedua lengan tangan Waluyo
Merdeka Atau Mati 18
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
tersentak ke atas di belakang punggungnya sampai mengeluarkan
bunyi berkeretak. Bukan kepalang nyarinya, sampai terasa di
ubun-ubun kepala. Dulu setelah disiksa begini sampai dua hari
Waluyo lumpuh kedua tangannya. Namun Waluyo yang tidak
mau memperlihatkan penderitaan hebat di depan anak dan
istrinya, masih tersenyum!
“Nyonya mau mengaku tidak?” Hasimo bertanya kepada
kustiah. “Tidak kasihan kepada suamimu?”
Kustiah menggeleng geleng kepala, bibirnya gemetar.
“Jangan..... jangan siksa dia, tuan. Dia tukang cukur biasa.... dia
tidak berdosa..... ampun, tuan.”
Hasimo memberi isyarat. Tali ditarik makin keras dan kini
tubuh Waluyo mulai tergantung, kedua lengan terpuntir ke
belakang dan tertarik ke atas seperti ayam ditelikung. Sakitnya
bukan main sampai sukar digambarkan, kiut-miut menyusup
tulang, sampai terngiang-ngiang pada telinga dan berdenyut-
denyut pada ubun-ubun. Tak mungkin Lagi tersenyum. Waluyo
menggigit bibirnya supaya tidak mengeluarkan keluhan.
Kustiah dan Sakri memandang semua ini dengan mata
terbelalak. Karena Waluyo tidak mengeluarkan suara apa-apa,
maka penderitaannya tidak begitu terasa oleh istri dan anaknya.
Akan tetapi ketika melihat mata yang diharamkan kuat-kuat, dan
tetesan-tetesan darah mulai keluar dari bibir yang tergigit sendiri,
Kustiah merasa seakan-akan jantungnya tertusuk pisau. Ia
menutupi muka dengan kedua tangannya, terisak-isak.
Seperti dari jauh sekali terdengar suara Hasimo di dekat
telinganya, jelas. “Nyonya sekarang mau mengaku bahwa dia
anggauta gerakan rahasia?”
“Tidak, tuan. Dia tukang cukur biasa.....”
Merdeka Atau Mati 19
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Sambutan jawaban ini adalah robeknya baju kaos yang
menutupi tubuh Waluyo, disusul bunyi cambuk menghantam
kulit punggung berkali-kali yang diseling suara Hasiomo.
“Nyonya mau mengaku tidak?”
Jawaban Kustiah tetap sama, kini diiring tangisnya sendiri
dan suara tangis Sakri, “Tidak tuan. Dia tukang cukur biasa.....”
Akhirnya Hasimo kewalahan. Waluyo sudah pingsan,
diturunkan dari gantungan dan disiram air. Setelah siuman
kembali diseret ke dalam selnya. Waluyo mengirim senyum Dan
pandang mesra ke arah Kustiah dan Sakri! Ibu dan anak ini lalu
disuruh duduk di bangku yang terletak di sudut ruangan, dan
Sugeng yang sudah pucat sekali itu mendapat giliran disuruh
menghadap, duduk di bangku depan meja tulis.
“Nama.....?”
“Sugeng......” Lirih jawaban ini, keluar dari kerongkongan
yang kering hampir tersumbat rasa takut.
“Pekerjaan?”
“Juru tulis di kantor pos... saya.... saya tidak Berdosa, tuan
besar....”
“Brakkkk!” Meja tulis digebrak oleh Hasimo yang sekaligus
melihat macam apa adanya orang yang diperiksanya maka ketika
ia menggunakan gertakan, “Kamu anggauta gerakan rahasia?”
Hampir saja Sugeng tak kuat untuk duduk tegak. Tubuhnya
sudah menggigil dan terdengar hanyalah keluhan perlahan dari
bibirnya yang pucat, “...... tidak, tuan..... tidak. tuan..... tidak,
tuan....”
“Ibu, aku takut....” bisik Sakri kepada kustiah.
Merdeka Atau Mati 20
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Kustiah memeluk putranya, “Tenang dan tabah..... seperti
ayah tadi, Sakri!” bisiknya dengan suara lirih penuh kebanggaan.
Mendengar nada suara ini, Sakri memandang wajah bundanya
dan ia melihat air mata berlinang pada mata bundanya, dibarengi
senyum senyum manis penuh kebanggaan. Sakri mengerti, dalam
keadaan seperti itu anak yang belum dewasa ini mulai tumbuh
dewasa. Ayahnya memang patut dibanggakan. Sedikitpun,
ayahnya tadi tidak memperlihatkan, malah setelah disiksa sampai
pingsan, sedikitpun tidak pernah mengeluh. Alangkah jauh
bedanya dengan Sugeng itu. Bentak-bentak saja sudah hampir
terkencing-kencing. Ayahnya memang jantan. Hangat rasa hati
Sukri, rasa takutnya buyar. Ayahnya seorang pemberani, yang
tenang dan tabah. Mengapa dia tidak? Dia kan anak ayahnya?
“Ibu, aku tidak takut....” bisiknya. Ibunya menahan isak,
memeluk dan mencium kepalanya. Keduanya lalu tertarik oleh
jeritan Sugeng maka kembali memandang ke arah meja tulis.
Ternyata Sugeng sudah dipegang oleh dua orang algojo Jepang,
seorang sebelah tangan. Sugeng menggigil, mengeluh menjerit.
Padahal belum diapa-apakan!
“Kau mau mengaku?” Hasimo bertanya.
“..... tidak... tidak, tuan....”
“Cabut kukunya!”
Seorang algojo mengeluarkan sebuah alat semacam tang atau
catut. Kuku ibu jari kiri dijepit dan dicabut keluar! Sugeng
menjerit, melolong seakan-akan nyawanya yang dicabut oleh
maut, “Adduuuuh.... mati aku.....! Ampun, tuan besar.... ampun...
Aduh…...!"
Algojo hendak mencabut kuku kedua, akan tetapi Hasimo
memberi tanda menahannya, “Mau mengaku sekarang? Kalau
tidak, sepuluh kuku akan dicabut semua!”
Merdeka Atau Mati 21
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“.... baik, tuan besar.... saya mengaku... aduuuuuuh.... Saya
mengaku”
Kustiah mencengkeram lengan anaknya kuat-kuat, juga suka
memandang dengan mata terbelalak. Sakri pernah melihat
sandiwara dan entah bagaimana, pada saat itu ia seakan-akan
sedang menyaksikan sebuah sandiwara yang dimainkan dengan
baik sekali oleh pelaku-pelakunya.
Sambil menggenggam ibu jarinya yang berlumur darah,
Sugeng yang dilepaskan itu menjatuhkan diri berlutut. Seperti
orang menyembah- menyembah ia membuat pengakuannya,
“Saya hanya ikut ikut saja, tuan besar.... saya terbawa bawa
saja...”
Polisi kurus itu melangkah maju, suaranya mengancam,
“Bikin pengakuan yang betul! Jangan putar balik tidak karuan
kalau kau tidak mau disiksa lagi. Ayo ceritakan semua!”
“... Saya hanya anggota biasa, baru masuk.... aya masih tidak tahu
apa-apa....”
“Kau Kenal Waluyo?” tanya Hasimo.
“Kenal, tuan besar.”
“Dia anggota gerakan rahasia? Pemimpin?”
“Betul, tuan besar. Dia yang mengetahui semuanya. Kalau
tuan mau tahu segala mengenai gerakan rahasia, tanyalah
Waluyo. Saya hanya anggauta biasa. Dia itu sambil berkeliling
sebagai tukang cukur, dia yang menghubungi opsir-opsir Peta, dia
yang menyampaikan segala kode-kode rahasia....”
“Pengkhianat!!”
Merdeka Atau Mati 22
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“Betul, tuan besar. Dia yang mengetahui semuanya. Kalau tuan mau
tahu segala mengenai gerakan rahasia, tanyalah Waluyo. Saya
hanya anggauta biasa. Dia itu sambil berkeliling sebagai tukang
cukur, dia yang menghubungi opsir-opsir Peta, dia yang
menyampaikan segala kode-kode rahasia....”
Merdeka Atau Mati 23
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Semua orang menengok ke arah Kustiah dan Sakri, akan
tetapi tidak begitu memperhatikan Makian yang keluar dari mulut
Sakri tadi. Kustiah sudah cepat mendekap kepala anaknya sambil
memandang kearah Sugeng dengan mata berapi, seperti mata
anaknya, penuh kebencian, penuh kejijikan.
“Bagus.... Bagus.... Eh sugeng. Kalau kau masih membantu
kami, mau menunjukkan orang-orang yang kaukenal dalam
gerakan, kau tidak saja akan dibebaskan, malah kau akan
mendapat hadiah!” Inilah kalimat-kalimat terpanjang yang pernah
dikeluarkan oleh Hasimo sambil menepuk nepuk pundak Sugeng
yang sudah tidak begitu pucat lagi sekarang. Dia lalu dibawa
keluar dari ruangan itu. Akan tetapi sebelum keluar dari pintu,
Sugeng melirik ke arah Kustiah dan kecut-kecut hatinya melihat
dua pasang mata ibu dan anak itu menatapnya dengan pandang
mata membakar dan menusuk. Ia Menundukkan kepalanya,
menghibur hati sendiri. Aku hanya membela diri..... aku harus
hidup.... Apa perlunya membela Waluyo? Ia akan mati juga.....!
––––––––
Pengkhianatann Sugeng merubah sifat pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan terhadap pemeriksaan atas diri Waluyo,
sungguhpun sama sekali tidak merubah sifat siksaan-siksaan dan
ancaman- ancamanya. Pertanyaannya sekarang berbunyi,
“Apa tugasmu dalam gerakan?”
“Siapa Pemimpin gerakan?”
“Berapa banyak jumlah anggautanya?”
“Di mana pusatnya”
Merdeka Atau Mati 24
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Pendeknya, orang-orang Jepang itu hendak mengorek semua
rahasia tentang gerakan melawan Jepang itu dari mulut Waluyo.
Namun dengan gigih Waluyo mempertahankan kesetiaannya. Dia
hanya mengaku bahwa dia memang betul anggauta gerakan
menentang Jepang, akan tetapi tidak dapat menceritakan atau
menjawab semua pertanyaan itu. Seperti juga mendiang Harmini
dan mendiang Oom san, di tengah-tengah penyiksaan Waluyo
berkata,
“Tuan-tuan boleh bunuh saya! Boleh membunuh banyak
saudara-saudara kami. Akan tetapi tak mungkin dapat membunuh
dendam dan benci dalam dada bangsa Indonesia yang tuan injak-
injak!”
Hasimo sampai kehabisan akal untuk memaksa Waluyo
membuat pengakuan. Akhirnya pada hari Kamis malam itu,
malam Jumat Kliwon, Hasimo mengambil langkah yang paling
dahsyat. Malam hari itu kira-kira jam delapan, waluyo diseret ke
dalam ruangan pemeriksaan, juga Kustiah dan Sakri dikeluarkan
dari sel lain. Baik Kustiah maupun Sakri nampak kurus pucat
karena penderitaan batin yang luar biasa. Istri dan anak manakah
yang tak akan menderita hebat kalau setiap hari disuruh
menonton suami dan ayah disiksa? Selama itu, sudah empat hari
semenjak Kustiah dan Sakri ditahan, ibu dan anak ini tak pernah
mengalami siksaan, hanya disuruh menjadi penonton dengan
maksud mengorek rahasia dari mulut mereka. Setelah Hasimo
mendapat keyakinan bahwa ibu dan anak ini memang tidak tahu
apa-apa tentang pergerakan, dan setelah Sugeng membuat
pengakuannya dan jelas pula bahwa Waluyo termasuk tokoh
gerakan, Hasimo menggunakan cara lain.
“Waluyo, kedosaanmu sudah jelas. Kau anggauta pergerakan
rahasia, malah seorang tokoh pemberontak. Sudah semestinya
kau dihukum mati. Akan tetapi tuan Hasimo masih menaruh hati
Merdeka Atau Mati 25
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
kasihan kepadamu.” Demikian polisi kurus itu mulai pidatonya.
“Kalau kau suka membuat pengakuan dan suka memberi
keterangan keterangan tentang gerakan rahasia itu, seperti juga
Sugeng, kau akan dibebaskan dan diberi ganjaran.”
Dengan senyum mengejek Waluyo berkata, “Aku tidak sama
dengan Sugeng si penghianat!”
“Apa kau tidak sayang nyawamu?”
“Nyawaku sudah kuserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Setiap saat Tuhan menghendaki , dengan rela ku berikan.”
Hasimo menyeringai, “Dan tidak sayang sama istri dan
anak?”
Tersirat darah Waluyo mendengar ini. Mengerling ke arah
tempat duduk Kustiah dan Sakri.
“Apa..... Apa maksud tuan?”
“Kalau kau tidak mau mengaku, istri dan anakmu juga akan
mati.”
Untuk sesaat Furious seperti kehilangan akal. Ia memandang
kepada istri dan anaknya. Akan tetapi pada saat itu, ibu dan anak
ini begitu kagum dan bangga akan dia. Sinar mata Kustiah
seakan-akan berkata, “Aku bersedia mati bersamamu!” Dan sinar
mata Sakri juga yang jelas membayangkan bahwa anak itu tidak
takut!
“Mati atau hidup adalah urusan Tuhan, hanya Tuhan yang
akan menentukan, manusia tak berkuasa. Keselamatan anak istri
saya juga sudah saya serahkan ke dalam tangan Tuhan,” jawab
Waluyo berbesar hati melihat sikap istri dan anaknya.
“Bakero! keras kepala ya!? Melawan Dai Nipponkah?”
Hasimo memberi perintah dalam bahasa Jepang dan dua orang
Merdeka Atau Mati 26
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
algojo dengan kasar menyeret Kustiah dan Sakri. Dengan kejam
dan sikap sombong sekali dua orang Jepang itu merenggut
pakaian yang menutupi tubuh kustiah dan Sakri selembar demi
selembar. Mulut Jepang yang menelanjangi Kustiah menyeringai
kurang ajar.
Waluyo tak tahan melihat ini. Ia meramkan mata. Hasimo
tepuk pundak nya. “Kau cinta istrimu? Lebih baik mengaku. Apa
lebih sayang kepada pemberontak daripada istri dan anak
sendiri?”
Bujukan ini bagaikan minyak menyiram api didadar Waluyo.
Ia mengangkat muka dan berteriak. “Mau bunuh anak istriku,
bunuhlah! Lebih baik aku anak istri binasa daripada menjadi
penghianat bangsa!”
Selanjutnya Waluyo tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi.
Ia dipaksa menonton istri dan anaknya yang bertelanjang bulat itu
dijadikan makanan cambuk bertubi-tubi dengan kedua tangan
digantung ke atas. Tadinya sepasang Mata Waluyo memandang
nyeri, namun sedikit demi sedikit cahaya aneh berapi memancar
dari matanya. Hebat sikap Kustiah. Tak sebuahpun keluhan
keluar dari mulut istrinya. Istrinya yang gagah! Tak kalah oleh
Harmini!
Diantara suara cambuk dan gerengan suara Sakri yang
menahan sakit tanpa minta ampun, terdengar teriakan Waluyo,
“Kustiah istriku. Aku cinta padamu.....!”
Akhirnya pencambukan dihentikan. Ketika lepas ikatan
tangannya, Kustiah dan Bakri ambruk tidak ingat orang, seperti
sudah menjadi mayat. Mereka diseret keluar setelah pakaian
mereka dilemparkan ke arah tubuh mereka yang penuh darah.
Sakri siuman lebih dulu, mendapatkan dirinya di pekarangan
depan markas Kenpetai di tengah malam. Tubuhnya sakit-sakit
Merdeka Atau Mati 27
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
dan perih semua. Ketika didengarnya ibunya telanjang, sekuat
tenaga ia bangun dan membantu ibunya mengenakan pakaian
sejadinya. Iya sendiri lalu berpakaian. Pada saat itu terdengar
bunyi tembakan di dalam markas. Disusul pekik yang amat
mereka kenal.
“Kustiah.....! Sakri...!” Itulah suara terakhir Waluyo yang
mereka dengar. Kustiah menutupi mukanya, menangis. Kini Sakri
yang menghiburnya. Siksaan tadi merupakan tempaan yang
menggembleng jiwa kanak-kanaknya menjadi jiwa dewasa,
dewasa oleh derita. Dituntunnya ibunya bangun berdiri. Seorang
Kenpetai menghampiri mereka dan menghardik.
“Bakero? Masih belum pergi? Mau mampus kah?”
Ditendangnya Bakri sampai terhuyung-huyung. Sakri cepat
membimbing tangan ibunya, diajak keluar dari neraka dunia itu.
Terhuyung huyung mereka keluar melalui penjaga yang
memandang dengan senyum mencibir “Anjing-anjing
pemberontak!” penjaga masih memberi bekal terakhir.
––––––––
Kejahatan di dunia ini selamanya takkan memberi berkah
Tuhan. Betapapun kuat dan pada permulaannya nampak menang,
namun karena tidak mendapat berkah, tidak diridhoi tuhan, pasti
akan hancur dan ambruk.
Ambisi-ambisi penuh nafsu yang melahirkan praktek-praktek
keji, jauh melampaui batas perikemanusiaan dan tidak mengenal
Tuhan seperti yang terdapat dalam praktek kekejian fasisme a la
Jerman dan Jepang, biarpun tadinya tampak kuat dan pada
permulaannya mencapai kemenangan kemenangan gemilang,
pada akhirnya hancur juga. Berturut-turut Jerman dan Jepang
jatuh dan kalah. Tidak hanya kekuasaan-kekuasaan pada tanah
Merdeka Atau Mati 28
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
jajahannya dipreteli, bahkan kekuasaan kekuasaan di negeri
sendiripun dilumpuhkan.
Indonesia bebas pula dari penindasan Jepang. Dai Nippon
yang kalah itu meninggalkan kesengsaraan dan kemelaratan
umum yang hebat, akan tetapi juga merupakan gemblengan
terakhir terhadap rakyat Indonesia yang sudah berabad-abad
lamanya selalu berusaha membebaskan diri dari pada belenggu
penjajahan. Ada beberapa segi yang menguntungkan terdapat
dalam penjajahan Jepang yang “seumur jagung” (ternyata: tiga
setengah tahun) lamanya itu, keuntungan dipandang dari sudut
perkembangan selanjutnya, yaitu dalam usaha rakyat
memerdekakan nusa bangsa yaitu berupa latihan militer kepada
pemuda-pemuda kita yang tersusun dalam barisan seperti
Seinendan. Keibodan dan Peta. Latihan keberanian berperang,
ketahanan menderita, dan taktik gerilya mempergunakan bambu
runcing. Juga keuntungan mental, yaitu pandangan rakyat
Indonesia terhadap kekuasaan Belanda menurun banyak setelah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Belanda dibuat
kocar-kacir oleh Jepang tanpa perlawanan. Bahwa sebetulnya
Belanda kalau di lawan hanya merupakan kiju yang empuk!
Kekosongan pada peralihan kekuasaan dengan jatuhnya Dai
Nippon ini tidak disia-siakan oleh para pemimpin dan rakyat.
Proklamasi kemerdekaan bergema di seluruh tanah air,
diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama
rakyat Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia
merdeka! Banyak air mata haru bercucuran menyambut berita ini,
yang selama ini hanya merupakan surya tertutup awan hitam di
alam mimpi, Indonesia Merdeka! Bebas daripada belenggu
penjajahan, bebas dari Belanda dan Jepang. Indonesia dengan
ribuan pulaunya, dengan gunung gunung berapinya, dengan
pantai-pantainya, seluruh tanah dan airnya adalah milik kita
sendiri! Siapapun juga yang akan mencoba untuk merampasnya
Merdeka Atau Mati 29
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
kembali, biar mereka itu dewa ataupun setan-setan, akan
berhadapan dengan seluruh rakyat yang bertekad bulat
mempertahankannya!
Dan Betul saja, terjadilah percobaan perampasan kembali itu.
Bukan oleh Dewata, bukan pula oleh setan neraka, melainkan
oleh Belanda sendiri yang dibantu oleh Inggris. Dengan segala
macam jalan, baik Jalan politik maupun kekerasan, belanda
menuntut kembalinya tanah jajahannya. Rakyat serta merta
menolak. Dengan semangat meluap-luap, di tengah pekik
“MERDEKA” yang menggelora dan menggema di seluruh tanah
air, dibentuklah B K R ( Barisan Keamanan Rakyat). Pemuda-
pemuda yang pernah secara paksa dan kekerasan digembleng
oleh Jepang sebagai Seinendan atau Keibodan, maupun bekas
bekas anggauta Peta dan polisi, bermunculan di tengah-tengah
rakyat, melatih para pemuda yang sudah siap mempertahankan
kemerdekaan tanah airnya mempertaruhkan daging darah nyawa!
Bentrokan pertama antara rakyat dan pihak penjajah itu
terjadi di Surabaya pada 10 November 1945. Kota Surabaya
dihujani mortir, rakyat diberondongi senjata-senjata yang lengkap
dan modern. Namun, hal ini bukannya mendatangkan rasa takut,
bukannya memadamkan semangat, bahkan membuat amarah
rakyat berkobar-kobar dan semangat perlawanan menjadi-jadi.
Membuat semua rakyat merasa bersatu padu, bersatu tekad
mempertahankan kedaulatan nusa bangsa. Perlawanan gigih
dilakukan oleh pemuda pemuda yang perkasa, dengan senjata
seadanya. Dimana-mana lahirlah kesatuan-kesatuan yang antara
lain adalah B P R I Laskar Rakyat, dan masih banyak lagi regu-
regu pejuang yang senjatanya amat bersahaja dan sebagian besar
hanyalah senjata-senjata tajam dan bambu runcing. Kalaupun ada
senapan, sebagian besar hanyalah senapang karaben Jepang!
Jangan disangka hanya kaum pemuda saja yang terjun ke dalam
perjuangan melawan penjajah ini. Bahkan orang-orang tua pun
Merdeka Atau Mati 30
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
banyak, malah kaum wanitapun menggabungkan diri dan menjadi
anggauta Laswi ( Laskar Wanita Indonesia)! Ada pula orang-
orang Tionghoa yang terbakar semangatnya oleh api perjuangan
sehingga di beberapa tempat, di antaranya di Sragen. Mereka
membentuk regu yang bernama B P T H ( Barisan Pemberontak
Tionghoa) dan di samping saudara-saudaranya dari Laskar
Rakyat, B P R I, K R I S, P N I, Hizbullah, Pesindo, Barisan
Banteng, Laskar Buruh, Sabilillah dan lain-lain ikut pula berjuang
di baris depan, tergabung dalam baris TKR.
Kematian Jenderal Sekutu Mallaby yang terbunuh di
Surabaya, mencetuskan bentrokan pertama antara
Belanda/Inggris dengan para pejuang di Surabaya. Mulut-mulut
meriam memuntahkan peluru, mortir mortir membabi buta dan
karena kalah kuat persenjataannya, akhirnya barisan kita terdesak
mundur dan terpaksa harus meninggalkan Surabaya. Namun
pertempuran di Surabaya itu merupakan pengalaman dan
pelajaran yang amat berharga, mempertebal tekad dan
memperkuat persatuan. Kekalahan di Surabaya bukan merupakan
hal yang aneh, karena Belanda dan Inggris mempergunakan
meriam meriam dan mortir mortir,, mengerahkan serdadu-
serdadu bersenjata lengkap dan modern, pula terlatih baik, yang
menyerbu dari darat, dibantu moncong moncong meriam dari laut
dan metraliur-metraliur dari pesawat udara!
Semenjak 10 November 1945 itulah terjadi perang gerilya.
Dimana pihak penjajah menemui perlawanan gigih dari rakyat
biarpun Belanda melakukan penyerangan membabibuta,
membunuh seenaknya, membakar, merampok. Darah rakyat
kembali mengalir membasahi bumi Indonesia. Justru darah dan
penderitaan ini yang membuat rakyat seluruhnya bangkit dengan
tangan terkepal ,mata berapi, dan mulut memetic: MERDEKA
ATAU MATI!!”
Merdeka Atau Mati 31
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Malam hari yang gelap pekat di sebelah barat Wonokromo,,
dekat Krian. Serbuan serbuan Belanda yang dinamakan “aksi
polisionil” pada Juni 1947 disambut oleh perlawanan pejuang
gerilya di mana-mana. Harus diakui bahwa berkat persenjataan
mereka yang lengkap dengan mobil-mobil lapis baja, Belanda
berhasil menyusup ke mana-mana. Namun di mana saja mereka
tiba di situ selalu di kacau oleh serbuan-serbuan para pejuang
gerilya. Pada siang hari tak seorangpun pemuda nampak. Akan
tetapi kalau sudah datang malam hari, di malam hari yang gelap
pekat arti pada malam ini, para pemuda bergerilya. Mereka
dengan gagah berani nya menyerbu pos-pos Belanda. Mencegat
iringan-iringan truk Belanda, menyergap dengan tiba-tiba dan
bagi fihak musuh, mereka ini merupakan “momok” yang
membuat Belanda tidak enak tidur!
Di dekat Krian terdapat sebuah pos Belanda. Serdadu-
serdadu KNIL yang dipimpin beberapa orang Serdadu KL yang
berada di pos itu amat lelah sehabis “pembersihan” di kampung-
kampung tanpa hasil. Hanyalah orang-orang tua dan wanita dapat
mereka temui, dan terpaksa memuaskan nafsu membunuh mereka
dengan menembaki beberapa orang kakek-kakek.
Beberapa sosok bayangan hitam berkelebat di gelap malam,
mendekati pos Belanda. Menyelinap dan merangkak. Hanya ada
dua belas orang, dua belas orang pemuda yang sigap-sigap, tak
bersepatu. Akan tetapi dengan semangat membaca dan pancuran
cahaya mata mereka yang berapi-api menjadi bukti akan
ketabahan hati mereka. Setiap orang pemuda membawanya
sedikitnya sebuah granat tangan. Lima orang membawa karaben
Jepang, tiga orang membawa pistol dan yang empat orang
masing-masing membawa tiga buah granat tangan dan sebatang
pedang. Inilah persenjataan duabelas orang ini, duabelas orang
dari regu “jibaku” (berani mati) yang sudah amat terkenal dalam
Merdeka Atau Mati 32
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
pasukan-pasukan gerilya yang pada waktu itu dipimpin oleh
Bung Tomo!
Pemimpinnya seorang pemuda remaja yang paling banyak
berusia sembilanbelas tahun. Pemuda berhidung mancung,
bermata tajam dan berambut tebal agak keriting. Rambutnya
panjang sampai menyentuh telinga. Perawakannya sedang, akan
tetapi tangan yang sedikitpun tidak gemetar dalam menghadapi
pos Belanda dengan hanya berkawan sebelas orang dan dia
sendiri hanya memegang sebuah pistol, membuktikan bahwa di
dalam tubuhnya terdapat saraf-saraf baja.
Tanpa mengeluarkan suara, hanya dengan gerakan jari
tangan kiri, pemuda yang memimpin regu jibaku ini membagi-
bagi regunya menjadi tiga. Enam orang, termasuk dia sendiri dan
mereka yang membawa pistol, menyelinap dari depan Pos. Tiga
orang yang hanya membawa granat dan pedang menyelinap dari
belakang sedangkan yang lain-lainnya, yang tiga orang lagi
dengan karaben menghampiri pos dari arah kanan. Sebelum
mereka berangkat, pemimpin mereka memang sudah mengatur
siasat. Serangan harus dibuka dengan lemparan granat dari
samping kanan dan dalam keadaan musuh panik, serangan
dilanjutkan dengan karaben dari depan dan kanan. Kemudian
perlahan-lahan mundur, membiarkan musuh mengejar,
memancing musuh keluar dari Pos dan memberi kesempatan pada
tiga orang kawan yang masuk dari belakang pos untuk menyikat
semua perlengkapan pos itu, senapan, peluru-peluru dan apa saja
yang penting untuk kita!
“Dung!!” Sinar terang ledakan granat itu menerangi
kegelapan malam untuk beberapa detik. Segera disusul rentetan
tembakan dari senapan mesin otomatis yang memuntahkan peluru
sejadi-jadinya secara membuta tuli. Dari dalam pos, Serdadau-
serdadu KNIL menyerbu ke mobil lapis baja, berlindung di sana
Merdeka Atau Mati 33
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
sambil menembaki keluar. Serdadu KL hanya berteriak-teriak dan
memaki-maki di dalam pos.
Regu jibaku itu tidak membalas tembakan karena hal ini
akan merugikan mereka sendiri karena tempat persembunyian
mereka tentu akan diketahui musuh. Granat-granat tangan
dipergunakan. Kuncinya dibuka dengan gigi, lalu dilontarkan dari
pelbagai penjuru.
“Dung! Dung! Dung!” Mulai terdengar jeritan-jeritan di
depan pos ketika dua buah granat dengan tepat mengenai mobil
lapis baja. Agaknya pecahan granat ada yang menyambar masuk
mengenai serdadu-serdadu KNIL. Tiba-tiba dari dalam pos
dipasang lampu senter yang terang, menyorot keluar dan diputar-
putar, mencari-cari. Sementara itu rentetan senapan otomatis
masih berbunyi, malah makin gencar.
Tiba-tiba, diantara suara tembakan, terdengar keruyuk ayam
jago. Itulah tanda yang dikeluarkan oleh pemimpin regu gerilya
ini untuk mulai mundur. Sambil mengundurkan diri dan
menyelinap diantara tempat-tempat gelap supaya jangan terlihat
musuh yang mulai menggunakan alat penerangan, mereka
berpencar. Mulailah sekarang menggunakan pistol dan karaben,
bertubi-tubi menembaki ke arah pos, dan inilah siasat memancing
mereka. Serdadu Serdadu KNIL yang mengira bahwa para
gerilya terpukul mundur, lalu mengejar keluar. Malah serdadu KL
(serdadu serdadu Belanda) yang tadi bersembunyi saja di dalam
pos, sekarang berani keluar sambil mengeluarkan aba-aba, “Kejar
terus, basmi!”
Sambil terus menembaki dengan karaben dan pistol, regu
jibaku ini memancing musuh keluar. Pekerjaan ini amat
berbahaya, karena sekarang tempat mereka sudah diketahui
musuh dan berondongan senapan mesin musuh benar-benar
berbahaya sekali. Namun berhasillah mereka memancing para
Merdeka Atau Mati 34
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
serdadu meninggalkan posnya. Dan diam-diam bergeraklah tiga
orang anggauta gerilya dari belakang Pos, memasuki pos itu.
Terjadi pergumulan ketika dua orang anggota KNIL (serdadu
sewaan yang dipergunakan Belanda) yang masih tinggal di pos
melihat mereka. Tiga orang itu cepat mengerjakan pedang
mereka, pedang Samurai peninggalan Jepang dan dalam sekejap
mata saja dua orang serdadu KNIL itu tewas. Pekerjaan dilakukan
cepat-cepat, senjata dikumpulkan dan peluru-peluru juga.
Ketika pasukan Belanda yang akhirnya sadar bahwa mereka telah
meninggalkan pos terlalu jauh itu kembali ke pos, mereka
mendapatkan dua orang mayat Serdadu KNIL dan hilangnya
beberapa pucuk senapan dan banyak peluru! Opsir KL memaki-
maki, menyumpah menyumpahi para gerilya dan memarahi para
anak buahnya. Lima orang serdadu KNIL tewas dalam serbuan
ini dan tujuh pucuk senapan berikut ratusan butir peluru lenyap!
Tiga orang yang berhasil merampas senjata itu bertemu
dengan lima orang kawan seregunya di tempat yang ditentukan,
yaitu di sebuah hutan jati. Empat orang lain tidak nampak,
diantaranya pemimpin mereka.
“Mana sakri?” tanya seorang di antara tiga orang perampas
senjata tadi, yang berkumis panjang.
Kawannya yang rambutnya seperti rambut gadis tujuhbelas
tahun, panjang berombak sampai ke leher, menjawab lesu,
“Tertembak, dengan tiga orang kawan lain. Tiga orang tewas
tertembak dan mati seketika. Pak Sakri tertembak kakinya,
menolak ketika hendak kami bawa. Keadaan amat terdesak,
setan-setan KNIL itu hanya beberapa belas meter di belakang
kami, dan moncong senapang mitralYur terkutuk itu menghalangi
semua gerakan kami.”
Dengan wajah muram, biarpun hasil rampasan senjata-
senjata api itu membesarkan hati, regu yang tinggal delapan
Merdeka Atau Mati 35
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
orang dan kehilangan pimpinan ini kembali ke induk pasukan,
membuat laporan dan menyerahkan hasil rampasan.
––––––––
Memang Sakri yang telah kita kenal adalah pemimpin regu
jibaku tadi. Sakri anak Waluyo yang tewas di tangan Kenpetai
Jepang di Surabaya. Seperti telah dituturkan di bagian depan,
Sakri yang ketika itu baru berusia empat-limabelas tahun,
bersama ibunya, Kustiah, keluar dari maskar Kenpetai dalam
keadaan tubuh sakit-sakit. Pakaian mereka berlepotan darah yang
masih keluar dari kulit tubuh mereka yang pecah-pecah akibat
cambukan-cambukan algojo Jepang.
Dalam keadaan sakit dan menderita hebat lahir batin,
pederitaan batin akibat terbunuhnya Waluyo lebih hebat terasa,
ibu dan anak ini pulang ke Blitar. Kustiah tak dapat sehat kembali
setelah penderitaan hebat itu dan setengah tahun kemudian ia
menyusul suaminya ke alam baka.
Sakri menangis dan berkali-kali roboh pingsan di samping
mayat ibunya. Sambat dan tangisnya menghancurkan hati para
tetangga yang mendengar dan melihatnya. Dengan bergotong-
royong para tetangga mengurus penguburan jenazah Kustiah,
akan tetapi karena pada waktu pendudukan Jepang itu tak
seorangpun yang lebih baik keadaan ekonominya daripada
keluarga Waluyo, siapakah yang dapat menampung Sakri dan
menambah beban untuk memberi makan seorang anak lagi?
Sakri hidup seorang diri, sebatangkara. Memang ada
beberapa orang keluarga di dusun, namun mereka sendiri payah
keadaannya dan Sakri mempunyai watak yang kuat, tidak mau
mengemis dan memberatkan orang lain. Biarpun usianya baru
limabelas tahun, namun penderitaan penderitaan lahir batin
Merdeka Atau Mati 36
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
membuat ia seperti telah dewasa. Dijualnya barang-barang yang
ada, peninggalan orangtuanya untuk makan, disamping itu ia
mencari pekerjaan seadanya, kalau perlu menjadi kuli angkat di
stasiun-stasiun dan di pasar-pasar.
Dalam lubuk hatinya lahir dendam dan benci terhadap
penjajahan, yang selama pendudukan Jepang itu ditahan-tahannya
karena tak berdaya. Namun, tiga tahun kemudian setelah ia
menjadi dewasa, ketika pecah perang perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan tanah air daripada penjajah
Belanda yang ingin mengangkangi kembali Indonesia, serta merta
Sakri menerjunkan diri ke dalam gelombang perjuangan.
Meneruskan jejak ayahnya, bahu-membahu dengan bekas kawan-
kawan ayahnya, bertekad bulat mempertahankan Ibu Pertiwi
dengan peluh dan darah, dengan raga dan kalau perlu dengan
nyawa, MERDEKA ATAU MATI, inilah semboyan yang sudah
terukir didalam lubuk hatinya.
Demikianlah riwayat singkat dari pemuda Sakri, baru berusia
sembilanbelas tahun namun telah mendapat kehormatan
memimpin regu jibaku yang pada malam hari yang pekat gelap
pekat itu menyerbu pos Belanda di dekat riyan! Riwayat yang
juga menjadi riwayat puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan
pemuda-pemuda patriot rakyat yang bangkit di saat itu untuk
melawan kaum penjajah.
Seperti telah diberitakan oleh seorang kawannya yang
berambut panjang kepada anggauta regu kemudian dilaporkan
kepada komandannya di induk pasukan, Sakri memang kena
tembak pada saat ia dan kawan-kawannya memancing Belanda
meninggalkan posnya. Tertembak pada kaki kanannya. Peluru
senapan musuh telah menembus betisnya dan ia jatuh tersungkur
dengan pistol masih di tangan.
Merdeka Atau Mati 37
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Empat peran kawannya memburu dan anda menolongnya.
Yang tiga sudah tertangkap dan gugur. Akan tetapi Sakri menolak
ketika hendak ditolong dan digendong. Peluru-peluru senapang
masih menghujani mereka pada saat itu.
“Kalian Pergilah, selamatkan diri dan terutama sekali bantu
kawan-kawan yang merampas senjata,” Katanya terengah-engah
menahan rasa sakit pada betisnya yang menjalari seluruh tubuh,
panas perih. “Bawa pistol ini, tinggalkan aku.”
“Tapi.......,” bantah kawannya yang berambut panjang.
“Tidak ada tapi! Ini perintah. Kalau kau menggendongku, larimu
tidak cepat, dan kita semua mati ditembak Belanda. Kalau
umurku masih panjang, tanda akan menyangka aku sudah mati.
Bawa Pistolku.”
“Tidak!” Kawannya membantah. “Simpan pistol itu......
Masih ada pelurunya?”
“Masih, sudah kuisi lagi tadi.”
“Simpan dan PERgunakan untuk membela diri........” Kawan-
kawannya terpaksa pergi meninggalkannya karena makin gencar
tembakan-tembakan Belanda dan makin dekat para Serdadu itu
yang mengejar mereka.
Sakri tersenyum di antara rasa nyeri yang menusuk
nusuk.”Masih ada TIGA butir lagi. Cukup untuk memaksa tiga
orang musuh menjadi pengantar nyawaku.....” Ia segera
menelungkupkan diri, mata mengincar ke depan dan pistol
tersembunyi tapi siap ditembakkan.
Memang tepat ucapan ayahnya dulu yang masih terngiang
ngiang dalam telinga sakit. Nyawa adalah dalam tangan Tuhan.
Tuhanlah yang mengaturnya pakah nyawa akan tetap tinggal
untuk sementara dalam tubuhnya ataukah akan direnggut nya
Merdeka Atau Mati 38
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
sekarang juga. Hatinya menjadi besar. Diserahkan
keselamatannya, mati hidupnya kedalam tangan Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Merdeka Atau Mati 39
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“Kalian Pergilah, selamatkan diri dan terutama sekali bantu kawan-
kawan yang merampas senjata,” Katanya terengah-engah menahan
rasa sakit pada betisnya yang menjalari seluruh tubuh, panas perih.
“Bawa pistol ini, tinggalkan aku.”
Dan memang agaknya Tuhan belum menghendaki nyawanya
kembali ke alam baka. Belanda tiba-tiba menghentikan
pengejaran tepat dalam jarak sepuluh meter saja dari tempat
dimana ia terjerembab. Keadaan amat gelap menolongnya.
Belanda kembali pasukannya kembali ke pos.
Sakri tersenyum lagi. “Aku masih hidup!” Dan kesadaran
bahwa ia masih hidup ini membangkitkan akalnya. Aku harus
segera pergi dari tempat ini. Besok pagi tentu Belanda akan
mengadakan “pembersihan”, akan memeriksa kembali tempat ini.
Ia mencoba untuk berdiri. Kakinya menghentak-hentak nyerinya.
Ia menggigit bibir, tak berapa sakit, pikirnya. Masih lebih sakit
ketika disiksa Jepang dulu! Ia memaksa diri berjalan, atau lebih
tepat meloncat-loncat dengan kaki kiri, menyeret kaki kanannya
yang sudah dilumpuhkan terasa nyeri.
Seperti permainan Zondag-Maandag( permainan kanak-
kanak melontarkan pecahan genteng ke dalam petak-petak lalu di
loncat-loncati), pikirnya geli. Dia dulu jago bermain Zondag-
Maandag ini, sampai lama tidak pernah mati (istilah kalau gagal
lontaran atau loncatan). Dia jago meloncat-loncat dan sekarang
dipraktekkan latihan berloncatan dengan satu kaki itu dalam
perang!
Tapi tidak mudah berloncat-loncatan dengan sebelah kaki
dalam keadaan terluka seperti dia pada saat itu. Dalam gelap
dekat pula. Sakri menghitung-hitung. Kembali ke pangkalan
induk pasukan? Tidak mungkin. Sedikitnya tigapuluh km
jauhnya, tak mungkin dilakukan dengan berloncatan seperti itu.
Di sebelah barat hutan ini terdapat kampung-kampung. Belum
Merdeka Atau Mati 40
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
pernah ia mengunjungi kampung-kampung itu dan tidak ada
kenalannya di situ. Akan tetapi dalam perang total melawan
Belanda begini, setiap Kampung merupakan pelabuhan yang
aman karena setiap orang dusun merupakan saudara
seperjuangan. Aku harus dapat mencapai sebuah kampung
sebelum terang tanah, pikirnya pasti. Harus mendahului Belanda
sampai ke kampung dan dalam perlombaan ini taruhannya adalah
nyawa! Lagi-lagi Sakri tersenyum seorang diri, tanpa berhenti
berloncatan dengan kaki kiri. Kalau dulu permainan Zondag-
Maandag taruahannya adalah gendongan. Yang kalah
menggendong yang menang. Pertaruhan main loncat-loncatan
sekarang ini taruhannya nyawanya! Kalau menang ia selamat, ini
harapannya, kalau kalah ia mati, ini sudah pasti! Dan ia harus
menang. Harus! Dengan tekad ini di dada Sakri terus berloncatan
tak pernah ditunda sedetikpun juga, sampai kaki kirinya serasa
hendak patah-patah. Tapi ia terus juga berloncatan. Kepalanya
mulai pening, darah berdenyutan di seluruh tubuh, mata
berkunang. Menjelang subuh ia melihat cahaya lampu minyak
berkelip-kelip, menerobos keluar melalui celah-celah dinding
bambu di sebuah kampung. Ini membesarkan semangatnya,
namun tubuhnya sudah terlalu lelah, kepalanya terlampau pening.
Di luar Kampung ia roboh terguling, dekat tanggul sawah…..
––––––––––––
Bagian 2
“Aduh, kasihan.....”
Ucapan ini bergema di telinganya, halus lembut seperti suara
bidadari dari kayangan. Jauh..... sayup sampai memasuki
Merdeka Atau Mati 41
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
telinganya. Timbul keinginannya hendak terbang pergi, jauh
meninggi ke arah suara itu, ke kahyangan di mana para bidadari
menantinya. Pak Haji Latif, seorang pejuang gerilya pula, pernah
bercerita di depan sekelompok pemuda gerilya, setengah
berkelakar namun dengan nada suara bersungguh bahwa tewas di
medan perjuangan adalah gugur sebagai kesuma bangsa, mati
sahid yang pahalanya adalah Sorga, di mana bidadari-bidadari
kahyangan bernyanyi-nyanyi, dimana hanya kebahagiaan yang
ada, puja-puji kepada Tuhan Yang Maha Besar. Ia ingin terbang
melayang ke tempat para bidadari itu, yang tadi berkata, “Aduh
kasihan......”
Ia merasa tubuhnya terapung, seperti tengah terbaring dalam
sebuah sampan yang dimainkan ombak laut, ketika ia satu kali
pernah menyeberang dari Gresik ke Sampang dahulu. Lalu ada
percikan air halus menyentuhnya......., bukan air, melainkan
sesuatu yang halus lembut. Dan pada saat itu terdengar pula suara
bidadari tadi.
“Aduh kasihan, pahlawan muda belia......!”
Dia disebut pahlawan! Hebat nian! Bukan main merdunya
suara itu. Sekarang terdengar amat dekat di telinganya. Tak
mungkin jauh. Kalau begitu ia sudah berada di kahyangan
tentunya. Kenapa memejamkan mata? Sebaiknya dibuka, dibuka
selebarnya untuk memandang wajah Bidadari.
Sakri membuka matanya. Yang pertama dilihatnya adalah
sepasang mata. Mata bidadari. Tak bisa salah lagi. Begitu jernih,
begitu indah, begitu lembut bercahaya. Lalu bibir halus lunak
kemerahan. Bibir Bidadari! Mana bisa lain? Lalu hidung, mata
yang tadi lagi, alis mata, kening, telinga, rambut yang hitam
halus. Wajah seorang dara. Dara bidadari tentunya! Tapi mana
sayapnya? Pengganti pakaian keputihan berikut sayap bidadari
tidak ada, yang ada hanya pakaian kain kelengen (cap kebiruan
Merdeka Atau Mati 42
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
sederhana) dan baju kebaya hijau muda yang tidak baru lagi.
Pakaian sederhana dan tidak bagus. Tapi wajah itu!
“Kau..... Kau Bidadari........?” Bibir Sakri menggumam dan ia
mencoba untuk bangun.
Dara itu, atau lebih tepat baginya, bidadari itu tersenyum.
Tersenyum lega mengandung iba hati yang nampak nyata pada
pandang matanya yang halus.
“Syukurlah....... Kusangka kau sudah mati tadi.” Ketika
bicara, dari bawah Sakri melihat deretan gigi putih nampak
sekelebat. Menyilaukan mata, ia mencoba bangun lagi, berhasil
akan tetapi ia mengeluh kesakitan ketika menggerakkan kaki
kanan, lupa akan lukanya. Sampai gemetar tubuhnya menahan
rasa nyeri yang menusuk jantung.
“Aduuuuuuh.....” keluhnya perlahan.
“Kasihan, muda belia yang malang.....”
Sakri merasa tak senang. Tahu ia sekarang, yakin bahwa
yang berada di dekatnya ini bukan bidadari, melainkan seorang
perempuan muda, mungkin orang dara, yang amat jelita seperti
bidadari. Tapi ia tak senang berkali-kali disebut muda belia.
“Umurku sudah duapuluh.... mungkin hanya kurang beberapa
bulan....”
Gadis itu membelalakan mata yang indah seperti bintang.
Seperti orang merasa aneh, entah aneh mendengar ucapannya
entah aneh mendengar tentang usianya yang sudah hampir
duapuluh. Tapi Sakri tak dapat memperhatikan hal itu lebih jauh,
rasa nyeri kembali membuat ia mengeluh.
“Sakit sekali kah kakimu?” Gadis itu tanpa ragu-ragu lalu
memegang kaki kanan sakri, memeriksanya. “Perlu dicuci lebih
dulu, baru dibalut. Di rumah aku masih sedia obat luka.” Tanpa
menanti jawaban, gadis itu lalu mengambil sebuah Kendi air yang
Merdeka Atau Mati 43
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
tadi dibawanya. Setiap pagi ia ambil air dari pancuran, membawa
kendi. Kembali ia memegang kaki sakri, di baliknya sehingga
luka pada betis menghadap ke atas. Lalu dicucinya luka itu
setelah ujung pipa celana itu digulung ke atas. Mudah saja
melakukan hal ini karena ujung pipa celana itu sudah rontang
ranting. Kemudian dengan amat cekatan ia mencuci luka.
Sakri sampai lupa akan rasa nyeri hebat di saat air menyiram
luka di kakinya karena ia memandang semua ini dengan mata
terbelalak lebar. Kagum dan heran ia melihat betapa jari-jari
tangan yang kecil mungil, kemerahan kulitnya dan terpelihara
kukunya itu dengan cekatan dan tanpa ragu-ragu, apalagi jijik,
membersihkan luka di betis yang besar. Betis itu terbuka,
kelihatan dagingnya kemerahan dan selaput bergajih di bawah
kulit yang terrobek. Lalu dengan lebih kagum lagi ia melihat
betapa gadis itu mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra putih
dari balik kebayanya, lalu kakinya dibalut dengan sapu tangan
itu, atau lebih tepat hanya dibutuhkan karena sapu tangan itu
terlalu kecil untuk dipakai membalut.
“Kau, punya Sapu tangan yang lebih besar?”
Pertanyaan ini menarik Sakri kembali ke dunia ini, dari
lamunannya yang membuat ia tadi merasa dalam dunia yang aneh
dan indah. Ia mengangguk dan dirogoh sapu tangan besar dari
sakunya.
“Tapi.... tapi kotor........” katanya malu, karena kalau
dibandingkan dengan sapu tangan si darah yang putih bersih itu,
memang sapu tangannya yang hijau itu kotor.
“Tidak apa, keadaan darurat. Hanya untuk pembalut di luar,”
jawab gadis itu, lalu dipergunakannya sapu tangan hijau ini untuk
membalut kaki yang luka.
Merdeka Atau Mati 44
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Baru sekarang Sakri dapat merasa kenyerian yang hebat. Tak
tertahankan lagi ia mengeryitkan kening sambil menggigit bibir
agar jangan sampai mengeluh. Ia tidak mau dikasihani orang.
Selama ini Sakri paling pantang dikasihani orang. Pernah ia
marah-marah ketika seorang teman seperjuangan menyatakan
kasihan kepadanya setelah mendengar dia bercerita tentang nasib
ayahnya. Maka sekarang, biarpun sakit hebat, ia tidak mau
mengeluh, mancing rasa iba hati gadis ini.
Akan tetapi mata yang bening itu awas sekali. Dara itu
memijat-mijat sekitar balutan sambil berkata lirih. “Sakit
sekalikah?”
“Tidak Seberapa..........!”
“Kasihan sekali……” ucapan itu ditahan dan kini gadis itu
memandangnya dengan ragu-ragu.
“Ya…..?” Sakri mendesak, penasaran karena takut disebut
lagi muda belia yang malang.
“…… pahlawan pejuang yang malang…” gadis itu
tersenyum, agaknya senang mendapatkan sebutan baru itu. Merah
wajah Sakri, dia sendiri heran mengapa mukanya panas dan
jantunganya berdebar-debar seperti orang kegirangan.
“Aku bukan pahlawan, hanya anggauta regu gerilya biasa
saja. Pula tidak berapa sakitnya, tak perlu berkasihan.” Ia merasa
kata-katanya terlalu kasar dan untuk menebus kekasarannya ini
dengan gagap-gugup ia menyambung,”…… tidak sakit lagi
setelah tersentuh tanganmu yang halus…..” Ucapan ini adalah
suara hatinya yang keluar begitu saja. Setelah mendengar
ucapannya sendiri ini, ingin Sakri menggampar mulutnya.
Mukanya makin merah!
Merdeka Atau Mati 45
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Tangan gadis yang menyentuh dan memijati kaki sekitar
balutan itu tiba-tiba menggigil, lalu ditariknya tangan itu. Muka
yang halus segar itupun menjadi merah sekali.
“Kau……. kenapa terluka dan bisa sampai di sini?” Gadis itu
mengerling ke arah pistol yang selama itu tak pernah terlepas dari
tangan kanan Sakri.
“Aku tertambak Belanda, dikejar dari pos dekat Krian dan
…..”
“Ahhh……!” Wajah yang tadi kemerahan itu menjadi pucat.
Matanya terbelalak dan cepat-cepat ia bangun berdiri. “Lekas!
Kau harus lekas-lekas bersembunyi!” Ia melihat ke atas. Memang
udara telah menjadi makin terang. Sebentar lagi akan menjadi
pagi.
“Ke mana? Ke mana aku dapat bersembunyi? Kaki ini…..
buset! Tak dapat dipakai berjalan, apa lagi berlari.” Sakri
mempelajari atau menemukan makian “buset” ini dari Kadir,
teman pejuang asal Jakarta aseli.
Dara itu berdiri bingung, memandang ke kanan kiri seperti
hendak mencarikan tempat sembunyi untuk Sakri. Akan tetapi di
kanan kiri hanya sawah, mana ada tempat sembunyi? “Aduh…..
bagaimana….?” Dia mengepal-ngepal tangan, gelisah bukan
main. “Kalau Belanda patroli ke sini dan kau terdapat di sini……
ah….. kau akan ditembaknya. Orang-orang sekampung, pamanku
juga…. semua akan ditangkapi!”
Entah mengapa, ucapan ini menusuk perasaan Sakri,
membuatnya merasa berduka! Ia mencoba bangun, dipaksanya
dan berhasil! Lalu dengan tenaga kaki kiri dibantu tekanan kedua
tangan, ia berdiri di atas kaki kiri.
Merdeka Atau Mati 46
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
“Terima kasih banyak atas kebaikanmu. Aku pergi….” Dan
ia mulai meloncat-loncat lagi, pergi ke lain jurusan,
meninggalkan kampung di depan.
Gadis itu mengejar dan menghadang di depannya. “Ke mana
kau?” Mata yang indah itu melebar. Bukan main.
“Aku akan pergi, jauh dari kampung. Agar kalau toh tertangkap,
jauh dari sini, tidak membahayakan orang lain, terutama kau dan
pamanmu…..” Sakri meloncat lagi. Akan tetapi gadis itu
menangkap lengannya dan menahannya.
“Bodoh! Aku tidak ingin melihat kau tertangkap Belanda!
Juga tidak ingin melihat penduduk ditangkapi. Hayo ikut aku!” Ia
menarik lengan Sakri yang terpaksa mengikutinya sambil
berloncatan. Akan tetapi, gadis itu teringat akan kendinya yang
tertinggal di tempat tadi, berhenti sebentar, lari kembali
mengambil kendi lalu menggandeng tangan Sakri lagi. “Hayo
cepat!”
“Ke mana….?” Sakri meloncat-loncat, berdebar hatinya
merasai kehalusan telapak tangan gadis itu. Akan tetapi tiba-tiba
ia mengeluh, kepalanya pening sekali, matanya berkunang.
“Lekas…. cepat….!” Gadis itu mendesaknya. Mereka sudah
memasuki kampug dan gadis itu mengajaknya ke sebuah rumah
yang boleh dibilang paling besar dan baik di kampung itu,
beratap genteng. Akan tetapi Sakri tak kuat lagi, kaki kirinya
lemas dan ia terguling roboh, merintih-rintih.
Beberapa orang penduduk yang sudah bangun terheran-heran
melihat ke arah gadis itu dan Sakri. Seorang laki-laki setengah
tua keluar dari pintu rumah. Gadis itu membungkuk dan
menjamah kening Sakri.
“Panas sekali….., dia demam karena lukanya!” Hanya itu
yang terdengar oleh Sakri karena segera matanya berkunang dan
Merdeka Atau Mati 47
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
telinganya berdengung-dengung.
Dengan mata terbelalak Sakri membentak-bentak. “Setan keji….!
Jepang jahanam……. awas kau….!” Lalu ia terisak. Tiba-tiba ia
melihat wajah beberapa orang laki-laki yang berada di sekeliling
amben (dipan bambu), mengepal tinju dan mencoba bangun.
“Anjing-anjing penjajah! Keroyoklah aku, bunuhlah….. ha-ha-
ha…. MERDEKA ATAU MATI!” Orang itu nampak takut dan
khawatir.
Tiba-tiba sebuah tangan yang halus menekan pundak Sakri,
dan mendorongnya perlahan untuk rebah kembali, dan sehelai
saputangan yang basah ditekan di atas jidatnya. Sakri
memandang dan sepasang mata yang jernih, yang indah lembut
berada di depannya. Ia mengeluh, tangannya yang kanan bergerak
memegang tangan yang halus itu, dipegang erat-erat. “Kau
baik……. bidadari….. kau baik sekali…..” Dan Sakri menjadi
tenang, biarpun otaknya masih pusing, pandang matanya masih
berkunang-kunang.
“Tenanglah, pahlawan perkasa, tidurlah…..”Suara yang
lembut ini enak sekali terdengarnya. Sakri meramkan matanya,
bibirnya yang menyeringai menahan sakit mencoba tersenyum.
“Aku…. aku pejuang biasa….. aku…. sudah duapuluh
umurku…..”
Pada saat itu, seorang laki-laki penduduk kampung itu
memasuki rumah dengan muka pucat dan napas terengah-engah.
Agaknya tadi ia berlari-lari. “Celaka……, mas Gito….. serdadu-
serdadu Belanda menuju ke sini….!”
Semua orang yang berada di situ, kecuali Sakri, menjadi
pucat mendengar berita ini. Mereka bingung. Akan tetapi dengan
tenang gadis itu yang juga pucat mukanya berkata, “Saudara-
saudara semua harap pulang ke rumah masing-masing. Lekas!”
Merdeka Atau Mati 48
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
Pergilah orang-orang itu keluar dari rumah untuk berada di
rumah masing-masing dengan hati berdebar-debar menanti
datangnya segala kemungkinan. “Paman, satu-satunya tempat
sembunyi adalah di sana.” Gadis itu menundingkan telunjuknya
ke atas. Bibi, tolong pinjamkan tangga di sebelah.”
Paman dan bibinya kebingungan, akan tetapi otomatis
bibinya, isteri mas Gito, berlari ke belakang untuk meminjam
sebuah tangga bambu dari tetangganya.
“Akan tetapi, dia sedang demam dan mengigau!” kata mas
Gito.
“Biar aku menjaganya, aku dapat membikin dia tenang…..
mudah-mudahan dia tidak mengeluarkan suara dan selanjutnya
kita serahkan kepada Tuhan.”
Sebuah tangga diseret masuk, mas Gito lalu memasang
tangga itu pada dinding di bawah langit-langit yang dapat
didorong naik. Dengan bujukan-bujukan halus gadis itu mengajak
Sakri turun dari amben. “Belanda datang,” bisiknya di dekat
telinga Sakri. “Kita harus bersembunyi di atas , di balik langit-
langit, jangan berisik jangan mengeluarkan suara.”
Mendengar bisikan ini, cepat Sakri meraba pistolnya, akan
tetapi tangan gadis itu menahannya. “Tiada guna, mereka banyak.
Kalau melawan akan kalah, dan kita mati semua….” Lalu
bujuknya merayu. “Kau pejuang gagah perkasa, kau cerdik, mari
sembunyi dengan aku…” Dengan amat susah payah, dibantu
pamannya, gadis itu membantu Sakri menaiki tangga. Gito
menarik dari atas, gadis itu mendorong dari bawah. Akhirnya
dapat juga Sakri dibawa ke atas, lalu dibawa ke bagian yang kuat,
yaitu di atas balok melintang, tertutup oleh langit-langit daripada
anyaman bambu. Sakri berbaring telentang di atas balok, gadis itu
di sisinya, mengusap-usap jidatnya dan berbisik, “Diam…..
jangan bergerak…. jangan mengeluarkan suara….” Sementara
Merdeka Atau Mati 49
Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com
itu, mas Gito sudah turun kembali setelah menutup langit-langit
yang tadi dibuka. Cepat ia mengembalikan tangga ke belakang
dan menyapu lantai untuk menghapus semua jejak.
Memang benar berita tadi. Sepasukan serdadu KNIL, yang
dipimpin oleh sersan KNIL, terdiri dari tigapuluh orang,
melakukan patroli dan “pembersihan” ke dusun-dusun di sekitar
pos. kedatangan mereka mudah dikenal dari suara “dar-der-dor”,
bunyi senapan yang mereka bunyikan sepanjang jalan. Entah apa
maksudnya dengan perbuatan ini. mungkin untuk membikin
panik penduduk, mungkin juga untuk menakut-nakuti para
pejuang gerilya yang berada dekat situ yang pada hakekatnya
hanyalah membuktikan bahwa merelah sebenarnya yang merasa
ngeri dan takut akan sergapan tiba-tiba dari para pejuang. Karena
takut digerilya, mereka mendahului, mengancam dengan suara
dar-der-dor supaya para pejuang itu lari saja, jangan menghadang
mereka!
Akhirnya mereka memasuki kampung di mana Sakri
bersembunyi. Setiap rumah dimasuki, tak lupa menghardik-
hardik dan mengancam-ancam setiap laki-laki tua dalam rumah
(pemuda-pemudanya tak ada yang tinggal di rumah), tidak lupa
pula untuk menggoda perempuan-perempuan muda yang manis
dengan omongan kotor dan tangan jail. Rumah mas Gito akhirnya
dimasuki juga, seran pemimpin pasukan KNIL ini agaknya
mengenal gito, buktinya begitu memasuki rumah ia segera
berseru,
“Hei, pak Gito! Apa kau melihat pemuda gerilya malam tadi
lewat di sini?”
Mas Gito bersama istri sedang duduk menghadapi pohung
(singkong) rebus dan air teh. Mereka memperlihatkan sikap
manis dan mas Gito segera menyambut kedatangan sersan itu
yang diikut oleh tiga orang anak buahnya. Serdadu yang lain
Merdeka Atau Mati 50