The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Slamet Kadarisman, 2022-04-02 06:53:29

Merdeka atau Mati

Merdeka atau Mati

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

berpisah-pisah di dalam kampung itu, melakukan penggeladahan
dengan berkelompok empat-lima orang sehingga jauh dari
pemimpin mereka ini dengan leluasa boleh berbuat sesuka hati.

“Ah, tuan seran. Selamat pagi…..!” seru pak Gito, lalu
menoleh kepada isterinya. “Lekas keluarkan teh manis!”

Sersan itu tertawa sambil menggoyang tangan. “Tak usah,
tak usah repot-repot! Aku mencari beberapa orang gerilya. Apa
ada pemuda di kampung ini?”

“Tidak ada, tuan sersan. Pemuda-pemuda kampung sini
sudah lari semua meninggalkan kampung dan kami tak pernah
melihat ada pemuda, apalagi gerilya,” jawab mas Gito.

“Tidak apalah kalau tidak melihat. Eh, di mana nona
Murtini?” tiba-tiba sersan KNIL itu bertanya.

Mas Gito dan isterinya melengak. Melihat keheran ini si
sersan tertawa menyeringai. “Kemarin dulu aku melihat dia dan
kutanyakan pada penduduk di sini. Katanya bernama Murtini
anak pak Gito……, heh-heh-heh! Mana dia, aku ingin
berkenalan.”

“Dia….. dia sedang pergi, tuan. Pergi ke Solo ke rumah
neneknya….”

Sersan itu mengerutkan kening, nyata benar kekecewaannya
yang membuatnya mendongkol. Sekaligus raut muka yang
tadinya ramah berubah kecut. “Menggabung pada gerilya, ya?
Mau masuk Laswi?”

“Tidak, tuan sersan. Dia itu …… juga bukan anakku, hanya
keponakanku. Karena neneknya sudah tua, sakit-sakit saja tidak
ada yang mengurus, dia pergi ke sana untuk merawatnya.”

Sersan itu mengangguk-angguk, “Hemmm, kabarnya dia
pernah bersekolah sebagai juru rawat?”

Merdeka Atau Mati 51

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Betul, tuan sersan. Di Surabaya dulu…….” kemudian
disambungnya dengan ramah untuk mengambil hati. “Kalau tuan
hendak berkenalan, boleh saya beri alamatnya. Di Solo di
jalan…… eh, jalan apa kampungkah itu? Kampung kalau tak
salah, di Keputon, masuk gang…… eh sayang, gang dan nomor
rumahnya saya lupa lagi.”

“Tak usah….., dia akan kembali lagi,kan?” Biar kalau dia
berkunjung ke sini saja jangan lupa beritahu padaku, ya?”
“Baik, tuan sersan.” Hati Mas Gito lega bukan main. Akan tetapi
kembali jantungnya berdebar tidak karuan ketika sersan itu tidak
lekas keluar, malah matanya liar menyelidiki ke sana-sini,
kemudian berdongak memandang ke atas!

Apa lagi mas Gito dan isterinya yang melihat semua gerak-
gerik sersan KNIL dan anak buahnya ini, sedangkan gadis itu
sendiri yang tidak melihat semua kejadian ini, hanya mendengar
suaranya saja dari balik langit-langit rumah, merasa takut dan
gelisah bukan main. Tubuhnya panas dingin dan menggigil.
Alangkah takut dan kuatirnya ketika ia melihat Sakri agaknya
memperhatikan suara-suara di bawah. Ia melihat Sakri menegang
urat-uratnya dan pemuda itu hendak bangkit. Ditekannya pundak
Sakri, diusap-usapnya jidat pemuda itu, ditatapnya matanya
dengan penuh permohonan supaya pemuda itu tidak bergerak.
bibirnya yang agak pucat itu dimoncongkan sebagai isyarat
supaya pemuda itu jangan mengeluarkan suara, sambil lirih sekali
mendesis “Sstt….”

Pada saat itu, untung sekali Sakri sudah sadar kembali dari
keadaan mengigau. Tubuhnya masih panas, akan tetapi
pikirannya terang. Pemuda pejuang ini dapat menduga bahwa di
bawah sedang diadakan pemeriksaan oleh serdadu-serdadu
KNIL. Hatinya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena
gatal-gatal tangannya untuk dapat menyergap mereka itu.

Merdeka Atau Mati 52

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Alangkah akan senang dan enaknya untuk menyerang mereka
dengan pistol, lebih-lebih lagi dengan granat! Posisinya bagus
sekali. Sayang ia tidak mempunyai granat, dan pistolnya tinggal
tiga butir pelurunya. Karena ketegangan hatinya, ia hendak
bangun duduk, akan tetapi dengan ketakutan gadis yang mengira
dia “kumat” demamnya itu lalu mencegahnya! Ketika Sakri
berusaha untuk terus duduk, gadis itu bahkan lalu memeluknya
dan tangan kiri gadis itu didekapkan di depan mulutnya!

Di bawah, mas Gito masih gelisah. Sersan KNIL itu
memandang ke atas, seakan-akan sudah tahu bahwa di atas langit-
langit bersembunyi seorang gerilyawan, dan gadis yang dicari-
carinya!

“Rumahmu bagus, Pak Gito! Beratap genteng, ada langit-
langitnya, bangunannya dari kayu jati tua pula. Hemm, bagus…”

“Ah, hanya rumah kampungan, tuan sersan….” isteri mas
Gito menjawab untuk membantu suaminya yang dilihatnya sudah
pucat ketakutan itu.

“Sayang bukan tembok,” kata pula sersan itu dengan
suaranya yang parau, “kalau terjadi kebakaran, kan sebentar saja
habis!” Sersan itu mengeluarkan gerakan dari saku bajunya dan
mencetuskan membuat api. Mas Gito dan isterinya makin
berdebar. Lebih-lebih gadis itu yang kini sudah setengah
terbaring di atas tubuh Sakri! Tempat itu amat sempit, yaitu
hanya sebuah balok melintang dan usuk-usuk penahan langit-
langit, maka tiada tempat berbaring lain kecuali di atas tubuh
Sakri. Saking takutnya gadis itu tidak ingat lagi betapa kini ia
sudah memeluk Sakri, malah rambutnya menutupi kepala dan
muka pemuda itu dan tanpa disengaja, pipinyalah yang sekarang
menutup mulut Sakri. Tubuhnya menggigil. Akan dibakarkah
rumah ini?

Merdeka Atau Mati 53

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Sebetulnya sersan itu hanya hendak menyalakan sebatang
sigaret. Setelah dua kali ia menghembuskan keluar asap rokok
yang bergulung-gulung, ia berkata,

“Kau tentu punya ayam, pak Gito?”

“Ayam??”

“Dan telur-telur…..”

Ibu Gito yang telah maklum akan maksud sersan itu, cepat
menjawab,

“Ada….. ada….. biar sebentar saya tangkap dan kumpulkan
telurnya untuk bekal….”

Sersan itu tertawa menyeringai. “Di pos sukar sekali
mendapat telor, apa lagi daging ayam gemuk! Tiga atau empat
ekor sudah cukup, ibu. Sepuluh atau duapuluh butir telurnya!”

Akhirnya “pembersihan” itu selesai. Sersan membawa anak
buahnya keluar dari kampung itu, membawa hasil “pembersihan”
berupa ayam, telur, barang-barang kebutuhan makan yang lain,
dan secara tersembunyi juga barang-barang berharga di dalam
kantong-kantong militer para serdadu itu.

Setelah yakin benar bahwa serdadu-serdadu itu telah pergi,
tak tertahan lagi saking girangnya terlepas dari pada rasa takut
dan gelisah yang tadi mencekiknya, gadis itu menjatuhkan
mukanya di atas dada Sakri dan menangis!

Sakri merasa seolah-olah dalam mimpi. Tadi ia tidak berani
berkutik, ketika pipi gadis menutup sebagian mukanya, ketika
rambut yang halus dan sedap itu mengusap-usap muka dan
lehernya. Sekarang ia tak dapat menahan tangannya untuk tidak
merangkul leher gadis itu, membelai-belai rambutnya dan berkata
perlahan, menghibur,

Merdeka Atau Mati 54

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Jangan menangis……”

“Akan tetapi gadis itu malah makin terisak-isak, lalu
mengangkat mukanya dan memandang wajah Sakri sambil
tersenyum! Aneh tapi nyata. Matanya yang bening bagus
mencucurkan air mata, dadanya terisak, tapi mulutnya tersenyum
dan matanya berseri-seri! “….. kau tidak bergerak…. kau tidak
bersuara…. Padahal kau kesakitan dan marah kepada mereka….
kau gagah…..”
Perasaan aneh menyelubungi hati Sakri. Ia menangkap tangan
gadis itu, ditatapnya wajah jelita itu penuh perasaan dan bibirnya
membisikkan suara hatinya. “Aku cinta padamu……”

Sakri kaget sendiri mendengar bisikannya itu. Mukanya
menjadi merah. Gadis itupun menjadi merah mukanya, bibirnya
setengah terbuka memperlihatkan giginya yang seperti mutiara
terjajar, napasnya terengah-engah, lalu ia menjauhkan diri
sedapatnya. Akhirnya ia dapat menekan perasaan hatinya yang
tidak karuan itu, lalu berkata sambil tersenyum malu, “Alangkah
ganjil kedengarannya, alangkah lucunya.”

“Apanya yang lucu……?” Sakri menuntut penasaran dan
malu.

“Berkenalanpun kita belum, mengenal nama masing-masing
belum….”
“Aku sudah tahu namamu. Indah benar. Murtini….., bukan?”

Gadis itu mengangguk, lalu menunduk. “Dan…. kau….?”

“Sakri namaku, seorang pejuang biasa, sudah…..”

“Duapuluh tahun umurnya…..” Murtini menyambung dan
keduanya tertawa.

––––––––

Merdeka Atau Mati 55

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Karena kampung itu terlalu dekat dengan pos Belanda, maka atas
ikhiar Murtini dan pamannya, Sakri diangkut ke pangkalan induk
pasukan gerilya. Sungguhpun baru berkenalan selama dua hari
satu malam berat sekali perpisahaan ini. Selagi mas Gito dan
isterinya bersama beberapa orang tetangganya mempersiapkan
alat pengangkut, Murtini memperbarui pembalut kaki Sakri.
Beberapa kali Sakri memegang tangan Murtini dan
menggenggamnya erat-erat, dibiarkan saja oleh Murtini. Jari-jari
tangan yang saling cengkeram itu menyatukan denyut darah
mereka, menyatakan perasaan kasih sayang yang mesra hangat.
Pandang mata mereka mewakili suara hati.

“Dik Mur…..”

“Hmmmm…..??”
“Kalau aku pergi…… kita berpisah….”

“…..ya….?”
“Bilakah kita dapat bersua kembali…..?”

“Entahlah.”

“Bisakah kita bersua kembali?” katanya ini mengandung
kekuatiran besar.

“…… tentu bisa, mas. Apabila Tuhan menghendaki…….”

“Apabila Tuhan menghendaki dan….. apabila kau suka
untuk bertemu dengan aku. Dik Mur, sukakah kau bersua kembali
denganku kelak?”

Gadis itu mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya
membalut kaki yang terluka. Luka itu membengkak dan ia cemas
sekali. Infeksi!

“Kau harus cepat-cepat dirawat oleh dokter yang mempunyai
persediaan obat anti infeksi, kau harus disuntik…..”

Merdeka Atau Mati 56

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Akan tetapi Sakri tidak memperhatikan ucapan ini. “Dik
Mur, kau belum menjawab pertanyaanku di bawah atap
kemarin….”

“Apa……?” Murtini pura-pura lupa.

“Ini kesempatan terakhir. Dik Mur, belum pernah aku
mempunyai perasaan seperti ini terhadap seorang gadis. Aku
cinta padamu….”

Murtini menundukkan mukanya dan dua titik air mata
menuruni pipinya.

“Bagaimana mungkin dalam dua hari memastikan tentang
cinta? Mas Sakri, aku kagum melihatmu, aku bangga berdekatan
denganmu. Kau seorang pemuda perkasa, seorang patriot
bangsa…., aku suka padamu, mas Sakri. Demi Tuhan, aku suka
sekali kepadamu….. tentang cinta…. aku belum berani
menyatakan dengan pasti. Akan tetapi aku suka padamu melebihi
semua orang lain. Melebihi ayah….!”
Sakri kaget. “Ayahmu di mana, dik Murtini?”
“Ayah…. di Semarang….”

“Ikut Belanda…..?”

“…… tidak…..! Tidak……..! Ayah juga seorang
pejunag….”

“Aahhh……” lega hati Sakri. “Kaumaksudkan beliau di
dalam hutan-hutan bersama dengan para pejuang?”

Murtini mengangguk pasti. “Dan kau sendiri, mas? Di mana
orang tuamu?”

Sakri menarik napas panjang. “Ayahku meninggal mati
dalam siksaan Kenpetai, ibu juga meninggal dunia karena siksa
dan duka….”

Merdeka Atau Mati 57

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Aduh kasihan…..!” Otomatis tangan gadis itu membelai
rambut di atas jidat Sakri. Pemuda ini menangkap tangan itu dan
menciuminya penuh perasaan.

“Dik Murtini….., aku cinta padamu…., aku cinta
padamu….”

Murtini menarik kembali tangannya, mukanya merah dan
dadanya terisak.

“Sudah siap sekarang, mas. Aku tidak dapat memberi apa-
apa sebagai kenang-kenangan, hanya ini……” Dicabutnya
sehelai saputangan jambon (merah muda) dari balik bajunya dan
diberikannya kepada Sakri, Sakri sudah bangun duduk,
diterimanya saputangan sutera yang harum itu.

“Kau tidak takut, dik Mur? Kata orang, saputangan adalah
lambang pemutus perhubungan?”

“Aku bukan seorang tahyul, mas. Punyaku hanya itu, habis
memberi apa untuk tanda mata?”

Sakri bingung, akhirnya ia teringat akan saputangan hijaunya
yang amat kasar. Dengan hati was-was dan malu, ia keluarkan
juga saputangan kasar itu. Dan ini pemberianku padamu. Tidak
punya benda lain.........”

Mereka bertukar sapu tangan, bertukar pandang mesra,
adakah ini pertanda bertukarnya dua hati? Entahlah.
Empat orang memanggul Sakri yang berpakaian sebagai seorang
petani yang menderita sakit. Kalau ada pertanyaan di jalan,
dijawab bahwa mereka mengantar orang sakit pulang, ke
kampung nya. Padahal Sakri dibawa ke dalam hutan, ke
pangkalan induk pasukan. Di mana ia diterima dengan girang
oleh kawan-kawannya yang menyangka ia sudah mati beberapa
hari yang lalu. Segera ia mendapat perawatan dan tak sampai
sebulan sembuhlah Sakri. Ia sudah mulai aktif kembali dalam

Merdeka Atau Mati 58

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

perjuangan. Hanya ada perubahan besar pada dirinya yang
membuat para kawannya seringkali terheran-heran. Dahulu Sakri
terkenal sebagai seorang gerilyawan yang amat berani, malah
kadang-kadang mendapat teguran keras dari komandan karena
terlalu berani sehingga boleh dibilang nekat, tak menghiraukan
keselamatan diri. Akan tetapi sekarang, setelah sembuh dari
lukanya, ia menjadi seorang yang selalu berhati-hati. Dia masih
pemberani seperti dulu, akan tetapi tidak nekat, memakai
perhitungan. Teman-temannya mengira buat ini adalah akibat
penderitaan lukanya, akan tetapi para pemimpinnya melihat
kematangan jiwa dari diri pemuda ini, kematangan jiwa seorang
pejuang yang bersiasat. Tenaga yang demikian ini amat
diperlukan dan tak lama kemudian Sakri meningkat pangkatnya,
bahkan dua tahun kemudian ia telah menjadi seorang Letnan.

Perjuangan melawan Belanda dilakukan dalam dua cara, cara
politis cara bergerilya. Namun berkali berkali- belanda secara
licik melanggar segala persetujuan. Satu pihak mereka bermuka
manis mengajak berunding, di lain pihak serdadu-serdadu nya
melakukan penyerbuan penyerbuan, malah akhir-akhir ini
pencurian mereka berbentuk apa yang mereka sebut" Aksi
Polisionil ke Dua" menyerang dengan tiba-tiba mengerahkan
semua angkatannya. Tentara kita yang kalah kuat perlengkapan
dan persenjataannya tak dapat menghadapi pertempuran terbuka,
maka serdadu-serdadu Belanda berhasil menyerbu sampai ke
Jogja dan menangkap menangkapi para pemimpin termasuk
Presiden Sukarno dan Wakil Presiden / Perdana Menteri Hatta.
Para pemimpin ini diangkut ke Sumatera Utara dan ke Bangka.

Biarpun demikian, tentara kita masih terus melakukan
perlawanan hebat. Perang gerilya ditingkatkan dan dimana-mana
Belanda mengalami hantaman dan serbuan dari para gerilya. Di
mana-mana belanda tidak merasa aman, di dalam markas markas
sendiri di mana dipekerjakan tenaga-tenaga Indonesia, mereka

Merdeka Atau Mati 59

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

selalu merasa curiga. Memang, para pejuang bukan hanya
merupakan sekelompok pemuda, melainkan api semangat
perjuangan sudah membakar seluruh hati dan jiwa rakyat.
Seorang pelayan wanita yang dulu disebut" babu" sekalipun pada
waktu itu dapat melakukan pekerjaan besar, dapat membebaskan
tawanan tawanan dari markas, menyeludupkan senjata, dan lain-
lain. Bagi Belanda di waktu itu, tangan maut menjangkau dari
segala sudut dan ini membuat mereka gelisah sekali.

––––––––

Kota Solo menjadi pusat perang gerilya. Siasat yang
dijalankan oleh tentara T N I yang pada waktu itu di bawah
pimpinan Let. Kol. Slamet Riyadi dibantu oleh kesatuan T P
(Tentara Pelajar) yang membentuk markas gerilya. Tiada
hentinya Belanda mendapat serangan mendadak. Iringan-iringan
kendaraan Belanda ke pos-pos pertahanan mereka di Baturetno,
Jatisrono, Sidoharjo dan lain-lain selalu mendapat gangguan di
jalan.

Pada waktu itu, Sakri juga sudah berada di daerah Surakarta,
di daerah timur Solo daerah Kemiri, memimpin pasukannya
bergerilya, kadang-kadang di waktu malam dan menggerilya pos-
pos Belanda di Solo, sewaktu-waktu mencegat iringan-iringan
truck musuh. Pada suatu hari, baru sepekan ia berada di tempat
baru ini, Belanda membuat " pembersihan" membabi buta di
dusun-dusun. Banyak rakyat ditembaki, rumah dibakar. Memang
demikianlah selalu perbuatan pihak Belanda yang terkutuk.
Mereka dibikin bingung oleh para gerilyawan, disergap di waktu
malam, tak dapat membalas karena tidak tahu kemana harus
mencari para gerilyawan. Maka segera mereka melakukan balas
dendam kepada dusun-dusun, kepada rakyat yang tak berdosa!

Merdeka Atau Mati 60

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Setelah serdadu-serdadu yang keji itu pergi, dusun yang
menjadi korbannya mengalami penderitaan hebat. Pada waktu
Sakri bersama beberapa orang pembantunya meninjau dusun ini
dan alangkah bahagia hatinya di tengah-tengah kedukaan dan
kemarahan menyaksikan rakyatnya, bangsanya, di rusak rumah
tangga dan badannya oleh fihak musuh ketika ia melihat seorang
gadis dengan cekatan dan trampilnya memimpin para wanita
dusun itu untuk menolong orang-orang yang menjadi korban.
Dengan sigap gadis ini menolong para korban, pertolongan
pertama yang biasa dilakukan oleh tangan ahli. Gadis yang
berpakaian sederhana, lengan pendek yang bermata bintang.

“Murtini.....!"

Gadis itu tersentak kaget menengok dan.....

"Mas Sakri......!”

Keduanya berpandangan, Sakri mendapat kenyataan betapa
Murtini masih tidak berubah, masih seperti dulu, hanya pandang
mata yang dulu jernih penuh gairah hidup, kini membayangkan
kesuraman. Di lain pihak Murtini melihat Sakri telah menjadi
seorang yang betul-betul dewasa, lenyap sifat kekanak-
kanakannya, pandang mata tajam menyelidiki, tubuh lebih tegas
dan gerak-geriknya penuh Wibawa.

“Dik mur,......... bagaimana kau bisa di sini?” Sakri
menghampiri dan menahan keinginan hatinya hendak memeluk
atau setidaknya memegang tangan gadis itu karena pada saat itu
banyak orang melihat ke arah mereka.

“Mas, perjuangan membawaku ke tempat ini, seperti juga
kau. Tadinya aku di Solo, di rumah nenek. Belanda masuk, aku
mengungsi ke sini. Banyak ceritanya, mas, tapi........" Gadis itu
menengok sekeliling, Sakri maklum. Memang bukan waktunya
bercerita.

Merdeka Atau Mati 61

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Lanjutkan pekerjaanmu, dik. Tugas harus diselesaikan lebih
dulu. Mari kubantu." Sakri lalu memberi perintah kepada
pembantu-pembantunya untuk ikut mendorong para korban,
malah seorang ia suruh mengambil obat-obat luka untuk
pertolongan pertama dari perlengkapan.

“Dik Mur….. bagaimana kau bisa di sini?”

Merdeka Atau Mati 62

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Setelah selesai pekerjaan mereka, barulah dua orang ini dapat
bertemu berdua saja. Murtini bercerita bahwa dari daerah Krian
dulu, hanya beberapa bulan setelah Sakri pergi, ia pindah ke Solo,
karena takut akan desakan dan maksud jahat ser san KNIL. Di
Solo ini tinggallah neneknya, seorang janda tua, ibu dari ibunya.

"Ibuku sudah tiada, mas. Ayah...... Ayah telah menikah lagi,
karena itu aku dulu ikut paman. Aku tidak mau ikut ibu tiri.
Pindahku ke Solo, selain hendak merawat nenek, juga hendak
mendekati ayah, mas. Kabarnya ayah berada di Semarang.....Ah,
betapa rinduku kepadanya, sudah bertahun-tahun tak jumpa......"
“Aku akan berusaha mencarinya, dik Mur. Kalau benar dia dulu
berjuang di frot Semarang, kiranya tidak sukar dicarinya. Semua
pasukan sudah ditarik mundur di daerah Surakarta. Siapa
namanya, dik Mur?"

"Namanya pak budiharjo."

"Pangkatnya?"

"Aku tidak tahu benar......, juga aku tidak tahu apakah......
Apakah dia berada di antara pasukan gerilya......"

Diam kedua fihak. Karena sekarang tidak ada orang yang
melihat mereka, Sakri memberanikan hati. Mereka duduk di
antara rumput di bawah sebatang pohon, berhadapan. Dengan hati
berdebar dijulurkannya tangan, dipegangnya tangan gadis itu.
Murtini kaget, tangannya gemetar sedikit, akan tetapi tidak
ditariknya jari-jari tangan mereka saling cengkeram seperti
dahulu.

"Dik Mur......"

"Ya........?" lirih suaranya hampir tak kedengaran.

Sakri Diam. Tak tahu harus berkata apa. Memang tadi dia
hanya ingin memegang tangan itu, tangan yang sudah seringkali

Merdeka Atau Mati 63

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

ia mimpikan, tangan dari orang yang selalu ia rindukan. Dan kini
tangan itu sudah terpegang olehnya, cukuplah. Seluruh rasa
rindunya ia tumpahkan melalui getaran tangan. Tak boleh lebih.
Tak boleh melampaui batas tata susila seperti yang dahulu sering
diajarkan oleh ibunya kepadanya.

"Kau mau bilang apa, mas?"

"Di mana nenekmu sekarang?"

Gadis itu menarik napas panjang. "Sudah meninggal, sehari
setelah Belanda memasuki Solo. Terlalu tua, terlalu lemah
jantungnya, kaget, karena itulah aku pindah ke sini."

"Kasihan,,,,,....!" Aneh, begitu mengeluarkan kata-kata ini
terbayang di mata Sakri peristiwa Dahulu ketika gadis itu pun
berkata demikian kepadanya. Kini datang gilirannya untuk
berkasihan kepada Murtini. Akan tetapi dahulu Murtini tidak
hanya berkata kasihan, melainkan merawat lukanya, lebih dari itu
lagi telah menyelamatkan nyawanya dari tangan Belanda, dengan
taruhan keselamatan diri sendiri, Sakri terharu. Dia sekarang
dapat menolong apakah?

"Dik, Mur," suaranya menggelegar karena ia masih terharu
kalau teringat bahwa gadis ini sudah mempertahankannya untuk
menolongnya dahulu, bahwa ia sebetulnya tidak hanya berhutang
budi, melainkan berhutang nyawa kepada Murtini. "Karena kau
sebatang kara, sebaiknya kau sekarang ikut dengan aku.....eh,
kumasudkan ikut dengan kami. Dengan aku disampingmu, tak
usah kau takuti siapa pun juga. Aku akan membela dan
melindungimu dengan jiwa ragaku."

Murtini menunduk, matanya basah. Ditariknya tangannya
dari genggaman Sakri. "Terima kasih, mas. Kau baik sekali. Akan
tetapi, kalian adalah pejuang-pejuang, gerilyawan-gerilyawan

Merdeka Atau Mati 64

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

yang sedang berjuang. “Aku..... aku hanya menjadi beban, hanya
akan merepotkan saja...."

Sakri tertawa, "Kau tidak tahu, Mur. Banyak wanita yang
ikut dengan perjuangan! Dan kau..... kau yang pandai merawat,
pandai menolong orang terluka, tenagamu amat berharga untuk
kami! Jika kau ikut dengan aku, pertama kau akan dapat menjadi
tenaga vital bagi pasukan kami, ke dua berhasil menemukan
ayahmu tak usah aku mencari-carimu, ketiga..... aku akan selalu
berada disampingmu dan hal ini..... hal ini merupakan
kebahagiaan bagiku."

Murtini berpikir sejenak, tersenyum memandang wajah
pemuda itu.

"Penting betulkan hal ketiga itu, mas?"

"Penting bagiku, dik. Tentu saja kemerdekaan terpenting di
atas segala apa. Merdeka atau mati, ini berlaku bagiku, bagimu,
bagi seluruh rakyat. Akan tetapi kelak, kalau kita sudah betul-
betul merdeka, kalau Belanda sudah terusir dari tanah air.......,
kaulah yang terpenting bagiku!"

"Mas Sakri....... tidak........ tidak berubahkah hatimu selama
ini.....?"
"Berubah? Demi Tuhan! Siang malam, setiap detik kurindukan
kau, Mur! Sama sekali tidak berubah, kalau ada perubahan, itulah
perubahan bahwa cinta kasihku lebih mendalam......."

"Kalau begitu, aku mau ikut dalam pasukanmu, mas. Karena
aku pun tak mau ketinggalan, ingin menyumbangkan tenaga,
malah rela menyumbangkan jiwa raga demi kemerdekaan Nusa
Bangsa tercinta. Dan.... Karena aku pun tak mau kau tinggalkan
lagi......"

"Mur.....!" Kembali tangan Sakri memegang tangan gadis itu.
"Apakah ini, jawabmu yang kunanti-nanti dulu......."

Merdeka Atau Mati 65

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Murtini tersenyum mengangguk, lalu mereka berpandangan,
penuh kasih mesra, cinta suci yang bersemi dan berakar dalam
gejolaknya revolusi.

––––––––––––

Bagian 3 (Tamat)

Untuk menjaga serangan Belanda yang dibantu banyak mata-
matanya, pasukan-pasukan pejuang gerilya selalu di pencar-
pencar dan ditentukan tempat untuk berkumpul, yaitu tempat
pemimpin pasukan yang setiap waktu harus dihubungi oleh
kelompok-kelompok kecil yang terpencar itu untuk
menyampaikan laporan-laporan, dan menerima petunjuk-
petunjuk serta perintah-perintah. Siasat ini dilakukan dengan
amat sempurna sehingga tak mungkinlah bagi Belanda untuk di
mana adanya pusat atau induk pasukan. Seakan-akan para regu
gerilyawan itu bertindak dan bekerja sendiri-sendiri, padahal
semua itu dilakukan di bawah satu pimpinan tertentu.

Murtini tak pernah berpisah dari samping Sakri, selalu gadis
ini mengikuti gerakan kelompok pemuda ini yang terus-menerus
berpindah tempat. Hanya di waktu ada teman-teman yang terluka,
gadis ini meninggalkan Sakri untuk memberi bantuan dan
pertolongan, merawat mereka yang terluka dalam pertempuran.

Pada suatu senja, Sakri berdua Murtini sedang bercakap-
cakap dalam sebuah pondok kecil. Dengan sungguh-sungguh
Murtini mengeluarkan keluhannya tentang kekurangan kapas dan
pembalut. Sakri juga bersungguh-sungguh dalam percakapan ini,

Merdeka Atau Mati 66

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

menjanjikan akan mengusahakan di Solo, mengirim seorang
penyeludup untuk mendapatkan barang-barang yang amat penting
itu. Tiba-tiba seorang penjaga melaporkan ada tiga orang
gerilyawan dari grup X hendak menghadap membawa seorang
tawanan.

"Suruh mereka masuk!" kata Sakri.

Penjaga memberi hormat dan keluar. Tak lama kemudian,
tiga orang gerilyawan menggiringkan seorang laki-laki berusia
kurang lebih empatpuluh lima tahun memasuki Pondok itu. Laki-
laki ini tampan dan sikapnya seperti seorang bangsawan,
lagaknya angkuh. Begitu memasuki pondok dan melihat gadis
disamping Sakri, laki-laki itu berseru, "Murtini.....! Akhirnya ku
bertemu dengan kau di sini....!"

Gadis itu tersentak kaget, bangun berdiri dan memandang
dengan mata terbelalak. "Ayah.....!" Lalu ia lari menghampiri
laki-laki itu. Mereka saling tubruk dan berpelukan. Murtini
menangis terisak-isak dan ayahnya pun menjadi basah matanya
tanpa kuasa mengeluarkan kata-kata.

Untung bagi Sakri Bahwa saat itu keadaan sudah remang-
remang karena lampu belum dipasang, dan tiga orang gerilyawan
tadi sedang memandang kepada Murtini dan ayahnya. Kalau
tidak demikian halnya, tentu orang akan melihat sikapnya yang
aneh. Begitu melihat laki-laki itu, mendadak Sakri menjadi pucat
sekali mukanya, matanya terbelalak mulut ternganga dan ia
berdiri terpaku di atas bangkunya!

Sugeng! Tak salah lagi, dia itu adalah Sugeng, penghianat
yang dulu menghianati ayahnya di dalam tawanan Kenpetai
jepang! Sugeng, musuh besar ayahnya, pengecut dan
pengkhianat! Dan Sugeng ini ayah Murtini!

Merdeka Atau Mati 67

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Namun, Segera Sakri dapat menguasai hatinya. Tak percuma
Ia mendapat gemblengan gemblengan perjuangan dan
penderitaan selama ini. Ia lalu bangkit berdiri dan berkata, "Dik,
Murtini, inikah ayahmu bapak.... Budihardjo itu?"

Orang tua itu melepaskan pelukannya, lalu berpaling kepada
Sakri. Dua pasang mata bertemu pandang, Sakri tenang-tenang
saja dan orang tua itu penuh selidik. Perubahan telah terjadi atas
diri Sakri, maka tentu saja Sugeng budiharjo ini tidak
mengenalnya lagi sebagai bocah yang dulu di rangket di dalam
tawanan Kenpetai Jepang. Sugeng Budiharjo segera melangkah
maju dan mengulurkan tangan, sikapnya ramah sekali.
"Betul sekali, Let. Nama saya Budiharjo dan saya ayah Murtini.
Kedatangan saya hendak mencari anak saya ini, apa daya
saudara-saudara itu mencurigai saya." Ia tertawa sinis menoleh ke
arah tiga orang gerilyawan. “Syukur, Murtini berada di sini."
Murtini sudah dapat menguasai hati dan mengatasi keharuannya.
"Ayah, dia adalah Letnan Sakri Ayah, bagaimana kau bisa datang
ke sini?"

Sakri berkata segera, pura-pura tidak melihat uluran tangan
Budiharjo, sehingga tak usah menjabat tangan itu. "Dik Mur,
harap kau ajak ayah mau ke pondok sebelah agar dapat leluasa
kau bercakap-cakap dengan ayahmu. Nanti aku akan kesana."

Murtini maklum akan maksud baik Sakri yang hendak
memberi keleluasaan kepadanya untuk bicara berdua dengan
ayahnya. Maka ia lalu mengajak ayahnya pergi ke pondok
sebelah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, sebuah
pondok kecil dengan sebuah kamar. Setelah mereka pergi, Sakri
memberi perintah kepada tiga orang anak buahnya itu, "Dua
orang bersembunyi menjaga jangan sampai dia lari, seorang
tinggal di sini membuat laporan!"

Merdeka Atau Mati 68

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Dengan cepat dan tangkas, dua orang gerilyawan menyelinap
keluar lalu berjaga di tempat terlindung, memasang mata ke arah
pondok kecil di mana Murtini bercakap-cakap dengan ayahnya.
Seorang tinggal di situ.

“Bagaimana kau menangkap dia? Apa alasannya?"

"Pak, dia amat mencurigakan. Seorang diri datang kemari,
bertanya-tanya penduduk sana tentang diri mbak Mur." Semua
anggauta pasukan menyebut Murtini mbak Mur." Dia mengaku
ayahnya. Akan tetapi diantara penduduk ada yang pernah melihat
dia duduk dalam sebuah truk Belanda. Kami curiga, dia itu mata-
mata Belanda, pak."

Sakri mengerutkan keningnya. Hatinya berdebar. Seorang
yang telah menghianati gerakan rahasia menentang Jepang,
sangat boleh jadi sekarang berlaku serendah itu, menjadi mata-
mata Belanda. Akan tetapi dia ayah Murtini! Hatinya terasa perih
di samping nyala api dendam dan amarah nya. Apa yang harus
dibuatnya? Tentang Sugeng Budiharjo sebagai mata mata
Belanda ini memang sudah pernah ia mendengarnya. Ketika ia
melakukan penyelidikan untuk mencari di mana adanya ayah
Murtini, ia pernah mendengar nama Budihardjo disebut-sebut
para gerilyawan daerah Semarang sebagai seorang pembantu
Belanda.

"Ada seorang Budiharjo yang menjadi kaki tangan Belanda",
demikian laporan yang ia dapat beberapa hari yang lalu itu. "akan
tetapi entah dia itu Budiharjo yang bapak maksudkan ataukah
bukan."

Dan sekarang Budihardjo itu berada di sini, ternyata adalah
Sugeng, musuh besarnya, dan ternyata betul Ayah Murtini! Bisa
saja yang menetapkan bahwa Sugeng itu mata-mata Belanda dan
menembaknya mati, demi pembalasan dendamnya, tak perduli
dia itu mata-mata betul atau bukan! Akan tetapi Murtini!

Merdeka Atau Mati 69

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Bagaimana dengan Murtini? Bagaimana Mungkin ia
menghancurkan hati gadis yang dicintai sepenuh hatinya itu?

"Sudah! Kembalilah ke pasukan, serahkan hal ini kepadaku!"
akhirnya Sakri berkata. Gerilyawan itu memberi hormat, lalu
keluar mengajak dua kawannya pergi.

Sakri dengan langkah lesu menghampiri Pondok Murtini.
Sementara itu, tadi di dalam pondok ini pun terjadi percakapan
yang amat menarik. Setelah menuturkan keadaan masing-masing,
sugeng budiharjo lalu berkata lirih kepada anaknya,

"Murtini, hubunganmu dengan Letnan Sakri itu tentu baik,
bukan?"

Murtini mengerutkan kening, mukanya merah dan pandang
matanya penuh selidik kepada ayahnya. "Apa maksud ayah?
Sebagai teman seperjuangan, hubunganku baik dengan semua
anggauta gerilya."

Ayahnya mengangguk-angguk maklum. “Kau harus
menolongku, Murtini. Orang-orang yang membawaku ke sini,
para gerilya yang berada di Kemiri, menangkapku dan
menuduhku sebagai musuh. Kau harus menolongku supaya Letna
Sakri membebaskan aku dan kau harus ikut pula bersamaku. Di
sini kau berbahaya, sewaktu-waktu mereka tentu akan
dihancurkan tentara Belanda.”

Sudah sejak pernikahan ayahnya dengan ibu tirinya, Murtini
mendengar berita bahwa ayahnya ini bekerja pada Belanda!
Dahulu ketika Sakri bertanya tentang ayahnya, ia menjawab
bahwa ayahnya juga berjuang. Hal itu sebetulnya bohong belaka,
atau sebetulnya hanyalah keinginan hatinya belaka. Alangkah
besar keinginan hatinya melihat ayahnyapun seorang pejuang,
seorang patriot bangsa! Sekarang, mendengar ucapan ayahnya, ia

Merdeka Atau Mati 70

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

menjadi lebih yakin akan kenyataan yang menusuk perasaannya
itu.

“Ayah, mengapa ayah berkata begitu? Sudah menjadi
tempatku di sini, di sisi para pejuang. Bukankah akupun seorang
puteri Indonesia? Merdeka atau mati, ayah! Akhirnya kita pasti
menang!”

“Bodoh! Goblok kau…..!” Sugeng Budiharjo segera
merendahkan suaranya, hampir ia lupa dan berteriak-teriak.
“Mana bisa gerilya menang? Bambu runcing dan beberapa buah
bedil Jepang….! Huh, mana bisa daging dipakai melawan pelor?”

Ia tersenyum mencemooh. “Jangan bodoh, Murtini. Belanda
yang akan menang. Dan ayahmu akan mendapat kedudukan yang
baik, sedikitnya komisari, atau kepala sebuah kantor besar!”

“Ayahhh……! Kau….. kau …., membantu Belanda?” Tak
sampai hati ia mengatakan “kaki tangan”.

“Hushh……, kau darah dagingku sendiri hendak mencelakai
ayahmu?”

Murtini tak dapat menahan lagi hatinya. Ia segera menangis
terisak-isak. Timbul pertentangan hebat di dalam hatinya. Ia
merasa seakan-akan dunia kiamat baginya. Ayahnya, yang
bertahun-tahun ia rindukan, yang bertahun-tahun ia cari, ternyata
seorang kaki tangan Belanda. Seorang pengkhianat bangsa! Dan
sekarang berada disini, didepannya. Seharusnya ditangkap,
ditembak sebagai pengkhianat! Tapi dia ayahnya, satu-satunya
orang yang menjadi orang tuanya.

“Ayahhh….. aduh mengapa begini, ayah….?”

Murtini menjambaki rambutnya. Kebingungan dan kesedihan
hampir membuat ia gila. “Mengapa begini…….? Ya Tuhan…..,
mengapa begini….?”

Merdeka Atau Mati 71

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Murtini! Tak banyak waktu lagi. Usahakan agar aku
dibebaskan, dan kau ikut denganku.”

“Tidak……! Tidak……!”

“Jadi kau hendak membunuh ayahmu sendiri? Hendak
melihat ayahmu disiksa, dicincang oleh gerilya? Kau tega berbuat
begitu terkutuk dan durhaka?”

“Tidak….., tidak….., akan kuusahakan…. supaya ayah
bebas….. tapi aku tidak bisa mengikuti jejak ayah…..”

“Ssttt…..” Sugeng Budiharjo memberi tanda ketika
mendengar derap sepatu Sakri mendekati pondok. Hanya sifat
satria dari Sakri yang membuat pemuda ini sengaja mengeraskan
langkah kakinya supaya terdengar oleh orang-orang di dalam
pondok. Ketika ia masuk, di bawah sinar lampu minyak yang
kecil dan suram-suram, ia melihat Murtini duduk di atas bangku
dengan wajah layu. Akan tetapi selanjutnya tidak, ada sesuatu
yang luar biasa. Juga Budiharjo duduk di bangku, wajahnya
tenang. Sinar lampu yang kemerahan menyembunyikan
kepucatan wajah ayah dan anak itu.

Muka yang muram, keruh, dan keras dari Sakri membuat
Sugeng Budiharjo berdebar gelisah hatinya, juga Murtini yang
amat mengenal kekasihnya ini. Budiharjo segera bangkit dari
bangkunya, dengan senyum lebar menghampiri Sakri dan
berkata,

“Terima kasih banyak, Let. Murtini sudah menceritakan
semua tentang kebaikanmu. Karena aku dan isteriku amat rindu
kepada Murtini, saya minta perkenanmu supaya mala mini juga
Murtini ikut dengan saya ke Solo.”

“Diam kau!!” Sakri membentak keras. “Aku tak sudi bicara
denganmu!”

Merdeka Atau Mati 72

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Budiharjo tersentak kaget, tubuhnya mulai menggigil dan
wajahnya pucat sekali. “Kau duduk saja di sana!” bentak Sakri
pula, kemudian pemuda ini dengan suara tenang berkata kepada
Murtini,

“Dik Murtini, coba keluar sebentar, aku mau bicara
denganmu.”

Murtini berdiri, melirik kepada ayahnya yang melemparkan
permohonan kepadanya. Murtini menunduk, lalu mengikuti Sakri
keluar dari pondok. Sakri berdiri di luar pondok itu sehingga
suaranya takkan terdengar oleh Budiharjo. Murtini juga berdiri di
depannya. Keduanya berpandangan di dalam gelap yang mulai
menyelimuti permukaan bumi.

Murtini yang sudah merasa mempunyai kesalahan tentang
diri ayahnya, tak dapat membuka mulut, hanya tunduk menanti.
Perasaannya sudah mulai kecewa dan tak senang melihat sikap
Sakri terhadap ayahnya tadi yang membentak-bentak. Penghinaan
yang menusuk perasaannya.

Di dalam kediaman mereka berdua, terjadi pertentangan-
pertentangan hebat di dalam hati masing-masing. Tiga macam
perasaan berbaku hantam dalam hati Sakri, perasaan dendam di
bantu perasaan seorang pejuang melawan perasaan cinta kasih.
Akhirnya perasaan sebagai pejuang patriot yang menang, ke dua
perasaan cinta kasih. Rasa dendam ia kesampingkan, kalah oleh
cinta kasih. Ia mengambil keputusan. Kalau ayah Murtini seorang
mata-mata, harus tertembak mati. Kalau bukan, akan dibiarkan
bebas demi cinta kasihnya kepada Murtini. Dendam yang dahulu
ia kesampingkan. Adapun pertentangan di dalam hati Murtini
adalah rasa cinta perjuangan dan rasa cinta bakti terhadap ayah.
Ia lebih halus perasaannya, maka cinta bakti terhadap ayahnyalah
yang menang. Ayahnya harus bebas, biar untuk itu dia
mengorbankan segala!

Merdeka Atau Mati 73

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Dik Mur….. kita sama-sama tahu bahwa ayahmu ditangkap
karena dituduh mata-mata Belanda. Aku tak dapat memutuskan
karena….. karena dia itu ayahmu. Biarlah kau yang memutuskan,
aku percaya kepadamu. Kalau kau bilang bahwa dia mata-mata,
aku sendiri yang akan menembak mati padanya!”

Naik sedu-sedan dari dada Murtini.

“Akan tetapi kalau kau menyatakan bukan, aku akan
membebaskannya. Soal kau mau ikut dia atau tidak, bukanlah
menjadi hakku untuk memutuskan.”

Perih rasa hati Murtini. Sudah jelas bahwa sikap Sakri
berbeda dari biasanya. Keras dan kaku, seakan-akan pemuda ini
sudah yakin bahwa ayahnya seorang mata-mata, seorang
pengkhianat.
“Mas Sakri, dia hanya dituduh, akan tetapi mana buktinya? Ayah
bukan mata-mata Belanda dan akulah yang bertanggung jawab.
Tak perlu aku banyak bicara, hanya kuminta supaya kau malam
ini juga membebaskan ayah dan membiarkan dia pergi ke Solo
dengan aman. Aku sendiri…. aku akan tetap tinggal di sini,
membantu teman-teman, yakni kalau…. kalau kau masih
menganggap tenagaku berguna…..” Dua titik air mata turun ke
atas sepasang pipi yang pucat itu.

Sakri menarik napas panjang, lega. Ia percaya sepenuhnya
kepada gadis ini. Memang tidak ada buktinya bahwa Budiharjo
seorang mata-mata. Biarpun ada terlihat ia duduk dalam truck
Belanda, namun banyak orang duduk dalam truck Belanda, setiap
orang dapat ikut dalam konpoi, asal saja ia kenal dengan seorang
serdadu, atau mau memberi suapan. Ini ia tahu benar.
“Kau yang memutuskan. Malam ini juga dia kubebaskan!” Sakri
memanggil dua orang anak buahnya, memberi perintah supaya
mengantar Budiharjo ke Solo malam itu juga, menjaga jangan
sampai diganggu lain pasukan di jalan.

Merdeka Atau Mati 74

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Malam itu, sebelum tidur, ia menemui Murtini, bertanya
pendek. “Katakan, siapa nama kecil ayahmu?”

Murtini memandang dengan perasaan aneh. “Nama kecilnya
Sugeng…” sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Sakri
membungkamnya dengan pandang mata seekor harimau, lalu
pemuda itu dengan gerakan kasar membalikkan tubuh, berjalan
terhuyung-huyung kembali ke pondoknya sendiri. Di luar tahu
Murtini, kedua mata pemuda itu basah air mata.

––––––––

Pagi-pagi sekali Murtini memasuki pondok Sakri.
Didapatkannya pemuda itu masih berpakaian seperti kemarin
malam, duduk menghadapi meja dengan wajah layu dan rambut
kusut. Matanya merah.

Murtini semalam suntuk tidak tidur, menangis saja. Matanya
sendiri juga merah dan melihat Sakri, ia dapat menduga bahwa
pemuda inipun tidak tidur. Ia makin merasa heran. Apakah yang
menyebabkan pemuda ini demikian aneh sikapnya? Begitu kasar
dan marah-marah?

Sakri menangkat muka, memandang Murtini dengan muka
pucat. “Mau apa lagi kau….?” Ucapannya mengandung nada
sakit hati, mengandung tangis tertahan.

Murtini melangkah maju, terhuyung lalu menjatuhkan diri di
atas tanah berlutut di depan Sakri sambil menangis tersedu-sedu.

“Mas…… mas Sakri….. kau bunuh saja aku, mas……”

Sakri memandang heran. “Apa lagi ini? Jangan seperti anak
kecil! Aku sudah membebaskan ayahmu, cukup!”

Merdeka Atau Mati 75

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Aku tahu, mas…… aku maklum betapa rusaknya
hatimu….. semua adalah salahku….”

“Apa maksudmu?” Sakri menjadi heran dan ia mengangkat
bangun Murtini. Gadis itu berdiri didepannya sambil menutupi
muka dengan kedua tangannya. Air mata membanjir keluar dari
celah-celah jarinya.

“Aku tahu…. bahwa kau melakukannya…… untukku…….
Kau membebaskan dia sungguhpun kau tahu betul bahwa dia itu
kaki tangan Belanda…..”

Sakri merasa bulu tengkuknya berdiri. Ia memandang
Murtini dengan mata terbelalak. “Apa kaubilang…..?? Ayahmu
itu…. ayahmu itu…..”

Isak tangis Murtini makin menghebat. “Dia memang kaki
tangan Belanda, dank au sudah membebaskannya karena aku…..”

“Bedebah!!” Sakri menggerakkan tangan kanannya
menampar pipi Murtini sekerasnya. Gadis itu terlempar dan
roboh di tanah, berlutut. Pipinya menjadi bengkak.
“Baik, mas….. pukullah aku….. siksa aku…., bunuhlah aku…..”

Sakri seperti bukan orang waras lagi. Ia membelalak

memandang tangannya yang menampar pipi Murtini lalu

memandang ke arah pipi yang membengkak itu, kemudian
tangannya dikepal dan…… dipukulnya kepalanya sendiri.

“Bangsat! Pengkhianat kau….!” Lalu dicabutnya pistol dari

ikat pinggangnya.

Murtini yang mendenar suara pukulan tadi sudah mengangkat

muka memandang. Ia melihat betapa tiga kali Sakri memukuli

kepala sendiri. Kaget dan keheranan membuat ia lupa menangis,

lupa kesakitan sendiri lalu ia bangun memburu. Ketika melihat

Sakri mencabut pistol, Murtini berkata,

Merdeka Atau Mati 76

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Itu lebih baik, mas Sakri. Kautembaklah aku…. tembaklah aku,
anak pengkhianat…….”

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat Sakri
mengarahkan pistol itu pada kening sendiri. “Mas Sakriiiii!!”
Murtini meloncat dan merenggut pistol itu dari tangan Sakri

“Dar…..!!” Peluru menembus genteng dan pistol sudah
terampas oleh Murtini yang melempar senjata itu keluar. “Mas
Sakri, apa kau sudah gila?” teriaknya sambil menangis dan lupa
segala, gadis ini memeluk tubuh Sakri.

Sakri kini menangis, menangis terisak-isak. Hal yang selama
ini tak pernah ia lakukan, ia menangis sambil mendekap kepala
Murtini pada dadanya.

“Aku memang sudah gila! Aku gila!! Membiarkan
pengkhianat lepas… , aku sudah gila karena mencinta kau.”

Murtini masih bingung. Untuk sesaat ia membiarkan dirinya
dipeluk, membiarkan kepalanya di dekap di atas dada yang
bidang itu, yang memberi rasa ketenangan dan perdamaian, yang
sekilas mengusir semua pedih perih hatinya. Kemudian ia
mengangkat muka, memandang wajah kekasihnya yang basah air
mata itu.

“Mas Sakri……, kau kenapa, mas? Sejak kemarin tadi….
kau aneh sekali… akulah yang bersalah, akulah yang rela
menanggung semua hukuman….”

Tiba-tiba Sakri tertawa. Menyeramkan, seperti mayat
tertawa. Rambutnya awut-awutan, mukanya pucat seperti mayat,
matanya membayangkan kehancuran hati dan air mata mengalir
turun, akan tetapi mulutnya tertawa keras dan suara ketawanya
seperti bukan seperti suara manusia lagi!

Merdeka Atau Mati 77

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Ha-ha-ha-ha-ha! Akulah pengkhianat nomor satu di dunia!
Dua kali aku mengkhianati, mengkhianati orang tua dan
mengkhianati bangsa!”

Murtini memeluk leher Sakri, menariknya dan menutup bibir
pemuda itu dengan tangannya, dengan mulutnya, tapi Sakri
merenggut-renggut melepaskan bibirnya dan berkata lagi, “Kau
mau tahu, he? Mau tahu? Ayahku disiksa sampai mati, ibuku
disiksa sampai mati pula, apa sebab? Sebab perbuatan seorang
pengkhianat yang bernama Sugeng!”

Rangkulan tangan Murtini pada leher Sakri mengendur, lalu
terlepas dan tubuh gadis itu roboh di atas lantai, pingsan! Sakri
menunduk dan… keadaan Murtini seperti itu membangkitkan
cinta kasihnya yang lebih kuat dari pada segala apa, membuat ia
sadar kembali akan keadaannya, membuat ia tenang.

“Murtini…. jiwa hatiku…..” Ia berlutut dan memangku
kepala gadis yang pingsan itu. Dalam keadaan demikianlah ketika
teman-temannya berlari datang karena mendengar letusan tadi.
mereka bertanya-tanya, dengan hormat mereka mengajukan
pertanyaan kepada Sakri. Akan tetapi Sakri diam saja, hanya
mengeluh dan memanggili nama Murtini yang masih pingsan di
atas pangkuannya.

Setelah agak reda hatinya, Sakri membaringkan tubuh
Murtini yang sudah siuman tapi masih dalam keadaan mengigau
dan demam itu ke atas pembaringan. Lalu ia memanggil para
pembantunya.
“Malam ini semua pasukan harus meninggalkan posnya,
berpencar dan berlindung, menjaga kalau musuh mengadakan
pembersihan. Biarkan musuh masuk, lalu kepung dan serang dari
empat penjuru. Kalau mereka terlalu kuat, mundur ke daerah M.
Mengerti?”

“Siap, pak!”

Merdeka Atau Mati 78

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Dengan penuh keheranan semua anggauta pasukan
menjalankan perintah ini. Ada apakah dengan pemimpin mereka?
Pasukan disuruh berlindung, akan tetapi Sakri sendiri menjaga
dan merawat Murtini di dalam pondok itu, tak terjaga!

Lewat senja Murtini mendingan keadaannya. Sudah ingat
kembali dan menangis. “Mas Sakri, kauampunkan aku, mas…..
Alangkah besar dosa ayah kepadamu. Dan kau melupakan
dendam itu, malah kau membebaskannya, karena cintamu
kepadaku….”

Sakri membelai rambut Murtini yang kusut. “Kalau aku tahu
dia mata-mata, dia takkan kulepaskan.” Ia mengusap-usap pipi
yang tadi dipukulnya.

“Salahku itu, mas. Aku membohongimu….”

“Aku tahu, dik. Kau hanya melakukannya karena cinta dan
baktimu kepada ayah, bukan karena hendak mengkhianati
perjuangan. Buktinya kau tidak mau ikut pergi dengan
ayahmu…..”

“Mas, ayah mata-mata. Jangan-jangan dia nanti
menunjukkan tempat kita ini pada Belanda……”

“Mungkin. Dan kiranya malam ini akan terjadi sesuatu.”

“Pergilah, mas. Suruh semua teman pergi dari sini…..”

“Sudah kusuruh mereka bersembunyi.”

“Kau sendiri…?”

Sakri menggeleng kepalanya. “Seorang laki-laki harus berani
mempertanggungjawabkan kesalahannya. Akulah yang bersalah
kalau sampai ayahmu membawa serdadu Belanda menyerang ke
sini, dan sudah selayaknya kalau aku terhukum karenanya, baik

Merdeka Atau Mati 79

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

binasa di ujung senapan serdadu Belanda mapun sebagai seorang
tahanan yang disiksa.”

“Mas Sakri…..!”

Sakri memeluknya. “Mungkin malam terakhir bagi kita, dik

Mur. Aku sengaja menunggu kedatangan kembali ayahmu dan
kalau kali ini kami bertemu kembali….., jangan kausalahkan aku

kalau terpaksa aku berusaha melenyapkannya dari muka
bumi…..”

Murtini mendekap muka sendiri. “Aku tahu bahwa ayah
berdosa besar…. dan akupun tidak akan menyalahkan orang
membunuhnya, akan tetapi….. hendaknya bukan engkau orang
itu mas….”

Merdeka Atau Mati 80

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Tidak! Seribu kali tidak! Aku bersumpah berdiri
disampingmu selama aku masih hidup!”

Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan. Murtini menjadi
pucat dan serentak bangkit. “Mas Sakri……., dugaanmu betul…..
kau larilah…..!”

Merdeka Atau Mati 81

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Namun Sakri hanya tersenyum dan menggeleng kepala.
“Lebih baik kaulah yang lari sembunyi, jangan-jangan peluru
yang dibawah ayahmu akan mengenaimu sendiri…..”

Sesuai dengan perintah Letnan Sakri, para pejuang yang
tidak berapa banyak jumlah senapannya, mulai mengadakan
serangan bersembunyi. Pertempuran terjadi, ramai suara rentetan
tembakan, terutama dari fihak serdadu Belanda. Rakyat lari cerai
berai mencari perlindungan. Namun, kali ini fihak serdadu
Belanda mengerahkan banyak serdadunya, memaksa para
gerilyawan mengundurkan diri.

Sakri melawan sampai kehabisan peluru. Hanya karena
permintaan Sugeng Budiharjo yang takut kalau-kalau anaknya
kena tembak, serdadu-serdadu Belanda tidak menghujani pondok
itu dengan peluru. Sakri dan Murtini tertangkap tanpa mendapat
luka. Malam itu juga mereka di bawa ke pos serdadu Belanda di
dekat Solo. Malam itu juga diperiksa.

Sugeng Budiharjo kecewa sekali. Dia yang membawa
serdadu-serdadu itu melakukan penyerangan. Biarpun tidak ada
anggauta gerilya lain yang tertawan, namun penawanan seorang
letnan gerilya amat berharga. Tapi alangkah kecewa dan
menyesalnya ketika permintaannya supaya Murtini dibebaskan,
ditolak oleh sersan KNIL yang memimpin penyerbuan tadi.
Sersan KNIL itu tersenyum-senyum memandang kepada Murtini
penuh gairah ketika menjawab, “Biarpun dia itu anakmu, akan
tetapi dia terkenal sebagai pembantu gerilya. Dia tawanan perang
dan harus diperiksa!” Sugeng Budiharjo lemas tubuhnya. Apa
lagi setelah tiba di luar, beberapa orang serdadu KNIL bercakap-
cakap sambil tertawa tentang tawanan itu.

“Ha-ha-ha, untuk sekali sersan mala mini! Burung dara yang
muda, cantik, dan lunak.”

“Berpesta dia malam ini! Tentu akan dikawini….”

Merdeka Atau Mati 82

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

“Kawin? Di mana-mana dia punya isteri. Mana dia sempat
kawin sekarang? Paling-paling menjadi bini mudanya…..”

Rasa hati Budiharjo seperti tertusuk-tusuk pisau. Maklum ia
siapa yang dimaksudkan dalam pembicaraan itu. Hati seorang
ayah melihat anaknya dalam bahaya, membuat ia marah dan
nekat. Ia melihat pula betapa letnan gerilya itu melindungi
Murtini, tidak mau melarikan diri ketika disergap. Dan sikap
kedua orang muda itu…., tak salah lagi, mereka saling mencinta.
Masih terbayang di depan matanya ketika Sakri ditangkap,
Murtini merangkulnya dan berkata keras-keras.

“Mas Sakri, biarlah kita bersua kembali di alam baka! Aku
cinta padamu, mas…., aku cinta padamu…..!”

Tiap kali teringat akan ini, makin sakit rasa hati Budiharjo.
Terbuka matanya yang selama ini tertutup oleh bayangan
kemuliaan, kedudukan dan harta benda, betapa gagahnya letnan
gerilya itu. Teringat ia akan sikapnya yang aneh ketika
membebaskannya dan tahulah ia kini bahwa ia pada malam itu
dibebaskan hanya karena letnan itu mencinta anaknya. Dan
sebagai balas budi, dia membawa serdadu-serdadu
menangkapnya! Lebih-lebih lagi, ia sendiri yang akan
menghancurkan kebahagiaan hati anaknya, menghancurkan
kehidupannya. Celakalah kalau sampai Murtini menjadi korban
sersan KNIL itu! Apa artinya kedudukan kalau ia menerima
penghinaan ini?

Malam itu, di antara gelak tawa para serdadu yang mendapat
pembagian bir, terdengar jerit Murtini di dalam kamar tahanan.
Disusul padamnya lampu dan letusan senjata berkali-kali, lalu
terdengar suara orang menjerit kesakitan. Gegerlah keadaan di
pos serdadu Belanda itu. Semua serdadu yang mengira ada
serangan gerilya, segera membuat stelling. Keadaan gelap pekat.
Namun tidak ada serangan sama sekali dari luar. Lewat setengah

Merdeka Atau Mati 83

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

jam, setelah mendapatkan kembali keberaniannya dan beberapa
orang serdadu menghidupkan penerangan, mereka melihat sersan
KNIL dan dua orang KNIL lain yang tadi menjaga didepan kamar
tahanan telah menggeletak. Sersan dan seorang serdadu tewas
tertembus dadanya, yang seorang lagi merintih-rintih, terluka
parah. Di sudut kamar tahanan, menggeletak pula seorang
berpakaian preman, tewas karena perutnya tertembus peluru. Dia
itu adalah Sugeng Budiharjo! Ketika diperiksa, ternyata bahwa
dua orang tawanan itu, Sakri dan Murtini telah lenyap tak
meninggalkan bekas!

Menurut penuturan serdadu yang terluka parah ketika sersan
KNIL sedang “memeriksa” dalam kamar tahanan Murtini, tiba-
tiba lampu padam dan terdengar tembakan dari dalam kamar
tahanan. Mereka berdua membuka pintu dan meloncat masuk.
Dari sudut kamar itu tampak api tembakan dan mereka terkena
tembakan. Serdadu yang terluka itu masih sempat mengirim
tembakan balasan yang mengenai orang itu, yang kemudian
ternyata adalah Sugeng Budiharjo. Ternyata bahwa pengkhianat
ini telah menebus dosanya dengan nyawa, setelah ia
membebaskan Sakri dan Murtini yang hampir diganggu oleh
sersan KNIL.

––––––––

Beberapa tahun kemudian……

Tanggal sepuluh November, Hari Pahlawan!
Sang Dwiwarna Merah Putih, bendera pusaka lambang
kemerdekaan berkibar dengan megahnya di setiap pelosok, di
setiap penjuru tanah air, dari Sabang sampai Merauke pada hari
itu, hari Pahlawan sepuluh November. Seluruh Bangsa Indonesia
memperingati hari suci itu, untuk mengenang para pahlawan
bangsa yang telah mengurbankan jiwa raga untuk kemerdekaan

Merdeka Atau Mati 84

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

tanah air dan bangsa! Hanya bangsa yang besar mengenal dan
menghargai jasa para pahlawannya dan Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang besar! Di setiap kota dan desa, di mana terdapat
makam pahlawan, orang-orang berziarah ke makam, menaburkan
bunga tanda penghargaan kepada para pahlawan, mengheningkan
cipta untuk memanjatkan doa ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa semoga arwah para pahlawan mendapatkan pahala,
mendapat berkah dan tempat yang aman damai sentausa di sisi
Tuhan Seru Sekalian Alam. Bahkan di desa-desa yang tidak
terdapat makam pahlawan yang dikenal namanya, makam para
pejuang yang terpaksa dimakamkan di tempat oleh mereka yang
tidak mengenalnya, orang datang berziarah, karena betapapun tak
terkenal namanya, rakyat tahu belaka bahwa mereka itulah
pahlawan-pahlawan bangsa, patriot-patriot perkasa yang telah
gugur sebagai kesuma bangsa, sebagai pahlawan!

Justeru di sebuah makam pahlawan-pahlawan yang tidak
terkenal dan tak bernama inilah pada hari keramat itu datang
berziarah seorang laki-laki bersama seorang wanita dan tiga
orang anak-anaknya. Seorang anak laki-laki berusia delapan
tahun, kedua laki-laki pula berusia empat tahun dan ketiga
seorang anak perempuan berusia satu tahun dalam gendongan
ibunya. Mereka ini adalah Sakri dan Murtini yang sudah menjadi
isterinya, bersama tiga orang anak mereka. Taman pahlawan tak
bernama ini dipilih Sakri dan isterinya, teristimewa untuk
memperingati kepahlawanan ayah Sakri, yaitu Waluyo yang mati
dalam siksaan Jepang dan tidak diketahui di mana kuburnya itu.

“Ayahpun seorang pahlawan,” demikian kata Sakri kepada
isterinya, “dan berziarah ke makam pahlawan tak bernama sama
dengan berziarah ke makam ayah yang tidak kuketahui di mana
makamnya.”

Merdeka Atau Mati 85

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Ucapan ini mengharukan hati Murtini yang belum pernah
dapat melupakan bahwa ayah suaminya itu tewas karena mungkin
sebagian besar dikarenakan pengkhianatan ayahnya sendiri.
Sungguhpun sering kali suaminya menghiburnya dengan kata,
“Mati hidup adalah di tangan Tuhan, dik Mur. Sudah menjadi
kehendak Tuhan ayah meninggal dunia di saat itu. Perbuatan
ayahmu itu hanyalah merupakan sebab belaka, segalanya diatur
oleh Yang Maha Kuasa.” Namun, rasa dosa ayahnya tak pernah
terkikis habis dari hati Murtini.

Sakri dan isterinya menaburkan bunga-bunga
mengheningkan cipta sejenak, lalu terdengar Sakri berdoa
perlahan, “Semoga Tuhan memberi tempat yang layak kepada
arwah para pahlawan tak bernama yang dimakamkan di tempat
ini dan semoga arwah mereka menyampaikan kepada ayah bahwa
kami tak pernah melupakan jasa-jasa ayah dalam perjuangan.”

“Amin….” Murtini menutup doa suaminya. Ketika Sakri
menengok, ia melihat isterinya menitikkan air mata. Ia terharu,
maklum akan isi hati isterinya. Tentu seperti biasa, seperti pada
saat-saat mereka berziarah ke makam pahlawan, isterinya teringat
akan ayahnya sendiri.

“Dik Mur,” katanya memegang tangan isterinya, “mendiang
ayah mertuaku, sungguhpun di waktu yang sudah-sudah tersesat
oleh nafsu keduniaan, namun pada detik-detik terakhir dari
hidupnya, ia telah bersikap sebagai pahlawan pula.”

Isterinya memandang dengan sinar mata berterima kasih,
maklum bahwa suaminya mengucap demikian hanya untuk
menghiburnya.

“Aku bicara bersungguh-sungguh, dik Mur. Mendiang ayah
kita itu pada saat-saat terakhir telah sadar sehingga membuat
beliau memberontak dan menewaskan tiga orang serdadu musuh.
Perbuatan terakhir ini termasuk perbuatan yang gagah berani dan

Merdeka Atau Mati 86

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

marilah kita berdoa semoga Tuhan mengampuninya dan dapat
memberi tempat yang baik untuk arwahnya.”

Murtini terhibur hatinya.

“Bu, kita berada di makam siapakah?” tanya anak sulung
mereka yang memandang ke arah makam berjajar-jajar itu.
“Makam para pahlawan, No,” jawab ayahnya.

“Pahlawan itu apa sih, pak?” mengejar si sulung.

“Pahlawan adalah satria-satria perkasa…..”

“Seperti Gatutkaca, Pak?” Si sulung memotong karena dalam
pengertiannya yang disebut satria adalah Gatutkaca dan lain-lain
tokoh baik pewayangan.

Sakri tertawa. “Ya….. seperti Gatutkaca gagahnya. Mereka
itu rela mengorbankan apa saja, rela kehilangan harta benda, rela
kehilangan nyawa seperti para pahlawan yang dimakamkan di
sini, demi kemerdekaan nusa bangsa.”

Si sulung termenung kagum. Sambil memandang ke arah
makam di depannya, ia berkata tiba-tiba, “Pak, Yono ingin
menjadi pahlawan!”

Anak ke dua yang selalu tak mau ketinggalan kalau
kakaknya menginginkan sesuatu, segera berkata, “Toto juga ingin
menjadi pahlawan seperti kak No…”

Sakri dan Murtini saling pandang, terharu dan bangga, lalu
tertawa girang.

“Tentu….., tentu…., Yono dan Toto kelak juga menjadi
pahlawan-pahlawan bangsa. Titi juga tentu menjadi pahlawan
wanita. Selama putera-putera Indonesia bercita-cita menjadi
pahlawan, mengikuti jejak langkah para pahlawan, Indonesia
Merdeka pasti akan menjadi jaya!”

Merdeka Atau Mati 87

Koleksi Goldy Senior http://lontaremas.blogspot.com

Melihat sikap suaminya dan mendengar kata-kata yang
diucapkan penuh semangat, bangkitlah semangat perjuangan
dalam dada Murtini dan seperti dulu di masa perjuangan melawan
Belanda, ibu muda ini mengepal tinju, diangkatnya sambil
memekik penuh semangat,

“Merdeka!!!”

“Merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka!” sambung Sakri
Melihat ayah bundanya, Yono juga mengacungkan kepalan
tangannya yang kecil, “Merdeka!”

Toto mencontoh kakaknya, “Merdeka…..!”

Dan Titi dalam gendongan ibunya tertawa senang.

––––––––––––
TAMAT

Solo, tengah bulan Desember 1965.

Merdeka Atau Mati 88


Click to View FlipBook Version